Anda di halaman 1dari 7

BAB 4

PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENGAMATAN
N NAMA LITERATUR
HASIL PENGAMATAN
O TANAMAN (MUSTAPA, M. ADAM, 2016)
1. Irisan
Membujur
Permukaan
Daun Kelapa
1 1
(Cocos
nucifera)
Keterangan:
Keterangan:
1. Brakisklereid
1. Brakisklereid
Perbesaran:0.25

2. Irisan
Melintang 1
Endocarpium
Biji Asam 2
Jawa 3
(Tamarindus
indica)

Keterangan: Keterangan:
1. Noktah 1. Noktah
2. Lumen 2. Lumen
3. Dinding sel 3. Dinding sel
sekunder tumbuhan
Perbesaran: 0.25
3 Daun Sukun
(Arthocarpus
communis)
2
1

Keterangan:
Keterangan:
1. Trikoma
1. Trikoma
2. Epidermis
2. Epidermis
Perbesaran:0.25

4.2 PEMBAHASAN
Dinding sel merupakan bagian sel yang bersifat mati. Dinding sel
menentukan bentuk sel serta struktur sel serta tekstur jaringan, berfungsi
sebagai penguat dan pelindung protoplasma. Berdasarkan perkembangan
dan strukturnya dibedakan menjadi tiga bagian pokok yaitu lamela tengah,
dinding primer, dan dinding sekunder. Semua sel mempunyai lamela tengah
dan dinding primer, sedangkan adanya dinding sel sekunder hanya terdapat
pada sel-sel tertentu (Robby, 2006).
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengamatan terhadap irisan
membujur permukaan daun kelapa (Cocos nucifera), irisan melintang
endocarpium biji asam jawa (Tamarindus indica), dan daun sukun
(Arthocarpus communis). Diamati beberapa sel yang mengalami penebalan
dinding pada sampel tersebut. Penebalan dinding sel terjadi secara aposisi
dan intususepsi. Aposisi yaitu cara terbentuknya lapisan penebalan yang
baru yang seolah-olah melekat pada dinding sel lama yang telah dibentuk
pada lapisan penebalan pertama. Dengan cara perlekatan tersebut mkaa
dinding sel akan tampak berlapis-lapis seperti lamela lamela penebalan.
Cara ini menjadikan ruang sel (lumen) menjadi lebih menyempit.
Intususepsi adalah cara pembentukan lapisan penebalan yang tidak
dilekatkan pada dinding atau membran lama, melainkan dengan cara
disisipkan di antara penebalan yang telah ada. Cara ini tidak
memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis seperti cara aposisi (Yayan,
1992).
Proses penebalan dinding sel terjadi karena membran plasma memiliki
enzim roset yang dapat mensintesis selulosa yang merupakan polisakarida.
Di dalam satu sel terdapat 16 enzim roset yang dapat mensintesis selulosa
sehingga membentuk fibril atau serabut. Semakin banyak benang fibril
maka mikrofibril mulai terbantuk. Setelah mikrofibril mulai tersusun banyak
maka disebut makrofibril. setelah makrofibril terbentuk lalu dinding sel
dapat mengalami penebalan secara aposisi maupun intususepsi. Makrofibril-
makrofibril tersebut membentuk beberapa lapisan di dalam dinding sel,
sehingga dengan perbedaan penyusunan makrofibril dinding sel sekunder
memiliki tiga lapisan atau lebih. Tampaknya lapisan pada dinding sekunder
sering kali terjadi karena perbedaan kepadatan serabut. Bagian-bagian yang
jumlah serabut perunit areanya lebih banyak dan lebih tebal akan berwarna
gelap. Daerah yang jumlah serabutnya tidak begitu banyak merupakan
daerah terang, serabutnya longgar, dan ruang kapiler di antara serabut besar
(Mulyani, 2006).

Irisan Membujur Permukaan Daun Kelapa (Cocos nucifera)


Untuk dapat mengamati penebalan dinding sel yang terjadi pada
kelapa (Cocos Nucifera) hal pertama yang dilakukan adalah mengiris
sampel setipis 0,1 mm. Tujuannya agar pada saat mengamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran 0.25, dapat terlihat jelas bagian-bagian dari
permukaan kelapa yang mengalami penebalan dinding (Tjitrosoepomo,
1983).
Kemudian sampel diletakkan diatas kaca preparat, ditetesi air dan
ditutupi dengan gelas obyek. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
bentuk anatomi sel dari objek yang diamati sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa gelas obyek yang tidak melekat dengan baik diatas kaca
preparat akan menyebabkan terjadinya gelembung air, sehingga akan
mengganggu ketika pengamatan dibawah mikroskop (F. Haruna, 1996).
Selanjutnya, diamati dibawah mikroskop menggunakan perbesaran
lemah dan kuat, seiring ditambahnya perbesaran pada mikroskop diamati
dan diambil gambarnya menggunakan kamera hp (Dian, 2012).
Penebalan pada dinding sel endokaprium kelapa terjadi pada jaringan
penguat yaitu jaringan sklerenkim, sel-sel pada jaringan ini mengalami
penebalan sekunder dengan zat lignin. Sel sklerenkim pada endokarpium
yaitu sklereid dimana sel-selnya dapat mengumpul menjadi jaringan keras
diantara jaringan lain yang lunak atau menyusun seluruh bangunan yang
keras. Sel sklereid dapat pula berbentuk idioblas yaitu sel yang jelas berbeda
dengan sellain yang mengelilinginya baik bentuk, ukuran, maupun tebal
dinding selnya. Bentuk sel sklereid dari endokarpium kelapa adalah
brakisklereid (sel batu) dimana bentuknya membulat, biasanya terdapat di
floem, korteks, dan kulit batang serta daging buah beberapa jenis tumbuhan.
Sel ini dikatakan sel-sel batu karena sel-sel sklereid tidak bercabang,
tidak mempunyai bentuk yang ekstrim bersifat soliter atau berkumpul.
Mempunyai lumen sel yangsangat sempit sehubungan dengan terbentuknya
penebalan-penebalan dinding yang bersifat sentrifugal. (Yayan, 1992).
Berdasarkan hasil pengamatan, tidak terlihat jelas bagian-bagian dari
sel yang mengalami penebalan. Hal ini disebabkan karena pada waktu
pengirisan sampel tidak mencapai tebal 0,1 mm.

Irisan Melintang Endocarpium Biji Asam Jawa (Tamarindus indica)


Pengamatan terhadap biji asam jawa dilakukan dengan mengiris
sampel setipis 0,1 mm. Tujuannya agar pada saat mengamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran 0.25, dapat terlihat jelas bagian-bagian dari
endocaprium biji asam jawa yang mengalami penebalan dinding
(Tjitrosoepomo, 1983).
Kemudian sampel diletakkan diatas kaca preparat, ditetesi air dan
ditutupi dengan gelas obyek. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
bentuk anatomi sel dari objek yang diamati sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa gelas obyek yang tidak melekat dengan baik diatas kaca
preparat akan menyebabkan terjadinya gelembung air, sehingga akan
mengganggu ketika pengamatan dibawah mikroskop (F. Haruna, 1996).
Selanjutnya, diamati dibawah mikroskop menggunakan perbesaran
lemah dan kuat, seiring ditambahnya perbesaran pada mikroskop diamati
dan diambil gambarnya menggunakan kamera hp (Dian, 2012).
Ekstrak biji asam jawa mengandung polisakarida alami dan tanin yang
tersusun atas D-galactosa, D-7 glukosa dan D-silosa yang merupakan
flokulan alami. Tanin adalah senyawa fenol yang larut dalam air daan dapat
mengendapkan protein dari larutan (Mishra dan Bajpai, 2005).
Berdasarkan gambar hasil pengamatan, terlihat bentuk-bentuk bulat
yang menandakan adanya noktah. Sesuai dengan teori yang ada, noktah
adalah tempat-tempat yang tetap menipis pada membran sel sewaktu
terjadinya penebalan-penebalan pada dinding sel. Keberadaan noktah pada
proses penebalan menjadi tidak terlihat jelas karena adanya pasangan
noktah, yaitu terbentuk dari noktah-noktah dua sel yang berhadapan yang
biasanya akan merupakan suatu kesatuan baik dalam struktur maupun
fungsinya (Sutrian, 2011).
Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bagian-bagian dinding sel yang
mengalami penebalan yang tidak terlalu jelas. Namun masih bisa ditentukan
bagian-bagiannya. Hal ini dapat disebabkan karena pengirisan sampel yang
tidak memenuhi syarat.

Daun Sukun (Arthocarpus communis)


Pengamatan terhadap bagian-bagian dinding sel yang mengalami penebalan
dapat dilakukan dengan mengiris sampel setipis 0,1 mm. Tujuannya agar pada
saat mengamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 0.25, dapat terlihat
jelas bagian-bagian dari permukaan daun sukun (Arthocarpus communis)
yang mengalami penebalan dinding (Tjitrosoepomo, 1983).
Kemudian sampel diletakkan diatas kaca preparat, ditetesi air dan
ditutupi dengan gelas obyek. Tujuannya adalah untuk mempertahankan
bentuk anatomi sel dari objek yang diamati sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa gelas obyek yang tidak melekat dengan baik diatas kaca
preparat akan menyebabkan terjadinya gelembung air, sehingga akan
mengganggu ketika pengamatan dibawah mikroskop (F. Haruna, 1996).
Selanjutnya, diamati dibawah mikroskop menggunakan perbesaran
lemah dan kuat, seiring ditambahnya perbesaran pada mikroskop diamati
dan diambil gambarnya menggunakan kamera hp (Dian, 2012).
Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat penebalan sel yang terjadi
kearah luar pada daun sukun yang menyebabkan terbentuknya trikoma.
Trikoma adalah rambut-rambut yang tumbuh (berasal dari kata Yunani),
asalnya adalah dari sel-sel epidermis yang bentuk, susunan serta fungsinya
memang bervariasi. Trikoma terdapat pada hampir semua organ tumbuh-
tumbuhan (pada epidermisnya). Jelasnya yaitu selama organ-organ
tumbuhan itu masih hidup. Disamping itu terdapat juga trikoma yang
hidupnya hanya sebentar. Trikoma ini biasanya tumbuh lebih dahulu
menjelang atau dalam hubungan dengan pertumbuhan organ tumbuhannya.
Ditinjau dari susunannya dapat dibedakan menjadi dua, trikoma yang
uniseluler dan multiseluler. Sedangkan menurut bentuknya trikoma juga
dibagi menjadi dua, trikoma sebagai rambut dan trikoma sebagai sisik
(Sutrian. 2004).
Beberapa sel epidermis daun atau cabang membentuk tonjolan dalam
bantuk rambut atau trikoma. Trikoma dapat tersebar dalam bentuk tunggal,
tetapi adakalanya bergerombol. Trikoma dapat terdiri dari sel tunggal atau
beberapa sel bergabung dengan berbagai bentuknya. Mulai dari bentuk
sederhana sebagai tonjolan sampai membentuk bangunan komplek yang
bercabang-cabang atau berbentuk bintang. Sel-sel penyusun trikoma dapat
berupa sel hidup atau sel mati (Fahn. 1991). Penggunaan trikoma dalam
taksonomi sangat dikenal. Beberapa famili dapat dengan mudah
diidentifikasi dengan adanya tipe atau tipe istimewa berbentuk rambut. Pada
kasus yang lain rambut itu penting untuk klasifikasi genus dan spesies dan
dalam analisis hibrid antar spesies. Secara garis besar trikoma dapat
dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu trikoma tanpa kelenjar dan
trikoma berkelenjar (Fahn. 1991).

Anda mungkin juga menyukai