Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur tim penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkat, rahmat, dan karunia-Nya kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan
tugas pembuatan makalah farmakologi ini dengan baik dan lancar.

Makalah yang berjudul PREDNISON ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas
dari mata kuliah farmakologi. Selain itu juga bertujuan untuk menambah pengetahuan
mengenai berbagai aspek dalam kinerja suatu zat aktif dalam obat. Karakteristik suatu zat
aktif dalam obat sangat berpengaruh terhadap nasib obat tersebut di dalam tubuh. Suatu obat
akan mengalami mekanisme farnmakokinetika dan farmakodinamika yang berbeda-beda zat
aktifnya. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai aspek farmakokinetikanya,
farmakodinamika, efek samping, interaksi dan lain sebagainya. Dalam hal ini kami akan
menjelaskan mengenai prednisone.

Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Begitu pula dengan makalah ini.
Tim penulis sadar bahwa makalah ini tidak sepenuhnya sempurna.

Oleh karena itu, segenap tim penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
untuk perbaikan di masa yang akan datang.
PENDAHULUAN

Prednisone merupakan salah satu obat golongan kortikosteroid yang pemakaiannya


biasanya per oral. Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di
kulit kelenjar adrenal. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada tubuh,
misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan
inflamasi, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah
laku. Kortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok, yakni glukokortikoid (contohnya kortisol)
yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, juga bersifat anti
inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula menurunkan kinerja
eosinofil. Kelompok lain dari kortikosteroid adalah mineralokortikoid (contohnya
aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan cara penahanan garam
di ginjal.

Prednisone sendiri termasuk kedalam kortikosteroid golongan glukokortikoid.


Glukokortikoid alami (hidrokortison dan kortison), umumnya digunakan dalam terapi
pengganti (replacement therapy) dalam kondisi defisiensi adrenokortikal. Sedangkan analog
sintetiknya (prednison) terutama digunakan karena efek imunosupresan dan anti radangnya
yang kuat. Glukokortikoid menyebabkan berbagai efek metabolik. Glukokortikoid bekerja
melalui interaksinya dengan protein reseptor spesifik yang terdapat di dalam sitoplasma sel-
sel jaringan atau organ sasaran, membentuk kompleks hormon-reseptor.

Apabila terapi prednison diberikan lebih dari 7 hari, dapat terjadi penekanan fungsi
adrenal, artinya tubuh tidak dapat mensintesis kortikosteroid alami dan menjadi tergantung
pada prednison yang diperoleh dari luar. Oleh sebab itu jika sudah diberikan lebih dari 7 hari,
penghentian terapi prednison tidak boleh dilakukan secara tiba-tiba, tetapi harus bertahap dan
perlahan-lahan. Pengurangan dosis bertahap ini dapat dilakukan selama beberapa hari, jika
pemberian terapinya hanya beberapa hari, tetapi dapat memerlukan berminggu-minggu atau
bahkan berbulan-bulan jika terapi yang sudah diberikan merupakan terapi jangka panjang.
Penghentian terapi secara tiba-tiba dapat menyebabkan krisis Addisonian, yang dapat
membawa kematian.

Untuk lebih jelasnya mengenai mekanisme kerja prednisone dalam tubuh serta hal-hal yang
lain akan di bahas dalam bab selanjutnya.
ISI

I. FARMAKOKINETIK

A. Proses absorbsi prednisone

Obat masuk ke tubuh kita akan mengalami berbagai peristiwa yakni:


ADME=absorpsi/penyerapan, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Peristiwa yang terkait
dengan cara minum obat adalah absorpsi yakni penyerapan obat dari tempat pemberiannya
menembus membran biologis, masuk ke sirkulasi darah sistemik. Proses ini merupakan pintu
pertama yang harus dilewati obat agar obat memberikan efeknya ke tubuh (Nyimas
Arrahmah,2009).
Absorbsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut
kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dengan persen dari
jumlah obat yang diberikan.Pada kenyataanya,tidak semua yang diabsorpsi dari tempat
pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik.Sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di
dinding usus pada pemberian oral dan atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ
organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first past
metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai
bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir
sempurna (Cahyadi,2012).
Umumnya,obat diabsorbsi dan didistribusi secara difusi pasif. Mula mula obat harus
berada dalam larutan air pada permukaan membran sel, kemudian molekul obat akan
melintasi membran dengan melarut dalam lemak membran.Pada proses ini, obat bergerak dari
sisi kadarnya yang lebih tinggi ke sisi lain yang lebih rendah.Setelah taraf mantap (Steady
state) dicapai, kadar obat bentuk non ion di kedua sisi membran akan sama.Kebanyakan obat
berupa elektrolit lemah yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam larutan elektrolit lemah ini
akan terionisasi. Derajat ionisasi ini tergantung pada pKA obat dan pH larutan. Untuk obat
asam, pKa rendah berarti relatif kuat, sedangkan untuk obat basa, pKa tinggi yang relatif
kuat. Bentuk non ion umumnya larut baik dalam lemak sehingga mudah berdifusi melintasi
membran.Sedangkan bentuk ion, sukar melintasi membran karena sukar larut dalam lemak.
Pada taraf mantap kadar obat bentuk ion ion saja yang sama dikedua sisi membran,
sedangkan kadar obat bentuk ionnya tergantung dari perbedaan pH di kedua sisi membran
(Cahyadi,2012).
Membran sel merupakan membran semi permeabel yang artinya hanya dapat
dirembesi air dan molekul molekul kecil.Air berdifusi atau mengalir melalui kanal
hidrofilik pada membran akibat perbedaan tekanan hidrostatik maupun tekanan osmotik.
Bersama dengan aliran air akan terbawa zat zat terlarut bukan ion yang berat molekulnya
kurang dari 100 200 misalnya urea,etanol dan antipirin. Meskipun berat atomnya kecil, ion
anorganik ukurannya membesar karena mengikat air sehingga tidak dapat melewati kanal
hidrofilik bersama air. Kini telah ditemukan kanal selektif untuk ion Na, K dan Ca.Transport
obat melintasi endotel kapiler terutama melalui celah celah atar sel, kecuali di susunan saraf
pusat (SSP). Celah atar sel endotel kapiler demikian besarnya sehingga dapat meloloskan
semua molekul yang berat molekulnya kurang dari 69.000 (BM aluminium), yaitu semua
obat bebas, termasuk yang tidak larut dalam lemak dan bentuk ion sealipun. Proses ini
berperan dalam absorpsi obat setelah pemberian parenteral dan dalam filtrasi lewat membran
glomerulus di ginjal (Cahyadi,2012).
Pinositosis ialah cara transport dengan membentuk vesikel,misalnya untuk
makromolekul seperti protein. Jumlah obat yang diangkut dengan cara ini sangat
sedikit.Transport obat secara aktif biasanya terjadi pada sel saraf, hati, dan tubulus ginjal.
Proses ini membutuhkan energi yang diperoleh dari aktivitas membran sendiri, sehigga zat
dapat bergerak melewati perbedaan kadar atau potensial listrik. Selain dapat dihambat secara
kompetitif, transport aktif ini bersifat selektif dan memperlihatkan kapasitas maksimal (dapat
mengalami kejenuhan. Beberapa obat bekerja mempengaruhi transport aktif zat zat endogen
dan transport aktif suatu obat dapat pula dipengaruhi oleh obat lain. Proses transport aktif
mirip dengan difusi terpacu, namun dengan perbedaan yaitu pada transport aktif, obat /
metabolit melewati gradien kepekatan, karena itu memerlukan energi metabolik. Energi ini
biasanya isediakan oleh ATP, kecuali energi lain yang proses produksinya diketahui
(Cahyadi,2012).
Difusi terfasilitasi (Facilitated diffusion) ialah suatu proses transport yang terjadi
dengan bantuan suatu faktor pembawa (carrier) yang merupakan komponen membran sel
tanpa menggunakan energi, sehingga obat dapat melawan perbedaan kadar maupun potensial
listrik. Proses ini, yang juga bersifat saingan, terjadi pada zat endogen yang transportasinya
secara difusi biasa terlalu lambat, misalnya untuk masuknya glukosa ke dalam sel perifer
(Cahyadi,2012).
Adsorbsi obat,dipengaruhi beberapa hal,diantaranya:
1.Cara pemberian obat yang berbeda akan mempengaruhi cepat lambatnya obat terabsorpsi,
dengan kata lain juga akan mempengaruhi cepat lambatnya obat berefek. Begitu pun
makanan dan minuman, sangat mempengaruhi proses absorpsi obat. Tergantung di mana obat
diabsorpsi/tempat absorpsi obat, maka dengan menganalisis makanan/minuman yang masuk
bersama obat, maka kita akan mudah memprediksi pengaruh keduanya kepada cepat
lambatnya atau malah tidak terabsorpsinya obat.

2. Interaksi obat dengan makanan/minuman (Food drug interaction)


Sifat fisika kimia obat menentukan tempat absorpsi obat. Obat biasanya bersifat asam lemah
atau basa lemah. Obat asam lemah akan diserap di lambung (jika diberikan secara oral
dengan diminum, bukan di bawah lidah atau di dinding mulut bucal), sementara yang bersifat
basa lemah akan diserap di usus yang lingkungannya memang lebih basa dibandingkan
lambung

3. Kecepatan pengosongan lambung juga tak kalah penting untuk absorpsi obat secara oral.
Semakin cepat pengosongan lambung, bagi obat bersifat asam akan merugikan karena hanya
sejumlah kecil obat yang terserap, namun menguntungkan obat bersifat basa lemah karena
segera mencapai tempat absorpsi di usus, segera terjadi proses penyerapan.

Prednison termasuk obat pain killer dan antiinflamasi (anti rematik, anti Gout/asam
urat, anti bengkak). Obat golongan ini sebagian besar bersifat asam agak tinggi,sehingga
obatnya akan diabsorpsi di lambung (Nyimas Arrahmah,2009).

Keasaman yang tinggi tsb akan menimbulkan efek samping nyeri lambung,sehingga
cara minum obat ini sebaiknya diminum bersama susu, atau sebentar sesudah makan.
Walaupun jelas ada penundaan absorpsi, namun karena mengingat efek sampingnya yang
jauh lebih berbahaya, maka lebih baik menunda absorpsi dengan makan/minum susu tsb.
Begitu pula dengan obat anti inflamasi golongan non steroid (diclofenac/voltaren, difflam,
cataflam) dan steroid (deksametason, metil prednisolon/meptin, medrol,
prednisone/deltasone, cortisone asetat/cortef), harus diminum sesudah makan atau bersama
susu. Lain lagi dengan parasetamol (panadol, tempra, lylenol), karena bersifat lebih basa
lemah dan diabsorpsi di usus, maka lebih baik obat jenis ini diminum sebelum makan, diikuti
makanan sehingga akan segera sampai di usus, terjadilah proses absorpsi (Nyimas
Arrahmah,2009).
Hidrokortison mempunyai waktu paruh plasma 90 menit tetapi efek biologiknya 2-8
jam. Waktu paruh biologik ini ditentukan oleh lamanya penekanan aksis hipotalamus-
hipofisis-adrenal. Hidrokortison dan kortison digolongkan sebagai glukokortikoid kerja
singkat yang sesuai dengan basis waktu paruh biologiknya 8- 12 jam. Sebaliknya ,
prednison,prednisolon,metilprednisolon dan triamsinolon digolongkan sebagai
glukokortikoid kerja sedang dengan waktu paruh biologiknya 18-35 jam dan para
metason,betametason serta deksametason digolongkan glukokortikoid kerja lama dengan
waktu paruh biologiknya 35-54 jam (Staff pengajar Departemen Farmakaologi
UNISRI,2009)

B. Proses distribusi

Prednisone dengan cepat diserap melintasi membran GI setelah pemberian oral.


Puncak efek dapat diamati setelah 1-2 jam. Obat yang beredar secara luas untuk mengikat
protein plasma albumin dan transcortin, dengan hanya bagian terikat dari dosis aktif. Sistemik
prednisone cepat didistribusikan ke dalam ginjal, usus, kulit, hati dan otot. Kortikosteroid
mendistribusikan ke dalam ASI dan melewati plasenta. Prednison dimetabolisme oleh hati ke
prednisolon metabolit aktif, yang kemudian selanjutnya dimetabolisme menjadi senyawa
yang tidak aktif. Metabolit ini tidak aktif, serta obat portionof kecil tidak berubah,
diekskresikan dalam urin. Penghapusan paruh plasma adalah 1 jam sedangkan biologis paruh
prednison adalah 18-36 jam (Abidin Taufik,2009)

Interaksi protein plasma terhadap pengikatan prednison dan prednisolon yang ditandai
dengan dialisis ekuilibrium adalah antara 85-90 %. Prednison dan prednisolon terikat sama
tetapi lemah untuk albumin manusia (afinitas konstan, K kurang lebih sama dengan 1 X 10
(3) M-1). Transcortin afinitas untuk prednisolon 10 kali lipat lebih besar (51,3 X 10 (6) M-1)
dari itu untuk prednison (4,3 x 10 (6) M-1). Dalam kompetisi dalam kondisi farmakologis,
prednisolon menghambat prednison mengikat transcortin memproduksi linier mengikat rata-
rata 55% (Anonim, 2009). Prednison yang diserap dengan baik, kadar puncak plasma yang
dicapai 1-2 jam (Arvin, 1998).

Bioavailibilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absopsi obat dan
jumlah obat tersebut yang diabsopsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk kedalam sirkulasi
sitemik. Bioavailibilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat dan
jumlah obat tersebut yang diabsopsi. Biovailibilitas dari prednisone adalah sekitar 62%
(Anonim, 2012).

C. Proses metabolisme

METABOLISME

1beta-hidroksisteroid dehidrogenase PREDNISONE


prednisolon PREDNISOLONE
oleh enzim CYP3A4 Dimediasi 6-hidroksilas

KORTISOL BERKURANG DAN DIHIDROKSILASI

DI KONJUGASI DENGAN ASAM GLUKONAT ( FASE II )

DI EKSKRESI MELALUI URIN

Kortison dan prednison merupakan pro drug. Obat ini baru aktif setelah dikonversi
menjadi hidrokortison dan prednisolon (setelah mengalami metabolisme dihati). Metabolisme
terjadi di hati, dikonjugasikan dengan asam glukonat yang kemudian diekskresikan melalui
urine. Kortisol akan berkurang dan dihidroksilasi dalam hati, membuat solube air
dengan konjugasi dengan sulfat atau asam glukuronat, dan kemudian akan diekskresikan
dalam urin.6-Beta dihidroksilasi oleh sitokrom P450 microscomal enzim. CYP3A4 juga
meningkat kan solubily air dan ekskresi urin GCs. GCs eksogen juga mengalami proses yang
sama pada reaksi metabolisme yang sama seperti kortisol. Kortison dan prednisone dengan
cepat mengurangi ke bentuk aktif, kortisol dan prednisolone (E. William St. Clair, David S.
Pisetsky,Barton F. Haynes, 2004)
D. Proses Ekskresi

Kortison dan prednison merupakan prodrug. Obat ini baru aktif setelah dikonversi
menjadi hidrokortison dan prednisolon (setelah mengalami metabolisme di hati). Pada
metabolisme di hati, dikonjugasikan dengan asam glukuronat yang kemudian diekskresikan
melaului urine. (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. 2004)

Clearance

Clearance prednison dari sistem peredaran darah adalah 210 ml per menit per
1,73 m2 dengan waktu paruh eliminasi sekitar 3 jam. Pada
kortikosteroid menunjukkan bahwa semakin dosis yang diberikan lebih tinggi maka obat
akan dibersihkan lebih cepat, karena berdasarkan
konsentrasi peningkatan fraksi terikat bebas dalam plasma. berdasarkan dosis
farmakokinetik setidaknya menjelaskan pengamatan klinis yang alternatif-hari hasil
dosis prednison efek biologis lebih sedikit daripada dosis seperti yang ditunjukkan
oleh penurunan efek efikasi dan efek samping. Clearance prednison dan metil prednison lebih
rendah 18% sampai 28% di pagi hari dan malam. Ini bersama dengan adanya gangguan dari
ritme diurnal biasa produksi kortisol, dapat mengakibatkan variasi dalam
keberhasilan ketika steroid diberikan pada waktu yang berbeda dalam sehari. Clearance dari
prednison lebih lambat pada orang kulit hitam dibandingkan kulit putih dan pada
wanita daripada pria. Namun,perbedaan ini mungkin tidak memiliki implikasi klinis,
dan penyesuaian dosis tidak diperlukan. Ada hubungan berbanding terbalik
antara prednisolon dan usia. (E. william S.2004)
II. FARMAKODINAMIK

- Metabolik

Menghambat
PREDNISON Sintesis Protein

Menstimulasi
Katabolisme Protein Asam Amino

Glukoneogenesis, deposisi glikogen, pelepasan glukosaMencegah


Menstimulasi dari hati Hipoglikemia

Menghambat Ambilan glukosa perifer

Prednison memfasilitasi perubahan protein menjadi glikogen. Prednison


menghambat sintesis protein dan menstimulasi katabolisme protein menjadi
asam amino. Glukoneogenesis, deposisi glikogen, dan pelepasan glukosa dari
hati distimulasi, tetapi ambilan glukosa perifer dihambat. Selama puasa,
prednison penting untuk mencegah (mungkin terjadi fatal) hipoglikemia (Neal,
2005).

- Antiinflamasi

Lajur pembentukan Prostaglandin (salah satu mediator inflamasi yang utama) :


Cara Prednison menghambat mediator inflamasi :
PREDNISONN

hsp90
SS
hsp90 R

s R

Respons steroid

Sintesis protein
RNA

mRNA

Sel Target

Prednison sebagai steroid berdifusi ke dalam sel (gambar bawah S ) di mana

steroid terikat pada reseseptor glukokortikoid sitoplasma ( R ). Pada keadaan tidak

terdapat kortisol, reseptor diinaktivasi oleh suatru heat shock protin ( hsp90 ). Kortisol

memicu pelepasan hsp90 dan reseptor yang teraktivasi ( s R ) memasuki nukleus

dimana reseptor menstimulasi (atau menghambat) sintesis protein, yang selanjutnya


menghasilkan efek hormon yang khas (tengah bawah) (Neal, 2005).

Prednison mengurangi sel-sel imunokompeten dan makrofag dalam


sirkulasi dan pembentukan mediator proinflamasi, seperti prostaglandin,
leukotrein, dan platelet activating factor (PAF) dihambat. Pada waktu memasuki
jaringan, prednison berdifusi atau ditranspor menembus sel membr an dan terikat
pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks.
Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam
inti, di mana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen
dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya. Pada
keadaan tanpa adanya hormon, protein reseptor dihambat dari ikatannya dengan
DNA; jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA.Perbedaan
kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein
spesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan
ekspresi unsur respons glukokortikoid utama.Selain itu, glukokortikoid mempunyai
beberapa efek penghambatan umpan balik yangterjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh
ekspresi gen. Efek ini mungkin diperantarai olehmekanisme nontranskripsi (Neal, 2005).

Target kerja prednison (golongan kortikosteroid)


Hormon kortikosteroid dihasilkan dari kolesterol di korteks kelenjar adrenal yang
terletak di atas ginjal. Reaksi pembentukannya dikatalisis oleh enzim golongan sitokrom
P450.
Dalam bidang farmasi, obat-obatan yang disintesis sehingga memiliki efek seperti
hormon kortikosteroid alami memiliki manfaat yang cukup penting. Prednison dan
turunannya memiliki kerja mineralokortikoid disamping kerja glukokortikoid.

Pada waktu memasuki jaringan, glukokortikoid berdifusi atau ditranspor menembus sel
membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein
kompleks. Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor
ditranspor ke dalam inti, dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon
glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau
menghambat ekspresinya. Pada keadaan tanpa adanya hormon, protein reseptor dihambat dari
ikatannya dengan DNA; jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada DNA.
Perbedaan kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein
spesifik jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan ekspresi unsur
respons glukokortikoid utama.

Selain itu, glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpan balik yang
terjadi terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen. Efek ini mungkin diperantarai oleh
mekanisme nontranskripsi (Anonim, 2012)
Kortikosteroid adalah hormon yang disintesis di korteks adrenal, berasal dari kolesterol
dengan struktur utama siklopentanoperhidrofenantren dan hasil akhir berupa aldosteron dan
kortisol (21 atom C). Selain kortikosteroid juga dihasilkan androgen lemah (19 atom C).
Istilah kortikosteroid sendiri sebenarnya mengacu baik kepada glukokortikoid dan
mineralokortikoid, namun dalam penggunaan sehari-hari lebih banyak mengacu kepada
glukokortikoid saja.

Kortikosteroid bekerja dengan cara mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul


hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan target
hormon ini bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel dan
membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konformasi, lalu
bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimulasi transkripsi
RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini yang akan menghasilkan efek
fisiologik steroid.

Kortikosteroid memiliki dua efek utama, yaitu dalam metabolisme dan inflamasi.
Kortikosteroid berfungsi dalam proses glukoneogenesis di hati, lipolisis dan mobilisasi asam
amino (sebagai substrat untuk glukoneogenesis) serta menghambat/inhibisi ambilan glukosa
di otot dan jaringan adiposa.

Sedangkan untuk efek antiinflamatiknya, efek tersebut terjadi melalui penekanan


pembentukan berbagai mediator inflamasi (fosfolipase A, cyclooxigenase, degranulasi sel
mast), menghambat fungsi makrofag, dan bekerja dalam keadaan inflamasi akut maupun
kronik (Anonim, 2009)

III. Derivat Prednisone


1. Budesonide

Budesonide merupakan glukokortikoid sintetis, berfungsi untuk mencegah serangan asma


dengan cara inhalasi (dihirup). Budesonide merupakan golongan kortikosteroid yang
memiliki efek anti inflamasi disertai dengan aktivitas glukokortikoid yang kuat dan aktivitas
mineralokortikoid yang lemah. Budesonid dapat menghambat sel dan mediator yang terlibat
dalam proses inflamasi baik yang termasuk dalam kategori alergi maupun non-alergi.
Efek sampingnya adalah bisa menurunkan kekebalan tubuh, penggunaan jangka lama
bisa menurunkan kekebalan tubuh (immunosuppresant), pemakaian dosis tinggi + dalam
jangka waktu lama : osteoporosis.

Deskripsi
- Nama & Struktur 16Alpha, 17Alpha-butylidenedioxy-11Beta,21-dihydroxypregna-1,4-
:
Kimia diene-3,20-dione
- Sifat Fisikokimia Serbuk berbentuk kristal berwarna putih atau hampir putih.
: Tidaklarut dalam air, sedikit larut dalam alkohol, dan larut dalam
diklorometan.

2. Metil Prednisolon
21-(acetyloxy)-11,17-dihydroxy-6-methyl-, (6(alpha), 11(beta))pregna-1,4-diene-3,20-
dione
Bentuk Sediaan : Tablet, Kaptab, Serbuk injeksi, Cairan Injeksi
Nama resmi : METHYLPREDNISOLONI ACETAS
Sinonim : Metil prednisolon asetat
RM / BM : C24H32O6 / 416,51
Pemerian : Serbuk hablur, putih atau praktis putih, tidak berbau, melebur pada suhu
lebih kurang 225o disertai peruraian.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam dioksan, agak sukar larut dalam
aseton, dalam etanol, dalam kloroform dan dalam metanol, sukar larut dalam eter.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Kegunaan : Sebagai obat antiinflamasi (Kortikosteroid )
Methylprednisolone adalah suatu glukokortikoid sintetik dan diabsorpsi secara
cepat melalui saluran pencernaan.
Methylprednisolone bekerja dengan menduduki reseptor spesifik dalam sitoplasma
sel yang responsif. Ikatan steroid-reseptor ini lalu berikatan dengan DNA yang kemudian
mempengaruhi sintesis berbagai protein. Beberapa efek penting yang timbul akibat ini yaitu
berkurangnya produksi prostaglandin dan leukotrien, berkurangnya degranulasi mast cell,
berkurangnya sintesis kolagen dan lain-lain.

IV. Interaksi obat

- Dengan Obat Lain :

1) Obat-obat yang menginduksi enzim-enzim hepatik, seperti fenobarbital, fenitoin, dan


rifampisin dapat meningkatkan klirens kortikosteroid. Oleh sebab itu jika terapi
kortikosteroid diberikan bersama-sama obat-obat tersebut, maka dosis kortikosteroid harus
ditingkatkan untuk mendapatkan hasil sebagaimana yang diharapkan.

2) Obat-obat seperti troleandomisin and ketokonazol dapat menghambat metabolisme


kortikosteroid, dan akibatnya akan menurunkan klirens atau ekskresi kortikosteroid. Oleh
sebab itu jika diberikan bersamaan, maka dosis kortikosteroid harus disesuaikan untuk
menghindari toksisitas steroid.

3) Kortikosteroid dapat meningkatkan klirens aspirin dosis tinggi yang diberikan secara
kronis. Hal ini dapat menurunkan kadar salisilat di dalam serum, dan apabila terapi
kortikosteroid dihentikan akan meningkatkan risiko toksisitas salisilat. Aspirin harus
digunakan secara berhati-hati apabila diberikan bersama-sama dengan kortikosteroid pada
pasien yang menderita hipoprotrombinemia.

4) Efek kortikosteroid pada terapi antikoagulan oral bervariasi. Beberapa laporan


menunjukkan adanya peningkatan dan laporan lainnya menunjukkan adanya penurunan efek
antikoagulan apabila diberikan bersama-sama dengan kortikosteroid. Oleh sebab itu indeks
koagulasi harus selalu dimonitor untuk mempertahankan efek antikoagulan sebagaimana
yang diharapkan.

- Dengan Makanan :
Pada prinsipnya interaksi obat dengan makanan dapat menyebabkan dua hal penting :
Interaksi dimana makanan atau minuman dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan
khasiat atau manfaat obat, baik melalui penghambatan penyerapannya atau dengan
mempengaruhi metabolisme atau distribusi obat tersebut didalam tubuh.
Interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena
meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu akibat dari terjadinya peningkatan kadar
obat dalam darah.

Efek samping

1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit :


Retensi cairan tubuh
Retensi natrium
Kehilangan kalium
Alkalosis hipokalemia
2. Gangguan jantung kongestif :
Hipertensi
3. Gangguan Muskuloskeletal :
Lemah otot
Miopati steroid
Hilangnya masa otot
Osteoporosis
Putus tendon, terutama tendon Achilles
Fraktur vertebral
Nekrosis aseptik pada ujung tulang paha dan tungkai
Fraktur patologis dari tulang panjang
4. Gangguan Pencernaan :
Borok lambung (peptic ulcer) kemungkinan disertai perforasi dan perdarahan
Borok esophagus (Ulcerative esophagitis)
Pankreatitis
Kembung
Peningkatan SGPT (glutamate piruvat transaminase serum), SGOT (glutamate
oksaloasetat transaminase serum), dan enzim fosfatase alkalin serum. Umumnya tidak
tinggi dan bersifat reversibel, akan turun kembali jika terapi dihentikan.
5. Gangguan Dermatologis
Gangguan penyembuhan luka
Kulit menjadi tipis dan rapuh
Petechiae dan ecchymoses
Erythema pada wajah
Keringat berlebihan
6. Gangguan Metabolisme
Kesetimbangan nitrogen negatif, yang disebabkan oleh katabolisme protein
7. Gangguan Neurologis
Tekanan intrakranial meningkat disertai papilledema
(pseudo-tumor cerebri), biasanya setelah terapi
Konvulsi
Vertigo
Sakit kepala
8. Gangguan Endokrin
Menstruasi tak teratur
Cushingoid
Menurunnya respons kelenjar hipofisis dan adrenal, terutama pada saat stress,
misalnya pada trauma,
pembedahan atau Sakit
Hambatan pertumbuhan pada anak-anak
Menurunnya toleransi karbohidrat
Manifestasi diabetes mellitus laten
Perlunya Peningkatan dosis insulin atau OHO (Obat Hipoglikemik Oral) pada pasien
yang sedang dalam terapi diabetes mellitus
Katarak subkapsular posterior
Tekanan intraokular meningkat
Glaukoma
Exophthalmos
9. Lain-lain
Urtikaria dan reaksi alergi lain, reaksi anafilaktik atau
Hipersensitivitas

(Medicatherapy,2012)

KESIMPULAN

Dari uraian diatas mengenai prednisone, dapat disimpulkan bahwa Prednison adalah
kortikosteroid sintetik yang umum diberikan per oral, tetapi dapat juga diberikan melalui
injeksi intra muskular (im, iv), per nasal, atau melalui rectal. Prednison merupakan pro drug,
yang di dalam hati akan segera diubah menjadi prednisolon, senyawa aktif steroid.

Pemakaian kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek
samping yang berat seperti : osteoporosis, hipertensi, diabetes alkalosis, hipokalemi,
penurunan kekebalan, gastritis, gangguan pertumbuhan, katarak, moon face dan kegemukan
Sebagian efek samping ini tergantung dosis dan dapat dikurangi dengan penggunaan spacer
atau mencuci mulut setelah penggunaan.
DAFTAR PUSTAKA

Abidin Taufik. Oral Corticosteroid. 2009. http://www.scribd.com diakses tanggal 13 April


2012

Anonim .2009. Kortikosteroid . http://doctorology.net. Diakses pada 14 April 2012

Anonim. 2010. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Jakarta : Medidata

Anonim. 2011. Prednisone. http://www.drugs.com Diakses pada 13 april 2012

Anonim. 2012. Bioavailibilitas Prednison. http://onlinelibrary.wiley.com Diakses pada


tanggal 14 April 2012

Anonim. 2012. Kortikosteroid dan efek sampingnya. http://sectiocadaveris.wordpress.com.


Diakses pada 14 April 2012

Anonim. 2012. Prednisone. http://medicatherapy.com Diakses tanggal 12 April 2012

Arvin, Behrman Klirgman.1998. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : EGC.

Cahyadi. 2012. Farmakokinetik. http://cahyadiblogsan.blogspot.com Diakses tanggal 12 April


2012

Clair, E. william S.2004. Rheumatoid Arthritis. Philadelphia : Lippincot William and Wilkins.

Katzung

Neal, Michael J. 2005. At a Glance FARMAKOLOGI MEDIS Edisi Kelima. Jakarta :


Erlangga.

Nyimas Arrahmah. 2009. Absorbsi Prednisone. http://mirzempe2.multiply.com Diakses


tanggal 12 April 2012

Rahardjo,Rio. 2004. Kumpulan Kuliah Farmakologi,Ed 2. Jakarta : EGC.

Staf Pengajar Departemen Faemakoogi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2004.


Kumpulan Kuliah Farmakologi Ed. 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Suharti K Suherman. 2004. Adrenokortikotropin, Adrenokortikosteroid, Analog Sintetik dan


Antagonisnya. Dalam: Farmakologi dan Terapi edisi 4. Jakarta : UI Pres