Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN KEGIATAN

DOKTER INTERNSIP PUSKESMAS POLONGBANGKENG UTARA


KABUPATEN TAKALAR
PERIODE OKTOBER 2016 FEBRUARI 2017

Penyuluhan TB Paru dan Hipertensi

A. LATAR BELAKANG
Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih
menjadi masalah kesehatan Masyarakat. Indonesia merupakan Negara
dengan pasien TB terbanyak ke-5 di dunia setelah India, Cina, Afrika
Selatan, dan Nigeria (WHO, 2009). Diperkirakan jumlah pasien TB di
Indonesia sekitar 5,8% dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan
setiap tahun ada 429.730 kasus baru dan kematian 62.246 orang. Insidens
kasus TB BTA positif sekitar 102 per 100.000 penduduk.
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri
berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium
tuberkulosis. Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak
penderita yang mengandung basil tuberkulosis paru. Pada waktu penderita
batuk butir-butir air ludah beterbangan diudara dan terhisap oleh orang
yang sehat dan masuk ke dalam paru-parunya yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.
Pada penderita tuberkulosis paru apabila sudah terpapar dengan
agent penyebabnya penyakit dapat memperlihatkan tanda-tanda seperti
batuk-batuk berdahak lebih dari dua minggu, batuk-batuk mengeluarkan
darah atau pernah mengeluarkan darah, dada terasa sakit atau nyeri, terasa
sesak pada waktu bernafas.

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO,
2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun.
Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya.

1
Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan
negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO
South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi
kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006. Pada tahun 2009,
tercatat sejumlah sejumlah 294.732 kasus TB telah ditemukan dan diobati
(data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA+.
Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkan dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian
lingkungan tempat tinggal.
Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan
bahwa angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000
penduduk. Secara regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia
dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: 1) Wilayah sumatera angka
prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk, 2) Wilayah Jawa dan
Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk , 3) Wilayah
Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk.
Pada tahun 2016, kasus TB paru pada Puskesmas Polongbangkeng
berjumlah 32 orang dimana untuk kasus TB paru dengan BTA (+)
berjumlah 23 orang, Radiologi Foto Thorax gambaran TB berjumlah 6
orang dan TB MDR berjumlah 2 orang dari sasaran target 44 orang dengan
jumlah penduduk 22.516 orang.

C. PEMILIHAN INTERVENSI
Oleh karena permasalahan yang terjadi di atas, maka diadakan
penyuluhan dengan materi Tuberkulosis Paru. Pada penyuluhan tersebut,
diuraikan tentang definisi, etiologi, faktor resiko, gambaran klinis,
diagnosis, penatalaksanaan dan pencegahan tuberkulosis paru.
Para kader maupun masyarakat sangat penting untuk diberi
penjelasan tentang penyakit TB Paru oleh karena diharapkan dapat
membantu dalam memutuskan rantai penularan TB Paru di masyarakat.
Penyuluhan ini mengajarkan bagaimana gambaran penyakit TB Paru,
faktor-faktor resiko yang menyebabkan penyakit TB Paru, pengobatan dan
pencegahan penularan penyakit.

2
D. PELAKSANAAN
Penyuluhan Pengobatan dan Pencegahan TB Paru ini diadakan di
kelurahan matampodalle, pada tanggal 16 November 2016, materi
dibawakan dengan menggunakan media flipchart yang dibagikan kepada
peserta yang datang. Penyuluhan ini dirangkaikan dengan diskusi tanya
jawab antara pemateri dengan audiens.

E. EVALUASI
1) Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan satu minggu sebelumnya.
Kegiatan penyuluhan ini bekerja sama dengan tim promkes dari
puskesmas Polongbangkeng Utara.
2) Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 30 orang. Pelaksanaan penyuluhan
berjalan sebagaimana yang diharapkan dimana peserta antusias
menjawab pertanyaan yang diajukan pemateri dan hampir sebagian
besar peserta aktif melontarkan pertanyaan.
3) Evaluasi Hasil
Lebih dari 75% dari peserta yang hadir mampu menjawab pertanyaan
dari dokter tentang materi yang disampaikan. Hal ini membuktikan
bahwa peserta memperhatikan materi yang disampaikan.

Takalar, 17 Februari 2017


Mengetahui,
Peserta Pendamping,

dr. Astari Pratiwi Nuhrintama dr. Aztiah


DOKUMENTASI KEGIATAN

3
4