Anda di halaman 1dari 14

Hasil Pembelajaran

Virus Zika (ZIKV), merupakan flavivirus yang dibawa oleh


nyamuk Aedes yang menyebabkan penyakit demam disertai ruam,
dilaporkan telah cepat menyebar di belahan dunia barat selama
beberapa bulan terakhir. Virus ini jarang diidentifikasi sampai wabah
terjadi pada Pulau Yap di Negara Federasi Mikronesia pada tahun
2007, kemudin berturut-turut di France Polinesia pada tahun 2013,
di Pulau Paskah pada tahun 2014, bagian Timur Laut Brasil pada
tahun 2015 dan kemudian menyebar di beberapa negara di
kawasan Amerika di mana vektor nyamuk Aedes berada. Penularan
juga terjadi di wisatawan yang kembali dari daerah yang terinfeksi
ke negara-negara nonendemik, termasuk Amerika Serikat, Kanada,
Jepang, dan Eropa Barat.1 Sampai Januari 2016, telah dilaporkan
total 20 negara (Gambar 1), dengan perkiraan 1,6 juta kasus di

seluruh dunia.2

Gambar 1 : Negara-negara yang memiliki bukti penularan virus Zika.

EPIDEMIOLOGI
Awalnya virus ini ditemukan di Hutan Zika Uganda pada bulan
April tahun 1947 dari monyet rhesus 766 yang menderita demam
dalam proyek pengawasan terhadap demam kuning di hutan
tersebut. Setelah 2 hari demam, serumnya dibawa ke laboratorium,
kemudian diketahui disebabkan oleh virus yang diberi nama Virus
Zika (ZIKV). Selanjutnya pada tahun 1948, virus tersebut didapatkan
pada nyamuk Aedes africanus di hutan yang sama. Pada tahun
1956, dilaporkan bahwa nyamuk Aedes aegypti dapat menularkan
virus Zika ke tikus dan monyet. Dari tahun 19511981, serologic
evidence infeksi virus Zika ke manusia telah dilaporkan di Negara
Afrika antara lain Uganda, Tanzania, Mesir, Afrika Tengah, Sierra
Leone, dan Gabon, sebagian Asia antara lain India, Malaysia,
Filipina, Thailand, Vietnam, dan Indonesia. ZIKV diisolasi pada
manusia di Nigeria pada penelitian-penelitian di tahun 1968 dan
selama 1971 sampai 1975. Pada penelitian tersebut 40% pasien
terdeteksi memiliki antibodi terhadap ZIKV.3
Pada tahun 2007, barulah ZIKV ini terdeteksi di luar Afrika dan
Asia, ketika wabah demam, ruam, konjungtivitis, dan arthralgia
terjadi pada Pulau Yap, Micronesia. Meskipun hasil serologi awal
yang positif untuk IgM dengue, pengujian lebih lanjut dengan
Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)
dikonfirmasi virus Zika sebagai penyebabnya. Diperkirakan 73% dari
penduduk Pulau Yap berusia 3 tahun atau lebih, terinfeksi virus Zika,
sekitar 80% dari infeksi yang subklinis.4 Kemudian pada Oktober
2013, virus Zika pertama kali diidentifikasi di Polinesia Perancis dan
diduga menyebabkan sekitar 19.000 kasus sindrom dengue seperti
pada bulan Desember tahun itu. Sirkulasi virus Zika kemudian
terdeteksi di Kaledonia Baru, Kepulauan Cook, dan Pulau Paskah
(Chili) pada tahun 2014. Pada Maret 2015, kasus sindrom demam
berdarah seperti dilaporkan dari Natal di negara bagian Rio Grande
do Norte, Brasil, dikonfirmasi virus Zika melalui RT-PCR. Setelah itu,
wabah terjadi di beberapa negara bagian di Brazil yang diduga
akibat wisatawan dari Asia dan sampai mencapai 1,5 juta kasus dan
telah menyebar dengan cepat di Amerika.5.6
Pada tahun 1981, Olson dkk melaporkan tujuh orang dengan bukti
serologis penyakit ZIKV di Jawa Tengah, selanjutnya sebuah studi
serologi menunjukkan bahwa 9/71 (13%) relawan di Lombok
ditemukan antibodi untuk ZIKV.5 Kemudian pada tahun 2013
dilaporkan kasus ZIKV di Australia setelah pasien bepergian di
Jakarta selama 9 hari.7 Terakhir dilaporkan kasus bulan Mei 2015,
penelitian Eijkman Institute for Molecular Biology, menemukan satu
kasus infeksi virus Zika di Jambi.

VIROLOGI
Zika merupakan virus Ribonucleic Acid (RNA) dalam family
Flaviviridae, genus Flavivirus. Virus ini memiliki hubungan
kekerabatan dengan Dengue Virus (DENV), Yellow Fever Virus (YFV),
West Nile Virus (WNV), dan Japanese Enchephalitis Virus (JEV). Virus
ini berbentuk icosahedral, berdiameter sekitar 40 nm dengan tebal
permukaan kira-kira 5-10 nm.Nukleokapsid berdiameter 25-30 nm
dikelilingi oleh membran lipid bilayer mengandung protein Envelope
E dan M. Genom virus Zika merupakan Genom RNA dengan panjang
10.794 kb, berupa untai tunggal, diapit oleh dua daerah noncoding
(59 dan 39 NCR) dan tujuh protein non struktural (NS). 9,10 (Gambar
2). ZIKV bisa mati oleh potassium permanganate, ether, dan pada
suhu >60C. Analisis filogenetik menunjukkan dua garis keturunan
utama, Afrika dan Asia, berasal dari virus nenek moyang Zika,
mungkin dari Uganda.3
Gambar 2 : A. Virus Zika dari mikroskop elektron dengan diameter
40 nm.11
B. Skema Struktur Virus Zika.10
C. Genom Virus Zika.10

PATOGENESIS
Informasi mengenai patogenesis ZIKV masih sedikit, flavivirus yang
ditularkan oleh nyamuk diduga bereplikasi di sel dendritik dekat
lokasi inokulasi kemudian menyebar ke kelenjar getah bening dan
aliran darah. Meskipun replikasi flavivirus diduga terjadi dalam
sitoplasma sel, Buckley A, dkk mendapatkan bahwa antigen ZIKV
dapat ditemukan dalam inti sel yang terinfeksi. Untuk saat ini, ZIKV
telah terdeteksi dalam darah manusia pada awal onset penyakit,
asam nukleat virus masih terdeteksi hingga akhir hari ke 11 setelah
gejala klinis.

TANDA DAN GEJALA


Infeksi virus Zika umumnya tidak bergejala. Sekitar satu dari
empat orang yang terinfeksi ZIKV akan menimbulkan gejala. 7 Gejala
berkembang setelah gigitan oleh nyamuk Zika terinfeksi dengan
masa inkubasi diperkirakan dua sampai tujuh hari, mirip dengan
flavivirus lainnya. Gejala klinis utama pada pasien adalah demam
ringan (<38,5 C), pada pasien biasanya tampak ruam
makulopapular yang sering dimulai pada wajah dan kemudian
menyebar ke seluruh tubuh (durasi 2 sampai 14 hari; median 6
hari), arthralgia (durasi 1 sampai 14 hari; median 3,5 hari), dan
hiperemis konjungtiva atau bilateral konjungtivitis nonpurulen,
kadang disertai dengan gejala umum nonspesifik seperti mialgia,
asthenia, sakit kepala, nyeri retro-orbital, vertigo, dan muntah. 1,12
Gejala infeksi Zika umumnya ringan dan sembuh sendiri dalam
seminggu.5
Hasil laboratorium beberapa kasus menunjukkan transient
leukopenia dan dalam beberapa kasus bisa trombositopenia. Kadar
Aspartat Serum Aminotransferase (AST) dan Alanine
Aminotransferase (ALT) bisa normal dan kadang meningkat. Dari
penelitian Dennis dkk, menunjukkan adanya peningkatan beberapa
sitokin pada fase akut dan menurun pada fase convalesence.13
Sampai saat ini, belum ada kematian yang dilaporkan akibat infeksi
ZIKV.12
Beberapa komplikasi yang diduga berhubungan dengan ZIKV
antara lain :
1. Guillain-Barr syndrome (GBS)
Sindrom Guillain-Barr adalah suatu penyakit saraf akut
berupa defisit sensorimotor pada bagian ekstremitas bawah,
bilateral, dan simetris. Dalam banyak kasus biasanya ada riwayat
infeksi sebelum berkembang menjadi sindrom Guillain-Barr.
Kejadian tahunan GBS diperkirakan antara 0,4 dan 4,0 kasus per
100.000 penduduk per tahun. Di Amerika Utara dan Eropa, GBS
lebih umum pada orang dewasa dan meningkat sejalan dengan
usia. Beberapa studi menunjukkan bahwa laki-laki cenderung lebih
banyak daripada wanita.14
Komplikasi neurologis ini telah diidentifikasi dalam wabah
Polinesia Perancis. Sejak awal epidemi di Polinesia, kejadian GBS
telah meningkat 20 kali lipat (74 kasus), sehingga diduga
berhubungan dengan infeksi ZIKV. Mekanisme fisiopatologis
mendasari Zika terkait GBS belum diketahui, diduga mekanisme
imunologi yang terlibat seperti pada penyebab GBS akibat infeksi
lainnya. Demikian pula telah dilaporkan kasus GBS dalam konteks
wabah virus Zika di Brasil, Kolombia, El Salvador, Suriname, dan
14,15
Venezuela.
2. Mikrosefali
Mikrosefali biasanya merupakan perkembangan otak yang
abnormal. Konsekuensi jangka panjang mikrosefali tergantung pada
anomali otak yang mendasari dan dapat berkisar dari keterlambatan
perkembangan motorik ringan sampai berat dan defisit intelektual.
Selain infeksi kongenital, mikrosefali bisa berasal dari kelainan
kromosom, paparan obat, alkohol, racun, dan fusi prematur tulang
tengkorak (craniosynostosis).14
Hubungan antara infeksi maternal dan anomali kongenital telah
lama dikenal, terutama bila infeksi terjadi selama 12 minggu
pertama kehamilan. Sejak wabah infeksi virus Zika diketahui di
Timur Laut Brasil pada awal tahun 2015, pada bulan September
2015, otoritas kesehatan mulai menerima laporan dari dokter di
daerah tentang peningkatan jumlah bayi yang lahir dengan
mikrosefali. Pada bulan Oktober, Kementerian Kesehatan setempat
mengkonfirmasi peningkatan prevalensi kelahiran mikrosefali di
Timur Laut Brazil, dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya
dilaporkan (sekitar 0,5/10.000 kelahiran hidup). Pada bulan
Desember, Pan American Health Organization (PAHO) melaporkan
identifikasi virus Zika dengan RT-PCR dalam sampel cairan ketuban
dari dua perempuan hamil dengan janin ditemukan memiliki
mikrosefali oleh USG, dan identifikasi RNA virus Zika dari beberapa
jaringan tubuh, termasuk otak, dari bayi dengan mikrosefali yang
meninggal dalam periode neonatal. Peristiwa ini menyebabkan
Kementerian Kesehatan Brazil dan Centers for Disease Control and
Prevention (CDC) mengungkapkan tentang hubungan yang mungkin
dari mikrosefali dengan infeksi virus Zika. Hubungan ini masih
dalam penelitian lebih lanjut.
PENULARAN
1. Melalui gigitan nyamuk
Virus Zika dominan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes.
Awalnya diketahui oleh nyamuk Aedes africanus di hutan di Uganda.
Kemudian diketahui juga Ae. hesilli di Pulau Yap, Ae. aegypti dan Ae.
polynesiensis di Polinesia Perancis. Aedes aegypti dan Ae.
albopictus yang banyak di kawasan Amerika. Ini adalah nyamuk
yang sama yang menyebarkan demam berdarah dan Chikungunya. 4
Nyamuk ini biasanya bertelur pada genangan air seperti ember,
mangkuk, piring hewan, pot bunga dan vas. Mereka lebih memilih
untuk menggigit orang, dan hidup di dalam ruangan dan di luar
ruangan dekat orang. Nyamuk ini menggigit agresif pada siang hari
namun mereka juga bisa menggigit di malam hari. Nyamuk
terinfeksi ketika mereka menggigit orang yang sudah terinfeksi
virus. Nyamuk yang terinfeksi kemudian dapat menyebarkan virus
ke orang lain melalui gigitan.1
2. Melalui kontak seksual
Penyebaran virus melalui kontak seksual telah dilaporkan.
Satu laporan kasus penularan oleh seorang ilmuwan ke istrinya
(diagnosis berdasarkan serologis), dia memperoleh penyakit dari
Senegal dan mulai muncul gejala setelah seminggu kembali ke
Amerika Serikat. Sebelum timbulnya gejala, ia melakukan hubungan
seksual dengan istrinya, yang tidak pernah meninggalkan Amerika
Serikat. Beberapa hari kemudian istrinya mengalami gejala yang
sama dengan suaminya. Hal ini dibuktikan pula dengan studi yang
menunjukkan tingginya viral load dan replikasi virus pada air mani
dan urine dari pasien yang telah mengalami kesembuhan klinis
selama seminggu.12-18
3. Penularan dari ibu ke anak
Penularan perinatal virus Zika sudah dibuktikan sebelumnya
dalam sebuah penelitian di Polinesia Prancis, berhubungan dengan
komplikasi mikrosefali kongenital. Sebuah penelitian terbaru
menunjukkan adanya RNA virus Zika di cairan ketuban dari dua ibu
hamil dengan anak mikrosefali. Departemen Kesehatan Brasil
melaporkan deteksi virus genom Zika dalam darah dan jaringan
sampel empat kasus malformasi kongenital, meninggal tak lama
setelah dilahirkan. Pada bulan Januari 2016, Infeksi virus Zika
serologis dikonfirmasi pada bayi mikrosefali yang lahir di Hawaii,
dari seorang ibu yang memperoleh infeksi saat tinggal di Brazil.
Karena hubungan ini belum diamati di awal wabah virus Zika dan
karena penyebab lain dari mikrosefali bawaan belum
dikesampingkan dalam banyak kasus, sehingga ECDC menyatakan
belum cukup bukti yang tersedia untuk mengkonfirmasi atau
membantahnya.18-20
4. Penularan dari transfusi darah
Potensi untuk transmisi ZIKV melalui transfusi darah telah
dilaporkan. Saat wabah di Polinesia, untuk mencegah penularan
Zika oleh transfusi darah, tes virus Zika dengan PCR dilaksanakan
pada pendonor. Dari November 2013 sampai Februari 2014
didapatkan 42 (3%) dari 1.505 donor darah, meskipun tanpa gejala
pada saat donor darah, ditemukan positif ZIKV dengan PCR.

DIAGNOSA
Diagnosis infeksi ditegakkan dengan RT-PCR selama minggu
pertama sakit; viremia telah dibuktikan dari hari 0-11 setelah onset
gejala.7 Uji serologi (IgM dengan Enzyme-Linked Immunosorbent
Assay) dapat mendeteksi virus, meskipun dengue dapat
menyebabkan hasil positif palsu. Oleh karena itu, hasil positif harus
dikonfirmasi oleh Plaque Reduction Neutralization Test (PRNT). Virus
Zika juga dapat dideteksi dalam air liur dan urine. . Kesulitan
diagnosis bila terjadi koinfeksi dengan dengue (terbukti) dan
Chikungunya (potensial).22,23
Dianjurkan untuk mempertimbangkan Penyakit virus Zika,
demam berdarah, dan Chikungunya dalam diagnosis diferensial bagi
wisatawan demam dengan ruam, arthralgia, dan mialgia setelah
perjalanan ke Amerika Tengah dan Selatan serta Karibia, mengingat
adanya Ae.aegypti dan khususnya Ae. Albopictus di banyak negara.2
Berdasarkan rekomendasi Pan American Health
Organization/World Health Organization (PAHO/WHO)18, pasien
dikatakan Suspek Penyakit Virus Zika bila Pasien dengan ruam atau
suhu tubuh meningkat (> 37,2 C) dengan satu atau lebih dari
gejala berikut (menyingkirkan kondisi medis lain) :
1. Artralgia atau mialgia
2. Non-purulen konjungtivitis dan hiperemia konjungtiva
3. Sakit kepala atau malaise
Kemudian dikonfirmasi dengan laboratorium (Gambar 2).
Dipertimbangkan infeksi virus Zika pada pelancong, bila muncul
gejala di atas selama atau dalam waktu dua minggu dari daerah
dengan yang sedang berlangsung transmisi virus Zika.24
Wanita hamil dapat terinfeksi virus Zika di setiap trimester.
Kejadian infeksi virus Zika pada wanita hamil saat ini tidak
diketahui, dan data pada wanita hamil yang terinfeksi virus Zika
terbatas. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa wanita hamil
lebih rentan terhadap infeksi virus Zika atau pengalaman penyakit
yang lebih parah saat hamil.

PENANGANAN
Penanganan utama virus Zika saat ini adalah pencegahan.
Penyakit virus Zika biasanya relatif ringan dan tidak memerlukan
pengobatan khusus. Berikut rekomendasi PAHO/WHO (Oktober
2015) :
1. Tidak ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus
Zika. Oleh karena itu, pengobatan diarahkan untuk
menghilangkan gejala.
2. Pengobatan simtomatik dan suportif, termasuk istirahat dan
penggunaan acetaminophen atau parasetamol untuk meredakan
demam. Penggunaan antihistamin untuk mengontrol pruritus
yang biasanya berhubungan dengan ruam makulopapular dapat
diberikan.
3. Penggunaan aspirin tidak disarankan karena resiko pendarahan
dan berkembang ke sindrom Reye pada anak-anak yang kurang
dari 12 tahun. Penggunaan obat-obatan Non Steroid Anti
Inflammation Drugs (NSAID) tidak disarankan.
4. Pasien harus dianjurkan untuk minum banyak cairan untuk
mengisi cairan yang hilang dari berkeringat, muntah dan
Insensible water loss lainnya.27
Centre for Disease Prevention and Control telah mengembangkan
guidelines untuk penyedia layanan kesehatan di Amerika Serikat
dalam wanita hamil selama wabah virus Zika. Pedoman ini
mencakup rekomendasi untuk wanita hamil mempertimbangkan
perjalanan ke daerah dengan penularan virus Zika dan rekomendasi
untuk skrining, pengujian, dan manajemen dari wisatawan kembali
hamil (gambar 4). Demikian pula pedoman sementara untuk
penyedia layanan kesehatan di Amerika Serikat yang merawat bayi
yang lahir dari ibu yang melakukan perjalanan ke atau berada di
daerah dengan transmisi virus Zika selama kehamilan. Pedoman ini
mencakup rekomendasi untuk pengujian dan manajemen bayi
tersebut.

PENCEGAHAN
1. Isolasi Pasien
Untuk mencegah infeksi ke orang lain, pasien yang terinfeksi
virus Zika harus terhindar dari gigitan nyamuk Aedes selama
minggu pertama (fase viremic). Pasien dianjurkan untuk tinggal
di tempat tidur dengan kelambu (dengan atau tanpa insektisida),
atau tinggal di tempat dengan jendela/pintu tertutup. Selain itu,
dokter atau petugas kesehatan harus melindungi diri terhadap
gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk dan
mengenakan baju lengan panjang dan celana.23
2. Penanggulangan Vektor Terintegrasi.23
Pencegahan dan pengendalian tindakan terintegrasi oleh
otoritas kesehatan nasional setempat harus mencakup antara
lain :
a. Memperkuat pengelolaan lingkungan dan menghilangkan
tempat perkembangan vektor dalam rumah tangga dan area
umum, untuk mencegah atau meminimalkan kontak manusia
dengan vektor nyamuk.
b. Menyelenggarakan kampanye sanitasi massa untuk
penghapusan tempat perkembangbiakan nyamuk, khususnya
di daerah-daerah di mana pengumpulan sampah rutin.
c. Menerapkan langkah-langkah pengendalian tempat
perkembangbiakan nyamuk melalui metode fisik, biologi dan
kimia, serta aktif melibatkan keluarga dan masyarakat.
d. Mengidentifikasi daerah berisiko tinggi penularan, dan
memprioritaskan tempat orang berkumpul (misalnya, sekolah,
terminal, rumah sakit, pusat kesehatan, dll), nyamuk harus
dibasmi dengan radius minimal 400 meter di sekitar tempat-
tempat ini.
e. Di daerah di mana kasus demam berdarah, Chikungunya,
dan/atau virus Zika yang telah terdeteksi, disarankan untuk
menggunakan pengobatan adulticide (melalui penyemprotan),
untuk menghilangkan nyamuk dewasa yang terinfeksi.
f. Memilih insektisida yang tepat (sesuai dengan rekomendasi
PAHO/WHO), memverifikasi label produk dan formula, dan
mempertimbangkan kerentanan populasi nyamuk terhadap
insektisida.
g. Memelihara dan menggunakan peralatan penyemprotan
dengan cara yang tepat.
h. Memastikan pemantauan intensif dari operator lapangan.
3. Tindakan Pencegahan Personal. 23
Pasien, keluarga pasien dan masyarakat, harus dididik
tentang risiko penularan kepada orang lain dan cara-cara untuk
meminimalkan risiko ini dengan mengurangi populasi vektor dan
kontak manusia-vektor.Tindakan berikut ini dianjurkan untuk
meminimalkan kontak vektor-pasien:
a. Pasien harus beristirahat di dalam kelambu, dengan atau
tanpa insektisida.
b. Pasien dan keluarganya harus memakai pakaian yang
menutupi ekstremitas.
c. Gunakan penolak nyamuk yang mengandung
Diethyltoluamide (DEET), Ethyl Butylacetylaminopropionate
(IR3535) atau Picaridin untuk kulit yang terkena atau pakaian;
penggunaannya harus benar-benar sesuai dengan petunjuk
yang tertera pada label produk.
d. Gunakan kawat penghalang nyamuk pada pintu dan jendela.
Langkah-langkah pencegahan pribadi ini juga efektif dalam
mencegah penularan virus kepada orang-orang yang sehat.
4. Wisatawan. 23
a. Sebelum keberangkatan
Wisatawan menuju ke negara manapun dengan sirkulasi
demam berdarah, Chikungunya, dan/atau virus Zika
disarankan untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk
melindungi diri dari gigitan nyamuk, seperti menggunakan
penolak nyamuk, mengenakan pakaian yang sesuai yang
meminimalkan paparan kulit, dan menggunakan insektisida.
Penting untuk menginformasikan wisatawan tentang gejala
demam berdarah, Chikungunya, dan virus Zika, agar mereka
mengidentifikasi itu selama perjalanan mereka.

b. Saat mengunjungi tempat-tempat transmisi virus Zika


Wisatawan disarankan untuk:
1) Mengambil langkah-langkah yang tepat untuk melindungi
diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan repellents
atau mengenakan pakaian yang tepat yang meminimalkan
paparan kulit,
2) Hindari daerah banyak nyamuk,
3) Gunakan jaring dan/atau insektisida,
4) Kenali gejala demam berdarah, Chikungunya, dan virus
Zika, serta mencari perawatan kesehatan profesional jika
gejala-gejala tersebut terjadi.
c. Setelah kembali dari tempat-tempat dengan dengue,
Chikungunya dan/atau transmisi virus Zika
Wisatawan disarankan untuk menghubungi penyedia
layanan kesehatan mereka jika mereka mengalami gejala-
gejala demam berdarah, Chikungunya, atau virus Zika setelah
kembali ke rumah.
5. Ibu Hamil.25
Mengingat kemungkinan hubungan antara virus Zika dan
mikrosefali, wanita hamil harus menghindari perjalanan ke
daerah-daerah yang mewabah atau menghindari diri dari kontak
dengan nyamuk di daerah endemis (termasuk dengan
penggunaan obat pengusir nyamuk yang mengandung DEET,
picaridin, atau IR3535, dianggap aman pada wanita hamil dan
menyusui).
6. Transfusi darah.21
Mengingat potensi untuk transmisi ZIKV melalui transfusi
darah, European Centre for Disease Prevention and Control
(ECDC) merekomendasikan untuk mewaspadai penularan virus
melalui transfusi darah dan menganjurkan untuk menolak darah
pendonor dari area terinfeksi virus Zika.
7. Pasangan Seks.26
Rekomendasi untuk pria dan pasangannya yang hamil, pria
yang tinggal di atau telah melakukan perjalanan ke daerah
penularan virus Zika aktif yang memiliki pasangan hamil harus
menjauhkan diri dari aktivitas seksual atau secara konsisten
menggunakan kondom saat berhubungan seks selama durasi
kehamilan. Sedangkan rekomendasi untuk pria dan pasangan
seks yang tidak hamil, pria yang tinggal di atau telah melakukan
perjalanan ke daerah penularan virus Zika aktif, sebaiknya
mempertimbangkan berpantang dari aktivitas seksual atau
menggunakan kondom secara konsisten dan benar saat
berhubungan seks.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chen LH, Hamer DH. Zika Virus: Rapid spread in the western hemisphere.
Ann Intern Med. 2016. doi:10.7326/M16-0150
2. European Centre for Disease Prevention and Control. Areas with Zika virus.
ECDC. 2016. Diambil dari: http://www.cdc.gov/zika/geo/
3. Hayes EB. Zika virus outside Africa. Emerg Infect. 2009. doi:
10.3201/eid1509.090442
4. Duffy MR, et al. Zika virus outbreak on Yap Island, Federated States of
Micronesia. N Engl J Med. 2009; 360:2536-43
5. Hennessey M, Fischer M, Staples JE. Zika virus spreads to new areas-region
of the Americas, May 2015 January 2016. MMWR Morb Mortal Wkly
Rep.2016; 65(3):5558