Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH SISTEM SENSORI DAN PERSEPSI I

GANGGUAN TRAKTUS UVEA

Disusun oleh :

1 Erisky Try P. (121.0033)


2 Monica Handayani R . (121.0065)
3 Mustika Larasati P. (121.0067)
4 Rismia Nindya H. B. (121.0089)
5 Rizki Adista S. (121.0091)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA

1
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan atas karunia dan rahmat-
Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata
kuliah Sistem Sensori dan Persepsi I yang berjudul Makalah Sistem Sensori dan
Persepsi I Gangguan Traktus Uvea . Dengan penyelesaian makalah ini, kami
mendapatkan bantuan serta bimbingan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, sudah
sepantasnya jika kami mengucapkan banyak terima kasih.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu,
kami mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan
memenuhi harapan berbagai pihak. Amin.

Surabaya, 21
April 2014

KELOMPOK 10

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................1

1.1 LatarBelakang.......................................................................1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................2

1.3 Tujuan...................................................................................2

1.4 Manfaat.................................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................4

2.1 Anatomi Uvea.......................................................................4

2.2 Definisi Uveitis....................................................................6

2.3 Klasifikasi.............................................................................7

2.4 Etiologi.................................................................................11

2.5 ManifestasiKlinis.................................................................11

2.6 Patofisiologi.........................................................................12

2.7 PemeriksaanPenunjang........................................................12

2.8 Penatalaksanaan...................................................................13

2.9 Komplikasi...........................................................................14

3
2.10 Prognosis. 15

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .....................................................16

3.1 Asuhan keperawatan pada Pancarditis.................................16

3.1.1 Pengkajian..................................................................16

3.1.2 Perumusan Diagnosa Keperawatan...........................17

3.1.3 Intervensi dan Rasional Keperawatan.......................19

3.1.4 Evaluasi......................................................................26

BAB IV PENUTUP....................................................................................27

4.1 Kesimpulan...........................................................................27

4.2 Saran.....................................................................................27

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................28

4
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organ penglihatan manusia terdiri atas banyak elemen yang saling


bersinergi untuk menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu organ yang
berperan penting dalam melaksanakan fisiologis dari penglihatan ini adalah
suatu lapisan vaskular pada mata yang dilindungi oleh kornea dan sklera
disebut uvea (Ilyas, 2005; Vaughan et all, 2000).

Uvea terdiri atas 3 struktur; iris, badan siliar, dan koroid. Iris merupakan
bagian yang paling depan dari lapisan uvea. Iris disusun oleh jaringan ikat
longgar yang mengandung pigmen dan kaya akan pembuluh darah. Korpus
siliaris (badan siliaris) adalah struktur melingkar yang menonjol ke dalam
mata terletak di antara ora serrata dan limbus. Struktur ini merupakan
perluasan lapisan khoroid ke arah depan. Khoroid adalah segmen posterior
uvea, di antara retina dan sklera. Khoroid merupakan lapisan yang banyak
mengandung pembuluh darah dan sel-sel pigmen sehingga tampak berwarna
hitam (Jusuf, 2003).

Uveitis didefinisikan sebagai proses inflamasi pada salah satu atau semua
bagian dari uvea (iris, badan siliar/korpus siliar, dan koroid). Uvea merupakan
lapisan vaskular mata yang tersusun atas banyak pembuluh darah yang dapat
memberikan nutrisi kepada mata. Adanya peradangan pada area ini dapat
mempengaruhi elemen mata yang lain seperti kornea, retina, sklera, dan
beberapa elemen mata penting lainnya. Sehingga kadang gejala yang

5
dikeluhkan pasien mirip dengan penyakit mata yang lain. Adapun gejala yang
sering dikeluhkan pasien uveitis secara umum yaitu mata merah (hiperemis
konjungtiva), mata nyeri, fotofobia, pandangan mata menurun dan kabur, dan
epifora (Ilyas, 2005; Jusuf, 2003; Vaughan et all, 2000).

Peradangan uvea (uveitis) dapat diklasifikasi berdasarkan beberapa


parameter. Adapun parameter yang digunakan antara lain: demografi; lokasi
dari tempat peradangan; durasi, onset, dan perjalanan penyakit; karakter dari
peradangan yang terjadi; dan penyebab dari inflamasi. Klasifikasi dan
standarisasi dari uveitis sangat penting dilakukan untuk diagnosis dan
penanganan penyakit. Sehingga penanganan yang cost-efective dapat
terlaksana (Farooqui, Foster, dan Sheppard, 2008).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang kami buat maka muncul keinginan kami
sebagai calon perawat untuk membahas masalah penyakit Gangguan Traktus
Uvea. Bagaimana konsep dasar dan penatalaksanaan pada klien dengan
Gangguan Traktus Uvea ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menjelaskan
kepada pembaca khususnya bagi kalangan perawat agar mengetahui
tentang konsep dasar pada Gangguan Traktus Uvea dan Asuhan
Keperawatan yang harus dilakukan pada klien dengan Gangguan
Traktus Uvea.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui Anatomi Traktus Uvea.
2. Untuk mengetahui Definisi Traktus Uvea.
3. Untuk mengetahui Klasifikasi Traktus Uvea.
4. Untuk mengetahui Etiologi Traktus Uvea.
5. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Traktus Uvea.
6. Untuk mengetahui Patofisiologi Traktus Uvea.
7. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang Traktus Uvea.
8. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Traktus Uvea.
9. Untuk mengetahui Komplikasi Traktus Uvea.
10. Untuk mengetahui Prognosis Traktus Uvea.

6
1.4 Manfaat
Untuk mengetahui tentang konsep dasar padaGangguan Traktus Uveadan
tindakan Asuhan Keperawatan yang harus dilakukan pada klien dengan
Gangguan Traktus Uvea .

7
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Uvea

Mata sebagai organ penglihatan manusia, tersusun atas elemen-elemen yang


memiliki struktur yang berbeda-beda. Struktur yang dimiliki oleh masing-masing elemen
menunjang fungsi dari elemen tersebut dalam fisiologis penglihatan manusia. Salah satu
elemen mata manusia adalah uvea yaitu suatu lapisan vaskular tengah mata yang
membungkus bola mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera. Uvea terdiri atas 3 unsur
yaitu iris, badan siliar, dan koroid (Ilyas, 2005; Vaughan et all, 2000).

2.1.1 Iris (Iris, pelangi)

Iris merupakan bagian yang paling depan dari lapisan uvea. Struktur ini muncul
dari badan siliar dan membentuk sebuah diafragma di depan lensa. Iris juga
memisahkan bilik mata depan dan belakang. Celah di antara iris kiri dan kanan
dikenal sebagai pupil.

Iris disusun oleh jaringan ikat longgar yang mengandung pigmen dan kaya
akan pembuluh darah. Permukaan depan iris yang menghadap bilik mata depan
(kamera okuli anterior) berbentuk tidak teratur dengan lapisan pigmen yang tak
lengkap dan sel-sel fibroblas. Permukaan posterior iris tampak halus dan ditutupi
oleh lanjutan 2 lapisan epitel yang menutupi permukaan korpus siliaris. Permukaan
yang menghadap ke arah lensa mengandung banyak sel-sel pigmen yang akan
mencegah cahaya melintas melewati iris. Dengan demikian iris mengendalikan
banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata dan cahaya akan terfokus masuk
melalui pupil (Jusuf, 2003; Vaughan et all, 2000).

Pada iris terdapat 2 jenis otot polos yaitu otot dilatator pupil dan otot
sfingter/konstriktor pupil. Kedua otot ini akan mengubah diameter pupil. Otot
dilatator pupil yang dipersarafi oleh persarafan simpatis akan melebarkan pupil,
sementara otot sfingter pupil yang dipersarafi oleh persarafan parasimpatis (N. III)
akan memperkecil diameter pupil (Guyton, 1997; Vaughan et all, 2000).

8
Jumlah sel-sel melanosit yang terdapat pada epitel dan stroma iris akan
mempengaruhi warna mata. Bila jumlah melanosit banyak mata tampak hitam,
sebaliknya bila melanosit sedikit mata tampak berwarna biru (Jusuf, 2003).

2.1.2 Badan Siliaris (Korpus siliaris)


Korpus siliaris (badan siliaris) adalah struktur melingkar yang menonjol ke
dalam mata terletak di antara ora serrata dan limbus. Struktur ini merupakan
perluasan lapisan khoroid ke arah depan. Korpus siliar disusun oleh jaringan
penyambung jarang yang mengandung serat-serat elastin, pembuluh darah dan
melanosit.
Badan siliaris membentuk tonjolan-tonjolan pendek seperti jari yang dikenal
sebagai prosessus siliaris. Dari prosessus siliaris muncul benang-benang fibrillin
yang akan berinsersi pada kapsula lensa yang dikenal sebagai zonula zinii (Jusuf,
2003).
Korpus siliaris dilapisi oleh 2 lapis epitel kuboid. Lapisan luar kaya akan
pigmen dan merupakan lanjutan lapisan epitel pigmen retina. Lapisan dalam yang
tidak berpigmen merupakan lanjutan lapisan reseptor retina, tetapi tidak sensitif
terhadap cahaya. Sel-sel di lapisan ini akan berfungsi sebagai pembentuk humor
aqueaeus (mengeluarkan cairan filtrasi plasma yang rendah protein ke dalam bilik
mata belakang (kamera okuli posterior)) (Vaughan et all, 2000).
Humor aqueaeus mengalir dari bilik mata belakang (kamera okuli posterior)
ke bilik mata depan (kamera okuli anterior) melewati celah pupil (celah di antara
iris dan lensa), lalu masuk ke dalam jaringan trabekula di dekat limbus dan
akhirnya masuk ke dalam kanal Schlemm. Dari kanal Schlemm humor aqueaeus
masuk ke pleksus sklera dan akhirnya bermuara ke sistem vena (Vaughan et all,
2000).
Korpus siliar mengandung 3 berkas otot polos yang dikenal sebagai
muskulus siliaris. Muskulus siliaris tersusun dari gabungan serat longitudina,
sirkuler, dan radial. Fungsi serat-serat sirkulaer adalah untuk mengerutkan dan
relaksasi serat-serat zonula, yang berorigo di lembah-lembah di antara processus
siliaris. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa, sehingga lensa dapat
mempunyai berbagai fokus baik untuk obyek berjarak dekat maupun yang
berjarak jauh dalam lapangan pandang Serat-serat longitudinal muskulus siliaris

9
menyisip ke dalam anyaman-anyaman trabekula untuk mempengaruhi besar pori-
porinya (Guyton dan Hall, 1997; Vaughan et all, 2000).
2.1.3 Khoroid (choroid)
Khoroid adalah segmen posterior uvea, di antara retina dan sklera. Khoroid
merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel-sel pigmen
sehingga tampak berwarna hitam. Lapisan ini tersusun dari jaringan penyambung
jarang yang mengandung serat-serat kolagen dan elastin, sel-sel fibroblas,
pembuluh darah dan melanosit. Khoroid terdiri atas 4 lapisan yaitu (Vaughan et
all, 2000):
1. Epikhoroid merupakan lapisan khoroid terluar tersusun dari serat-serat kolagen
dan elastin.
2. Lapisan pembuluh merupakan lapisan yang paling tebal tersusun dari
pembuluh darah dan melanosit.
3. Lapisan koriokapiler, merupakan lapisan yang terdiri atas pleksus kapiler,
jaring-jaring halus serat elastin dan kolagen, fibroblas dan melanosit. Kapiler-
kapiler ini berasal dari arteri khoroidalis. Pleksus ini mensuplai nutrisi untuk
bagian luar retina.
4. Lamina elastika, merupakan lapisan khoroid yang berbatasan dengan epitel
pigmen retina. Lapisan ini tersusun dari jarring-jaring elastik padat dan suatu
lapisan dalam lamina basal yang homogen.
2.2 Definisi

Uveitis didefinisikan sebagai proses inflamasi pada salah satu atau semua bagian
dari uvea (iris, badan siliar/korpus siliar, dan koroid). Seperti telah dijelaskan
sebelumnya bahwa uvea merupakan lapisan vaskular mata yang tersusun atas banyak
pembuluh darah yang dapat memberikan nutrisi kepada mata. Adanya peradangan pada
area ini dapat mempengaruhi elemen mata yang lain seperti kornea, retina, sklera, dan
beberapa elemen mata penting lainnya.
Penyebab pasti dari uveitis belum diketahui secara pasti sehingga patofisiologi yang
pasti dari uveitis juga belum diketahui. Secara umum, uveitis dapat disebabkan oleh
reaksi imunitas. Uveitis sering dihubungkan dengan infeksi seperti herpes,
toxoplasmosis, dan sifilis; adapun, postulat reaksi imunitas secara langsung melawan
benda asing atau antigen yang dapat melukai sel dan pembuluh darah uvea.
Uveitis juga dapat ditemukan dengan hubungannya dengan kelainan autoimun,
seperti SLE (Systemic Lupus Erythematosus) dan Rheumatoid Arthritis (RA). Pada

10
kasus ini, uveitis dapat disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas yang menyebabkan
penimbunanan kompleks imun pada jaringan uvea.
Penyebab ganda telah dibuktikan menyebabkan terjadinya uveitis anterior.
Kebanyakan tipe uveitis anterior merupakan reaksi peradangan steril, dimana hal inilah
yang membedakan dengan uveitis posterior yang sering disebabkan oleh infeksi.
Persentase terjadinya uveitis anterior idiopatik antara 38-70% dari seluruh kejadian
uveitis anterior. Kemudian penyebab terbanyak kedua adalah terjadinya onset akut
(HLA)-B27 positif atau HLA-B27 yang berhubungan dengan penyakit tertentu.
Uveitis adalah inflamasi salah satu struktur traktus uvea, karena traktus uvea
mengandung banyak pembuluh darah yang membeikan nutrisi pada mata dan karena
membatasi bagian mata yang lain, maka inflamasi lapisan ini dapat mengancam
penglihatan.

2.3 Klasifikasi

2.3.1 Uveitis anterior


Uveitis anterior; meliputi iritis, iridosiklitis dan siklitis anterior; yaitu
peradangan intraokular yang paling sering terjadi. Uveitis anterior dapat terjadi
apabila terjadi peradangan pada segmen anterior bola mata. Berdasarkan data
epidemiologi, kebanyakan dari pasien uveitis tidak memiliki gejala sistemik yang
terkait dengan uveitis, namun 50% pasien mengalami peradangan yang disebabkan
oleh trauma, dan paling sering disebabkan oleh sindrom idiopatik postviral
(Sindrom HLA-B27, herpes simpleks, dan herpes zoster, Fuchs heterochromic
iridocyclitis, dan beberapa penyakit arthritis lainnya). Penyakit sekunder iatrogenik
sering ditemukan post operasi, komplikasi pembedahan, implant sklera,
transplantasi kornea, distrupsi kapsula, atau fixed haptic dan implantasi lensa
intraokular yang difiksasi dengan iris.
Penyebab Uveitis anterior
Autoimun:
- Artritis rheumatoid juvenilis - Uveitis terinduksi-lensa
- Spondilitis ankilosa - Sarkoidosis
- Sindrom reiter - Penyakit chron
- Kolitis ulserativa - Psoriasis
Infeksi:
- Sifilis - Herpes simpleks
- Tuberkulosis - Onkoserkiasis
- Lepra (morbus Hensen) - Adenovirus
- Herpes Zoster

11
Keganasan:
- Sindrom masquerade - Limfoma
- Retinoblastoma - Melanoma maligna
- Leukemia
Lain-lain:
- Idiopatik - Iridosiklitis heterokromik Fuchs
- Uveitis traumatika - Gout
- Ablatio retina - Krisis galukomatosiklitik

Gambaran klinis dari uveitis anterior antara lain: fotofobia, epifora, gatal yang
dalam dan tumpul pada daerah sekitar orbit mata dan sekitarnya. Gejala akan
memburuk apabila terpapar cahaya sehingga pasien sering datang ke pasien
dengan mengenakan kacamata. Epifora yang terjadi dihubungkan dengan
peningkatan stimulasi neuron dari kelenjar airmata, dan tidak ada hubungannya
dengan sensasi benda asing yang dirasakan.
Tajam penglihatan tidak selalu menurun drastis (20/40 atau kadang masih
lebih baik, walaupun pasien melaporkan pandangannya berkabut). Daya
akomodasi menjadi lebih sulit dan tidak nyaman. Inspeksi difokuskan pada
kongesti palpebra ringan hingga sedang dan menyebabkan pseudoptosis. Kadang
dapat ditemukan injeksi perilimbus dari konjungtiva dan sklera, walaupun
konjungtiva palpebra normal. Kornea dapat terlihat edem pada pemeriksaan
slitlamp. Pada beberapa kondisi yang lebih parah, dapat ditemukan deposit
endotel berwarna coklat keabu-abuan yang disebut keratic precipitates (KP).
Tanda patagonomis dari uveitis anterior adalah ditemukannya sel leukosit
(hipopion); dan flare (protein bebas yang lepas dari iris dan badan siliar yang
meradang; dan dapat ditemukan pada kamera okuli anterior sehingga kamera
okuli anterior tampat kotor dan berkabut). Iris dapat mengalami perlengketan
dengan kapsul lensa (sinekia posterior) atau kadang dapat terjadi perlengketan
dengan kornea perifer (sinekia anterior). Sebagai tambahan kadang terlihat nodul
granulomatosa pada stroma iris.
Tekanan intraokular dapat menurun karena penurunan sekresi dari badan siliar.
Namun saat reaksi berlangsung, produk peradangan dapat perakumulasi pada
trabekulum. Apabila debris ditemukan signifikan, dan apabila badan siliar
menghasilkan sekresi yang normal maka dapat terjadi peningkatan tekanan
intraokular dan menjadi glaukoma uveitis sekunder.

2.3.2 Uveitis intermediate

12
Uveitis Intermediate adalah bentuk peradangan yang tidak mengenai uvea
anterior atau posterior secara langsung. Sebaliknya ini mengenai zona intermediate
mata. Ini terutama terjadi pada orang dewasa muda dengan keluhan utama melihat
bintik-bintik terapung di dalam lapangan penglihatannya. Pada kebanyakan
kasus kedua mata terkena. Tidak ada perbedaan distribusi antara pria dengan
wanita. Tidak terdapat rasa sakit, kemerahan, maupun fotofobia. Pasien mungkin
tidak menyadari adanya masalah pada matanya, namun dokter melihat adanya
kekeruhan dalam vitreus, yang sering menutupi pars plana inferior, dengan
oftalmoskop.
Jikapun ada, hanya sedikit gejala uveitis anterior. Kadang-kadang terlihat
beberapa sel di kamera okuli anterior, sangat jarang terjadi sinechia posterior dan
anterior. Sel radang lebih besar kemungkinan terlihat di ruangan retrolental atau di
vitreus anterior pada pemeriksaan dengan slit-lamp. Sering timbul katarak
subkapsular posterior. Oftalmoskopi indirek sering menampakan kekeruhan tipis
bulat halus di atas retina perifer. Eksudat seluler ini mungkin menyatu, sering
menutupi pars plana. Sebagian pasien ini mungkin menunjukan vaskulitis, yaitu
terlihat adanya selubung perivaskuler pada pembuluh retina.
Pada kebanyakan pasien, Penyakit ini tetap stasioner atau berangsur membaik
dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Pada beberapa pasien timbul edema makular
kistoid dan parut makular permanen, selain katarak subkapsular posterior. Pada
kasus berat dapat terjadi pelepasan membran-membran siklitik dan retina.
Glaukoma sekunder adalah komplikasi yang jarang terjadi.
Penyebabnya tidak diketahui. Kortikosteroid adalah satu-satunya pengobatan
yang menolong namun hanya dipakai pada kasus yang berat, terutama bila
penglihatan menurun sekunder akibat edema makular. Mula-mula dipakai
kortikosteroid topikal, namun jika gagal suntikan subtenon atau retrobulber dengan
kortikosteroid mungkin efektif. Pengobatan demikian meningkatkan resiko
timbulnya katarak. Untungnya pasien-pasien ini menyembuh setelah operasi
katarak.

2.3.4 Uveitis posterior


Uveitis posterior merupakan peradangan pada koroid dan retina; meliputi
koroiditis, korioretinitis (bila peradangan koroidnya lebih menonjol),
retinokoroiditis (bila peradangan retinanya lebih menonjol), retinitis dan uveitis

13
disseminta. Kebanyakan kasus uveitis posterior bersamaan dengan salah satu
bentuk penyakit sistemik. Penyebab uveitis posterior seringkali dapat ditegakkan
berdasarkan (1) morfologi lesi, (2) cara onset dan perjalanan penyakit, (3)
hubungannya dengan penyakit sistemik.
Penyebab uveitis posterior
1.Penyakit infeksi
a. Virus: CMV, herpes simpleks, herpes zoster, rubella, rubeola, virus defisiensi
imun manusia HIV), virus eipstein Barr, virus coxsackie, nekrosis retina akut.
b. Bakteri: Mycobacterium tuberculosis, brucellosis, sifilis sporadic dan
endemic Nocardia, Mycobacterium avium-intracellulare, Yarsinia, dan borella
(penyebab penyakit Lyme).
c. Fungus: Candida, histoplasma, Cryptococcus, dan aspergillus
d. Parasit: Toxoplasma, toxocara, cysticercus, dan onchocerca
2. Penyakit Non Infeksi:
a. Autoimun:
- Penyakit Behcet - Oftalmia simpleks
- Sindrom vogt-koyanagi-Harada - Vaskulitis retina
- Poliarteritis nodosa
b. Keganasan:
- Sarkoma sel reticulum - Leukemia
- Melanoma maligna - Lesi metastatic
c. Etiologi tak diketahui:
- Sarkoidosis - Retinopati birdshot
- Koroiditis geografik - Epiteliopati pigmen retina
- Epitelopati pigmen piakoid multifocal akut
2.4 Etiologi

Uveitis anterior merupakan peradangan iris dan badan siliar yang dapat berjalan akut
maupun kronis. Penyebab dari iritis tidak dapat diketahui dengan melihat gambaran
klinisnya saja. Iritis dan iridisiklitis dapat merupakan suatu manifestasi klinik reaksi
imunologik terlambat, dini atau sel mediated terhadap jaringan uvea anterior. Uveitis
anterior dapat disebabkan oleh gangguan sisbemik di tempat lain, yang secara hematogen
dapat menjalar ke mata atau timbul reaksi alergi mata.
Penyebab uveitis anterior diantaranya yaitu: idiopatik, penyakit sistemik yang
berhubungan dengan HLA-B27 seperti; ankylosing spondilitis, sindrom Reiter, penyakit
crohns, Psoriasis, herpes zoster/ herpes simpleks, sifilis, penyakit lyme, inflammatory
bowel disease; Juvenile idiopathic arthritis; Sarcoidosis, trauma dan infeksi. Selain Itu
Juga Disebabkan Karena Virus, Jamur, Bakteri, Parasit, Trauma.

2.5 Manifestasi Klinis

14
Gejala penyakit pada traktus uvealis tergantung tempat terjadinya penyakit itu.
Misalnya, karena terdapat serabut-serabut nyeri di iris, pasien dengan iritis akan
mengeluh sakit dan fotofobia. Peradangan iris itu sendiri tidak mengaburkan penglihatan
kecuali bila prosesnya berat atau cukup lanjut hingga meneruhkan humor aqueous,
kornea, dan lensa. Penyakit koroid sendiri tidak menimbulkan sakit atau penglihatan
kabur. Karena dekatnya koroid dengan retina, penyakit koroid hamper selalu melibatkan
retina, penglihatan sentral akan terganggu. Vitreus juga dapat menjadi keruh sebagai
akibat infiltrasi sel dari bagian koroid dan retina yang meradang. Namun gangguan
penglihatan proposional dengan densitas kekeruhan vitreus dan bersifat reversible bila
peradangan mereda. Adapun, secara umum pasien yang sedang mengalami peradangan
uvea akan mengeluh gejala-gejala umum sebagai berikut:
Mata merah (hiperemis konjungtiva)
Mata nyeri
Fotobia
Pandangan mata menurun dan kabur
Pasien dengan uveitis anterior menunjukka banyak gejala. Gejala-gejala ini bervariasi
dari gejala ringan (pandangan kabur dengan kondisi mata normal) hingga gejala berat,
fotobia, dan hilang penglihatan y ang berhubungan dengan injeksi yang muncul dan
hipopion. Factor diluar gejala mata kadang membantu dalam menegakan diagnosis
uveitis anterior. Onset, durasi, dan keparahan gejala seperi unilateral atau bilateral harus
diketahui. Selain itu usia pasien, latar belakang pasien, dan keadaan mata harus menjadi
pertimbangan. Riwayat rinci dan review dari system merupakan pendekatan diagnosis
yang berharga bagi pasien dengan uveitis.

2.6 Patofisiologi
Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh defek langsung suatu
infeksi atau merupakan fenomena alergi. Infeksi piogenik biasanya mengikuti suatu
trauma tembus okuli, walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi sebagai reaksi terhadap
zat toksik yang diproduksi mikroba yang menginfeksi jaringan tubuh di luar mata.
Radang iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aqueous Barrrier sehingga
terjadi peningkatan protein, fibrin dan sel-sel radang dalam humor akuos yang tampak
pada slitlamp sebagai berkas sinar yang disebuit fler (aqueous flare). Fibrin dimaksudkan
untuk menghambat gerakan kuman, akan tetapi justru mengakibatkan perlekatan-
perlekatan, misalnya perlekatan iris pada permukaan lensa (sinekia posterior).

15
Sel-sel radang yang terdiri dari limfosit, makrofag, sel plasma dapat membentuk
presipitat keratik yaitu sel-sel radang yang menempel pada permukaan endotel kornea.
Akumulasi sel-sel radang dapat pula terjadi pada tepi pupil disebut koeppe nodules, bila
dipermukaan iris disebut busacca nodules, yang bisa ditemukan juga pada permukaan
lensa dan sudut bilik mata depan. Pada iridosiklitis yang berat sel radang dapat
sedemikian banyak sehingga menimbulkan hipopion.
2.7 Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium sangat dibutuhkan guna mendapat sedikit gambaran mengenai


penyebab uveitis. Pada pemeriksaan darah, yaitu Differential count, eosinofilia :
kemungkinan penyebab parasit atau alergi, VDRL, FTA, Autoimun marker (ANA,
Reumatoid factor, Antidobble Stranded DNA), Calcium, serum ACE level (sarcoidosis),
Toxoplasma serologi dan serologi TORCH lainnya. Pemeriksaan urin berupa kalsium
urin 24 jam (sarcoidosis) dan Kultur (bechets reitters). Pemeriksaan Radiologi, yaitu
Foto thorax (Tbc, Sarcoidosis, Histoplasmosis), Foto spinal dan sendi sacroiliaka
(Ankylosing sponfilitis), Foto persendian lainya (Reumatoid arthritis, juvenile
rheumatoid arthritis) dan Foto tengkorak, untuk melihat adakah kalsifikasi cerebral
(toxoplasmosis).

Skin Test, yaitu Mantoux test, untuk Tbc, Pathergy test, untuk Bechets disease akan
terjadi peningkatan sensivitas kulit terhadap trauma jarum pada pasien bila disuntikkan
0,1 ml saline intradermal dalam 18-24 jam kemudian terjadi reaksi pustulasi.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui etiologi secara spesifik,
bila dicurigai adanya kecurigaan penyakit sistemik, Uveitis rekuren, Uveitus bilateral,
Uveitis berat, Uveitis posterior dan Onsetnya muda.

Pemeriksaan Penunjang lainnya yaiti dengan cara :

1. Uji fluorescein
Untuk mengetahui adanya kerusakan pada epitelkornea akibat erosi, keratitis
epithelia, bila terjadi defek epitel kornea akan terlihat warna hijau pada defek
tersebut.
2. Uji sensibilitas kornea
Untuk mengetahui keadaan sensibilitas kornea yang berkaitan dengan penyakit mata
akibat kelainan saraf trigeminus oleh herpes zoster ataupun akibat gangguan ujung
saraf sensibel kornea oleh infeksi herpes simpleks.

16
3. Uji fistel
Untuk melihat kebocoran kornea atau fistel akibat adanya perforasi kornea.
4. Uji biakan dan sensitivitas
Mengidentifikasi pathogen penyebab UVEITIS.
5. Uji plasido
Untuk mengetahui kelainan pada permukaan kornea.

2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk uveitis, terapi perlu segera dilakukan untuk mencegah
kebutaan, diberikan steroid tetes mata pada siang hari dan salep pada malam hari.Selain
itu pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau
orang lain, menGanjurkan untuk tidak menggosok mata yang sakit kemudian mata yang
sehat, menganjurkan untuk mencuci tangan setiAp memegang mata yang sakit,
menggunakan handuk, lap dan sapu tangan yang terpisah. Sekret dibersihkan dengan
kapas yang dibasahi air rebus bersih atau garam fisiologis setiap 15 menit dan diberi
salep penicillin.
1. Pada uveitis anterior kronis (iritis), obat mata dilator harus diberikan segera untuk
mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa. Kortikosteroid lakal
dipergunakan untuk mengurangi peradangan dan kaca mata hitam.
2. Pada uveitis intermediate (pars planis, siklitis kronis), diberikan steroid topical atau
injeksi untuk kasus yang berat.
3. Pada uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid/retina) biasanya
berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik seperti AIDS.
Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama degan
terapai terhadap keadaan sistemik yang mendasarinya. (Brunner dan Suddarth,2001).

2.9 Komplikasi

Adapun komplikasi yang paling sering terjadi pada uveitis yaitu:


1. Glaukoma sekunder
Adapun mekanisme terjadinya peningkatan tekanan intraocular pada peradangan uvea
antara lain:
a. Sinekia anterior perifer (iris perifer melekat pada kornea)
terjadi akibat peradangan iris pada uveitis anterior. Sinekia ini menyebabkan sudut
iridokornea menyempit dan mengganggu drainase dari humor aqueous sehingga
terjadi peningkatan volume pada kamera okuli anterior dan mengakibatkan
peningkatan tekanan intraocular.

17
b. Sinekia posterior pada uveitis anterior
terjadi akibat perlekatan iris pada lensa di beberapa tempat sebagi akibat radang
sebelumnya, yang berakibat pupil terfiksasi tidak teratur dan terlihat pupil yang
irreguler. Adanya sinekia posterior ini dapat menimbulkan glaukoma dengan
memungkinkan berkumpulnya humor aqueous di belakang iris, sehingga
menonjolkan iris ke depan dan menutup sudut iridokornea.
c. Gangguan drainase humor aqueous juga dapat terjadi akibat terkumpulnya sel-sel
radang (fler) pada sudut iridokornea sehingga volume pada kamera okuli anterior
meningkat dan terjadi glaukoma.
Pada uveitis intermediate, glaukoma sekunder adalah komplikasi yang jarang terjadi.
2. Atrofi nervus optikus
Setelah terjadi peningkatan tekanan intraokular, pasien dapat mengalami atrofi
nervus optikus sehingga terjadi kebutaan permanen.
3. Katarak komplikata
Katarak komplikata akibat penyakit intraocular disebbakan karena efek langsung
pada fisiologis lensa. Katarak biasnya berawal dari di daerah subkapsul posterior dan
akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Katarak yang terjadi biasanya unilateral.
Prognosis visualnya tidak sebaik katarak senilis biasanya.
4. Ablasio retina
5. Edema kistoid macular
6. Efek penggunanan steroid jangka panjang.
2.10 Prognosis
Pandangan bervariasi, tergantung pada jenis uveitis, keparahan dan durasi, apakah
itu segera menanggapi pengobatan dan apakah ada penyakit yang terkait. Ketika
didiagnosis dan diobati segera, prognosis umumnya baik, dan pasien dapat
mengharapkan untuk memulihkan akhirnya. Jika tidak diobati, komplikasi dari uveitis
bisa serius, dan mungkin termasuk glaukoma, katarak atau kehilangan penglihatan
permanen. Kebanyakan kasus uveitis berespon baik jika dapat didiagnosis secara awal
& diberi pengobatan. Prognosis visual pada iritis kebanyak akan pulih dengan baik,
tanpa adanya katarak, glaucoma atau posterior uveitis.

18
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Asuhan Keperawatan Gangguan Traktus Uvea

3.1.1 Pengkajian

1. Pengkajian Umum
A. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Mengkaji adanya :
a) Bintik hitam dan floating spot saat melihat
b) Penglihatan kabur (susah memfokuskan penglihatan)
c) Tajam penglihatan menurun
d) Sakit mata ketika melihat sesuatu dalam jangka waktu yang lama.
e) Mata memerah secara difus daerah sirkumkornea
f) Hipertermi
g) Nyeri akut
h) Eksudasi pada mata
2) Riwayat kesehatan dahulu
a) Riwayat invasi mikroba aktif ke jaringan oleh Myobacterium
tuberculosis dan Toxoplasma gondii
b) Riwayat artritis, terpajan histoplasmosi, sifilis, sitomegalovirus,
retinitis, herpes, dan infeksi rubella.
c) Trauma, kecelakan sehinga benda asing mengenai organ mata.
d) Konsumsi obat-obatan untuk penyakit tertentu atau narkoba
(intravenous drug induced)

19
e) Penggunaan jarum suntik secara bersamaan dan bergantian serta
perilaku seksual (Sexual Transmitted Disease atau AIDS)
f) Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ mata
contohnya bedah intraokuler terhadap katarak atau glaukoma
3) Riwayat kesehatan keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan penyakit yang berpotensi
menyebar dengan cepat seperti TB, sifilis, dan lain-lain.

B. Pola kebiasaan
a) Makan dan minum
Mengkaji pola makan pasien, kapan saat mengalami mual dan muntah,
frekuensi mual dan muntah
b) Gerak dan Aktivitas
Megkaji data pasien mengenai kebiasaan sehari-hari, pergerakan,
frekuensi dibantu oleh orang lain, dan tingkat keleluasaan.
c) Kebersihan diri
Mengkaji frekuensi bantuan saat melakukan aktivitas kebersihan diri
akibat penurunan kualitas penglihatan
d) Pengaturan suhu tubuh
Mengkaji adanya peningkatan suhu tubuh, frekuensi dan pola peningkatan
suhu.
e) Rasa nyaman
Mengkaji adanya nyeri dengan memberikan skala intensitas nyeri 0-10
f) Data social
Mengkaji data social pasien seperti interaksi dengan keluarga atau petugas
kesehatan, perilaku saat mengalami sakit dan sebelum mengalami sakit.
C. Pemeriksaan Fisik
Mata
- Inspeksi
Terdapat eksudasi di area anterior mata, kemerahan pada sirkum
korneal, fotofobia, pupil kecil, terdapat synecheae anterior atau posterior
dengan slit lamp, nodul pada iris, terdapat epifora (air mata yang mengucur),
COA (Camera Oculi Anterior) keruh dan dalam.
- Palpasi
Nyeri tekan area palpebra
D. Pemeriksaan penunjang :

20
a. Funduskopi
b. Pemeriksaan Slit Lamp
c. Foto X-ray
d. Pemeriksaan darah lengkap
3.1.2 Perumusan Diagnosa
Pelabelan diagnosa diambil dari NANDA 2009-2011 :
1. Gangguan sensori persepsi: penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori akibat tajam penglihatan menurun dan penglihatan kabur.
2. Resiko Cedera berhubungan dengan penglihatan kabur, distorsi penglihatan.
3. Nyeri akut berhubungan dengan proses peningkatan protein pada humor
aquos dan peningkatan TIO.
4. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada traktus uvealis.
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan eksudasi cairan purulent pada
bilik mata depan.
6. Resiko infeksi berhubungan dengan akumulasi mikroorganisme pada traktus
uvealis.
7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah lambung, mual muntah.

3.1.3 Intervensi dan Rasional

No Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional


Hasil
1. Gangguan Tujuan : Oobservasi Pengawasan
sensori Setelah diberikan tanda-tanda vital tanda-tanda
persepsi: asuhan keperawatan pasien (TD, N, S, penyebaran
penglihatan x 24 jam dan RR). infeksi dan
berhubungan diharapkan Kaji ketajaman keadaan umum
dengan : gangguan sensori penglihatan pasien
Gangguan persepsi: (visus). Penggunaan
penerimaan penglihatan pasien Snellen Card
sensori teratasi dengan Observasi akan sangat
Kekeruhan kriteria hasil: penglihatan yang membantu untuk
lensa Ketajaman kabur dimana mengetahui
Synechiae penglihatan dapat terjadi bila keabnormalan
Penurunan meningkat. menggunakan visus pasien.
suplai Tidak terdapat tetes mata. Cahaya yang
nutrisi ke bintik hitam Ajarkan pasien kuat
mata pada lapang untuk menyebabkan
Tajam pandang. menangani rasa tidak

21
penglihata Pasien dapat keterbatasan nyaman setelah
n menurun memfokuskan penglihatan, menggunakan
Penglihatan pengli-hatan a. misalnya tetes mata
kabur Pasien dapat hindari cahaya dilator.
melihat dengan yang Menurunkan
jelas menyilaukan. bahaya keamanan
Hasil b.istirahatkan sehubungan
Pemeriksaan mata apabila dengan perubahan
TTV dalam sudah terlihat lapang pandang/
rentang tanda-tanda kehilangan
normal : kelelahan. penglihatan dan
RR : 16-20x/menit Ajarkan pasien akomodasi pupil
Nadi :80-100x/menit untuk terhadap sinar
TD : 110-120/70-80 pemberian tetes lingkungan.
mmHg mata (jumlah Mengontrol TIO
tetesan, jadwal dan mencegah
dan dosis). kehilangan
Anjurkan pasien penglihatan
menggunakan lanjut.
kaca mata Meningkatkan
ketika self care dan
terbangun dan mengurangi
tutup dengan ketergantungan.
penutup mata Kaca mata dapat
selama tidur digunakan
sesuai sebagai proteksi
kebutuhan. awal terhadap
Bersihkan mata, paparan benda
apabila ada asing ke mata
kotoran dan dan penutup
gunakan kapas mata saat tidur
basah dan dapat
bersih. menghindari
eksudasi
Kolaborasi berlebih.
dalam Untuk mencegah
pemberian tetes perlengketan
mata palpebra akibat
Chloramphenic penumpukan
ol/Kloramfenik secret.
ol,Tetrasiklin Menurunkan
Kolaborasi jumlah organisme
dalam penyebab infeksi.
pemberian Pemberian

22
siklopegik sikloplegik
ditujukan sebagai
anti inflamasi
ringan,
analgesic,
mencegah/
melepaskan
sinekia posterior
dan untuk
mengistirahatkan
mata

2. Resiko Cedera Tujuan : 1Observasi Tingkah laku


berhubungan Setelah diberikan tingkah laku hiperaktif
dengan : asuhan keperawatan pasien. mengindikasikan
Penglihatan x 24 jam Jauhkan alat- pasien beresiko
kabur. diharapkan tidak alat yang mengalami cedera
Distorsi terjadi cedera pada berpotensi Menghindarkan
penglihatan pasien dengan menimbulkan pasien dari luka
Penurunan criteria hasil: bahaya tusuk/ gores.
ketajaman Berkurangnya misalnya : Untuk mencegah
penglihatan factor yang dapat gunting, pisau, terjadinya
mengakibatkan barang pecah cedera/jatuh/luka
cedera. belah. Untuk mencegah
Pasien tidak Awasi dan bantu terjadinya
mengalami pasien dalam cedera/jatuh/luka
cedera melakukan .
suatu kegiatan. Pengawasan dari
Anjurkan pasien petugas
meminta kesehatan
bantuan setiap (perawat) tidak
kali melakukan dapat merawat
kegiatan. selama 24 jam
Anjurkan penuh maka dari
keluarga pasien itu perlu bantuan
untuk ikut keluarga atau
mengawasi orang terdekat
pasien. pasien.
Pertahankan Melindungi mata
perlindungan dari cedera
mata sesuai kecelakaan
indikasi

344
Nyeri akut Setelah diberikan Kaji skala, Mengevaluasi

23
53berhubungan asuhan keperawatan lokasi, dan terapi yang
dengan, diharapkan nyeri faktor yang diberikan dan
Proses berkurang atau memperberat membantu
peningkata teratasi dengan atau menentukan
n protein criteria hasil: meringankan tindakan
pada Pasien tampak nyeri. selanjutnya.
humor rileks Observasi TTV Mengetahui
aquos 2. TTV dalam batas perkembangan
Peningkatan normal (N=60-100 Berikan waktu kondisi pasien
TIO x/menit, S=36,5oC- istirahat yang Istirahat yang
Kerusakan 37,4oC, TD= 110- cukup. cukup dapat
saraf 130/60-80 mmHg, Anjurkan meningkatkan
sensorik RR=16-20 x/menit) teknik distraksi perasaan rileks
Proses Skala nyeri dan relaksasi pada pasien.
inflamasi Anjurkan Distraksi dan
ringan
pada traktus pasien untuk relaksasi, dapat
uvea mengistirahatka mengurangi rasa
n matanya saat nyeri pasien
sudah tampak Dapat
tanda-tanda meringankan
kelelahan. rasa nyeri pada
Delegatif dari saat memandang
dokter untuk dan mencegah
pemberian obat iritasi lebih
analgetik sesuai lanjut.
dengan Analgetik
program terapi. membantu
mengurangi rasa
nyeri

4. Hipertermi Tujuan : Observasi tanda- Mengetahui suhu


Berhubungan Setelah diberikan tanda vital tubuh pasien dan
dengan, asuhan keperawatan pasien (terutama menentukan
Pelepasan x 24 jam suhu) intervensi lebih
pirogen diharapkan suhu Beri kompres lanjut.
proses tubuh pasien dalam hangat pada Penggunaan
inflamasi batas normal dengan lipatan axilla. kompres dingin
pada traktus criteria hasil: Anjurkan pasien yang ditempelkan
uvealis Suhu tubuh untuk di tubuh
dalam rentang membatasi menyebabkan
normal (36,8oC- aktivitas. thermoregulator
37,4oC) Ajarkan pasien (pengatur suhu)
Pasien pentingnya yang terdapat di
mengatakan mempertahanka hipotalamus

24
badannya tidak n cairan yang keliru memberi
panas lagi. adekuat perintah. Perintah
Badan pasien (sedikitnya 2 yang seharusnya
tidak teraba L/hari) untuk menurunkan suhu
panas mencegah berubah menjadi
Mukosa bibir dehidrasi. menaikkan suhu
lembab Pantau suhu karena benda
Turgor kulit lingkungan, dingin yang
elastic batasi/ menempel. Maka
Kulit tidak tambahkan linen orang
tampak tempat tidur yang demam
kemerahan sesuai indikasi. diberikan kompre
Delegatif dari s menggunakan
dokter untuk air dingin atau es
pemberian obat akan
antipiretik. lebih demam lagi
saat kompres
tersebut
dihentikan.
Membantu
menurunkan suhu
tubuh pasien
melalui proses
konduksi
Pirogen yang
masuk ke cairan
tubuh dapat
mengakibatkan
mekanisme tubuh
untuk melakukan
metabolisme lebih
besar sehingga
evaporasi
berlebihan dapat
terjadi.
Suhu ruangan/
jumlah linen
harus diubah
untuk
mempertahankan
suhu mendekati
normal.
Membantu
menurunkan

25
demam

5. Gangguan citra Tujuan : Kaji makna Episode traumatic


tubuh Setelah dilakukan perubahan pada mengakibatkan
berhubungan asuhan keperawatan pasien perubahan tiba-
dengan, x 24 jam Lakukan tiba.
Eksudasi diharapkan citra pendekatan yangMembina
cairan mata tubuh pasien positif, intens dan kepercayaan dan
Epifora dengan kriteria positif pada keterbukaan
hasil: klien dan terhadap kondisi
Pasien tidak keluarga. dan respon yang
merasa malu Dorong klien dirasakan klien dan
dengan keadaan untuk keluarga untuk
tubuhnya mengekspresika dapat memilih dan
Pasien tidak n perasaan menerapkan
menutupi khusus intervensi
matanya saat mengenai cara keperawatan.
diajak berbicara ia memandang Mengetahui
atau berpikir konsep diri klien
mengenai terhadap dirinya
dirinya sendiri, sehingga
Kolaborasi dapat menetapkan
dalam merujuk intervensi yang
pasien ke klinik akan diberikan.
psikiatri bila Membantu klien
diperlukan mengatasi
masalah kejiwaan
dan emosi yang
mungkin
menetap.

6. Resiko infeksi Tujuan : Observasi Adanya tanda-tanda


berhubungan Setelah diberikan manifestasi infeksi
dengan, asuhan keperawatan klinis infeksi menandakan
Akumulasi x 24 jam (pireksia, perkembangan dan
mikroorganis diharapkan tidak eksudasi, penyebaran infeksi.
me pada terjadi penyebaran eritema, edema) Mengontrol dan
traktus infeksi dengan Pertahankan mencegah
uvealis kriteria hasil: teknik aseptic penyebaran infeksi
o Pasien tidak dalam silang.
mengeluh perawatan mata. Mencegah
manifestasi klinis Ajarkan untuk kontaminasi dan
infeksi (pireksia, tidak mengusap penimbulan lesi
eksudasi, eritema, mata pada area mata.

26
edema) Kolaborasi Antibiotic dapat
o Mata tidak tampak dalam menekan proses
kemerahan atau pemberian infeksi akibat
berkurang antibiotic dan bakteri.
o Jumlah leukosit antimikotika Antimikotika dapat
dalam rentang sesuai indikasi. menekan proses
normal (4000- Pemeriksaan infeksi akibat
10000 mm3) laboratorium. jamur.
Kadar leukosit
menentukan tingkat
keparahan infeksi.

7. Ketidakseimba Setelah dilakukan Observasi BB, Memantau


ngan nutrisi asuhan keperawata TB dan LL perubahan BB
kurang dari x 24 jam pasien. pasien dan
kebutuhan diharapkan ketidaks Anjurkan pasien mengetahui IMT
tubuh eimbangan nutrisi untuk makan Pemberian
berhubungan kurang dari makanan dalam makanan yang
dengan, kebutuhan tubuh keadaan hangat hangat dengan
Peningkatan pasien teratasi, dengan jumlah jumlah sedikit
permeabilitas dengan kriteria sedikit tapi tapi sering
pembuluh hasil: sering. membantu pasien
darah pada Mual dan muntah Anjurkan untuk untuk
lambung berkurang atau mengkonsumsi meningkatkan
tidak ada makanan yang nutrisi dan
Pasien tinggi kalori menghindari
menghabiskan 1 tinggi protein. mual dan
porsi makanan Kolaborasi muntah.
Nafsu makan dengan ahli gizi Meningkatkan
meningkat dalam penataan asupan nutrisi
makanan, rasa pasien.
makanan, dan Meningkatkan
keberagaman nafsu makan
menu makanan pasien.
sesuai indikasi.

27
28
3.1.4 Evaluasi

1. Gangguan sensori persepsi: penglihatan pasien teratasi


2. Tidak terjadi cedera dan resiko cedera terminimalisasi.
3. Nyeri akut berkurang atau teratasi.
4. Hipertermi teratasi dengan suhu tubuh pasien dalam rentang
normal.
5. Gangguan citra tubuh teratasi dengan citra tubuh pasien positif.
6. Tidak terjadi penyebaran infeksi
7. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pasien teratasi.

29
BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Uveitis adalah inflamasi traktus uvea (iris,korpus siliaris,dan koroid) denganberbagai
penyebab.Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea yang mengalamiinflamasi
biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Uveitis anterior merupakan radang irisdan
badan siliar bagian depan atau pars plikata, yang disebabkan oleh gangguan sistemik di
tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul karena
reaksialergi mata. Uveitis anterior dikatakan akut jika terjadi kurang dari 6 minggu
dandikatakan sebagai kronik jika lebih dari 6 minggu. Laboratorium sangat dibutuhkan
gunamendapat sedikit gambaran mengenai penyebab uveitis. Penatalaksanan yang
utamauntuk uveitis tergantung pada keparahannnya dan bagian organ yang terkena
danprognosis kebanyakan kasus uveitis anterior berespon baik jika dapat didiagnosis
secara awal.

Uvea merupakan lapisan vaskular mata yang tersusun atas banyak pembuluh darah
yang dapat memberikan nutrisi kepada mata. Adanya peradangan pada area ini dapat
mempengaruhi elemen mata yang lain seperti kornea, retina, sklera, dan beberapa elemen
mata penting lainnya.
sPenyebab pasti dari uveitis belum diketahui sehingga patofisiologi yang pasti dari
uveitis juga belum diketahui. Secara umum, uveitis dapat disebabkan oleh reaksi
imunitas. Uveitis sering dihubungkan dengan infeksi seperti herpes, toxoplasmosis, dan
sifilis; adapun, postulate reaksi imunitas secara langsung melawan benda asing atau
antigen yang dapat melukai sel dan pembuluh darah uvea.

4.2 Saran
Sebagai calon perawat harus dapat mengerti dan memahami penjelasan mengenai
konsepkonsep dasar mengenai traktus uvea. Yang nantinya akan digunakan sebagai
pedoman perawat dalam penanganan penyakit yang berhubungan dengan alat indera,
terutama indera penglihatan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Suddarth, Bruner. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 3. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Janigian, Robert. H.. Filippopoulos, Theodoros.. Welcome, Brian. A.. (2008). Uveitis,
Intermediate.Diaksestanggal3Maret2010.

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

31