Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ovarium mempunyai fungsi yang sangat penting pada reproduksi dan


menstruasi. Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan, perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling
sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker
ovarium.(1) Kista ovarium merupakan kantung penuh cairan yang tumbuh
dalam ovarium. Kista ovarium dapat timbul pada wanita yang tidak hamil dan
wanita yang hamil. Frekuensi kista ovarium pada wanita yang hamil
dilaporkan 1 dari 1000 kehamilan.(2)
Penemuan kista ovarium pada seorang wanita akan sangat ditakuti
oleh karena adanya kecenderungan menjadi ganas, tetapi kebanyakan kista
ovarium memiliki sifat yang jinak (80-84%).(1) Pada wanita usia muda
(biasanya kurang dari 40 tahun) resiko pertumbuhan menjadi ganas
berkurang, oleh karena itu kista dapat dikontrol dengan USG pelvic. Ada
beberapa yang menjadi ganas, dengan risiko terjadinya karsinoma terutama
pada wanita yang mulai menopause.(3)
Kista ovarium ditemukan pada USG transvaginal pada hampir semua
wanita premenopause dan mencapai 18% wanita postmenopause. Sebagian
besar kista ini merupakan kista fungsional dan jinak. Kista terutama matur
atau kista dermoid lebih dari 10% dari semua neoplasma ovarium. Insidens
karsinoma ovarium kira-kira 15 kasus per 100.000 wanita per tahun. Tumor-
tumor dengan potensial keganasan rendah termasuk kira-kira 20% tumor
ovarium yang ganas, sedangkan kurang dari 5% merupakan tumor germ cell
yang ganas, dan kira-kira 2% merupakan tumor sel granulosa.(5)

B. Tujuan

1
Penulisan referat ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh
tentang kista ovarium agar dapat mendiagnosa lebih dini dan penatalaksanaan
yang tepat apabila menjumpai pasien dengan kista ovarium.

I.3 Manfaat Penulisan


Diharapkan referat ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan
memberikan wawasan ilmu pengetahuan kedokteran khususnya Obstetri
dan Ginekologi.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal,


folikel de graff atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan dari epithelium ovarium.(7) Kista ovarium merupakan suatu
tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas yang
berada di ovarium. Dalam kehamilan, tumor ovarium yang dijumpai paling
sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. (8) Permukaan kista
ovarium rata dan halus, biasanya bertangkai, bilateral dan dapat menjadi besar.
Dinding kista tipis berisi cairan serosa dan berwarna kuning. Pengumpulan
cairan tersebut terjadi pada indung telur atau ovarium.(9)

B. Sifat kista

1. Kista Fisiologis
Kista fungsional merupakan kista tipe terbanyak dari kista ovarium, dan
biasa disebut kista fisiologik yang berarti tidak patogenik. Kista ini terbentuk
dari jaringan yang berubah pada saat fungsi normal menstruasi. Kista normal
ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya dalam kurun waktu 2-3
siklus menstruasi. Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan
folikelnya berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut
berukuran dibawah 4 cm, dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan

3
USG, dan dalam 3 bulan akan hilang. Jadi, kista yang bersifat fisiologis tidak
perlu operasi, karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan,
tetapi perlu diamati apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak.
(1)

2. Kista Patologis (Kanker Ovarium)


Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium. Kanker
ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker
ginekologi. Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya
bersifat tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi
metastasis, sehingga 60-70% pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini
disebut juga sebagai silent killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia
belum diketahui dengan pasti.(1)
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang
tidak disadari penderita karena kista tersebut sering muncul tanpa gejala
seperti penyakit umumnya. Itu sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan.
Gejala gejala seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut
yang terasa tidak enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup
besar. Jika sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan
melalui proses laparoskopi. (1,3)
Kista ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan
dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fisiologis yang hanya
berisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan
solid dan dapat bersifat ganas. (1)

C. Klasifikasi

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista dibedakan menjadi dua


macam, yaitu kista non-neoplastik dan kista neoplastik. (1)

1. Kista ovarium non neoplastik

4
a. Kista folikular

Kista folikular merupakan jenis tumor ovarium jinak yang paling


banyak dijumpai. Kista ini merupakan folikel yang tidak ruptur. Kista
ini menghilang secara spontan dan umumnya memiliki ukuran
bervariasi antara 3 - 8 cm. Pemindaian serial dapat mengkonfirmasi
resolusi dari kista ini.(10,11,12)

b. Kista korpus luteum

Pada kondisi normal korpus luteum mengalami degenerasi setelah


ovulasi, namun dapat menetap, dan kadang-kadang disertai perdarahan
internal. Kista korpus luteum berbentuk unilokular dengan ukuran
bervariasi antara 3 11 cm. Kista ini disebabkan karena terjadinya
penumpukan hasil cairan hasil resorpsi darah yang berasal dari
perubahan korpus hemoragikum menjadi korpus luteum. (10,11,12)

Pada ovulasi yang normal, sel-sel granulosa yang melapisi folikel


mengalami luteinisasi. Pada tahap vaskularisasi, darah akan terkumpul
di bagian sentral membentuk korpus hemoragikum. Darah tersebut akan
diresorpsi dan terbentuk korpus luteum, bila ukuran korpus luteum
lebih dari 3 cm disebut kista. Kista korpus luteum yang dapat
menimbulkan nyeri lokal dan amenore sehingga secara klinis kadang
sulit dibedakan dengan kehamilan ektopik. Kista korpus luteum dapat
menimbulkan torsi maupun ruptur sehingga menimbulkan rasa nyeri
yang hebat.(10,11,12)

c. Kista teka lutein

Kista teka lutein timbul karena adanya peningkatan gonadotropin


korionik. Kista dapat mengalami regresi beberapa bulan setelah
melahirkan. Karena ukuran yang besar maka pada saat melakukuan
salfingo-ooforektomi harus dilakukan frozen section untuk

5
menyingkirkan kemungkinan keganasan. Kista ini biasanya bilateral
dan berisi cairan berwarna jernih. Keluhan abdominal tidak begitu
nyata, meskipun terkadang dijumpai keluhan nyeri panggul. Ruptur
kista sering terjadi sehingga menyebabkan perdarahan intraperitoneal.
Kista ini dapat sembuh secara spontan setelah terapi kehamilan mola
maupun setelah penghentian pengobatan yang menyeabkan terjadinya
kista ini.(11,12)

d. Kista inklusi germinal

Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari


epitel germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada
wanita usia lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di
bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel
kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serous.(1,3)

2. Kista ovarium neoplastik

a. Kistik

1) Kistoma ovari simpleks

Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya


bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding
kista tipis dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna
kuning.pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik.(1,3)

2) Kistadenoma ovarii serosum

Berasal dari epitel permukaan ovarium, umumnya jenis ini tak


mencapai ukuran yang sangat besar, di bandingkan dengan
kistadenoma muscinosum. Pertumbuhan menjadi ganas apabila di
temukan pertumbuhan papilifer, proliferasi dan stratifikasi epitel,

6
serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel.(1,3) Kista ini merupakan kista
jinak dengan potensi menjadi ganas dan jauh lebih sering terjadi.(11,12)

3) Kistadenoma ovarii musinosum

Umumnya berbentuk multilokuler, ukurannya dapat mencapai


ukuran yang amat besar. Kista ini merupakan kista jinak dengan
potensi menjadi ganas.(11,12)

4) Kista endometroid

Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas


sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak
terletak dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium.
Akibat peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan
darah haid yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. (1,3)

5) Kista dermoid

Terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi kemudian


tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang, lemak.
Kista dapat terjadi pada kedua indung telur dan biasanya tanpa
gejala. Timbul gejala rasa sakit bila kista terpuntir/pecah. (1,3)

b. Solid

1. Fibroma ovarii

2. Leiomioma

3. Fibroadenoma

7
4. Papiloma

5. Angioma

6. Limfangioma

7. Tumor brenner

8. Tumor sisa adrenal (maskulinovo-blastoma)

E. Etiologi

Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan


pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri.
Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus
menstruasi.(1)
Ada beberapa faktor risiko yang diduga berperan dalam pembentukan kista
ovarium(10):
1. Pengobatan infertilitas
Pasien yang sedang diobati untuk infertilitas dengan induksi ovulasi
dengan gonadotropin atau bahan lainnya, seperti clomiphene citrate
atau letrozole, dapat membentuk kista ovary sebagai bagian dari
ovarian hyperstimulation syndrome.
2. Tamoxifen
Tamoxifen dapat mengakibatkan kista ovari benigna fungsional yang
biasanya timbul setelah penghentian terapi.
3. Hypothyroidism
Karena kemiripan antara subunit alpha thyroid-stimulating hormone
(TSH) dan hCG, hipotirodisme dapat menstimulasi pertumbuhan kista
ovarii.
4. Merokok

8
Risiko kista ovarii meningkat dengan merokok; resiko dari merokok
mungkin meningkat lebih jauh dengan penurunan indeks massa tubuh
(IMT)

F. Patofisiologi

Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang
disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2,8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2
cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit,
korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif.
Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar
kemudian akan mengecil secara perlahan selama kehamilan. Kista ovarium
yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu
jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista
theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH
dan HCG.(1,3)

Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang
ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini,
keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan
sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan
keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous. Tumor ovarium ganas
yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel
granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. (1,3)

G. Manifestasi Klinis

Kebanyakan kista ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda.


Sebagian besar gejala dan tanda yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan,
aktivitas hormonal atau komplikasi tumor tersebut. Gejala dan tanda tersebut

9
berupa benjolan di perut, mungkin ada keluhan rasa berat, gangguan atau
kesulitan defekasi karena desakan, udem tungkai karena tekanan pada
pembuluh balik atau limfa dan rasa sesak karena desakan diafragma ke
kranial. Letak tumor yang tersembunyi dalam rongga perut dan sangat
berbahaya dapat menjadi besar tanpa disadari oleh penderita. Pertumbuhan
primer diikuti oleh infiltrasi kejaringan sekitar yang menyebabkan berbagai
keluhan samar-samar (13) :

1. Perasaan sebah

2. Rasa nyeri pada perut bagian bawah dan panggul

3. Makan sedikit terasa cepat kenyang

4. Sering kembung

5. Nyeri senggama

6. Nafsu makan menurun

7. Rasa penuh pada perut bagian bawah

8. Gangguan miksi karena adanya tekanan pada kandung kemih dan juga
tekanan pada dubur

9. Gangguan menstruasi.

Pada umumnya tumor ovarium tidak mengubah polahaid kecuali tumor


itu sendiri mengeluarakan hormon seperti pada tumor sel granulosa
yang dapat menyebabkan hipermenorrea.

H. Diagnosa

Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui anamnesa dan


pemeriksaan fisik. Namun terkadang sulit untuk mendiagnosa kista melalui

10
anamnesa dan pemeriksaan fisik karena biasanya kista overium tidak
menunjukkan tanda dan gejala. Pemeriksaan USG masih menjadi pilihan utama
untuk mendeteksi adanya kista. Selain itu, MRI dan CT Scan bisa
dipertimbangkan tetapi tidak sering dilakukan karena pertimbangan biaya.(14)

1. Pemeriksaan penunjang

Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan


pemeriksaan.(1,14):

a. Ultrasonografi (USG)

Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan keberadaan


kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi
kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista
berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.(14)

b. Laparoskopi

Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan


melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dapat melihat ovarium,
menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan untuk biopsi.(14)

c. Pemeriksaan Tumor Marker

CA 125 atau penanda tumor (tumor marker) merupakan suatu


protein yang konsentrasinya tinggi pada sel tumor. Meskipun CA 125
juga terdapat pada berbagai jenis kanker namun konsentrasi zat ini
paling tinggi ditemukan pada kanker ovarium. CA 125 umumnya
diukur dari sampel darah yang diambil dari orang yang dicurigai
menderita kanker atau untuk memonitor keberhasilan pengobatan.
Nilai normal CA 125 bervariasi pada setiap laboratorium, namun
sebagaian besar laboratorium menggunakan angka dibawah 35 U/ml.
Beberapa keadaan yang dapat meningkatkan kadar CA 125 antara lain

11
kehamilan, endometriosis, mioma uteri, menstruasi normal, tumor
pada saluran tuba, tumor endometrium, kanker paru, kanker payudara
dan kanker pada saluran pencernaan.(13)
d. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan
dari tumor ovarium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama
dengan proses operasi, kemudian sampel difiksasi dan diperiksa
dibawah mikroskop (4)
I. Komplikasi

1. Perdarahan dalam kista


Biasanya terjadi sedikit-sedikit, sehingga berangsur-angsur
menyebabkan pembesaran kista dan menimbulkan gejala klinik yang
minimal. Akan tetapi bila perdarahan terjadi dalam jumlah banyak, akan
terjadi distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.(1)
2. Putaran tungkai
Dapat terjadi pada tumor bertangkai. Putaran tungkai menyebabkan
gangguan sirkulasi dan dapat menimbulkan rasa sakit. Terjadi
pembendungan darah dalam tumor dan terjadi perdarahan didalamnya. Jika
putaran tungkai berjalan terus akan terjadi nekrosis , jika tidak diambil akan
terjadi robekan dan perdarahan intraabdominal.(1)
3. Robekan dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, atau trauma seperti pukulan di perut atau
terjatuh. Bila terjadi robekan disertai perdarahan maka akan terjadi nyeri
yang berlangsung terus menerus. Robekan dinding pada kistadenoma
musinosum dapat mengakibatkan implantasi sel-sel kista dimana sel
tersebut mengeluarkan cairan musin yang mengisi rongga perut yang
menyebabkan perlengketan dalam rongga perut.(1)
4. Perubahan keganasan
Dapat terjadi pada beberapa kista seperti kistadenoma overii
serosinosum, kistadenoma ovarii musinosum. Oleh sebab itu setelah

12
pengangkatan perlu pemeriksaan terhadap kemungkinan perubahan
keganasan.(1)

J. Penatalaksanaan

1. Observasi

Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan


operasi dan tumor non neoplastik tidak. Tumor non neoplastik biasanya
besarnya tidak melebihi 5 cm. Pada kista yang tidak memberikan
gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm
diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau
kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan
secara spontan dan menghilang, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-
2 bulan. Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam
pertumbuhan tumor tersebut, perlu dicurigai bahwa kemungkinan tumor
besar itu bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan
operatif. Apabila terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-obatan
simptomatik seperti penghilang nyeri NSAID (1,3,4)

2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni
dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi.
Laparoskopi digunakan pada pasien dengan kista benigna, kista fungsional
atau simpleks yang memberikan keluhan. Laparotomi harus dikerjakan pada
pasien dengan resiko keganasan dan pada pasien dengan kista benigna yang
tidak dapat diangkat dengan laparaskopi. Tindakan operasi pada tumor
ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan
mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor, akan
tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu dilakukan
pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba. Jika

13
terdapat keganasan, operasi yang lebih tepat ialah histerektomi dan
pengangkatan tuba bilateral. (1,3,4)
Biasanya kista yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien
mengalami penurunan berat badan yang signifikan. Akan tetapi kepastian
suatu kista itu bersifat jinak atau ganas jika telah dilakukan pemeriksaan
Patologi Anatomi setelah dilakukan pengangkatan kista itu sendiri melalui
operasi. Biasanya untuk laparoskopi diperbolehkan pulang pada hari ke-3
atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi diperbolehkan pulang pada hari ke-8
atau ke-9.(1,3,4)
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalu screening USG
umumnya dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala
maupun tanpa gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi
anatomi untuk memastikan keganasan sel dari tumor tersebut.(1,3,4)

K. Prognosis

Prognosis dari kista jinak baik. Kematian disebabkan karena karsinoma


ovari ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan
pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang
berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.(1)

BAB III

KESIMPULAN

14
Kista adalah pembesaran suatu organ yang di dalam berisi cairan seperti
balon yang berisi air. Pada wanita organ yang paling sering terjadi kista adalah
ovarium. Berdasarkan sifat kista dapat bersifat fisiologis dan patolgis.
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista dibedakan menjadi dua macam, yaitu
kista non-neoplastik dan kista neoplastik Pemeriksaan untuk kista dapat di
lakukan dengan USG dan dengan Laparoskopi. Prognosis kista jinak sangat
baik.

DAFTAR PUSTAKA

15
1. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan., editor: Saifuddin A.B,dkk.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007

2. Sanaullah, Fawzia dan Ashwini K Trehan. Ovarian Cyst Impacted In


The Pouch of Douglas at 20 Weeks Gestation Managed by
Laparoscopic Ovarian Cystectomy: A Case Reports. Journal of Medical
Case Report. 2009

3. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC Jakarta, 2000

4. Schorge et al. Williams Gynecology. Gynecologic Oncology Section.


Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills. 2008

5. Helm, C. William. Ovarian Cyst. Medscape. 2010.

6. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC,
Wenstrom KD. Obstetri Williams Edisi ke-21 Vol. 2. Jakarta : ECG;
2004

7. Dorland N. Dalam: Hartanto H, Koesoemawati H, Salim IN, dkk (eds).


Kamus Kedokteran Dorland, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2002

8. Winkjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Ilmu Kandungan. Jakarta


: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2009

9. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta:


Media Aesculapius. 2000

10. Stoppler, Melissa Concard. Ovarian Cysts Causes, Symptoms,


Treatment. Emedicine. 2010.

11. Winkjosastro, Hanifa. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo. 2007

16
12. Patel, Pradip R. Lecture Notes Radiologi. Jakarta: Erlangga. 2007

13. Sastrawinata, Sulaiman. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi.


Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004

14. Marrinan G., Imaging in Polycystic Ovary Disease. Emedicine. 2007.

17