Anda di halaman 1dari 24

MATERI MENGAJAR ENDAPAN MINERAL

ENDAPAN MINERAL LOGAM DAN NON LOGAM


(GEL 4172)

PROG. STUDI GEOLOGI

DISUSUN OLEH ;

1. HASRIA,S.PD.,M.SI
2. PROF. UDI HARTONO
3. MUH.CHAERUL,S.T.,M.SC

KENDARI
2013
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses dan aktivitas geologi bisa menimbulkan terbentuknya batuan dan jebakan mineral. Yang
dimaksud dengan jebakan mineral adalah endapan bahan-bahan atau material baik berupa mineral
maupun kumpulan mineral (batuan) yang mempunyai arti ekonomis (berguna dan mengguntungkan
bagi kepentingan umat manusia). Faktor-faktor yang mempengaruhi kemungkinan pengusahaan
jebakan dalam arti ekonomis adalah bentuk jebakan, besar dan volume cadangan, kadar, lokasi
geografis dan biaya pengolahannya.
Ore/bijih adalah batuan yang mengandung satu atau lebih mineral logam dan non-logam yang
akan memiliki nilai ekonomis jika ditambang.

Suatu endapan dikatakan bijih sebenarnya dilihat dari nilai ekonomisnya, bila harga
pengolahan dan harga pasaran berfluktuasi, suatu saat endapan mineral dikatakan sebagai
bijih dan di saat lain bukan lagi.

Proses terbentuknya bijih sangatlah kompleks. Sering lebih dari satu proses bekerja bersama-
sama. Meskipun dari satu jenis bijih, apabila terbentuk oleh proses yang berbeda-beda, maka akan
menghasilkan tipe endapan yang berbeda-beda pula.

Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan, proses


pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan, dan faktor-faktor
pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).

Proses-proses pembentukan endapan mineral baik yang memiliki nilai ekonomis, maupun tidak,
sangat perlu diketahui dan dipelajari mengenai proses pembentukan , keterdapatan serta pemanfaatan
dari mineral-mineral tersebut.

Cadangan bijih" atau "cebakan bijih" adalah timbunan bijih pada satu kawasan yang ditentukan
batas-batasnya. Ini berbeda dengan sumber daya mineral yang didefinisikan menurut kriteria
penggolongan sumber daya mineral. Cadangan bijih adalah kenampakan satu jenis bijih tertentu, yang
sebagian besar dinamai menurut lokasinya (mis. Witswatersrand, Afrika Selatan), atau menurut
penemunya (mis. cadangan nikel kambalda dinamakan menurut pengebor perintisnya), atau menurut
lelucon, tokoh sejarah, tokoh terkemuka, mitologi (phoenix, kraken, serepentleopard, dll) atau nama
sandi perusahaan sumber daya yang mendirikannya (mis. MKD-5 adalah nama singkatan untuk
perusahaan tambang nikel Mount Keith).

Mineral non logam yang dikandung oleh suatu bijih pada umumnya tidak menguntungkan bahkan
biasanya hanya mengotori saja, sehingga sering dibuang. Kadang apabila terdapatkan dalam jumlah
yang cukup banyak bisa dimanfaatkan sebagai hasil sampingan (by-product), misalnya mineral kuarsa,
fluorit, garnet dan lain-lain. Mineral non logam juga disebut gangue mineral apabila terdapat bersama-
sama mineral logam didalam suatu batuan. Apabila terdapat didalam endapan non logam yang
ekonomis, disebut sebagai waste mineral. Yang termasuk golongan endapan mineral non logam adalah
material-material berupa padat, cairan atau gas. Material-material tersebut bisa berbentuk mineral,
batuan, persenyawaan hidrokarbon atau berupa endapan garam. Contoh endapan ini adalah mika,
batuan granit, batubara, minyak dan gas bumi, halit dan lain-lain.

Karena kemajuan teknologi, khususnya didalam cara pemisahan logam, sering menyebabkan
mineral atau batuan yang pada mulanya tidak bernilai ekonomis bisa menjadi mineral bijih yang
ekonomis. Jenis logam tertentu tidak selalu terdapat didalam satu macam mineral saja, tetapi juga
terdapat pada lebih dari satu macam mineral.
Misalnya logam Cu bisa terdapat pada mineral kalkosit, bornit atau krisokola. Sebaliknya satu jenis
mineral tertentu sering dapat mengandung lebih dari satu jenis logam. Misalnya mineral Pentlandit
mengandung logam nikel dan besi. Mineral wolframit mengandung unsur-unsur logam Ti, Mn dan Fe.
Keadaan tersebut disebabkan karena logam-logam tertentu sering terdapat bersama-sama pada jenis
batuan tertentu dengan asosiasi mineral tertentu pula, hal itu erat hubungannya dengan proses
kejadian (genesa) mineral bijih.

Ekstraksi dasar cadangan bijih mengikuti tahapan-tahapan berikut ini;

1. Prospekting atau eksplorasi untuk menentukan dan kemudian mendefinisikan keluasan dan nilai
bijih tempat di mana ia berada ("tubuh bijih")

2.Menjalankan penaksiran sumber daya untuk menaksir secara matematika ukuran dan kadar
cadangan

3.Menjalankan pengkajian pra-kelayakan untuk menentukan keekonomian cadangan bijih secara


teoretis. Tindakan ini mengenali secara dini, apakah penanaman modal lanjutan untuk pengkajian
penaksiran dan teknis dapat dijamin secara aman atau tidak, dan mengenali risiko dan wilayah kunci
untuk pengerjaan selanjutnya.

Menjalankan studi kelayakan untuk menilai kesinambungan dana, risiko teknis dan keuangan, dan
kesehatan projek dan membuat keputusan apakah projek pertambangan yang diajukan dapat
diteruskan atau dihentikan. Ini meliputi perencanaan penambangan untuk menilai porsi keterpulihan
ekonomi cadangan, metalurgi dan bijih, kelayakan penjualan dan keterbayaran konsentrat bijih, biaya-
biaya teknik, penggilingan, dan infrastruktur, persyaratan keuangan dan ketergulirannya, dan lokasi
sampel untuk menganalisis tambang yang mungkin dilakukan, dari penggalian awal melalui reklamasi.

5.Pengembangan untuk menciptakan akses ke tubuh bijih dan bangunan instalasi pertambangan
dan peralatannya

6.Operasi pertambangan yang sebenarnya

7.Reklamasi untuk membuat tanah bekas pertambangan dapat dimanfaatkan di masa depan

1.2 Maksud Dan Tujuan

maksud diadakan praktikum endpan mineral adalah yaitu unntuk mahasiswa lebih mengenal lagi
suatu mineral serta dapat membedakan tiap mineral yang teralterasi hidrotermal dan yang tidak
mengalami alterasi hidrotermal.
Tujuan di adakan suatu praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Agar mengetahui suatu mineral alterasi hidrotermal
2. Agar membedakan mineral yang ter alterasi dan tidak
3. Agar mengetahui suatu tipe-tipe altersi hidrotemal serta zona terbentuknya alterasi

1.3 Alat Dan Bahan

alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum endapan mineral adalah sebagai berikut ;

tabel 1.3.1 alat dan bahan serta kegunaan

No Alat dan bahan kegunaan


1
2
3
4
5

1.4 manfaat

manfaat dalam praktikum endapan mineral yaitu mahasiswa dapat mengetahui suatu mineral yang
ter alterasi hidrotermal serta dapt membedakan tiap mineral yang telah ter alterasi hidrotermal tiap
zona terbentuknya.

BAB 11

LANDASAN TEORI
Studi mengenai Endapan Mineral tidak bisa terlepas dari dua proses yaitu proses Alterasi dan
Mineralisasi, proses ini pada umumnya diakibatkan oleh adanya larutan magma ataupun
persentuhannya dengan atmosfer bumi, kedua proses ini selalu terjadi bersamaan pada saat terjadi
endapan mineral

Alterasi adalah Setiap perubahan dalam mineralogi suatu batuan yang terjadi karena proses-
proses fisika dan kimia, khususnya oleh aktivitas fluida hydrothermal. Dengan kata lain merupakan
proses yang mengakibatkan terbentuknya suatu mineral baru pada tubuh batuan sebagai hasil ubahan
dari mineral mineral yang telah ada sebelumnya yang diakibatkan oleh adanya reaksi antara batuan
dengan larutan magma/hidrotermal.

Alterasi dicirikan oleh pembentukan mineral-mineral sekunder yang mengandung hidroksil (biotit,
serisit, khlorit, mineral lempung) disamping kuarsa dan juga karbonat.

Fenomena Alterasi dapat disebabkan oleh:

Proses diagenesis pada sedimen

Metamorfosa

Proses cooling post magmatic/volkanik

Proses mineralisasi

Produk Alterasi tergantung pada :

Jenis reaksi alterasi

Komposisi batuan samping (wall rock)

Temperatur dan tekanan

Morfologi dan Bentuk Endapan Bahan Galian

Endapan bahan galian dijumpai tersusun dan terdapat pada tubuh batuan beku, sedimen ataupun
batuan metamorf . Berdasarkan waktu pembentukannya endapan bahan galian dibedakan atas 2,
yakni:

1. Endapan Syngenetic : Tubuh bijih besi merupakan bagian dari suatu sekuen stratigrafi yang
terbentuk pada bersamaan dengan proses sedimentasi

2. Endapan Epigenetic : bahan galian yang berbentuk seperti tubuh batuan beku yang berbentuk
dykes, yang memotong batuan sekitarnya dan terbentuk setelah batuan induknya

Bentuk dan morfologi badan bijih

Parameter dimensional dari suatu badan bijih yaitu ukuran, bentuk (pola) sebaran dan
keberadaannya merupakan akibat dari variasi dan distribusi kadar mineral bijih akan sangat
menentukan bagaimana bahan galian tersebut dieksploitasi.
Bentuk-bentuk badan bijih

Berdasarkan bentuk (morfologi) badan bijih dan pola sebaran mineral bijihnya jika dihubungkan
dengan batuan sekitarnya (batuansamping/induk), tubuh endapan bijih dapat dikelompokkan atas 2,
yaitu:

- badan bijih berbentuk discordant

- badan bijih berbentuk concordant.

Discordant yaitu jika bada bijih memotong perlapisan batuan sekitarnya. Sedangkan concordant
yaitu jika badan bijih membentuk pola yang tidak memotong perlapisan batuan sekitarnya.

Badan bijih Diskordan (discordant ore bodies)

Badan bijih diskordan dapat dijumpai mempunyai bentuk yang beraturan (regular shapes) maupun
dengan bentuk yang tidak beraturan (irregular shapes). Badan bijih yang bentuknya beraturan dapat
dibedakan atas:

1. Badan bijih yang berbentuk tabular (Gambar 2.1 dan 2.2), dengan ciri antara lain:

badan bijih dengan pola penyebaran yang menerus dalam arah 2D (panjang dan lebar), tetapi
terbatas dalam arah 3D (tipis),

berbentuk urat (vein-fissure veins- Gambar 2.4) dan lodes,

urat-urat umumnya terbentuk di zona rekahan sehingga menunjukkan bentuk yang teratur dalam
orientasinya (Gambar 2.5),

mineralisasi pada umumnya berupa asosiasi dari beberapa kombinasi mineral bijih dan pengotor
(gangue) dengan komposisi yang sangat bervariasi, dan

batas dari penyebaran urat ini umumnya jelas, yaitu langsung dibatasi dengan dinding urat.
Gambar 2.3 Contoh badan bijih yang berbentuk tabular berupa vein dan veinlets.

2. badan bijih yang berbentuk tubular dengan ciri antara lain:

badan bijih dengan pola penyebaran relatif pendek (terbatas) dalam arah 2D namun relatif dalam
kearah 3D (arah vertikal),

jika penyebaran badan bijih ini relatif vertikal-sub vertikal biasanya disebut sebagai pipes atau
chimneys, jika penyebarannya horizontal atau subhorisontal disebut mantos.

Badan bijih berbentuk mantos dan pipes dapat dijumpai memiliki percabangan. Mantos dan pipes
umumnya dijumpai berasosiasi, pipes umumnya bertindak sebagai sumber (feeders) terhadap mantos.
Terkadang mantos saling berhubungan diantara lapisan batuan dengan perantaraan pipes, namun ada
pula yang dijumpai sebagai percabangan dari pipes. Pada beberapa tubuh bijih yang berbentuk tubular
terbentuk oleh aliran larutan mineralisasi secara subhorisontal sehingga tubuh bijih dapat dijumpai
diskontinyu membentuk tubuh bijih yang berbentuk pod.
Badan bijih bentuknya tidak beraturan (irregular shapes) dibedakan atas:

1. Badan bijih disseminated:

Badan bijih dengan pola penyebaran mineral bijih yang tersebar di dalam host rock (Gambar
2.10).

Mineral-mineral bijih tersebut tersebar merata di dalam host rock berupa (dalam bentuk) veinlets
yang saling berpotongan menyerupai jaring-jaring yang saling berkaitan membentuk sistem veinlets
yang sering disebut stockwork.

Stockwork ( Gambar 2.11) dijumpai dalam bentuk tubuh endapan yang besar pada lingkungan
intrusi batuan beku asam sampai intermedit, akan tetapi stockwork juga dapat dijumpai memotong
kontak country rocks dan beberapa dijumpai sebagian atau seluruhnya berada pada country rocks.

2. Badan bijih irregular replacement (Gambar 2.12)

Merupakan badan bijih yang terbentuk melalui pergantian unsur-unsur yang sudah ada
sebelumnya.

Proses replacement ini umumnya terjadi pada temperatur rendah sampai sedang (<400oC),
contohnya endapan magnesit pada carbonate-rich sediments.

Proses replacement lainnya dapat juga terjadi pada suhu tinggi pada kontak intrusi batuan beku
yang membentuk endapan skarn. Tubuh endapannya dicirikan dengan pembentukan mineral-mineral
calc-silicate seperti diopside, wollastonite, andradite, garnet dan actinolite. Endapan bahan galian ini
umumnya berbentuk sangat tidak beraturan (Gambar 2.12).

Disebut juga endapan metasomatisme kontak (pirometasomatik).

Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat aqueous sebagai hasil differensiasi magma.
Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%)
dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam
endapan hidrothermal, yaitu :

1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang ( opening-opening ) yang sudah ada di dalam batuan.

2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur
baru dari larutan hidrothermal.

Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai sirkulasi fluida panas ( 50 >500C ), secara lateral dan
vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervariasi di bawah permukaan bumi. Sistem ini
mengandung dua komponen utama, yaitu sumber panas dan fase fluida. Sirkulasi fluida hidrotermal
menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil dan cenderung
menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi
yang baru, yang dikenal sebagai alterasi ( ubahan ) hidrotermal. Endapan mineral hidrotermal dapat
terbentuk karena sirkulasi fluida hidrotermal yang melindi ( leaching ), mentranspor, dan
mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon terhadap perubahan fisik maupun kimiawi
( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ).

Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan ( dalam keadaan padat ) karena adanya
pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia menghasilkan mineral
lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, berbeda
dengan metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang
mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya air meteorik
( meteoric water ) untuk dapat mengubah komposisi mineralogi batuan.

Alterasi Hidrothermal

Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang sangat kompleks yang melibatkan perubahan
mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang disebabkan oleh interaksi fluida panas dengan batuan yang
dilaluinya, di bawah kondisi evolusi fisio-kimia. Proses alterasi merupakan suatu bentuk
metasomatisme, yaitu pertukaran komponen kimiawi antara cairan-cairan dengan batuan dinding
( Pirajno, 1992 ).

Interaksi antara fluida hidrotermal dengan batuan yang dilewatinya ( batuan dinding ), akan
menyebabkan terubahnya mineral-mineral primer menjadi mineral ubahan ( mineral alterasi ), maupun
fluida itu sendiri ( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ).

Alterasi hidrotermal akan bergantung pada :

1. Karakter batuan dinding.

2. Karakter fluida ( Eh, pH ).

3. Kondisi tekanan dan temperatur pada saat reaksi berlangsung ( Guilbert dan Park, 1986,
dalam Sutarto, 2004 ).
4. Konsentrasi.

5. Lama aktivitas hidrotermal ( Browne, 1991, dalam Sutarto, 2004 ).

Walaupun faktor-faktor di atas saling terkait, tetapi temperatur dan kimia fluida kemungkinan
merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal ( Corbett dan Leach,
1996, dalam Sutarto, 2004 ). Henley dan Ellis ( 1983, dalam Sutarto, 2004 ), mempercayai bahwa
alterasi hidrotermal pada sistem epitermal tidak banyak bergantung pada komposisi batuan dinding,
akan tetapi lebih dikontrol oleh kelulusan batuan, tempertatur, dan komposisi fluida.

Diagram Himpunan mineral Alterasi dalam Sistem Hidrotermal

Sistem pembentukan mineralisasi di lingkaran Pasifik secara umum terdiri dari endapan mineral
tipe porfiri, mesotermal sampai epitermal (Corbett dan Leach, 1996).

1. Tipe porfiri terbentuk pada kedalaman lebih besar dari 1 km dan batuan induk berupa batuan
intrusi. Sillitoe, 1993a (dalam Corbett dan Leach, 1996) mengemukakan bahwa endapan porfiri
mempunyai diameter 1 sampai > 2 km dan bentuknya silinder.

2. Tipe mesotermal terbentuk pada temperatur dan tekanan menengah, dan bertemperatur >
300oC (Lindgren, 1922 dalam Corbett dan Leach, 1996). Kandungan sulfida bijih terdiri dari kalkopirit,
spalerit, galena, tertahidrit, bornit, dan kalkosit. Mineral penyerta terdiri dari kuarsa, karbonat (kalsit,
siderit, rodokrosit), dan pirit. Mineral alterasi terdiri dari serisit, kuarsa, kalsit, dolomit, pirit, ortoklas, dan
lempung.

3. Tipe epitermal terbentuk di lingkungan dangkal dengan temperatur < 300oC, dan fluida
hidrotermal diinterpretasikan bersumber dari fluida meteorik. Endapan tipe ini merupakan kelanjutan
dari sistem hidrotermal tipe porfiri, dan terbentuk pada busur magmatik bagian dalam di lingkungan
gunungapi kalk-alkali atau batuan dasar sedimen (Heyba et al., 1985 dalam Corbett dan Leach, 1996).
Sistem ini umumnya mempunyai variasi endapan sulfida rendah dan sulfida tinggi (gambar 4). Mineral
bijih terdiri dari timonidsulfat, arsenidsulfat, emas dan perak, stibnite, argentit, cinabar, elektrum, emas
murni, perak murni, selenid, dan mengandung sedikit galena, spalerit, dan galena. Mineral penyerta
terdiri dari kuarsa, ametis, adularia, kalsit, rodokrosit, barit, flourit, dan hematit. Mineral alterasi terdiri
dari klorit, serisit, alunit, zeolit, adularia, silika, pirit, dan kalsit

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya mineral alterasi dan mineral bijih dalam
suatu sistem hidrotermal (Corbett dan Leach, 1988), adalah :

1. Komposisi kimia dan konsentrasi larutan hidrotermal

2. Sifat dan komposisi batuan samping (host rock)

3. Struktur lokal batuan samping

4. Banyaknya mineral yang mudah terubah

5. Temperatur dan tekanan

Reaksi Reaksi Pada Proses Alterasi

Reaksi reaksi yang berperan penting didalam proses alterasi (reaksi kimia antara batuan dengan
fluida) adalah :
Hidrolisis

Merupakan proses pembentukan mineral baru akibat terjadinya reaksi kimia antara mineral tertentu
dengan ion H+, contohnya :

3 KalSiO3 O8 + H2O(aq) Kal3Si3O10 (OH)2 + 6SiO2 + 2K

K Feldspar Muscovite (Sericite) Kuarsa

Hidrasi

Merupakan proses pembentukan mineral baru dengan adanya penambahan molekul H2O. Dehidrasi
adalah sebaliknya. Reaksi Hidrasi :

2 Mg2SiO4+ 2H2O + 2 H+ Mg3 Si2O5 (OH)4 + Mg2+

Olivine Serpentinite

Reaksi dehidrasi :

Al2Si2O5(OH)4 + 2 SiO2 Al2Si4O10 (OH)4 + Mg2+

Kaolinit Kuarsa Pyrophilite

Metasomatisme alkali alkali tanah

Contoh:

2CaCO3 + Mg2+ CaMg (CO3)2 + Ca2+

Calcite Dolomite

Dekarbonisasi reaksi kimia yang menghasilkan silika dan oksida

Contoh :

CaMg(CO3)2 + 2 SiO2 (CaMg)SiO2 + 2 CO2

Dolomite Kuarsa Dioside


Silisifikasi

Merupakan proses penambahan atau produksi kuarsa polimorfnya, contohnya:

2 CaCO3 + SiO2 + 4 H- 2Ca2- + 2 CO2 + SiO2 + 2 H2O

Calcite Kuarsa

Silisikasi

Merupakan proses konversi atau penggantian mineral silikat, contohnya:

CaCO3 + SiO2 CaSiO3 + CO2

Calcite Kuarsa Wollastonite

Tipe Alterasi (Type of Alteration)

Creasey (1966, dalam Sutarto, 2004) membuat klasifikasi alterasi hidrotermal pada endapan tembaga
porfir menjadi empat tipe yaitu propilitik, argilik, potasik, dan himpunan kuarsa-serisit-pirit. Lowell dan
Guilbert (1970, dalam Sutarto, 2004) membuat model alterasi-mineralisasi juga pada endapan bijih
porfir, menambahkan istilah zona filik untuk himpunan mineral kuarsa, serisit, pirit, klorit, rutil, kalkopirit.
Adapun delapan macam tipe alterasi antara lain :

1. Propilitik

Dicirikan oleh kehadiran klorit disertai dengan beberapa mineral epidot, illit/serisit, kalsit, albit, dan
anhidrit. Terbentuk pada temperatur 200-300C pada pH mendekati netral, dengan salinitas beragam,
umumnya pada daerah yang mempunyai permeabilitas rendah. Menurut Creasey (1966, dalam
Sutarto, 2004), terdapat empat kecenderungan himpunan mineral yang hadir pada tipe propilitik, yaitu :

Klorit-kalsit-kaolinit.

Klorit-kalsit-talk.

Klorit-epidot-kalsit.

Klorit-epidot.
2. Argilik

Pada tipe argilik terdapat dua kemungkinan himpunan mineral, yaitu muskovot-kaolinit-monmorilonit
dan muskovit-klorit-monmorilonit. Himpunan mineral pada tipe argilik terbentuk pada temperatur 100-
300C (Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004), fluida asam-netral, dan salinitas rendah.

3 . Potasik

Zona potasik merupakan zona alterasi yang berada pada bagian dalam suatu sistem hidrotermal
dengan kedalaman bervariasi yang umumnya lebih dari beberapa ratus meter. Zona alterasi ini
dicirikan oleh mineral ubahan berupa biotit sekunder, K Feldspar, kuarsa, serisit dan magnetite.
Pembentukkan biotit sekunder ini dapat terbentuk akibat reaksi antara mineral mafik terutama
hornblende dengan larutan hidrotermal yang kemudian menghasilkan biotit, feldspar maupun pyroksen.

Dicirikan oleh melimpahnya himpunan muskovit-biotit-alkali felspar-magnetit. Anhidrit sering hadir


sebagai asesori, serta sejumlah kecil albit, dan titanit (sphene) atau rutil kadang terbentuk. Alterasi
potasik terbentuk pada daerah yang dekat batuan beku intrusif yang terkait, fluida yang panas
(>300C), salinitas tinggi, dan dengan karakter magamatik yang kuat.

Selain biotisasi tersebut mineral klorit muncul sebagai penciri zona ubahan potasik ini. Klorit
merupakan mineral ubahan dari mineral mafik terutama piroksin, hornblende maupun biotit, hal ini
dapat dilihat bentuk awal dari mineral piroksin terlihat jelas mineral piroksin tersebut telah mengalami
ubahan menjadi klorit. Pembentukkan mineral klorit ini karena reaksi antara mineral piroksin dengan
larutan hidrotermal yang kemudian membentuk klorit, feldspar, serta mineral logam berupa magnetit
dan hematit.

Alterasi ini diakibat oleh penambahan unsur pottasium pada proses metasomatis dan disertai dengan
banyak atau sediktnya unsur kalsium dan sodium didalam batuan yang kaya akan mineral
aluminosilikat. Sedangkan klorit, aktinolite, dan garnet kadang dijumpai dalam jumlah yang sedikit.
Mineralisasi yang umumnya dijumpai pada zona ubahan potasik ini berbentuk menyebar dimana
mineral tersebut merupakan mineral mineral sulfida yang terdiri atas pyrite maupun kalkopirit dengan
pertimbangan yang relatif sama.

Bentuk endapan berupa hamburan dan veinlet yang dijumpai pada zona potasik ini disebabkan oleh
pengaruh matasomatik atau rekristalisasi yang terjadi pada batuan induk ataupun adanya intervensi
daripada larutan magma sisa (larutan hidrotermal) melalui pori-pori batuan dan seterusnya berdifusi
dan mengkristal pada rekahan batuan. Berikut ini ciri ciri salah satu contoh mineral ubahan pada
zona potasik yaitu Actinolite.

Sifat Fisik

Sifat fisik dari mineral ini ditunjukkan dengan warna hijau sampai hijau kehitaman, Hal ini dikarenakan
komposisi kimia yang terkandung pada mineral ini, densitas pada mineral ini sebesar 3.03 3.24
g/cm3 kekerasan mineral ini adalah 5 6 skala mohs, dengan cerat berwarna agak putih terang, kilap
mineral ini termasuk kilap kaca sampai sutera, Karena komposisi serta tekstur dan sistem mineral pada
mineral maka mineral ini dapat ditembus oleh cahaya hal itu sejalan dengan partikel paretikel
pembentuk mineral ini yang mudah dilalui oleh cahaya, Relief permukaan sedang/lembut.

Sesuai dengan lingkungan pembentukanya yaitu pada daerah metamorfosa dan terbentuk di dalam
sekis kristalin dimana temperatur suhu sangat berpengaruh dalam pembentukan mineral ini, maka
mineral ini banyak ditemukan berasosiasi dengan mineral magnetit dan hematit.

Sifat Kimia

Komposisi kimia yang penting Ca, H, Mg, O, Si, merupakan salah satu mineral anggota Amphibole,
rumus kimia Ca2(Mg, Fe2+)5(Si8O22)(OH)2.

Sifat Optik

Sistem kristal monoklin, kelas kristal prismatic, kembaran berbentuk parallel, optik ( = 14.56-1.63, =
1.61-1.65, = 1.63-1.66).

4. Filik

Zona alterasi ini biasanya terletak pada bagian luar dari zona potasik. Batas zona alterasi ini berbentuk
circular yang mengelilingi zona potasik yang berkembang pada intrusi. Zona ini dicirikan oleh kumpulan
mineral serisit dan kuarsa sebagai mineral utama dengan mineral pyrite yang melimpah serta sejumlah
anhidrit. Mineral serisit terbentuk pada proses hidrogen metasomatis yang merupakan dasar dari
alterasi serisit yang menyebabkan mineral feldspar yang stabil menjadi rusak dan teralterasi menjadi
serisit dengan penambahan unsur H+, menjadi mineral phylosilikat atau kuarsa. Zona ini tersusun oleh
himpunan mineral kuarsa-serisit-pirit, yang umumnya tidak mengandung mineral-mineral lempung atau
alkali feldspar. Kadang mengandung sedikit anhidrit, klorit, kalsit, dan rutil. Terbentuk pada temperatur
sedang-tinggi (230-400C), fluida asam-netral, salinitas beragam, pada zona permeabel, dan pada
batas dengan urat.

Dominasi endapan dalam bentuk veinlet dibandingkan dengan endapan yang berbentuk hamburan
kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya pengaruh metasomatik yang lebih mengarah ke proses
hidrotermal. Hal ini disebabkan karena zona ini semakin menjauh dari pusat intrusi serta berkurangnya
kedalaman sehingga interaksi membesar dan juga diakibatkan oleh banyaknya rekahan pada batuan
sehingga larutan dengan mudah mengisinya dan mengkristal pada rekahan tersebut, mineralisasi yang
intensif dijumpai pada vein kuarsa adalah logam sulfida berupa pirit, kalkopirit dan galena. Berikut ini
ciri ciri salah satu contoh mineral ubahan pada zona potasik yaitu Serisit.

Sifat Fisik

Tidak berwarna putih; kekerasan 5.5 6 skala mohs; kilap kaca; dapat ditembus oleh cahaya;
pecahan conchoidal; cerat putih. Umumnya berasosiasi dengan mineral kuarsa, muskovit, dan mineral-
mineral bijih seperti pirit, kalkopirit,galena, dan lainya. Rumus kimia Ca[Al2Si4O12].2H2O.

Sifat Optik

Sistem kristal monoclinic dengan kelas kristal prismatic, surface relief sedang, optic n = 1.498 n =
1.502.

5. Propilitik dalam ( inner propilitik )

Menurut Hedenquist dan Linndqvist (1985, , dalam Sutarto, 2004), zona alterasi pada sistem epitermal
sulfidasi rendah (fluida kaya klorida, pH mendekati netral) ummnya menunjukkan zona alterasi seperti
pada sistem porfir, tetapi menambahkan istilah inner propylitic untuk zona pada bagian yang
bertemperatur tinggi (>300C), yang dicirikan oleh kehadiran epidot, aktinolit, klorit, dan ilit.

6. Argilik lanjut ( advanced argilic )

Sedangkan untuk sistem epitermasl sulfidasi tinggi (fluida kaya asam sulfat), ditambahkan istilah
advanced argilic yang dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral
pirofilit+diasporandalusitkuarsaturmalinenargit-luzonit (untuk temperatur tinggi, 250-350C),
atau himpunan mineral kaolinit+alunitkalsedonkuarsapirit (untuk temperatur rendah,< 180 C).

7. Skarn
Alterasi ini terbentuk akibat kontak antara batuan sumber dengan batuan karbonat, zona ini sangat
dipengaruhi oleh komposisi batuan yang kaya akan kandungan mineral karbonat. Pada kondisi yang
kurang akan air, zona ini dicirikan oleh pembentukan mineral garnet, klinopiroksin dan wollastonit serta
mineral magnetit dalam jumlah yang cukup besar, sedangkan pada kondisi yang kaya akan air, zona ini
dicirikan oleh mineral klorit,tremolit aktinolit dan kalsit dan larutan hidrotermal. Garnet-piroksen-
karbonat adalah kumpulan yang paling umum dijumpai pada batuan induk karbonat yang orisinil
(Taylor, 1996, dalam Sutarto, 2004). Amfibol umumnya hadir pada skarn sebagai mineral tahap akhir
yang menutupi mineral-mineral tahap awal. Aktinolit (CaFe) dan tremolit (CaMg) adalah mineral amfibol
yang paling umum hadir pada skarn. Jenis piroksen yang sering hadir adalah diopsid (CaMg) dan
hedenbergit (CaFe).

Alterasi skarn terbentuk pada fluida yang mempunyai salinitas tinggi dengan temperatur tinggi (sekitar
300-700C). Proses pembentukkan skarn akibat urutan kejadian Isokimia metasomatisme
retrogradasi.

Dijelaskan sebagai berikut :

Isokimia merupakan transfer panas antara larutan magama dengan batuan samping,
prosesnya H2O dilepas dari intrusi dan CO2 dari batuan samping yang karbonat. Proses ini
sangat dipengaruhi oleh temperatur,komposisi dan tekstur host rocknya (sifat konduktif).

Metasomatisme, pada tahap ini terjadi eksolusi larutan magma kebatuan samping yang
karbonat sehingga terbentuk kristalisasi pada bukaan bukaan yang dilewati larutan magma.

Retrogradasi merupakan tahap dimana larutan magma sisa telah menyebar pada batuan
samping dan mencapai zona kontak dengan water falk sehingga air tanah turun dan
bercampur dengan larutan.

Berikut ini ciri ciri salah satu contoh mineral ubahan pada zona potasik yaitu Kalsit

Sifat Fisik

Secara megaskopis mineral ini berwarna putih, kuning,dan merah; kekerasan 3 skala mohs; cerat
putih; pecahan uneven/irrengular ; densitas 2.711 g/cm3; belahan 1 arah; kilap kaca, dapat ditembus
oleh cahaya.
Sifat Kimia.

Komposisi kimia yang penting C, Ca, O; merupakan anggota dari Calcite grup mineral; mengandung
unsur karbonat; rumus kimia CaCO3. Mineral ini kaya terhadap kandungan kalsium sehingga dalam
proses pelarutan dengan mineral asam ia sangat cepat beraksi.

Sifat Optik.

Sistem kristal trigonal, termasuk dalam kelas hexagonal scalenohedral, optik n = 1.640 1.660 n =
1.486.

Lingkungan Pembentukan.

Terbentuk di laut, sebagai nodul dalam batuan sedimen, selain itu juga bisa terbentuk pada urat-urat
hydrothermal sebagai mineral gang di dalam berbagai batuan beku. Umumnya berasosiasi dengan
mineral magnetit, hematit.

8. Greisen

Himpunan mineral pada greisen adalah kuarsa-muskovit (atau lipidolit) dengan sejumlah mineral
asesori seperti topas, turmalin, dan florit yang dibentuk oleh alterasi metasomatik post-magmatik granit
(Best, 1982, Stempork, 1987, dalam Sutarto, 2004).

9. Silisifikasi

Merupakan salah satu tipe alterasi hidrotermal yang paling umum dijumpai dan merupakan tipe terbaik.
Bentuk yang paling umum dari silika adalah (E-quartz, atau -quartz, rendah quartz, temperatur tinggi,
atau tinggi kandungan kuarsanya (>573C), tridimit, kristobalit, opal, kalsedon. Bentuk yang paling
umum adalah quartz rendah, kristobalit, dan tridimit kebanyakan ditemukan di batuan volkanik. Tridimit
terutama umum sebagai produk devitrivikasi gelas volkanik, terbentuk bersama alkali felspar.

Selama proses hidrotermal, silika mungkin didatangkan dari cairan yang bersirkulasi, atau mungkin
ditinggalkan di belakang dalam bentuk silika residual setelah melepaskan (leaching) dari dasar.
Solubilitas silika mengalami peningkatan sesuai dengan temperatur dan tekanan, dan jika larutan
mengalami ekspansi adiabatik, silika mengalami presipitasi, sehingga di daerah bertekanan rendah
siap mengalami pengendapan (Pirajno, 1992).
10. Serpentinisasi

Batuan yang telah ada beruabah menjadi serperite yang mineral utamanya adalah Cripiolite disamping
ada juga mineral mineral lain. Batuan semuala biasanya batuan basa ( andesitte ) yang berubah
karena proses hidrotermal maka batuan basa ini berubah menjadi serpertisasi. Misal : Geruilite di
sulawesi dari kalimantan diubah menjadi serpentinisasi. Serpentinisasi bisa pula akibat dari pada
Weathering, tetapi daerah yang teralterasi relatif terbatas kecil.

Permasalahannya, seringkali kita mendapati dalam satu contoh batuan ditemukan beberapa mineral
dari dua tipe atau lebih. Prosedur yang baik untuk tahap awal observasi batuan tersebut di atas adalah
menulis semua mineral yang tampak sebagai himpunan mineral. Apabila dalam satu batuan dijumpai
mineral-mineral klorit, kuarsa, kalsit, dan kaolinit, maka disebut sebagai himpunan mineral klorit-kuarsa-
kalsit-kaolinit (Sutarto, 2004).

Pola Alterasi (Style of Alteration)

Kuantitas alterasi pada batuan disebabkan oleh derajat dan lamanya proses alterasi. Terdapat tiga jenis
pola alterasi (Sutarto, 2004), yaitu :

a. Pervasive

Yaitu penggantian seluruh atau sebagian besar mineral pembentuk batuan. Semua mineral primer
pembentuk batuan telah mengalami alterasi, walaupun intensitasnya berbeda.

b. Selectively pervasive

Proses alterasi hanya terjadi pada mineral-mineral tertentu pada batuan. Misalnya klorit pada andesit
hanya mengganti piroksen saja, sedangkan plagioklas tidak ada yang terubah sama sekali.

c. Non-pervasive

Hanya bagian tertentu dari keseluruhan batuan yang mengalami alterasi hidrotermal.

Proporsi Mineral Alterasi

Proporsi satu mineral alterasi tertentu dalam batuan digolongkan sebgai berikut (Sutarto, 2004) :

Jarang (rare) :<1%


Sedikit (minor) : 1-5%

Sedang (moderate) : 5-10%

Banyak (major) : 10-50%

Melimpah (predominant) : >50%

Derajat Alterasi (Rank of Alteration)

Derajat alterasi terkait dengan tingginya temperatur pada saat proses alterasi berlangsung. Derajat
temperatur dicirikan oleh mineral-mineral indeks temperatur tertentu. Sebagai contoh adalah sikuen
pada mineral-mineral kalsium aluminium silikat.

Temperatur (T)

120 Mordenit (NaCaAlSi)

210 Laumonit (NaAlSiO)

250 Wairakit (CaAlSi)

300 Epidot (Ca (Al,Fe) Si)

Garnet (CaAlSi)

Intensitas Alterasi

a. Tidak terubah (unaltered) : tidak ada mineral sekunder

b. Lemah (weak) : mineral sekunder <25% volume batuan

c. Sedang (moderate) : mineral sekunder 25-75% volume batuan

d. Kuat (strong) : mineral sekunder >75% volume batuan

e. Intens (intense) : seluruh mineral primer terubah (kecuali kuarsa, zirkon, dan
apatit), tetapi tekstur primernya masih terlihat
f. Total (total) : seluruh mineral primer terubah (kecuali kuarsa, zirkon, dan
apatit), serta tekstur primer sudah tidak tampak lagi

Ukuran Mineral

Penggolongan ukuran mineral seperti yang digunakan pada batuan beku (Morrison, 1997) :

Sangat halus (very fine) : <0,05 mm

Halus (fine) : 0,05 1 mm

Sedang (medium) : 1 5 mm

Kasar (coarse) : 5 30 mm

Sangat kasar (very coarse) : >30 mm

Alterasi yang Terjadi Pada fase Hidrothermal

Setiap tipe endapan hidrothermal selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut
altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2),
kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan
hidrothermal. Sedangkan alterasi yang ditimbulkan untuk setiap tipe endapan pada berbagai batuan
dinding dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alterasi-alterasi yang terjadi pada fase hidrothermal

Keadaan Batuan dinding Hasil


alterasi

Epithermal Batuan gamping Silisifikasi

Lava Alunit, clorit, pirit, beberapa sericit,


mineral-mineral lempung

Batuan beku intrusi Klorit, epidot, kalsit, kwarsa, serisit,


mineral-mineral lempung
Mesothermal Batuan gamping
Silisifikasi

Serpih, lava Selisifikasi, mineral-


mineral lempung

Batuan beku asam Sebagian besar serisit,


kwarsa, beberapa mineral lempung

Batuan beku basa Serpentin,


epidot dan klorit

Hypothermal Batuan granit, sekis lava Greissen, topaz, mika putih, tourmalin,
piroksen, amphibole.

Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit (Fe3O4), hematit
(Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS),
wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit
(NiAs), spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa,
tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat

Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu) sulfida,
sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit
(Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral
ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.

Paragenesis endapanephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu), argentit (AgS),
golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit
(Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-
karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat)

Batas batas peralihan antara batuan batuan yang terbentuk pada kondisi hypotermal ; mesotermal
dan epitermal tidak begitu terlihat, serupa bisa diberikan dengan membandingkan kandungan
kandungan mineralnya pada endapan hypotermal, mesotermal dan epitermal, karena ada mineral yang
khas terdapat pada kondisi yang tertentu.
Disamping itu ada juga mineral mineral yang kita dapat pada semua kondisi (hypotermal ,
mesotermal dan epitermal). Misal : mineral Pirite, Chalcopirite dan kwarsa yang bisa terbentuk pada
hampir semua temperatur dari juga hampir semua batuan memungkinkan terdapatnya mineral
tersebut.

Secara umum alterasi hidrotermal akan membentuk satu Aureole hale terhadap tubuh bijih
hidrotermal ataupun Channelwey termineralisasi yang pada umumnya dapat diindentifikasi secaara
megaskopis di lapangan dan dipetakan menjadi beberapa zone subzone berdasarkan asosiasi
minerral khusus
Pustaka
1.Jensen.M.L dan Bateman A M., Economic Mineral Deposits, JohnWiley&Sons, 1980.

2.Park Jr. C.F dan Roy A., Ore Deposits, MacDiarmid Freeman Co., 1970.

3.Bateman A.M., Economic Mineral Deposits, John Wiley & Sons, 1950.

4.Lingren, Mineral Deposits, McGraw-Hill, 1950.

5.Guilbert, J.M. and Park, C.F., JR., The Geology of Ore Deposits, W.H. Freeman and Company, Now
York, 1980.

6.Park, C.F., Jr. dan MacDiarmid, R.A., Ore Deposits, second edition, W.H. Freeman and Company,
San Francisco, 1970.

7.Pirajno, F., Hydrothermal Mineral Deposits, Principles and Fundamental Concepts for the Exploration
Geologist, Springer-Verlag, Berlin, New York, London, Paris, 1992.