Anda di halaman 1dari 8

UJIAN AKHIR MATA KULIAH

COMPOUNDING AND DISPENSING

Oleh:

Nyoman Darpita Wijaya (1308515010)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014
I. Resep
I.1. Hasil Pembacaan Resep

dr. Mitra, Sp.THT


SIP : 129/DIKES/2009
Jl. Raya Sesetan No.98
0361 7787788

Denpasar, 15-1-2014

R/ Isomonit 60mg No III


S 1 dd
R/ Norvask 10 mg No XV
S 1 dd 1
R/ Ticuring No XV
S 1 dd 1

Pro : Tuan Ali


Umur : 70 tahun
Alamat : Sesetan
I.2. Skrining Resep
Saat pasien datang ke apotek, apoteker pertama-tama akan menyapa pasien yang datang
dan memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek tersebut. Selanjutnya apoteker akan
menanyakan tujuan pasien tersebut datang ke apotek. Pasien akan menyatakan bahwa
tujuannya datang ke apotek adalah untuk menebus resep sambil menyerahkan resep yang akan
ditebus. Apoteker akan menganalisis kelengkapan resep yang dibawa pasien dan memeriksa
apakah obat-obat yang diresepkan oleh dokter tersedia di apotek tersebut atau tidak.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/Menkes/
SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa skrining
resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Persyaratan administratif
Hasil skrining persyaratan administrasi pada resep dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil skrining persyaratan administratif
Kelengkapan Resep Ada Tidak ada
Nama
SIP
SIK
Identitas dokter Alamat rumah
Alamat praktek
No Telp
Hari dan jam kerja
Simbol R/
Superscriptio Nama Kota
Tanggal resep
Nama obat
Inscriptio Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Subscriptio Bentuk sediaan obat (BSO)
Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Signatura
Waktu minum obat
Informasi lain
Paraf
Penutup
Tanda tangan
Nama
Alamat
Umur
Identitas pasien
Jenis kelamin
Berat badan
Tinggi badan
Pada identitas dokter tidak tercantum nomor SIK serta hari dan jam praktek, namun tidak
menjadi masalah karena diasumsikan dokter praktek di apotek tempat resep ini ditebus
sehingga dapat dicari datanya. Data alamat rumah tidak menjadi masalah karena telah
tercantum alamat praktek serta nomor teleponnya. Waktu minum obat yang tidak tercantum
pada signatura dapat disesuaikan oleh apoteker. Paraf dan tanda tangan dokter untuk
keabsahan resep dapat diminta kepada dokter yang bersangkutan. Data tinggi dan berat badan
pasien dapat ditanyakan langsung kepada pasien saat penerimaan resep.
2. Kesesuaian farmasetik
Kesesuaian farmasetis meliputi bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,
cara, dan lama pemberian. Pada resep terdapat permasalahan farmasetis yaitu bentuk
sediaan Isomonit (tablet lepas lambat) yang diberikan tablet sehari sehingga tablet harus
dipecah. Hal ini harus dikonsultasikan kembali dengan dokter. Kekuatan obat Ticuring
tidak disebutkan, namun hal ini tidak menjadi masalah karena sediaan yang tersedia di
pasaran hanya tablet 250 mg.
3. Pertimbangan klinis :
Pertimbangan klinis meliputi adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis,
durasi, jumlah obat dan lain-lain). Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian indikasi.
II. Indikasi (SO sampe anamnese)
Pada resep ini, pasien diresepkan 3 jenis sediaan yaitu Isomonit 60 mg, Norvask 10 mg,
dan Ticuring. Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien serta indikasi dan dugaan
tujuan pemberiannya tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 2. Obat dalam Resep, Komposisi, Kelas Farmakologi, dan Indikasinya
Nama Kategori
Kandungan Indikasi
sediaan Farmakologi
Isomonit Isosorbide Vasodilator Pencegahan angina pectoris (Lacy et al, 2012)
60 mg mononitrat 60 (Lacy et al,
mg 2012)
Norvask Amlodipine Calcium channel Pengobatan hipertensi, terapi simptomatik stable angina
10 mg besylate 10 blocker (Lacy et kronis, angina vasospastik, pencegahan rawat inap akibat
mg al, 2012) angina dengan riwayat CAD (Lacy et al, 2012)
Ticuring Ticlopidine Antiplatelet Pencegahan agregasi platelet yang mengurangi risiko
HCl 250 mg (Lacy et al, stroke trombolik pada pasien yang pernah mengalami
2012) stroke atau berisiko stroke. Catatan: karena hubungannya
dengan gangguan hematologik yang mengancam jiwa,
ticlopidin harus dihindarkan pada pasien yang intoleran
terhadap aspirin atau yang gagal dalam terapi
menggunakan aspirin. Terapi penunjang (dengan aspirin)
setelah implantasi stenting koroner untuk mengurangi
kejadian trombus stent subakut (Lacy et al, 2012).
Berdasarkan obat yang diresepkan dokter dan indikasinya (seperti yang tercantum pada
Tabel 2), pasien diduga mengalami angina pectoris dengan hipertensi post stroke atau berisiko
stroke sehingga diberikan Ticuring.
Isosorbide mononitrat merupakan golongan vasodilator yang umum digunakan untuk
pencegahan angina pectoris. Dosis awal 5-20 mg dua kali sehari dengan 2 dosis diberikan
dalam selang waktu 7 jam (misalnya jam 8 pagi dan 3 sore) untuk mengurangi
berkembangnya toleransi. Pasien yang mendapat terapi awal 5 mg 2 kali sehari harus
ditingkatkan hingga dosis 10 mg dua kali sehari dalam 2-3 hari pertama. Untuk tablet lepas
lambat, dosis awal 30-60 mg diberikan sekali sehari pada pagi hari. Tingkatkan sesuai
kebutuhan, berikan paling tidak 3 hari sebelum dosis ditingkatkan. Dosis tunggal maksimal
sehari adalah 240 mg. Untuk pasien geriatri, dosis diawali dengan dosis dewasa terendah
(Lacy et al, 2012).
Amlodipine merupakan golongan calcium channel blocker yang dapat digunakan dalam
terapi hipertensi atau terapi simptomatis angina pectoris. Dosis awal untuk penanganan
hipertensi adalah 5 mg dengan dosis maximum 10 mg sehari. Untuk penanganan angina dosis
lazimnya adalah 5-10 mg, namun kebanyakan pasien membutuhkan dosis 10 mg untuk
mencapai efek yang adekuat. Pada pasien lansia, terapi harus dimulai dari dosis terendah
karena mungkin dapat menyebabkan kegagalan hati, ginjal dan jantung. Pasien geriatri juga
menunjukkan penurunan klirens amlodipine. Dosis yang disarankan untuk geriatri dalam
penanganan hipertensi adalah 2,5 mg sekali sehari dan untuk angina adalah 5 mg sekali sehari
(Lacy et al, 2012).
Ticuring merupakan agen antiplatelet yang diberikan untuk mencegah agregasi platelet
yang mengurangi risiko stroke trombolik pada pasien yang pernah mengalami stroke atau
berisiko stroke (Lacy et al, 2012). Dosis yang diberikan untuk pencegahan angina adalah 250
mg 2 kali sehari. Sedangkan untuk penanganan unstable angina, dosis awal sebagai loading
dose 500 mg diberikan paling tidak 6 jam setelah PCI, diikuti dengan 250 mg 2 kali sehari.
Berdasarkan analisis indikasi di atas, maka dapat dikatakan indikasi sementara pada
pasien adalah angina pectoris dengan hipertensi dan risiko stroke. Namun perkiraan ini harus
digali kembali ketepatannya melalui pengumpulan data subjektif dan objektif.
II.1. Subjektif
Data subjektif didapatkan dari keluhan yang disampaikan pasien (atau keluarga pasien)
secara subjektif tanpa adanya bukti hasil pemeriksaan atau laboratorium. Apoteker bertanya
kepada pasien terkait dengan kondisinya menggunakan metode Three Prime Questions, yaitu:
Apoteke : Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang bapak terima?
r
Pasien : Obat ini untuk mengatasi dada saya yang sering sakit, kadang sakitnya bisa
menjalar sampai ke punggung dan lengan.
Apoteke : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang bapak
r terima?
Pasien : Dokter tidak menjelaskan cara pakainya.
Apoteke : Apa kata Dokter mengenai harapan setelah Bapak menggunakan obat ini?
r
Pasien : setelah minum obat ini diharapkan dada saya tidak sakit lagi.

Karena informasi yang didapatkan dari pasien masih kurang maka untuk lebih
meyakinkan anamnese, Apoteker menggali informasi yang lebih dalam lagi dari pasien
mengenai keluhan yang dirasakannya sehubungan dengan indikasi dari masing-masing obat
yang diresepkan oleh dokter.
Apoteke : Apakah bapak punya tekanan darah tinggi?
r
Pasien : Tidak
Apoteke : Apakah bapak pernah mengalami stroke sebelumnya?
r
Pasien : Tidak
Apoteke : Apakah bapak merasakan gejala seperti sering kesemutan, susah menggerakkan
r tangan atau kaki, atau kadang sulit berbicara? (menggali apakah pasien
mengalami gejala stroke)
Pasien : Iya, saya sering kesemutan dan belakangan ini kadang sulit bicara dan tangan
kanan saya terasa lemas sekali.
Apoteke : Apakah bapak memiliki riwayat gangguan ginjal atau hati sebelumnya?
r
Pasien : Tidak
Berdasarkan percakapan yang dilakukan dengan pasien, diperoleh data subjektif pasien
yaitu: nyeri dada menjalar dan menunjukkan gejala stroke (paresthesias/ kesemutan, kesulitan
bicara dan tangan kanan lemas). Berdasarkan hal tersebut diduga pasien mengalami angina
pectoris dengan risiko stroke tanpa riwayat gangguan ginjal atau hati (data dibutuhkan untuk
penyesuaian dosis geriatri). Untuk memastikan lebih lanjut perlu dilakukan penggalian
informasi mengenai data objektif meliputi rekam medis, hasil pemeriksaan, data laboratorium,
serta tata laksana terapi masing-masing indikasi jika tersedia.

II.2. Objektif
Setelah mendapatkan penilaian secara subjektif, maka perlu dilihat secara objektif kondisi
pasien dengan melihat data laboratorium atau hasil pemeriksaan fisik pasien. Data ini dapat
diperoleh apoteker dengan melihat catatan rekam medis pasien atau kartu diagnosa yang
diperoleh dari dokter. Berdasarkan data objektif pasien, diketahui pasien memiliki tekanan
darah normal (120/90 mmHg).

II.3. Anamnese
Berdasarkan indikasi obat pada resep serta penilaian subjektif dan objektif, anamnese
kefarmasian untuk pasien adalah angina pectoris dengan risiko stroke.

III. DRP
Setelah diketahui indikasi yang diderita oleh pasien, maka selanjutnya ditentukan
rasionalitas pengobatan yang salah satunya dapat dilakukan melalui analisis DRP. Drug
Related Problem (DRP) memiliki 8 kategori, yaitu unnecessary drug therapy, wrong drug,
dosage too low, adverse drug reaction, dosage too high, drug interaction, inappropriate
compliance, needs additional drug therapy. Pada kasus ini, dapat ditentukan DRP yang terjadi
yang dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 3. Analisis DRP pada Pasien


Problem Terapi DRP Pengatasan DRP
Medik
Nyeri dada Isomonit Wrong drug Konsultasikan dengan dokter
(suspect 60 mg Pasien mendapatkan Isomonit 60 mg penulis resep. Sediaan dapat diganti
angina Norvask yang diberikan tablet sekali sehari. dengan tablet biasa (sediaan yang
pectoris) 10 mg Isomonit 60 mg merupakan tablet tersedia adalah isomonit 20 dan 40
Ticuring lepas lambat yang tidak boleh digerus mg) dengan frekuensi pemberian 2
atau dikunyah karena dapat kali sehari.
mengganggu pelepasan dan
absorpsinya sehingga dosis dan efek
yang didapatkan pasien menjadi tidak
sesuai.
Dosage too high Konsultasikan kembali dengan
Pasien geriatri mendapatkan dokter. Dosis yang disarankan
amlodipine 10 mg. Pada pasien untuk geriatri dalam penanganan
lansia, terapi harus dimulai dari dosis angina adalah 5 mg sekali sehari
terendah karena mungkin dapat (Lacy et al, 2012).
menyebabkan kegagalan hati, ginjal
dan jantung. Pasien geriatri juga
menunjukkan penurunan klirens
amlodipine (Lacy et al, 2012).

IV. Komunikasi dengan dokter


Berdasarkan hasil analisis ketepatan pengobatan dan pengatasan DRP, maka apoteker
dapat mendiskusikan permasalahan yang terjadi dengan dokter berdasarkan tata laksana terapi
masing-masing penyakit.
Gambar 1. Algoritma terapi angina pectoris
Berdasarkan algoritma terapi, pengobatan yang diberikan kepada pasien sudah tepat,
namun perlu dipertimbangkan kembali mengenai bentuk sediaan isomonit dan dosis norvask
(amlodipin) yang diberikan kepada pasien. Oleh karena itu, dilakukan komunikasi/konsultasi
dengan dokter penulis resep untuk menanyakan pertimbangan dokter mengenai resep yang
diberikan kepada pasien.
Apoteker : Dok, pada resep untuk pasien Ali, dokter meresepkan isomonit 60mg yang
diberikan tablet sehari. Maaf, sediaan isomonit 60 mg tersedia dalam
bentuk tablet lepas lambat yang tidak boleh digerus. Saran saya berikan
tablet biasa. Dosis yanbg tersedia adalah 20 dan 40 mg.
Dokter : Ok, beri tablet 20 mg 2 kali sehari.
Apoteker : Dosis amlodipine apa tidak terlalu besar dok? Usia pasien 70 tahun, dosis
lazim yang saya tahu untuk geriatri adalah 5 mg karena dosis tinggi berisiko
menyebabkan kegagalan ginjal dan hati. Apakah dokter punya pertimbangan
lain?
Dokter : Ok, beri dosis awal 5 mg. Kita lihat perkembangannya nanti.
V. Kesimpulan akhir
Pasien mengalami angina pektoris dengan risiko stroke. Setelah pengumpulan data
subjektif, objektif serta komunikasi dengan dokter, terapi yang diberikan adalah:
Isosorbide mononitrat 20 mg, diminum 1 tablet dua kali sehari
Amlodipine besylate 5 mg, diminum 1 tablet sekali sehari
Ticlopidine HCl 250 mg, diminum 1 tablet sekali sehari

VI. Compounding
Apabila resep telah dikonsultasikan dan obat yang diperlukan tersedia pada apotek
tersebut (resep siap untuk dikerjakan), maka selanjutnya dilakukan penyiapan obat, yaitu:
1. Obat Isosorbide mononitrat 20 mg 2. Obat Amlodipine besylate 5 mg diberikan
diberikan sejumlah 30 tablet dikemas sejumlah 15 tablet dikemas dengan klip
dengan klip obat, diberi label etiket putih obat, diberi label etiket putih dengan
dengan keterangan diminum 1 tablet dua keterangan diminum 1 tablet sekali sehari
kali sehari setelah makan. Etiket:
Etiket:

Apotek Bakti Widya Farma IX Apotek Bakti Widya Farma IX


Jl. Raya Sesetan No. 9, Denpasar-Bali Jl. Raya Sesetan No. 9, Denpasar-Bali

APA : Nyoman Darpita Wijaya S.Farm., Apt. APA : Nyoman Darpita Wijaya S.Farm., Apt.
SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012 SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012

Denpasar, 15-01-2014 Denpasar, 15-01-2014


No. 97 No. 97
Bapak Ali (70 th) Bapak Ali (70 th)

Diminum 1 kali sehari 1 tablet Diminum 1 kali sehari 1 tablet


30 menit setelah makan (pagi-sore, selang waktu 7 jam) 30 menit setelah makan (pagi)
Ttd apoteker Ttd apoteker

3. Obat Ticlopidine HCl 250 mg diberikan sejumlah 15 tablet dikemas dengan klip obat,
diberi label etiket putih dengan keterangan , diminum 1 tablet sekali sehari
Etiket:
Apotek Bakti Widya Farma IX
Jl. Raya Sesetan No. 9, Denpasar-Bali

APA : Nyoman Darpita Wijaya S.Farm., Apt.


SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012

Denpasar, 15-01-2014
No. 97
Bapak Ali (70 th)

Diminum 1 kali sehari 1 tablet


30 menit setelah makan (pagi)
Ttd apoteker

VII. Dispensing
Penyerahan obat-obat tersebut disertai dengan KIE kepada pasien. Beberapa hal penting
yang harus disampaikan kepada pasien meliputi indikasi dan aturan pakai, peringatan,
penyimpanan serta anjuran.
1. Indikasi dan aturan pakai
Obat Isomonit diberikan untuk mengatasi nyeri dada dan diminum 2 kali sehari 1
tablet setelah makan.
Norvask diberikan untuk mengatasi nyeri dada dan diminum 1 kali sehari 1 tablet
setelah makan.
Obat Ticuring diberikan untuk mencegah penyumbatan pembuluh darah dan diminum
1 kali sehari 1 tablet setelah makan.
2. Peringatan
Obat Isomonit diminum dengan selang waktu 7 jam setiap harinya.
3. Penyimpanan
Simpan pada wadah kering, suhu kamar, hindari dari cahaya matahari langsung
4. Anjuran
Olahraga ringan teratur untuk meningkatkan kondisi jantung. Jangan berolahraga
berat. Segera beristirahat jika dada terasa nyeri.

DAFTAR PUSTAKA
Dipiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells., and L. M. Posey. 2008.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc.
Lacy, C.F., Armstrong, L.L, Goldman, M.P. and Lance, L.L.. 2012. Drug Information
Handbook, 20th Edition. New York: Lexi-comp.