Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan utama pendidikan nasional adalah mengembangkan dan

meningkatkan sumberdaya manusia (sdm), yaitu manusia indonesia yang

seutuhnya memiliki wawasan ilmu pengetahuan dan teknolgi (iptek), serta

memiliki keterampilan (skill) dan beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang

Maha Esa. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu program

pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan, dan adanya interaksi antara

dunia pendidikan dan dunia industri dalam suatu hubungan saling

membutuhkan, mendukung, dan melengkapi demi tercapainya pembangunan

nasional yang diidamkan.

Pada jenjang perguruan tinggi metode perkuliahan yang dilakukan

berupa pemberian materi berupa teori dan pratikum. Kegiatan pratikum

dilakukan untuk memperkuat ilmu yang didapat dalam pembelajaran teori

sehingga lebih mantap dalam penerapannya. Pratikum biasanya dilakukan

dilaboratorium atau workshop yang diadakan oleh pihak kampus dan juga

berupa kegitan langsung kelapangan. Akan terlihat pengaruh yang besar bila

datang saatnya bagi mahasiswa melakukan kerja praktek pada suatu

perusahaan ataupun instansi, yakni keterkaitan antara teori yang telah

dipelajari sebelumnya dikampus dengan penerapannya dilapangan.

Akan datang waktunya bagi mahasiswa melakukan kerja praktek yang

merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa fakultas

1
2

teknik universitas negeri padang tidak terkecuali mahasiswa teknik

pertambangan untuk menuntaskan studinya. Kerja praktek yang diistilahkan

di Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang adalah praktek lapangan

industri (PLI). Praktek lapangan industri (PLI) merupakan mata kuliah wajib

pada semester akhir dengan bobot 3 sks, pelaksanaannya meliputi tiga

kegiatan pokok yaitu: kegiatan praktek lapangan adalah kegitan

pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari di

kampus serta penyempurnaannya. Penyusunan laporan ilmiah merupakan

pembahasan mengenai suatu topik permasalahan yang ditemui di lapangan.

Selesai penyusunan laopran ilmiah mahasiswa dituntut mampu

menseminasikannya.

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan hingga sekarang ini tidak

luput dari hasil temuan dari penelitian penelitian terdahulu. Penelitian yang

berakar dari timbulnya suatu masalah dalam industri yang harus dicarikan

solusinya dengan penuh perhitungan atau analisis yang baik. Tidak tertutup

kemungkinan bagi mahasiswa teknik pertambangan melakukan penelitian

dan menemukan hal baru atau pemecahan dari suatu masalah pada saat

melakukan praktek lapangan industri.

1. Tujuan pelaksanaan PLI

a. Tujuan umum

Tujuan umum dari PLI adalah untuk mendapatkan atau

menggali pengetahuan dan pengalaman praktis di lapangan atau

industri, memupuk sikap dan etos kerja mahasiswa sebagai calon


3

tenaga kerja profesional yang siap kerja, serta mampu membahas

suatu topik yang ditemukan di lapangan melalui metode analisis

ilmiah ke dalam bentuk suatu laporan praktek lapangan industri

(PLI). Aspek pengabdian masyarakatpun menjadi tujuan dari

pelaksanaan praktek lapangan industri.

b. Tujuan khusus

1) Mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktis di lapangan

tentang teknis perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan

pekerjaan teknik pertambangan dalam rangka melengkapi

pengetahuan dan keterampilan yang telah didapatkan dalam

perkuliahan.

2) Mengintegrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan dan

keterampilan yang didapat dalam perkuliahan dengan

pengetahuan dan keterampilan praktis yang ada di lapangan

industri pertambangan.

3) Mampu menulis suatu laporan kegiatan praktek lapangan

industri.

4) Mampu mempersentasikan laporan tersebut didepan dosen dan

mahasiswa

2. Peserta PLI

Berdasarkan surat balasan dari PT. Bukit Asam (persero) tbk. Unit

Pertambangan Ombilin tanggal 23 November 2015 dengan nomor surat

389/Eks-23402/HM.03/XI/2015 perihal permohonan pengalaman


4

lapangan industri. Perusahaan menerima permohonan penulis melakukan

praktek lapangan industri di perusahaan tersebut dimulai tanggal 18

januari sampai dengan 18 maret, adapun peserta yang mengikuti:

a. Randi sepniko 1202065

b. Rahmat hidayat 1202048

c. Wanda febrian 1202054

3. Tempat pelaksanaan PLI

Lokasi tempat pelaksanaan praktek lapangan industri adalah di

tambang bawah tanah PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pertambangan

Ombilin tepatnya di Sawah Luwung kecamatan Talawi kota Sawahlunto.

B. Deskripsi perusahaan

1. Sejarah Perkembangan PT. Bukit Asam (persero) Tbk Unit

Pertambangan Ombilin

Tahun 1858 , seorang ahli tambang dari belanda bernama Ir. C.

De groot menyakini adanya endapan batubara di daerah ombilin. Tahun

1867 gubernur jendral Hindia Belanda menugaskan Ir. W. H. De Greve

untuk melakukan penyelidikan. Tahun 1891 pemerintah Hindia Belanda

atas desakan Ir. E. Vander Els yang telah melakukan eksplorasi detail

terhadap endapan batubara ombilin, memerintahkan Ir. J. A. Hooze

untuk mempersiapkan penambangan batubara di sungai durian. Pada

tahun 1891 Ir. J. A. Hooze datang beserta Ir. W. Gadefroy sebagai kepala

tambang ombilin. Tahun 1892 eksploitasi terhadap tambang ombilin

dilakukan dan ini menjadi tahun jadi tambang ombilin.


5

Pada saat pemerintahan jepang, kekuasaan atas tambang ombilin

diambil alih oleh pemerintah jepang. Pada saat indonesia merdeka

tambang ombilin dimbil oleh pemerintah, tahun 1950 - 1958 tambang

ombiln dibawah pengelolaan direktorat pertambangan. Selanjutnya

dialihkan kepengelolaannya dibawah biro umum perusahaan tambang

negara dari tahun 1961-1968. Kemudian dipindahkan ke badan

pimpinan olahan lingkung umum tambang batubara ombilin sampai

tahun 1984 status perusahaan negara berubah menjadi perusahaan umum

(perum) tambang batubara. Berdasarkan peraturan Pemerintah N0. 56

yang disahkan tanggal 30 Oktober tahun 1990 pemerintah

menggabungkan unit pertambngan ombilin sebagai bagian dari dari Pt.

Bukit Asam yang merupakan salah satu badan usaha milik negara

(BUMN).

2. Visi, misi dan Struktur organisasi perusahaan

a. Visi

Perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan

b. Misi

Mengelola sumberdaya energi yang mengembangkan

kompetensi korporasi dan keunggulan insani yang memberikan nilai

tambah maksimal bagi stockholder dan lingkungan.

c. Struktur organisasi

PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pertambangan Ombilin

memiliki struktur organisasi yang bertanggung jawab terhadap


6

direktur utama PT Bukit Asam sebagai induk perusahaan.

Pembentukan Struktur organisasi PT Bukit Asam unit Pertambangan

Ombilin berdasarkan SK direksi nomor 110/KEP/Int-0100/OT

-01/2013 pada tanggal 27 mei 2013 sebagai berikut:

1) General manager unit pertambangan ombilin

2) Bagian kajian operasi dan teknik

3) Bagian k3 dan lingkungan

4) Bagian keuangan yang terdiri dari satuan kerja

pembendaharaan, akutansi, dan pembinaan usaha kecil dan

koperasi

5) Bagian sumberdaya manusia dan umum yang terdiri dari satuan

kerja administrasi kepegawaian, bina lingkungan, hukum, dan

humas layanan umum dan poliklinik.

6) Bagian logistik dan gudang utama

7) Bagian security yang terdiri dari satuan kerja operasional.

Pengamanan Gr A-C dan operasional pengamanan teluk bayur.

8) Bagian perencanaan yang terdiri dari bagian eksplorasi,

perencanaan operasi, perencanaan dan pengolahan lingkungan,

dan pemetaan.

9) Bagian operasi penambangan, terdiri dari satuan kerja

persiapan penambangan ombiln 1, persiapan penambangan

ombilin 3, operasi penambangan, layanan rawatan, tabang

dalam, kestamngin dan peranginan tambang dalam, dan


7

pemesinan dan pelistrikan tambang dalam.

10) Bagian sarana keteknikan yang terdiri atas satuan kerja sintrik

penunjang, penanganan dan pengkutan batubara, bangunan dan

utinitas, bengkel utama, pembangkit , dan distrik.

11) Bagian dermaga teluk bayur terdiri atas satuan kerja perawatan

dan optimalisasi peralatan pelabuhan, administrasi, dan umum.

Berikut bentuk gambar struktur organisasi PT. Bukit Asam unit

pertambngan ombilin:

Sumber: PT. Bukit Asam UPO


Gambar 1: struktur organisasi PT Bukit Asam UPO

3. Wilayah perizinan penambangan

PT. Bukit Asam (persero) tbk Unit Pertambangan Ombilin


8

memiliki wilayah izin penambangan secara astronomis 100 44' BT -

100 50' dan 0 35' LS - 0 43' LS dengan luas wilayah 2.935 Ha.

Berikut daerah cakupan wilayah penambangan PT Bukit Asam Ombilin:

Tabel 1. Wilayah IUP penambangan PT. Bukit Asam UPO


Daerah lokasi keterangan
OMBILIN 1 SAWAH LUWUNG Tambang dalam
SAWAH RASAU V Tambang dalam
OMBILIN 2 WARIINGIN Tambang dalam
SUGAR Tambang dalam
OMBILIN 3 SIGALUT Tambang dalam
Sumber: PT. Bukit Asam UPO

Dari semua daerah penambangan PT. Bukit Asam UPO yang masih

beroperasi hanya tambang dalam ombilin 1 Sawah Luwung, kecamatan

Talawi, kota Sawahlunto.

Berikut peta daerah izin usaha penambangan dapat dilihat pada

gambar 2 berikut:

Sumber: Pt. Bukit Asam UPO


9

Gambar 2. Peta wilayah perizinan penambangan PT. Bukit


Asam UPO

4. Lokasi kesampaian daerah

PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pertambangan Ombilin terletak

di kecamatan Talawi kota Sawahlunto. Kota Sawahlunto merupakan

daerah perbukitan dengan ketinggian antara 278m - 569m dari atas

permukaan laut. Akses menuju perusahaan dari kota padang

menggunakan kendaraan menempuh jalan raya indarung, melalaui kota

solok hingga sampai di perusahaan memerlukan waktu lebih kurang 150

menit dengan jarak tempuh lebih kurang 90 km, peta kesampaian darah

Sawahlunto dapat diihat gambar 3 berikut:

Sumber: dinas perindagkopnaker sawahlunto


Gambar 3. Peta kesampaian daerah sawahlunto
10

5. Keadaan geologi dan statigrafi daerah

a) Keadaan geologi

Berdasarka peta geologi kota Sawahlunto dan litologi regional

yang terletak di daerah penyelidikan dan sekitarnya, secara

berurutan dari muda ketua dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Alluvial sungai (Qal), berumur kuarter yang terdiri dari

material lepas, berukuran lempung, pasir, kerikil, dan

bongkahan batuan beku.

2) Tufa batu lempung (Qpt), merupakan batuan vulkanik

berumur kuarter, terdiri dari batu apung didalam matriks kaca

kelaran.

3) Anggota atas formasi ombilin (Timou), merupakan batuan

sedimen berumur tersier, yang terdiri dari lempung napal

dengan sisipan batu pasir, konglomerat mengandung kapur

dan berfosil.

4) Anggota bawah formasi ombilin (Tmol), merupakan batuan

sedimen, berumur miosen tersier, yang terdiri dari batu pasir

kuarsa yang mengandung mika sisipan arkose, serpih

lempungan, konglomerat kuarsa dan batubara.

5) Batu gamping karang (Tml), merupakan batu gamping karang

yang berumur oligosen.

6) Formasi brani (Tob), batuan sedimen, berumur oligosen, yang

terdiri atas batuan konglomerat dengan sisipan batu pasir.


11

7) Granit (G), susunan berkisar dari leico-granit sampai

monzonit kuarsa yang berumur trias.

8) Anggota batu gamping formasi kuantan (PCKL), merupakan

batuan hasil proses metamorfosis, terdiri dari batu gamping,

batu sabak, filit, serpih terkesiknya dan kuarsit yang berumur

perm dan karbon.

Sumber: dinas perindagkopnaker sawahlunto

Gambar 4. Peta geologi kota sawahlunto

b) Keadaan statigrafi

Adapun statigrafi (susunan formasi batuan ) yang mengisi

cekungan ombolin dari tua ke muda sebagai berikut:

1) Formasi sangkarewang (paleosen), disusun oleh batuan

sedimen paralis yang terdiri atas perlapisan batuan lempung

napalan coklat-hitam berselingan dengan batu pasir dan batu

lempung yang mengandung fosil ikan air tawar.


12

2) Formasi brani (paleosen), disusun oleh perlapisan batuan

sedimen kipas aluvial dan konglomerat, formasi ini bersilang

jari dengan formasi sangkarewang.

3) Formasi sawahlunto (eosen), terletak selaras dengan formasi

sangkarewang, batu lempung karbonan dan beberapa sisipan

konglmerat. Pada bagian atas formasi ini terdapat tiga sisipan

batubara (seam A, B, dan C).ketebaln total formasi ini kurang

lebih 600 meter.

4) Formasi sawah tambang (oligosen), disusun oleh batu pasir

berstruktur silang siur dan kadang disisipi konglomerat,

menghimpit secara selaras diatas dan sebagian diduga

mencemari formasi sawahlunto. Pada bagian atas formasi ini

memiliki anggota sawah rasau yang disusun oleh endapan

sungai teranyam dan kadang mengandung pula sisipan tipis

endapan batubara.

5) Formasi ombilin (miosen bawah), posisinya tidak selaras

diatas formasi sawah tambang, disusun oleh batuan napal

lempung yang mengandung globigerina.

Lapisan batubara terdapat pada lapisan sawahlunto yang

tersusun oleh perulangan konglomerat, batu pasir lanauan, batu

lempung karbonan, dan beberapa sisipan batubara. Ada tiga sisipan

lapisan batubara, lapisan paling atas adalah seam A dengan

ketebalan rata- rata 2 meter, seam B dengan rata-rata ketebalan 1-2


13

meter, dan yang paling bawah seam C dengan ketebalan 3-12 meter.

Sebaran lapisan batubara tersebut dilihat dari susunan statigrafi dan

struktur geologi yang berkembang, sebagian ada yang tersingkap

dipermukaan dan ada yang menerus hingga pada kedalaman lebih

dari 500 meter, mengikuti pola lipatan dan pesesaran.

Berikut bentuk sebaran lateral statigrafi dilihat pada gambar:

Sumber: dinas perindagkopnaker sawahlunto


Gambar 5. Statigrafi batuan sawahlunto

6. Iklim dan curah hujan

Faktor iklim dan cuaca sangat berpengaruh dalam proses

penambangan teruaama pada pertambangan terbuka. Wilayah


14

Sawahlunto umumnya sama dengan daerah lainnya di Indonesia yakni

memiliki iklim tropis dengan temperatur udara berkisar antara 22 -

27C dan mengakami dua musim, yaitu musim hujan dan musim

kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan November sampai dengan juni

dengan curah hujan rata- rata 230.067 mm dengan jumlah curah hujan

rata- rata 171 pertahun, data diperoleh dari dinas perindagkopnaker kota

Sawahlunto dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014.

7. Kualitas batubara

Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang

terbentuk secara alamiah dari sisa- siasa tumbuhan (UU NO 4 Tahun

2009). Sedangkan menurut , wolf, 1984) batubara adalah batuan sedimen

(padatan) yang dapat terbakar berasal dari tumbuhan, bewarna coklat

sampai dengan hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika

dan kimia sehigga mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.

Pembentukan batubara diawali dengan tahapan diagenesis

(humifikasi), dimana sisa- sisa tumbuhan yang telah mati tertimbun oleh

lapisan sedimen, mengalami humifikasi (penggambutan) oleh mikroba,

dimana bakteri yang berperan yaiu bakteri aerob dan anaerob serta

jamur, bakteri aerob berfungsi mengurai unsur karbon (C), nitrogen (N),

dan karbon dioksida (C02) yang terdapat dalam tumbuhan, sedangkan

bakteri anaerob menguraikan unsur hidrokarbon (CH), asam (acid), serta

alkohol (C2O5OH) pada material tumbuhan. proses ini berlangsung

hingga kedalaman 10 meter, dengan keluaran kualitas batubara lignit


15

(60%C). Tahapan selanjutnya metamorphism (coalification/

pembatubaraan), dimana pada tahapan ini tidak ada lagi aktivitas

organisme, yang berperan pada tahapan ini adalah pengaruh dari

peningkatan temperatur dan tekanan akibat dari semakin kedalamnya

unsur organik tertimbun. Terjadi peningkatan kualitas batubara mulai

dari lignit sampai dengan antrasit, seiring kenaikan rank batubara maka

terjadi pula kenaikan unsur karbon, nilai reflektan, nilai kalori, serta

terjadi penurunan kandungan air, vollati matter, hidrogen, dan oksigen.

Proses ini berlangsung pada ke dalaman di bawah 10 meter.

Batubara ombilin menurut klasifiksi ASTM (American society for

testing and material) tergolong pada tingkat batubara bituminus medium

vollatil dengan kalori berkisar antara 6800-7200 Kkal/kg. Penentuan

kualitas batubara diperoleh dari analisis kimia yang dilakukan; yaitu

analisis proksimat, analisis ultimat, serta anlisi lainnya. Analisis

proksimat adapun parameternya yang dilakukan adalah uji kadar air

bawaan (inherent moiuture), kadar abu (ash content), kadar zat terbang

(volatil matter), kadar karbon tertambat (fix carbon), dan analisis

ultimate (unsur- unsur pembentuk batubara) meliputi analisi total sulfur,

nitrogen, karbon, klorin, dan oksigen. Hasil analisis batubara ombilin

dappat dilihat tabel 2 berikut;

Tabel 2. Kualitas batubara ombilin

N PARAMETER RATA- SATUAN


O RATA
1 Total moiuture 11 %
2 Proximate analisis (ADB)
16

> inherent moiture 6 %


> volatil matter 37 %
> ash Vontent 7 %
> Fix Carbon 50 %
3 Calori value (ADB) 6800 - 7200 Kkal/kg
4 Total sulfur 0.6 -1.0 %
5 Hardgrove grindability index 40 - 45
(HGI)
6 Coal rank Bituminus -
Keterangan:
1) As received (Ar), adalah batubara yang masih
mengandung kadungan air total
2) Air dried base (ADB), adalah kondisibatubara yang telah
dikeringkan tetapi mash mengandung kandungan air
bawaan (inherent moisture)
3) Dry base (DB), adalah kondisi batubar kering atau telah
bebas dari kandungan airnya
4) Dry Ash Free (DAF), yaitu batubara yang hanya
mengandung volatil matter dan fix carbon
5) Dry Mineral MatterFree (DMMF), adalah kondisi
batubara yang bebas dari total moisture dan bahan organik
Sumber: PT. Bukit Asam UPO

8. Cadangan batubara

PT. Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin memiliki cadangan

batubara sebesar 101.996.870 ton, yang terdiri atas 85.736.375 ton

cadangan terukur dan 16.260.495 ton cadangan tertunjuk yang tersebar

pada wilayah penambangan Ombilin I (Tanah Hitam, Kandis, Langkok,

Sawah Rasau V, Sawahluwung), Ombilin II (Waringin dan Sugar),

Ombilin III (Sigalut). Cadangan batubara yang terdapat di Sawahluwung

lapisan C berkisar 1.800.000 ton.

Berikut tabel cadangan batubara tambang dalam unit pertambangan

ombilin:

Tabel 3. Cadangan batubara tambang dalam ombilin


17

CADANGAN GEOLOGI CADANGA


KRITERIA
N
NO LOKASI PENAMBA
TERUKUR TERUNJUK JUMLAH TERTAMB
NGAN
ANG
I OMBILIN I
Sawah rasau v
Tamda 1,900,000 - 1,900,000 423,200
( lapisan C )
Sawah luwung:
lapisan A Tamda 416,700 - 416,700 220,000
lapisan C Tamda 1,800,000 - 1,800,000 439,600
II OMBILIN II
Waringin - Sugar
lapisan A Tamda 14,572,000 4,650,000 19,222,000 2,706,000
lapisan C Tamda 42,193,000 1,933,000 44,126,000 31,970,000
III OMBILIN III
Sigalut:
lapisan A Tamda 17,340,000 8,102,000 25,442,000 6,570,000
lapisan C Tamda 12,075,000 6,473,000 18,548,000 657,500
JUMLAH 90,296,700 21,158,000 111,454,700 42,986,300

Sumber: bagian perencanaan tambang ombilin

9. Metode penambangan yang pernah dilakukan

Metode penambanagn bawah tanah yang pernah diterapkan dan

metode yang diterapkan saat ini oleh PT. Bukit Asam UPO dalam

penambangan batubara bawah tanah adalah :

a. Sand filling (1892-1981)

Dalam metode sand filling, pengambilan batubara dilakukan

dengan pemboran dan peledakan yang dibantu dengan belincong.

Batubara yang berhasil dipisahkan dari batuan induk dikeluarkan

menggunakan chain conveyor dan alat angkut lori. Pada metode

sand filling penambangan dilakukan searah lubang bukaan, dimana

lubang bukaan bekas penambangan diisi dengan pasir. Pengisian


18

dilakukan dengan cara memompakan pulm (campuran pasir dan air)

dengan perbandingan 5:1, pengisian pasir diakukan setiap kemajuan

lubang bukaan 3- 4 meter. Antara pengisian pasir dengan permukaan

kerja dipasang penyekat pembatas dari rumput ilalang, tikar, atau

jerami yang diberi bilah- bilah bambu sehingga air dari pulm akan

keluar melalui penyekat, sehingga air di alirkan ke sump yang telah

disediakan, yang kemudian dipompakan keluar permukaan dengan

bantuan pompa.

b. Longwall

1) Long wall secara manual (1982 - 1989)

Penambangan batubara menggunakan metode longwall

secara manual pada awalnya menggunakan penyanggaan

hydrulic proof dan bar (batangan baja) dengan jarak antara

pasangan penyangga adalah 1 meter. Satu pasang bar disangga

oleh 5 sampai 6 proof. Pengendalian runtuhan dipasang midwall

dan pack, yaitu susunan kayu bulat midwall dipasang setiap 10 -

15 meter dimuka kerja, sedangkan pack dipasang pada tail gate

dan main gate. Peralatan Penambangan yang digunakan seperti

belincong dan jack hammer. Untuk pemuatan dan pengangkutan

menggunakan sekop dan chain conveyor serta belt conveyor.

2) Long wall secara semi mekanis (1985 - 1989)

Pada metode penambangan batubara bawah tanah long

wall secara semi mekanis, pengambilan batubara dipermukaan


19

kerja dilakukan menggunakan mesin potong double ended

rangging drum yang kemudian dijatuhkan oleh sheare ke

armoured flexible conveyor (AFC), untuk diarahkan menuju

stage loader kemudian diangkut keluar permukaan kerja

menggunakan belt conveyor. Alat angkut akan dengan bantuan

desfort chock, selain mendorong armoured face conveyor,

desfoer chock juga berfungsi sebagai penyangga. Untuk

melindungi pekerja dan peralatan yang digunakan proof dan bar

pada bagian atas nya ditambah batangan baja.

3) Long wall secara full mekanis (1986)

Penambangan dilakukan apabila pembutan lubang maju

oleh road header telah mambentuk panel-panel penambangan.

Untuk pemotongan batubara digunakan double ended ranging

drum shearer (DERDS), sedangkan pemuatannya dilakukan

langsung oleh shearer ke AFC menuju stage loader selanjutnya

ditumpahkan ke belt conveyor. Jenis penyanggaan yang

digunakan adalah power roof support (PRS) yang merupakan

penyangga bertenaga hidraulic untuk menahan beban atap yang

akan runtuh. PRS digerakan sesegera mungkin mengikuti

kemajuan dari alat gali shearer dan mendorong AFC dengan

hidraulic ram yang ada pada PRS. Arah penambangan dari

ujung long wall lalu mundur ke arah lubang bukaan awal, dan

bagian belakang lapisan batubara yang telah diambil dibiarkan


20

runtuh. Penambangan satu bagian long wall dihentikan saat

mencapai lubang utama dengan menyisakan barier pillar.

Gambaran metode penambangan long wall full mekanis dan

peralatan mekanis DERDS dan PRS dapat dilihat pada gambar

6 dan 7.

Sumber:
Pt. Bukit
Asam
UPO
Gambar
6. Metode

penambangan longwall retreating full mechanized

Sumber:
Pt. Bukit
Asam
UPO
Gambar
7: double
ended ranging drumshearer (DERDS) dan power roof support (PRS)
c. Room and pillar

Room and pillar adalah metode penambangan yang

dilakukan dengan membuat ruangan yang dibatasi oleh pillar

arang (tiang) penambangan secara permanen atau semi permanen

dari badan bijih itu sendiri. Penambangan dilakukan secara maju

(advance). Metode room and pillar adalah metode yang sekarag

diterapkan pada penambangan batubara sawah luwung. Pembuatan


21

terowongan sekaligus pengambilan batubara dengan metode ini

dahulunya menggunakan alat mekanis road header tipe miner dan

dosco. Untuk sekarang alat mekanis road header tidak digunakan

untuk proses penambangan dikarenakan suku cadang yang sulit

didapatkan dan ketiadaan teknisi perbaikannya walaupun alat ini

masih dapat beroperasi.

C. Deskripsi kegitan industri

Kegiatan penambangan batubara sawahluwung oleh PT. Bukit Asam

(persero) tbk Unit Pertambangan Ombilin adalah menggunakan metode

penambangan tambang bawah tanah (underground mining). Berikut aktivitas

egiatan ditambang batuabara PT Bukit Asam Unit Pertambangan ombilin

Sawah Luwung:

1. Satuan kerja KESTAMNGIN (keselamatan tambang dan

peranginan)

Kegiatn yang dilakukan oleh satuan kerja KESTAMNGIN adalah:

a) Pengecekan mesin - mesin untuk ventilasi (peranginan)

b) Pengecekan kualitas dan kuntitas udara dalam terowongan dan front

kerja

c) Perbaikan duck pada front penambangan dan pemasangan jaringan

ventilasi pada front penambangan baru.

d) Pengontrolan gas-gas dalam tambang.

PT. BA Unit Pertambangan Ombilin menerapkan sistem ventilasi

tambang adalah sistem hisap (exhaust) dengan menggunakan dua unit


22

kipas angin induk merk canadian buffalo bekapasitas 150 Hp. Dalam

penggunaannya kedua mesin induk tidak digunakan sekaligus atau

bersamaan. Tetapi hanya di opersikan satu dan yang lain hanya menjadi

backup, jika terjadi kerusakan mendadak pada mesin kipas angin

pertama atau penggunaannya bergantian setiap bulannya. Hal ini

dilakukan agar perawatan terhadap kipas angin dapat dilakukan secara

bergantian.

Untuk menjamin pasokan udara dengan kuantitas yang baik sampai

ke front penambangan, maka dibantu oleh tiga unit kipas angin bantu

(auxiliary fan ) bertipe hembus (forcing) merk Engart dengan kapasitas

masing- maisng 25 Hp, 40 Hp, dan 50 Hp (Horse Power). Dengan

adanya kipas angin bantu ini maka kebutuhan udara pada front

penambangan maka gas hasil peledakan akan cepat terdilusi sehingga

waktu kerja dapat efektif. Lancarnya aliran udara menuju front

penambangan dapat menetralkan gas-gas berbahaya yang ada pada front

penambangan, sehingga tidak membahayakan pekerja.

Berikut gambar kipas angin induk.


23

Sumber: dokumentasi penulis

Gambar 8: mesin angin hisap 150 Hp

Larangan-larangan yang harus diperhatikan ketika memasuki lubang

tambang:

a) Dilarang merokok di dalam tambang

b) Dilarang membawa hp kedalam tambang

c) Dilarang menyentuh peralatan yang telah diberi tanda untuk

tidak menyentuhnya

d) Dilarang membawa peralatan yang dapat menimbulkan

percikan api ke dalam lubang tambang.

2. Satuan Kerja Layanan dan Rawatan

Satuan kerja ini memiliki dua tugas, pertama bagian layanan yang

bertugas menyiapkan segala keperluan alat dan material tambang dalam,

meliputi: perencanaan kebutuhan harian material, suku cadang, perkakas,

serta pengangkutan hasil galian. kedua bagian rawatan tugasnya merawat


24

infrastruktur tambang seperti; perawatan lubang bukaan, perawatan

penyangga, perawatan rel lori, serta penirisan tambang/pemompaan air

dalam tamang.

3. Satuan Kerja SINTRIK (mesin dan listrik)

Satuan kerja permesinan dan kelistrikan terbagi atas dua bagian

yaitu yang pertama mekanik, bertugas sebagai perawatan dan perbaikan,

melakukan instalasi atau pembongkaran peralatan, serta melakukan

modifikasi terhadap peralatan mekanik di tabang seperti; belt conveyor,

chain conveyor, pipa, kompresor, dan pompa. Kedua bagian kelistrikan,

bertugas sebagai perawatan dan perbaikan komponen kelistrikan

ditambang serta segala kebutuhan terhadap keperluan listrik.

4. Satuan Kerja K3L (kesehatan keselamatan kerja dan lingkungan)

Satuan kerja ini lebih kepada pemberian pembekalan teori atau

pengarahan kepada karyawan yang bekerja ataupun mahasiswa yang

melakuakan PLI atau penalitian di PT. Bukit Asam UPO perihal

bagaimana bekerja aman dan selamat, dan langkah antisipasi yang harus

dilakukan jika benar terjadi kecelakaan, serta pentingnya pemakaian alat

pelindung diri (APD) secara lengkap. Selain itu satuan kerja ini juga

bertugas merencanakan bentuk pengembalian lahan bekas penambangan

(reklamasi) sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap

lingkungan dan juga bentuk kontribusi perusahaan terhadap masyarakat

disekitar penambangan seperti CSR (corporate social responsibility).


25

5. Satuan kerja operasional

Dalam pelepasan endapan batubara dari batuan induk pada

penambangan batubara bawah tanah Sawah Luwung, pada saat sekarang

perusahaan menggunakan metode peledakan, dibantu dengan jack

hammer sebagai alat pembongkaran dan pemecah bongkahan batubara

yang besar hasil dari peledakan, sebelum diangkut menggunakan chain

conveyor dan belt conveyor menuju stock file. adapun retetan kegiatan

dalam penambangan dan pembuatan lubang maju pada penambangan

Sawah Luwung sebagai berikut:

a) Blasting (peledakan)

Peledakan pada tambang bawah tanah PT. Bukit Asam unit

pertambangan ombilin menggunakan peledakan listrik. Dengan alur

proses peledakan sebagai berikut:

1) Drilling (pengeboran)

Pembuatan lubang ledak merupakan kegiatan awal yang

harus dilakukan sebelum melakukan peledakan. Pembuatan

lubang ledak pada kegiatan operasional di tambnag Sawah

Lwung menggunakan mesin bor angin dan mesin bor listrik,

dengan jumlah lubang ledak lebih kurang 12 lobang untuk

setiap kali peledakan lobang maju.

Dengan rata- rata lebar lubang bukaan 4,5 meter, dan

tinggi 3,2 meter maka kedalaman lubang ledak antara 1,2 meter

hingga 1,5 meter spasi rata - rata 1 meter, jarak lubang ledak
26

dan pinggir terowongan 0,6 meter.

2) pengisian bahan peledak dan pemasangan sumbu ledak

Panjang isian bahan peledakan adalah 0,4 m - 0,6 m dan

panjang stemming adalah 0,65 m - 0,85 m. Bahan peledak yang

digunakan adalah permitted powergel. Sedangkan material

stemming adalah lempung.

3) Sebelum peledakan , peledakan, dan selesai peledakan.

Sebelum peledakan dilakukan semua karyawan dan juru

ledak harus berada dalam radius yang yang tidak berdampak

dari ledakan, aba- aba diberikan oleh juru ledak kemudian

penghubungan led wire ke blasting mechine sampai indikator

lampu warna merah menyala pada blasting mechine tanda

peledakan siap dilakukan.

Setelah peledakan dilakukan tunggu beberapa menit

sebelum melakukan pengecekan kandungan gas, kegiatan ini

wajib dilakukan agar terhindar dari keracunan gas metan.

Setelah semua kondisi aman barulah pengangkutan batubara

keluar front.

b) Pembongkaran batubara secara manual dan pemuatannya pada

alat angkut

Alat yang biasa digunakan pada pembongkaran secara manual

adalah jack hammer dan belincong, kegiatan ini dilakukan agar

mempermudah dalam pemasangan penyanggaan karena masih ada


27

bongkahan batubara pada bagian sudut atas dan sudut bawah yang

masih belum terbongkar sepenuhnya setelah dilakukan peledakan.

c) Pengangkutan batubara (tranportasi)

Bentuk transportasi batubara dan material yang tersedia pada

tambang batubara bawah tanah sawah luwung:

1) Lori, merupakan alat transportasi untuk pengangkutan alat dan

material yang diperlukan dalam proses penambangan, seperti

pengangkutan material untuk penyanggaan, serta material untuk

belt conveyor atau chain conveyor atau material lain.

2) belt conveyor, merupakan alat untuk mentransport batubara dari

chain conveyor atau gerobak menuju stock file.

3) Chain conveyor, merupakan alat transportasi batubara dari front

penambangan menuju belt conveyor

4) Gerobak, berfungsi sebagai trasportasi batubara dari front

penambangan menuju belt conveyor.

d) Penyanggaan

Penyanggaan dilakukan agar lubang bukaan tetap stabil,

keselamatan dan kenyamanan bekerja serta alat dapat terpelihara.

Penyanggaan dilakukan setiap kemajuan lubanag bukaan pada front

penambangan sejauh 1.3 meter.

berikut proses dan komponen penyanggaan:

1) Setelah peledakan dilakukan pemasangan dua pole (tiang

penyangga) ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi 3.2 meter.


28

2) Pemasangan penyangga bagian atas terowongan (I-beam) yang

berbahan baja.

3) Pemasangan stupling pada bagian atas I-beam

4) Serta pemasangan pasak antara dua pole pada bagain kiri dan

kanan.

Adapun bentuk penyanggaan lain yang terdapat di lubanag

bukaan penambangan Sawah Luwung:

1) Penyanggaan archis

Penyanggaan archis dibuat pad aterowongan utama yang

berfungsi sebagai terowongan transprtasi material, bahan dan

karyawan. Berikut gambar bentuk terowongan archis:


29

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 9. Penyangga archis

2) Penyanggaan rock bolting.

Penyanggaan rock bollting terdapat pada zona bidang

lemah seperti terdapat patahan pada massa batuan di

terowongan. Berikut gambar penyangga rock bolting:

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 10. Penyanggaan rock bolting

3) Penyanggaan beton

Penyanggaan beton hanya dibuat pada bagian depan

permukaan terowongan. Bentuk dari dimensi terwongan ini


30

seperti tapal kuda. Berikut gambar penyanggaan beton:

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 11. Penyanggaan beton

4) Penyanggaan cribbing

Merupakan penyanggaan yang di pasang sebagai

pencegah keruntuhan, biasanya penyanggaan cribbing dipasang

pada persimpangan - persimpangan terowongan.

D. Perencanaan kegiatan PLI

Pelaksanaan kegiatan praktek lapangan industri di PT. Bukit Asam

(Persero) Tbk Unit Pertambangan Ombilin direncanakan dari tanggal 18

jannuari - 18 maret 2016. Dalam kegiatan praktek lapangan industri di

butuhkan suatu rencana kerja agar kegiatan tersebut dapat termaksimalkan,

berikut tabel perencanaan kagitan PLI:

Tabel 4. Rencana kegiatan PLI


31

N Jenis Kiatan Minggu ke-


O
1 2 3 4 5 6 7 8

1 Orientasi perusahaan
2 Pengamatan lapangan
3 Pengambilan dan
pengumpulan data
4 Analisis dan
penyusunan laporan
Sumber: penulis

E. Pelaksanaan kegitan PLI

Kegiatan pelaksanaan praktek lapangan industri di PT. Bukit Asam

(persero) Unit Pertambangan Ombilin berjalan dengan baik. Berikut

beberapa kegiatan yang penulis ikuti selama melakukan praktek lapangan

industri di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Unit Pertambangan Ombilin.

1. Pengurasan air

Disebabkan kerusakan pompa terjadi pada tambang bawah tanah

ombilin menyebabkan sebagian lobang bukaan tertutup air dan tidak bisa

dilewati. Diantara lobang bukaan yang tertutup air adalah jalur belt

conveyor dan termasuk lobang akses menuju front penambangan yang

menyebabkan aktivitas penambangan batubara terhanti.

Agar aktivitas penambangan kembali dapat dilakukan, maka air

yang berasal dari dalam tanah, dan pelapisan batuan yang menggenangi

lobang bukaan yang menyebabkan belt conveyor tidak dapat

dioperasikan serta jalan menuju front penambangan yang tidak dapat

diakses maka harus sesegera mungkin dipompakan keluar tambang.


32

Pemompaan dilakukan oleh pompa ap-x seperti gambar berikut:

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 12. Pemompaan air keluar tambang

2. Pemasangan bearing kipas angin

Peranginan merupakan bagian dari kegiatan penambangan bawah

tanah yang sangat berperan penting. karena menyangkut kehidupan

pekerja tambang dimana udara sangat dibutuhkan bagi pernafasan

manusia. Tidak hanya itu kalancaran kualitas dan kuantitas udara juga

berpengaruh pada optimalisasi kegitan penambangan, serta keselamatan

pekerja dari gas gas berbahaya yang ada dalam lobang tambang.

Mesin angin canadian buffalo berkapasitas 150 hp dengan sistem


33

hisap digunakan untuk memenuhi kebutuhan udara kedalam tambang.

Dengan peran yang begitu penting maka penggantian bearing mesin

dilakukan agar putaran kipas angin lancar. Bearing sendiri berfungsi

menjaga putaran sumbu kipas angin berputar dengan baik. Berikut

gambar pekerjaan penggantian bearing mesin angin canadian buffalo:

Sumber: dokumentasi penuis


Gambar 13: kegiatan penggantian bearing mesin angin
canadian buffaloo

3. Penggantian V-belt kipas angin

Tidak kalah pentingnya dengan bearing, penggantian v-belt mesin

angin juga dilakukan agar kerja mesin angin optimal. v-belt sendiri

berfungsi sebagai penghubung motor dengan baling kipas angin. Jika v-

belt dalam keadaan kencang maka putaran dari motor dapat memutar

baling kipas angin dengan lebih baik dan efektif.

Berikut gambar v-belt kipas angin:


34
35

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 14. v-belt kipas angian yang akan dipasang

4. Survey geologi pada daerah langkok

Survey geologi dilakukan sebagai langkah awal dalam rencana

pembukaan tambang baru PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin.

Survey geologi dilakukan untuk mendapatkan bentuk topografi terkini

dari daerah langkok. Survey geologi untuk saat ini dilakukan sebagai

perbandingan bentuk topografi terkini dengan bentuk topografi daerah

langkok yang telah dilakukan terdahulu. Daerah langkok sendiri

merupakan bagian dari daerah izin usaha penambangan ombilin. Geologi

daerah langkok tidak mengalami jauh perubahan walaupun sudah

dilakukan penambangan rakyat pada daereh tersebut. Rencana

penambangan yang dilakukan adalah membuka tambang terbuka terlebih

dahulu, selanjutnya baru dilakukan tambang bawah tanah.

5. Melakukan analisis kualitas batubara

Analisis kualitas batubara dilakukan untuk mengetahui kandungan

unsur batubara serta kelas dari batubara itu sendiri. Diantara analisis

yang dilkukan adalah analisis total mouisture, inherent mouisture, dan

analisi ash contennt. Analisis total mouisture adalah jumlah kandungan

air yang terdapat pada batubara, dalam analisis yang dilakukan

didapatkan total moisturenya sebesar 5,517%. Analisis inherent moisture

adalah air yang terikat dalam rongga - rongga serta pori- pori batubara

yangrelatif kecil dimana kandungan IM yang didapat sebesar 5,344%.

Kandungan TM dan IM batubara ombilin tergolong sedikit sehingga


36

tergolong baik. Dan juga kadar abu (ash content) adalah setelah batubara

dibakar sempurna akan terdapat material yang tersisa. Kadar abu yang

terdapat setelah dilakukan analisis adalah 13,1125%. Berikut gambar

ketika melakukan kegiatan analisis kualitas batubara:


37
38

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 15. Kegiatan analisis kualitas batubara

6. Pengecekan kualitas udara dalam tambang

Pengecekan kualitas udara dalam tambang bawah tanah dilakukan

sebelum melakukan kegiatan pengurasan air yang merendam

terowonagan, pengecekan dilakukan demi keselamatan pekerja untuk

mengetahui adanya gas berbahaya seperti metan. Pengecekan dilakukan

menggunakan multi gas detektor, yang secara otomatis memberikan

peringatan berupa lampu yang mengedip - ngedip seraya mengeluarkan

bunyi beep apabila mendeteksi adanya gas berbahaya seperti metan,

H2S, dan karbonmonoksida.

Alat ini juga dapat menentukan kecepatan udara yang mengalir

dalam terowongan. Pada saat dilkukan pengecekan tidak terdapat gas

metan, sulfur dan juga karbonmonoksida serta jumlah udara yang

mengalir 20,9 masih sesuai dengan batas minimum yang ditentukan.

Berikut gambar multi gas detektor:


39

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 16. Multi gas detektor

7. Perawatan pompa berupa penggantian bearing dan pemberian

gomok

Pompa merupakan mesin yang berfungsi memindahkan fluida dari

suatu tempat ketempat yang lainnya dengan jalan menghisap dari sumber

dan menekan ke tempat pemindahan. Pemompaan air dari dalam

tambang dilakukan agar front tambang kembali dapat di akses karena air

menutupi sebagian terowongan. Perawatan yang dilakukan terhadap

pompa adalah berupa penggantian bearing, bearing berfungsi agar

putaran pompa dapat bekerja dengan baik. Berikut gambar 17


40

penggantian bearing pompa.

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 17. Perawatan pompa

8. Perawatan penyangga

Rusaknya bagian samping terowongan (pagaran) dan bagian atap

terowongan (gambangan) yang terbuat dari kayu, mengalami pelapukan

sehingga tidak lagi maksimal dalam menahan jika terjadi ambrukan

terowongan, dan juga perawatan dilakukan karena semakin menjauhnya

dinding batuan terowongan dari tiang penyangga karena ambruk akibat

tidak lagi kompak terhadap batuan induk dan akibat pengaruh dari air

pada batuan, maka perlu dilakukan perawatan sehingga terowongan


41

aman untuk dilalui oleh pekerja ataupun lory.

Bentuk perawatan yang dilkukan adalah dengan mengganti kayu

penahan pada bagian pagaran dan juga gambangan. Selain itu juga

dilakukan pemberian stupling pada bagian dinding atau atap terowongan

yang dinding batuannya telah jauh dari penyangga hal ini dimaksudkan

agar tidak mengalami keambrukan lagi, dan juga pemasangan

gambangan baru antara tiang- tiang penyangga.

Berikut gambar gambangan yang rusak serta keambrukan dinding

terowongan dan juga gambar dari kegiatan perbaikan penyangga pada

gambar 18 dan gambar 19:


42

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 18. Terowongan yang mengalami kerusakan dan
dinding terowongan yang semakin menjauh dari tiang penyangga
Berikut gambar perawatan yang dilakukan terhadap penyagga pada

tambang dalam Sawah Luwung.

Sumber: dokumentasi penulis


Gambar 19. Perawatan penyangga

F. Hambatan dan penyelesaiaan

1. Tidak lengkapnya alat pelindung diri penulis berupa safty boots dan

headlamp, solusinya untuk safety boots penulis meminjam milik

karyawan yang memiliki safety boots lebih dari satu, sedangkan

headlamp perusahaan yang menyediakan.

2. Alat pengujian terbatas seperti multi gas detektor, penyelesaiannya

pemakaian alat secara bergantian.

G. Temuan menarik

1. Saat penulis memesuki kegiatan praktek lapangan industri perusahaan

mengalami slow down, sehingga penulis harus berfikir ulang dalam


43

pengambilan tema pelaporan kegiatan PLI.

2. Kerusakan komponen alat yang begitu cepat, akibat kerja mesin yang

begitu keras sebagai upaya pengeringan lubang bukaan yang terendam

air. Berbagai penggantian komponen pompa harus setiap kali dilakukan

dalam waktu yang hampir berdekatan.

3. Adanya perantara untuk melakukan analisis kualitas batubara antara

perusahaan dan pembeli.