Anda di halaman 1dari 22

Pengaruh earning power terhadap

Proposal penelitian

Oleh :

Merie satya angraini

Program studi magister akuntansi

Fakultas ekonomi dan bisnis

Universitas trunojoyo madura

2016
Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Salah satu sumber informasi dalam menilai kinerja perusahaan adalah laporan

keuangan. Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, dari

transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku bersangkutan. Laporan

keuangan dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggung-jawabkan tugas-

tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan

keuangan juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada

pihak di luar perusahaan. Dari laporan keuangan tersebut dapat dilihat kinerja dari

manajemen perusahaan. Manajemen perusahaan merupakan salah satu pihak yang dapat

memberikan kebijakan dalam penyusunan laporan keuangan tersebut untuk mencapai

tujuan tertentu. Maka, manajemen mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan

yang dapat membuat laporan keuangan menjadi baik, tindakan inilah yang sering disebut

sebagai manajemen laba.

Semakin banyak aktivitas manajemen laba telah mendorong berkembangnya

perhatian publik pada pengungkapan informasi yang akurat. Hal ini disebabkan perbedaaan

kepentingan antara pihak manajemen dengan pihak pemegang saham atau stockholder,

yang biasa dikenal dengan istilah teori keagenan. Teori keagenan menunjukkan bahwa ada

pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan, dimana kepemilikan berada pada tangan

para pemegang saham sedangkan pengelolaan berada pada tangan tim manajemen.

Manajer yang bertanggungjawab sebagai pengelola perusahaan, tentunya lebih banyak

mengetahui informasi serta kondisi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan

datang dibandingkan pemiliknya dan nantinya manajer akan memberikan laporan mengenai

kondisi perusahaan kepada pemilik perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepa

da pemegang saham. Perbedaan informasi ini dinamakan asimetri informasi.

Masalah yang sering muncul dalam hubungan agensi antara pemegang saham dan

manajer adalah terjadinya konflik agensi. Konflik agensi muncul ketika manajer mempunyai
kewajiban untuk memaksimumkan kesejahteraan para pemegang saham, namun disisi lain

manajer juga mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan mereka.

Tindakan manajemen laba ini telah memunculkan beberapa kasus dalam pelaporan

akuntansi yang secara luas diketahui, antara lain seperti PT KAI. Kai berawal dari

diketahuinya manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI kai tahun 2005, perusahaan

bumn itu dicatat meraih keutungan sebesar RP, 6,9 miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji

lebih rinci, perusahaan seharusnya menderita kerugian sebesar RP. 63 miliar. Laporan

keuangan PT KAI kai tahun 2005 disinyalir telah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu.

Banyak terdapat kejanggalan dalam laporan keuangannya. Beberapa data disajikan tidak

sesuai dengan standar akuntansi keuangan (sumber : tempo.com diakses tanggal 20

februari 2017). Terungkapnya pelanggaran yang dilakukan oleh PT KAI. Kai terjadi karena

kesalahan manipulasi dan terdapat penyimpangan pada laporan keuangan PT KAI kai.

Sehingga terjadi penipuan yang menyesatkan banyak pihak seperti investor.

Dari kasus PT KAI. Kai ini, dapat kita lihat terjadi manipulasi laporan keuangan,

perusahaan tersebut agar perusahaan tersebut terlihat sehat dan kinerja manajemen

dianggap baik. Kewajiban manajemen untuk menaikan nilai investasi dari investor memaksa

manajemen bekerja keras untuk memperlihatkan kinerja dan kualitas yang baik, tidak perduli

cara itu diperbolehkan atau tidak. PT KAI. PT KAI yang menyajikan laba sebesar RP 6,9

miliar pada tahun 2005 ternyata menderita kerugian RP 63 miliar. Manipulasi ini dilakukan

manajemen agar perusaaan terlihat mampu menghasilkan laba (earning power) yang baik.

Hal ini sangat penting bagi investor untuk menjamin tingkat pengembalian investasi.

Dari kasus di atas dapat dilihat kebanyakan stockholder seringkali hanya menaruh

perhatian pada informasi laba tanpa memperhatikan bagaimana laba tersebut dihasilkan.

Sikap seperti ini yang menciptakan peluang bagi manajemen untuk melakukan praktek

manajemen laba. Faktor penyebab earning management, salah satunya adalah earning

power yang digunakan oleh calon investor ataupun para pemegang saham untuk menilai

efisiensi perusahaan. Sehingga tingkat earning power perusahaan yang menjadi tolak ukur

untuk menilai perilaku manajer dalam melakukan praktik manajemen laba. Earning power
adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Earning power adalah alat yang

digunakan oleh calon investor ataupun para pemegang saham untuk menilai efesiensi

perusahaan dalam pengunaan aset perusahaan dalam menghasilkan laba. Tinggi

rendahnya earning power ditentukan oleh beberapa faktor yang bisa dilihat dari rasio

keuangan. Dengan melakukan analisis profitabilitas perusahaan, maka stokholder dapat

menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (earning power). Analisis

profitabilitas merupakan analisis untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba (earning power) dan sejauhmana efektifitas pengelolaan perusahaan

pada masa-masa yang lalu.

Hasil dari penelitian doerjat (2009), menunjukan bahwa perusahaan perlu melakukan

analisis earning power yang tepat, karena kekuatan pendapatan memiliki dampak positif

yang signifikan terhadap praktek manajemen laba. Sementara andriani (2009)

menyimpulkan hasil penelitian dan mengungkapkan bahwa pengaruh earnings power

berdasarkan roa terhadap praktik manajemen laba mempunyai hubungan (korelasi) yang

erat serta searah atau positif hal ini berarti apabila terjadi kenaikan pada earning power

perusahaan maka akan diikuti dengan kenaikan nilai discretionary accrual (DAC), begitu

pula sebaliknya jika terjadi penurunanearnings power akan terjadi penurunan DAC pula.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan purnomo & pratiwi (2009) menyatakan bahwa

kemampuan menghasilkan laba suatu perusahaan dapat mendorong pihak manajemen

untuk melakukan modifikasi laba baik dengan meningkatkan income accrual ataupun

menurunkan income accrual, namun pengaruh tersebut cenderung lemah. Berdasarkan

latar belakang di atas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul

pengaruh earning power terhadap manajemen laba (studi pada perusahaan yang terdaftar

di bursa efek indonesia tahun 2012-2016).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pengaruh earning power terhadap manajemen laba pada prusahaan

yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2012-2016?


1.3 Tujuan

Tujuan penelitian ini untuk mengatehui pengaruh dari variabel earning power

terhadap manajemen laba.

1.4 Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan, penelitian ini memiliki manfaat sebagai

berikut :

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah menjadi tambahan referensi

terkait Earrning Power terhadap Earning Manajemen. Dapat bermanfaat bagi

perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu ekonomi pada

khususnya. Diharapkan dari penelitian ini dapat mengembangkan teori yang

sudah ada.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktik dari penelitian ini adalah sebagai masukan bagi investor

agah berhati-hati dalam melakukan pengambilan keputusan atas pembelian sahan,

atau pun transaksi dalam saham. Dan masukan kepada pihak manajemen supaya

dapat menindak lajuti hal dari manajemen laba, karena dapt berpengaruh terhadap

keadaan perusahaan.
Bab II

Tinjauan Pustaka

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Agency Teori

Widyaningdyah (2001) menyatakan bahwa konsep agency theory adalah hubungan

atau kontrak yang terjadi antara principal dan agent. Principal mempekerjakan agent untuk

kepentingan principal, termasuk pendelegasian otoritas pengambilan keputusan dari

principal kepada agent. Pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham, pemegang

saham bertindak sebagai principal, dan ceo (chief executive officer) sebagai agent mereka.

Pemegang saham memperkerjakan ceo untuk bertindak sesuai dengan kepentingan

principal.agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata

termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan

antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakankontrak untuk

mensejahterakan dirinya dengan profitabilitas perusahaannya yang selalu meningkat.

Scott (2006; 266) mendefinisikan teori agensi sebagai berikut:

agency theory is a branch of game theory that studies the design of

contracts to motivate a rational agent to act on behalf of a principal when the agents

interests would otherwise conflict with those of the principal.

Dapat dijelaskan bahwa teori agensi adalah pengembangan dari suatu teori yang

mempelajari suatu desain kontrak dimana para agen bekerja atas nama prinsipal ketika

keinginan/tujuan mereka bertolak belakang maka akan terjadi suatu konflik.

Salno dan baridwan (2000) menyatakan bahwa penjelasan tentang konsep

manajemen laba tidak terlepas dari teori keagenan (agency theory). Teori keagenan

menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara

manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk

mencapai dan mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya. Adanya

perbedaan kepentingan antara manajemen dan pemilik tersebut dapat dipengaruhi

kebijakan yang diputuskan manajemen. Oleh karena itu, terkadang kebijakan-kebijakan


tertentu yang dilakukan oleh manajemen perusahaan tanpa sepengetahuan pihak pemilik

modal atau investor. Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-

mata termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan

antara principal dan agent. Pemegang saham sebagai pihak principal mengadakan kontrak

untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat.

Manajer sebagai agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi

dan psikologisnya antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak

kompensasi. Masalah keagenan muncul karena adanya perilaku oportunistik dari agent,

yaitu perilaku manajemen untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang

berlawanan dengan kepentingan principal. Manajer memiliki dorongan untuk memilih dan

menerapkan metode akuntansi yang dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik untuk

tujuan mendapatkan bonus dari principal.

Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan

psikologisnya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak

kompensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak dapat

memonitor aktivitas ceo sehari-hari untuk memastikan bahwa ceo bekerja sesuai dengan

keinginan pemegang saham. Principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja

agent. Agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan.

Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimilliki oleh

principal dan agent (nasution dan doddy, 2007).

Ketidakseimbangan informasi inilah yang disebut dengan asimetri informasi. Adanya

asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri,

mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk

menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Asimetri informasi dan

konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent. Hal ini memacu agent untuk

memikirkan bagaimana angka akuntansi tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk

memaksimalkan kepentingannya.

Konflik keagenan (agency cost) yang ditimbulkan oleh tindakan manajemen laba
dipicu dari adanya pemisahan peran atau perbedaan kepentingan antara pemegang saham

(principal) dengan manajemen perusahaan (agent). Misalnya, manajemen selaku pengelola

perusahaan memiliki informasi tentang perusahaan lebih banyak dan lebih dahulu daripada

pemegang saham sehingga terjadi asimetri informasi yang memungkinkan manajemen

melakukan praktik akuntansi dengan orientasi pada laba untuk mencapai suatu kinerja

tertentu. Asimetri informasi adalah masalah-masalah yang ditimbulkan oleh informasi yang

tidak lengkap, yaitu ketika tidak semua keadaan diketahui oleh kedua belah pihak dan

sebagai akibatnya, ketika konsekuensi-konsekuensi tertentu tidak dipertimbangkan oleh

masing-masing pihak yang bersangkutan.

Teori keagenan menyatakan bahwa antara manajemen dan pemilik mempunyai

kepentingan yang berbeda. Perusahaan yang memisahkan fungsi pengelolaan dan

kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan. Keinginan manajer untuk mengoPT

KAIimalkan kesejahteraan pribadi dengan mengelabui pemilik dan stakeholder lain yang

tidak mempunyai akses dan informasi yang memadai. Namun yang terjadi justru sebaliknya,

yaitu munculnya permasalahan agen antara pemilik dan pengelola perusahaan.

Permasalahan ini muncul karena ada pihak yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi

meskipun merugikan pihak lain. Bahkan dalam perkembangannya permasalahan agensi

juga menjadi permasalahan antara pengelola dengan pihak lain yang mempunyai hubungan

dengan perusahaan, yaitu calon investor, kreditur, supplier, dan stakeholder lainnya.

Permasalahan yang muncul dari keinginan manajer untuk mengoPT KAIimalkan

kesejahteraan pribadi dengan mengelabui pemilik dan stakeholder lain yang tidak

mempunyai akses dan informasi yang memadai.

2.1.2 Earning Power

Sebelum manajer keuangan mengambil keputusan keuangan terlebih dahulu harus

memahami kondisi keuangan perusahaan. Kondisi keuangan ini disajikan dalam laporan

keuangan perusahaan. Disamping manajer keuangan (pihak intern perusahaan), beberapa

pihak diluar perusahaan yang juga perlu memahami kondisi keuangan perusahaan adalah
para (calon) pemodal dan kreditur. Kepentingan keduanya mungkin berbeda namun

tujuannya sama yaitu untuk memperoleh informasi dari laporan keuangan. Calon pemodal

(pembeli saham) akan lebih berkepentingan dengan prospek keuntungan (laba) perusahaan

guna untuk mengetahui investasi yang akan mereka dapatkan di masa yang akan datang.

Pada umumnya salah satu aspek yang digunakan oleh pelaku pasar dalam menilai

prospek suatu perusahaan adalah kemampuan perusahaan tersebut dalam memperoleh

laba (earnings power). Menurut riyanto (2008:37) dalam santoso imam earnings power

adalah kemampuan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat besar kecilnya

dalam menghasilkan laba. Investor beranggapan bahwa earnings power yang tinggi akan

menjamin pengembalian investasi serta akan memberikan keuntungan yang layak, oleh

karena itu perusahaan harus menampilkan kinerja menejemen yang baik sehingga earnings

power perusahaan dapat dilihat maksimal.

Riyanto (2008:43) dalam santoso imam menyatakan bahwa perhitungan earnings

power atas dasar suatu sistem analisa yang dimaksudkan untuk menunjukkan efisiensi

perusahaan yang digunakan oleh para pengguna laporan keuangan. Tinggi rendahnya

earnings power dapat ditentukan oleh beberapa faktor yang bisa dilihat dari rasio keuangan,

yaitu:

1. Profit margin, dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat

kepada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan sales.

2. Persentase laba bersih dari nilai aktiva (roa), dimaksudkan untuk mengetahui efisinsi

perusahaan dengan melihat kepada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya

dengan aktiva perusahaan.

3. Roi, rasio keuntungan neto sesudah pajak dengan jumlah investasi.

Afandi (2015) pengaruh earning power berdasarkan roa terhadap praktik manajemen

laba adanya hubungan signifikan ditunjukkan hubungan antara earnings power dan praktik

manajemen laba searah, artinya semakin besar earnings power maka semakin besar pula

praktik manajemen laba, dan sebaliknya jika earnings power kecil. Dari berbagai pengertian

diatas maka roa dijadikan sebagai indikator proksi perhitungan earnings power dimana roa
adalah salah satu rasio keuangan yang seringkali dipergunakan oleh calon pemodal. Hal ini

disebabkan alasan sebagian pemodal berinvestasi adalah mencari kentungan, dan juga

roadianggap mewakili efektifitas perusahaan yang mencerminkan kinerja manajemen dalam

menghasilkan laba, maka dari itu para pengguna laporan keuangan dalam melihat earnings

power perusahaan menggunakan variable return on assets (roa) earnings power adalah

kemampuan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat besar kecilnya dalam

menghasilkan laba.investor beranggapan bahwa earnings power yang tinggi akan

menjamin pengembalian investasi serta akan memberikan keuntungan yang layak, oleh

karena itu perusahaan harus menampilkan kinerja menejemen yang baik sehingga earnings

power perusahaan dapat dilihat maksimal. Menurut bambang riyanto (2008:43) dalam

santoso imam menyatakan bahwa : perhitungan earnings power atas dasar suatu sistem

analisa yang dimaksudkan untuk menunjukkan efisiensi perusahaan yang digunakan oleh

para pengguna laporan keuangan. Roa dijadikan sebagai indikator proksi perhitungan

earnings power dimana roa adalah salah satu rasio keuangan yang seringkali dipergunakan

oleh calon pemodal. Hal ini disebabkan alasan sebagian pemodal berinvestasi adalah

mencari kentungan, dan juga roa dianggap mewakili efektifitas perusahaan yang

mencerminkan kinerja manajemen dalam menghasilkan laba, maka dari itu para pengguna

laporan keuangan dalam melihat earnings power perusahaan menggunakan variable return

on assets (roa).

2.1.2 Manajemen Laba

Manajemen laba menurut scoot (2009:403) didefinisikan sebagai pemilihan kebijakan

akuntansi oleh manajemen untuk mencapai tujuan khusus. Manajemen laba merupakan

suatu proses yang disengaja dan mengarahkan pelaporan laba pada tingkat tertentu. Upaya

manajer untuk memaksimalkan nilai perusahaan akan mengarah pada upaya

memaksimalkan kesejahteraan pribadi. Atas dasar itulah mengapa laba dinilai sebagai

cermin perilaku oportunis seorang manajer dengan mempercantik laporan keuangannya

(fashioning accounting reports), yaitu melaporkan laba atau kinerja sesuai dengan
kepentingan yang dicapainya. Perspektif ini sejalan dengan teori agensi yang menyatakan

bahwa pemisahan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan akan mendorong setiap pihak

berusaha memaksimalkan kesejahteraan masing-masing (sulistyanto, 2008).

2.1.2.1 Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba

Teori akuntansi positif mengemukakan terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi

terjadinya manajemen laba (watt dan zimmerman, 1986), yaitu:

1) Bonus plan hypothesis


Manajemen akan memilih metoda akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu

bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan

earnings lebih banyak menggunakan metoda akuntansi yang meningkatkan laba yang

dilaporkan.
2) Debt covenant hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung

memilih metoda akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba. Hal ini untuk

menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.


3) Political cost hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut

memilih metoda akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan

laba perusahaan yang tinggi mengakibatkan pemerintah akan mengenakan jumlah

pajak pendapatan perusahaan sesuai dengan laba yang diperolehnya.

Scott (2000: 302) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :

1) Bonus purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara

oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini

(healy, 1985).
2) Political motivations
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan

publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya

tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih

ketat.
3) Taxation motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata.

Berbagai metoda akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan jumlah pajak

pendapatan yang harus dibayarkan.


4) Pergantian ceo
Ceo yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk

meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan

memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.


5) Initital public offering (ipo)
Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan

manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam

prospektus mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.


6) Pentingnya memberi informasi kepada investor
Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga

pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut

dalam kinerja yang baik.

2.1.2.4 Pola Dalam Manajemen Laba

Menurut scott (1997) terdapat empat pola atau aktivitas dalam melakukan manajemen

laba yaitu:

1) Taking a bath
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara melaporkan rugi yang besar

sekaligus jika perusahaan mengalami kerugian sehingga dapat menciPT KAIakan

peluang laba yang besar di masa yang akan datang. Pola ini dapat dijelaskan dalam

penelitian mengenai bonus plan hypothesis, dimana manajemen akan meminimalkan

laba karena kondisi perusahaan saat ini rugi.


2) Income minimization
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada laporan

keuangan periode berjalan lebih rendah daripada laba sesungguhnya. Pola ini serupa

dengan taking a bath. Income minimization dilakukan pada saat tingkat profitabilitas

perusahaan cukup tinggi. Contoh penerapan pola ini adalah pada saat perusahaan

melakukan manajemen laba untuk menghindari political cost.


3) Income maximization
Pola manajemen laba yang dilakukan dengan cara menjadikan laba pada laporan

keuangan periode berjalan lebih tinggi daripada laba sesungguhnya. Income

maximization dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh bonus yang lebih besar,

meningkatkan keuntungan, serta untuk menghindari dari pelanggaran atas kontrak

utang jangka panjang. Income maximization dilakukan dengan cara mempercepat

pencatatan pendapatan, menunda biaya dan memindahkan biaya untuk periode lain.
4) Income smoothing.
Pola ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat laba yang stabil dan mengurangi

fluktuasi naik turunnya laba sehingga perusahaan terlihat stabil. Dalam hal ini laba

akan diturunkan jika terjadi peningkatan yang tajam dan menaikkan laba jika tingkat

laba yang diperoleh berada dibawah tingkat laba yang ditentukan. Tingkat laba yang

stabil membuat pemilik dan kreditor lebih memiliki kepercayaan terhadap manajer.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian oleh doerjat (2009), study kasus pada perusahaan uniliver

menunjukan bahwa perusahaan perlu melakukan analisis earning power yang tepat,

karena kekuatan pendapatan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap praktek

manajemen laba.

Penelitian yang dilakukan oleh andriani (2009) menyimpulkan hasil penelitian dan

mengungkapkan bahwa pengaruh earnings power berdasarkan roa terhadap praktik

manajemen laba mempunyai hubungan (korelasi) yang erat serta searah atau positif hal

ini berarti apabila terjadi kenaikan pada earning power perusahaan maka akan diikuti

dengan kenaikan nilai DAC, begitu pula sebaliknya jika terjadi penurunan earnings

power akan terjadi penurunan DAC pula.

Pratiwi (2008), mengemukakan adanya pengaruh earnings power terhadap

praktik manajemen laba bahwa earning power perusahaan dapat mempengaruhi

manajer untuk melakukan praktik manajemen laba baik dengan cara menerapkan

kebijakan income increasing accrual ataupun income decreasing accrual hal ini

tergantung dari motivasi masing-masing perusahaan.


Beberapa penelitian telah berupaya untuk menguji mengenai pengaruh earning

power terhadap praktik manajemen laba (earning manajemen). Dari temuan yang

ditemukan para peneliti sebelumnya, terdapat pengaruh positif earning power terhadap

praktik manajemen laba.

2.3 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh earning power terhadap manajemen

laba. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan adriani (2009). Berikut ini

adalah kerangka pemikiran yang menggambarkan model penelitian dan hubungan antar

variabel yang digunakan dalam penelitian.

Gambar

2.1

EARNING POWER MANAJEMEN LABA

2.4 Hipotesis Penelitian

2.4.1 Pengaruh Earning Power Terhadap Manajemen Laba

Earnings power berdasarkan roa terhadap praktik manajemen laba mempunyai

hubungan (korelasi) yang erat serta searah atau positif hal ini berarti apabila terjadi kenaikan

pada earning power perusahaan maka akan diikuti dengan kenaikan nilai DAC, begitu pula

sebaliknya jika terjadi penurunan earnings power akan terjadi penurunan DAC pula.

Penelitian yang dilakukan oleh andriani (2009).

Pratiwi (2008), mengemukakan adanya pengaruh earnings power terhadap praktik

manajemen laba bahwa earning power perusahaan dapat mempengaruhi manajer untuk

melakukan praktik manajemen laba baik dengan cara menerapkan kebijakan income
increasing accrual ataupun income decreasing accrual hal ini tergantung dari motivasi

masing-masing perusahaan.

Dari penelitian penelitian terdahulu di atas maka hipotesis penelitian ini sebagai

berikut :

Hipotesis 1 : Earning Power Berpengaruh Terhadap Manajemen Laba


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Pendekatan kuantitatif

adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme karena telah

memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yang konkrit/ empiris, obyektif, terukur, rasional dan

sistematis (Sugiyono, 2011).

3.1.2 Populasi dan objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah Earning Power terhadap manajemen laba. Penelitian ini

bertujuan untuk memperoleh bukti empiris, apakah terdapat pengaruh asimetri informasi dan

ukuran perusahaan terhadap manajemen laba, pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia. Periode pengamatan yang diambil dalam penelitian ini adalah

mulai tahun 2012 sampai dengan 2016.

3.2 Teknik Penyampelan

Sampel adalah bagian dari karakteristik yang dimiliki populasi (Sugiyono,2011).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling yang

merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan yang sama

anggota populasi untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2011:120). Pengambilan sampel dalam

penelitian ini dilakukan dengan purposive sampling yang merupakan salah satu bagian dari

non probability sampling yang digunakan, yaitu peneliti memiliki tujuan spesifik dalam

memilih sampel secara tidak acak (Indriantoro dan Supomo, 2011:131). Kriteria yang

digunakan adalah:

1) Perusahaan yang terdaftar termasuk perusahaan manufaktur yang sudah go public di BEI

selama periode 2012-2016


2) Perusahaan yang memiliki laporan keuangan secara lengkap tentang data manajemen laba,

asimetri informasi, dan kepemilikan manajerial pada tahun 2012-2016


3) Perusahaan sampel tersebut mempublikasikan laporan keuangan auditor dengan

menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember.


4) Data harga saham tersedia selama periode pengamatan.
5) Laporan keuangan diterbitkan dalam mata uang rupiah.
3.3 Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah metode dokumentasi dari

sumber data sekunder dengan mengumpulkan, mencatat, dan mengolah data yang

berkaitan dengan penelitian.

3.4 Definisi Operasional Variabel dan pengukuran Variabel

3.4.1 Variabel Dependen

Variabel Dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat,

karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2011). Dalam penelitian ini variabel

dependen yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1.1 Manajemen Laba

Pada penelitian ini, variabel terikat yang diteliti adalah manajemen laba yang diukur

dengan proksi discretionary accruals (DA) dan dihitung berdasarkan Model Jones yang

dimodifikasi oleh Dechow et al. (1995) dengan langkah sebagai berikut:

(1) Menghitung akrual total

Tait = niit cfoit............................................................................................(1)

Keterangan:
Tait = akrual total perusahaan i pada periode t.
Niit = laba bersih sebelum pos luar biasa perusahaan i pada periode t.
Cfoit = aliran kas operasi perusahaan i pada periode t.

(2) Menghitung akrual diskresioner (DA)


Modified Jones model menaksir akrual total dideflasi dengan aset total awal tahun

untuk mengurangi heteroskedastisitas. Model tersebut adalah sebagai berikut:


Tait/Ait-1 = (1/Ait-1) + 1((revit - recit)/Ait-1) + 2(ppeit/Ait-1) + it ..(2)

Keterangan:

revit = pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi pendapatan pada

periode t-1.

recit = piutang perusahaan i pada periode t dikurangi piutang pada periode t-1.
Ppeit = property, plan and equipment (aset tetap berwujud kotor) perusahaan i

pada periode t.
Ait-1 = aset total perusahaan i pada periode t-1 (awal tahun).

Keterangan:

Dait = akrual diskresioner perusahaan i pada periode t.

Ndait = akrual non-diskresioner perusahaan i pada periode t.

(3) Menghitung akrual non-diskresioner (NDA)

Ndait-1 = (1/ Ait-1) + 1((revit - recit)/Ait-1) + 2(ppeit/Ait-1)...........................(3)

Keterangan:

Tait = akrual total perusahaan i pada periode t.


revit = pendapatan perusahaan i pada periode t dikurangi pendapatan pada

periode t-1.

recit = piutang perusahaan i pada periode t dikurangi piutang pada periode t-

1.`

Ppeit = property, plan and equipment (aset tetap berwujud kotor) perusahaan i

pada periode t.

Ait-1 = aset total perusahaan i pada periode t-1 (awal tahun).

Selanjutnya penghitungan eksistensi pengaturan laba dilakukan dengan proksi akrual

diskresioner (DA). Akrual diskresioner dihitung dari akrual total dikurangi akrual non-

diskresioner (NDA) yang dideflasi dengan aset total awal tahun (periode t-1) atau

dengan rumus:

Dait = tait - ndait...........................................................................................(4)

3.4.2 Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan

dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif maupun yang negatif

bagi variabel dependen nantinya. Variasi dalam variabel dependen merupakan hasil dari

variabel independen. Variabel independen sering juga disebut dengan variabel bebas atau
variabel yang mempengaruhi. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

3.4.2.1 Earning Power

Earnings power perusahaan adalah kemampuan untuk mengetahui efisiensi

perusahaan dengan melihat besar kecilnya dalam menghasilkan laba (Bambang Riyanto

2008:37) dalam afandi (2015). Ukuran menggunakan rasio. Indikator pengukuran

earnings power dengan menggunakan rasio Profitabilitas dalam penelitian ini

menggunakan Return On Assets (ROA) dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Earning After tax


ROA= x 100
Total Asset

3.5 Teknik Analisa Data

3.5.1. Statistik deskriptif

Statistik deskriptif terdiri dari penghitungan mean, median, standar deviasi,

maksimum, dan minimum dari masing-masing data sampel (Ghozali, 2006). Analisis ini

dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai distribusi dan perilaku data sampel

tersebut (Ghozali, 2006).

3.5.2 Uji Asumsi Klasik

Tahapan dalam pengujian untuk uji regresi linear menggunakan beberapa pengujian

asumsi klasik yang harus terpenuhi, yaitu uji normalitas, multikolinearitas,

heteroskedastisitas dan autokorelasi

3.5.2.1 Uji Normalitas

Model regresi yang baik adalah model yang memiliki distribusi data normal atau

mendekati normal. Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi data

mengikuti atau mendekati distribusi normal. Menurut Ghozali (2006: 110), ada dua cara

untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisi grafik
dan uji statistik. Uji normalitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji

One Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai

signifikasi statistik yang dihasilkan dari perhitungan:

a) Jika nilai signifikansi < 0.05, maka persamaan regresi tidak berdistribusi normal.
b) Jika nilai signifikansi > 0.05,maka persamaan regresi berdistribusi normal.
Terkadang terjadi ketidaknormalan data, maka variabel yang tidak normal

ditransformasikan dengan menggunakan uji outlier atau Log Natural (LN).

3.5.2.2 Uji Multikolinearitas


Uji multikolonieritas digunakan untuk menguji apakah terdapat hubungan linier

diantara variabel-variabel independen dalam model regresi/menguji apakah model regresi

yang baik antar variabel bebas (independen). Metode yang digunakan untuk mendeteksi

adanya multikolinearitas adalah dengan menggunakan nilai Variance Inflation Factor (VIF)

dan tolerance value. Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

multikolinieritas adalah nilai tolerance < 0.10 atau sama dengan nilai VIF > 10 (Ghozali,

2006: 92). Maka apabila dalam pengujian multikolinearitas ini ditemukan hasil bahwa nilai

tolerance > 0.10 atau sama dengan nilai VIF < 10, maka data tersebut bebas dari

multikolinearitas.

3.5.2.3 Uji Heteroskedastisitas


Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi

ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Variance

dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut

homoroskedastisitas, namun jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Maka

heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan melihat grafik scatterplot, sedangkan

dasar analisisnya (Ghozali, 2006: 105) yaitu:

a) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur

(bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi

heteroskedastisitas.

b) Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada

sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.


3.5.2.4 Uji Autokorelasi

Autokorelasi muncul pada regresi yang menggunakan data berskala atau time

series. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan

satu sama lainnya (Ghozali, 2006: 95). Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk

menguji keberadaan autokorelasi adalah model Durbin-Watson (DW). Bahwa secara umum

biasanya bisa diambil patokan dengan beberapa kriteria sebagai berikut:

1. Angka Durbin Watson di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif.

2. Angka Durbin Watson di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif.

3. Angka Durbin Watson diantara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi.

3.6.3 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis Penelitian ini menggunakan model regresi berganda (multiple

regression analysis), karena terdiri dari satu variabel dependen dan beberapa variabel

independen. Penelitian ini menggunakan model regresi berganda (multiple regression

analysis), karena terdiri dari satu variabel dependen dan beberapa variabel independen.

Persamaan regresi dirumuskan sebagai berikut:

1 ep+ e
EM = +

Keterangan :

Em : Earning Manajemen
EP : Earning Power
: Konstan
E : Eror

Pengujian ini untuk mengetahui apakah model regresi yang digunakan layak (fit)

untuk melakukan pengujian hipotesis dalam penelitian ini. Pengujian ini dilakukan dengan

alat bantu program SPSS versi 16. Kriteria pengujiannya adalah seperti berikut ini.

1) H0 diterima dan Ha ditolak yaitu apabila value > 0.05 atau bila nilai signifikansi lebih

dari nilai alpha 0,05 berarti model regresi dalam penelitian ini tidak layak (fit) untuk

digunakan dalam penelitian.


2) H0 ditolak dan Ha diterima yaitu apabila value > 0.05 atau bila nilai signifikansi kurang

dari nilai alpha 0,05 berarti model regresi dalam penelitian ini layak (fit) untuk digunakan

dalam penelitian.

3.6.3.1 Koefisien Determinan (R2)


Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan

model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah

antara nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen

dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti

variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk

memprediksi variasi variabel dependen. Kelemahan mendasar penggunaan koefisien

determinasi adalah bias terhadap jumlah independen yang dimasukkan ke dalam model.

Karena dalam penelitian ini menggunakan banyak variabel independen, maka nilai Adjusted

R2 lebih tepat digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam

menerangkan variasi variabel dependen.

3.6.3.2 Uji Parsial (Uji t)


Uji koefisien regresi secara individu (Uji-t) dilakukan untuk mengetahui adanya

pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Taraf

signifikansi yang digunakan adalah 5%. Uji signifikansi selanjutnya dilakukan dengan

membandingkan p-value dengan nilai signifikansi 0.05, apabila p-value dalam uji t < 0.05

maka hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel

independen terhadap variabel dependen dapat diterima.