Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Demam Berdarah Dengue


1. Pengertian Demam Berdarah Dengue
Dengue Hemorragic Fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh karena
virus dengue yang termasuk golongan arbovirus melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti betina. Penyakit ini lebih dikenal dengan sebutan Demam
Berdarah Dengue (DBD) (Hidayat, 2008). Demam berdarah dengue adalah
penyakit yang tersebar luas di seluruh dunia terutama di daerah tropis.
Penderitanya terutama adalah anak-anak berusia dibawah 15 tahun, tetapi
sekarang banyak juga orang dewasa yang terserang virus ini. Sumber
penularan utama adalah manusia dan hewan primata, sedang penularnya
adalah nyamuk Aedes. (Soedarto, 2009).

2. Etiologi Demam Berdarah Dengue


Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B,
yaitu Arthropod-borne virus atau virus yang disebarkan oleh arthropoda. Virus
ini termasuk Flavivirus dari famili Flaviviridae (Widoyono, 2011) Virus
penyebab demam dengue adalah virus dengue genus Flavivirus yang termasuk
arbovirus (Arthopod Borne virus) grup B. Virion virus mempunyai ukuran 40
nm. Secara serologis terdapat 4 tipe virus dengue, yaitu virus dengue tipe 1,
tipe2, tipe 3 dan tipe 4. (Soedarto, 2009).

3. Patofisiologi Demam Berdarah Dengue


Sistem Vaskuler
Patofisiologi primer DBD dan SSD adalah peningkatan akut permeabilitas
vaskuler yang mengarah pada kebocoran plasma ke dalam ruang
ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan
tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus
berat, hal ini didukung penemuan post mortem meliputi efusi pleura,
hemokonsentrasi dan hipoproteinemia.
Tidak terjadi lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa
perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat.
Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi diabsorbsi
dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit. Perubahan hemostasis
pada DBD dan SSD melibatkan 3 faktor : peubahan vaskuler, trombositopeni
dan kelainan koagulasi. Hampir semua penderita DBD mengalami
peningkatan fragilitas vaskuler dan trombositopeni, dan banyak diantara
penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal.

Sistem respons imun


Setelah virus Dengue masuk dalam tubuh manusia, virus berkembang biak
dalam sel retikuloendotelial yang selanjutnya diikuti dengan viremia yang
berlangsung 5-7 hari. Akibat infeksi virus ini muncul imun baik humoral
maupun seluler, antara lain antinetralisasi, antihemaglutinin, antikomplemen.
Antibodi yang muncul pada umumnya adalah IgG dan IgM, pada infeksi
Dengue primer antibodi mulai terbentuk, dan pada infeksi sekunder kadar
antibodi yang telah ada meningkat (booster effect).
Antibodi terhadap virus Dengue dapat ditemukan di dalam darah sekitar
demam hari ke 5, meningkat pada minggu pertama sampai dengan ketiga,
dan menghilang setelah 60 90 hari. Kinetik kadar IgG berbeda dengan
kinetik kadar antibodi IgM, oleh karena itu kinetik antibodi IgG harus
dibedakan antara infeksi primer dan sekunder. Pada infeksi primer antibodi
IgG meningkat sekitar demam hari ke 14 sedang pada infeksi sekunder
antibodi IgG meningkat pada hari kedua. Oleh karena itu, diagnosis dini
infeksi primer hanya dapat ditegakkan dengan mendeteksi antibodi IgM
setelah hari sakit kelima, diagnosis infeksi sekunder dapat ditegakkan lebih
dini dengan adanya peningkatan antibodi IgG dan IgM yang cepat.
(Soegijanto, 2006)

4. Manifestasi Klinis Demam Berdarah Dengue


Untuk menegakkan diagnosis klinis DBD, WHO (1986) dalam Soegijanto
(2006) menentukan beberapa patokan gejala klinis dan laboratorium,
diantaranya :
a. Gejala Klinis
1) Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2-7 hari
2) Manifestasi perdarahan
a) Uji torniquet positif
b) Perdarahan spontan berbentuk peteki, purpura,
ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
dan melena.
3) Hepatomegali
4) Renjatan, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (<20
mmHg) atau nadi tak teraba, kulit dingin, dan anak gelisah.
b. Laboratorium
1) Trombositopeni (< 100.000 sel/ml)
2) Hemokonsentrasi (kenaikan Ht 20% dibandingkan fase
konvalesens)

5. Derajat Demam Berdarah Dengue


Pembagian derajat DBD menurut WHO (1986) dalam Soegijanto (2006) :
a. Derajat I : Demam dan uji torniquet positif
b. Derajat II : Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya di
kulit dan atau perdarahan lainnya
c. Derajat III : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak
disertai hepatomegali dan ditemukan gejala gejala
kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan
lemah, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau
hipotensi disertai ekstremitas dingin, dan anak
gelisah.
d. Derajat IV: Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak
disertai hepatomegali dan ditemukan gejala renjatan
hebat (nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur).

6. Fase fase Demam Berdarah Dengue


a. Fase Demam
Pada kasus ringan semua tanda dan gejala sembuh seiring dengan
menghilangnya demam. Penurunan demam terjadi secara lisis, artinya
suhu tubuh menurun segera, tidak secara bertahap. Menghilangnya
demam dapat disertai berkeringat dan perubahan pada laju nadi dan
tekanan darah, hal ini merupakan gangguan ringan sistem sirkulasi
akibat kebocoran plasma yang tidak berat. Pada kasus sedang sampai
berat terjadi kebocoran plasma yang bermakna sehingga akan
menimbulkan hipovolemi dan bila berat menimbulkan syok dengan
mortalitas yang tinggi.
b. Fase Kritis
Fase kritis terjadi pada saat demam turun. Pada saat ini terjadi puncak
kebocoran plasma sehingga pasien mengalami syok hipovolemi.
Kewaspadaan dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya syok
yaitu dengan mengenal tanda dan gejala yang mendahului syok
(warning signs). Warning signs umumnya terjadi menjelang akhir fase
demam, yaitu antara hari sakit ke 3-7. Muntah terus-menerus dan nyeri
perut hebat merupakan petunjuk awal perembesan plasma dan
bertambah hebat saat pasien masuk kedalam keadaan syok. Pasien
tampak semakin lesu, tetapi pada umumnya tetap sadar. Gejala tersebut
dapat menetap walaupun sudah terjadi syok. Kelemahan, pusing atau
hipotensi postural dapat terjadi selama syok. Perdarahan mukosa
spontan atau perdarahan di tempat pengambilan darah merupakan
manifestasi perdarahan penting. Hepatomegali dan nyeri perut sering
ditemukan. Penurunan jumlah trombosit yang cepat dan progresif
menjadi di bawah 100.000 sel/mm3 serta kenaikan hematokrit di atas
data dasar merupakan tanda awal perembesan plasma, dan pada
umumnya didahului oleh leukopenia (5.000 sel/mm).
c. Fase Konvalesens
Fase konvalesens dimulai saat fase kritis berakhir, ditandai saat
perembesan plasma berhenti dan reabsorbsi dimulai. Selama fase
konvalesens, cairan (plasma dan cairan intravena) yang selama fase
kritis merembes keluar ruang ekstravaskular diserap kembali ke ruang
intravaskular (Hadinegoro, 2014).

7. Pemeriksaan Penunjang Demam Berdarah Dengue


Pemeriksaan penunjang pada demam berdarah dengue menurut Christanto
(2014) adalah sebagai berikut:
a. Laboratorium (sesuaikan dengan perjalanan penyakit) : pada hari ke-3
umumnya leukosit menurun atau normal, hematokrit mulai meningkat
(hemokonsentrasi), dan trombositopenia terjadi pada hari 3-7. Pada
pemeriksaan jenis leukosit, ditemukan limfositosis (peningkatan 15%)
mulai hari ke-3, ditandai adanya limfosit atipik.
b. Uji serologi uji hemaglutinasi inhibisi dilakukan saat fase akut dan
konvalesens.
Infeksi primer. Titer serum akut <1:20 dan serum konvalesens
naik 4 kali atau lebih tetapi tidak melebihi 1:1280.
Infeksi sekunder. Titer serum akut <1:20 dan serum
konvalesens 1:2560; atau serum akut 1:20 dan konvalesens naik
4 kali atau lebih.
Tersangka infeksi sekunder yang baru terjadi. Titer serum akut
1:1280, serum konvalesens dapat lebih besar atau sama.
c. Pemeriksaan radiologis untuk mendeteksi adanya efusi pleura:
Rontgen thoraks posisi right lateral decubitus, USG.

8. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue


Menurut Soegijanto (2006), penatalaksanaan kasus DBD pada anak dibagi
sebagai berikut :
a. Kasus DBD yang diperkenankan berobat jalan
Bila penderita hanya mengeluh panas, tetapi keinginan makan dan
minum masih baik. Untuk mengatasi panas tinggi yang mendadak
diperkenankan memberikan obat panas parasetamol 10-15 mg/kgBB
setiap 3 4 jam diulang jika tanda panas masih nyata di atas 38,5C.
Obat panas salisilat tidak dianjurkan karena mempunyai risiko
terjadinya penyulit perdarahan dan asidosis. Sebagian besar kasus
DBD yang berobat jalan ini adalah kasus DBD yang menunjukkan
manifestasi panas hari pertama dan hari kedua tanpa menunjukkan
penyulit lainnya. Apabila penderita menunjukkan manifestasi penyulit
hipertermi dan konvulsi sebaiknya dianjurkan untuk dirawat inap.
b. Kasus DBD yang dianjurkan rawat inap
1) Kasus DBD derajat I dan II
Pada hari ke-3, 4, dan 5 penderita mengalami demam
dianjurkan untuk rawat inap karena memiliki risiko terjadinya
syok. Untuk mengantisipasi kejadian syok tersebut, penderita
disarankan diinfus cairan kristaloid dengan tetesan berdasarkan
tatanan 7, 5, 3. Pada saat fase panas penderita dianjurkan
banyak minum air buah atau oralit yang biasa dipakai untuk
mengatasi diare. Apabila hematokrit meningkat lebih dari 20%
dari nilai normal merupakan indikator adanya kebocoran
plasma dan sebaiknya penderita dirawat di ruang observasi di
pusat rehidrasi selama kurun waktu 12 24 jam. Penderita
DBD yang gelisah dengan ujung ekstremitas yang teraba
dingin, nyeri perut, dan produksi air kemih yang kurang
sebaiknya dianjurkan rawat inap. Penderita dengan tanda
tanda perdarahan dan hematokrit yang tinggi harus dirawat di
rumah sakit untuk memperoleh cairan pengganti segera.
Volume dan jenis cairan pengganti penderita DBD sama seperti
yang digunakan pada kasus diare dengan dehidrasi sedang
tetapi tetesan harus lebih diperhatikan. Kebutuhan cairan
sebaiknya diberikan dalam kurun waktu 2-3 jam pertama dan
selanjutnya tetesan diatur kembali dalam waktu 24-48 jam saat
kebocoran plasma terjadi. Pemeriksaan hematokrit secara seri
ditentukan setiap 4-6 jam dan mencatat data vital dianjurkan
setiap saat untuk menentukan atau mengatur agar memperoleh
jumlah cairan pengganti yang cukup dan cegah pemberian
transfusi berulang. Petunjuk pemberian cairan jumlah tetesan
harus jelas. Jumlah cairan yang dibutuhkan adalah volume
minimal cairan pengganti yang cukup untuk mempertahankan
sirkulasi secara efektif selama periode kebocoran (24-48 jam)
pemberian cairan yang berlebihan akan menyebabkan
kegagalan faal pernapasan (efusi pleura dan asites),
menumpuknya cairan dalam jaringan paru yang berakhir
dengan edema.
Pemilihan jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung
pada umur dan berat badan pasien serta derajat kehilangan
plasma sesuai dengan derajat hemokonsentrasi yang terjadi.
Pada anak yang gemuk, kebutuhan cairan disesuaikan dengan
berat badan ideal anak umur yang sama.
2) Kasus DBD derajat III dan IV
Dengue Shock Syndrome (sindrom renjatan dengue) termasuk
kasus kegawatan yang membutuhkan penangan secara cepat
dan perlu memperoleh cairan pengganti secara cepat. Biasanya
dijumpai kelainan asam basa dan elektrolit (hiponatremi).
Dalam hal ini perlu dipikirkan kemungkinan dapat terjadi DIC.
Terkumpulnya asam dalam darah mendorong terjadinya DIC
yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan
renjatan yang sukar diatasi. Penggantian secara cepat plasma
yang hilang digunakan larutan garam isotonik dengan jumlah
10-20 ml/kg/1 jam.
Pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat diberikan bolus
10 ml/kg (1 atau 2 kali). Jika syok berlangsung terus dengan
hematokrit yang tinggi, larutan koloid dapat diberikan dengan
jumlah 10-20 ml/kg/jam. Selanjutnya pemberian cairan infus
dilanjutkan dengan tetesan yang diatur sesuai dengan plasma
yang hilang dan sebagai petunjuk digunakan harga hematokrit
dan tanda-tanda vital yang ditemukan selama kurun waktu 24-
48 jam. Pemasangan CVP dan kateter urinal penting untuk
penatalaksanaan penderita DBD yang sangat berat dan sukar
diatasi. Cairan koloid diindikasikan pada kasus dengan
kebocoran plasma yang banyak sekali yang telah memperoleh
cairan kristaloid yang cukup banyak.
Pada umumnya 48 jam sesudah terjadi kebocoran atau renjatan
tidak lagi membutuhkan cairan. Reabsorbsi plasma yang telah
keluar dari pembuluh darah membutuhkan waktu 1-2 hari
sesudahnya. Jika pemberian cairan berlebihan dapat terjadi
hipervolemi, kegagalan faal jantung dan edema paru. Dalam hal
ini hematokrit yang menurun pada saat reabsorbsi jangan
diinterpretasikan sebagai perdarahan dalam organ. Pada fase
reabsorpsi ini tekanan nadi kuat (20 mmHg) dan produksi urine
cukup dengan tanta-tanda vital yang baik.
c. Kasus DBD dengan penyulit
1) Koreksi elektrolit dan kelainan metabolik
Pada kasus yang berat hiponatremia dan asidosis metabolik
sering dijumpai, oleh karena itu kadar elektrolit dan gas
dalam darah sebaiknya ditentukan secara teratur terutama
pada kasus dengan renjatan yang berulang. Kadar kalium
dalam serum kasus yang berat biasanya rendah, terutama
kasus yang memperoleh plasma dan darah yang cukup
banyak. Kadang-kadang terjadi hipoglikemia.
2) Obat penenang
Obat yang hepatotoksik sebaiknya dihindarkan, chloral
hidrat oral atau rektal dianjurkan dengan dosis 12,5-50
mg/kg (tetapi jangan lebih dari 1 jam) digunakan sebagai
satu macam obat hipnotik.
3) Terapi oksigen
Semua penderita dengan renjatan sebaiknya diberikan
oksigen
4) Transfusi darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti
hematemesis dan melena diindikasikan untuk memperoleh
transfusi darah. Darah segar sangat berguna untuk
mengganti volume massa sel darah merah agar menjadi
normal.

9. Komplikasi Demam Berdarah Dengue


a. Ensefalopati dengue: edema otak dan alkalosis dapat terjadi baik pada
syok maupun tanpa syok.
b. Kelainan ginjal: akibat syok berkepanjangan
c. Edema paru: akibat pemberian cairan berlebihan (Christanto, et al.
2014).
10. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
a. Konsep Tumbuh
b. Konsep Kembang

Pertumbuhan dan Perkembangan

Bayi ( 0 1 tahun)

Karakteristik Fisik

Usia 0 sampai 6 bulan

1. Berat badan
a. Berat badan akan menjadi dua kali lipat pada usia 6 bulan
b. Berat badan bayi bertambah kira-kira 0,6 kg perbulan
2. Panjang badan
a. Panjang badan rata-rata saat berumur 6 bulan adalah 65 cm
b. Panjang badan menoingkat dengan kecepatan 2,5 cm perbulan
3. Lingkar kepala
a. Lingkar kepala mencapai 42,5 cm pada usia 6 bulan
b. Lingkar kepala meningkat 1,25 cm perbulan

Usia 6 sampai 12 bulan

1. Berat badan
a. Berat badan meningkat tiga kali lipat pada usia 1 tahun
b. Perkiraan berat badan pada usia 1 tahun adalah 10 kg
c. Bayi bertambah berat badannya 0,45 kg perbulan
2. Panjang badan
a. Bagian tubuh yang mengalami pertumbuhan terpesat adalah badan
b. Bayi bertumbuh 1,25 cm perbulan
c. Panjang badan total meningkat 50 % pada usia 1 tahun
3. Lingkar kepala
a. Lingkar kepala meningkat 0,6 cm perbulan
b. Lingkar kepala meningkat pada usia 1 tahun adalah 50 cm

Perkembangan Motorik Kasar

Usia 1 sampai 4 bulan

1. Mengangkat kepala saat tengkurap


2. Dapat duduk sebentar dengan ditopang
3. Dapat duduk dengan kepala tegak
4. Jatuh terududuk di pangkalan ketika ditahan pada posisi berdiri
5. Pengendalian kepala sempurna
6. Mengangkat kepala sambil berbaring terlentang
7. Berguling dari telentang ke miring
8. Posisi lengan dan tungkai kurang fleksi
9. Berusaha untuk merangkak

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Menahan kepala tegak terus-menerus


2. Berayun kedepan dan belakang
3. Berguling dari telentang ke tengkurap
4. Dapat duduk dengan bantuan selama interval singkat

Usia 8 sampai 12 bulan

1. Duduk dari posisi tegak tanpa bantuan


2. Dapat berdiri tegak dengan bantuan
3. Menjelajah
4. Berdiri tegak tanpa bantuan walaupun hanya sebentar
5. Membuat posisi merangkak
6. Merangkak
7. Berjalan dengan bantuan

Perkembangan Motorik Halus

Usia 1 sampai 4 bulan

1. Melakukan usaha yang bertujuan memegang suatu objek


2. Mengikut objek dari sisi ke sisi
3. Mencoba memegang benda tetapi terlepas
4. Memasukkan benda ke dalam mulut
5. Memperhatikan tangan dan kaki
6. Memegang benda dengan ke dua tangan
7. Menahan benda di tangan walaupun hanya sebentar

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang


2. Mengeksplorasi benda yang sedang dipegang
3. Menggunakan bahu dan tangan sebagai unit tunggal
4. Mengambil objek dengan tangan tertangkup
5. Mampu menahan kedua benda dikedua tangan secara simultan
6. Memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain

Usia 8 sampai 12 bulan

1. Melepaskan objek dengan jari lurus


2. Mampu menjepit benda
3. Melambaikan tangan
4. Menggunakan tangannya untuk bermain
5. Menempatkan objek ke dalam wadah
6. Makan biskuit sendiri
7. Minum dari cangkir dengan bantuan
8. Menggunakan sendok dengan bantuan
9. Makan dengan jari
10. Memegang krayon dengan membuat coret-coretan diatas kertas

Perkembangan Sensorik

Usia 0 sampai 1 bulan

1. Membedakan rasa manis dan asam


2. Menarik diri dari stimulus yang menyakitkan
3. Membedakan bau, mampu mendeteksi bau ibu
4. Memalingkan kepala dari bau yang tidak disukai
5. Membedakan bunyi berdasarkan perbedaan nada, frekuensi, dan durasi
6. Berespons terhadap perubahan cahaya
7. Mulai dapat melacak objek, tetapi mudah juga kehilangan objek tersebut
8. Lebih berfokus pada wajah manusia dibandingkan benda-beanda lain yang ada dalam
satu lapang pandang
9. Mempunyai ketajaman penglihatan 20/400 mampu berfokus pada objek yang berada
pada jarak 20 cm
10. Terdiam jika mendengar bunyi suara

Usia 1 sampai 4 bulan

1. Membedakan wajah dan suara ibu dari suara-suara perempuan lain


2. Menunjukan pelacakan visual yang akurat
3. Membedakan antara pola penglihatan
4. Membedakan wajah-wajah yang dikenal atau tidak dikenal

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Berespons terhadap perubahan warna


2. Mengikuti objek dari garis tengah ke samping
3. Mengikuti objek dalam berbagai arah
4. Mencoba mencari sumber bunyi
5. Berusaha mengkoordinasi tangan mata
6. Indera penciuman sudah berkembang dengan baik
7. Mencapai batas ketajaman penglihatan dewasa
8. Berespons terhadap suara yang tidak terlihat
9. Menujukkan pilihan rasa

Usia 8 sampai 12 bulan

1. Persepsi ke dalam telah meningkat


2. Mengenali namanya sendiri

Perkembangan Kognitif ( tahap sensorimotor-lahir sampai 2 tahun )

Usia 0 sampai 1 bulan

1. Perilaku involunter
2. Refleksi primer
3. Orientasi aitistik
4. Tidak ada konsep baik diri sendiri maupun orang lain

Usia 1 sampai 4 bulan

1. Perilaku refleksif secara bertahap digantikan dengan gerakan volunter


2. Aktivitas berpusat disekitar tubuh
3. Membuat usaha awal untuk mengulang dan menirukan tindakan
4. Banyak menunjukkan perilaku trial and error
5. Berusaha memodifikasi perilaku sebagai resposns terhadap berbagai stimulus ( misal
menghisap payudara vs botol)
6. Menunjukkan oientasi simbiosis
7. Tidak mampu membedakan diri sendiri dari orang lain
8. Terlibat dalam satu aktivitas karena aktivitas tersebut menyenangkan

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Menunjukkan pengulangan tindakan yang bertujuan


2. Menujukkan keinginan berperilaku untuk mencapai tujuan
3. Menentukan perbedaan intensitas ( suara dan penglihatan )
4. Menirukan tindakan sederhana
5. Menujukkan permulaan penetapan objek
6. Mengetahui kejadian yang akan datang misalkan makan
7. Menunjukkan kesadaran bahwa diri sendiri terpisah dari orang lain

Usia 8 sampai 12 bulan

1. Mengetahui kejadian sebagai sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan


2. Menunjukkan munculnya perilaku yang disengaja
3. Menunjukkan perilaku yang mengarah pada tujuan
4. Membuktikan kepermanenan objek
5. Mencari objek yang hilang
6. Dapat meniru sejumlah besar tindakan
7. Memahami arti dari kata-lata dan perintah sederhana
8. Menghubungkan sikap dan perilaku dengan simbol
9. Menjad figur lebih keibuan

Perkembangan Bahasa

Usia 1 bulan

1. Mendekut
2. Membuat suara seperti hidup
3. Membuat suara merengek ketika sedang kesal
4. Membuat suara berdenguk ketika sedang kenyang
5. Tersenyum sebagai respons terhadap pembicaraan orang dewasa

Usia 1 sampai 4 bulan

1. Bersuara dan tersenyum


2. Dapat membuat bunyi huruf hidup
3. Bersuara
4. Berceloteh

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Menggunakan vokalisasi yang semakin banyak


2. Menggunakan kata-kata yang terdiri atas dua suku kata boo-boo
3. Dapat membuat dua bunyi vokal bersamaan
Usia 8 sampai 12 bulan

1. Mengucapkan kata-kata pertama


2. Menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang, dan aktivitas
3. Menirukan berbagai bunyi kata
4. Dapat mengucapkan serangkaian suku kata
5. Memahami arti larangan seperti jangan
6. Berespons terhadap panggilan dan orang-orang yang merupakan anggota keluarga
dekat
7. Menunjukkan infleksi kata-kata yang nyata
8. Menggunakan tiga kosakata
9. Menggunakan kalimat suku kata

Perilaku sosial

Usia 0 sampai 1 bulan

1. Tersenyum pada wajah manusia


2. Lebih banyak terjaga sepanjang hari
3. Membentuk siklus tidur-bangun
4. Menangis dapat dibeda-bedakan
5. Membedakan wajah-wajah yang dikenal dan tidak kenal
6. Senang menatap wajah-wajah yang dikenalnya
7. dingin jika ada orang lain

Usia 4 sampai 8 bulan

1. Merasa terpaksa jika ada orang asing


2. Mulai bermain dengan mainan
3. Takut akan kehadiran orang asing
4. Mudah frustasi
5. Memukul-mukulkan lengan dan tungkai jika sedang kesal

Usia 8 sampai 12 bulan

1. Bermain perminan yang sederhana


2. Menangis jika dimarahi
3. Membuat permintaan sderhana dengan gaya tubuh
4. Menunjukkan peningkatan ansietas terhadap perpisahan dari pengasuh primer
5. Lebih menyukai figur pengasuh daripada orang dewasa lainnya
6. Mengenali anggota keluarga

Perkembangan moral
Perkembangan moral belum dimulai sampai usia todler, ketika kognitif awal sudah
mulai muncul

Toddler ( 1 sampai 3 tahun )

1. Berat badan
a. Berat badan toddler bertambah sebesar 2,2 kg pertahun
b. Penambahan berat badan menurun secara seimbang
2. Tinggi badan
a. Tinggi badan meningkat sekitar kira-kira 7,5 cm per tahun
b. Proporsi tubuh berubah, lengan dan kaki tumbuh dengan laju yang lebih cepat dari
kepala dan badan
c. Lordosis lumbal pada spina kurang terlihat
d. Tubuh toddler tidak begitu gemuk dan pendek
e. Tungkai mempunyai tampilan yang bengkok
3. Lingkar kepala
a. Fontanel anterior menutup pada usia 15 bulan
b. Lingkar kepala meningkat 2,5 cm pertahun
4. Gigi molar pertama dan kedua serta gigi taring mulai muncul

Perkembangan Motorik Kasar

Usia 15 bulan

1. Berjalan sendiri dengan jarak kedua kaki lebar


2. Merayapi tangga
3. Dapat melempar objek

Usia 18 bulan

1. Mulai bisa berlari, jarang jatuh


2. Menaiki dan menuruni tangga
3. Menaiki mebel
4. Bermain dengan mainan-mainan yang dapat ditarik
5. Dapat mendorong perabot yang ringan kesekeliling ruangan
6. Duduk sendiri diats bangku

Usia 24 bulan

1. Berjalan dengan gaya berjalan stabil


2. Berlari dengans sikap yang lebih terkontrol
3. Berjalan naik dan turun tangga dengan menggunakan dua kaki pada setiap langkah
4. Melompat dengan kasar
5. Membantu membuka baju sendiri
6. Menendang bola tanpa kehilangan keseimbangan

Usia 30 bulan

1. Dapat menyeimbangkan diri sementara dengan satu kaki


2. Menggunakan kedua kaki untuk melompat
3. Melompat kebawah dari atas perabot
4. Mengendarai sepeda roda tiga

Perkembangan motorik halus

Usia 15 bulan

1. Membangun menara yang terdiri atas dua balok


2. Membuka kotak
3. Memasukkan jari kelubang
4. Menggunakan sendok tetapi menumpahkan isinya
5. Membalik halaman

Usia 18 bulan

1. Membangun menara yang terdiri atas tiga balok


2. Mencoret-coret sembarangan
3. Minum dari cangkir

Usia 24 bulan

1. Minum dari cangkir yang dipegang dengan satu tangan


2. Menggunakan sendok tanpa menumpahkannya
3. Membangun menara yang terdiri atas empat balok
4. Mengosongkan isi botol
5. Menggambar garis vertikal dan bentuk lingkaran

Usia 30 bulan

1. Memegang krayon dengan jari


2. Menggambar dengan asal
3. Mampu membangun menara yang terdiri atas enam balok

Perkembangan moral
1. Konsep todler tentang benar dan salah terbatas.
2. Orang tua mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kesadaran
anak.

Perkembangan kepercayaan
1. Keyakinan dipelajari dari orang tua.
2. Anak menirukan praktik dan sikap keagamaan dari kecil.

PRA SEKOLAH ( 3 sampai 6 tahun)

Karakteristik fisik
1. Berat badan
Penambahan berat badan anak prasekolaj kurang dari 2 kg per tahun.
Berat rata rata adalah 18 kg.
2. Tinggi badan
Pertumbuhan tinggi badan anak 5 sampai 7 cm per tahun.
Tinggi rata rata adalah 108 cm.
3. Postur tidak ada lordosis lagi.
4. Gigi gigi susu mulai tanggal

Perkembangan motorik kasar


Usia 36 bulan
1. Memakai dan mengganti baju sendiri
2. Berjalan mundur
3. Naik turun tangga dengan kaki bergantian
4. Berdiri sesaat diatas satu kaki
Usia 4 tahun
1. Melompat dengan satu kaki
2. Memanjat dan melompat
3. Melempar bola cukup baik
Usia 5 tahun
1. Melompat melewati tali
2. Berlari tanpa kesulitan
3. Bermain lompat tali dengan cukup baik
4. Mainan tangkap
Usia 6 tahun
1. Berlari dengan terampil
2. Berlari dan bermain secara bersamaan
3. Mulai naik sepeda
4. Menggambar orang lengkap dengan badan, lengan dan tungkai
5. Menambah ciri, seperti mulut, mata, hidung dan rambut dalam gambar tersebut

Perkembangan motorik halus


Usia 36 tahun
1. Memasang manik manik besar
2. Meniru gambar tanda silang dan bulatan
3. Membuka kancing depan dan samping
4. Menyusun menara dengan 10 balok tanpa jatuh
Usia 4 tahun
1. Menggunakan gunting
2. Menggunting gambar sederhana
3. Meniru gambar bujur sangkar
Usia 5 tahun
1. Memukul kepala paku dengan palu
2. Mengikat tali sepatu
3. Dapat meniru tulisan beberapa huruf alfabet
4. Dapat menulis nama
Usia 6 tahun
1. Dapat memakai garpu
2. Mulai memakai pisau

Perkembangan sensorik
Usia 4 tahun
1. Persepsi ruang sangat terbatas
2. Dapat mengidentifikasi satu atau dua warna
Usia 5 tahun
1. Sedikitnya dapat mengidentifikasi 4 warna
2. Dapat membedakan objek berdasarkan beratnya
3. Memerankan orang tua dan orang dewasa lainnya

Perkembangan kognitif (2 sampai 7 tahun)


Anak berkembang dari perilaku sensorimotorik sebagai latihan pembelajaran dan berinteraksi
dengan lingkungan menjadi pembentukan pikiran simbolik.
1. Mengambangkan kemampuan untuk membentuk representasi mental terhadap objek
dan orang
2. Mengembangkan konsep waktu
3. Memiliki perspektif egosentris; memberi arti sendiri untuk realitas
Berikut ini adalah karakteristik pemikirannya:
1. Animisme: keyakinan bahwa benda mempunyai perasaan, kesadaran dan pikiran
seperti manusia
2. Artifisialisme: keyakinan bahwa sebuah agens kuat (natural atau supernatural)
menyebabkan terjadinya suatu peristiwa
3. Sentrasi: kemampuan untuk berfokus pada satu aspeksaja dari situasi
4. Partisipasi: keyakinan bahwa kejadian timbul untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan anak
5. Sinkretisme: penggunaan sebuah penjelasan yang spesifik untuk suatu kejadian
sebagai jawaban untuk melukiskan situasi yang berbeda secara alami dari yang asli
6. Jukstaposisi: bentuk rudimeter dari asosiasi dan pemikiran; menghubungkan dua
kejadian namun bukan hubungan sebab akibat
7. Transduksi: bentuk rudimeter dari asosiasi dan pemikiran; mengasosiasikan fakta
yang tidak signifikan dalam hubungan sebab akibat
8. Irreversibilitas: ketidakmampuan membalikkan proses berpikir; ketidakmampuan
untuk kembali jalan pikiran dari kesimpulan sampai awalnya

Perkembangan bahasa
Usia 2 tahun
1. Menggunakan kalimat dengan dua dan tiga kata
2. Menggunakan holofrase
3. Lebih dari setengah pembicaraannya dapat dimengerti
Usia 3 tahun
1. Banyak bertanya
2. Berbicara saat ada maupun tidak ada orang
3. Menggunakan pembicaraan telegrafis (tanpa kata preposisi, kata sifat, kata
keterangan, dll)
4. Mengucapkan konsonan berikut: d, b, t, k dan y
5. Menghilangkan w dari pembicaraannya
6. Mempunyai perbendaharaan kata sebanyak 900 kata
7. Memakai kalimat 3 kata (subjek kata kerja objek)
8. Menyatakan namanya sendiri
9. Membuat kesalahan suara spesifik (s, sh, ch, z, th, r, dan l)
10. Menjamakkan kata kata
11. Mengulangi ungkapan dan kata kata dengan tanpa tujuan
Usia 4 tahun
1. Pembendaharaan katanya berjumlah 1500 kata
2. Menghitung sampai tiga
3. Menceritakan cerita panjang
4. Mengerti pertanyaan sederhana
5. Mengerti dasar hubungan sebab akibat dari perasaan
6. Pembicaraannya egosentris
7. Membuat kesalahan suara spesifik (s, sh, ch, z, th, r dan l)
8. Memakai kalimat empat kata
Usia 5 tahun
1. Perbendaharaan kata sebanyak 2100 kata
2. Memakai kalimat lima kata
3. Memakai kata depan dan kata penghubung
4. Memakai kalimat lengkap
5. Mengerti pertanyaan yang berkaitan dengan waktu dan jumlah (berapa banyak dan
kapan)
6. Tetap membuat kesalahan suara
7. Belajar untuk berpartisipasi dalam percakapan sosial
8. Dapat menyebut hari hari dalam seminggu
Usia 6 tahun
1. Tidak ada kesalahan suara lagi
2. Mengerti hubungan sebab akibat dari kejadian fisik
3. Memakai bahasa sebagai media pertukaran verbal
4. Struktur bicara mirip bentuk dewasa
5. Menambah kosakata sesuai stimulasi lingkungan

Perkembangan psikoseksual
1. Fokus tubuh genital
2. Tugas perkembangan peningkatan kesadarannya terhadap organ seks dan minatnya
dalam seksualitas
3. Krisis perkembangan Oedipus dan electra kompleks; ketakutan terhadap kastrasi;
ketakutan terhadap adanya gangguan pada tubuh; perkembangan prasyarat untuk
identitas laki laki atau perempuan; identifikasi dengan orang tua dari jenis kelamin
yang sama (pada keluarga dengan hanya satu orang tua, pemecahan krisis selamat
tahap ini mungkin lebih sulit)
4. Keterampilan koping umum pembentukan reaksi; transisi dari perasaan negatif
terhadap orang tua dengan jenis kelamin yang berbeda menjadi perasaan positif;
masturbasi selama masa stres dan isolasi
5. Temperamen jumlah kecemburuan dan perilaku bervariasi sesuai pengalaman anak
di masa lalu dan lingkungan keluarga
6. Bermain- permainan dramatis, yaitu anak anak memerankan peran orang tua dan
peran jenis kelamin yang sama

Berikut ini adalah karakteristik anak spesifik usia:


1. Usia 5 tahun permainan seks kurang; anak sopan dan tampaknya kurang
terbuka; tertarik dari mana datangnya bayi; menyadari organ seks orang
dewasa
2. Usia 6 tahun permainan seks ringan, dengan peningkatan ekshibisionisme;
investigasi seks mutual

Perkembangan psikososial (Inisiatif vs rasa bersalah)


1. Tugas perkembangan perkembangan hati nurani; peningkatan kesadaran diri dan
kemampuan berfungsi dalam dunia
2. Krisis perkembangan memeragakan peran seks yang sesuai; mempelajari benar dan
salah
3. Keterampilan koping umum
a. Keterampilan pemecahan masalah awal
b. Penyangkalan
c. Pembentukan reaksi
d. Somatisasi (umumnya dalam sistem gastrointestinal)
e. Regresi
f. Pemindahab
g. Proyeksi
h. Fantasi
4. Bermain anak memiliki kehidupan fantasi aktif; menunjukkan ekspreimentasi
dengan ketrampilan dan permainan baru; peningkatan aktivitas bermain, yaitu anak
dapat mengendalikan dan menggunakan dirinya sendiri
5. Peran orang tua supervisi dan pengarahan diterima oleh anak yang berusia 6 tahun
berespons lebih lambat dan negatif terhadap permintaan dan arahan orang tua; orang
tua adalah model peran bagi anak prasekolah, dan sikap orang tua tersebut
mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku dan sikap anak
6. Rencana untuk memberi aktivitas permainan yang sesuai dan kesempatan merawat
diri

Perilaku Sosialisasi
1. Memandang orang tua sebagai figur terpenting
2. Bersifat posesif; ingin maunya sendiri
3. Mampu bekerja sama dengan teman sebaya dan orang dewasa
4. Meniru dan model peran orang tua dan orang dewasa lainnya

Perkembangan moral (tahap prakonvensional)

1. Anak prasekolah melihat aturan sebagai sesuatu yang kaku dan tidak fleksibel
2. Konsekuensi negatif dilihat sebagai hukuman terhadap kelakuan buruk
3. Orang tua dilihat sebagai otoritas tertinggi untuk menetapkan benar dan salah
4. Anak memulai proses mendalami pengertian benar dan salah

Perkembangan Kepercayaan (tahap intuitif-proyektif)

1. Praktis keagamaan, perhiasan kecil, dan simbol mulai memiliki arti praktis bagi anak
prasekolah
2. Tuhan dilihat dalam istilah manusia
3. Tuhan dipahami sebagai bagian dari alam, seperti halnya pohon, bunga dan sungai
4. Kejahatan dapat dibayangkan dengan istilah menyeramkan, seperti monster atau setan

Anak usia sekolah (7 sampai 12 tahun)


Karakteristik fisik

Ledakan pertumbuhan dimulai. Berbagai variasi masih normal. Anak perempuan mungkin
mulai mengembangkan ciri seks sekundernya dan mulai menstruasi pada tahap ini. Usia
awitan menstruasi telah menurun pada dekade terakhir ini.
1. Berat badan bertambah 2 sampai 4 kg per tahun
2. Tinggi badan pada usia 8 tahun, secara proporsional lengan tumbuh lebih panjang
dari pada badan; tinggi bertambah pada usia 9 tahun
3. Gigi gigi susu mulai tanggal; memiliki 10 sampai 11 gigi permanen saat berusia 8
tahun dan kira kira 26 gigi permanen saat berusia 12 tahun

Perkembangan Motorik Kasar


1. Umur 7 sampai 10 tahun aktivitas motorik kasar dibawah kendali keterampilan
kognitif dan kesadaran; secara bertahap meningkatkan irama, kehalusan dan
keanggunan gerakan otot; meningkatkan minat dalam penyempurnaan keterampilan
fisik; kekuatan dan daya tahan juga meningkat
2. Umur 10 sampai 12 tahun tingkat energi tinggi dan peningkatan arah serta kendali
kempuan fisik
Perkembangan motorik halus

1. Menunjukkan peningkatan perbaikan ketrampilan motorik halus karena bertambahnya


mielinisasi sistem saraf pusat
2. Menunjukkan perbaikan keseimbangan dan koordinasi mata tangan
3. Dapat menulis daripada mengucapkan kata kata saat berusia 8 tahun
4. Menunjukkan peningkatan kemampuan untuk mengungkapkan secara individu dan
perhatian khusus, seperti menjahit, membuat model dan bermain alat musik
5. Menunjukkan ketrampilan motorik halus yang sama dengan orang dewasa saat
berusia 10 12 tahun

Perkembangan kognitif (tahap konkret operasional usia 7 11 tahun)

1. Pemikiran anak menjadi sangat abstrak dan simbolik; kemampuan membentuk


representasi mental dibantu oleh kepercayaan pada akal sehat penglihatan
2. Mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam menemukan pemecahan terbaik
3. Dapat membalikkan cara kerja; dapat melacak urutan kejadian kembali sejak awal
4. Memahami konsep dulu, sekarang dan yang akan datang
5. Dapat menyebutkan waktu
6. Dapat menggolongkan objek sesuai golongan dan sub golongan
7. Memahami konsep tinggi, berat dan volume
8. Dapat berfokus pada lebih dari satu aspek situasi

Perkembangan bahasa

1. Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal


2. Pemahaman terhadap kata kata mungkin tertinggal dari pengertiannya
3. Tidak begitu egosentris dalam orientasi;dapat mempertimbangkan pandangan lain
4. Mengerti sebagian besar kata kata abstrak
5. Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata
penghubung, dan kata depan
6. Ikut memakai kalimat majemuk dan kompleks
7. Kosakatanya mencapai 50.000 kata pada akhir masa ini.
Perkembangan psikososeksual ( Tahap Laten)
1. Fokus tubuh masalah seksual menjadi kurang disadari
2. Tugas perkembangan integritas bertahap dari pengalamanan dan reaksi seksual yang
lalu ( pada tahun tahun ini terdapat makin banyak laporan bahwa masa laten ini
bukanlah periode netral dalam perkembangan seksualitas )
3. Krisis perkembangan makin banyak laporan tentang masalah seksual praremaja,
yang dimulai saat kira kira berusia 10 tahun.
4. Keterampilan koping umum menggigit kuku, ketergantungan keterampilan
pemecahan masalah bertambah, penyangkalan humor, fantasi dan identifikasi.
5. Peran orang tua peran utama dalam pendidikan anak tentang aturan dan norma yang
mengatur perilaku seksual dan seksualitas dan dalam memengaruhi perilaku spesifik
kelamin.
Karakteristik spesifik berdasarkan umur :
1. 7 tahun minat untuk seks menurun dan kurang eksplorasi perhatian kepada lawan
jenis meningkat,dimulai dengan parasaan cinta anak lelaki perempuan.
2. 8 tahun perhatian seksual tinggi ; peningkatan kegiatan seperti mengintip,
menceritakan lelucon cabul, dan ingin menambah informasi seksual tentang kelahiran
dan hubungan seksual; anak perempuan peningkatan perhatian terhadap menstruasi.
3. 9 tahun peningkatan diskusi dengan teman sebaya tentang topik seksual;
memisahkan jenis kelamin dalam aktivitas permainan; menghubungkan diri dengan
proses reproduksi; kesadaran diri tentang pajanan seksual; minat berkencan dan
berhubungan dengan lawan jenis pada sejumlah anak.
4. 10 tahun minat pada tubuh dan penampilan diri meningkat banyak anak mulai
berkencan dan berhubungan dengan lawan jenis dalam aktivitas kelompok dan
pasangan.
5. 11 sampai 13 tahun khawatir tentang penampilannya; tekanan sosial agar tampak
langsing dan menarik merupakan sumber stres; gambaran keliru tentang hubungan
seks dan kehamilan banyak terdapat pada anak anak.

Perkembangan psikososial (industri vs inferioritas)


1. Tugas perkembangan belajar mengembangkan rasa keadekuatan terhadap
kemampuan dan kompetensi pada saat kesempatan untuk belajar dan interaksi sosial
bertambah; anak berusaha agar berhasil di sekolah
2. Krisis perkembangan anak dalam bahaya akibat perkembangan rasa rendah diri jika
ia tidak merasa kompeten dalam pencapaian tugas
3. Bermain anak menikmati aktivitas santai bersama teman sebaya; permainan
cenderung memisahkan kedua lawan jenis; mainan rough and tumble adalah ciri khas
permainan luar rumah yang tidak terstruktus; minat pribadi, aktivitas, dan hobi
berkembang pada saat ini
4. Peran keluarga dan orang tua orang tua menjadi figur yang kurang bermaksa dalam
arti sebagai agens untuk sosialisasi; hubungan dengan teman sebaya cenderung
mengurangi pengaruh dominan dari orang tua yang telah ada sebelumnya; orang tua
masih merasa dan berespons sebagai otoritas utama; harapan dari guru, pelatih dan
para tokoh keagamaan memberi dampak terhadap perilaku anak
5. Rencana meningkatkan keterlibatan dalm rencana aktivitas sekolah seuai usia,
ekstrakurikuler, dan kelompok sosial dan komunitas untuk membangin rasa
pencapaian dan kebanggaan
Perkembangan moral (tahap konvensional)

1. Pengertian moralitas anak ditentukan oleh aturan dan tata tertib dari luar
2. Hubungan dan kontak sosial anak dengan figur otoritas memengaruhi pengertian
benar dan salah
3. Pengertian benar dan salah anak ketat dan kaku

Perkembangan kepercayaan (tahap dongeng harfiah)

1. Kepercayaan anak sangat dipengaruhi oleh figur otoritas


2. Anak belajar membedakan hal yang natural versus supernatural
3. Anak mulai membentuk pengertian pribadi tentang Tuhan

Remaja (13 sampai 19 tahun)

Karakteristik fisik

Masa remaja ditandai dengan pertumbuhan yang cepat dan kejanggalan awal dalam aktivitas
motorik kasar dan oleh keadaan emosi yang meninggi karena perubahan hormon.

1. Perubahan somatik anak perempuan menjadi dewasa rata rata 2 tahun lebih awal
dari anak laki laki karena pematangan sistem saraf pusat yang cepat
2. Tinggi badan dan berat badan rata rata lebih besar pada anak laki laki karena
pertumbuhan lebih cepat dan tertundanya pubertas selama 2 tahun
3. Gigi
a. Geliginya lengkap selama akhir masa remaja
b. 80% remaja perlu dicabut satu atau dua gigi geraham bungsunya (terakhir)
4. Pubertas
1
a. Usia awitan rata rata adalah 12 2 tahun pada anak perempuan dan 15

1
2 tahun pada anak laki laki

1
b. Emisi nokturnal (mimpi basah) umumnya dilaporkan pada usia 14 2 tahun

1 1
(jangka usia 11 2 sampai 17 2 tahun)
c. Menarke merupakan identifikasi kriteria bagi anak perempuan pubertas; usia

1
rata rata 12 2 sampai 13 tahun.

Perkembangan motorik kasar dan halus


Peningkatan pengendalian motorik kasar dan halus secara bertahap terjadi selama periode ini.
Perkembangan neurologis dan peningkatan ketrampilan praktik menerangkan perubahan ini.
Kesulitan umum yang berkaitan dengan perubahan fisik selama masa remaja adalah:
1. Masalah dan/atau penyakit kulit
a. Ekzema
b. Acne vulgaris
2. Postur buruk
a. Lordosis
b. Skoliosis
3. Masalah gigi
a. Pencabutan gigi geraham terakhir
b. Malokfusi
4. Sakit kepala
5. Masalah dan/atau gangguan berat badan
a. Obesitas juvenilis
b. Anoreksia nervosa
c. Bulimia

Laki laki Perempuan Kedua jenis kelamin

Penebalan dan penguatan Peningkatan diameter pelvis Peningkatan luas rangka


struktur tulang pelvis internal tubuh
Peningkatan ukuran Pembesaran payudara, ovarium Bertambah gelap dan
skrotum dan testis dan uterus kasarnya rambut pubis
Peningkatan sensitivitas Peningkatan pertumbuhan labia Peningkatan rambut aksila
area genital
Peningkatan ukuran vagina Perubahan suara
Peningkatan ukuran penis

Program kognitif (tahap operasional formal 11 tahun keatas)


Kemampuan berpikir mendekati tingkat kemampuan orang dewasa. Remaja mendapat
kemampuan penalaran secara simbolis tentang hal hal yang lebih global dan altruistik dan
memakai pendekatan yang lebih sistematik terhadap pemecahan masalah. Karakteristik
berpikir mencakup hal hal berikut ini:
1. Mempertimbangkan pandangan orang lain ketika memproses informasi
2. Berpikir tidak dibatasi oleh keadaan aktual; dapat menerapkan konsep teoritis
kepada keadaan hipotesis atau imajiner
3. Mngembangkan orientasi altruistik (kejujuran dan keadilan)
4. Mengembangkan sistem nilai sendiri
5. Dapat membuat kesimpulan deduktif dan induktif

Perkembangan bahasa

1. Memakai bahasa sebagai media untuk menyampaikan ide, opini, dan nilai
2. Memasukkan bentuk struktural dan gramatikal kompleks
3. Menggunakan istilah istilah populer dan istilah istilah yang diterima teman sebaya

Perkembangan psikoseksual

1. Fokus tubuh area genital


2. Tuga perkembangan integrasi tugas perkembangan yang dipelajari dari thap
sebelumnya. Tingkat ketika tugas pekembangan yang sbelumnya dicapai dan diatasi
akan memengaruhi tingkat fungsi individu tersebut pada tahap ini. Tahap ini dicirikan
dengan perhatian terhadap seksual dan ketertarikan seksual terhadap yang lain (baik
sesama maupun lain jenis).
3. Krisis perkembangan pengembalian dan pengintegrasian konflik pada tahap
sebelumnya sampai berfungsi dan berperilaku seperti orang dewasa sepenuhnya.
Perilaku dewasa ini dibuktikan dengan kmpuan untuk melakukan hubungan seksual
intim yang menyenangkan dengan pasangan, bertanggung jawab dan merawat orang
tunya, bekerja secara produktf, dan berperan serta dalam komunitas.
4. Ketrampilan koping yang umum peningkatan ketrampilan pemecahan masalah, gaya
hidup sehat, perilaku prososial, humor, fantasi, marah, menolak, menggunakan zat
terlarang, perilaku agresif dan kriminal, depresi mengembang, dan gangguan makan.
5. Peran orang tua peran utama orang tua adalah mendidik remaja tentang perilaku
seksual dan seksualitas yang tepat dan memberi batasan pada semua situasi sosial
seperti hubungan intim, hubungan sosial dan hubungan di lingkungan pekerjaan dn
komunitas. Selain itu, orang tua dan/atau figur otoritas orang dewasa memberikan
konseling reproduksi dan mendiskusikan pencegahan penyakit menular seksual.

Karakteristik spesifik usia meliputi:

1. 14 sampai 16 tahun peduli terhadap penampilan; tekanan sosial untuk terlihat


langsing dan menarik merupakan sumber stres; tekanan untuk menyesuaikan diri
terhadap norma kelompok teman sebaya; perbandingan sosial terhadap konsep sosial
popularitas memengaruhi interaksi sosial; hubungan sosial diarahkan untuk terlibat
dengan jenis kelamin yang berbeda. Pasangan remaja dengan aktivitas kelompok
sosial yang lebih besar tampak. Ketetapan atau monogami pola kencan muncul.
Aktivitas seksual muncul pada kelompok usia ini. Kehamilan remaja merupakan
risikonya.
2. 17 sampai 19 tahun tetap peduli terhadap penampilan; tekanan sosial untuk terlihat
langsing dan menarik tetap menjadi sumber stres; tekanan untuk menyesuaikan diri
terhadap norma kelompok teman sebaya tetap berlanjut; perbandingan sosial
terhadap konsep sosial popularitas tetap memengaruhi interaksi sosial; hubungan
sosial tetap diarahkan untuk terlibat dengan jenis kelamin yang berbeda. Pasangan
remaja dengan aktivitas kelompok sosial tetap tampak. Ketetapan atau monogami
pola kencan tetap muncul. Risikonya meliputi perkawinan usia remaja, kehamilan
dan penyakit menular seksual.

Perkembangan psikososial (identitas vs konfusi peran)

1. Tugas perkembangan perkembangan keyakinan diri tentang invidualitas uniknya


sendiri, berdasarkan sistem kebutuhan, keinginan, pilihan, nilai dan kepercayaan yang
telah berkembang terus sepanjang masa kanak kanak.
2. Krisis perkembangan remaja merasakan kebingungan peran; tidak dapat
mengidentifikasi secara akurat faktor faktor apa yang diperlukan untuk
pertumbuhan diri yang optimal; sangat dipengaruhi oleh opini dan penilaian
kelompok sebaya.
3. Permainan aktivitas fisik berat dan terstruktur cenderung dimainkan dengan
pengelompokan jenis kelamin. Timbul hubungan heterseksual, meletakkan dasar bagi
dasar bagi hubungan intim jangka panjang. Terbentuk persahabtan yang akrab dan
kuat. Munsul kelompok kelompok kecil yang memberi dukungan emosional dan
sosial yang kuat pada remaja. Remaja mulai melakukan aktivitas orang dewasa.
Mereka memakai fantasi untuk membayangkan pertemuan dan hubungan seksual, dan
mereka mempertinggi seksualitas dengan berfokus pada aktivitas stereotipik laki
laki dan perempuan, seperti mengebut dengan mobil, memakai pakaian seksi dan
angkat beban. Novel percintaan menjadi populer diantara remaja putri. Aktivitas
seperti berbelanja dan berlama lama di mal meningkat.
4. Keterampilan koping pemecahan masalah; menggunakan pertahanan diri; memakai
humor; sosialisasi meningkat.
5. Peran orang tua dan keluarga dapat timbul konflik dengan orang tua, terutama
sehubungan dengan kebutuhan remaja atau kebebasan; orang tua berpengaruh, secara
sadar maupun tidak sadar, dalam adaptasi dan penggunaan nilai nilai serta
kepercayaan dalam membuat keputusan.

Perkembangan moral

1. Tahap ini tidak secara universal dicapai oleh remaja


2. Remaja dapat menerapkan ideal dirinya pada keadaan keadaan moral yang sulit
(keadilan, amal)

Perkembangan kepercayaan (tahap perorangan refleksi)

1. Remaja dapat menjadi sangat religius atau sama sekali menolak hal hal religius
tersebut
2. Remaja dapat mundur ke tahap perkembangan sebelumnya demi kenyamanan
3. Penerimaan dan penolakan keyakinan dapat dipengaruhi oleh teman sebaya.

11. Imunisasi
Menurut A.Aziz Alimul Hidayat (2008) imunisasi meupakan usaha memberikan
kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksis ke dalam tubuh agar tubuh
membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Berikut jadwal
imunisasi 5 dasar menurut Depkes RI (2008)

Umur Jenis Vaksin


0 bulan HB 0, BCG, Polio 1
2 bulan DPT / HB 1, Polio 2
3 bulan DPT / HB 2, Polio 3
4 bulan DPT / HB 3, Polio 4
9 bulan Campak

Jadwal imunisasi booster :

Umur Jenis Vaksin


15-18 bulan Haemophilus Influena Tipe B
12-15 bulan Pneumokokus (PVC)
15 bulan dan 6 tahun Mump-Measle-Rubella (MMR)
5 tahun Varisela (Cacar air)

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan DBD


1. Pengkajian
Pada pengkajian anak dengan DHF ditemukan adanya peningkatan suhu yang
mendadak disertai menggigil, adanya perubahan kulit seperti petekhie,
ekimosis, hematom, epistaksis, hematemesis, bahkan hematemesis melena.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya nyeri otot, sakit kepala, nyeri ulu
hati, pembengkakan sekitar mata. Dan pada pemeriksaan laboratorium dapat
ditemukan adanya trombositopenia, dan hemokonsentrasi.
Apabila ditemukan gejala klinis seperti pendarahan spontan dengan uji
torniquet positif, trombositopenia dan hemokonsentrasi maka termasuk DHF
derajat ringan (I), apabila disertai dengan pendarahan spontan pada kulit atau
tempat lain termasuk derajat sedang (II), apabila terjadi kegagalan sirkulasi
seperti nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah, gelisah, adanya sianosis
termasuk derajat berat (III), dan apabila terjadi kegagalan sirkulasi dan nadi
tidak teraba dan tekanan darah tak terukur maka termasuk derajat sangat berat
(IV).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan DHF
adalah sebagai berikut :

1. Hipertermia
2. Kurang volume cairan
3. Risiko terjadi komplikasi (syok hipovolemik/pendarahan)
4. Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan)

3. Intervensi Keperawatan
Hipertermia
Terjadinya hipertermia pada anak dengan DHF ini disebabkan oleh adanya viremia. Tujuan
dari rencana keperawatannya adalah menurunkan suhu tubuh serta mempertahankannya
dalam kondisi yang normal.

Tindakan:
1. Monitorlah perubahan suhu tubuh, nadi, pernapasan, serta tekanan darah.
2. Berikan kompres dingin pada daerah aksila dan lipatan paha.
3. Gunakan pakaian yang tipis untuk membantu penguapan.
4. Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan.
5. Libatkan keluarga dan ajarilah cara melakukan kompres yang benar serta evaluasi
perubahan suhu.

Kurang Volume Cairan


Kurangnya volume cairan pada anak dengan DHF ini dapat disebabkan oleh adanya
perpindahan cairan intra vaskular ke ekstra vaskular akibat peningkatan permeabilitas kapiler
dan untuk itu tujuan rencana keperawatannya adalah mengatasi kurangnya cairan serta
mempertahankan asupan keluarannya.
Tindakan:
1. Monitorlah tanda vital, keadaan umum, tanda tanda syok, asupan dan keluaran.
2. Berikan cairan intravena dan pertahankan tetesan sesuai dengan ketentuan.
3. Anjurkan anak untuk banyak minum
4. Kaji perubahan produksi urine (produksi urine < 25 ml/jam atau 600 ml/hari).

Risiko Terjadi Komplikasi (Syok/Pendarahan)


Resiko terjadi komplikasi pada anak DHF ini dapat berupa terjadinya syok hipovolemik atan
pendarahan yang dapat disebabkan oleh trombositopenia. Tujuan dan rencana
keperawatannya adalah mencegah terjadinya pendarahan dan peningkatan trombosit.
Tindakan :
1. Monitorlah penurunan jumlah trombosit, Hb, Ht.
2. Anjurkan anak untuk istirahat.
3. Gunakan sikat gigi lunak, pelihara kebersihan mulut.
4. Monitor tanda adanya pendarahan.
5. Apabila terjadi pendarahan kolaborasi dalam pemberian obat dan transfusi.
6. Berikan antibiotik sesuai dengan ketentuan.
7. Pertahankan kebutuham cairan.

Kurang Nutrisi (Kurang dari Kebutuhan)


Gangguan kebutuhan nutrisi yang terjadi pada anak DHF ini dapat disebabkan oleh
menurunnya nafsu makan, adanya mual dan sakit dalam menelan. Tujuan dari rencana
tindakan keperawatan ini adalah terpenuhinya kebutuhan nutrisi.
Tindakan :
1. Monitorlah adanya perubahan berat badan, mual dan muntah.
2. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur dan hidangkan dalam keadaan
hangat.
3. Berikan porsi makanan sedikit dan sering hingga terpenuhi jumlah asupan.
4. Berikan obat anti-emesis sesuai dengan program /ketentuan bila perlu.
5. Berikan alternatif nutrisi yang dapat meningkatkan kadar trombosit.