Anda di halaman 1dari 96

DAFTAR TILIK

TK II SEMESTER GANJIL PRODI D-IV KEBIDANAN


2015/2016

DISUSUN OLEH :

TIM PRODI D-IV KEBIDANAN UNIVERSITAS UBUDIYAH INDONESIA

PRODI D-IV KEBIDANAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS UBUDIYAH INDONESIA
TAHUN 2016
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN ANC
KUNJUNGAN AWAL

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

LANGKAH 1 2 3 4
NILAI
I. MENYAMBUT IBU
1. Menyambu ibu dan seseorang yang menemani ibu
2. Memperkenalkan diri kepada ibu
3. menanyakan nama dan usia ibu
II. RIWAYAT KEHAMILN SEKARAG
4. Keluhan umum
5. HPHTdan apakah normal
6. Gerakan janin
7. Tanda-anda bahaya dan peyulit
8. Obat yag dikonsumsi (termasuk jamu)
9. Kekhawatiran-kekhawatira khusus
III. RIWAYAT KEHAMILAN YANG LALU
10. Jmlah kehamilan
11. Jumlah anak yang lahir hidup
12. Jumlah kelahiran premature
13. Jumlah Keguguran
14. Persalinan dengan tindakan (operasi sesar, forsep,
vakum)
15. Riwayat perdarahan pada persalian atau pasca
persalinan
16. Kehamilan dengan tekanan darah tinggi
17. Berat bayi < 2,5 kg atau > 4 kg
18. Masalah janin
IV. RIWAYAT KESEHATAN/PENYAKIT YG
DIDERITA SEKARANG & DULU
19. Masalah kariovaskuler
20. Hipertensi
21. Diabetes
22. Malaria
23. Penyakit/kelamin HIV/Aids
24. Imuisasi toxoid tetanus (TT)
25. Lainnya
V. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI
26. Status perkawinan
27. Respons ibu dan keluarga
28. Riwayat KB
29. Dukungan keluarga
30. Pengambil keputusan dalam keluarga
31. Gizi yag dikonsumsi dan kebisaan makan, vitamin A
32. Kebiasaan hidup sehat, merokok, minum minuman
keras, mengkonsumsi obat terlarang
33. Beban kerja dan kegiatan sehari-hari
34. Tempat dan Petugas Kesehatan yang diinginkan
untuk membantu persalinan
VI. PEMERIKSAAN FISIK
1. Meminta pasien untuk mengosongkn kandung kemih
dan menampungnya di bengkok (urine mead stream)
2. Mencuci tangan
3. Menjelaskan seluruh prosedur sambil melakukan
pemeriksaan
4. Mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk klarifikasi
sambil melakukan pemeriksaan sesuai dengan kebutuhn
dan kelayakan
A. TANDA-TANDA VITAL
5. Mengukur tinggi dan berat badan
6. Mengukur teknan darah, nadi dan suhu
7. Meminta pasien untuk melepaskan pakaian dan
meawarkan kain linen untuk menutup tubuhnya (atau
meminta pasien untuk melonggarkan pakaiannya dan
menggunakannya sebagai penutup tubuh
8. Membantu pasien berbaring di meja/tikar tempat tidur
pemeriksaan yang bersih
B.KEPALA DAN LEHER
9. Memeriksa apakah terjadi edema pada wajah
10. Memeriksa apakah mata :
a. Pucat pada kelopak bagian bawah
b. Berwarna kuning
11. Memeriksa apakah rahang pucat dan memeriksa gigi
12. Memeriksa dan meraba leher untuk mengetahui :
a. Pembesaran kelenjar tiroid
b. Pembesaran pembuluh limpe
C. DADA
PARU-PARU
13. Inspeksi : kesimerisan bentuk dan gerak perafasan,
warna kulit dada, retraksi, jaringan perut
14. Palpasi : Gerakan dinding dada, tactil vremitus
secara sistematis
15. Perkusi : Batas-batas paru secara sistematis
16. Auskultasi : bagian anterior
JANTUNG
17. Nilai bunyi jantung
PAYUDARA
18. Dengan posisi klien disamping, memeriksa payudara
:
a. Bentuk, ukuran da simetris atau tidak
b. Putting payudara menonjol atau masuk ke dalam
c. Adanya kolostrum atau cairan lain
19. Pada saat klien megangkat tangan ke atas kepala,
memeriksa payudara untuk mengetahui adanya retraksi
atau dimplig
20. Klien berbaring degan tangan kiri di atas, lakukan
palpasi secara sistematis pada payudara sebelah kiri
(sesudah itu sebelah kanan juga) dari arah payudara,
axila dan notest, kalau-klau erdapat :
a. Massa
b. Pembesaran pembuluh limfe
D. ABOMEN
21. Memeriksa apakah terdapat bekas luka operasi
22. Mengukur tiggi fundus uteri dengan meggunakan
tangan (kalau > 12 minggu) atau pita ukuran (kalau > 22
minggu)
23. Melakukan palpasi pada abdomen untuk mengetahui
leak, presentasi, posisi dan penurunan kepala janin
24. Menghitung denyut jantung janin (dengan fetoskop
kalau 18 minggu)
E. PANGGUL: GENIALIA LUAR
25. Membantu klien mengambil posisi untuk
pemeriksaan paggul dan meutup tubuh untuk menjkaga
privsi
26. Melepaskan perhiasan di jari dan di lengan
27. Mencuci tangan dengan sabun dan air, serta
mengeringkannya engan menggunakan kain yang bersih
(atau di udara terbuka/kering)
28. Memakai sarung tangan baru atau yang biasa dipakai
lagi yang sudah didesinfeksi tanpa terkontaminasi
29. Menjelaskan tindkan yang dilakukan sambil terus
melakukan pemeriksaan
30. Memisahkan labia mayora dan memeriksa labia
minora, kemudian klitoris, lubang uretra dan introitus
vagina untuk melihat adanya :
a. Tukak atau luka
b. Varices
c. Cairan (warna, kosistensi, jumlah dan bau)
31. Mengurut uretra dan pembuluh skene untuk
mengeluarkan cairan nanah dan darah
32. Melakukan palpasi pada kelenjar bartholini untuk
mengetahui adanya :
a. Pembengkakan
b. Massa atau kista
c. Cairan
33. Sambil melakukan pemeriksaan selalu mengamati
wajah ibu untuk mengetahui apakah ibu merasakan sakit
atau nyeri karena prosedur ini
F. PANGGUL : PEMERIKSAAN
MENGGUNAKAN SPEKULUM
34. Memperlihatkan speculum kepada ibu sambil
menjelaskan bahwa benda tersebut akan dimasukkan ke
dalam vagina ibu dan bagaimana hal ini akan terasa oleh
ibu
35. Menjelaskan pada ibu bagaimana caranya agar rileks
selama dilakukan pemeriksaan (misalnya : bernafas
melalui mulut atau dada atau lemaskan badan sambil
kedua kaki tetap diregangkan)
36. Meminta ib untuk mengataka jika apa yang
dilakukan menyebabkan ibu merasa tidak nyaman
37. Basahi speculum dengan air (yang hangat jika
memungkinkan) atatu lumuri dengan jeli (jika idak ada
spesime yang diambil)
38. Memegang speculum dengan miring, memisahkan
bagian labia dengan tangan yang lain dan masukkan
speculum dengan hati-hati, hindari menyentuh uretra
dan clitoris
39. Memutar speculum dan membuka (blade)nya untuk
melihat serviks
40. Memeriksa serviks untuk melihat adanya :
a. Cairan atau darah
b. Adanya luka
c. Apakah serviks sudah membuka atau belum
41. Memeriksa dinding vagina utuk melihat adanya :
a. Cairan atau darah
b. Luka
42. Menutup mengeluarkan speculum secara hati-hati
dengan posisi miring
43. Meletakkan speculum yang sudah digunakan
dalamseuah tempat unuk didekontaminasi
G. PANGGUL : PEMERIKSAAN BIMANUAL
44. Menjelaskan kepada ibu bahwa pemeriksaan
dilakukan berkesinambungan dan apa yang akan
dirasakan ibu
45. meminta ibu untuk mengatakan kalau ibu merasa
tidak nyman karena pemeriksaan yang dilakkan
46. Memasukkan dua jari ke dalam vagina,
merenggangkan ke dua jari tersebu dan menekan ke
bawah
47. Mencari letak serviks dn merasakan untuk
mengetahui :
a. Pembukaan (dilatasi)
b. Rasa nyeri karena gerakan (nyeri tekan/nyeri
goyang)
48. Menggunakan 2 tangan (satu tangan di atas
abdomen, 2 jari di dalam vagina) untuk palpasi uterus
(hanya pada trimester saja) :
a. Ukuran, bentuk dan posisi
b. Mobilisasi
c. Rasa nyeri (amati wajah ibu)
d. Massa
49.Melepaskan tangan pelan-pelan, melepaskan sarung
tagan dan meuaskannya ke dalam laruan dekontaminasi
50. Membantu ibu unuk bangun dari meja/tempat
tidur/tikar pemeriksaan
51. Mengucapkan terima kasih atas kerjasama ibu dan
meminta ibu untuk mengenakan pakaiannya
52. Mencuci tangan dengan sabun dan air serta
mengeringkan di udara terbuka atau melapnya dengan
kain bersih
H. TANGAN DAN KAKI
53. Memeriksa apakah tangan dan kaki : Edema dan
pucat pada kuku jari
54. Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui
adanya varises
55. Mengukur lingkar lengan atas
56.Memeriksa refleks patella untuk melihat apakah
terjadi gerakan hypo atau hyper
I. PUNGGUNG
57. Inspeksi kesimetrisan bentuk dan gerak, warna kulit,
luka
58. Perkusi bagian punggung secara sistematis
VII. PEMBELAJARAN/PENDIDIKAN
KESEHATAN
59. Memberitahukan kepada ibu hasil temuan dalam
pemeriksaan
60. Memberithukan usia kehamilan
61. Megajari ibu megenai ketidaknyamanan yag
mungkin akan dialami ibu
62. Sesuai dengan usia kehamilan :
a. Nutrisi
b. Olah raga ringan
c. Istirahat
d. Kebersihan
e. Pemberian ASI
f. KB pasca salin
g. Tanda-tanda bahaya
h. Aktivitas seksual
i. Kegiatan sehari-hari dan pekerjan
j. Obat-obatan dan merokok
k. Body mekanik
l. Pakaian dan sepatu
SKOR NILAI = NILAI X 100%
186
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN PALPASI MENURUT LEOPOLD

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PEMERIKSAAN PALPASI MENURUT LEOPOLD
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Menyiapkan alat-alat di dekat klien
Memberitahu klien mengenai prosedur pemeriksaan
2. Mencuci tangan dan mengeringkannya
Pencegahan infeksi sebelum melaksanakan tindakan
3. Mengatur posisi ibu hamil senyaman mungkin
Perhatikan dengan baik privacy ibu, tutupi bagian ekstremitas dan perut ibu
dengan selimut
4. Melakukan pemeriksaan Leopold I :
Menentukan bagian janin yang terdapat di bagian fundus serta mengukur
tinggi fundus
a. Anjurkan ibu agar berbaring dengan santai, kedua kaki ibu ditekuk, selimut
di kebawahkan sampai kira-kira berada di atas symphisis. Pemeriksaan
menghadap ke arah muka ibu, uterus diketengahkan terlenih dahulu, lalu
raba bagian tubuh janin yang berada di daerah fundus uteri
b. Masih dalam posisi yang sama, ambillah pita pengukur lalu raba daerah
symphisis letakkan pita pengukur pada pinggir atas symphisis kemudian
bentangkan mengikuti pembesaran perut ibu ke arah fundus uteri.
Pita pengukur hendaknya dipasang terbalik (angka dalam cm menghadap ke
perut ibu) dan membaca angka pada pita pengukur. Dengan tujuan agar hasil
pemeriksaan lebih akurat
5. Melakukan pemeriksaan Leopold II
Menentukan batas samping kanan dan kiri terhadap uterus ibu
Kedua tangan pemeriksa bergeser ke batas samping kanan dan kiri ibu, lalu
rabalah bagian janin yang terdapat pada sebelah kanan ibu, apakah terdapat
tahanan yang lurus, keras, panjang serta mendatar seperti papan (punggung
janin) ataukah teraba tonjolan-tonjolan kecil (ekstremitas janin)
6. Melakukan pemeriksaan Leopold III
Menentukan bagian terendah janin, serta apakah bagian terendah itu sudah
memasuki pintu atas panggul atau belum.
Tangan pemeriksa meraba bagian terendah janin yang terdapat di daerah
pinggir symphisis, lalu goyangkan sedikit, jika masih dapat digoyangkan maka
bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul. Jika tidak dapat
digoyangkan maka bagian terendah janin sudah memasuki pintu atas
panggul.
7. Mencuci tangan dan mengeringkannya
8. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu
9. Mencatat hasil pemeriksaan kepada ibu
SKOR NILAI = NILAI X 100%
27
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

Kesimpulan :
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR KASUS


PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN
NO. LANGKAH/TUGAS 1 2 3 4
1. Siapkan :
Alat :
a. Haemometer
b. Lancet
c. Bengkok
d. Autoclick
Bahan :
a. Tissue
b. Kapas alkohol
c. HCL 0,1 N
Aquades
2. Alat haemometer dalam keadaan bersih dan kering, isi tabung
sahli dengan larutan HCl 0,1 N sampai angka 2
3. Bersihkan dan beri antiseptik daerah kapiler jari dengan
menggunakan kapas alkohol 70%
4. Buat perdarahan dengan menusukkan blood lancet pada daerah
kapiler jari tersebut
5. Darah yang keluar dihisap menggunakan pipet sahli sampai
angka 20
6. Masukkan darahke dalam tabng sahli, aduk dengan batang
pengaduk kaca
7. Diamkan selama 4 menit (hematin akan berubah menjdi asam
hematin)
8. Encerkan dengan aquadest tetes demi tetes sampai larutan sama
dengan warna standar pada haemometer
9. Baca skala miniskus yang ditunjukkan pada skala tabung sahli
SKOR NILAI = NILAI X 100%
27
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN GLUKOSA

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR KASUS


PEMERIKSAAN GLUKOSA
NO. LANGKAH/TUGAS 1 2 3 4
1. Siapkan
2. Sediakan 2 tabung reaksi bersih dan kering dalam rak tabung
3. Isi kedua tabung tersebut masing-masing dengan 5ml reagen
benedict
4. Isi tabung kedua dengan sampel urine sebanyak 0,5 ml, kocok
secara homogen
5. Nyalakan lampu spirtus, kemudian bakar tabung kedua di atas
nyala api dengan menggunakan penjepit tabung sampai akan
mendidih antara 1-2 menit
6. Begitu larutan mendidih segera angkat, dan simpan dalam rak
tabng reaksi biarkan selama 5 menit
7. Amati hasilnya dan bandingkan dengan tabung kesatu.
Hasil Pembacaan :
a. (-) : Bila larutan dalam tabung tetap biru
b. (+ / -) : Bila larutan berwarna biru kehijauan
c. (+) : Bila larutan berwarna hijau disertai dengan
endapan berwarna kuning
d. (++) : Bila larutan berwarna kuning
e. (+++) : Bila larutan berwarna oranye endapan
kuning
f. (++++) : Bila larutan berwarna merah bata
SKOR NILAI = NILAI X 100%
21
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN PROTEIN URINE

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR KASUS


PEMERIKSAAN PROTEIN URINE
NO. LANGKAH/TUGAS 1 2 3 4
1. Siapkan :
Alat :
a. Tabung rekais
b. Lampu spirtus
c. Botol urine
d. Corong
e. Penjepit tabung
f. Celemek
g. Hand shoen
h. Tempat sampah
i. Bengkok
j. Spuit 5 cc
k. Rak tabung reaksi
Bahan :
a. Reagen Bang
b. Tissue
c. Larutan Chlorin 0,5 %
d. Kertas saring
e. Korek api
f. Spirtus

2. Sediakan 2 tabung reaksi bersih dan kering dalam rak tabung


3. Isi kedua tabung tersebut masing-masing dengan 5 ml
4. Isi tabung kedua dengan reagen bang sebanyak 0,5 ml, kocok
secara homogen
5. Nyalakan lampu spirtus,kemudian bakar tabung kedua di atas
nyala api dengan menggunakan penjepit tabung sampai akan
mendidih antara 1-2 menit
6. Begitu larutan mendidih segera angkat, dan disimpan dalam rak
tabung reaksi biarkan selama 5 menit
7. Amati hasilnya dan bandingkan dengan tabung kesatu
Hasil Pembacaan :
a. (-) : Bila larutan jernih
b. (+) : Bila larutan keruh
c. (++) : Bila larutan keruh berbutir
d. (+++) : Bila larutan membentuk awan
e. (++++) : Menggumpal
SKOR NILAI = NILAI X 100%
21
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENILAIAN AWAL PADA IBU BERSALIN

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PENILAIAN AWAL PADA IBU BERSALIN
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan :
1. Tensi meter.
2. Stetoskop.
3. Termoneter.
4. Jam tangan.
5. Monoaural / doopler.
6. Metlin / Pita pengukur.
7. Kapas sublimat.
8. Air DTT dalam kom.
9. Handscoon dalam tempatnya.
10. Larutan klorin 0,5%
11. Status ibu dan alat tulis.
2. Menyambut ibu dan keluarga.
3. Memperkenalkan diri.
Meninjau kartu antenatal (jika ada) :
4. Mengkaji ulang / menanyakan mengenai usia kehamilan.
5. Mengkaji ulang / menanyakan mengenai riwayat kehamilan terdahulu ;
1. Paritas.
2. Riwayat Operasi Caesar
3. Riwayat Bayi Besar
4. Masalah-masalah selama kehamilan, dan persalinan
sebelumnya.
6. Mengkaji ulang/menanyakan mengenai masalah-masalah dengan
kehamilan yang sekarang (lengkapi penapisan).
Riwayat :
7. Menanyakan apa yang dirasakan ibu.
8. Menanyakan mengenai kontraksi ;
1. Kapan mulai terasa.
2. Frekuensi.
3. Durasi.
4. Kekuatannya.
9. Menanyakanmengenai adanya cairan vagina ;
1. Perdarahan vagina.
2. Lendir darah.
3. Aliran atau semburan cairan ;
- Kapan.
- Warna.
- Bau.
10. Menanyakan mengenai gerakan janin.
11. Menanyakan mengenai istirahat terakhir dan kapan makan terakhir.
12. Menanyakan terakhir buang air kecil dan besar.
13. Catat temuan pada status pasien.
Pemeriksaan Fisik
14. Meminta ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya, jika perlu periksa
jumlah urin, protein dan aseton dalam urin.
15. Mencuci tangan sebelum pemeriksaan fisik.
16. Nilai keadaan umum ibu dan tingkat nyeri.
17. Melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.
- Tekanan darah (lakukan pemeriksaan diantara dua kontraksi)
- Suhu tubuh
- Nadi (lakukan pemeriksaan diantara 2 kontraksi)
- Respirasi.
18. Memeriksa adanya edema pada muka.
19. Memeriksa adanya warna kuning pada sklera.
20. Memeriksa pucat pada ;
- Mata.
- Mulut.
21. Memeriksa ekstremitas ;
- Reflek patela.
- Edema.
- Varises pada kaki.
22. Melakukan pemeriksaan abdomen ;
- Leopold untuk posisi janin.
- Penurunan kepala janin.
- Tinggi fundus uteri.
- Frekuensi, durasi, kekuatan kontraksi.
- Luka bekas operasi.
23. Mendengarkan detak jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk
memastikan DJJ dalam batas normal ( 120-160 kali per menit )
24. Mencuci tangan dengan sabun dan air serta mengeringkannya dengan
handuk bersih.
25. Menjelaskan prosedur tindakan kepada ibu dan memberitahukan
kemungkinan ketidaknyamanan.
26. Gunakan sarung tangan DTT atau ateril pada kedua tangan.
27. Bersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan
ke belakang dengan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air DTT. Jika
mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke
belakang. Membuang kapas atau kassa yang sudah terekontaminasi
dalam wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi
(meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam
larutan dekontaminasi)
28. Pemeriksaan genitalia luar ;
Inspeksi :
Perdarahan.
Cairan amnion ; warna, bau, jumlah.
Bagian yang menumbung.
Lendir darah.
Perlukaan
Varices
Edema
Haemoroid
29. Melakukan pemeriksaan dalam ;
Pembukaan serviks.
Penipisan dan konsistensi serviks.
Penurunan dan posisi bagian presentasi.
Bagian lain yang menumbung.
Selaput ketuban
Jangan melakukan pemeriksaan dalam jika ibu melaporkan adanya
perdarahan jelas pada pemeriksaan inspeksi genitalia luar.
30. Mendekontaminasikan sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan
yang masih memakai sarung tangan kotor dedalam larutan klorin 0,5%
dan kemudian melepaskan dalam keadaan terbalik serat merendamnya
di dalam larutan tersebut selama 10 menit. Mencuci kedua tangan
(seperti diatas)
31. Memberitahu ibu dan keluarganyatentang hasil pemeriksaan.
32. Memberikan asuhan sayang ibu.
33. Mencatat /mendokumentasikanhasil-hasil pemeriksaan serta asuhan
lainnya pada partograf atau status ibu.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
99
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
LEMBAR OBSERVASI

NO HARI TANGGAL JAM TD N R S HIS DJJ KETERANGAN


PARTOGRAF
No. Register Nama ibu : _____________________ Umur : _________ G: ___ P: ___ A: ___
No. Puskesmas Tanggal: _______________________ Jam : ______________
Ketuban pecah sejak jam _______________________ Mules sejak jam __________________

200
190
180
170
160
Denyut
150
jantung
140
janin
130
( /menit) 120
110
100
90
80

Air ketuban
penyusupan

10
Pembukaan Servik (cm) beri tanda X

9 A K
A
8 AD ND
P TI
7 AS R
W BE
6
Jam

5
Turunnya Kepala

4
beri tanda

3
2
1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Waktu
(jam)

5
Kontraksi <20 4
tiap 20-40 3
10 menit >40 2
(detik) 1

Oksitosin U/L
Tetes /menit

Obat dan
Cairan IV

180
Nadi 170
160
150
140
130
120
Tekanan 110
darah 100
90
80
70
60

Temperatur 0
C

Protein
Urin Aseton
Volume
CATATAN PERSALINAN Ya, tindakan:
1. Tanggal: .......................................................................... a. ......................................................................................
2. Nama bidan:................................................................... b. ......................................................................................
3. Tempat persalinan: c. ......................................................................................
Rumah ibu Puskesmas 27. Laserasi:
Polindes Rumah Sakit Ya, dimana ......................................................................
Klinik Swasta Lainnya Tidak
4. Alamat tempat persalinan:........................................... 28. Jika laserasi perineum, derajat: 1 /2 /3 /4
5. Catatan: rujuk, kala: I/II/III/IV Tindakan:
6. Alasan merujuk: ............................................................ Penjahitan, dengan / tanpa anestesi
7. Tempat rujukan: ............................................................ Tidak dijahit, alasan: .....................................................
8. Pendamping pada saat merujuk: 29. Atonia uteri:
Bidan Teman Ya, tindakan:
Suami Dukun a. ......................................................................................
Keluarga Tidak ada b. ......................................................................................
c. ......................................................................................
KALA I Tidak
9. Partograf melewati garis waspada: Y/T 30. Jumlah perdarahan: .................................................. ml
10. Masalah lain, sebutkan: ................................................ 31. Masalah lain, sebutkan: ................................................
......................................................................................... 32. Penatalaksanaan masalah tersebut: .............................
11. Penatalaksanaan masalah tsb: ..................................... ..........................................................................................
......................................................................................... 33. Hasilnya: .........................................................................
12. Hasilnya:.........................................................................
BAYI BARU LAHIR:
KALA II 34. Berat badan ............................................................gram
13. Episiotomi: 35. Panjang .......................................................................cm
Ya, Indikasi ................................................................... 36. Jenis kelamin: L / P
Tidak 37. Penilaiannya bayi baru lahir: baik / ada penyulit
14. Pendamping pada saat persalinan: 38. Bayi lahir:
Suami Dukun Normal, tindakan:
Keluarga Tidak ada Mengeringkan
Teman Menghangatkan
15. Gawat janin: Rangsangan taktil
Ya, tindakan yang dilakukan: Bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
a. ..................................................................................... Tindakan pencegahan infeksi mata
b. ..................................................................................... Asfiksia ringan/pucat/biru/lemas, tindakan:
c. ...................................................................................... Mengeringkan Menghangatkan
Tidak Rangsangan taktil lain-lain, sebutkan
16. Distosia bahu Bebaskan jalan napas ............................................
Ya, tindakan yang dilakukan: Bungkus bayi dan tempatkan di sisi ibu
a. ..................................................................................... Cacat bawaan, sebutkan: ..............................................
b. ..................................................................................... Hipotermia, tindakan:
c. ...................................................................................... a. ......................................................................................
Tidak b. ......................................................................................
17. Masalah lain, sebutkan: ................................................ c. ......................................................................................
18. Penatalaksanaan masalah tersebut: ............................ 39. Pemberian ASI
......................................................................................... Ya, waktu: ..................................jam setelah bayi lahir
19. Hasilnya:......................................................................... Tidak, alasan:..................................................................
40. Masalah lain, sebutkan: ................................................
KALA III Hasilnya: .........................................................................
20. Lama kala III: ....................................................... menit
21. Pemberian Oksitosin 10 U IM ?
Ya, waktu:.......................... menit sesudah persalinan
Tidak, alasan ..................................................................
22. Pemberian ulang Oksitosin (2X) ?
Ya, alasan: .......................................................................
Tidak
23. Penegangan tali pusat terkendali ?
Ya
Tidak, alasan: .................................................................
24. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri ?
Ya
Tidak, alasan: .................................................................
25. Plasenta lahir lengkap (intact) : Ya / Tidak
Jika tidak lengkap, tindakan yang dilakukan:
a. .....................................................................................
b. .....................................................................................
26. Plasenta tidak lahir >30 menit: Ya / Tidak
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN DALAM

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PEMERIKSAAN DALAM
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Tindakan
1. Pasien :
Selimut mandi
Kapas sublimat.
Air DTT dalam kom.
Bengkok
Larutan klorin 0,5 %
Status ibu dan alat tulis.
2. Petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
3. Lingkungan :
Ruangan dalam keadaan tertutup
Persetujuan Tindakan Medik
4. Menjelaskan pada ibu apa yang akan dikerjakan dan memberitahukan
kemungkinan ketidaknyamanan serta memberikan kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan
5. Dengarkan apa yang disampaikan oleh ibu
6. Berikan dukungan emosional dan jaminan pelayanan
Tindakan
7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta mengeringkannya
dengan handuk bersih.
8. Meminta ibu untuk berkemih dan membasuh regio genetalia dengan sabun
dan air bersih
9. Meminta ibu berbaring di tempat tidur
10. Menutupi badan ibu dengan selimut atau kain
11. Mengatur posisi ibu dorsal recumbent
12. Mengunakan sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
13. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan
ke belakang dengan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air DTT. Jika
mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkan dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke
belakang. Membuang kapas atau kassa yang sudah terkontaminasi dalam
wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi
(meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan
dekontaminasi)
14. Memeriksa genitalia luar ;
Inspeksi :
Perdarahan.
Cairan amnion ; warna, bau, jumlah.
Mekoneum ; kental atau encer
Bagian yang menumbung.
Lendir darah.
Perlukaan
Massa
Varices
Edema
Haemoroid
Jika ada perdarahan pervaginam, jangan lakukan pemeriksaan dalam.

15. Dengan hati-hati pisahkan labia dengan jari manis dan ibu jari tangan kiri
pemeriksa. Masukkan jari telunjuk tangan kanan pemeriksa dengan hati-hati
diikuti oleh jari tengah. Setelah kedua jari tangan berada dalam vagina,
tangan kiri pemeriksa diletakkan di fundus ibu. Pada saat kedua jari berada di
dalam vagina, jangan mengeluarkannyasebelum pemeriksaan selesai. Jika
ketuban belum pecah, jangan lakukan amniotomi.
16. Nilai vagina. Luka parut lama di vagina bisa memberikan indikasi luka atau
episiotomi sebelumnya, hal ini mungkin menjadi informasi penting pada saat
kelahiran bayi.
17. Nilai pembukaan dan penipisan serviks
18. Pastikan tali pusat umbilikus dan/atau bagian-bagian kecil (tangan atau kaki
bayi) tidak teraba pada saat melakukan pemeriksaan pervaginam.
19. Nilai penurunan kepala janin dan tentukan apakah kepala sudah masuk ke
dalam panggul. Bandingkan penurunan kepala dengan temuan-temuan dari
pemeriksaan abdomen untuk menentukan kemajuan persalinan.
20. Jika kepala sudah dapat dipalpasi, raba fontanela dan sutura sagitali untuk
menentukan penyusupan tulang kepala dan/atau tumpang tindihnya, dan
apakan kepala janin sesuai dengan diameter jalan lahir.
21. Setelah pemeriksaan lengkap, keluarkan kedua jari pemeriksa dengan hati-
hati, sambil meminta ibu untuk menarik nafas panjang.
22. Mendekontaminasikan sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang
masih memakai sarung tangan kotor dedalam larutan klorin 0,5% dan
kemudian melepaskan dalam keadaan terbalik serta merendamnya di dalam
larutan tersebut selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti diatas)
23. Merapihkan ibu kembali dan membantu ibu mengambil posisi yang nyaman
24. Memberitahu ibu dan keluarganya tentang hasil pemeriksaan.
25. Mencatat /mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan pada status ibu.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
75
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

Kesimpulan :
PENUNTUN BELAJAR PERSALINAN NORMAL

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PERSALINAN NORMAL
KASUS
LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5

I. MELIHAT TANDA DAN GEJALA KALA DUA


1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua :
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau
vaginanya
Perineum menonjol
Vulva-vagina dan sfingter anal membuka
II. MENYIAPKAN PERTOLONGAN PERSALINAN
2. Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap digunakan,
yaitu :
Partus set :
2 klem kelly atau kocher
Gunting tali pusat
Benang tali pusat
kocher
1 pasang sarung tangan DTT
Kateter nelaton
Gunting episiotomi
Kassa secukupnya
Kapas DTT dalam tempatnya
Spuit 2 atau 3 ml
1 ampul oksitosin 10 U
Kapas alkohol dalam tempatnya
DeLee
2 kain bersih
2 handuk
Celemek plastik
Perlengkapan perlindungan pribadi : masker, kaca mata, alas kaki tertutup
Perlak
Lenec
Tensimeter
Larutan klorin 0,5 % dalam tempatnya
Air DTT dalam tempatnya
3 buah tempat sampah : basah, kering, tempat benda tajam
Kantung plastik atau pendil
Kain ibu
Pembalut
Gurita
Waslap
Mematahkan ampul oksitosin 10 U, dan menempatkan tabung suntik steril sekali
pakai di dalam partus set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku. Mencuci kedua tangan
dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan
haduk satu kali pakai / pribadi yang bersih.
5. Memakai sarung tangan DTT. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi
atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung
tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkannya kembali di partus
set/ wadah desinfeksi tingkat tinggi atau steril tampa mengkontaminasi tabung
suntik.

III. MEMASTIKAN PEMBUKAAN LENGKAP & KEDAAN JANIN BAIK


7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke
belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang sudah dibasahi air
desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi
oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari
depan ke belakang. Membuang kapas atau kassa yang terkontaminasi dalam
wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan
kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminai,
langkah # 10)
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan bahwa pembukaan sudah lengkap
Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap,
lakukan amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian
melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya di larutan klorin 0,5%
selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di atas).
10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi uterus berakhir untuk
memastikan DJJ dalam batas normal (100 180 x/mnt)
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-
hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf
IV. MENYIAPKAN IBU DAN KELUARGA UNTUK MEMBANTU PROSES PIMPINAN MENERAN
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya.
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan
pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan
pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung
dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran. (Pada
saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu merasa
nyaman)
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan kuat untuk
meneran :
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk
meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya (tidak
meminta ibu berbaring terlentang)
Menganjurkan ibu untuk istirahat di antara kontraksi
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu
Menganjurkan asupan cairan per oral
Menilai denyut jantung janin setiap lima menit
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam
waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60 menit (1 jam)
untuk ibu multipara, merujuk segera
14. Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk
mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di
antara kontraksi
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah
60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera

V. PERSIAPAN PERTOLONGAN KELAHIRAN BAYI


15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, meletakkan
handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
Sediakan tempat untuk mengantisipasi terjadinya komplikasi persalinan
(asfiksia), sebelah bawah kaki ibu tempat yang datar alas keras. Beralaskan 2
kain dan 1 handuk. Dengan lampu sorot 60 watt (jarak 60 cm dari tubuh bayi)
16. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu
17. Membuka partus set
18. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan

VII. MENOLONG KELAHIRAN BAYI

Lahirnya Kepala
19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum
dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala
bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,
membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran
perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir
Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut dan hidung
bayi setelah kepala lahir menggunakan penghisap lendir DeLee disinfeksi
tingkat tinggi atau steril atau bola karet penghisap yang baru dan bersih
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu
terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi :
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas
kepala bayi.

Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat, dan
memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan

Lahirnya Bahu
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-
masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi
berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah luar hingga
bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik
ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior

Lahinya Badan dan Tungkai


23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang
berda di bagian bawah ke arah perineum tangan, membiarkan bahu dan lengan
posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi
saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh
bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterio (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior)
dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung dan kaki
lahir. Memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati-hati membantu kelahiran
kaki.

VII. PENANGAN BAYI BARU LAHIR


25. Menilai bayi dengan cepat
Apakah bayi menangis kuat?
Apakah bayi bergerak dengan aktif ?
Apakah warna kulit bayi merah?

(jika dalam penilaian terdapat jawaban tidak dari 3 pertanyaan, maka lakukan
langkah awal), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala
lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di
tempat yang memungkinkan)
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya
kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan
handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi di atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM
(intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari
pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat
pada 2 cm distal dari klem pertama.

VIII. PENATALAKSANAAN AKTIF PERSALINAN KALA III


Oksitosin
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi),
lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut dan mengikat tali pusat
dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali
benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
32. Letakkan bayi tengkurap di dada ibu.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.

Penegangan Tali Pusat Terkendali


34. Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva
35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang
pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan
menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan perenganganke arah
bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah
pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan
belakang (dorso-kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya
inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 40 detik, menghentikan
peragangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.
Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga
untuk melakukan rangsangan puting susu
Mengeluarkan Plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat
ke arah bawah dan kemudian ke atas, mengikuti kurve jalan lahir sambil
meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-
10 cm dari vulva
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan peregangan tali pusat selama 15
menit :
Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih dengan
menggunakan teknik aseptik jika perlu
Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
Mengulangi peregangan tali pusat selama 15 menit berikutnya
Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran
bayi
38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan
dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan
lembut dan perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.
Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi
atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama.
Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi
atau steril untuk melepasakan selaput yang tertinggal

Rangsangan Taktil (Pemijatan) Uterus


39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,
meletakkan telapak tangan kanan di fundus dan melakukan masase dengan
gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi
keras ).

IX. MENILAI PERDARAHAN


40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan
selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban lengkap dan utuh.
Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.
Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selama 15 detik
mengambil tindakan yang sesuai
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit
laserasi yang mengalami perdarahan aktif

X. MELAKUKAN PROSEDUR PASCA PERSALINAN


42. Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan baik
Mengevaluasi perdarahan pervaginam
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1
jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata
antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di
paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47. Ajarkan ibu dan keluarga melakukan masase uterus dan nilai kontraksi
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

Evaluasi
49. Memeriksa tekanan darah, nadi dan kandung kemih setiap 15 menit selama satu
jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua
pascapersalinan.
Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama
pascapersalinan
Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal
50. Periksa kembali bayi untuk pastikan bayi bernafas dengan baik serta suhu tubuh
normal.

Kebersihan dan Keamanan


51. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk
didekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah
didekontaminasi
52. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang
sesuai
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan cairan ketuban,
lendir dan darah. Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering
54. Memastikan ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan
keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkannya
55. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan
klorin 0,5%, dan membilasnya dengan air bersih
56. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan
bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit
57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir
Dokumentasi
58. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang)
SKOR NILAI = NILAI X 100%
90
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

Kesimpulan :
PENUNTUN BELAJAR ANESTESI LOKAL SEBELUM MELAKUKAN
EPISIOTOMI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
ANESTESI LOKAL SEBELUM MELAKUKAN EPISIOTOMI
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Tindakan
1. Pasien :
Spuit 10 cc
Jarum ukuran 22
Lidocain hydrochloride 1 %
Kapas sublimat
Air DTT
2. Petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
Tindakan
3. Jelaskan kepada ibu apa yang akan dilakukan, dan bantulah ibu untuk rileks
4. Isilah alat suntik dengan larutan anestesi
5. Bersihkan daerah perineum dari kotoran menggunakan kapas dan air DTT
6. Tempatkan dua jari penolong diantara kepala janin dan perineum ibu. Sangat
penting agar jari tangan penolong berfungsi sebagai pelindung didepan
kepala janin. Menginjeksikan larulan anestesi ke dalam kepala bayi dapat
menyebabkan kematian
7. Masukkan seluruh panjang jarum mulai dari fourchette, menembus persis di
bawah kulit, sepanjag garis episiotomi. Tarik sedikit fluger penghisap dari alat
suntik untuk memeriksa aspirasi darah. Jika anda menginjeksikan larutan
anestesi lokal langsung ke pembuluh darah, hal itu bisa menyebabkan kerja
jantung menjadi tidak teratur. Injeksikan secara merata sambil penolong
menarik jarumnya keluar
8. Miringkan arah tusukan jarum ke sisi lain dari garis tengah lalu ulangi langkah
8. Ulangi pada sisi lain mulai dari tengah

9. Rubah posisi dari jarum sekali lagi dan ulangi, injeksikan ke bagian tengah
dari dinding belakang vagina. Ingat untuk melindungi kepala bayi dengan
jalan meletakkan jari-jari penolong di antara kepala bayi dan jarum. Hingga
saat ini penolong seharusnya telah menginjeksikan 10 cc dari larutan
anestesi tersebut

10. Jika masih ada waktu, tunggu satu atau dua menit sebelum melakukan
episiotomi. Kalau tidak, ingat bahwa penipisan dan peregangan perineum
merupakan anestesia alamiah. Obat anestesi seharusnya mulai sudah
bekerja pada saat penolong melakukan episiotomi.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
33
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

Kesimpulan :
PENUNTUN BELAJAR EPISIOTOMI MEDIOLATERAL

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
EPISIOTOMI MEDIOLATERAL
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Tindakan
1. Pasien :
Kassa steril
Bethadine
Gunting episiotomi
Larutan klorin 0.5%
2. Petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
Tindakan
3. Jelaskan kepada ibu apa yang akan dilakukan, dan bantulah ibu untuk rileks
4. Lakukan teknik aseptik pada daerah perineum yang akan dilakukan
episiotomi
5. Ingatlah bahwa saat yang tebaik untuk memotong episiotomi ialah pada saat
perineum sedang menipis dan pucat atau mengkilap. Kehilangan darah akan
lebih besar jika anda memotong lebih cepat. Akan tetapi, jika anda memotong
episiotomi atas indikasi kegawatan bayi, maka lakukan pemotongan kapan
saja diperlukan untuk mempercepat kelahiran bayi.
6. Setelah pemberian 10 cc anestesi lokal ambillah gunting episiotomi yang
tajam dengan satu tangan. Letakkan kedua jari tangan lainnya di dalam
vagina diantara gunting dan kepala bayi untuk mencegah luka pada kepala
bayi secara tidak sengaja. Ujung mata gunting yang tumpul haruslah di dalam
vagina. Mulailah pada titik tengah dari perineum dan miringkan gunting anda
sebesar 45 derajat. Jika anda tidak kidal, potonglah ke arah bokong kanan
ibu. Jika anda kidal, potonglah ke arah bokong kiri ibu.
7. Buatlah episiotomi dengan satu atau dua potongan besar. Potongan yang
kecil-kecil akan membuat pinggiran luka bergerigi dan akan membuat
penjahitan lebih sulit dan penyembuhan luka lebih lama.
8. Setelah selesai melakukan pemotongan, putarlah gunting anda dan posisikan
menghadap ke atas vagina. Dengan tangan anda lindungilah kepala bayi.
Masukkan gunting yang telah dipakai tersebut dalam larutan klorin 0.5 %
9. Tekanlah kain kassa ke daerah luka sementara ibu tersebut melanjutkan
meneran bersamaan dengan datangnya kontraksi untuk mencegah
kehilangan darah yang berkelanjutan. Jangan lupa menggunakan teknik steril
yang baik. Jika anda mengangkat kassa tersebut dari luka, anda perlu
mengambil kassa baru lain untuk menggantikannya. Hati-hati agar jangan
sampai mencemari lika (infeksi) dengan sentuhan pada daerah tersebut oleh
tangan anda yang bersarung, atau oleh kassa, kapas, kain atau alat.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
27
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING

Kesimpulan :
PENUNTUN BELAJAR AMNIOTOMI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
AMNIOTOMI
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Tindakan
1. Pasien :
Klem Kocher
Bengkok
Lenec / dopler
Larutan klorin 0.5 %
2. Petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
Tindakan
3. Saat melakukan pemeriksaan vagina, sentuhlah selaput ketuban yang
sedang menggelembung. Pastikan bahwa kepala sudah (benar-benar masuk
ke dalam panggul) engaged dan bahwa anda tidak merasakan adanya
bagian-bagian kecil janin.
4. Memasukkan klem kocher ke dalam vagina dengan jari tangan kiri anda
dituntun oleh tangan kanan anda yang memakai sarung tangan hingga anda
bisa merasakan / menyentuh selaput ketuban.
5. Apabila kontraksi melemah, pindahkan jari tangan kanan anda dan gunakan
klem kelly atau kocher untuk memecahkan selebar 1-2 cm dari atas ke
bawah selaput membran hingga pecah.
6. Dengan menggunakan tangan kiri anda keluarkan klem kelly atau kocher
dan masukkan ke dalam larutan klorin 0.5%. pertahankan jari tangan kanan
anda di dalam vagina untuk merasakan penurunan kepala janin dan untuk
memastikan bahwa anda tidak meraba adanya tali pusat atau bagian-bagian
kecil dari janin. Setelah anda memastikan penurunan kepala janin dan tidak
adanya tali pusat dan bagian kecil janin, keluarkan tangan kanan anda secara
lembut dari dalam vagina.
7. Evaluasi warna cairan ketuban, periksa apakah ada mekonium atau darah
(lebih banyak dari bercak bercampur darah yang normal). Jika mekonium
atau darah terlihat, lakukan langkah-langkah gawat darurat.
8. Cucilah sekresi dari sarung tangan anda di dalam larutan klorin 0.5% lalu
kemudian lepaslah sarung tangan tersebut dan rendam di dalam larutan
klorin 0.5% tersebut.
9. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir

10 Periksa kembali denyut jantung janin. Masukkan dalam partograf waktu


pemecahan selaput ketuban, warna air ketuban dan DJJ
SKOR NILAI = NILAI X 100%
30
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENJAHITAN PERINEUM

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PENJAHITAN PERIEUM
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Penjahitan
1. Siapkan peralatan untuk melakukan penjahitan :
Bak instrumen steril berisi : sepasang sarung tangan, pemegang jarum,
jarum jahit otot dan kulit, chromic catgut atau catgut no. 2/0 atau 3/0,
pinset, gunting benang dan kassa steril
Alat suntik sekali pakai 10 ml dibuka dan dimasukkan ke dalam heacting
set
Satu ampul lidokain 1% dipatahkan
Kain bersih
Kapas DTT
Air DTT
Lampu sorot / senter yang diarahkan ke vuva/perineum ibu
Larutan klorin 0.5%
2. Persiapan petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
3. Posisikan bokong ibu pada sudut ujung tempat tidur, dengan posisi litotomi
4. Cuci tangan dengan sabun, keringkan dengan kain bersih dan kering
5. Pakai sarung tangan DTT atau steril
6. Isi tabung suntik 10 ml dengan larutan lidokain 1%, dengan teknik satu
tangan, letakkan kembali ke dalam wadah heacting set
7. Lengkapi pemakaian sarung tangan pada ke dua tangan
8. Pasang kain bersih di bawah bokong ibu
9. Gunakan kasa bersih, untuk membersihkan daerah luka dari darah atau
bekuan darah, dan nilai kembali luas dan dalamnya robekan pada daerah
perineum
10. Beri tahu ibu akan disuntik
11. Tusukkan jarum suntik pada ujung luka / robekan perineum, masukkan jarum
suntik secara subkutan sepanjang tepi luka
12. Aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap. Bila ada darah,
tarik jarum sedikit dan kembali masukkan. Ulangi lagi aspirasi ( cairan lidokain
yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat menyebabkan gangguan
denyut jantung hingga tidak teratur )

13. Suntikkan cairan lidokain 1% secukupnya sambil menarik jarum suntik pada
tepi luka daerah perineum
14. Tampa menarik jarum suntik keluar dari luka, arahkan jarum suntik sepanjang
tepi luka pada mukosa vagina, lakukan aspirasi, suntikkan cairan lidokain 1%
sambil menarik jarum suntik. ( Bila robekan besar dan dalam, anastesi daerah
bagian dalam robekan alur suntikan anastesi akan berbentuk seperti kipas :
tepi perineum, dalam luka, tepi mukosa vagina )
15. Lakukan langkah no. 11 s/d 14 untuk ke dua tepi robekan
16. Tunggu 1-2 menit sebelum melakukan penjahitan untuk mendapatkan hasil
optimal dari anastesi
Penjahitan Robekan
17. Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat robekan. Rabalah
dengan ujung jari anda seluruh daerah luka. Lihatlah dengan cermat dimana
ujung luka tersebut
18. Jika ada perdarahan yang terlihat menutupi luka episiotomi, pasang tampon
atau kassa ke dalam vagina ( sebaiknya menggunakan tampan bertali )
19. Tempatkan jarum jahit pada pemegang jarum, kemudian kunci pemegang
jarum
20. Pasang benang jahit pada mata jarum
21. Lihat dengan jelas batas luka episiotomi
22. Lakukan penjahitan pertama 1 cm di atas ujung luka di dalam vagina ibu.
23. Peganglah pemegang jarum dengan tangan lainnya. Gunakan pemegang
jarum (pinset) untuk menarik jarum melalui jaringan. Jangan sekali-kali
menggunakan jari tangn. Menggunakan jari tangan untuk meraba jarum
adalah berbahaya. Anda bisa menusuk jari tangan anda atau melobangi
sarung tangan anda yang akan meningkatkan risiko terkena infeksi kuman
dari darah seperti HIV atau hepatitis B
24. Ikat jahitan pertama dengan simpul mati. Potong ujung benang yang bebas (
ujung benang tampa jarum ) hingga tersisa kira-kira 1 cm
25. Jahit mukosa vagina dengan menggunakan jahitan jelujur hingga tepat di
belakang lingkaran himen.
26. Jarum kemudian akan menembus mukosa vagina, sampai kebelakang
lingkaran himen, dan tarik keluar pada luka perineum. Perhatikan seberapa
dekatnya jarum ke puncak lukanya.
27. Gunakan teknik jahitan jelujur saat anda menjahit lapisan ototnya. Lihat ke
dalam luka untuk mengetahui letak ototnya. Otot biasanya tampak sedikit
lebih merah dan rasanya agak keras bila disentuh. Penting sekali untuk
menjahit otot ke otot. Rasakan dasar dari luka, ketika anda sudah mencapai
ujung luka, berarti anda telah menutup lapisan otot yang dalam
28. Setelah mencapai ujung luka yang paling akhir dari luka, putarlah arah jarum
anda dan mulailah menjahit ke arah vagina, dengan menggunakan jahitan
untuk menutup jaringan subcuticuler. Carilah lapisan subcuticuler umumnya
lembut dan memiliki warna yang sama dengan mukosa vagina. Kini anda
membuat jahitan lapis kedua. Perhatikan sudut jarumnya. Jahitan lapis kedua
ini akan meninggalkan lebar luka kira-kira 0.5 cm terbuka. Luka ini akan
menutup sendiri pada waktu proses penyembuhan berlangsung
29. Sekarang pindahkan jahitannya dari bagian luka perineal kembali ke vagina di
belakang cincin himen untuk diamankan, diikat dan dipotong benangnya.
30. Ikatlah jahitannya dengan simpul mati. Untuk membuat simpul tersebut
benar-benar kuat, buatlah 1 kali simpul mati
31. Potong kedua ujung benang, dan hanya disisakan masing-masing 1 cm. Jika
ujung dipotong terlalu pendek, jahitan mungkin akan bisa terlepas. Jika hal ini
terjadi, seluruh jahitan episiotomi akan menjadi longgar dan terlepas
32. Masukkan jari anda ke dalam rektum
33. Rabalah puncak dinding rektum untuk mengetahui apakah ada jahitan. Jika
anda meraba ada jahitan, maka pastikan agar anda memeriksa kembali
rektum tersebut 6 minggu pasca kelahiran. Jika belum sepenuhnya sembuh
pada saat itu (yakni, anda merasakan adanya fistula), maka rujuklah ibu
tersebut ke dokter
34. Periksa ulang kembali untuk memastikan bahwa anda tidak meninggalkan
apapun seperti kassa, tampon, instrumen di dalam vagina ibu
35. Cucilah alat kelamin ibu dengan air bersabun
37. Keringkan dan buat ibu merasa nyaman
38. Berikan petunjuk kepada ibu mengenai cara pembersihan daerah perineum
dengan sabun dan air 3 sampai 4 kali setiap hari. Kalau tidak, ia harus
menjaga agar perineumnya tetap kering dan bersih. Beritahu ibu agar jangan
memasukkan benda apapun ke dalam vaginanya
39. Dan mintalah agar ibu kembali dalam waktu satu minggu agar anda bisa
memeriksanya kembali
50. Jika memungkinkan, periksa perineum setiap hari selama 3-4 hari. Lihat,
kalau-kalau ada bintik merah, nanah atau jahitan yang lepas atau terbuka,
atau hematoma. Hematoma bisa tampak seperti luka lecet atau
pembengkakan yang mengkilap. Periksa dengan cermat untuk mengetahui
apakah ia bertambah besar. Jika panjangnya lebih dari 3-4 cm, rujuklah ibu
tersebut ke rumah sakit agar hematoma tersebut bisa dibuka danbekuan
darahnya bisa dibuang lalu dijahit kembali
SKOR NILAI = NILAI X 100%
150
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR DISTOSIA BAHU

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
DISTOSIA BAHU
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Penjahitan
1. Persiapan peralatan :
Gunting episiotomi
2. Persiapan petugas :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
3. Pakai sarung tangan DTT atau steril
4. Lakukan episiotomi secukupnya
5. Lakukan manuver McRoberts :
a. Dengan posisi ibu berbaring pada punggungnya, minta ibu untuk
menarik kedua lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. Minta dua
asisten untuk membantu ibu
b. Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (ke
arah anus ibu) untuk menggerakkan bahu anterior di bawah simfisis
pubis. Hindari penarikan yang berlebihan pada kepala bayi karena
mungkin akan melukainya
c. Secara bersamaan mintalah salah satu asisten untuk memberikan
sedikit tekanan suprapubis ke arah bawah dengan lembut (Manuver
Mashanti). Jangan lalukan dorongan pada fundus, karena akan
mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan ruptura uteri
6. Jika bahu tetap tidak lahir :
a. Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada
bahu anterior, ke arah sternum bayi, untuk memutar bahu bayi dan
mengurangi diameter bahu (Manuver Rubin).
b. Jika perlu, lakukan penekanan pada bahu posterior ke arah sternum
(Manuver Wood)
7. Jika bahu masih tetap tidak lahir :
a. Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan pegang tulang lengan atas
yang berada pada posisi posterior
b. Fleksikan lengan bayi di bagian siku, letakkan lengan tersebut melintang
di dada bayi, pegang jari-jari bayi dan keluarkan lengan secara manual
seperti mengusap wajah (Manuver scwartz and Dixon)
8. Jika bahu masih tetap tidak lahir setelah melakukan manuver-manuver di
atas, minta ibu untuk berganti posisi merangkak. Coba bantu kelahiran bayi
tersebut dalam posisi ini dengan cara melakukan tarikan perlahan-lahan pada
bahu anterior ke arah atas dengan hati-hati; segera setelah bahu anterior
lahir, lahirkan bahu posterior dengan tarikan perlahan-lahan ke arah bawah
dengan hati-hati. Jika tetap tidak berhasil, rujuk ibu
SKOR NILAI = NILAI X 100%
24
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENANGANAN ATONIA UTERI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

DAFTAR TILIK KOMPRESI BIMANUAL UTERUS


NO KASUS
LANGKAH/TUGAS 1 2 3 4 5
Persetujuan Tindakan Medik
1. Sapa klien dengan ramah dan perkenalkan diri anda dan
tanyakan tujuan kedatangannya
2. Beritahu pada ibu apa yang akan dikerjakan dan berikan
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan
3. Dengarkan apa yang disampaikan oleh ibu
4. Berikan dukungan emosional dan jaminan pelayanan
5. Pelajari keadaan umum (kesadaran, tensi, nadi, nafas) untuk
memastikan bahwa ditemukan keadaan yang merupakan
indikasi dan syarat tindakan obstetrik, atasi renjatan
6. Memberitahukan suami/keluarga terdekat akan kondisi ibu
dan tindakan yang akan dilakukan
Persiapan Tindakan
7. Pasien :
Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan
dengan air dan sabun
Cairan infus sudah terpasang jika diperlukan
Uji fungsi dan kelengkapan peralatan
Siapkan alas bokong, sarung kaki dan penutup perut
bawah
9. Penolong :
Apron plastik, masker, kacamata pelindung
Sarung tangan panjang DTT/steril
Alas kaki/sepatu boot karet
Lampu sorot
Pencegahan Infeksi Sebelum Tindakan
Tindakan
10. Kosongkan kandung kemih
11. Setelah kandung kemih dikosongkan, cabut kateter dan
masukkan kedalam wadah yang berisi cairan klorin 0,5%
12. Pasang speculum dibawah dan diatas. Bila diperlukan,
pasang spekulum lateral kiri dan kanan
13. Tentukan bahwa perdarahan memang keluar melalui ostium
serviks, bukan dari laserasi atau robekan jalan lahir
14. Lepaskan spekulum dan letakkan di dalam wadah yang
tersedia
15. Bersihkan sarung tangan, lepas dan rendam secara terbalik
dalam larutan klorin 0,5%
16. Cuci tangan dan lengan, keringkan dengan handuk
17. Pakai sarung tangan DTT yang baru dengan benar
18. Pastikan cairan infus berjalan baik dan uterotonika sudah
diberikan
KOMPRESI BIMANUAL INTERNA
19. Letakkan tangan kiri tepat di atas fundus uteri ibu untuk
menekan uterus dari luar
20. Masukkan tangan secara obstetric ke dalam lumen vagina
Ubah menjadi tangan tersebut menjadi kepalan tinju dan
letakkan pada forniks anterior kemudian dorong segmen
21. bawah uterus ke anterior usahakan seluruh dataran
punggung jari telunjuk hingga kelingking menyentuh fornik
anterior.
22. Lakukan kompresi bimanual internal selama 5 menit
Lakukan dengan mendekatkan telapak tangan luar dan
23.
kepalan tangan bawah sekuat mungkin
Jika uterus berkontraksi, teruskan KBI selama 2 menit,
24. keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat
dengan ketat
Keluarkan tangan kanan, bersihkan sarung tangan dan
25.
rendam dalam klorin 0,5 %.
26. Cuci tangan dan lengan, keringkan dengan handuk.
KOMPRESI BIMANUAL UTERUS EKSTERNA
27. Jika uterus tidak berkontraksi. Anjurkan keluarga untuk mulai
melakukan kompresi bimanual eksternal (KBE) dengan
posisi penolong masih melakukan KBI
28. Keluarkan tangan perlahan-lahan
29. Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika
hipertensi)
30. Pasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan
berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin. Habiskan 500 ml
pertama secepat mungkin
31. Jika uterus berkontraksi ulangi KBI selama 2 menit.
32. Keluarkan tangan kanan, bersihkan sarung tangan dan
rendam dalam klorin 0,5 %.
33. Cuci tangan dan lengan, keringkan dengan handuk.
34. Jika uterus tidak berkontraksi maka rujuk segera
35. Dekontaminasi dan Pencegahan Infeksi Pasca Tindakan
Perawatan Lanjutan
36. Perhatikan tanda vital, perdarahan dan kontraksi uterus tiap
10 menit dalam 2 jam pertama
37. Melakukan dan mengajari keluarga masasse uteri
38. Tuliskan hasil tindakan dan instruksi perawatan lanjutan,
jelaskan dan serahkan pemantauan dan status pada
petugas
39. Beritahukan kepada pasien dan keluarganya tentang
tindakan dan hasilnya serta perawatan lanjutan yang masih
diperlukan.
40. Dokumentasikan tindakan yang dilakukan

SKOR NILAI = Nilai X 100%


120

TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR MANUAL PLASENTA

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
MANUAL PLASENTA
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
Persiapan Sebelum Tindakan :
1. Klien :
a. Cairan dan slang infus sudah terpasang. Perut bawah dan paha sudah
dibersihkan
b. Uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi
c. Menyiapkan kain alas bokong dan penutup perut bawah
d. Medikamentosa :
Analgetika ( Pethidin 1-2 mg/kg BB / Ketamin HCl 0,5 mg/kg BB /
tramadol 1-2 mg/kg BB
Sedativa ( Diazepam 10 mg )
Uterotonika ( Oksitosin, Ergometrin, Prostaglandin )
Bethadine
Oksigen dan regulator
2. Penolon :
a. Celemek, masker, kacamata pelindung, sepatu bot
b. Sarung tangan panjang DTT / Steril
c. Instrumen :
Klem : 2 buah
Spuit 5 cc dan jarum no. 23 : 4 buah
Wadah Plasenta : 1 buah
Kateter dan penampung air kemih : 1 buah
Heacting set : 1 set
d. Larutan Klorin 0,5 %
Persetujuan Tindakan Medik
3. Menjelaskan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan
4. Mendengarkan keluhan klien
5. Memberikan dukungan emosional kepada klien
Tindakan Penetrasi ke Kavum Uteri
6. Mencuci tangan hingga siku dengan air dan sabun kemudian keringkan
7. Memberikan sedativa dan analgetik melalui karet infus
8. Memakai sarung tangan hingga mencapai siku
9. Mengkaterisasi kandung kemih apabila ibu tidak dapat berkemih sendiri
10. Menjepit tali pusat dengan klem dan tegangkan tali pusat sejajar lantai
11. Memasukkan satu tangan secara obstetrik (punggung tangan ke bawah)
dalam vagina dengan menelusuri bagian bawah tali pusat
12. Setelah tangan mencapai pembukaan servik, meminta asisten untuk
memegang klem, kemudian tangan penolong yang lain menahan fundus uteri
13. Sambil menahan fundus uteri, memasukkan tangan dalam ke klavum uteri
sehingga mencapai tempat implatasi plasenta
14. Membuka tangan obstetrik menjadi seperti memberi salam (ibu jari merapat
ke pangkal jari telunjuk)
Melepas Plasenta dari Dinding Uterus
15. Menentukan tempat implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah
Bila berada di belakang, tali pusat tetapdi sebelah atas. Bila dibagian
depan, pindahkan tangan ke bagian depan tali pusat dengan punggung
tangan menghadap ke atas
Bila plasenta di bagian belakang, lepaskan plasenta dari tempat
implantasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari di antara plasenta
dan dinding uterus, dengan punggung tangan menghadap ke dinding
dalam uterus
Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (pungggung
tangan pada dinding kavum uteri) tetapi tali pusat berada di bawah
telapak tangan kanan
16. Menggerakkan tangan kanan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke kranial
sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan

Sambil melakukan tindakan, perhatikan keadaan ibu, lakukan


penanganan yang seuai bila terjadi penyulit
Mengeluarkan Plasenta
17. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulang
untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada
dinding uterus
18. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus saat plasenta
dikeluarkan
19. Instruksikan asisten yang memegang klem untuk menarik tali pusat sambil
tangan dalam menarik plasenta keluar (hindari percikan darah)
20. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan
21. Lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar) ke dorsokranial
setelah plasenta lahir
Perhatikan kontraksi uterus dan jumlah perdarahan yang keluar
22. Memeriksa kelengkapan plasenta
23. Dekontaminasi alat bekas pakai ke dalam larutan klorin 0.5% dan membuka
sarung tangan di dalam larutan klorin 0.5%
24. Membersihkan dan merapikan ibu
25. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
Perawatan Lanjutan
26. Memonitor perdarahan pervaginam dam memeriksa tanda-tanda vital :
setiap 15 menit pada jam pertama
setiap 30 menit pada jam kedua
27. Meyakinkan bahwa uterus tetap berkontraksi
28. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan
29. Buat instruksi pengobatan lanjutan dan hal-hal penting untuk dipantau
30. Beritahukan kepada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi
ibu masih memerlukan perawatan
SKOR NILAI = NILAI X 100%
90
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PERSALINAN LETAK SUNGSANG

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
PERSALINAN SUNGSANG
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Menyiapkan peralatan yang digunakan
2. Informasikan pada ibu apa yang akan dilakukan dan diberikan dukungan agar
ibu percaya diri dan berani bertanya
3. Dengarkan apa yang ingin disampaikan ibu
4. Berikan dukungan emosional dan jaminan
5. Pastikan bahwa prasyarat persalinan sungsang terpenuhi :
Letak bokong murni
Ukuran rongga panggul yang adekuat
Bayi tidak terlalu besar
Tidak ada riwayat SC karena CPD
Kepala fleksi
TINDAKAN PRA PERSALINAN SUNGSANG
6. Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, keringkan dengan
handuk yang bersih
7. Menggunakan sarung tangan DTT
8. Membersihkan daerah vulva dengan cairan antiseptik
9. Jika diperlukan, kateterisasi kandung kemih
PERSALINAN SUNGSANG
MELAHIRKAN BOKONG DAN KAKI
10. Jika bokong telah mencapai vagina dan pembukaan lengkap, suruh ibu
meneran bersamaan dengan his
11. Jika perineum tampak kaku lakukan episiotomi
12. Biarkan bokong sampai skapula lahir dan kelihatan di vagina
13. Pegang bokong dengan hati-hati, jangan lakukan penarikan
14. Jika kaki tidak lahir spontan, lahirkan satu kaki terlebih dahulu :
Tekan belakang lutut
Genggam tumit dan lahirkan kaki
Ulangi untuk melahirkan kaki yang lain
15. Pegang bagian pinggul bayi
MELAHIRKAN TANGAN
16. Jika tangan menempel pada dada biarkan lahir dengan spontan :
Jika lengan pertama lahir, angkat bokong ke arah perut ibu agar lengan
kedua lahir spontan
Jika tangan tidak lahir spontan, tempatkan 1 atau 2 jari di siku bayi dan
tekan, agar tangan turun melewati muka bayi
17. Jika lengan lurus ke atas kepala atau terjungkit di belakang kepala (Nuchel
arm) gunakan perasat atau cara Lovset :
Setelah bokong dan kaki bayi lahir, pegang pinggul bayi dengan kedua
tangan
Putar bayi 180 derajat sambil tarik ke bawah dengan lengan bayi yang
terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang menjungkit, sehingga
lengan posterior berada di bawah simpisis (depan).
Bantu melahirkan lengan dengan memasukkan 1 atau 2 jari pada lengan
atas serta menarik secara perlahan tangan ke bawah melalui dada
(seolah olah tangan bayi mengusap dadanya) sehingga siku dalam
keadaan fleksi dan lengan depan lahir. Untuk melahirkan lengan kedua,
putar kembali 180 derajat ke arah yang berlawanan ke kiri/ke kanan
sambil ditarik secara perlahan sehingga lengan belakang menjadi lengan
depan dan lahir di depan
18. Jika badan bayi tidak dapat diputar, lahirkan bahu belakang terlebih dahulu :
Pegang pergelangan kaki dan angkat ke atas
Lahirkan bahu belakang/posterior
Lahirkan lengan dan tangan
Pegang pergelangan kaki dan tarik ke bawah
Lahirkan bahu dan lengan depan
MELAHIRKAN KEPALA
19. Melahirkan kepala dengan cara Mauriceau - Smelle Veit :
Masukkan tangan kiri penolong ke dalam vagina
Letakkan badan bayi di atas tangan kiri penolong sehingga badan bayi
seolah-olah menunggang kuda
Letakkan jari telunjuk dan jari manis kiri pada maxila bayi, dan jari
tangan di dalam mulut bayi
Tangan kanan memegang/mencengkram tengkuk bahu bayi dan jari
tengah mendorong aoksipital sehingga kepala menjadi fleksi
Dengan koordinasi tangan kiri dan kanan secara hati-hati tariklah kepala
dengan gerakan memutar sesuai dengan jalan lahir
Minta asisten menekan atas tulang pubis ibu, sewaktu melahirkan kepala
Angkat badan bayi (posisi menunggang kuda) ke atas untuk melahirkan
mulut hidung dan seluruh kepala
20. Bila perlu setelah melahirkan bayi periksa apakah ada perlukaan jalan lahir
21. Jahit luka episiotomi jika sebelumnya dilakukan episiotomi
22. Lakukan asuhan segera pada ibu post partum dan bayi baru lahir
TINDAKAN SETELAH PERSALINAN SUNGSANG
23. Sebelum melepaskan sarung tangan, buang terlebih dahulu kapas atau kassa
dan sampah lainnya ke dalam tempat sampah yang tidak bocor/kantong
plastik
24. Rendam instrumen ke dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit untuk
dekontaminasi
25. Bilas kedua sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% :
Lepaskan sarung tangan dengan arah dari dalam keluar
Jika sarung tangan yang digunakan adalah sarung tangan disposibel
buang ke dalam tempat sampah yang tidak bocor/kantong plastik
Jika sarung tangan akan digunakan kembali dekontaminasi terlebih
dahulu keadaan larutan klorin 0,5 % selama 10 menit
26. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kemudian keringkan dengan
handuk bersih
27. Observasi 2 jam post partum
28. Lakukan proses pendokumentasian
SKOR NILAI = NILAI X 100%
84
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR RESUSITASI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
No LANGKAH
1 2 3 4 5
1 Beritahukan ibu dan keluarga, bahwa bayi mengalami kesulitan
bernapas dan bahwa Anda akan menolongnya
Mintalah salah seorang keluarga mendampingi ibu untuk memberi
2 dukungan moral, menjaga ibu dan melaporkan bila ada
perdarahan.
A LANGKAH AWAL
I Jaga bayi tetap hangat
3 Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau
sekitar 45 cm dari perineum
4 Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap
terbuka, potong tali pusat
5 Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2
yang telah digelar di tempat resusitasi
6 Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah
pemancar panas.
II Atur posisi bayi
7 Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar
45 cm dari perineum
8 Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit
ekstensi dengan mengganjal bahu.
III Isap lendir
9
Gunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut:
10 Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung
11 Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada
waktu dimasukkan
Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5
12 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung
bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk
hidung jangan melewati cuping hidung.
13 Jika dengan balon karet penghisap lakukan dengan cara sebagai
berikut:
14 Tekan bola di luar mulut dan hidung
15 Masukkan ujung pengisap di mulut dan lepaskan tekanan pada
bola (lendir akan terisap)
16 Untuk hidung, masukkan di lubang hidup sampai cuping hidung
dan lepaskan.
IV Keringkan dan rangsang bayi
Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan
17 bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat
merangsang BBL mulai menangis
18 Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang
BBL mulai bernapas:
19 Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau
20 Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak
tangan
21 Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering
dibawahnya

22 Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka


dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi.
V Atur kembali posisi kepala bayi
23 Atur kembali posisi bayi menjadi posisi menghidu

B LANGKAH PENILAIAN BAYI


24 Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas
atau megap-megap
25 Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi
26 Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan
ventilasi bayi.

C VENTILASI
Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan
27 sejumlah volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif
untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan
teratur.
I Pasang sungkup
28 Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan
hidung.
II Ventilasi 2 kali
Lakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm air

29 Tiupan awal tabung-sungkup atau remasan awal balon-sungkup


sangat penting untuk menguji apakah jalan napas bayi terbuka
dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas.
Lihat apakah dada bayi mengembang
30 Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada
bayi mengembang.
Jika tidak mengembang:
31
Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor
32 Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu
33 Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan
lakukan pengisapan
34 Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30 cm air,
jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.
III Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali dalam
35 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai bernapas
spontan dan menangis

36 Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau


peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.
37 Jika bayi mulai bernapas/ tidak megap-megap dan atau
menangis, hentikan ventilasi bertahap.
38 Lihat dada apakah ada retraksi
39 Hitung frekuensi napas per menit
40 Jika bernapas >40 per menit dan tidak ada retraksi berat:
Jangan ventilasi lagi
41 Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan lanjutkan
asuhan BBL
42 Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatan
43 Jangan tinggalkan bayi sendiri.
44 Lakukan asuhan pasca resusitasi.
45
Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan ventilasi.
Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian
IV
ulang napas
46 Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm
air)

47 Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan penilaian


ulang bayi, apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap
Jika bayi mulai bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau
48 menangis, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca
resusitasi.
Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, teruskan ventilasi 20
49 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang napas
setiap 30 detik.
Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2
V
menit resusitasi
50 Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan
dan mengapa
51 Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
52 Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan
53 Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik
persalinan
Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut
VI
jantung
54 Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm
air)
55 Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan nilai ulang
napas dan nilai jantung.
Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar, ventilasi 10
56 menit. Hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak
terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya
serta lakukan pencatatan.
57 Bayi yang mengalami henti jantung 10 menit kemungkinan besar
mengalami kerusakan otak yang permanen.

D ASUHAN PASCA RESUSITASI


Setelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi
58 yang merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama.
Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan
pasca resusitasi)yaitu:
59 Jika resusitasi berhasil
60 Jika perlu rujukan
61 Jika resusitasi tidak berhasil
SKOR NILAI = NILAI X 100%
183
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMERIKSAAN FISIK IBU NIFAS

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
A. PERSIAPAN
1. Mengobservasi tingkat energi dan keadaan emosi ibu pada waktu kunjungan
2. Memeriksa tanda-tanda vital (TD, nadi, suhu, pernapasan)
3. Menjelaskan kepada ibu tentang pemeriksaan yang akan dilakukan
4. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dengan lembut dan
sempurna kemudian keringkan dengan handuk yang bersih
B. PELAKSANAAN
Pemeriksaan Payudara
5. Menganjurkan ibu tidur terlentang dengan lengan kiri di atas kepala: secara
sistematis lakukan perabaan/raba payudara sampai axila bagian kiri,
perhatikan apakah ada benjolan, pembesaran kelenjar atau abses
6. Mengulangi prosedur yang sama pada payudara sampai axila bagian kanan
Pemeriksaan Abdomen
7. Melihat apakah ada luka bekas operasi (jika baru)
8. Melakukan palpasi untuk menilai/mendeteksi apakah ada uterus di atas pubis
atau tidak
9. Melakukan palpasi untuk mendeteksi apakah ada massa atau konsistensi/otot
parut
Pemeriksaan Ekstremitas
10. Melihat apakah ada varices
11. Melihat apakah ada warna kemerahan pada betis
12. Memeriksa tulang kering dan kaki ibu untuk melihat edema (perhatikan
tingkat/derajat edema jika ada)
13. Menekuk kedua kaki ibu untuk menilai adanya nyeri betis (tanda Hofman)
Pemeriksaan Genetalia
14. Membantu ibu mengatur posisi untuk pemeriksaan perineum
15. Mengenakan sarung tangan pemeriksaan yang bersih
16. Memberitahukan kepada ibu tentang prosedur pemeriksaan tersebut
17. Memeriksa perineum untuk menilai penyembuhan luka laserasi atau
penjahitan perineum
18. Memperhatikan warna, konsistensi dan bau lokhia
19. Memberitahukan kepada ibu hasil temuan atau hasil pemeriksaan
20. Meletakkan sarung tangan pada tempat yang telah disediakan/larutan
chlorine 0,5 %
21. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta keringkan dengan handuk
yang bersih
22. Mencuci tangan setelah melakukan tindakan dan keringkan.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
66
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PERAWATAN PAYUDARA IBU NIFAS

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Mempersiapkan alat dan bahan.
2. Menyapa ibu dan memberitahu ibu tentang tindakan yang akan dilakukan.
PELAKSANAAN
3. Mencuci tangan sebelum tindakan dan keringkan.
4. Menyiapkan posisi ibu, baju bagian atas dibuka dan meletakkan handuk di
bahu dan pangkuan ibu.
5. Mengompres kedua putting susu dan areola mamae dengan menggunakan
kapas yang telah diolesi minyak kelapa/baby oil selama 2-5 menit.
6. Membersihkan putting susu dan areola mamae dengan kapas.
7. Melicinkan kedua telapak tangan dengan minyak kelapa/baby oil.
8. Mengurut payudara dimulai ke arah atas, lalu ke samping.
9. Mengurut payudara secara melintang, telapak tangan mengurut ke depan,
lalu kedua tangan dilepas dari payudara secara perlahan-lahan.
10. Menyokong payudara kiri dengan tangan kiri, lalu dua atau tiga jari tangan
kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal
payudara dan berakhir pada putting susu.
11. Menyokong payudara kiri dengan satu tangan, sedangkan tangan kanan
mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah putting susu.
12. Menyokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut
payudara dengan tangan mengepal dari arah tepi ke arah putting susu.
13. Mengompres payudara dengan waslap menggunakan air hangat dan air
dingin secara bergantian.
14. Membantu ibu untuk memakai kembali pakaiannya dan menganjurkan ibu
untuk memakai BH yang menyokong payudara.
15. Membereskan alat-alat dan mencuci alat-alat yang telah dipakai
Mencuci tangan setelah melakukan tindakan dan keringkan.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
45
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR TEHNIK MENYUSUI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Memberikan informed consent
2. Menyiapkan alat sesuai dengan urutan penggunaannya
3. Mencuci tangan di bawah air mengalir dan keringkan dengan handuk bersih
4. Mengenakan pakaian dan bra yang memudahkan dalam menyusui
5. Memilih posisi yang nyaman untuk menyusui
PELAKSANAAN
1. Membersihkan payudara dengan handuk kecil yang telah dibasahi dengan air
matang (hangat)
2. Mengoleskan sedikit ASI pada putting dan areola
3. Membaringkan bayi di atas bantal dengan posisi saling berhadapan
4. Memegang bayi pada belakang bahunya dengan 1 lengan dan kepala bayi
pada lengkung siku ibu
5. Menyentuh pipi dan sisi mulut bayi (beri rangsangan) untuk membuka mulut
6. Memasukkan putting dan areola ke mulut bayi. Menopang payudara dengan
tangan kiri atau tangan kanan
7. Melepaskan putting susu dari mulut bayi dengan tidak menariknya
8. Mengulangi tindakan pada langkah ke-7
SKOR NILAI = NILAI X 100%
45
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENYUNTIKAN KB PROGESTIN

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
No. LANGKAH
1 2 3 4 5
Persiapan tempat
1.
Ruangan tertup, aman, nyaman, dan bersih
Persiapan alat
Obat / suntikan KB Progestin
Handscoon (sebagai proteksi diri)
Korentang
Spuit 3cc
Kapas alkohol dan kapas DTT
2.
Bengkok
Tensi meter, Stetoskop
Timbangan berat badan
Buku catatan dan register KB
Informed consent
Larutan klorin 0,5%
Memberikan salam dan memperkenalkan diri dengan ramah dan
3.
tanyakan maksud dan tujuan kedatangan pasien
4. Menanyakan alasan klien menggunakan KB suntik
Menanyakan keadaan klien, yaitu:
Usia ibu saat ini
Menanyakan riwayat gravida, paritas, jumlah anak hidup dan usia
5. anak terkecil
Riwayat menstruasi (HPHT, siklus, durasi, volume)
Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya
Riwayat hubungan seksual terakhir
Menanyakan riwayat kesehatan klien, meliputi:
Apakah klien dalam masa menyusui kurang dari 6mg dan 6 bulan?
6.
Apakah klien sedang menderita perdarahan pervaginam yang
belum diketahui penyebabnya
Apakah klien sedang menderita penyakit hati akut (virus hepatitis)
Apakah klien berusia > 35th dan merokok (tanyakan juga keluarga)
Apakah klien sedang mengkonsumsi obat-obatan yang
mengganggu kerja hormon (obat epilepsi, tuberkolosan, dan
antibiotik berspektum luas)
Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung?
Apakah klien mempunyai riwayat terjadi stroke?
Apakah klien mempunyai riwayat tekanan darah >180/110mmhg?
Apakah klien mempunyai riwayat kelainan pembuluh darah yang
menyebabkan sakit kepala/migrain
Apakah klien mempunyai riwayat kencing manis dengan komplikasi
atau kencing manis >20th
Apakah klien mempunyai riwayat penyakit karsinoma(terutama
payudara)
7. Melakukan konseling awal
8. Melakukan informed consent
9. Menganjurkan pasien menimbang berat badan
10 Mengukur tekanan darah pasien
11. Menganjurkan pasien tidur di tempat tidur
12. Melakukan pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan
13. Mendekatkan alat-alat
14. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
15 Memakai handscoon
16. Memeriksa tanggal kadarluasa obat suntik dalam botol dosis tunggal
17. Mengatur posisi klien sesuai kebutuhan
Mengocok botol/ vial dengan baik sehingga menjadi homogen,ingat
18.
hindari terjadinya gelembung-gelembung udara
Buka dan buang tutup logam atau plastik vial yang menutupi karet
(jangan sampai tersentuh, namun apabila tersentuh hapus karet
19.
bagian atas di bagian atas vial dengan kapas alkohol dan biarkan
kering)
Buka kemasan spuit sekali pakai, kencangkan jarum dengan
20 memegang pangkal jarum dalam keadaan tutup jarum masih
terpasang
Tusukan jarum suntik kedalam vial melalui penutup karet, putar vial
hingga terbalik dengan mulut vial kebawah, masukan cairan suntik
21.
dalam spuit, jaga agar ujung jarum tetap dalam cairan, jangan
memasukan udara ke dalam alat suntik
Untuk mengeluarkan gelembung udara, biarkan jarum dalam vial dan
pegang alat suntik, dalam posisi tegak, ketuk tabung alat suntik
22.
kemudian secara perlahan-lahan tekan pendorong ketanda batas
dosis, cabut jarum dari vial
Gunakan jarum yang sama untuk menghisap dan menyuntikan pada
23. klien (dengan tehnik pengambilan yang benar, tidak akan mengurangi
ketajaman jarum)
Membebaskan daerah yang akan di suntik (musculus gluteus kuadran
luar) dari pakaian dan menentukan lokasi penyuntikan (temukan SIAS
24.
dan os coccygeus tarik garis lurus dan tentukan 1/3 bagian atas SIAS
sebagai tempat penyuntikan
Bersihkan kulit daerah suntikan dengan kapas yang dicelupkan
25.
dengan air DTT dengan melingkar kearah luar, biarkan kering
26. Menusukan jarum hingga pangkal jarum suntik secara IM
27. Melakukan aspirasi dengan menarik penghisap spuit
Jika tidak terlihat darah terhisap, suntikan obat secara perlahan-lahan
28.
hingga habis dan cabut jarum
Tekan sebentar daerah bekas suntikan dengan kapas DTT yang baru
29. agar obat suntikan tidak keluar dari bekas suntikan (bukan
memasase)
Jangan memasase / memijat daerah suntikan , jelaskan pada pasien
bahwa dengan tindakan tersebut dapat mempercepat pelepasan obat
30.
dari tempat suntikan dengan akibat masa efektif kontrasepsinya
menjadi lebih pendek
Sedot larutan klorin kedalam spuit untuk membilas spuit dan jarum
31. kemudian buang spuit tanpa ditutup kedalam tempat sampah
khusus(jarum tidak mudah tembus)
32. Merapikan pasien
33. Membereskan alat
Melepas sarung tangan dalam keadaan terbalik kemudian rendam
34.
dalam larutan klorin
35. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan
36. Mendokumentasikan hasil tindakan
Melakukan konseling akhir( jangan lupa menyampaikan kunjungan
37.
ulang 12 minggu kemudian)
SKOR NILAI = NILAI X 100%
111
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENYUNTIKAN KB KOMBINASI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

NO LANGKAH NILAI
1 2 3 4 5
1. Persiapan tempat
Ruangan tertutup, aman, nyaman, dan bersih
2. Persiapan alat
a. Obat/ suntikan KB kombinasi
b. Handscoon ( berfungsi sebagai proteksi diri)
c. Korentang
d. Spuit 3 cc
e. Kapas alkhohol dan kapas DTT
f. Bengkok
g. Tensimeter, stetoskop
h. Timbangan berat badan
i. Catatan, kartu dan register KB
j. Kalender
k. Informed concent
l. Larutan klorin 0,5 %
3. Memberikan salam dan perkenalkan diri dengan ramah dan tanyakan
maksud dan tujuan kedatangannya
4. Menanyakan alasan klien ingin menggunakan suntik
5. Menanyakan keadaan klien, yaitu :
a. Usia ibu saat ini
b. Menanyakan riwayat gravida, paritas, jumlah anak hidup dan
usia anak terkecil
c. Riwayat menstruasi (HPHT, siklus, durasi, volume)
d. Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya
e. Riwayat hubungan seksual terakhir
6. Menanyakan riwayat kesehatan klien yaitu :
a. Apakah klien dalam masa menyusui kurang dari 6 minggu dan
atau 6 bulan?
b. Apakah klien sedang menderita perdarahan pervaginam yang
belum diketahui penyebabnya?
c. Apakah klien sedang menderita penyakit hati akut ( virus
hepatitis)
d. Apakah klien > 35 tahun dan merokok ( tanyakan juga keluarga)?
e. Apakah klien sedang mengkomsumsi obat-obatan yang
mengganggu kerja hormone ( obat epilepsy, tuberkulosan dan
antibiotic berspektrum luas?)
f. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung?
g. Apakah klien mempnyai riwayat terjadi stroke?
h. Apakah klien mempunyai riwayat tekanan darah > 180/110
mmHg?
i. Apakah klien mempunyai riwayat tromboemboli?
j. Apakah klien mempunyai kelainan pembuluh darah (yang
menyebabkan sakit kepala atau migrain)?
k. Apakah klien mempunyai riwayat kencing manis dengan
komplikasi atau kencing manis > 20 tahun?
l. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit karsinoma (terutama
payudara)?
Jika ada salah satu jawaban iya, maka diharapkan pertimbangan
untuk pemilihan cara kontrasepsi yang lain
7. Melakukan konseling awal
8. Melakukan informed concent
9. Menganjurkan pasien menimbang berat badan
10. Menganjurkan pasien tidur di tempat tidur
11. Mengukur tekanandarah pasien
12. Melakukan pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
13. Mendekatkan alat alat
14. Memakai handscoon
15. Memeriksa tanggal kadaluarsa obat suntik dalam botol dosis tunggal
dan menyampaikan hasilnya kepada klien
16. Mengocok botol/ vial dengan baik sehingga menjadi homogen, ingat
hindari terjadinya gelembung gelembung udara
17. Buka dan buang tutup logam atau plastic vial yang menutupi karet (
jangan sampai tersentuh, namunapabila tersentuh hapus karet di
bagian atas vial dengan kapas alkhohol biarkan kering)
18. Tusukkan jarum suntik sekali pakai, kecangkan jarum dengan
memegang pangkal jarum dalam keadaan tutup jarum masih
terpasang
19. Untuk mengeluarkan gelembung udara, biarkan jarum dalam vial dan
pegang alat suntik dalam posisi tegak, ketuk tabung alat suntik
kemudian secara perlahan lahan tekan pendorong ke tanda batas
dosis, cabut jarum dari vial.
20. Gunakan jarum yang sama untuk menghisap dan menyuntikan pada
klien ( dengan tekhnik pengambilan yang benar, tidak akan
mengurangi ketajaman jarum).
21. Membebaskan daerah yang akan disuntik (musculus gleuteus kuadran
luar) dari pakaian dan menetukan lokasi penyuntikan (temukan SIAS
dan os coccygeus tarik garis lurus dan tentukan 1/3 bagian atas dari
SIAS sebagai tempat penyuntikan
22. Bersihkan kulit daerah suntikan dengan kapas yang dicelupkan dalam
air DTT dengan gerakan melingkar ke arah luar, biarkan kering.
23. Menusukkan jarum hingga pangkal jarum suntik secara IM
24. Melakukan aspirasi dengan menarik penghisap spuit
25. Jika tidak terlihat darah terhisap, suntikkan obat secara perlahan lahan
hinggahabis dan cabut jarum
26. Tekan sebentar bekas suntikkan dengan kapas DTT yang baru agar
obat suntikkan tidak keluar dari bekas suntikkan (bukan memasase)
27. Jangan memijat/ memasase daerah suntikkan, jelaskan ke klien
bahwa dengan tindakan tersebut dapat mempercepat pelepasan obat
dari tempat suntikkan dengan akibat masa efektif kontrasepsinya
menjadi lebih pendek.
28. Merapikan pasien
29. Sedot larutan klorin 0,5 % ke dalam spuit untuk membilas spuit dan
jarum kemudian buang spuit tampa ditutup jarumnya ke dalam tempat
sampah khusus ( jarum tidak mudah tembus)
30. Membereskan alat
31. Mencuci sarung tangan dalam larutan klorin dan dilepaskan dalam
keadaan terbalik, rendam dalam larutan klorin
32. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan
33. Mendokumentasikan hasil tindakan
34. Melakukan konseling akhir ( jangan lupa sampaikan, kapan ibu harus
kembali)
35. Bekerja denga hati hati
36. Bekerja dengan sistematis dan efisien
37. Bekerja dengan komunikatif dan penuh perhatian

SKOR NILAI = NILAI X 100%


111
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMBERIAN PIL KOMBINASI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
Persiapan tempat
1.
Ruangan tertutup, aman, nyaman, dan bersih
Memberikan salam, memperkenalkan diri dan menanyakan maksud
2.
kedatangan klien
Menanyakan keadaan klien, yaitu :
a. Usia ibu saat ini
b. Menanyakan riwayat gravida, paritas, jumlah anak hidup dan usia
anak terkecil
3. c. Riwayat menstruasi (HPHT, siklus, durasi, volume)
d. Riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya
e. Riwayat hubungan seksual terakhir
f. Apakah klien sedang menyusui
g. Apakah ibu pasca keguguran
Menanyakan alasan klien ingin menggunakan pil kombinasi
(monofasik) :
a. Apakah klien dalam masa menyusui kurang dari 6 minggu ?
b. Apakah klien sedang menderita perdarahan pervaginam yang
belum diketahui penyebabnya?
c. Apakah klien sedang mengkonsumsi obat-obatan yang
mengganggu kerja hormon (obat epilepsi, tuberkulosis)?
d. Apakah klien sedang menderita penyakit hati akut (virus
4. hepatitis)?
e. Apakah klien berusia > 30 tahun DAN merokok?
f. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung?
g. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit stroke?
h. Apakah klien mempunyai riwayat tekanan darah > 160/90 mmHg?
i. Apakah klien mempunyai riwayat tromboemboli?
j. Apakah klien mempunyai kelainan pembuluh darah (yang
menyebabkan sakit kepala atau migrain)?
k. Apakah klien mempunyai riwayat kencing manis dengan
komplikasi atau kencing manis > 20 tahun?
l. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit karsinoma (terutama
payudara)?
m. Apakah klien pelupa atau sering lupa apabila menggunakan pil?
Jika ada salah satu jawaban iya, maka diharapkan pertimbangan
untuk pemilihan cara kontrasepsi yang lain

Memberikan KIE mengenai pil kombinasi, meliputi :


a. Profil (efektivitas, angka kegagalan)
b. Cara kerja
5.
c. Manfaat kontrasepsi dan non kontrasepsi
d. Keterbatasan
e. Efek samping dan penanganannnya
6. Mencuci tangan
Melakukan pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan (tekanan darah
7.
dan penimbangan berat badan dilakukan rutin)
a. Pil dapat dimulai pada saat haid (untuk meyakinkan wanita
tersebut tidak hamil)
8. b. Apabila dimulai setelah haid (misalnya hari ke-8) maka ibu perlu
menggunakan barier lain selama 7 hari atau tidak melakukan
hubungan seksual
Memberikan instruksi cara minum pil kombinasi :
a. Minum setiap hari pada waktu yang sama
b. Bila klien muntah dalam waktu 2 jam setelah minum pil, minum pil
yang lain, atau gunakan metode kontrasepsi
c. Bila klien muntah hebat, diare lebih dari 24 jam maka bila keadaan
memungkinkan dan tidak memperburuk anda, pil dapat diteruskan
d. Bila muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau lebih, cara
9. penggunaan pil mengikuti cara menggunakan pil lupa
e. Bila lupa minum pil (hari 1-21) sebaiknya minum pil tersebut
segera setelah ingat walaupun harus minum 2 pil pada hari yang
sama. Tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi lain
f. Bila lupa minum 2 pil atau lebih (hari 1-21) sebaiknya minum 2 pil
setiap hari sampai terkejar. Sebaiknya gunakan kontrasepsi lain
atau tidak melakukan hubungan seksual sampai menghabiskan
paket pil tersebut
10. Sampaikan kapan harus kembali
11. Lakukan pendokumentasian
SKOR NILAI = NILAI X 100%
33
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMBERIAN MINI PIL

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
1. Mempersiapkan Alat:
- sampiran
- lembar catatan
- alat tulis
- tensimeter
- timbang berat badan
- alat kontrasepsi (mini pil)
- lembar balik pelayanan KB
Persiapan tempat:
ruangan yang tertutup, aman, nyaman dan bersih

2. Memberikan salam, memperkenalkan diri dan menanyakan maksud


kedatangan klien

3 Menanyakan keadaan klien yaitu:


- usia ibu saat ini
- riwayat gravida, paritas, jumlah anak hidup dan usia anak terkeci;
- riwayat menstruasi
- riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya
- riwayat hubungan seksual terakhir
- apakah klien sedang menyusui
-
4 Menanyakan alasan klien ingin menggunakan mini pil:
- apakah klien dalam masa menyusui?
- Apakah klien sedang menderita perdarahan pervaginam yang belum
diketahui penyebabnya?
- Apakah klien sedang mengkonsumsi obat-obatan yang mengganggu
kerja hormon?
- Apakah klien sedang menderita penyakit hati akut (virus hepatitis)
- Apakah klien mempunyai riwayat penyakit jantung?
- Apakah klien mempunyai riwayat penyakit stroke?
- Apakah klien mempunyai riwayat penyakit darah tinggi (>180/110
mmHg)?
- Apakah klien mempunyai riwayat tromboemboli?
- Apakah klien mempunyai kelainan pembuluh darah (yang
menyebabkan sakit kepala/migran)
- Apakah klien mempunyai riwayat kencing manis dengan komplikasi
atau kencing manis > 20 tahun?
- Apakah klien mempunyai riwayat penyakit karsinoma (terutama
payudara)
- Apakah klien ingin haid normal atau tidak dapat menerima terjadinya
gangguan haid?
- Apakah klien pelupa atau sering lupa jika menggunakan pli?
Jika ada salah satu jawaban IYA, maka harap dipertimbangkan untuk
memilih cara kontrasepsi yang lain

5 Memberikan KIE mengenai mini pli, meliputi:


- efektifitas, angka kegagalan
- cara kerja
- keuntungan dan keterbatasan
- efek samping
- kontraindikasi
-
6 Mencuci tangan efektif

7 Melakukan pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan (tekanan darah dan


penimbangan berat badan)

8 Menjelaskan pada ibu, bila beralih dari kontrasepsi lain, maka:


a. Bila klien sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal lain
dan ingin menggantinya dengan minipil, minipil dapat segera
diberikan, bila kontrasepsi sebelumnya digunakan dengan benar
atau klien sedang tidak hamil, tidak perlu menunggu sampai
datangnya haid berikutnya.
b. Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah suntikan, minipil
diberikan pada jadwal suntikan berikutnya. Tidak perlu
penggunaan kontrasepsi lain.
c. Bila kontrasepsi sebelumnya adalah nonhormonal dan klien ingin
menggantinya dengan minipil, minipil diberikan pada hari 1-5 siklus
haid dan tidak perlu penggunaan kontrasepsi lainnya
d. Bila kontrasepsi sebelumnya adalah AKDR (termasuk AKDR yang
mengandung hormon), minipil diberikan pada hari 1-5 siklus haid.
Dilakukan pengangkatan AKDR
e.
9. Memberikan penjelasan pada ibu mengenai instruksi meminum pil:
a. minum pil setiap hari pada waktu yang sama
b. bila muntah dalam waktu 2 jam setelah minum pil, minum pil
lain, atau gunakan metode kontrasepsi lain bila klien berniat
melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya
c. bila klien terlambat minum pil lebih dari 3 jam. Minumlah pil
tersebut ketika ingat. Gunakan metode pelindung selama 48
jam.
d. Bila klien lupa 1 atau 2 pil, minumlah segera pil yang terlupa
tersebut ketika ingat dan gunakan metode pelindung sampai
akhir bulan
e.
10 Menanyakan pada ibu apakah sudah mengerti atau ada yang mau
ditanyakan mengenai penjelasan yang sudah diberikan

11. Menjelaskan kepada ibu kapan harus kembali lagi.

SKOR NILAI = NILAI X 100%


33
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMASANGAN AKDR

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
4. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
5. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
6. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
A SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan memperkenalkan diri
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
3 Memposisikan pasien dengan baik
4 Tanggap terhadap reaksi pasien
5 Sabar dan teliti.
B CONTENT
6 Mempersiapkan klien :
klien disapa dengan ramah dan memperkenalkan diri serta
menanyakan tujuan kedatangannya

bila belum dilakukan konseling, memberikan konseling sebelum


melakukan pemasangan AKDR :

- informasi tentang jenis kontrasepsi yang tersedi, keuntungan dan


keterbatasan
- membantu klien memilih jenis kontrasepsi yang diinginkan
7 Memastikan bahwa klien telah memilih AKDR, menjelaskan tentang
kemungkikan efek samping pemakai AKDR
8 Melakukan anamneses untuk memastikan tidak ada masalah kondisi
kesehatan pada klien sebagai pemakai AKDR
9 Menjelaskan apa yang akan dilakukan dan mempersilahkan klien
untuk mengajukan pertanyaan
10 Memastikan klien telah mengosongkan kandung kencingnya dan
mencuci kemaluannya dengan menggunakan sabun
11 Mencuci tangan 7 langkah dengan air dan sabun, mengeringkan
dengan kain/handuk bersih
12 Menyiapkan alat dan bahan serta perlengkapan secara ergonomik
13 Membaringkan klien dengan posisi litothomi di atas meja ginekologi

Memasang duk di bawah bokong klien


14 Melakukan palpasi daerah perut dan periksa apakah ada nyeri,
benjolan atau kelainan di daerah supra pubik
15 Mengarahkan lampu sorot, arahkan pada bagian yang akan diperiksa
16 Memakai sarung tangan DTT
17 Melakukan pemeriksaan genetalia eksterna dengan tangan non
dominan. Memeriksa adanya ulkus. Pembengkakan kelenjar getah
bening, pembengkakan kelenjar bartolini dan skene
18 Melakukan pemeriksaan inspekulo, memperhatikan apakah ada cairan
vagina, keputihan dll
19 Melakukan pemeriksaan bimanual untuk mengetahui besar, posisi,
onsistensi dan mobilitas uterus
20 Membuka dan merndam sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%
21 Menjelaskan proses pemasangan AKDR dan apa yang akan dirasakan
22 Mempersiapkan AKDR yang akan dipasang
23 Memakai sarung tangan DTT yang baru
24 Memasang speculum untuk melihat serviks
24 Mengusap vagina dan serviks dengan larutan antiseptic, memastikn
bahwa serviks dapat terlihat dengan jelas dan posisi speculum berada
di depannya
25 Mengusap vagina dan serviks dengan larutan antiseptic 2-3 kali
26 Menjepit serviks dengan menggunakan tenakulum secara hati-hati
pada arah jam 11 atau 12 atai 1 (sebaiknya pada jam 11 atau 1)
27 Memasukkan sonde uterus untuk mengukur kedalaman uterus dengan
teknik tidak menyentuh
27 Mengatur leher biru pada inserter sesuai dengan hasil pengukuran
kedalam uterus, kemudian membuka seluruh plastic penutup kemasan
28 Memasukkan tabung inserter secara hati-hati ke dalam kanalis
servikalis dengan posisi leher biru pada arah horizontal, mendorong
tabung inserter sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai
terasa ada tahanan pada fundus
29 Menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong
30 Mengeluarkan pendorong dari tabung inserter mendorong kembali ke
tabung inserter secara hati-hati sampai terasa ada tahanan di fundus
31 Menarik keluar sebagian inserter, memetong benang 3-4 cm
32 Melepaskan tenakulum dengan hati-hati Tekan area bekas jepitan
dengan kassa 30 dtk
33 Mengusap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik
34 Mengusap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik
35 Mengeluarkan spekulum
36 Membuang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi

Masukkan alat dalam larutan klorin 0,5% dan redam selama 10 menit

Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang


sesuai
Celupkan sarung tangan larutan klorin 0,5% dengan posisi terbalik
rendam selama 10 menit
37 Mencuci tangan 7 langkah dengan air dan sabun, mengeringkan
dengan kain/handuk bersih
38 Mengajarkan klien bagaimana memeriksa benang AKDR, menjelaskan
paska tindakan & apa yang harus dilakukan klien dan memberitahu
kapan klien harus datang kembali untuk kontrol
39 Mendokumentasikan tindakan pada status dan atau kartu KB klien
C TEKNIK
Berkomunikasi dengan pendekatan yang tepat sesuai dengan kondisi
40 klien
41 Bekerja dengan pencegahan infeksi
42 Bekerja dengan hati-hati dan cermat
43 Menghargai privasi atau budaya klien
44 Bekerja secara sistematis.
SKOR NILAI = NILAI X 100%
132
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENCABUTAN AKDR

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

NO LANGKAH KASUS
1 2 3 4 5
A SIKAP
1 Menyambut pasien dengan ramah
2 Memperkenalkan diri dengan pasien
3 Mempersilahkan pasien duduk dan komunikatif
4 Tanggap terhadap reaksi pasien dan kontak mata
5 Sabar dan teliti
B CONTENT/ISI
6 Menyapa klien dengan ramah
8 Menanyakan alasan ingin mencabut AKDR dan menjawab semua
pertanyaannya
Menanyakan tujuan KB selanjutnya
9 Menjelaskan tentang proses pencabutan AKDR dan apa yang akan
klien rasa pada saat dan setelah pencabutan AKDR
10 Memastikan klien sudah mengososongkn kandung kemih dan mencuci
alat kemaluannya menggunakan sabun
11 Menjelaskan apa yang akan dilakukan dan mempersilahkan klien
untuk menggajukan pertanyaan
12 Menyiapkan peralatan yang dipergunakan
13 Mencuci tangan dengan 7 langkah, dengan sabun dan air mengalir
kemudian keringkan dengan handuk
14 Memakai sarung tangan DTT
15 Memposisikan klien secara litotomi dan memasang alas bokong
(setelah klien melepas pakaian dalamnya)
16 Melakukan pemeriksaan bimanual
17 Memasang speculum vagina dan melihat serviks
18 Mengusap vagina dengan larutan antiseptic 2-3 kali
19 Menjepit benang yang dekat serviks dengan klem dan menarik keluar
benang dengan mantap tapi hati-hati untuk mengeluarkan AKDR
20 Menunjukkan AKDR tersebut pada klien
21 Mengeluarkan speculum dengan hati-hati
22 Merendam seluruh peralatan yang sudah dipakai dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit
23 Membuang bahan-bahan yang sudah tidak lagi kedalam tempat
sampah yang sesuai
24 Merendam sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit
25 Cuci tangan 7 langkah dengan air mengalir dan sabun serta keringkan
26 Melakukan pendokumentasian tindakan
C TEKNIK
27 Dilaksanakan secara sistematis dan berurutan
28 Menjaga privasi pasien
29 Memberikan perhatian dan respon terhadap pasien
30 Percaya diri dan tidak ragu-ragu
31 Mendokumentasikan hasil
SKOR NILAI = NILAI X 100%
93
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PEMASANGAN IMPLANT

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
A. PERSIAPAN
1. Persiapan Alat dan Bahan :
Tempat tidur
Penyangga lengan
Sarung Tangan steril atau DDT 1 pasang
Duk Lubang Steril atau DDT 1 buah
Kain bersih dan kering 1 buah
Klem 1 buah
Scalpel 1 buah
Trokar 1 buah
Kom kecil steril 2 buah
Kapsul implant dalam kemasan
Spuit 3cc 1 buah
Obat anastesi 1% tanpa ephinephrine
Epinephrine untuk syok anafilaktik
Kapas dan kasa steril
Antiseptic
Band aid atau kasa steril dengan plaster
Kasa pembalut
Tempat sampah basah, kering dank tajam
Larutan klorin 0.5 %
2. Persiapan Ruangan
Ruangan bersih, cukup penerangan, nyaman dan menjaga privacy
klien
Persiapan klien
3 Meminta klien mencuci seluruh lengan dan tangan dengan sabun dan
air mengalir
4 Tutup tempat tidur klien atau penyangga lengan meja samping bila
ada) dengan kain bersih
5 Meminta klien berbaring dengan lengan diletakkan lurus atau sedikit
bengkokkan ke atas (diregangkan) disangga dengan baik
6 Tentukan tempat pemasangan yang optimal (6-8 cm diatas lipatan siku
sebelah dalam), dunakan pola dan spidol untuk menandai tempat
insisi yang yang akan dibuat
Persiapan Petugas
7 Buka dengan hati hati kemasan steril implant dengan menarik kedua
lapisannya dan jatuhkan kapsul ke kom steril
8 Buka dengan hati hati pembungkus spluit untuk anatesi tanpa
penyentuh spuit dan jatuhkan pada tempat yang steril
9 Patahkan ampul obat anastesi
B PELAKSANAAN
Pra Pemasangan
10 Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir keringkan dengan kain
bersih dan kering
11 Pakai sarung tangan steril pada tangan yang dominan
12 Isi Pluit dengan 3 ml obat anastesi 1% tanpa epinephrine)
13 Pakai sarung tangan pada tangan yang lain
14 Usap tempat pemasangan dengan kapas atau kasa yang direndam
dalam larutan antiseptic 8-13 cm melingkar dari dalam keluar
(dianjurkan memegang kapas/kasa berantiseptik dengan klem agar
tangan tidak terkontaminasi dengan kulit)
15 Pasang duk lubang
16 Setelah memastikan tidak alergi tterhadap obat anastesi, masukkan
jarum tepat dibawah kulitpada tempat insisi kemudian lakukan aspirasi
untuk memastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah.
Suntikan untuk membuat gelembung dibawah kulit. Kemudianh tanpa
memindahkan jarum, masukkan di bawah kulit (subdermis) sekitar 4
cm diantara kapsul 1 dan 2 kemudian tarik jarum pelan pelan sambil
menyuntikkan obat nastesi sekkitar 1 ml, selanjutnya antara kapsul 3
dan 4 serta kapsul 5 dan 6. Lakukan pemijatan pada lengan agar
penyebaran obat merata tunggu beberapa saat.
Tindakan Pemasangan
17 Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan scalopel pada
sisi yang tumpul untuk memastikan obat telah bekerja
18 Pegang scalpel dengan sudut 45 derajat, buat insisi dangkal untuk
sekedar menembus kulit (sekitar 0.4 cm)
19 Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan mendorong di
dalamnya, masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut
kecil,melalui dari kiri atau kanan seperti pola pada kipas, gerakkan
trokar kedepan sampai ujung tajam seluruhnya berada di bawah kulit. (
2-3 mm dari akhir ujung tajam)
20 Angkat trokar keatas sehingga kulit terangkat., masukkan perlahan-
lahan dan lembut kearah tanda 1 (dekat pangkal). Trokar harus cukup
dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari.
21 Saat trokar masuk sampai tanda 1 cabut pendorong
22 Masukkan kapsul pertama ke dalam trokar dengan ibu jari dsan
telunjuk atau dengan klem dengan satu tangan yang lain di bawah
kapsul untuk menangkap bila kapsul tersebut jatuh. Dorong kapsul
sampai seluruhnya ke dalam trokar dan masukkan kembali pendorong.
Bila kapsul diambil dengann tangan pastikan sarung tangan terbebas
dari bedak dan npartikel lain.
23 Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul kearah ujung trokar
sampai terasa ada tahanan, tapi jangan mendorong dengan paksa
24 Pegang pendorong dengan erat ditemptnya dengan satu tangan. Tarik
trokar kearah luka insisi sampai tanda 2 muncul di tepi luka insisi dank
pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Jaga pendorong agar
tetap ditempatnya dan tidak mendorong kapsul di jaringan (teknik
withdraw)
25 Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, kapsul
sekarang berada di bawah kuli, keluar dari trokatr. Raba kapsul
dengan jari untuk memastikan kapsul sudah berada keluar seluruhnya
dari trokar
26 Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, geser sekitar 15 derajat,
mengikuti pola seperti kipas yang terdapat pada lengan. Fiksasi kapsul
pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembalin trokar sepanjang
sisi jari telunjuk tersebut. Hal ini untuk memastikan jarak yang tepat
antara kapsul dan mencegah trokar menusuk kapsul yang dipasang
sebelumnya.
27 Pasa pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi resiko infeksi
atau ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul terdekat tidajk kurang dari
5 mm dari tepi luka insisi
28 Setelah memasang kapsul terakhir, cabut trokar dan pendorong. Raba
kapsul untuk memastikan semua kapsul telah tyerpasang.
29 Periksa apakah jarah ujung kapsul ke kula insisi sudah cukup (sekitar
5 mm). bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dari luka insisi,
kapsul harus dicabut dengan hati hati dan dipasang kembali di
tempat yang tepat.
30 Dekatkan kedua tepi luka insisi kemudian tutup dengan menggunakan
band aid atau plester dengan kasa steril untuk menutup luka insisi.
Luka insisi tidak perlu di jahit karena dapat menimbulkan jaringank
parut.
Perikdsa adanya pendarahan.
31 Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk hemostatis dan
mengurangi memar (pendarahan subkutan)
Tindakan Pasca Pemasangan
32 Sebelum melepas sarung tangan, masukkan alat alat ke tempat
berisi larutan klorin 0.5% untuk dekontaminasi. Sebelum mencelupkan
jarum dan alat suntik, isi dengan lkarutan klorin. Pisahkan pendorong
dan trokar dank rendam. Rendam semua alat selama 10 menit
33 Dengan msih memakai sarung tangan, buang bahan bahan yang
terkonhtaminasi dalam tempat sampah basah, jika menggunakan
sarung tangan sekali pakai, setelah membuang bahan bahan
tersebut, lepas sarung tangan dengan hati hati dengan cara terbalik
dan buang ketempat sampah basah tersebut.
34 Jika sarung tangan akan digunakan kembali, sebelu melepas sarung
tangan, scelupkan sarung tanganb kedalam larutan klorin dank
rendam dalam keadaan terbalik.
35 Cuci tangan dengan sabun dank air mengalir
36 Segera tulis di catatan medic tempat pemasangan kapsul dan hal hal
penting yang terjadi selama pemasangan. Kalau bias digambarkan
secara sederhana tempat pemasangan kapsul tersebut.
37 Amati klien kurang lebih 15-20 menit untuk kemungkinan pendarahan
dari luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan klien. Beri
petunjuk perawatan luka insisi pasca pemasangan
Jaga luka insisi tetap bersih dan kering selama minimal 48 jam
Mungkin akar terdapat memar, bengkak atau sakit di daerah luka
insisi selama beberapa hari. Hal ini adalah normal.
Klien dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan, luka,
menambah tekanan pada tempat insisi dan mengangkat beban
yang berat
Jangan membuka pembalutv tekan selama 48 jam dank biarkan
band aid ditempatnya sampai luka insisi sembuh (umumnya 3-5
hari)
Setelah luka inisisi sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan
dibersihkan dengan tekanan normal.
38 Bila tidak ada masalah atau pertanyaan klien tidak perlu kembali
sampai saat kapsul dicabut. Klien harus kembali ke klnik bila di
temukan masalah :
Terdapat tanda tanda infeksi (demam, kemerahan, dan panas
atau sakit yang menetap selama beberapa hari.)
Terjadi abses
Haid yang terlambat setelah siklus haid yang teratur, terutama bilka
disertai sakit perut bagian bawah.
Perdarahan pervaginaank yang banyak
Perdarahan atau nanah di tempat pemasangan
Ekspulsi Kapsul
Serangan migren, sakit kepala atau gangguan penglihatan
SKOR NILAI = NILAI X 100%
114
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENCABUTAN IMPLANT

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
Persiapan
A Persiapan Alat dan Bahan :*
1 Tempat tidur
Penyangga lengan
Sarung tangan steril 1 pasang
Duk lubang steril 1 buah
Kain bersih dan kering 1 buah
Klem 1 buah
Scapel 1 buah
Kom kecil steril 2 buah
Spuit 5 cc 1 buah
Lidokain
Epinephrin untuk penanganan syok
Kapas dan kasa steril
Antiseptic
Band aid atau kasa dengan plester
Kasa pembalut
Tempat sampah basah kering dan tajam
Larutan klorin
B Persiapan ruangan
2 Pastikan ruangan bersih cukup cahaya nyaman dan menjaga privacy pasien
C Persiapan klien*
3 Memeriksakan kembali untuk meyakinkan bahwa klien telah mencuci lengannya
sebersih mungkin dengan sabun dan air mengalir
4 Memasang sampiran atau menutup tirai untuk menjaga privasi klien
5 Mengatur posisi lengan klien dan meraba kapsul untuk menentukan lokasi
tempat insisi serta beri tanda
6 Memastikan bahwa peralatan yang steril atau DTT sudah tersedia
D Persiapan Petugas*
7 Buka dengan hati-hati pembungkus spuit untuk anestesi tanpa menyentuh spuit
dan jatuhkan di tempat yang steril
8 Patahkan ampul obat anestesi
Tindakan Pra Pencabutan
9 Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan handuk
bersih dan kering
10 Memasang pengalas di bawah lengan
11 menggunakan sarung tangan steril atau DTT
12 Mengusap tempat pemasangan dengan larutan antiseptik 8-13 cm melingkar
dari dalam ke luar dan biarkan kering
13 Memasang kain penutup (duk steril) disekeliling lengan klien
Pencabutan Kapsul dengan Teknik Baku
14 Suntikan anestesi pada tempat insisi untuk membuat gelembung dibawah kulit.
Tanpa memindahkan jarum, masukkan jarum secara hati-hati dibawah ujung
kapsul pertama sampai kurang lebih sepertiga panjang kapsul (1 cm), tarik
jarum pelan-pelan sambil menyuntikkan obat anestesi (kira-kira 0,5 cc) untuk
mengangkat kapsul.Tanpa mencabut jarum, geser ujung jarum dan masukkan
kebawah kapsul berikutnya,ulangi proses ini sampai kapsul keenam.
15 Membuat insisi kecil (4 mm) di bawah ujung dari kapsul arah horizontal dengan
menggunakan skapel
16 Mulai dengan mencabut kapsul yang mudah diraba dari luar atau yang terdekat
tempat insisi.
17 Bersihkan kapsul dari jaringan ikat yang mengelilinginya dengan menggunakan
kasa steril untuk memaparkan ujung bawah kapsul sehingga midah dicabut.
18 Masukkan klem lengkung melalui luka insisi (mosquito) untuk menjepit kapsul
yang sudah terpapar
19 Setelah kapsul dicabut masukkan kedalam kom yang sudah diisi dengan larutan
klorin 0,5 % untuk dekontaminasi
Tindakan Pasca Pencabutan
20 Setelah seluruh kapsul tercabut, menghitung jumlah kapsul untuk memastikan
seluruh kapsul telah tercabut dan perlihatkan pada klien
21 Bila klien tidak ingin memasang implant lagi, bersihkan daerah sekitar insisi
dengan kasa berantiseptik. Gunakan klem mosquito atau crille untuk memegang
kedua tepi luka insisi
22 Merapatkan kedua tepi luka insisi dan tutup dengan band-aid
23 Memberi pembalut untuk mencegah perdarahan dan mengurangi memar
24 Merapikan klien dan bereskan alat, mengisi spuit dengan larutan klorin 0,5 %
selama 10 menit sebelum dibuang
25 Membuang bahan-bahan habis pakai yang terkontaminasi sebelum melepas
sarung tangan
26 Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
27 Melakukan dokumentasi/ pencatatan tindakan yang telah dilakukan
SKOR NILAI = NILAI X 100%
81
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR MEMANDIKAN BAYI

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Siapkan keperluan mandi, seperti :
Kapas cebok, air DTT
Bengkok
Waslap ( 1 pasang )
Sabun dan shampo bayi
Baskom / bathtub
Air hangat
Handuk
Pakaian bayi ( popok, baju, sarung tangan dan kaki, topi )
Bedak, sisir, minyak telon
2. Pastikan ruangan dalam keadaan hangat
3. Siapkan air hangat, tapi tidak terlalu panas dalam bak mandi
4. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
5. Lepaskan pakaian bayi
6. Bersihkan tinja dari daerah pantat sebelum dimandikan agar air mandi
tetap segar
MEMANDIKAN
7. Letakkan bayi diatas perlak
8. Menyangga kepala bayi sambil mengusap air ke muka, tali pusat dan
tubuh bayi. Kemudian sabuni seluruh badan bayi ( jangan memberi
sabun pada muka dan cuci mukanya dahulu sampai bersih )
9. Cuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan keringkan
seluruhnya
10. Membersihkan alat kelamin bayi
Jika bayi laki-laki tarik katup ( preputium ) kebelakang dan bersihkan,
bila bayi perempuan bersihkan labia mayora dari arah depan ke
belakang.
11. Tempatkan bayi kedalam bak mandi sambil menyangga kepala dan
punggungnya. Bilaslah sabun dengan cepat ( tidak perlu
menghilangkan verniks )
12. Keringkan betul-betul bayi dengan sebuah handuk yang hangat dan
kering
13. Tempatkan bayi pada alas popok yang hangat dan kering ( singkirkan
handuk basah ke pinggir )
MENGENAKAN POPOK
14. Kenakan popok dengan pas, tidak terlalu ketat. Yakinkan bahwa
ujung atas popok berada di bawah tali pusat. Kenakan pakaian yang
bersih dan kering. Serta selimuti bayi dengan selimut / bedong yang
bersih dan kering.
15. Sisir rambut dan beri bedak pada muka bayi
16. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan di bawah air
mengalir.

SKOR NILAI = NILAI X 100%


48
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR INJEKSI VIT K1 PADA BBL

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
4. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
5. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
6. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

No LANGKAH KASUS
1 2 3 4 5
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Teruji komunikatif
2. Teruji menunjukan rasa empati dan simpati
3. Teruji tanggap dengan reaksi bayi
4. Teruji bersikap sopan dan lembut
B ISI
5. Mempersiapkan alat
a. Vit K1 1 ampul
b. Bak instrumen
c. Spuit 1 cc
d. Kapas air DTT
e. Sarung tangan bersih
6. Member tahu ibu bahwa bayi akan disuntik
7. Mencuci tangan dengan 7 langkah
8. Memakai sarung tangan bersih
9. Menyiapkanampul vit K1 dengan spuit 1 cc
10. Membuka pakaian bayi
11. Mengatur posisi bayi dengan sikap telentang
12. Melakukan disinfeksi pada daerah yang akan di injeksi yaitu 1/3
atas pada paha kiri luar dan menginjeksi vit K1 secara IM
13. Merapikan bayi dan membereskan alat
14. Mencuci tangan dengan 7 langkah
C TEKNIK
15. Memposisikan bayi dengan tepat dan baik
16. Melaksanakan tindakan dengan sistematis
17. Menjaga keamanan dan keselamatan bayi
18. Melakukan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
SKOR NILAI = NILAI X 100%
54
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR MEMBERIKAN IMUNISASI BCG

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
MEMBERIKAN IMUNISASI BCG
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Menyiapkan alat-alat di dekat bayi
Siapkanlah alat-alat dan bahan-bahan secara ergonomis
2. Menjelaskan kepada ibu ibu dan bayi mengenai prosedur yang akan
dilakukan
Bila ibu mengetahui dengan jelas mengenai prosedur/tindakan yang akan
dilakukan maka ia biasanya lebih mudah diajak untuk bekerjasama
3. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir lalu
mengeringkannya
Untuk pencegahan infeksi sebelum melaksanakan tindakan
Lepaskan semua perhiasan dari lengan dan tangan
4. Membuka ampul vaksin
Pastikan sebelumnya vaksin tidak kadaluarsa
5. Melilitkan plastik pada leher ampul dengan erat
6. Mempertahankan ampul vaksin pada lehernya dengan hati-hati keluar dari
lilitan
7. Melarutkan vaksin BCG dengan pelarut vaksin BCG
Gunakan semprit 5 cc yang steril
8. Menggoyang-goyangkan ampul vaksin hingga vaksin larut secara merata
9. Mengisi semprit dengan vaksin BCG menggunakan semprit 0,1 cc
10. Mengeluarkan gelembung udara
Perhatikan agar vaksin tidak terlalu banyak atau sedikit, ukur agar piston
tepat pada skala 0,05 cc
11. Mengatur posisi bayi
Bayi dapat dipangku ibunya atau dibaringkan
12. Membersihkan lengan kiri bayi dengan menggunakan kapas yang dibasahi air
matang
13. Memegang lengan anak dengan tangan kiri dan memegang semprit dengan
tangan kanan, lubang jarum semprit menghadap ke atas
14. Memasukkan ujung jarum ke dalam kulit sedikit mungkin melukai kulit
Penyuntikan dilakukan pada 1/3 lengan kanan bagian atas, suntikan
dilakukan secara intra cutan
15. Meletakkan ibu jari tangan kiri di atas ujung barrel. Memegang pangkal barrel
antara jari telunjuk dan jari tengah, lalu dorong piston dengan ibu jari tangan
kanan
16. Menyuntikkan 0,05 cc vaksin BCG
17. Mencabut jarum setelah vaksin habis
18. Merapikan kembali alat-alat yang telah dipergunakan
19. Mencuci kedua tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya
20. Menulis di buku catatan mengenai tindakan yang telah dilakukan dan
memberitahukan hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu bayi
SKOR NILAI = NILAI X 100%
60
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR MEMBERIKAN IMUNISASI POLIO

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
MEMBERIKAN IMUNISASI POLIO
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Menyiapkan alat-alat di dekat bayi
Siapkanlah alat-alat dan bahan-bahan secara ergonomis
2. Menjelaskan kepada ibu ibu dan bayi mengenai prosedur yang akan
dilakukan
Bila ibu mengetahui dengan jelas mengenai prosedur/tindakan yang akan
dilakukan maka ia biasanya lebih mudah diajak untuk bekerjasama
3. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir lalu
mengeringkannya
Untuk pencegahan infeksi sebelum melaksanakan tindakan
Lepaskan semua perhiasan dari lengan dan tangan
4. Membuka tutup metal dan tutup karet pada flakon vaksin polio
Pastikan vaksin belum kadaluarsa
5. Memasang pipet plastik pada flakon
6. Mengatur posisi bayi, untuk lebih memudahkan bayi dapat sambil dipangku
oleh ibunya
7. Menekan kedua pipi bayi dengan menggunakan kedua jari tangan kiri,
sehingga bayi membuka mulutnya
Lakukan dengan lembut dan hati-hati, jangan sampai melukai bayi
8. Tangan kanan memegang flakon vaksin polio, lali meneteskan 2 tetes vaksin
ke mulut bayi
9. Merapikan kembali alat-alat yang telah dipergunakan
10. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya
11. Menulis di buku catatan mengenai tindakan yang telah dilakukan dan
memberitahukan hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu bayi
SKOR NILAI = NILAI X 100%
33
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR MEMBERIKAN IMUNISASI DPT

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
MEMBERIKAN IMUNISASI DPT
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Menyiapkan alat-alat di dekat bayi
Siapkanlah alat-alat dan bahan-bahan secara ergonomis
2. Menjelaskan kepada ibu ibu dan bayi mengenai prosedur yang akan
dilakukan
Bila ibu mengetahui dengan jelas mengenai prosedur/tindakan yang akan
dilakukan maka ia biasanya lebih mudah diajak untuk bekerjasama
3. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir lalu
mengeringkannya
Untuk pencegahan infeksi sebelum melaksanakan tindakan
Lepaskan semua perhiasan dari lengan dan tangan
4. Membuka ampul vaksin
Pastikan sebelumnya vaksin tidak kadaluarsa
5. Mengusap karet penutup pada flakon dengan menggunakan kapas basah
sebagai tindakan desinfeksi
6. Mengambil semprit steril ukuran 1 cc dan memasang jarum DPT ke dalam
semprit tersebut
7. Membuka tutup jarum dan menghisap udara ke dalam semprit sebanyak 0,5
cc
Lakukan dengan hati-hati sewaktu melakukannya, jaga agar tetap steril
8. Menusukkan jarum ke dalam karet penutup flakon lalu masukkan udaranya
ke dalam flakon
9. Membalikkan flakon vaksin sehingga posisi berada di atas jarum, lalu
menyedot 0,5 cc vaksin ke dalam semprit
Lakukan dengan benar dan hati-hati, sewaktu mengisikan vaksin perhatikan
vaksin sudah tercampur dengan rata dan tidak ada vaksin yang beku
10. Mencabut jarum dari flakon, semprit di tegak luruskan ke atas untuk melihat
apakah terdapat gelembung udara, doronglah piston sehingga gelembung
udara keluar
11. Mengatur posisi bayi, bayi dapat dipangku oleh ibu atau dibaringkan dengan
dipegangi oleh ibu
Bayi dapat dipangku ibunya atau dibaringkan
12 Menyuntikkan vaksin DPT sebanyak 0,5 cc pada paha sebelah luar dengan
suntikan IM
13 Membereskan alat-alat yang telah dipergunakan
14 Mencuci kedua tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya
15 Menulis di buku catatan mengenai tindakan yang telah dilakukan dan
memberitahukan hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu bayi
SKOR NILAI = NILAI X 100%
45
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR
MEMBERIKAN IMUNISASI HEPATITIS B JENIS UNIJECT

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
MEMBERIKAN IMUNISASI HEPATITIS B JENIS UNIJECT
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
1. Menyiapkan alat-alat di dekat bayi
Siapkanlah alat-alat dan bahan-bahan secara ergonomis
2. Menjelaskan kepada ibu ibu dan bayi mengenai prosedur yang akan
dilakukan
Bila ibu mengetahui dengan jelas mengenai prosedur/tindakan yang akan
dilakukan maka ia biasanya lebih mudah diajak untuk bekerjasama
3. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir lalu
mengeringkannya
Untuk pencegahan infeksi sebelum melaksanakan tindakan
Lepaskan semua perhiasan dari lengan dan tangan
4. Mempersiapkan posisi bayi
Penyuntikan dilakukan pada 1/3 paha bagian luar secara IM
5. Mengambil uniject dari dalam termos vaksin/lemari pendingin
Pastikan uniject tidak kadaluarsa
6. Membuka kantong alumunium/plastik dan mengeluarkan uniject
7. Memegang uniject pada leher dan tutup jarum dengan memegang keduanya
di antara jari telunjuk dan jempol
8. Mendorong tutup jarum ke arah lateral dengan tekanan
9. Meneruskan mendorong sampai tidak ada jarak antara tutup jarum dan leher
Saat uniject diaktifkan akan terasa ada hambatan dan rasa menembus
lapisan
10. Membuka tutup jarum
11. Memegang uniject pada bagian leher dan memasukkan jarum pada bayi
Pada imunisasi jenis uniject tidak diperlukan aspirasi. Sewaktu penyuntikan
usahakan anak berada dalam keadaan tenang
12. Memijat reservoir dengan kuat untuk memasukkan vaksin, setelah reservoir
kempis cabut uniject dari paha bayi dengan cepat. Pastikan seluruh uniject
masuk ke tubuh bayi
13. Membuang uniject yang sudah tidak terpakai di tempat benda tajam
14. Membereskan alat-alat yang telah dipergunakan
15. Mencuci kedua tangan dengan menggunakan sabun di air mengalir lalu
mengeringkannya
16. Menulis di buku catatan mengenai tindakan yang telah dilakukan dan
memberitahukan hal-hal yang perlu diketahui oleh ibu bayi
SKOR NILAI = NILAI X 100%
48
TANGGAL

PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR IMUNISASI CAMPAK

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

KASUS
NO LANGKAH
1 2 3 4 5
Alat:
a. Vaksin campak dalam cold pack
b. Pelarut vaksin
c. Gergaji ampul
d. Jarum suntik 5 cc (untuk pelarut vaksin)
e. Spuit one used 0,5 cc untuk menyuntikan vaksin
f. Kapas Kering
1.
g. Kapas Basah
h. Perlak
i. Sarung tangan
j. Safety box
k. Bengkok
l. Larutan klorin 0,5%
m. Buku KIA/Catatan Imunisasi
Pasien:
Atur posisi bayi sesuai imunisasi yang akan diberikan. Memposisikan
2.
bayi duduk dengan digendong oleh ibunya dan membebaskan daerah
yang akan disuntik dari pakaian.
Tempat :
3.
Jaga privasi/kenyamanan anak
LANGKAH-LANGKAH
Menyapa ibu anak atau bayi dengan ramah dan memperkenalkan diri
4.
sebagai petugas kesehatan kepada ibu
Mengecek jenis vaksin yang akan dibutuhkan oleh bayi/anak pada saat
5. kunjungan dari buku KIA atau catatan imunisasi bayi, sekaligus
memastikan bahwa vaksin tidak kadaluarsa
Menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan efek samping, tempat
6.
injeksi dan lain-lain
7. Mencuci tangan
Mempersiapkan vaksin yang akan diberikan dengan mendekatkan cold
8. pack di meja yang tidak terkena sinar matahari langsung
Meletakkan vaksin di atas spon/busa yang berasa di dalam cold pack
9. agar vaksin tidak terendam air untuk mencegah kontaminasi vaksin dari
bakteri lain
10. Memasang perlak
11. Memakai sarung tangan
Mengambil vaksin dari cold pack dan siapkan pelarut Campak.
Sebelum pelarut dimasukkan dalam ampul, maka pelarut harus
12.
diupayakan diletakkan dalam cold pack sehingga suhu pelarut sama
dengan suhu campak kering dalam ampul
Buka penutup karet ampul kemudian desinfeksi karet ampl dengan
13.
kapas basah
Menyedot pelarut dengan jarum steril 5 cc, kemudian masukkan ke
dalam ampul campak kering perlahan-lahan hingga semua pelarut
14.
masuk ke dalam ampul. Campur vaksin dengan pelarut dengan cara
vial di putar satu arah di tempat yang datar secara perlahan-lahan
Menyiapkan daerah tempat penyuntikan dengan tepat dan bersih di
mana darah dan cairan tubuh tidak mungkin keluar. Segera siapkan
15.
vaksin sewaktu akan memberikan suntikan, jangan siapkan beberapa
spuit vaksin terlebih dahulu sebelum bayi yang akan diimunisasi siap
Menyedot vaksin campak sebanyak 0,5 cc dan jangan biarkan jarum
16. yang dipakai untuk menyedot vaksin terpasang di bagian paling atas
atau tutup ampul vaksin
Menarik jarum dalam ampul. Untuk menghilangkan gelembung udara,
17. pegang spuit tegak lurus dan buka penyumbatnya, kemudian tekan
dengan hati-hati ke tanda tutup
18. Menentukan tempat penyuntikan di lengan kiri atas
Mendesinfeksi tempat penyuntikan dengan kapas basah (bukan kapas
19.
alkohol)
Menyuntikkan vaksin campak secara subcutan (dengan sudut spuit
450), dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas. Memastikan
20.
jarus tidak masuk dalam pembuluh darah dengan melakukan aspirasi.
Hapus darah di lokasi penyuntikan dengan menggunakan kapas kering
Masukkan spuit kedalam larutan klorin, hisap larutan klorin ke dalam
21.
spuit kemudian masukkan ke dalam safety box
Memberitahukan pada ibu tentang reaksi lokal seperti demam ringan
22. dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah
vaksinasi
Membereskan semua peralatan yang digunakan, dan pisahkan sampah
23.
kering dan sampah basah
24. Mengamati reaksi bayi pasca penyuntikan
25. Mengingatkan ibu untuk kunjungan ulang imunisasi
Mendokumentasikan imunisasi yang telah diberikan di buku KIA/catatan
26.
imunisasi
SKOR NILAI = NILAI X 100%
78
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING
PENUNTUN BELAJAR PENGGUNAAN DDST

Nilailah setiap kinerja langkah yang diamati dengan menggunakan skala sbb :
1. Perlu perbaikan : Langkah atau tugas tidak dikerjakan dengan benar atau
dihilangkan.
2. Mampu : Langkah benar dan berurutan, tetapi kurang tepat atau pelatih perlu
membantu / mengingatkan hal-hal kecil yang tidak terlalu berarti.
3. Mahir : Langkah dikerjakan dengan benar, tepat tanpa ragu ragu atau
tanpa perlu bantuan dan sesuai dengan urutan.

T/S : Tindakan / langkah-langkah yang dilakukan tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

PENUNTUN BELAJAR
KASUS
NO LANGKAH / TUGAS
1 2 3 4 5
PERSIAPAN
1. Mempersiapkan tempat test.
2. Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan.
3. Mempersiapkan formulir DDST.
KONSELING
4. Menyapa orang tua/pengasuh dan anak dengan ramah.
5. Menjelaskan kepada orang tua/pengasuh tujuan dilakukan test
perkembangan (test ini bukan untuk mengetahui IQ anak).
6. Membuat komunikasi yang baik dengan anak.
PELAKSANAAN
7. Menghitung umur anak dengan benar.
8. Menanyakan apakah anak lahir prematur dan bila ya koreksi umur anak.
9, Menulis tanggal pemeriksaan di atas garis umur.
10. Membuat garis umur dengan benar.
11. Melakukan tugas perkembangan untuk tiap sector minimal 3 tugas sebelah
kiri garis umur dan bila lulus diteruskan sampai menembus garis umur serta
sebelah kanan sampai anak gagal pada 3 tugas perkembangan. Bila anak
tidak mampu untuk melakukan salah satu uji coba pada langkah 11, lakukan
uji coba tambahan ke sebelah kiri garis umur pada sector yang sama sampai
anak dapat lulus 3 tugas perkembangan.
12. Memberi skor penilaian dengan tepat
13. Selama penilaian orang tua/pengasuh ditanyakan adanya perilaku yang khas
pada anak
14. Mengambil kesimpulan dengan benar
15. Menjelaskan hasil penilaian dan tindak lanjut. Mengucapkan terima kasih dan
salam perpisahan
SKOR NILAI = NILAI X 100%
45
TANGGAL
PARAF PEMBIMBING