Anda di halaman 1dari 13

ANAK ZINA, ANAK PUNGUT DAN ANAK ANGKAT

A. ANAK ZINA
1. Pengertian Anak Zina
Menurut Sudrajat, (2008:95), Anak zina adalah anak yang dilahirkan di
luar perkawinan yang sah. Sedangkan menurut Hassanain Makluf bahwa anak
zinaadalah anak yang di lahirkan ibunya dari hubungan yang tidak
sah.Sedangkan menurut Al-Jurnani dikutip oleh Masjfuk Z, (1993:33), zina
yaitu :








Artinya :Memasukkan penis (zakar:Arab) ke dalam vagina (farj:Arab) bukan
miliknya (bukan istrinya) dan tidak ada unsur syubhat (kekeliruan atau
keserupaan).
Dari definisi tersebut, maka dapat disimpulkan perbuatan dapat dikatakan
zina jika:
a. Adanya persetubuhan antara dua orang yang berbeda jenis kelaminnya.
b. Tidak adanya keserupaan atau kekeliruan dalam perbuatan tersebut.
Menurut Sayid Sabiq (1981:369) Dengan unsur pertama, maka jika ada
dua orang yang berbeda jenis kelamin bermesraan seperti berciuman atau
berpelukan belum dikatakan berzina yang dijatuhi hukum dera atau pun rajam.
Tetapi mereka bisa dihukumi tazir dengan tujuan mendidik. Sedangkan menurut
Imah Tahido Yanggo (2005:178) Anak zina adalah anak yang lahir dari hasil
hubungan tanpa pernikahan, biasa disebut dengan anak tidak sah.
Dengan demikian yang dimaksud dengan anak zina adalah anak yang
terlahir dari rahim seorang wanita akibat dari bertemunya dua jenis kelamin
antara laki-laki dan wanita tanpa adanya hukum yang sah dan dilakukan dengan
tanpa kekeliruan atau kesalahan.Menurut Islam anak zina adalah suci dari
segala dosa yang menyebabkan eksistensinya di dunia ini, dan tidak
menanggung beban dosa orang tuanya. Hal ini berdasarkan Firman Allah dalam
surat al Najm ayat 38 :



Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.

Karena itu anak zina harus diperlakukan secara manusiawi.Diberi


pendidikan, pengajaran dan ketrampilan yang berguna untuk bekal hidupnya di
masyarakat nanti. Yang bertanggung jawab untuk mencukupi hidupnya adalah
ibunya yang melahirkannya. Sebab anak zina hanya mempunyai hubungan
nasab dengan ibunya.Sebagai akibatnya anak zina tidak dapat dihubungkan
dengan ayahnya. Karena anak mempunyai akibat hukum sebagai berikut:
1. Tidak ada hubungan nasab kepada laki-laki yang mencampuri ibunya secara
tidak sah.
2. Tidak dapat menjadi wali bagi anak diluar nikah.
3. Tidak ada hubungan saling mewarisi.
Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya sebagaimana anak
mulaanah dinasabkan kepada ibunya. Sebab keduanya sama-sama terputus
nasabnya dari sisi bapaknya. Hadits nabi Muhammad SAW yang artinya :
Untuk keluarga ibunya yang masih ada [HR. Abu Dawud][1]
2. Sumber Hukum Anak Zina
Menurut Depag RI, (2007)Seorang anak dapat dinilai anak zina
berdasarkan QS. Al-Ahqaaf ayat 15 yang artinya :
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu
bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya
dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat
puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat
Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan
supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku
bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang
berserah diri".
Sedangkan batas ibu menyapih anaknya terdapat pada QS. Luqman ayat
14yang artinya :
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

1[] kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddia` Walad Az-Zina no. 2268 dan dinilai hasan
oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud no. 1983
Dari ayat tersebut dapat dilihat dengan jelas bahwa lama ibu mengandung
dan menyusui anaknya adalah 30 bulan atau 2,5 tahun, ini berarti lama meyusui
yang syariatkan oleh Islam adalah 2 tahun maka bayi yang lahir setelah
setengah tahun atau 6 bulan setelah menikah tidak dapat dikatakan anak zina,
namun jika lahir sebelum umur menikah 6 bulan maka anak tersebut dapat
dikatakan dengan anak zina atau anak di luar nikah.
Dengan demikian bagi anak yang lahir secara tidak sah tersebut terlepas
semua hubungan secara hakiki terhadap jalur ayahnya termasuk kepada
warisan. Meskipun anak berstatus anak zina namun menjadi sebuah kewajiban
bagi seluruh muslim untuk menjaga dan tidak menjelek-jelekkan atau menghina
anak tersebut karena pada dasarnya yang bersalah adalah kedua orang tuanya
bukan dia (Masjfuk Zuhdi, 1993:38). Sebagaimana Hadits nabi SAW:



Semua anak dilahirkan atas kesucian/kebersihan (dari segala dosa dan noda)
dan pembawaan beragama tauhid, sehingga ia jelas bicaranya. Maka kedua
orang tuanyalah yang menyebabkan anaknya menjadi yahudi, atau nasrani atau
majusi.(HR. Abu Yala, Al-Thabarani dan Baihaqi dari Al-Aswad bin Sari).

Banyak sekali penafsiran Para fuqoha mengenai nasab dari anak zina.
Diantaranya pendapat MUI yang sebenarnya itu sudah tertulis dalam pasal 43
ayat 1 anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan
perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Sebelumadanya putusan MK. Dan
Menurut Drs. Muhlas, SH,MH[2]. Hakim PA Situbondo, hal inilah yang bisa
menepis persepsi masyarakat mengenai perbedaan antara anak hasil Nikah Siri
dan anak luar nikah.
3. Pandangan Ulama Mengenai Status Anak Zina
Menurut ulama, ada dua akibat nyata yang diterima oleh anak zina
dikarenakan perbuatan salah orang tuanya.Yaitu:
a. Hilangnya martabat Muhrim dalam keluarga.

2[] Muhlas, Pemahaman Hukum Tentang Status Anak Yang Ambigu, http://pa.
situbondo.net . Copyright 2005 2012. Designed by olwebdesign.com
MenurutMasjfuk Zuhdi, (1993:179), Jika anak haram tersebut adalah
perempuan, maka antara bapak (pemilik sperma) dengan anak itu dibolehkan
menikah. Hal ini menurut pandangan imam malik dan Imam Syafii yaitu
diperbolehkan bagi seseorang mengawini putrinya (anak zina), saudara
perempuannya, cucu perempuannya, keponakan perempuannaya yang
semuanya dari hasil zina.
Mazhab Syiah Imamiyah, Hanafiah dan Hambaliah menyatakan
haram menikahi anak hasil zinanya dengan alasan meskipun anak tersebut
hasil zina namun tetap dianggap sebagai anak menurut pengertian bahasa
dan adat atau tradisi. Karena itu haram hukumnya menikahinya. Pendapat ini
merupakan pendapat yang berdasarkan alasan akal manusiawi karena
melihat secara zhahir bahwa anak tersebut merupakan hasil dari
perbuatannya dan secara biologis dia merupakan darah dagingnya sendiri.
Menurut mereka bertiga, keharaman tersebut hanya dilihat secara tradisi saja
namun secara syara yang shahih maka mereka juga membolehkan
pernikahan tersebut.
Secara hak perwalian ketika menikah maka jumhur ulama sepakat
bahwa orang tua secara biologis tersebut tidak memiliki hak untuk
menikahkan anaknya kelak ketika anaknya menikah.
b. Hilangnya hak waris dalam keluarga
Hukum Islam tidak menetapkan hubungan kewarisan terhadap anak
zina kepada bapaknya. Itu karena tidak mempunyai hubungan kekerabatan.
Sedangkan hubungan kekerabatan tersebut timbul karena adanya ikatan
nikah, sehingga anak di luar nikah tidak dapat dijadikan hubungan
kekerabatan untuk mendapatkan warisan.
Masjfuk Zuhdi, (1993:180), menyatakan bahwa menurut Ahlul-Sunnah
dan Mazhab Hanafiah menyebutkan anak zina memiliki hubungan waris
dengan ibu dan kerabatnya. Dengan demikian, ia hanya dapat mewarisi dari
pihak ibu saja. Sedangkan golongan Syiah menganggap bahwa anak zina
tidak mempunyai hak waris baik dari pihak laki-laki maupun perempuan
karena warisan merupakan suatu nikmat bagi ahli waris sedangkan zina
merupakan suatu kemaksiatan sehingga kenikmatan atau anugerah tidak
dapat dicampurkan dengan kemaksiatan.
Sebagian ulama (Syafii, Hambali, Syiah) berpendapat bahwa akad
nikah itu merupakan sebab utama terjadinya nasab antara seseorang dengan
orang tuanya. Oleh karena itu jika anak terlahir sebelum usia pernikahan
enam bulan maka anak tersebut merupakan anak di luar nikah.
Maka salah satu jalan dari seorang bapak yang merasa bertanggung
jawab dengan anaknya untuk memberikan hartanya tidak bisa lewat warisan
tetapi bisa melalui hibah semasa dia masih hidup atau dengan jalan wasiat
asalkan tidak melebihi sepertiga dari jumlah hartanya.
B. ANAK PUNGUT
1. Pengertian Anak Pungut
Anak pungut adalah anak orang lain yang di anggap anak sendiri oleh
orang tua yang memungutnya dengan resmi menurut hukum adat setempat,
dengan tujuan untuk melangsungkan keturunan dan atau pemeliharaan harta
keluarga rumah tangga.Pemungutan anak di Indonesia pada umumnya
dilakukan dengan upacara keagamaan, diumumkan dan disaksikan oleh pejabat
dan tokoh agama agar jelas statusnya. Setelah selesai upacara, si anak menjadi
anggota penuh dari kerabat yang mengangkatnya, dan terputus hak warisnya
dengan kerabat lama.
Konotasi anak pungut versi Syaltut adalah anak yang terlantar dari orang
tuanya, kemudian ditemukan oleh seseorang. Adapun sebab-sebab
menelantarkan anak itu adalah karena takut miskin, tidak mampu mendidik dan
member nafkah, atau karena takut jatuhnya harga diri (kehormatan) bila anak
tersebut hasil hubungan di luar nikah, (Ajat Sudrajat, 2008:97-98).
Anak pungut adalah anak yang hidupnya tersia-sia, tidak diakui dan
dijamin oleh seseorang kemudian ia diambil oleh orang lain,
(Anonim,2000:173).Laqiith ditinjau dari sisi bahasa artinya anak yang ditemukan
terlantar di jalan, tidak diketahui siapa ayah dan ibunya. Demikian defenisi yang
tercantum dalam kitab Al-Lisaan dan kitab Al-Mishbaah. Biasanya laqiith adalah
anak yang dibuang oleh orang tuanya.[ 3]
Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, (2004:468-470) menyatakan
bahwa menurut madzhab Hanafi, Laqiith adalah sebutan untuk seorang bayi
yang dibuang oleh keluarganya karena takut miskin atau untuk menghindari
3[] http://amaz95.wordpress.com/2010/05/13/anak-pungut/, diakses tanggal 1
April 2011.
tuduhan telah berbuat aib. Menurut pendapat madzhab Syafii, laqiith adalah
setiap bayi yang terlantar dan tidak ada yang menafkahinya. Menurut madzhab
Hambali, laqiith adalah anak kecil yang belum mencapai usia mumayyiz
(dewasa) yang tidak diketahui nasabnya dan terlantar, atau tersesat di jalan.
Status anak pungut dengan orang tua yang memungutnya tetap seperti
sebelum pemungutan dan keluarga anak yang dipungut tetap seperti sebelum
pemungutan, tidak mempengaruhi kemahraman dan kewarisan. Baik anak
pungut itu dari intern keluarga sendiri atau dari luar lingkungan kerabat.
2. Sumber Hukum Anak Pungut
Dasar hukum yang mendasari adanya anak pungut adalah :
a. QS. Al-Maidah ayat 32 yang artinya :


...."

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka
seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
b. QS. Al-Maidah ayat 2 yang artinya :
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan
bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

c. Hadits Nabi SAW:

.
).
(
Artinya :Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim, seperti ini
sambil ia menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan ia ranggangkan antara
keduanya. (HR. Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi).

3. Pandangan Ulama tentang Status Anak Pungut


Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa anak yang tersia-siakan dari orang
tuanya lebih patut dinamakan Ibnu Sabil, yang dalam Islam dianjurkan untuk
memeliharanya. Asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fuqaha menetapkan,
biaya hidup untuk anak pungut diambil dari baitul-mal muslimin. Hal ini
sebagaimana dikatakan Umar Ibn Khattab r.a. ketika ada seorang laki-laki yang
memungut anak, pengurusannya berada di tanganmu, sedangkan kewajiban
menafkahinya ada pada kami.[4]
Umat Islam wajib mendirikan lembaga dan sarana yang menanggung
pendidikan dan pengurusan anak yatim. Dalam kitab Ahkam al-Awlad fil Islam
disebutkan bahwa Islam memuliakan anak pungut dan menghitungnya sebagai
anak muslim, kecuali di negara non-muslim. Oleh karena itu, agar mereka
sebagai generasi penerus Islam, keberadaan institusi yang mengkhususkan diri
mengasuh dan mendidik anak pungut merupakan fardhu kifayah. Karena bila
pengasuhan mereka jatuh kepada non-muslim, maka jalan menuju murtadin
lebih besar dan ummat Islam yang tidak mempedulikan mereka, sudah pasti
akan dimintai pertanggungjawaban Allah s.w.t. Karena anak angkat atau anak
pungut tidak dapat saling mewarisi dengan orang tua angkatnya, apabila orang
tua angkat tidak mempunyai keluarga, maka yang dapat dilakukan bila ia
berkeinginan memberikan harta kepada anak angkat adalah, dapat disalurkan
dengan cara hibah ketika dia masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas
sepertiga pusaka sebelum yang bersangkutan meninggal dunia.
Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Mughni
(V/392),Memungut anak seperti ini hukumnya wajib, berdasarkan firman Allah
Taala dalam surat Al-Maidah ayat 2. Karena dengan memungut anak tersebut
berarti ia telah mcnyelamatkan jiwa seorang yang masih hidup dan ini hukumnya
wajib. Seperti: dengan cara memberikan makanan dan menyelamatkan anak
yang hanyut.[5]
Berdasarkan uraian tentang pengertian, dasar hukum dan pendapat
ulama tentang hukum anak pungut, maka dapat ambil kesimpulan bahwa
memungut anak yang tersia-siakan merupakan hal yang Fardu Kifayah bagi
umat Islam. Karena dengan memungut anak tersebut maka selain

4[]http://madaniannida-kumpulanmakalahpai.blogspot.com/2011/01/status-anak-
pungutanak-angkat-anak-zina.html, diakses tanggal 3 April 2011.
5[] Al Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy-Syaikh Shalih bin Fauzan, Hukum
Mengadopsi Anak, Majalah As-Sunnah Edisi 04/TAHUN XI/1428H/2007M.
menyelamatkan jiwa juga memungkinkan menyelamatkan anak tersebut dari
kemungkinan memeluk non muslim jika dipungut oleh umat non muslim.
Dasar hukum yang digunakn sebagai dasar memungut anak yang tersia-
siakan sudah sangat jelas baik dari nash Al-Quran maupun dari nash
Hadits.Setelah anak tersebut dipungut maka status anak tersebut sama dengan
anak angkat yaitu secara hukum mawaris tidak bisa menerima warisan dari
keluarga yang memeliharanya, maka jika keluarga ingin memberikan bagian
untuknya dengan jalan hibah semasa masih hidup atau wasiat dengan jatah
maksimal sepertiga dari seluruh harta orang tua pungutnya.
Demikian pula mengenai mahram, ia berstatus sebagai orang lain,
sehingga dia bukanlah mahram bagi anggota keluarga orang tua pungutnya.
Selama anak pungut tersebut tidak menyusu dengan ibu pungutnya maka
saudara dari keluarga pungut berhak untuk menikahinya.
C. ANAK ANGKAT
1. Pengertian Anak Angkat
Anak menurut Kamisa dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern
(2005:13), Anak adalah keturunan kedua. Pengertian ini memberikan
gambaran bahwa anak tersebut adalah turunan dari ayah dan ibu sebagai
turunan pertama. Jadi anak adalah merupakan suatu kondisi akibat adanya
perkawinan antara kedua orang tuanya.
Menurut Andi S. Alam, dkk., dalam Hukum Pengangkatan Anak Perspektif
Islam, (Jakarta 2008:19), istilah pengangkatan anak berkembang di Indonesia
sebagai terjemahan dari Bahasa Inggris Adaption, mengangkat seorang anak,
yang berarti mengangkat anak orang lain untuk di jadikan sebagai anak sendiri
dan mempunyai hak yang sama dengan anak kandung.
Menurut Sudrajat. A, (2008:100) Dalam bahasa Arab pengangkatan anak
ini dikenal dengan istilah Tabanni yang memiliki pengertian sama dengan
adopsi. Tabanni adalah suatu kebiasaan yang berlaku pada masa jahiliyah dan
permulaan Islam, maksudnya apabila seseorang mengangkat anak orang lain
sebagai anak, maka berlakulah terhadap anak itu hukum-hukum yang berlaku
atas anaknya sendiri.Perbedaan adopsi dengan tabanni. Kalau adopsi di lakukan
di depan Pengadilan Negeri, sementara tabanni di resmikan di depan khalayak
ramai.
BerdasarkanKompilasi Hukum Islam, (Jakarta: Depag RI, 2002:9), Pasal
171 huruf h Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa Anak angkat adalah
anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan
dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua
angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.
Dari pengertian di atas, maka pengertian anak angkat adalah anak yang
dalam pemeliharaan hidupnya dialihkan dari tanggungan orang tua asal kepada
orang tua angkat.
2. Sumber Hukum Pengangkatan Anak
Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa hukum Islam tidak mengakui
lembaga pengangkatan anak yang mempunyai akibat hukum seperti yang di
praktekkan masyarakat jahiliyah. Hukum Islam hanya mengakui bahkan
menganjurkan pengangkatan anak dalam arti pemungutan dan pemeliharaan
anak dalam artian status kekerabatannya tetap berada di luar lingkungan
keluarga angkatnya dan dengan sendirinya tidak mempunyai akibat hukum apa-
apa.
Dasar hukum adanya anak angkat dalam Islam adalah Surat Al-Ahzab
ayat 4 dan 5 yang artinya :
Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam
rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar[6] itu sebagai
ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu
(sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah
mengatakan yang Sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak
mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui

6[]zhihar ialah perkataan seorang suami kepada istrinya:


punggungmu Haram bagiku seperti punggung ibuku atau perkataan
lain yang sama maksudnya. adalah menjadi adat kebiasaan bagi orang
Arab Jahiliyah bahwa bila dia Berkata demikian kepada Istrinya Maka
Istrinya itu haramnya baginya untuk selama-lamanya. tetapi setelah
Islam datang, Maka yang Haram untuk selama-lamanya itu dihapuskan
dan istri-istri itu kembali halal baginya dengan membayar kaffarat
(denda).
bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu
seagama dan maula-maulamu.[7] dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang
kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh
hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Masjfuk Zuhdi dalam Masailul Fiqhiyah, (Jakarta, 1993:29), Berdasarkan


ayat ini, maka dapat diambil pelajaran sebagai berikut:
a. Adopsi dengan praktek dan tradisi di jaman Jahiliyyah yang memberi status
kepada anak angkat sama dengan status anak kandung tidak dibenarkan
(dilarang) dan tidak diakui oleh Islam.
b. Hubungan anak angkat dengan orang tua angkat dan keluarganya tetap
seperti sebelum diadopsi yang tidak mempengaruhi kemahraman dan
kewarisan baik anak angkat itu diambil dari kerabat dekat maupun orang lain.
Para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa hukum Islam melarang
praktik pengangkatan anak yang memiliki implikasi yuridis seperti pengangkatan
anak yang di kenal oleh hukum barat atau hukum sekuler dan praktek
masyarakat jahiliyah, yaitu pengangkatan anak yang menjadikan anak angkat
menjadi anak kandung, (Syamsu Alam, dkk, 2008:43-44).
3. Pandangan Ulama
Hukum Islam menjelaskan pengangkatan anak dengan istilah tabanni,
dan dijelaskan oleh Yusuf Qardhawi adopsi tersebut adalah pemalsuan atas
realitas konkrit. Pemalsuan yang menjadikan seseorang yang sebenarnya orang
lain bagi suatu keluarga, menjadi salah satu anggotanya. Ia bebas saja berduaan
dengan kaum perempuannya, dengan anggapan bahwa mereka adalah
mahramnya. Padahal secara hukum mereka adalah orang lain baginya. Isteri
ayah angkatnya bukanlah ibunya, demikian pula dengan puteri, saudara
perempuan, bibi, dan seterusnya. Mereka semua adalah ajnabi (orang lain)
baginya. Dalam istilah yang sedikit kasar Yusuf Qardhawi menjelaskan anak
angkat dengan anak aku-akuan, (Masjfuk Zuhdi, 1993:28).
Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, Ahmad Syarabasyi ( Tth:321 )
mengatakan bahwa Allah telah mengharamkan pengangkatan anak, yang

7[]Maula-maula ialah seorang hamba sahaya yang sudah


dimerdekakan atau seorang yang Telah dijadikan anak angkat, seperti
Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil maula Huzaifah
dibangsakan atau dianggap bahwa anak tersebut sebagai anaknya sendiri yang
berasal dari shulbinya atau dari ayah atau ibunya (padahal anak tersebut adalah
anak orang lain). Hal ini juga berdasarkan pada QS. Al-Ahzab ayat 4-5.
Di samping pendapat di atas, menurut Yusuf Qardlawi, (TTh:53-54), ada
semacam pengangkatan anak tetapi pada hakikatnya bukan pengangkatan anak
yang diharamkan oleh Islam. Yaitu menemukan anak yatim atau mendapat di
jalan, kemudian memeliharanya, mencukupi kebutuhannya, pendidikannya dan
kebutuhan yang lain, namun tidak dinasabkan sebagai anaknya dan tidak pula
diperlakukan padanya hukum-hukum anak seperti di atas. Anak yang dipungut ini
disebut dengan ibnu sabil (anak jalan).Dalam hal ini, Islam menganggap
perbuatan ini sebagai perbuatan yang mulia, dan akan mendapat pahala berupa
syurga, seperti yang dikatan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya:

.
).
(
Artinya: Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim, seperti ini
sambil ia menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan ia ranggangkan antara
keduanya. (HR. Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi).
Berdasarkan pendapat kedua ulama tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa status anak angkat atau pada masa sekarang dikenal dengan istilah
adopsi tidak bisa disamakan dengan anak kandung, mengenai nasabnya.
Sehingga dalam hal mawaris, ia tidak memiliki hak waris terhadap harta kedua
orang tua angkatnya. Demikian pula mengenai mahram, ia berstatus sebagai
orang lain, sehingga dia bukanlah mahram bagi anggota keluarga orang tua
angkatnya. Akan tetapi, mengambil anak yatim kemudian memeliharanya dan
mencukupi segala keperluannya, dan tidak menganggapnya anak, maka hal
tersebut boleh dan nabi sendiri melakukannya serta akan mendapatkan pahala
syurga.
4. Tata Cara Mengangkat Anak
Menurut M.Hamdan Rasyid dalam Fiqih Indonesia, (Jakarta, 2003:213),
tata cara pengangkatan anak yaitu :
a. Syariat Islam membolehkan dan bahkan menganjurkan seseorang
mengambil anak angkat dari orang lain, rumah yatim piatu, rumah sakit untuk
di asuh, diberikan kasih sayang, nafkah dan pendidikan.
b. Sesungguhnya mengambil anak angkat merupakan perbuatan mulia, tapi
harus memenuhi syarat, sebagai berikut:
1) Anak yang di adopsi dalam keadaan yang terlantar.
2) Tujuan adopsi adalah semata-mata mengasuh, memberi kasih sayang,
menyantuni dan mendidik anak yang di adopsi.
3) Pengadopsian anak dilakukan dengan cara-cara yang di benarkan oleh
syariat Islam.
4) Anak yang di adopsi diberikan kebebasan untuk kembali kepada
keluarganya. Seseorang yang mengadopsi anak orang lain tidak boleh
memutuskan tali persaudaraan dengan keluarganya.
c. Menurut Hukum Islam, status anak yang di adopsi adalah sama dengan
orang lain dan tidak mempunyai hubungan nasab atau silsilah dengan orang
yang mengadopsinya.
d. Anak angkat tidak mempunyai hubungan mahram dengan keluarga orang tua
angkat, oleh karena itu, anak angkat boleh di nikahi oleh ayah, ibu atau
saudara angkat.
e. Anak angkat tidak berhak saling mewarisi dengan orang tua angkat dan
keluarganya, karena harta pusaka hanya di berikan kepada orang-orang yang
mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan pernikahan dengan orang
yang wafat.
f. Umat Islam harus berhati-hati sehingga tidak menyerahkan anggota
keluarganya kepada orang-orang non muslim untuk di jadikan anak angkat
atau adopsi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi, (2004), Ensiklopedi Anak, Penerjemah
Ustadz Ali Nur, Jakarta: Penerbit Darus-Sunnah.
2. Ahmad Syarabasyi, (T.Th), Himpunan Fatwa, Surabaya: Al-Ikhlas.
3. Al Muntaqa min Fatawa Fadhilatisy-Syaikh Shalih bin Fauzan, Hukum Mengadopsi
Anak, Majalah As-Sunnah Edisi 04/TAHUN XI/1428H/2007M.
4. Depag RI, (2007), Al-Quran dan Terjemahnya Perkata, Jakarta: Syaamil Al-Quran.
5. Imah Tahido Yanggo,(2005), Masailul Fiqhiyah, Bandung: Angkasa.
6. Kamisa,(2005), Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern , Jakarta: Balai Pustaka.
7. Masjfuk Zuhdi,(1993), Masailul Fiqhiyah, Jakarta: Haji Masagung.
8. Syekh Muhammad Yusuf El-Qardlawi, (t.Th), Halal dan Haram dalam Pandangan
Islam, Jakarta: PT Bina Ilmu.
9. Sayid Sabiq,(1981), Fiqh Sunnah, Libanon: Darl Fikar.
10. http://mardiana-stai.blogspot.com/2012/06/status-anak-angkat-anak-pungut-dan-
anak.htmldi akses tanggal 28/12/2013
11. http://liahidayati.blogspot.com/2012/06/anak-zina-anak-pungut-dan-anak-
angkat.htmldi akses tanggal 25 Desember 2013