Anda di halaman 1dari 4

INPUT PRODUKSI

Kegiatan dalam input produksi erat kaitannya dengan pengadaan bahan baku sebagai bahan
utama kegiatan produksi. Komponen-komponen dalam input produksi umumnya terdiri dari : bahan
baku dan bahan penunjang, tenaga kerja, modal, teknologi, permintaan pasar, perizinan usaha serta
R&D (Research and Development). Proses pengadaan bahan baku maupun bahan penunjang untuk
kegiatan produksi dalam Klaster Enceng Gondok dilakukan secara pribadi/individu oleh pelaku usaha.
Berbeda dengan beberapa klaster di mana pelaku usaha melakukan pembelian bahan baku secara
kolektif dalam jumlah besar sehingga lebih menghemat biaya pengadaan bahan baku. Namun dalam
Klaster Enceng Gondok, belum terjadi kolektivitas dalam pengadaan bahan baku, hal ini dikarenakan
lokasi sumber daya bahan baku yang tidak jauh dari klaster sehingga pelaku usaha dapat memperoleh
bahan baku dengan mudah tanpa mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi pengadaan bahan
baku.
Meskipun dalam pengadaan bahan baku pelaku usaha tidak mengalami permasalahan yang
berarti, namun terdapat permasalahan lain terkait dengan input produksi kerajinan enceng gondok.
Permasalahan tersebut antara lain : masih minimnya kemampuan dan jiwa kewirausahaan yang
menyebabkan produsen sulit berkembang, masih rendahnya kemampuan pelaku usaha dalam hal
penguasaan teknologi, kapasitas produksi terbatas karena keterbatasan modal akibat ketidaktahuan
pengrajin tentang prosedur pengajuan kredit usaha kepada perbankan, masih banyaknya
produsen/pengrajin yang belum memiliki izin usaha serta masih rendahnya inovasi produk. Untuk
mengatasi permasalahan dalam input produksi, stakeholder yang terlibat dalam Klaster Enceng
Gondok, dalam hal ini tidak hanya pemerintah namun juga stakeholder-stakeholder lain telah
melakukan beberapa kegiatan atau upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Ketidaktahuan pelaku usaha dalam mengajukan kredit usaha ke perbankan, juga menjadi
salah satu permasalahan yang menghambat pengembangan kapasitas produksi pelaku usaha karena
keterbatasan modal yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan produksi akibat penggunaan
modal sendiri di mana mayoritas pelaku usaha merupakan kaum ibu-ibu dengan ekonomi menengah.
Peran yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu pemberian sosialisasi dan
pendampingan pengajuan kredit usaha oleh lembaga terkait kepada pelaku usaha yang ingin
mengembangkan usahanya dengan melakukan pinjaman kredit usaha ke bank.
Selain itu, juga terdapat permasalahan lain yakni masih minimnya kemampuan dan jiwa
kewirausahaan yang menyebabkan produsen sulit berkembang. Untuk itu pelatihan dan motivasi
kewirausahaan diberikan oleh masing-masing stakeholder untuk meningkatkan kemampuan
kewirausahaan dan jiwa wirausaha para pelaku usaha untuk terus mengembangkan usahanya. Untuk
mengatasi permasalahan terkait kurangnya keterampilan sumber daya manusia (pelaku usaha) di
Klaster Enceng Gondok dalam pengembangan produksinya, peran yang telah dilakukan stakeholder
di antaranya pelatihan teknik anyaman dasar dan pembinaan dan pelatihan pengembangan produk.
Begitu pula dalam mengatasi permasalahan masih rendahnya kemampuan pelaku usaha dalam hal
penguasaan teknologi, pemerintah bersama stakeholder-stakeholder memberikan pelatihan
penggunaan IT kepada pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok Di samping peran-peran tersebut,
peran stakeholder khususnya pemerintah dalam memberikan pelayanan perizinan dilakukan untuk
membantu dan memudahkan pelaku usaha yang ingin mengurus perizinan usaha yang selama ini
belum banyak dilakukan oleh pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok. Peran dalam perizinan usaha
ini juga merupakan salah bentuk layanan publik yang dilakukan pemerintah khususnya sebagai
lembaga publik yang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan yang tidak mampu dipenuhi oleh
masyarakat sendiri dalam hal ini khususnya pelaku usaha. Dalam hal inovasi, peran yang dilakukan
untuk menyelesaikan masalah terkait rendahnya inovasi yaitu pengembangan inovasi produk oleh
perguruan tinggi serta melakukan kunjungan ke wilayah lain dalam rangka studi banding.

PROSES PRODUKSI
Selain dalam input produksi, stakeholder-stakeholder juga berperan dalam proses produksi, yakni
membantu pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok. Beberapa permasalahan yang terjadi dalam
proses produksi di Klaster Enceng Gondok antara lain : jumlah peralatan yang terbatas yang belum
dapat menunjang produktivitas yang tinggi, masih rendahnya kemampuan manajemen yang dimiliki
pelaku usaha, serta kebutuhan berbagai informasi yang diperlukan oleh pelaku usaha untuk
pengembangan klaster atau usahanya terutama informasi menyangkut pemasaran dan pembiayaan.
Jumlah peralatan yang terbatas menyebabkan kapasitas produksi yang dapat dihasilkan oleh
produsen juga terbatas, karenanya untuk mengatasi hal tersebut pemerintah memberikan bantuan
berupa peralatan produksi yang dapat digunakan oleh pelaku usaha untuk menunjang produksinya.
Selain dari pemerintah, bantuan peralatan produksi juga diberikan oleh perguruan tinggi berupa mesin
jahit dan etalase. Banyaknya pengrajin yang mengabaikan pentingnya manajemen yang baik dalam
usaha, bahkan untuk sekadar pencatatan pemasukan dan pengeluaran untuk kegiatan produksi sering
diabaikan oleh pengrajin. Untuk kegiatan pelatihan manajemen usaha dan pembukuan sederhana
merupakan dukungan yang diberikan oleh lembaga non pemerintah kepada pengrajin dengan tujuan
pengrajin dapat mengatur pengelolaan usahanya dengan lebih baik. Selain pelatihan manajemen dan
pembukuan sederhana, pelaku usaha juga memperoleh kegitan pelatihan 5R (Ringkas, Rapi, Resik,
Rawat, Rajin) sebagai bagian dari manajemen dan perencanaan usaha yang baik.
Dalam proses produksi, peran stakeholder sebagai penyedia informasi menjadi peran yang
cukup penting bagi pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok. Informasi merupakan hal penting yang
sangat diperlukan klaster untuk pengembangan klaster ke depannya, baik informasi mengenai
pengembangan usaha, pemasaran, permodalan, kondisi pasar dan lain-lain. Pemberian informasi ini
akan sangat membantu pelaku usaha dalam menghadapi dinamika pengembangan usaha sehingga
pelaku usaha akan lebih tanggap dalam menghadapi situasi dan permasalahan yang ada.

OUTPUT PRODUKSI
Beberapa permasalahan yang terjadi dalam output produksi di antaranya : masih rendahnya
perhatian produsen terhadap pentingnya hak paten, masih rendahnya pengetahuan produsen terhadap
pentingnya perlindungan konsumen terhadap produk, masih rendahnya keragaman produk kerajinan,
serta masih banyaknya produsen yang tidak melakukan pengemasan produk yang dihasilkan dan
memiliki branding.
Hak paten merupakan hal yang banyak diabaikan oleh sebagian besar pengrajin dalam Klaster
Enceng Gondok di Kecamatan Banyubiru. Untuk itu stakeholder dalam Klaster Enceng Gondok,
dalam hal ini pemerintah telah berupaya untuk memberikan sosialisasi dan pengarahan kepada
pengrajin terhadap pentingnya memiliki hak paten usaha. Terkait permasalahan masih rendahnya
pengetahuan produsen terhadap pentingnya perlindungan konsumen terhadap produk, peran yang
dilakukan yaitu memberikan sosialisasi SNI kepada pelaku usaha, meskipun memberikan pengathuan
dan wawasan baru kepada pelaku usaha pentingnya perlindungan konsumen terhadap produk untuk
menghasilkan produk dengan standar yang baik namun pelaku usaha mengaku kegiatan tersebut
dianggap tetap kurang sesuai dengan kebutuhan klaster saat ini.
Produk kerajinan yang dihasilkan pengrajin sebagian besar tidak memiliki kemasan dan
belum memiliki branding, sehingga melalui kegiatan pelatihan pengemasan produk tersebut pelaku
usaha diberikan pembelajaran pentingnya kemasan produk untuk meningkatkan nilai jual produk
kerajinan serta pembuatan branding (merk) yang berfungsi sebagai identitas produk kerajinan dari
Klaster Enceng Gondok. Untuk meningkatkan keragaman produk kerajinan di Klaster Enceng
Gondok, pelaku usaha memperoleh pelatihan desain dan variasi produk sehingga produsen dapat
menghasilkan produk dengan variasi yang lebih beragam dari sebelumnya.

PEMASARAN
Dalam hal pemasaran, stakeholder-stakeholder dalam Klaster Enceng Gondok juga telah
berupaya untuk memberikan bantuan ataupun dukungan kepada pelaku usaha di Klaster Enceng
Gondok untuk meningkatkan pemasarannya. Masalah pemasaran merupakan permasalahan utama
yang dihadapi oleh pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok. Beberapa permasalahan pemasaran yang
dihadapi oleh pelaku usaha di Klaster Enceng Gondok antara lain : produsen kesulitan
memasarkan produk terutama pengrajin kecil atau pemula serta adanya peluang
bagi produsen/pengrajin untuk melakukan ekspor tapi terkendala masih
minimnya informasi, pengetahuan dan kapasitas produksi.
Usaha kerajinan enceng gondok yang terdahulu sebelum terbentuk klaster dan mulai
berkembang seperti saat ini, beberapa pengrajin berhasil melakukan eskpor kerajinan enceng gondok
ke negara lain namun karena terkendala dalam produksi kini ekspor kerajinan enceng gondok belum
berhasil dilakukan usaha pelaku usaha yang sekarang. Padahal kerajinan enceng gondok termasuk
salah satu potensi unggulan di wilayah Kabupaten Semarang dan peluang ekspor cukup terbuka untuk
kerajinan tersebut. Melihat potensi dan peluang tersebut, stakeholder dalam Klaster Enceng Gondok
berupaya untuk memanfaatkan potensi dan peluang tersebut untuk mendorong kemajuan kerajinan
enceng gondok dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan ekpor bagi pelaku usaha di Klaster
Enceng Gondok.
Dalam mendukung pengembangan usaha kerajinan di Klaster Enceng Gondok, seluruh telah
berupaya untuk memfasilitasi pengrajin dengan membantu menyediakan kebutuhan-kebutuhan
klaster. Peran yang dilaukan stakeholder kaitannya dalam pemasaran produk klaster antara lain
penyelenggaran pameran dan mengikutsertakan produk klaster untuk mengikuti ajang pameran guna
meningkatkan jumlah serta jangkauan pemasaran produk klaster kerajinan enceng gondok. Di
samping pameran, dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada Klaster Enceng Gondok
kaitannya dalam pemasaran yaitu dengan pembuatan website klaster dan pembuatan brosur sebagai
upaya tambahan untuk meningkatkan promosi dan pemasaran produk klaster. Permasalahan dan
peranan stakeholder dalam menyelesaikan permasalahan di Klaster Enceng Gondok dapat dilihat pada
Gambar 4.35, Gambar 4.36 dan Gambar 4.37.