Anda di halaman 1dari 25

FINISHING

BAHAN PEMBANTU AUXILLIARIES DAN APLIKASI MESIN SERTA ALAT


FINISHING
BANTUL - YOGYAKARTA

Disusun Oleh :
RIDI SUJATMIKO
ROLLA ROHIDAYAH M
SEVI NURSYAFITRI
SHELMA EGHI C
TRIA NOVIANTI
UBAIDIL HAKAM
YANA ROSELADEWI

Program Studi Teknologi Pengolahan Kulit

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI

POLITEKNIK ATK
YOGYAKARTA
2016
HALAMAN PENGESAHAN

FINISHING
BAHAN PEMBANTU AUXILLIARIES DAN APLIKASI MESIN SERTA ALAT
FINISHING
BANTUL YOGYAKARTA

Diajukan Oleh :

Kelompok V

Program Studi : Teknologi Pengolahan Kulit

Konsentrasi : Teknologi Penyamakan Kulit

Proposal ini diajukan guna melengkapi persyaratan untuk memenuhi tugas.

Yogyakarta, 10 April 2017


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................i


HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iii

DAFTAR ISI ....................................................................................................iv


DAFTAR TABEL ............................................................................................vi

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................vii


INTISARI ........................................................................................................ix
ABSTRAK .......................................................................................................x
BAB I : PENDAHULUAN .............................................................................1
A. Latar Belakang .....................................................................................1
B. Tujuan Finishing ..................................................................................3
C. Rumusan Masalah

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................5

A. Finishing ..............................................................................................7
B.

BAB III : PEMBAHASAN..............................................................................12

BAB IV : PENUTUP........................................................................................12

A. Kesimpulan ..........................................................................................12
B. Saran ....................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................88


DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
INTISARI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Industri kulit merupakan salah satu komoditas ekspor yang banyak menghasilkan

devisa bagi negara. Untuk mengembangkan industri pengolahan kulit diperlukan peningkatan

dasar teknologi pengolahan sehingga dapat menghasilkan produk kulit yang lebih beraneka

ragam, bermutu, memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan selalu mengikuti perkembangan

mode (fashionable) sehingga dapat diterima baik oleh pasar lokal maupun internasional.

Untuk menambah nilai ekonomis yang tinggi dan selalu mengikuti perkembangan mode

(fashionable) suatu produk, maka diperlukan proses yang disebut finishing.

Menurut Purnomo (2011), Finishing atau pengecatan tutup merupakan aplikasi kimia

dan aplikasi mekanik yang terakhir dalam tahapan proses panjang penyamakan. Sangat

jarang kulit digunakan sebagai sebuah produk hanya dalam kondisi setelah proses

penyamakan, retanning, peminyakan, pewarnaan, pengeringan saja.

Pada umumnya kulit mengalami tahapan yang disebut finishing walaupun dilakukan

dengan sangat sederhana. Ada usaha untuk meningkatkan tampilan dari kulit agar menambah

daya tarik, meningkatkan daya jual dengan tujuan guna memperbaiki cacat yang ada, baik

yang disebabkan cacat alami, cacat akibat penyimpanan (luka, bekas penyakit, serangga dll)

atau cacat yang terjadi selama proses berlangsung seperti warna dasar yang tidak rata, luntur,

tidak matching dengan contoh yang diinginkan. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan dan
penyempurnaan walau hanya untuk menyesuaikan dengan hue, shading, tone warna seperti

contoh yang diinginkan.

Proses finishing secara umum bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat yang terdapat

pada kulit dan melindungi kulit terhadap wetting dan solling, menyembunyikan cacat pada

rajah buatan (artificial) untuk kulit split atau corrected grain. Serta memodifikasi sifat-sifat

permukaaan kulit seperti shade, luster, handle, dan lain-lain (Anonim, 1996).

Finishing juga dilakukan untuk tujuan tertentu seperti memberikan tampilan, corak,

pengangan permukaan (touch/feel/handle) yang berbeda lebih lembut, licin, kasar, berminyak

(oily, waxy), silky, warna kontras, brilliant, pull up, antic, two-tone, dll. Obyek finishing

adalah memberikan sifat tertentu pada permukaan/grain dan dalam waktu yang bersamaan

harus menonjolkan dan mempertahankan sifat natural kulitnya.

B. Tujuan Finishing
1. Melapisi permukaan kulit atau memberikan lapisan tipis/film pada permukaan

kulit untuk melindungi (protecting) permukaan kulit dari pengaruh bahan kimia ,

panas, gosokan, air, benturan dll.


2. Untuk memperbaiki (upgrading) cacat, defek defek pada permukaan kulit

sehingga permukaan (grain) tampak lebih natural.


3. Untuk memperindah, menghias (decorating) agar tampak lebih indah dan

Fashionable.

C. Rumusan Masalah
1. Apa saja bahan pembantu yang digunakan pada proses finishing?
2. Apa saja aplikasi mesin dan alat pada proses finishing ?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kulit Crust

Kulit crust adalah kulit hewan yang disamak dengan dua zat dan mudah dibasahi

kembali apabila dibutuhkan, dengan demikian kulit crust adalah kulit yang telah disamak dan

sudah stabil terhadap pengaruh fisis dan kimia serta dapat disimpan dalam jangka waktu

yang lama (Anonim, 1980).

Menurut Sharphouse (1975), kulit crust adalah kulit tersamak, diminyaki, dan di

dyeing yang telah dikeringkan dan dapat dibasahkan kembali.

Finishing

Proses finishing secara umum bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat yang terdapat

apada kulit dan melindungi kulit terhadap wetting dan soiling, menyembunyikan cacat pada

rajah, membuat rajah buatan (artificial) untuk kulit split atau corrected grain, serta untuk

memodifikasi (Anonim, 1996).

Menurut Gerhard, Jhon (2012), finishing atau pengecatan tutup merupakan aplikasi

kimia dan aplikasi mekanik yang terakhir dalam tahapan proses panjang penyamakan. Sangat

jarang kulit digunakan sebagai sebuah produk hanya dalam kondisi setelah proses

penyamakan, retanning, peminyakan, pewarnaan, pengeringan saja.


BAB III

PEMBAHASAN

Sangat jarang kulit digunakan sebagai sebuah produk dalam kondisi setelah proses
penyamakan, retanning, peminyakan, pewarnaan, pengeringan saja. Umumnya kulit
mengalami tahapan yang disebut finishing walaupun dilakukan dengan sangat
sederhana/simple. Ada usaha untuk meningkatkan tampilan agar menambah daya tarik,
meningkatkan daya jual dengan memperbaiki cacat yang ada baik yang disebabkan cacat
alami, penyimpanan ( luka, bekas penyakit, serangg adll) atau terjadi selama proses
berlangsung seperti warna dasar yang tidak rata, luntur, tidak matching dengan contoh maka
diperlukan perbaikan dan penyempurnaan walau hanya untuk menyesuaikan dengan hue,
shading, tone warna seperti contoh.

Menurut Sharphouse (1975), bahan pembantu (Auxiliaries) akan memberikan efek


tertentu pada permukaan kulit, contohnya adalah

ingkandenganbider, tetapibahanini me-fasilitasinilai-nilai aesthetic danfree-trouble


prosessing. Banyaksekaliperbaikanatauperubahan, modifikasi yang
dapatdikontroldenganmenggunakanbahanpembantu yang
tepat.Termasukdalammengontrolsifat-sifat yang berhubungandengan : aesthetic,
leveling, gloss, opacity, face, fill, smoothness. Mengingatbanyaknyaefek yang
dapatditimbulkanolehpengunaanbahanpembantuatauauxiliariesinipenggunaannyaju
agharusmelihattipedanjenis serta komponen yang terkandung dalam bahan
tersebut. Jenis bahan pembantu yang sering digunakan dalam komposisi base
coat antaralain : Waxs Emulsion Kerassampailunak( hardvs soft), Fillers atau
extenders, Flow Improvement. Penetrators, Anti Sticking Agent/Hardener, Plasticiter
Agent, Defoamer.

Keterangan:

1. Waxs

Selainpada base coat, waxsjugadigunakanpada top coat


walupundenganjenisdanfungsi yang berbeda.Waxs
yangdigunakanumumnyadalambentukemulsibaik nonionic, kationikdan nonionic,
fungsipada base coat lebihcenderungsebagai filler, terutama wax yang
kerasseangkan wax yang bersifatlunakdapatberfungsisebagai softener lapisan base
coat.Beberapajenis wax yang seringdigunakandansifatkekerasannya.

Tipe Wax Sifat Fungsi Melting Point Keterangan


Bees Wax Lengket, Filler 61-65 LebihcenderungsebagaiPullUp
amorpouse
Carnauba Keras, Filler 82,5-86 -
tidaklengket,
lustrous, brittel
Micro Lengket- Softener, 60-90 -
Crystalline tidaklengket, plastisizer
plastis
Montan Keras, pecah, Filler 82-87,7 -
kering, lustrous
Parafin Lunak, keras, Softener, 48-74 Untuk crazy finish,
oily, kering plastisizer, flowimprovement
filler

2. Filler

Sepertidisinggungdiatas filler/filling agent yang digunakanumumnyasalisilat, talcum


dan wax yang digunakanumumyabersifat medium hard- hard.Filler
biasadigunakanuntukkulit split atau yangmengalami buffing seperti CGB.
Denganpenambahan filler inilapisan base coat akanterasapadatpegangannya.

3. Flow Improvement

Terkadangditemukankulitsamak yang closed surface, denganteganganantarmuka


yang sangattinggi, yangpadaumumnyadisebabkankarenapenggunaanberlebihandari
water repellent agent, substansilemak, paste drying atau vacuum drying.
Akibatnyapermukaankulitmengalamikesulitanuntukmenjadibasahapalagiapabilapen
gecatannyamenggunakansemprotan( spraygun) atau curtain coating
tanpamengalami rubbing. Pembasahan yang tidakmerataakanmenghasilkan dark
zone atau drop in. Untukmengatasimasalahtersebutditambahkan flower
improvement yang terdiridari surface active agent, foamless wetting agent yang
merupakankomponen fatty alkyl sulphate, paraffinataualkilarenesulphonate, ester
asamsulphosuccinat.

4. Penetrator

Terutamadigunakanpadaimpregnasidan base coating


untukmengaturpenetrasikedalamankomponen finishing dibawah grain
layer.Produkinimerupakansolven organic yang water missibleatausubstansi surface
active agent.
Jumlahpenggunaannyasangattergantungdarserapankulit crust
sebelumdifinishingataudisesuaikandenganhasil drop water test (wdt) sebelum
finishing dimulai. Bilahasil WDT menunjukanserapan yang
rendahpenggunaanpenetrator antara 25-30 g/ ltcairan finishing,
namunbilamenunjukanserapantinggijumlahnyadapatdikurangihingga 10-15 g/l
larutan finishing. Gunakanpenetrator yang non ionicataudisesuaikandenganmuatan
binder yangmenyebabkan swelling
seratkulitdanmeningkatnyasensitivitaskelembaban,
dapatmenyebabkanpenetrasiterlaludalam.

5. Anti Sticking Agent/Hardener

Apabilasetelahaplikasi base coat


lapisanterasalengketmakadalamlapisanberikutnyadapatditambahkanbahanantisticki
ng agent atau hardener.Tetapiapabilasetelah base coat akan di ironing atau
embossing makalapisan base coat
harustidaklengketkarenaakanmenyebabkankesulitanpadasaat ironing atau
embossing, diperlukanpenambahan anti sticking agent. Tackiness
dapatdikurangidenganmenambahkanemulsiwaxsatau paraffin, silicon, binder Non-
thermosetting seperti casein binder, poliurethan yang jugatermasukdalamkategori
hardener dapatjugadigunakansebagai anti-sticking agent.

Hardener atau cross-linking agent umumnyadigunakanapabilamenggunakanbinder


poliurethen, kerenalapisan film poliurethanhanyaakanterbentukbilaada cross lingker.
Umumnyaprodukini merupakan6.Plasticizer Agent
Plastisizerseringditambahkanpada base coat terutamauntukkulit kulityang
tempernyalunaksepertisarungtangan, garmen, nappa, softy
leather.Artinyapenggunaanbahaninisangattergantungdarifleksibelitaskulitjadinya.Pe
nambahanbahaniniakanmenyebabkanmeningkatnyakemulurandanelatisitaslapisan
base coat danmencegahterjadinyaembrittlementseluruhlapisan finishing. Ada
berbagaitipedariplastiziserdanpenggunaannyadisesuaikandengantipe binder yang
digunakan.

a. Produkuntuk water soluble finishing agent


Sulphated Castor Oil: Disebutjuga Turkey Red Oil,
mempunyaiefekpembasahan yang
tinggisehinggapenggunaannyaharusterkontrolkarenaakanmenurunkanketaha
nanlapisan finish.
Emulsidr higher molecular alcohol wax :Turunandaripoliglikol,glikolether,
gliserol, atauesternya. Bahanakanmeningkatkankepadatanlapisan cat tutup
(fullness) danmengurangikelengketanselama
prosesironing/plating/embossing.
Jangangunakanterlaluberlebihankarenadapatmenyebabkanefek water
repellent.

b. Produkuntuksolven- finishing (non gelatinizing)


Vegetable Oil: Yang sangatumumdigunakanadalah castor oil atauminyakbiji
rami (rape oil).
Dalamaplikasinyadisarankanuntukdikombinasidenganprodukplastisizersintetis
. Jangandigunakanpadalapisannitroselulose.

c. Produkuntuksolven- finishing
(gelatinizing)Minyaksintetis:Umunyamerupakanprodukesterifikasidariasanad
ipatdanasamphtalat. Mempunyaiefekmelarutkannitroselulosedanpolimer.
Camphor: Merupakanketondalambentuk Kristal.
Disampingmempunyaiefekplastisizerjugadapatmeningkatkan glazing
properties daricairannitroselulose.

7. Defoamer

Busaakantimbuldalamjumlahcukupbesarkususnyaapabilamenggunakan curtain
coating karenasecarakonstandilakukanpengadukanpadacairan finishing.
Busajugaakantimbulketikadilakukanpengulasan/rubbingbase coating yang berulang-
ulang, walaupuntidaksebanyakmenggunakancurtain coating.
Sebagaiakibatnyagelembungudaraakanterperangkapdalamlapisan film
dansulituntukmencapaihasil yang rata.
Busadapatdihilangkandenganmenggunakandanmenambahkan alcohol, ethyl glikol,
lacquer emulsidanstable binding agent.

Selain pada base coat, wax juga digunakan pada top coat walupun dengan

jenis dan fungsi yang berbeda. Wax yang digunakan umumnya dalam bentuk

emulsi baik nonionik, kationik dan nonionik, fungsi pada base coat lebih
cenderung sebagai filer, terutama wax yang keras sedangkan wax yang bersifat

lunak dapat berfungsi sebagai softener lapisan base coat.

Filler

Seperti disinggung diatas, filler yang digunakan umumnya adalah emulsi

wax yang dicampur dengan bahan seperti albumen, kaolin, asam salisilat, talkum

dan wax yang digunakan umumnya bersifat medium. Filler biasa digunakan untuk

kulit split atau yang mengalami buffing seperti CGB. Dengan penambahan filer

ini lapisan base coat akan terasa padat pegangannya.

Plastisizer

Biasanya ditambahkan pada lapisan cat tutup untuk kulit yang lemas,

contoh Minyak jarak, wax, minyak biji rami, ester sintetik dari asam ptalate dan

adipat dan lain lain.

Impregnating agent

Digunakan khusus untuk kulit yang serapan airnya tinggi atau yang akan

dijadikan kuli CGB, berfungsi sebagai sealing agent, contoh: emulsi minyak

kationik yang dicampur poliakrilat.

Flow Improvement

Terkadang ditemukan kulit samak yang closed surface, dengan tegangan

antar muka yang sangat tinggi, yang pada umumnya disebabkan karena

penggunaan berlebihan dari water repellent agent, substansi lemak, paste drying

atau vacuum drying. Akibatnya permukaan kulit mengalami kesulitan untuk

menjadi basah apalagi apabila pengecatannya menggunakan semprotan atau


curtain coating tanpa mengalami rubbing. Pembasahan yang tidak merata akan

menghasilkan dark zone atau drop in. Untuk mengatasi masalah tersebut

ditambahkan flower improvement.


Penetrator

Terutama digunakan pada impregnasi dan base coating untuk mengatur

penetrasi kedalaman komponen finishing dibawah lapisan grain Produk ini

merupakan solven organik yang water missible atau substansi surface active

agent. Jumlah yang tidak tepat, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan

swelling serat kulit dan meningkatkan sensivitas kelembapan, dapat menyebabkan

penetrasi terlalu dalam.

a. Alat dan Mesin

Peralatan dan permesinan yang digunakan oleh perusahaan

dalam proses produksinya didatangkan sebagian besar dari produk-

produk luar negeri dengan sistem teknologi yang canggih dan modern

dengan teknisi mesin berpengalaman dan profesional dari luar, selain

juga permesinan dari produk lokal. Diantara lain :

1. Thickness Gauge
Produk : Calati, Italia
Fungsi : untuk mengukur ketebalan kulit

Gambar 12. Thickness gauge


Sumber : http://www.snapdeal.com/product/calati-leather-thickness-
gauge/953491149, 2016

1. Softness Gauge
Produk : MSA Engineering, UK
Fungsi : untuk mengukur tingkat kelemasan kulit

Gambar 13. Softness gauge


Sumber :http://www.msa-engineering.co.uk/products/leather-
testing/st300-softness-tester/, 2016

2. Timbangan Digital
Produk : Vibra, USA
Fungsi : untuk menimbang chemical sesuai dengan jumlah / kebutuhan

Gambar 14. Timbangan digital


Sumber : http://www.chungsheng.com.tw/shinko.html, 2016

3. Cutter
Produk : Kenko
Fungsi : Untuk memotong kulit (small pieces) yang digunakan saat trial

matching color
4. Hand Spray Gun
Produk : Pro Tek, Korea
Fungsi : untuk menspray kulit

Gambar 15. Hand spray gun


Sumber : http://www.dnijboer.nl/contents/nl/d47.html, 2016

5. Kabin (Meja Spray dan Dedusting)


Produk : Wuxi Xinda Light Industry Machinery Co. Ltd, China
Fungsi : sebagai tempat untuk menspray kulit

Gambar 16. Leather spraying and dedusting equipment


Sumber : http://www.xinda-chn.com/en/product.asp?Plt=15, 2016

6. Hand Dryer
Produk : Krisbow, China
Fungsi : untuk mengeringkan potongan kecil kulit (small pieces) secara

manual

Gambar 17. Hand dryer


Sumber : http://www.krisbow.com/en/home-appliances/1178-hand-
dryer-1000w-w-13m-s.html, 2016

7. Drying room
Produk : Wuxi Xinda Light Industry Machinery Co. Ltd, China
Fungsi : untuk mengeringkan kulit secara manual. Alat ini cukup untuk

beberapa side / hide kulit


8. Box Lamp (Verivied Lamp)
Produk : Verivied Co. Ltd, Italia
Fungsi : sebagai tempat untuk mencocokkan warna kulit dengan EMCS

(ECCO Master Colour Swatch) dimana box lamp ini dilengkapi

dengan 4 kekuatan cahaya yang berbeda

Gambar 18. Box lamp


Sumber :http://www.roaches.co.uk/verivides.html, 2016

9. Hydropress
Produk : Tomboni Polpara
Fungsi : untuk mendapatkan kulit yang flat, shiny, dan tight dengan

pengaturan suhu, tekanan, dan waktu

Gambar 19. Hydropress machine


Sumber : http://www.albert-machinery.de/Reference.html, 2016

10. Cutting Machine


Produk :-
Fungsi : untuk memotong kulit sesuai dengan ukuran sampel yang akan

dites di laboratorium.
11. Grey Scale
Produk : SDC Enterprises Limited, London
Fungsi : untuk menilai hasil pengujian rub fastness
Gambar 20. Grey scale
Sumber : https://www.rubbertestingequipment.com/instrument-77/Rubber-
Dyes-Print-Testing-Equipments/sdc-grey-sclale-for-staining.aspx, 2016

12. Milling Drum

Produk : Erretre

Asal : Italia

Fungsi : Untuk proses milling yang bertujuan untuk melemaskan

kulit dan mendapatkan efek pabble.

Gambar 21. Milling Drum

Sumber: http://www.erretre.com/index.html, 2015


BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Saran

DA FTAR PUSTAKA

Anonim. 1980. Istilah dan Definisi untuk Kulit Crust. Departemen Perindustrian: Jakarta.

_______. 1996. Laporan Penelitian Aplikasi Finishing Kulit. BBKKP: Yogyakarta.

Gerhard, John.1997. Posible Defects In Leather Production. Lampertheim: Hemsbach.

Purnomo, Eddy. 2010.Glossary Teknologi Penyamakan Kulit. LIDI: Yogyakarta.

_______, Eddy. 2010. Teknologi Softy Leather. Akademi Teknologi Kulit: Yogyakarta.

_______, Eddy. 2011. Teknologi Finishing. Akademi Teknologi Kulit: Yogyakarta.

Sharphouse, J.H. 1975. Leather Technicians Handbook. Leather Producers Association:

London.

Taylor, Chris. 2009. Leatherwork a Practical Guide. The Crowood Press Ltd. Marlborough.

Woodroffe, D.1953. Leather Dressing Dyeing & Finishing. Quality Books: Northampton.
LAMPIRAN

Jadwal Kegiatan Magang

Februari Maret April Mei


III IV I II III IV I II III IV I II III IV
No Jadwal Kegiatan

1
Proposal
2 Konsultasi

Pembimbing
3
Kerja Praktek
4 Penyusunan

Tugas Akhir
5 Konsultasi

Pembimbing
6 Pemantapan

Tugas Akhir
7 P

Ujian Tugas Akhir


8
Revisi
9
Penjilidan

Penulis
Andrye Eka

Prastyawan

NIM : 130201009