Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Bidang ilmu rekayasa merupakan suatu pekerjaan perencanaan, dimana data


akurat merupakan sebuah kunci kesuksesan dalam suatu pengukuran di lapangan.
Salah satu cabang ilmu rekayasa adalah cabang ilmu Teknik Geomatika yang biasa
disebut dengan ilmu kebumian. Geomatika mempelajari mengenai pemetaan muka
bumi, dengan beberapa metode pemetaan seperti terestrial, foto udara, dan citra
satelit, sehingga hasil akhir beberapa metode tersebut dapat menghasilkan sebuah
peta. Peta yang dihasilkan tersebut dilengkapi dengan sistem informasi geografis
(SIG) yang membuat peta tersebut menjadi semakin mudah untuk digunakan dalam
format digital.
Peta-peta teknik dibuat untuk merencanakan lebih lanjut dan melakukan
pekerjaan teknis. Skala dipilih dan disesuaikan dengan besar kecilnya pekerjaan yang
akan dilakukan (Soetomo Wongsotjitro, 1991). Pada umumnya peta dibuat untuk
melakukan perencanaan pengembangan dan perbaikan daerah, atau dapat juga
digunakan untuk mengidentifikasi kerugian suatu daerah tersebut karena bencana
alam, khususnya di daerah pedesaan yang masih kurang akan perhatian pemerintah.
Dalam hal ini pemetaan Indonesia dirasa masih sangat kurang relevan untuk
melakukan hal tersebut, karena skala RBI hanya mencapai 1:25000. Penggunaan peta
skala besar sangatlah penting dalam hal pembangunan maupun perbaikan suatu
daerah khususnya di pedesaan. Karena belakangan ini pemerintah sedang gencar
dalam pembangunan infrastruktur pedesaan.
Pembuatan peta situasi skala besar dapat juga digunakan sebagai bahan
pertimbangan oleh perangkat kampus dalam pembangunan wilayah, dan sebagai
acuan pembuatan peta tata guna lahan daerah tersebut, serta untuk updating peta
situasi Kampus ITN 1 , sehingga diharapkan perencanaan pengembangan kampus

1
tersebut dapat dilakukan dengan sangat baik serta mahasiswa dapat menerapkan
perkuliahan matra darat.

I.2 Tujuan dan Manfaat


Pekerjaan pemetaan ini dilaksanakan untuk merealisasikan teori pemetaan pada
materi perkuliahan matra darat serta melatih ketrampilan dan kreativitas mahasiswa
dalam melaksanakan proses pembuatan peta situasi yang dimulai dari tahap
perencanaan hingga penyajian peta situasi.

I.2.1 Tujuan
Tujuan dalam pelaksanaan pekerjaan pemetaan ini adalah mahasiswa mampu
melaksanakan prosedur pengukuran secara komprehensif meliputi perencanaan,
pengukuran, pengolahan data, penggambaran peta, dan hasil akhir berupa peta situasi
atau peta topografi skala besar untuk selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap produk
peta yang dihasilkan.

I.2.2 Manfaat
Peta situasi skala 1:1000 yang dihasilkan terletak di Kelurahan Sumbersari,
Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang diharapkan dapat digunakan oleh perangkat
kampus sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan peta tata guna lahan atau peta
situasi update dari tahun sebelumya. Manfaat lain dari pembuatan peta situasi yaitu
dapat digunakan sebagai bahan perencaan dalam perbaikan maupun pengembangan
kampus tersebut, dengan adanya peta situasi, perangkat kampus dapat mengetahui
bentuk topografi yang terdapat pada daerah tersebut.

2
I.3 Materi Pekerjaan
Pekerjaan pemetaan memiliki beberapa materi pekerjaan yamg harus dilakukan
meliputi beberapa rangkaian, diantaranya :

1. Tahap persiapan, melputi ;


a. perizinan alat dan bahan /administrasi
b. penyiapan aplikasi untuk melakukan download data pengukuran
c. pengecekan alat dengan melakukan perhitungan kesalahan kolimasi
serta indeks vertikal alat tersebut, dan
d. pemeriksanaan kelengkapan alat serta bahan yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan pemetaan
2. Tahap perencanaan, meliputi ;
a. melakukan survei pendahuluan terhadap lokasi hasil pembagian
b. menentukan perencanaan pemasangan patok pada poligon, dan
c. melakukan penggambaran sketsa awal lokasi hasil perencanaan.
3. Tahap pengukuran, meliputi ;
a. melakukan pengukuran koordinat menggunakan gps geodetik tiap titik
poligon
b. melakukan pengukuran kerangka kontrol vertikal pada poligon
c. melakukan pengukuran azimuth pengikatan
d. melakukan pengukuran poligon cabang, dan
e. melakukan pengukuran detil situasi.
4. Tahap pengolahan data, meliputi ;
a. melakukan perhitungan bowdith Kerangka Kontrol Horizontal (KKH)
b. melakukan perhitungan bowdith Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)
c. melakukan pengunduhan data hasil ukuran, baik berupa data koordinat
(x,y) maupun data raw (sudut dan jarak)
5. penggambaran peta manuskrip menggunakan kertas krungkut A1
6. penggambaran peta secara digital serta penyajian peta situasi dengan kertas
A1

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Kerangka Dasar Pemetaan

Tahap awal sebelum melakukan suatu pengukuran adalah dengan melakukan

3
penentuan titik-titik kerangka dasar pemetaan pada daerah atau areal yang akan
dilakukan pengukuran yaitu penentuan titik-titik yang ada di lapangan yang ditandai
dengan patok kayu, paku atau patok permanen yang dipasang dengan kerapatan
tertentu, fungsi dari sistem kerangka dasar pemetaan dengan penentuan titik-titik
inilah yang nantinya akan dipakai sebagai titik acuan (reference) bagi penentuan
titik-titik lainya dan juga akan dipakai sebagai titik kontrol bagi pengukuran yang
baru, (Brinker.1987). Baik tidaknya peta yang kita hasilkan tergantung pada
kerangka dasarnya. Kerangka dasar pemetaan ini nantinya juga dijadikan sebagai
ikatan untuk detil detil situasi yang nantinya akan tergambarkan obyek planimetris
dari unsur unsur permukaan bumi pada lembar peta. Dalam pengukuran kerangka
peta diwujudkan dalam bentuk titik kontrol (Bench Mark) lapangan baik itu bersifat
permanen maupun bersifat sementara.
Kerangka dasar pemetaan dibagi menjadi dua macam, yaitu kerangka kontrol
horizontal (planimetris), dan kerangka kontrol vertikal (tinggi).

II.1.1 Kerangka Kontrol Horizontal


Kerangka dasar horizontal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui
atau ditentukan posisi horizontalnya berupa koordinat pada bidang datar (X,Y )
dalam sistem proyeksi tertentu. Bila dilakukan dengan cara teristris, pengadaan
kerangka horizontal bisa dilakukan menggunakan cara triangulasi, trilaterasi atau
poligon. Pemilihan cara dipengaruhi oleh bentuk medan lapangan dan ketelitian
yang dikehendaki ( Purworhardjo, 1986 ).

Pemetaan pada pengukuran ini dilakukan menggunakan alat GPS Geodetik


yang sebelumnya telah dilakukan pembuatan desain poligon tetrtutup. Pengukuran
menggunakan GPS dimaksudkan karena keterbatasan waktu yang dipunyai sehingga
apabila menggunakan alat Total Station tidak akan memungkinkan waktunya. Selain
itu, penggunaan GPS Geodetik lebih praktis serta mudah untuk didapatkan koordinat
di lapangan secara lebih presisi.

Global Positioning System (GPS) merupakan sistem penentuan posisi yang


menggunakan teknologi satelit (Xu, 2007). GPS mulai dikembangkan pada tahun
1973 oleh Departemen Pertahanan Amerika dan mulai digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan geodesi sejak tahun 1983 (Seeber, 2003). Sistem GPS

4
memiliki 24 satelit yang ditempatkan pada 6 buah orbit dimana terdapat 4 satelit
pada masing-masing orbit (Kaplan dan Hegarty, 2006). Prinsip yang mendasari
penentuan posisi pada GPS adalah dengan mengukur jarak antara receiver dan satelit
pengamatan GPS yang telah diketahui posisinya. Melalui data posisi satelit dan jarak
antara receiver dan satelit, maka posisi dari receiver dapat ditentukan (Xu, 2007).
Sistem GPS terdiri atas tiga segmen utama, yaitu :
1. Segmen angkasa (space segment), terdiri dari satelit-satelit GPS serta roket-roket
Delta peluncur satelir dari Cape Canaveral di Florida, Amerika Serikat. Satelit
GPS dapat dianalogikan sebagai stasiun radio di angkasa, yang dilengkapi dengan
antena-antena untuk mengirim dan menerima sinyal-sinyal gelombang. Yang
kemudian sinyal-sinyal tersebut diterima oleh Receiver GPS di/dekat permukaan
Bumi, dan digunakan untuk menentukan informasi posisi, kecepatan, waktu serta
parameter-parameter turunan lainnya. Setiap satelit GPS terdiri mempunyai dua
sayap yang dilengkapi dengan sel-sel pembangkit tenaga matahari (solar panel).
Satelit juga mempunyai komponen internal seperti jam atom dan pembangkit
sinyal. Satelit GPS memiliki komponen eksternal yaitu beberapa antena yang
digunakan untuk menerima dan memancarkan sinyal-sinyal ke dan dari satelit
GPS.
2. Segmen sistem kontrol, berfungsi mengontrol dan memantau operasional semua
satelit GPS dan memastikan bahwa semua satelit berfungsi sebagaimana
mestinya. Secara spesifik tugas utama dari segmen sistem kontrol GPS adalah :
- Secara kontinyu memantau dan mengontrol sistem satelit
- Menentukan dan menjaga waktu sistem GPS
- Memprediksi ephemeris datelit serta karakteristik jam satelit
- Secara periodik meremajakan (update) navigation message dari setiap satelit
- Melakukan manuver satelit agar tetp berada dalam orbitnya, atau melakukan
relokasi untuk menggantikan satelit yang tidak sehat, seandainya diperlukan
Segmen kontrol juga berfungsi menentukan orbit dari seluruh satelit GPS yang
merupakan informasi vital untuk penentuan posisi dengan satelit.
3. Segmen pengguna, yang terdiri dari para pengguna satelit GPS, baik di darat, laut,
udara, maupun di angkasa. Dalam hal ini, alat penerima sinyal GPS (GPS
receiver) diperlukan untuk menerima dan memroses sinyal dari satelit GPS untuk

5
digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan, waktu maupun parameter turunan
lainnya. Komponen utama dari suatu receiver GPS secara umum adalah: antena
dengan pre-amplifier, pemroses sinyal, pemroses data (solusi navigasi), osilator
presisi, unit pengontrolan receiver dan pemrosesan (user and external
communication), satu daya, memori serta perekam data.
II.1.1.1 Data Pengukuran GPS. Setiap satelit GPS secara kontinyu
memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada frekuensi L-band yang dinamakan L1
dan L2. Sinyal L1 berfrekuensi 1575,42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227,60
MHz. Sinyal L1 membawa 2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (p-code,
Precise or Private Code) dan kode-C/A 9C/A-code (Clear Access or Coarse
Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A (Kahar, dkk., 1994).
Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup,
kemudian dapat diproses untuk memperoleh informasi mengenai posisi, kecepatan
ataupun waktu.
Data pengamatan dasar GPS adalah fase (carrier phase, ) dan waktu tempuh
(t) dari sinyal-sinyal L1 dan L2 (Abidin, 2007). Hasil pengamatan tersebut
diperoleh dua jenis jarak yaitu pseudorange dan carrier phase. Pseudorange adalah
jarak hasil hitungan oleh receiver GPS dari data ukuran waktu perambatan sinyal
satelit ke receiver, sedangkan carrier phase adalah beda fase yang diukur oleh
receiver GPS dengan cara mengurangkan fase sinyal pembawa yang datang dari
satelit dengan sinyal serupa yang dibangkitkan dalam receiver (Rizos, 1999 dalam
Panuntun, 2012). Persamaan pengamatan dengan pseudorange dan carrier phase
berturut-turut dinyatakan dalam persamaan (II.1) dan persamaan (II.2) (Kahar, dkk.,
1994) :

P = + c. (dt dT) + dion + dtrop + e .(II.1)


= + c. (dt dT) + . N dion + dtrop + .(II.2)
Dalam hal ini,
P : jarak pseudorange (m)
: jarak fase (m)
: jarak geometris antara pengamat dengan satelit (m)
c : kecepatan cahaya dalam ruang vakum (m/dt)

6
: panjang gelombang dari sinyal (m)
N : ambiguitas fase
e, : efek dari multipath dan noise
dt, dT : kesalahan dan offset dari jam receiver dan jam satelit (m)
dion, dtrop : bias yang disebabkan oleh refraksi ionosfer dan troposfer (m)
II.1.1.2. Penentuan Posisi Menggunakan GPS. Pada pengukuran GPS masing-
masing memiliki empat parameter yang harus ditentukan yaitu 3 parameter koordinat
x, y, z atau L, B, h dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam
osilator di satelit dengan jam di receiver GPS. Oleh karena itu, diperlukan minimal
pengukuran jarak ke empat satelit. Metode penentuan posisi dengan GPS pertama-
tama dibagi dua, yaitu metode absolut, dan metode diferensial. Masing-masing
metode dapat dilakukan dengan cara real time dan atau post-processing. Apabila
obyek yang ditentukan posisinya diam, maka metodenya disebut statik. Sebaliknya,
apabila obyek yang ditentukan posisinya bergerak, maka metodenya disebut
kinematik. Selanjutnya, metode yang lebih detail antara lain metode-metode seperti
SPP, DGPS, RTK, Survei GPS, Rapid Statik, Pseudo Kinematik, stop and go serta
beberapa metode lainnya.
Penentuan posisi menggunakan metode absolut dapat dilakukan dengan
menggunakan sebuah receiver GPS. Penentuan posisi metode ini atau biasanya
dikenal sebagai standalone positioning merupakan penentuan posisi yang paling
mendasar pada sistem GPS. Posisi titik pengamatan dapat ditentukan dengan
mengukur jarak antara receiver dan satelit GPS yang posisinya sudah diketahui.
Koordinat diperoleh dari receiver yang mengamati minimum empat buah satelit yang
masing-masing diukur jaraknya. Penentuan posisi menggunakan metode absolut
hanya menggunakan data pengukuran pseudorange sehingga menghasilkan koordinat
dengan ketelitian yang relatif rendah. Metode ini hanya digunakan untuk pekerjaan
yang mensyaratkan ketelitian yang tidak terlalu tinggi saja, semisal untuk penentuan
posisi pendekatan dalam rangka perencanaan proyek.

7
Gambar II.1. Prinsip penentuan posisi metode absolut (El-Rabbany, 2002)
Penentuan posisi metode relatif (relative positioning) atau yang biasa juga
disebut sebagai metode diferensial (differential positioning) dilakukan menggunakan
minimum dua buah receiver yang masing-masing receiver mengamati minimum
empat buah satelit. Penentuan posisi metode relatif dapat menggunakan data
pengukuran jarak pseudorange maupun carrier phase, sehingga dapat menghasilkan
koordinat dengan tingkat ketelitian yang lebih baik. Pada prinsipnya, penentuan
posisi metode relatif mengarah pada penentuan vektor antar dua titik berdiri alat
yang biasanya disebut sebagai baseline (Sunantyo, 1999 dalam Panuntun, 2012).

Gambar II.2. Prinsip penentuan posisi metode relatif (Widjajanti, 2010)

II.1.1.2.1 Metode Penentuan Posisi Statik. Pada prinsipnya survey GPS


bertumpu pada metode-metode penentuan posisi statik secara diferensial dengan
menggunakan data fase. Penentuan posisi relatif atau metode differensial adalah
menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui
koordinatnya. Pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua titik dalam selang
waktu tertentu. Selanjutnya, data hasil pengamatan diproses dan dihitung sehingga

8
akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga
dengan baseline antar titik yang diukur.
Dalam hal ini pengamatan satelit GPS umumnya dilakukan baseline per
baseline selama selang waktu tertentu (beberapa puluh menit hingga beberapa jam
tergantung tingkat ketelitian yang diinginkan) dalam suatu kerangka titik-titik yang
akan ditentukan posisinya. Karakteristik umum dari metode penentuan posisi ini
adalah sebagai berikut:
Memerlukan minimal dua receiver, satu ditempatkan pada titik yang telah
diketahui koordinatnya.
Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.
Konsep dasar adalah differencing process, dapat mengeliminir atau mereduksi
pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias.
Bisa menggunakan data pseudorange atau fase.
Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan dm.
Aplikasi utama: survei pemetaan, survei penegasan batas, survei geodesi dan
navigasi dengan ketelitian tinggi.
Pada survei GPS, pemrosesan data GPS untuk menentukan koordinat dari titik-
titik dalam
kerangka umumnya akan mencakup tiga tahapan utama, yaitu :
Pengolahan data dari setiap baseline dalam kerangka
Perataan jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat
dari titik-titik dalam kerangka
Transformasi
Pengukuran koordinat
Baselinetitik-titik tersebut dari datum WGS 84Baseline
Pengolahan ke datum yang
dibutuhkan pengguna

Bisa
Tidak
diterima
II.1.1.3 Pengolahan Data Survei GPS. Proses pengolahan data dari survey GPS
dapat digambarkan seperti berikut :
Perataan Jaring Ya

Bisa diterima Tidak

Ya Transformasi Datum dan Koordinat


Gambar II.3. Alur Pengolahan Data Survey GPS (Abidin,H.Z, 2007)

Pengolahan baseline pada dasarnya bertujuan menghitung vector baseline (dX,


dY, dZ) mengunakan data fase sinyal GPS yang dikumpulkan pada dua titik ujung
dari baseline yang bersangkutan.
Pada survey GPS, pengolahan baseline umumnya dilakukan secara beranting
satu persatu (single baseline) dari baseline ke baseline, dimulai dari suatu baseline
tetap yang telah diketahui koordinatnya, sehingga membentuk suatu jaringan
tertutup. Namun pengolahan baseline dapat juga dilakukan secara sesi per sesi
pengamatan, dimana satu sesi terdiri dari beberapa baseline (single session, multi
baseline).

10
II.1.1.1 Azimuth. Azimuth merupakan besaran sudut yang diukur dari arah
II.1.1.4
utara searah jarum jam dari sembarang meridian acuan yang besarnya berkisar antara
0 360. Azimuth berfungsi sebagai orientasi arah utara pada peta, sebagai kontrol
pada pengukuranjaringan poligon maupun dalam hitungan koordinat. (Romi Fadly,
2010). Atau dengan kata lain bahwa sudut azimuth adalah sudut yang dibentuk dari
pengamat menuju objek dengan arah utara sebagai acuannya.
Sebagai ilustrasi apabila Azimuth AB dan sudut telah diketahui. Azimuth
BC dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut :
AB = BC 180..................................................................................(II.20)

Berikut merupakan ilustrasi penentuan azimuth dengan dua titik yang sudah
diketahui koordinatnya :

Gambar II.4 Penentuan azimuth dari dua titik yang diketahui

Adapun rumus dasar yang digunakan untuk mencari azimuth apabila pada dua
buah titik A dan B masing-masing diketahui koordinatnya (XA, YA) dan (XB, YB)
maka besarnya sudut jurusan dapat ditentukan dengan rumus :
XbXa
arc tan
AB = YbYa .........

(II.21)

Tabel II.1 Kuadran Azimuth menurut Ilmu Ukur Tanah

XbXa
= arc tan YbYa

11
II.1.2 Kerangka Kontrol Vertikal
Kerangka vertikal digunakan dalam suatu pengukuran untuk menentukan beda
tinggi dan ketinggian suatu tempat/titik ( Purworaharjo, 1986 ). Pada pekerjaan
pemetaan dalam rangka pembuatan peta situasi penulis melakukan pengukuran
pengukuran kerangka vertikal sesuai pada TOR yang telah ditentukan, yaitu
melakukan pengukuran beda tinggi menggunakan metode sipat datar. Pada daerah
yang terjal atau dengan lintasan yang cukup panjang, maka untuk melakukan
penghitungan kerangka kontrol vertikal dengan sipat datar harus dibagi menjadi
beberapa slag, dalam artian daerah tersebut tidak dapat hanya dilakukan pengukuran
dalam sekali berdiri alat.
II.1.2.1 Metode sipat datar .Prinsip pengukuran beda tinggi dengan alat sipat
datar adalah menentukan beda tinggi antara dua titik dengan menghitung selisih
bacaan benang tengah rambu muka dan rambu belakang yang didirikan pada kedua
titik tersebut. Jika jarak antar titik kontrol pemetaan relatif jauh, pengukuran beda
tinggi dengan penyipat datar tak dapat dilakukan dengan satu kali berdiri alat.
(Basuki, 2006).
Syarat utama dari penyipat datar adalah garis bidik penyipat datar, yaitu garis
yang melalui titik potong benang silang dan berhimpit dengan sumbu optis teropong
harus datar. (Basuki, 2006)
Syarat pengaturannya adalah :
a. Mengatur sumbu I menjadi vertikal
b. Mengatur benang silang mendatar tegak lurus sumbu I
c. Mengatur garis bidik sejajar dengan arah nivo
Menentukan beda tinggi dengan menggunakan metode waterpassing alat
yang digunakan adalah Waterpass, penentuan ketinggian (elevasi) dengan
menggunakan waterpass ada 3 macam yaitu :

12
a. Alat di tempatkan di stasion yang di ketahui ketinggiannya

Gambar II.5 Penyipat Datar di Atas Titik

Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


h a-b = ta b.........................................................................................(II.22)
HB = HA + h a-b....................................................................................(II.23)

b. Alat sipat datar di tempatkan di antara dua stasion

Gambar II.6 Penyipat Datar Di antara Dua Titik

Keterangan :
Hab =Bt m - Bt b..................................................................................(II.24)
Hba = Bt b Bt m................................................................................(II.25)
Bila tinggi stasion A adalah Ha, maka tinggi stasion B adalah :
Hb = Ha + Hab.....................................................................................(II.26)
Hb = HA + Bt m - Bt b........................................................................(II.27)
Hb = T Bt b.......................................................................................(II.28)

13
c. Sipat datar berantai.
Hanya digunakan apabila daerah yang akan diukur terlalu panjang dan
terjal. Oleh karena itu antara dua buah titik kontrol yang berturutan dibuat
beberapa slag dengan titik-titik bantu pengukurannya dibuat secara
berantai (differential levelling) (Basuki, 2006).

Gambar II.7 Penyipat Datar Berantai

Keterangan :
A dan B :titik tetap yang akan ditentukan beda tingginya
1, 2, 3, ... n : titik-titik bantu pengukuran
m1, m2, m3, ...mn : bacaan rambu depan
b1, b2, b3, ...bn : bacaan rambu belakang
Dari gambar diatas, maka diperoleh persamaan sebagai berikut :
hAB = (b1 + b2 + b3) (m1 + m2 + m3)
= b - m........(II.29)
( h pg+ h pl)
h rata-rata = 2

...................................................................(II.30)
di
Koreksi beda ringgi = di = d x fh.....................................................

(II.31)
HB = HA + hAB dhi......................................................................(II.32)

II.2 Pengukuran Detil Situasi


Detil merupakan obyek obyek permukaan bumi yang bersifat alami atau buatan
manusia. Obyek alami diantaranya sungai, rawa, lembah, dan bukit. Sedangkan

14
untuk obyek buatan manusia diantaranya jembatan, jalan raya, rumah, selokan.
Pengambilan detil situasi tergantung pada jenis dan kegunaan peta tersebut.
Pengambilan detil situasi pada pekerjaan pemetaan ini adalah menggunakan
alat total station yang kemudian diikatkan oleh titik backsight yang telah terpasang
prisma (target), yaitu titik pemetaan yang telah dilakukan pengukuran sebelumnya.
Pengambilan detil situasi dapat di ilustrasikan pada gambar II.8

B
dm 1
h

Backsight

Gambar II.8 Pengukuran detil dengan Total Station

Pada pengukuran diatas, setelah alat selesai sentering, kemudian melakukan


pengikatan pada titik backsight dengan memasukkan hitungan Tinggi Prisma, Tinggi
Alat, dan koordinat berdiri alat. Diperoleh hitungan :

XB = X2 + d2B sin 2B.....................................................................................(II.33)


YB = Y2 + d2B cos 2B.....................................................................................(II.34)
ZB = ta + (dm sin h) tp...............................................................................(II.35)

II.3 Penggambaran Peta Digital


Pada pelaksanaan pegukuran, pekerjaan penggambaran peta digital dilakukan
menggunakan dua software untuk membantu dalam pengolahan data ukuran.
Software yang digunakan berupa AutoCAD dan ArcGIS. Penggambaran pada
AutoCAD lebih memfokuskan pada penggambaran detil planimetris, pembuatan
kontur, dan pembuatan Digital Terrain Model (DTM). Pada software ArcGIS hanya
memfokuskan pada tahap finishing peta, yaitu tahap layouting, toponimi, dan
pembuatan indeks peta.

15
BAB III
PELAKSANAAN

Pada tahap pelaksanaan ini akan dijelaskan secara rinci mengenai kegiatan
yang dilakukan dan kebutuhan yang diperlukan selama sebelum dimulainya
pekerjaan pemetaan hingga penyajian peta situasi. Berikut merupakan gambar
diagram alir dalam pelaksaan pengukuran.

Persiapan
1. Administrasi dan perizinan
2. Penyiapan aplikasi untuk download data
3. Pengecekan bahan dan peralatan

Orientasi lapangan
1. Penentuan titik kontrol pemetaan
2. Pemasangan patok
3. Penggambaran sketsa lapangan

Pengukuran Lapangan

1. GPS Topografi
2. Azimuth
3. Pol. Cabang
4. KKV

Pengolahan data

Memenuhi TOR?
Tidak Pengecekan data
hasil ukuran

Ya

Pengukuran
Evaluasi detil Penggambaran peta digital

Gambar III.1 Diagram alir tahap pelaksanaan pengukuran

16
III.1 Persiapan
Persiapan sangat penting dilakukan sebelum melaksanakan suatu pekerjaan,
sehingga diharapkan hasil akhir dalam sebuah pekerjaan tersebut dapat berjalan
sesuai target, rencana dan dapat meminimalisir faktor kesalahan. Berikut merupakan
beberapa tahap persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan pekerjaan pemetaan
peta situasi:
a. Perizinan dan administrasi. Perizinan dimaksudkan sebagai tahap awal
dalam persiapan, dimana dilakukan pengurusan perizinan terhadap alat dan
bahan yang akan digunakan dalam pengukuran
b. Penyiapan software pengukuran. Software tersebut digunakan untuk
mengunduh data hasil pengukuran lapangan
c. Peminjaman alat dan bahan yang digunakan selama melaksanakan
pekerjaan pemetaan. Peminjaman alat berdasarkan pembagian yang telah
disepakati sebelumnya kemudian melakukan pemeriksaan terhadap alat dan
bahan tersebut, dan
d. Pengecekan alat ukur. Pengecekan ini merupakan kegiatan yang sangat
penting sebelum melakukan pengukuran, sehingga diharapkan saat di
lokasi pekerjaan pemetaan tidak ada hambatan atau masalah dengan alat
ukur yang digunakan. Pengecekan dilakukan dengan melakukan cek
kesalahan indeks vertikal dan kesalahan kolimasi. Untuk prisma dilakukan
pengecekan konstanta prisma.
e. Perencanaan jadwal pelaksanaan pengukuran. Rencana pelaksanaan
kegiatan pekerjaan pemetaan berikut akan dirangkum menggunakan tabel
tatakala rencana pelaksanaan. Penggunaan tabel tersebut bertujuan sebagai
target pelaksanaan pelaksanaan yang dilakukan selama pekerjaan pemetaan
berlangsung. Penjelasan mengenai rencana kerja, dijelaskan pada tabel
tatakala yang dapat dilihat pada Tabel III.1.

Tabel III.1 Tatakala rencana pekerjaan pengukuran

17
Maret Desember
N Kegiatan Tanggal
o 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 April-2
Mei
1 Orientasi Lapangan
2 Pemasangan titik dan
pembuatan sketsa
3 Pengukuran KKH
a. Pengukuran sudut
dan Jarak
b. Pengukuran
azimuth
pengikatan
c. Pengukuran
poligon cabang
d. Perhitunagn
KKH dan Ploting
titik
4 Pengukuran KKV
a. Pengukuran beda
tinggi
b. Perhitungan beda
tinggi
6 Pengukuran detil dan spot
height
7 Editing Data
8 Ploting detil dan spot
height
10 Editing Peta
11 Uji Peta
12 Pekerjaan Studio

= Rencana pelaksanaan

III.2 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Pelaksanaan pengukuran dilakukan pada waktu dan lokasi yang berbeda.
Lokasi pengukuran dibagi atas dua lokasi berbeda, sedangkan waktu pelaksanaan
dibagi berdasarkan kegiatan yang berlangsung, dimulai dari persiapan hingga
pengolahan data ukuran digital (studio). Berikut merupakan pembahasan lokasi dan
waktu pelaksanaan pengukuran.

18
III.2.1 Lokasi Pelaksanaan
Lokasi pelaksanaan kegiatan pemetaan dibagi menjadi tiga lokasi, yaitu ;

1. Kampus Teknik Geodesi ITN sebagai lokasi penyegaran materi pekerjaan


pemetaan, peminjaman serta pengecekan alat bahan selama pekerjaan
pemetaan berlangsung serta lokasi tempat pengukuran
2. Keluraha Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru , Kota Malang sebagai
tempat pengolahan serta pengeditan data olahan hasil pengukuran.
3. Kampus Teknik ITN dan tempat tinggal masing masing sebagai lokasi
pembuatan dan penyajian peta situasi digital.

III.2.2 Waktu Pelaksanaan


Waktu pelaksanaan dalam kegiatan pemetaan disajikan dalam Tabel III.2.

Tabel III.2 Waktu pelaksanaan pengukuran

No Kegiatan Tanggal
1 Persiapan 13 14 Desember 2016
2 Pelaksanaan pengukuran lapangan 14 24 Desember 2016
3 Pengolahan data ukuran lapangan 25 Desember 13 Januari
(studio) 2016

III.3 Bahan dan Peralatan


Menunjang pelaksanaan pengukuran, maka dibutuhkan bahan serta
perlengkapan yang digunakan untuk mempermudah dan membantu terlaksana nya
pelaksanaan pengukuran. Berikut merupakan bahan dan peralatan yang digunakan
dalam pelaksanaan pengukuran yang dilaksanakan di Kecamatan Pengasih,
Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

III.3.1 Bahan dan Perlengkapan


a. Patok kayu 3x5x35 cm sebanyak 20 buah untuk titik perapatan (Regu)
b. Paku Payung
c. Palu
d. Tas Lapangan
e. Alat tulis, formulir data lapangan, dan kertas sketsa lapangan
f. Media penyimpanan/backup data (flashdisk, hardisk)
g. Laptop ( 1 buah tiap regu)
h. Printer
i. Sticker kelompok
j. Premark

19
III.3.2 Peralatan
a. Total Station Nikkon DTM 322 dilengkapi batery cadangan, charger,
dan kabel USB 1unit
b. Reflektor dengan tribach 2 buah
c. Sipat datar otomatis 1 unit
d. Rambu ukur 2 buah
e. Reflektor dengan tongkat 2 buah
f. Rol meter 2 buah
g. Statif 3 buah
h. Payung, jas hujan

III.4 Pelaksanaan Pengukuran


Tahapan pelaksanaan pengukuran terdapat beberapa yang sangat penting,
diantaranya yaitu Orientasi lapangan, pengukuran topografi menggunakan GPS
Geodetik, pengukuran KKH menggunakan Waterpass, pengukuran detil lapangan
menggunakan total station, serta penggambaran digital menggunakan software
Autocad dan ArcGIS.

III.4.1 Orientasi Lapangan


Orientasi lapangan disebut juga sebagai survei pendahuluan, merupakan
tahapan awal sebelum memulai suatu pekerjaan pengukuran suatu wilayah. Orientasi
lapangan berguna untuk mengetahui topografi suatu wilayah, batas daerah/ cakupan
wilayah pengukuran serta untuk melakukan perencanaan penentuan titik pengukuran
agar semua titik dapat terdistribusi merata seluruh wilayah sehingga mampu
menjangkau seluruh detil planimetris wilayah tersebut.
Berikut merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam orientasi lapangan :
a. Menentukan kedudukan titik kontrol utama, titik kontrol perapatan
(poligon) termasuk poligon cabangnya. Kriteria pemasangan titik kontrol
adalah titik harus aman, tidak mengganggu, tidak berada di tengah jalan,
berada di tempat yang mudah dikenali (bukan dinamis).
b. Memasang patok dan tanda pada titik kontrol perapatan dan poligon cabang
c. Mengukur secara pendekatan jarak antar titik kontrol perapatan (poligon)
agar sesuai dengan spesifikasi pengukuran, dan
d. Membuat sketsa distribusi titik kontrol perapatan (poligon) serta titik
poligon cabang yang akan dilakukan pengukuran.

20
III.4.2 Pengukuran Kerangka Horizontal dengan GPS Geodetik
Pengukuran kerangka kontrol horizontal yang dilakukan menggunakan metode
poligon tertutup, dengan jumlah titik kontrol pemetaan sebanyak 11 titik.
III.4.2.1 Pengukuran sudut dan jarak. Pengukuran kerangka horizontal
dilakukan dengan menggunakan alat total station. Pengukuran dilakukan dengan
pembacaan sudut 2 seri rangkap dan jarak diukur dengan lima kali pembacaan.
Berikut merupakan langkah pengukuran KKH :
1. Menyiapkan formulir hitungan poligon
2. Mendirikan alat total station pada titik poligon yang sudah ditentukan
( misalnya titik 2), kemudian melakukan pengaturan pemusatan alat,
pengaturan ]unit dan pengecekan konstanta yang digunakan.
3. Mendirikan reflektor pada titik 1 (backsight) dan titik 3 (foresight), untuk
selanjutnya dilakukan pengaturan konstanta pada alat reflektor tersebut
agar sesuai dengan konstanta pada alat. (telah melalui pengecekan pada
pembekalan pekerjaan pemetaan)
4. Pembidikan dimulai dengan membidik reflektor di titik 1 kemudian
membaca sudut horizontal dan jarak. Selanjutnya membidik titik 3 sebagai
foresight dengan pembacaan sama yaitu sudut horizontal dan jarak,
kemudian dilakukan pencatatan pada lembar formulir hitungan.
5. Mengubah kedudukan teropong menjadi luar biasa dan kembali membidik
titik 3 (foresight) dan membaca sudut horizontal dan jarak. Selanjutnya
membidik titik 1 (backsight) dan membaca sudut horizontal dan jarak.
Dengan demikian telah didapatkan sudut pengukuran satu seri rangkap.
Selanjutnya mencatat hasil pengukuran tersebut pada lembar formulir.
6. Melakukan pengukuran seri kedua dengan melakukan penambahan sudut
+90 ( adalah bacaan sudut horizontal titik 1 kedudukan luar biasa),
dengan prosedur pengukuran sama seperti langkah 4 dan 5
7. Melakukan pengecekan perhitungan sudut tunggal dengan sudut rata rata,
apabila telah masuk toleransi maka pengukuran dilanjutkan pada titik
berikutnya.
8. Melakukan prosedur yang sama pada titik poligon selanjutnya.5p

21
III.4.2.2 Pengukuran Azimuth Pengikatan. Pengukuran azimuth pengikatan
poligon dilakukan menggunakan alat tottal station dengan metode pengikatan pada
dua titik poligon utama. Seperti pada Gambar III.2 berikut merupakan penjelasan
pengukuran azimuth pengikatan.

Gambar III.2 Pengukuran azimuth pengikatan

1. Melakukan perhitungan azimuth pada PU14 dan PU15 dengan menggunakan


persamaan pada (II.21)
2. Kemudian dengan metode pengukuran dua seri seperti pengukuran sudut
horizontal sebelumnya, melakukan pengukuran sudut horizontal pada
PU15, PU14 ,BM6 sehingga didapatkan sudut sebesar
3. Untuk menentukan besar azimuth PU14 dan BM6 maka dapat dicari dengan
menambahkan hasil hitungan PU14 PU15 dengan besaran sudut seperti
pada persamaan (II.20).

III.4.2.3 Pengukuran Poligon Cabang. Pembuatan poligon cabang ini berguna


untuk mengikat titik detil yang terhalang dan berada jauh dari jalur poligon utama
pengukuran, sehingga diharapkan poligon cabang mampu memperbanyak cakupan
pemetaan detil pada wilayah tersebut. Metode pengukurannya menggunakan metode
terikat sepihak, dimana harus diikatkan pada salah satu titik kerangka poligon utama.

III.4.3 Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)


Pengukuran kerangka Kontrol Vertikal dilakukan menggunakan alat sipat
datar untuk menentukan beda tinggi tiap tiap titik poligon pada suatu wilayah dan
digunakan sebagai acuan titik tinggi dalam pemetaan. Berikut merupakan pelaksaaan
pekerjaan di lapangan :

22
1. Menentukan titik poligon yang akan diukur beda tingginya, misalnya titik A
dan B, apabila jarak antar poligon tersebut cukup jauh maka harus
dilakukan pembagian slag-slag, dengan jarak rambu muka dan rambu
belakang sama panjang. Metode pengukuran adalah menggunakan sipat
datar berantai, seperti pada Gambar III.3

Gambar III.3 Pengukuran sipat datar berantai A ke B

2. Mendirikan alat sipat datar dan melakukan sentering alat sumbu I vertikal
pada penggal yang sudah ditentukan. Untuk pendirian rambu ukur selain
pada titik poligon, maka harus menggunakan sepatu rambu.
3. Membidik rambu belakang (b1) dibaca bacaan ba,bb,bt dan dicatat hasil
pengamatan, kemudian teropong diarahkan menuju rambu muka (m 1),
membaca bacaan yang sama, kemudian mencatat hasil pengamatan.
4. Melakukan pengukuran seperti pada langkah nomor 2 dan 3 untuk
pengukuran pada slag berikutnya.
5. Memindahkan alat pada sisi poligon berikutnya dan melakukan langkah
kerja seperti pada nomor 2 hingga 4 hingga keseluruhan titik poligon.
Pengukuran harus dilakukan pergi-pulang dalam satu hari. Pengukuran
pergi-pulang dapat dilakukan pada minimal dua sisi poligon.

III.4.4 Pengukuran Detil Situasi


Pengukuran detil situasi merupakan obyek yang berada di permukaan bumi
yang bersifat alami maupun buatan manusia. Kerapatan detil situasi yang diukur
sesuai dengan TOR dan atas pertimbangan topografi. Detil situasi terdiri dari detil
planimetris dan data tinggi. Berikut merupakan pelaksanaan pengukuran detil situasi:
1. Alat total station berdiri pada titik yang akan dilakukan pengukuran detil.
Selain itu dua reflektor harus terpasang pada titik yang sudah diketahui

23
koordinatnya sebagai backsight dan foresight. Foresight digunakan sebagai
pengecekan agar detil yang telah diambil tidak terjadi salah orientasi.
Pengukuran backsight dan foresight dapat dilihat pada ilustrasi Gambar
III.4 berikut.

Backsight

Foresight

Gambar III.4 Pengukuran detil situasi

2. Setelah membidik backsight dan mengecek pada foresight, selanjutnya


mengarahkan teropong pada detil planimetris (misalnya rumah) yang telah
terpasang reflektor dan memberikan kode unik dan poin pada detil tersebut
(misalnya rmh1000). Selanjutnya mencatat kode pada sketsa untuk
mempermudah penggambaran. Menggunakan titik poligon terdekat sebagai
acuan detil.
3. Melakukan cara yang sama pada langkah 1 dan 2 untuk semua detil yang
terdapat pada sekitar titik poligon yang dipetakan.
4. Pengukuran detil apabila tidak dapat melalui poligon, maka dapat
dilakukan pada poligon cabang yang telah diikatkan pada poligon, namun
apabila masih terdapat detil yang belum terjangkau maka dilakukan
pengukuran kadastral, yaitu pengukuran dengan pita ukur dan dari
pengikatan minimal dua titik tetap. Pengukuran detil dengan total station
selengkapnya dapat dilihat pada lampiran B.

24
III.5 Proses Perhitungan

III.5.1 Perhitungan kerangka kontrol horizontal (KKH)

Setelah melakukan pengukuran, selanjutnya adalah tahap perhitungan data


hasil ukuran, perhitungan kerangka kontrol horizontal terdiri dari beberapa proses
penghitungan, diantaranya :
a. Perhitungan sudut rerata.
Penghitungan sudut rerata hasil pengukuran dapat dihitung menggunakan
persamaan II.18.
b. Perhitungan azimuth pengikatan.
Azimuth pengikatan dapat diukur dari pengikatan dua buah titik tetap dan
dilakukan penghitungan berdasarkan persamaan II.21 dan dijumlahkan
dengan sudut horizontal terukur ().
c. Perhitungan koordinat poligon.
Penghitungan data ukuran kerangka kontrol horizontal yang akan
dijelaskan menggunakan metode bowdith.

Gambar kerangka kontrol horizontal metode poligon tertutup dapat dilihat pada
persamaan Gambar III.5 berikut.

Gambar III.5 Kerangka kontrol horizontal ukuran

25
Penghitungan koordinat poligon tertutup menggunakan metode bowdith, yang
dijelaskan sebagai berikut :
1. Menjumlahkan sudut-sudut ukuran, seperti pada rumus persamaan II.4
apabila selisih sudut tersebut masuk toleransi, maka perhitungan dapat
dilanjutkan tetapi jika tidak maka harus di cek dan bila perlu dilakukan
pengukuran ulang. Kemudian menghitung kesalahan penutup sudut yang
telah dibagi jumlah titik (n) dan dikoreksikan ke tiap titik menggunakan
persamaan II.6
2. Melakukan evaluasi, apabila telah masuk toleransi maka perhitungan dapat
dilanjutkan, jika tidak memenuhi toleransi maka harus dilakukan
penghitungan ulang.
3. Menghitung azimuth tiap sisi poligon menggunakan rumus persamaan II.20
4. Menghitung besar d sin yang kemudian dijumlahkan dan dimasukkan
pada persamaan II.7
5. Menghitung besar d cos yang kemudian dijumlahkan dan dimasukkan
pada persamaan II.9
6. Menghitung koreksi kesalahan absis dan ordinat menggunakan persamaan
II.8 dan II.10
7. Menghitung koordinat poligon menggunakan persamaan II.12 dan II.13

III.5.2 Perhitungan kerangka kontrol vertikal (KKV)


Kerangka kontrol vertikal diukur menggunakan alat sipat datar. Pengukuran
dilakukan pada seluruh titik poligon dengan pengukuran pergi-pulang dalam satu hari
pengukuran. Langkah perhitungan kerangka kontrol vertikal dapat adalah sebagai
berikut :
1. Menghitung beda tinggi pergi dan pulang dengan menggunakan persamaan
II.29. Melakukan evaluasi terhadap penjumlahan beda tinggi pergi dan
pulang, apabila masuk toleransi, perhitungan dapat dilanjutkan, jika tidak
harus dilakukan pengecekan atau pengukuran ulang.
2. Menghitung beda tinggi rata-rata menggunakan rumus persamaan II.30
3. Menghitung kesalahan penutup beda tinggi hasil ukuran. Melakukan
evaluasi, jika telah memenuhi toleransi maka penghitungan dapat
dilanjutkan, apabila tidak maka harus dilakukan pengecekan dan bila perlu
dilakukan pengukuran ulang.
4. Melakukan penghitungan koreksi beda tinggi pada masing-masing sisi
poligon menggunakan persamaan II.31

26
5. Menghitung beda tinggi terkoreksi pada masing-masing sisi poligon, serta
dilanjutkan dengan menghitung tinggi titik menggunakan persamaan II.32

III.5.3 Perhitungan detil situasi


Pengukuran detil situasi diukur menggunakan alat total station. Pengitungan
detil situasi dilakukan secara otomatis oleh alat total station pada saat pengukuran
untuk mendapatkan koordinat X, Y, Z pada obyek yang ditentukan. Proses
penghitungan koordinat X, Y, Z pada detil situasi dapat dilakukan menggunakan
persamaan II.33 , II.34, II.35 pada BAB II.

III.6 Penggambaran Peta Digital


Penggambaran peta digital dilakukan menggunakan dua software, yaitu
AutoCAD dan ArcGIS. Software AutoCAD dipilih karena pada software tersebut
memiliki kemudahan dalam pembuatan kontur, dan melakukan penggambaran detil
planimetris. Pada software AutoCAD juga memiliki kemudahan dalam melakukan
editing ketinggian obyek dan dapat membuat DTM pada daerah tersebut.

Penggambaran dengan software ArcGIS dilakukan karena memiliki


kemudahan dalam pembuatan layout peta, pembuatan indeks peta, dan toponimi peta.

III.6.1 Penggambaran Digital dengan AutoCAD


Berikut merupakan langkah kerja penggambaran peta menggunakan software
AutoCAD :

1. Memasukan data ukuran X,Y,Z pada Ms. Excel kemudian melakukan


penyimpanan dalam format *.csv (comma delimeted)
2. Pada software AutoCAD, melakukan input titik (*csv) kemudian
menampilkan pada lembar kerja AutoCAD. Data otomatis akan terbaca
sebagai *.str
3. Melakukan editing pada str yang terbentuk dengan melakukan breaklines
pada garis-garis yang tidak sesuai
4. Melakukan penambahan point dengan multiple point pada obyek tertentu
untuk menghasilkan DTM yang lebih bagus
5. Membuat DTM
6. Membuat garis kontur dengan interval kontur mayor : 1 , dan minor : 0,25

27
7. Melakukan konversi data hasil penggambaran planimetris lengkap dengan
kontur menjadi file *.dxf untuk selanjutnya melakukan layouting di
ArcGIS.

III.6.2 Penggambaran Digital dengan ArcGIS


Berikut merupakan langkah kerja penggambaran peta menggunakan softwre
ArcGIS:

1. Melakukan konversi *.dxf menjadi poligon, polyline, line, dan point dengan
memilih option pada arctool box.
2. Menampilkan data hasil konvert dengan format *.shp pada layer
3. Melakukan editing dan simbologi pada peta sesuai kaidah kartografi
4. Membuat indeks peta
5. Membuat toponimi dan grid peta
6. Melakukan layouting peta sesuai TOR dengan format kertas A1
7. Melakukan export map dalam format *.pdf
8. Mencetak peta dalam ukuran A1

28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Realisasi Jadwal Pelaksanaan Pengukuran


Pelaksanaan pengukuran terdapat beberapa perbedaan waktu rencana dengan
realisasi di lapangan. Perbandingan realisasi dan rencana waktu pelaksanaan
pengukuran di lapangan telah disajikan pada Tabel IV.1
Tabel IV.1 Rencana dan realisasi waktu pelaksanaan

29
Maret April
N Kegiatan Tanggal
o 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 April-2
Mei
Orientasi Lapangan
1
Pemasangan titik dan
2
pembuatan sketsa
Pengukuran KKH
a. Pengukuran sudut
dan Jarak
b. Pengukuran
azimuth
3 pengikatan
c. Pengukuran
poligon cabang
d. Perhitunagn
KKH dan Ploting
titik
4 Pengukuran KKV
a. Pengukuran beda
tinggi
b. Perhitungan beda
tinggi
5 Pengukuran detil dan spot
height
6
Editing Data
7 Ploting detil dan spot
height
8
Editing Peta (konturing)
9
Uji Peta
10 Pekerjaan Studio

= Rencana pelaksanaan = Realisasi

Secara keseluruhan berdasarkan tabel tersebut, kegiatan berjalan sesuai dengan


rencana. Namun, untuk pengukuran KKH dan KKV mengalami kendala, sehingga
realisasi waktu mundur dari yang telah direncanakan. Pengukuran KKH mengalami
kendala karena terdapat beberapa titik yang mengalami salah pengukuran, hal
tersebut disebabkan karena letak titik dekat dengan jalan raya, sehingga mudah
mengalami getaran sehingga data yang dihasilkan tidak akurat. Pengukuran KKV

30
harus diulangi pada hari kedua karena terdapat salah pengukuran untuk beberapa
titik. Penggambaran peta manuskrip dikerjakan sesuai rencana pelaksanaan, namun
karena banyaknya jumlah titik dan keterbatasan waktu, maka penggambaran yang
dilakukan belum selesai 100%.

IV.2 Hasil Pengukuran


Hasil pengukuran dalam penelitian ini meliputi hasil pengukuran kerangka
kontrol horizontal (KKH), hasil pengukuran kerangka kontrol vertikal (KKV),
pengukuran detil, penggambaran peta manuskrip, uji peta, penggambaran peta
digital. Pada Gambar IV.1 merupakan ilustrasi poligon tertutup hasil ukuran.
d PU14-BM8

PU14

d BM8-9
d BM6-PU14

d BM9-10 d BM5-6

U
BM5

BM11 BM10

d BM4-5

d BM11-1 d BM1-2

d BM2-3

d BM3-4

Gambar IV.1 Poligon tertutup hasil ukuran

IV.2.1 Pengukuran Azimuth


Pada pengukuran azimuth pengikatan didapatkan nilai sudut horizontal terukur
sebesar 00 49 42 dan nilai PU14 PU15 sebesar 1730 35 46.8. Azimuth
pengikatan didapatkan dari hasil penjumlahan azimuth PU14 PU15 dengan sudut
terukur , sehingga besaran azimuth pengikatan PU14 BM6 adalah 1740 25 28.8.

IV.2.2 Hasil Pengukuran Kerangka Kontrol Horizontal


Pengukuran kerangka kontrol horizontal (KKH) menggunakan metode
pengukuran poligon, jenis poligon yang dipilih adalah poligon tertutup, karena area
yang diukur bukan berbentuk memanjang, namun berbentuk luasan, sehingga lebih
baik dilakukan dengan metode poligon tertutup. Pengukuran kerangka kontrol
horizontal pada pengukuran menggunakan alat total station dengan ketelitian bacaan
sudut alat sebesar 5 dan menggunakan alat ukur bantu lainnya. Pengukuran sudut

31
yang digunakan menggunakan metode dua seri rangkap. Pengukuran dilakukan
selama dua hari, dikarenakan banyaknya titik poligon, medan yang sulit dijangkau,
dan cuaca yang tidak mendukung, karena hujan biasa datang pada sore hari, sehingga
menghambat pelaksanaan pengukuran. Dari hasil pengukuran diperoleh 11 titik
poligon, dengan total panjang trase 823.25990 m. Hasil perhitungan kesalahan
penutup sudut, kesalahan linier poligon, jumlah sudut terukur, dan jarak antar titik
poligon dengan toleransi akan ditampilkan pada Tabel IV.2
Pengukuran Hasil Ukuran TOR Keterangan
Kesalahan penutup sudut (fs) 00 0 7.2 0
0 0 33.16 Masuk TOR
Kesalahan Linier (fl) 1: 11303,53 1 :7500 Masuk TOR
fx -7.17 m - (terlampir)
fy 1.28 m - (terlampir)
Jumlah sudut terukur 16200 0 7.2 -
Ketelitian jarak antar titik Maksimum 1:
1:7500 Masuk TOR
poligon Minimum 1:28655
Tabel IV.2 Perbandingan data hasil pengukuran KKH dengan toleransi

Berdasarkan tabel, dapat diketahui bahwa dengan spesifikasi TOR kesalahan


penutup sudut sebesar 2*k*n yaitu 00 0 33.16 , dan data hasil ukuran didapat 00
0 7.2 , maka pengukura tersebut masuk toleransi karena jumlah kesalahan penutup
sudut 00 0 33.16, sedangkan untuk kesalahan linier pengukuran sebesar
1:11303,53. Pengukuran tersebut telah masuk toleransi karena hasil kesalahan linier
yang didapat tidak lebih besar dari toleransi. Hasil ketelitian jarak minimum yang di
dapat dari pengukuran adalah 1: 28655 dengan selisih jarak pergi pulang 0,0024 m,
sedangkan maksimum sebesar 1: dengan selisih jarak pergi pulang 0 m.
Hasil perhitungan kesalahan penutup sudut dan kesalahan linier selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran E dan data pengukuran sudut dan jarak dapat dilihat pada
lampiran D.

IV.2.3 Hasil Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal


Pengukuran kerangka kontrol vertikal dilakukan menggunakan alat sipat datar.
Pengukuran dilakukan pergi-pulang selama 2 hari untuk 11 titik poligon tertutup.
Dikarenakan terdapat kesalahan, maka dilakukan pengulangan pengukuran pada hari
kedua. Data hasil hitungan beda tinggi disertai dengan toleransi dapat dilihat pada
Tabel IV.3.

32
Tabel IV.3 Perbandingan hasil ukuran beda tinggi dengan toleransi
Pengukuran Hasil (mm) TOR Keterangan
Jumlah beda tinggi pergi 4
Jumlah beda tinggi
pulang -2
Beda tinggi rata-rata 3 10,90 mm Masuk TOR
Persentase total jarak
rambu muka - belakang 0,242% 2% Masuk TOR

Berdasarkan Tabel IV.3 dapat dilihat bahwa kesalahan penutup beda tinggi
maksimum pergi-pulang dalam spesifikasi teknis sebesar 12mmD adalah 10,90
mm, sehingga pengukuran yang dilakukan telah memenuhi toleransi karena jumlah
beda tingi rata rata yang dihasilkan pada pengukuran sebesar 3 mm. Syarat selisih
jumlah jarak rambu muka dan belakang juga terdapat dalam spesifikasi teknis (TOR)
yaitu sebesar 2%. Dari data hasil pengukuran telah memenuhi toleransi dengan
persentase jarak rambu muka dan belakang sebesar 0,242%. Data hasil perhitungan
KKV selengkapnya terdapat pada lampiran F.

IV.2.4 Pengukuran Detil


Pengukuran detil situasi dilakukan selama 4 hari menggunakan alat total
station. Pengambilan detil dilakukan pada obyek alami maupun buatan manusia yang
terdapat pada wilayah tersebut. Pengukuran detil situasi disertai dengan
penggambaran sketsa dan pembuatan kode titik. proses pengolahan data hasil
pengukuran detil situasi dilakukan pada software Ms.Excel untuk selanjutnya
dilakukan plotting pada software.
Pengukuran detil yang dilakukan tidak memenuhi seluruh area dari total
cakupan wilayah pemetaan. Beberapa detil tidak dapat terjangkau karena terhalang
bangunan dan keterbatasan waktu yang diberikan. Jumlah titik detil yang terukur
berjumlah 1285 titik. Obyek detil pada wilayah tersebut mayoritas adalah
pemukiman, sebagian kebun, dan selokan. Penyebaran titik detil yang diukur tersebar
merata keseluruh cakupan daerah pemetaan, dalam artian distribusi obyek detil
seimbang atau tidak berkumpul pada satu titik saja.

33
Dalam pengukuran, pengambilan detil terdapat beberapa kesalahan,
diantaranya adalah kesalahan pemberian kode pada obyek sehingga proses plotting
terhambat, dan dalam pengukuran terdapat beberapa detil yang salah orientasi
dikarenakan salah melakukan input koodinat backsight dan tidak melakukan check
foresight, sehingga perlu dilakukan pengukuran ulang untuk beberapa titik detil.
Data hasil pengukuran detil selengkapanya terdapat pada lampiran G.

IV.2.5 Penggambaran Peta


Penggambaran peta dilakukan dengan dua metode penggambaran.
Penggambaran pertama dilakukan secara manual (manuskrip) dimana peta tersebut
merupakan hasil produk pertama dari pengukuran, untuk peta kedua merupakan peta
digital (studio) yang dikerjakan setelah peta manuskrip terselesaikan.
Peta manuskrip merupakan produk pertama dari suatu peta yang akan
diproduksi dalam keseluruhan proses pemetaan. Penggambaran peta manuskrip
meliputi kerangka peta, detil planimetris, detil tinggi, dan kontur. Penggambaran
dilakukan secara manual menggunakan kertas kerungkut format A1 dengan skala
penggambaran 1:500. Jarak antar grid pada peta yaitu 5cm. Penggambaran peta
manuskrip dilengkapi garis kontur dengan interval 0,25 m untuk minor dan 1 m
untuk mayor. Penggambaran kontur seringkali menuai masalah, karena
penggambaran kontur manual tergantung pada keahlian tangan dalam menarik garis,
beberapa kontur yang telah terbuat seringkali tidak sesuai dengan keadaan di
lapangan. Penggambaran peta manuskrip di lokasi pengukuran tidak selesai dengan
sepenuhnya, karena kendala waktu dan banyaknya jumlah titik.
Penggambaran peta digital dilakukan menggunakan dua software pemetaan,
yaitu AutoCAD dan ArcGIS. Pemilihan kedua software tersebut karena masing
masing memiliki kelebihan dibanding dengan software lain. AutoCAD merupakan
software pertambangan. Beberapa kemudahan yang dimiliki yaitu pembuatan kontur
mayor dan minor, pembuatan DTM untuk melihat bentuk topografi daerah tersebut,
dan editing point. Kemudahan yang dimiliki ArcGIS adalah sebagai tahap finishing,
diantaranya pembuatan layout, indeks peta, toponimi.
Pembuatan kontur pada software AutoCAD perlu dilakukan editing kontur,
karena sering kali kontur yang tergambarkan tidak sesuai dengan kenyataan di
lapangan. Beberapa kontur jalan tidak sesuai, kontur masuk rumah, dan terdapat

34
kontur yang zigzag , sehingga perlu dilakukan breaklines, atau penambahan point
dengan ketinggian sama pada obyek yang masih terlintas kontur, karena bisa jadi
bentuk kontur kurang sesuai karena data pengukuran yang kita miliki kurang,
sehingga terdapat data yang hilang. Perbaikan dilakukan sehingga bentuk kontur dan
planimetris sesuai dengan keadaan asli di lapangan. Penggambaran obyek detil
planimetris, terdapat beberapa bangunan yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya,
hal tersebut disebabkan karena pada saat pengukuran terdapat detil planimetris yang
tidak terukur, oleh karena itu perlu dilakukan penambahan titik pada software.
Penggambaran menggunakan software ArcGIS dilakukan untuk memudahkan
pembuatan layout, indeks peta, dan toponimi peta. Pada ArcGIS dilakukan
pengaturan skala peta 1: 500 dan kertas yang digunakan dalam penggambaran harus
dilakukan pengaturan, yaitu dalam format A1. Hasil dari pembuatan indeks peta yaitu
berupa 2 lembar peta ukuran A1. Gambar peta digital selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran H.

IV.2.6 Uji Peta


Uji peta di lapangan, meliputi10 sampel uji planimetrik dan 20 sampel uji
ketinggian. Berdasarkan hasil uji peta yang dilakukan pada tanggal 11 April 2016
bertempat di Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo, hasil uji
sampel planimetrik 90% sampel jarak memenuhi toleransi, dalam artian hanya satu
sampel yang tidak memenuhi toleransi. Sampel yang tidak memenuhi toleransi yaitu
lebar rumah. Hal tersebut dimungkinkan karena titik awal pengukuran dengan titik
awal pengujian berbeda, hal tersebut menyebabkan perbedaan ukuran cukup jauh,
hingga data tersebut dinyatakan tidak masuk toleransi. Pada tabel IV.4 merupakan
hasil uji planimetris.
Tabel IV.4 Hasil Uji Planimetris
No Lokasi Selisih (m) Keterangan
1 Rumah Toko 0,15 Masuk TOR
2 Rumah Tegar 0 Masuk TOR
3 Jalan Masjid 0,02 Masuk TOR
4 Jalan raya Pengasih- 0,10 Masuk TOR
Sentolo
5 Rumah Empang 0,01 Masuk TOR
6 Mushola 0,10 Masuk TOR
7 Rumah barat BM 9 0,07 Masuk TOR
8 Jalan selatan bengkel 0,02 Masuk TOR

35
9 Jalan konblok timur 0,08 Masuk TOR
10 Rumah sewa mobil 1,01 Tidak masuk TOR

Hasil uji sampel beda tinggi tidak memenuhi toleransi, karena di lapangan
hanya mampu mencapai 60% , dalam artian hanya 12 sampel dari 20 sampel yang
benar, sedangkan spesifikasi TOR untuk uji peta harus memenuhi 90% benar.
Kesalahan dimungkinkan terjadi karena pada saat pembidikan, prisma tidak tegak
lurus dan prisma pule yang digunakan terlalu menancap ke tanah, hal tersebut dapat
menjadi faktor penyebab kesalahan pengukuran beda tinggi. Hasil uji beda tinggi
dapat dilihat pada Tabel IV.5

Tabel IV.5 Hasil uji beda tinggi


No Ketinggian di peta (m) Ketinggian di lapangan (m) keterangan
1 32.628 32.632 Masuk TOR
2 32.841 32.833 Masuk TOR
3 32.965 32.969 Masuk TOR
4 33.156 33.158 Masuk TOR
5 33.321 33.314 Masuk TOR
6 33.391 33.378 Tidak masuk TOR
7 33.450 33.442 Masuk TOR
8 33.587 33.576 Masuk TOR
9 33.567 33.552 Tidak masuk TOR
10 33.672 33.654 Tidak masuk TOR
11 33.729 33.730 Masuk TOR
12 33.895 33.892 Masuk TOR
13 34.979 33.965 Tidak masuk TOR
14 34.041 34.036 Masuk TOR
15 34.205 34.185 Tidak masuk TOR
16 34.384 34.365 Tidak masuk TOR
17 34.663 34.658 Masuk TOR
18 34.992 34.976 Tidak masuk TOR
19 35.191 35.176 Tidak masuk TOR
20 35.279 35.250 Tidak masuk TOR

36
IV.3 Hambatan dan kendala yang dihadapi serta cara mengatasinya
Setiap pengukuran tidak mungkin berjalan tanpa adanya hambatan dan
kendala, namun justru inilah yang membuat suatu pekerjaan menjadi menyenangkan
karena merasa tertantang dengan permasalahan dan hambatan yang ada. Sebuah
pekerjaan dituntut untuk mampu menyelesaikan dan mengatasi permasalahan yang
terjadi. Berikut merupakan hambatan yang terjadi selama pengukuran dan cara
mengatasi.
1. Pengukuran yang berada di tepi jalan raya berlangsung lama, karena
banyak kendaraan yang melintas, yang berakibat getaran pada jalan,
sehingga menyebabkan kedudukan alat berubah dan harus sentering
berkali-kali. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan pengukuran
pada jalan saat pagi hari dimana jalan masih terlihat lengang.
2. Titik poligon utama yang digunakan sebagai pengikatan digunakan oleh 3
kelompok, sehingga menyebabkan pengukuran terhambat. Hal tersebut
dapat teratasi dengan melakukan pengukuran pada sisi yang lain, sehingga
dapat bergantian dengan kelompok lain.
3. Terjadi kesalahan pada pengukuran KKV, sehingga harus dilakukan
pengukuran ulang pada hari kedua, hal tersebut menyebabkan tertinggal
dari keolmpok lain.
4. Terdapat beberapa kesalahan pada posisi detil yang tergambarkan,
dikarenakan kesalahan orientasi, maka harus dilakukan pengukuran ulang
pada beberapa detil tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

37
V.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil pengukuran yang dilakukan di Desa


Pengasih, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo adalah sebagai berikut.
1. Waktu pelaksanaan pengukuran lapangan hingga penggambaran peta situasi
dapat dilakukan sesuai dengan perencanaan.
2. Pengukuran kerangka kontrol horizontal (KKH) telah memenuhi toleransi
yang ditentukan dengan ketelitian pengukuran mencapai 1: 11303,53 untuk
kesalahan linier, dan kesalahan penutup sudut sebesar 00 0 7.2
3. Pengukuran kerangka kontrol vertikal (KKV) juga telah memenuhi
toleransi yang ditentukan, yaitu dengan kesalahan penutup maksimum
pergi pulang tidak lebih dari 12mmD ( 10,90 mm), namun dari hasil
pengukuran hanya sebesar 3 mm. Selisih jumlah jarak rambu tidak lebih
dari 2%, dan dari hasil pengukuran didapatkan 0,242%.
4. Kualitas peta yang didapatkan masih belum cukup baik, karena uji elevasi
yang tidak memenuhi toleransi 90%, namun untuk uji planimetris telah
memenuhi toleransi.

V.2 Saran
Saran yang diberikan dari pekerjaan pengukuran ini adalah :

1. Sebelum melakukan pengukuran, sebaiknya telah lebih dulu menguasai


materi serta spesifikasi teknis yang ditentukan
2. Menyelesaikan pekerjaan sesuai target itu sangat penting, namun
kekompakan kelompok juga penting, sehingga tidak menyia-nyiakan waktu
pengukuran yang diberikan dan kenyamanan dalam melakukan pengukuran
3. Pembagian tugas tiap individu sangat dibutuhkan, sehingga mampu
menimbulkan tanggung jawab tiap individu tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

........................., 2016, Buku Panduan Praktek Kerja Lapangan, Program D3 Teknik


Geomatika, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

38
Basuki, Slamet., 2011, IlmuUkur Tanah, Cetakan kedua, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Kusumawati, Yuli., 2014, Catatan Kuliah Ilmu Ukur Tanah, Bandung, Jawa
Barat
https://www.academia.edu/7715412/Bahan_ajar_On_The_Job_Training_Pengg
unaan_Alat_Total_Station

Amalia, Nanda., 2012, Teknik Pengukuran Pemetaan Topografi, Academia.edu


https://www.academia.edu/7517426/3_Teknik_Pengukuran_Pemetaan_Tofografi

39