Anda di halaman 1dari 4

Supersemar dan Tafsir Soeharto

Soeharto tidak menjalankan perintah Sukarno dalam Supersemar.


Dia mengambil langkah sendiri untuk berkuasa.

Soeharto di belakang Sukarno, Maret 1966.


Foto: Beryl Bernay/gettyimages.com.

Hendri F. Isnaeni
Kamis 12 Maret 2015 WIB

Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966) berisi perintah Sukarno


kepada Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang
diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum.
Perintah kedua adalah meminta Soeharto untuk melindungi
presiden, semua anggota keluarga, hasil karya dan ajarannya.
Namun, Soeharto lebih memilih tidak melaksanakan perintah
tersebut dan mengambil tindakan sendiri di luar perintah Presiden
Sukarno.
Langkah pertama yang dilakukan Soeharto begitu menerima surat
tersebut adalah membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI)
dengan Surat Keputusan Presiden No. 1/3/1966 yang
ditandatanganinya pukul 04.00 Sabtu, 12 Maret 1966. Surat itu
dibuat mengatasnamakan presiden dengan pada modal mandat
Supersemar yang ditafsir Soeharto sendiri.

Probosutedjo, adik Soeharto, mengungkapkan bahwa sebenarnya


tidak ada kalimat yang menyebutkan untuk membubarkan PKI di
dalam Supersemar. Tetapi Mas Harto memiliki keyakinan bahwa
pemulihan keamanan pasti hanya akan terjadi jika PKI dibubarkan,
katanya dalam memoar Saya dan Mas Harto.

Setelah itu, Kolonel Sarwo Edhie, komandan RPKAD (sekarang


Kopassus), berkonvoi keliling kota untuk show of force. KAMI
(Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Front Pancasila, dan sejumlah
organisasi massa bergabung dengan RPKAD dan Kostrad.

Menurut aktivis KAMI, Jusuf Wanandi, demonstrasi kemenangan itu


merupakan show of force dan pameran persatuan unsur-unsur
angkatan bersenjata yang pro-Soeharto dengan rakyat, terutama
mahasiswa dan pemuda. Dalam demonstrasi tersebut, salinan
Supersemar dan surat pembubaran PKI disebarluaskan, kata Jusuf
dalam memoarnya Menyibak Tabir Orde Baru.

Sukarno sangat marah besar melihat demonstrasi Supersemar itu.


Pada 14 Maret 1966, dia memanggil semua panglima angkatan
bersenjata ke Istana dan memarahi mereka. Dia menegaskan
bahwa Supersemar tidak pernah dimaksudkan untuk membubarkan
PKI.

Menghadapi kemarahan Sukarno, kata Jusuf, Soeharto tetap tenang.


Mungkin karena miskin, susah di masa mudanya, dia mempunyai
kekuatan batin yang hebat. Dia bisa saja menyerah saat itu, tetapi
dia tidak mau. Dia berlaku pura-pura tidak tahu. Sesudahnya,
Soeharto menetralisasi satu per satu para panglima itu agar berada
di belakangnya.

Langkah kedua, lagi-lagi Soeharto mengeluarkan Surat Keputusan


Presiden No. 5 tanggal 18 Maret 1966 tentang penahanan 15 orang
menteri yang dianggap terkait PKI dan terlibat Gerakan 30
September 1965. Sebagai pengganti, Soeharto mengangkat lima
menteri koordinator ad interim (Sultan Hamengkubuwono IX, Adam
Malik, Roeslan Abdulgani, KH Idham Chalid, dan J. Leimena) dan
beberapa orang menteri ad interim sampai terbentuknya kabinet
baru.

Dengan demikian, Jusuf mengakui bahwa perjuangan kami sudah


mencapai tiga perempat jalan: PKI dilarang, kabinet dirombak, dan
menteri yang prokomunis disingkirkan. Namun, kekhawatiran kami
yang paling besar adalah Soekarno mencabut Supersemar.

Soeharto sudah mengantisipasinya. Tidak lama setelah menerima


Supersemar, pasal kedua mengenai perlindungan bagi Soekarno
dicoret dari dokumen tersebut, ungkap Jusuf.

Kekuatan anti-PKI mendorong Soeharto segera mengadakan Sidang


MPRS untuk mengeluarkan ketetapan yang mengkukuhkan
Supersemar. Pada 20 Juni-6 Juli 1966, MPRS mengadakan Sidang
Umum. Pidato pertanggungjawaban Sukarno yang berjudul
Nawaksara, ditolak MPRS. Pada saat yang sama, MPRS menetapkan
TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 tetang Supersemar.

Presiden Sukarno sempat mengecam aksi Soeharto gunakan


Supersemar di luar kewenangan yang dia berikan. Dalam pidatonya
yang berjudul Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah
(Jasmerah), 17 Agustus 1966, Sukarno menegaskan bahwa
Supersemar bukanlah transfer of sovereignity dan bukan pula
transfer of authority. Sama sekali bukan pengalihan kekuasaan.

Menurut sejarawan Baskara T. Wardaya penetapan Supersemar


sebagai ketetapan MPRS telah mengikis habis kekuasaan Sukarno
sekaligus menghilangkan kemampuannya untuk mencegah
tindakan politis yang dilakukan Soeharto atas nama surat tersebut.
Dia pun itu tak akan dapat mencabut surat perintah itu, tulis
Baskara dalam Membongkar Supersemar.

Menurut Jusuf, TAP MPRS itu juga tidak menyebut kewajiban untuk
melindungi Sukarno, keluarga, ideologi, dan ajarannya. Padahal di
dalam Supersemar disebutkan bahwa pengemban amanah wajib
melakukan itu. Inilah bukti kelicikan Soeharto agar dia tidak
terdorong untuk berhadapan dengan Soekarno, ujar Jusuf,
Pendekatan bertahap ini berhasil

Supersemar, Jusuf menyimpulkan, adalah kemenangan hukum dan


politik Soeharto, walaupun belum sepenuhnya karena secara
konstitusional Soekarno masih presiden dan masih berkuasa.
Soeharto baru berkuasa penuh ketika dilantik sebagai penjabat
presiden pada 12 Maret 1967.

Setelah itu, jangankan melindungi Sukarno, Soeharto malah


menjadikan Sukarno tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian di
Wisma Yaso di Jakarta. Sukarno juga menjalani interogasi oleh
Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban),
yang baru dihentikan setelah dia sakit parah. Selama sakit, Sukarno
tidak mendapatkan perawatan yang baik, sampai meninggal pada
21 Juni 1970.