Anda di halaman 1dari 49

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Peran keluarga sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Upaya
menciptakan Indonesia sehat dapat dimulai dari populasi terkecil yaitu keluarga.
Kemenkes RI tahun 2016 membuat program keluarga sehat yang dinilai
berdasarkan dua belas indikator, yaitu : Keluarga mengikuti program KB, ibu
bersalin di fasilitas kesehatan, bayi mendapatkan imunisasi lengkap, ASI eksklusif
selama 6 bulan, pemantauan pertumbuhan balita, penderita TB paru yang berobat
sesuai standart, penderita Hipertensi yang berobat secara teratur, tidak ada anggota
keluarga yang merokok, sekeluarga sudah menjadi angggota JKN, mempunyai
sarana air bersih, menggunakan jamban keluarga dan penderita gangguan jiwa
berat yang diobati.9
Tahun 1990 penyakit menular menjadi penyebab kematian & kesakitan
terbesar di Indonesia, sejak tahun 2010 penyakit tidak menular menjadi penyebab
terbesar kematian & kecacatan, diperkirakan peningkatan penyakit tidak menular
ke depan masih terjadi.2
Peneliti memilih Timbag Deli sebagai wilayah kerja dikarenakan Diantara
15 wilayah kerja yang dinaungi Puskesmas Galang hanya Desa Timbang Deli
yang sudah melakukan pendataan keluarga sehat (70,5%). untuk perbandingan
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1. Persentase Indikator Keluarga Sehat di kecamatan Galang
Jumlah KK IKS
No Nama Desa yang di tingkatdesa Kategori
pantau (%)
1 Galang Kota 984 77,85 Keluarga pra-sehat
2 Jaharun A 236 75,76 Keluarga pra-sehat
3 Jaharun B 298 76,90 Keluarga pra-sehat
4 Timbang Deli 496 70,50 Keluarga pra-sehat
5 Tanah Abang 325 70,98 Keluarga pra-sehat
Jumlah KK IKS
No Nama Desa yang di tingkat Kategori
pantau desa (%)

1
6 Galang Suka 386 73,02 Keluarga pra-sehat
7 Sei Putih 302 72,80 Keluarga pra-sehat
8 Kramat Gajah 339 77,28 Keluarga pra-sehat
9 Paku 350 71,94 Keluarga pra-sehat
10 Galang Barat 330 73,76 Keluarga pra-sehat
11 Sei Karang 284 71,25 Keluarga pra-sehat
12 Kotangan 349 73,20 Keluarga pra-sehat
13 Bandar Kuala 421 73,35 Keluarga pra-sehat
14 Pulo Tagor 312 72,69 Keluarga pra-sehat
15 Titi Besi 412 71,32 Keluarga pra-sehat
Sumber Data : Data Pencapaian 12 Indikator Keluarga Sehat di Kecamatan
Galang Tahun 2017
Dengan mengetahui data data mengenai indikator mana yang paling
rendah dilakukan masyarakat Desa Timbang Deli maka kita dapat mengetahui
prioritas kerja, sehingga dapat tepat guna dan tepat sasaran dalam melakukan
gerakan preventif.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang bahwasanya Desa Timbang Deli
adalah desa yang jumlah kepala keluarganya (KK) sebanyak 496 KK dan cakupan
pencapaian program keluarga sehat paling rendah, yaitu sebanyak 70,50%
sehingga kami tertarik melakukan penelitian di wilayah tersebut, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
Bagaimana Evaluasi Pelaksanaan Dua Belas Indikator Keluarga Sehat di Desa
Timbang Deli Kecamatan Galang Kabupaten Deli serdang tahun 2016 ?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana masyarakat di
Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Untuk
melaksanakan dua belas indikator keluarga Sehat.
1.3.2. Tujuan khusus

2
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk :
1. Evaluasi pelaksanaan indikator keluarga mengikuti program KB di
Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
2. Evaluasi pelaksanaan indikator ibu bersalin di fasilitas kesehatan di
Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
3. Evaluasi pelaksanaan indikator bayi mendapat imunisasi dasar
lengkap di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli
Serdang.
4. Evaluasi pelaksanaan indikator bayi diberi ASI Eksklusif selama 6
bulan Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli
Serdang.
5. Evaluasi pelaksanaan indikator pemantauan pertumbuhan balita di
Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
6. Evaluasi pelaksanaan indikator penderita TB paru yang berobat sesuai
standar di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli
Serdang.
7. Evaluasi pelaksanaan indikator penderita Hipertensi yang berobat
secara tertaur di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten
Deli Serdang.
8. Evaluasi pelaksanaan indikator tidak ada anggota keluarga yang
merokok di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli
Serdang.
9. Evaluasi pelaksanaan sekeluarga sudah menjadi anggota JKN di Desa
Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
10. Evaluasi pelaksanaan indikator mempunyai sarana air bersih di Desa
Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
11. Evaluasi pelaksanaan indikator menggunakan jamban keluarga Desa
Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang.
12. Evaluasi pelaksanaan indikator penderita gangguan jiwa berat yang
diobati dan tidak di telantarkan di Desa Timbang Deli, Kecamatan
Galang, Kabupaten Deli Serdang.

1.4. Manfaat Penelitian


1. Bagi Instasi Terkait

3
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
diharapkan sebagai bahan masukan, sumbangan pemikiran dan sebagai
bahan untuk memecahkan permasalahan bagi pemerintah, instasi terkait,
masyarakat, dan fasilitas kesehatan khususnya pada tim kesehatan yang ada
di Puskesmas Dalu Sepuluh Sumatera Utara dalam meningkatkan
penyuluhan dan pembinaan terhadap masyarakat luas, mengenai dua belas
indikator keluarga sehat.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memberi
pengalaman langsung dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang
dimiliki tentang dua belas indikator keluarga sehat. Selain itu bermanfaat
untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan obyek
penelitian serta informasi untuk melengkapi referensi (kepustakaan)
sehingga dapat menunjang pengetahuan.
3. Bagi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa
untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa sebagian
acuan terhadap penelitian-penelitian sejenis untuk tahap berikutnya
diharapkan juga dapat memberikan manfaat untuk semua pihak yang
bersangkutan dalam penelitian ini.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keluarga sehat


2.1.1. Program Keluarga Sehat
Program Indonesia sehat dengan pendekatan keluarga sehat merupakan
salah satu program pemerintah mewujudkan VISI dan MISI Presiden pada agenda
ke 5 dalam 9 Agenda Prioritas (NAWA CITA): Meningkatkan Kualitas Hidup
Manusia Indonesia (PROGRAM INDONESIA SEHAT) yang tertuang dalam
Rencana Strategis Kemenkes 2015-2019 yaitu :
a. Penerapan Paradigma Sehat

4
b. Penguatan Pelayanan Kesehatan
c. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Melalui pendekatan keluarga.9

2.1.2. Prioritas Program Keluarga Sehat


Kesehatan ibu:
a. Menurunkan angka kematian ibu (AKI)
Kesehatan anak:
a. Menurunkan angka kematian bayi (AKB)
b. Prevalensi balita pendek (stunting)
Pengendalian penyakit menular:
a. Mempertahankan prevalensi HIV-AIDS <0,5
b. Menurunkan prevalensi tuberkulosis
c. Menurunkan prevalensi malaria
Pengendalian penyakit tidak menular
a. Menurunkan prevalensi hipertensi
b. Mempertahankan prevalensi obesitas pada 15,4
c. Menurunkan prevalensi diabetes
d. Menurunkan prevalensi kanker
Diperkuat dengan penyehatan lingkungan (sanitasi dan air minum)9

2.1.3. Batasan dan Tingkatan Keluarga Sehat


Batasan operasional keluarga = keluarga inti (suami, isteri dan
anak) dalam 1 Rumah bisa terdpt > 1 Keluarga.
Disepakati 3 tingkatan Keluarga Sehat yaitu:
a. Keluarga sehat >80% indikator baik.
b. Keluarga pra-sehat 50%-80% indikator baik.
c. Keluarga tidak sehat <50% indikator baik.9

2.2. Dua Belas Indikator Keluarga Sehat


2.2.1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)

5
Keluarga berencana (KB) merupakan program sosial dasar yang
sangatpenting artinya bagi suatu bangsa. Undang-undang No 10 tahun 1992
tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera
menyebutkan bahwa keluarga berencana (KB) merupakan upaya peningkatan
kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan,
pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, serta peningkatan
kesejahteraan keluarga, serta peningkatan kesejahteraan keluarga untuk
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.90

2.2.2. Ibu Bersalin di Fasilitas Kesehatan


Salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) 5 adalah
menurunkan AKI atau maternal mortality rate (MMR) hingga tiga perempatnya
dari tahun 1990. namun sampai saaat ini angka kematian ibu masih tinggi, hal ini
berarti dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk menurunkan angka kematian
ibu, salah satu penyebab kematian ibu adalah kurangnya kesadaran ibu hamil
dalam merencanakan persalinan di fasilitas kesehatan.2

2.2.3. Bayi Mendapat Imunisasi Lengkap


Menurut Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan bahwa
kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang
harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, sebagaimana yang
dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.3
Salah satu penyebab kematian bayi adalah penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Secara gobal, pada tahun 2010, dari total angka kematian balita
yakni sebesar 7,6 juta anak, sekitar 1,4 juta (18%) kematian diantaranya
disebabkan oleh pneumonia. Angka tersebut menunjukkan betapa ganasnya
pneumonia bagi balita di dunia hingga menempatkannya sebagai pembunuh
nomor satu pada anak balita.Oleh karena itu, diperlukan kekebalan tubuh yang
diberikan dalam bentuk imunisasi.

2.2.4. Pemberian ASI Eksklusif Selama 6 Bulan

6
Secara alamiah, seorang ibu mampu menghasilkan Air Susu Ibu (ASI)
segera setelah melahirkan. ASI diproduksi oleh alveoli yang merupakan bagian
hulu dari pembuluh kecil air susu. ASI merupakan makanan yang paling cocok
bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan
makanan bayi yang dibuat oleh manusia ataupun susu yang berasal dari hewan
seperti susu sapi, susu kerbau, atau susu kambing. Pemberian ASI secara penuh
sangat dianjurkan oleh ahli gizi diseluruh dunia. Tidak satupun susu buatan
manusia (susu formula) dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh
seorang bayi, seperti yang diperoleh dari ASI.11

Tabel 2.1. Perbandingan ASI dan susu sapi.


No Kandungan ASI Susu sapi
1 Laktoferin ++++ +
2 Lisozim ++++ +
3 SIgA ++++ +
4 SIgG + ++++
No Kandungan ASI Susu Sapi
5 Komplemen + ++++
6 Laktoperoksida + ++++

Imunoglobulin ASI tidak diabsorpsi bayi tetapi berperan memperkuat


sistem imun lokal usus. ASI juga meningkatkan IgA pada mukosa traktus
respiratorius dan kelenjar saliva bayi. Ini disebabkan faktor pertumbuhan dan
hormon sehingga dapat merangsang perkembangan sistem imun lokal bayi. Hal
ini terlihat dari lebih rendahnya penyakit otitis media, pneumonia, bakteriemia,
meningitis dan infeksi traktus urinarius pada bayi yang mendapat ASI dibanding
bayi yang mendapat PASI.7

2.2.5. Pemantauan Pertumbuhan Balita


Tumbuh kembang anak pada dasarnya merupakan dua peristiwa yang
berlainan akan tetapi keduanya saling berkaitan. Pertumbuhan (growth)
merupakan perubahan dalam ukuran besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat
sel, organ maupun individu yang bisa diukur berat dengan menggunakan

7
(gram/kilogram), ukuran panjang (cm, meter). Sedangkan perkembangan
(development) merupakan bertambahnya kemampuan skill/keterampilan dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks sebagai hasil dari proses
pematangan. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan merupakan kaitan yang
tidak bisa dipisahkan.8
Upaya pemantauan terhadap petumbuhan balita sebaiknya dilakukan setiap
bulan, hal ini dapat dilakukan dengan kegiatan penimbangan di Posyandu. Selain
itu Perkembangan fungsi kognitif merupakan aspek yang tidak kalah penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang sudah memasuki usia sekolah.7

2.2.6. Penderita TB Paru yang Berobat Sesuai Standar


Penyakit Tubercolusis atau yang sering disebut TB Paru adalah infeksi
menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tubercolusis.Tuberculosis
merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka
kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya, maka dari itu
Pasien yang sudah terdiagnosa TB sangat disarankan untuk berobat sesuai dengan
standar pengobatan TB yang sudah ditetapkan. 9
Bersama denganHIV/AIDS, Malaria dan TB Paru merupakan penyakit
yang pengendaliannyamenjadi komitmen global. Diperkirakan sekitar
sepertigapenduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium Tuberculosis. 9
Sumber penularan adalah penderita TBC BTA Positif. Pada waktu batuk
atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada
suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut
terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman TBC masuk ke dalam tubuh
manusia melalui pernafasan, kuman TBC tersebut dapat menyebar dari paru ke
bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif
hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut, bila hasil
pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut

8
dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh
konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.9

2.2.7. Penderita Hipertensi yang Berobat Teratur


Menurut Join Comitte on Prevention Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Preasure VII/JNC 2003 Hipertensi adalah suatau
keadaan dimana tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
> 90 mmHg.50 Hipertensi adalah suatu gangguan pada pembuluha darah yang
mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat
sampai kejaringan tubuh yang membutuhkannya. 5
Berdasarkan etiologi nya, Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2
kelompok:

a. Hipertensi esensial primer


Lebih dari 90% - 95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi
esensial (primer). Bebrapa mekanisme yang mungkin berkontribusi untuk
terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun belum satupun teori yang
tegas menyatakan pathogenesis hipertensi primer tersebut. Hipertensi sering turun
temurun dalam satu keluarag, hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor
genetic memegag peranan penting pada pathogenesis hipertensi primer. Menurut
data, bila ditemukan gambaran bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenic
dan polygenic mempunyai kecenderungan timbulnya hipertensi essensial. Faktor-
faktor lain yang dapat dimasukkan dalam daftar penyebab hipertensi jenis ini
adlah lingkungan, kelainan metabolime intra seluler dan faktor-faktor yang
meningkatkan resiko seperti obesitas, konsumsi alkohol, merokok dan kelainan
darah.5
b. Hipertensi Renal atau Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan penyakit ikutan dari penyakit yang
sebelumnya diderita. Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder
dari gangguan hormonal, diabetes, ginjal, penyakit pembuluh darah, penyakit

9
jantung atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah. Pada
kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau penyakit
renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat tertentu,
baik secara langsug ataupuntidak, dapat menyebabkan hipertensi atau
memperberta hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Apabila penyebab
sekunderdapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan
atau mengobati/mengoreksi kondisi komorbid yang menyertainya sudah
merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder.5
Penatalaksanaan pada Hipertensi bertujuan untuk mengendalikan angka
kesakitan dan angka kematian akibat penyakit hipertensi dengan cara seminimal
mungkin menurunkan gangguan terhadap kualitas hidup penderita.92 Upaya
penatalaksaan hipertensi pada dasarnya dapat dilakukan melalui terapi non-
farmakologi dan terapi farmakologi.5

Terapi non farmakologis :


a. Makan gizi seimbang
b. Mengatasi Obesitas
c. Melakukan olahraga teratur
d. Berhenti merokok
e. Mengurangi konsumsi alkohol
Terapi farmakologis :
Pengobatan harus sesuai dengan pola dan prinsip pemberian obat
hipertensi.

2.2.8. Tidak Ada Anggota Keluarga yang Merokok


Pada hakekatnya rokok merupakan salah satu produk industri dan
komoditi internasional yang mengandung sekitar 1500 bahan kimiawi. Unsur-
unsur yang penting yang terkandung di dalam rokok antara lain : tar, nikotin,
benzopyrin, metilkloride, aseton, ammonia, dan karbonmonoksida.9

10
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap asapnya, baik
menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Sedangkan rokok sendiri adalah
gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas.9

2.2.9. Sekeluarga Sudah Menjadi Anggota JKN


JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program Pemerintah yang
bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi
seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera..
Sebelum JKN, pemerintah telah berupaya merintis beberapa bentuk jaminan sosial
di bidang kesehatan, antara lain Askes Sosial bagi pegawai negeri sipil (PNS),
penerima pensiun dan veteran, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek
bagi pegawai BUMN dan swasta, serta Jaminan Kesehatan bagi TNI dan Polri.

Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004 tentang SJSN, maka Jaminan


Kesehatan Nasional dikelola dengan prinsip :
1. Gotong royong. Dengan kewajiban semua peserta membayar iuran maka
akan terjadi prinsip gotong royong dimana yang sehat membantu yang sakit,
yang kaya membantu yang miskin.
2. Nirlaba. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial tidak diperbolehkan
mencari untung. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana
amanat, sehingga hasil pengembangannya harus dimanfaatkan untuk
kepentingan peserta.
3. Keterbukaan, kehati hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip manajemen ini mendasari seluruh pengelolaan dana yang berasal
dari iuran peserta dan hasil pengembangan.
4. Portabilitas. Prinsip ini menjamin bahwa sekalipun peserta berpindah
tempat tinggal atau pekerjaan, selama masih di wilayah Negara Republik
Indonesia tetap dapat mempergunakan hak sebagai peserta JKN.

11
5. Kepesertaan bersifat wajib. Agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga
dapat terlindungi. Penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan
ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program.
6. Dana Amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana
titipan kepada badan penyelenggara untuk dikelola sebaik baiknya demi
kepentingan peserta.
7. Hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk
pengembangan program dan untuk sebesar besar kepentingan peserta.9

2.2.10. Mempunyai Sarana Air Bersih


Kebutuhan air bersih selalu meningkat seiring dengan meningkatnya
jumlah penduduk. Total kebutuhan air sulit dilakukan karena banyak faktor yang
harus dipertimbangkan, diantaranya adalah meningkatmya keberagaman kegiatan
dan peradaban penduduk. Berdasarkan tujuan penggunaannya, kebutuhan air
bersih dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok, yaitu:

a) Kebutuhan domestik
Kebutuhan domestik digunakan untuk menunjang kegiatan sehari-hari atau rumah
tangga seperti mencuci, mandi, memasak, dan lain-lain. Kebutuhan air untuk
tujuan ini dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu:
1) Konsumsi (keperluan primer), seperti minum dan memasak.
2) Kesehatan (hygine) meliputi kebutuhan dasar individu atau disebut pula
keperluan sekunder dan kebersihan rumah tangga seperti mandi, mencuci
pakaian, membersihkan rumah, wudhu; dan
3) Penggunaan untuk tujuan kesenangan (amenity use) atau keperluan tersier
seperti mencuci kendaraan, menyiram tanaman dan mengisi aquarium.
Pada tahun 2001, Thompson menambahkan kategori keempat, yaitu
penggunaan produktif (productive use) seperti konstruksi, usaha hortikultura, dan
lain-lain. 7

12
b) Kebutuhan Non Domestik
Kebutuhan Non Domestik digunakan untuk beberapa jenis kegiatan, yaitu
institusional, komersial, industri, dan fasilitas umum.
1) Kebutuhan institusional meliputi kegiatan perkantoran, sekolah, rumah
sakit dan lain-lain.
2) Kebutuhan komersial terdiri dari pertokoan, hotel, restoran, dan lain-lain .
3) Kebutuhan industri biasanya digunakan untuk faktor produksi.
4) Kebutuhan untuk fasilitas umum untuk kepentingan publik, seperti tempat
rekreasi, ibadah, pasar, terminal dan lain-lain.
Kebutuhan domestik air bersih berbeda antara satu daerah dengan daerah
lainnya, yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1) Iklim. Penduduk di daerah panas membutuhkan air lebih banyak daripada
penduduk di daerah dingin atau pada saat musim kemarau kebutuhan air
lebih banyak dibandingkan dengan musim hujan.

2) Karakteristik penduduk. Kebutuhan air lebih besar bagi penduduk dengan


kondisi sosial-ekonomi (tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan lain-
lain) yang lebih baik.
3) Tingkat kemajuan daerah. Kebutuhan air di daerah maju atau di perkotaan
biasanya lebih besar daripada di daerah yang kurang maju atau pedesaan.
Sementara itu, besarnya konsumsi air untuk rumah tangga sendiri bervariasi.
Kebutuhan air bersih untuk sektor domestik di perkotaan sangat besar dan
terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Pada tahun 1984, Martopo membandingkan kebutuhan air di perkotaan
dan di pedesaan bahwa kebutuhan air di perkotaan rata-rata 103 liter per kapita
per hari sedangkan di pedesaan 68 liter per kapita per hari. 8

2.2.11. Menggunakan Jamban Keluarga


Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan
kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher
angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit
penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya. 979

13
Didalam Keputusan Mentri Kesehatan nomor 852/2008 tentang Strategi Nasional
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat disebutkan bahwa jamban sehat adalah
fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penyakit.8
Kepemilikan jamban keluarga juga mengandung unsure mendidik, dengan
adanya jamban keluarga maka setiap anggota keluarga yang memiliki jamban
tidak akan membiasakan diri membuang kotorannya disembarang tempat. Oleh
karma itu, agar jamban dapat berfungsi dengan baik maka harus dibuat jamban
yang memenuhi syarat. Syarat syarat jamban sehat adlaahs ebagai berikut :
a. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak
10 15 meter dari sumber air minum.
b. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
c. Cukup luas dan landai/miring kea rah lubang jongkok sehingga tidak
mencemari tanah disekitarnya.
d. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannya.
e. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna.
f. Cukup penerangan.
g. Lantai kedap air.
h. Ventilasi cukup.
i. Tersedia air dan alat pembersih.7

2.2.12. Penderita Gangguan Jiwa Berat yang Diobati


Menurut Frederick H. Kanfer dan Arnold P. Goldstein gangguan jiwa
adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubunganya dengan
orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap
diri sendiri.
Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan jiwa menurut Kanfer dan
Goldstein adalah sebagai berikut:
Pertama, hadirnya perasaan cemas (anxiety) dan perasaan tegang (tension) di
dalam diri.
Kedua, merasa tidak puas (dalam artian negative) terhadap perilaku diri sendiri.
Ketiga, perhatian yang berlebihan terhadap problem yang dihadapinya.

14
Keempat, ketidakmampuan untuk berfungsi secara efektif didalam menghadapi
problem.
Kadang-kadang ciri tersebut tidak dirasakan oleh penderita. Yang
merasakan akibat perilaku penderita adalah masyarakat disekitarnya. Orang
disekitarnya merasa bahwa perilaku yang dilakukan adalah merugikan diri
penderita dan merusak dirinya sendiri. Dalam kasus demikian seringkali terjadi
orang-orang merasa terganggu dengan perilaku penderita.
Penyebab gangguan jiwa terdapat pada satu atau lebih dari ketiga bidang
yaitu badaniah, psikologik dan sosial, yang terus menerus saling mempengaruhi.
Dan karena manusia bereaksi secara holistik, maka terdapat kecenderungan untuk
membuat diagnosa multidimensional yang berusaha mencakup ketiga bidang ini.
Ketiga bidang tersebut adalah:
a. Bidang badaniah, setiap faktor yang menggaggu perkembangan fisik
dapatmengganggu perkembangan mental. Faktor-faktor ini mungkin dari
keturunanatau dari lingkungan (kelainan kromosom, konstitusi, cacat
congenital, gangguan otak). Kalau menikah dengan saudara sepupu (seperti
biasa pada beberapa suku di indonesia) melipat gandakan kemungkinan
melahirkan anak cacat atau anak lahir mati.
b. Bidang psikologi, perkembangan psikologik yang salah mungkin
disebabkan oleh berbagai jenis deprivasi dini, pola keluarga yang patogenik
dan masa remaja yang dilalui secara tidak baik.
c. Bidang sisiologi pun tidak kecil peranannya dalam perkembangan yang
salah, umpamanya adat istiadat dan kebudayaan yang kaku ataupun
perubahan-perubahan yang cepat dalam dunia modern ini, sehingga
menimbulkan stress yang besar pada individu.9

2.3. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini yang dijadikan kerangka teori tentang mekanisme

Evaluasi Pelaksanaan Dua Belas Indikator Keluarga Sehat adalah sebagai berikut.

Analisa Data Rumusan Rencana Kegiatan Implementasi


Masalah Kegiatan

15
Evaluasi Pelaksanaan 12 Indikator Keluarga
Sehat

Gambar 2.1 Kerangka Teori

BAB 3
KERANGKA KONSEP

3.1. Evaluasi
Kerangka Konsep Penelitian
Pelaksanaan 12 indikator Keluarga Sehat :
- Keluarga mengikuti program KB (Keluarga Berencana)
- Ibu bersalin di fasilitas kesehatan
- Bayi mendapat imunisasi lengkap
- Pemberian asi eksklusif selama 6 bulan
- Pemantauan pertumbuhan balita
- Penderita TB paru yang berobat sesuai standart
- Penderita Hipertensi yang berobat teratur
- Tidak ada anggota keluarga yang merokok
- Sekeluarga sudah menjadi anggota JKN
- Mempunyai sarana air bersih
- Menggunakan jamban keluarga

- Penderita gangguan jiwa berat yang diobati dan tidak ditelantarkan

16

Evaluasi Program Keluarga Sehat


3.2. Definisi Operasional
Hasil
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala
Ukur
1 Keluarga Jika keluarga merupakan Hasil pendataan 0 = ya Nominal
mengikuti pasangan usia subur, suami Keluarga Sehat 1 = Tidak
program KB atau isteri atau keduanya puskesmas
terdaftar secara resmi sebagai Galang tahun
peserta/akseptor KB dan/atau 2016
menggunakan alat kontrasepsi. (PROKESGA)

2 Ibu bersalin di Jika di keluarga terdapat ibu Hasil pendataan 0 = ya Nominal


fasilitas pasca bersalin (usia bayi 0-12 Keluarga Sehat 1 = Tidak
kesehatan bulan), persalinan ibu tersebut puskesmas
dilakukan di rumah sakit atau Galang tahun
puskesmas atau 2016
klinik. (PROKESGA)

3 Bayi mendapat Jika di keluarga terdapat anak Hasil pendataan 0 = ya

17
imunisasi (usia 1-2 tahun), telah Keluarga Sehat 1 = Tidak
dasar lengkap mendapatkan imunisasi HB0, puskesmas
BCG, DPT-HB1, DPT-HB2, Galang tahun
DPT-HB3, Polio1, Polio2, 2016
Polio3, Polio4 dan Campak. (PROKESGA)

4 Bayi diberi asi Jika di keluarga terdapat bayi Hasil pendataan 0 = ya Nominal
eksklusif usia > 6-18 bulan, bayi Keluarga Sehat 1 = Tidak
selama 6 bulan tersebut selama 6 bulan puskesmas
pertama (usia 0-6 bulan) hanya Galang tahun
diberi Air Susu Ibu (ASI) saja 2016
(ASI eksklusif) (PROKESGA)
5 Pemantauan Jika di keluarga terdapat balita, Hasil pendataan 0 = ya Nominal
pertumbuhan terhadap balita tersebut bulan Keluarga Sehat 1 = Tidak
balita yang lalu ditimbang berat puskesmas
badannya untuk dicatat di Galang tahun
Posyandu 2016
(PROKESGA)

6. Penderita TB Jika di keluarga terdapat Hasil pendataan 0 = ya Nominal


paru yang anggota keluarga yang Keluarga Sehat 1 = Tidak
berobat sesuai menderita batuk sudah 2 (dua) puskesmas
standart minggu berturut-turut belum Galang tahun
sembuh atau didiagnogsis 2016
sebagai penderita Tuberkulosis (PROKESGA)
(TB) Paru, penderita tersebut
berobat sesuai dengan
petunjuk dokter/ petugas
kesehatan.

18
7 Penderita Jika di keluarga terdapat Hasil pendataan 0 = ya Nominal
Hipertensi anggota keluarga yang Keluarga Sehat 1 = Tidak
yang berobat berdasar pengukuran adalah puskesmas
teratur penderita tekanan darah tinggi Galang tahun
(hipertensi), ia berobat sesuai 2016
dengan petunjuk dokter/ (PROKESGA)
petugas kesehatan.

8 Tidak ada Jika tidak ada seorang pun Hasil pendataan 0 = ya Nominal
anggota anggota keluarga yang sering Keluarga Sehat 1 = Tidak
keluarga yang atau kadang-kadang puskesmas
merokok menghisap rokok atau produk Galang tahun
lain dari tembakau. Termasuk 2016
di sini adalah jika anggota (PROKESGA)
keluarga tidak pernah atau
sudah berhenti dari kebiasaan
menghisap rokok atau produk
lain dari tembakau.

9 Sekeluarga Jika seluruh anggota keluarga Hasil pendataan 0 = ya Nominal


sudah menjadi memiliki kartu keanggotaan Keluarga Sehat 1 = Tidak
anggota JKN Badan Penyelenggara Jaminan puskesmas
Sosial (BPJS) Kesehatan dan Galang tahun
atau kartu kepesertaan asuransi 2016
kesehatan lainnya. (PROKESGA)

10 Mempunyai Jika keluarga memiliki akses Hasil pendataan 0 = ya Nominal

19
sarana air air leding PDAM atau sumur Keluarga Sehat 1 = Tidak
bersih pompa, atau sumur gali, atau puskesmas
mata air terlindung untuk Galang tahun
keperluan sehari - hari. 2016
(PROKESGA)

11 Menggunakan Jika keluarga memiliki atau Hasil pendataan 0 = ya Nominal


jamban menggunakan sarana untuk Keluarga Sehat 1 = Tidak
keluarga membuang air besar (kakus) puskesmas
berupa kloset atau leher angsa Galang tahun
atau plengsengan 2016
(PROKESGA)
12 Penderita Jika di keluarga terdapat Hasil pendataan 0 = ya Nominal
gangguan jiwa anggota keluarga yang Keluarga Sehat 1 = Tidak
berat yang menderita gangguan jiwa puskesmas
diobati berat, penderita tersebut tidak Galang tahun
ditelantarkan dan atau 2016
dipasung. (PROKESGA)

20
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan
cross-sectional untuk mengetahui Gambaran Evaluasi Pelaksanaan Dua Belas
Indikator Keluarga Sehat di Desa Timbang Deli Kabupaten Deli Serdang Provinsi
Sumatera Utara.

4.2 Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang,
Kabupaten Deli Serdang.

4.3 Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada hari kamis s/d senin, pada tanggal 09
Maret 2017 s/d 13 Maret 2017

21
POA Mini Survey
Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UISU di Puskesmas Galang

Hari/Tanggal
N Rabu Kamis Jumat Sabtu Senin Selasa Rabu Kegiatan
O 08-03- 09-03- 10-03- 11-03- 13-03- 14-03- 14-03-
2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017
Konsultasi Pemilihan
1 Topik Penelitian di
Puskesmas Galang
Penulisan Proposal Mini
2
Survey
Penelitian di Desa
3
Timbang Deli
Revisi Mini survey di
4
Dinas Kesehatan
Pengolahan Data Mini
5
Survey

6 Penyerahan Mini survey

Tabel 4.1. POA Mini Survey

22
4.4 Populasi dan Sampel
4.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh keluarga yang terdapat di
Desa Timbang Deli, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang. Memiliki
1647 jiwa dan 496 KK

4.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili populasi yang akan
diambil. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik
Accidental sampling. Accidental sampling adalah Teknik pengambilan sampel
ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada
atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan konteks penelitian. Sampel yang
diambil secara Accidental Samping berarti sampel diambil datri responden
atau kasus yang kebetulan ada disuatu tempat atau keadaan tertentu.

4.5 Teknik Pengumpulan Data


Teknik yang digunakan dalam penelitian ini untuk pengumpulan data,
yaitu data kuantitatif (Data Sekunder) adalah data yang diperoleh dari instansi
terkait yaitu dari Puskesmas Rawat Inap Galang Kecamatan Galang Kabupaten
Deli Serdang.

4.6 Pengolahan dan Analisa Data


Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diolah
menggunakan program SPSS for windows. Kemudian diproses pengolahan data
menggunakan program computer ini terdiri dari beberapa langkah.
1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan data, kesinambungan data dan
keseragaman data, apakah sudah sesuai seperti yang diharapkan atau

23
tidak.
2. Scoring, penilaian data dengan memberikan skor pada pertanyaan yang
berkaitan.
3. Coding, yaitu menyederhanakan jawaban atau data yang dilakukan
dengan memberikan suatu simbol tertentu (biasanya dalam bentuk
angka) untuk setiap jawaban.
4. Tabulating, yaitu mengelompokkan data kedalam suatu tabel tertentu
menurut sifat-sifat yang dimilikinya sesuai dengan tujuan penelitian.
5. Processing, jawaban dari responden yang telah diterjemahkan menjadi
bentuk angka, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar
dapat dianalisis.
6. Cleaning, pembersihan data merupakan kegiatan pemeriksaan kembali
data yang sudah di entry, apakah ada kesalahan atau tidak.

4.7. Analisa Data


Analisa Univariat
Analisa yang digunakan dengan menjelaskan secara deskriptif unutk melihat
distribusi frekuensi yang di jadikan dalam bentuk tabel.

24
BAB 5
HASIL PENELITIAN
5.1. Gambaran Umum Hasil Penelitian
5.1.1. Geografi
Desa Timbang Deli memiliki luas wilayah 121,9 Ha dengan pekerjaan
yang paling dominan adalah sebagai petani. Memiliki 4 dusun. Desa tersebut
memiliki jumlah penduduk 1647 jiwa. Dilihat dari agama yang terbanyak dalam
desa tersebut adalah islam dan sisanya Kristen protestan, Katolik, Hindu dan
Budha, suku yang paling dominan suku batak dan sisanya Jawa, Melayu, Minang
dan lain-lain.
Wilayah kerja Puskesmas Galang mencakup 15 desa dengan dengan luas
wilayah kerja 76.315 Ha
Data Dasar Puskesmas Galang
Nama Puskesmas : Galang
Alamat Puskesmas : Jl. Bukit Barisan, Kec. Galang, Kab Deli Serdang,
Sumatera Utara
Jumlah Penduduk : 39.449 jiwa

5.1.1. Demografi
1. Puskesmas Galang
Berdasarkan data yang diperoleh bahwa wilayah kerja Puskesmas Galang
Kecamatan Galang memiliki jumlah penduduk 39.449 jiwa, jumlah Kepala
Keluarga 5.824 KK yang mencakup 15 desa.

2. Desa Timbang Deli


Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin
Kepala Keluarga : 496KK
Laki-Laki : 873 Orang
Perempuan : 774 Orang

25
5.2. Hasil Penelitian
5.2.1. Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator keluarga
mengikuti program KB
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator keluarga mengikuti
program KB dapat dilihat di tabel 5.1 berikut ini :

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator keluarga


mengikuti program KB

Keluarga mengikuti Frekuensi (keluarga) Prosentase (%)


program KB
Ya 286 89,0
Tidak 35 11,0
Total 321 100.0
Total keluarga tidak 175 -
produktif
Total KK 496 KK 100.0
Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.1 dari total 496 KK didapatkan keluarga
produktif 321 KK dan sebanyak 175 KK tidak produktif. Dari hasil keluarga
yang masih produktif ditemukan keluarga yang melakukan indikator mengikuti
program KB sebanyak 286 keluarga (89%) dan sisanya sebanyak 35 keluarga
(11%) tidak mengikuti program KB, artinya sudah banyak masyarakat yang
mengerti akan penting nya mengikuti program KB dalam perencanaan kehamilan
guna membentuk keluarga sehat, sejahtera dan bahagia.

5.2.2. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Ibu Bersalin di


Fasilitas Kesehatan
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator ibu bersalin di
Fasilitas kesehatan dapat dilihat di tabel 5.2. berikut ini :

Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Ibu Bersalin


di Fasilitas Kesehatan

26
Ibu bersalin di fasilitas Frekuensi Persentase (%)
kesehatan (keluarga)
Ya 21 100,0
Tidak -
Total 21 100.0
Total ibu yang tidak 475 -
melakukan persalinan
Total KK 496 KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.2., dari total 496 KK didapatkan 21 KK yang
memiliki ibu yang melakukan persalinan, jumlah ibu yang sudah melakukan
persalinan di fasilitas kesehatan sebanyak 21 keluarga (100%) dan tidak ada yang
tidak melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, artinya seluruh ibu hamil yang
akan melakukan persalinan mengerti akan penting nya melahirkan di fasilitas
kesehatan. Melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan angka
harapan hidup ibu dan anak.

5.2.3. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Bayi Mendapat


Imunisasi Dasar Lengkap
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator bayi mendapat
imunisasi dasar lengkap dapat dilihat di tabel 5.3. berikut ini :

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Bayi


Mendapat Imunisasi Dasar Lengkap
Bayi mendapat Frekuensi Persentase (%)
imunisasi dasar lengkap (keluarga)
Ya 40 98,0

27
Tidak 1 2,0
Total 41 100.0
Total keluarga yang 455 -
tidak memiliki bayi
umur 1-2 tahun
Total KK 496KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.3, dari 496 KK didapatkan 41 KK yang memiliki
bayi berumur 1-2 tahun, diantara nya didapatkan Keluarga yang memberikan
imunisasi dasar lengkap pada bayi sebanyak 40 keluarga (98%) dan sisanya
sebanyak 1 keluarga (2%) tidak mendapatkan imunisasi lengkap, artinya banyak
bayi-bayi yang mendapatkan imunisasi lengkap, hal ini sangat baik untuk
pertumbuhan anak. Pemberian imunisasi lengkap pada anak dapat menghindarkan
anak dari berbagai macam penyakit seperti difteri, campak , hepatitis dll.

5.2.4. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Bayi Diberi


ASI Eksklusif Selama 6 Bulan
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator bayi diberi asi
eksklusif selama 6 bulan dapat dilihat di tabel 5.4. berikut ini :

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Bayi Diberi


ASI Eksklusif Selama 6 Bulan
Bayi diberi ASI Frekuensi (keluarga) Persentase (%)
eksklusif selama 6
bulan
Ya 16 36,0
Tidak 28 64,0
Total 44 100.0

28
Total keluarga yang 452 -
tidak memiliki bayi
dibawah 1 tahun
Total KK 496KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.4, dari 496 KK terdapat 44 keluarga yang
memiliki bayi, dan hasil yang didapat adalah keluarga yang memberikan ASI
eksklusif selama 6 bulan sebanyak 16 keluarga (36%) dan sisanya sebanyak 28
keluarga (64%) tidak memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, artinya sangat
sedikit jumlah ibu yang memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya selama 6
bulan, hal ini kurang pengetahuan ibu terhadap pentingnya ASI Eksklusif dan
kurang memahami bagaimana cara menjaga produksi ASI. ASI adalah makanan
terbaik bagi bayi dan pemberian ASI Eksklusif dianjurkan selama 6 bulan tanpa
makanan tambahan. Pemberian ASI yang baik akan meningkatkan kekebalan pada
balita sehingga tidak mudah terserang penyakit.

5.2.5 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Pemantauan


Pertumbuhan Balita
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator pemantauan
pertumbuhan balita dapat dilihat di tabel 5.5 berikut ini :

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator


Pemantauan Pertumbuhan Balita
Pemantauan Frekuensi (keluarga) Persentase (%)
pertumbuhan balita
Ya 164 87,0
Tidak 25 13,0
Total 189 100.0
Total KK yang tidak 307
memiliki balita
Total KK 496KK 100.0

29
Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.5., dari 496 KK didapatkan 189 KK yang
memiliki balita dan keluarga yang melakukan indikator memantau pertumbuhan
balita sebanyak 164 keluarga (87%) dan sisanya sebanyak 25 keluarga (13%)
tidak melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan balita nya, artinya
pemantauan pertumbuhan balita sudah baik. Pemantauan pertumbuhan balita
sebaiknya dilakukan setiap bulan untuk mengetahui apakah anak tumbuh secara
normal atau tidak.

5.2.6 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita TB


Paru yang Berobat Sesuai Standar
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator penderita TB paru
yang berobat sesuai standar dapat dilihat di tabel 5.6 berikut ini :

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita


TB Paru yang Berobat Sesuai Standar
Penderita TB paru Frekuensi (keluarga) Persentase (%)
yang berobat sesuai
standar
Ya 15 100,0
Tidak - -
Total 15 100.0
Total KK yang bukan 481 -
penderita TB
Total KK 496KK 100.0

Analisa Data

30
Berdasarkan data tabel 5.6., dari 40 keluarga yang melakukan pengobatan
sesuai standar untuk penderita TB paru, sebanyak 15 keluarga (100,0%) dan
tidak ada kluarga yang tidak melakukan pengobatan sesuai standar. Artinya masih
banyak keluarga yang tidak melakukan pengobatan sesuai standart, hal ini
disebabkan masih kurangnya pemahaman warga tentang penyakit TB Paru.
Penyakit TB paru adalah penyakit menular yang angka kejadiannya masih tinggi
di Indonesia, maka dari itu pengobatan rutin yang sesuai standar sangat perlu
dilakukan.

5.2.7 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita


Hipertensi yang Berobat Teratur
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator penderita hipertensi
yang berobat teratur dapat dilihat di tabel 5.7 berikut ini :

Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita


Hipertensi yang Berobat Teratur
Penderita hipertensi Frekuensi (keluarga) Persentase (%)
yang berobat teratur
Ya 23 68,0
Tidak 11 32,0
Total 34 100.0
Total KK yang bukan 462 -
penderita hipertensi
Total KK 496KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.7., dari 496 KK didapatkan sebanyak 34 KK
yang anggota keluarga nya menderita hipertensi, dan hasil yang didapatkan adalah
keluarga yang sudah melakukan indikator pengobatan secara teratur untuk
penderita hipertensi sebanyak 23 keluarga (68%) dan sisanya sebanyak 11

31
keluarga (32%) tidak berobat secara teratur, artinya kesadaran berobat pasien
sudah cukup baik. Hipertensi adalah penyakit tekanan darah tinggi yang jika tidak
diobati secara teratur dapat megakibatkan kondisi lain seperti penyakit jantung.

5.2.8 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Tidak Ada


Anggota Keluarga yang Merokok
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator tidak ada anggota
keluarga yang merokok dapat dilihat di tabel 5.8 berikut ini :

Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Tidak Ada


Anggota Keluarga yang Merokok
Tidak ada anggota Frekuensi Prosentase (%)
keluarga yang merokok (keluarga)
Ya 129 26,0
Tidak 367 74,0
Total 496 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.8., keluarga masih memiliki yang satu atau atau
lebih anggota keluarga nya merokok sebanyak 129 keluarga (26%) dan sisanya
sebanyak 367 keluarga (74%) tidak merokok, artinya masyarakat sudah cukup
baik menyadari bahaya nya merokok, meski masih ada masyarakat yang memiliki
kebiasaan merokok. Banyak zat-zat berbahaya yang terdapat dalam kandungan
rokok, salah satu konsekuensi utama yang bisa didapatkan dari rokok adalah
menderita penyakit jantung.

32
5.2.9 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Sekeluarga
Sudah Menjadi Anggota JKN
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikatorsekeluarga sudah
menjadi anggota JKN dapat dilihat di tabel 5.9 berikut ini :

Tabel 5.9. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Sekeluarga


Sudah Menjadi Anggota JKN
Sekeluarga sudah menjadi Frekuensi Prosentase (%)
anggota JKN (keluarga)
Ya 50 10,0
Tidak 446 90,0
Total 496 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.9., keluarga yang sudah menjadi anggota JKN
sebanyak 50 keluarga (10%) dan sisanya sebanyak 446 keluarga (90%) tidak
menjadi anggota JKN, artinya masih banyak keluarga yang belum mendaftarkan
diri menjadi anggota JKN. JKN adalah program pemerintah yang bertujuan
memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat
Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera.

5.2.10 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Mempunyai


Sarana Air Bersih
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator mempunyai sarana air
bersih dapat dilihat di tabel 5.10 berikut ini :

Tabel 5.10. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator


Mempunyai Sarana Air Bersih
Mempunyai sarana air Frekuensi Prosentase (%)
bersih (keluarga)
Ya 496 100,0
Tidak - -

33
Total 496KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.10., Keluarga yang sudah mempuyai sarana air
bersih sebanyak 496 keluarga (100%) dan tidak ada yang tidak memiliki sarana
air bersih, artinya seluruh keluarga telah mempunyai sarana air bersih, kesadaran
masyarakat akan pentingnya air bersih sudah cukup tinggi. Peran air dalam dalam
terjadinya penyakit menular dapat berupa air sebagai penyebar mikro pathogen,
sarang insekta penyebar penyakit. Jika jumlah air bersih tidak mencukupi, maka
orang tidak dapat emmbersihkan dirinya dengan baik.

5.2.11 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Menggunakan


Jamban Keluarga
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator menggunakan jamban
keluarga dapat dilihat di tabel 5.11 berikut ini :

Tabel 5.11. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator


Menggunakan Jamban Keluarga
Menggunakan jamban Frekuensi Prosentase (%)
keluarga (keluarga)
Ya 496 100,0
Tidak - -
Total 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.11., keluarga yang sudah menggunakan jamban
keluarga sebanyak 496 keluarga (100%) dan tidak ada yang tidak menggunakan
jamban keluarga, artinya seluruh keluarga telah menggunakan jamban keluarga
sebagai tempat buang air. Jamban sehat adalah kebutuhan, melalui jamban yang
tidak sehat dapat tercipta banyak penyakit, salah satunya adalah diare yang saat ini
menjadi salah satu penyebab menaiknya angka kesakitan dan kematian pada anak.

34
5.2.12 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita
Gangguan Jiwa Berat yang Diobati
Distribusi frekuensi keluarga berdasarkan indikator penderita gangguan
jiwa berat yang diobati dapat dilihat di tabel 5.12 berikut ini :

Tabel 5.12. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Indikator Penderita


Gangguan Jiwa Berat yang Diobati
Penderita gangguan Frekuensi (keluarga) Persentase (%)
jiwa berat yang diobati
Ya - -
Tidak - -
Total - -
Total KK yang tidak 496 100
memiliki anggota
keluarga dengan
gangguan jiwa berat
Total KK 496KK 100.0

Analisa Data
Berdasarkan data tabel 5.12., dari 496 KK tidak memiliki anggota keluarga
yang menderita gangguan jiwa berat dan keluarga yang sudah mengobati anggota
keluarga yang menderita gangguan jiwa berat. artinya tidak ada anggota keluarga
yang yang mengalami gangguan jiwa. Seperti hal nya penyakit lain, pasien
gangguan jiwa juga bisa diobati dan sembuh meskipun bisa kambuh maka dari itu
dukungan keluarga disini sangatlah penting.

35
5.2.13 Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Dua Belas Indikator
Keluarga sehat

Gambar 5.1. Distribusi Frekuensi Keluarga Berdasarkan Dua Belas Indikator


Keluarga sehat
Berdasarkan Gambar 5.1., Indikator yang paling tinggi dilakukan keluarga
desa Timbang Deli adalah Ibu bersalin di fasilitas kesehatan, artinya seluruh ibu
hamil yang akan melakukan persalinan mengerti akan penting nya melahirkan di
fasilitas kesehatan. Pengobatan TB sesuai standar, artinya seluruh anggota
keluarga yang terkena TB telah berobat sesuai standar. Memakai Jamban
Keluarga, artinya seluruh anggota keluarga telah memakai jamban keluarga
sebagai tempat buang air. Mempunyai sarana air bersih, artinya hal ini sudah
cukup baik, kesadaran masyarakat akan pentingnya air bersih sudah cukup tinggi.
Peran air dalam dalam terjadinya penyakit menular dapat berupa air sebagai
penyebar mikro pathogen, sarang insekta penyebar penyakit. Jika jumlah air

36
bersih tidak mencukupi, maka orang tidak dapat emmbersihkan dirinya dengan
baik.
Indikator yang paling rendah yang dilakukan keluarga desa Batu
Penjemuran adalah JKN, artinya masih banyak keluarga yang belum
mendaftarkan diri menjadi anggota JKN.
BAB 6
PEMBAHASAN

6.1. Dua Belas Indikator keluarga sehat


6.1.1. Keluarga mengikuti program KB
keluarga yang melakukan indikator mengikuti program KB sebanyak 286
keluarga (89%) dan sisanya sebanyak 35 keluarga (11%) tidak mengikuti
program KB, artinya sudah banyak masyarakat yang mengerti akan penting nya
mengikuti program KB dalam perencanaan kehamilan guna membentuk keluarga
sehat, sejahtera dan bahagia.
Program keluarga berencana adalah program untuk membantu keluarga
termasuk individu anggota kelarga untuk merencanakan kehidupan
berkeluargayang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas. Dengan
terbentuknyakeluarga berkualiatas maka generasi mendatang sebagai sumber daya
manusiayang berkualitas akan dapat melanjutkan pembangunan. Program
eluargaberencana dalam proses pembangunan berwawasan kependudukan dapat
diharapkan memberikan kontribusi dalam hal mengendalikan jumlah
danpertumbuhan penduduk juga ikut dengan peningkatan kualitas penduduk
sebagai sumber daya yang handal dilakukan dengan mengarahkan pembangunan
padapenurunan kematian ibu dan bayi dengan menurunkan kelahiran atau
kehamilanmelalui penggunaan kontrasepsi. Dengan melakukan keluarga
berencanaperwujudan hak-hak asasi manusia dapat dijunjung tinggi dalam hal
kesehatan reproduksi pasangan usia subur untuk merencanakan kehidupan
keluarga yang lebih baik.22

37
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suprapti
tahun 2012, yang menyimpulkan pengetahuan dan pelaksaan ibu tentang KB
sudah cukup baik.22

6.1.2. Ibu Bersalin di Fasilitas Kesehatan


Ibu yang sudah melakukan persalinan di fasilitas kesehatan sebanyak 21
keluarga (100%) dan sisanya tidak ada yang tidak melakukan persalinan di
fasilitas kesehatan, artinya seluruh ibu hamil yang akan melakukan persalinan
mengerti akan penting nya melahirkan di fasilitas kesehatan. Melakukan
persalinan di fasilitas kesehatan dapat meningkatkan angka harapan hidup ibu dan
anak.
Persalinan adalah serangkaian kejadian pada ibu hamil yang berakhir
dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul
dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi minat ibu hamil memilih bantuan penolong persalinan yaitu
tingkat pengetahuan, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, dan
keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan290
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rafida (2015),
dimana disimpulkan bahwa kesadaran masyarakat untuk melahirkan di fasilitas
kesehatan masih rendah, meskipun masih lebih banyak dibandingkan ibu yang
melahirkan di luar fasilitas kesehatan seperti dukun. 290

6.1.3. Bayi Mendapat Imunisasai Dasar Lengkap


Keluarga yang memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi sebanyak
40 keluarga (98%) dan sisanya sebanyak 1 keluarga (2%) tidak mendapatkan
imunisasi lengkap, artinya banyak bayi-bayi yang mendapatkan imunisasi
lengkap, hal ini sangat baik untuk pertumbuhan anak.
Salah satu penyebab kematian bayi dan balita adalah penyakit infeksi.
Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan primer yang sangat efektif
untuk menghindari terjangkitnya penyakit infeksi. Dengan demikian, angka

38
kejadian penyakit infeksi akan menurun, kecacatan serta kematian yang
ditimbulkannya pun akan berkurang.22
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yuliana Makamban
dkk (2014) yang menyimpulkan bahwa kesadaran ibu dalam memberikan
imunisasi lengkap sudah cukup tinggi terutama pada ibu yang memiliki tingkat
pendidikan tinggi.22

6.1.4. Pemberian Asi Eksklusif Selama 6 Bulan


keluarga yang memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan sebanyak 28
keluarga (64%) dan sisanya sebanyak 16 keluarga (36%) tidak memberikan ASI
eksklusif selama 6 bulan, artinya hampir sebagian ibu-ibu yang tidak memberikan
ASI kepada bayinya sampai 6 bulan, hal ini terjadi karna kurangnya pengetahuan
ibu akan penting nya ASI Eksklusif.
Pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan
akan membantu mencegah penyakit pada bayi. Hal ini disebabkan karena adanya
antibodi penting yang ada dalam kolostrum dan ASI. Penelitian-penelitian yang
sudah dilakukan para ahli di India dengan menggunakan ASI donor dari manusia,
didapatkan kejadian infeksi lebih sedikit secara bermakna dan tidak terdapat
infeksi berat pada kelompok yang diberi ASI manusia, sedangkan bayi pada
kelompok yang tidak mendapat ASI (kontrol) banyak mengalami diare,
pneumonia, sepsis, dan meningitis.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kristin Setyawati
(2012), yang menyimpulkan bahwa pemberian ASI eksklusif sudah cukup baik,
dari total responden hanya ditemukan 28 responden (64%) yang memberikan ASI
eksklusif sedangkan responden 16 (36%) tidak memberikan ASI eksklusif.23

6.1.5. Pemantauan Pertumbuhan Balita


keluarga yang melakukan indikator memantau pertumbuhan balita
sebanyak 164 keluarga (87%) dan sisanya sebanyak 25 keluarga (13%) tidak

39
melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan balita nya, artinya pemantauan
pertumbuhan balita sudah baik.
Pertumbuhan (growth) merupakan perubahan dalam ukuran besar, jumlah,
ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur berat
dengan menggunakan (gram/kilogram), ukuran panjang (cm, meter).Upaya
pemantauan terhadap petumbuhan balita sebaiknya dilakukan setiap bulan, hal ini
dapat dilakukan dengan kegiatan penimbangan di Posyandu. Selain itu
Perkembangan fungsi kognitif merupakan aspek yang tidak kalah penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak yang sudah memasuki usia sekolah.7
Belum ada penelitian dan data pasti mengenai pemantauan pertumbuhan
anak atau balita.7

6.1.6. Penderita TB Paru yang Berobat Sesuai Standar


keluarga yang melakukan pengobatan sesuai standar untuk penderita TB
paru sebanyak 15 keluarga (100%) dan sisanya tidak ada keluarga yang tidak
melakukan pengobatan sesuai standar, artinya masih banyak pasien yang tidak
melakukan pengobatan dengan baik, hal ini terjadi karna beberapa faktor :
kurangnya pengetahuan pasien akan dampak dari berobat yang tidak teratur,
pasien merasa malas mengonsumsi obat dalam jangka panjang, pasien tidak kuat
menahan efek samping dari obat TB seperti mual dan pasien berhenti minum obat
setelah merasakan membaik dari sakit nya meskipun obat TB belum habis.
Penyakit Tubercolusis atau yang sering disebut TB Paru adalah infeksi
menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tubercolusis. Tuberculosis
merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka
kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya, maka dari itu
Pasien yang sudah terdiagnosa TB sangat disarankan untuk berobat sesuai dengan
standar pengobatan TB yang sudah ditetapkan.90
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Felicia Kurniawan,
dkk (2011) yang menyimpulkan bahwa hanya 60% pasien yang berobat sesuai
standar. 90

40
6.1.7. Penderita Hipertensi yang Berobat Teratur
keluarga yang sudah melakukan indikator pengobatan secara teratur untuk
penderita hipertensi sebanyak 23 keluarga (68%) dan sisanya sebanyak 11
keluarga (32%) tidak berobat secara teratur, artinya kesadaran berobat pasien
sudah cukup baik.
Menurut Join Comitte on Prevention Detection, Evaluation, and
Treatment of High Blood Preasure VII/JNC 2003 Hipertensi adalah suatau
keadaan dimana tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
> 90 mmHg (Depkes RI, 2013). Hipertensi adalah suatu gangguan pada pembuluh
darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah
terhambat sampai kejaringan tubuh yang membutuhkannya. 50
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Karunia Niken
(2013) yang meyimpulkan bahwa kepatuhan minum obat pada psien hipertensi
cukup tinggi.50

6.1.8. Tidak Ada Anggota Keluarga yang Merokok


Keluarga masih memiliki yang satu atau atau lebih anggota keluarga nya
merokok sebanyak 129 keluarga (26%) dan sisanya sebanyak 367 keluarga (74%)
tidak merokok, artinya masyarakat sudah cukup baik menyadari bahaya nya
merokok, meski masih ada masyarakat yang memiliki kebiasaan merokok.
Pada hakekatnya rokok merupakan salah satu produk industri dan
komoditi internasional yang mengandung sekitar 1500 bahan kimiawi. Unsur-
unsur yang penting yang terkandung di dalam rokok antara lain : tar, nikotin,
benzopyrin, metilkloride, aseton, ammonia, dan karbonmonoksida.9
Penelitian ini tidak sejalan dengan data yang dikeluarkan oleh Global
Health Professions Student Survey yang menunjukkan bahwa kemungkinan
9
terjadi peningkatan angka perokok setiap tahunnya.

6.1.9. Sekeluarga Sudah Menjadi Anggota JKN


keluarga yang sudah menjadi anggota JKN sebanyak keluarga (%) dan
sisanya sebanyak 50 keluarga (10%) tidak menjadi anggota JKN, artinya masih

41
banyak keluarga yang belum mendaftarkan diri menjadi anggota JKN, hal ini
terjadi karna faktor ekonomi, pasien lebih mengharapkan mendapatkan bantuan
gratis dibandingkan harus membayar iuran setiap bulannya.
JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah program Pemerintah yang
bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi
seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera..
Sebelum JKN, pemerintah telah berupaya merintis beberapa bentuk jaminan sosial
di bidang kesehatan, antara lain Askes Sosial bagi pegawai negeri sipil (PNS),
penerima pensiun dan veteran, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek
bagi pegawai BUMN dan swasta, serta Jaminan Kesehatan bagi TNI dan Polri.10
Penelitian ini sejalan dengan data yang dirilis oleh Dewan Sistem Jaminan
Sosial Nasional yang menyebutkan masih ada 88 juta penduduk lagi yang belum
terjamin dalam JKN.10

6.1.10. Mempunyai Sarana Air Bersih


Keluarga yang sudah mempuyai sarana air bersih sebanyak 496 keluarga
(100%) dan tidak ada keluarga yang tidak memiliki sarana air bersih, artinya hal
ini sudah sangat baik, kesadaran masyarakat akan pentingnya air bersih sudah
cukup tinggi.
Air adalah salah satu kebutuhan pokok hidup manusia, bahkan hampir
70% tubuh manusia mengandung air. Air dipai untuk keprluan makan, minum,
mandi dan memenuhi kebutuhan yang lain, maka untuk keperluan tersebut WHO
menetapka kebutuhan perorang perhari untuk hidup sehat 60 L. Selain dari
peranan air sebagai kebutuan pokok manusia, juga dapat berperan besar dalam
penularan beberapa penyakit menular termasuk diare.989
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Widayanti
Mustikowati (2014) yang menyatakan bahwa masyarakat sudah cukup baik dan
kepemilikan saran air bersih meningkat tinggi dalam 5 tahun terakhir.989

6.1.11. Mempunyai Jamban Keluarga


keluarga yang sudah menggunakan jamban keluarga sebanyak 496
keluarga (100%) dan sisanya tidak ada keluarga yang tidak menggunakan jamban

42
keluarga,artinya seluruh keluarga telah menggunakan jamban keluarga sebagai
tempat buang air.
Untuk mencegah kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka
pembuangan kotoran manusia harus dikelola degan baik. Suatu jamban memenuhi
syarat kesehatan apabila tidak mengotori permukaan tanah, idak mengotori air
permukaan, tidak dapat dijangkau oleh serangga, tidak menimbulkan bau, mudah
digunakan dan dipelihara, dan murah.979
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ribka Sembiring
(2016) yang menyimpulkan bahwa sudah cukup banyak keluarga yang
menggunakan jamban keluarga.979

6.1.12. Penderita Gangguan Jiwa Berat yang Diobati


Tidak ada keluarga yang aanggota keluarganya menderita gangguan jiwa
dan tidak mengobati anggota keluarga mereka yang menderita gangguan jiwa
berat.
Keluarga pada dasarnya berkontribusi terhadap cepat
lambatnyakesembuhan pasien gangguan jiwa selama proses rehabilitasi dan
pengobatan, baik yang bersifat medis maupun psikologis. Namun dengan derajat
kesadarandan pengetahuan berbeda-beda yang dimiliki setiap keluarga,
menjadikan prosestersebut apakah benar-benar menolong atau tidak. Karena
masalah gangguan jiwamenyangkut persoalan yang bersifat holistik dalam kontek
kesehatan fisik, psikis,sosial dan spiritual individu. Sehingga dibutuhkan konsep
dan pemahaman yangjelas dalam memahami dan mengarahkannya ke dalam
posisi yang benar-benarnormal atau sehat.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Muhammad
Salahuddin (2009) yang menyatakan bahwa peran keluarga sangat penting bagi
pengobatan pasien gangguan jiwa, dan masih banyak keluarga yang tidak
membawa anggota keluarga mereka berobat dikarenakan banyak hal, salah
satunya adalah mereka tidak tahu harus kemana membawa keluarga mereka yang
mengalami gangguan jiwa.29

43
BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh maka dapat
disimpulkan yaitu :
Keluarga yang mengikuti KB sudah cukup banyak, yaitu (89%) mengikuti
dan (11%) tidak.
Keluarga yang bersalin di fasilitas kesehatan sudah semua, yaitu dengan
(100%) di fasilitas kesehatan.
Keluarga yang memberikan imunisasi lengkap hampir semua, yaitu
dengan (98%) melakukan imunisasi lengkap dan (2%) tidak.
Keluarga yang memberikan ASI eksklusif sudah cukup banyak yaitu
keluarga (64%) yang memberi ASI eksklusif dan (36%) tidak.
Keluarga yang memantau pertumbuhan balita sudah cukup banyak, yaitu
(87%) ya dan (13%) tidak.
Keluarga yang melakukan pengobatan TB sesuai standar sudah semua
yaitu (100%) ya
Keluarga yang melakukan pengobatan Hipertensi secara teratur sudah
cukup banyak, yaitu (68%) ya dan (32%) tidak.
Keluarga yang masih merokok lebih banyak dibandingkan keluarga
perokok, yaitu (26%) merokok dan (74%) tidak.
Keluarga yang terdaftar sebagai anggota JKN masih sedikit, yaitu (10%)
terdaftar dan (90%) tidak.
Keluarga yang mempunyai sarana air bersih sudah semua, yaitu (100%).
Keluarga yang memakai jamban keluarga sudah semua, yaitu (100%).

44
Keluarga yang membawa berobat anggota keluarga mereka yang
mengalami gangguan jiwa berat tidak ada, karena tidak ada anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
Indikator yang paling Rendah dilakukan adalah Sekeluarga sudah menjadi
anggota JKN (10%), dan Indikator yang paling Tinggi adalah Keluarga
yang Bersalin di Fasilitas Kesehatan (100%), Pengobatan TB sesuai
Standar (100%), Keluarga yang mempunyai sarana air bersih (100%),
Keluarga yang memakai jamban keluarga (100%).

7.2. SARAN
7.2.1 Bagi Puskesmas Galang
Kepada kepala puskesmas Galang, agar mengkoordinasikan kegiatan
promosi berhenti merokok secara internal dipuskesmas, maupun
eksternal kepada lintas sektor agar mendapat dukungan yang
maksimal. Kepada petugas PKM, agar meningkatkan frekuensi
edukasi kepada masyrakat dengan model testimoni dan contoh fakta
kasus dampak rokok bagi kesehatan.
Diharapkan petugas PKM meningkatkan sosialisasi tentang
pentingnya pemberian dan manfaat ASI Eksklusif serta dapat
memberikan dorongan kepada ibu menyusui untuk memberikan ASI
eksklusif selama enam bulan dengan cara lebih sederhana dan lebih
variatif.
Untuk petugas PKM diharapkan dapat memberikan sosialisasi edukasi
kepada masyarakat terkait program JKN dan memberikan pelayanan
yang baik kepada peserta JKN. Adanya pelayanan yang lebih baik
akan memberikan kepuasan terhadap pelayanan JKN sehingga
diharapkan dapat meningkatkan cakupan kepesertaaan JKN.
Petugas PKM seyogyanya melakukan upaya promosi kesehatan dan
upaya pencegahan dan pengobatan Hipertensi yang bersifat
menyeluruh dan berkala pada warga dan diharapkan Puskesmas dapat
mengontrol dan memonitoring penderita Hipertensi, sehingga bisa
terkontrol dan dapat mengakibatkan komplikasi pada pasien

45
7.2.2 Bagi Masyarakat Setempat
Diharapakan masyarakat yang merokok bisa mengikuti setiap kegiatan
penyuluhan tentang bahaya rokok dan keluarga yang tidak merokok
memberikan motivasi bagi perokok untuk berhenti merokok
Diharapkan kepada ibu yang sedang menyusui, agar memberikan ASI
eksklusif kepada bayinya dan bila tidak bisa memberikan ASI dengan
cara menyusui bisa dengan cara peras ASI.
Diharapkan kepada keluarga yang tidak mampuh membayar iuran
JKN agar mendaftarkan diri dan keluarganya ke kecamatan atau dinas
sosial agar di masukkan ke jamkesda yang berintegrasi dengan
program JKN.

46
DAFTAR PUSTAKA

1. Bustan., M.R. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta : Rineka


Cipta.2006
2. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2010 Available from: http://www.depkes.co.id
3. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tubercolosis. Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. 2002 Available from:
http://repository.usu.ac.id
4. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2009 Available from: http://www.depkes.co.id
5. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2013 Available from: http://www.depkes.co.id
6. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. 2006 Available from: http://www.depkes.co.id
7. Hidayat A.A, Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Salemba
Merdeka. 2012
8. Kementrian Kesehatan Indonesia, Jamban Sehat. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia. 2008 Available from: http://repository.usu.ac.id
9. Kementrian Kesehatan Indonesia, Program Indonesia Sehat, Kementrian
Kesehatan Indonesia.2016. Available from: http://www.depkes.co.id
10. Kementrian Kesehatan Indonesia. Jaminan Kesehatan Nasional.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.2016 Available from:
http://www.jkn.kemkes.co.id
11. Krisnatuti, D. dan Yenrina, R, Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.
2001. Available from: http://hidayat2.wordpress.com
12. Makamban Y 2014. Faktor yang Berhubungan dengan Cakupan Imunisasi
Dasar Lengkap pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Antara Kota
Makassar. Bagian Biostatik/KKB FKM UNHAS. Makassar. 2014.24

47
13. Matondang, C.S., Munatsir, Z., Sumadiono, Aspek Imunologi Air Susu
Ibu. In : Buku Ajar Alergi-Imunologi Anak, Edisi II. Jakarta : Badan
Penerbit IDAI.2008. 189-202.
14. Muchid A. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Hipertensi.
Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik.2006.
15. Mustikowati W. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Air Bersih
Golongan Pelanggan Rumah Tangga III Wilayah Pelayan Cabang Timur
PDAM Kota Semarang. 2014
16. Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.2007
17. Notosoedirdjo, Moeljono, dkk. Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan.
Edisi III. Malang: UMM Press. 2002.
18. Prawirohardjo Sarwono. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Edisi III. Jakarta: YBP-SP. 2011.
19. Rafidah, dkk. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Pernikahan Usia
Dini di kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Jurnal Berita Kedokteran
Masyarakat Vol. 25. Jawa Tengah.2015.
20. Ridha N. Buku Ajar Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Pustaka
Belajar.2014.
21. Setyawati K. Hubungan Pengetahuan Ibu Meyusui Tentang ASI Eksklusif
Dengan Pemberian ASI Eksklusif di Desa Tajuk Kecamatan Getasan
Kabupaten Semarang. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kesehatan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Semarang. 2012.
22. Sitepoe M. Kekhususan Rokok di Indonesia. Jakarta : Gramedia.2000.
23. Sustrani L. Hipertensi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.2004.
24. Undang-Undang Republik Indonesia, 2009. Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Available from:
http://repository.usu.ac.id
25. Usman, Sunyoto. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.

48
26. WHO. Global Burden Disease Report. 2010. Available from:
http://www.whointernational.com

49