Anda di halaman 1dari 2

PELAKSANAAN DAN HASIL DISKUSI

TENTANG ASUHAN KEPERAWATAN NY. D DENGAN CKD


DI PU LT 3 RS ANNA

I. Pelaksanaan Diskusi
A. Panelis :
1. Dahlia
2. Meriani Malau
3. Nentih
4. Rosdiana
B. Moderator : Prita Yunita Sari
C. Notulis : Zenica Yuliawati
D. Peserta :
1. Jumlah peserta :
2. Peserta yang hadir :
3. Peserta yang tidak hadir:
E. Waktu Diskusi : 09.00 s.d selesai
F. Tempat Diskusi : Ruang Aula Lantai 4
II. Hasil Diskusi
Dari diskusi yang telah di laksanakan kami memperoleh pengetahuan tentang
Asuhan Keperawatan Pada Ny. D dengan CKD
III. PENUTUP
A.Simpulan
The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) of the National
Kidney Foundation (NKF) padatahun 2009, mendefenisikan gagal ginjal kronis
sebagai suatu kerusakan ginjal dimana nilai dari GFR nya kurang dari 60
mL/min/1.73 m2 selama tiga bulan atau lebih. Dimana yang mendasar etiologi
yaitu kerusakan massa ginjal dengan sklerosa yang irreversible dan hilangnya
nephrons kearah suatu kemunduran nilai dari GFR. Adapun klasifikasi pada gagal
ginjal
a. Stadium 1: Kerusakan masih normal (GFR >90 mL/min/1.73 m2)
b. Stadium 2: Ringan (GFR 60-89 mL/min/1.73 m2)
c. Stadium 3: Sedang (GFR 30-59 mL/min/1.73 m2)
d. Stadium 4: Gagal ginjal berat (GFR 15-29 mL/min/1.73 m2)
e. Stadium 5: Gagal ginjal terminal (GFR <15 mL/min/1.73 m2)
Gagal ginjal kronik menyebabkan anemia terutama diakibatkan oleh
berkurangnya produksi Eritropoetin. Eritropoetin merupakan hormon yang dapat
merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah. Cara
penyembuhannya hanya dengan transplantasi ginjal. Informasi dan edukasi yang
diberikan kepada pasien ckd adalah dengan pembatasan asupan protein karena
pemberian diet tinggi protein pada pasien penyakit ginjal kronik akan
mengakibatkan penimbunan substansi nitrogen dan ion anorganik lain, dan
mengakibatkan gangguan klinis dan metabolik yang disebut uremia. Dengan
demikian pembatasan asupan protein akan mengakibatkan berkurangnya sindrom
uremik maslah penting lain adalah asupan protein berlebih ( protein overload)
akan mengakibatkan perubahan hemodinamik ginjal berupa peningkatan aliran
darah dan tekanan intraglomerulus (intraglomerulus hiperfiltation), yang akan
meningkatkan progresivitass pemburukan fungsi ginjal. Pembatasan asupan
protein juga beerkaitan dengan pembatasan asupan fosfat, karena protein dan
fosfat selalu berasal dari sumber yang sama. Pembatasan fosafat perlu untuk
mencegah terjadinya hiperfosfatemia.

Bekasi, 31 Maret 2017

Notulis,

Zenica Yuliawati