Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KIMIA KELAUTAN

PENCEMARAN LIMBAH MINYAK DI WILAYAH LAUT


INDONESIA

OLEH
KELOMPOK XII

1. TRISNA ( F1C1 14 0)
2. VIESTA VALENTIN OKTAVIANUS (F1C1 14 049)
3. VIVI MUTMAINAH SAMSUDIN SAAD (F1C1 14 0)
4. WA ODE NUR SITI FATIMAH (F1C1 14 035)
5. YUSTIN (F1C1 14 0)
6. LILIS (F1C1 14 079)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil
menyelesaikan Makalah Pencemaran Limbah Minyak Di Wilayah Laut
Indonesia ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya.

Makalah ini berisikan tentang pengetahuan mengenai pencemaran laut,


sumber pencemaran,dampak pencemar dan langkah konkret untuk
mengatasi dampak pencemaran tersebut serta kebijakan-kebijakan untuk
mengatasi perihal tersebut.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT. senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin

Kendari, 21 Maret 2017

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencemaran laut merupakan suatu peristiwa masuknya material
pencemar seperti partikel kimia, limbah industry, limbah pertanian dan
perumahan, ke dalam laut yang bisa merusak lingkungan laut. Material
berbahaya tersebut memiliki dampak yang bermacam-macam dalam
perairan. Ada yang berdampak langsung, maupun tidak langsung.
Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik
tertiup angin, terhanyut, maupun melalui tumpahan. Salah satu penyebab
pencemaran laut adalah kapal yang dapat mencemari sungai dan samudera
dalam banyak cara. Misalnya melalui tumpahan minyak, air penyaring dan
residu1[1] bahan bakar. Polusi dari kapal dapat mecemari pelabuhan, sungai,
dan lautan. Kapal juga membuat polusi suara yang mengganggu kehidupan
organisme perairan, dan aire dari ballast tank yang bisa mempengaruhi suhu
air sehingga mengganggu kenyamanan organisme yang hidup dalam air.
Limbah kimia yang bersifat toxic (racun) yang masuk ke perairan laut akan
menimbulkan efek yang sangat berbahaya. Kelompok limbah kimia ini
terbagi dua, pertama kelompok racun yang sifatnya cenderung masuk terus
menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam
berat, suatu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan yang relative
tinggi dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh
logam berat yang sering mencemari adalah air raksa, timah, nikel, arsenik,
dan kadmium.
kelompok racun yang kedua adalah bahan kimia anorganik yang bisa
berbahaya bagi ekosistem laut seperti nitrogen dan fosfor. Sumber dari
limbah ini umumnya berasal dari sisa pupuk pertanian yang terhanyut
kedalam perairan, juga dari limbah rumah tangga berupa detergent yang
banyak mengandung fosfor. Senyawa kimia ini dapat menyebabkan

11.
eutrofikasi, karena senyawa ini merupakan nutrisi bagi tumbuhan air seperti
alga dan fitoplankton.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Laut ?
2. Apa Manfaat Laut?
3. Material Apa yang Masuk Dilaut?
4. Apa akibat Limbah Minyak ?
5. Bagaimana menganalisis pencemaran laut akibat limbah
minyak?
6. Bagaimana Dampak dari Limbah Minyak?
7. Bagaimana cara Penanggulangan Dari Dampak dari Limbah
Minyak?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pencemaran Laut Oleh Minyak


1. Pengertian Laut
Berdasarkan Bahasa Indonesia pengertian laut adalah kumpulan air
asin dalam jumlah yang banyak dan luas yang menggenangi dan membagi
daratan atas benua atau pulau. Jadi laut adalah merupakan air yang menutupi
permukaan tanah yang sangat luas dan umumnya mengandung garam dan
berasa asin. Biasanya air mengalir yang ada di darat akan bermuara ke laut
(Anonim, 2009).
Indonesia memiliki wilayah perairan laut yang sangat luas dan
kurang terjaga sehingga mudah mendatangkan ancaman sengketa batas
wilayah dengan negara tetangga. Untuk landas kontinen negara kita berhak
atas segala kekayaan alam yang terdapat di laut sampai dengan kedalaman
200 meter. Batas laut teritorial sejauh 12 mil dari garis dasar lurus dan
perbatasan laut zona ekonomi ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis dasar
laut (Anonim, 2009).
2. Manfaat Laut
Laut memiliki banyak fungsi/ peran/ manfaat bagi kehidupan
manusia dan makhluk hidup lainnya karena di dalam dan di atas laut
terdapat kekayaan sumber daya alam yang dapat kita manfaatkan
diantaranya yaitu :
Tempat rekreasi dan hiburan
Tempat hidup sumber makanan kita
Pembangkit listrik tenaga ombak, pasang surut, angin, dsb.
Tempat budidaya ikan, kerang mutiara, rumput laun, dll.
Tempat barang tambang berada
Salah satu sumber air minum (desalinasi)
Sebagai jalur transportasi air

Sebagai tempat cadangan air bumi


Tempat membuang sampah berbahaya (fungsi buruk)
Sebagai objek riset penelitian dan pendidikan
3. Pencemaran Laut
Pencemaran laut diartikan sebagai masuknya/ dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan
laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku
mutu dan/atau fungsinya (PP No.19/1999).
Pencemaran laut yang terjadi selama ini lebih besar disebabkan
karena kegiatan manusi. Laut adalah muara terakhir dari berbagai aliran
sungai yang ada, jadi pencemaran tersebut dapat terjadi secara langsung di
laut tapi dapat juga secara tidak langsung.
4. Bahan Pencemar Laut
Berikut adalah macam bahan pencemar yang mencemari laut di
Indonesia:
Pencemaran minyak
Pencemaran logam berat
Sampah
Pestisida
Limbah industri dan domestik
dan lain-lain
5. Sumber Pencemaran Minyak di Laut
Pencemaran minyak di laut berasal dari :
Ladang Minyak Bawah Laut;
Operasi Kapal Tanker;
Docking (Perbaikan/Perawatan Kapal);
Terminal Bongkar Muat Tengah Laut;
Tanki Ballast dan Tanki Bahan Bakar;
Scrapping Kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi
tua);
Kecelakaan Tanker (kebocoran lambung, kandas, ledakan,
kebakaran dan tabrakan);
Sumber di Darat (minyak pelumas bekas, atau cairan yang
mengandung hydrocarbon ( perkantoran & industri );
Tempat Pembersihan (dari limbah pembuangan Refinery)Pertamina
Bila ditinjau dari asalnya, maka bahan pencemar yang masuk ke
ekosistem laut dapat dibagai menjadi dua, ialah:
Yang berasal dari lautnya sendiri. Misalnya pembuangan sampah
air balast dari kapal-kapal; tumpah minyak dilaut, baik dari kapal
tangki, maupun sumur minyak; lumpur buangan dari kegiatan
pertambangan di laut.
Yang berasal dari kegiatan-kegiatan di darat. Bahan pencemar
dapat masuk ke ekosistem laut melalui udara (air borne) atau
terbawa oleh air (sungai, sistem drainage, dan lain-lainnya).
6. Bahan Buangan Cairan Minyak
Minyak tidak dapat larut dalam air, melainkan akan mengapung
diatas permukaan air. Bahan buangan cairan berminyak yang dibuang ke air
lingkungan akan mengapung menutupi permukaan air. Kalau bahan buangan
cairan berminyak mengandung senyawa yang volatil maka akan terjadi
penguapan dan luasan permukaan minyak yang menutupi permukaan air
akan menyusut. Penyusutan luasan permukaan ini tergantung pada jenis
minyaknya dan waktu. Lapisan minyak yang menutupi permukaan air dapat
juga terdegradasi oleh mikroorganisme tertentu, namun memerlukan waktu
yang cukup lama.
Lapisan minyak di permukaan air lingkungan akan mengganggu
kehidupan organisme di dalam air. Hal ini disebabkan oleh:
Lapisan minyak pada permukaan air akan menghalangi difusi
oksigen dari udara ke dalam air sehingga jumlah oksigen yang
terlarut di dalam air menjadi kurang. Kandungan oksigen yang
menurun akan mengganggu kehidupan hewan air.
Adanya lapisan minyak pada permukaan air juga akan menghalangi
masuknya sinar matahari ke dalam air sehingga fotosintesis oleh
tanaman air tidak dapat berlangsung. Akibatnya, oksigen yang
seharusnya dihasilkan pada proses fotosintesis tersebut tidak terjadi.
Kandungan oksigen dalam air jadi semakin menurun.
Tidak hanya hewan air saja yang terganggu akibat adanya lapisan
minyak pada permukaan air tersebut, tetapi burung air pun ikut
terganggu karena bulunya jadi lengket, tidak bisa mengambang lagi
akibat terkena minyak.
Penetrasi sinar dan oksigen terlarut yang menurun dengan adanya
minyak dapat mengganggu kehidupan tumbuh-tumbuhan laut,
termasuk ganggang.
Selain dari pada itu, air yang telah tercemar oleh minyak juga tidak dapat
dikonsumsi oleh manusia karena seringkali dalam cairan yang berminyak
terdapat juga zat-zat yang beracun, seperti senyawa benzen, senyawa toluen,
dan lain sebagainya.
B. Limbah Minyak
Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi
produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan,
pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak kapal laut. Limbah minyak
bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun,
menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan
bahan yang dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup,
serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya.
Limbah minyak terjadi dikarenakan oleh dua sebab utama yaitu :

1. Pengeboran Di Laut
Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan
terjadinya peledakan (blow out) di sumur minyak. Ledakan ini
mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga
menimbulkan pencemaran.
2. Tumpahan Minyak
Tumpahan minyak dilaut bersal dari kecelakaan dari kapal tanker.
Contohnya adalah tumpahan minyak terbesar yang terjadi pada tahun 2006
di lepas pantai Lebanon. Selain itu, terjadi kecelakaan Prestige pada tahun
2002 di lepas pantai Spanyol. Bencana alam seperti badai atau banjir juga
dapat menyebabkan tumpahan minyak. Sebagai contoh, pada tahun 2007 di
Kansas menyebabkan lebih dari 40.000 galon minyak mentah dari kilang
tumpah ke perairan itu.
C. Akibat Limbah Minyak
Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi
dilaut adalah :
1. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu
berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir,
tumbuhan, dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses
pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai.
2. Kerusakan biologis, bias merupakan efek letal dan subletal. Efek letal
yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel
ataupun subsel pada makhluk hidup hingga memungkinkan terjadinya
kematian. Efek subletal adalah efek yang mempengaruhi kerusakan
fisiologisdan perilaku, namun tidak mengakibatkan kematian secara
langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana
pemulihannya memakan waktu lama karena kompleksitas dari
komunitasnya.
3. Pertumbuhan fitoplankton. laut akan terhambat akibat keberadaan
senyawa beracun dalam kompnen minyak bumi, juga senyawa beracun yang
terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah fitoplankton menurun, maka
populasi ikan,udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan
tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan nilai gizi
yang tinggi.
4. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun
slick(lapisan minyak dipermukaaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-
burung laut.
D. Analisis Pencemaran Laut Akibat Tumpahan Minyak Di Laut
Beberapa efek tumpahan minyak di laut dapat dilihat dengan jelas
seperti pada pantai menjadi tidak indah lagi untuk di pandang, kematian
burung laut, ikan, dan kerang-kerangan, atau meskipun beberapa dari
organism tersebut selamat, akan tetapi menjadi berbahaya untuk dimakan.
Efek periode jangka panjang (sublethal) misalnyab perubahan karakteristik
populasi spesies laut atau struktur ekologi komunitas laut, hal ini tentu dapat
berpengaruh terhadap masyarakat pesisir yang lebih banyak
menggantungkan hidupnya disektor perikanan dan budi daya, sehingga
tumpahan minyak akan berdampak buruk terhadap upaya perbaikan
kesejahteraan nelayan.
Berikut adalah table indeks kepekaan tipe pantai terhadap tumpahan
minyak2[6].
Indeks Tipe Garis Pantai Keterangan
1 Terekspose pada puncak batuan Energy gelombang yang besar
pantai menyebabkan tumpahan minyak akan
tercuci dengan sendirinya.
2 Terekspose pada platform batu- Aksi gelombang mempercepat pencucian
batuan minyak, umumnya dalam skala mingguan.
Dalam beberapa kasus khususnya tidak
diperlukan.
3 Dataran pantai berpasir lembut Minyak biasanya membentuk lapisan tipis
pada pemukan pasir. Pencucian dilakukan
pada saat air pasang. Pada bagian pantai
yang lebih bawah minyak mudah
dibersihkan oleh aksi gelombang.
4 Pantai berpasir dengan ukuran Minyak membentuk lapisan tebal pada
sedang sampai kasar lapisan sedimen yang dapat mencapai
kedalaman sampai sekitar 1 m. pencucian
yang dilakukan dapat membahayakan
pantai dan harus dilakukan pada saat air
pasang tertinggi
5 Terekspose pada daerah pasang Minyak tidak terpenetrasi pada permukaan
surut sedimen yang kompak, tetapi secara
biologis berbahaya. Pencucian hanya
dilakukan jika kontaminan cukup berat
6 Pantai dengan campuran pasir dan Minyak terpenetrasi dan terkubur sangat
kerikil cepat, minyak dapat bertahan lama,
sehingga mempunyai dampak yang cukup
lama
7 Pantai berkerikil Minyak dapat terpenetrasi dan terkubur
cukup dalam.
8 Pantai berbatu yang terlindung Minyak menempel pada permukaan batu-
batuan dan genangan akibat pasang surut
bertahan lama karena tidak adanya

2
aktivitas gelombang.
9 Paparan pantai yang telindung Dapat membahayakan kehidupan biologis
dalam kurun waktu yang lama.
10 Rawa-rawa dan mangrove Dapat menimbulkan kerusakan ekosistem
yang cukup lama. Minyak mungkin tetap
ada sampai sekitar 10 tahun atau lebih.

Dan table efek minyak pada komunitas dan populasi laut.


NO Tipe Komunitas/Populasi Perkiraan dampak awal Perkiraan tingkat
pemulihan
1 Plankton Ringan-sedang Cepat-sedang
2 Komunitas bentik : Ringan Cepat
-Pasut berbatuan Sedang Sedang
-Pasut Berlumpur/berpasir Berat Lambat
-Daerah subtidal/offfshore
3 Ikan Ringan-sedang Cepat-sedang
4 Burung Berat Lambat
5 Mamalia laut Ringan Lambat

E. Analisis Artikel
Saat ini industri minyak dunia telah berkembang pesat, sehingga
kecelakaan-kecelakaan yang mengakibatkan tercecernya minyak dilautan
hampir tidak bisa dielakkan. Pencemaran minyak mempunyai pengaruh luas
terhadap hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup disuatu daerah.
Dari artikel yang telah dijabarkan sebelumnya maka dapat diketahui
penyebab pencemaran minyak di Laut Timor adalah akibat tumpahan
minyak dari ladang minyak Montara di Blok Atlas Barat.
Komponen minyak yang tidak dapat larut di dalam air akan
mengapung yang menyebabkan air laut berwarna hitam. Beberapa
komponen minyak tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai
deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai.
Komponen hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh pada
reproduksi, perkembangan, pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama
pada plankton, bahkan dapat mematikan ikan, dengan sendirinya dapat
menurunkan produksi ikan. Proses emulsifikasi merupakan sumber
mortalitas bagi organisme, terutama pada telur, larva, dan perkembangan
embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan tercemar.
F. Dampak Pencemaran Minyak di Laut
Secara garis besar, Dampak Pencemaran minyak dilaut dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu:

1) Dampak Langsung
Pencemaran minyak mempunyai pengaruh langsung yang luas
terhadap hewan dan tumbuh tumbuhan yang hidup disuatu daerah,
diantaranya:
a. Matinya ikan laut
Banyaknya ikan yang mati di daerah yang mengalami pencemaran
minyak di laut disebabkan minyak yang tumpah ke laut tersebut terapung
dan menutupi sebagian permukaan laut. Tertutupnya sebagian permukaan
laut tersebut mengakibatkan cahaya dan oksigen yang tersedia di dalam laut
berkurang.
Hal tersebut mengakibatkan ikan akan berenang ke permukaan laut untuk
mendapatkan oksigen. Sebagian ikan akan mati keabisan oksigen dan
sebagian lagi mengalami keracunan akibat menempelnya minyak kebadan
ikan saat ikan berenang dipermukaan laut yang sudah tercemar oleh minyak.
b. Rusaknya mangrove dan daerah air payau juga rusak
Mangrove adalah tumbuhan yang ada di pesisir yang merupakan
salah satu indikator terjadinya pencemaran air laut di suatu daerah. Salah
satunya adalah indikator untuk pencemaran minyak yang terjadi di laut.
Hutan mangrove akan mengalami kerusakan apabila laut di daerah hutan
mangrove tersebut tercemar minyak.
c. Rusaknya terumbu karang
Terumbu karang yang banyak terdapat dilaut akan mengalami
kerusakan apabila terjadi penemaran di laut, salah satunya adalah
pencemaran oleh minyak. Minyak yang terapung di permukaan laut akan
mengurangi kadar oksigen dan cahaya yang ada di dasar laut dimana
terumbu karang ada. Hal tersebut menggangu kelangsungan hidup terumbu
karang dan lama-kelamaan akan mengakibatkan kerusakan dan kematian
pada terumbu karang.

d. Tercemarnya burung laut


Minyak yang mengapung berbahaya bagi kehidupan burung laut
yang suka berenang diatas permukaan air. Tubuh burung akan tertutup
minyak. Untuk membersihkannya, mereka menjilatinya. Akibatnya mereka
banyak minum minyak dan mencemari diri sendiri.

2) Dampak Tidak Langsung


Sebagain besar dampak tak langsung biasanya sangat dirasakan dan
dialami oleh pihak manusia, diantaranya:
a. Menurunnya perekonomian nelayan dan masyarakat pesisir
Akibat rusaknya mangrove dan terumbu karang akan berdampak
pada jumlah ikan dan kepiting laut yang akan ditangkap oleh nelayan.
Selain itu banyaknya ikan yang mati tercemar limbah menambah sulitnya
tangkapan yang dihasilkan oleh nelayan. Hal tersebut akan mempengaruhi
pendapatan dari nelayan. Pendapatan akan terus berkurang seiring
banyaknya ikan yang tercemar dan mati.
b. Gangguan kesehatan pada manusia
Pencemaran minyak akan banyak berdampak kepada kesehatan
masarakat pantai. Selain minyak yang sampai di daerah pesisir akan
mengakibatkan iritasi pada kulit. Gangguan kesehatan pada manusia juga
dapat diakibatkan karena perekonomian masyarakat pantai yang semakin
menurun akibat berkurangnya tangkapan ikan dan kepiting laut, sehingga
kemampuan pembelian bahan pangan akan menurun yang berakibat
menurunya imunitas dan masyarakat pantai akan mudah mengalami gizi
buruk dan gizi kurang serta berbagai macam infeksi.
G. Penanggulangan Pencemaran Minyak di Laut
Penanggulangan pencemaran minyak di laut dapat menggunakan
beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ
burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent dan
penggunaan bahan kimia dispersan. Setiap teknik ini memiliki laju
penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.

a. Penyisihan Secara Mekanis


Penyisihan minyak secara mekanis melalui dua tahap. Tahap pertama
adalah melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms, yaitu suatu
bahan seperti pelampung yang berfungsi untuk membatasi dan mencegah
penyebaran minyak. Kemudian tahap kedua adalah melakukan pemindahan
minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang
disebut skimmer.
Upaya ini terhitung sulit dan mahal meskipun disebut sebagai
pemecahan ideal terutama untuk mereduksi minyak pada area sensitif,
seperti pantai dan daerah yang sulit dibersihkan dan pada jam-jam awal
tumpahan. Sayangnya, keberadaan angin, alur dan gelombang
mengakibatkan cara ini menemui banyak kendala.

b. In-situ burning
In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan air
sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan
laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi,
yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan
ketersediaan booms atau barrier yang tahan api.
Beberapa kendala dari in-situ burning adalah
a) Saat Pengapian
In-situ burning membutuhkan booms yang tahan api dan ignitor
untuk pelaksanaannya. Penyediaan alat-alat tersebut membutuhkan waktu
yang tidak sebentar. Ketika penyediaan alat-alat tersebut, kemungkinan
besar komponen minyak yang mudah terbakar telah mengalami evaporasi.
Hal ini menyebabkan pengapian menjadi sulit. Selain itu pembentukan
emulsi minyak dalam air dan penyebaran minyak karena angin dan arus juga
mempersulit pengapian.
b) Kondisi Optimum Pembakaran
Untuk membakar lapisan minyak pada permukaan laut perlu
ketebalan minimal 2-3mm untuk melawan efek pendinginan dari angin dan
laut. Tetapi penyebaran minyak di laut menyebabkan penipisan lapisan
minyak menjadi kurang dari ketebalan minimal. Meskipun ketebalan
minyak dapat ditingkatkan dengan menggunakan booms, tetapi itu sangat
sulit dan membutuhkan waktu. Keadaan laut dapat membatasi keberhasilan
pembakaran. Laut berombak dapat memadamkan api itu sama sekali. Selain
itu, lapisan minyak itu sendiri perlu untuk mencapai suhu yang cukup tinggi
untuk menjaga pembakaran api. Namun, minyak menjadi lebih tipis karena
volatilisasi dan penghapusan fraksi ringan, efek pendinginan dari angin dan
laut akhirnya memadamkannya api. Sebagai hasilnya sebagian besar minyak
mungkin tidak terbakar di laut.
c) Asap
Asap hitam yang dihasilkan oleh in-situ burning dapat terbawa angin
menuju ke area padat penduduk dan bisa mengganggu aktifitas. Asap yang
dihasilkan juga menyebabkan polusi udara.
d) Residu
Residu pembakaran yang tenggelam di dasar laut dapat membunuh
ikan yang ada dalam laut dan juga merusak terumbu karang.

c.Bioremediasi
Cara ketiga adalah bioremediasi yaitu mempercepat proses yang
terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga
terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang
berbahaya seperti CO2, air dan biomass.
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk
mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim
yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun
dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang
disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada
biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi
tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan
tidak beracun. Selain memiliki dampak lingkungan kecil, cara ini bisa
mengurangi dampak tumpahan secara signifikan.
Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut:
a) Biostimulasi
Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke
dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan
aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut
b) Bioaugmentasi
Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan
tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang
paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat.
Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan.
Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar
mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum
sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi,
dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing
kemungkinan sulit untuk beradaptasi.
Kekurangan dari bioremediasi hanya bisa diterapkan pada pantai
jenis tertentu, seperti pantai berpasir dan berkerikil, dan tidak efektif untuk
diterapkan di lautan karena bahan bioremediasi akan cepat diencerkan dan
hilang di laut. Meskipun bioremediasi dapat meningkatkan laju degradasi
minyak, tetapi proses tersebut masih terlalu lambat untuk mencegah
sebagian besar minyak mencapai garis pantai. Bioremediasi tidak cocok
untuk lapisan minyak yang tebal karena oksigen yang dibutuhkan hanya
tersedia di permukaan minyak saja.

d. Sorbent
Cara keempat dengan menggunakan sorbent yang bisa menyisihkan
minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan
sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini
berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah
dikumpulkan dan disisihkan.
Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik,oleofobik dan
mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan
ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput
kering, serbuk gergaji), anorganik alami (lempung, vermiculite, pasir) dan
sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon).

e. Dispersan
Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi yaitu dengan
memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga
mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan.
Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut
surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat
aktif permukaan).
Surfaktan dirancang khusus menggunakan bahan kimia yang
memiliki sifat hidrofilik (suka air) dan oleophilic (menyukai minyak)
sehingga bisa menurunkan tegangan permukaan. Gugus oleofil biasanya
biasanya adalah rantai hidrokarbon yang larut dalam minyak, sedangkan
gugus hidrofil adalah kelompok ionik yang larut dalam air.
Dispersants terdiri dari tiga kelompok komponen utama;
agen aktif permukaan (surfaktan),
pelarut (berbasis hidrokarbon dan air),
agen penstabil.
Saat dibubuhkan pada minyak yang mengapung di atas air laut,
dispersan akan berada antara permukaan minyak dan air laut. Selanjutnya,
gugus oleofil pada dispersan akan berikatan dengan minyak dan gugus
hidrofil akan berikatan dengan air. Akhirnya, tegangan permukaan antara
minyak dan air laut berkurang sehingga membantu terbentuknya droplet.
Kemungkinan droplet bisa bergabung kembali bila minyak
terdispersi secara alami. Namun, keberadaan dispersan mampu mencegah
proses penggabungan itu. Akibatnya droplet terstabilisasi. Juga, dispersan
mampu mencegah pembentukan kembali slick. Kecepatan droplet berkurang
untuk kembali mengapung ke permukaan dikarenakan ukurannya mengecil.
Oleh karenanya, droplet akan tetap berada pada kolom air pada waktu yang
cukup lama.
Dispersant memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah atau
bahkan tidak beracun bagi kehidupan laut. Menurut banyak penelitian
laboratorium di Australia, keracunan akut yang disebabkan oleh minyak
yang terdispersi biasanya bukan disebabkan oleh bahan dispersan tetapi
disebabkan oleh kandungan dalam minyak itu sendiri.
Dibandingkan cara penanggulangan yang lain, penggunaan dispersan
dalam upaya penanggulangan tumpahan minyak memeliki kelebihan yaitu:
pertama, mengurangi pengaruh negatif slick terhadap daerah pantai, habitat
sensitif mamalia, burung dan lainnya. Kedua, proses cepat dengan daerah
jangkauan yang luas dan penyisihan minyak besar. Ketiga, mempercepat
proses degradasi alami. Hal ini bisa terjadi akibat pembentukan droplet
berukuran kecil akan memperluas permukaan minyak sehingga paparan
terhadap oksigen dan bakteri meningkat. Kondisi ini menstimulasi
kolonisasi dan biodegradasi minyak terdispersi meskipun dalam kondisi
lingkungan rendah nutrien.
Keempat, tidak membutuhkan pengolahan dan disposal minyak
dikarenakan proses degradasi minyak berlangsung secara in situ, sehingga
bisa menghemat biaya. Kelima, dapat digunakan pada kondisi gelombang
tinggi dan arus laut kuat karena akan menambah keefektifan dispersi.
Kondisi ini justru menjadi kendala bila memakai teknik penyisihan secara
mekanis.
Selain berbagai kelebihan, ada kekurangan seperti pertama, potensi
menimbulkan dampak negatif bagi sejumlah organisme laut akibat efek
toksik oleh minyak terdispersi. Kedua, efektifitas dispersan terbatas oleh
waktu karena semakin lama minyak berada di permukaan laut maka akan
semakin besar jumlah minyak yang mengalami pelapukan.
Aplikasi dispersan hanya efektif pada awal-awal terjadinya
tumpahan. Tidak lebih dari 27 jam setelah kejadian. Karena keterbatasan ini
maka seringkali ditambahkan demulfiser untuk memecah emulsi.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN
1. Kasus pencemaran laut akibat dari tumpahan minyak dapat
berpengaruh pada beberapa sektor, diantaranya lingkungan pantai dan
laut, ekosistem biota pantai dan laut, dan mengganggu aktivitas
nelayan sehingga mempengaruhi kesejahteraan mereka. Pengaruh-
pengaruh tersebut antara lain dapat mengubah karakteristik populasi
spesies dan struktur ekologi komunitas laut, dapat mengganggu
proses perkembangan dan pertumbuhan serta reproduksi organisme
laut, bahkan dapat menimbulkan kematian pada organisme laut.
2. Untuk kasus pencemaran minyak antara Australia dan Indonesia,
sebaiknya digunakan jalan berunding dengan mambawa bukti-bukti
yang rill untuk menentukan seberapa parah kerusakan ekosistem di
Laut Timor dan siapa yang akan menanggung biaya penggantian
kerugian dan penetapan jumlah total kerugian, dan sebaiknya
pemerintah lebih serius dalam menanggapi kasus pencemaran minyak
ini.
DAFTAR PUSTAKA

Mukhtasor, 2007, Pencemaran Pesisir Dan Laut, Jakarta : PT. Pradnya


Paramita.
SuaraMerdeka.com
Madina.co.id
Indomaritimeinstiute.org
http://www.edmart.staff.ugm.ac.id
http://id.wikipedia.org
Anonim, 2009, Definisi/Pengertian Laut, Jenis/Macam Laut & Fungsi/Peran
/Manfaat Laut. [Serial Online], http://organisasi.org/definisi-
pengertian-laut-jenis-macam-laut-fungsi-peran-manfaat-laut, (19
April 2014).

Beri Nilai