Anda di halaman 1dari 17

Kepala ruangan

1. Pengertian Kepala Ruangan


Kepala ruangan adalah manajer tingkat pemula yang fokus utama
kegiatannya berada di unit kerja. Kepala ruangan, dalam melakukan
kegiatannya dibantu oleh orang-orang yang bekerja di tingkat manajer
pemula antara lain wakil kepala ruangan dan ketua tim serta perawat
pelaksana. Depkes (2000) dalam Kurniadi (2013) mendefinisikan kepala
ruangan adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi tanggung jawab
dan wewenang dalam mengatur dan mengendalikan kegiatan pelayanan
keperawatan di ruang rawat. Sedangkan Kurniadi (2013) mendefinisikan
kepala ruangann atau seorang perawat manajer pemula adalah seorang
perawat yang bertugas sebagai kepala di unit pelayanan perawatan
terdepan yang langsung berhadapan dengan pasien, dimana dalam
melaksanakan tugasnya menggunakan gaya kepemimpinan dalam
menerapkan fungsi-fungsi manajemen keperawatan agar menghasilkan
mutu pelayanan keperawatan yang tinggi.

1. Tugas dan Tanggung Jawab Kepala Ruangan


Burgess dalam Kurniadi (2013) menjabarkan tanggung jawab kepala
ruangan sebagai berikut:

Ketenagaan, yaitu mengidentifikasi dan mengusulkan jumlah


kebutuhan tenaga keperawatan dan nonkeperawatan di
unitnya kepada atasan dan memberdayakan tenaga yang
sudah ada.
Manajemen operasional, yaitu melaksanakan tugas dan
tanggung jawab sebagai manajer pemula dalam
berhubungan dengan atasan dan bawahan guna mendukung
tugas pokoknya.
Manajemen kualitas pelayanan, yaitu melaksanakan asuhan
keperawatan profesional berdasarkan kaidah ilmiah dan
etika profesi agar bisa dirasakan langsung oleh pasien,
keluarga dan masyarakat serta manjamin mutu pelayanan
keperawatan yang memuaskan semua pihak.
Manajemen finansial, yaitu melaksanakan tugas perhitungan
keuaangan dan logistik keperawatan (pengadaan dan
pemanfaatan alat kesehatan dan material kesehatan).
Depkes RI (2000) dalam Kurniadi (2013) menyatakan bahwa seorang
kepala ruangan memiliki tanggung jawab sebagai berikut:

Merencanakan kebutuhan tenaga perawat.


Mengembangkan pelayanan keperawatan.
Melaksanakan penilaian kinerja perawat.
Memberikan orientasi kepada perawat baru.
Melaksanakan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) dan SOP
(Standard Operational Procedur) yang ditetapkan pimpinan
bidang keperawatan.
Melaksanakan pembimbingan mahasiswa keperawatan.
Memberikan laporan berkala tentang pelayanan
keperawatan.
Adapun tugas kepala ruangan dalam menerapkan fungsi-fungsi
manajemen keperawatan (Kurniadi, 2013) yaitu:

Fungsi perencanaan yaitu tentang rencana kerja, menyusun


falsafah dan tujuan ruang rawatnya dan merencanakan
tenaga keperawatan.
Fungsi penggerakkan yaitu koordinasi tugas dengan perawat
atau petugas kesehatan lain, membuat jadwal dinas,
melakukan orientasi tenaga baru atau mahasiswa atau
pasien beserta keluarganya, membimbing pelaksanaan
asuhan keperawatan, memberi kesempatan perawat
mengikuti pendidikan atau latihan, memelihara dan
menggunakan alat kesehatan yang optimal, melakukan
rapat rutin, membuat pencatatan dan pelaporan yang telah
ditetapkan, mengikuti visite dokter dan memberikan
pendidikan kesehatan.
Fungsi pengawasan/pengendalian dan penilaian meliputi mengendalikan
dan menilai asuhan keperawatan, mengawasi dan menilai mahasiswa
praktik keperawatan, melakukan penilaian kinerja perawat, mengawasi dan
mengendalikan pendayagunaan alat kesehatan dan tenaga keperawatan,
mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan

Tugas Pokok
: Menyelenggarakan, mengawasi serta mengendalikan kegiatan pelayanankeperaw
atan di ruang rawat yang berada di wilayah tanggung jawabnya.Kedudukan atau tanggung
jawab :
a.

Secara administrasi dan fungsional bertanggung jawab kepada kepala seksi keperawatan b.

Secara teknis operasional bertanggung jawab kepada dokter penanggung jawab/dokter yang
berwenang/kepala SMF
uraian tugas :
Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatana.

Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan b.

Mengawasi serah terima setiap dinas pagic.

Membimbing dalam penerapan proses keperawatan dan memulai pelaksanaan asuhan keperawatand.

Mengadakan diskusi untuk pemecahan bersama masalah yang ada".

Mengkoordinir/mengatur tenaga keperawatan :a.

Membuat daftar dinas

b.

Mengatur pembagian tenaga setiap haric.

Mengatur cuti tahunand.

bersama Ka. SMF membuat.

Memperhatikan kesejahteraan tenagaf.

'rientasi tenaga baru&.

Mengatur pengendalian logistica.

Mengatur kelengkapan in(entaris keuangan b.

Mengawasi kelangkapan kebutuhan sehari)hari termasuk makan pasien untuk ruangan rawat inapc.

Mengajukan permintaan kebutuhan alat)alat ruangan dan makan pasien untuk rawat inapd.

Melaporkan sarana dan prasarana yang rusak

Membuat laporan tahunan.

Mengatur mengendalikan kebersihan ruangana.

Mengatur tenaga kebersihan b.

Mengawasi perlengkapan alat)alat diruanganc.

Menilai dan melaporkan pelaksanaan kebersihan-.

Mengadakan koordinasi :a.


Mengadakan rapat dengan staf ruangan satu kali sebulan dan sewaktu)waktu bila diperlukan b.

Menciptakan dan memelihara hubungan kerja yang harmonis dengan pasien, keluarga dan tim kesehatan.

pencatatan dan pelaporana.

Membuat laporan ruangan b.

Membuat laporan harian ke Kasi %erawatanc.

Membuat laporan sensus hariand.

Membuat laporan)laporan berkala/bulane.

Mencatat dan merinci pembayaran pasien.

*npentaris ketenagaan asuhan keperawatana.

Ketenagaan b.

0suhan keperawatanc.

peserta didik d.

infeksi nosokomiale.

Menyimpan data pegawai


Kepala ruangan adalah orang yang berperan untuk :
&

&Menerima pasien baru&


)
Memimpin rapat&

&Megevaluasi kinerja perawat.&

&Menyediakan material&

&Melakukan perencanaan dan pengawasan&

&Melakukan pengarahan dan pengawasan.


Tanggung jawab kepala ruangan
ecara garis besar, tanggungjawab kepala ruangan terbagi menjadi
empat, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
danpengawasan.1.

!erencanaan"ahap perencanaan2
&Menunjuk ketua tim bertugas diruangan masing&masing.&Mengikuti
serah terima pasien di shift sebelumnya.&Merencanakan strategi
pelaksanaan keperawatan.&Mengatur dan mengandalikan
asuhan keperawatan.3.

!engorganisasian"ahap pengorganisasian2&Merumuskan metode penugasan


yang digunakan.&Merumuskan tujuan metode penugasan.&Membuat
rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas.&Mengatur dan
mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas, mengatur
tenaga yang ada setiap hari, dll.%.

!engarahan"ahap pengarahan2&Memberi pengarahan tentang penugasan


kepada ketua tim.& Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan
keterampilan dan sikap.&Melibatkan bawahan sejak awal hingga
akhir kegiatan.&Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melakukan tugasnya.&Menigkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.!
engawasan!engawasan terbagi menjadi 3 bagian yaitu2a.

Melalui komunikasiMengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua


tim maupun pelaksana mengenai askep yang diberikan kepada pasien.b.

Melalui superviseupervise dapat dilakukan dengan cara1.

pengawasan langsung melalu inspeksi, mengamati sendiri, atau melalui


laporan langsung secara lisan dan memperbaiki ataumengawasi
kelemahan&kelemahan yang ada saat itu juga.3.

pengawasan tidak langsung melalui mengecek daftar hadir ketua tim,


membaca, dan memeriksa rencana keperawatan serta catatanyang dibuat
selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan.%.

evaluasi yaitu mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan


dengan rencana eperawatan yang telah disusun bersama ketuatim.6.

audik keperawatan

KATIM
METODE PENUGASAN TIM DALAMASUHAN KEPERAWATAN
Oleh : Windy Rakhmawati, S.Kp, M.Kep.
Prinsip pemilihan metode penugasan adalah : jumlah tenaga, kualifikasi stafdan klasifikasi
pasien. Adapun jenis-jenis metode penugasan yang berkembang saatini adalah sebagai
berikut :
a.

Metode Fungsional
Metode fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhankeperawatan sebagai pilihan
utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itukarena masih terbatasnya jumlah dan
kemampuan perawat maka setiap perawathanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi, misalnya
merawat lukakepada semua pasien di bangsal.Gambar 1 : Sistem pemberian asuhan Keperawatan
Fungsional (Marquis danHuston, 1998)

Kelebihan
1) Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tiugas yang jelasdan pengawasan yang
baik.2) Sangat baik untuk Rumah Sakit yang kekurangan tenaga.3) Perawat senior menyibukkan diri
dengan tugas manajerial, sedangkanperawat pasien diserahkan kepada perawat junior dan
atau belumberpengalaman.Kelemahan :1) Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun
perawat.2) Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proseskeperawatan.3) Persepsi
perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan denganketrampilan saja.
b.

Metode Perawatan Tim


Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat profesionalmemimpin sekelompok tenaga
keperawatan dengan berdasarkan konsepkooperatif & kolaboratif (Douglas, 1992)Tujuan Metode
Tim :1)

Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif2)

Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar3)

Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-bedaKonsep Metode Tim :1)

Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagaiteknik


kepemimpinan.2)

Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatanterjamin.3)

Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.4)

Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik jika
didukung oleh kepala ruang
Kelebihan :1) Memungkinkan pelayanan
keperawatan yang menyeluruh.2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.3)
Memungkinkan komunikasi antar timsehingga konflik mudah diatasi danmemberikan kepuasan kepada
anggota tim.Kelemahan :1)

Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensitim, yang biasanya
membutuhkan waktu dimana sulit untuk melaksanakanpada waktu-waktu sibuk (memerlukan
waktu )2)

Perawat yang belum terampil & kurang berpengalaman cenderung


untukbergantung/berlindung kepada perawat yang mampu
3)Jika pembagian tugas tidak jelas, maka tanggung jawab dalam tim kaburGambar 2 : Sistem
pemberian asuhan keperawatan
Team Nursing

(Marquisdan Huston, 1998)


c.Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama24 jam
terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluarrumah sakit. Mendorong praktek
kemandirian perawat, ada kejelasan antar
pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai denganadanya
keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yangditugaskan untuk
merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatanselama pasien dirawat.Konsep
dasar metode primer :1)

Ada tanggungjawab dan tanggunggugat2)

Ada otonomi3)

Ketertiban pasien dan keluargaKelebihannya :1)

Model praktek profesional2)

Bersifat kontinuitas dan komprehensif3)

Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil danmemungkinkan


pengembangan diri
kepuasan perawat
4)

Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnyaKelemahannya :1)

Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman danpengetahuan yang memadai dengan
kriteria asertif, self direction,kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai
keperawatanklinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.2)

Biaya lebih besar


d.

Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semuaperawat yang melayani seluruh kebutuhannya
pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbedauntuk setiap shift dan tidak ada
jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orangyang sama pada hari berikutnya. Metode
penugasan kasus biasa diterapkan satupasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk
perawat privat atau untukperawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.Kelebihan :1)
Perawat lebih memahami kasus per kasus2)

Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudahKekurangan :1)

Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab2)

Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yangsama

Dari berbagai metode penugasan yang ada, setiap ruangan/unit perawatandapat mempertimbangkan
kemungkinan penerapan dari salah satu metode di atasberdasarkan prinsip pemilihan
penugasan yang tepat, efektif, dan efisien. Namundalam mengembangkan metode penugasan Tim,
maka perlu diperhatikan hal-halberikut di bawah ini.
Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) danAnggota Tim
Secara umum, masing-masing kepala ruangan, ketua tim dan anggota timmemiliki tanggung
jawab yang berbeda-beda, antara lain :
1)

Tanggung Jawab Karu :


a)

Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari stafb)

Membantu staf menetapkan sasaran dari ruanganc)

Memberi
kesempatan katim untukmengembangkan keterampilankepemimpinandan managemen
d)

Mengorientasikan tenaga barue)

Menjadi narasumber bagi timf)

Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset keperawatang)

Menciptakan iklim komunikasi terbuka


2)

Tanggung Jawab Katim :


a)

Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluargab)


Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana keperawatan(renpra), menerapkan tindakan
keperawatan dan mengevaluasi renprac)

Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yangkonsistend)

Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas asuhankeperawatan melalui konfrense)

Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggotatimf)

Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan


3)

Tanggung Jawab Anggota Tim :


a)

Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katimb)

Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasienc)

Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada ditempatd)

Berkontribusi terhadap perawatan


observasi terus menerus

ikut ronde keperawatan

berinterkasi dgn pasien & keluarga

berkontribusi dgn kati


m/karu bila ada masalah
Penerapan Metode Tim
1)

Kepala ruangan membagi jumlah tim keperawatan berdasarkan klasifikasi pasien2)

Menilai tingkat ketergantungan pasien, melalui :

Setiap pagi, karu bersama katim menilai langsung pada masing-masing timyang menjadi
tanggung jawabnya, atau

Setiap tim keperawatan (yang dinas malam) membuat klasifikasi pasienkemudian diserahkan kepada
karu/katim. Cara ini dapat lebih menghematwaktu3)

Katim menghitung jumlah kebutuhan tenaga4)

Karu dan katim membagi pasien kepada perawat yang bertugas sesuaikemampuan perawat
(pengetahuan dan keterampilan)Serah terima antar shift oleh karu, katim dan semua perawat pelaksana
yangdapat dilakukan melalui konfrens, atau keliling langsung ke pasien (sebelum danselesai
dinas). Materi yang diserah terimakan yaitu laporan hasil pengkajian,permasalahan, implementasi dan
evaluasi. Selain itu perencanaan yang harusdilanjutkan oleh tim yang akan bertugas.5)

Selesai konfrens, seluruh anggota tim mulai melakukan asuhan keperawatanlangsung maupun
tidak langsung
Kesimpulan
Metode Penugasan merupakan suatu alternative metode yang akan diterapkandalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien/pasien dengan tujuan untukmeningkatkan kualitas asuhan dan
peningkatan derajat kesehatan pasien. Padadasarnya seluruh jenis metode penugasan masing-
masing memiliki kelebihan dankekurangan. Prinsip dalam pemilihan metode penugasan
yaitu pertimbangan jumlahtenaga, kualifikasi staf dan klasifikasi pasien.Dengan demikian
seorang manajer dapat menentukan jenis metodepenugasan yang tepat untuk diterapkan pada suatu
unit keperawatan melalui kajiansituasi yang memperhatikan prinsip pemilihan metode
penugasan

DAFTAR PUSTAKA

Douglas, Laura Mae. (1992)The effective Nurse : Leader and Manager ., 4 Th. Ed,.Mosby -
year book, Inc.
Gillies , DA., (1994),. Nursing Management a System Approach, 2nd.ed., W. B.Saunders.
Jurnal keperawatan Volume 1 tahun 2000 . , FIK UI.

Marquis, B.L. dan Huston, C.J. (1998).Management Decision Making for Nurses (3rded)
Philadelphia: Lippincot Raven Publisher
Swanburg, R.C, (1993)Iintroduction leadership & nursing for Clinical nurses.,Jones &
Bartlett Publisher Inc

PERAWAT PRIMER

LANDASAN TEORI

2.1. PENUGASAN DALAM KEPERAWATAN


Dalam pelaksanaan praktek keperawatan, akan selalu menggunakan salah satu metode pendekatan :

2.1.1. Metode Perawatan Primer

Perawatan primer Adalah pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus
antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan
askep selama pasien dirawat.

Dengan berkembangnya Ilmu Keperawatan dn berbagai ilmu dalam bidang kesehatan, serta
meningkatknya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi, dengan
didasarkan bahwa pemberian asuhan keperawatan model tim masih mempunyai beberapa
kekurangan, maka berdasarkan studi, para pakar keperawatan mengembangkan model pemberian
asuhan keperawatan yang terbaru yaitu Model Primer (Primary Nursing). Dan perawat yang
melaksanakan asuhan keperawatan disebut sebagai Primary Nurse.

Tujuan dari Model Primer adalah terdapatnya kontinuitas keperawatan yang dilakukan secara
komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan. Penugasan yang diberikan kepada Primary Nurse
atas pasien yang dirawat dimulai sejak pasien masuk ke rumah sakit yang didasarkan kepada
kebutuhan pasien atau masalah keperawatan yang disesuaikan dengan kemampuan Primary Nurse.
Setiap primary nurse mempunyai 4-6 pasien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama pasien
dirawat. Primary Nurse akan melakukan pengkajian secara komprehensif dan merencanakan asuhan
keperawatan. Selama bertugas ia akan melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan masalah dan
kebutuhan pasien.
Demikian pula pasien, keluarga, staff medik dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa pasien
tertentu merupakan tanggung jawab primary nurse tertentu. Dia bertanggung jawab untuk
mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan dia juga akan
merencanakan pemulangan pasien atau rujukan bila diperlukan.

Jika primary nurse tidak bertugas, kelanjutan asuhan keperawatan didelegasikan kepada perawat lain
yang disebut associate nurse. Primary nurse bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan yang
diterima pasien dan menginformasikan tentang keadaan pasien kepada Kepala Ruangan, dokter dan
staf keperawatan lainnya. Kepala Ruangan tidak perlu mengecek satu persatu pasien, tetapi dapat
mengevaluasi secara menyeluruh tentang aktivitas pelayanan yang diberikan kepada semua pasien.

Seorang primary nurse bukan hanya mempunyai kewenangan untuk memberikan asuhan
keperawatan tetapi juga mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja sosial,
kontak dengan lembaga sosial masyarakat, membuat jadual perjanjian klinik, mengadakan kunjungan
rumah dan sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan tersebut, maka dituntut akuntabilitas yang
tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan. Primary Nurse berperan sebagai advokat pasien
terhadap birokrasi rumah sakit.

Kepuasan yang dirasakan pasien dalam model primer adalah pasien merasa dimanusiawikan karena
pasien terpenuhi kebutuhannya secara individual dengan asuhan keperawatan yang bermutu dan
tercapainya pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi.
Kepuasan yang dirasakan oleh Primary Nurse adalah tercapainya hasil berupa kemampuan yang
tinggi terletak pada kemampuan supervisi. Staf medis juga merasakan kepuasannya dengan model
primer ini, karena senantiasa informasi tentang kondisi pasien selalu mutakhir dan laporan pasien
komprehensif, sedangkan pada model Fungsional dan Tim informasi diperoleh dari beberapa
perawat. Untuk pihak rumah sakit keuntungan yang dapat diperoleh adalah rumah sakit tidak perlu
mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi tenaga yang ada harus berkualitas tinggi.

Dalam menetapkan seorang menjadi Primary Nurse perlu berhati-hati karena memerlukan beberapa
kriteria, diantaranya dalam menetapkan kemampuan asertif, self direction, kemampuan mengambil
keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntabel serta mampu berkolaborasi dengan
baik antar berbagai disiplin ilmu. Di negara maju pada umumnya perawat yang ditunjuk sebagai
primary nurse adalah seorang Clinical Specialist yang mempunyai kualifikasi Master.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa Model Primer dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
bila dibandingkan dengan Model Tim, karena:
o Hanya satu perawat yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat dalam perencanaan dan
koordinasi asuhan keperawatan.
o Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4 - 6 pasien bila dibandingkan dengan 10-20 orang pada
setiap tim.
o Perawat Primer bertanggung jawab selama 24 jam.
o Rencana pulang pasien dapat diberikan lebih awal.
o Rencana keperawatan dan rencana medik dapat berjalan paralel.

2.1.2. Diagram Model Primer


Diagram 4. Model Primer

KEPALA RUANGAN
PASIEN-PASIEN
PRIMARY NURSE
DOKTER
PENUNJANG
SHIFT PAGI
SHIFT MALAM
SHIFT SORE

Tugas perawat primer adalah :


o Menerima pasien mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
o Mengkaji kebutuhan
o Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan keperawatan
o Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama ia dinas.
o Mengkomunikasikan dan mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun
perawat lain.
o Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.
o Menerima dan menyesuaikan rencana
o menyiapkan penyuluhan pulang
o Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial dimasyarakat.
o Membuat jadwal perjanjian klinik.
o Mengadakan kunjungan rumah.

Konsep dasar :
1. Ada tanggung jawab dan tanggung gugat
2. Ada otonomi
3. Ada keterlibatan pasien dan keluarganya

Ketenagaan :
1. Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
2. Beban kasus pasien maksimal 4 - 6 pasien untuk 1 perawat
3. Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
4. Perawat primer dibantu oleh perawat profesional lain maupun non profesional sebagai perawat
asisten.

Kepala bangsal :
1. Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer
2. Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
3. Menyusun jadwal dinas
4. Memberi penugasan pada perawat asisten.
Kelebihan dari metode perawat primer ini adalah :
o Mendorong kemandirian perawat : Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap
hasil dan memungkinkan pengembangan diri.
o Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat
o Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter dan rumah sakit (Gillies, 1989).
Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya kebutuhan
secara individu. Selain itu asuhan yang diberikan bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif
terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Dokter juga merasakan kepuasan
dengan model primer karena senantiasa mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu
diperbarui dan komprehensif.

Sedangkan kelemahannya/kekurangannya adalah :


o Perlu kualitas dan
o kuantitas tenaga perawat
o SDM belum memadai
o Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai
dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai
keperawatan klinik, akontable, serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.

PERAWAT PELAKSANA

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT (PP & PA)


TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT PRIMER (PP)
Menerima klien dan mengkaji kebutuhan klien secara komprehensif
melakukan kontrak dengan klien dan keluarga
melakukan pengkajian terhadap klien baru/melengkapi hasil dari PA
menetapkan rencana askep dan menjelaskan pada PA (preconfernce)
Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama praktik
menetapkan PA yang bertanggung jawab pada klien
melakukan bimbingan dan evaluasi pada PA dalam melakukan tindakan keperawatan
memonitor dokumentasi yang dilakukan PA
Membuat jadwal perjanjian klinik
mengatur pelaksanaan konsul dan lab
membantu dan memfasilitasi terlaksananya kegiatan PA
melakukan kegiatan serah terima klien
mendampingi visit team medis
melakukan evaluasi askep dan membuat catatan perkembangan klien setiap hari
Mengomunikasikan dan mengoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin
lain maupun perawat lain
memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga
membuat rencana pulang
Melakukan rujukan kepada pekarya sosial dan kontak dengan lembaga sosial di
masyarakat
Mengadakan kunjungan rumah
bekerja sama dengan CCM

TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT ASSOCIATE (PA)


Perawat associate adalah seorang perawat yang diberi wewenang dan ditugaskan
untuk memberikan pelayanan keperawatan langsung kepada klien. Berikut uraian tugas PA:
Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses
keperawatan dengan sentuhan kasih sayang:

o Menyusun rencana perawatan sesuai dengan masalah klien


o Melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan rencana
o Mengevaluasi tindakan perawatan yang telah diberikan
o Mencatat atau melaporkan semua tindakan perawatan dan respons klien pada
catatan perawatan
Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab

o Pemberian obat
o Pemeriksaan laboratorium
o Persiapan klien yang akan operasi
Memerhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, sosial, dan spiritual dari klien
o Memelihara kebersihan klien dan lingkungan
o Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman, dan
ketenangan
o Pendekatan dan komunikais terapeutik

Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan


keperawatan dan pengobatan atau diagnosis
Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya
Memberikan pertolongan segera pada klien gawat atau sakaratul maut
Membantu kepala ruangan dalam penatalaksanaan ruangan secara administratif

o Menyiapkan data klien baru, pulang, atau meninggal


o Sensus harian atau formulir
o Rujukan harian atau formulir
Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan menurut fungsinya supaya
siap pakai
Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, dan kenyamanan, dan keindahan
ruangan
Melaksanakan tugas dinas pagi, sore, malam, atau hari libur secara bergantian sesuai
jadwal tugas
Memberikan penyuluhan kesehatan sehubungan dengan penyakitnya (PKMRS)
Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan maupun tulisan
Membuat laporan harian klien

Berikut beberapa tugas lain dari perawat associate:


membaca rencana perawatan yang telah ditetapkan PP
membina hubungan terapeutik dengan klien dan keluarga
menerima delegasi peran PP, bila PP tidak ada
melakukan tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan
melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan dan mendokumentasikan
memeriksa kerapihan dan kelengkapan status keperawatan
mengkomunikasikan semua masalah kepada PP
menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik, lab, pengobatan dan tindakan
keperawatan
berperan serta dalam memberikan pendidikan kesehatan
melakukan inventarisasi fasilitas
membantu tim lain yang membutuhkan

PANDUAN PP DALAM KONFERENCE

1. konfernsi dilakukan setiap hari segera setelah dilakukan pergantian dinas


2. dihadiri oleh PP dan PA dalam timnya masing-masing
3. penyampaian perkembangan dan masalah klien berdasarkan hasil evaluasi kemarin
dan kondisi klien yang dilaporkan oleh dinas sebelumnya
4. hal-hal yang disampaikan oleh PP:

o Keadaan umum klien,


o Keluhan klien,
o TTV dan kesadaran,
o Hasil pemeriksaan lab/diagnostik terbaru,
o Masalah keperawatan,
o Rencana keperawatan hari ini,
o Perubahan terapi medis,
o Rencana medis

PANDUAN PP DALAM RONDE DENGAN PERAWAT ASOSIASI


1. PP menentukan klien yang akan dibuat ronde
2. klien dengan perawatan khusus dan kompleks
3. ronde dilakukan tiap hari saat kondisi memungkinkan
4. waktu kurang lebih 1 jam (2-3 klien)
5. PA mempresentasikan kondisi klien dan tindakan yang telah dilakukan
6. PP memberi masukan dan pujian
7. masalah yang sensitif sebaiknya tidak didiskusikan dihadapan klien.

PANDUAN PERAWAT PRIMER DALAM KONTRAK/ORIENTASI PADA


KLIEN/KELUARGA

1. orientasi dilakukan saat petama kali klien datang (24 jam petama) dan kondisi sudah
tenang
2. orientasi dilakukan oleh PP, bila PP tidak ada, dilakukan oleh PA kemudian dilengkapi
oleh PP
3. orientasi diberikan kepada klien dan didampngi oleh keluarga
4. setelah orientasi, berikan daftar tim pada klien / keluarga
5. orientasi diulang kembali minimal dua hari oleh PP
6. pada saat bergantian dinas, ingatkan nama perawat yang bertugas saat itu

Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan kesehatan,
karena dengan adanya dokumentasi yang baik, informasi mengenai keadaan pasien dapat
diketahui secara berkesinambungan. Dokumenasi juga merupakan aspek legal tentang
pemberian asuhan keperawatan, secara lebih spesifik dokumentasi keperawatan dapat
berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi kesehatan, sumber data untuk pengelolaan
pasien dan penelitian dan sebagai barang bukti pertanggungjawaban dan pertangunggugatan
asuhan keperawatan serta sebagai sarana pemantauan asuhan keperawatan. Dokumentasi
keperawatan dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien, yang terdiri dari format
pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan dan catatan perkembangan pasien.

SUMBER REFERENSI

Afandi, M, Pembelajaran model praktek keperawatan profesional pendekatan modifikasi keperawatan primer, PSIK
FK UMY, diakses pada 2 April 2011,

Arwani & Supriyatno, H 2006, Manejemen bangsal keperawatan, Jakarta: EGC.

Nursalam, 2007, Manajemen keperawatan aplikasi dalam praktik keperawatan profesional, ed.2, Jakarta: Salemba
Medika.

Nursalam, 2011, Manajemen keperawatan aplikasi dalam praktik keperawatan profesional, ed.3, Jakarta: Salemba
Medika.

Rusdi, I 2008, Model pemberian asuhan keperawatan (nursing care delivery models), diakses 2 April 2011,
< http://ibnurusdi.wordpress.com/2008/04/06/model-pemberian-asuhan-keperawatan/