Anda di halaman 1dari 37

PENDAHULUAN

Metode geolistrik adalah metode geofisika untuk mengetahui struktur bawah permukaan
bumi dengan menggunakan sifat-sifat kelistrikan suatu medium. Setiap medium pada dasarnya
memiliki sifat kelistrikan yang dipengaruhi oleh batuan penyusun / komposisi mineral,
homogenitas batuan, kandungan air, permeabilitas, tekstur, suhu, dan umur geologi. Metode ini
umumnya digunakan untuk eksplorasi dangkal (300500 meter) misalnya pencarian air tanah,
struktur gelologi, litologi, penyelidikan mineral logam, dan keperluan geofisika lingkungan.
Pengukuran metode geolistrik umumnya menggunakan empat elektroda, terdiri dari dua
elektroda arus (C1, C2) dan dua elektroda potensial (P1, P2). Prinsip dari metode ini adalah arus
listrik diinjeksikan melalui dua elektroda arus ke bawah permukaan bumi, sehingga muncul beda
potensial yang dapat diukur melalui elektroda potensial. Parameter fisis yang diukur dalam
metode geolistrik adalah tahanan jenis atau resistivitas (). Nilai resistivitas menggambarkan
karakteristik dari suatu batuan di bawah permukaan bumi.
Berdasarkan tujuannya, metode geolistrik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode
geolistrik mapping dan metode geolistrik sounding. Metode geolistrik mapping adalah metode
geolistrik untuk melihat perbedaan resistivitas bawah permukaan secara lateral, sedangkan
metode geolistrik sounding adalah metode geofisika untuk melihat perbedaan resistivitas secara
vertikal ke bawah. Untuk tujuan mapping biasanya menggunakan konfigurasi dipol - dipol,
sedangkan untuk sounding menggunakan konfigurasi schlumberger atau wenner. Contoh dari
metode geolistrik sounding adalah VES (Vertical Electrical Sounding).

DASAR TEORI
A. Geolistrik Resistivitas
Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu dari kelompok metode geolistrik yang
digunakan untuk mempelajari kondisi bawah permukaan dengan mempelajari sifat-sifat aliran
listrik pada medium bawah permukaan. Prinsip dasar metode ini adalah dengan menginjeksikan
arus sebesar I melalui dua buah elektroda arus (C1 dan C2) dan mengukur nilai beda potensial
melalui elektroda potensial (P1 dan P2). Sesuai dengan Hukum Ohm bahwa besar arus listrik (I)
yang mengalir melalui sebuah penghantar atau konduktor akan selalu berbanding lurus dengan
beda potensial (V) yang diterapkan kepadanya dan berbanding terbalik dengan hambatannya
(R). Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.
V
I= atau V =I R
R

Gambar 1. Penjalaran arus dalam medium tabung


Keadaan tersebut dapat dijelaskan dengan penjalaran arus listrik dalam medium tabung
seperti pada gambar di atas. Hambatan yang terdapat pada medium tabung dapat dirumuskan
sebagai berikut.
L
R=
A

Sehingga didapatkan nilai resistivitas () yaitu


V A
=
I L

dengan A adalah luas penampangnya, L adalah panjang tabung, I adalah arus, dan V adalah
beda potensial.

Gambar 2. Sumber Arus Tunggal di Pemukaan Bumi (Telford, dkk., 1990)

Pada medium bumi, injeksi arus melalui elektroda akan menyebar segala arah secara
radial melalui medium bawah permukaan bumi yang bersifat homogen isotrop. Ketika terjadi
penjalaran arus tersebut, permukaan ekuipotensial di dalam bumi berbentuk permukaan setengah
bola dengan asumsi permukaan tanah yang datar. Bidang ekuipotensial tegak lurus dengan arah
penjalaran arus. Maka beda potensial pada jarak (r) didefinisikan sebagai berikut.
I
A=
2

V= ( 2I ) 1r atau = 2 rV
I
Gambar 3. Sumber arus ganda dengan dua elektroda potensial di pemukaan bumi
(Telford, dkk., 1990)

Jika terdapat dua elektroda arus yang diletakkan di permukaan mengalirkan arus
(Gambar 3), maka akan terukur nilai beda potensial oleh elektroda potensial. Potensial di P1
karena C1 dapat dirumuskan sebagai berikut.
A 1
V 1=
r1

I
A 1=
2

Namun kedua elektroda tersebut memiliki nilai arus yang sama namun arahnya berlawanan,
sehingga potensial di P2 karena C2 adalah
A 2
V 2=
r2

I
A 2=
2

Potensial pada titik P1 dan P2 dapat dituliskan menjadi


I 1 1
V P 1=V 1+V 2 =( )
2 r1 r2

I 1 1
V P 2 =V +V = ( )
1 2
2 r r 3 4

Sehingga beda potensial antara P1 dan P2 adalah


V =V P 1V P 2=
I 1 1
{( ) ( )}

2 r 1 r2
1 1
r3 r4

I
V=
K

dengan K merupakan faktor geometri.


B. Faktor Geometri

Dalam pengukuran geolistrik terdapat beberapa konfigurasi elektroda. Konfigurasi


elektroda adalah susunan letak elektroda arus dan elektroda potensial yang digunakan saat
pengukuran. Perbedaan letak elektroda arus (C1 dan C2) dan elektroda potensial (P1 dan P2)
dapat mempengaruhi besar medan listrik yang terukur, sehingga menghasilkan resistivitas yang
berbeda beda. Perbedaan nilai atau variasi resistivitas tersebut disebabkan oleh faktor geometri
sesuai konfigurasinya.
Berdasarkan persamaan diperoleh faktor geometri untuk susunan elektroda seperti pada
Gambar 3 adalah sebagai berikut.
1
K=2
1 1 1 1
(
r1 r2 )(
r3 r 4 )
C. Resitivitas Semu
Resisitivitas dapat dirumuskan sebagai berikut.
V
= K
I

Persamaan di atas memberikan nilai resistivitas sebenarnya (true resistivity) yang dihitung dari
pengukuran beda potensial pada medium homogen dengan konfigurasi empat elektroda. Nilai
resistivitas adalah konstan dan tidak tergantung pada konfigurasi elektroda dan keberadaan
elektroda dipermukaan. Untuk medium yang tidak homogen, ketika dihitung dengan
menggunakan persamaan diatas akan menunjukkan hasil yang bervariasi sesuai dengan susunan
geometri elektroda maupun lokasi horizontalnya. Sehingga nilai resistivitas yang diperoleh dari
persamaan di atas untuk medium bawah permukaan yang tidak homogen disebut sebagai
.
resistivitas semu (apparent resistivity) ( a Resistivitas semu dapat dirumuskan sebagai
berikut.

[( ]
V 1
a= 2
I 1 1 1 1
)(

r1 r2 r3 r4 )
Resistivitas semu bukan merupakan resistivitas rerata spasial suatu formasi bawah
permukaan yang homogen. Resistivitas semu merupakan resistivitas yang diperoleh dari
pembacaan nilai potensial di permukaan dengan asumsi seolah medium tersebut homogen.
Konsep resistivitas semu sangat berguna dalam aplikasi geolistrik di lapangan. Untuk
menentukan nilai resistivitas sebenarnya pada medium bawah permukaan dari nilai resistivitas
semu yang terukur akan dibahas pada bagian pemodelan balik (inverse modeling).

D. Vertical Electrical Sounding (VES)


Vertical Electrical Sounding (VES) merupakan metode yang ditemukan oleh
Schlumberger bersaudara pada 1920an. Metode ini menghasilkan data resistivitas 1D. Pada
penggunaan metode ini, titik tengah dari suatu pengukuran tetap pada suatu titik, tetapi spasi
antar elektroda ditambah untuk mendapatkan informasi mengenai lapisan bawah permukaan
yang lebih dalam (Loke, 2004).
Pada metode ini jarak antara elektroda C1 ke titik tengah dan elektroda C2 ke titik tengah
sama besarnya (Gambar 4). Begitu pula dengan jarak elektroda P1 dan elektroda P2.

Gambar 4.Konfigurasi elektroda sclumberger, dengan A=C1, B=C2, M=P1, N=P2, jarak
C1-C2=AB, jarak P1-P2=MN, jarak elektroda arus dengan titik tengah = AB/2,
dan jarak elektroda potensial dengan titik tengah = MN/2.

Faktor geometri konfigurasi schlumberger adalah sebagai berikut.


1
K=2
1 1 1 1
(
r1 r2 )(
r3 r 4 )
1
K=2
1 1 1 1

( AB MN
2

2

AB MN
2
+
2 )(

AB MN
2
+
2

AB MN
2

2 )
2 2

K=
(( ) ( ) )
AB
2

MN
2

2 ( MN2 )
E. Resistivitas Batuan Material Bumi
Secara umum faktor yang mempengaruhi sifat kelistrikan batuan adalah konduksi
elektronik, konduksi elektrolitik, dan konduksi dielektrik. Sifat kelistrikan disini adalah
karakteristik batuan ketika dialirkan pada batuan tersebut. Konduksi elektronik terjadi pada
material yang memiliki banyak elektron bebas di dalamnya sehingga arus listrik dialirkan dalam
material oleh elektron bebas.
Konduksi elektrolitik banyak terjadi pada batuan atau mineral yang bersifat porus dan
pada pori-pori tersebut terisi oleh larutan elektrolit sehingga memungkinkan arus listrik mengalir
akibat dibawa oleh ion-ion larutan elektrolit. Konduktivitas dan resistivitas batuan pori
bergantung pada volume dan susunan pori-porinya. Konduktivitas akan semakin besar jika
kandungan air dalam batuan bertambah banyak dan sebaliknya. Konduksi dielektrik terjadi pada
batuan yang bersifat dielektrik artinya batuan tersebut mempunyai elektron sedikit bahkan tidak
ada sama sekali. Tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar, maka elektron-elektron
dalam atom batuan dipaksa berpindah dan berkumpul terpisah dengan intinya, sehingga terjadi
polarisasi.
Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan dan mineral dapat dikelompokkan
-6 0 0
menjadi tiga macam, yaitu konduktor baik (10 << 10 Ohm.m), konduktor pertengahan (10
7 7
<< 10 Ohm.m), isolator ( > 10 ).

Tabel 1. Nilai Resistivitas Batuan (Telford, 1990)

PROSEDUR LAPANGAN
A. Diagram Alir
Gambar 5. Diagram alir metode VES konfigurasi Schlumberger
(Sumber: Panduan Nonseismik 2014)

B. Peralatan Survei
Peralatan yang digunakan dalam survei metode VES konfigurasi Schlumberger antara
lain:
- Resistivitymeter McOhm - Kabel power
- Roll kabel (4 buah) (Tergantung - Palu (4 buah)
Konfigurasi) - Jas Hujan
- Elektroda (4 buah) - Kompas
- Meteran (2 buah) - Multimeter
- Aki 12 volt - Toolkit
- HT 5 buah Kontur)
- Kalkulator - ATK (Pensil, Penghapus)
- Peta desain survey (RBI, Geologi,
C. Pengenalan Alat
Alat yang digunakan dalam Fieldcamp 2017 adalah OYO Model 2115
McOHM.

Gambar 6. OYO Model 2115 McOHM (Sumber: Kornelis, ST, M.Si; Instrumentasi
dan Prosedur Lapangan Metode Tahanan Jenis)

Spesifikasi dari Alat OYO Model 2115 McOHM adalah sebagai berikut:
1. Pemancar Arus
- Tegangan keluaran : 400 Vpp Maksimum
- Arus keluaran : 1, 2, 5, 10, 20, 50, 100, 200 mA (arus tetap)
- Tegangan pemakaian : 12 V DC
2. Penerima Potensial
- Impedansi masukan : 10 M
- Potensial pengukuran : 25 mV, 250 mV, 2500 mV (auto
range)
- Resolusi : 1 V
- Perbandingan : S/N 90 dB (dengan 50/60 Hz)
- Perlakuan stack : 1, 4, 16, 64
- Waktu sekali pengukuran : 3,7 detik
3. Memori Data
- Jumlah file maksimum : 128
- Jumlah data maksimum : 2000
- Jumlah data maksimum tiap file : 110
- Soket penghubung ke komputer : RS-232C
- Panjang data :8
- Catu Daya DC : 12 V (Accu)
- Jangkauan suhu : 0-500C
- Ukuran : (206 x 281 x200) mm
-
Gambar 7. Skema rinci dari OYO Model 2115 McOHM
(Sumber: Buku Panduan Geophysics Expedition 2013)

Tabel 2. Tabel Keterangan Saluran elektroda


1

Gambar 8. Skema penyusunan alat (Sumber: Buku Panduan Geophysics Expedition


2013)
Tabel 3. Keterangan Alat OYO Model 2115 McOHM

D. Desain Survei
Desain survei merupakan tahap untuk merencanakan pelaksanaan survei yang
berisikan titik titik yang akan dilakukan pengukura dengan harapan dapat memenuhi
target yang direncanakan. Proses pembuatan desain survei pada metode geolistrik kali ini
menggunakan konfigurasi schlumberger. Tahap-tahap pembuatan desain survei adalah
sebagai berikut.
1. Siapkan peta geologi, topografi dan RBI dalam format yang mendukung software yang
digunakan.
2. Tentukan taget daerah pengukuran serta target pengukuran itu sendiri menggunakan peta
geologi.
3. Tentukan jarak antar titik dan panjang bentangan yang sesuai dengan kedalaman target
yang diharapkan.
4. Plot titik yang akan dilakukan akuisisi data, dimana titik tersebut berada pada daerah
target.
5. Bentuk dari penyebaran titik survei dianjurkan dalam bentuk line atau grid, untuk
mempermudah dalam mengkorelasi hasil interpretasi data.
Catatan:
Proses penentuan titik harus memperhatikan kondisi lapangan berdasarkan
peta yang disediakan, karena pada pengukuran geolistrik menggunakan asumsi lapisan
homogen. Penentuan arah bentangan dianjurkan untuk tidak melewati batas litologi,
perbedaan litologi tersebut bisa dilihat pada peta geologi. Hindari pula aliran sungai serta
kabel listrik karena dapat menghasilkan hasil yang kurang valid. Proses penentuan daerah
survei juga harus diperhatikan, karena geolistrik menggunakan asumsi lapisan datar
sehingga hindari daerah dengan kemiringan lebih dari 45o yang biasanya ditandai dengan
kontur yang rapat.

E. Penentuan Lokasi
Proses penentuan lokasi pengambilan data dapat dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut:
1. Kemiringan lintasan hendaknya tidak lebih dari 10o agar koreksi kedalaman yang
diperoleh tidak lebih dari 3 meter.
2. Hindari pentangan yang mendekati aliran listrik agar hasil yang diperoleh tidak
terpengaruh oleh aliran listrik.
3. Bentangan dibuat selurus mungkin dengan jarak A sama dengan jarak B.
4. Diusahakan arah bentangan sejajar dengan strike agar diperoleh kehomogenan litologi
yang besar.

F. Akuisisi di lapangan
Kalibrasi Alat
Sebelum melakukan pengukuran di lapangan, terlebih dahulu dilakukan kalibrasi alat.
Kalibrasi dilakukan sesuai dengan prosedur sebagai berikut:
- TEST RESISTOR dimasukkan ke saluran arus dan potensial (C1, C2, P1, P2) dengan
ketentuan: soket bertanda C pada saluran arus C1 dan C2, dan soket bertanda P
pada saluran P1,P2 jangan terbalik.
- Lakukan pengukuran dengan mode R stack 1 dan arus 1 mA.
- Setelah selesai, hambatan yang terbaca harusnya adalah 1 1%. Apabila hambatan
yang terbaca berkisar harga tersebut, maka kalibrasi selesai dan alat siap digunakan.
Proses pengambilan data dilapangan dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Elektroda arus dan tegangan ditempatkan pada bentangan terpendek yang telah
direncanakan (eksentrisitas 1/3 atau eksentrisitas 1/5)
2. Kuat arus listrik dan beda potensial dicatat.
3. Rho apparent dihitung serta diplot pada skala log.
4. Elektroda arus dipindah sesuai dengan jarak bentangan yang sudah ditetapkan
sebelumnya, kemudian catat nilai kuat arus (I) dan potensial (V).
5. Lakukan langkah 4 berkali-kali sampai nilai beda potensial yang diperoleh sangat kecil.
6. Pindahkan elektroda tegangan ke posisi 2 ke posisi yang sudah ditetapkan dengan
elektorda arus yang tetap. Hitung dan plot rho apparent yang diperoleh. Bila nilai rho
apparent tidak terlalu jauh, maka hasil pengukurannya belom bisa dikatakan baik
sehingga perlu dilakukan cara lain, misalnya mengubah arah bentangan atau berpindah
tempat.
7. Ulangi langkah diatas sampai batas maksimum bentangan yang direncanakan.

Pembagian tugas
2 orang sebagai penjaga elektroda arus
2 orang sebagai penjaga elektroda potensial
1 orang sebagai operator
1 orang sebagai pencatat data
2 orang sebagai navigator

QC data lapangan
Nilai rho apparent tidak berubah secara drastic namun secara perlahan.
Nilai beda potensial terbaca pada alat 0.4
Apabila arus masukan tetap, maka hambatan (R) dan beda potensial ( V) yang
terbaca akan semakin kecil pada saat elektroda jauh pada titik pusat.

Instalasi alat
Satu titik ditetapkan sebagai titik tengah serta resistivitymeter diletakkan pada titik
tersebut.
Elektroda ditancapkan pada jarak yang sudah dihitung dari titik tengah dan
pasangkan kabel pada elektroda tesebut.
Resisitivitymeter dihubungkan dengan aki (hubungkan kutub negatif terlebih dahulu
pada saat pemasangan kemudian dilanjutkan dengan kutub positif).
Hidupkan resistivitymeter dan atur besar arus yang akan digunakan.
Tekan tombol measure untuk melakukan pengukuran.
Apabila terdapat current error pada tampilan resistivitymeter maka cek instalasi
sebagai berikut :
- Capit buaya pada elektroda C belum terpasang, atau kabel C putus.
- Kabel konektor resistivitymeter ke elektroda C belum terpasang.
-Masukan arus terlalu besar, sehingga arus keluaran pada resistivitymeter perlu
diturunkan atau tanah terlalu kering sehingga elekroda C perlu diberi air agar
arus dapat masuk kedalam tanah.
Apabila nilai beda potensial yang terbaca pada resistivity meter selalu berubah-ubah
maka :
- Capit buaya pada elektroda P belum terpasang atau kabel P putus.
- Kabel konektor pada resistivitymeter ke elektroda P belum terpasang.
Permasalahan a dan b dapat dicek pada multimeter.
Resistivitymeter dimatikan dan lepas semua kabel dengan kutub positif terlebih
dahulu.
Grafik Rho Vs Jarak Rho pada Grafik Bilog

: nilai rho apparent yang


kurang bagus jika diplot pada grafik
bilog
: nilai rho apparent pada saat
b berubah
: nilai tersebut masih dapat
ditoleransi jika trend tidak berubah
PENGOLAHAN DATA

A. Pengolahan Data
1. Mapping
Data resistivitas yang diperoleh di lapangan diplot di dalam peta sesuai dengan
tempat pengukurannya. Berdasarkan data yang diplot di peta tersebut dibuat kontur yang
menghubungkan harga resistivitas yang sama (isoapparent resistivity). Interpretasi
dilakukan secara langsung dari pola kontur resistivitas yang ada.

2. Sounding
Ada dua cara untuk mengolah data sounding, yaitu dengan teknik Curve
matching dan dengan teknik inversi (menggunakan program komputer)
a. Curve Matching
Resistivitas semu untuk struktur berlapis (resistivitas dan ketebalan
masing-masing lapisan diketahui) da[at dihitung secara teoritis (penyelesaian
problem maju), yaitu dengan menyelesaikan persamaan Laplace untuk potensial
listrik dalam koordinat silinder dan pertimbangan syarat-syarat batas
(penyelesaiannya cukup panjang dan sukar karena melibatkan Fungsi Bessel dan
syarat-syarat batas).
Oleh karena itu interpretasi dapat dilakukan dengan teknik curve
matching, yaitu dengan jalan mencocokkan kurva resistivitas semu yang diperoleh
pada pengukuran di lapangan dengan kurva resistivitas semu yang dihitung secara
teoritis.
Walaupun tampaknya cukup sederhana, tapi pada prakteknya tidaklah
demikian. Ini disebabkan karena struktur berlapis dapat mempunyai resistivitas dan
ketebalan lapisan yang sangat banyak variasinya. Dengan demikian kita akan
memerlukan kurva resistivitas semu teoritis (biasanya disebut sebagai kurva
standard/baku) struktur berlapis, yang variasinya sangat banyak. Kendala
selanjutnya adalah dalam memilih kurva baku yang paling cocok dengan kurva
resistivitas yang diperoleh di lapangan yang kadang-kadang memerlukan waktu
yang sangat lama, karena variasi kurva kadang-kadang memerlukan waktu yang
sangat lama, karena variasi kurva baku yang sedemikian banyaknya.
Teknik curve matching yang paling praktis adalah yang hanya
menggunakan kurva baku struktur medium 2 lapis yang terdiri dari 2 kurva baku.
Ini dapat dilakukan mengingat struktur banyak lapis dapat dianggap sebagai
struktur 2 lapis, yang setiap lapisannya dapat diwakili oleh satu atau kombinasi
banyak lapis. Teknik curve matching menggunakan kurva baku medium 2 lapis ini
memerlukan 4 kurva bantu yang menghubungkan lengkung kurva resistivitas semu
banyak lapis dengan dua lapis.
b. Inversi
Harga resistivitas dan ketebalan lapisan dapat ditentukan dari resistivitas
semu yang diperoleh di lapangan dengan menggunakan teknik inversi (penyelesaian
problem mundur atau reversed problem). Dalam teknik inversi ini, pekerjaan
dimulai dengan membuat model perlapisan awal yang kira-kira sesuai dengan data
lapangan. Kemudian dilakukan perhitungan untuk mendapatkan harga resistivitas
semu teoritis berdasar model perlapisan awal tesebut di atas (penyelesaian problem
maju/ forward problem solution , seperti yang telah disinggung pada teknik curve
matching). Setelah itu dilakukan pencocokan antara kurva resistivitas semu
terhitung dengan kurva resistivitas lapangan.
Jika kedua kurva tersebut belum cocok (berdasar kriteria tertentu), model
awal diubah dan semua langkah terdahulu dilakukan lagi (iterasi), sehingga
akhirnya kurva resistivitas teoritis sama dengan kurva resistivitas lapangan, dan
model yang terakhir itulah hasil penyelesaian problem inversi tersebut diatas.

B. Pengolahan menggunakan Microsoft excel


Tahap pengolahan data geolistrik sounding menggunakan Microsoft Excel
adalah sebagai berikut :
1. Data dikomputasi selanjutnya diplot dalam grafik bilog rho app vs jarak AB/2.
Tabel 4. Contoh VES yang telah dikomputasi (Sumber : Dokumen pibadi)
dimana :

Gambar 9. Contoh Plot data VES pada Microsoft Excel


(Sumber : Dokumen Pribadi)
2. Dilakukan proses shifting dan smoothing.
Proses smoothing data ini bertujuan untuk menghilangkan perbedaan perhitungan Rho
alat karena nilai b yang berubah.

Tabel 5. Pengolahan Data Geolistrik (sumber : Dokumen Pribadi)

Tabel 6. Pengolahan Data Geolistrik (sumber : Dokumen Pribadi)

3. Pengecekan Data Olahan Shifting


Tabel 7. QC tabel Hasil Shifting Data Geolistrik (Sumber: Dokumen Pribadi)
Keterangan : nilai yang dilingkari pada tabel sama

Tabel 8. Hasil Akhir Proses Shifting (Sumber : Dokumen Pribadi)

Setelah dilakukan proses di Microsoft Excel, kemudian melakukan proses


selanjutnya dengan menggunakan perangkat lunak Progress .
C. Pengolahan menggunakan perangkat lunak PROGRESS
1. Berdasarkan data olahan, salin AB/2 dan nilai rho apparent data tersebut ke notepad.

Format masukan data pada notepad


Jumlah data

Nilai AB/2

Nilai Rho

Gambar 10. Data yang dimasukkan ke Progress (Sumber: Dokumen Pribadi)

2. Selanjutnya simpan dokumen dalam format .ind dengan cara File > Save As > Pada
kolom file type pilih all file > Tulis nama file .ind , misal TitikA.ind > Save .
3. Selanjutnya buka PROGRESS.exe
4. Set Konfigurasi pada Schlumberger.
5. Pada Jendela Observed Data, buka data .ind yang telah tersimpan. Caranya File > Open
(misal : TitikA)
Gambar 11. Data yang dimasukkan ke PROGRESS

6. Setelah dokumen terbuka, pindah ke jendela Forward Modelling dan isi parameter yang
tersedia. Masukkan nilai kedalaman pada kolom Depth dan nilai resistivitas pada Kolom
Resistivity. Lakukan penyesuaian kurva terhadap plot data semirip mungkin.

Gambar 12. Nilai kedalaman dan resistivitas

7. Selanjutnya lakukan perintah Processing > Forward processing untuk mendapatkan


grafik dan banyaknya perlapisan. (catatan: Banyaknya lapisan yang ada tergatung dari
banyaknya lekukan pada grafik yang ada ditambah satu atau secara singkat dirumuskan
sebagai berikut m = n + 1 dengan m adalah banyak lapisan dan n adalah banyak lekukan
kurva). (seperti gambar di atas)
8. Selanjutnya lakukan pemodelan inversi dengan jendela Invers Modelling dengan
melakukan Perintah Processing > Invers Processing. Perlu diperhatikan parameter Max
Iteration dan RMS ( Root Mean Sqare) Cut Off. Sebagai pertimbangan, sebisa mungkin
nilai RMS yang didapat tidak terlalu besar. Hal ini terkait dengan kesesuaian antara data
terhadap kondisi itik yang sebenarnya dan potensi kesalahan (error) baik dalam
pengolahan maupun interpretasi data nantinya.

Gambar 13. Invers Modelling

9. Pindah ke jendela Interpreted Data untuk memperoleh hasil akhirnya.


10. Untuk menyimpan data hasil interpetasi lakukan perintah File > Print to file . Hasil akan
tersimpan dengan format gambar.
Gambar 14. Hasil akhir interpretasi data di Progress

INTERPRETASI

Tujuan interpretasi geolistrik secara umum adalah untuk memperkirakan


jenis / litologi, ketebalan dan kedalaman lapisan batuan di bawah permukaan berdasarkan
nilai resistivitasnya. Berdasarkan hasil pengukuran, dapat diestimasikan nilai reistivitas
bawah permukaan, dimana nilai resistivitas bergantung pada parameter-parameter geologi
seperti kandungan mineral, porositas, dan saturasi batuan. Berikut ini nilai-nilai
resistivitas beberapa batuan.
Tabel 9. Nilai tahanan jenis batuan (Lowrie & Milsom, 2007)

Secara umum teknik interpretasi pada data VES dibagi menjadi dua
macam, yaitu metode manual (menggunakan curve matching) dan metode software
(menggunakan software antara lain progress, ataupun IP2win).
A. Curve Matching
Pada dasarnya tahanan jenis semu untuk struktur berlapis (dengan tahanan
jenis dan ketebalan perlapisan diketahui) dapat dihitung secara teoritis dengan
menyelesaikan persamaan Laplace untuk potensial listrik dalam koordinat silinder dan
pertimbangan syarat syarat batas. Penyelesaian ini melibatkan fungsi Bassel dan syarat
syarat batas sehingga dinilai sukar dan panjang serta membutuhkan waktu yang lama,
untuk mengatasi hal tersebut maka interpretasi dapat dilakukan dengan teknik curve
matching. Teknik curve matching merupakan metode mencocokkan kurva tahanan jenis
semu hasil pengukuran lapangan dengan kurva tahanan jenis semu yang dihitung secara
teoritis.
Ada tiga macam kurva yang perlu diperhatikan dalam intepretasi
schlumberger dengan metode penyamaan kurva, yaitu :
- Kurva Baku ( 2 lapis yang menurun 2 < 1 dan naik 2 > 1)
- Kurva Bantu, terdiri dari tipe H, A, K dan Q
- Kurva Lapangan
Kurva bantu tipe H
Dibentuk oleh 2 lengkung baku, yaitu depan menurun dan belakang naik.
Dan terjadi seperti ada 3 lapisan dengan 1 >2 <3
Kurva bantu tipe A
Kurva ini mencerminkan harga yang selalu naik. Dibentuk oleh 2 kurva
baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Sama seperti kurva bantu tipe H, tipe A
ini terjadi seperti ada 3 lapisan dengan 1<2< 3
Kurva bantu tipe K
Lengkung kurva ini berbentuk bell (maksimum di tengah ). Dibentuk 2
lengkung baku, yaitu depan naik dan belakang turun. Seperti 3 lapisan dengan 1<
2 > 3
Kurva bantu tipe Q
Kurva ini mempunyai harga selalu turun. Dibentuk oleh 2 kurva baku,
yaitu depan turun dan belakang juga turun. Seperti 3 lapis dengan 1> 2 >3

Langkah-langkah pengerjaan dengan cara curve matching adalah sebagai


berikut:
1. Plot nilai a dan rho a pada kertas kalkir dengan skala logaritma, hasil pengeplotan
ini merupakan kurva lapangan.
2. Tarik garis hoorizontal pada titik pertama, pada perpotongan ini merupakan
ketebalan lapisan pertama dan besar tahanan jenis sebenarnya lapisan pertama
3. Mencocokkan kurva lapangan dengan kurva standar sehingga diperoleh nilai
rho2/rho1.
4. Perpotongan kurva standar dengan garis horizontal merupakan ketebalan lapisan
kedua dan besar tahanan jenis sebenarnya lapisan kedua dan seterusnya.
5. Tentukan jenis lapisan tanah berdasarkan nilai tahanan jenis dari tabel tahanan
jenis batuan

B. Progress
Progress menggunakan metode optimasi non linier yang secara otomatis
menentukan model inversi tahanan jenis dan interpretasi data untuk struktur bawah
permukaan dari data observasi titik sounding hasil survei geolistrik. Program progress
didasarkan pada teori curve matching.
Program Progress akan memudahkan interpretasi lapisan geologi dengan
menampilkkan gambar borlog persumur dari analisis data tahanan jenis yang sebenarnya.
Gambar 15. Contoh Intrepretasi menggunakan Progress
Penentuan lapisan batuan diperoleh dari hasil tahanan jenis yang
sebenarnya dengan melihat tabel harga tahanan batuan. Penentuan lapisan bantuan dapat
juga dilakukan dengan membandingkan harga tahanan jenis sebenarnya dengan hasil dari
log, sehingga dari pembandingan itu kita bisa mengetahui tahanan jenis sebenarnya dari
bantuan tersebut, harga tahanan jenis bantuannya itu kita jadikan pedoman interprestasi di
kawasan daerah itu.

C. IP2WIN
Dengan program ini kita hanya perlu memasukkan besarnya nilai tahanan
jenis semu dari perhitungan sebelumnya, kemudian akan ditampilkan besarnya nilai
tahanan jenis yang sebenarnya dan jumlah lapisan bantuan.
Berikut merupakan hasil studi kasus pada paper berjudul Pemetaan
Akuifer Air Tanah Di Sekitar Candi Prambanan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa
Yogyakarta Dengan Menggunakan Metode Geolistrik Tahanan Jenis oleh Bayu A.
Sadjab , Asaria, Adey Tanauma, Jurusan Fisika, FMIPA, Unsrat, Manado.
Penelitian dilakukan terhadap 31 titik sounding yang terbagi menjadi 6
lintasan. Setiap lintasan dibuat model struktur lapisan tanah di bawah permukaan. Air
tanah yang tersimpan dalam akuifer dapat dieksplorasi dengan studi geofisika
menggunakan metode geolistrik. Hasil eksplorasi diolah menggunakan software IP2WIN,
menghasilkan model perlapisan bawah permukaan bumi berdasarkan nilai resistivitasnya.

Gambar 16. Hasil pengolahan data menggunakan IP2WIN

Hasil interpretasi menunjukkan bahwa daerah diatas diduga memiliki


akuifer air tanah dangkal adalah pada titik 7 dengan kedalaman 1 5 meter ( warna
hitam). Dibawah lapisan ini merupakan lapisan kedap air (warna kuning) sehingga air
tanah tertahan diatasnya. Pada titik sounding 5 bukan merupakan lapisan akuifer air tanah
dangkal hal ini disebabkan pengambilan data dilakukan pada saat hujan, sehingga
diperkirakan air tanah pada titik sounding 5 hanya merupakan air genangan hujan.
Rembesan air tanah terlihat sampai pada kedalaman 100 meter (warna biru dan hitam)
yang memiliki nilai resistivitas rendah antara 54.4 62.2 m, rembesan air berasal dari
titik sounding 2 dan 3, dan diperkirakan dibawah titik sounding ini tidak memiliki lapisan
kedap air sehingga air tidak tertahan pada lapisan dangkal. Air merembes dan tertahan
dilapisan dalam pada titik sounding 2, 3, 4, dan 5. Untuk titik sounding 1 terlihat
rembesan air tertahan pada kedalaman 25 50 meter (warna hijau) dengan nilai
resistivitas 81, 6 m, air ini diperkirakan sedang bermigrasi menuju akuifer air tanah
dalam.

LAMPIRAN

KURVA BANTU (pola kelengkungan kurva bantu)


Contoh Lengkung Data Lapangan dan Interpretasinya
Lengkung baku untuk struktur dua lapis bila resistivitas lapisan II lebih
besar daripada lapisan I
Lengkung baku untuk struktur dua lapis bila resististivitas lapisan II
lebih kecil
daripada resistivitas lapisan I
Lengkungan bantu tipe H (bowl/pinggan)
Lengkungan bantu tipe K (bell/lonceng)
Lengkungan bantu tipe A (ascending/naik)
Lengkung bantu tipe Q (descending/turun)