Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi Rubella Kongenital

Virus rubella adalah positive single-stranded RNA virus berkapsul dari genus
Rubivirus, keluarga Togaviridae11. Virus Rubella(VR) terdiri atas dua subunit struktur besar,
satu berkaitan dengan envelope virus dan yang lainnya berkaitan dengan nucleoprotein
core11,12. Meskipun Virus rubella dapat dibiakkan dalam berbagai biakan (kultur) sel, infeksi
virus ini secara rutin didiagnosis melalui metode serologis yang cepat dan praktis. Berbagai
jenis jaringan, khususnya ginjal kera paling baik digunakan untuk mengasingkan virus,
karena dapat menghasilkan paras (level) virus yang lebih tinggi dan secara umum lebih baik
untukmenghasilkan antigen. Pertumbuhan virus tidak dapat dilakukan pada telur, tikus dan
kelinci dewasa12,13,14.

Virus rubella memiliki sebuah hemaglutinin yang berkaitan dengan pembungkus virus
dan dapat bereaksi dengan sel darah merah anak ayam yang baru lahir, kambing, dan burung
merpati pada suhu 4 oC dan 25 oC dan bukan pada suhu 37 oC. Baik sel darah merah maupun
serum penderita yang terinfeksi virus rubella memiliki sebuah non-spesifik b-lipoprotein
inhibitor terhadap hemaglutinasi. Aktivitas komplemen berhubungan secara primer dengan
envelope, meskipun beberapa aktivitas juga berhubungan dengan nukleoprotein core. Baik
hemaglutinasi maupun antigen complement-fixing dapat ditemukan (deteksi) melalui
pemeriksaan serologis15.

Virus rubella mengalami replikasi di dalam sel inang. Siklus replikasi yang umum
terjadi dalam proses yang bertingkat terdiri dari tahapan: 1 perlekatan, 2 pengasukan
(penetrasi), 3 diawasalut (uncoating), 4 biosintesis, 5 pematangan dan pelepasan. Meskipun
ini merupakan siklus yang umum, tetapi akan terjadi beberapa ragam siklus dan bergantung
pada jenis asam nukleat virus.Tahap perlekatan terjadi ketika permukaan virion, atau partikel
virus terikat di penerima (reseptor) sel inang. Perlekatan reversible virion dalam beberapa hal,
agar harus terjadi infeksi, dan pengasukan virus ke dalam sel inang. Proses ini melibatkan
beberapa mekanisme, yaitu: 1 penggabungan envelope virus dengan membrane sel inang
(host), 2 pengasukan langsung ke dalam membrane, 3 interaksi dengan tempat penerima
membrane sel, 4 viropexis atau fagositosis16,17.

Setelah memasuki sel inang, asam nukleat virus harus sudah terlepas dari
pembungkusnya, (uncoating) atau terlepas dari kapsulnya. Proses mengawasalut (uncoating)
ini terjadi di permukaan sel dalam virus. Secara umum, ini merupakan proses enzimatis yang
menggunakan prakeberadaan (pre-existing) ensim lisosomal atau melibatkan pembentukan
ensim yang baru. Setelah proses pengawasalutan (uncoating), maka biosintesis asam nukleat
dan beberapa protein virus merupakan hal yang sangat penting. Sintesis virus terjadi baik di
dalam inti maupun di dalam sitoplasma sel inang, bergantung dari jenis asam nukleat virus
dan kelompok virus. Pada virus RNA, seperti Virus Rubella, sintesis ini terjadi di dalam
sitoplasma, sedangkan pada kebanyakan virus DNA, asam nukleat virus bereplikasi di inti sel
inang sedangkan protein virus mengalami replikasi pada sitoplasma. Tahap terakhir replikasi
virus yaitu proses pematangan partikel virus. Partikel yang telah matang ini kemudian
dilepaskan dengan bertunas melalui membrane sel atau melalui lisis sel17.

Rubella adalah penyakit virus menular akut, jika seorang wanita terkena virus
tersebut pada awal kehamilan, virus dapat menyebar dari ibu ke bayinya dan mempengaruhi
perkembangan bayi sehingga dapat menimbulkan keguguran, lahir mati atau kelainan lain
yang berat seperti tuli, kebutaan, katarak, kelainan jantung dan retardasi mental (rubella
kongenital)17. Hal ini berakibat fatal pada hampir sepertiga kasus selama tahun pertama
kehidupan. Infeksi dari virus rubella yang parah ini yang diperoleh dari dalam rahim di awal
kehamilan disebut sebagai Sindrom Rubella Kongenital. Risiko malformasi janin bervariasi
sesuai dengan waktu onset infeksi dari ibu dan diperkirakan 90% untuk bayi yang lahir dari
ibu yang terinfeksi dalam 10 minggu pertama kehamilan 17,18.

Virus rubella ditransmisikan melalui pernapasan dan mengalami replikasi di


nasofaring dan di daerah kelenjar getah bening.Masa inkubasi virus rubella berkisar antara
1421 hari.Penularan terjadi melalui droplet, dari nasofaring atau rute pernafasan.
Selanjutnya virus rubela memasuki aliran darah.Viremia terjadi antara hari ke-5 sampai hari
ke-7 setelah terpajan virus rubella. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum timbul erupsi
di kulit.Namun terjadinya erupsi di kulit belum diketahui patogenesisnya. Di nasofaring virus
tetap ada sampai 6 hari setelah timbulnya erupsi dan kadang-kadang lebih lama.Masa
penularan 1 minggu sebelum dan empat (4) hari setelah permulaan (onset) ruam (rash). Pada
episode ini, Virus rubella sangat menular.Dalam ruangan tertutup, virus rubella dapat menular
ke setiap orang yang berada di ruangan yang sama dengan penderita19.

Selain dari darah dan sekret nasofaring, virus rubela telah diisolasi dari kelenjar getah
bening, urin, cairan serebrospinal, ASI, cairan sinovial dan paru. Penularan dapat terjadi
biasanya dari 7 hari sebelum hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular tertinggi
terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat, dan berlangsung hingga
menghilangnya erupsi. Penularan virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk
awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara
11 sampai 14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir 60 % pasien akan timbul ruam.
Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secarahematogen. Infeksi kongenital
biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal dan viremia fetal. Viremia maternal terjadi
saat replikasi virus dalam sel trofoblas.Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk
dalam barier plasenta.Untuk dapat terjadi viremia fetal, replikasi virus harus terjadi dalam sel
endotel janin. Viremia fetal dapat menyebabkan kelainan organ secara luas. Bayi- bayi yang
dilahirkan dengan rubella kongenital 90 % dapat menularkan virus yang infeksius melalui
cairan tubuh selama berbulan-bulan. Dalam 6 bulan sebanyak 30 50 %, dan dalam 1 tahun
sebanyak kurang dari 10 %. Dengan demikian bayi - bayi tersebut merupakan ancaman bagi
bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi17,18,19.

Infeksi transplasenta janin dalam kandungan terjadi saat viremia berlangsung. Infeksi
rubella menyebabkan kerusakan janin karena proses pembelahan terhambat. Dalam rembihan
(secret) tekak (faring) dan air kemih (urin) bayi dengan CRS, terdapat virus rubella dalam
jumlah banyak yang dapat menginfeksi bila bersentuhan langsung. Virus dalam tubuh bayi
dengan CRS dapat bertahan hingga beberapa bulan atau kurang dari 1 tahun setelah
kelahiran13,14.

Kerusakan janin disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya oleh kerusakan sel akibat
virus rubella dan akibat pembelahan sel oleh virus. Infeksi plasenta terjadi selama viremia
ibu, menyebabkan daerah (area) nekrosis yang tersebar secara fokal di epitel vili korealis dan
sel endotel kapiler. Sel ini mengalami deskuamasi ke dalam lumen pembuluh darah,
menunjukkan (indikasikan) bahwa virus rubella dialihkan (transfer) ke dalam peredaran
(sirkulasi) janin sebagai emboli sel endotel yang terinfeksi. Hal ini selanjutnya
mengakibatkan infeksi dan kerusakan organ janin. Selama kehamilan muda mekanisme
pertahanan janin belum matang dan gambaran khas embriopati pada awal kehamilan adalah
terjadinya nekrosis seluler tanpa disertai tanda peradangan17,18.

Sel yang terinfeksi virus rubella memiliki umur yang pendek. Organ janin dan bayi
yang terinfeksi memiliki jumlah sel yang lebih rendah daripada bayi yang sehat. Virus rubella
juga dapat memacu terjadinya kerusakan dengan cara apoptosis. Jika infeksi maternal terjadi
setelah trimester pertama kehamilan, kekerapan (frekuensi) dan beratnya derajat kerusakan
janin menurun secara tiba-tiba (drastis). Perbedaan ini terjadi karena janin terlindung oleh
perkembangan melaju (progresif) tanggap (respon) imun janin, baik yang bersifat humoral
maupun seluler, dan adanya antibodi maternal yang dialihkan (transfer) secara pasif20.

Pada infeksi rubella maternal, yang biasanya terjadi lima sampai tujuh hari setelah
inokulasi pada ibu, virus menyebar ke seluruh plasenta secara hematogen, yang mengarah
kepada infeksi bawaan yang potensial pada janin yang sedang berkembang. Pada infeksi
rubella maternal dengan ruam, frekuensi infeksi kongenital adalah lebih dari 80% selama 12
minggu pertama kehamilan, sekitar 54% di 13-14 minggu, dan sekitar 25% pada akhir
trimester kedua. Setiap infeksi rubella maternal yang terjadi setelah 16 minggu kehamilan,
tidak ada risiko terjadi sindrom rubella kongenital pada bayi yang baru lahir18.

Dari beberapa studi menunjukkan bahwa rute infeksi virus rubella adalah melalui
organ sistemik pada janin manusia. Fakta ini telah dikonfirmasi oleh tes imunohistokimia dan
deteksi langsung dari RNA virus di beberapa organ. Perubahan histopatologi yang utama
diamati dalam hepar. Hepar embrio memiliki peran yang sangat penting dalam proses
hematopoiesis selain sumsum tulang. Temuan antigen virus di sel epitel glomerulus dan
tubulus proksimal pada ginjal juga menunjukkan ekskresi virus dalam urin17.
Daftar Pustaka

11. Calles JM, Perea NL, Mier MVT. Epidemiological surveillance on measles, rubella
and congenital rubella syndrome. Spain. Rev Esp Salud Pblica, 89 (4). 2015
12. Garcia M, Defaux AB, Lvque N. Localization of viral antigens improves
understanding of congenital rubella syndrome pathophysiology. EbioMedicine, 3: 8
9. 2016
13. Giambi C, Filia A, Rota MC, Manso MD, Declich S, Nacca1 G, Rizzuto E, Bella A.
Congenital rubella still a public health problem in Italy: analysis of national
surveillance data from 2005 to 2013. Surveillance and Outbreak Reports. 2014
14. Lazar M, Perelygina L, Martines R, Greer P, Paddock CD, Peltecu G, Lupulescu E,
Icenogle J, Zaki SR. Immunolocalization and distribution of rubella antigen in fatal
congenital rubella syndrome. EbioMedicine, 3: 8692. 2015
15. Makoni AC, Chemhuru M, Bangure D, Gombe1 NT, Tshimanga M. Rubella outbreak
investigation, Gokwe North District, Midlands province, Zimbabwe, 2014 - a case
control study. Pan African Medical Journal, 22 (60). 2014
16. Mirambo MM, Aboud S, Mushi MF, Seugendo M, Majigo M, Gro U, Mshana SE.
Serological evidence of acute rubella infection among under-fives in Mwanza: a threat
to increasing rates of congenital rubella syndrome in Tanzania. Italian Journal of
Pediatrics, 42 (54). 2016
17. Nguyen TV, Pham VH, Abe K. Pathogenesis of congenital rubella virus infection in
human fetuses: viral infection in the ciliary body could play an important role in
cataractogenesis. EbioMedicine, 2: 5963. 2015
18. Quintana EM, Solrzano CC, Torner N, Gonzlez FR. Congenital rubella syndrome: a
matter of concern. Pan American Journal of Public Health, 37 (3): 179-186. 2015
19. Sugishita Y, Akiba T, Sumitomo M, Hayata N, Hasegawa M, Tsunoda T, Okazaki T,
Murauchi K, Hayashi Y, Kai A, Seki N, Kayebeta A, Iwashita Y, Kurita M, Tahara N.
Shedding of rubella virus in congenital rubella syndrome: study of affected infants
born in Tokyo, Japan, 20132014. Japanese Journal of Infectious Diseases. 2015
20. Lin C, Shih S, Tsai P, Liang A. Is birth cohort 1985/9-1990/8 a suspceptibility window
for congenital rubella syndrome in Taiwan?. Taiwanese journal of Obstetrics &
Gynecology. 2015