Anda di halaman 1dari 35

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa

yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan,

yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan (growth)


berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran

atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa

diukurdengan ukuran berat, ukuran panjang, usia tulang dan

keseimbangan metabolik. Perkembangan (development) adalah

bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh

yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan,

sebagai hasil dari proses pematangan. Pertumbuhan mempunyai

dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan

dengan pematangan fungsi organ/individu. Kedua peristiwa ini terjadi

secara sinkron pada setiap individu.6

Perawatan gigi dan mulut pada anak merupakan sesuatu yang

berbeda dengan perawatan pada orang dewasa. Anak bukan orang

dewasa yang kecil dan keduanya tidak sama. Anak berada dalam

proses perkembangan bahasa, intelektual, kemampuan motorik, dan

kepribadian. Kemampuan anak berkembang secara bervariasi. Sebagai

upaya dalam meningkatkan kualitas pada pelayangan kesehatan gigi

dan mulut pada anak diperlukan pengetahuan dasar mengenai


perkembangan anak. 7

Pengetahuan seorang dokter gigi mengenai kemampuan anak

pada usia yang bervariasi, dapat digunakan sebagai informasi dalam

berkomunikasi sesuai dengan tingkat pemahaman anak, sehingga

diperoleh keterangan-keterangan anak yang tepat untuk perawatan

gigi. Terdapat kejadian-kejadian penting (milestone) yang perlu

diketahui untuk menunjang suatu perawatan yang akan diberikan


seorang dokter gigi. Kejadian penting (milestone) seperti range usia

yang digunakan untuk menjelaskan waktu di mana kebanyakan anak-

anak kemampuannya berkembang khusus. 7

Walaupun terdapat variasi yang besar. Akan tetapi setiap anak

akan melalui suatu milestone yang merupakan tahapan dari tumbuh

kembangnya dan tiap-tiap tahap mempunyai ciri tersendiri. Dari

berbagai literatur terdapat berbagai pendapat mengenai pembagian

tahap-tahap tumbuh kembang ini, tetapi pada tulisan ini digunakan

pembagian berdasarkan Hasil Rapat Kerja UKK Pediatri Sosial di

Jakarta, Oktober 1986 yang dapat dilihat pada tabel 2.1.Sesungguhnya

tiap-tiap tahap tumbuh kembang tersebut tidak terdapat batas yang

jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara

berkesinambungan. 6

TABEL 2.1 Tahap-tahap Tumbuh Kembang6


Masa prenatal
a. Masa Mudigah/embrio :konsepsi-8
minggu
b. Masa janin/fetus :9 inggu-lahir
Masa bayi
a. Masa neonatal :usia 0-1tahun
Masa neonatal dini : 0-7 hari
Masa neonatal : 8-28 hari
lanjut
b. Masa pasca neonatal : 29 hari-
1tahun
Masa pra- : usia 1-6 tahun
sekolah
Masa sekolah :usia 6-18/20
tahun
a. Masa pra remaja : usia 6-10
tahun
b. Masa remaja:
Masa remaja dini
Wanita, usia 8-13 tahun
Pria, usia 10-15
tahun
Masa remaja lanjut
Wanita, usia 13-18
Pria, tahun
usia 15-20
tahun.

Klasifikasi Tingkah laku Anak

Tingkah laku anak menurut Wright

Menurut Wright, tingkah laku anak dapat diklasifikasikan menjadi: 8

Kooperatif

Anak-anak yang kooperatif terlihat santai dan rileks. Mereka sangat

antusias menerima perawatan dari dokter gigi. Mereka dapat dirawat

dengan sederhana dan mudah tanpa mengalami kesulitan pendekatan

tingkah laku (perilaku). 8


Kurang kooperatif

Pasien ini termasuk anak-anak yang sangat muda di mana

komunikasinya belum baik dan tidak dapat memahami komunikasi

dengan baik. Karena usia mereka, mereka tergolong ke dalam pasien

yang kurang kooperatif. Kelompok lain yang termasuk ke dalam pasien

yang kurang kooperatif adalah pasien yang memiliki keterbatasan

yang spesifik. Untuk anak-anak golongan ini, suatu waktu teknik

pengelolaan tingkah laku secara khusus diperlukan. Ketika perawatan


dilakukan, perubahan tingkah laku secara immediat yang positif tidak

dapat diperkirakan. 8

Potensial kooperatif

Secara karakteristik, yang termasuk ke dalam kooperatif potensial

adalah permasalahan tingkah laku. Tipe ini berbeda dengan anak-anak

yang kooperatif karena anak-anak ini mempunyai kemampuan untuk

menjadi kooperatif. Ini merupakan perbedaan yang penting. Ketika

memiliki ciri khas sebagai pasien yang kooperatif potensial, tingkah

laku anak tersebut bisa diubah menjadi kooperatif.8

Tingkah laku anak menurut Frankl

Menurut Frankl, tingkah laku anak dibagi menjadi empat jenis, yaitu: 5,8

Sangat negatif: menolak perawatan, menangis dengan keras,

ketakutan atau adanya bukti penolakan secara terang-terangan.

Negatif: enggan menerima perawatan, tidak kooperatif, tingkah laku

negative tetapi tidak diucapkan (hanya muram dan tidak ramah).


Positif: menerima perawatan, kadang-kadang sangat hati-hati, ikhlas

mematuhi perintah dokter gigi, kadang-kadang timbul keraguan,

tetapi pasien mengikuti perintah dokter gigi dengan kooperatif.

Sangat positif: sangat bagus sikap terhadap dokter gigi, tertarik

dengan prosedur dokter gigi, tertawa dan menikmati perawatan

yang dilakukan dokter gigi

Rasa Takut Berdasarkan Usia

Rasa takut pada seorang anak dan cara ia menghadapinya akan berubah menurut

usianya. Sesuatu yang mengejutkan seorang anak pada usia dua tahun mungkin tidak

mengejutkan lagi pada usia enam tahun. Usia merupakan gambaran yang penting untuk

melihat rasa takut anak.9

2.3.1 Anak Usia 2-3 Tahun

Pada masa ini merupakan waktu yang baik memperkenalkan seorang anak untuk

perawatan gigi, rasa takutnya biasanya berhubungan dengan hal-hal yang tidak dikenal

dan tidak disangka-sangka. Rangsangan yang menimbulkan rasa sakit dapat

menimbulkan rasa takut karena tidak diharapkan dan tidak disangka-sangka. Suara dan

getaran mesin bor serta tekanan waktu memakai alat-alat gigi dapat menimbulkan rasa

takut. Anak-anak juga merasa takut terhadap gerakan yang mendadak dan tak disangka-

sangka misalnya merendahkan atau merebahkan kursi tanpa pemberitahuan, gerakan

tangan yang mendadak dan cepat, sinar lampu yang menyilaukan yang langsung kearah

mata anak dapat menimbulkan rasa takut. 9

2.3.2 Anak Usia 4 Tahun

Anak akan mencapai puncak rasa takut yang jelas dari usia 4 6 tahun, terdapat
pengurangan yang berangsur-angsur dari rasa takut, seperti gerak jatuh, suara, orang yang

tidak dikenal. 9

2.3.3 Anak Usia 5-6 Tahun

Rasa takut pada umumnya karena rangsangan sakit. Faktor-faktor fantasi

memegang peranan penting pada anak-anak usia 4 - 6 tahun, dapat dipergunakan sebagai

alat untuk menguasai anak, misalnya permainan ke dokter gigi. 9

2.3.4 Anak Usia 7 Tahun

Anak telah memperbaiki kesanggupannya untuk memecahkan rasa takut

walaupun reaksinya sering berubah-ubah. Bantuan keluarga adalah penting mengatasi

rasa takut. Dokter gigi dapat menerangkan apa yang dikerjakan sehingga rasa takut dapat

diatasi. Dengan bertambahnya usia maka rasa takut pada anak dapat berubah-ubah dan

bersifat individual.9

2.3.5 Anak Usia 8-14 Tahun

Anak telah mengerti dan mempelajari keadaan yang kurang menyenangkan dan

mempunyai keinginan untuk menjadi pasien yang baik. Mereka tidak suka pada orang
yang memandang ringan sakitnya atau bujukan dari teman atau dokter giginya.9

Tingkah Laku yang Normal Berdasarkan Usia

Anak yang berusia 2 tahun

Belum dapat bergaul lama-lama dengan anak lain, lebih suka bermain sendiri,

masih terlalu muda untuk diatur dengan kata-kata, sangat terikat dengan ibunya, tidak

dapat dipaksa, tiap kegiatannya datang atas kemauannya sendiri, tidak dapat menjawab

pertanyaan-pertanyaan langsung atau menuruti perintah yang langsung diberikan.8,9


Anak yang berusia 3 tahun

Anak usia ini tetap erat melekat pada orang tua. Sangat aktif berimajinasi,

menyukai cerita. Disebut juga phase bertanya atau phase keras kepala. Anak pada tingkat

usia ini memperlihatkan keadaan semi independensi. Dapat diajak dalam suatu kegiatan,

peka untuk pujian, mau kerja sama dan ikut melakukan sesuatu (Me-too-Age).8,9

2.4.3 Anak berusia 4 tahun


Anak usia ini memiliki karakteristik selalu mencoba memperlihatkan

kemampuannya, bisa berpartisipasi atau terlibat dalam suatu kelompok kecil,

menunjukkan banyak keterampilan secara mandiri, serta mengetahui kata terima kasih

dan silahkan.8

Usia ini juga disebut usia mengapa dan bagaimana (Why and How Age) dan

merupakan suatu masa bagi anak untuk menyatakan perasaan berdiri sendiri

(independensi), perlawanan atau reaksi, banyak bicara dan menganggap dirinya serba

bisa, dapat bergaul dengan teman sebaya, sudah dapat diberi petunjuk-petunjuk secara

lisan dan suka bekerjasama.9

Anak yang berusia 5 dan 6 tahun

Pada usia ini, pada umumnya anak sudah dapat membedakan antara yang baik dan

yang buruk, suka dipuji dan percaya diri sendiri. Pada usia 6 tahun mulai mau bergaul

dengan orang-orang diluar rumahnya terutama dengan anak-anak yang ditemui di sekolah

atau tempat bermain, timbul perasaan sosial dengan beraneka ragam dan kelompok,

selalu bertanya.9

Anak usia pre-remaja (pre-adolecent year)

Pada usia antara 8 tahun dan belasan tahun kecenderungan kearah penonjolan
hak-hak istimewa seorang dewasa dan kesetiaan terhadap teman-teman sekolah/

kelompok, persaingan dalam olah raga, perlu diberi disiplin dan tanggung jawab.9

Faktor yang Mempengaruhi Tingkah laku Anak terhadap

Perawatan Gigi

Anak yang sangat takut atau cemas memiliki pengalaman

kunjungan yang tidak menyenangkan sebelumnya daripada anak yang


memiliki tingkat ketakutan atau kecemasan yang lebih rendah.

kecemasan atau rasa takut mempengaruhi tingkah laku anak dan

secara luas menentukan keberhasilan perawatan gigi. 8

Berbagai sekolah psikologi sepakat bahwa kecemasan adalah ciri

kepribadian, tetapi mereka memiliki berbagai pendapat tentang asal-

usul sifat ini. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkah laku

anak yaitu:8

2.5.1 Pengaruh Orang Tua

Dalam beberapa tahun terakhir, kecemasan ibu telah lazim lebih

sering daripada ayah untuk menemani anak ke kantor gigi. Untuk

alasan ini, efek dari kecemasan ibu terhadap kunjungan ke dokter gigi

anak telah menerima cukup perhatian dalam dental literature.

Meskipun dalam waktu dekat topik ini mungkin berganti nama menjadi

"kecemasan orangtua," pada saat perubahan seperti itu akan menjadi

prematur. 7,8,9

Dengan sedikit pengecualian, sebagian besar penyelidikan

menunjukkan korelasi yang signifikan antara kecemasan ibu dan


tingkah laku kooperatif anak pada kunjungan perawatan gigi yang

pertama. Tigkat kecemasan pada sebagian orang tua cenderung

mempengaruhi tingkah laku negatif anak-anak mereka. Meskipun data

ilmiah mengungkapkan bahwa anak-anak dari segala usia dapat

dipengaruhi oleh kecemasan ibu mereka, hal ini merupakan efek paling

besar pada anak-anak di bawah usia 4 tahun. Hal ini dapat diantisipasi

karena dari simbiosis anak-orangtua yang dimulai pada masa bayi

secara bertahap berkurang. 8

Orang tua berpengaruh terhadap tingkah laku anak. Sikap orang tua terhadap anak dan

pandangan / falsafah orang tua mengenai pendidikan dan disiplin anak yang

mempengaruhi tingkah laku dari anaknya. Untuk dapat merawat gigi anak dengan sukses,

dokter gigi perlu melihat pengaruh orang tua dan lingkungannya terhadap cara berfikir

dan tingkah laku seorang anak. Pasien anak pada umumnya merupakan hasil perpaduan

pengaruh disekitar rumah dan sikap orang tua anak. Dengan mengadakan pembicaraan

dan pertanyaan pada orang tua serta pengamatan pada anak dapat dianalisa keadaan

rumah tangga dan bentuk tingkah laku anak. Sikap orang tua terhadap perawatan gigi

akan tercermin pada anak-anaknya dengan akibat akan berpengaruh terhadap kerjasama

yang diharapkan. Sikap orang tua pada dasarnya mempunyai hubungan dengan falsafah

yang dianut orang tua dalam mendidik anaknya. 9

Menurut Gesell dan Ilg terdapat 3 macam falsafah yang umum dianut orang tua

dalam mendidik anak yaitu : 9

Otoriter (Disiplin keras)

Paham ini menghendaki kesempurnaan dalam segala hal (perfeksionisme). Orang tua

yang otoriter menganggap anak-anak yang sedang membentuk kebiasaan-kebiasaan itu

dapat dibentuk tingkah lakunya menurut ukuran tingkah laku tertentu, berpedoman pada

program yang berbentuk garis lurus. Hal ini sering menyebabkan sikap anak bereaksi
negatif karena merasa tidak aman dan bertindak bertolak belakang dari yang diingini

(negatifisme).

Liberal (Laissezfair)

Paham ini berpendapat Dunia berputar dengan sendirinya, orang tua sedikit sekali

campur tangan terhadap pendidikan anaknya, sehingga cenderung membiarkan anak

karena anak akan mengetahui dan memilih apa yang terbaik baginya. Orang tua kurang

memberikan bimbingan fisik maupun mental sehingga anak-anak menunjukkan gejala


kurang disayang (under affection).

Perkembangan (Developmental)

Paham ini mengakui adanya kekuatan keturunan dan merupakan kombinasi dari

kedua paham diatas. Tujuannya mengembangkan potensi yang terbaik pada anak. Paham

ini memberikan kepercayaan pada anak untuk pengaturan diri dan penyesuaian diri

setelah diberi pengarahan yang baik. Falsafah yang dianut orang tua memberikan

pengaruh pada tingkat / kriteria tertentu merupakan interaksi yang mereka peroleh dari

orang tua mereka dan melihat bagaimana hubungan anak dengan orang tuanya. Beberapa

sikap orang tua telah diidentifikasikan dan dapat menentukan tingkah laku tertentu yang

kurang baik pada anak-anak mereka, sikap tersebut yaitu :

Over Affection (terlalu memanjakan anak)

Keadaan ini terjadi kemungkinan karena perkawinan pada usia lanjut, anak tunggal,

anak bungsu dan anak angkat. Orang tua biasanya memanjakan, melindungi diluar batas,

khawatir yang berlebihan dan terlalu menuruti kehendak anak. Orang tua cenderung

mempunyai sikap kasih sayang yang berlebihan, tidak memberi kesempatan pada anak

berkembang. Anak dapat menjadi gugup, penuh rasa takut dan menarik diri.
Over Protection (melindungi anak yang berlebihan)

Orang tua seperti ini tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mengalami dan

belajar mengatasi permasalahan. Sebagai akibatnya anak menjadi pemalu, takut terhadap

situasi yang baru, dan kurang rasa percaya diri. Anak sering menolak kewajiban dan

tingkah laku tak bertanggung jawab.

Over Indulgence (memenuhi keinginan anak tanpa batas)

Orang tua tidak membatasi keinginan dan kegiatan anak. Ayah dan ibu yang
mengalami kesulitan dengan keuangan pada masa kanak-kanak sikap yang berlebihan

terhadap anak menyebabkan anak menjadi rusak ahlaknya. Gejalanya : Anak suka bikin

ribut, berteriak, menyepak jika kehendaknya tidak dipenuhi bahkan bisa terjadi cyanosis.

Anak belajar memanipulasi orang tuanya untuk memenuhi apa yang mereka kehendaki.

Over-Anxiety (Kekhawatiran yang berlebihan)

Biasanya terjadi pada keluarga yang pernah kematian anak, atau mempunyai anak

tunggal. Perasaan perlindungan dan kasih sayang yang melewati batas yang wajar,

sehingga pergaulan anaknya dengan anak lain dirintangi. Penyakit yang ringan sifatnya

dianggap berat, bahkan kunjungan ke dokter gigi sering diundurkan. Anak menjadi

tergantung pada orang tuanya dalam segala hal / kegiatan, juga anak menunjukkan

perasaan gelisah, mudah takut, pemalu ditandai anak suka menggigit kuku.

Over Authority (sikap terlalu keras)

Orang tua bersikap kritis, selalu mencari kesalahan anak, segala kegiatan anak

dibatasi sehingga anak sering mencari jalan dengan berdusta, kurang hormat terhadap

orang tuanya. Sebagai akibat anak menyatakan perasaannya dalam bentuk negativisme,

berupa sikap acuh tak acuh, sulit diajak berunding, tidak mempan terhadap nasehat-

nasehat. Anak mengalami rasa takut yang berlebihan terhadap dokter gigi dan biasanya
akan menggunakan taktik penundaan sebagai cara untuk menghindari perawatan gigi.

Under Affection (sikap kurang kasih sayang)

Orang tua kurang acuh terhadap anaknya, selalu tidak mempunyai waktu anak,

karena alasan keadaan sosial atau keuangan. Hubungan ayah dan ibu yang tidak serasi,

adanya ayah atau ibu tiri dapat menyebabkan perasaan anak kurang aman. Orang tua

yang menyerahkan anak ke panti asuhan dapat juga menyebabkan kurang kasih sayang.

Demikian juga pada keluarga yang tidak stabil, ayah yang terlalu kejam, perselisihan
antara ayah dan ibu dimasa lampau.

Rejection (sikap menolak)

Sikap ini dapat timbul karena kecurigaan antara ayah dan ibu, faktor ekonomi,orang

tua belum matang untuk berkeluarga, kurang rasa tanggung jawab,menghendaki anak

yang berkelamin sebaliknya.9

Seorang anak yang merasa ditolak keberadaannya akan merasa gelisah, hiperaktif,

emosi tidak stabil, sukar berkonsentrasi. Anak yang mempunyai orang tua seperti hal

tersebut, akan berkembang menjadi orang yang egois, kasar agresif kegiatannya berlebih-

lebihan. Secara fisik anak yang mendapat perlakuan tersebut suka memendam perasaan

terhadap tindakan yang menimbulkan rasa sakit. 9

2.5.2 Pengaruh Keadaan Fisik

Keadaan fisik anak dapat mempengaruhi tingkah lakunya pada waktu perawatan

gigi. Beberapa keadaan fisik yang perlu diperhatikan dalam merawat gigi anak, yaitu: 9

Anak Sakit.

Anak yang mendapat perawatan di rumah sewaktu sakit dalam jangka waktu yang

lama, permintaannya selalu dipenuhi dan dimanja, hal ini berlangsung terus setelah anak
sembuh. Sikapnya akan menyulitkan pada waktu dirawat giginya. Sebaliknya anak yang

dirawat dirumah sakit dalam waktu lama bersama-sama anak lainnya yang sebaya sudah

terbiasa menjalani perawatan dan melihat perawatan yang beraneka ragam, sehingga

sikapnya pada waktu perawatan gigi akan lebih baik.

Keadaan Gizi

Gangguan gizi dapat menimbulkan gejala-gejala kelainan tingkah laku, anak

menjadi perasa, lemah dan gelisah, sehingga anak terganggu pada waktu dirawat giginya.

Kelelahan Fisik / Mental

Hal ini dapat menyebabkan tingkah laku yang negatif pada waktu perawatan gigi,

misalnya tidurnya kurang. Sebaiknya anak-anak akan berobat gigi disuruh tidur siang

atau pengobatan gigi dilakukan pada pagi hari.

Anak Cacat

Cara cara yang khusus perlu dilakukan pada anak cacat fisik/ mental jika

memerlukan perawatan giginya. Anak yang menderita paralisa otak, biasanya kurang

mendapat perhatian dalam kamar praktek gigi. Disamping paralisa otak juga pada

penderita epilepsi, buta, tuli dan cacat anggota badannya.

Hypochondriasis

Secara medis tidak ditemukan kelainan fisik tetapi secara klinis penderita merasa

sakit yang berat dan ketakutan. Simpton yang terjadi dapat berupa : sakit kepala,

kelemahan, mau muntah dan perasaan sakit didada dan panas. Keadaan ini dapat diatasi

dengan meyakinkan penderita bahwa dia tidak sakit.

2.5.3 Riwayat Medis


Pentingnya riwayat medis, merupakan faktor yang sangat

kompleks yang telah diperdebatkan selama bertahun-tahun. Beberapa

dokter gigi anak percaya bahwa itu memiliki sedikit pengaruh pada

tingkah laku anak di klinik gigi, sedangkan yang lain menganggapnya

sebagai faktor utama yang mempengaruhi kooperatif anak-anak. Ada

kesepakatan umum, bahwa anak-anak yang mendapatkan pengalaman

medis positif lebih mungkin untuk bersikap kooperatif dengan dokter

gigi.8

Nyeri yang dialami selama kunjungan medis sebelumnya adalah

pertimbangan lain dalam sejarah medis anak. Rasa sakit mungkin

sedang atau hebat, nyata atau imajiner. Meskipun demikian, keyakinan

orang tua tentang rasa sakit medis masa lalu juga secara signifikan

berkorelasi dengan tingkah laku kooperatif anak-anak mereka di

lingkungan gigi. Studi juga telah menunjukkan bahwa pengalaman

bedah sebelumnya negatif, mempengaruhi tingkah laku pada

kunjungan gigi pertama, tapi ini tidak terjadi pada kunjungan

berikutnya.8

2.5.4 Kesadaran Masalah Gigi.

Beberapa anak mungkin ke dokter gigi ketika mereka

mengetahui bahwa mereka memiliki masalah gigi. Masalahnya

mungkin seserius abses gigi kronis atau yang sederhana seperti

pewarnaan gigi ekstrinsik tersebut.Namun, ada

kecenderungan terhadap tingkah laku negatif pada kunjungan gigi

pertama ketika anak percaya bahwa ada masalah pada gigi. Tingkah

laku tersebut dapat dihasilkan dari ketakutan yang ditransmisikan


kepada anak oleh orang tua. Signifikansi variabel menyediakan dokter

gigi memiliki alasan yang baik untuk mendidik orang tua tentang nilai

mengatur kunjungan pertama gigi anak sebelum ada masalah gigi. 8

Triad of Concern

Dalam pengelolaan tingkah laku anak, ada tiga komponen yang harus

dipertimbangkan (Triad of Concern) yakni pasien anak, orang tua dan dokter gigi. 9

2.6.1 Pasien Anak.

Menyadari bahwa perkembangan psikologi anak yang berbeda-beda pada setiap

usia, khususnya bagi anak yang baru pertama kali ke dokter gigi, maka pertemuan

pertama sangat penting diperhatikan. Pada kunjungan pertama ke dokter gigi harus diatur

sedemikian rupa agar anak-anak mempunyai pengalaman yang menarik dan

menyenangkan. Perawatan pada kunjungan pertama adalah untuk memperkenalkan dan

membawa anak tersebut pada diagnosa yang rutin yaitu pemeriksaan, pencegahan dan

pemeriksaan radiografis. Pada waktu si anak menghadapi situasi baru, bila dia

didampingi seseorang yang telah belajar mengatasi situasi tanpa menunjukkan rasa takut

maka rasa takut anak anak akan berganti dengan rasa aman. Dalam hal ini kehadiran

orang tua dapat meredakan rasa takut karena tidak dapat dipisahkan secara tiba-tiba dari

ibunya untuk menghadapi situasi baru sendirian.

Rasa takut dapat juga dikurangi dengan adanya perhatian dokter gigi. Kata-kata

yang menentramkan dari seorang dokter gigi mempunyai efek positif terhadap rasa sakit

dan perasaan tidak enak yang dialami pasien.


2.6.2 Orang tua.

Peranan orang tua merupakan salah satu faktor dalam keberhasilan perawatan

pasien anak oleh karena sikap orang tua akan mempengaruhi tingkah laku anak, misalnya

orang tua terlalu berlebihan memberikan perlindungan pada anak (over-protection) dapat

mengakibatkan anak akan selalu bergantung pada orang tuanya.

Orang tua dapat dipimpin untuk mengerti bahwa pada waktu berada di ruang

praktek, dokter gigi mengetahui bagaimana cara terbaik mengatasi emosi anak untuk
keperluan perawatan. Orang tua harus mempunyai keyakinan penuh pada dokter giginya

dan mempercayakan anaknya untuk dirawat. Pendekatan dengan orang tua dapat

dilakukan dengan cara memberikan nasehat (konseling) yaitu perawatan gigi yang harus

diperhatikan, kapan dimulai dan pengaruh lingkungan dimana hal ini dapat disebarkan

melalui berbagai media massa atau secara individu.9

Beberapa hal penting dan dianjurkan pada orang tua, yaitu :

Agar orang tua tidak menceritakan dengan suara ketakutan didepan anak oleh karena

salah satu penyebab rasa takut adalah bila mendengar pengalaman orang tuanya yang

tidak menyenangkan di praktek gigi, mereka dapat mencegah timbulnya rasa takut

untuk mengatakan hal-hal yang menyenangkan dalam praktek dokter gigi dan

bagaimana baiknya dokter gigi.

Agar orang tua jangan sekalipun menggunakan praktek dokter gigi sebagai ancaman

atau hukuman.

Agar orang tua memperkenalkan si anak dengan bidang kedokteran gigi sebelum

anak sakit gigi. Anak dibawa ke dokter gigi agar diperoleh hubungan yang dekat

dengan ruang praktek maupun dengan dokter gigi itu sendiri

Keberanian orang tua pada waktu mengantarkan anak ke praktek dokter gigi dapat

menimbulkan rasa berani anak. Sebaliknya rasa cemas itu dapat menimbulkan

keadaan yang tidak menguntungkan.


Lingkungan rumah dan sikap orang tua yang baik akan membentuk temperamen

anak yang umumnya merupakan pasien dokter gigi yang baik juga.

Agar orang tua tidak memberi sogokan supaya anak mau diajak ke dokter gigi.

Orang tua dianjurkan perlunya perawatan gigi yang rutin dan teratur, tidak hanya

dalam merawat gigi tetapi juga dalam membentuk anak sebagai pasien yang baik.

Agar orang tua jangan merasa malu, cerewet atau bersikap kejam mengatasi rasa

takut terhadap perawatan gigi. Hal ini hanya membuat si anak dendam pada dokter

gigi dan usaha dokter gigi menjadi lebih sulit


Agar orang tua mencegah kesan yang jelek mengenai perawatan gigi yang datangnya

dari luar.

Orang tua tidak boleh menjanjikan pada anak apa yang akan dan tidak dilakukan

oleh dokter gigi. Dokter gigi tidak boleh dibatasi apa yang akan dilakukannya pada

anak tersebut. Orang tua juga tidak boleh menjanjikan pada anaknya bahwa dokter

gigi tidak akan menyakitinya. Kebohongan hanya menyebabkan kekecewaan dan

rasa tidak percaya diri.

Beberapa hari sebelum kunjungan, agar orang tua menyampaikan pada si anak

bahwa mereka akan pergi ke dokter gigi.

Setelah anak memasuki ruang praktek gigi, sebaliknya orang tua mempercayakan

anaknya secara keseluruhan pada dokter giginya.

2.6.3 Dokter gigi

Sebagai seorang dokter gigi haruslah dapat menyesuaikan diri dengan sikap orang

tua dan anak sehingga tercipta hubungan yang dekat antara ke tiga individu (Triad of

Concern). Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh dokter gigi yaitu :8,9

Kepribadian dokter gigi dan perawatnya.

Hal yang paling diperhatikan adalah agar si anak mempunyai keyakinan terhadap

orang-orang yang dijumpainya di tempat praktek yang meliputi penerima kartu,

perawatan dan dokter giginya. Dalam merawat pasien anak, dokter gigi harus mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang psikologi anak agar dapat mengatasi anak tanpa

menimbulkan trauma psikologi pada anak tertentu.

Waktu dan lamanya kunjungan

Waktu dan lamanya kunjungan harus diperhatikan oleh karena dapat mempengaruhi

tingkah laku anak. Harus diusahakan untuk tidak membuat si anak di kursi gigi lebih

lama dari setengah jam, oleh karena dapat menyebabkan si anak bosan dan menangis.

Waktu kunjungan, misalnya pada anak-anak pra sekolah tidak boleh diberikan waktu

kunjungan pada waktu-waktu tidurnya karena anak-anak yang dibawa waktu ini biasanya

mengantuk, lekas marah dan susah diatur.

Komunikasi dokter gigi.

Seorang dokter gigi harus mempelajari bagaimana komunikasi dengan pasiennya dan

mempunyai pengertian yang dalam terhadap pasien dan masalahnya sehingga ia dapat

melakukan pada setiap pasiennya diagnosa yang lengkap, perawatan secara menyeluruh

dan pendidikan dokter gigi yang adekuat. Dari penyelidikan Willis diperoleh bahwa

komunikasi dapat meningkatkan hubungan dokter gigi pasien yang sangat berperan

dalam menentukan keberhasilan seorang dokter gigi.

Pada waktu berkomunikasi dengan anak ada beberapa hal dalam berkomunikasi

yang perlu diperhatikan :

Mengikutsertakan anak dalam pembicaraan

Misalnya, pada pemilihan topik pilih objek dan keadaan yang dekat (familiar) dengan si

anak sehingga ia merasa di libatkan. Biarkan si anak tersebut yang memimpin

pembicaraan. Sesuaikan pembicaraan dengan tingkatan usia masing-masing. Untuk anak-

anak yang masih kecil perlu juga ditambahkan sedikit fantasi sebagai penambah

semangat. Hampir semua orang senang mendengar pembicaraan dokter gigi tentang

prosedur gigi dengan jalan mengalihkan pembicaraan. Sewaktu bekerja pada pasien anak
ataupun sewaktu alat berada di dalam mulut, jangan mengajukan pertanyaan yang

memerlukan jawaban, anak-anak biasanya cerdik memanfaatkan dokter gigi untuk

menunda pekerjaan selama beberapa menit. Kebanyakan anak-anak senang

mendengarkan pembicaraan dokter gigi.9

Menghindarkan penggunaan kata-kata yang menimbulkan rasa takut.

Beberapa orang dapat sampai menangis bila digunakan kata-kata jarum atau bor.

Penipuan harus dicegah pada waktu melakukan perawatan pada anak, tetapi bila mungkin
digunakan kata-kata deskriptif tanpa konotasi rasa sakit dan kata-kata yang biasa mereka

dengar dan gunakan sehari-hari. Penggantian kata-kata harus sesuai dengan usia pasien.

Setiap dokter gigi bebas memilih, misalnya kata-kata seperti injeksi dan jarum dapat

diganti dengan mengatakan sekarang kita akan meletakkan sesuatu pada gusimu ysng

rasanya seperti gigitan nyamuk. Kalimat ini digunakan oleh karena semua anak pernah

merasakan gigitan nyamuk. Mereka tahu bahwa gigitan nyamuk terasa sakit sedikit. 9

Menghindarkan penggunaan kalimat yang berupa perintah tetapi berupa saran

(anjuran)

Untuk memperoleh respon yang diinginkan, seseorang tidak boleh meminta si anak

menuruti perintahnya. Jika menginginkan dia melakukan sesuatu, dokter gigi harus

memberi pilihan / anjuran untuk dituruti atau ditolak. Bila anak diberi pilihan,

penolakannya tidak boleh dianggap sebagai langkah paku yang salah. Bila

memerintahkan anak untuk memenuhi saran, maka sarannya harus dibuat yang

menyenangkan hati bagi mereka. Jangan ragu-ragu tersenyum dan menunjukkan perasaan

senang terhadap pasien, tetapi bersikaplah tegas bila keadaan memaksa. 9

Penguasaan diri

Seorang dokter gigi tidak boleh kehilangan wibawa dan terkesan pemarah, seperti juga
rasa takut, pemarah adalah respon emosi yang primitif dan imatur (tidak matang) hal ini

dapat membuat sianak yakin bahwa ia telah berhasil meruntuhkan wibawa dokter gigi.

Bila seorang dokter gigi tidak dapat menguasai dirinya dan menambah volume suaranya,

maka hal ini hanya akan menambah rasa takut anak dan membuat kerjasama semakin

bertambah sulit. Bila dokter gigi tidak menahan amarah, maka lebih baik membiarkan

dokter gigi lain mengatasinya. 9

Kelemahlembutan

Semua pekerjaan dokter gigi baik dalam prosedur perawatan operatif, harus lemah
lembut. Pekerjaan yang tergesa-gesa dan tiba-tiba cenderung menimbulkan rasa takut

pada anak-anak yang masih kecil. Pada waktu menurunkan kursi gigi atau memundurkan

kursi ke belakang, dikerjakan secara perlahan, jangan menurunkan kursi gigi atau

memundurkan dengan tiba-tiba sehingga ia merasa terjatuh. Sebagai contoh, pada waktu

memberikan injeksi, jangan menunjukkan syringe dengan tergesa-gesa sehingga

membuat si anak takut. Bersikap netral dan apik dalam setiap kerja, sehingga rasa takut

yang berlebihan dapat dicegah. Jika seseorang ingin menjadi dokter gigi yang baik, maka

ia harus lemah lembut, terutama berpengetahuan dan mempunyai kepandaian. 9

Pemberian hadiah dan pujian

Dalam proses belajar, hukuman dan hadiah adalah sesuatu yang mendesak. Untuk

menghargai si anak penambah semangat, dapat diberi pujian atau hadiah sederhana. Salah

satu hadiah terpenting yang diinginkan oleh anak adalah pendekatan oleh dokter giginya.

Pada waktu menghargai si anak, berikan pujian terhadap tingkah lakunya, misalnya

dengan mengatakan si anak yang baik dan sekaligus mengatakan bahwa ia bersikap

sangat baik hari ini. Hadiah merupakan pemberian yang baik. Memberikan hadiah pada

anak oleh karena tingkah lakunya yang baik merupakan pengelolaan tingkah laku anak.9
Pengetahuan tentang pasien

Dokter gigi dikatakan bijaksana bila mengetahui tentang pasien anak sebelum si anak

duduk di kursi gigi. Pada waktu orang tuanya menelepon untuk membuat perjanjian

kunjungan dapat diperoleh informasi mengenai si anak itu. Misalnya dengan mengajukan

pertanyaan apakah si anak suka gugup (nervous), apakah si anak takut terhadap dokter

gigi?. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat memberikan bahan masukan tentang tingkah laku

anak. Banyak hal yang dapat dipelajari tentang tingkah laku anak dengan melakukan

observasi di kamar tunggu. Bila anak duduk di pangkuan ibunya atau duduk dekat
ibunya, seseorang dapat lebih dahulu mengetahui kesulitan apa yang akan dihadapi pada

kunjungan pertama. Tetapi bila si anak duduk sendiri membaca buku atau bermain-main

jauh dari orang tuanya, seseorang mampu menduga bahwa anak tersebut biasa terhadap

perawatan gigi dan emosinya matang. Selama kunjungan pertama, informasi lengkap

dapat diperoleh. Usahakan segera pada waktu itu mencari tahu mengenai keluarga

maupun anak tersebut. Dokter gigi yang memiliki pengetahuan tentang pasien berarti

setengah keberhasilan sudah diperoleh. Suatu hal yang bermakna bila dokter gigi mampu

meramal tingkah laku anak. 9

Perhatian terhadap pasien

Setiap anak harus diberi perhatian penuh oleh dokter giginya. Selalu merawat si anak

dengan beranggapan bahwa si anak satu-satunya pasien pada hari itu. Jangan sekali-kali

meninggalkan pasien anak sendirian di kursi gigi, oleh karena rasa takutnya yang belum

hilang akan bertambah. Bila hendak meninggalkan praktek selama 1-2 menit, perawat

tetap ada di tempat. Bila anak terlalu penakut, sebaiknya dokter gigi tidak meninggalkan

tempat sama sekali. 9

Keterampilan dokter gigi

Seorang dokter gigi harus mampu melaksanakan tugasnya dengan cekatan, terampil
dan sedikit mungkin menimbulkan rasa sakit. Dalam melakukan perawatan terhadap

pasien anak, tenaga asisten akan sangat diperlukan., terutama pada waktu menolong

mengontrol anak dan melakukan tindakan operatif. Cara yang sederhana dan mudah

umumnya merupakan cara yang cepat dilakukan. Teknik operatif harus dikerjakan dengan

lancar. Penyusunan alat dan tindakan mencari-cari alat pada waktu tindakan operatif tidak

akan dimulai, tidaklah perlu. Dokter gigi yang tidak efisien ini akan terlihat kehilangan

keyakinannya terhadap pasien. 8,9

Kelayakan dokter gigi

Setiap kali berhubungan dengan pasien anak, harus realistik dan bertanggung jawab.

Jangan menghukum anak karena ia penakut. Coba untuk mengambil hati anak tersebut

dan mengerti mengapa ia bersikap seperti itu. Hargai emosi mereka, tetapi bila mereka

tidak dapat diminta untuk melakukan hal yang diminta, dokter gigi boleh memohon untuk

merubahnya. Ego anak-anak akan membuat si anak peka terhadap tekanan. Berikan si

anak kesempatan untuk berpartisipasi dalam prosedur perawatan. Bila ia dapat

memegang gulungan kapas dan melakukan hal-hal kecil lainnya, ia akan merasa bahwa ia

merupakan bagian dalam perawatan tersebut sehingga mereka lebih tertarik dan

koperatif. Seorang dokter gigi harus merawat si anak bukan sebagai benda mati. 9

Pengelolaan Tingkah laku Anak di Kedokteran Gigi

Definisi Pengelolaan Tingkah laku

Pada tahun 1895 McElroy menulis, "Meskipun operative dentistry

sempurna maka akan menjadi tidak sempurna, bila ditunjukkan oleh

kegagalan dimana anak menangis." Penyebutan ini adalah yang

pertama dalam dental literatur untuk mengukur keberhasilan atau

kegagalan perawatan pada anak oleh apa pun selain kemahiran secara
teknis. Kedokteran gigi anak telah berkembang sejak saat itu, dan
8
diadopsi suatu defenisi sebagai berikut:

Pengelolaan tingkah laku merupakan sarana yang tim kesehatan

gigi lakukan secara efektif dan efisien untuk melakukan perawatan

pada anak dan, pada saat yang sama, menanamkan sikap positif

mengenai gigi anak. 8

Keadaan tingkat tingkah laku positif

Selain komunikasi dari dokter gigi dan stafnya, ada beberapa

aspek dari situasi dental yang dapat mengatur tingkah laku positif dari

bayi, anak, dan anak remaja.

Berikut ini merupakan anjuran atau pedoman praktis dalam

mengatur aspek fisik dan sosial dalam dental appointment, dengan

pertimbangan waktu: 10

Setiap orang dalam tindakan perawatan (dokter gigi, perawat,

orang tua) memberikan pancaran positif, membuat pasien

nyaman.

Menggunakan stimuli visual untuk mengalihkan perhatian dalam

tindakan pembedahan (diorientasikan berupa poster anak-anak)

Ada material yang sesuai usia (permainan yang aman, majalah) di

ruang tunggu, termasuk material untuk orang tua.


Ada mainan anak-anak kecil untuk mengalihkan perhatian atau

berupa hadiah.

Sambut anak di ruang tunggu tanpa mengenakan masker dan

pakaian bedah.

Memberikan informasi dan diskusi dengan orang tua mengenai

perjanjian yang dibuat.

Metode Pengelolaan Tingkah Laku Anak


Pengelolaan pengelolaan tingkah laku anak telah dikembangkan

sejak lama.hal ini diperlukan untuk mendapatkan kerja sama yang baik

demi tercapainya keberhasilan perawatan. Berdasarkan guideline of

behavior yang dirumuskan oleh AAPD (American Academy of Pediatric

Dentistry) 2008, pengelolaan pengelolaan tingkah laku secara

nonfarmakologi meliputi tell-show-do, positive reinforcement


1,2,10,11
(penguatan positif), hand-over-mouth, physical restraint,2,10,12

voice control (kontrol suara), dan distraction (pengalihan perhatian)


2,5,10
non-verbal communication (komunikasi non-verbal),2,5

Modelling,1,10,11 Desensitisasi.1,13 Dokter gigi harus mempertimbangkan

perkembangan kognitif pasien, serta adanya keterbatasan komunikasi

lainnya (misalnya,gangguan pendengaran) ketika memilih teknik-

teknik khusus pengelolaan tingkah laku tersebut.5

2.8.1 Metode pengelolaan tingkah laku secara nonfarmakologi

Tell-show-do

Tell-show-do adalah teknik membentuk tingkah laku yang

digunakan oleh professional pediatri. Teknik ini merupakan salah satu


teknik yang popaler digunakan dalam kedokteran gigi. Teknik ini

melibatkan penjelasan verbal prosedur dalam frase sesuai dengan

tingkat perkembangan pasien atau menceritakan mengenai perawatan yang

akan dilakukan (tell), prosedur ditetapkan secara hati-hati, tanpa ada

ancaman. Kemudian menunjukkan (show); memperlihatkan beberapa bagian

perawatan, bagaimana itu akan dikerjakan, yaitu demonstrasi kepada pasien

melalui pendengaran, penglihatan, penciuman, maupun sentuhan

tanpa menyimpang dari penjelasan dan demonstrasi yang telah


diberikan serta tanpa ancaman. Terakhir adalah melakukan (do),

mengerjakan sebagaimana yang telah diceritakan dan

didemonstrasikan. Teknik tell -show-do digunakan dengan keterampilan

komunikasi (verbal dan nonverbal) dan penguatan positif. 1,5,14

Untuk perawatan apapun yang dilakukan, penting untuk mengikuti tahap-tahap TSD.

Penjelasan yang diberikan tidak perlu panjang lebar, karena hal ini akan cenderung

membingungkan anak dan mungkin membangkitkan kecemasan; penjelasan harus

sederhana dan sambil lalu. Demikian pula demonstrasi harus diberikan dengan singkat

dan sebenarnya, sehingga perawatan yang sesungguhnya dapat dilakukan tanpa ditunda

lagi.1

Tujuan: Tujuan dari tell-show-do adalah untuk:5,11

Mengajarkan aspek-aspek penting dari kunjungan pasien gigi dan

membiasakan pasien dengan pengaturan gigi;

Bentuk respon pasien terhadap prosedur melalui de-sensitisasi

dan harapan yang baik dijelaskan

11
Indikasi:
Dapat digunakan untuk semua pasien, khususnya pada pasien yang

baru datang berkunjung dan memiliki kecemasan pada perawatan

yang belum dikenali.

Voice Control (kontrol suara)

Kontrol suara adalah dikendalikannya perubahan volume suara, dan

nadanya untuk mempengaruhi dan mengarahkan tingkah laku pasien.

Orang tua tidak terbiasa dengan teknik ini, mungkin tidak

menyenangkan namun bisa mendapatkan peluang dari penjelasan

sebelum digunakan untuk mencegah kesalahpahaman. 5

Tujuan dari kontrol suara adalah untuk: 5

mendapatkan perhatian pasien dan kepatuhan;

menghindari tingkah laku negatif atau penghindaran;

membangun sesuai peranan dewasa-anak.

Non-verbal Communication (komunikasi nonverbal)

Komunikasi nonverbal adalah penguatan dan bimbingan tingkah

laku melalui kontak yang tepat, postur, ekspresi wajah, dan bahasa
5
tubuh.

Tujuan dari komunikasi nonverbal untuk:

meningkatkan efektivitas teknik pengelolaan lainnya yang

komunikatif;

mendapatkan atau mempertahankan perhatian pasien dan

kepatuhan.

Positive Reinforcement ( penguatan positif)


Penguatan dapat diartikan sebagai pengukuhan pola tingkah laku, yang akan

meningkatkan kemungkinan tingkah laku tersebut terjadi kembali dikemudian hari. Ahli

psikologi yang menganut teori social perkembangan anak percaya bahwa tingkah laku

anak merupakan pencerminan respons terhadap penghargaan dan hukuman dari

lingkungannya; bentuk hadiah yang penting (merupakan factor motivasi yang sangat

penting untuk perubahan tingkah laku) adalah kasih sayang dan pengakuan yang

diperoleh, pertama dari orang tuanya dan kemudian dari sebayanya. Oleh karena itu,

tingkah laku yang baik pada perawatan operatif, harus diberi penghargaan oleh dokter
gigi. Pengakuan ini diharapkan memperkuat tingkah laku yang baik, jadi meningkatkan

kemungkinan akan diulangi lagi pada perawatan berikutnya, karena itu akan menjadi

pola tingkah laku yang normal bagi anak pada situasi yang demikian. 1

Penghargaan dokter gigi harus diperlihatkan sesering mungkin selama perawatan,

apabila anak bereaksi positif pada perawatan (Rosenberg,1974). Biasanya pengakuan ini

diberikan melalui kata-kata tetapi senyuman dan angguk-angguk juga tepat. Penghargaan

harus berhubungan erat dengan tindakan. Misalnya, jika anak diminta membuka

mulutnya lebar-lebar dan melakukannya denan baik, ia harus segera menerima

pengakuan. Pengakuan yang hanya diberikan pada waktu akhir kunjungan juga bik

dilakukan. Merupakan suatu hal yang buruk apabila kerja sama anak diabaikan selama

perawatan, hal ini bukan hanya menyia-nyiakan kesempatan yang baik untuk

mengukuhkan tingkah laku namun juga mengurangi kemungkinan berulangnya tingkah

laku baik yang baik. 1,14

Bentuk penghargaan yang lain adalah hadiah, dan ini dapat diberikan pada tahap

akhir perawatan sebagai penghargaan atas tingkah laku yang baik. Hadiah tidak boleh

digunakan untuk menyogok anak. Banyak jenis hadiah yang sesuai, misalnya buku-buku

dan gambar-gambar. 1,14


Perlu juga dihindari pengutan tingkah laku yang buruk. Jika seorang anak tidak mau

bekerja sama sehingga rencana perawatan tidak bisa diselesaikan, hentikan perawatan

dan kembalikan anak ke orang tua, karena bujukan malah akan memperkuat tingkah laku

buruk tersebut. Lebih baik bersikap tidak mengacuhkan tingkah laku tersebut dan

bertindak seolah-olah perawatan telah selesai (misalnya dengan menaruh kapas

sementara). Ada macam-macam hukuman yang dapat digunakan dokter gigi untuk

tingkah laku yang buruk, misalnya tidak member pengakuan atau penghargaan. Dokter

gigi tidak boleh mencemooh tingkah lakunya yang buruk atau memperlihatkan
kemarahan, dokter gigi hanya dapat memperlihatkan kekecewaan.1,14,15

Dalam proses pembentukan tingkah laku pasien yang diinginkan,

penting untuk memberikan umpan balik yang sesuai. Positive

reinforcement adalah teknik yang efektif untuk memberikan

penghargaan pada tingkah laku yang diinginkan dan dengan demikian,

memperkuat terulangnya tingkah laku. Penguatan positif-sosial

meliputi modulasi suara, ekspresi wajah, pujian lisan, dan demonstrasi

fisik yang sesuai kasih sayang oleh semua anggota tim gigi. Penguatan

positif-nonsocial termasuk kenang-kenangan dan mainan.3,5

Tujuan: Untuk memperkuat tingkah laku yang diinginkan. 5

Distraction (selingan)

Distraction (selingan) adalah teknik mengalihkan perhatian pasien dari

apa yang mungkin dianggap sebagai prosedur yang tidak

menyenangkan. Memberikan pasien istirahat singkat selama prosedur

yang menegangkan, sehingga dapat menjadi penggunaan yang

efektif dari gangguan sebelum mempertimbangkan teknik pembianaan

tingkah laku yang lebih maju. 5


Tujuan dari gangguan adalah untuk: 5

mengurangi persepsi ketidaknyamanan;

menghindari tingkah laku negatif atau penghindaran.

Parental presence/absence (kehadiran/ketidak hadiran

orang tua)

Ada atau tidak adanya orang tua kadang-kadang dapat digunakan

untuk memperoleh kerjasama untuk perawatan. Suatu

keanekaragaman ada dalam filosofi operator dan sikap orangtua

tentang kehadiran orang tua 'atau tidak selama perawatan gigi anak.

Sebagaimana pembentukan rumah gigi dengan usia 12 bulan akan

terus tumbuh penerimaan, orang tua akan mengharapkan untuk

bersama bayidan anak-anak muda selama pemeriksaan serta selama

pengobatan. Keterlibatan orang tua, terutama dalam perawatan

kesehatan anak-anak mereka, telah berubah secara dramatis dalam

beberapa tahun terakhir. Keinginan orang tua untuk hadirselama

perawatan anak mereka tidak berarti mereka tidak percaya dokter

gigisecara intelektual. Ini mungkin berarti mereka tidak nyaman jika

mereka secara visual tidak dapat memastikan keselamatan anak

mereka. Hal ini penting untuk memahami kebutuhan emosional

berubah dari orang tua karena pertumbuhan tersembunyi tapi akal

alami untuk menjadi pelindung anak-anak mereka.5

Operator harus menjadi terbiasa dengan hal ini keterlibatan

tambah orang tua dan menyambut pertanyaan dan kekhawatiran

untuk anak-anak mereka. Operator harus mempertimbangkan

keinginan orang tua dan keinginan dan terbuka untuk pergeseran

paradigma dalam pemikiran mereka sendiri. 5


Tujuan kehadiran orangtua /tidak adalah

Untuk orang tua untuk: 5

Berpartisipasi dalam pemeriksaan bayi dan/atau perawatan(jika

diminta);

Menawarkan anak yang sangat muda secara fisik dan dukungan

psikologis;

Mengamati realitas pengobatan anak mereka.

Untuk operator:5

mendapatkan perhatian pasien dan meningkatkan kepatuhan;

menghindari tingkah laku negatif atau penghindaran;

dokter gigi dengan tepat membangun peran-anak;

meningkatkan komunikasi yang efektif antara dokter gigi, anak,

dan orang tua;

meminimalkan kecemasan dan mencapai pengalaman gigi yang

positif;

memfasilitasi persetujuan cepat untuk perubahan pengobatan

atau panduan tingkah laku.

Modelling

Mengijinkan anak-anak untuk mengamati anak-anak lainnya

menjalani perawatan gigi secara adaptif merupakan cara yang efektif

untuk mempersiapkan merekauntuk menerima pengobatan dan untuk

menunjukkan apa yang diharapkan dari mereka. Sejumlah penelitian

telah menunjukkan kemanjuran pemodelan difilmkan dalam

mengurangi ketakutan-terkait tingkah laku. Namun, pelatihan melalui


film oleh dokter gigi belum termasuk dalam pengelolaan mereka,

mungkin karena kesulitan ekonomi dan logistic untuk membuat

seseorang sendiri video dan mengakses peralatan pemutaran.

Penelitian telah menunjukkan, bagaimanapun, bahwa dokter gigi dapat

mengurang tingkah laku anak yang mengganggu hanya dengan

membiarkan anak-anak untuk mengamati satu sama lain selama

perawatan gigi. Dalam sebuah penelitian oleh Stokes dan Kennedy,

anak-anak pertama kali diamati 10-15 menit dari anak lain yang
menerima perawatan gigi, dan kemudian menjadi model untuk kawan

sebaya ketika menerima perawatan mereka sendiri. Penurunan

substansial dalam tingkah laku mengganggu diamati untuk anak-anak

yang sebelumnya diidentifikasi oleh dokter gigi sebagai masalah

pengelolaan yang parah. Sebuah penyelidikan tindak lanjut dipelajari

pemodelan hidup(live modeling) lebih invasif dalam prosedur

perawatan gigi, dan menetapkan bahwa hanya yang diamati oleh

rekan-rekan selama prosedur perawatan gigis udah cukup untuk

menurunkan tingkat tingkah laku yang mengganggu. Para peneliti

merasa bahwa anak-anak lebih kooperatif karena yang diamati oleh

pasien berikutnya menempatkan mereka dalam peran sebagai model.

Keuntungan penting dari pemodelan hidup adalah bahwa tidak ada

peralatan tambahan, personel, atau perubahan dalam rutinitas

perawatan gigi yang diperlukan. 2,11,14

Tujuan:

Untuk mengurangi kecemasan terhadap pengalaman perawatan

gigi sebelumnya.

Untuk memperkenalkan anak terhadap perawatan gigi dan

mulut.
Indikasi: memperkenalkan anak terhadap suatu prosedur perawatan

yang baru dan untuk mengurangi kecemasan terhadapa perawatan

gigi dan mulut.

Physical restraint by the dentist

Merupakan pengekangan fisik yaitu dengan cara dokter gigi menahan

pergerakan anak dengan menahan tangan anak atau tubuh bagian

atasnya atau, dengan cara menempatkan kepala anak antara lengan


dan badan operator. Teknik ini merupakan suatu pengelolaan tingkah

laku yang kontoversial. Teknik ini jarang dilakukan oleh dokter gigi

yang menyukai anak-anak karena dianggap keras.11,12

Physical restraint by the assistant

Pengekangan fisik yang dilakukan oleh asisten dokter gigi yaitu

dengan menahan pergerakan anak dengan menahan tangan anak,

menstabilkan kepala, dan mengontrol pergerakan kaki. Sama halnya

dengan physical restraint by the dentist , teknik ini juga termasuk

salah satu teknik yang kontroversial.11,12

Hand Over Mouth

Teknik ini merupakan suatu bentuk dari Restraint. Teknik ini juga

merupakan teknik yang kontroversial. Teknik ini dianggap keras

terhadap anak-anak. Teknik ini tidak disukai oleh dokter gigi yang

menyukai anak-anak. Teknik ini dilakukan dengan cara menahan naka


yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada dental unit, dengan

meletakkan tangan (atau handuk) di atas mulutnya dan berbicara

dengan perlahan tetapi jelas ke dalam telinganya dengan mengatakan

bahwa tangan akan diangkat segera setelah ia berhenti menangis. Bila

anak menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dan ia dipuji.

Jika melawan, prosedur diulangi.1,11

Hand ove mouth dapat digunakan untuk menangani anak yang

manja, yang suka merajuk dan pandai memanipulasi orang tua serta
suka menentang. Anak seperti demikian tidaklah takut, mereka hanya

tidak mau bekerja sama dan mengetahui cara untuk menghindar.

Teknik ini tidak boleh digunakan pada anak yang takut, karena itu

pemeriksaan yang benar terhadap alasan mengapa anak tidak

kooperatif penting sebelum mempergunakan teknik hand over mouth.1

Desentisisasi

Prinsip dasar dari pengobatan ini terdiri dari memungkinkan

pasien secara bertahap untuk datang berdamai dengan rasa takut

dengan bekerja melalui berbagai tingkatan situasi yang ditakuti, dari

'paling ringan' hingga 'kecemasan yang paling berat'. 1

Teknik ini bergantung pada penggunaan seorang terapis terlatih

dan dalam kebanyakan kasus program penyesuaian

diri sederhana berbasis dentally harus dicoba terlebih dahulu. 12

Tujuan:11

Untuk membantu anak menguasai dirinya dari perasaan cemas.


Untuk membuat anak tidak lagi memiliki kecemasan pada

perawatan oleh karena pengalaman perawatan dental yang tidak

menyenangkan sebelumnya.

Metode pengelolaan tingkah laku secara farmakologi

Sedasi (SED)

Sedasi merupakan penanganan tingkah laku secara farmakologi.Sedasi dapat

diberikan melalui oral, intravena, intramuskular, dan inhalasi. Pasien yang diberikan

sedasi, kesadarannya masih ada dan refleksnya normal termasuk refleks batuk.1,2

Obat yang digunakan untuk menenangkan anak yang tidak

merespon teknik pengelolaan tingkah laku lain atau tidak

dapat memahami prosedur gigi. Seringkali, obat ini diberikan secara

oral. 12

Memfasilitasi perawatan yang berkualitas

Meminimalisasi tingkah laku buruk yang ekstrim

Meningkatkan respon fisiologis positif terhadap perawatan

Meningkatkan kenyamanan dan keamanan pasien

Mengembalikan pasien ke kondisi fisiologis yang aman

Syarat penggunaan sedasi:7

Operator harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agen yang akan

digunakan dan telah terlatih secara formal untuk mengadmisitrasikan agen

tersebut.

Penggunaan sedatif harus direncanakan dengan matang dan didokumentasikan

jenis agen, dosis, tanda vital pasien, efek samping. Keputusan untuk
menggunakan harus berdasarkan analisis terhadap profil tingkah laku pasien, asal

dan tingkat perawatan, perbandingan risk vs benefit terhadap status fisik pasien,

kemampuan ekonomi dan kemampuan keluarga untuk memenuhi tuntutan

perawatan yang luas.

Pasien harus dievaluasi dengan hati-hati dari waktu onset agen sampai pulih

kembali untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi yang dapat mengubah respon

yang diharapkan terhadap agen sedatif yang dapat membahayakan pasien.

Harus ada informed consent yang ditandatangani oleh orang tua/wali.


Fasilitas klinik harus cukup nyaman dan lengkap untuk menangani kondisi gawat

darurat yang mungkin muncul.

Local Anasthesia (Anatesi lokal)

Anastesi lokal, diberikan untuk menghilangkan rasa sakit pada

perawatan. Anastesi local secara topikal, injeksi secara perlahan dapat

membuat anak tidak lagi merasa sakit sehingga anak dapat bekerja

sama dengan baik.7

General Anasthesia

General anesthesia digunakan sebagai suatu jalan terakhir dalam

memberikan perawatan gigi dan mulut. Hal ini dilakukan apabila anak

memerlukan perawatan sesegera mungkin namun memiliki trauma

emosional pada perawatan dental. Biasanya juga dilakukan pada anak

yang sudah ada pembengkakan, cellulitis yang sudah parah, dan anak

dalam keadaan sakit.7