Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hukum di Indonesia yang bisa kita lihat saat ini bisa dikatakan sebagai hukum
yang carut marut, mengapa? Karena dengan adanya pemberitaan mengenai tindak
pidana di televisi, surat kabar, dan media elektronik lainnya, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa hukum di Indonesia carut marut. Banyak sekali kejadian yang
menggambarkannya, mulai dari tindak pidana yang diberikan oleh maling sandal
hingga maling uang rakyat. Sebenarnya permasalahan hukum di Indonesia dapat
disebabkan oleh beberapa hal diantaranya yaitu sistem peradilannya, perangkat
hukumnya, inkonsistensi penegakan hukum, intervensi kekuasaan, maupun
perlindungan hukum serta kejahatan yang mengakar mengintai keamanan masyrakat.

Kejahatan menurut perspektif konvensionl dianggap mendahului hukum. Oleh


karena perbuatan yang dinilai merugikan dianggap sudah sejak dulu sehingga lalu
muncul hukum pidana untuk melindungi kepentingan masyarakat yang telah atau
akan dirugikan oleh perbuatan tertentu.1

Sehingga terbentuklah hukum Negara yang menjadi perlindungan bahwa


Hukum Negara ialah aturan bagi negara itu sendiri, bagaimana suatu negara
menciptakan keadaan yang relevan, keadaan yang menentramkan kehidupan sosial
masyarakatnya, menghindarkan dari segala bentuk tindak pidana maupun perdata.
Namun tidak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, pemberitaan di media
masa sungguh tragis. Bahkan dari Hasil survei terbaru dari Lembaga Survei Indonesia
(LSI) menyebutkan bahwa 56,0 persen publik menyatakan tidak puas dengan

1 Indah Sri Utari, Aliran dan Teori Dalam Kriminologi. Thafa Media, Yogyakarta.
2012. h. 47.

1
2

penegakan hukum di Indonesia, hanya 29,8 persen menyatakan puas, sedangkan


sisanya 14,2 persen tidak menjawab. Sebuah fenomena yang menggambarkan betapa
rendahnya wibawa hukum di mata publik.

Perubahan sosial sangatlah berpengaruh terhadap perubahan hukum dan


penegakannya, sebab pada prinsipnya hukum tumbuh dalam masyarakat sehingga
perubahan pola pikir dan pola interaksi mempengaruhi wajah dari hukum itu sendiri,
sehingga wajar ketika masyarakat apatis melihat hukum dan penegakkannya (Law
Enforcement).

Hukum ada di setiap komunitas dan masyarakat, watak dan penggunaannya


tergantung pada bentuk bentuk relasi sosial, ekonomi, politik dan budaya di dalam
suatu masyarakat itu. Misalnya di komunitas di mana posisi perempuan lebih rendah
dari laki laki, maka watak hukum di komunitas itu akan cenderung berpihak pada
kepentingan atau cara pandang laki laki. Contoh lain, di dalam masyarakat di mana
posisi buruh yang timpang ketika berhadapan dengan majikan/pengusaha maka watak
hukum dan penggunaannya akan menguntungkan majikan/pengusaha di banding
buruh.2

Instrumen Penegak hukum salah satunya adalah Polisi yang memiliki


tangungjawab mengayomi kini mengalami degradasi kepercayaan dari masyarakat,
keberadaan polisi tak lagi mencerminkan rasa aman melainkanmenimbulkan
ketakutan ketakutan sehingga masyarakat cenderung menghindarinya.

Permasalah hukum di Indonesia semakin pelik terbukti dengan budaya


masyarakatnya yang masih sering main hakim sendiri, seolah menghukum secara

2 YLBHI & USTRALIAN AID . Panduan Bantuan Hukum di Indonesia, (Yayasan


Obor Indonesia. Jakarta, 2014), h. 2.
3

langsung adalah efek jera yang paling tepat, sekali lagi rendahnya tingkat
kepercayaan terhadap aparatur penegak hukum sehingga masyarakat melakukan
tindakan tindakan yang bertentangan dengan hukum. Selain itu mafia mafia kasus
masih mendarah daging dalam diri penegak hukum dan masyarakat itu sendiri
sehingga politik transaksional adalah hal yang tak terelakkan.

Dengan landasan pemikiran ini, penulis akan mencoba memaparkan mengenai


kebijakan, problematika, dampak dan pemecahan penegakan hukum di Indonesia.
Selain itu penulis juga akan memaparkan ketidakpuasan masyarakat terhadap
penegakan hukum di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang dapat diangkat untuk


selanjutnya diteliti dan dibahas dalam penulisan ini yaitu sebagai berikut :
1. Mengapa Masyarakat membatasi diri berhubungan dengan Polisi ?
2. Mengapa Main Hakim sendiri menjadi kecenderungan Masyarakat ?
3. Mengapa proses hukum menjadi ladang bisnis?
4. Mengapa terjadi mafia dalam proses penegakan hukum?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian


Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui alasan kenapa masyarakat membatasi diri atau enggan
berhubungan dengan Polisi.

b. Untuk mengetahui mengapa masyarakat memiliki kecenderungan untuk main


Hakim sendiri.

c. Untuk mengetahui mengapa proses hukum menjadi lahan bisnis.


4

d. Untuk mengetahui mengapa terjadi mafia dalam proses penegakan hukum.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Masyarakat membatasi diri atau enggan berhubungan dengan Polisi.

Polisi merupakan aparat negara yang mempunyai tugas utama menjaga


keamanan dan ketertiban masyarakat. Di Indonesia, keberadaan kepolisian secara
kontitusi diatur dalam pasal 30 ayat 4 UUD 1945. Di sana dinyatakan: Kepolisian
Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan
ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat serta
menegakkan hukum.

Adapun tugas dan wewenang kepolisian Indonesia diatur lebih lanjut dalam
UU No. 28 tahun 1997 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam
undang-undang tersebut, tugas utama polisi adalah:
1. Sebagai alat negara penegak hukum, memelihara serta meningkatkan tertib hukum.
2. Sebagai pengayom, memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat
begi tegaknya ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Bersama-sama dengan segenap komponen pertahanan dan keamanan negara lainnya,
membina ketenteraman masyarakat dalam wilayah negara guna mewujudkan
keamanan dan ketertiban masyarakat.
4. Membimbing masyarakat demi terciptanya kondisi yang menunjang
terselenggaranya usaha dan kegiatan mewujudkan keamanan dan ketertiban
masyarakat.

Bila dicermati dengan seksama tugas dan kewajiban Polisi sangatlah mulia dan
mencerminkan keamanan dan ketertiban, namun pada kondisi sekarang ini muncul
sebuah permasalahan di mana masyarakat kita seolah olah anti pada Polisi dan tak
mau berhubungan dengan polisi. Kondisi ini bukan terjadi begitu saja dan tanpa ada
alasan melainkan karena beberapa faktor yakni :
5

1. Oknum polisi kadang mencari kesalahan orang lain. Apalagi saat razia kendaraan.
Ada saja yang dianggap salah supaya mendapat 'uang jajan' tambahan. Jika ada
pengendara yang bersalah, polisi malah menambah masalah dan tidak
memberikan solusi yang menenangkan masyarakat.
2. Banyak oknum polisi cari penghasilan tambahan dengan mengandalkan
seragamnya. Seringnya ini terjadi pada polisi lalu lintas meski hanya oknum.
Uang tilang biasanya masuk ke kantongnya bukan kas negara. Anehnya, ini hanya
berani mereka lakukan pada kelas menengah ke bawah.
3. Polisi suka anarkis pada warga kecil. Hal ini bisa dilihat saat polisi menangkap
penjahat. Jika yang ditangkap copet, mereka memperlakukan seenaknya. Tapi jika
yang ditangkap koruptor, maka akan mendapat pelayanan bak raja. Dijemput
tanpa paksaan hingga disediakan seluruh kebutuhannya.
4. Hanya uang yang bisa menggerakkan mereka. Ini anekdot yang diyakini
masyarakat. Satu contoh beberapa postingan netizen soal musibah yang dialami
mereka, seperti rumahnya kerampokan. Jika melapor polisi tanpa ada duit, mereka
lamban menanganinya. Padahal mereka sudah digaji untuk melayani dan
melindungi masyarakat.3

Melihat fenomena penegakan hukum di atas bahwa jelas proses pelaksanaan


tugas sebagai aparatur banyak menyimpang dari segi etika Kepolisian. Dalam
masyarakat Polisi banyak menggambarkan dirinya sebagai momok yang menakutkan,
senang menggertak dan mengancam bahkan tak tanggung tanggung poisi sering
melakukan tindakan tindakan reperesif saat melaksanakan tugas.

Sudah sepatutnya dilakukan Suatu gerak pembaruan hukum, sebab hukum


yang tidak dibarengi dengan peningkatan pembinaan para aparatnya, mengakibatkan
hukum yang diperbaharui tidak berarti apa apa. Kebaikan dan kesempurnaannya

3http://www.bintang.com/lifestyle/read/2339826/banyak-warga-indonesia-gak-suka-
polisi-mungkin-ini-alasannya
6

akan lenyap ditelan oleh kelambanan, kecongkakan, keculasan, dan kenejatan aparat
penegak hukum. Bukankah tepat apa yang dikatakan Taverne, bahwa kebaikan,
kebagusan, dan kesempurnaan hukum acara pidana sangat ditentukan oleh baik
buruknya aparat pelaksanaan.4 Sehingga dapatlah dikatakan bahwa tindakan
masyarakat yang cenderung menghindri polisi disebabkan oleh aparat Polisi yang tak
mampu menjaga kewibawaan dan nama baiknya secara pribadi maupun kepolisian
sebagai sebuah institusi penegakan hukum.

B. Main Hakim sendiri menjadi kecenderungan Masyarakat.

Salah satu dari sekian bentuk kekerasan yang sering kali terjadi dimasyarakat
dengan intensitasnya yang sudah sangat begitu memprihatinkan adalah munculnya
kecenderungan di dalam masyarakat untuk melampiaskan rasa kemarahan dan
kebenciannya terhadap pelaku tindak pidana dengan cara cara yang extra-legal,
yaitu dengan cara melakukan penganiayaan dan atau pembunuhan terhadap orang
yang diduga selaku pelaku tindak pidana.5

Tindakan main hakim sendiri (eigenrechting) yang dilakukan oleh massa


terhadap pelaku tindak pidana adalah sebuah fenomena negatif yang sering kita temui
atau kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
main hakim sendiri diartikan sebagai menghakimi orang lain tanpa mempedulikan
hukum yang ada (biasanya dilakukan dengan pemukulan, penyiksaan, pembakaran,
dan sebagainya)

4 M. Yahya Harahap. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP


Penyidikan dan Penuntutan, Edisi Kedua. Sinar Grafika. Jakarta. 2000. h. 61.

5 Fathul Achmadi Abby, Pengadilan Jalanan Dalam Dimensi Kebijakan Kriminal.


Jala Permata Aksara, Jakarta. 2016. h.3.
7

Pengadilan jalanan berupa tindakan main hakim sendiri yang dilakukan oleh
sekelompok orang terhadap pelaku kejahatan dapat dikategorikan sebagai anomie , di
mana dalam kasus main hakim sendiri terjadi karena adanya ketidaksesuaian dalam
penerapan fungsi hukum dengan tujuan yang diinginkan oleh masyarakat.
Pelaksanaan fungsi hukum oleh lembaga hukum dipandang oleh masyarakat belum
memenuhi rasa keadilan masyarakat, sehingga masyarakat menjalankan hukunya
sendiri. Berlarutnya penyelesaian berbagai kasus pelanggaran hukum yang tanpa
ujung, inkonsistensi penegakan hukum, semakin meningkatnya angka kejahatan, telah
menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan lembaga penegak
hukum.6

Terjadinya tindakan main hakim sendiri terjadi akibat perubahan perubahan


sosial kemasyarakatan, termasuk hubungannya sebagai suatu sub sistem dengan
hukum, dimana hukum melakukan pekerjaan pekerjaan sebagai berikut :
1. Merumuskan hubungan hubungan di antara anggota anggota masyarakat
dengan menunjukkan perbuatan perbuatan mana yang dilarang dan mana
yang boleh dilakukan.
2. Mengalokasikan dan menegaskan siapa siapa yang boleh menggunakan
kekuasaan atas siapa, berikut prosedurnya.
3. Penyelesaian sengketa sengketa.
4. Mempertahankan kemampuan adaptasi masyarakat dengan cara mengatur
kembali hubungan hubungan dalam masyarakat manakala keadaan berubah.
(Hoebel, 1967:275)7
Tidak berjalannya secara efektif pekerjaan hukum di atas menimbulkan
polemik di tengah tengah masyarakat sehingga melahirkan beberapa faktor yang
menyebabkan masyarakat melakukan tindakan main hakim sendiri Pertama, agar
pelaku jera melakukan tindak kriminal dan menjadikannya role model bagi penjahat

6 Ibid. h.14

7 Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial. Alumni. Bandung. 1979. h. 38.
8

yang lain untuk tidak melakukan hal yang serupa. Kedua, masyarakat tidak lagi
mempercayai upaya-upaya hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak berwajib. Ketiga,
karena kebanyakan masyarakat melakukan perbuatan main hakim sendiri
(eigenrechting) disebabkan ikut-ikutan saja, ketika melihat massa secara anarkis dan
membabi buta menghajar pelaku mereka ikut-ikutan melakukan tindakan kekerasan
dan yang terakhir perbuatan pidana yang dilakukan oleh pelaku sudah sangat
meresahkan masyarakat.

Tak bisa dipungkiri bahwa apa yang terjadi di masyarakat saat ini adalah
cerminan dari hippermoralitas, hippermoralitas merupakan suatu keadaan atau situasi
dimana anggota masyarakat tidak bisa menentukan mana yang baik atau yang buruk.8

Sebenarnya yang masyarakat harus ketahui dan pahami bahwa pelaku


perbuatan main hakim sendiri (eigenrechting) sendiri dapat dikenakan sanksi atau
hukuman apabila terbukti melakukan perbuatan main hakim sendiri (eigenrechting),
mereka para pelaku perbuatan main hakim sendiri (eigenrechting) dapat dijerat oleh
Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pasal 4 dan 33
ayat (1) yang di mana apabila kedua pasal tersebut disimpulkan bahwa perbuatan
main hakim sendiri merupakan suatu tindakan yang bersifat melawan hukum juga dan
melanggar hak asasi manusia.

Seterusnya Dalam hal terjadinya tindakan perbuatan main hakim sendiri


(eigenrechting), bagi korban tindakan tersebut dapat melaporkan kepada pihak yang
berwenang antara lain atas dasar ketentuan-ketentuan berikut: Pasal 338 KUHP
tentang Pembunuhan, Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, Pasal 170 KUHP
tentang Kekerasan, Pasal 406 KUHP tentang Perusakan.9

8 http://kupasbengkulu.com/fenomena-eigenrechting-main-hakim-sendiri/

9 Kesindo Utama, KUHP dan KUHAP Beserta penjelasannya. KesindoUtama.


Surabaya. 2007.
9

C. Proses hukum yang dijadikan/menjadi ladang bisnis.

Adalah hal yang tak bisa dipungkiri bahwa hukum sejatinya adalah produk
politik, dimana pembentukannya ditentukan melalui kebijakan kebijakan secara
politis, maka pergolakan pergolakan kepentingan sebagai ujung tombak politik
menjadi sebuah konsekuensi.

Selain itu tidak berjalannya proses penegakan hukum yang baik membuat
pilitik transaksional merasuki ranah hukum di mana hukum menjadi aktifitas jual
beli. Kenyataan dalam masyarakat dari proses penyelsaian perkara/kasus di tingkat
kepolisian tak sedikit ditemukan aktifitas aktifitas transaksi antara masyarakat dan
polisi sebagai penegak hukum untuk menghentikan atau menjadikan seseorang
sebagai tersangka, secara umum inilah konsekuensi dari Negara berkembang.

Masalah utama penegakan hukum di negara-negara berkembang khususnya


Indonesia bukanlah pada sistem hukum itu sendiri, melainkan pada kualitas manusia
yang menjalankan hukum (penegak hukum). Dengan demikian peranan manusia yang
menjalankan hukum itu (penegak hukum) menempati posisi strategis. Masalah
transparansi penegak hukum berkaitan erat dengan akuntabilitas kinerja lembaga
penegak hukum. Undang-undang No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggara negara
yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, telah menetapkan beberapa
asas. Asas-asas tersebut mempunyai tujuan, yaitu sebagai pedoman bagi para
penyelenggara negara untuk dapat mewujudkan penyelenggara yang mampu
menjalankan fungsi dan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung
jawab.10

10 http://fauzi-iswari.blogspot.co.id/2013/04/problematika-penegak-hukum-
dalam.html
10

Sekalipun tatanan konsep Negara hukum telah dirasa cukup proporsional,


namun dalam kenyataan pelaksanaan adalah hal yang paling menentukan wajah
berhukum atau kultur hukum sebuah Negara, para aparatur dan penegak hukum
adalah emanasi dari tatanan hukum yang ada, budaya suap menyuap dan menyogok
menjadi hal yang lumrah di semua aktifitas peradilan di Indonesia sehingga wajar
ketika ada adagium yang mengatakan KUHP adalah singkatan dari Kasi Uang Habis
Perkara munculnya adagium ini adalah bentuk ketidakpuasan masyarakat pada
hukum atau banyaknya masyarakat bahkan penegak hukum yang menjadikan hukum
sebagai lahan bisnis.

Sebagai lahan bisnis di dunia hukum, Suap seakan menjadi budaya dan tradisi
dalam lingkungan birokrasi yang harus dijaga, diabadikan, dan dilestarikan oleh para
pelakunya, sehingga tak kunjung punah. Bahkan, ia sudah menjadi darah daging dan
pelumas berputarnya mesin birokrasi Negara. Partai politik telah berhasil
menumbuhkan ketidakpercayaan rakyat, frustasi kemiskinan, yang mengakibatkan
kebijakan bukan lagi kebajikan, dan statemen politik hanya akan menjadi nasi basi
yang tak dihiraukan rakyat. Tidak cukup dengan partai politik, lembaga penegak
hukum juga ternyata ikut berkontribusi besar dalam menumbuhkan mental skeptis
masyarakat terhadap hukum dan penegak hukum itu sendiri. Maka wajar mantan
hakim agung Bismar Siregar berujar Siapa yang diberantas, siapa yang
memberantas, sama-sama koruptor.

D. Mafia dalam proses penegakan hukum

Hukum yang baik haruslah ditopang dengan penegakan hukum yang baik
pula, sebab jika tidak maka proses untuk mencapai Negara hukum adalah hal yang
mustahil, Indonesia telah sejak lama mengusung diri sebagai Negara hukum seperti
11

yang tertuang dalam konstitusi Negara, yakni tertuang dalam Pasal 1 ayat 3 Undang
Undang Dasar 1945 bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum.

Namun demikian dalam perjalanannya hukum tak seadil dan tak setertib yang
di harapkan hukum masih saja memiliki lubang yang menganga yakni salah satunya
adanya istilah Mafia Hukum/Peradian di tengah proses proses penyelesaian
perkara dari semua tingkatan.

Tidak jauh berbeda dengan Mafia Pajak, pada Mafia Peradilan yang dituju
dari Mafia-mafia Peradilan tersebut adalah uang lebih dari si klien. Pola-pola dalam
praktik Mafia Peradilan terdapat beberapa tahap yang terjadi di dalamnya. Pada tahap
penyelidikan, pertama di dalam praktik Mafia Peradilan terdapat permintaan uang
jasa, jadi laporan akan ditindaklanjuti setelah menyerahkan uang jasa. Selain itu,
terdapatnya penggelapan perkara, yaitu dimana penanganan perkara dihentikan
setelah ada kesepakatan membayar sejumlah uang kepada polisi. Selanjutnya, pada
tahap penyidikan terdapat adanya negosiasi perkara, dimana di dalamnya terdapat
tawar menawar pasal yang dikenakan terhadap tersangka dengan imbalan uang yang
berbeda-beda, kemudian menunda surat pemberitahuan dimulainya penyidikan
kepada kejaksaan. Selain itu, pada tahap penyidikan terdapat pula pemerasan yang
dilakukan oleh polisi, prosesnya tersangka dianiaya terlebih dahulu agar mau
kooperatif dan menyerahkan sejumlah uang, setelah itu mengarahkan kasus lalu
menawarkan jalan damai. Sampai kepada pengaturan ruang tahanan pun
dibelakangnya terdapat dalang Mafia peradilan, di dalam penempatan ruang tahanan
menjadi ajang tawar menawar. 11

Mafia peradilan/hukum muncul karena budaya dan mental masyarakat serta


para aparatur penegak hukum yang masih lemah, rendahnya tingkat pemahaman

11 http://serlania.blogspot.co.id/2012/01/mafia-hukum.html
12

masyarakat terhadap hukum serta kesadarannya dan profesionalisme para penegak


hukum yang jauh dari harapan menjadi alasan munculnya praktik praktik
transaksional berupa mafia hukum/peradilan.

Namun secara tekhnis Praktik mafia hukum dapat terjadi sejak proses
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemutusan, eksekusi dan pemasyarakatan.
Penyebab maraknya praktik mafia hukum dapat dikarenakan Kelemahan pengawasan
dan pendisiplinan pada aparatur penegak hukum dan Kelemahan manajemen sumber
daya manusia., Kelemahan sistem penanganan perkara, sistem penanganan perkara
yang berbelit belit sekaligus terbuka lebar member peluang terjadinya praktik mafia
hukum karena tidak ada check and balance di semua tingkatan. Di lain sisi budaya
masyarakat menjadi faktor lahirnya praktik mafia hukum/peradilan ini, mental
masyarakat yang senang menyogok dan memberi suap menjadi hal lumrah di tengah
tengah kita.

BAB III
PENUTUP

1.1. Kesimpulan.

Indonesia sebagai Negara hukum (recht staat) masih mencari jati dirinya, terbukti
masih rendahnya kesadaran hukum masayarakat dan profesionalitas penegak hukum
dalam menjalankan peran dan kewenangannya, tercermin dari masih maraknya
aktifitas mafia hukum secara transaksional dimana masyarakat dan penegak hukum
melakukan jual beli kepentingan dalam proses penyelesaian perkara di semua
tingkatan. Polisi sebagai salah satu pengayom masyarakatpun gagal dalam
membangun citra yang baik terbukti masyarakat anti terhadap polisi dan terkesan
13

menghindarinya Dan secara sosiologis masyarakat tidak percaya lagi terhadap Negara
sehingga kecenderungan masyarakat untuk melakukan tindakan main hakim sendiri
masih marak terjadi di Indonesia dan menjadi hal yang lumrah di tengah tengah
kehidupan berbangsa dan bernegara.

1.2. Saran

Banyaknya permasalahan dalam pelaksanaan hukum di indoensia serta penegak


hukum yang terkesan dihindari masyarakat sebab tidak lagi memberi rasa aman
melainkan hanya memunculkan ketakutan ketakutan adalah penting untuk menjadi
perhatian kita bersama, pentingnya penignkatan profesionalisme para penegak hukum
seperti Polisi, jaksa dan Hakim adalah hal yang paling fundamental serta pendidikan
hukum terhadap masyarakat adalah solusi kultural yang mesti dilakukan pemerintah,
selain itu proses pengawasan atau check and balance perlu lebih diperhatikan lagi
terutama dalam hal penerapan sanksi yang tegas bagi mereka yang terbukti
melakukan aktifitas mafia hukum sampe pada masyarakat yang kadang melakukan
aktifitas peradilan jalanan yakni main hakim sendiri yang sama sekali tidak
dibenarkan oleh undang undang.
14

Daftar Pustaka

Indah Sri Utari, Aliran dan Teori Dalam Kriminologi. Thafa Media, Yogyakarta.
2012.
Fathul Achmadi Abby, Pengadilan Jalanan Dalam Dimensi Kebijakan Kriminal. Jala
Permata Aksara, Jakarta. 2016.
M. Yahya Harahap. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan
dan Penuntutan, Edisi Kedua. Sinar Grafika. Jakarta. 2000.

Satjipto Rahardjo, Hukum dan Perubahan Sosial. Alumni. Bandung. 1979.

Kesindo Utama, KUHP dan KUHAP Beserta penjelasannya. KesindoUtama.


Surabaya. 2007.
15

http://www.bintang.com/lifestyle/read/2339826/banyak-warga-indonesia-gak-suka-
polisi-mungkin-ini-alasannya

http://kupasbengkulu.com/fenomena-eigenrechting-main-hakim-sendiri/

http://fauzi-iswari.blogspot.co.id/2013/04/problematika-penegak-hukum-dalam.html

http://serlania.blogspot.co.id/2012/01/mafia-hukum.html