Anda di halaman 1dari 30

NAMA : MIMI

NIM : 132015003

PENGERTIAN POLISI

Pengertian Kepolisian, menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002,


adalah Institusi Negara yang diberikan tugas, fungsi dan kewenangan
tertentu, untuk menjaga keamanan, ketertiban dan mengayomi masyarakat.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, maka jajaran


kepolisian, semakin dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang
sebaik-baiknya kepada masyarakat dan sekaligus mewujudkan ketentraman
ditengah-tengah masyarakat.

Tugas Kepolisian yang begitu mulia tersebut, maka dapat diwujudkan


apabila aparaturnya mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik,
benar dan bertanggungjawab, dengan memberikan pelayanan pada
masyarakat secara optimal.

Sehubungan dengan itu, maka Rahman Rahim, (2000:16), menyatakan


bahwa tugas yang diembang oleh institusi Kepolisian sangat berat, sehingga
sangat diperlukan aparatur yang handal, agar semua tugas-tugas dimaksud
dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif.

Tugas kepolisian adalah merupakan bagian dari pada Tugas Negara dan
untuk mencapai keseluruhannya tugas itu, maka diadakanlah pembagian
tugas agar mudah dalam pelaksanaan dan juga koordinasi, karena itulah di
bentuk organisasi polisi yang kemudian mempunyai tujuan untuk
mengamankan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat yang
berkepentingan, terutama mereka yang melakukan suatu tindak pidana.

Menurut G. Gewin (Djoko Prakoso,1987:136) Tugas Polisi adalah sebagai


berikut :
Tugas polisi adalah bagian daripada tugas negara perundang-undangan dan
pelaksanaan untuk menjamin tata tertib ketentraman dan keamanan,
menegakkan negara, menanamkan pegertian, ketaatan dan kepatuhan.

Tugas polisi dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1961 tentang


Ketentuan-Ketentuan Pokok Polisi Negara Republik Indonesia, telah
ditentukan didalamnya yakni dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1961, (1985 : 2) menyatakan sebagai berikut :

1. Kepolisian Negara Republik Indonesia, selanjutnya disebut


Kepolisian Negara ialah alat negara penegak hukum yang terutama
bertugas memelihara keamanan dalam negeri.
2. Kepolisian Negara dalam menjalankan tugasnya selalu menjunjung
tinggi hak-hak asasi rakyat dan hukum negara.

Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1974 dalam


butir 31 butir a (Djoko Prakoso.1987:183) menyebutkan tugas dari
kepolisian adalah sebagai berikut :

Kepolisian Negara Republik Indonesia disingkat Polri bertugas dan


bertanggung jawab untuk melaksanakan : segala usaha dan kegiatan sebagai
alat negara dan penegak hukum terutama dibidang pembinaan keamanan da
ketertiban masyarakat, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun
1961 dan Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1969.

Dari berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tugas


Polisi Republik Indonesia seperti yang disebutkan di atas, maka jelaslah
bahwa tugas Polisi Republik Indonesia sangat luas yang mencakup seluruh
instansi mulai dari Departemen Pertahanan Keamanan sampai pada
masyarakat kecil semua membutuhkan polisi sebagai pengaman dan
ketertiban masyarakat.

Untuk melaksanakan tugas dan membina keamanan dan ketertiban


masyarakat, Polisi Republik Indonesia berkewajiban dengan segala usaha
pekerjaan dan kegiatan untuk membina keamanan dan ketertiban
masyarakat.
Polisi sebagai pengayom masyarakat yang memberi perlindungan dan
pelayanan kepada masyarakat bagi tegaknya ketentuan peraturan
perundang-undangan, tidak terlepas dari suatu aturan yang mengikat untuk
melakukan suatu tindakan dalam pelaksanaan tugasnya yang telah
digariskan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1961 pada Bab III,
bahwa kewajiban dan wewenang kepolisian dalam menjalankan tugasnya
harus bersedia ditempatkan di mana saja dalam Wilayah Negara Republik
Indonesia.

1. Wewenang Penyidik Polri

Sebelum peneliti menguraikan lebih jauh tentang wewenang seorang


penyidik, maka sangatlah penting untuk diketahui siapa dapat yang menjadi
penyidik. Pasal 1 butir 1 KUHAP memberikan batasan tentang penyidik.

Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pegawai


Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang
untuk melakukan penyidikan.

Penyidik dalam melakukan tugas, harus memenuhi syarat-syarat


kepangkatan yang telah ditentukan. Syarat kepangkatan seorang penyidik
dalam melakukan penyidikan diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang
Pelaksanaan KUHAP Nomor 27 Tahun 1983. Adapun syarat-syarat tersebut
dijelaskan dalam Pasal 2 yang berbunyi :

1) Penyidik adalah :

1. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang sekurang-kurang


berpangkat pembantu Letnan Dua Polisi.

2. Pejabat pegawai negeri tertentu yang sekurang-kurangnya


berpangkat pengatur muda Tk. I (golongan II/b) atau yang
disamakan dengan itu.
2) Dalam sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagai dimaksud
pada ayat (1) huruf a, maka komandan sektor kepolisian bintara
dibawah pembantu letnan dua polisi karena jabatannya adalah penyidik.
3) Penyidik Sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, ditunjukan
oleh kepala kepolisian negara republik indonesia sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Wewenang penunjukkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat
dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, diangkat oleh
Menteri atas usul dari Departemen yang membawahi pegawai negeri
tersebut.
6) Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dapat
dilimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk oleh menteri.

Dari wewenang di atas dapatlah dikatakan bahwa penyidik adalah pejabat


kepolisian, baik karena ia diangkat oleh komandannya. Hal ini berarti
bahwa syarat kepangkatan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 2 ayat (1)
butir a PP. Nomor 27 Tahun 1983 tidak mutlak diterapkan dalam praktek.
Oleh karena pelaksanaan penyidik dan penyelidikan dibutuhkan jumlah
polisi (penyidik atau penyidik pembantu) yang memadai.

KUHAP memberikan ketegasan dan membedakan antara penyelidikan dan


penyidikan. Pasal 4 dan Pasal 5 KUHAP mengatur tentang pejabat yang
menjalankan kewajiban-kewajiban penyelidikan. Sedangkan Pasal 6, 7, dan
8 KUHAP dijelaskan mengenai pejabat yang menjalankan kewajiban
sebagai penyidik. Tugas penyelidikan yang dilakukan oleh penyidik
merupakan monopoli tunggal bagi Polri. Hal ini cukup beralasan untuk
menyederhanakan dan memberi kepastian kepada masyarakat siapa yang
berhak melakukan penyelidikan, kemudian menghilangkan kesimpangsiuran
penyelidik oleh aparat penegak hukum sehingga, tidak lagi terjadi tumpang
tindih, juga merupakan efisiensi tindakan penyelidikan.

Mengenai tugas dan wewenang penyelidik dapat dilihat dalam Pasal 5


KUHAP, yang berbunyi :
Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Karena kewajibannya
mempunyai wewenang :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang.


b. Mencari keterangan dan barang bukti.
c. Menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri.
d. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.

Pasal ini membedakan antara laporan dan pengaduan padahal kedua-duanya


merupakan pemberitahuan kepada yang berwajib yakni polri tentang adanya
kejahatan atau pelanggaran yang sering terjadi atau telah selesai. Perbedaan
dapat peneliti kemukakan sebagai berikut :

Pada laporan pemberitahuan tersebut merupakan hak atau kewajiban yang


harus disampaikan oleh setiap orang kepada yang berwajib, yaitu kepolisian
negara. Dalam hal yang dilaporkan merupakan tindak pidana umum. Pada
pengaduan, pemberitahuan tersebut merupakan hak atau kewajiban oleh
seorang tertentu yang disampaikan kepada yang berwajib dengan
permintaan agar yang berwajib melakukan tindakan, hal yang diadukan
merupakan tindak pidana umum.

Dari perbedaan tersebut yang terpenting adalah bagaimana sikap dan


kewajiban penyidik dalam menghadapi laporan atau pengaduan untuk
menjawab persoalan ini, Pasal 102 sampai dengan Pasal 105 sebagai berikut
:

Pasal 102 KUHAP.

a. Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang


terjadinya peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib
segera melakukan tindakan penyelidikan yang diperlukan.
b. Dalam hal tertangkap tangan tanpa menunggu perintah penyidik,
penyelidik wajib segera melakukan tindakan yang diperlukan dalam
rangka penyelidikan sebagaimana tersebut dalam Pasal 5 ayat (1)
huruf b.
c. Terhadap tindakan yang dilakukan tersebut pada Pasal 5 ayat (1), dan
ayat (2) penyelidik wajib membuat berita acara dan melaporkan
kepada penyidik daerah hukum.

Pasal 103 KUHAP.

o Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditanda


tangani oleh pelapor atau pengadu.
o Laporan atau pengadun yang diajukan secara lisan harus dicatat oleh
penyelidik dan ditanda tangani oleh prlapor atau pengadu dan
penyelidik.

Pasal 104 KUHAP:

Dalam hal melaksanakan tugas penyidikan, penyelidik wajib menunjukan


tanda pengenalnya.

Pasal 105 KUHAP:

Dalam melaksanakan tugas penyidikan, penyelidik dikoordinasi, diawasi


dan diberi petunjuk oleh penyelidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a.

Melalui jawaban tersebut di atas maka perlu diperhatikan beberapa faktor


yang sangat menentukan sikap penyelidik dalam tugas menerima laporan
dan pengaduan. Bahwa laporan dapat diajukan sembarang waktu, tetapi
pengaduan dibatasi oleh undang-undang dalam arti bahwa pengaduan tidak
dapat diajukan sembarang waktu, yaitu waktu-waktu tertentu. Bahwa
laporan dapat dilakukan oleh setiap orang sedang pengaduan hanya boleh
orang tertentu saja. Bahwa pengaduan berisikan bukan saja laporan akan
tetapi juga diikuti, permintaan pengaduan agar orang yang diadukan dituntut
menurut hukum.

Dengan demikian jelaslah kiranya faktor-faktor tersebut pada gilirannya


menentukan pula kegiatan penyelidik dalam hal mencari keterangan dan
barang bukti. Dalam hal ini keterangan apa dan barang bukti apa yang
menjadi kewajiban penyelidik untuk diselidiki, tentu tidak sembarangan.
Kewajiban penyelidik yang terdiri dari :

1. Mengenai laporan atau pengaduan, mencari keterangan dan barang


bukti sebenarnya adalah masalah pembuktian apakah ada bukti-bukti
yang dapat dipergunakan untuk mendukung penuntutan.
2. Menyuruh seorang yang dicurigai berhenti dan menanyakan serta
memeriksa tanda pengenal diri.

Bila ditelaah kewenangan tersebut serta dihubungkan dengan maksud dan


tujuan penyelidikan berdasar ketentuan undang-undang, perlulah kita
menarik pelajaran dari praktek yaitu :

a) Pelaksanaan wewenang, sebagai kelanjutan hal menerima laporan


dan pengaduan.
b) Memergoki atau keadaan tertangkap tangan.

Bilamana penyidik menerima laporan mengenai terjadinya peristiwa pidana


yang serius.

Sebagai contoh peristiwa pembunuhan sedang pelakunya telah siap untuk


melarikan diri bila keadaan menghendaki, maka penyelidik memiliki
kewenangan untuk bertindak memeriksa dan menanyakan identitas
tersangka.

Seseorang yang tertangkap tangan karena melakukan kejahatan memerlukan


perhatian tertentu untuk kasus-kasus tertentu. Karena tertangkap tangan atau
kepergok pada satu pihak merupakan peristiwa yang memperkuat
pembuktian tentang siapa yang menjadi pelaku kejahatan.

Kedua situasi di atas bila dibandingkan dengan dinamika masyarakat adalah


sedemikian rupa, sehingga polri tidak saja harus berhadapan dengan
peristiwa pidana tapi juga menjalankan tugas pencegahan dan penertiban
keamanan masyarakat. Disamping wewenang tersebut diatas, penyelidik
dapat mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.
Maksudnya adalah tindakan dari penyelidik harus memenuhi syarat-syarat
seperti, tidak bertentangan dengan aturan hukum, tindakan itu harus masuk
akal, atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan memaksa dan
menghormati, hak asasi manusia.

Selanjutnya akan dikemukakan kewajiban dan wewenang penyelidik dalam


melakukan penyelidikan. Adapun kewajiban wewenang penyelidik diatur
dalam Pasal 7 KUHAP yaitu :

1) Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a


karena kewajiban mempunyai wewenang :

1. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya


tindak pidana.

2. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian.

3. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda


pengenal diri tersangka.

4. Melakukan penagkapan, penahanan, pengeledahan dan penyitaan.

5. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.

6. Mengambil sidik jari dan memotret seorang.

7. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai saksi atau


tersangka.

8. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya


dengan pemeriksaan perkara.

9. Mengadakan penghentian penyidikan.

10. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.

2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b mempunyai


wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukum
masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada dibawah
koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1)
huruf a.
3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan
ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

Dalam hubungannya dengan kewajiban dan wewenang penyidik, dapat kita


lihat dalam Pasal 8 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 75 ayat (1), (2), (3) KUHAP.
Didalam praktek berbagai variasi dapat terjadi. Tentu pelapor atau pengadu
tidak selalu dapat langsung menemui pejabat polri yang berwenang
melakukan penyidikan. Ada langsung menghadap kepada Kepala Satuan
Reserse atau kepada anggota pemeriksa. Pejabat-pejabat itulah yang
menentukan atau memberi instruksi mengenai kelanjutan penyelidikan atau
penyidikan.

Pengertian Jaksa dan Etika Profesi Jaksa.

Pengertian Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh


undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksanaan
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta
wewenang lain berdasarkan undang-undang. Jabatan fungsional jaksa
adalah jabatan yang bersifat keahlian teknis dalam organisasi kejaksaan
yang karena fungsinya memungkinkan kelancaran pelaksanaan tugas ke-
jaksaan. Jaksa diangkat dan diberhentikan oleh Jaksa Agung yang
merupakan pimpinan dan penanggung jawab tertinggi kejaksaan yang
dipimpin, mengendalikan pelaksanaan tugas dan wewenang kejaksaan.

Pengertian Jaksa Agung adalah pejabat negera yang diangkat dan


diberhentikan oleh Presiden dengan persyaratan tertentu berdasarkan
undang-undang. Oleh karena Jaksa Agung diangkat oleh Presiden maka
dalam menjalankan tugasnya Jaksa Agung adalah menjalankan tugas negara,
karena Presiden mengangkat Jaksa Agung kedudukannya sebagai kepala
negara (kekuasaan federatif) dan bukan sebagai kepala pemerintahan
(kekuasaan eksekutif). Demikian juga jaksa yang diangkat oleh Jaksa Agung
dalam menjalankan tugasnya adalah menjalankan tugas negara dan bukan
tugas pemerintahan.
Jabatan fungsional jaksa adalah bersifat keahlian teknis yang melakukan
penuntutan. Bahwa dalam rangka mewujudkan jaksa yang memiliki
integritas kepribadian serta disiplin tinggi guna melaksanakan tugas
penegakan hukum dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran, maka
diperlukan adanya kode etik profesi jaksa. Kode etik profesi jaksa diatur
dalam peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : PER-067/A/
JA/07/2007, tentang Kode Etik Perilaku Jaksa. Pada prinsipnya dalam
melaksanakan tugas profesi, jaksa wajib :

1. Menaati kaidah hukum, peraturan perundang-undangan, dan per-


aturan kedinasan yang berlaku.
2. Menghormati prinsip cepat, sederhana, biaya ringan sesuai dengan
prosedur yang ditetapkan.
3. Mendasarkan pada keyakinan dan alat bukti yang sah untuk
mencapai keadilan dan kebenaran.
4. Bersikap mandiri, bebas dari pengaruh, tekanan atau ancaman opini
publik secara langsung atau tidak langsung.
5. Bertindak secara objektif dan tidak memihak.
6. Memberitahukan dan/atau memberikan hak-hak yang dimiliki oleh
tersangka atau terdakwa maupun korban.
7. Membangun dan memelihara hubungan fungsional antara aparat
penegak hukum dalam mewujudkan sistem peradilan pidana terpadu.
8. Mengundurkan diri dari penanganan perkara yang mempunyai
kepentingan pribadi atau keluarga, mempunyai hubungan pekerjaan,
partai atau finansial atau mempunyai nilai ekonomis secara langsung
atau tidak langsung.
9. Menyimpan dan memegang rahasia sesuatu yang seharusnya
dirahasiakan.
10. Menghormati kebebasan dan perbedaan pendapat sepanjang tidak
melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.
11. Menghormati dan melindungi hak asasi manusia dan hak-hak kebe-
basan sebagaimana yang tertera dalam peraturan perundang-undang-
an dan instrumen hak asasi manusia yang diterima secara universal.
12. Menanggapi kritik dengan arif dan bijaksana.
13. Bertanggung jawab secara internal dan berjenjang, sesuai dengan
prosedur yang ditetapkan.
14. Bertanggung jawab secara eksternal kepada publik sesuai kebijakan
pemerintah dan aspirasi masyarakat tentang keadilan dan kebenaran.
Di samping kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan di
atas, dalam melaksanakan tugas profesi, Jaksa dilarang :
1. Menggunakan jabatan dan/atau kekuasaannya untuk kepentingan
pribadi dan/atau pihak lain.
2. Merekayasa fakta-fakta hukum dalam penanganan perkara. Dalam
menentukan dasar hukum yang akan dikenakan kepada tersangka
atau terdakwa dalam proses penangan perkara harus sesuai dengan
fakta yuridis yang ada dan tidak boleh melakukan manipulasi atau
memutar balikkan fakta yang berakibat melemahkan atau
meniadakan ketentuan pidana yang seharusnya didakwakan dan
dibuktikan.
3. Menggunakan kapasitas dan otoritasnya untuk melakukan
penekanan secara fisik dan/atau psikis. Larangan untuk melakukan
penekanan dengan cara mengancam/ manakut-nakuti guna
memperoleh keuntungan pribadi atau pihak lainnya.
4. Meminta dan/atau menerima hadiah dan/atau keuntungan serta
melarang keluarganya meminta dan/atau menerima hadiah dan/atau
keuntungan sehubungan dengan jabatannya. Upaya untuk meminta
dan/atau menerima walaupun tidak ada tindak lanjutnya berupa
pemberian atau hadiah merupakan pelanggaran menurut ayat ini.
Larangan untuk meminta dan/atau menerima hadiah dan/atau
keuntungan termasuk bagi keluarga, pada atau dari pihak tertentu
dimaksudkan untuk menghindari adanya maksud-maksud tertentu
sehingga dapat memengaruhi jaksa dalam melaksanakan tugas
profesinya. Selain itu, juga dimaksudkan untuk menjaga integritas
jaksa.
5. Menangani perkara yang mempunyai kepentingan pribadi atau ke-
luarga, mempunyai hubungan pekerjaan, partai atau finansial atau
mempunyai nilai ekonomis secara langsung atau tidak langsung.
Seorang jaksa tidak boleh menangani suatu perkara di mana jaksa
tersebut memiliki hubungan keluarga, hubungan suami istri
meskipun telah bercerai, hubungan pertemanan dan hubungan
pekerjaan di luar menjalankan jabatan sebagai jaksa dengan pihak
yang sedang diproses, serta kepentingan finansial yang dapat
memengaruhi jalannya proses hukum yang sedang ditangani oleh
jaksa tersebut.
6. Bertindak diskriminatif dalam bentuk apa pun. Jaksa dengan alasan
apa pun tidak dibenarkan melakukan pembedaan perlakuan terhadap
seseorang berdasarkan agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan,
status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan
politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau
penghapusan pengakuan atau pelanggaran hak hukumnya.
7. Membentuk opini publik yang dapat merugikan kepentingan
penegakan hukum. Dalam melaksanakan tugas sebagai jaksa semata-
mata dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan, terdapat hal
yang tidak perlu diketahui oleh publik karena dapat berpengaruh
pada proses penegakan hukum, untuk itu jaksa tidak diperbolehkan
membuat pernyataan yang dapat merugikan penegakan hukum
kepada publik.
8. Memberikan keterangan kepada publik kecuali terbatas pada hal-hal
teknis perkara yang ditangani.

Jaksa sering kali didiskreditkan melalui komentar dari berbagai pihak dalam
berbagai media secara tidak objektif, tidak akurat atau kurang informasi,
dan cenderung merugikan kejaksaan, jaksa tersebut sesuai dengan kondisi
yang ada dapat memberikan keterangan hanya terbatas pada teknis perkara
yang ditangani pada tahap persidangan di pengadilan agar terdapat
informasi yang berimbang yang diterima oleh masyarakat. Keterangan yang
disampaikan tidak boleh menyangkut, informasi yang dapat merugikan
penanganan perkara. Selain itu, keterangan tidak boleh menyangkut
perkara-perkara yang lain yang tidak relevan dengan perkara yang ditangani.
Pengertian Hakim dan Etika Profesi Hakim

Pengertian Hakim adalah aparat penegak hukum atau pejabat peradilan


negara yang diberi wewenang oleh undang undang untuk mengadili atau
memutuskan suatu perkara. Di dalam Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009, tentang Kekuasaan Kehakiman, Hakim adalah
hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada
di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan
agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha
negara, dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan
peradilan tersebut. Adapun hakim konstitusi adalah hakim pada Mahkamah
Konstitusi. Hakim ad hoc adalah hakim yang bersifat sementara yang
memiliki keahlian dan pengalaman di bidang tertentu untuk memeriksa,
mengadili, dan memutus suatu perkara yang pengangkatannya diatur dalam
undang-undang.

Tugas Hakim secara fungsional di pengadilan melaksanakan dan menggali


keadilan serta berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk
dapat tercapainya peradilan yang dikehendaki undang-undang, oleh karena
itu harus menjunjung tinggi etika profesi. Profesi hakim memiliki sistem
etika yang mampu menciptakan disiplin tata kerja dan menyediakan garis
batas tata nilai yang dapat dijadikan pedoman bagi hakim untuk
menyelesaikan tugasnya dalam menjalankan fungsi dan mengemban
profesinya, serta dijadikan pedoman perilaku keutamaan moral bagi hakim,
baik dalam menjalankan fungsi profesinya maupun dalam hubungan
kemasyarakatan di luar kedinasan.

Etika Profesi Hakim telah dituangkan dalam keputusan bersama


Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Ketua Komisi Yudisial Republik
Indonesia Nomor 047/KMA/SKB/IV/2009 dan Nomor 02/SKB/P-KY/
IV/2009, tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim, yang mengatur
perilaku hakim sebagai berikut :

1. Berperilaku Adil
Pengertian adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan
memberikan yang menjadi haknya, yang didasarkan pada suatu prinsip
bahwa semua orang sama kedudukannya di depan hukum. Dengan
demikian, tuntutan yang paling mendasar dari keadilan adalah
memberikan perlakuan dan memberi kesempatan yang sama (equality
and fairness) terhadap setiap orang. Oleh karenanya, seseorang yang
melaksanakan tugas atau profesi di bidang peradilan yang memikul
tanggung jawab penegakan hukum yang adil dan benar harus selalu
berlaku adil dengan tidak membeda-bedakan orang.

2. Berperilaku Jujur
Pengertian kejujuran adalah berani menyatakan bahwa yang benar adalah
banar dan salah adalah salah. Kejujuran mendorong terbentuknya pribadi
yang ikut dan mengakibatkan kesadaran akan hakikat yang hak dan yang
batil. Dengan demikian, akan terwujud sikap pribadi yang tidak berpihak
terhadap setiap orang baik dalam persidangan maupun di luar
persidangan.

3. Berlaku Arif dan Bijaksana


Pengertian Arif dan bijaksana adalah mampu bertindak sesuai dengan
norma-norma yang hidup dalam masyarakat baik norma-norma hukum,
norma-norma keagamaan, kebiasaan-kebiasaan maupun kesusilaan
dengan memerhatikan situasi dan kondisi pada saat itu, serta mampu
memperhitungkan akibat dari tindakannya. Perilaku yang arif dan
bijaksana mendorong terbentuknya pribadi yang berwawasan luas,
mempunyai tenggang rasa yang tinggi, bersikap hati-hati, sabar, dan
santun.

4. Bersikap Mandiri
Pengertian Mandiri adalah mampu bertindak sendiri tanpa bantuan pihak
lain, bebas dari campur tangan siapa pun dan bebas dari pengaruh apa
pun.
Sikap mandiri mendorong terbentuknya perilaku hakim yang tangguh,
berpegang teguh pada prinsip dan keyakinan atas kebenaran sesuai
tuntutan moral dan ketentuan hukum yang berlaku.

5. Berintegritas Tinggi
Pengertian Integritas adalah sikap dan kepribadian yang utuh,
berwibawa, jujur dan tidak tergoyahkan. Integritas tinggi pada
hakikatnya terwujud pada sikap setia dan tangguh berpegang pada nilai-
nilai atau norma-nor- ma yang berlaku dalam melaksanakan tugas.
Integritas tinggi akan mendorong terbentuknya pribadi yang berani
menolak godaan dan segala bentuk intervensi, dengan mengedepankan
tuntutan hati nurani untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta
selalu berusaha melakukan tugas dengan cara-cara terbaik untuk
mencapai tujuan terbaik.

6. Bertanggung Jawab
Pengertian Bertanggung jawab adalah kesediaan untuk melaksanakan
sebaik-baiknya segala sesuatu yang menjadi wewenang dan tugasnya,
serta memiliki keberanian untuk menanggung segala akibat atas
pelaksanaan wewenang dan tugasnya tersebut. Rasa tanggung jawab akan
mendorong terbentuknya pribadi yang mampu menegakkan kebenaran
dan keadilan, penuh pengabdian, serta tidak menyalahgunakan profesi
yang diamanatkan.

7. Menjunjung Tinggi Harga Diri


Pengertian Harga diri adalah pada diri manusia melekat martabat dan
kehormatan yang harus dipertahankan dan dijunjung tinggi oleh setiap
orang. Prinsip menjunjung tinggi harga diri, khususnya hakim, akan men-
dorong dan membentuk pribadi yang kuat dan tangguh, sehingga
terbentuk pribadi yang senantiasa menjaga kehormatan dan martabat
sebagai aparatur peradilan.

8. Berdisiplin Tinggi
Pengertian Disiplin adalah ketaatan pada norma-norma atau kaidah-
kaidah yang diyakini sebagai panggilan luhur untuk mengemban amanah
serta kepercayaan masyarakat pencari keadilan. Disiplin tinggi akan
mendorong terbentuknya pribadi yang tertib di dalam melaksanakan
tugas, ikhlas dalam pengabdian dan berusaha untuk menjadi teladan
dalam lingkungannya, serta tidak menyalahgunakan amanah yang
dipercayakan kepadanya.
9. Berperilaku Rendah Hati
Pengertian Rendah hati adalah kesadaran dan keterbatasan kemampuan
diri, jauh dari kesempurnaan dan terhindar dari setiap bentuk
keangkuhan. Rendah hati mendorong terbentuknya sikap realistis, mau
membuka diri untuk terus belajar, menghargai pendapat orang lain,
menumbuhkembangkan sikap tenggang rasa, serta mewujudkan
kesederhanaan, penuh rasa syukur, dan ikhlas di dalam mengemban
tugas.

10. Bersikap Profesional


Pengertian Profesional adalah suatu sikap moral yang dilandasi oleh
tekad untuk melaksanakan pekerjaan yang dipilihnya dengan
kesungguhan, yang didukung oleh keahlian atas dasar pengetahuan,
keterampilan dan wawasan. Sikap profesional akan mendorong
terbentuknya pribadi yang senantiasa menjaga dan mempertahankan
mutu pekerjaan, serta berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan
kinerja, sehingga tercapai setinggi-tingginya mutu hasil pekerjaan, efektif
dan efisien.
Pengertian Advokat

Pengacara, advokat atau kuasa hukum adalah kata benda, subyek. Dalam
praktik dikenal juga dengan istilah Konsultan Hukum. Dapat berarti
seseorang yang melakukan atau memberikan nasihat (advis) dan pembelaan
mewakili bagi orang lain yang berhubungan (klien) dengan penyelesaian
suatu kasus hukum. Istilah pengacara berkonotasi jasa profesi hukum yang
berperan dalam suatu sengketa yang dapat diselesaikan di luar atau di dalam
sidang pengadilan.

Dalam profesi hukum, dikenal istilah beracara yang terkait dengan


pengaturan hukum acara dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata. Istilah pengacara
dibedakan dengan istilah Konsultan Hukum yang kegiatannya lebih ke
penyediaan jasa konsultasi hukum secara umum.
Pembelaan dilakukan oleh pengacara terhadap institusi formal (peradilan)
maupun informal (diskursus), atau orang yang mendapat sertifikasi untuk
memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Di
Indonesia, untuk dapat menjadi seorang pengacara, seorang sarjana yang
berlatar belakang Perguruan Tinggi hukum harus mengikuti pendidikan
khusus dan lulus ujian profesi yang dilaksanakan oleh suatu organisasi
pengacara. Mereka adalah ahli dalam seni advokasi, yang melibatkan
presentasi kasus di pengadilan dan pemberian saran pada setiap aspek
litigasi.

Advokat menerima pekerjaan dan biaya mereka dari pengacara, yang


mentransfer klien mereka dalam kasus-kasus yang masuk ke pengadilan.
Sementara pendukung berlatih di pengadilan Skotlandia sebagai anggota
Fakultas Advokat, mereka juga memiliki hak penonton sebelum Mahkamah
Agung Inggris dan sejumlah badan pengambilan keputusan lain seperti
pengadilan dan arbitrase.

Tugas & Tanggung jawab Advokat

Mewawancarai klien dan menyediakan mereka dengan nasihat


hukum ahli

Meneliti dan mempersiapkan kasus dan menghadirkan mereka di


pengadilan

Menulis dokumen hukum dan menyiapkan pembelaan tertulis untuk


kasus perdata

Penghubung dengan profesional lain seperti pengacara

Mengkhususkan diri dalam bidang hukum tertentu

Mewakili klien di pengadilan, pertanyaan publik, arbitrase dan


pengadilan

Mempertanyakan saksi

Negosiasi

Kualifikasi dan Pendidikan yang dibutuhkan Advokat

Lulusan fakultas Hukum/ Pasca Sarjana hukum

Interpersonal yang sangat baik, presentasi dan keterampilan


komunikasi tertulis / lisan

Kepemilikan integritas, kerahasiaan dan cara non-merugikan


Kepercayaan diri, motivasi dan ketahanan

Kesadaran hukum dan komersial

Manajemen yang sangat baik

Keterampilan akademik dan penelitian yang sangat baik

Definisi Saksi

Pembuktian tentang benar tidaknya seorang terdakwa melakukan perbuatan


yang didakwakan, merupakan bagian yang terpenting dari acara pidana.
Sebagaimana diketahui bahwa suatu keberhasilan dari suatu proses
peradilan pidana sangat bergantung dari pada alat bukti yang berhasil
dimunculkan dalam suatu proses persidangan terutama alat bukti yang
berkenaan dengan saksi. Saksi merupakan alat bukti atau unsur yang paling
penting dari sebuah proses pembuktian dalam proses persidangan suatu
perkara.

Saksi merupakan kunci utama dalam membuktikan kebenaran dalam suatu


proses persidangan karena dapat dikatakan bahwa keterangan dari saksi
merupakan alat bukti yang utama dari suatu perkara pidana sebab tidak ada
perkara pidana yang luput dari pembuktian dari keterangan saksi. Hampir
semua sumber pembuktian perkara pidana selalu bersumber dari keterangan
saksi walaupun selain dari keterangan dari saksi masih ada alat bukti yang
lain namun, pembuktian dengan menggunakan keterangan saksi masih
sangat diperlukan. Hal ini dapat dilihat dari Pasal 184 185 KUHAP yang
menerapkan keterangan saksi pada urutan pertama hal ini juga dikarenakan
keterangan saksi merupakan alat bukti yang pertama kalinya diperiksa
dalam tahap pembuktian didalam persidangan.

Saksi dalam hukum pidana dapat saja ada semenjak mulainya suatu tindak
pidana dimana tindak pidana ini mengakibatkan masyarakat merasa tidak
aman dan tidak tertib serta merasa terganggu ketentramannya. Masyarakat
menghendaki agar si pelaku dari suatu tindak pidana itu dihukum menurut
hukum yang sedang berlaku. Saksi diperlukan guna mencari suatu titik
terang atas telah terjadinya suatu tindak pidana.

Keterangan saksi sebagai alat bukti yang salah harus dibedakan apakah
termasuk keterangan saksi sebagaimana tercantum pada Pasal 184 ayat (1)
KUHAP atau sebagai petunjuk sebagaimana dimaksud Pasal 184 ayat (1)d
KUHAP.

Pengertian saksi dalam Undang - Undang Nomor 13 tahun 2006


tentang Perlindungan Saksi dan Korban ini menggunakan konsep tentang
pengertian saksi seperti yang diatur oleh KUHAP yang membedakan adalah
jika dalam KUHAP seseorang disebut sebagai saksi adalah pada tahap
penyidikan sedangkan pada Undang Undang Nomor 13 tahun 2006 ini
seseorang disebut sebagai saksi semenjak tahap penyelidikan dimulai.

Pasal 1 butir 26 dan 27 KUHAP diatur mengenai pengertian Saksi


serta Keterangan Saksi.

Pasal 1 butir 26 KUHAP menyatakan:

Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna


penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia
dengar sendiri, ia lihat sendiri dan alami sendiri.

Pasal 1 butir 27 KUHAP menyatakan:

Keterangan Saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana
yang berupa keterangan saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia
dengar sendiri dan alami sendiri dengan menyebut alasan dari
pengetahuannya itu.

Berdasarkan kajian teoretik dan praktik dapat disimpulkan bahwa menjadi


seorang saksi merupakan kewajiban hukum bagi setiap orang. Apabila orang
itu memang benar-benar mengetahui atas telah terjadinya suatu tindak
pidana. Seseorang dipanggil menjadi saksi, tetapi menolak/tidak mau hadir
di depan persidangan, saksi tersebut dapat diperintahkan supaya menghadap
ke persidangan, hal ini sesuai dengan Pasal 159 ayat (2) KUHAP.

Pasal 159 ayat (2) KUHAP menyatakan:

Dalam hal saksi tidak hadir, meskipun telah dipanggil dengan sah
dan hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk manyangka
bahwa saksi itu tidak akan mau hadir, maka hakim ketua sidang
dapat memerintahkan supaya saksi tersebut dihadapkan kepersidangan.

Keterangan seorang saksi dalam hukum pidana tidak langsung saja dapat
di jadikan alat bukti yang sah, karena begitu pentingnya keterangan seorang
saksi maka agar dapat diterima sebagai alat bukti yang sah harus lah sesuai
dengan ketentuan yang dinyatakan dalam Pasal 185 KUHAP.

Pasal 185 KUHAP:

Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan
di sidang pengadilan;
Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan
bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya;
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku
apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya;
Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri - sendiri tentang
suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang
sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang
lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian
atau keadaan tertentu;
Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran
saja, bukan merupakan keterangan saksi;
Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus
dengan sungguh - sunggguh memperhatikan:

1. Persesuaian antara keterangan saksi atau satu dengan yang lain;


2. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;
3. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk
memberi keterangan yang tertentu;
4. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada
5. umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan
itu dipercaya.

Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu


dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu
sesuai keterangan saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai
tambahan alat bukti sah yang lain.
Umumnya semua orang dapat dijadikan saksi namun, ada orang orang
tertentu yang tidak dapat dijadikan saksi yaitu terdapat pada Pasal 168
KUHAP dimana pada Pasal tersebut dijelaskan orang orang yang tidak
dapat di jadikan seorang saksi suatu perkara pidana dalam suatu proses
persidangan yaitu:
1. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke
bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau bersama-sama
sebagai terdakwa;
2. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa,
saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai
hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa
sampai derajat ketiga;

1. Suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang


bersamasama sebagai terdakwa.
Pasal 171 KUHAP ditambahkan kekecualian untuk memberikan
kesaksian dibawah sumpah yaitu:

1. Anak yang umurnya belum cukup lima belas tahun dan belum
pernah kawin;
2. Orang sakit ingatan atau sakit jiwa meskipun ingatannya baik
kembali.
Pasal 170 KUHAP yang menyatakan:

mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau


jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari
kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal
yang dipercayakan kepada mereka.

Adapun jenis jenis saksi dalam peradilan pidana yaitu:

Saksi a charge ( Memberatkan )


Pada dasarnya menurut sifat dan eksistensinya maka keterangan
saksi a charge adalah keterangan seorang saksi dengan memberatkan
terdakwa dan terdapat dalam beberapa perkara serta lazim diajukan
oleh Jaksa/Penuntut Umum. Saksi a charge ini dicantumkan
Jaksa/Penuntut Umum dalam surat dakwaannya. Hal ini dilakukan
oleh Jaksa karena nantinya di persidangan ia harus dapat
membuktikan semua tuntutan yang di jatuhkan kepada terdakwa

Saksi A de Charge ( Meringankan )


Merupakan saksi yang meringankan bagi tersangka/terdakwa atau saksi
yang tidak menguatkan bahwa tersangka itu melakukan tindak pidana. Saksi
meringankan ini diajukan oleh terdakwa pada saat persidangan di
Pengadilan. Hal ini sesuai dengan Pasal 65 KUHAP yang mengatakan
bahwa tersangka atau terdakwa berhak mengusahakan dan mengajukan
saksi dan atau sesorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan
keterangan yang menguntungkan baginya. Jaksa Penuntut Umum dapat
menyatakan keberatan terhadap saksi saksi a de charge ini namun
keberatan itu harus di sertai dengan alasan alasan yang dapat diterima.

Saksi Korban ( Mengalami sendiri )


Korban dari suatu tindak pidana berhak mengajukan laporan kepada
penyidik atau penyelidik. Korban dapat dijadikan sebagai saksi yang
umumnya disebut dengan saksi korban. Saksi korban ini dapat memberikan
keterangan mengenai kejadian atau tindak pidana yang dialaminya sendiri.

Saksi Pelapor ( Mendengar/melihat sendiri)


Saksi pelapor merupakan orang yang bukan sebagai korban tindak pidana,
tetapi ia adalah orang yang melihat sendiri, mendengar sendiri sacara
langsung kejadian itu dan bukan diketahui oleh orang lain. Orang orang
yang menjadi saksi ini adalah seseorang yang memberikan laporan kepada
aparat kepolisian bahwa telah terjadi suatu tindak pidana di suatu
tempat atau dapat juga seseorang yang berada di tempat kejadian perkara
tersebut.

Saksi Mahkota ( Yang bersama menjaadi terdakwa )


Saksi mahkota adalah saksi yang berasal dari atau diambil dari salah
seorang tersangka atau terdakwa lainnya yang bersama sama melakukan
perbuatan pidana, dan dalam hal mana kepada saksi tersebut diberikan
mahkota. Mahkota yang diberikan kepada saksi yang berstatus terdakwa
tersebut adalah dalam bentuk ditiadakan penuntutan terhadap perkaranya
atau diberikannya suatu tuntutan yang sangat ringan apabila perkaranya
dilimpahkan ke Pengadilan atau dimaafkan atas kesalahan yang pernah
dilakukan. Namun demikian kelemahan dari pemeriksaan seperti ini sering
mengakibatkan terjadinya keterangan saksi palsu, sehingga ada
kemungkinan yang timbul para terdakwa yang diperiksa menjadi saksi
mahkota akan saling memberatkan atau meringankan.

Saksi Testamonium de Auditu


Saksi Testamonium de Auditu merupakan saksi yang menerangkan tentang
apa yang didengarnya mengenai suatu tindak pidana dari orang lain.
Sebenarnya saksi Testamonium de Auditu bukan merupakan alat bukti yang
sah dalam suatu proses perkara pidana di persidangan sebab
saksi Testamonium de Auditu ini tidak melihat atau mendengar sendiri suatu
tindak pidana yang telah terjadi saksi ini hanya mendengar keterangan dari
orang lain walaupun saksi ini tidak mendengar secara langsung mengenai
telah terjadinya suatu tindak pidana tetapi saksi Testamonium de Auditu ini
perlu pula didengar oleh Hakim, walaupun tidak mempunyai nilai sebagai
bukti kesaksian, tetapi dapat memperkuat keyakinan Hakim yang bersumber
kepada dua alat bukti yang lain. Saksi Testamonium de Auditu ini dapat
dijadikan alat bukti yang sah jika tidak ada alat bukti lain.

Definisi Korban
Terjadinya suatu tindak pidana dalam masyarakat mengakibatkan adanya
korban tindak pidana dan juga pelaku tindak pidana. Dimana dalam
terjadinya suatu tindak pidana ini tentunya yang sangat dirugikan adalah
korban dari tindak pidana tersebut. Ada beberapa pengertian mengenai
korban, pengertian ini diambil dari beberapa penjelasan peraturan
perundang perundangan yaitu:

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 1 butir 2


menyatakan bahwa pengertian korban adalah:

Seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau


kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana

Menurut Resolusi Majelis Umum PBB No. 40/34 Tahun 1985 pengertian
korban adalah:

orang - orang, baik secara individual maupun kolektif, yang


menderita kerugian akibat perbuatan atau tidak berbuat yang melanggar
hukum pidana yang berlaku disuatu negara, termasuk peraturan yang
melarang penyalahgunaan kekuasaan.
Pengertian tentang korban juga dapat dilihat dalam PP Nomor 2 Tahun
2002 tentang Tata Cara Pemberian Perlindungan Kepada Saksi dan Korban
Pelanggaran HAM Berat yaitu menyatakan bahwa korban adalah orang
perseorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan sebagai
akibat pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang memerlukan
perlindungan fisik dan mental dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan
dari pihak manapun.

Korban juga dapat merupakan pihak yang sifatnya secara kolektif dan
hanya bersifat perseorangan. Sebab, akibat terjadinya suatu tindak pidana
yang dilakukan oleh terdakwa mengakibatkan jatuhnya korban yang bisa
saja tidak hanya satu orang namun bisa saja korban dari tindak pidana
tersebut lebih dari satu orang. Korban suatu tindak pidana ini dapat
melaporkan secara langsung perkara pidana yang telah menimpa dirinya
kepada pihak yang berwenang yaitu pihak kepolisian.

Korban dalam suatu tindak pidana berhak untuk medapatkan perlindungan


baik itu bagi dirinya sendiri maupun untuk keluarganya. Mardjono
Reksodipuro mengemukakan beberapa alasan mengapa korban memerlukan
hak untuk mendapatkan perlindungan diantaranya adalah:

1. sistem peradilan pidana dianggap terlalu memberikan perhatian


pada permasalahan dan peran pelaku kejahatan;
2. terdapat potensi informasi dari korban untuk memperjelas dan
melengkapi penafsiran tentang statistik kriminal melalui riset tentang
korban dan harus dipahami bahwa korbanlah yang menggerakkan
mekanisme sistem peradilan pidana;
3. semakin disadari bahwa selain korban kejahatan konvensional,
tidak kurang pentingnya untuk memberikan perhatian kepada korban
kejahatan non konvensional maupun korban penyalahgunaan
kekuasaan.
Pengertian Terdakwa dan Tersangka Terpidana Definis Alat Bukti

Pengertian Terdakwa dan TersangkaTerpidana Definis Penilaian, Alat


Bukti Keterangan Terdakwah - Menurut Pasal 1 butir 15 KUHAP terdakwa
adalah seorang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan.
Pengertian Terdakwa adalah orang yang karena perbuatan atau
keadaannya berdasarkan alat bukti minimal didakwa melakukan tindak
pidana kemudian dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (Adnan
Paslyadja, 1997: 69). Definisi Terdakwa adalah seseorang yang diduga
telah melakukan suatu tindak pidana dan ada cukup alasan untuk dilakukan
pemeriksaan di muka sidang pengadilan (J.C.T. Simorangkir 1980: 167).
Dari rumusan di atas dapat disimpulkan, bahwa unsur-unsur dari terdakwa
adalah:
1. Diduga sebagai pelaku suatu tindak pidana;
2. Cukup alasan untuk melakukan pemeriksaan atas dirinya di depan
sidang pengadilan;
3. Atau orang yang sedang dituntut, ataupun
4. Sedang diadili di sidang pengadilan (Darwan Prinst, 1998: 14-15).

Tersangka akan berubah tingkatannya menjadi terdakwa setelah ada bukti


lebih lanjut yang memberatkan dirinya dan perkaranya sudah mulai
disidangkan di Pengadilan. Kedudukannya harus dipandang sebagai subjek
dan tidak boleh diperlakukan sekehendak hati oleh aparat penegak hukum
karena ia dilindungi oleh serangkaian hak yang diatur dalam KUHAP.

Pengertian Tersangka sendiri menurut Pasal 1 butir 14 KUHAP adalah


seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti
permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.

Pengertian Alat Bukti Keterangan Terdakwa


Alat bukti keterangan terdakwa diatur secara tegas oleh Pasal 189 KUHAP,
sebagai berikut:
1. Keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang
tentang perbuatan yang dilakukan atau yang ia ketahui sendiri atau ia
alami sendiri.
2. Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat digunakan
untuk membantu menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu
didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal
yang didakwakan kepadanya.
3. Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya
sendiri.
4. Keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya,
melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain.

Menurut Pasal 189 ayat (1) KUHAP di atas, keterangan terdakwa ialah apa
yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan tentang perbuatan yang ia
lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Sehingga secara garis
besar keterangan terdakwa adalah:
1) apa yang terdakwa "nyatakan" atau "jelaskan" di sidang pengadilan,
2) dan apa yang dinyatakan atau dijelaskan itu ialah tentang perbuatan
yang terdakwa lakukan atau mengenai yang ia ketahui atau yang
berhubungan dengan apa yang terdakwa alami sendiri dalam
peristiwa pidana yang sedang diperiksa (M. Yahya Harahap, 2003:
319).
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat
sah keterangan terdakwa harus meliputi:
1. Apa yang terdakwa nyatakan di sidang pengadilan.
2. Pernyataan terdakwa meliputi:
Yang terdakwa lakukan sendiri,
Yang terdakwa ketahui sendiri,
Yang terdakwa alami sendiri.

Pasal 184 ayat (1) KUHAP mencantumkan keterangan terdakwa sebagai alat
bukti yang kelima atau terakhir setelah alat bukti petunjuk. Hal ini berbeda
dengan HIR yang menempatkan keterangan terdakwa pada urutan ketiga di
atas petunjuk, hanya saja dalam HIR "keterangan terdakwa" seperti dimuat
pada Pasal 184 ayat (1) c KUHAP, menurut Pasal 295 butir 3 HIR disebut
"pengakuan tertuduh".

Perbedaan kedua istilah ini bila ditinjau dari segi yuridis, terletak pada
pengertian "keterangan terdakwa" yang sedikit lebih luas dari istilah
"pengakuan tertuduh", karena pada istilah "keterangan terdakwa" sekaligus
meliputi "pengakuan" dan "pengingkaran", sedangkan dalam istilah
"pengakuan tertuduh", hanya terbatas pada pernyataan pengakuan itu sendiri
tanpa mencakup pengertian pengingkaran (M. Yahya Harahap, 2003: 318).

Sehingga dapat dilihat dengan jelas bahwa keterangan terdakwa sebagai


alat bukti tidak perlu sama atau berbentuk pengakuan. Semua keterangan
terdakwa hendaknya didengar. Apakah itu berupa penyangkalan, pengakuan,
ataupun pengakuan sebagian dari perbuatan atau keadaan (Andi Hamzah,
2002: 273).

Sedangkan alasan ditempatkannya keterangan terdakwa pada urutan ketiga


diatas petunjuk dalam HIR, karena suatu petunjuk dapat diperoleh dari
keterangan terdakwa, maka dalam hal yang demikian petunjuk hanya bisa
diperoleh setelah lebih dahulu memeriksa terdakwa (Adnan Paslyadja, 1997:
69).

Asas Penilaian Keterangan Terdakwa


Sudah barang tentu tidak semua keterangan terdakwa dinilai sebagai alat
bukti yang sah. Untuk menentukan sejauh mana keterangan terdakwa dapat
dinilai sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang, diperlukan
beberapa asas sebagai landasan berpijak, antara lain:

1. Keterangan itu dinyatakan di sidang pengadilan Keterangan yang


diberikan di persidangan adalah pernyataan berupa penjelasan yang
diutarakan sendiri oleh terdakwa dan pernyataan yang berupa
penjelasan atau jawaban terdakwa atas pertanyaan dari ketua sidang,
hakim anggota, dan penuntut umum atau penasihat hukum.
2. Tentang perbuatan yang terdakwa lakukan, ketahui, atau alami
sendiri
Pernyataan terdakwa meliputi:
a) Tentang perbuatan yang terdakwa lakukan sendiri.
Terdakwa sendirilah yang melakukan perbuatan itu, dan
bukan orang lain selain terdakwa.
b) Tentang apa yang diketahui sendiri oleh terdakwa.
Terdakwa sendirilah yang mengetahui kejadian itu.
Mengetahui disini berarti ia tahu tentang cara melakukan
perbuatan itu atau bagaimana tindak pidana tersebut
dilakukan. Bukan berarti mengetahui dalam arti keilmuan
yang bersifat pendapat, tetapi semata-mata pengetahuan
sehubungan dengan peristiwa pidana yang didakwakan
kepadanya.
c) Tentang apa yang dialami sendiri oleh terdakwa.
Terdakwa sendirilah yang mengalami kejadian itu, yaitu
pengalaman dalam hubungannya dengan perbuatan yang
didakwakan. Namun apabila terdakwa menyangkal
mengalami kejadian itu, maka penyangkalan demikian tetap
merupakan keterangan terdakwa.
d) Keterangan terdakwa hanya merupakan alat bukti terhadap dirinya
sendiri. Menurut asas ini, apa yang diterangkan seseorang dalam
persidangan dalam kedudukannya sebagai terdakwa, hanya dapat
dipergunakan sebagai alat bukti terhadap dirinya sendiri. Jika dalam
suatu perkara terdakwa terdiri dari beberapa orang, masing-masing
keterangan terdakwa hanya mengikat kepada dirinya sendiri. Dengan
kata lain keterangan terdakwa yang satu tidak boleh dijadikan alat bukti
bagi terdakwa lainnya (M. Yahya Harahap, 2003: 320-321).

Keterangan Terdakwa Saja Tidak Cukup Membuktikan


Kesalahannya

Asas ini ditegaskan dalam Pasal 189 ayat (4); "Keterangan terdakwa
saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan
perbuatan yang didakwakan kepadanya melainkan harus disertai dengan
alat bukti yang lain".
Pada hakikatnya asas ini hanya merupakan penegasan kembali prinsip
batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP.
Pasal 183 KUHAP telah menentukan asas pembuktian bahwa untuk
menjatuhkan hukuman pidana terhadap seorang terdakwa, kesalahannya
harus dapat dibuktikan; dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti
yang sah (M. Yahya Harahap, 2003: 322).

Keterangan Terdakwa di Luar Sidang (The Confession Outside the


Court)

Salah satu asas penilaian yang menentukan sah atau tidaknya


keterangan terdakwa sebagai alat bukti adalah bahwa keterangan itu
harus diberikan di sidang pengadilan.

Dengan asas ini dapat disimpulkan, bahwa keterangan terdakwa yang


dinyatakan di luar sidang pengadilan sama sekali tidak mempunyai nilai
sebagai alat bukti sah. Walaupun keterangan terdakwa yang dinyatakan
di luar sidang pengadilan tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti,
namun menurut ketentuan Pasal 189 ayat (2) KUHAP, keterangan
terdakwa yang diberikan di luar sidang dapat dipergunakan untuk
"membantu" menemukan alat bukti di sidang pengadilan, dengan syarat
keterangan di luar sidang didukung oleh suatu alat bukti yang sah, dan
keterangan yang dinyatakan di luar sidang sepanjang mengenai hal
yang didakwakan kepada terdakwa (M. Yahya Harahap, 2003: 323).

Bentuk keterangan yang dapat dikualifikasi sebagai keterangan


terdakwa yang diberikan di luar sidang ialah:
1. keterangan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan
2. dan keterangan itu itu dicatat dalam berita acara penyidikan,
3. serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh pejabat
penyidik dan terdakwa.

Kualifikasi di atas sesuai dengan ketentuan Pasal 75 ayat (1) huruf a jo. Ayat
(3) KUHAP.

Nilai Kekuatan Pembuktian Keterangan Terdakwa

Secara umum dapat dikatakan bahwa undang-undang tidak dapat menilai


keterangan terdakwa sebagai alat bukti yang memiliki nilai pembuktian
yang sempurna, mengikat, dan menentukan. Namun demikian, keterangan
terdakwa tetap memiliki pengaruh terhadap proses persidangan. Adapun
nilai kekuatan pembuktian alat bukti keterangan terdakwa dapat dirumuskan
sebagai berikut:

1) Sifat nilai kekuatan pembuktiannya adalah bebas


Hakim tidak terikat pada nilai kekuatan yang terdapat pada alat bukti
keterangan terdakwa, dan hakim bebas untuk menilai kebenaran
yang terkandung di dalam keterangan terdakwa. Hakim dapat
menerima atau menyingkirkan keterangan terdakwa sebagai alat
bukti dengan jalan mengemukakan alasan-alasan disertai dengan
argumentasi yang proporsional dan akomodatif.
2) Harus memenuhi batas minimum pembuktian
Sebagaimana ketentuan Pasal 189 ayat (4) yang menyebutkan,
"keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia
bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya
melainkan harus disertai dengan alat bukti yang lain". Dari ketentuan
ini jelas dapat disimak keharusan mencukupkan alat bukti
keterangan terdakwa dengan sekurang-kurangnya satu lagi alat bukti
yang lain, sehingga mempunyai nilai pembuktian yang cukup.

Penegasan Pasal 189 ayat (4) KUHAP, sejalan dan mempertegas


asas batas minimum pembuktian yang diatur dalam Pasal 183
KUHAP, yang menegaskan, bahwa tidak seorang terdakwa pun
dapat dijatuhi pidana kecuali jika kesalahan yang didakwakan
kepadanya telah dapat dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua
alat bukti yang sah.
3) Harus memenuhi asas keyakinan hakim
Sekalipun kesalahan terdakwa telah terbukti sesuai dengan asas
batas minimum pembuktian, tetapi masih perlu dibarengi dengan
"keyakinan hakim", bahwa memang terdakwa yang bersalah
melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

Asas keyakinan hakim harus melekat pada putusan yang diambilnya


sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut Pasal 183 KUHAP
yaitu "pembuktian menurut undang-undang secara negatif". Artinya,
di samping dipenuhi batas minimum pembuktian dengan alat bukti
yang sah, maka dalam pembuktian yang cukup tersebut harus
dibarengi dengan keyakinan hakim bahwa terdakwalah yang
bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya (M.
Yahya Harahap, 2003: 332-333).

Ketentuan yang terkait dengan nilai kekuatan pembuktian keterangan


terdakwa sebagaimana yang diutarakan di atas masih dapat ditambah
dengan rumusan sebagai berikut:
1. Keterangan terdakwa yang diberikan di sidang pengadilan tentang
perbuatan yang ia lakukan atau ia ketahui sendiri atau alami sendiri,
merupakan alat bukti keterangan terdakwa yang sah menurut
undang-undang.
2. Keterangan terdakwa sekalipun bersifat pengakuan atas perbuatan
pidana yang didakwakan, tetapi tidak didukung dengan alat bukti sah
lainnya, tidak cukup untuk menyatakan terdakwa telah bersalah
melakukan perbuatan yang didakwakan karena tidak memenuhi
batas minimumnya pembuktian.
3. Penyangkalan terdakwa yang melalui alat bukti lain dapat dibuktikan
sebagai kebohongan dapat diterima sebagai alat bukti petunjuk.
4. Keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang mengenai hal
yang didakwakan sepanjang bersesuaian dengan alat bukti sah
lainnya dapat berupa alat bukti petunjuk, setidak-tidaknya dapat
digunakan untuk membantu menemukan bukti di sidang (Adnan
Paslyadja, 1997: 73).

Sipir

Sipir merupakan seseorang yang diberikan tugas dengan tanggung jawab


pengawasan, keamanan, dan keselamatan narapidana di penjara. Perwira
tersebut bertanggung jawab untuk pemeliharaan, pembinaan, dan
pengendalian seseorang yang telah ditangkap dan sedang
menunggu pengadilan ketika dijebloskan maupun yang telah didakwa
melakukan tindak kejahatan dan dijatuhi hukuman dalam masa tertentu
suatu penjara. Sebagian besar perwira bekerja
padapemerintahan negara tempat mereka mengabdi, meskipun ada pada
negara-negara tertentu, sipir bekerja pada perusahaan swasta.

Di Indonesia, sipir di sebut dengan Petugas Pemasyarakatan yang


bertanggung jawab melakukan pembinaan terhadap narapidana atau tahanan
di Lapas maupunRutan (RumahTahanan). PetugasPemasyarakatan adalah
Pegawai Negeri Sipil yang bekerja sebagai pegawai negeri
sipil Kemenkumham.