Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mudharabah merupakan salah satu bentuk akad pembiayaan yang akan
diberikan kepada nasabahnya. sistem dari mudharabah ini merupakan akad kerja sama
usaha antara dua pihak dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal, sedangkan
pihak lainnya menjadi pengelola. keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang
dituangkan dalam kontrak. Mudharib atau si pengelola menjalankan usaha dengan
maksimal tanpa keluar dari koridor syariah yaitu yang tidak bertentangan dengan usaha
yang haram sepertia Judi, Usaha Pabrik Minuman keras dll. Bank Islam identik dengan
slogan bank anti bunga atau bank anti riba. Mereka mengedepankan prinsip bagi
hasil yang salah satunya adalah mudharabah ini. Salah satu pranata yang secara teoritis
paling dikenal oleh masyarakat di dalam perbankan Syariah adalah mudharabah
(profit and loss sharing). Para penulis Islam modern sepakat menggunakan bentuk
kerjasama (musyarakah dan mudharabah) sebagai sarana untuk merekonstruksi dan
reorganisasi dalam dunia perbankan. Maka dapat dikatakan bahwa mudharabah
merupakan alat untuk mencegah timbulnya Begitu terkenalnya nama mudharabah
dengan system bagi hasil, hingga pada awal pertumbuhan Perbankan Syariah,
namanya digunakan untuk menyebut identitas perbankan, sehingga terkenal dengan
bank bagi hasil.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Mudharabah
2. Landasan Hukum
3. Rukun dan Syarat Mudharabah
4. Jenis-Jenis Mudharabah
5. Skema Mudharabah
6. Sebab-sebab Batalnya Mudharabah
7. Aplikasi Mudharabah Dalam Perbankan
C. Tujuan Masalah
Makalah ini dibuat dengan tujuan selain memenuhi tugas
kuliah dan dengan tujuan agar Mahasiswa mengetahui tentang
permasalahan mudharabah.

BAB II

1
PEMBAHASAN

A. Pengertian Mudharabah
Kata mudharabah berasal dari kata dharb ( ) yang berarti
memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini
maksudnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam
menjalankan usaha. Suatu kontrak disebut mudharabah, karena
pekerja (mudharib) biasanya membutuhkan suatu perjalanan untuk
menjalankan bisnis. Sedangkan perjalanan dalam bahasa Arab
disebut juga dharb fil Ardhi ( ) 1. Allah SWT berfirman :
Dan mereka yang lain berjalan diatas bumi untuk menuntut
karunia Allah SWT. (Al-Muzammil : 20)
Dalam bahasa Iraq (penduduk Iraq) menamakannya
mudharabah, sedangkan penduduk Hijaz menyebutnya qiradh. 2
Qiradh berasal dari kata al-qardhu, yang berarti al-qathu (potongan)
karena pemilik memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan
dan memperoleh sebagian keuntungannya.
Mudharabah atau qiradh termasuk dalam kategori syirkah. Di
dalam Al-Quran, kata mudharabah tidak disebutkan secara jelas
dengan istilah mudharabah. Al-Quran hanya menyebutkannya
secara musytaq dari kata dharaba yang terdapat sebanyak 58 kali.
Beberapa ulama memberikan pengertian mudharabah atau
qiradh sebagai berikut:
Menurut para fuqaha, mudharabah ialah akad antara dua pihak
(orang) saling menanggung, salah satu pihak menyerahkan hartanya
kepada pihak lain untuk diperdagangkan dengan bagian yang telah
ditentukan dari keuntungan, seperti setengah atau sepertiga dengan
syarat-syarat yang telah ditentukan.
Menurut Hanafiyah, mudharabah adalah Akad syirkah dalam
laba, satu pihak pemilik harta dan pihak lain pemilik jasa.
1 Muhammad Asy-Syarbini, Mugni Al-Muhtaj, Juz II, 309

2Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : Pustaka Setia, 2001) , 223

2
Malikiyah berpendapat bahwa mudharabah adalah: Akad
perwakilan, di mana pemilik harta mengeluarkan hartanya kepada
yang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran yang
ditentukan (mas dan perak).
Imam Hanabilah berpendapat bahwa Mudharabah adalah: Ibarat
pemilik harta menyerahakan hartanya dengan ukuran tertentu
kepada orang yang berdagang dengan bagian dari keuntungan yang
diketahui.
Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa Mudharabah adalah:
Akad yang menentukan seseorang menyerahakan hartanya kepada
orang lain untuk ditijarahkan.
Syaikh Syihab al-Din al-Qalyubi dan Umairah berpendapat bahwa
mudharabah ialah: Seseorang menyerahkan harta kepada yang lain
untuk ditijarhakan dan keuntungan bersama-sama.
Al-Bakri Ibn al-Arif Billah al-Sayyid Muhammad Syata
berpendapat bahwa Mudharabah ialah: Seseorang memberikan
masalahnya kepada yang lain dan di dalmnya diterima
penggantian.
Sayyid Sabiq berpendapat, Mudharabah ialah akad antara dua
belah pihak untuk salah satu pihak mengeluarkan sejumlah uang
untuk diperdagangkan dengan syarat keuntungan dibagi dua sesuai
dengan perjanjian.
Menurut Imam Taqiyuddin, mudharabah ialah Akad keuangan
untuk dikelola dikerjakan dengan perdagangan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak di mana
pihak pertama adalah pemilik modal (shahibul maal), sedangkan
pihak lainnya menjadi pengelola modal (mudharib), dengan syarat
bahwa hasil keuntungan yang diperoleh akan dibagi untuk kedua
belah pihak sesuai dengan kesepakatan bersama (nisbah yang telah
disepakati), namun bila terjadi kerugian akan ditanggung shahibul
maal.

3
Secara etimologi, kata mudharabah berasal dari kata dharb yang
berarti memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini
lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam
menjalankan usaha.
Secara terminologi, merujuk Fatwa DSN No.07/DSN-MUI/IV/2000
tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh), mudharabah adalah akad
kerja sama suatu usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
(malik, shahibul al maal, bank) menyediakan seluruh modal, sedang
pihak kedua (amil, mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola,
dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan
yang dituangkan dalam kontrak. Dalam literatur lain, Mudharabah
adalah Akad antara dua pihak dimana salah satu pihak
mengeluarkan sejumlah uang (sebagai modal) kepada pihak lainnya
untuk diperdagangkan/diusahakan. Laba dibagi dua sesuai dengan
kesepakatan.

B. Landasan Hukum
Ulama fiqih sepakat bahwa mudharabah disyaratkan dalam islam
berdasarkan Al-Quran, Sunah, Ijma, dan Qiyas.3

1. Al-Quran
Ayat-ayat yang berkenaan dengan mudharabah, antara lain :
Dan mereka yang lain berjalan diatas bumi untuk menuntut
karunia Allah SWT. (QS. Al-Muzammil : 20)
Apabila telah ditunaikan sholat, bertebaranlah kamu dimuka
bumi dan carilah karunia Allah SWT. (QS. Al-Jumuah : 10)
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil
perniagaan) dari Tuhanmu(QS. Al-Baqarah : 198)

2. As-Sunah

3 Ibid, 224

4
Di antara hadits yang berkaitan dengan mudharabah adalah
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Shuhaib bahwa Nabi
SAW. Bersabda yang artinya :
Tiga perkara yang mengandung berkah adalah jual-beli yang
ditangguhkan, melakukan qiradh (memberi modal pada orang lain),
dan yang mencampurkan gandum dengan jelas untuk keluarga,
bukan untuk diperjualbelikan. (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib)

3. Ijma
Di antara ijma dalam mudharabah, adanya riwayat yang
menyatakan bahwa jamaah dari sahabat yang menggunakan harta
anak yatim untuk mudharabah. Perbuatan tersebut tidak ditentang
oleh sahabat lainnya.4

4. Qiyas
Mudharabah di qiyaskan Al-Musyaqah (menyuruh seseorang
untuk mengelola kebun). Selain diantara manusia, ada yang miskin
dan ada juga yang kaya. Di satu sisi, banyak orang kaya yang tidak
dapat mengusahakan hartanya. Di sisi lain, tidak sedikit orang
miskin yang mau bekerja, tetapi tidak memiliki modal. Dengan
demikian, adanya mudharabah ditujukan antara lain untuk
memenuhi kedua golongan diatas, yakni untuk kemaslahatan
manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka.

C. Rukun dan Syarat Mudharabah


Syarat yang harus dipenuhi dalam akad Mudharabah adalah :
1. Harta atau Modal
a. Modal harus dinyatakan dengan jelas jumlahnya, seandainya
modal berbentuk barang, maka barang tersebut harus
dihargakan dengan harga semasa dalam uang yang beredar
(atau sejenisnya).
b. Modal harus dalam bentuk tunai dan bukan piutang.

4 Alauddin Al-Kasani, Badai As-Syanai fi Tartib Asy-Syarai, Juz VI, 79

5
c. Modal harus diserahkan kepada mudharib, untuk
memungkinkannya melakukan usaha.
2. Keuntungan
a. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam prosentase dari
keuntungan yang mungkin dihasilkan nanti. Keuntungan yang
menjadi milik pekerja dan pemilik modal harus jelas
prosentasinya.
b. Kesepakatan rasio prosentase harus dicapai melalui negosiasi
dan dituangkan dalam kontrak.
c. Pembagian keuntungan baru dapat dilakukan setelah mudharib
mengembalikan seluruh atau sebagian modal kepada shahib al-
mal.
Sedangkan menurut jumhur ulama ada tiga rukun dari
Mudharabah yaitu:
1. Dua pihak yang berakad (pemilik modal/shahib al-mal dan
pengelola dana/pengusaha/mudharib); Keduanya hendaklah orang
berakal dan sudah baligh (berumur 15 tahun) dan bukan orang
yang dipaksa. Keduanya juga harus memiliki kemampuan untuk
diwakili dan mewakili.
2. Materi yang diperjanjikan atau objek yang diakadkan terdiri dari
atas modal (mal), usaha (berdagang dan lainnya yang
berhubungan dengan urusan perdagangan tersebut), keuntungan;
3. Sighat, yakni serah/ungkapan penyerahan modal dari pemilik
modal (ijab) dan terima/ungkapan menerima modal dan
persetujuan mengelola modal dari pemilik modal (qabul).
Sedangkan menurut Ulama Syafiiyah lebih memerinci lagi
menjadi lima yaitu :
1. Modal
2. Pekerjaan
3. Laba
4. Shighat
5. Dan 2 Orang akad5[5]

D. Jenis-Jenis Mudharabah

5 Muhammad Asy-Syarbini, Juz II, 310

6
Secara umum, mudharabah terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara penyedia modal


(shahibul maal) dan pengelola modal (mudharib) yang cakupannya sangat luas dan
tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah yang akan digunakan
untuk usahanya.

2. Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah


atau specified mydharabah adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah, yaitu
mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, dan tempat usahanya. Dengan
adanya pembatasan tersebut seringkali mencerminkan kecenderungan umum shahibul
maal dalam memasuki jenis dunia usahanya.

E. Ketentuan Mudharabah
1. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan
oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif.
2. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik
dana) membiayai 100 % kebutuhan suatu proyek (usaha),
sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib
atau pengelola usaha.
3. Jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan
pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).
4. Mudharib boleh melakukan berbagai macam usaha yang
telah disepakati bersama dan sesuai dengan syariah; dan
LKS tidak ikut serta dalam managemen perusahaan atau
proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan
pengawasan.
5. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas
dalam bentuk tunai dan bukan piutang.
6. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat
dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan
kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian.

7
7. Pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah tidak ada
jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan,
LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak
ketiga. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib
terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah
disepakati bersama dalam akad.
8. Kriteria pengusaha, prosedur pembiayaan, dan mekanisme
pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan
fatwa DSN.
9. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib.
10. Dalam hal penyandang dana (LKS) tidak melakukan kewajiban
atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan,
mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah
dikeluarkan.

E. Skema Mudharabah

Keterangan:
Pemilik modal (shahibul mal) menyerahkan modalnya kepada
pengelola dana (mudharib) untuk diolah dalam sebuah
proyek/usaha. Kemudian keduanya melakukan perjanjian bagi hasil.
jika untung, dibagi sesuai nisbah. jika rugi ditanggung pemilik dana.

F. Sebab-sebab Batalnya Mudharabah


Mudharabah menjadi batal karena hal-hal berikut:
1. Tidak terpenuhinya syarat sahnya Mudharabah. Apabila terdapat
satu syarat yang tidak dipenuhi, sedangkan mudharib sudah
terlanjur menggunakan modal Mudharabah untuk bisnis

8
perdagangan, maka dalam keadaan seperti ini mudharib berhak
mendapatkan upah atas kerja yang dilakukannya, karena usaha
yang dilakukannya atas izin pemilik modal dan mudharib
melakukan suatu pekerjaan yang berhak untuk diberi upah.
2. Semua laba yang dihasilkan dari usaha yang telah dikerjakan
adalah hak pemilik modal. Jika terjadi kerugian maka pemilik
modal juga yang menanggungnya. Karena mudharib dalam hal ini
berkedudukan sebagai buruh dan tidak dapat dibebani kerugian
kecuali karena kecerobohannya.
3. Pengelola atau mudharib sengaja tidak melakukan tugas
sebagaimana mestinya dalam memelihara modal, atau melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan tujuan akad. Jika seperti itu
dan terjadi kerugian maka, pengelola berkewajiban untuk
menjamin modal karena penyebab dari kerugian tersebut.
4. Pengelola meninggal dunia atau pemilik modalnya, maka
Mudharabah akan menjadi batal.
5. Jika pemilik modal yang wafat, pihak pengelola berkewajiban
mengembalikan modal kepada ahli waris pemilik modal serta
keuntungan yang diperoleh diberikan kepada ahli warisnya
sebesar kadar prosentase yang disepakati. Tapi jika yang wafat itu
pengelola usaha, pemilik modal dapat menuntut kembali modal itu
kepada ahli warisnya dengan tetap membagi keuntungan yang
dihasilkan berdasarkan prosentase jumlah yang sudah disepakati.
6. Jika Mudharabah telah batal, sedangkan modal berbentuk urudh
(barang dagangan), maka pemilik modal dan pengelola menjual
atau membaginya, karena yang demikian itu merupakan hak
berdua. Dan jika si pengelola setuju dengan penjualan, sedangkan
pemilik modal tidak setuju, maka pemilik modal dipaksa
menjualnya, karena si pengelola mempunyai hak di dalam
keuntungan dan dia tidak dapat memperolehnya kecuali dengan
menjualnya. Demikian menurut madzhab Asy Syafii dan Hambali.

G. Aplikasi Mudharabah Dalam Perbankan

9
Mudharabah dalam perbankan syariah biasanya diterapkan pada produk-
produk pembiayaan dan pendanaan. Sedangkan pada sisi penghimpunan dana
mudharabah diterapkan pada:6

a. Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, yaitu
seperti tabungan haji, dan tabungan kurban, dan sebagainya;
b. Diposito biasa dan special, diposito special (special investment), dimana dana yang
dititipkan nasabah, khusus untuk bisnis tertentu, misalnya saja dalam murabahah
ataupun ijarah saja.

Sedangkan pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk:

a. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa;


b. Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, dimana sumber dana
khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan
oleh shahibul maal.

Mudharabah juga dapat dilakukan dengan memisahkan atau mencampurkan


dana mudharabah. Seperti dalam penjelasan dibawah ini, yaitu:7

a. Dana harta-harta lainnya, Pemisahan total antara dana mudharabah termasuk harta
mudharib.

Teknik ini memiliki kelebihan dan kekurangan, kelebihan dari teknik ini ialah bahwa
pendapatan dan biaya dapat dipisahkan dari masing-masing dana dan dapat dihitung
dengan tepat. Selain itu, keuntungan atau kerugian dapat dihitung dan dialokasikan
dengan benar. Sedangkan kekurangan teknik ini terutama menyangkut masalah moral
hazard dan preferensi invertasi seorang mudharib.

b. Dana mudharabah dicampur dan disatukan dengan sumber-sumber dana lainnya.

System ini menghilangkan munculnya masalah etika dan moral hazard seperti di atas,
namun dalanm system ini pendapatan dan biaya mudharabah tercampur dengan
pendapatan dan biaya lainnya.

6 Muhammad syafii antonio. Ibid, hal 97

7 Drs. Muhammad, M.Ag. manajemen bank syariah. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
2002, hal. 109

10
Mudharabah dalam bank syariah terdapat manfaat dan risikonya, manfaat
mudharabah tersebut terbagi menjadi lima, yaitu:8

1. Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah
semakin meningkat.
2. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara
tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau hasil usaha bank sehingga bank
tidak pernah mengalami negative spread.
3. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow atau kas usaha
nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.
4. Bank akan lebih selktif dan hati-hati dalam mencari usaha yang benar-benar halal,
aman, dan menguntungkan karena keuntungan yang konkret dan benar-benar terjadi
itulah yang akan dibagikan.
5. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah atau musyarakah ini berbeda dengan prinsip
bungan tetap dimana bank akan menagih penerima pembiayaan dari nasabah satu
jumlah bunga tetap berapa pun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun
merugi dan terjadi krisis ekonomi.

Sedangkan resiko dari mudharabah, yaitu:

1. streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang disebut dalam
kontrak;

2. Lalai dan kesalahan yang disengaja;

3. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah jika nasabah tidak jujur.

Selain manfaat dan resiko yang ada pada bank syariah, terdapat pula
permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pembiayaan mudharabah.
Berdasarkan teori perbankan kontemporer, prinsip mudharabah dijadikan sebagai
alternatif penerapan sistem bagi hasil. Meskipun demikian, dalam praktiknya ternyata
signifikansi bagi hasil dalam memainkan operasional investasi dana bank peranannya
sangat lemah. Menurut beberapa pengamatan perbankan syariah, hal ini terjadi karena
beberapa alasan, diantaranya:

a. Standar moral

8 Muhammad syfii antonio. Bank syariah: dari teori ke praktik. Jakarta: gema
insani press. 2001. Hal. 95

11
Terdapat anggapan bahwa standar moral ynag berkembang di kebanyakan
komunitas muslim tidak memberi kebebasan penggunaaan bagi hasil sebagai
mekanisme investasi.

b. Ketidakefektifan modal pembiayaan bagi hasil

Pembiayaan bagi hasil (mudharabah) tidak menyediakan berbagai macam


kebutuhan pembiayaan dari ekonomi kontemporer.

c. Berkaitan dengan para pengusaha

Keterkaitan bank dengan pembiayaan sistem bagi hasil untuk membantu


perkembangan usaha lebih banyak melibatkan pengusaha secara langsung daripada
sistem lainnya pada bank konvensional. Bank syariah memerlukan informasi yang
lebih rinci tentang aktivitas bisnis yang dibiayai dan besar kemungkinan pihak bank
turut mempengaruhi setiap pengambilan keputusan bisnis mitranya.

d. Dari segi biaya

Pemberian pembiayaan berdasrkan sistem bagi hasil memerlukan kewaspadaan


yang lebih tinggi dari pihak bank.

e. Segi teknis

Problem teknis menyangkut penggunaan sistem bagi haasil berkaitan dengan


pihak bank, nasabah, perhitungan keuntungan.bank membutuhkan pengetahuan yang
luas mengenai perilaku aktivitas ekonomi yang berguna untuk memprediksi
keuntungan. Dari sisi nasabah, kebutahurufan masih menyelimuti dunia muslim.

f. Kurang menariknya sistem bagi hasil dalm aktivitas bisnis

Dalam dunia bisnis dan industri, biaya yang dikeluarkan dari dana-dana yang
diperoleh berdasarkan sistem bagi hasil tidak diketahui secara pasti.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mudharabah

Faktor yang mempengaruhi mudharabah terbagi menjadi dua, yaitu:9

9 Drs, muhammad.M.Ag. Opcit, hal 110

12
1. Faktor Langsung

Diantara faktor-faktor langsung yang mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah


investment rate, jumlah dana yang tersedia, dan nisbah bagi hasil (profit sharing ratio).

Investment rate merupakan presentase actual dana yang diinvestasikan dari total
dana, jika bank menentukan investment rate sebesar 80 %, hal ini berarti 20% dari
total dana dialokasikan untuk memenuhi likuiditas.
Jumlah dana yang trsedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari
berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Dana tersebut dapat
dihitung dengan menggunakan salah satu metode dibawah ini:
o Rata-rata saldo minimum bulanan
o Rata-rata total saldo harian.

Investment rate dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan
akan menghasilkan jumlah dana actual yang digunakan.

c. Nisbah (profit sharing ratio)

o Salah satu ciri mudharabah adalah nisbah yang hasur ditentukan dan disetujui
pada awal perjanjian;
o Nisbah antara satu bank dengan bank lainnya dapat berdeda;
o Nisbah juga dapat berdeda dari waktu ke waktu dalam satu bank, misalkan saja
deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan;
o Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya sesuai
dengan besarnya dana dan jatuh temponya.
c. Faktor Tidak Langsung

Faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi bagi hasil, yaitu:

a. Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah

o bank dan nasabah melakukan share dalam dalam pendapatan dan biaya,
pendapatan yang akan dibagi hasilkan merupakan pendapatan yang diterima
dikurangi biaya-biaya;
o jika semua biaya ditanggung bank, maka hal ini disebut revenue sharing.

b. Kebijakan akunting (prinsip dan metode akuntansi)

bagi hasil secara tidak langsung dipengaruhi oleh berjalannya aktivitas yang
diterapkan, terutama sehubungan dengan pengakuan pendapatan dan biaya.

Contoh Kasus

13
1. Contoh kasus perhitungan dalam bank syariah, yaitu:

Bapak Kevin mempunyai deposito Rp 10.000.000, dalam jangka waktu 1 bulan


(1 Desember 2001 1 Januari 2002), dan nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank
57% : 43%. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito 1 bulan per 31
Desember 2001 adalah Rp 20.000.000 dan rata-rata deposito jangka waktu 1 bulan
adalah Rp 950.000.000, berapakah keuntungan yang harus diperoleh oleh bapak
Kevin?

Jawab:

Keuntungan yang diperoleh bapak Kevin adalah:

(Rp 10.000.000 : Rp 950.000.000) x Rp 20.000.000 x 57% = Rp 120.000

2 . Contoh kasus perhitungan dalam bank kovensional, yaitu[14]:

Pada tanggal 1 Desember 2003, bapak rizal membuka deposito sebesar Rp


10.000.000, jangka waktu 1 bulan dengan tingkat bunga 9% p.a. Berapa bunga yang
diperoleh bapak rizal pada saat jatuh tempo?

Jawab:

Bunga yang harus diperoleh bapak rizal adalah:

(Rp 10.000.000 x 31 hari x 9%) : 365 hari = Rp 76.438

Dari cotoh kasus di atas dapat disimpulkan, bahwa:

a. Perhitungan pada bank syariah, besar kecilnya pendapatan yang diperoleh deposan
bergantung pada:

a. Pendapatan bank
b. Nisbah bagi hasil antara nasabah dengan bank
c. Nominal deposito nasabah
d. Rata-rata deposito untuk jangka waktu yang sama pada bank.

b. Sedangkan perhitungan pada bank konvensional, besar kecilnya pendapatan yang


diperoleh deposanbergantung pada:

2) Tingkat bunga yang berlaku pada bank tersebut


3) Nominal deposito nasabah
4) Jangka waktu deposito.

Bank syariah pada dasarnya member keuntungan kepada deposan dengan


pendekatan Financing to Deposit Ratio (FDR), sedangkan pada bank konvensional

14
yaitu dengan pendekatan biaya, yang artinya dalam mengakui pendapatan bank
syariah masih menimbang rasio antara dana pihak ketiga dan pembiayaan yang
diberikan, serta pendapatan yang dihasilkan dari perpaduan antara dua faktor tersebut.
Sedangkan dalam bank konvensional langsung menganggap semua bunga yang
diberikan adalah biaya, tanpa harus membertimbangkan berapakah pendapatan yang
dapat dihasilkan dari dana yang dihimpun tersebut,

Dalam pembiayaan mudharabah tujuan yang utama adalah memperoleh


keuntungan yang nantinya akan dibagi sesuai dengan kesepakatan yang biasa disebut
dengan bagi hasil. Dimana, keuntungan adalah jumlah yang didapat sebagai dari
kelebihan modal. Keuntungan adalah tujuan akhir dari mudharabah. Syarat keuntungan
berikut harus dipenuhi:

i. Harus untuk kedua pihak dan tidak ada satu pihak pun yang mengambil seluruhnya
tanpa yang lainnya.
ii. Bagian keuntungan proporsional dari tiap pihak harus diketahui pada waktu
berkontrak dan harus sebagai presentasi dari keuntungan. Bagian pengelola harus
sacara eksplisit ditanyakan pada watu berkontrak. Tetapi harus diketahui bahwa
dibolehkan untuk menyesuaikan presentasi alokasi keuntungan diantara kedua pihak
pada waktu berikutnya.
iii. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat mudharabah, dan pengelola
tidak boleh menanggung bagian apapun darinya kecuali diakibatkan dari kesalahan
yang disengaja atau lalai.

BAB III

KESIMPULAN

Kata mudharabah berasal dari kata dharb ( ) yang berarti memukul atau
berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini maksudnya adalah proses seseorang
memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Suatu kontrak disebut mudharabah,
karena pekerja (mudharib) biasanya membutuhkan suatu perjalanan untuk

15
menjalankan bisnis. Sedangkan perjalanan dalam bahasa Arab disebut juga dharb fil

Ardhi (
Ulama fiqih sepakat bahwa mudharabah disyaratkan dalam islam berdasarkan
Al-Quran, Sunah, Ijma, dan Qiyas.
Syarat yang harus dipenuhi dalam akad Mudharabah adalah :
1. Harta atau Modal
2. Keuntungan
Rukun mudharabah menurut Ulama Syafiiyah lebih memerinci lagi menjadi lima
yaitu :
1. Modal
2. Pekerjaan
3. Laba
4. Shighat
5. Dan 2 Orang akad

DAFTAR PUSTAKA

A.Karim Adiwarman. Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan.Jakarta: PT.Raja


Grafindo Persada. 2011

Alauddin Al-Kasani, Badai As-Syanai fi Tartib Asy-Syarai, Juz VI, 79

16
Drs. H. Hendi Suhendi, MSi, Fiqh Muamalah, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta,
2002.

Drs. Muhammad, M.Ag. manajemen bank syariah. Yogyakarta: UPP


AMP YKPN. 2002

Muhammad syfii antonio. Bank syariah: dari teori ke praktik.


Jakarta: gema insani press. 2001

Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung : Pustaka Setia, 2001

17