Anda di halaman 1dari 5

Faktor Kesalahan Dalam Pengukuran dan Contoh-Contohnya.

Kesalahan Pengukuran Adalah : Terjadinya Penyimpangan nilai yang diukur dari nilai yang
dianggap benar atau nilai standart. Faktor-Faktor yang menyebabkan terjadinya Kesalahan
Pengukuran adalah sebagai berikut :

1. Kesalahan Pengukuran Karena Alat Ukur.


A. Kesalahan Komponen Alat Ukur
Kerusakan pada alat jelas sangat berpengaruh pada pembacaan alat ukur. Misalnya, pada
neraca pegas. Jika pegas yang digunakan sudah lama dan aus, maka akan berpengaruh
pada pengurangan konstanta pegas. Hal ini menjadikan jarum atau skala penunjuk tidak
tepat pada angka nol yang membuat skala berikutnya bergeser.
B. Kesalahan Titik Nol
Kesalahan titik nol terjadi karena titik nol skala pada alat yang digunakan tidak tepat
berhimpit dengan jarum penunjuk atau jarum penunjuk yang tidak bisa kembali tepat
pada skala nol. Akibatnya, hasil pengukuran dapat mengalami penambahan atau
pengurangan sesuai dengan selisih dari skala nol semestinya. Kesalahan titik nol dapat
diatasi dengan melakukan koreksi pada penulisan hasil pengukuran.Kesalahan ini dapat
terjadi dikarenakan alat sering digunakan dan tidak pernah dikalibrasi.

Gambar. Contoh kesalahan titik nol pada alat ukur


C. Kesalahan Kalibrasi
Kesalahan kalibrasi terjadi karena pemberian nilai skala pada saat pembuatan atau
kalibrasi (standarisasi) tidak tepat. Hal ini mengakibatkan pembacaan hasil pengukuran
menjadi lebih besar atau lebih kecil dari nilai sebenarnya. Kesalahan ini dapat diatasi
dengan mengkalibrasi ulang alat menggunakan alat yang telah terstandarisasi.

2. Kesalahan pengukuan karena benda ukur.

A. Deformasi Benda Ukur Karena Tekanan Alat Ukur


Setiap benda elastis akan mengalami deformasi ( perubahan bentuk ) apabila ada
beban yang beraksi padanya. Beban ini dapat disebabkan tekanan kontak dari sensor alat
ukur ( sewaktu mengukur ) ataupun berat benda ukur sendiri ( sewaktu diletakan diantara
tumpuan ).Untukmelakuakan pengukuran maka sensor mekanis akan memberikan suatu
tekanan tertentu pada permukaan obyek ukur. Beberapa alat ukur misalnya mikrometer
dapat menyebebkan suatu deformasi pada permukaan dari obyek ukur yang relatip lunak
( aluminium ) atau pun lentur pada diameter silinder dengan dindidng tyang relatip tipis.
Oleh karena itu pada mikrometer selalu diperlengkapi suatu alat yang disebut dengan
pembatas momenputar yang berfungsi untuk menjaga tekanan pengukuran sekecil
mungkin dan konstan.

B. Kesalahan karena Peletakan benda Kerja.(Terjadinya Lendutan)


Peletakan benda kerja yang kuat tetapi panjang dan diletakkan pada tumpuan, akan
mengalami lendutan karena berat beban sendiri. Untuk mengatasi hal itu biasanya jarak
tumpuan ditentukan sedemikian rupa sehingga diperoleh kedua ujungnya tetap sejajar.
Jarak tumpuan yang terbaik adalah 0.577 kali panjang batang dan juga yang jaraknya
0.544 kali panjang batang . Besarnya lenturan tergantung dari jarak kedua tumpuan.

Gambar.Titik Bessel Gambar.Titik Airy


C. Kesalahan Karena Permukaan Benda Kerja yang Tidak Rata dan Kotor.
Permukaan benda kerja yang kotor karena terkena grease , debu dll dapat
mempegaruhi hasil pengukuran karena walupun sedikit saja menempel pada
permukaan yang akan diukur, nilai dari pengukuran pasti akan bertambah
dikarenakan grease maupun kotoran tadi juga ikut terukur (Permukaan alat ukur
tidak pas menempel pada benda yang akan diukur.Oleh Karena itu sebelum
melakukan pengukuran kita harus membersihkan permukaan benda kerja.
Saat ingin mengukur apabila permukaan benda kerja tidak rata hal ini juga akan
mempegaruhi hasil pengukuran karena kita tidak bisa mempaskan / menempelkan
permukaan alat ukur kepermukaan benda kerja dengan benar tepat, hal ini lah yang
membuat terjadinya penyimpangan pengukuran.Jadi Sebelum melakukan
pengukuran kita harus meratakan permukaan benda yang akan diukur.

Gambar.Permukaan Benda yang Tidak Rata Gambar.Permukaan Benda yang Rata


3. Pengukuran Karena Faktor Manusia Kesalahan
A. Kesalahan Karena Posisi Pembacaan
Kurang terampilnya seseorang dalam membaca skala ukur dari alat ukur yang sedang
digunakan akan mengakibatkan banyak terjadi penyimpangan hasil pengukuran.
Kebanyakan yang terjadi karena kesalahan posisi waktu membaca skala ukur. Kesalahan
ini sering disebut, dengan istilah paralaks. Paralaks sering kali
terjadi pada si pengukur yang kurang memperhatikan bagaimana
seharusnya dia melihat skala ukur pada waktu alat ukur sedang
digunakan.
Gambar. Parallaks
B. Kesalahan Karena Kondisi Manusia
Kondisi badan yang kurang sehat dapat mempengaruhi proses
pengukuran yang akibatnya hasil pengukuran juga kurang tepat.
Contoh yang sederhana, misalnya pengukur diameter poros dengan jangka sorong. Bila
kondisi badan kurang sehat, sewaktu mengukur mungkin badan sedikit gemetar, maka
posisis alat ukur terhadap benda ukur sedikit mengalami perubahan. Akibatnya, kalau
tidak terkontrol tentu hasil pengukurannya juga ada penyimpangan. Atau mungkin juga
penglihatan yang sudah kurang jelas walau pakai kaca mata sehingga hasil pembacaan
skala ukur juga tidak tepat. Jadi, kondisi yang sehat memang diperlukan sekali untuk
melakukan pengukuran, apalagi untuk pengukuran dengan ketelitian tinggi.
C. Kesalahan Karena salah membaca sekala Ketelitian
Kurang memahami pembagian divisi dari skala ukur dan kurang mengerti membaca skala
ukur yang ketelitiannya lebih kecil daripada yang biasanya digunakannya juga akan
berpengaruh terhadap ketelitian hasil pengukurannya.
D. Kesalahan Karena Tidak Terbiasa atau Tidak Mampu Menggunakan Alat Ukur.
Kesalahan ini bisa saja terjadi contohnya apabila orang sudah terbisa memakai jangka
sorong yang manual belum tentu dia juga bisa membaca jangka analog.Apabila hal ini
terjadi maka bisa dipastikan kesalahan pengukuran pasti terjadi karena ketidak mampuan
seseorang mengunakan alat ukur.

4. Kesalahan Pengukuran Karena Faktor Lingkungan

A. Kondisi Ruangan yang Kotor dan Berdebu


Kondisi ruangan tempat meyimpan alat ukur dan melakukan pengukuran harus bersih
agar tidak menggangu jalannya proses pengukuran. bisa saja karena ruanganan yang
kotor dan berdebu , debu-debu tersebut dan kotoran dapat menempel pada muka sensor
alat ukur yang menyebabkan hasil penngukuran tidak akurat.Atau debu tersebut dapat
menempel juga di Permukaan benda kerja.
B. Kondisi Ruangan yang Gelap
Kondisi Ruangan tempat dilakukan pengukuran haruslah memiliki penerangan yang
cukup karena ruangan yang kurang terang atau remang-remang dapat mengganggu dalam
membaca skala ukur yang hal ini juga bisa menimbulkan penyimpangan hasil
pengukuran. Akan tetapi, untuk penerangan ini ruang pengukuran sebaiknya tidak banyak
diberi lampu penerangan. Sebab terlalu banyak lampu yang digunakan tentu akan akan
mengakibatkan suhu ruangan menjadi lebih panas.
C. Kondisi Temperatur Ruangan yang Panas.
Menurut standar internasional bahwa suhu atau temperatur ruangan pengukur yang
terbaik adalah 20C apabila temperatur ruangan pengukur sudah mencapai 20C, lalu
ditambah lampu-lampu penerang yang terlalu banyak, maka temperatur ruangan akan
berubah. Seperti kita ketahui bahwa benda padat akan berubah dimensi dan ukurannya
bila terjadi perubahan panas. Oleh karena itu, pengaruh dari temperatur lingkungan
tempat pengukuran harus diperhatikan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadinya pemuaian
benda kerja yang menyebabkan perubahan ukuran benda yang akan diukur.
D. Pengukuran dengan adanya getaran yang tinggi.
Melakukan pengukuran di lingkungan yang memiliki getaran yang tinggi dapat juga
mempegaruhi hasil pengukuran contohnya saat kita melakukan pengukuran
menggunakan dial indikator dalam proses alignment tidak boleh ada getaran-getaran
karena dapat menggangu jarum penunjuk hasil pengukuran dial indikator.Hal ini
disebabkan karena Dial indikator sangat sensitif terhadap getaran.

5. Kesalahan Karena Metode Pengukuranan yang digunakan


A. Kesalahan Karena Posisi Penempatan Permukaan pengukuran yang salah.
1) Saat pengukuran inside diameter menggunakan Vernier Caliper semua permukaan
internal jaws harus benar-benar menyentuh permukaan benda kerja yang akan diukur
agar hasil pengukuran benar dan tepat.
2) Saat Pengukuran Outside diameter menggunakan Vernier Caliper semua permukaan
Eksternal jaws harus benar-benar menyentuh permukaan benda kerja yang akan diukur
agar hasil pengukuran benar dan tepat.
Gambar.Perbandingan pengukuran Inside diameter Gambar.Perbandingan pengukuran Inside diameter

B. Kesalahan Karena Ketidaktepatan Pemilihan Alat Ukur Dengan Benda yang akan diukur.
Misalnya benda yang akan diukur diameter Shaft dengan ketelitian
0,001 mm dan alat ukur yang digunakan adalah vernier caliper
dengan ketelitian 0,1 milimeter. Tentu saja hasil pengukurannya
tidak mendapatkan dimensi ukuran sampai 0,001 mm. Oleh sebab
itu maka untuk mendapatkan hasil dengan ketelitian sampai 0.001
mm maka sebaiknya menggunakan outside micrometer sehingga
hasilnya bisa Akurat.
Gambar.Pengukuran Inside Micrometer

C. Kesalahan Karena Penggunaan Dan Cara Mengukur Yang Salah.

Contohnya saat kita menggunkan micrometer kita tidak boleh asal-asalan dalam
penggunaanya karena posisi pemegangan dan posisi penaruhan alat sangat berpegaruh
dalam hasil perhitungan.Teknik Pengunaan Micrometer yang benar
Kalibrasi terlebih dahulu apakah saat poros tetap dan poros geser bertemu, kedua
skala baik skala utama maupun skala putar menunjukan angkan nol.
pastikan pengunci poros geser dalam keadaan terbuka agar poros geser dapat
digerakan. (Perhatikan cara memegang mikrometer sekrup seperti
terlihat pada gambar di samping!)

Setelah itu, putar pemutar supaya rahang poros geser bergerak mundur.
Ambil benda yang hendak diukur ketebalannya dan letakan di antara poros geser dan
poros tetap.
Putar pemutar supaya poros geser menjepit benda.
Setelah terjepit sempurna, putar pengunci agar poros gerak tidak berubah lagi. Setelah
itu, kita dapat membaca skala hasil pengukuran alat ini.