Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN KEGIATAN

DOKTER INTERNSIP PUSKESMAS POLONGBANGKENG UTARA


KABUPATEN TAKALAR
PERIODE OKTOBER 2016 FEBRUARI 2017

Penyuluhan Upaya Pencegahan Peyakit DBD

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan adalah tanggung jawab kita bersama. Salah Satunya
karena pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional. Dimana upaya memajukan bangsa Indonesia tidak
akan tercapai apabila tidak memiliki dasar yang kuat yaitu derajat
kesehatan yang tinggi. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan
kesehatan tersebut diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang
lebih dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua sektor terkait, baik
individu, masyarakat, pemerintah maupun swasta. Apa pun peran yang
dimainkan pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat untuk
secara mandiri menjaga kesehatan, hanya sedikit yang akan dicapai. Sesuai
dengan salah satu tujuan Indonesia Sehat 2010 yakni mencegah terjadinya
dan menyebarnya penyakit menular sehingga tidak menjadi masalah
kesehatan masyarakat, sudah seharusnya kita sebagai individu masyarakat
peduli untuk menjaga kesehatan baik secara personal maupun lingkungan.
Salah satu masalah utama penyakit menular di berbagai belahan
dunia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Selama satu dekade angka
kejadian atau incidence rate (IR) DBD meningkat dengan pesat diseluruh
dunia. Diperkirakan 50 juta orang terinfeksi DBD setiap tahunnya dan 2,5
miliar (1/5 penduduk dunia) orang tinggal di daerah endemik DBD.
Menurut WHO tahun 2007, Case Fatality Rate (CFR) kasus DBD di
Indonesia menempati urutan ke empat di ASEAN dengan CFR 1.01
setelah Bhutan, India, dan Myanmar berurutan dari yang tertinggi. Sampai
bulan September 2008, didapatkan CFR untuk kasus DBD menurun
menjadi 0.73, namun naik menjadi peringkat ke dua di ASEAN setelah

1
Bhutan. Puncak terjadinya DBD di Indonesia adalah pada bulan Oktober-
Februari, sehingga perhitungan CFR hanya sampai bulan September di
tahun 2008 belum tepat untuk menggambarkan CFR pada tahun 2008.
Sedangkan di Banda Aceh sendiri berdasarkan data yang tercatat pada
Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tahun 2009, jumlah kasus DBD yang
terjadi pada tahun tersebut seluruhnya 313 kasus, dengan tujuh diantaranya
meninggal dunia. Kasus tertinggi terjadi pada bulan Agustus, dengan
jumlah 51 kasus. Sedangkan yang terbanyak terjadi DBD di Kecamatan
Syiah Kuala dengan jumlah 65 kasus.

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang
berbahaya, dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat dan
sering menimbulkan wabah. Indonesia menurut kriteria WHO termasuk ke
dalam negara endemik DBD bersama-sama Thailand, Sri Langka dan
Timor-Leste dalam peta ASEAN. Epidemiologi dari dengue itu bergantung
dari multifaktorial seperti perilaku manusia, iklim, penyebaran virus dan
arus perpindahan manusia. Dikarenakan belum ditemukannya vaksin
untuk DBD maka pencegahan yang dapat dilakukan adalah manajemen
lingkungan tempat tinggal terkait pengontrolan vektor virus Dengue dan
perilaku proteksi pada manusia.
Cara yang paling tepat untuk memberantas nyamuk Aedes aegypti
adalah dengan memberantas jentik nyamuk ditempat
perkembangbiakannya. PSN-DBD dapat dilakukan dengan metode 3M
serta teknik Abatesasi. Adapun program 3M itu terdiri atas: Menguras bak
mandi seminggu sekali, menutup tempat penampungan air baik didalam
maupun diluar rumah serta mengubur barang-barang bekas yang dapat
menampung air hujan dan memungkinkan air tergenang didalamnya.
Pelaksanaan 3M tersebut minimal dilakukan seminggu sekali.

Tindakan PSN-DBD merupakan tindakan yang praktis, murah, dan


dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Agar kelurahan bebas dari
ancaman penyakit DBD, masyarakat diminta untuk peduli tehadap
lingkungan dengan melaksanakan PSN-DBD di rumah dan lingkungannya

2
masing-masing. Untuk melaksanakan pola hidup bersih dan sehat
menuntut peran serta masyarakat akan lebih optimal. Suksesnya
pemberantasan DBD tergantung dari besarnya komitmen pemerintah dan
partisipasi masyarakat. Semakin besar komitmen pemerintah dan
partisipasi masyarakat semakin besar kemungkinan berhasilnya program
pemberantasan DBD.

C. PEMILIHAN INTERVENSI
Oleh karena permasalahan yang terjadi di atas, maka diadakan
penyuluhan tentang cara mencegah penularan penyakit demam berdarah
dengue (DBD) di beberapa wilayah desa yang ada di kecamatan
Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Manfaat yang
dapat diambil dari kegiatan ini adalah agar menngkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya melakukan tindakan preventif
yaitu metode 3M serta teknik abatesasi.

D. PELAKSANAAN
Penyuluhan dan upaya pencegahan penyakit DBD ini diadakan di
kelurahan matampodalle, pada tanggal 24 November 2016, materi
dibawakan dengan menggunakan media flipchart yang dibagikan kepada
peserta yang datang. Penyuluhan ini dirangkaikan dengan diskusi tanya
jawab antara pemateri dengan audiens.

E. EVALUASI
Kegiatan ini berjalan sebagaimana yang diharapkan. Warga yang
hadir meliputi kepala rumah tangga dan atau ibu rumah tangga. Warga
ternyata sudah mengetahui tentang penyebab dari penularan penyakit DBD

3
adalah vektornya yaitu nyamuk namun belum terlalu paham tentang
metode-metode pencegahannya. Dengan adanya penyuluhan ini,
meningkatkan pengetahuan mereka tentang pentingnya penerapan metode
3M dan abatesasi, diharapkan hal ini meningkatkan kesadaran mereka
untuk senantiasa menerapkannya. Para warga sepakat untuk saling bahu-
membahu untuk memberantas penularan penyakit DBD.

Takalar, 17 Februari 2017


Mengetahui,
Peserta Pendamping,

dr. Astari Pratiwi Nuhrintama dr. Aztiah

DOKUMENTASI KEGIATAN

4
5