Anda di halaman 1dari 20

COMPOUNDING & DISPENSING

Oleh:

Ni Wayan Deniariasih (1308515053)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
1. RESEP
Resep yang diperoleh adalah sebagai berikut:

dr. Mitra Sp. JP


SIP: 129/DIKES/2009
Jl. Raya Sesetan No. 98
0361 7787788

Denpasar, 15-01-2014

R/ Ospen 250 mg No. LX


S 2 dd I

R/ Fragoxin No. XV
S 1 dd

R/ Farsix tab No XV
S 1 dd

R/ Cardioten tab No. XXX


S 1 dd 1

Pro : Sika Ali


Umur : dws
Alamat : Sesetan

2. SKRINING ADMINISTRASI
Hasil skrining administrasi yang dilakukan pada resep di atas adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Persyaratan Administratif Resep
KELENGKAPAN RESEP ADA TIDAK ADA
Nama
SIP
Alamat rumah
Identitas dokter
Alamat praktek
No Telp/HP
Hari dan jam kerja
Simbol R/
Superscriptio Nama Kota
Tanggal resep
Nama obat
Inscriptio Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Subscriptio Bentuk sediaan obat (BSO)
Signatura Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Waktu minum obat
Informasi lain
Paraf
Penutup
Tanda tangan
Nama
Alamat
Identitas pasien Umur
Jenis kelamin
BB

Pada resep di atas identitas dokter telah tercantum (nama dokter, SIP, alamat praktek, no
telepon sehingga resep ini dapat dikerjakan. Pada resep ini telah disebutkan bentuk dari
masing-masing sediaan yang dibuat, yakni 4 sediaan dalam bentuk tablet. Namun, dalam
resep ini tidak mencantumkan semua kekuatan atau potensi obat. Kekuatan atau potensi obat
diperlukan untuk mengetahui dosis yang diberikan kepada pasien sehingga dapat disesuaikan
antara kebutuhan dosis dengan indikasi untuk setiap tahapan terapi yang dijalani pasien,
sehingga hal ini harus dikonsultasikan dengan dokter penulis resep.
Jika dilihat dari skrining identitas pasien, resep tersebut hanya mencantumkan nama,
alamat, dan umur (tidak jelas karena hanya dituliskan dewasa). Jenis kelamin, dan berat
badan, serta umur yang pasti pada resep tidak tercantumkan data-data tersebut sehingga perlu
ditanyakan kembali kepada pembawa resep:
Apoteker :Maaf pak, resep ini untuk siapa?
Pembawa resep :Ini resep untuk anak saya sendiri, Dik.
Apoteker :Kalau boleh tahu, berapa umur bapak ? (untuk memastikan ketepatan umur
pasien) ? dan berapa berat badannya ?
Pembawa resep :Tahun ini umur saya 55 tahun Dik, beratnya 70 kg.
Apoteker :Mohon maaf pak, kalau boleh kami tahu dimana alamat bapak dan no
telepon yang dapat kami hubungi? Ini kami perlukan untuk kelengkapan
administrasi kami
Pembawa resep :Alamat saya di Jalan Raya Sesetan No 69, Denpasar. No telepon rumah
(0361) 954321.
Apoteker :Terima kasih pak, ini no antrian bapak, mohon ditunggu sebentar ya pak,
nanti nama bapak dan nomor antrian akan kami panggil.
Setelah Apoteker bertanya kepada pembawa resep mengenai identitas pasien (seperti
umur dan berat badan) maka diketahui bahwa pasien berumur 65 tahun, dan berat badan 70
kg.
3. SKRINING FARMASETIK DAN FARMAKOLOGI
a. Skrining farmasetik
Bentuk sediaan
Dalam resep sudah dicantumkan bentuk sediaan yang akan diberikan kepada pasien.
Dilihat dari umur pasien yaitu 55 tahun, bentuk sediaan yang diberikan sudah sesuai,
karena pasien dewasa.
Potensi/kekuatan
Penulisan kekuatan pada resep di atas tidak semua resep dicantumkan sehingga
digunakan dosis terendah dan disesuaikan antara bentuk sediaan dari nama obat yang
disebutkan dalam resep dengan sediaan yang ada di pasaran.. Bila perlu, apoteker harus
berkonsultasi kembali kepada dokter untuk memastikan bahwa potensi obat yang
dimaksud dokter memang sama dengan potensi obat yang beredar di pasaran.
Stabilitas
Resep tersebut terdiri dari 4 sediaan dengan bentuk sediaan tablet. Sediaan tersebut
disimpan pada suhu ruangan (15-30C) dan dijauhkan dari sinar matahari langsung.
Inkompatibilitas
Dalam resep yang diberikan tidak terdapat masalah inkompatibilitas karena dari 4
sediaan yang dalam sediaan tunggal (tidak dicampur).
b. Skrining Farmakologi
Berdasarkan penilaian terhadap indikasi dan efek farmakologi dari masing-masing obat
dalam resep di atas, apoteker menduga bahwa pasien tersebut menderita Rheumatic Heart
Disease with Heart Failure (Tabel 2).
Tabel 2. Indikasi masing-masing obat dalam resep dan anamnesa kefarmasian.
Obat
Anamnesa
dalam Kandungan Indikasi
Kefarmasian
Resep
Antibiotik Rheumatic
Ospen Phenoxymethyl Heart Disease
250 mg penicillin
with Heart
Fragoxin Pengobatan heart failure ringan-sedang; Failure
Digoxin
tablet atrial fibrillation (Lacy et al, 2010).
Mengatasi edema yang disebabkan oleh heart
Farsix failure dan hepatic atau penyakit ginjal; acute
Furosemid
tablet pulmonary edema; pengobatan hipertensi
(Lacy et al, 2011).
Cardioten Atenolol Pengobatan hipertensi; sendiri atau
kombinasi dengan agen lainnya; angina
tablet pectoris; pencegahan sekunder
postmyocardial infarction (Lacy et al, 2011).

4. ANALISIS SOAP
Identitas Pasien
Nama Pasien Sika Ali
Umur Dewasa (65 tahun)
Berat Badan 70 kg
Diagnosa Rheumatic Heart Disease with Heart Failure

a. Subjektif
Untuk memastikan anamnesa kefarmasian yang dilakukan, perlu dilakukan cross check
dengan menanyakan pasien mengenai kondisi yang dialami untuk mendapatkan data
subjektif. Hal-hal yang ditanyakan dapat dimasukkan ke dalam dialog dengan pasien sebagai
berikut:
Apoteker : Apakah bapak sedang terburu- buru? Boleh saya minta waktunya
sebentar Pak?
Pembawa resep : Tidak dik, boleh saja. Ada apa ya?
Apoteker : Saya ingin menanyakan beberapa hal untuk data pengobatan pasien di
apotek kami.
Pembawa resep : oh begitu, iya silahkan.
Apoteker : Baiklah Pak, maaf sebelumnya, kalau saya boleh tahu, keluhan apa yang
tadi bapak sampaikan ke dokter?
Pembawa resep : Begini dik, kaki saya mengalami bengkak, jantung terasa berdebar, dan
saya sudah mengalami hipertensi sejak 2 tahun yang lalu.
Apoteker : Apakah dokter memberikan penjelasan mengenai obat yang diresepkan
ini?
Pembawa resep : Tadi dokter mengatakan saya diberikan antibiotik, obat jantung, dan obat
untuk kaki saya yang bengkak.
Apoteker : Apakah bapak memiliki riwayat alergi?
Pembawa resep : saya rasa tidak Dik.
Apoteker : Oh begitu, kemudian apa yang dokter sampaikan mengenai cara
pemakaian obat Bapak?
Pembawa resep : Kata dokter, obat yang diberikan digunakan selama 1 bulan.
Apoteker : Kemudian apa yang dokter katakan/harapkan tentang obat Bapak?
Pembawa resep : Dokter mengatakan semoga saya lekas sembuh dan jangan lupa
meminum obatnya. Itu saja seingat saya dik.
Apoteker : Baiklah Pak, terima kasih atas informasi dan waktunya. Resep ini akan
segera kami siapkan. Silahkan menunggu di ruang tunggu yang telah
disediakan.

b. Objektif
Data objektif yang diperoleh adalah setelah pasien melakukan ECG terdapat fibrilasi pada
atrial..
Berdasarkan analisa indikasi dan efek farmakologi obat serta data subjektif dan objektif
yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Rheumatic Heart Disease
with Heart Failure.

Berikut adalah algoritma terapi dari Chronic Heart Failure


c. Assesment
Assesment dapat dilakukan dengan menggunakan analisa 4T1W ataupun dengan analisa
DRP. Namun tidak terdapat DRP pada resep tersebut

d. Plan
Resep tersebut mengalami permasalahan dalam potensi/ kekuatan obat yang tidak
tercantumkan sehingga resep tersebut perlu dikonsultasikan dengan dokter.

Compounding
Apabila resep telah dikonsultasikan dengan doketr penulis resep dan obat yang
diperlukan tersedia pada apotek tersebut maka selanjutnya dilakukan proses penyiapan obat,
yaitu:
Sediaan Ospen 250 mg tablet diberikan 60 biji untuk pengobatan selama 30 hari yang
dikemas pada klip obat dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 2 kali sehari 1
tablet setelah makan. KIE yang diberikan, yaitu penggunaan antibiotik ini harus sampai
habis.
Sediaan Fragoxin tablet diberikan dalam jumlah 15 biji untuk pengobatan selama 30
hari yang dikemas pada klip obat dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali
sehari tablet setelah makan.
Sediaan Farsix tablet diberikan dalam jumlah 15 biji untuk pengobatan selama 30 hari
yang dikemas pada klip obat dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali
sehari tablet setelah makan, diminum pada pagi hari.
Sediaan Cardioten tablet diberikan dalam jumlah 30 biji untuk pengobatan selama 30
hari yang dikemas pada klip obat dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali
sehari 1 tablet setelah makan.

Labeling
Etiket Ospen Tablet 250 mg Etiket Fragoxin Tablet

Apotek Mutiara Medika Apotek Mutiara Medika


Jl. Sekuta No. 108, Denpasar-Bali Jl. Sekuta No. 108, Denpasar-Bali
Telp: (0361) 271174 Telp: (0361) 271174

APA : Shinta Dewi A., S.Farm., Apt. APA : Shinta Dewi A., S.Farm., Apt.
SP : SIPA : 446/DIKES/93.V.SIPA/2012 SIPA : 446/DIKES/93.V.SIPA/2012

No. 09 Denpasar, 15-1-2014 No. 09 Denpasar, 15-1-2014


Sika Ali (65 tahun) Sika Ali (65 tahun)

2 x sehari 1 Tablet
Setelah makan 1 x sehari tablet
TTD Setelah makan
HARUS HABIS TTD
Etiket Farsix tablet Etiket Fenris

Apotek Mutiara Medika Apotek Mutiara Medika


Jl. Sekuta No. 108, Denpasar-Bali Jl. Sekuta No. 108, Denpasar-Bali
Telp: (0361) 271174 Telp: (0361) 271174

APA : Shinta Dewi A., S.Farm., Apt. APA : Shinta Dewi A., S.Farm., Apt.
SIPA : 446/DIKES/93.V.SIPA/2012 SIPA : 446/DIKES/93.V.SIPA/2012

No. 09 Denpasar, 15-1-2014 No. 09 Denpasar, 14-12-2013


Sika Ali(65 tahun) Sika Ali (65 tahun)

1 x sehari tablet 1 x sehari 1 tablet


Setelah makan, diminum pagi hari Setelah makan
TTD TTD

Dispensing
Penyerahan obat yang diresepkan kepada pasien disertai dengan pemberian KIE
mengenai cara penggunaan obat, aturan pakai obat, waktu penggunaan obat dan efek samping
yang mungkin akan muncul. Penyerahan obat dan pemberian KIE kepada pasien meliputi:
Sediaan Ospen 250 mg tablet diberikan 60 biji untuk pengobatan selama 30 hari dengan
keterangan aturan pemakaian obat yaitu 2 kali sehari 1 tablet setelah makan. KIE yang
diberikan, yaitu penggunaan antibiotik ini harus sampai habis.
Sediaan Fragoxin tablet diberikan dalam jumlah 15 biji untuk pengobatan selama 30
hari dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali sehari tablet setelah makan.
Sediaan Farsix tablet diberikan dalam jumlah 15 biji untuk pengobatan selama 30 hari
dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali sehari tablet setelah makan,
diminum pada pagi hari.
Sediaan Cardioten tablet diberikan dalam jumlah 30 biji untuk pengobatan selama 30
hari dengan keterangan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali sehari 1 tablet setelah makan.

Dialog Pemberian KIE kepada Pasien:


Apt : Bapak Sika Ali umur 65 tahun (pasien kemudian datang menghampiri
meja apoteker). Maaf menunggu lama Bapak, ini obat untuk Bapak sudah
siap. Obatnya ada 4 macam ya Pak, Ospen 250 mg tablet diberikan 60
biji denganaturan pemakaian obat yaitu 2 kali sehari 1 tablet setelah
makan dan dihabiskan. Sediaan Fragoxin tablet diberikan dalam jumlah
15 biji untuk pengobatan jantung Bapak dengan aturan pemakaian obat
yaitu 1 kali sehari tablet setelah makan. Sediaan Farsix tablet
diberikan dalam jumlah 15 biji untuk pengobatan bengkak pada kaki
bapak dengan aturan pemakaian obat yaitu 1 kali sehari tablet setelah
makan, diminum pada pagi hari.Sediaan Cardioten tablet untuk
hipertensi diberikan dalam jumlah 30 biji dengan aturan pemakaian obat
yaitu 1 kali sehari 1 tablet setelah makan. Obat-obat tersebut digunakan
selama 1 bulan ya Pak.
Pembawa resep : Jam berapa sebaiknya obat ini diberikan Dik ? Apakah cukup obat ini
diberikan untuk 1 bulan?
Apt : Obat-obat dengan aturan pakai 1 kali sehari diminum pada pagi hari, jam
berapa saja bapak boleh mengkonsumsinya. Jika saya boleh menyarankan,
bapak boleh mengkonsumsinya jam 7 pagi. Sedangkan obat yang
digunakan 2 kali sehari bapak bapak menggunakannya jam 7 pagi dan
malam.
Pembawa resep : Oh begitu, terimakasih atas penjelasannya ya Dik.
Apt : Terimakasih kembali Bapak, Setelah obat tersebut habis, sebaiknya
bapak kembali memeriksakan diri kembali ke dokter tersebut. Dan jangan
lupa obat tersebut disimpan pada suhu ruangan (15-30C) dan jauhkan dari
sinar matahari.
Pembawa resep : Wah terima kasih banyak ya Dik atas pelayanan dan informasinya. Kalau
begitu saya akan membayar obat ini di kasir. Terima kasih dik.
Apt : Terima kasih kembali. Semoga anak Ibu lekas sembuh.

Monitoring dan Evaluasi


Setelah pasien menerima obat, maka terdapat satu tahapan lagi yang perlu dilakukan
oleh apoteker yaitu monitoring dan evaluasi dari penggunaan obat. Hal ini bertujuan untuk
memantau kepatuhan pasien dan ketepatan pasien dalam menggunakan obat secara baik,
benar, dan tepat serta untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien setelah penggunaan obat.
Monitoring dan evaluasi bisa dilakukan melalui telepon sehingga dapat dinilai hasil terapi
yang dijalani, apakah terapi memberikan efek yang signifikan, tidak memberikan efek, atau
malah menimbulkan efek yang merugikan (adverse drug reaction) sehingga dapat dilakukan
tindakan-tindakan penanganan yang sesuai.
Medication Record
CATATAN PENGOBATAN PASIEN

Nama Pasien : Sika Ali


Umur : 65 tahun
Berat Badan : 70 kg
Alamat : Jl. Raya Sesetan No. 69 Denpasar
No Tlp/ Hp : (0361) 954321
Alergi :-
Kondisi lainnya :-
Tanggal Waktu Obat dan Dosis Rute Pemberian Obat Lain Nama Nama Paraf
yang Dokter/ No Apoteker/ Apoteker
Dikonsumsi Tlp No Tlp
15/11/14 18.00 Ospen 250 mg Oral - dr. Mitra Shinta Dewi
Fragoxin tablet Oral Sp.JP/ 0361- A., S.Farm.,
Farsix tablet Oral 7787788 Apt / (0361)
271174
Cardioten tablet Oral
DAFTAR PUSTAKA

DiPiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, and L. M Posey. 2008.


Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. New York: Mc Graw
Hill.

ISFI. 2009. Iso Indonesia Volume 44. Jakarta: PT ISFI.

Lacy, C.F., L.L. Armstrong, M.P. Goldman, and L.L. Lance. 2011. Drug Information
Handbook, 20th Edition. Hudson: Lexi-comp.
Lampiran 1. Spesifikasi Obat

A. Ancefa
Komposisi: Cefadroxil 125 mg/5 mL sirup kering (MIMS Indonesia)
Kelas/kategori farmakologi
Antibiotik, cephalosporin (generasi pertama) (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja
Cefadroxil memiliki aktivitas bakterisida dengan mengganggu tahap akhir sintesis
dinding sel bakteri melalui inaktivasi satu atau lebih dari penicillin-binding protein
dan menghambat cross-linking dari struktur peptidoglikan pada dinding sel bakteri.
Cefadroxil juga berperan dalam aktivasi dinding sel enzim autolitik yang dapat
menyebabkan lisis pada sel bakteri (Lacy et al., 2011).
Indikasi
infeksi bakteri yang disebabkan oleh Streptococcus beta-hemolytic grup A (Lacy et
al., 2011).
Kontraindikasi
Hipersensitifitas pada cefadroxil, komponen di dalam formula, dan cephalosforin
lainnya (Lacy et al., 2011).
Dosis
Dosis per oral
Dosis lazim untuk anak-anak adalah 30 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi 2 kali
sehari. Dosis maksimum 2 g untuk 1 hari (Lacy et al., 2011).
Kategori kehamilan
B (Lacy et al., 2011).
Perhatian
Pasien dengan gangguan ginjal berat. Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
riwayat alergi penisilin, khususnya reaksi IgE-mediated (anafilaksis, angioderma, dan
urtikaria) (Lacy et al., 2011).
Efek samping
Gastrointestinal, diare, sakit perut, anafilaksis, eritema, angioderma, dyspepsia (Lacy
et al., 2011).
Farmakodinamik/kinetik
Cefadroxil hampir sepenuhnya diserap dari saluran pencernaan. Setelah pemberian
dosis oral 500 mg dan 1 g, konsentrasi plasma puncaknya sekitar 16 dan 30
mikrogram/mL masing-masing diperoleh setelah pemberian 1,5 sampai 2 jam.
Pemberian dengan makanan tidak mempengaruhi penyerapan cefadroxil. Sekitar 20%
dari cefadroxil dilaporkan terikat pada protein plasma. Waktu paruh cefadroxil dalam
plasma adalah sekitar 1,5 jam dan berkepanjangan pada pasien dengan gangguan
ginjal. Cefadroxil secara luas didistribusikan ke jaringan tubuh dan cairan, melewati
plasenta dan muncul dalam ASI. Lebih dari 90% dari dosis cefadroxil dapat
diekskresikan dan tidak berubah dalam urin selama 24 jam oleh sekresi filtrasi
glomerulus dan tubular, konsentrasi puncak pada urin setelah pemberian 500 mg
adalah 1,8 mg/mL. Cefadroxil dihilangkan dengan hemodialisis. (Sweetman, 2009).
Interaksi obat
Probenesid menghambat sekresi sefalosporin sehingga memperpanjang dan
meningkatkan konsentrasi obat dalam tubuh (Lacy et al., 2011).

B. Mucera
Komposisi: Ambroxol HCl 15 mg/5 mL (MIMS Indonesia).
Kelas/kategori farmakologi
Mukolitik (metabolit bromheksin) (Sweetman, 2009).
Mekanisme kerja
Ambroksol digunakan sebagai mukolitikum (Tjay dan Rahardja, 2007). Ambroksol
merupakan metabolit aktif N-desmetil dari bromheksin yang diduga memiliki cara
kerja dan penggunaan yang sama dengan bromheksin (Ganiswarna, 2007).
Mekanismenya belum diketahui secara pasti, kemungkinan meningkatkan kuantitas
dan menurunkan viskositas sekresi trakeobronkial. Selain itu, kemungkinan juga
berperan sebagai ekspektoran, dengan meningkatkan mucociliary transport melalui
stimulasi motilitas silia. Ambroksol menstimulasi sintesis dan sekresi surfaktan paru
(sebagai aktivator surfaktan).
Indikasi
Pengobatan penyakit saluran pernafasan akut dan kronis yang disertai dengan sekresi
bronkial abdominal, penyakit bronkitis akut, asmatik bronkitis, dan asma bronkial
(Lacy et al., 2011).
Kontraindikasi
Pasien dengan gangguan hati atau ginjal (Lacy et al., 2011).
Dosis
Dosis per oral
Dewasa: 60-120 mg dalam 2 dosis terbagi (Sweetman, 2009; Lacy et al., 2011).
Perhatian
Gunakan dengan perhatian pada pasien ulkus peptikum, ibu hamil, dan menyusui
(Sweetman, 2009).
Efek samping
Menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan yang ringan dan reaksi alergi
berlebihan (frekuensi tidak diketahui) (Sweetman, 2009).
Farmakodinamik/kinetik
Ambroksol diabsopsi cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak setelah
pemberian oral tercapai setelah 2 jam. Dalam sebuah penelitian dengan pemberian
ambroksol dosis tunggal 30 mg per oral, konsentrasi plasma puncak rata-ratanya
adalah 88,8 ng/mL. Bioavailabilitas per oral 70-80%. Waktu paruh distribusinya 1,3
jam. Metabolismenya berupa asam dibromoantranilik yang memiliki aktivitas tidak
spesifik. Ekskresi ambroksol termasuk bifase, yaitu dengan waktu paruh sekitar 1,3
jam, dan waktu paruh sekitar 8,8 jam. Ekskresi utama melalui ginjal dengan klirens
ginjal sebesar 53 mL/menit dan 5-6% dosis diekskresikan dalam bentuk tidak berubah
dalam urin (Clark, 2004).
Pemberian Obat
Obat harus diberikan bersama dengan makanan (dikonsumsi segera setelah
makan) (Sweetman, 2009).

C. Indexon

Komposisi: Dexamethasone 0,5 mg (MIMS Indonesia).


Kelas/kategori farmakologi
Agen antiinflamasi, antiemetik, kortikosteroid (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja
Dexamethasone memiliki aktivitas glukokortikoid dan mineralkortikoid sehingga
memperlihatkan efek yang sangat beragam yang meliputi efek terhadap metabolisme
karbohidrat, protein, dan lipid. Efek terhadap kesetimbangan air dan elektrolit; dan
efek terhadap pemeliharaan fungsi berbagai sistem dalam tubuh. Kerja obat ini sangat
rumit dan bergantung pada kondisi hormonal terhadap metabolisme KH
(glukoneogenesis), dan efek antiinflamasi. Kortikosteroid bekerja melalui
interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur
suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintesis
protein lain. Protein terakhir inilah yang akan mengubah fungsi seluler organ target
sehingga diperoleh, misalnya efek glukoneogenesis, meningkatnya asam lemak,
meningkatnya reabsorpsi Na, meningkatnya reaktivitas pembuluh terhadap zat
vasoaktif, dan efek antiinflamasi (Sweetman, 2009).
Indikasi
Sebagai antiinflamasi dan kortikosteroid digunakan dalam dosis yang beragam untuk
berbagai penyakit dan beragam untuk individu yang berbeda, agar dapat dijamin rasio
manfaat dan resiko yang setinggi-tingginya (Sweetman, 2009).
Kontraindikasi
Hipersensitifitas pada dexamethasone atau komponen dari formulasinya, infeksi
jamur sistemik (kecuali sebagai terapi pemeliharaan dalam insufisiensi adrenal),
pemberian vaksin virus dengan pasien yang menerima dosis imunosupresif
deksametason, IM digunakan dalam thrombocytopenic idiopatik purpura, dan cerebral
malaria (Anderson et al, 2002; Lacy et al., 2011).
Dosis
Dosis lazim anak untuk satu kali dan satu hari pakai, yaitu 6-85 g/kg dan 24-340
g/kg (DepKes RI., 1979).
Kategori kehamilan
C (Lacy et al., 2011).
Perhatian
Pasien dengan penyakit tiroid, penyakit kardiovaskular, dibetes, glaucoma, katarak,
pasien dengan resiko osteoporosis, penurunan fungsi hati, dan penurunan fungsi ginjal
(Anderson et al, 2002; Lacy et al., 2011).
Efek samping
Efek samping dipengaruhi oleh dosis dan durasi termasuk cairan dan gangguan
elektrolit (dengan kemungkinan edema dan hipertensi), hiperglikemia dan glikosuria,
penyebaran herpes konjungtivitis, aktivasi tuberkulosis, osteoporosis, patah tulang,
miopati, ketidakteraturan menstruasi, gangguan perilaku, meningkat dengan dosis >
40 mg/hari), penyembuhan luka yang buruk, mata katarak, glaukoma, penghambatan
pertumbuhan (pada anak), hirsutisme, pseudotumor cerebri (terutama pada anak-
anak), dan sindrom cushing (moon face, buffalo hump, central obesitas, mudah
memar, jerawat, hirsutisme, dan striae), terapi berkepanjangan dapat menyebabkan
penekanan fungsi hipofisis-adrenal. Penarikan terlalu cepat terapi jangka panjang
dapat menyebabkan insufisiensi adrenal akut (misalnya, demam, mialgia, artralgia,
dan malaise) (Anderson et al, 2002; Sweetman, 2009).
Farmakodinamik/kinetik
Metabolisme obat terjadi di hati dan ekskresi obat lewat feses dan urin. Waktu paruh
eliminasi pada ginjal dengan fungsi normal adalah 1,8-3,5 jam; waktu paruh biologi
36-54 jam. Waktu puncak pada serum dengan pemberian secara oral adalah 1-2 jam,
secara intramuskular adalah 8 jam (Lacy et al., 2011).
Interaksi obat
Metabolisme efek substrat dari CYP3A4 (mayor), P-glikoprotein:menginduksi
CYP2A6(lemah), CYP2B6(lemah), CYP2C8 (lemah), CYP2C9 (lemah), CYP3A4
(kuat) (Lacy et al., 2011).
Pemberian obat
Diberikan dengan makanan (Lacy et al., 2011).

D. Trifedrin Tablet
Komposisi: Tripolidine HCl 2,5 mg, pseudoephedrine HCl 30 mg

A. Tripolidine HCL
Kelas/kategori farmakologi
Antihistamin, alkilamin (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja
Secara kompetitif memblok histamine pada sisi reseptor H2 (Tatro, 2003).
Indikasi
Triprolidin hidroklorida merupakan turunan alkilamina, adalah antihistamin
penenang dengan antimuskarinik dan mempunyai efek obat penenang ringan. Hal
ini digunakan untuk mengurangi gejala-gejala kondisi alergi termasuk urtikaria
dan rhinitis, dan gangguan kulit pruritis. Tripolidine hidroklorida sering digunakan
dalam kombinasi dengan pseudoefedrin hidroklorida untuk rhinitis dan untuk
pengobatan simtomatik batuk dan pilek (Sweetman, 2009).
Dosis
Penggunaan secara oral untuk dewasa 2,5 mg digunakan empat kali sehari
(Sweetman, 2009).
Farmakodinamik/kinetik
Setelah penyerapan dari saluran pencernaan, triprolidin dimetabolisme, sebuah
akun derivatif terkarboksilasi selama kurang lebih setengah dosis diekskresikan
dalam urin. Dilaporkan waktu paruh bervariasi dari 3 sampai 5 jam atau lebih.
Triprolidin didistribusikan ke dalam ASI (Sweetman, 2009).
Interaksi obat
Seperti pada antihistamin penenang secara umum (Sweetman, 2009).

B. Pseudoefedrin
Kelas/kategori farmakologi
Alpa/beta agonis (Lacy et al., 2011).
Mekanisme kerja
Secara langsung menstimulasi reseptor alfa adrenergik pada mukosa sistem
pernafasan dan menyebabkan vasokontriksi; secara langsung menstimulasi reseptor
beta adrenergik menyebabkan relaksasi bronkial, meningkatkan denyut jantung dan
kontraktilitas (Lacy et al., 2011).
Indikasi
Merupakan simpatomimetik yang digunakan untuk mengurangi gejala hidung
tersumbat yang disebabkan oleh flu, alergi pada saluran pernafasan atas, dan
sinusitis (Lacy et al., 2011).
Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap pseudoephedrine atau komponen lain dalam formulasi; pada
atau dalam 14 hari terapi menggunakan MAOI (Lacy et al., 2011).
Dosis
Pada anak-anak di atas 12 tahun dan dewasa: sediaan immediate release: 80 mg
setiap 4-6 jam; extended release: 120 mg setiap 12 jam atau 240 mg setiap 24 jam;
maksimum 240 mg/24 jam (Lacy et al., 2011).

Perhatian
Gunakan dengan hati-hati pada orang tua, kemungkinan lebih sensitif terhadap
efek-efek yang tidak diinginkan; berikan dengan hari-hati pada pasien dengan
hipertensi, hipertiroid, diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit jantung
iskemik, meningkatkan tekanan intraokular, hiperplasia prostatik, kejang, atau
gangguan ginjal. Jika digunakan sebagai OTC, beritahukan bahwa segera hentikan
pemakaian atau hubungi dokter jika gejala tidak membaik dalam 7 hari atau
disertai demam, atau muncul gejala seperti gugup, pusing, dan sulit tidur. Tidak
untuk digunakan sebagai OTC pada anak-anak di bawah 4 tahun (Sweetman, 2009;
Lacy et al., 2011).
Efek samping
Efek samping pseudoephedrine yang paling umum adalah takikardia, kecemasan,
gelisah, dan insomnia; ruam kulit dan retensi urin kadang terjadi (Sweetman,
2009).
Farmakodinamik/kinetik
Pseudoephedrine mudah diserap dalam saluran pencernaan. Pseudoephedrine
diekskresikan sebagian besar dan tidak mengalami perubahan melalui urin dengan
sejumlah kecil metabolit lewat hati. Waktu paruh sekitar 5 sampai 8 jam; eliminasi
ditingkatkan dan waktu paruh pendek sesuai dengan keasaman urin. Sejumlah kecil
didistribusikan ke dalam ASI (Sweetman, 2009).
Interaksi obat
Pseudoephedrine dapat menyebabkan krisis hipertensi pada pasien yang menerima
MAOI (Sweetman, 2009). Onset efek akan tertunda jika diberikan bersama dengan
makanan (Lacy et al., 2011).
Pemberian Obat
Per oral, dapat diminum dengan atau tanpa makanan. Untuk sediaan extended
release jangan dipecah, ditelan secara utuh (Lacy et al., 2011).

E. Fenris
Komposisi: ibuprofen 100 mg/5 mL suspensi (MIMS Indonesia).
Kelas/kategori farmakologi
NSAID (Lacy et al., 2011)

Mekanisme kerja
Mekanisme kerja ibuprofen melalui inhibisi sintesis prostaglandin dengan
menghambat Cyclooxygenase I (COX I) dan Cyclooxygenase II (COX II) (Lacy et
al., 2011).
Indikasi
Ibuprofen digunakan sebagai pengatasan nyeri ringan sampai sedang dan inflamasi
pada kondisi misalnya dysmenorrheoa, sakit kepala, migraine, nyeri/sakit gigi,
osteoarthritis, rheumatoid arthritis. Dapat juga digunakan untuk menurunkan demam
(Lacy et al, 2011; Sweetman, 2009).
Kontraindikasi
Hipersensitifitas terhadap ibuprofen, riwayat asma, urticari, dan reaksi alergi untuk
aspirin atau NSAID yang lain, ulkus peptic, gangguan gastrointestinal track, trimester
ketiga kehamilan (Lacy et al., 2011).
Dosis
4-10 mg/kg setiap 6-8 jam (Lacy et al., 2011). Untuk anak berumur 7-10 tahun, dosis
200 mg 3 kali sehari (Sweetman, 2009).
Kategori kehamilan
C/D 30 minggu kehamilan (Lacy et al., 2011).
Perhatian
Riwayat gangguan gastrointestinal bagian atas (peptic ulcer), gagal jantung,
kerusakan hati dan ginjal, efek koagulasi, asma, lupus erythematosus, gangguan
cardiovascular (Lacy et al., 2011).
Efek samping
Gangguan gastrointestinal, mual, muntah, diare, sembelit, sakit perut atau rasa
terbakar pada perut bagian atas, ruam kulit, bronkopasme, trombositopenia,
limfopenia, penglihatan kabur atau berkurang (Lacy et al., 2011).
Farmakodinamik/kinetik
Onset kerja pada pemberian secara oral untuk analgesik 30-60 menit; antiinflamasi
7 hari. Durasi pada pemberian secara oral 4-6 jam; absorpsi dengan pemberian secara
oral cepat (Lacy et al., 2011).
Interaksi obat
Terutama dengan obat atau zat yang berinteraksi dengan CYP2C9. Kadar ibuprofen
dapat ditingkatkan oleh obat golongan antidepresan, kortikosteroid sistemik,
glukosamine, ketorolac, antiplatelet (herbs). Kadar ibuprofen dapat diturunkan oleh
obat untuk asam lambung, golongan salisilat, NSAID agents (Lacy et al., 2011;
McEvoy, 2004).
Pemberian Obat
Harus diminum setelah makan (Lacy et al., 2011).