Anda di halaman 1dari 13

BAB II

DASAR TEORI

2.1 Definisi Bencana Banjir


Krishna S. Pribadi dalam Bashori, Imam (2013:15) mendefinisikan Banjir
adalah suatu kejadian saat air menggenangi daerah yang biasanya tidak digenangi
air dalam selang waktu tertentu. Banjir umumnya terjadi pada saat aliran air
melebihi volume air yang dapat ditampung dalam sungai, danau, rawa, drainase
maupun saluran air lainnya pada selang waktu tertentu. Masyarakat yang tinggal
disekitar sungai atau daerah pantai yang landai merupakan masyarakat
yang paling berisiko terhadap ancaman banjir. Semakin dekat tempat tinggal kita
dengan sumber banjir, semakin besar risiko kita terkena banjir.
Banyak faktor menjadi penyebab terjadinya banjir. Namun secara umum
Kodoatie, Robert J. & Sugiyanto (2002:78-79) membagi penyebab
terjadinya banjir dalam 2 kategori yaitu banjir yang disebabkan oleh sebab-
sebab alami dan banjir yang disebabkan oleh tindakan manusia. Yang termasuk
sebab-sebab alami diantaranya adalah:

1. Pengaruh fisiografis
Fisiografis atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringandaerah
aliran sungai (DAS), kemiringan sungai geometrik hidrolik
(bentuk penampang seperti lembah, kedalaman, potongan memanjang, material da
sarsungai), lokasi sungai dan lain-lain.3)
2. Erosi dan Sedimentasi
Erosi di DAS berpengaruh terhadap pengurangan kapasitas daya tampungsungai.
Erosi menjadi problem klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya sedimentasi
akan mempengaruhi kapasitas saluran sehingga timbul genangandan banjir di
sungai. Sedimentasi juga menjadi masalah besar pada sungai-sungai besar di
Indonesia.
3. Kapasitas sungai
Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan
oleh pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tebing sungai yang berlebihan
dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan
adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.5)

4
4. Kapasitas drainasi yang tidak memadai
Hampir semua kota-kota di Indonesia mempunyai drainasi kawasan
genanganyang tidak memadai sehingga daerah kota-kota tersebut menjadi
langganan banjir di musim hujan.

5. Pengaruh air pasang


Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu
banjir bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan atau banjir
menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater).

Sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah :


1. Pengaruh kondisi DAS
Perubahan DAS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurangtepat,
perluasan kota, dan perubahan tataguna lainnya dapat memperburukmasalah
banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari persamaan-persamaanyang ada,
perubahan tataguna lahan memberikan kontribusi yang besarterhadap naikya
kulitas dan kuantitas banjir.2)
2. Kawasan kumuh
Perumahan kumuh yang terdapat disepanjang bantaran sungai, dapatmerupakan
penghambat aliran. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagaifaktor penting
terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
3. Sampah

Disiplin masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang ditentukantidak


baik, umumnya mereka langsung membuang sampah ke sungai. Di kota-
kota besar hal ini sangat mudah dijumpai. Pembungan sampah di alur sungaidapat
meningkatkan muka air banjir karena memperlambat aliran.

4. Drainasi lahan
Drainasi perkotaan dan pengembangn pertanian pada daerah bantuan banjirakan
mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yangtinggi.5)

5. Bendung dan bangunan air

5
Bendung adan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat meningkatkanelevasi
muka air karena efek aliran balik (backwater).
6. Kerusakan bangunan pengendali banjir
Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengandali
banjirsehinggamenimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat
meningkatkankuantitas air.
7. Perencanaan sistem pengendali banjir tidak tepat
Beberapa sistem pengendali banjir memang dapat mengurangi kerusakanakibat
banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin dapat menambah kerusakanselama
banjir-banjir besar. Sebagai contoh bangunan tanggul sungai yangtinggi, lapisan
pada tanggul pada waktu terjadi banjir yang melebihi banjirrencana dapat
menyebabkan kecepatan aliran yang sangat besar yang melalui bobolnya tanggul
sehingga menimbulkan banjir yang besar

2. 2 Curah Hujan
Curah hujan adalah unsur iklim yang sangat dominan mempengaruhi
aliran permukaan dan erosi di darah tropis. Sifat hujan yang penting
mempengaruhi erosi dan sedimentasi adalah energi kinetik hujan yang merupakan
penyebab pokok dalam penghancuran agregat agregat tanah (Hillel 1971).
Curah hujan merupakan salah satu komponen pengendali dalam sistem
hidrologi. Secara kuantitatif ada dua kharakteristik curah hujan yang penting,
yaitu jeluk (depth) dan distribusinya (distibution) menurut ruang (space) dan
waktu (time). Pengukuran jeluk hujan di lapangan umumnya dilakukan dengan
memasang penakar dalam jumlah yang memadai pada posisi yang mewakili
(representatif) (Arianty 2000, diacu dalam Utomo 2004).
Curah hujan dibatasi sebagai tinggi air hujan (dalam mm) yang diterima di
permukaan sebelum mengalami aliran permukaan, evaporasi dan
peresapan/perembesan ke dalam tanah. Jumlah hari hujan umumnya dibatasi
dengan jumlah hari dengan curah hujan 0,5 mm atau lebih. Jumlah hari hujan
dapat dinyatakan per minggu, dekade, bulan, tahun atau satu periode tanam (tahap
pertumbuhan tanaman). Intensitas hujan adalah jumlah curah hujan dibagi dengan
selang waktu terjadinya hujan (Handoko 1993).

6
Intensitas curah hujan netto (setelah diintersepsi oleh vegetasi) yang
melebihi laju infiltrasi mengakibatkan air hujan akan disimpan sebagai cadangan
permukaan dalam tanah, apabila kapasitas cadangan permukaan terlampaui maka
akan terjadi limpasan permukaan (surface run-off) yang pada akhirnya terkumpul
dalam aliran sungai sebagai debit sungai. Limpasan permukaan yang melebihi
kapasitas sungai maka kelebihan tersebut dikenal dengan istilah banjir (Suherlan
2001).
Sifat hujan yang berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi adalah
jumlah, intensitas, dan lamanya hujan. Dari hal-hal tersebut yang paling erat
hubungannya dengan energi kinetik adalah intensitas. Kekuatan dan daya rusak
hujan terhadap tanah ditentukan oleh besar kecilnya curah hujan. Bila jumlah dan
intensitas hujan tinggi maka aliran permukaan dan erosi yang akan terjadi lebih
besar dan demikian juga sebaliknya (Wischmeier dan Smith 1978, diacu dalam
Utomo 2004).
Hujan yang jatuh ke bumi akan mengalami proses intersepsi, infiltrasi, dan
perlokasi. Sebagian hujan yang diintersepsi oleh tajuk tanaman menguap,
sebagian mencapai tanah dengan melalui batang sebagai aliran batang (streamfall)
dan sebagian lagi mencapai tanah secara langsung yang disebut air tembus
(throughfall). Sebagian air hujan yang mencapai permukaan tanah terinfiltrasi dan
terperkolasi ke dalam tanah (Utomo 2004).
Hujan selain merupakan sumber air utama bagi wilayah suatu DAS
(Daerah Aliran Sungai), juga merupakan salah satu penyebab aliran permukaan
bila kondisi tanah telah jenuh, maka air yang merupakan presipitasi dari hujan
akan dijadikan aliran permukaan. Sedangkan karakteristik hujan yang
mempengaruhi aliran permukaan dan distribusi aliran DAS adalah intensitas
hujan, lama hujan dan distribusi hujan di areal DAS tersebut (Arsyad 2000, diacu
dalam Primayuda 2006).
2.2.1. Klasifikasi Curah Hujan
Secara umum, Indonesia terbagi kedalam tiga pola iklim, yaitu:
1. Pola ekuatorial, yang ditandai dengan adanya dua puncak hujan dalam
setahun. Pola ini terjadi karena letak geografis Indonesia yang dilewati DKAT
(Daerah Konvergensi Antar Tropik) dua kali setahun (Farida 1999, diacu dalam

7
Primayuda 2006). DKAT ini merupakan suatu daerah yang lebar dengan suhu
udara sekitarnya adalah yang tertinggi yang menyebabkan tekanan udara di
atas daerah itu rendah. Untuk keseimbangan, udara dari daerah yang
bertekanan tinggi bergerak ke daerah yang bertekanan rendah. Gerakan ini
diikuti pula dengan gerakan udara naik sebagai akibat pemanasan, kemudian
terjadi penurunan suhu, sehingga uap air jatuh, dan terjadilah hujan.
2. Pola musiman, yang ditandai oleh danya perbedaan yang jelas antara periode
musim hujan dan musim kemarau. Umumnya musim hujan terjadi pada
periode Oktober Maret dan kemarau pada periode April September.
Cakupan wilayah yang terkena pengaruh pola iklim ini secara langsung adalah
35o LU sampai 250 LS dan 300 BB sampai 1700 BT.
3. Pola lokal, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geografi dan topografi
setempat serta daerah sekitarnya. Umumnya daerah dengan pola lokal ini
mempunyai perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dengan periode
musim hujan, namun waktunya berlawanan dengan pola musiman.

2.3 Debit Aliran Sungai


Asdak (1995) menjelaskan debit aliran sungai adalah jumlah air yang mengalir
pada suatu titik atau tempat persatuan waktu. Debit aliran dibangun oleh empat
komponen, yaitu limpahan langsung (direct run-off), aliran dalam satu aliran
tertunda (interflow/delayed run-off), aliran bawah tanah atau aliran dasar (ground
precipitation). Hujan yang turun pada suatu DAS terdistribusi menjadi keempat
komponen tersebut sebelum menjadi aliran sungai. Aliran permukaan merupakan
penyumbang terbesar terhadap peningkatan volume aliran sungai (Viessman et
al.1977, diacu dalam Restiana 2004).
Subarkah (1980) menambahkan bahwa hal-hal yang mempengaruhi debit
sungai yaitu:
1. Meteorologis hujan (besarnya hujan, intensitas hujan, luas daerah hujan dan
distribusi musiman), suhu udara, kelembaban relatif dan angin.
2. Ciri-ciri DAS yaitu luas dan bentuk DAS, keadaan topografi, kepadatan
drainase, geologi (sifat-sifat tanah) evaluasi rata-rata dan keadaan umum DAS
(banyaknya vegetasi, perkampungan, darah pertanian, dan sebagainya).

8
2.4 Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah aliran sungai atau disingkat DAS diartikan oleh Lepedes et al. (1974),
diacu dalam Utomo (2004) sebagai suatu daerah yang mengalirkan air ke sebuah
sungai, pengaliran ini berupa air tanah (ground water) atau air permukaan (surface
water) atau pengaliran yang disebabkan oleh gaya gravitasi. Webster 7 (1976),
diacu dalam Utomo (2004) mendefinisikan DAS sebagai suatu hamparan
wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang
menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta
mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada sungai utama ke laut
atau danau.
Secara makro, DAS terdiri dari unsur biotik (flora dan fauna), abiotik (tanah,
air, dan iklim), dan manusia, dimana ketiganya saling berinteraksi dan saling
ketergantungan membentuk suatu sistem hidrologi (Haridjaja 2000). DAS
merupakan ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta
unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan didalamnya terdapat keseimbangan
inflow dan outflow dari material dan energi. Selain itu pengelolaan DAS dapat
disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan
DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum
untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang
optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan
seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat
merata sepanjang tahun.
Berdasarkan pendapat dari berbagai pakar, dapat disimpulkan bahwa DAS
merupakan:
1. Suatu wilayah bentang alam dengan batas topografis
2. Suatu wilayah kesatuan hidrologi
3. Suatu wilayah ekosistem
Dengan demikian, DAS dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah kesatuan
ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografis dan berfungsi sebagai
pengumpul, penyimpan, dan penyalur air, sedimen, dan unsur hara dalam sistem
sungai, keluar melalui suatu outlet tunggal. DAS juga berati suatu daerah dimana
setiap air yang jatuh ke darah tersebut akan dialirkan menuju ke satu outlet.

9
Dalam mempelajari ekosistem DAS, dapat diklasifikasikan menjadi daerah
hulu, tengah, dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi,
DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai
arti penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap
terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir 8
dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transportasi sedimen serta material
terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS, bagian
hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan
ini antara lain dari segi fungsi tata air dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu
seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan
hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.
Dalam rangka memberikan gambaran keterkaitan secara menyeluruh dalam
pengelolaan DAS, terlebih dahulu diperlukan batasan-batasan mengenai DAS
berdasarkan fungsi, yaitu pertama DAS bagian hulu didasarkan pada fungsi
konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar
tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan
vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah
hujan. Kedua DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai
yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan
ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air,
kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada
prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau. Ketiga DAS
bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk
dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan ekonomi, yang
diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air,
ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian, air bersih, serta
pengelolaan air limbah. Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang
terkelola dengan baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh
prasarana dan sarana di bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan
manfaat DAS tersebut di bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun
untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya
rentang panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata

10
ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak
terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.

2.5 Peta dan Pemetaan


Peta merupakan media untuk menyimpan dan menyajikan informasi tentang
rupa bumi dengan penyajian pada skala tertentu. Pemetaan adalah proses
pengukuran, perhitungan, dan penggambaran permukaan bumi (terminologi
geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan
hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun
raster (Wikipedia 2007).
Pembuatan peta adalah studi dan praktek membuat peta atau globe. Peta secara
tradisional sudah dibuat menggunakan pena dan kertas, tetapi munculnya dan
penyebaran komputer sudah merevolusionerkan kartografi. Banyak peta komersial
yang bermutu sekarang dibuat dengan perangkat lunak pembuatan peta yang
merupakan salah satu di antara tiga macam utama: CAD (desain berbantuan
komputer), GIS (Sistem Informasi Geografis), dan perangkat lunak ilustrasi peta
yang khusus. Peta yang dihasilkan dari perangkat lunak (software) komputer ini
disebut peta digital (Wikipedia 2007).
Penggunaan peta digital pada dasarnya sama saja dengan peta biasa, hanya
wujudnya yang agak berbeda, dimana peta biasa hanya dapat digunakan dalam
bentuk lembaran atau helai sedangkan peta digital selain ada peta seperti halnya
peta biasa disertai data yang telah tersimpan dalam media perekam seperti
magnetik tape, disket, compact disc dan lain-lain sehingga sewaktu-waktu dapat
diedit dan dicetak kembali sesuai kebutuhan (Hadjarati 2007).

2.6 Identifikasi Kawasan Rawan Bencana Banjir


Identifikasi daerah rawan banjir dapat dibagi dalam tiga faktor yaitu faktor
kondisi alam, peristiwa alam, dan aktivitas manusia. Dari faktor-faktor tersebut
terdapat aspek-aspek yang dapat mengidentifikasi daerah tersebut merupakan
daerah rawan banjir.

11
2.6.1 Faktor Kondisi Alam
Beberapa aspek yang termasuk dalam faktor kondisi alam penyebab banjir
adalah kondisi alam (misalnya letak geografis wilayah), kondisi toporafi, geometri
sungai, (misalnya meandering, penyempitan ruas sungai, sedimentasi dan adanya
10 ambang atau pembendungan alami pada ruas sungai), serta pemanasan global
yang menyebabkan kenaikan permukaan air laut.
1. Topografi
Daerah-daerah dataran rendah atau cekungan, merupakan salah satu
karakteristik wilayah banjir atau genangan.
2. Tingkat Permeabilitas Tanah
Permeabilitas atau daya rembesan adalah kemampuan tanah untuk dapat
melewatkan air. Air dapat melewati tanah hampir selalu berjalan linier,
yaitu jalan atau garis yang ditempuh air merupakan garis dengan bentuk
yang teratur. Permeabilitas diartikan sebagai kecepatan bergeraknya suatu
cairan pada media berpori dalam keadaan jenuh atau didefinisikan juga
sebagai kecepatan air untuk menembus tanah pada periode waktu tertentu.
Permeabilitias juga didefinisikan sebagai sifat bahan berpori yang
memungkinkan aliran rembesan dari cairan yang berupa air atau minyak
mengalir lewat rongga porinya. Daerah-daerah yang mempunyai tingkat
permeabilitas tanah rendah, mempunyai tingkat infiltrasi tanah yang kecil
dan runoff yang tinggi. Daerah Pengaliran Sungai (DAS) yang karakteristik
di kiri dan kanan alur sungai mempunyai tingkat permeabilitas tanah yang
rendah, merupakan daerah potensial banjir.
3. Kondisi Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran sungai (DAS) yang berbentuk ramping mempunyai tingkat
kemungkinan banjir yang rendah, sedangkan daerah yang memiliki DAS
berbentuk membulat, mempunyai tingkat kemungkinan banjir yang tinggi.
Hal ini terjadi karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai (orde yang
lebih kecil) yang hampir sama, sehingga bila hujan jatuh merata di seluruh
DAS, air akan datang secara bersamaan dan akhirnya bila kapasitas sungai
induk tidak dapat menampung debit air yang datang, akan menyebabkan
terjadinya banjir di daerah sekitarnya.
4. Kondisi Geometri Sungai
a. Gradien Sungai

12
Pada dasarnya alur sungai yang mempunyai perubahan kemiringan
dasar dari terjal ke relatif datar, maka daerah peralihan/pertemuan tersebut
merupakan daerah rawan banjir.
b. Pola Aliran Sungai
Pada lokasi pertemuan dua sungai besar, dapat menimbulkan arus balik
(back water) yang menyebabkan terganggunya aliran air di salah satu
sungai, yang mengakibatkan kenaikan muka air (meluap). Pada saat hujan
dengan intensitas tinggi, terjadi peningkatan debit aliran sungai sehingga
pada tempat pertemuan tersebut debit aliran semakin tinggi, dan
kemungkinan terjadi banjir.
c. Daerah Dataran Rendah
Pada daerah Meander (belokan) sungai yang debit alirannya cenderung
lambat, biasanya merupakan dataran rendah, sehingga termasuk dalam
klasifikasi daerah yang potensial atau rawan banjir.
d. Penyempitan dan Pendangkalan Alur Sungai
Penyempitan alur sungai dapat menyebabkan aliran air terganggu, yang
berakibat pada naiknya muka air di hulu, sehingga daerah di sekitarnya
termasuk dalam klasifikasi daerah rawan banjir. Pendangkalan dasar sungai
akibat sedimentasi, menyebabkan berkurangnya kapasitas sungai yang
menyebabkan naiknya muka air di sekitar daerah tersebut.
2.6.2 Faktor Peristiwa Alam
Aspek-aspek yang menentukan kerawanan suatu daerah terhadap banjir
dalam faktor peristiwa alam adalah:
1. Curah hujan yang tinggi dan lamanya hujan
2. Air laut pasang yang mengakibatkan pembendungan di muara sungai
3. Air/arus balik (back water) dari sungai utama
4. Penurunan muka tanah (land subsidance)
5. Pembendungan aliran sungai akibat longsor, sedimentasi dan aliran
lahar dingin.

2.6.3 Aktivitas Manusia


Faktor aktivitas manusia juga berpengaruh terhadap kerawanan banjir pada
suatu daerah tertentu. Aspek-aspek yang mempengaruhi diantaranya:
1. Belum adanya pola pengelolaan dan pengembangan dataran banjir

13
2. Permukiman di bantaran sungai
3. Sistem drainase yang tidak memadai
4. Terbatasnya tindakan mitigasi banjir
5. Kurangnya kesadaran masyarakat di sepanjang alur sungai
6. Penggundulan hutan di daerah hulu
7. Terbatasnya upaya pemeliharaan bangunan pengendali banjir

2.7 Sistem Informasi Geografi


Sistem informasi Geografi adalah suatu sistem informasi tentang
pengumpulan dan pengolahan data serta penyampaian informasi dalam koordinat
ruang, baik secara manual maupun digital. Data yang diperlukan merupakan data
yang mengacu pada lokasi geografis, yang terdiri dari dua kelompok, yaitu data
grafis dan data atribut. Data grafis tersusun dalam bentuk titik, garis, dan poligon.
Sedangkan data atribut dapat berupa data kualitatif atau kuantitatif yang
mempunyai hubungan satu-satu dangan data grafisnya (Barus et al. 2000).
Menurut ESRI (1999), Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu alat
berbasis komputer untuk memetakan dan meneliti hal-hal yang ada dan terjadi di
muka bumi. Sistem Informasi Geografis mengintegrasikan operasi database
umum seperti query dan analisa statistik dengan visualisasi yang unik dan manfaat
analisa mengenai ilmu bumi yang ditawarkan oleh peta. Kemampuan ini menjadi
penciri Sistem Informasi Geografis dari sistem informasi lainnya, dan sangat
berguna bagi suatu cakupan luas perusahaan swasta dan pemerintah untuk
menjelaskan peristiwa, meramalkan hasil, dan strategi perencanaan.
Menurut Barus dan Wiradisastra (2000), Sistem Informasi Geografis (SIG)
merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial. Dalam SIG, data
dipelihara dalam bentuk digital. Sistem ini merupakan suatu sistem komputer
untuk menangkap, mengatur, mengintegrasi, memanipulasi, menganalisis dan
menyajikan data yang bereferensi ke bumi. Komponen utama SIG dapat dibagi ke
13 dalam 4 kelompok, yaitu: perangkat keras, perangkat lunak, organisasi
(manajemen), dan pemakai.
Sistem informasi geografi (SIG) pada saat ini sudah merupakan teknologi
yang dianggap biasa pada kalangan perencana atau kelompok-kelompok lain yang

14
berkecimpung dalam hal pemetaan sumberdaya. Dua dekade sebelum ini terjadi
juga pada Penginderaan Jauh (PJ) atau Remote Sensing, walaupun tidak secepat
kepopuleran SIG. Kedua teknologi tersebut merupakan teknologi informasi atau
lebih spesifik lagi teknologi informasi spasial karena berkaitan dengan
pengumpulan dan pengolahan data spasial. (Barus et al. 2000)

2.8 Penerapan SIG untuk Identifikasi dan Pemetaan Kawasan Berpotensi


Banjir
Kemampuan SIG dapat diselaraskan dengan Penginderaan Jauh.
Penginderaan Jauh adalah ilmu pengetahuan dan seni memperoleh informasi suatu
obyek, daerah, atau suatu fenomena melalui analisa data yang diperoleh dengan
suatu alat yang tidak berhubungan dengan obyek, daerah, atau fenomena yang
diteliti (Lillesland dan Kiefer 1994). Citra satelit merekam objek di permukaan
bumi seperti apa adanya di permukaan bumi, sehingga dari interpretasi citra dapat
diketahui kondisi penutupan/penggunaan lahan saat perekaman. Pada dasarnya,
teknologi berbasis satelit ini menyajikan informasi secara aktual dan akurat.
Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah
satu alternatif yang tepat untuk dijadikan sebagai penyedia informasi tentang
berbagai parameter faktor penyebab kemungkinan terjadinya bahaya banjir di
suatu daerah.
Dalam penerapan SIG, data-data yang diperlukan untuk pemetaan kawasan
rawan banjir diperoleh dari foto udara dan data sekunder, berupa peta-peta
tematik. Peta-peta tematik yang berbeda, baik yang diperoleh dari analisis
penginderaan jauh maupun cara lain dapat dipadukan untuk menghasilkan peta
turunan. Data-data yang terkumpul diolah untuk mendapatkan informasi baru
dengan menggunakan SIG melalui metode pengharkatan. Pada tahap pemasukan
data, yang diperlukan untuk penyusunan peta tingkat kerawanan banjir dapat
dilakukan melalui digitasi peta. Sesudah semua data spasia dimasukkan dalam 14
komputer, kemudian dilakukan pemasukan data atribut dan pemberian harkat.
Untuk memperoleh nilai kawasan rawan banjir dilalukan tumpang tepat peta-peta
tematik yang merupakan paramaeter lahan penentu rawan banjir, yaitu peta
kemiringan lereng, peta ketinggian, perta tanah, peta isohiet, dan peta penutupan

15
atau penggunaan lahan. Proses tumpang tepat peta dengan mengaitkan data
atributnya, melalui manipulasi dan analisa data. Pengolahan dan penjumlahan
harkat dari masing-masing parameter akan menghasilkan harkat baru yang berupa
nilai potensi rawan banjir. Kemudian dengan mempertimbangkan kriteria rawan
banjir, maka potensi banjir lahan tersebut dibagi kedalam kelas-kelas rawan banjir
(Utomo 2004).
Untuk kajian banjir, peta tematik hasil interpretasi citra dapat digabung
dengan peta-peta lainnya yang telah disusun dalam data dasar SIG melalui proses
digitasi. Peta-peta tersebut adalah peta kemiringan lereng, peta geologi, peta jenis
tanah, peta penutupan/penggunaan lahan, peta isohiet, dan peta-peta lain yang
berhubungan dengan terjadinya banjir. Melalui metode tumpang tepat dan
pengharkatan dengan SIG maka akan dihasilkan kelas-kelas rawan banjir. Hasil
dari kelas-kelas tersebut dipresentasikan dalam bentuk peta, sehingga dapat dilihat
distribusi keruangannya. Dari peta itu para pengguna dan pengambil keputusan
dapat memanfaatkan untuk mengatisipasi banjir di darah penelitian, sehingga
kerugian-erugian yang ditimbulkan dapat ditekan sekecil mungkin, atau bahkan
dieliminir (Utomo 2004).

2.9 Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) Banjir


Sistem peringatan dini digunakan untuk memberikan informasi tentang
sesuatu hal yang akan terjadi, agar bisa memberikan peringatan sedini mungkin
untuk menghindari atau meminimalkan akibat yang akan ditimbulkan. Sistem
peringatan dini banjir sangat penting, karena:
(1) intensitas dan keragaman hujan menurut ruang dan waktu sangat tinggi
sehingga banjir bisa terjadi secara tibatiba,
(2) hujan besar umumnya terjadi dari sore sampai malam hari. Sistem
penyampaian peringatan dini tentang banjir kepada masyarakat dapat dilakukan
melalui berbagai peralatan komunikasi seperti telepon, radio dan televisi (Grenti
2006).

16