Anda di halaman 1dari 16

Teori Perkembangan Psiko-Sosial Erik Erikson

Oleh:
Anny Oktafirllyanti (Psi.2010),
Itsna Falaqie Zakyanvitani (Psi.2010),
Ranita Ria Dwita (Psi.2010), Sefchullisan (Psi.2010)
dan Tya Aditya Irfan (Psi.2010)

Erik Erikson (1902-1994)

Erik Erikson lahir di Franfrurt, Jerman, pada tanggal 15 Juni


1902. Ia adalah ahli analisa jiwa dari Amerika, yang membuat
kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang
psikologi pada pengembangan anak dan pada krisis identitas.
Ayahnya (Danish) telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Hingga
akhirnya saat remaja, ibunya (yang seorang Yahudi) menikah lagi
dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger.

Erikson kecil bukanlah siswa pandai, karena ia adalah


seorang yang tidak menyenangi atmosfer sekolah yang formal. Ia
oleh orang tua dan teman-temannya dikenal sebagai seorang
pengembara hingga ia pun tidak sempat menyelesaikan program
diploma. Tetapi perjalanan Erikson ke beberapa negara dan
perjumpaannya dengan beberapa penggiat ilmu menjadikannya
seorang ilmuwan sekaligus seniman yang diperhitungkan.
Pertama ia berjumpa dengan ahli analisa jiwa dari Austria yaitu
Anna Freud. Dengan dorongannya, ia mulai mempelajari ilmu
tersebut di Vienna Psychoanalytic Institute, kemudian ia
mengkhususkan diri dalam psikoanalisa anak. Terakhir pada
tahun 1960 ia dianugerahi gelar profesor dari Universitas
Harvard.
Setelah menghabiskan waktu dalam perjalanan panjangnya
di Eropa Pada tahun 1933 ia kemudian berpindah ke USA dan
kemudian ditawari untuk mengajar di Harvad Medical School.
Selain itu ia memiliki pratek mandiri tentang psikoanalisis anak.
Terakhir, ia menjadi pengajar pada Universitas California di
Berkeley, Yale, San Francisco Psychoanalytic Institute, Austen
Riggs Center, dan Center for Advanced Studies of Behavioral
Sciences.

Selama periode ini Erikson menjadi tertarik akan pengaruh


masyarakat dan kultur terhadap perkembangan anak. Ia belajar
dari kelompok anak-anak Amerika asli untuk membantu
merumuskan teori-teorinya. Berdasarkan studinya ini, membuka
peluang baginya untuk menghubungkan pertumbuhan
kepribadian yang berkenaan dengan orangtua dan nilai
kemasyarakatan.

Keinginannya untuk meneliti perkembangan hidup manusia


berdasarkan pada pengalamannya ketika di sekolah. Saat itu
anak-anak lain menyebutnya Nordic karena ia tinggi, pirang, dan
bermata biru. Di sekolah grammar ia ditolak karena berlatar
belakang Yahudi.

Buku pertamanya adalah Childhood and Society (1950),


yang menjadi salah satu buku klasik di dalam bidang ini. Saat ia
melanjutkan pekerjaan klinisnya dengan anak-anak muda,
Erikson mengembangkan konsep krisis perasaan dan identitas
sebagai suatu konflik yang tak bisa diacuhkan pada masa
remaja. Buku-buku karyanya antara lain yaitu: Young Man Luther
(1958), Insight and Responsibility (1964), Identity (1968),
Gandhi's Truth (1969): yang menang pada Pulitzer Prize and a
National Book Award dan Vital Involvement in Old Age (1986).
Tahap Perkembangan Hidup Manusia
Apakah perkembangan psikososial itu?

Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal


dengan teori perkembangan psikososial. Teori perkembangan
psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam
psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa
kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu
elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah
perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan
sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut
Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan
pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam
berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa
kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu
perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori
Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.

Erikson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas


yang bertingkat/bertahapan. Ada delapan tingkatan
perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya
bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat
naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat
sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan
dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya
tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika
tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil
dengan perasaan tidak selaras.

Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan


mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam
perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat
pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk
mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi
pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi
kegagalan.

Teori Perkembangan Rentang Hidup Erikson

Teori Erik Erikson melengkapi analisis Bronfenbrenner


terhadap konteks sosial di mana akan tumbuh dan orang-orang
yang penting bagi kehidupan anak. Erikson (1902-1994)
mengemukakan teori tentang perkembangan seseorang melalui
tahapan.

Delapan Tahap Perkembangan Manusia

Dalam teori Erikson (1968), delapan tahap perkembangan


akan dilalui oleh orang di sepanjang rentang kehidupannya.
Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang
dihadapi oleh individu yang mengalami krisis. Menurut Erikson,
masing-masing krisis tidak bersifat katastropik, tetapi merupakan
titik balik dari kerawanan dan penguatan potensi. Semakin
sukses seseorang mengatasi krisisnya, semakin sehat psikologi
individu tersebut. Masing-masing tahap punya sisi positif dan
negatif.

Kepercayaan versus ketidakpercayaan merupakan tahap


psikososial yang pertama yaitu pada saat berumur 0-1 tahun.
Pada tahap ini bayi didorong untuk mempercayai dan tidak
mempercayai orang-orang yang ada di sekitarnya. Bayi
sepenuhnya mempercayai keluarganya, tapi dia akan tidak
percaya dengan orang asing, benda asing dan berbagai hal yang
asing. Oleh karena itu bayi akan menangis jika digendong
dengan orang yang tidak dikenalnya dan juga saat menghadapi
hal-hal asing. Oleh karena itu tugas yang dibutuhkan pada tahap
ini adalah menumbuhkan rasa percaya tanpa harus
menghilangkan kemungkinan rasa ketidakpercayaan itu. Rasa
percaya akan terbina dengan baik bila kebutuhan oralis bayi
terpenuhi, seperti tidur dengan nyenyak, menyantap makanan
dengan nyaman dan tepat waktu serta dapat membuang kotoran
dengan sepuasnya.

Otonomi versus perasaan malu dan ragu merupakan tahap


psikologis Erikson kedua. Tahap ini ada pada umur 2-3 tahun.
Tahap ini terjadi pada masa bayi akhir (late infancy) dan masa
belajar berjalan (toddler). Pada masa ini anak sudah bisa berdiri
sendiri dalam arti melakukan beberapa hal dengan sendirinya
tanpa bantuan orang tuanya, tetapi di pihak lain anak merasa
ragu dan malu dengan apa yang diperbuatnya. Oleh karena itu
mereka suka meminta pertolongan dan persetujuan orang tua
mereka. Tugas orang tua pada tahap ini adalah tidak perlu
memaksa anak untuk terlalu berani dan tidak juga mematikan
rasa keberanian itu. Jadi yang dibutuhkan adalah keseimbangan.

Inisiatif versus rasa bersalah merupakan tahap psikologis


Erikson ketiga, terjadi pada umur 4-5 tahun. Pada tahap ini anak
sudah lebih banyak memiliki kecakapan. Kecakapan-kecakapan
inilah yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, namun
sayangnya karena kemampuan anak masih terbatas terkadang
mereka melakukan kesalahan dan ini membuat mereka merasa
bersalah serta kehilangan minat untuk melakukan banyak hal
dalam beberapa waktu. Masa-masa bermain adalah masa
dimana anak belajar dan berani menerima tantangan dari luar.
Upaya versus inferioritas merupakan tahap psikologis
Erikson keempat yaitu pada umur 6-11 tahun. Pada tahap ini
anak semakin aktif. Mereka sangat bersemangat untuk
mengetahui dunia luar serta berbuat sesuatu, namun sayang
karena masih banyaknya kekurang yang dimiliki, mereka
terkadang berhadapan dengan hambatan, kesukaran bahkan
kegagalan. Hal-hal inilah yang membuat mereka menjadi rendah
diri. Pada tahap ini pula, yang semula hanya sebagai sebuah
fantasy bagi mereka, anak-anak mulai merealisasikannya.

Identitas versus kekacauan identitas, identitas merupakan


tahap psikologi Erikson kelima. Terjadi pada individu saat
berumur 12-20 tahun. Pada masa ini kemampuan-kemampuan
yang dimiliki oleh seorang anak sudah lebih matang. Mereka
berusaha untuk membentuk dan memeperlihatkan identitasnya.
Dorongan untuk memperlihatkan identitas terkadang dilakukan
dengan cara yang ekstrim atau berlebihan. Hal ini membuat
mereka melakukan sesuatu yang dianggap menyimpang oleh
lingkungan sekitar.

Keintiman versus isolasi merupakan tahap psikologis


Erikson keenam. Tahap ini terjadi pada masa dewasa awal yaitu
pada umur 21-40 tahun. Pada tahap ini terjadi longgarnya
hubungan dengan kelompok sebaya karena ada dorongan untuk
dekat dengan orang yang sepaham. Selain itu juga terdapat
dorongan untuk lebih intim dengan orang-orang tertentu. Ini
adalah jenjang yang dikatakan Erikson sebagai jenjang dimana
seseorang ingin dekat dengan orang lain dan menghindar dari
yang namanya menyendiri. Tapi hasilnya akan berbeda pada
orang yang tidak memiliki kemampuan untuk membuat relasi
dengan orang lain. Mereka ini akan lebih menarik diri dan
mengisolasi dirnya dari orang-orang sekitar.

Generativitas versus stagnasi merupakan tahap psikologis


Erikson ketujuh. Tahap ini terjadi pada masa dewasa
pertengahan, sekitar 41-65 tahun. Pada tahap ini manusia sudah
mencapai puncak dalam pengembangan diri mereka sendiri.
Tugas yang harus dicapai pada tahap ini adalah mengabdikan diri
untuk generasi muda. Pada masa ini timbul rasa untuk
melahirkan sesuatu dan tidak berbuat apa-apa. Bagi mereka
yang berbuat sesuatu mereka akan memperdulikan orang
sekitar. Sedangkan bagi orang yang tidak berbuat apa-apa
mereka cenderung tidak memperdulikan orang sekitarnya.

Integritas versus keputusasaan merupakan tahap


psikologis Erikson yang kedelapan. Terjadi pada umur 65 ke atas.
Pada masa ini individu sudah memiliki integritas pribadi. Semua
yang dikaji dan ditelaah oleh dirinya menjadi miliki pribadi.
Pribadi yang masih memiliki sebuah keinginan untuk melakukan
sesuatu namun sudah tidak mampu melakukannya lagi karena
masalah usia, mereka akan merasa putus asa. Tidak tercapainya
sebuah keinginan dan kemunduran kemampuan menyebabkan
terjadinya rasa keputusasaan. Menurut Erikson, individu yang
sudah sampai pada tahap ini sudah cukup berhasil melewati
tahap-tahap sebelumnya dengan baik. Tugas pada tahap ini
adalah integritas dan menghilangkan rasa kekecewaan.

Mengevaluasi Teori Erikson

Teori Erikson memaparkan beberapa tugas sosioemosional


penting dan meletakkannya dalam kerangka perkembangan.
Konsep identitasnya terutama membantu untuk memahami
masa remaja akhir dan mahasiswa. Secara keseluruhan teorinya
merupakan faktor penting dalam membentuk pandangan kita
sekarang tentang perkembangan manusia sebagai
perkembangan sepanjang hayat, bukan sekedar perkembangan
di masa kanak-kanak.

Teori Erikson tidak luput dari kritik. Beberapa pakar percaya


bahwa tahapannya terlalu kaku. Bernice Neugarten (1988)
mengatakan bahwa identitas, intimasi, independensi dan banyak
aspek perkembangan sosioemosional lainnya tidak muncul
secara berurutan secara rapi dalam interval usia tertentu. Aspek-
aspek itu merupakan isu penting yang ada di sepanjang hidup
kita. Meskipun banyak riset telah dilakukan terhadap tahap-tahap
Erikson (seperti identitas), seluruh cakupan teorinya (seperti
apakah delapan tahap itu selalu terjadi secara berurutan bagi
beberapa individu (terutama wanita), intimasi mendahului
identitas, atau berkembang secara bersamaan.

Perbandingan Sigmund Freud

Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan


kunstruk teori psikososialnya dari psiko-analisa Freud. Kalau
Freud memapar teori perkembangan manusia hanya sampai
masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freudian)
akan menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson,
walaupun demikian ada perbedaan antara psikoseksual Freud
dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut
dapat dilihat di bawah ini
Freud Erikson
Peran/fungsi ego lebih
Peranan/fungsi id dan ditonjolkan, yang berhubungan
ketidaksadaran sangat penting. dengan tingkah laku yang
nyata.
Hubungan-hubungan yang
penting lebih luas, karena
Hubungan segitiga antara mengikutsertakan pribadi-
anak, ibu dan ayah menjadi pribadi lain yang ada dalam
landasan yang terpenting lingkungan hidup yang langsung
dalam perkembangan pada anak. Hubungan antara
kepribadian. anak dan orang tua melalui pola
pengaturan bersama (mutual
regulation).
Orientasi patologik, mistik Orientasinya optimistik,
karena berhubungan dengan kerena kondisi-kondisi dari
berbagai hambatan pada pengaruh lingkungan sosial
struktur kepribadian dalam yang ikut mempengaruhi
perkembangan kepribadian. perkembang kepribadian anak
bisa diatur.
Timbulnya berbagai Konflik timbul antara ego
hambatan dalam kehidupan dengan lingkungan sosial yang
psikisnya karena konflik disebut: konflik sosial.
internal, antara id dan super
ego.
TEORI PERKEMBANGAN MORAL
MENURUT KOHLBERG
Posted on May 29, 2010 by Rofiah
Standard

A. Makna Perkembangan Moral


Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku
seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain.
Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat.
Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam
masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya.
Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral,
sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam
bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu
secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang
diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.

Seperti dalam proses perkembangan yang lannya, proses perkembangan


sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas
hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar
(khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di
lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat
menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras
dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang
berlaku dalam masyarakat.
Dalam dunia psikologi belajar terdapat aneka ragam mazhab (aliran pemikiran)
yang berhubungan dengan perkembangan moral. Diantara ragam mazhab
perkembangan sosial ini paling menonjol dan layak dijadikan rujukan adalah :
1. Aliran teori cognitive Psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan
Lawrence Kohlberg.
2. Aliran teori Social Learning dengan tokoh utama Albert. Bandura dan R.H
Walters.
Pada tokoh-tokoh psikologi tersebut telah banyak melakukan penelitia yang mana
pada penelitiannya setiap tahapan perkembangan sosial anak selalu dihubungkan
dengan perkembangan perilaku moral yaitu perilaku baik dan buruk menurut
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Salah satu teori perkembangan
moral adalah teori menurut Kohlberg.

B. Teori Perkembangan Moral Menurut Kohlberg.


Menurut teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral
didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap.
Dalam Teori Kohlberg mendasarkan teori perkembangan moral pada prinsip-
prinsip dasar hasil temuan Piaget. Menurut Kohlberg sampai pada pandangannya
setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. Dalam
wawancara , anak-anak diberi serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya
menghadapi dilema-dilema moral. Berikut ini ialah dilema Kohlberg yang paling
populer:
Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker khusus.
Ada satu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Obat tersebut
adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota
yang sama. Biaya membuat obat ini sangat mahal, tetapi sang apoteker
menetapkan harganya 10X lebih mahal dari biaya pembuatan obat tersebut. Untuk
pembuatan 1 dosis obat ia membayar $ 200 dan menjualnya $2.000. Suami pasien
perempuan, Heinz pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang,
tetapi ia hanya dapat mengumpulkan $1.000 atau hanya setengah dari harga obat.
Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker
bersedia menjual obatnya lebih murah atau membolehkannya membayar
setengahnya kemudian. Tetapi sang apoteker berkata tidak, aku menemukan obat,
dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu. Heinz menjadi nekat dan
membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya.

Cerita ini adalah salah satu dari 11 cerita yang dikembangkan oleh
Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Setelah membaca
cerita, anak-anak yang menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan
tentang dilema moral. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat
tersebut benar atau salah? Pataskah suami yang baik itu mencuri? Dll.
Berdasarkan penalaran-penalaran yang diberikan oleh responden dalam merespon
dilema moral ini dan dilema moral lain. Dengan adanya cerita di atas menurut
Kohlberg menyimpulkan terdapat 3 tingkat perkembangan moral, yang masing-
masing ditandai oleh 2 tahap.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg ,
ialah internalisasi yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan
secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
Teori Perkembangan moral dalam psikologi umum menurut Kohlberg terdapat 3
tingkat dan 6 tahap pada masing-masing tingkat terdapat 2 tahap diantaranya
sebagai berikut :
Tingkat Satu : Penalaran Prakonvensional.
Penalaran Prakonvensional adalah : tingkat yang paling rendah dalam teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan
internalisasi nilai-nilai moral- penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah)
dan hukuman eksternal. Dengan kata lain aturan dikontrol oleh orang lain
(eksternal) dan tingkah laku yang baik akan mendapat hadiah dan tingkah laku
yang buruk mendapatkan hukuman.

Tahap I. Orientasi hukuman dan ketaatan


Yaitu : tahap pertama yang mana pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas
hukuman dan anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat.

Tahap II. Individualisme dan tujuan


Pada tahap ini penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah)dan kepentingan
sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk
kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik
dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.

Tingkat Dua : Penalaran Konvensional


Penalaran Konvensional merupakan suatu tingkat internalisasi individual
menengah dimana seseorang tersebut menaati stndar-stndar (Internal)tertentu,
tetapi mereka tidak menaati stndar-stndar orang lain (eksternal)seperti orang tua
atau aturan-aturan masyarakat.
Tahap III. Norma-norma Interpersonal
Yaitu : dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian dan kesetiaan
kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seorang
anak mengharapkan dihargai oleh orang tuanya sebagai yang terbaik.
Tingkat IV. Moralitas Sistem Sosial
Yaitu : dimana suatu pertimbangan itu didasarkan atas pemahaman atuyran sosial,
hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.

Tingkat Tiga : Penalaran Pascakonvensional


Yaitu : Suatu pemikiran tingkat tinggi dimana moralitas benar-benar
diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seseorang
mengenal tindakan-tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan
kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode.

Tahap V. Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual


Yaitu : nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat
berbeda dari satu orang ke orang lain.

Tahap VI. Prinsip-prinsip Etis Universal


Yaitu : seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan
pada hak-hak manusia universal. Dalam artian bila sseorang itu menghadapi
konflik antara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati.

Pada perkembangan moral menurut Kohlberg menekankan dan yakin


bahwa dalam ketentuan diatas terjadi dalam suatu urutan berkaitan dengan usia.
Pada masa usia sebelum 9 tahun anak cenderung pada prakonvensional. Pada
masa awal remaja cenderung pada konvensional dan pada awal masa dewasa
cenderung pada pascakonvensional. Demikian hasil teori perkembangan moral
menurut kohlberg dalam psikologi umum.
Ketika kita khususkan dalam memandang teori perkembangan moral dari sisi
pendidikan pada peserta didik yang dikembangkan pada lingkungan sekolah maka
terdapat 3 tingkat dan 6 tahap yaitu :

Tingkat Satu : Moralitas Prakonvensional


Yaitu : ketika manusia berada dalam fase perkembangan prayuwana mulai dari
usia 4-10 tahun yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi
sosial.Yang man dimasa ini anak masih belum menganggap moral sebagai
kesepakatan tradisi sosial.

Pada tingkat pertama ini terdapat 2 tahap yaitu :


Tahap 1. Orientasi kepatuhan dan hukuman.
Adalah penalaran moral yang yang didasarkan atas hukuman dan anak-anak taat
karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Dengan kata lain sangat
memperhatikan ketaatan dan hukum. Dalam konsep moral menurut Kohlberg ini
anak menentukan keburukan perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat
keburukan tersebut. Sedangkan perilaku baik akan dihubungkan dengan
penghindaran dari hukuman.

Tahap 2. Memperhatikan Pemuasan kebutuhan.


Yang bermakna perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan
kebutuhan sendiri tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.

Tingkat Dua : Moralitas Konvensional


Yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana
pada usia 10-13 tahun yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi
sosial.

Pada Tingkat II ini terdapat 2 tahap yaitu :


Tahap 3. Memperhatikan Citra Anak yang Baik
Maksudnya : anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan
moral agar dapat memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk
menghindari hukuman.
Semua perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya, jadi ada
perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan. Dalam hal ini terdapat pada
pendidikan anak.
Pada tahap 3 ini disebut juga dengan Norma-Norma Interpernasional ialah :
dimana seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada
orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak-anak sering
mengadopsi standar-standar moral orang tuanya sambil mengharapkan dihargai
oleh orang tuanya sebagi seorang anak yang baik.
Tahap 4. Memperhatikan Hukum dan Peraturan.
Anak dan remaja memiliki sikap yang pasti terhadap wewenang dan aturan.
Hukum harus ditaati oleh semua orang.

Tingkat Tiga : Moralitas Pascakonvensional


Yaitu ketika manusia telah memasuki fase perkembangan yuwana dan
pascayuwana dari mulai usia 13 tahun ke atas yang memandang moral lebih dari
sekadar kesepakatan tradisi sosial. Dalam artian disini mematuhi peraturan yang
tanpa syarat dan moral itu sendiri adalah nilai yang harus dipakai dalam segala
situasi.

Pada perkembangan moral di tingkat 3 terdapat 2 tahap yaitu :


Tahap 5. Memperhatikan Hak Perseorangan.
Maksudnya dalam dunia pendidikan itu lebih baiknya adalah remaja dan dewasa
mengartikan perilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan ddan patokan
sosial.
Perubahan hukum dengan aturan dapat diterima jika ditentukan untuk mencapai
hal-hal yang paling baik.
Pelanggaran hukum dengan aturan dapat terjadi karena alsan-alasan tertentu.

Tahap 6. Memperhatikan Prinsip-Prinsip Etika


Maksudnya : Keputusan mengenai perilaku-pwerilaku sosial berdasarkan atas
prinsip-prinsip moral, pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras
dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain.
Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat meskipun
sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk menetapkan aturan
sosial. Contoh : Seorang suami yang tidak punya uang boleh jadi akan mencuri
obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya dengan keyakinan bahwa melestarikan
kehidupan manusia merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi daripada
mencuri itu sendiri.