Anda di halaman 1dari 25

REVIEW MATERI

PSIKOLOGI EKOLOGI
( Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Psikologi Ekologi )

Dosen Pengampu :

Neka Erlyani, M. Psi, Psikolog

Rika Vira Zwagery, M. Psi, Psikolog

Oleh :

Ananda Astriana Leonita

I1C114224

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

2016
REVIEW MATERI

A. Ecopsychology

1. Pengertian Ecopsychology
Ecopsychology merupakan cabang ilmu psikologi yang mempelajari
manusia dipandang dari konteks ekologinya. Dalam teori psikologi ekologi
yang dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner, perilaku sesorang tidak berdiri
sendiri, melainkan merupakan dampak interaksi dengan lingkungannya.
Ecopsychology mempelajari proses-proses psikologis yang mengikat
manusia-bumi atau mengasingkan manusia dari bumi serta membantu
manusia memperoleh kembali rasa cinta sesama dan cinta pada bumi.
Roszak et al. (1994) menyimpulkan ekopsikologi sebagai kajian
mengenai bagaimana psikologi manusia dan ekologi berinteraksi dalam
langkah hubungan yang intim dan mendalam. Ahli ekopsikologi juga
berpendapat ekopsikologi dapat merapatkan ikatan emosi di antara manusia
dengan bumi ini. Bidang ekopsikologi turut memasukkan kesedaran emosi
dan spiritual terhadap alam semulajadi di dalam pemikiran seseorang individu
melalui aktiviti yang dilakukan. Ia adalah kajian mengenai bagaimana
psikologi manusia dan ekologi berinteraksi dalam langkah hubungan yang
intim dan mendalam.
Ini bermakna, ekopsikologi adalah berdasarkan kepada keintiman
hubungan antara manusia dengan alam semula jadi, implikasi keintiman
hubungan tersebut, aplikasi untuk menyadari hubungan terkait antara manusia
dengan alam semula jadi serta pembangunan spiritual manusia. Oleh itu,
ekopsikologi mengintegrasikan ekologi dan psikologi dalam memberi respon
dalam persoalan mengenai punca, penyebab, kesan dan penyelesaian kepada
bencana alam sekitar serta akar umbinya terdapat dalam roh, pandangan kita
mengenai diri dan alam sekitar serta tingkah (Fenwick, 1998 dan Bradley,
1997). Kiranya adalah jambatan penghubung jurang yang wujud antara bidang
psikologi dan ekologi dalam melihat krisis ekologi (Canty, 2007 dan Pearson,
1997) memandangkan hubungan di antara ekologi dan psikologi semakin
dilupakan. Ekopsikologi mencoba mengubah pandangan dan amalan dunia
dengan mendekatkan kembali jiwa manusia dengan alam sekitar (Canty,
2007).

2. Asumsi dasar Ecopsychology


1) Krisis lingkungan dan proses social serta politik berdampak pada
pengalaman dan perasaan pribadi yang dalam.
2) Keadaan psikologis manusia juga secara langsung mempengaruhi
bagaimana berhubungan dengan lingkungan alam.
3) Ada hubungan timbale balik antara manusia dan alam.
Serta menurut hipotesis Biophilia yang menyatakan bahwa manusia
memiliki bawaan insting untuk terhubung secara emosional dengan alam,
terutama aspek alam yang mengingat apa psikolog evolusi telah disebut
adaptasi evolusi lingkungan, yakni kondisi alam dimana spesies manusia
berevolusi untuk tetap menghuni alam.

3. Fokus Ecopsychology
Fokusnya pada integrasi pemikiran psikologis ke dalam gerakan
lingkungan. Para psikolog aliran ecopsychology memakai ilmu psikologinya
untuk mengubah masyarakat jadi lebih tahu dan lebih efektif dalam hidup.

B. Ekologi

1. Pengertian Ekologi
Ekologi berasal dari bahasa Yunani oikos (rumah atau tempat hidup)
dan logos (ilmu). Secara harafiah ekologi merupakan ilmu yang mempelajari
organisme dalam tempat hidupnya atau dengan kata lain mempelajari
hubungan timbal - balik antara organisme dengan lingkungannya. Ekologi
hanya bersifat eksploratif dengan tidak melakukan percobaan, jadi hanya
mempelajari apa yang ada dan apa yang terjadi di alam.
Pada saat ini dengan berbagai keperluan dan kepentingan, ekologi
berkembang sebagai ilmu yang tidak hanya mempelajari apa yang ada dan apa
yang terjadi di alam. Ekologi berkembang menjadi ilmu yang mempelajari
struktur dan fungsi ekosistem (alam), sehingga dapat menganalisis dan
memberi jawaban terhadap berbagai kejadian alam. Sebagai contoh ekologi
diharapkan dapat memberi jawaban terhadap terjadinya tsunami, banjir, tanah
longsor, DBD, pencemaran, efek rumah kaca, kerusakan hutan, dan lain-lain.
Struktur ekosistem menurut Odum (1983), terdiri dari beberapa
indikator yang menunjukan keadaan dari system ekologi pada waktu dan
tempat tertentu. Beberapa Penyusun struktur ekosistem antara lain adalah
densitas (kerapatan), biomas, materi, energi, dan factor -faktor fisik dan kimia
lain yang mencirikan keadaan system tersebut. Fungsi ekosistem
menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam system.
Berdasarkan struktur dan fungsi ekosistem, maka seseorang yang
belajar ekologi harus didukung oleh pengetahuan yang komprehensip
berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan seperti:
taksonomi, morfologi, fisiologi, matematika, kimia, fisika, agama dan lain-
lain. Belajar ekologi tidak hanya mempelajari ekosistem tetapi juga otomatis
mempelajari organisme pada tingkatan organisasi yang lebih kecil seperti
individu, populasi dan komunitas.
Menurut Zoer aini (2003), Seseorang yang belajar ekologi sebenarnya
mempertanyakan berbagai hal antara lain adalah:
1. Bagaimana alam bekerja?
2. Bagaimana species beradaptasi dalam habitatnya?
3. Apa yang diperlukan organisme dari habitatnya untuk
melangsungkan kehidupan?
4. Bagaimana organisme mencukupi kebutuhan materi dan energy?
5. Bagaimana interaksi antar species dalam lingkungan?
6. Bagaimana individu-individu dalam species diatur dan berfungsi
sebagai populasi?
7. Bagaimana keindahan ekosistem tercipta?
Dari perpaduan harafiah dan berbagai kajian, maka ekologi dapat
dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbalbalik
antar mahluk hidup dan juga antara mahluk hidup dengan lingkungannya.
Manusia sebagai mahluk hidup juga menjadi pembahasan dalam kajian
ekologi. Ekologi menjadi jembatan antara ilmu alam dengan ilmu social.

2. Pembagian Ekologi
Ekologi dapat dibagi menjadi autekologi dan sinekologi:
1.Autekologi
Membahas sejarah hidup dan pola adaptasi individu-individu
organismeterhadap lingkungan
2.Sinekologi
Membahas golongan atau kumpulan organisme yang berasosiasi
bersama sebagai satu kesatuan.
Bila studi dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis serangga dengan
lingkungannya, kajian ini bersifat autekologi. Apabila studi dilakukan untuk
mengetahui karakteristik lingkungan dimana serangga itu hidup maka
pendekatannya bersifat sinekologi.

3. Konsep Dasar Psikologi Ekologi


Dari sudut pandang psikologi, teori ekologi merupakan pandangan
sosiokultural tentang perkembangan yang terdiri dari lima sistem lingkungan,
mulai dari masukkan interkasi langsung dengan agen-agen social yang
berkembang baik, hingga masukkan dari kebudayaan yang berbasis luas
(bersifat global). Kelima system tersebut menurtu Bronfenbrenner adalah:
a) Mikrosistem
Setting dimana individu itu hidup, misalnya: lingkungan keluarga,
kelompok teman sebaya, sekolah, dan lain-lain.
b) Mesosistem
Interaksi antara factor-faktor dalam mikrosistem, mencakup hubungan
beberapa mikrosistem, misalnya: hubungan orang tua- kelompok teman
sebaya, dan lain-lain.
c) Ekosistem
Melibatkan pengalaman dimana individu tidaak berperan aktif
didalamnya. Misalnya: kesibukan kerja orang tua yang berdampak pada
kurangnya intensitas interaksi dengan anak, serta meningkatkan resiko
konflik perkawinan. Hal ini dapat mempengaruhi pola tingkah laku anak,
meskipun anak tidak secara langsung ikut berperan aktif dalam
menciptakan keadaan tersebut.
d) Makrosistem
Mencakup kebudayaan dimana individu itu tinggal, misalnya : perbedaan
keyakinan, pola perilaku, serta norma antara budaya satu dengan yang
lainnya.
e) Kronosistem
Merupakan pola peristiwa-peristiwa yang dialami sepanjang kehidupan,
misalnya: anak pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga, maka
hal tersebut dapat mempengaruhi perilakunya dimasa depan akibat
peristiwa lampau yang pernah ia alami.
Adapula pendapat Hawlwy (dalam Himman & Faturochman, 1994) yang
menyatakan bahwa perilaku manusia bagian dari kompleksitas ekosistem
dengan beberapa asumsi dasar :
a. Perilaku manusia terkait dengan lingkungannya
b. Interaksi timbal balik yang menguntungkan antara manusia dengan
lingkungan
c. Interaksi manusia dengan lingkungannya bersifat dinamis
d. Interaksi manusia dengan lingkungan terjadi dalam berbagai tingkatan dan
tergantung pada fungsinya.

4. Teori-teori dalam Ekologi


Antroposentrisme
Berasal dari bahasa Yunani antrophos yang berarti manusia dan
bahasa latin centrum yang berarti pusat. Secara singkat,
antroposentrisme ini memandang bahwa manusia adalah pusat alam
semesta. Nilai tertinggi yang dianut paham ini adalah manusia dan
kepentingannya. Alam dan segalanya isinya dalam perspektif ini
hanya dianggap sebagai objek eksploitasi dan observasiserta sarana
pemenuhan kebutuhan yang memiliki nilai instrumental yang berguna
untuk kepentingan manusia.
Biosentrisme
Merupakan penolakan dari paham yang dianut oleh antroposentrisme
yang menganggap alam hanya sebagai alat untuk memenuhi
kepentingan manusia. Paham ini berpandangan bahwa kehidupan yang
ada di dunia ini tidak hanya yang memiliki kehidupan. Pandangan
biosentrisme ini mendasarkan moralitas pada keluruhan kehidupan.
Entah itu kehidupan manusia maupun makhluk hidup lain. Sehingga
dapat dikatakan paham ini memusatkan etika lingkungan pada
kehidupan saja. Segala bentuk kehidupan yang ada di ala mini dinilai
berharga. Biosentrisme melihat alam dan seluruh isinya mempunyai
harkat dan nilai dalam dirinya. Alam mempunyai nilai justru karena
ada kehidupan yang terkandung didalamnya. Kewajiban dan tanggung
jawab terhadap alam semata-mata didasarkan pada pertimbangan
moral bahwa segala spesies di alam semesta mempunyai nilai atas
dasar bahwa mereka mempunyai kehidupan sendiri, yang harus
dihargai dan dilindungi.
Ekosentrisme/ Deep Ecology
Merupakan paham yang mendukung paham dari biosentrisme, dan
juga paham yang menentang keras dari paham antroposentrisme.
Paham ini memusatkan nilai kepada seluruh makhluk hidup serta
benda-benda abiotik yang saling berkaitan di dunia ini. Sehingga,
kepedulian moral tidak hanya ditujukan kepada yang memiliki
kehidupan saja, tetapi juga ditunjukkan kepada benda-benda abiotik
yang ada di dalam sebuah ekosistem. Paham ini disebut juga sebagai
Deep Ecology (DE), yang diperkenalkan oleh Arnes Naess seorang
filsuf Norwegia. DE juga dianggap sebagai bentuk gerakan nyata agar
tercipta suatu kehidupan yang selaras antara makhluk hidup dan alam
sehingga juga dapat merubah cara pandang, tingkah laku, serta gaya
hidup orang-orang yang ada didalamnya.

5. Aplikasi Psikologi Ekologi


a. Peranan Psikologi Terhadap Lingkungan
Psikologi merupakan disiplin ilmu yang penting untuk mengerti
mengapa manusia berperilaku tidak berkelanjutan dan tidak hijau.
Psikologi dapat menyumbang banyak dalam usaha untuk mengerti dan
merubah perilaku yang berdampak negative kepada ekosistem global.
Sehingga dapat dikatakan psikologi memainkan peranan yang penting
dalam pembentukan masyarakat berkelanjutan. Dalam prakteknya,
psikologi dapat mendesign intervensi dalam tingkat perubahan perilaku di
taraf individual. Salah satu cara untuk concern terhadap upaya intervensi
terhadap kerusakan ekosistem global adalah memasukkan isu lingkungan
ke dalam studi psikologi. Sehingga psikologi dapat berperan dalam usaha
pelestarian sumberdaya melalui bidang-bidang ilmunya. Seperti
memasukkan isu lingkungan (alam) pada berbagai bidang psikologi
(psikologi belajar dan kognitif, psikologi social, psikologi pendidikan dan
perkembangan, psikologi klinis).

b. Memasukkan isu lingkungan (alam) pada berbagai bidang psikologi


Psikologi kognitif
Dalam bidang psikologi kognitif dapat digunakan metode
intervensi modifikasi perilaku.
Psikologi social
Dapat menggunakan social learning theory dengan mencontoh
sikap orang-orang yang pro terhadap lingkungan, serta dapat pula
menggunakan teknik penguatan fredman yaitu penguatan terhadap
ketaatan (dengan metode ulang, perilaku membuang sampah, dan
sebagainya).
Psikologi belajar
Dapat menggunakan metode reinforcement, baik reward
maupun punishment yang diberikan pada setiap perilaku pro
lingkungan / perilaku tidak pro lingkungan yang muncul, serta
pemanfaatan perilaku modeling terhadap orang-orang yang pro
lingkungan.
Psikologi perkembangan
Dapat menggunkakan teknik yang sama yang digunakan pada
psikologi belajar.namun, pemberian intervensinya harus disesuaikan
dengan tahap perkembangan individu.
Psikologi klinis dan kesehatan
Dapat menggunakan metode terapi client center terhadap
kecemasan yang muncul akibat isu kerusakan lingkungan.

6. Pengertian Green Psychology

Green psychology adalah satu bentuk gerakan untuk mengusahakan


membangun keharminisan antara manusia dan alam. Dapat juga dikatakan
sebagai bentuk gerakan untuk menciptakan suatu pandangan dimana pikiran
kemanusiaan dan kesehatan / kelangsungan bumi bisa terjalin harmonis.

7. Gerakan Penyelamatan Bumi

Adapun bentuk gerakan penyelamatan bumi apabila dipandang dari


sudut pandang psikologi , maka gerakan yang bisa dilakukan sesuai dalam
buku the psychology of envinronmental problems yang ditulis Deborah du
nann winter & susan M.Kroger adalah dengan menggabungkan enam
pendekatan psikologi;

1) Psikologi freud ( menggunakan mekanisme pertahanan serta insting


kebutuhan untuk membangun fokus pada perubahan tingkah laku
dimassa depat untuk menyelamatkan bumi).
2) Psikologi social (dengan menggunakan norma, peraturan, serta
pengaruh kelompok ).
3) Psikologi behavioral (dengan menerapkan pola imbalan disetiap
pekerjaan yang dilakukan).
4) Psikologi kognitif (dengan cara memberikan pemahaman lebih
mendalam tentang misi penyelamatan bumi, membantu memperjelas
bergbagai informasi yang tidak memadai, kepercayaan yang keliru,
dan lain-lain).
5) Psikologi holistik dan ecopsychology (dengan cara membuat orang-
orang merasa lebih dekat dengan alam, mengulangi pengalaman keliru
yang menyatakan kita terpisah satu sama lain dan dari system ekologi,
serta psikolog dapat menawarkan seperangkat metode yang membantu
kita untuk meningkatkan identifikasi serta hubungan kita dengan
alam).

C. Lingkungan Hidup
1. Arti lingkungan hidup
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah jumlah semua
benda hidup dan mati serta seluruh kondisi yang ada didalam ruang
yang kita tempati. Ahmad (1987:3). Menurut st. munajat danusaputra,
lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk didalamnya
manusia dan aktivitasnya, yang terdapat dalam ruang dimana manusia
berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan
manusia dan jasad hidup lainnya. Sedangkan emil salim
mengungkapkan bahwa lingkungan manusia hidup adalah segala
benda, kondisi, keadaan,dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan
yang kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk
kehidupan manusia (Darsono, 1995).

2. Mutu lingkungan hidup


Mutu lingkungan dapat diartikan sebagai kondisi lingkungan
dalam hubungannya dengan mutu hidup.

3. Lingkungan hidup sebagai sumber daya


Menurut kepemilikannya, sumber daya dibagi menjadi dua,
yakni :
milik perorangan/ badan: sepetak tanah , lahan perkebunan.
milik umum: udara bebas, sungai, pantai, lautan, ikan dilaut.

4. Manfaat dan resiko lingkungan hidup


Manfaat lingkungan hidup bagi makhluk hidup diantaranya
adalah merupakan factor yang membantu untuk mendapatkan
kebutuhan dasar seperti makan, minum, dan lain-lain . sedangkan
resiko dari lingkungan hidup untuk makhluk hidup adalah merupakan
factor yang merintangi untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti
hujan, erosi, banjar, gempa, dan lain-lain.

D. Pelestarian Sumber Daya Alam

1. Sumber daya mineral

Penipisan bahan mineral terjadi secara cepat karena kebiasaan


penambangan bebas,menggunakan dan membuang. sumber daya
mineral adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan
secara nyata.

Macam-macam sumber daya mineral

1. sumber daya mineral hipotetik

2.sumber daya mineral tereka

3.sumber daya mineral terunjuk

4.sumber daya mineral terukur

5.sumber daya mineral pra kelayakan

6.sumber daya mineral kelayakan


2. Pertanian dan kehutanan
Fungsi tanaman dan hutan tidak hanya sebagai sumber
makanan, tapi juga ada manfaat estetika, rekresi, tempat hidup satwa
dan lain-lain.

3. Pengolahan satwa liar


Pengelolaan satwa liar adalah ilmu dan seni dalam
mengendalikan karakteristik habitat dan populasi satwa liar serta
aktivitas manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Budidaya air
Air yang ada dibumi apabila tidka dimanfaatkan secara baik
maka akan mengalami penipisan. Adanya air bertujuan agar manusia
bisa lebih serius dan peduli dalam menggunakan air yang lebih
bijak.pemanfaatan air harus mempertimbangkan manfaat dan resiko
yang berjalan beriringan.

E. Energi

1. Pengertian energy

Energy adalah daya kemampuan untuk melakukan


suatu usaha atau kerja atau tenaga. Energy berasal dari bahasa Yunani
yaitu energia yang merupakan kemampuan untuk melakukan usaha.
Energy merupakan besaran yang kekal, artinya energy tidak dapat
diciptakan dan dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari bentuk satu ke
bentuk yang lain. Setiap saat, energy akan selalu dibutuhkan oleh
semua makhluk hidup. Tanpa energy kita tidak dapat melakukan kerja
seperti pertumbuhan, berinteraksi, beraktivitas, dan lain-lain.

Energy memiliki dua jenis, yakni:

Energy potensial (energy diam)


Energy yang tersimpan dalam benda diam dan berada pada
kedudukan tertentu. Jika benda gerak maka terjadi perubahan
energy (potensial gerak) misalnya: buah jatuh dari pohon.
Energy kinetik
Energy dari suatu benda karena pengaruh gerakannya. Benda
yang bergerak memiliki energy kinetik. Misalnya: peluru yang
ditembakkan, gerakan peluru dapat menembus tembok
terjadi gerak kinetik.

2. Sumber Energi

Ditinjau dari sumbernya, energy memiliki macam-macamnya.


Macam energy yang sering kita temui diantaranya adalah: panas, air,
batu bara, minyak bumi, listrik, matahari, angin, kimia, nuklir, gas
bumi, ombak/gelombang, mekanik, cahaya, dan lain-lain.

Sumber energy adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan


energy atau berguna sebagai penghasil energy. Sumber daya energy
berupa sumber daya alam dapat dimanfaatkan untuk sumber energy
atau energy. Menurut sifatnya, sumber energy terbagi menjadi 2 yakni:

Sumber energy terbarukan


Dihasilkan dari sumber daya energy yang berkelanjutan jika
dikelola dengan baik, bersifat ramah lingkungan.
Sumber energy tak terbarukan
Dihasilkan dari sumber daya energy yang akan habis jika terus
dieksploitasi.

3. Pemanfaatan energy

Dalam pemanfaatannya, sumber energy dapat dimanfaatkan


sebagai berikut:

Sumber daya surya


Dapat dimanfaatkan untuk menjemur, pengeringan,
fotosintesis, pemanasan air, pembangkit listrik, mobil tenaga
surya, lampu lalin, jam tangan.
Sumber daya angin
Dapat dimanfaatkan sebagai penggerak perahu layar,
menggerakkan kicir angin, layangan, paralayang, serta
olahraga terjun paying.
Sumber daya nuklir
Dapat dimanfaatkan pada PLTN, pembuatan bom, dan kapal.
Sumber daya energy bahan fosil
Dapat digunakan untuk sumber bahan bakar minyak (BBM),
batubara, dan gas alam.
Sumber daya energy panas bumi (dari aktivitas vulkanisme)
Dapat dimanfaatkan untuk PLTP ( Pembangkit Listrik Tenaga
Panas).
Sumber daya hayati
Contohnya air dan laut.

4. Permasalahan energy
Pertambahan jumlah penduduk sebanding dengan peningkatan
konsumsi energy.
Adanya pertentangan yang menyebabkan konflik pada
penggunaan energy alternative (nuklir) di dunia.
Ketidakseimbangan alokasi energy listrik antara perkotaan dan
pedesaan.
Eksploitasi batubara dan minyak bumi secara berlebihan.
Radiasi penggunaan energy nuklir yang menyebabkan
pencemaran lingkungan (termasuk penggunaan bom).
Kenaikan harga BBM karena keterbatasan energy fosil,
menyebabkan harga sembako naik.
Kebocoran kilang minyak di laut.
Penggunaan Sumber Daya Hayati yang berlebihan dan
mengganggu ekosistem.

F. Cuaca dan Perilaku

a. Panas dan perilaku


- pengaruh panas terhadap psikologi manusia
Pada musim-musim tertentu seperti musim panas atau musim kemarau
emosi seseorang akan lebih mudah meledak-ledak dan kecenderungan
agresivitasnya akan semakin tinggi .
- pengaruh panas terhadap kondisi fisiologis
Untuk dampak kondisi fisiologis manusia terhadap suhu panas
diantaranya adalah terjadinya mekanisme perlindungan tubuh serta
penyesuaian tubuh terhadap kondisi panas tersebut.salah satunya adalah
dengan mekanisme pengeluaran keringat pada tubuh. Untuk kondisi panas
yang ekstrim, akan berpengaruh pada psoses peredaran darah didalam
tubuh seseorang yang merasa kepanasan.
- panas dan pengaruh perilaku social (agresi dan perilaku menolong).
Dalam kaitannya dengan efek panas terhadao kondisi fisiologis,
seseorang yang kondisi fisiologisnya terganggu akibat kondisi panas
(peredaran darah lebih cepat, kerja jantung lebih cepat) akan membuat
agresivitas seseorang lebih tinggi dari biasanya, sehingga rawan terjadi
amuk massa (efek panas yang lebih kuat) pada kondisi suhu yang panas.

b. Suhu dingin dan perilaku


- Pengaruh suhu dingin terhadap psikologis manusia
Untuk suhu dingin, pengaruh dingin terhadap kondisi
psikologis seseorang diantaranya adalah orang-orang cenderung lebih
pasif.pada kondisi dingin orang-orang senderung lebiih memilih
berada didalam rumah untuk menghangatkan tubuh.
- Pengaruh suhu dingin terhadap kondisi fisiologis
Bentuk mekanisme perlindungan tubuh dalam kondisi dingin
diantaraanya adalah dengan cara menggigil. Sehingga dengan keadaan
tersebut kita terpikir untuk mencari tempat yang hangat maupun baju
hangat untuk mengurangi perasaan dingin pada tubuh kita.menurut
setiati et al. (2008) adalah keadaan dimana suhu inti tubuh <35C (95
F). hypothermia juga didefinisikan sebagai kegagalan tubuh dalam
memproduksi panas pada lingkungan dengan temperature yang dingin
(meyer,1999)
- Pengaruh suhu dingin yang ekstrim terhadap perilaku
Untuk dampak perilaku yang paling tampak pada situasi
kondisi dingin diantaranya adalah orang-orang akan lebih malas
beraktifitas pada kondisi cuaca yang dingin. Hal ini juga berpengaruh
pada menurunnya tingkat agresivitas seseorang.
c. Angin dan perilaku
- Persepsi terhadap angin
Pada hakikatnya, manusia tidak mempunyai alat penginderaan
khusus untuk angin. Oleh karena itu, persepsi manusia tentang angin
diperoleh melalui beberapa alat indera lain, yaitu (sarwono,2002):
a. Reseptor tekanan dikulit
b. Reseptor kinestetis
c. Reseptor suhu dikulit
d. Reseptor penglihatan dan pendengaran
- Pengaruh angin terhadap perilaku
Pada angin dengan kecepatan yang besar, akan menimbulkan
kondisi yang tidak nyaman bagi seseorang, kemungkinan kemunculan
gejala depresi, ketegangan, tindakan criminal, dan kejahatan remaja
(sarwono, 2002).

d. Tekanan baromentric dan altitude


- Efek psikologis
Pada efek psikologis, seseorang yang berada pada tekanan yang
terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat mengalami kondisi seperti:
1. Peningkatan keluhan medis
2. Tingkat bunuh diri meningkat
3. Meningkatkan perilaku diskruptif
- Efek fisiologis
Dalam lingkungan tekanan rendah, oksigen menjadi lebih sulit
untuk melewati dinding alveolar, sehingga persediaan oksigen
berkurang.hipoksia (kondisi simtoma kekurangan oksigenpada
jaringan tubuh yang terjadi akibat pengaruh perbedaan ketinggian)
memiliki sejumlah konsekuensi fisiologis dan perilaku.frisancho
(1993) memberikan beberapa detail menarik.
- Perubahan naiknya altitude dan naiknya tekanan udara terhadap
perilaku
Untuk efek tekanan pada perilaku, efek dari tekanan udara
yang berpengaruh pada kondisi cuaca dapat mempengaruhi perilaku
seseorang. Altitude dialami manusia jika ia berada pada jetinggian
tertentu diatas permukaan laut. Semakin tinggi dari permukaan laut,
semakin besar perubahan pada tekanan udara.

G. Bencana Alam

1. Pengertian bencana alam

Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban
manusia (Kamadhis UGM, 2007).

2. Karakteristik bencana alam

a. Terjadi secara tiba-tiba


b. Tidak bisa diprediksi/ bisa diprediksi
c. Powerfull
d. Menyebabkan kerusakan
e. Dating hanya sebantar namun bisa berdampak besar
f. Tidak dapat dikendalikan
g. Mempunyai titik dasar.
3. Persepsi terhadap bencana alam
Tiga factor mempengaruhi persepsi terhadap bahaya bencana:
1) Efek krisis : terjadi ketika selama bencana terjadi dan setelah
bencana terjadi,memunculkan pemikiran oleh masyarakat, psoses
pencegahan, dan memunculkan gagasan untuk mengatasi bencana
tersebut, yang berujung terwujudnya efek tanggul (benteng).
2) Efek tanggul: mekanisme perlindungan buat masyatakatnya,
membuat seperti bendungan untuk pencegah banjar, memecah
gelombang, berfungsi pula untuk penampungan air.
3) Didalam adaptasi dipengaruhi kepribadian yang menentukan
adaptasi tersebut, yakni individu dengan internal locus of control
(memandang takdir ditentukan diri sendiri) dan eksternal lokus of
control ( memandang takdir ditentukan oleh orang yang lebih
berkuasa/ diluar diri).
4. Efek psikologis akibat bencana alam

H. Polusi

1. Pengertian Polusi

Pengertian Polusi adalah terjadinya pencemaran lingkungan yang


mengakibatkan menurunya kualitas lingkungan dan terganggunya kesehatan
serta ketenangan hidup makhluk hiup termasuk manusia. Terjadinya polusi
atau pencemaran lingkungan ini umumnya terjadi akibat kemajuan teknologi
dalam usaha meningkatkan kesejahteraan hidup. Misalnya pencemaran air,
udara, dan tanah akan menyebabkan merosotnya kualitas air, udara dan tanah.
Sebagai akibat akan terjadi banyak hal - hal yang merugikan dan mengancam
kelestarian lingkungan.
Secara umum ada pencemaran udara yang diartikan sebagai udara
yang mengandung suatu atau beberapa zat kimia dalam konsentrasi tinggi;
sehingga menggangu manusia , hewan tumbuhan, dan makhluk hidup lain di
dalam suatu lingkungan. Berdasarkan terjadinya polusi udara dikategorikan
menjadi dua tipe utama pencemaran udara yaitu:
1.Polutan primer
Polutan primer yaitu zat kimia yang mengandung toksik dan masuk
secara langsung ke udara dalam konsetrasi yang merugikan manusia. Zat
kimia tersebut dapat berupa komponen alami udara yang konsentrasinya
meningkat (misalnya CO2)
2. Polutan sekunder
Polutan sekunder yaitu zat kimia yang merugikan manusia yang
terbentuk dalam atmosfer melalui reaksi kimia diantara komponen udara yang
ada.

2. Kerugian polusi
Polusi adalah perubahan yang tidak diinginkan pada udara, daratan
maupun air secara fisik, kimiawi ataupun biologi yang akan menyebabkan
bahaya bagi kehidupan manusia.polusi adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, energy, dan komponen lain ke dalam
lingkungan.

3. Macam-macam polusi
Menurut tepat terjadinya:
1) Polusi udara
2) Polusi suara
3) Polusi tanah
4) Polusi air
Menurut macam bahan pencemar:

1) Polusi kimiawi
2) Polusi biologi
3) Polusi fisik

4. Pengolahan limbah
Limbah adalah bahan sisa atau buangan yang dihasilkan dari suatu
kegiatan dan proses produksi. Jenis-jenis limbah bermacam-macam , dari
zat pembentuknya, bentuk fisiknya dan sifat berbahayanya.pengolahan
lmbah yang mempunyai tujuan untuk mencegah, menanggulangi
pencemaran, dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan
tercemar, dan meningkatkan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan.
a. Reduce (pengurangan) adalah mengurangi segala sesuatu yang
menyebabkan timbulnya limbah
b. Reuse (daur pakai) adalah kegiatan penggunaan kembali limbah
yang masih dapat digunakan baik untuk fungsi yang sama maupun
fungsi lain.
c. Recycle (daur ulang) adalah mengolah limbah produk baru.

5. Pemantauan polusi
1) Udara
Adapun pemantauan polusi sendiri dilakukan untuk mengetahui
seberapa besar atau seberapa jauh polutan tersebut sudah mengotori
lingkungan
2) Air
Adapun pemantauan polusi pada air dapat dilakukan dengan
memperhatikan parameter yang mengindikasikan apakah air tersebut
tercemar atau tidak .parameter tersebut adalah:
Kekeruhan
Suhu
Keasaman air
Jumlah oksigen yang terlarut dalam air
Alkalinitas
Fosfor
nitrat
3) Tanah
Adapun pemantauan polusi pada tanah hamper mirip denagn
pemantauan polusi pada air, karena pada tanah umumnya berdampak
pada air tanah.

6. Usaha pencegahan pencemaran udara sebagai berikut:


1. Mengurangi pemakaian bahan bakar fosil terutama yang mengandung
asap serta gas-gas polutan lainnya agar tidak mencemarkan lingkungan
2. Melakukan penyaringan asap sebelum asap dibuang ke udara dengan
cara memasang bahan penyerap polutan atau saringan
3. Mengalirkan gas buangan ke dalam air atau dalam larutan pengikat
sebelum dibebaskan ke air. atau dengan cara penurunan suhu sebelum
gas dibuang ke udara bebas
4. Membangun cerobong asap yang cukup tinggi sehingga asap dapat
menembus lapisan inversi termal agar tidak menambah polutan yang
tertangkap di atas suatu permukiman atau kota
5. Mengurangi sistem transportasi yang efisien dengan menghemat bahan
bakar dan mengurangi angktutan pribadi
6. Memperbanyak tanaman hijau di daera polusi udara tinggi, karena
salah satu kegunaan tumbuhan adalah sebagai indikator pencemaran
dini, selain sebagai penahan debu dan bahan partikel lain.
Sementara ada beberapa upaya untuk pencegahan atas pencemaran
lingkungan, dan menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Lingkungan Hidup dijelaskan bahwa upaya penanganan terhadap
permasalahan pencemaran terdiri dari langkah pencegahan terhadap
permasalahan pencemaran terhadap permasalahan pencemaran terdiri dari
langkah pencegahan dan pengendalian.
Upaya pencegahan adalah mengurangi sumber dampak lingkungan
yang lebih berat. Adapun penanggulangan atau pengendaliannya adalah
upaya pembuatan standar bahan baku mutu lingkungan, pengawasan
lingkungan dan penggunaan teknologi dalam upaya mengatasi masalah
pencemaran lingkungan.
Secara umum, berikut ini merupakan upaya pencegahan atas
pencemaran lingkungan.
1. Mengatur sistem pembuangan limbah industri sehingga tidak
mencemari lingkungan
2. Menempatkan industri atau pabrik terpisah dari kawasan permukiman
penduduk
3. Melakukan pengawasan atas penggunaan beberapa jenis pestisida,
insektisida dan bahan kimia lain yang berpotensi menjadi penyebab
dari pencemaran lingkungan.
4. Melakukan penghijauan.
5. Memberikan sanksi atau hukuman secara tegas terhadap pelaku
kegiatan yang mencemari lingkungan
6. Melakukan penyuluhan dan pendidikan lingkungan untuk
menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang arti dan manfaat
lingkungan hidup yang sesungguhnya.
DAFTAR PUSTAKA

Darsono, Valentinus. 1995. Pengantar Ilmu Lingkungan. Yogyakarta : Universitas

Atmajaya.

Erlyani, Neka & Rika Vira Zwagery. 2016. Psikologi Ekologi . Banjarbaru: FK

UNLAM.

Helmi, A. F. 1999 . Beberapa Teori psikologi lingkungan. Buletin psikologi.

Santoso, Budi. 1999. Ilmu Lingkungan Industri. Jakarta: Universitas Indonesia

Santrock, J. W. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sarwon, sarlito. 2002. Psikologi lingkungan. Jakarta : grasindo.

Siahaan,N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Jakarta:

Erlangga

Winter, Deborah Du Nann and Susan M. Koger, 2004. The Psychology of

Environmental Problems, Second Editions. New Jersey: Lawrence Erlbaum

Associates Publisher.

Zaidan, Abdul Rozak, et al. (1994). Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Zoeraini. (2003). Prinsip-prinsip ekologi, ekosistem, lingkungan dan pelestariannya.

Bandung: Bumi Aksara.