Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Limfoma adalah kanker yang berasal dari jaringan limfoid mencakup sistem limfatik
dan imunitas tubuh. Tumor ini bersifat heterogen, ditandai dengan kelainan umum yaitu
pembesaran kelenjar limfe diikuti splenomegali, hepatomegali dan kelainan sumsum tulang.
Tumor ini dapat juga dijumpai ekstra nodul yaitu diluar sistem limfatik dan imunitas antara
lain pada traktus digestivus, paru, kulit dan organ lain.
Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan leukemia menduduki urutan
keenam tersering. Sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian
penyakit ini terus meningkat. Adanya hubungan yang erat antara penyakit AIDS dan penyakit
ini memperkuat dugaan adanya hubungan antara kejadian limfoma dengan kejadian infeksi
sebelumnya.1
Secara umum, limfoma diklasifikasikan menjadi dua, yaitu limfoma hodgkin dan
limfoma non-hodgkin. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan perbedaan histopatologis dari kedua
penyakit di atas, di mana pada limfoma hodgkin terdapat suatu gambaran yang khas yaitu
adanya sel Reed-Sternberg.2
Sebagian besar limfoma ditemukan pada stadium lanjut yang merupakan penyulit
dalam terapi kuratif. Penemuan penyakit pada stadium awal masih merupakan faktor penting
dalam terapi kuratif walaupun tersedia berbagai jenis kemoterapi dan radioterapi. Akhir-akhir
ini, angka harapan hidup 5 tahun meningkat dan bahkan sembuh berkat manajemen tumor
yang tepat dan tersedianya kemoterapi dan radioterapi.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFENISI
Limfoma atau limfoma maligna adalah sekelompok kanker di mana sel-sel limfatik
menjadi abnormal dan mulai tumbuh secara tidak terkontrol. Karena jaringan limfe
terdapat di sebagian besar tubuh manusia, maka pertumbuhan limfoma dapat dimulai
dari organ apapun.
2.2 KLASIFIKASI
Berdasarkan gambaran histopatologisnya, limfoma dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu:
a. Limfoma Hodgkin (LH)
Diagnosis morbus Hodgkin berdasarkan pemeriksaan histologik, yang dalam hal ini
adanya sel Reed-Sternberg (kadang-kadang sel Hodgkin varian mononuklear) dengan
gambaran dasar yang cocok merupakan hal yang menentukan sistem klasifikasi histologik,
sebagaimana lebih dari 25 tahun yang lalu telah dikembangkan oleh Lukes dan Butler, masih
selalu berlaku sebagai dasar pembagian penyakit Hodgkin.
Limfoma jenis ini memiliki dua tipe. yaitu tipe klasik dan tipe nodular predominan
limfosit, di mana limfoma hodgkin tipe klasik memiliki empat subtipe menurut Rye, antara
lain:

b. Limfoma Non-Hodgkin (LNH)


Limfoma non-Hodgkin merupakan satu golongan penyakit yang heterogen dengan
spectrum yang bervariasi dari tumor yang sangat agresif sampai kelainan indolen dengan
perjalanan lama dan tidak aktif. Dalam perjalanan waktu dikembangkan berbagai usaha untuk
mendapatkan klasifikasi NHL yang dapat diyakini dan dapat direproduksi. Semula klasifikasi
2
ini didasarkan atas sifat-sifat morfologik dan sitokimiawi. Kemudian bertambah dengan
kriteria imunologik dan biologi molekuler, yang dapat memberi gambaran yang lebih tepat
mengenai tipe sel dan stadium pertumbuhannya. Di Eropa pada umumnya digunakan
klasifikasi Kiel, di Amerika Serikat kebanyakan klasifikasi menurut Lukes dan Collins dan
kadang-kadang juga menurut Rappaport. Karena dengan ini perbandingan hasil terapi dan
prognosis mendapat banyak kesukaran, pada tahun 1982 dikembangkan Working
Formulation (WF). Ini bukanlah suatu sistem klasifikasi baru melainkan suatu kompromi
berdasarkan empiri klinik yang dapat membedakan entities dengan implikasi prognostik.
Limfoma non-Hodgkin berdasarkan atas asal limfositnya dibagi menjadi 2, yaitu
NHL limfosit B yang nantinya akan berdeferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk
antibodi (prevalensinya 70%) dan NHL limfosit T yang nantinya akan berdeferensiasi
menjadi bentuk aktif.
Dibedakan 3 derajat malignitas klinis: rendah (30%), intermedier (40%) dan tinggi
(20%), dan dalam kategori ini digunakan pengertian dari klasifikasi Dorfman, Lukes, dan
Collins. Dua sistem klasifikasi morfologik yang umum dipakai di Amerika Serikat ini
didasarkan atas pola pertumbuhan dan tipe sel. Kriteria imunologik, yang antara lain
membedakan antara tipe sel-B dan sel-T, belum dimasukkan disini. Tetapi, kepentingan
besar WF adalah dalam kenyataan bahwa WF ini mempunyai nilai prediktif yang baik
untuk perilaku klinis malignitas ini. Karena itu, sistem ini merupakan dasar untuk tindakan
terapeutik.
Konsep klasifikasi Kiel berdasar atas perbandingan dengan pertumbuhan sel-B dan
sel-T normal. Limfoma non-Hodgkin dianggap sebagai lawan maligna stadium spesifik
dalam pertumbuhan ini dan dengan itu mempunyai fenotipe yang cocok (morfologi dan
pola penanda). Terutama dalam hal NHL sel-B ini menyebabkan pengenalan entities
biologic yang disebut penyakit limfoma. Kepentingannya adalah pertama bahwa dalam
golongan NHL dengan derajat malignitas yang sama dapat dibuat prediksi mengenai
kelakuan tumornya dalam arti lokalisasi tumor yang diharapkan (lien, sumsum tulang,
ekstranodal, susunan saraf sentral) dan kemungkinan terhadap relaps. Kedua, cara
klasifikasi demikian merupakan dasar yang baik untuk penelitian medik biologik dalam
lapangan non-Hodgkin. Karena itu, di Amerika Serikat makin besar antusiasme untuk
penanganan demikian. Hal ini belakangan ini menyebabkan usul bersama hematopatolog
Eropa dan Amerika untuk memodernisasi klasifikasi Kiel, berdasar atas kesatuan biologik
yang didefinisikan dengan menggunakan morfologi, imunohistologi, sitogenetika, dan
biologi molekuler. Klasifikasi baru ini berbeda dengan klasifikasi Kiel sedemikian rupa,

3
bahwa tekhnik pemeriksaan modern diimplementasikan dalam diagnostik NHL dan bahwa
juga NHL ekstranodal, yang dalam klasifikasi Kiel tidak dapat dimasukkan dengan baik
padahal kira-kira merupakan 40% semua NHL, secara eksplisit diikutsertakan.

Formulasi Kerja (Working Formulation) membagi limfoma non-hodgkin menjadi tiga


kelompok utama, antara lain:
Limfoma Derajat Rendah
Kelompok ini meliputi tiga tumor, yaitu limfoma limfositik kecil, limfoma
folikuler dengan sel belah kecil, dan limfoma folikuler campuran sel belah
besar dan kecil.
Limfoma Derajat Menengah
Ada empat tumor dalam kategori ini, yaitu limfoma folikuler sel besar,
limfoma difus sel belah kecil, limfoma difus campuran sel besar dan kecil, dan
limfoma difus sel besar.
Limfoma Derajat Tinggi
Terdapat tiga tumor dalam kelompok ini, yaitu limfoma imunoblastik sel
besar, limfoma limfoblastik, dan limfoma sel tidak belah kecil.

Perbedaan antara LH dengan LNH ditandai dengan adanya sel Reed-Sternberg yang
bercampur dengan infiltrat sel radang yang bervariasi. Sel Reed-Sternberg adalah suatu sel
besar berdiameter 15-45 mm, sering berinti ganda (binucleated), berlobus dua (bilobed), atau
berinti banyak (multinucleated) dengan sitoplasma amfofilik yang sangat banyak. Tampak
jelas di dalam inti sel adanya anak inti yang besar seperti inklusi dan seperti mata burung
hantu (owl-eyes), yang biasanya dikelilingi suatu halo yang bening.

4
(a) (b)
Gambar 1. Gambaran histopatologis (a) Limfoma Hodgkin dengan Sel Reed Sternberg dan
(b) Limfoma Non Hodgkin
2.3 Bentuk Khusus Limfoma Maligna
Jarang pada dewasa, tetapi lebih frekuen pda anak adalah NHL limfoblastik dan
limfoma burkitt. Limfoma limfoblastik pada usia dewasa biasanya diterapi sebagai leukemia
limfatik akut, termasuk profilaksis meningeal. Limfoma burkitt disamping ciri-ciri
morfologik dan kromosomal juga mempunyai sifat-sifat klinis spesifik: limfoma ini sering
menunjukkan pertumbuhan cepat, lokalisasinya ekstranodal. Tempat preferensi adalah
abdomen yaitu sudut ileosekal. Kadang-kadang menampakkan diri sebagai perut akut sebagai
akibat invaginasi. Untuk tipe limfoma ini sering digunakan pembaian stadium lain daripada
klasifikasi Ann Arbor.
Limoma burkitt terbagi 2, yaitu limfoma burkitt endemic dan sporadic. Tipe endemic
ini terjadi di Afrika. Berhubungan erat dengan virus Epstein Barr (EBV). Umumnya
melibatkan ulang rahang, yang sangat jarang terjadi ada tipe sporadic. Tipe ini juga umumnya
melibatka abdomen. Sedangkan tipe sporadic terjadi di bagian dunia lain di luar Afrika.
Pengruh EBV tidaklah sekuat jenis endemic meskipun bukti infeksi EBV didapatkan pada
satu dari lima pasien. 90% kasus melibatkan abdomen.5
2.3 EPIDEMIOLOGI
Pada tahun 2002, tercatat 62.000 kasus LH di seluruh dunia. Di negara-negara
berkembang ada dua tipe limfoma hodgkin yang paling sering terjadi, yaitu mixed cellularity
dan limphocyte depletion, sedangkan di negara-negara yang sudah maju lebih banyak
limfoma hodgkin tipe nodular sclerosis. Limfoma hodgkin lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita, dengan distribusi usia antara 15-34 tahun dan di atas 55 tahun.
Berbeda dengan LH, LNH lima kali lipat lebih sering terjadi dan menempati urutan
ke-7 dari seluruh kasus penyakit kanker di seluruh dunia. Secara keseluruhan, LNH sedikit
lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita. Rata-rata untuk semua tipe LNH terjadi pada
usia di atas 50 tahun.
Di Indonesia sendiri, LNH bersama-sama dengan LH dan leukemia menduduki urutan
keenam tersering. Sampai saat ini belum diketahui sepenuhnya mengapa angka kejadian
penyakit ini terus meningkat. Adanya hubungan yang erat antara penyakit AIDS dan penyakit
ini memperkuat dugaan adanya hubungan antara kejadian limfoma dengan kejadian infeksi
sebelumnya.

5
2.4 ETIOLOGI
Penyebab limfoma hodgkin dan non-hodgkin sampai saat ini belum diketahui secara
pasti. Beberapa hal yang diduga berperan sebagai penyebab penyakit ini antara lain:
a. Infeksi (EBV, HTLV-1, HCV, KSHV, dan Helicobacter pylori)
b. Faktor lingkungan seperti pajanan bahan kimia (pestisida, herbisida, bahan kimia
organik, dan lain-lain), kemoterapi, dan radiasi.
c. Inflamasi kronis karena penyakit autoimun
d. Faktor genetik
Epidemiologi morbus Hodgkin menunjukkan kemungkinan adanya peran infeksi virus
yang berlangsung (abnormal) pada umur anak. Misalnya, negara non industri, dimana terjadi
pemaparan terhadap virus yang umum terdapat pada umur lebih muda, puncak insidensi
pertama morbus Hodgkin juga terjadi jauh lebih dini (antara 5 dan 15 tahun) daripada di
negara-negara Barat. Dalam hal pemaparan terhadap virus umum terjadi belakangan,
(misalnya pada keluarga kecil, status ekonomi social yang lebih tinggi) insidensi morbus
Hodgkin relatif lebih tinggi. Ini dapat menunjukkan bahwa mengalami infeksi virus tertentu
mempunyai efek predisposisi, yang terutama berlaku kalau infeksinya timbul pada usia lebih
belakangan. Ada petunjuk bahwa virus Epstein-Barr (EBV) mungkin memegang peran pada
patogenesis morbus Hodgkin. Dengan menggunakan teknik biologi molecular pada
persentase yang cukup tinggi kasus morbus Hodgkin (kecuali bentuk kaya limfosit) dapat
ditunjukkan adanya DNA EBV dalam sel Reed-Sternberg. Juga dapat ditunjukkan produksi
protein EBV tertentu. Tetapi, apakah ada hubungan kausal langsung antara infeksi EBV dan
terjadinya morbus Hodgkin, ataukah ada kausa bersama untuk kedua fenomena tanpa
hubungan kausa langsung (misalnya imunodefisiensi relatif) masih belum jelas.
Pada tipe NHL tertentu, infeksi virus tampaknya memegang peran. Yang paling
banyak diketahui adalah peran virus Epstein-Barr (EBV). Kaitan langsung untuk terjadinya
NHL terdapat pada limfoma Burkitt (tipe endemik) pada anak-anak kecil di Afrika Tengah.
Dalam hal ini terdapat kerjasama infeksi EBV, infeksi malaria, dan deregulasi onkogen
karena translokasi kromosomal t(8; 14), yang menyebabkan berkembangnya limfoma Burkitt.
Juga di dunia Barat, EBV dapat ditunjukkan dalam berbagai tipe NHL (yaitu NHL sel-B
besar dan NHL sel-T). Tetapi, peran langsung EBV dalam genesis NHL ini jauh kurang jelas
daripada untuk limfoma Burkitt tipe endemik.
HTLV-1 adalah virus yang ada hubungannya dengan HIV-I (AIDS). Ada hubungan
dengan terjadinya limfoma sel-T dan leukemia di Jepang dan daerah Karibia. Di Eropa, virus
ini tidak atau hampir sama sekali tidak terdapat. Di samping infeksi virus imunosupresi yang
lama merupakan faktor etiologi yang lain. Ini dapat merupakan imunodefisiensi congenital,

6
seperti misalnya pada ataksia, teleangiektasia, atau kelainan akuisita, seperti pada AIDS atau
pada terapi imunosupresif pada penderita transplantasi. Pada umumnya penderita ini
mendapat limfoma sel-B derajat tinggi. Dibanding dengan tumor solid telah lebih banyak
diketahui mengenai peran onkogen dalam terjadinya NHL. Pada NHL terdapat translokasi
kromosom. Yang khas di sini adalah bahwa bagian kromosom spesifik, yang di dalamnya
terlokalisasi gen reseptor immunoglobulin atau sel T terpindah ke kromosom lain, yaitu ke
tempat suatu onkogen. Bahwa disini justru terlibat gen reseptor immunoglobulin dan sel-T
bukanlah suatu kebetulan. Dalam perkembangan dini sel-B dan T gen-gen ini mengalami
proses pengaturan kembali pada niveau DNA, dengan penyusunan gen-gen fungsional dari
berbagai komponen gen pada kromosom. Pada proses ini terjadi sementara patah kromosom.
Alih-alih terjadi perbaikan patah dalam kromosom asli malahan dapat juga terjadi
penggabungan yang keliru ke kromosom lain. Hasilnya adalah suatu translokasi. Onkogen
yang bersangkutan karena itu dapat terderegulasi dan teraktivasi. Sebagai prototype adalah
translokasi t(8; 14) tersebut di atas, dimana satu dari gen-gen rantai berat immunoglobulin
kromosom 14 tergabung ke onkogen c-myc pada kromosom 8. Aktivasi c-myc menyebabkan
proliferasi hebat. Translokasi t(8; 14) secara spesifik terdapat pada limfoma Burkitt (endemik
dan sporadik) tetapi juga pada lain-lain NHL sel-B derajat tinggi.
Translokasi yang dapat disamakan adalah translokasi t(14; 18) yang terdapat dalam
kira-kira 85% NHL folikular sentroblastik/sentrositik (dan dalam tipe yang berasal dari ini).
Onkogen bcl-2 yang bersangkutan dengan ini menyebabkan sentrosit dalam keadaan normal
mempunyai jangka hidup sangat terbatas, dapat hidup lebih lama karena blokade terhadap
apa yang disebut kematian sel terprogram (apoptosis). Efek ini memegang peran penting pada
terjadinya tipe NHL ini. Jadi perlu dipahami bahwa onkogen dapat menstimulasi proliferasi
maupun menghambat kematian sel. Kedua faktor itu dapat menimbulkan replikasi sel
neoplastik.

2.5 ANATOMI SISTEM LIMFATIK


Sistem limfatik terdapat di seluruh bagian tubuh manusia, kecuali sistem saraf pusat.
Bagian terbesarnya terdapat di sumsum tulang, lien, kelenjar timus, limfonodi dan tonsil.
Organ-organ lain termasuk hepar, paru-paru, usus, jantung, dan kulit juga mengandung
jaringan limfatik.

7
Gambar 2. Anatomi Sistem Limfatik
Limfonodi berbentuk seperti ginjal atau bulat, dengan diameter sangat kecil sampai
dengan 1 inchi. Limfonodi biasanya membentuk suatu kumpulan (yang terdiri dari beberapa
kelenjar) di beberapa bagian tubuh yang berbeda termasuk leher, axilla, thorax, abdomen,
pelvis, dan inguinal. Kurang lebih dua per tiga dari seluruh kelenjar limfe dan jaringan
limfatik berada di sekitar dan di dalam tractus gastrointestinal.
Pembuluh limfe besar adalah ductus thoracicus, yang berasal dari sekitar bagian
terendah vertebrae dan mengumpulkan cairan limfe dari extremitas inferior, pelvis, abdomen,
dan thorax bagian inferior. Pembuluh limfe ini berjalan melewati thorax dan bersatu dengan
vena besar di leher sebelah kiri. Ductus limfatikus dextra mengumpulkan cairan limfe dari
leher sebelah kanan, thorax, dan extremitas bagian superior kemudian menyatu dengan vena
besar pada leher kanan.
Limpa berada di kuadran kiri atas abdomen. Tidak seperti jaringan limfoid lainnya,
darah juga mengalir melewati limpa. Hal ini dapat membantu untuk mengontrol volume
darah dan jumlah sel darah yang bersirkulasi dalam tubuh serta dapat membantu
menghancurkan sel darah yang telah rusak.

8
2.7 PATOFISIOLOGI
Ada empat kelompok gen yang menjadi sasaran kerusakan genetik pada sel-sel tubuh
manusia, termasuk sel-sel limfoid, yang dapat menginduksi terjadinya keganasan. Gen-gen
tersebut adalah proto-onkogen, gen supresor tumor, gen yang mengatur apoptosis, gen yang
berperan dalam perbaikan DNA.
Proto-onkogen merupakan gen seluler normal yang mempengaruhi pertumbuhan dan
diferensiasi, gen ini dapat bermutai menjadi onkogen yang produknya dapat menyebabkan
transformasi neoplastik, sedangkan gen supresor tumor adalah gen yang dapat menekan
proliferasi sel (antionkogen). Normalnya, kedua gen ini bekerja secara sinergis sehingga
proses terjadinya keganasan dapat dicegah. Namun, jika terjadi aktivasi proto-onkogen
menjadi onkogen serta terjadi inaktivasi gen supresor tumor, maka suatu sel akan terus
melakukan proliferasi tanpa henti.
Gen lain yang berperan dalam terjadinya kanker yaitu gen yang mengatur apoptosis
dan gen yang mengatur perbaikan DNA jika terjadi kerusakan. Gen yang mengatur apoptosis
membuat suatu sel mengalami kematian yang terprogram, sehingga sel tidak dapat
melakukan fungsinya lagi termasuk fungsi regenerasi. Jika gen ini mengalami inaktivasi,
maka sel-sel yang sudah tua dan seharusnya sudah mati menjadi tetap hidup dan tetap bisa
melaksanakan fungsi regenerasinya, sehingga proliferasi sel menjadi berlebihan. Selain itu,
gagalnya gen yang mengatur perbaikan DNA dalam memperbaiki kerusakan DNA akan
menginduksi terjadinya mutasi sel normal menjadi sel kanker.
Diagnosis morbus Hodgkin berdasarkan pemeriksaan histologik, yang dalam hal ini
adanya sel Reed-Sternberg (kadang-kadang sel Hodgkin varian mononuklear) dengan
gambaran dasar yang cocok merupakan hal yang menentukan sistem klasifikasi histologik,
sebagaimana lebih dari 25 tahun yang lalu telah dikembangkan oleh Lukes dan Butler, masih
selalu berlaku sebagai dasar pembagian penyakit Hodgkin.

9
Gambar 3. Skema Patofisiologi Terjadinya Keganasan
2.7 GEJALA KLINIS UMUM
Baik tanda maupun gejala limfoma hodgkin dan limfoma non-hodgkin dapat dilihat
pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Manifestasi Klinis dari Limfoma


Limfoma Hodgkin Limfoma Non-Hodgkin
Asimtomatik limfadenopati Asimtomatik limfadenopati
Gejala sistemik (demam Gejala sistemik (demam
intermitten, keringat intermitten, keringat
malam, BB turun) malam, BB turun)
Anamnesis Nyeri dada, batuk, napas Mudah lelah
pendek Gejala obstruksi GI tract
Pruritus dan Urinary tract.
Nyeri tulang atau nyeri
punggung
Pemeriksaan Teraba pembesaran Melibatkan banyak kelenjar
Fisik limonodi pada satu perifer
kelompok kelenjar (cervix, Cincin Waldeyer dan

10
axilla, inguinal) kelenjar mesenterik sering
Cincin Waldeyer & terkena
kelenjar mesenterik jarang Hepatomegali &
terkena Splenomegali
Hepatomegali & Massa di abdomen dan
Splenomegali testis
Sindrom Vena Cava
Superior
Gejala susunan saraf pusat
(degenerasi serebral dan
neuropati)

Selain tanda dan gejala di atas, stadium limfoma maligna secara klinis juga dapat
ditentukan berdasarkan klasifikasi Ann Arbor yang telah dimodifikasi Costwell.

2.9. STAGING

Tabel 3. Klasifikasi Limfoma Menurut Ann Arbor yang telah dimodifikasi oleh Costwell
Keterlibatan/Penampakan
Stadium
I Kanker mengenai 1 regio kelenjar getah bening atau 1 organ ekstralimfatik
(IE)
II Kanker mengenai lebih dari 2 regio yang berdekatan atau 2 regio yang
letaknya berjauhan tapi masih dalam sisi diafragma yang sama (IIE)
III Kanker telah mengenai kelenjar getah bening pada 2 sisi diafragma
ditambah dengan organ ekstralimfatik (IIIE) atau limpa (IIIES)
IV Kanker bersifat difus dan telah mengenai 1 atau lebih organ ekstralimfatik
Suffix
A Tanpa gejala B
B Terdapat salah satu gejala di bawah ini:
Penurunan BB lebih dari 10% dalam kurun waktu 6 bulan sebelum
diagnosis ditegakkan yang tidak diketahui penyebabnya
Demam intermitten > 38 C
Berkeringat di malam hari
X Bulky tumor yang merupakan massa tunggal dengan diameter > 10 cm,
atau , massa mediastinum dengan ukuran > 1/3 dari diameter transthoracal
maximum pada foto polos dada PA

11
Gambar 4. Penentuan Stadium Limfoma berdasarkan Klasifikasi Ann Arbor

2.10. PENATALAKSANAAN
Pilihan terapi pertama pada Limfoma Maligna adalah sebagai berikut:
Terapi pertama

Stadium I II - Terapi standar: radiasi lapangan mantel dan


radiasi kelenjar paraaorta dan limpa; kadang-
kadang hanya lapangan mantel saja
- Jika ada faktor resiko, kemoterapi dilanjutkan
dengan radioterapi
- Dalam penelitian, kemoterapi terbatas dengan
involved field radiation

Stadium IIIA Kemoterapi ditambah dengan radioterapi

Stadium IIIB IV Kemoterapi, ditambah dengan radioterapi

Penatalaksanaan limfoma maligna dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu:


yaitu:
a. Pembedahan

12
Tata laksana dengan pembedahan atau operasi memiliki peranan yang terbatas dalam
pengobatan limfoma. Untuk beberapa jenis limfoma, seperti limfoma gaster yang
terbatas pada bagian perut saja atau jika ada resiko perforasi, obstruksi, dan
perdarahan masif, pembedahan masih menjadi pilihan utama. Namun, sejauh ini
pembedahan hanya dilakukan untuk mendukung proses penegakan diagnosis melalui
surgical biopsy.
b. Radioterapi
Radioterapi memiliki peranan yang sangat penting dalam pengobatan limfoma,
terutama limfoma hodgkin di mana penyebaran penyakit ini lebih sulit untuk
diprediksi. Beberapa jenis radioterapi yang tersedia telah banyak digunakan untuk
mengobati limfoma hodgkin seperti radioimunoterapi dan radioisotope.
Radioimunoterapi menggunakan antibodi monoclonal seperti CD20 dan CD22 untuk
melawan antigen spesifik dari limfoma secara langsung, sedangkan radioisotope
131 90
menggunakan Iodine atau Yttrium untuk irradiasi sel-sel tumor secara selektif 7.
Teknik radiasi yang digunakan didasarkan pada stadium limfoma itu sendiri1, yaitu:
Untuk stadium I dan II secara mantel radikal
Untuk stadium III A/B secara total nodal radioterapi
Untuk stadium III B secara subtotal body irradiation
Untuk stadium IV secara total body irradiation

Gambar 5. Berbagai macam teknik radiasi

c. Kemoterapi
Merupakan teknik pengobatan keganasan yang telah lama digunakan dan banyak
obat-obatan kemoterapi telah menunjukkan efeknya terhadap limfoma.
Pengobatan Awal:
1. MOPP regimen: setiap 28 hari untuk 6 siklus atau lebih.

o Mechlorethamine: 6 mg/m2, hari ke 1 dan 8

13
o Vincristine (Oncovine): 1,4 mg/m2 hari ke 1 dan 8
o Procarbazine: 100 mg/m2, hari 1-14
o Prednisone: 40 mg/m2, hari 1-14, hanya pada siklus 1 dan 4
2. ABVD regimen: setiap 28 hari untuk 6 siklus
o Adriamycin: 25 mg/m2, hari ke 1 dan 15
o Bleomycin: 10 mg/m2, hari ke 1 dan 15
o Vinblastine: 6 mg/m2, hari ke 1 dan 15
o Dacarbazine: 375 mg/m2, hari ke 1 dan 15
3. Stanford V regimen: selama 2-4 minggu pada akhir siklus
o Vinblastine: 6 mg/m2, minggu ke 1, 3, 5, 7, 9, 11
o Doxorubicin: 25 mg/m2, minggu ke 1, 3, 5, 9, 11
o Vincristine: 1,4 mg/m2, minggu ke 2, 4, 6, 8, 10, 12
o Bleomycin: 5 units/m2, minggu ke 2, 4, 8, 10, 12
o Mechlorethamine: 6 mg/m2, minggu ke 1, 5, 9
o Etoposide: 60 mg/m2 dua kali sehari, minggu ke 3, 7, 11
o Prednisone: 40 mg/m2, setiap hari, pada minggu ke 1-10, tapering of
pada minggu ke 11,12

4. BEACOPP regimen: setiap 3 minggu untuk 8 siklus


o Bleomycin: 10 mg/m2, hari ke- 8
o Etoposide: 200 mg/m2, hari ke 1-3
o Doxorubicin (Adriamycine): 35 mg/m2, hari ke-1
o Cyclophosphamide: 1250 mg/m2, hari ke-1
o Vincristine (Oncovine): 1,4 mg/m2, hari ke-8
o Procarbazine: 100 mg/m2, hari ke 1-7
o Prednisone: 40 mg/m2, hari ke 1-14

Jika pengobatan awal gagal atau penyakit relaps:


1. ICE regimen
a. Ifosfamide: 5 g/m2, hari ke-2
b. Mesna: 5 g/m2, hari ke-2
c. Carboplatin: AUC 5, hari ke-2
d. Etoposide: 100 mg/m2, hari ke 1-3

14
2. DHAP regimen
a. Cisplatin: 100 mg/m2, hari pertama
b. Cytarabine: 2 g/m2, 2 kali sehari pada hari ke-2
c. Dexamethasone: 40 mg, hari ke 1-4

3. EPOCH regimen Pada kombinasi ini, etoposide, vincristine, dan


doxorubicin diberikan secara bersamaan selama 96 jam IV secara
berkesinambungan.
a. Etoposide: 50 mg/m2, hari ke 1-4
b. Vincristine: 0.4 mg/m2, hari ke 1-4
c. Doxorubicin: 10 mg/m2, hari ke 1-4
d. Cyclophosphamide: 750 mg/m2, hari ke- 5
e. Prednisone: 60 mg/m2, hari ke 1-6
d. Imunoterapi
Bahan yang digunakan dalam terapi ini adalah Interferon-, di mana interferon-
berperan untuk menstimulasi sistem imun yang menurun akibat pemberian
kemoterapi.
e. Transplantasi sumsum tulang
Transplasntasi sumsum tulang merupakan terapi pilihan apabila limfoma tidak
membaik dengan pengobatan konvensional atau jika pasien mengalami pajanan ulang
(relaps). Ada dua cara dalam melakukan transplantasi sumsum tulang, yaitu secara
alogenik dan secara autologus. Transplantasi secara alogenik membutuhkan donor
sumsum yang sesuai dengan sumsum penderita. Donor tersebut bisa berasal dari
saudara kembar, saudara kandung, atau siapapun asalkan sumsum tulangnya sesuai
dengan sumsum tulang penderita. Sedangkan transplantasi secara autologus, donor
sumsum tulang berasal dari sumsum tulang penderita yang masih bagus diambil
kemudian dibersihkan dan dibekukan untuk selanjutnya ditanamkan kembali dalam
tubuh penderita agar dapat menggantikan sumsum tulang yang telah rusak.

2.11 KOMPLIKASI
Ada dua jenis komplikasi yang dapat terjadi pada penderita limfoma maligna, yaitu
komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dan komplikasi karena penggunaan
kemoterapi. Komplikasi karena pertumbuhan kanker itu sendiri dapat berupa pansitopenia,

15
perdarahan, infeksi, kelainan pada jantung, kelainan pada paru-paru, sindrom vena cava
superior, kompresi pada spinal cord, kelainan neurologis, obstruksi hingga perdarahan pada
traktus gastrointestinal, nyeri, dan leukositosis jika penyakit sudah memasuki tahap leukemia.
Sedangkan komplikasi akibat penggunaan kemoterapi dapat berupa pansitopenia, mual dan
muntah, infeksi, kelelahan, neuropati, dehidrasi setelah diare atau muntah, toksisitas jantung
akibat penggunaan doksorubisin, kanker sekunder, dan sindrom lisis tumor.

2.15 PROGNOSISs
Menurut The International Prognostic Score, prognosis limfoma hodgkin ditentukan
oleh beberapa faktor di bawah ini, antara lain:
Serum albumin < 4 g/dL
Hemoglobin < 10.5 g/dL
Jenis kelamin laki-laki
Stadium IV
Usia 45 tahun ke atas
Jumlah sel darah putih > 15,000/mm3
Jumlah limfosit < 600/mm3 atau < 8% dari total jumlah sel darah putih
Jika pasien memiliki 0-1 faktor di atas maka harapan hidupnya mencapai 90%, sedangkan
pasien dengan 4 atau lebih faktor-faktor di atas angka harapan hidupnya hanya 59%.6
Sedangkan untuk limfoma non-hodgkin, faktor yang mempengaruhi prognosisnya
antara lain:
usia (>60 tahun)
Ann Arbor stage (III-IV)
hemoglobin (<12 g/dL)
jumlah area limfonodi yang terkena (>4) dan
serum LDH (meningkat)
yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok resiko, yaitu resiko rendah (memiliki
0-1 faktor di atas), resiko menengah (memiliki 2 faktor di atas), dan resiko buruk (memiliki 3
atau lebih faktor di atas).

16
BAB III
KESIMPULAN

Limfoma malignum merupakan penyakit keganasan primer jaringan limfoid yang


dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin.
Limfoma malignum dapat mengenai tonsil, yang juga merupakan salah satu dari jaringan
limfoid di tubuh manusia. Limfoma Hodgkin bercirikan adanya sel malignum khusus, yang

17
disebut dengan sel Reed-Sternberg, pada limfonodus atau jaringan limfatik lainnya. Limfoma
malignum non-Hodgkin adalah suatu keganasan primer jaringan limfoid yang bersifat padat.
Dalam bidang ilmu kesehatan telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher (THT-KL),
limfoma malignum merupakan kelainan neoplasma kepala dan leher kedua terbanyak setelah
karsinoma sel skuamosa. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi dikaitkan dengan virus,
khususnya virus Epstein Barr.
Limfoma malignum pada tonsil, seperti limfoma malignum yang menyerang kelenjar
atau jaringan limfatik lainnya, ditemukan manifestasi klinis secara umum, yaitu berat badan
menurun, demam, lesu, keringat malam dan nyeri pada tulang. Manifestasi klinis yang
berhubungan dengan limfoma malignum pada tonsil bisa kesulitan dalam menelan, nyeri
menelan dan merasa adanya massa di tenggorok.
Untuk mendiagnosis limfoma malignum pada tonsil perlu dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan penunjang lainnya. Setelah diagnosis
ditegakkan maka ditentukan stadium dari penyakitnya, lalu dilakukan terapi yang terdiri dari
radioterapi dan kemoterapi. Operasi biasanya hanya dilakukan jika akan dilakukan
pemeriksaan biopsi histopatologi, stabilisasi jalan nafas dan jika terapi radioterapi dan
kemoterapi tidak berhasil.
Prognosisnya pula tergantung kapan terapi tersebut dimulai. Jika dimulai pada saat
stadium limfomanya sudah lanjut maka prognosisnya lebih buruk. Begitu juga jika penderita
sudah berumur di atas 60 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

1. Price, S.A dan Wilson, L.M. 2005. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease
Processes, Sixth Edition. Alih bahasa Pendit, Hartanto, Wulansari dan Mahanani.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6. Jakarta: EGC
2. Reksodiputro, A. dan Irawan, C. 2006. Limfoma Non-Hodgkin. Disunting oleh
Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
II. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

18
3. Kumar, Abbas, dan Fausto. 2005. Phatologic Basis of Diseases 7th Edition. Philadelphia:
Elsevier & Saunders
4. Vinjamaram, S. 2010. Lymphoma, Non-Hodgkin. [serial online].
http://emedicine.medscape.com/article/20339-overview. [15 April 2014].
5. Berthold, D. dan Ghielmini, M. 2004. Treatment of Malignant Lymphoma. Swiss Med
Wkly (134) : 472-480.

19