Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 ditetapkan

bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak

bagi kemanusiaan. Pekerjaan dan penghidupan yang layak mengandung

pengertian bahwa pekerjaan sesungguhnya merupakan suatu hak manusia

yang mendasar dan memungkinkan seseorang untuk melakukan aktivitas atau

bekerja dalam kondisi yang sehat, selamat bebas dari segala risiko akibat

kerja, kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Kesehatan merupakan faktor

yang sangat penting bagi produktifitas dan peningkatan produktifitas tenaga

kerja selaku sumber daya manusia. Kondisi kesehatan yang baik merupakan

potensi untuk meraih produktifitas yang baik pula. Sebaliknya keadaan yang

sakit atau gangguan kesehatan menyebabkan tenaga kerja tidak atau kurang

produktif dalam melakukan pekerjaannya (Sugeng, 2003).

Tempat kerja selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat

mempengaruhi kesehatan tenaga kerja atau dapat menyebabkan timbulnya

penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2008). Berdasarkan data World Health

Organization tahun 2007, diantara semua penyakit akibat kerja 30% sampai

50% adalah penyakit silikosis dan penyakit pneumokoniosis lainnya. Penyakit

paru akibat kerja (PPAK) merupakan salah satu kelompok penyakit akibat

kerja yang organ sasarannya dari penyakit tersebut adalah paru (Sumamur,

2009).

1
2

Lingkungan kerja yang penuh oleh debu, uap, gas dan lainnya, akan

mengganggu produktifitas dan mengganggu kesehatan dipihak lain, hal ini

sering menyebabkan gangguan pernafasan ataupun dapat mengganggu

kapasitas vital paru (Sumamur, 2009). Depkes RI (2003), menyebutkan

dalam kondisi tertentu, debu merupakan bahaya yang juga dapat

menyebabkan ketidaknyamanan kerja, gangguan penglihatan, gangguan

fungsi faal paru bahkan dapat menimbulkan keracunan umum

Salah satu usaha atau pekerjaan yang perlu mendapat perhatian lebih

yaitu pada pekerja pengrajin batu bata yang dapat meningkatkan kasus

penyakit akibat kerja. Pembuatan batu bata dimulai dari pemilihan bahan

baku, penggilingan, pencetakan, pengeringan dan pembakaran yang paling

berpotensial menghasilkan debu. Debu inilah yang menyebabkan terjadinya

gangguan pernafasan ataupun dapat mengganggu nilai kapasitas vital paru.

Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang

melayang di udara Suspended Particulate Matter dengan ukuran 1

mikronsampai dengan 500 mikron (Pudjiastuti, 2002).

Pengolahan pengrajin batu bata merupakan salah satu sumber

pencemaran udara dengan hasil yang ditimbulkan berupa gas seperti : CO2,

CO, dan partikel debu. Partikel debu ini dapat mengganggu pernafasan seperti

sesak nafas ataupun batuk dan flu. Dampak negatif yang paling dirasakan

secara langsung adalah pencemaran udara dari asap pembakar batu bata.

Bahan bakar yang biasa digunakan untuk membakar kebanyakan

menggunakan merang, yaitu residu dari sisa-sisa proses pengolahan padi atau

disebut juga jerami kering (kulit sekam padi). Dampak ini langsung dirasakan,
3

dimana ketika menghirup asapnya akan terasa sesak nafas akibat proses

pembakaran batu bata dibakar selama 1-2 hari tergantung jumlah batu bata

yang dibakar (Sucipto, 2007).

Penelitian yang dilakukan Adi (2012), menyebutkan bahwa sebanyak

52,0% pekerja pada pembakaran batu bata di Kecamatan Kebakramat,

Karanganyar memiliki kapasitas fungsi paru tidak normal. Penelitian lain juga

dilakukan Yuanika (2015), dengan hasil penelitian menyebutkan bahwa

ditemukan sebanyak 36,7% pekerja pembuat batu bata di Kelurahan

Penggaron Kidul, Semarang yang mengalami gangguan fungsi paru.

Persentase gangguan yaitu restriksi sebesar 20,0%, obstruksi 6,7% dan

gabungan restriksi dan obstruksi 10,0%. Menurut Mukhtar (2006), terdapat

berbagai macam penyakit paru akibat lingkungan yang berdebu, seperti :

emfisema paru kronik, pneumonia, atelektasi, asma, tuberculosis dan alvelitis.

Penumpukan dan pergerakan debu pada saluran nafas dapat

menyebabkan peradangan jalan nafas. Peradangan itu dapat mengakibatkan

penyumbatan jalan nafas sehingga dapat menurunkan kapasitas vital paru.

Paru merupakan organ manusia yang berfungsi sebagai ventilasi udara, difusi

O2 dan CO2 antara alveoli dan darah, transportasi O2 dan CO2 serta

pengaturan ventilasi serta hal-hal lain dari pernafasan. Fungsi paru-paru dapat

menjadi tidak maksimal oleh karena faktor dari luar tubuh atau faktor

ekstrinsik yang meliputi kandungan komponen fisik udara, komponen

kimiawi dan faktor dari dalam tubuh penderita itu sendiri (Mukono, 2008).

Partikel debu dapat menimbulkan penurunan kapasitas vital paru,

sehingga akan mengurangi penggunaan optimal alat pernafasan untuk


4

mengambil oksigen pada proses respirasi, serta dapat mengakibatkan

kerusakan pada alveoli paru yang menyebabkan berkurangnya surfaktan

sebagai pelarut oksigen didalam darah (Yusbud, 2011).

Dampak paparan debu yang terus menerus dapat menurunkan faal

paru berupa obstruksi. Akibat penumpukan debu yang tinggi di paru dapat

menyebabkan kelainan dan kerusakan paru. Penyakit akibat penumpukan

debu dalam paru yaitu biasanya infeksi saluran pernafasan. Salah satu bentuk

kelainan paru yang bersifat menetap adalah berkurangnya elastisitas paru,

yang ditandai dengan penurunan kapasitas vital paru. Untuk mengetahui

secara dini penegakan kasus penurunan kapasitas vital paru harus dilakukan

secara rutin minimal setahun sekali dengan melakukan pengukuran kapasitas

vital paru (Mukono, 2008).

Kapasitas vital paru adalah jumlah udara terbesar yang dapat

dikeluarkan dari paru setelah inspirasi maksimal. Menurut Evelyn (2006),

kapasitas vital paru dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti umur, jenis

kelamin, kondisi kesehatan, riwayat penyakit dan pekerjaan, masa kerja,

kebiasaan merokok dan olahraga, serta status gizi. Beberapa penelitian

membuktikan bahwasanya ada beberapa faktor yang berhubungan dengan

kapasitas vital paru. Hasil penelitian Yuma (2013), didapatkan hasil bahwa

masa kerja dan status gizi merupakan faktor yang berhubungan dengan

kapasitas vital paru pekerja. Pada penelitian Eka (2013) kebiasaan merokok,

status gizi dan masa kerja berhubungan dengan kapasitas vital paru pada

Karyawan Industri Genteng HST Sokka Desa Kuwayuhan Kecamatan

Pejagoan Kabupaten Kebumen. Pada penelitian Novandani (2014), umur,


5

masa kerja dan kebiasaan merokok merupakan faktor yang berpengaruh

terhadap kapasitas vital paru pada pekerja bengkel las di Kelurahan Cirendeu.

Lingkungan kerja yang sering dipenuhi oleh debu dapat mengganggu

produktivitas dan mengganggu kesehatan pihak lain. Hal ini sering

menyebabkan gangguan pernafasan ataupun dapat mengganggu kapasitas

vital paru. Dalam kondisi tertentu, debu merupakan bahaya yang dapat

menyebabkan pengurangan kenyamanan kerja, gangguan penglihatan,

gangguan fungsi faal paru bahkan dapat menimbulkan keracunan umum

(Depkes RI, 2003).

Penelitian yang dilakukan oleh Yuma (2013), menunjukkan pada

pekerja penggilingan batu putih yang mengalami restriksi sedang sebanyak

40% dan yang berat sebanyak 4%. Keluhan berupa batuk dan sesak napas

juga dialami pekerja. Penelitian dari David (2011), menunjukkan bahwa

pekerja pembuat genteng yang mengalami restriksi ringan 70% dan restriksi

berat 8%. Sementara dari hasil survey pendahuluan yang peneliti lakukan

pada tanggal 3 Maret 2016, didapatkan hasil bahwa usaha pengrajin batu bata

di Desa Kedondong, Sokaraja berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan

terhadap pekerja diantarnya adalah ruang kerja berdebu yang disebabkan oleh

hasil pembakaran batu bata. Survey yang peneliti lakukan pada 10 pekerja,

terdapat 20% pekerja mengalami restriksi ringan, 60% mengalami restriksi

sedang, dan 20% restriksi berat. Keluhan umum yang dirasakan para pekerja

adalah batuk dan sesak nafas, gejala ini dialami terutama pada pekerja pada

bagian pembakaran batu bata, dimana rata-rata para pekerja telah bekerja

dengan masa kerja berkisar 4 10 tahun dan dalam keseharian pekerjaan

mereka tidak menggunakan masker sebagai alat pelindung diri.


6

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada pengrajin

batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang peneliti lakukan adalah Apakah masa kerja

berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pengrajin batu bata di Desa

Kedondong, Sokaraja ?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja.


2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik masa kerja dan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja


b. Mengetahui hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pengelola batu bata


a. Sebagai bahan pengetahuan tentang faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi kesehatan paru-paru.


b. Tindakan preventif untuk menurunkan kejadian akibat penyakit paru

dengan alat pelindung diri.


2. Bagi Penulis
Bagi penulis dapat bermanfaat sebagai sarana untuk menambah wawasan

dan pengetahuan sebagai modal pengalaman melakukan suatu penelitian.


3. Bagi bidang akademik
7

Bagi bidang akademik sebagai bahan masukan bagi perkembangan ilmu

pengetahuan dalam upaya peningkatan mutu kualitas sumber daya

manusia.
4. Bagi Peneliti lain
Sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian yang lebih dalam

tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kapasitas vital paru.

E. Penelitian Terkait

1. Novandany Dwiyantoro Putra (2014) dengan judul faktor-faktor yang

berhubungan dengan kapasitas vital paru pada pekerja bengkel las di

Kelurahan Ceredeu. Hasil penelitian menunjukkan umur, masa kerja dan

kebiasaan merokok merupakan faktor yang berpengaruh terhadap

kapasitas vital paru pada pekerja bengkel las.


Persaman penelitian Novandany dengan penelitian ini adalah sama-sama

meneliti tentang hubungan umur, masa kerja dan kebiasaan merokok

dengan tingkat kapasitas vital paru, sedangkan perbedaan penelitian

Novandany dengan penelitian ini adalah pada penelitian Novandany

meneliti varibel lain seperti jam kerja, riwayat penyakit dan kebiasaan

olah raga.
2. Yuma Anugrah (2013) dengan judul faktor-faktor yang berhubungan

dengan kapasitas vital paru pada pekerja penggilingan divisi batu putih di

PT Sinar Utama Karya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja

dan status gizi memiliki hubungan dengan kapasitas vital paru pada

pekerja penggilingan divisi batu putih.


Persaman penelitian Yuma Anugrah dengan penelitian ini adalah sama-

sama meneliti tentang hubungan masa kerja dengan tingkat kapasitas vital

paru, sedangkan perbedaan penelitian Yuma Anugrah dengan penelitian ini


8

adalah pada penelitian Yuma Anugrah meneliti faktor-faktor lain yang

berhubungan dengan kapasitas vital paru seperti status gizi dan riwayat

penyakit paru.
3. Andhika Puja Hutama (2013) dengan judul hubungan antara masa kerja

dan penggunaan alat pelindung diri dengan kapasitas vital paru pada

pekerja unit spinning I bagian ring frame PT Pisma Putra Tekstil

Pekalongan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja dan

pemakaian alat pelindung diri berhubungan dengan kapasitas vital paru

pada pekerja unit spinning.


Persaman penelitian Andhika Puja Hutama dengan penelitian ini adalah

sama-sama meneliti tentang hubungan masa kerja dan penggunaan alat

pelindung diri dengan tingkat kapasitas vital paru, sedangkan perbedaan

penelitian Andhika Puja Hutama dengan penelitian ini adalah pada

penelitian Andhika Puja Hutama responden penelitian merupakan pekerja

unit spinning bagian ring frame.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistem Pernafasan Manusia


1. Pengertian Saluran Pernafasan
Saluran Pernafasan adalah saluran yang mengangkat udara antara

atmosfer dan alveolus, yaitu tempat terakhir yang merupakan satu-satunya

tempat pertukaran gas-gas antara udara dan darah dapat berlangsung

(Thabrani, 2010)
2. Anatomi Sistem Pernafasan
Dalam berrnafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan

oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya.


9

Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hydrogen dari jaringan.

Pernafasan meruapakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di

dalam jaringan atau pernafasan dalam dan yang terjadi di dalam paru

merupakan pernafasan luar. Udara ditarik ke dalam paru pada waktu

menarik nafas dan didorong keluar paru-paru pada waktu mengeluarkan

napas (Evelyn, 2006). Organ-organ saluran pernafasan antara lain :


a. Rongga Hidung
Udara dari luar akan masuk ke dalam rongga hidung (cavum nasalis).

Rongga hidung berselaput lendir di dalamnya terdapat kelenjar minyak

(kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Saluran

lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran

pernafasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal yang

berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara, juga

terdapat konka yang mempunyai


9 banyak kapiler darah yang berfungsi
menghangatkan udara yang masuk (Evelyn, 2006).
b. Faring/tekak
Faring atau tekak merupakan tempat persimpangan antara jalan nafas

dan jalan makanan. Faring atau tekak terdapat di bawah dasar

tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut setelah depan ruas

tulang leher (Syaifudin, 2006). Udara melalui bagian anterior ke dalam

laring dan makanan lewat posterior ke dalam esofagus melalui

epiglotis yang fleksibel (Tambayong, 2001)


c. Laring
Laring merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan

suara yang terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra

servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal

tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang


10

disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi

pada waktu kita menelan makanan menutupi laring (Syaifudin, 2006)


d. Batang Tenggorokan
Batang tenggorokan merupakan lapisan dari laring yang dibentuk oleh

16 sampai 20 cincin terdiri dari tulang rawan yang terbentuk seperti

kaki kuda (huruf C ). Trakea dlapisi oleh epitel bertingkat dengan silia

dan sel goblet. Sel goblet menghasilkan mukus dan silia berfungsi

menyapu partikel yang berhasil lolos dari saringan di hidung, ke arah

faring untuk kemudian ditelan atau diludahkan. Panjang trakea 9-10

cm dan dibelakang terdiri jaringan ikat yang dilapisi otot polos

(Tambayong, 2001)
e. Cabang Tenggorok
Cabang tenggorong merupakan kelanjutan dari trakea, ada 2 buah yang

terdapat pada ketinggian vertebra torakalis ke 4 dan ke 5. Bronkus

memiliki struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang

sama
f. Paru-paru
Paru merupakan alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung

(alveoli). Gelembung ini terdiri dari sel epitel dan endotel. Pada

lapisan inilah terjadi pertukaran udara, oksigen, oksigen masuk dalam

darah dan karbondioksida dikeluarkan dari darah. Dalam paru terdapat

alveoli yang berfungsi dalam pertukaran gas O2 dan CO2 dalam darah

(Tambayong, 2001)
3. Fisiologi Sistem Pernafasan
Pernafsan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbondioksida

yang terjadi pada paru. Fungsi paru adalah tempat pertukaran gas oksigen

dan karbondioksida pada pernapasan melalui paru/pernapasan eksterna.

Oksigen dipungut melalui hidung dan mulut. Saat bernafas oksigen masuk
11

melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli dan dapat erat berhubungan

dalam darah di dalam kapiler pulmonalis (Syaifudin, 2006). Proses

pernapasan dibagi menjadi 4 yaitu :


a. Ventilasi pulmonal yaitu masuk keluarnya udara dari atmosfer ke

bagian alveoli dari paru


b. Difusi oksigen dan karbondioksida di udara masuk melalui pembuluh

darah di sekitar alveoli


c. Transport oksigen dan karbondioksida di darah ke sel
d. Pengaturan ventilasi
4. Mekanisme Pernafasan
Fungsi paru adalah tempat untuk pertukaran gas oksigen dan

karbondioksida. Pernafasan terdiri dari dua bagian, yaitu inspirasi dan

ekspirasi. Pernafasan Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah

mendapat rangsangan dari nervus frenikus lalu mengerut datar sehingga

tekanan udara berkurang lalu udara dari luar masuk ke paru. Pernafasan

ekspirasi terjadi saat otot difragma akan menjadi cekung, muskulus

intercostalis miring kembali dan dengan demikian rongga dada menjadi

kecil kembali, maka udara dalam paru akan didorong kembali ke luar

(Syaifuddin, 2006).
Paru dapat dikembangkan kempiskan melalui 2 (dua) cara :
a. Diafragma bergerak turun naik untuk memperbesar atau memperkecil

rongga dada.
b. Depresi dan elevasi tulang iga untuk memperbesar atau memperkecil

diameter anteroposterior rongga dada.


Pernafasan normal dan tenang dapat dicapai dengan hampir

sempurna melalui kedua metode tersebut, yaitu melalui gerakan

diafragma. Selama inspirasi, kontraksi diafragma menarik permukaan

bawah paru kearah bawah. Kemudian selama ekspirasi, diafragma


12

mengadakan relaksasi, dan sifat daya lenting paru (elastic recoil), dinding

dada, dan struktur abdominal akan menekan paru.


B. Kapasitas Vital Paru
1. Pengertian Kapsitas Vital Paru
Kapasitas vital paru adalah jumlah udara terbesar yang dapat

dikeluarkan dari paru setelah inspirasi maksimal (William F, 2002).

Kapasitas paru dapat dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu :


a. Kapasitas inspirasi
Kapasitas inspirasi sama dengan tidal volume ditambah dengan

volume cadangan inspirasi yaitu jumlah udara yang dapat dihirup oleh

seseorang dimulai pada tingkat ekspirasi normal dan pengembangan

paru sampai jumlah maksimal.


b. Kapasitas Residu Fungsionalis
Kapasitas Residu Fungsionalis yaitu jumlah udara yang tersisa dalam

paru pada akhir ekspirasi normal (kurang lebih 2300 mililiter).


c. Kapasitas Vital
Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi dan volume

cadangan ekspirasi, yaitu jumlah udara maksimum yang dapat

dikeluarkan dari seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi

paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-

banyaknya (kurang lebih 4600 mililiter).


d. Kapasitas Paru Total
Kapasitas paru total merupakan volume maksimum pengembangan

paru-paru dengan usaha inspirasi yang sebesar mungkin dengan

inspirasi paksa kurang lebih 5800 mililiter (Syaifudin, 2006).


2. Pengukuran Kapasitas Vital Paru
Pengukuran kapasitas vital paru yaitu pengukuran jumlah udara

terbesar yang dapat dikeluarkan dari paru-paru setelah inspirasi

maksimum. Kapasitas vital paru nilainya bergantung pada :


a. Posisi seseorang ketika kapasitas vital paru diukur.
b. Kekuatan otot pernafasan.
13

c. Daya regang paru-paru dan rangka dada yang disebut sebagai

compliance.
Alat yang digunakan dalam pengukuran kapasitas vital paru adalah

peak flow meter. Peak flow meter adalah suatu alat sederhana, ringkas,

mudah dibawa, murah, serta mudah penggunaannya dan dapat dipakan

untuk memeriksa peak expiratory flow rate (PEFR). Peak expiratory flow

rate merupakan salah satu parameter yang diukur pada spirometri, yaitu

kecepatan aliran udara maksimal yang terjadi pada tiupan paksa maksimal

yang dimulai dengan paru pada keadaan inspirasi maksimal (Oceandy D,

1995).
Peak flow meter ini tidak hanya dapat digunakan di rumah sakit

maupun di klinik saja, tetapi dapat juga digunakan di rumah maupun di

kantor untuk membantu mendiagnosis asma dan evaluasi respon terapi.

Lebih lanjut peak flow meter dapat memberikan peringatan lebih awal

pada pasien jika terjadi perubahan pada fungsi system pernafasan.


Tahapan melakukan pengukuran kapasitas vital paru sebagai

berikut :
a. Bila memerlukan pasang mouthpiece ke ujung peak flow meter
b. Penderita berdiri atau duduk dengan punggung tegak dan pegang peak

flow meter dengan posisi horizontal (mendatar) tanpa menyentuh atau

mengganggu gerakan masker. Pastikan masker berada pada posisi

skala terendah (nol).


c. Penderita menghirup nafas sedalam mungkin, masukan mouthpiece ke

mulut dengan bibir menutup rapat mengelilingi mouthpiece, dan buang

nafas segera dan sekuat mungkin.


d. Saat membuang nafas, masker bergerak dan menunjukkan angka pada

skala, catat hasilnya.


14

e. Kembalikan masker pada posisi nol lalu ulangi langkah 2 4 sebanyak

3 kali, dan pilih nilai paling tinggi. Bandingkan dengan nilai terbaik

pasien tersebut atau nilai prediksi.


3. Nilai Kapasitas Vital Paru
Nilai kapasitas vital paru bermanfaat dalam memberikan informasi

mengenai otot pernafasan serta beberapa aspek fungsi pernafasan (William

F, 2002). Berikut ini merupakan kriteria gangguan paru menurut

ATS/American Thoracic Society (Tabel 2.1).


Tabel 2.1. Standar kapasitas dan kriteria gangguan paru menurut ATS
(American Thoracic Society).
VO2 Maks
Kategori KVP VEP 1 VEP/KVP DLCO
(ml/kg/mt)
Normal 80 80 75 80 25
Restrictive ringan 60 - 79 60 - 79 60 - 74 60 - 79 6 - 24
Restrictive Sedang 51 - 59 41 - 59 41 - 59 41 - 59 16 - 24
Restrictive Berat 50 40 40 40 15
Sumber : Mukhtar Ikhsan, 2002)
Keterangan :
KVP : Kapasitas Vital Paru
VEP : Visual Evoked Potential
DLCO : Carbon Monoxide Diffusing Capacity
4. Faktor yang berhubungan degan Kapasitas Vital Paru
Kapasitas vital paru merupakan salah satu pengukuran terpenting

dari semua pengukuran pernapasan klinis untuk menilai keadaan berbagai

jenis penyakit. Berikut ini merupakan faktor yang berhubungan dengan

kapasitas vital paru, meliputi :


a. Umur

Umur merupakan variabel yang sangat penting terkait terjadinya

gangguan fungsi paru. Semakin bertambahnya umur serta kondisi

lingkungan yang kurang baik atau kemungkinan terkena suatu

penyakit, maka kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru

semakin besar. Seiring bertambahnya umur seseorang, kapasitas paru

akan berkurang. Kapasitas paru orang dengan umur 30 tahun keatas


15

memiliki rata-rata 3000 ml 3500 ml, dan pada orang yang berumur

50 tahunan kapasitas paru kurang dari 3000 ml. Semakin lanjut usia

seseorang otot-otot pernafasan akan semakin lemah (Mawi, 2005).

Dalam keadaan normal kedua paru dapat menampung udara

sebanyak 5 liter. Waktu ekspirasi, didalam paru masih tertinggal 3

liter udara (Syaifudin, 2006). Penurunan fungsi paru adalah akibat dari

penurunan elastisitas paru. Proses menjadi tua dimulai pada umur 30-

40 tahun. Hal ini dapat disimpulkan bahwa Semakin bertambahnya

usia, maka kekuatan otot pernafasan semakin berkurang, dengan

berkurangnya kemampuan otot maka dapat menurunkan kapasitas vital

paru (Athur C. Guyton, 2009).

b. Kebiasaan Merokok

Merokok merupakan faktor risiko timbulnya penyakit obstruksi saluran

pernafasan kronik. Rokok menimbulkan reaksi inflamasi dengan atau

tanpa pembentukan mukus dalam saluran pernafasan, peningkatan sel

polymorfonuklear dan terjadi penghambatan elastase inhibitor yang

dapat merusak jaringan elastin, akibatnya fungsi paru menurun (Mawi,

2005).

Kebiasaan merokok telah terbukti menyebabkan 25 (dua puluh

lima) jenis penyakit dari berbagai alat tubuh manusia. Menurut

informasi dari WHO, ada sekitar 1,1 miliar perokok di dunia, 800 juta

orang diantaranya berasal dari negara berkembang. Setiap hari, lebih

dari seribu orang di seluruh dunia meninggal akibat penyakit yang

disebabkan oleh merokok. Hal ini jelas bahwa merokok adalah salah
16

satu penyebab utama kematian. Merokok menyebabkan Penyakit Paru

Obstruktif Kronik (PPOK). PPOK adalah penyakit progresif yang

membuat seseorang sulit untuk bernapas. Banyak perokok tidak tahu

bahwa mereka telah terkena penyakit ini hingga sudah terlambat. Tidak

ada obat untuk penyakit ini dan tidak ada cara untuk membalikkan

kerusakan (WHO, 2001).

Efek merokok pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada

usia kapan orang tersebut pertama kali merokok, kerentanan seseorang

terhadap bahan kimia dalam asap tembakau, jumlah rokok yang

dihisap per hari, dan lamanya seseorang merokok. Selain itu asap

rokok yang dihasilkan dapat mempengaruhi sistem escalator

mukosiliar, yang dapat mempermudah sampainya debu ke saluran

napas bawah sehingga dapat memperparah keadaan (Elizabeth J,

2001).

Menurut Kemenkes (2008) terdapat sekitar 4000 zat kimia

berbahaya keluar melalui asap rokok, antara lain terdiri dari aseton,

ammonia, arsen, butane, cadmium, karbon monoksida, insektisida,

hydrogen sianida, methanol, naftalen, toluene dan vinil klorida.

Menurut Amin (2000), kebiasaan merokok dapat dibagi

menjadi 3 kategori perokok, yaitu :

1) Perokok ringan, bila jumlah rokok yang dihisap antara 1 6

batang/hari.

2) Perokok sedang, bila jumlah rokok yang dihisap antara 7 12

batang/hari.
17

3) Perokok berat, bila jumlah rokok yang dihisap lebih dari 12

batang/hari.

c. Penggunaan Alat Pelindung Diri

Suatu kegiatan industri, paparan dan risiko yang ada ditempat kerja

tidak selalu dapat dihindari. Upaya untuk pencegahan terhadap

kemungkinan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja harus

senantiasa dilakukan. Alat pelindung diri (APD) adalah seperangkat

alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau

seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja

(Sugeng Budiono, 2005).

APD tidak secara sempurna dapat melindungi tubuhnya, tetapi

dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi.

Pengendalian ini sebaiknya tetap dipadukan dan sebagai pelengkap

pengendalian teknis atau pengendalian administratif. Organ pernafasan

terutama paru harus dilindungi apabila udar tercemar atau ada

kemungkinan kekurangan oksigen dalam udara. Alat pelindung diri

masker berfungsi untuk melindungi pernafasan dari debu/partikel yang

lebih besar yang masuk kedalam organ pernafasan. Masker dapat

terbuat dari kain dengan pori-pori tertentu (Sugeng Budiono, 2005).

d. Status Gizi

Kesehatan tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja erat bertalian

dengan tingkat atau keadaan gizi. Dalam hubungan dengan

produktivitas kerja, seseorang tenaga kerja dengan keadaan gizi yang

baik akan memiliki kapasitas kerja dan ketahanan tubuh yang lebih
18

baik. Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia

18 tahun ke atas) merupakan masalah penting, karena selain

mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu juga dapat

mempengaruhi produktivitas kerja. Berat badan yang berada di bawah

minimal dinyatakan underweight, dan berat badan yang berada diatas

bats maksimum dinyatakan sebagai over weight. Orang yang berada

dibawah ukuran berat normal mempunyai resiko terhadap penyakit

infeksi, sehingga yang berda diatas ukuran normal mempunyai resiko

terhadap penyakit degeneratif (Supariasa, 2002).

Peran dari status gizi adalah secara tidak langsung seperti pada

penyakit cystic fibrosis. Namun demikian, penelitian epidemiologis

saat ini menunjukkan peran penting gizi terhadap fungsi paru, terutama

yang berkaitan dengan konsumsi zat gizi yang merupakan sumber

antioksidan. Peran penting antioksidan sebagai pencegah radikal bebas

yang banyak terdapat pada debu dan polusi. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa gizi kurang ternyata berhubungan dengan

penyakit paru (Budiono, 2007).

Menurut Nyoman (2001), status gizi seseorang dapat

mempengaruhi kapasitas vital paru. Orang kurus tinggi biasanya

memiliki kapasitasnya lebih dari orang gemuk pendek, status gizi yang

berlebihan dengan adanya timbunan lemak dapat menurunkan

compliance dinding dada dan paru sehingga ventilasi paru akan

terganggu akibatnya kapasitas vital paru akan menurun.


19

Gizi kerja merupakan nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja

untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan. Gizi kerja

merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat kesehatan yang

optimal, khususnya bagi masyarakat pekerja. Penerapan gizi kerja di

perusahaan juga mencerminkan pembinaan hubungan industrial yang

diarahkan bagi terciptanya kerja sama yang serasi antara tenaga kerja

dan pengusaha (Anies, 2005).

e. Masa Kerja

Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja itu

bekerja di suatu tempat. Pada pekerja yang berada dilingkungan

dengan kadar debu tinggi dalam waktu lama memiliki risiko tinggi

terkena penyakit paru obstruktif. Masa kerja mempunyai

kecenderungan sebagai faktor risiko terjadinya obstruksi pada pekerja

di industri yang berdebu lebih dari 5 tahun. Semakin lama seseorang

dalam bekerja maka semakin banyak dia terpapar bahaya yang

ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Seseorang yang terpapar

oleh debu dalam waktu lama akan berisiko untuk mengalami gangguan

fungsi paru (Sumamur, 2009).

Menurut Tulus (2005) Masa kerja dikategorikan menjadi 3 (Tiga):

1) Masa kerja baru : <6 tahun

2) Masa kerja sedang : 6-10 tahun

3) Masa kerja lama : >10 tahun


20

Pada pekerja pengrajin batu bata masa kerja sangat

berpengaruh. Adapun pengaruhnya adalah semakin lama pekerja

bekerja di tempat tersebut maka akan semakin terampil dalam bekerja,

sedangakan pengaruh negatifnya adalah semakin lama pekerja tersebut

bekerja di tempat tersebut maka semakin banyak debu yang terhirup

oleh pekerja yang dapat mempengaruhi kesehatan terutama kesehatan

parunya.

C. Kerangka Teori
Berdasarkan tinjauan teori dan apa yang telah di uraikan maka di

gunakan kerangka teori dalam bentuk bagan sebagai berikut :


Faktor Pekerja Paparan Debu
Masa kerja
Umur
Kebiasaan Merokok
Status Gizi
Penggunaan Alat
Pelindung Diri Masuk melalui saluran pernafasan
(hidung, faring, laring, trakea,
bronkus, paru-paru)

Tertimbun dan
terakumulasi di paru

Kapasitas vital paru


Normal
Restrictive ringan
Restrictive sedang
Restrictive berat
21

Gambar 2.1 Kerangka teori

D. Kerangka Konsep Penelitian


Kerangka konsep adalah hubungan-hubungan antara konsep yang satu

dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah

diuraikan pada tinjauan pustaka (Azwar, 2010). Kerangka konsep merupakan

justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang dilakukan dan memberi landasan

kuat terhadap topik yang dipilih sesuai dengan identifikasi masalahnya. Pada

penelitian ini, kerangka konsep yang diambil oleh peneliti adalah sebagai

berikut :

Variabel Independen :
Variabel Dependen :
Masa Kerja
Kapasitas Vital Paru
Gambar 2.2 Kerangka Konsep.

E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah sebuah pernyataan sederhana mengenai perkiraan

hubungan antar variabel-variabel yang sedang dipelajari. Hal tersebut sering

kali disebut sebagai dugaan yang diperhitungkan atau dipikirkan seperti untuk

jawaban pertanyaan studi. Dugaan tersebut harus didukung dengan teori yang

ada dan temuan riset terdahulu. Didalam pernyataan hipotesis, suatu kondisi
22

pendahuluan disebut sebagai variabel independen dikaitkan dengan terjadinya

kondisi efek lain, disebut variabel dependen (Patricia & Arthur, 2002).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : Ada hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja .


Ho : Tidak ada hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru

pada pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja .

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian
Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang disusun

sedemikian rupa sehingga dapat menuntun peneliti untuk dapat memperoleh

jawaban terhadap pertanyaan peneliti. Penelitian ini menggunakan studi

analitik observasional. Studi analitik observasional menggunakan pendekatan

alamiah mengamati perjalanan alamiah peristiwa, membuat catatan siapa

terpapar dan tidak terpapar faktor penelitian, dan siapa mengalami dan tidak

mengalami penyakit yang diteliti. Observasional penelitian dilakukan pada

populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari

sempel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian

relatif, distribusi (Sugiyono, 2008).


Rancangan penelitian yang digunakan adalah pendekatan cross

sectional. Cross sectional merupakan salah satu studi observasional untuk


23

menentukan hubungan antara faktor resiko dan penyakit. Penelitian ini

mencari hubungan antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel

tergantung (efek) dengan melakukan pengukuran sesaat pada saat yang

bersamaan (Arikunto, 2010)

B. Populasi Dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas I

objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang di

tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulan

(Sugiyono, 2008). Populasi dalam24penelitian ini adalah seluruh pekerja

pengrajin batu bata di desa Kedondong, Sokaraja sebanyak 35 orang.


2. Sampel
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi (Notoatmodjo, 2012). Metode pengambilan sampel yang

digunakan adalah total sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan

mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden atau sampel.

Penggunaan total populasi diharapkan akan lebih mewakili fakta yang ada

(Sugiyono, 2008).
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh

setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel

(Notoatmodjo, 2012). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :
1) Pekerja pengrajin batu bata
2) Pasien bersedia menjadi responden penelitian
3) Tidak sakit saat penelitian berlangsung
4) Tidak mempunyai riwayat penyakit sistem saluran pernafasan
b. Kriteria Ekslusi
24

Kriteria ekslusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2012). Kriteria ekslusi dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :


1) Pekerja yang tidak bersedia menjadi responden penelitian
2) Sakit saat penelitian berlangsung
3) Mempunyai riwayat penyakit sistem saluran pernafasan

C. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di desa Kedondong, Sokaraja pada bulan

Juli tahun 2016.

D. Variabel Penelitian
Variabel merupakan ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-

anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok

lain. Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran

yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep

pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2012).


1. Variabel bebas (Variabel Independent)
Variabel bebas (variabel independent) adalah variabel sebab,

mempengaruhi atau independent variabels atau variabel risiko

(Notoatmodjo, 2012). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah masa

kerja.
2. Variabel Terikat (Variabel Dependent)
Variabel Terikat (Variabel Dependent) adalah variabel akibat, terpengaruh

atau dependent variabel atau variabel yang dipengaruhi (Notoatmodjo,

2012). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kapasitas vital paru.

E. Definisi Operasional Penelitian


Definisi Operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang

dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan

(Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian ini definisi operasionalnya adalah

sebagai berikut :
25

Tabel 3.1. Definisi operasional variabel

Definisi Skala
No Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Variabel Data
1. Variabel Kurun waktu lembar Dalam tahun Rasio
bebas: atau lamanya observasi
Masa kerja responden
bekerja
dihitung
dalam satuan
tahun.
2. Variabel Jumlah udara Peak Flow 1. Normal > 80% Rasio
terikat: maksimal pada Meter 2. Restriksi ringan
Kapasitas ekpirasi yang kuat 60-79%
vital paru setelah inpirasi 3. Restriksi sedang
maksimal 30-59%
4. Restriksi berat
<30%

F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga

lebih mudah diolah (Arikunto, 2010). Instumen penelitian ini menggunakan

lembar observasi yang digunakan untuk mencatat demografi responden

berupa masa kerja dan peak flow meter untuk mengetahui adanya gangguan

faal pernafasan, evaluasi pengaruh penyakit terhadap faal pernafasan, menilai

kemajuan prognotis faal paru penderita yang dirawat.

G. Prosedur Penelitian
1. Tahapan Persiapan
a. Konsultasi dengan dosen pembimbing untuk menentukan judul

penelitian serta mendiskusikan hal-hal yang berhubungan dengan

penelitian.
b. Meminta izin pengambilan data awal penelitian.
26

c. Survey awal ke tempat penelitian untuk melihat kondisi lingkungan

individu.
d. Penyusunan proposal penelitian.
e. Presentasi proposal penelitian.
2. Tahapan Pelaksanaan
a. Peneliti memohon surat izin penelitian kepada jurusan keperawatan.
b. Peneliti meminta izin penelitian dari wilayah desa setempat.
c. Peneliti mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer ini

peneliti peroleh sendiri dari hasil pengukuran, pengamatan dan survei

langsung kepada responden, sedangkan untuk data sekunder diperoleh

dari data desa setempat.


d. Peneliti menentukan responden sesuai dengan kriteria inklusi dan

eksklusi. Kemudian peneliti memberikan informed consent pada

responden untuk ditandatangani sebagai bukti persetujuan menjadi

responden penelitian.
e. Setelah responden menandatangani lembar persetujuan, peneliti

melakukan kontrak dengan responden mengenai berapa lama waktu

yang dibutuhkan dalam pelaksanaan penelitian.


f. Peneliti mewawancarai dan melakukan pengukuran kapasitas vital paru

pada responden selama penelitian berlangsung.


3. Pengumpulan data terakhir
Tahap ini meliputi tahap pengolahan data dan penyelesaian laporan

penelitian.

H. Etika Penelitian
Menurut Hidayat (2011), dalam penelitian ini peneliti selalu

berpedoman pada norma dan etika. Beberapa hal yang perlu diperhatikan

menyangkut etika penelitian antara lain :


1. Informed Consent
Peneliti memberikan lembar persetujuan dalam kuesioner kepada

responden yang telah memenuhi kriteria inklusi, disertai judul dan manfaat

penelitian. Tujuannya agar responden mengetahui maksud dan tujuan dari


27

penelitian serta manfaat dari penelitian. Bila responden menolak maka

peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak responden.


2. Anonymity
Peneliti menjaga informasi atau hal-hal yang terkait dengan responden.

Peneliti tidak menyampaikan kepada orang lain tentang apapun yang

diketahui oleh peneliti tentang responden diluar kepentingan atau

mencapai tujuan penelitian. Peneliti tidak mencantumkan nama responden

pada lembar alat ukur, tetapi hanya menuliskan kode dan inisial pada

lembar kuesioner penelitian.


3. Confidentiality
Peneliti menjaga semua kerahasiaan informasi dan data-data penelitian.

Masalah ini merupakan masalah etika dan peneliti memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah

lainnya. Semua informasi yang telah di kumpulkan di jamin

kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan di

laporkan pada hasil riset.


4. Non-maleficence
Peneliti tidak melakukan intervensi yang dapat membahayakan responden.

Pada penelitian ini peneliti sudah memperhitungkan bahwa subyek

penelitian (responden) tidak dirugikan sedikitpun baik dari segi materil

maupun non materil.


5. Beneficence
Peneliti memberikan informasi yang baik untuk responden dalam

peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Peneliti akan memberikan

informasi mengenai hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru.


6. Balancing Harms and Benefits
Peneliti berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subyek

penelitian. Peneliti memberikan intervensi dan menjelaskan manfaat dari

intervensi tersebut, kemudian dilakukan pengukuran kapasitas vital paru

responden.
28

7. Respect of Person
Peneliti menghormati martabat manusia: pertama setiap individu

(responden) diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak

untuk menentukan nasib sendiri), kedua, setiap individu yang otonomi

berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan. Memiliki hak

otonomi apabila pasien menolak maka tidak menandatangani informed

consent.
I. Analisis Data
1. Pengolahan Data
a. Editing
Editing merupakan kegiatan untuk pengecekan kembali data yang telah

diperoleh atau dikumpulkan. Penelitian akan memeriksa data yang

sudah terkumpul untuk meneliti kelengkapan jawaban responden

dengan kuisioner yang diberikan yang bertujuan untuk mengetahui

apakah ada kesesuaian antara semua pertanyaan yang diberikan dengan

jawaban.
b. Coding
Coding yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi

data angkat atau bilangan. Peneliti akan memberikan kode angka pada

alat penelitian untuk memudahkan dalam ansalisa data.


c. Entry Data
Entry Data adalah kegiatan memasukkan data yang telah ditentukan

dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program

atau software komputer.


d. Tabulating
Tabulating adalah membuat frekuensi distribusi sederhana ke dalam

tabel. Peneliti akan melakukan penataaan data kemudian menyusun

dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.


2. Analisis Data
29

Setelah dilakukan pengumpulan data, maka komponen variabel

penelitian dapat dilakukan analisis. Berdasarkan Notoatmodjo (2012),

analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu:


a. Analisis Univariat
Analisis data Univariat dilakukan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada

umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi

dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2012). Analisis

Univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran

masa kerja dan kapasitas vital paru resonden.


Pada analisis univariat, data yang diperoleh dari hasil

pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk frekuensi deskriptif.

Rumus data analisa univariat :

F
P= x100%
N

Keterangan :
P : Presentase kemampuan
F : Jumlah pertanyaan
N : Jumlah sampel
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat yang dilakukan terhadap dua variabel yang

diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2012). Analisa

dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan masa kerja

dengan kapasitas vital paru. Untuk membuktikan hipotesis statistik

digunakan uji Korelasi Product Moment karena hasil ukur yang

digunakan adalah skor mentah variabel bebas dan variabel terikat.

Kemudian bisa disajikan dalam bentuk tabel kontirquensi.


Rumus :
30

Keterangan :
R : Korelasi Product Moment
N : Jumlah reponden
X : Skor variabel perubahan fisik atau psikologi
Y : Skor variabel kualitas hidup
XY : Skor variabel X dikalikan variabel Y
Kriteria kemaknaan uji statistik :
- jika p value dari (5%) maka Ho ditolak atau terdapat

hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja


- jika p value dari (5%) maka Ho diterima atau tidak terdapat

hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru pada

pengrajin batu bata di Desa Kedondong, Sokaraja.


Menurut Sugiyono (2008) pedoman untuk memberikan

interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut :


1) 0,00 0,199 = sangat rendah
2) 0,20 0,399 = rendah
3) 0,40 0,599 = sedang
4) 0,60 0,799 = kuat
5) 0,80 1,000 = sangat kuat