Anda di halaman 1dari 17

34

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Usia, Kebiasaan Merokok, Status Gizi, Masa Kerja dan


Kapasitas Vital Paru Responden

Deskripsi gambaran usia, kebiasaan merokok, status gizi, masa

kerja dan kapasitas vital paru pengrajin batu bata di Desa Kedondong

Sokaraja dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi gambaran usia, kebiasaan merokok, status


gizi, masa kerja dan kapasitas vital paru pengrajin batu bata di
Desa Kedondong Sokaraja.
Variabel Frekuensi (f) Persentase (%)
Usia
26 - 35 Tahun 3 8,6
36 - 45 Tahun 18 51,4
> 45 Tahun 14 40,0
Total 35 100,0
Kebiasaan Merokok
Merokok 31 88,6
Tidak Merokok 4 11,4
Total 35 100,0
Status Gizi
Beresiko 8 22,9
Tidak Beresiko 27 77,1
Total 35 100,0
Masa Kerja (tahun)
Minimum 3
Maksimum 27
Mean 14,5
Kapasitas Vital Paru
Normal 4 11,4
Retriksi Ringan 20 57,1
Retriksi Sedang 11 31,4
Retriksi Berat 0 0,0
Total 35 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa pada karakteristik usia,


34
menunjukkan sebagian besar pengrajin batu bata di desa Kedondong
35

Sokaraja berusia antara 35 - 45 tahun (51,4%), sisanya antara 26 35

tahun (8,3%) dan > 45 tahun (40,0%). Karakteristik kebiasaan merokok

menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin memiliki kebiasaan

merokok sebanyak 88,6% dan hanya 11,4% yang tidak merokok.

Karakteristik status gizi menunjukkan sebagian besar pengrajin ada pada

status gizi baik (tidak beresiko mengalami penyakit) sebanyak 77,1%,

sedangkan sebanyak 22,9% ada pada status gizi kurang (beresiko

mengalami penyakit). Karakteristik masa kerja menunjukkan rata-rata

pengrajin telah berkerja selama 14,5 tahun, dengan lama kerja minimal 3

tahun dan maksimal 27 tahun. Karakteristik kapasitas vital paru

menunjukkan sebagian besar pengrajin mengalami retriksi ringan

sebanyak 57,1% dan hanya 11,4% normal, serta ada sebanyak 31,4% yang

mengalami retriksi sedang.

2. Hubungan Masa Kerja dengan Kapasitas Vital Paru

Analisa yang kedua yaitu analisis bivariat yang merupakan analisis

pada dua variabel yang diduga berhubungan, dan dalam analisis ini

menggunakan uji korelasi product moment, yaitu untuk mengetahui

hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada pengrajin batu bata

di Desa Kedondong Sokaraja.

Tabel 4.2. Hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada
pengrajin batu bata di Desa Kedondong Sokaraja.
Nilai
Hubungan masa kerja Koefisien korelasi -0,929
dengan kapasitas vital paru p value 0,001
N 35
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa nilai korelasi pearson

product moment hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru
36

sebesar -0,929 dengan tingkat signifikansi 95%. Menurut Sugiyono (2007)

nilai tersebut berada pada rentang nilai 0,80 1,00, dimana hal ini berarti

bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru

pada pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja, dengan tingkat

keeratan hubungan sangat kuat, serta dengan arah hubungan negatif yang

berarti bahwa semakin lama masa kerja maka akan semakin besar retriksi

yang dialami pekerja.

B. Pembahasan

1. Gambaran Usia, Kebiasaan Merokok, Status Gizi, Masa Kerja dan


Kapasitas Vital Paru Responden.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada karakteristik usia,

sebagian besar pengrajin batu bata di desa Kedondong Sokaraja berusia

antara 35 - 45 tahun (51,4%), sisanya antara 26 35 tahun (8,3%) dan >

45 tahun (40,0%). Menurut Mawi (2005), meningkatnya umur seseorang

maka kerentanan terhadap penyakit akan bertambah, khususnya gangguan

saluran pernapasan pada tenaga kerja. Faktor umur mempengaruhi

kekenyalan paru sebagaimana jaringan lain dalam tubuh, walaupun tidak

dapat dideteksi hubungan umur dengan pemenuhan volume paru tetapi

rata-rata telah memberikan suatu perubahan yang besar terhadap volume

paru, hal ini sesuai dengan konsep paru yang elastisitas. Umur merupakan

variabel yang sangat penting terkait terjadinya gangguan fungsi paru.

Semakin bertambahnya umur serta kondisi lingkungan yang kurang baik

atau kemungkinan terkena suatu penyakit, maka kemungkinan terjadinya


37

penurunan fungsi paru semakin besar. Seiring bertambahnya umur

seseorang, kapasitas paru akan berkurang. Kapasitas paru orang dengan

umur 30 tahun keatas memiliki rata-rata 3000 ml 3500 ml, dan pada

orang yang berumur 50 tahunan kapasitas paru kurang dari 3000 ml.

Semakin lanjut usia seseorang otot-otot pernafasan akan semakin lemah.

Karakteristik kebiasaan merokok menunjukkan bahwa sebagian

besar pengrajin memiliki kebiasaan merokok sebanyak 88,6% dan hanya

11,4% yang tidak merokok. Menurut Yulaekah (2007), merokok dapat

menyebabkan perubahan struktur, fungsi saluran nafas dan jaringan paru-

paru, pada saluran nafas bear sel mukosa membesar (hipermetrofi) dan

kelenjar mucus bertambah banyak (hiperplasie), pada saluran nafas kecil

terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan

penumpukan lender, pada jaringan paru-paru terjadi peningkatan jumlah

sel radang dan kerusakan alveoli. Batang rokok mengandung 4800 macam

bahan kimia yang berbahaya, beberapa diantaranya adalah nikotin, fenol,

benzena, tar, karbon monoksida, karbon dioksida, toluene, ammonia,

methanol dan lainnya (Tirrosastro dan Murdiyati, 2009). Menurut Sitepoe

(2000) zat kimia yang memberikan efek yang mengganggu paru-paru

antara lain adalah tar, gas karbon monoksida dan berbagai logam berat. Tar

mempunyai bahan kimia yang beracun yang bias menyebabkan kerusakan

pada sel paru-paru dan menyebabkan kanker.

Karakteristik status gizi menunjukkan sebagian besar pengrajin ada

pada status gizi baik (tidak beresiko mengalami penyakit) sebanyak


38

77,1%, sedangkan sebanyak 22,9% ada pada status gizi kurang (beresiko

mengalami penyakit). Peran penting gizi terhadap fungsi paru terutama

berkaitan dengan konsumsi zat gizi yang merupakan sumber antioksidan.

Peran penting antioksidan sebagai pencegah radikal bebas yang banyak

terdapat pada debu dan polusi (Budiono, 2007).

Menurut Audia (2012) status gizi juga berperan terhadap kapasitas

paru. Orang dengan postur kurus tinggi biasanya kapasitas vital paksanya

lebih besar dari orang dengan postur gemuk pendek. Status gizi

merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan zat gizi.

Salah satu akibat dari kekurangan gizi dapat menurunkan sistem imunitas

dan antibodi sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk,

diare dan juga berkurangnya kemampuan tubuh untuk melakukan

detoksifokasi terhadap benda asing seperti debu yang masuk dalam tubuh.

Karakteristik masa kerja menunjukkan rata-rata pengrajin telah

berkerja selama 14,5 tahun, dengan lama kerja minimal 3 tahun dan

maksimal 27 tahun. Masa kerja mempunyai kecenderungan sebagai faktor

risiko terjadinya obstruksi pada pekerja di industri yang berdebu lebih dari

5 tahun. Semakin lama seseorang dalam bekerja maka semakin banyak dia

terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut.

Seseorang yang terpapar oleh debu dalam waktu lama akan berisiko untuk

mengalami gangguan fungsi paru (Sumamur, 2009).

Karakteristik kapasitas vital paru menunjukkan sebagian besar

pengrajin mengalami retriksi ringan sebanyak 57,1% dan hanya 11,4%


39

normal, serta ada sebanyak 31,4% yang mengalami retriksi sedang.

Kapasitas vital paru adalah jumlah udara terbesar yang dapat dikeluarkan

dari paru setelah inspirasi maksimal (William F, 2002). Hasil dari tes

kapasitas vital paru tidak dapat untuk mendiagnosis suatu penyakit paru-

paru tetapi hanya memberikan gambaran gangguan fungsi paru yang dapat

dibedakan atas kelainan obstruksi (kelainan pada ekspirasi) dan kelainan

restriktif (kelainan pada inspirasi). Kapasitas vital paru yang baik adalah

yang memiliki (KVP) minimal 80% menurut American Thoracis Society

(Mukhtar, 2002). Hasil penelitian ini juga mengindikasikan agar pekerja

yang mengalami gangguan segera diberi penanganan secara tepat dan

tepat, sehingga dampak yang ditimbulkan terhadap fungsi paru-paru

pekerja tidak semakin parah. Menurut Harrington & Hill (2003), fungsi

paru dapat berubah-ubah akibat sejumlah faktor non pekerjaan seperti

usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kondisi kesehatan dan sebagainya.

2. Hubungan Masa Kerja dengan Kapasitas Vital Paru.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan masa kerja

dengan kapasitas vital paru pada pengrajin batu bata di Desa Kedondong

Sokaraja. Pengrajin batu bata dengan masa kerja baru (< 5 tahun)

terbanyak ada pada kategori kapasitas vital paru normal (75,0%),

sedangkan pada pengrajin dengan masa kerja lama ( 5 tahun) terbanyak

mengalami retriksi (96,8%).

Menurut Harrington & Hill (2003), apabila kondisi paru terpapar

dengan berbagai komponen pencemar, fungsi fisiologis paru sebagai organ


40

utama pernafasan akan mengalami beberapa gangguan sebagai akibat dari

pemaparan secara terus menerus dari berbagai komponen pencemar.

Semakin lama seseorang dalam bekerja, maka semakin banyak dia telah

terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Dalam

lingkungan kerja yang berdebu, masa kerja dapat mempengaruhi dan

menurunkan kapasitas fungsi paru pada karyawan.

Menurut Sumamur (2009), pajanan berbahaya di lingkungan kerja

banyak mengandung bahan karsinogen. Bahan karsinogen membutuhkan

waktu yang lama untuk berdampak pada kesehatan pekerja. Semakin lama

seseorang dalam bekerja maka semakin banyak dia telah terpapar bahaya

yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Pekerja yang berada di

lingkungan dengan kadar debu tinggi dalam waktu lama memiliki resiko

tinggi terkena penyakit paru obstruktif. Masa kerja lama mempunyai

kecenderungan sebagai faktor resiko terjadinya obstruksi pada pekerja

industri yang berdebu.

Pada penelitian ini rata-rata pengrajin batu bata telah bekerja

selama 14,5 tahun. Menurut Faridawati (2003), waktu yang dibutuhkan

seseorang yang terpapar oleh debu untuk terjadinya gangguan fungsi paru

kurang lebih selama 10 tahun, hal ini sejalan dengan penelitian ini dimana

sebagian besar responden yang mengalami retriksi baik ringan maupun

sedang merupakan pengrajin yang telah bekerja lama ( 5 tahun).

Sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin lama orang

bekerja maka semakin besar pula resiko terkena penyakit akibat kerja.

Pada pekerja dengan lingkungan berdebu, semakin lama orang bekerja

maka semakin banyak pula debu yang dapat mengendap di paru karena
41

secara teoritis diketahui bahwa efek paparan debu tergantung pada dosis

atau konsentrasi, tempat dan waktu paparan. Waktu paparan diartikan

sebagai frekuensi atau lamanya seseorang terpapar debu, sehingga

semakin lama terpapar, semakin tinggi kemungkinan untuk timbul

gangguan, apalagi didukung oleh zat pemapar dengan konsentrasi yang

tinggi. Semakin lama seseorang bekerja di lingkungan yang mengandung

debu dengan konsentrasi tinggi maka semakin banyak debu yang

tertimbun didalam paru. Bila debu ini dihisap dalam jumlah cukup banyak

dan dalam jangka waktu lama, maka akan dapat menimbulkan berbagai

kerusakan dan membentuk jaringan ikat pada paru yang akhirnya dapat

menimbulkan penyakit (Anhar AS, 2005).

Pengolahan pengrajin batu bata merupakan salah satu sumber

pencemaran udara dengan hasil yang ditimbulkan berupa gas seperti :

CO2, CO, dan partikel debu. Partikel debu ini dapat mengganggu

pernafasan seperti sesak nafas ataupun batuk dan flu. Dampak negatif

yang paling dirasakan secara langsung adalah pencemaran udara dari asap

pembakar batu bata. Bahan bakar yang biasa digunakan untuk membakar

kebanyakan menggunakan merang, yaitu residu dari sisa-sisa proses

pengolahan padi atau disebut juga jerami kering (kulit sekam padi).

Dampak ini langsung dirasakan, dimana ketika menghirup asapnya akan

terasa sesak nafas akibat proses pembakaran batu bata dibakar selama 1-2

hari tergantung jumlah batu bata yang dibakar (Sucipto, 2007).

Dampak paparan debu yang terus menerus dapat menurunkan faal

paru berupa obstruksi. Akibat penumpukan debu yang tinggi di paru dapat
42

menyebabkan kelainan dan kerusakan paru. Penyakit akibat penumpukan

debu dalam paru yaitu biasanya infeksi saluran pernafasan. Salah satu

bentuk kelainan paru yang bersifat menetap adalah berkurangnya

elastisitas paru, yang ditandai dengan penurunan kapasitas vital paru.

Untuk mengetahui secara dini penegakan kasus penurunan kapasitas vital

paru harus dilakukan secara rutin minimal setahun sekali dengan

melakukan pengukuran kapasitas vital paru (Mukono, 2008).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Novandany (2014), yang menyebutkan bahwa masa kerja merupakan

salah satu faktor yang berhubungan denggan kapasitas vital paru pada

pekerja bengkel las di Kelurahan Cirendeu. Penelitian ini juga sejalan

dengan penelitian Yuma (2013), bahwa masa kerja memiliki hubungan

dengan kapasitas vital paru pada pekerja penggilingan divisi batu putih di

PT Sinar Utama Karya. Penelitian lain yang juga mendukungan penelitian

ini adalah penelitian Andhika (2013), yang menunjukkan bahwa masa

kerja berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja unit spinning I

bagian ring frame PT Pisma Putra Tekstil Pekalongan.

Hasil dari beberapa penelitian tersebut semuanya mendukung

temuan pada penelitian ini, hal ini juga dipengaruhi oleh masa kerja dari

setiap pekerja yang berbeda-beda, sesuai dengan pajanan berbahaya yang

diterima oleh pekerja berdasarkan masa kerjanya. Sesuai dengan teori

yang yang menyatakan semakin lama seseorang dalam bekerja maka

semakin banyak dia telah terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh


43

lingkungan kerja tersebut. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin

beresiko terkena gangguang kapasitas vital paru.

Dalam pekerjaan non formal seperti industri pembuatan batu bata

pada penelitian ini, banyak ditemui pekerja yang telah bekerja di bidang

ini melebihi 10 tahun. Dalam 10 tahun bekerja, faktor-faktor teruma faktor

debu hasil pembakaran batu bata dapat mempengaruhi kapasitas vital paru

pekerja, oleh sebab itu pengelola harus menyediakan masker dan

mewajibkan pekerja untuk selalu memakai masker saat bekerja, serta

menata tempat pembakaran batu bata dengan posisi sebaik mungkin

dimana asap pembakaran dapat segera keluar dari lingkungan kerja

sehingga dosis debu yang diterima pekerja menjadi lebih sedikit. Karena

meskipun dalam dosis yang sedikit, jika diterima dalam jangka waktu

yang panjang dapat mempengaruhi fungsi paru dan lebih buruk lagi jika

pekerja mendapat dosis debu pembakaran yang tinggi dalam waktu

panjang maupun pendek dapat lebih cepat mempengaruhi fungsi paru.

Kapasitas vital paru tidak hanya ditentukan oleh masa kerja

responden. Menurut Mawi (2005), Sugeng (2005) dan Budiono (2007),

selain masa kerja kapasitas vital paru juga dipengaruhi oleh beberapa

faktor seperti umur, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung diri

dan status gizi seseorang. Hasil penelitian Annisa (2013), menyebutkan

bahwa ada hubungan antara faktor usia dengan gangguan fungsi paru pada

pekerja pengolahan batu kapur di Desa Tamansari, Karawang, selain itu

penelitian Eva (2013), juga menyebutkan bahwa ada hubungan antara


44

kebiasaan merokok, status gizi dan penggunaan APD dengan kapasitas

vital paru pada karyawan industri genteng HST Sokka Kebumen.

Faktor umur merupakan variabel yang sangat penting terkait

terjadinya gangguan fungsi paru. Semakin bertambahnya umur serta

kondisi lingkungan yang kurang baik atau kemungkinan terkena suatu

penyakit, maka kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru semakin

besar. Seiring bertambahnya umur seseorang, kapasitas paru akan

berkurang. Kapasitas paru orang dengan umur 30 tahun keatas memiliki

rata-rata 3000 ml 3500 ml, dan pada orang yang berumur 50 tahunan

kapasitas paru kurang dari 3000 ml. Semakin lanjut usia seseorang otot-

otot pernafasan akan semakin lemah (Mawi, 2005).

Faktor kebiasaan merokok merupakan faktor risiko timbulnya

penyakit obstruksi saluran pernafasan kronik. Inhalasi asap tembakau baik

primer maupun sekunder dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan

pada orang dewasa. Asap rokok mengiritasi paru dan masuk kedalam

aliran darah. Merokok lebih merendahkan kapasitas vital paru

dibandingkan beberapa bahaya kesehatan akibat kerja, pada rokok terdapat

sekitar 4000 zat kimia berbahaya keluar melalui asap rokok, antara lain

terdiri dari aseton, ammonia, arsen, butane, cadmium, karbon monoksida,

insektisida, hydrogen sianida, methanol, naftalen, toluene dan vinil klorida

(Kemenkes, 2008).

Menurut Sugeng (2003) alat pelindung diri tidaklah secara

sempurna dapat melindungi tubuhnya tetapi akan dapat mengurangi

tingkat keparahan yang mungkin terjadi. Pengendalian ini sebaiknya tetap


45

dipadukan dan sebagai pelengkap pengendalian teknis atau pengendalian

administrative. Organ pernafasan terutama paru harus dilindungi apabila

udara tercemar atau ada kemungkinan kekurangan oksigen dalam udara.

Alat pelindung diri masker berfungsi untuk melindungi pernafasan dari

debu/partikel yang lebih besar yang masuk kedalam organ pernafasan.

Masker dapat terbuat dari kain dengan pori-pori tertentu.

Faktor status gizi juga berperan terhadap kapasitas paru. Orang

dengan postur kurus tinggi biasanya kapasitas vital paksanya lebih besar

dari orang dengan postur gemuk pendek. Status gizi merupakan keadaan

tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan zat gizi. Salah satu akibat

dari kekurangan gizi dapat menurunkan sistem imunitas dan antibodi

sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, diare dan juga

berkurangnya kemampuan tubuh untuk melakukan detoksifokasi terhadap

benda asing seperti debu yang masuk dalam tubuh (Audia, 2012). Peran

dari status gizi adalah secara tidak langsung seperti pada penyakit cystic

fibrosis. Namun demikian, penelitian epidemiologis saat ini menunjukkan

peran penting gizi terhadap fungsi paru, terutama yang berkaitan dengan

konsumsi zat gizi yang merupakan sumber antioksidan. Peran penting

antioksidan sebagai pencegah radikal bebas yang banyak terdapat pada

debu dan polusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gizi kurang ternyata

berhubungan dengan penyakit paru (Budiono, 2007).

Menurut Price & Wilson (2005), mekanisme penimbunan debu

dalam paru, debu diinhalasi dalam bentuk partikel debu solid, atau suatu

campuran dan asap. Udara masuk melalui rongga hidung disaring,


46

dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga fungsi tersebut disebabkan karena

adanya mukosa saluran pernapasan yang terdiri dari epitel toraks

bertingkat, bersilia, dan mengandung sel goblet. Partikel debu yang kasar

dapat disaring oleh rambut yang terdapat pada lubang hidung, sedangkan

partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mokosa. Gerakan silia

mendorong lapisan mukosa ke posterior, ke rongga hidung dan kearah

superior menuju faring dan menuju paru-paru, kemudian partikel debu

yang masuk kedalam paru-paru akan membentuk fokus dan berkumpul

dibagian awal saluran limfe paru. Debu ini akan difagositosis oleh

magrofag. Debu yang bersifat toksik terhadap magrofag akan merangsang

terbentuknya magrofag baru. Pembentukan dan destruksi magrofag yang

terus-menerus berperan penting dalam pembentukan jaringan ikat kolagen

dan pengendapan hialin pada jaringan ikat yang membentuk fibrosis.

Fibrosis ini terjadi pada parenkim paru yaitu pada dinding alveoli

dan jaringan ikat intertestial. Akibat fibrosis paru akan terjadi penurunan

elastisitas jaringan paru (pergeseran jaringan paru) dan menimbulkan

ganggguan pengembangan paru. Bila pengerasan alveoli mencapai 10%

akan terjadi penurunan elastisitas paru yang menyebabkan kapasitas vital

paru akan menurun dan dapat mengakibatkan menurunnya suplai oksigen

ke dalam jaringan otak, jantung dan bagian-bagian tubuh lainnya sehingga

hal ini menjadi faktor risiko terjadinya serangan penyakit kardiovaskular

(Price & Wilson, 2005).

Peneliti menyimpulkan para pekerja batu bata sangat beresiko

tejadi paparan. Menurut Lauralee (2001), jika terjadi gangguan fungsi paru
47

dapat mengakibatkan penyakit paru obstruktif menahun, emfisema,

penyakit paru restriktif dan bronkhitis kronik.

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti masih memiliki banyak

keterbatasan. Adapun beberapa keterbatasan dalam penelitian ini adalah :

1. Banyak responden yang merasa takut saat peneliti melakukan wawancara

dan meminta pasien untuk mengisi kuesioner yang peneliti berikan,

mereka takut data yang mereka berikan akan disalah gunakan, sehingga

sedikit menyulitkan peneliti dalam melakukan penelitian dan tentunya

peneliti harus menjelaskan terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan

serta prosedur penelitian. Selain itu ada beberapa pasien yang tetap

menolak meskipun peneliti telah menjelaskan bahwa kerahasian

responden dijamin oleh peneliti.

2. Sulitnya responden untuk diajak kerjasama pada saat penelitian, terutama

pada saat pengukuran kapasitas vital paru, sehingga hasil penelitian

mungkin kurang optimal

3. Peneliti menganggap responden benar-benar dalam keadaan sehat paru

dan tidak mempunyai riwayat penyakit saluran pernafasan karena tidak

dilakukan pemeriksaan awal sebelum bekerja, dimana ada tidaknya

riwayat penyakit hanya berdasarkan informasi dari responden, selain itu

banyak dari responden yang tidak memeriksakan paru-paru ke dokter,

serta ada beberapa responden yang berdasarkan mengingat-ingat mengenai

diagnosis dokter yang pernah diterima, sehingga dapat menimbulkan bias

informasi.
48

4. Penelitian ini hanya mengarah pada satu variabel bebas, sehingga tidak

bisa meneliti hubungan faktor-faktor lain yang mungkin juga

mempengaruhi kapasitas vital paru responden, seperti usia, kebiasaan

merokok dan status gizi responden.


49

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan

bahwa:

1. Sebagian besar pengrajin batu bata di desa

Kedondong Sokaraja berusia antara 35 - 45 tahun (51,4%), memiliki

kebiasaan merokok (88,6%), ada pada status gizi baik (tidak beresiko

mengalami penyakit) (77,1%), rata-rata berkerja selama 14,5 tahun, dan

sebagian besar mengalami retriksi ringan (57,1%).

2. Terdapat hubungan yang sangat kuat antara masa

kerja dengan kapasitas vital paru pada pengrajin batu bata di Desa

Kedondong Sokaraja (r hitung = -0,929).

B. Saran

1. Pengelola Industri Batu Bata.

Pengelola sebaiknya menyediakan alat pelindung diri khususnya masker

dan harus melakukan pengawasan mengenai kepatuhan pekerja dalam

pemakaian masker dalam setiap proses produksi, serta membuat peraturan

tentang kewajiban pemakaian alat pelindung diri, sehingga diharapkan

dapat terhindar dari gangguan kesehatan pada sistem pernafasan. Penataan

tempat pembakaran batu bata dibuat dengan posisi sebaik mungkin

dimana asap pembakaran dapat segera keluar dari lingkungan kerja

sehingga dosis debu yang diterima pekerja menjadi lebih sedikit.

2. Bagi Pekerja.

49
50

Pekerja sebaiknya menghentikan kebiasaan merokok dan menerapkan

gaya hidup sehat guna kehidupan yang berkualitas dan produktif, seperti

rajin berolah raga minimal 1 minggu sekali dengan durasi kurang lebih 60

menit, memakan makanan yang bernilai gizi tinggi, selalu menggunakan

alat pelindung pernafasan khususnya masker selama berada di lingkungan

kerja, serta teratur memeriksakan paru-paru ke dokter minimal 6 bulan

sekali.

3. Bagi penelitian yang akan datang.

Melakukan penelitian lanjutan mengenai banyaknya paparan debu yang

diterima dan seberapa besar dampak yang dirasakan pada kapasitas vital

paru pekerja serta mengukur seberapa besar efektivitas alat pelindung

pernafasan terhadap kapasitas vital paru pada pekerja pembuatan batu

bata.