Anda di halaman 1dari 7

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH

DALAM MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN KOTA BERKELANJUTAN


(Studi di Kabupaten Magetan)

Elvie Dyah Fitriana, Bambang Supriyono, Farida Nurani


Jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya, Malang
E-mail: elvie.dyahfitriana@gmail.com

Abstract: Implementation of Spatial Policy in Realizing about Sustainable Urban


Development (Study in Magetan). Implementation of spatial policy Magetan happened complex
problems such as conflicts occur land, water shortages and land conversion. This research uses
descriptive qualitative research approach. As the results show that: 1. Product policy Local
Regulation number 15 in 2012 on Magetan Spatial Planning is good 2. Implementation of spatial
policy Magetan is well enough but there are still some discrepancies that occur in the
implementation. In the application of the Sustainable Urban Development concept is appropriate
but the environmental issues become crucial issues encountered in the implementation of spatial
policy in realizing about Sustainable Urban Development 3. The factors enabling in the
implementation of spatial policy in Magetan are policy on Magetan spatial planning,
socialization, liveliness implementor. While the factors inhibiting in this research are public
awareness and land conversion.

Keywords: spatial decentralization, policy implementation, sustainable urban development

Abstrak: Implementasi Kebijakan Tata Ruang Wilayah dalam Mewujudkan Pembangunan


Kota Berkelanjutan (Studi di Kabupaten Magetan). Implementasi kebijakan tata ruang wilayah
di Kabupaten Magetan terjadi permasalahan kompleks seperti konflik lahan, defisit air dan alih
fungsi lahan. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa 1. Produk kebijakan Perda No. 15 tahun 2012 tentang RTRW
Kabupaten Magetan sudah baik 2. Implementasi kebijakan tata ruang wilayah Kabupaten Magetan
cukup baik namun masih ada beberapa ketidaksesuaian yang terjadi dalam implementasinya.
Penerapan konsep pembangunan kota berkelanjutan sudah sesuai namun masalah lingkungan
menjadi masalah krusial yang dihadapi di Kabupaten Magetan 3. Faktor pendukung dalam
implementasi kebijakan tata ruang wilayah Kabupaten Magetan adalah kebijakan tentang RTRW
Kabupaten Magetan, sosialisasi, keaktifan implementor. Sedangkan faktor penghambat adalah
kesadaran masyarakat dan alih fungsi lahan.

Kata kunci: desentralisasi spasial, implementasi kebijakan, pembangunan kota berkelanjutan

Pendahuluan
Pembangunan nasional adalah rangkaian Daerah pasal 14 ayat 2, urusan wajib yang
upaya pembangunan yang berkesinambungan menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk
yang meliputi seluruh aspek kehidupan kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala
masyarakat, bangsa dan negara, untuk, untuk kabupaten/kota adalah kewenangan dalam
melaksanakan tugas mewujudkan tujuan perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata
nasional sebagaimana dirumuskan dalam ruang. Pemerintah daerah memiliki kewenangan
Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik sendiri dalam urusan otonomi daerah khususnya
Indonesia Tahun 1945. Rangkaian upaya yaitu dalam perencanaan, pemanfataan, dan
pembangunan tersebut memuat kegiatan pegawasan tata ruang. Pemerintah daerah dapat
pembangunan yang berlangsung tanpa henti, melakukan kewenangan dalam pembuatan
dengan menaikkan tingkat kesejahteraan kebijakan tersebut. Pasolong (2008, h. 38-39)
masyarakat dari generasi ke generasi. secara konseptual kebijakan publik dapat dilihat
Pembangunan di daerah pada masa dari Kamus Administrasi Publik Chandler dan
reformasi mengalami pergeseran pada kewe- Plano (1988, h.107), mengatakan bahwa
nangannya. Adapun berdasarkan Undang- kebijakan publik adalah pemanfaatan yang
Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah strategis terhadap sumber-sumber daya yang ada

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 217


untuk memecahkan masalah publik atau luas areal mencapai 9.482 ha. Luas kawasan
pemerintah. Secara normatif kebijakan tata hutan ini hanya mencapai 13,76% sehingga jauh
ruang wilayah tercantum dalam Undang-undang dari standar yang disyaratkan sebanyak 30%.
No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Selain itu alih fungsi lahan sering dijumpai. Di
Seringkali kebijakan yang telah dibuat dalam permukiman di perdesaan tampak ditemui
pemerintah mengalami beberapa hambatan atau petak-petak kebun yang berselang-seling dengan
kurang berhasil pada tahap implementasi perumahan penduduk. Selain itu pada areal
kebijakan itu sendiri. Namun dalam im- hutan yang secara keruangan cenderung lebih
plementasi kebijakan tersebut harapan dari berfungsi lindung juga terdapat pemanfaatan
pemerintah dan juga lapisan masyarakat lain yang bersifat budidaya seperti perkebunan
sebenarnya adalah dapat terwujudnya pem- maupun pertanian rakyat. Dari pemaparan
bangunan yang berkelanjutan dari berbagai masalah di atas tergambar jelas bahwa
kebijakan yang telah dilakukan. Seiring dengan permasalahan implementasi kebijakan tata ruang
konsep pembangunan berkelanjutan yang telah wilayah sangat kompleks maka pemerintah
dilaksanakan pemerintah, yang melalui sidang Kabupaten Magetan berupaya untuk
umum PBB tahun 1987 disepakati sebagai asas menerapkan konsep pembangunan kota
bersama seluruh negara di dunia sekaligus berkelanjutan dalam implementasi kebijakan tata
menjadi pedoman pemerintah Indonesia. ruang wilayah.
Namun seiring berjalannya waktu pem- Penelitian ini bertujuan mengetahui,
bangunan seringkali memiliki masalah yang mendeskripsikan dan menganalisis produk
kompleks dan berdampak pada lingkungan. kebijakan Peraturan Daerah No. 15 tahun 2012
Selanjutnya melalui KTT Bumi di Rio de tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Ka-
Janeiro 1992 asas dan konsep tersebut bupaten Magetan berdasarkan Desentralisasi
dituangkan dalam program dunia disebut Spasial, implementasi kebijakan tata ruang
Agenda 21. Namun pada perkembangan wilayah dalam mewujudkan pembangunan kota
pembangunan kota berkelanjutan lebih berkelanjutan di Kabupaten Magetan serta faktor
berkembang lagi yaitu menurut Budihardjo pendukung dan penghambat dalam
(2005, h.27) menjelaskan untuk menciptakan implementasi kebijakan tata ruang wilayah
kota yang berkelanjutan diperlukan lima prinsip dalam mewujudkan pembangunan kota
dasar yang dikenal dengan Panca E: En- berkelanjutan di Kabupaten Magetan.
vironment (Ecologi), Economy (Em-ployment),
Equity Engagement, dan Energy, (Reseaarch Tinjauan Pustaka
Triangle Institute, 1996). 1. Kebijakan Publik dan Model
Pada saat ini masalah lingkungan menjadi Implementasi Kebijakan Publik
masalah krusial yang pada intinya berpengaruh Menurut Thomas R. Dye yang dikutip oleh
terhadap pembangunan kota berkelanjutan. Syafii (2006, h.105) kebijakan publik adalah apa
Ketika ketidakseimbangan lingkungan terjadi pun juga yang dipilih pemerintah, apakah
maka dapat mempengaruhi proses implementasi mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan
kebijakan yang dilakukan. Di Kabupaten sesuatu (mendiamkan) sesuatu itu (whatever
Magetan kebijakan tata ruang wilayah tercantum government choose to do or not to do). Model
dalam Peraturan Daerah No. 15 tahun 2012 implementasi kebijakan yang dikembangkan
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah oleh George C. Edward III dinamakan Direct
Kabupaten Magetan. Implementasi kebijakan and Indirect Im pact on Implementation. Dalam
tata ruang wilayah di Kabupaten Magetan pendekatan yang diteorimakan oleh Edward III,
seringkali menemui baberapa perma-salahan. terdapat empat variable yang sangat menentukan
Permasalahan tersebut antara lain terjadinya keberhasilan implementasi suatu kebijakan yang
konflik pemanfaatan ruang di Keca-matan dikutip oleh Agustino (2008, h.149) yaitu
Bendo Kabupaten Magetan berlangsung antara komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur
peruntukan kawasan militer yaitu kawasan birokrasi.
Lanud Iswahyudi dan kawasan budidaya. Oleh
karena itu kegiatan perekonomian di Kecamatan 2. Otonomi Daerah
Bendo menjadi kurang berkembang. Hal ini Dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun
ditunjukkan dengan angka kemiskinan yang 2004 tentang Pemerintahan Daerah, prinsip
mencapai 32,42%. Permasalahan yang terjadi otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi
lainnya adalah terjadinya defisit air yang seluas-luasnya, dalam arti daerah diberikan
disebabkan karena hutan kurang memenuhi kewenangan mengurus dan mengatur semua
standar. Kawasan hutan di Kabupaten Magetan urusan pemerintah di luar yang menjadi urusan
meliputi hutan negara dan hutan rakyat dengan pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 218


Undang ini. Daerah memiliki kewe-nangan p) Urusan wajib lainnya yang diamanatkan
membuat kebijakan daerah untuk memeberi oleh peraturan
pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, perundang-undangan.
dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan
pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Sejalan 4. Perencanaan Tata Ruang Wilayah
dengan prinsip tersebut dilak-sanakan pula Menurut Conyer & Hills (1994) yang
prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. dikutip oleh Tarigan (2004, h.4) perencanaan
Prinsip otonomi nyata adalah suatu prinsip adalah suatu proses yang berkesinambungan
bahwa untuk menangani urusan pemerintahan yang mencakup keputusan-keputusan atau
dilaksanakan berdasarkan tugas, wewenang, dan pilihan-pilhan berbagai alternatif penggunaan
kewajiban yang senyatanya telah ada dan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan
berpotensi untuk tumbuh, hidup dan tertentu pada masa yang akan datang.
berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan Direktorat Bina Tata Perkotaan dan
daerah (Kaloh (2007, h. 72-73)). Pedesaan Ditjen Cipta Karya Dep. PU (1996)
yang dikutip oleh Tarigan ( 2004, h.43)
3. Desentralisasi Spasial memberikan definisi tentang ruang sebagai
Smith (1985, h.8-12) yang dikutip oleh berikut: Ruang adalah wadah yang meliputi
Muluk (2006, h.8) mengungkapkan bahwa ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara,
desentralisasi mencakup beberapa elemen yakni: termasuk di dalamnya lahan atau tanah, air,
1) Desentralisasi memerlukan pembatasan udara dan benda lainnya serta daya dan keadaan,
area, yang bisa didasarkan pada tiga hal sebagai satu kesatuan wilayah tempat manusia
(pola spasial kehidupan sosial dan ekonomi, dan makhluk lainnya hidup dan melakukan
rasa identitas politik, dan efisiensi kegiatan serta memelihara kelangsungan
pelayanan publik yang bisa dilaksanakan). hidupnya.
2) Desentralisasi yang meliputi pula
pelendegasian wewenang, baik itu 5. Pembangunan Kota Berkelanjutan
wewenang politik maupun kewenangan Secara umum konsep pembangunan kota
birokratis. berkelanjutan didefinisikan sebagai pem-
Pemerintah Daerah memiliki kewe- bangunan kota yang mengedepankan adanya
nangannya sendiri dalam desentralisasi spatial. keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial-
Hal ini dipertegas dalam Undang-undang No.32 budaya dan lingkungan hidup. Keseimbangan
tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 14 ini penting untuk menjamin adanya
yaitu: urusan wajib yang menjadi kewenangan keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya
pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota alam yang tersedia, tanpa mengurangi peluang
merupakan urusan yang berskala kabu- generasi yang akan datang untuk menikmati
paten/kota meliputi: kondisi yang sama. Berikut ini merupakan isis
a) Perencanaan dan pengendalian pem- dari Agenda 21 yaitu:
bangunan; " Economy, ecology and social cohesion are the
b) Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawas- pillars of a sustainable city. These must be in
an tata ruang; balance and therefore require an integrated
c) Penyelenggaraan ketertiban umum dan approach. Dialogue is the basic principle for
ketentraman masyarakat; achieving this for Local Agenda 21."
d) Penyediaan sarana dan prasarana umum; (Conference Strategies for Sustainable Cities,
e) Penanganan bidang kesehatan; 1999).
f) Penyelenggaraan pendidikan; Budihardjo (2005, h.27) menjelaskan untuk
g) Penanggulangan masalah sosial; menciptakan kota yang berkelanjutan diper-
h) Pelayanan bidang ketenagakerjaan; lukan lima prinsip dasar yang dikenal dengan
i) Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha Panca E: Environment (Ecologi), Economy
kecil dan menengah; (Employment), Eqiuty Engagement, dan Energy,
j) Pengendalian lingkungan hidup; (Reseaarch Triangle Institute, 1996).
k) Pelayanan pertanahan; Budihardjo (2005, h.29) Kota yang
l) Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; berkelanjutan mesti memiliki ekonomi yang
m) Pelayanan administrasi umum pemerintah- kuat, lingkungan yang serasi, tingkat sosial yang
an; relatif setara penuh keadilan, kadar peran serta
n) Pelayanan administrasi penanaman modal; masyarakat yang tinggi, dan konservasi energi
o) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; yang terkendali dengan baik.
dan

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 219


Metode Penelitian tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Penelitian ini menggunakan metode Wilayah Kabupaten Magetan memberikan
penelitian kualitatif dengan pendekatan arahan yang baik dan sudah disusun secara
deskripstif. Bogdan dan Taylor (1975, h.5) yang sistematis. Produk ini sudah sejalan dengan
dikutip oleh Moleong (2000, h.3) makna desentraliasi spasial dengan mengha-
mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai silkan produk Peraturan Daerah No. 15 tahun
prosedur penelitian yang menghasilkan data 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari Kabupaten Magetan.
orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu 2. Implementasi Kebijakan Tata Ruang
tersebut secara holistik (utuh). Pendekatan Wilayah Dalam Mewujudkan
dalam penelitian ini adalah pendekatan Pembangunan Kota Berkelanjutan
deskriptif dirancang untuk mengumpulkan a. Analisis Kesesuaian Rencana Tata Ruang
informasi tentang keadaan-keadaan nyata Wilayah dengan Implementasinya
sekarang. Jadi penelitian kualitatif dengan Berdasarkan hasil penelitian analisis
pendekatan deskriptif adalah penelitian yang implementasi menggunakan model imple-
mengungkapkan fakta apa adanya tentang suatu mentasi George Edward III yang dikutip oleh
objek, gejala, keadaan dengan menggambarkan, Agustino (2008, h.149-153) yaitu sebagai
menguraikan, menginterpretasikan, dan diambil berikut:
suatu kesimpulan dalam bentuk tulisan yang 1. Komunikasi
sistematis. Komunikasi dilakukan oleh Badan
Fokus dalam penelitian ini adalah sebagai Perencanaan Kabupetan Magetan, Dinas
berikut: Pekerjaan Umum dan Badan Lingkungan Hidup
1. Produk Kebijakan Peraturan Daerah Kabupten Magetan sudah baik. Namun masih
No.15 tahun 2012 tentang Rencana sering terjadi miskomunikasi dengan masyarakat
Tata Ruang Wilayah Kabupaten dalam implemntasi kebijakan tata ruang wilayah
Magetan berdasarkan Desentralisasi Kabupaten Magetan.
Spasial 2. Sumber daya
2. Implementasi Kebijakan Tata Ruang Sumber daya dalam implmentasi kebijakan
Wilayah Dalam Mewujudkan Pem- tata ruang wilayah terdiri dari Sumber daya
bangunan Kota Berkelanjutan pendukung dari pemerintah daerah yaitu Badan
3. Faktor-faktor pendukung dan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Magetan,
penghambat dalam implementasi Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Lingkungan
kebijakan tata ruang wilayah dalam Hidup sudah baik. Sumber daya pendukung
mewujudkan pembangunan kota lainnya adalah pendanaan yang sudah
berkelanjutan di Kabupaten Magetan mencukupi.
a. Faktor Pendukung 3. Disposisi
b. Faktor Penghambat Disposisi atau sikap positif antar
Lokasi dan situs penelitian adalah Badan implementor kebijakan tata ruang wilayah sudah
Perencanaan dan Pembangunan Kabupaten menunjukan sikap positif yang baik.
Magetan, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten 4. Struktur birokrasi
Magetan dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Struktur birokrasi dalam implementasi
Magetan. Analisis data yang digunakan adalah kebijakan tata ruang wilayah sudah jelas. Badan
analisis model interaktif oleh Miles dan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Magetan
Huberman. Ada 3 hal yang dilakukan yaitu sebagai pengatur kebijakan, Dinas Pekerjaan
reduksi data, penyajian data dan penarikan Umum Kabupaten Magetan memiliki kejelasan
kesimpulan. struktur sebagai pelaksana teknis di lapangan
bersama dengan Badan Lingkungan Hidup yang
Pembahasan fokus terhadap implementasi kebijakan tata
1. Produk Kebijakan Peraturan Daerah ruang dalam membangun kesinambungan
No.15 tahun 2012 tentang Rencana Tata lingkungan yang kondusif
Ruang Wilayah Kabupaten Magetan Namun analisis kesesuaian rencana tata
berdasarkan Desentralisasi Spasial ruang wilayah Kabupaten Magetan dengan
Produk kebijakan tata ruang wilayah implementasinya diwarnai dengan
Kabupaten Magetan yang tertuang dalam ketidaksesuaian. Ketidaksesuaian tersebut
Peraturan Daerah No. 15 tahun 2012 tentang adalah sebagai berikut:
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten a) Berdirinya kandang-kandang ayam di
Magetan sudah baik. Peraturan Daerah No. 15 koridor jalur wisata

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 220


b) Konflik lahan antara masyarakat d. Penerapan Konsep Pembangunan Kota
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan Berkelanjutan dalam Implementasi
dengan TNI AU Kebijakan Tata Ruang Wilayah
c) Defisit air di Kabupaten Magetan Kabupaten Magetan
d) Alih fungsi lahan pertanian ke non- Berdasarkan hasil penelitian penerapan
pertanian konsep Pembangunan Kota Berkelanjutan dalam
e) Konversi kawasan lindung untuk Implementasi Kebijakan Tata Ruang Wilayah
kawasan budidaya Kabupaten Magetan adalah sebagai berikut:
1) Ekonomi
b. Penempatan Wilayah Strategis Penerapan konsep pembangunan kota
Kabupaten Magetan ditinjau dari berkelanjutan ditinjau dari aspek ekonomi di
kawasan strategis pertumbuhan Kabupaten Magetan telah mampu dilakukan
ekonomi, sosial budaya dan lingkungan dengan baik. Hal ini terlihat dengan keadaan
berdasarkan Peraturan Peraturan ekonomi yang kondusif dan berkelanjutan.
Daerah No. 15 tahun 2012 tentang Ekonomi di Kabupaten Magetan telah mampu
Rencana Tata Ruang Wilayah menggambarkan pertumbuhan yang signifikan
Kabupaten Magetan sehingga mampu memberikan keberlanjutan
Secara umum berdasarkan hasil penelitian ekonomi. Dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan
pemerintah daerah Kabupaten Magetan sudah ekonomi di Kabupaten Magetan terus
tepat dalam menempatkan wilayah strategis mengalami peningkatan dari tahun ke tahun
yang meliputi kawasan strategis ekonomi, yakni : 5,17 % (2008); 5,36 % (2009); 5,79 %
kawasan strategis sosial budaya dan kawasan (2010); 6,16 % (2011), dan 6,39 % (2012).
strategis daya dukung lingkungan. Kawasan Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 sebesar
strategis tersebut sudah tertuang dalam 6,39 % ini masih dibawah pertumbuhan
Peraturan Daerah No.15 tahun 2012 tentang ekonomi Provinsi Jawa Timur sebesar 7,27 %
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten namun masih sedikit diatas rata-rata Nasional
Magetan. sebesar 6,23 %.Sedangkan pada tahun 2013
kembali mengalami peningkatan sebesar 6, 70
c. Pengendalian Pemanfaatan Tata Ruang %. (Badan Perencanaan Pembangunan
Wilayah Kabupaten Magetan ber- Kabupaten Magetan, 2013)
dasarkan Peraturan Daerah No. 15 tahun 2) Ekologi (Lingkungan)
2012 Rencana Tata Ruang Wilayah Penerapan konsep pembangunan kota
Kabupaten Magetan berkelanjutan dalam aspek ekologi (lingkungan)
Pengendalian pemanfataan tata ruang di Kabupaten Magetan kurang optimal. Masalah
wilayah Kabupaten Magetan sudah dilak- yang masih dihadapi adalah masalah sampah.
sanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Sampah ini banyak menimbun di TPA (Tempat
Magetan. Pemerintah daerah Kabupaten Pembuangan Akhir) yang letaknya tidak jauh
Magetan dalam melakukan pengendalian dari pusat kota Magetan. Selain itu masalah
pemanfaatan tata ruang wilayah Kabupaten lingkungan lainnya yaitu alih fungsi lahan
Magetan dengan melalui: pertanian ke non-pertanian dan masalah
1) Ketentuan umum peraturan zonasi konversi kawasan lindung untuk budidaya masih
2) Ketentuan Perizinan banyak dijumpai. Namun Kabupaten Magetan
3) Ketentuan pemberian insentif dan di- masih mampu mendapatkan penghargaan
sinsetif,dan pemerintah terkait lingkungan dengan
4) Arahan pengenaan sanksi. penghargaan Adipura pada tahun 2013.
Namun praktek di lapangan saat ini masih 3) Equity (Pemerataan)
ada beberapa masalah yang sering terjadi. Equity (pemerataan) di Kabupaten
Masalah yang sering kali muncul adalah maslah Magetan telah dilakukan dengan baik di
perizinan. Banyak terjadi di lapangan, ada Kabupaten Magetan. Hal ini terlihat dengan
bangunan terbangun yang belum sesuai dengan tidak adanya disparitas yang terjadi antar
kebijakan tata ruang wilayah. Selain itu, tempat kecamatan. Dapat dilihat secara keseluruhan
terbangun yang belum memiliki izin mendirikan bahwa pertumbuhan ekonomi antara pusat kota
bangunan. Masalah-masalah tersebut diperparah dan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten
lagi dengan alih fungsi lahan yang semakin Magetan menunjukan keunikan yaitu dapat
merebak di Kabupetan Magetan. tumbuh beberengan.
4) Engagement (Peran Serta)
Peran serta yang ditunjukan oleh pemerintah
daerah sudah baik namun peran serta masyarakat

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 221


pengguna ruang kurang baik karena masyarakat No.15 tahun 2012 tentang Rencana Tata
masih banyak yang menyalahi penggunaan Ruang Wilayah Kabupaten Magetan.
ruang di Kabupaten Magetan. 4. Pengendalian Pemanfaatan tata Ruang
5) Energi Wilayah Kabupaten Magetan sudah
Energi di Kabupetan Magetan sudah cukup berdasarkan Paraturan Daerah No.15 tahun
bagus. Salah satu program yang dikembangkan 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
oleh Pemerintah Kabupaten Magetan adalah Kabupaten Magetan. Namun dalam prak-
energi biogas yang berasal dari kotoran ternak. teknya masih dijumpai beberapa alih fungsi
Dengan program ini maka energi biogas dapat lahan.
meningkatkan energi di Kabupaten Magetan. 5. Penerapan konsep pembangunan kota
Namun dalam pengembangannya masih perlu berkelanjutan sudah diterapkan di
pihak lain untuk mengembangkan program ini Kabupaten Magetan. Namun masalah
sekaligus untuk menerapkan konsep lingkungan merupakan aspek yang hingga
pembangunan kota berkelanjutan pada aspek saat ini masih memerlukan perhatian.
energi dengan berkelanjutan. 6. Faktor pendukung dan penghambat dalam
implementasi kebijakan tata ruang wilayah
3. Faktor-faktor pendukung dan pengham- Kabupaten Magetan adalah sebagai berikut:
bat dalam implementasi kebijakan tata a. Faktor pendukung berupa kebijakan
ruang wilayah dalam mewujudkan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah
pembangunan kota berkelanjutan di Kabupaten Magetan tentang arahan
Kabupaten Magetan dalam pengaturan tata ruang wilayah,
a. Faktor Pendukung sosialisasi, keaktifan imple-mentor.
Faktor pendukung berdasarkan hasil b. Faktor penghambat berupa kesadaran
penelitian ini adalah sebagai berikut: masyarakat dan alih fungsi lahan.
1) Kebijakan yang ditetapkan oleh
pemerintah daerah Kabupaten Magetan Saran
tentang arahan dalam pengaturan tata Berdasarkan hasil penelitian, maka saran
ruang wilayah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
2) Sosialisasi, 1. Diharapkan adanya sinergitas yang baik
3) Keaktifan implementor antar implementor dalam implementasi
kebijakan tata ruang wilayah ini.
b. Faktor Penghambat Karena kerjasama antara pemerintah
Faktor penghambat yang diperoleh dari daerah masih sering terjadi
penelitian ini adalah sebagai berikut: misscomunication.
1) Kesadaran masyarakat 2. Diharapkan pemerintah daerah
2) Alih fungsi lahan Kabupaten Magetan menghukum
secara tegas bagi pelanggar yang tidak
Kesimpulan mematuhi Peraturan Peraturan Daerah
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat No. 15 Tahun 2012 tentang Rencana
disimpulkan sebagai berikut: Tata Ruang Wilayah Kabupaten
1. Produk kebijakan Peraturan Daerah No. 15 Magetan.
tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang 3. Pemerintah daerah Kabupaten Magetan
Wilayah Kabupaten Magetan sudah baik diharapkan selalu gencar
dan disusun secara sistematis. menggaungkan sosialisasi mengenai
2. Analisis kesesuaian rencana tata ruang Peraturan Peraturan Daerah No. 15
wilayah Kabupaten Magetan dengan Tahun 2012 tentang Rencana Tata
implementasinya diwarnai dengan Ruang Wilayah Kabupaten Magetan.
ketidaksesuaian. Ketidaksesuaian itu lebih Karena tergolong peraturan daerah
mengarah pada alih fungsi lahan, konflik yang baru berjala.
lahan dan defisit air. 4. Diharapkan masyarakat lebih sadar
3. Penempatan Kawasan strategis ekonomi, akan pentingnya mematuhi Peraturan
kawasan strategis sosial budaya dan Daerah No. 15 tahun 2015 tentang
kawasan strategis kepentingan fungsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah
daya dukung lingkungan secara umum telah Kabupaten Magetan, karena kesadaran
sesuai dengan arahan Paraturan Daerah terhadap lingkungan masih sangat
kurang.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 222


Daftar Pustaka
Agustino, Leo. (2008) Dasar-Dasar Kebijakan Publik: Bandung: Alfabeta
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Magetan. (2011) Kajian Lingkungan Hidup Strategis.
Magetan.
Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Magetan. (2013) Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Kabupaten Magetan 2008-2012. Magetan.
Budiharjo, Eko dan Djoko Sujarto. (2005) Kota Berkelanjutan. Bandung: Alumni.
Kaloh. (2007) Mencari Bentuk Otonomi Daerah: Suatu Solusi Dalam Menjawab Kebutuhan
Lokal dan Tantangan Global. Jakarta: Rineka Cipta.
Moleong. (2000) Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muluk, Khairul. (2006) Desentralisasi dan Pemerintahan Daerah. Malang: Banyumedia.
Pasolong, Harbani. (2008) Teori Administrasi Publik. Bandung: Alfabeta.
Peraturan Daerah Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Magetan,
Magetan, Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Magetan.
Syafii, Inu Kencana. (2006) Ilmu Administrasi Publik (edisi revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
Tarigan, Robinson. (2004) Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta, Direktorat Otonomi
Daerah.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol.2, No. 2, Hal. 217-223 | 223