Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada tahun 2016 ini Kota Banyuwangi membangun proyek Jembatan
Ketapang Banyuwangi dan menunjuk PT. Galory Jasa Sarana dan PT. Multi
Habitat untuk merealisasikan konstruksi proyek tersebut. Jembatan yang dibangun
merupakan jembatan alternatif untuk mengantisipasi kemacetan di daerah menuju
Penyeberangan Ketapang Banyuwangi Jembatan ini memiliki fungsi pendukung
mulai dari jembatan penyeberangan orang dan kendaraan berat yang akan munuju
Kota Denpasar. Pada pembangunan proyek ini adalah pelebaran jembatan dengan
bentang 18 m dan lebar 16 m, dengan menggunakan 6 pondasi sumuran dengan
diameter 3 meter dan tinggi 3 meter. Pengerjaan proyek pada saat itu mencapai
45% yaitu masih tahap pembangunan pondasi sisi barat arah Banyuwangi.

Pada pelaksananaan pembangunan Jembatan Ketapang ini pembahasan


item yang diamati meliputi, Pelaksanaan galian lahan untuk pondasi sumuran,
instalasi tulangan pondasi sumuran, pemasangan bekisting pondasi sumuran,
pengecoran pondasi sumuran pada ketinggian 3 meter, pembuatan lantai kerja,
instalasi tulangan Footing, pemasangan bekisting Footing, pengecoran Footing,
instalasi tulangan Body Abutment, Head dan Back Wall, serta pemasangan
bekisting dan pengecorannya, penimbunan lahan untuk pelat injak, gelar CTB
(Cement Treaded Base) yaitu campuran semen,agregat dan air dicampur jadi satu
dan digelar untuk lantai pelat injak nantinya, cara yang sama dilakukan untuk
pembangunan pondasi sumuran yang arah Situbondo hanya yang membedakan
kendala yang dialami untuk bagian bangunan timur lebih sulit karena lebih
mendekati pantai, sehingga kendala sumber air yang muncul sangat besar dan
hampir 2 bulan untuk penyelesaian satu pondasi arah Banyuwangi. Kemudian
pemasangan girder diantara kedua pondasi sumuran yang sudah selesai, instalasi
tulangan pelat injak diatas timbunan dari CTB (Cement Treaded Base), dan
kemudian pekerjaan pengaspalan yang dipesan dari GMM daerah Kelir.

1
1.2 PerumusanMasalah

Adapun rumusan masalah dalam kerja praktik ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana Metode Pelaksanaan Pembangunan Jembatan Ketapang
Banyuwangi ?
b. Bagaimana struktur bangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi ?

1.3 BatasanMasalah

Agar kerja praktik ini lebih mudah perlu adanya batasan-batasan masalah
yang tujuannya untuk memfokuskan bagian yang akan dibahas yaitu :
1. Membahas Proses Pelaksanaan Pembanguan Jembatan Ketapang
Banyuwangi.
2. Tidak membahas time shcedule

1.4 Tujuan

Adapun tujuan kerja praktik yang ingin dicapai yaitu:


1. Untuk mengetahui Metode Pelaksanaan Pembangunan Jembatan
Ketapang Banyuwangi.
2. Untuk mengetahui struktur bangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi

1.5 Manfaat
1. Manfaat Bagi Mahasiswa.
a. Mampu melihat hubungan antara dunia kerja dan dunia.
b. Mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pada bindang
ilmunya dan keterampilan pada dirinya sendiri.
c. Mampu menggunakan keterampilan dan menggunakan ilmu yang
didapat dari kerja praktik untuk mendapatkan kesempatan kerja yang
diinginkan setelah menyelesaikan kuliahnya.

d. Sebagian pengalaman kerja awal buat mahasiswa sebelum terjun


langsung ke dunia kerja yang nyata dan wadah untuk menjalin
kerjasama yang baik antara lembaga pendidikan dengan pihak instansi
yang terkait.

2
2. Manfaat Bagi Politeknik Negeri Banyuwangi

Mampu merelevansikan kurikulum mata kuliah dengan kebutuhan dunia


kerja

3. Manfaat Bagi Perusahaan

a. Mampu melihat kemampuan potensial yang dimiliki mahasiswa peserta


kerja praktik sehingga akan lebih mudah untuk perencanaan peningkatan
di bidang Sumber Daya Manusi (SDM). Dan sebagai wadah penyerapan
karyawan atau tenaga kerja.

b. Dengan pelaksanaan kerja praktik diharapkan perusahaan mampu


meningkatkan kemitraan dengan perguruan tinggi.

3
Halaman sengaja dikosongkan

4
BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Perusahaan

PT. Galory Jasa Sarana adalah PT yang bergerak di bidang konstruksi yang
terletak di Provinsi Jawa Timur. Tepatnya di 25 Jl. Gunung Anyar Harapan Blok
Zd Surabaya, East Java, 60294 Indonesia. Budaya dari perusahaan cukup bagus
dan pekerjaannya di bidang konstruksi serta mengedepankan sifat kekeluargaan
dari setiap lini. PT. Galory Jasa Sarana ini pernah menangani proyek
pembangunan jembatan di daerah Wongsorejo, dan untuk tahun ini PT. Galory
Jasa Sarana menangani proyek pembangunan jembatan di daerah Ketapang
Banyuwangi, Jembatan yang dibangun di daerah Ketapang Banyuwangi.
Pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi ini sudah menelan dana sebesar
Rp. 6 Milyar. Berdasar papan proyek, pembangunan jembatan tersebut di bawah
naungan Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Provinsi Jawa Timur dengan nomor kontrak
KU.08.08/ 44/498623.05/2016. Yang bertindak sebagai kontraktor adalah PT.
Galory Jasa Sarana dan konsultan supervisi PT. Multy Habitat.

2.2 Struktur OrganisasiPT. Galory Jasa Sarana

Struktur organisasi/bagan organisasi adalah suatu diagram yang


menunjukkan fungsi-fungsi departemen atau posisi dalam organisasi dan
bagaimana mereka saling berhubungan.

Dalam struktur organisasi tergambar adanya :


1. Pembagian pekerjaan
2. Pimpinan dan bawahan
3. Tipe-tipe pekerjaan yang harus dilaksanakan

5
Berikut ini adalah struktur organisasi PT. Galory Jasa Sarana dalam pembangunan
proyek Jembatan Ketapang Banyuwangi yang dapat dilihat pada Gambar 2.2 :

6
STRUKTUR ORGANISASI PT. GALORY JASA SARANA DALAM PEMBANGUNAN JEMBATAN
KETAPANG BANYUWANGI

GENERAL SUPERIENTENDET

Moch Asad ST.

BRIDGE ENGINEER ADMINISTRASI

Ir.Suhadi Wigiyono ST.

SURVEYOR PELAKSANA QUALITY/QUANTITY ENGINEER


Budi Riyanto ST. Saun Purwanto ST. Agus Widjaja Tjahjono ST.

Gambar 2.1 Struktur Organisasi


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

7
2.3 Sumber Daya Manusia

Site Manager :1

Supervisor :1

Pekerja :9

Operator Excavator :2

2.4 Data Pembimbing Lapangan


Nama Lengkap : Saiun Purwanto ST.
Tempat / Tgl : Surabaya, 27 Desember
Jabatan : Site Manajer
No HP : 0813-3456-4607

2.5 Visi dan Misi Perusahaan


A. Visi
The Leading Strategic investment Holding Company in Infrastructure

B. Misi

Menjadi Business Player in infrastructure dan project developer bagi


percepatan pembangunan infrastruktur di Jawa Timur.

Memberikan multiplier Effect bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.

Optimalisasi portofolio investasi yang berkelanjutan untuk


memaksimalkan nilai bagi pemenang saham.

2.6 Budaya Perusahaan


A. Orientasi Pada Pelanggan
1. PT. Galory Jasa Sarana senantiasa mengutamakan kepuasan Owner
2. Mengedepankan sifat kekeluargaan dari setiap lini.
3. Pelanggan internal maupun pelanggan eksternal

8
B. Profesionalitas

PT. Galory Jasa Sarana bekerja sesuai tanggung jawab profesinya secara
baik dan benar berdasarkan system manajemen.
C. Integritas
PT. Galory Jasa Sarana memiliki moral dan etika usaha yang baik. (Data
Perusahaan PT. Galory Jasa Sarana, 2016)

2.7.Tugas dan Wewenang PT. Galory Jasa Sarana

Berikut adalah Tugas dan Wewenang masing-masing koordinator yang ada


di Struktrur Organisasi PT Galory Jasa Sarana :
1) General Superientendent

General Superientendent merupakan unit organisasi kontraktor


pelaksana yang berada dilapangan. General Superientendent
merupakan wakil mutlak dari perusahaan.
Tugas dan tanggung jawab General Superientendentlain :
a. Mengkoordinator seluruh pelaksana pekerjaan dilapangan.
b. Bertanggung jawab akan seluruh pelaksana proyek dari awal hingga
selesai
c. Melaksanaakan pekerjaan sesuai dengan ketentuan kontrak
d. Memotifasi seluruh stafnya agar bekerja sesuai dengan ketentuan dan
sesuai dengan tugasnya masing masing. (Data Perusahaan PT.
Galory Jasa Sarana, 2016)

2) Administrasi

Tugas dan tanggung jawab Administrasilain :


a. Memimpin semua aktifitas dalam bidang Administarsi, Keuangan dan
Umum.
b. Mencatat dan Menata semua karyawanyang berada pada proyek.
c. Membantu General Superientendent untuk mencatat transaksi
keuangan di proyek.
d. Membantu General Superientendent mencatat dan menyimpan surat
keluar dan masuk di proyek

9
e. Bertanggung jawab penuh semua aktifitas Administrasi, Keuangan
dan Umum.
f. Bertanggung jawab penuh dengan kelangsungan semua aktifitas
karyawan proyek.
g. Bertanggung jawab penuh terhadap bukti dan pencatatan transaksi
keuangan di proyek.
e. Memberikan masukan kepada, General Superientendent tentang
kondisi keuangan di proyek. (Data Perusahaan PT. Galory Jasa
Sarana, 2016)

3). Estimator (Quantity Surveyor)

Tugas seorang Quantity Surveyor yakni sebagai berikut:


1. Melakukan review RAB dan RAP dari gambar kontrak untuk back up
progres 0% (awal proyek)
2. Membuat proposal pekerjaan tambah atau kurang ke owner
berdasarkan back up volume progress 0%
3. Melakukan seleksi, komparasi mandor dan sub kontraktor
4. Melakukan monitoring progres pekerjaan dan tagihan mandor dan sub
kontraktor
5. Melakukan verifikasi tagihan mandor/sub kontraktor
6. Melakukan monitoring progres pekerjaan dan penagihan prestasi ke
owner
7. Membuat tagihan ke owner berdasarkan progres pekerjaan.(Data
Perusahaan PT. Galory Jasa Sarana, 2016)

4). Quality

Pengendalian Mutu adalah teknik dan aktivitas operasi yang digunakan agar
mutu tertentu yang dikehendaki dapat dicapai.

Tugas dan tanggung jawab Quality antara lain :

10
1. Memastikan operasional proyek berjalan dengan menggunakan
standar yang sudah baku, serta diakui secara nasional maupun
internasional.
2. Memberikan saran dan masukan teknis dan non teknis tentang proses
operasional proyek.
3. Mengontrol proses operasional proyek agar berjalan sesuai dengaan
aturan dan tidak melanggar rambu-rambu yang sudah disepakati.
4. Menyiapkan dokumen administrasi dan pendukung berupa : (Berita
Acara layak pakai, Berita Acara Penerimaan Barang, Surat Pengiriman
Barang, Berita Acara Installasi, Invoice/tagihan, dll) yang menyangkut
operasional proyek selama pekerjaan berjalan.
5. Melakukan monitoring terhadap kemajuan proyek.
6. Dibantu tim teknis membuat laporan kemajuan pekerjaan.
7. Membantu Manajer Proyek dan para Koordinator dalam menyiapkan
perangkat monitoring pekerjaan, pelaporan, Berita Acara dan lain lain.
(Data Perusahaan PT. Galory Jasa Sarana, 2016)

5). Bridge Engineer

Bridge Engineer bertanggung jawab atas pelaksana pekerjaan


sekaligus bertugas sebagai Quality Quantity Control, sama seperti Kepala
Pelaksana. Harus memiliki kemampuan dan skill dibidang pekerjaan
jembatan.
Tugas dan tanggung jawab Bridge Engineer antara lain :
a. Memperhatikan agar pelaksanaan pekerjaan selalu tepat dan sesuai
dengan design konstruksi dan gambar kerja serta mutu kerja yang
telah ditetapkan dalam dokumen kontrak.
b. Harus selalu bekerja sama dan berkoordinasi dengan material engineer
logistik dan peralatan serta pelaksana pelaksana lapangan
c. Bridge Engineer bertanggung jawab langsung kepada Kepala
Pelaksana (Data Perusahaan PT. Galory Jasa Sarana, 2016)

11
BAB III
HASIL KERJA PRAKTIK

3.1 Tempat danWaktu Kerja Praktik (KP)


3.1.1 Tempat Kerja Praktik (KP)
Kerja praktik ini dilaksanakan di proyek Jembatan Ketapang Banyuwangi,
yang bertempat di Jawa Timur yang dikerjakan oleh PT. Galory Jasa Sarana
bertugas sabagai kontraktor. Adapun lokasi proyek dapat dilihat pada Gambar
3.1.

ARAH L
SITUBONDO A
U
LOKASI
PROYEK T

ARAH
J
BANYUWANGI
A
W
A
A
Gambar 3.1 Lokasi Jembatan Ketapang Banyuwangi
(Google Maps, 2016)

3.1.2 Waktu Pelaksanaan Kerja Praktik (KP)


Sesuai dengan peraturan akademik Politeknik Negeri Banyuwangi bahwa
waktu pelaksanaan kerja praktik di jadwalkan selama 1 bulan setengah mulai
tanggal 18 Juli sampai 12 September 2016.Selama pelaksanakan kerja praktik
mahasiswa diharuskan sudah berada dilokasi kerja praktik serta mengikuti aturan
yang telah diterapkan dilapangan oleh perusahaan yakni PT.Galory Jasa Sarana.

12
Waktu pelaksanaan kerja praktik yang dimulai pada hari Senin sampai hari
Minggu dengan waktu pukul 09.00 sampai dengan 17.00 WIB yang bertempat di
proyek Jembatan Ketapang Banyuwangi. Adapun waktu pelasanaan kerja praktik
(KP) dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1Jadwal Kegiatan Kerja Praktik

Juli Agustus September Oktober November Deseember

Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu


Nama Kegiatan
ke- ke- ke- ke- ke- ke-

1 2 3 4 1 1 2 3 4 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Orientasi
Pelaksanaan
Kerja Praktik
Pengambilan
Data Lapangan
Penyusunan
Laporan
Bimbingan
Laporan KP

Sidang KP

Revisi KP

Sumber : Dokumen Kerja Praktek, 2016

: Pelaksanaan kegiatan kerja praktik


Keterangan :

Pelaksanaan kerja Praktik pada proyek Pembangunan Ketapang


Banyuwangiyang dimulai pada tanggal 18 Juli 2016 sampai 12September 2016
yang diawali dengan :
1. Orientasi meliputi pengenalan mahasiswa kerja praktik dengan staff di
lapangan / proyek dan pembacaan gambar kerja sebagai dasar untuk studi
langsung lapangan.

13
2. Studi lapangan adalah proses studi secara langsung di lokasi proyek,
disana mahasiswa kerja praktik dapat melihat pekerjaan yang sedang
berlangsung dan interview langsung kepada pekerja di lapangan.
3. Studi literature meliputi studi analisa atau metode yang dipilih mahasiswa
kerja praktik sebagai sumber materi pelaporan kerja praktik.
4. Menyusun laporan adalah penyusunan laporan kerja praktik yang didapat
selama mahasiswa kerja praktik.
5. Sidang laporan adalah presentasi hasil laporan dan pertanggung jawaban
laporan.

3.2. Data Proyek

Data data umum dari Proyek adalah sebagai berikut :


1. Nama : Proyek Pembangunan Jembatan Ketapang
Banyuwangi
2. Lokasi : Jalan Raya Situbondo Kilometer 36
Ketapang banyuangi
3. Pemilik : Pemerintahan Pekerjaan Umum dan
Kemasyarakatan
4. Konsultan Perencana : CV. MULTI HABITAT
5. Kontraktor : PT Galory Jasa Sarana
6. Nilai Kontrak : Rp 6milyar
7. Waktu Pelaksanaan : 240 hari kalender
8. Masa Pemeliharaan : 730 hari kalender
9. Tahun Anggaran : Tahun 2016
10. Pekerjaan Utama : PekerjaanJembatan Ketapang Banyuwangi
denganpanjang 18 m dan fasilitas
pendukung.

14
3.3 Hasil Kerja Praktik
3.3.1 Pelaksanaan

Pelaksanaan yang dilakukan pada proyek pembangunan Jembatan


Ketapang Banyuwangi meliputi pekerjaan penggalian lahan, pemasangan pondasi
sumuran, instalasi tulangan pondasi sumuran, pemasangan cincin, pelaksanaan
pengecoran pondasi sumuran serta pengecoran sumurannya, pelaksanaan lantai
kerja,instalasi tulangan Footing Abutment, pemasangan bekisting Footing
Abutment, pengecoran bekisting Footing Abutment, instalasitulangan Body dan
Head Abutment, pemasangan bekisting Body dan Head Abutment, pengecoran
Body dan Head Abutment, instalasi tulangan Back wall, pemasangan bekisting
Back wall, pengecoran Back wall, instalasi tulangan pelat injak, pelasanaan
pekerjaan drainase, pemasangan bekisting pelat injak, pengecoran plat injak,
perataan CTB (Cemen Treaded Base), hingga Erection Girder. pelaksanaan
pondasi sumuran dilakukan juga pada sebelah utara jalan Situbondo cara
pelaksanaan pekerjaannya sama.

Pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi ini direncanakan akan


selesai dalam waktu 240 hari kalender pada tahun 2016. Waktu 240 kalender
merupakan waktu yang cukup untuk melaksanakan seluruh item pekerjaan, namun
item pekerjaan dikerjakan pada bulan ke 2 karena terdapat kesalahan teknis
terhadap pihak PT. Galory Jasa Sarana. Untuk itu waktu dan kondisi tertentu
menjadi perhatian kontraktor pelaksana agar kualitas dan kuantitas pekerjaan
dapat dilaksanakan secara tepat dan sesuai spesifikasi pekerjaan.

3.3.2 Struktur Bangunan Jembatan

Jembatan adalah suatu bangunan yang memungkinkan suatu jalan


menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak sama
tinggi permukaannya. Menurut (Asiyanto 2008) jembatan rangka baja adalah
struktur jembatan yang terdiri dari rangkaian batang batang baja yang
dihubungkan satu dengan yang lain. Struktur bangunan adalah tata ukur, tata
hubung, tata letak dalam suatu system yang membentuk satuan kerja. Dalam ilmu

15
arsitektur, struktur berhubungan dengan sistem penyaluran atau distribusi gaya-
gaya eksternal maupun internal ke dalam bumi.

3.3.3 Pelaksanaan Galian Lahan

Tahap awal lahan pondasi sumuran masih datar kemudian pembangunan


jembatan beton dengan pondasi sumuran dilakukan galian lahan terlebih dahulu
untuk tempat pondasi sumuran. Para pekerja yang terlibat mengerjakan adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :3

Operator excavator :1

Galian dilakukan dengan bantuan alat berat excavator galian tanah mencakup
seluruh galian yang diklasifikasi sebagai galian biasa, galian struktur, galian
sumber bahan (borrow excavation) dan galian struktur. Galian struktur menurut
kedalaman galian, dibedakan antara kedalaman 0-2 meter dan kedalaman 2-4
meter sesuai dengan tinggi pondasi sumuran. Kendala dalam pengerjaan galian ini
adalah sumber air yang terus muncul karena lokasi pembangunan Jembatan yang
dekat dengan laut. Untuk membantu kemudahan pengerjaan pondasi sumuran di
datangkan mesin diesel untuk penyedotan air yang terus muncul. Karena jika air
terus menggenang pengerjaan pondasi sumuran tidak dapat dilakukan hingga air
surut. Penggalian lahan dapat dilihat pada gambar 3.2

16
Gambar 3.2 Penggalian lahan pondasi sumuran

(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.4 Pelaksanaan Peletakan Pondasi sumuran

Pondasi sumuran adalah suatu bentuk peralihan antara pondasi dangkal


dan pondasi tiang. Pondasi ini digunakan apabila tanah dasar terletak pada
kedalaman yang relatif dalam, bila tanah keras terletak lebih dari 3 meter.
Persyaratan dilakukannnya pemasangan pondasi sumuran adalah daya dukung
pondasi harus lebih besar daripada beban yang dipikul oleh pondasi tersebut,
penurunan yang terjadi harus sesuai dengan batas yang diijinkan (toleransi) (2,54
cm) Perletakan Pondasi Sumuran dapat dilakukan jika air yang muncul dari
sumber sudah mulai surut, Pondasi sumuran terdiri dari pelat dalam dan pelat luar
yang terbuat dari baja berbentuk cincin dengan ketentuan ketebalan 1 mm dan
panjang 5 m Tinggi dari pondasi sumuran yaitu 3 meter dan memiliki diameter 3
meter. Berikut gambar jenis pondasi sumuran dapat dilihat pada gambar 3.3

17
Gambar 3.3 Jenis pondasi sumuran

( Sumber : google, 2016)

Pelaksanaannya Satu lingkaran cincin pondasi sumuran membutuhkan 4


cincin pelat, dan tulangan spiral yang melingkar diikuti dengan susunan tulangan
dengan diameter 16 mm dan 25 mm setengah lingkaran, bersifat sementara
dengan cara pelat dilingkarkan pada tulangan yang sudah membentuk cincin
dengan ujung ujung pelat ditali dengan beberapa kawat bendrat. pondasi
sumuran di diletakkan pada galian dengan bantuan alat berat Excavator
menggunakan tambang yang terbuat dari beberapa lilitan kawat bendrat dengan
mengikat pada garis as lingkaran cincin pelat pondasi sumuran. Kemudian
diangkat perlahan hingga sesuai tempat yang sudah disediakan, pekerjaan ini
harus menggunakan bantuan alat berat excavator karena sumuran tersebut sangat
berat bila diangkat para pekerja untuk diturunkan ke bawah, sehingga diperlukan
bantuan alat berat excavator untuk lebih mempercepat pekerjaan penurunan
pondasi sumuran tersebut. Berikut tampak pondasi yang sudah jadi siap untuk
digunakan.

18
Gambar 3.4 Tampak pondasi sumuran dari samping dengan cincin
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.5 Tampak pondasi sumuran dari atas dengan tulangan


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Tampak gambar diatas adalah gambar dari pondasi sumuran yang sudah siap
untuk diturunkan kelokasi galian. Pada gambar 3.4 tampak pondasi sumuran
sudah dipasangi cincin / bekisting nantinya juga akan dipasangi cincin / bekisting
untuk bagian luar setelah tulangan dipasang. Untuk gambar 3.5 tampak pondasi
sumuran sudah lengkap dengan pasangan tulangan sementara yang nantinya akan
dilepas setelah selesai pengecoran karena untuk usaha pembongkaran cincin /
bekisting bagian dalam.

19
Gambar 3.6 Peletakan pondasi sumuran dengan excavator
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.5 Instalasi Tulangan Pondasi Sumuran (Tahap I)


Pada pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi ini menggunakan
tulangan berdiameter BJTD ( Baja Tulangan Ulir Deform) 13, 16, 19, dan 25,
pengerjaan pondasi sumuran dilakukan bertahap. Pelaksanaannya meliputi
pemasangan cincin sementara dilakukan dengan ketinggian 150 cm terlebih
dahulu, Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam pengecoran dan meratakan
campuran beton, namun jika dilakukan pemasangan keseluruham akan
menimbulkan penghambatan pekerjaan karena nantinya menganggu pekerjaan
penenggelaman sumuran tersebut saat pekerjaan sumuran alat berat excavator
akan menggali tanah yang terdapat dibawah pondasi sumuran melalui bagian
tengah sumuran jika sumuran dikerjakan hingga ketinggian 3 meter maka akan
merusak pondasi sumuran tersebut. pengerjaan tulangan awal pada
sumuraninstalasitulangan lurus berdiameter D16-22 dengan ketinggian 3 meter,
jarak bersih untuk tulangan minimum diatur dalam SNI.SNI 03- 28472002. Para
pekerja yang terlibat adalah :

Mandor : 1, Pelaksana : 2, Pekerja :8

20
Gambar 3.7 Instalasi tulangan lurus pada pondasi sumuran
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.8 Instalasi tulangan spiral pada pondasi sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pemasangan selanjutnya instalasi tulangan melingkar / spiral berdiameter


20D13 mmtulangan spiral adalah tulangan lurus yang dibengkokkan dengan alat
barbender,disertai dengan pemasangan tulangan angkur D13-15 Pembengkokan
tulangan diatur dalam SNI 03-2847-2002 pada pasal 9.3.1 semua tulangan harus
dibengkokkan dalam keadaan dingin, kecuali bila diijinkan oleh pengawas
lapangan dan pasal 9.3.2 tulangan yang sebagian sudah tertanam didalam beton
tidak boleh dibengkokkan dilapangan kecuali yang ditentukan pada gambar
rencana atau diijinkan oleh pengawas lapangan. Pemasangan ini menggunakan
peralatan seperti tang untuk memutar lilitan bendrat, tambang yang nantinya
untuk untuk mengikat cincinan supaya lebih kuat lagi.

21
Pada spesifikasi teknis yang berlaku syarat pelaksanaan perakitan tulangan
besi beton di atur sebagai berikut :
a) Baja tulangan harus disimpan ditempat yang bersih sehingga pada waktu
pemasangan, bebas dari karat dan kotoran-kotoran lainnya.
b) Penulangan bekas atau cacat tidak boleh digunakan.
c) Pemotongan harus difabrikasi sesuai gambar kerja dan gambar
pelaksanaan. Pemotongan harus menggunakan Bar Cutter dan
pembengkokan tulangan menggunakan Bar Bending.
d) Pembengkokan tulangan yang telah tertanam dalam beton hanya dapat
dilakukan dengan jari-jari pembekokan lebih besar dari 3 (tiga)
diameternya.
e) Besi harus dilindungi oleh selimut beton yang sesuai dengan gambar
standar detail.
f) Besi beton yang dipasang harus sesuai dengan standar detail pada gambar
rencana mliputi kait-kait, letak sambungan dan lain-lain.
g) Untuk menjamin bahwa perilaku elemen struktur sesuai dengan rencana,
maka sengkang harus diikat pada tulangan utama dengan kawat beton dan
jaraknya harus sesuai dengan gambar rencana. Kait sengkang harus dibuat
sesuai dengan yang disyaratkan sehingga dapat berfungsi sesuai dengan
fungsinya.

Gambar 3.9 Pemasangan beton decking sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pemasangan berikutnya beton decking berdiameter 5 cm dan tebal 5 cm


alasan untuk pemilihan tebal beton decking sesuai dengan perencanaan selimut

22
beton untuk mendapat kekuatan maksimal dari bangunan yang dibuat. Para
pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :6

Beton decking adalah beton atau spesi yang dibentuk sesuai dengan ukuran
beton yang diinginkan dan jika tidak menggunakan beton decking pada saat
pengecoran maka pengecoran tidak akan sesuai dengan harapan karena fungsinya
beton decking adalah untuk memberi selimut pada beton dan juga menjaga
tulangan agar sesuai dengan posisi yang diinginkan. sehingga hasil pengecoran
akan kokoh, dan tulangan tidak berkarat (korosi). Pemasangan beton decking
dilakukan pada jarak jarak tertentu pada tulangan yang berfungsi untuk selimut
beton.

Gambar 3.10 Pemasangan bekisting / cincin sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pemasangan selanjutnya adalah pemasangan bekisting atau cincin pada


ada bagian luar tulangan dilakukan pemasangan cincin pelat dengan ujung pelat
diikat dengan beberapa lilitan kawat bendrat, bagian luar cincin pelat diikat
dengan lilitan kawat bendrat agar tidak goyah saat pengecoran. Cincin pelat pada

23
tulangan sekaligus merupakan bekisting pondasi sumuran, para pekerja yang
terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :3

Bekisting atau acuan beton sangat penting dalam pembuatan beton


dikarenakan dapat mempengaruhi bentuk dan kualitas dari beton yang akan di
bentuk. Bekisting juga tidak harus terbuat dari bahan yang mahal dan berkualitas
tinggi, namun bahan yang digunakan haruslah kuat dalam menahan volume dari
pengecoran.

Peraturan pembuatan dan pemasangan acuan cetakan beton di atur dalam


SNI 03- 28472002 pasal 8, sebagai berikut :
a) Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk,
ukuran dan batasbatas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh
gambargambar rencana dan oleh uraian pekerjaan atau rencana kerja dan
syaratsyarat yang berlaku pada proyek tersebut.
b) Cetakan harus diberi ikatanikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin
kedudukan dan bentuknya tetap.
c) Acuan dan cetakan harus terbuat dari bahan yang baik dan tidak mudah
meresap air dan direncanakan sedemikian rupa hingga mudah dilepaskan
dari beton tanpa menyebabkan kerusakan pada beton.
d) Pada pelaksanaan beton harus ada jaminan bahwa air beton benarbenar
tidak terserap oleh cetakan. Untuk itu maka cetakancetakan dapat dilapisi
dengan plastik atau bahanbahan lain sejenis lainnya yang dapat menahan
rembesan air pada cetakan beton.
e) Pada cetakan kolom, dinding dan balok tinggi, harus diadakan
perlengkapanperlengkapan untuk menyingkirkan kotorankotoran,
serbuk gergaji, potangan kawat pengikat bronjong, dan lainlain.
f) 6Apabila acuan harus memikul bebanbeban yang besar dan harus
mengatasi bentangbentang yang besar atau memerlukan bentuk yang

24
khusus, maka dari acuan tersebut harus dibuat perhitunganperhitungan
dan gambar kerja yang khusus.
g) Tiangtiang acuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu yang kokoh dan
harus mudah dapat disetel dengan baji. Tiangtiang acuan tersebut tidak boleh
mempunyai lebih dari satu sambungan yang tidak disokong ke arah samping.
Bambu tidak boleh digunakan sebagai tiang acuan, kecuali apabila diijinkan oleh
pengawas ahli.

3.3.6 Pelaksanaan Slump dan Pengecoran Pondasi Sumuran


1). Proses Slump
Uji slump adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan
konsistensi / kekakuan dari campuran beton untuk menentukan tingkat workbility
nya. Kekakuan dalam suatu campuran beton menunjukan beberapa banyak air
yang digunakan. Pada pengerjaan pengecoran pondasi sumuran ini slump yang
dilakukan mempuyai spesifikasi yaitu :

Mutu beton pondasi sumuran : K 250


Nilai Slump : 10 cm

Bila nilai slump melebihi atau kurang dari nilai slump yang ditetapkan maka tidak
diperkenankan untuk melakukan pengecoran. Uji slump mengacu pada SNI 1972
2008 dan 91.100.30 adapun testslump terlihat pada gambar 3.11

Gambar 3.11 Proses slump test nilai 10 cm


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

25
2). Pelaksanaan Pengecoran Pondasi Sumuran

Persiapan sebelum pengecoran beton di atur dalam SNI 0328472002


sebagai berikut :
a) Semua peralatan untuk pencampuran dan pengangkutan beton harus
bersih.
b) Semua sampah atau kotoran harus dibersihkan dari cetakan yang akan diisi
beton.
c) Cetakan harus dibersihkan dengan benar.
d) Tulangan harus benar-benar bersih dari lapisan yang berbahaya.
e) Air harus dikeringkan dari tempat pengecoran sebelum beton dicor
kecualibila sebaliknya diizinkan oleh petugas di lapangan.
f) Semua material halus (laitance) dan material lunak lainnya harus
dibersihkan daripermukaan beton sebelum beton tambahan dicor terhadap
beton yang mengeras.

Tata cara pengecoran beton di atur oleh SNI 03 2847 2002sebagai


berikut :
a) Beton harus dicor sedekat mungkin pada posisi akhirnya untuk
menghindariterjadinya segregasi akibat penanganan kembali atau segregasi
akibat pengaliran.
b) Pengecoran beton harus dilakukan dengan kecepatan sedemikian hingga
beton selama pengecoran tersebut, tetap dalam keadaan plastis dan dengan
mudah dapat mengisi ruang di antara tulangan.
c) Beton yang telah mengeras sebagian atau telah terkontaminasi oleh bahan
lain tidak boleh dicor pada struktur.
d) Beton yang ditambah air lagi atau beton yang telah dicampur ulang setelah
pengikatan awal tidak boleh digunakan kecuali bila disetujui oleh insinyur
profesional bersertifikat.
e) Setelah dimulainya pengecoran, maka pengecoran tersebut harus dilakukan
secara menerus hingga mengisi secara penuh panel atau penampang
sampai batasnya, atau sambungan yang ditetapkan sebagaimana yang
diizinkan atau dilarang.

26
Pelaksanaan pengecoran dilakukan pada setiap malam hari pukul 20.00 s.d
21.54 WIB karena malam hari volume kendaraan berkurang di bandingkan siang
hari, jadi antrian kendaraan yang ditimbulkan pun lebih sedikit dibanding siang
hari. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :9

Operator truck mixer :2

Pelaksanaan pengecoran pondasi sumuran dengan ketinggian 150 cm ini


membutuhkan 5 m3 ready mix, yang diantar dengan menggunakan truck mixer.

Gambar 3.12 Pengecoran dengan truck mixer

(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pengecoran dilakukan dengan cara menggunakan pipa berdiameter 5 dim


yang diarakkan ke bawah yaitu kearah pondasi sumuran disertai dengan
menggunakan alat vibrator yang nantinya untuk memadatkan campuran beton
ketika dituangkan pada sumuran dan juga menghilangkan gelembung pada beton
setelah bekisting pondasi sumuran dilakukan pembongkaran. Juga dilakukan
bantuan para pekerja yang meratakan campuran beton dengan menggunakan balok
kayu untuk lebih mempercepat selesainya pelaksanaan pengecoran yang
dilakukan. Penuangan beton dilakukan secara bertahap dan tinggi jatuh tidak

27
boleh lebih dari 1.5 meter sesuai dengan SNI 03-2847-2002 agar tidak terjadi
segregasi. Metode pengecoran ini dapat diterima dan sudah sesuai dengan
spesifikasi teknis yang berlaku. Pelaksanaan pengecoran dapat dilihat pada
gambar 3.13

Gambar 3.13Pengecoran sumuran dengan alat vibrator


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3). Pelaksanaan Pembongkaran Bekisting Pondasi Sumuran (Tahap I)


Waktu yang dibutuhkan untuk pembongkaran cincin / pelat awal pengecoran
adalah 9 jam baru dilakukan pembongkaran, pembongkaran dilakukan dengan
metode manual sudah disetujui dengan syarat pembongkaran ini tidak merubah
bentuk beton dan tidak menyebabkan retakan. Pembongkaran dilakukan pada
cincin / pelat luar dan dikuti dengan pembongkaran tulangan yang terdapat pada
bagian tengah pondasi sumuran serta pelat dalam. pembongkaran dibantu dengan
alat excavator untuk membantu mengangkat cincin pelat yang berat ke atas. para
pekerja yang terlibat adalah

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :2

Operator excavator :1

Alat excavator ini hanya membantu mengangkat cincin dari pelat yang lumayan
berat jika diangkat dengan tangan kosong oleh pekerja, sehingga memerlukan

28
bantuan alat berat excavator untuk mempercepat pekerjaan pembongkaran
bekisting pondasi sumuran tersebut. Bantuan ini juga untuk mempercepat
pekerjaan pembongkaran bekisting sehingga mempercepat pekerjaan selanjutnya
yang akan dikerjakan, dan tidak terjadi adanya keterlambatan dalam pekerjaaan
pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi. Pembongkaran cincin / pelat
dapat dilihat pada gambar 3.14

Gambar 3.14 Pembongkaran cincin / bekisting sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.15 Pembongkaran cincin dengan bantuan excavator


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.7 Instalasi Tulangan Pondasi Sumuran (Tahap II)


1). Instalasi Tulangan

29
Pelaksanaan instalasi tulangan sambungan tahap II ini masih sama dengan
cara instalasi tulangan tahap I sebelumnya, menggunakan tulangan BJTD 13, 16,
19, dan 25. Pemasangan meliputi Instalasi tulangan spiral D13-20 yang
melingkari tulangan lurus serta pemasangan tulangan angkur D13-15 untuk
memberi jarak antara tulangan spiral luar dan tulangan spiral dalam. para pekerja
yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :5

Instalasi tulangan lurus D16-20Instalasi tulangan spiral dapat dilihat pada


gambar 3.16

Gambar 3.16 Instalasi tulangan spiral (tahap II)

(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

2). Pemasangan bekisting/ cincin sumuran dalam.


Pemasangan bekisting / cincin sumuran yang dilakukan untuk bagian
tengah terlebih dahulu, untuk bagian luar baru dilakukan jika pondasi sudah
masuk dalam tanah. Pelat cincin yang dipakai mempunyai panjang 5 m denga
tebal cm yang dilingkarkan pada sumuran dengan ujung diikat dengan lilitan
kawat bendrat. Menggunakan bantuan alat seperti tang, lilitan kawat bendrat juga

30
berpengaruh terhadap kuat tahannya bekisting dalam menahan campuran beton
pada saat pelaksanaan pengecoran dilakukan, maka dari itu lilitan kawat hingga
mencapai 5 potongan kawat bendrat tergantung medan berat atau ringan. Para
pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :3

Berikut pemasangan bekisting sumuran sisi barat arah Banyuwangi dapat


dilihat pada gambar 3.17

Gambar 3.17 Pemasangan bekisting / cincin dalam sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3). Penenggelaman Pondasi Sumuran sisi barat arah Banyuwangi


Pada tahap awal pondasi sumuran yang sudah dicor akan di masukkan pada
kedalam tanah 150 cm sesuai dengan tinggi pondasi sumuran, dengan bantuan
alat berat excavator dan sebuah balok kayu untuk menekan pondasi agar mudah
masuk dalam tanah. Berikut pelaksanaan penenggelaman pondasi sumuran dapat
dilihat pada gambar 3.18

31
Gambar 3.18 Penenggelaman sumuran dengan excavator
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)
Penenggelaman sumuran ini dilakukan dengan menggunakan bantuan excavator
dengan cara menekan kayu balok untuk mencegah kemiringan pondasi sumuran
sehingga tidak terjadi keretakan pada beton sumuran. Para pekerja yang terlibat
adalah :

Pelaksana :2

Pekerja :1

Operator excavator :1

Berikut gambar setelah pondasi masuk dalam tanah dapat dilihat pada
gambar 3.19

Gambar 3.19 Setelah pondasi masuk dalam tanah

32
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

4). Pemasangan bekisting / cincin sumuran dalam.


Tahap selanjutnya adalah pemasangan bekisting / cincin pelat bagian luar
pelaksanaan ini dilakukan jika pondasi sumuran sudah masuk dalam tanah . dalam
2 tahapan pengerjaan pondasi sumuran membutuhkan 4 pelat cincin. Para pekerja
yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :7

Pelaksanaan dapat dilihat pada gambar 3.20

Gambar 3.20 Pemasangan bekisting / cincin sumuran


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

5). Pelaksanaan Pengecoran Pondasi Sumuran (Tahap II)


Pelaksanaan pengecoran ini dilaksanakan pukul 21.23 s.d 22.36 WIB
metode yang dilakukan sama dengan pelaksanaan pengecoran pondasi sumuran
sebelumnya. Menggunakan peralatan seperti pipa, kayu penyangga pipa, dan
vibarator. Pengerjaan pengecoran pondasi sumuran ini slump yang dilakukan
mempunyai spesifikasi yaitu mutu beton pondasi sumuran : K 250 , nilai
slump : 10 cm bila nilai slump melebihi atau kurang dari nilai slump yang
ditetapkan maka tidak diperkenankan untuk melakukan pengecoran. Pengecoran
membutuhkan 5 m3 ready mix, yang dihantar dengan truck mixer dengan
menggunakan pipa berdiameter 5 dim dan kayu penyangga pipa yang diarahkan

33
ke pondasi sumuran dengan memukul mukul pipa saat pengecoran agar
campuran beton tidak tersumbat pada pipa jika terjadi penyumbatan itu
mengganggu selesainya kegiatan pengecoran yang dilakukan sehingga juga
dibantu dengan memukul mukul pipa tersebut agar campuran cepat jatuh ke
bawah ke pondasi sumuran, dan dibantu dengan alat vibrator untuk memadatkan
beton sehingga tidak ada gelembung atau celah dan rongga pada beton pada saat
bekisting nantinya dibongkar. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :8

Operator truck mixer : 2

Pelaksanaan pengecoran pondasi sumuran dapat dilihat pada gambar 3.21

Gambar 3.21 Pelaksanaan pengecoran pondasi sumuran (tahap II)


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3). Pembongkaran Bekisting Pondasi Sumuran (Tahap II)


Pembongkaran cincin / bekisting pada pondasi sumuran tahap II ini
dibantu dengan alat berat excavator yang mengangkat cincin / bekisting ke atas,
dan pembongkaran tulangan sementara yang terdapat ditengah sumuran. Waktu
yang dibutuhkan juga sama dengan pondasi sumuran tahap I yaitu membutuhkan
waktu 9 jam baru cincin / bekisting tersebut dapat dibongkar. pada gambar 3.22

34
Gambar 3.22 Pembongkaran cincin / bekisting dengan excavator
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

4). Penenggelaman Pondasi sumuran


Tahap selanjutnya pondasi sumuran ditenggelamkan ke dalam tanah dengan
kedalaman 150 cm dengan bantuan alat berat excavator untuk menggali tanah
sehingga pondasi sumuran dapat masuk ke dalam tanah. Adapun pelaksanaan
penenggelaman pondasi sumuran dapat dilihat pada gambar 3.23

Gambar 3.23 Penenggelaman pondasi sumuran (tahap II)


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

35
Gambar 3.24 Setelah pondasi masuk kedalam tanah
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.8 Pelaksanaan Pengecoran Sumuran dan Pembuatan Lantai Kerja


1). Pengecoran Sumuran Tengah
Pelaksanaan mulai pukul 21.00 s.d 22.43 WIB pekerjaan Jembatan
Ketapang Banyuwangi ini memakai campuran beton K 250 dengan nilai slump
test 10 cm. Sebelum pengecoran dilakukan dahulu cek list untuk proses
pengecoran dilakukan. Pengecoran ini membutuhkan campuran beton 15 m3
ready mix yang dihantar oleh truck mixer dari Duta Beton pengecoran ini
memakai peralatan seperti pipa, mesin vibrator, pengecoran dilakukan dengan
menggunakan pipa berdiameter 5 dim yang diarahkan ke bawah tepat pada
lingkaran bagian tengah pondasi sumuran. Kendala dalam pengecoran sumuran
yaitu dengan terus munculnya sumber air yang menghambat pelaksanaan
pengerjaan pengecoran. Maka dari itu mesin diesel terus difungsikan untuk
mengurangi air yang terus muncul sehingga pengecoran dapat berlangsung.
Disertai dengan pemasangan tulangan angkur 50D25 yang dipasang pada tengah
sumuran. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :6

Operator truck mixer :2

Pelaksanaan pengecoran dapat dilihat pada gambar 3.25

36
Gambar 3.25 Pengecoran sumuran bagian tengah
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

2). Pembuatan Lantai Kerja


Pelaksanaan pekerjaan ini dilakukan untuk lantai Footing Abutment
dengan menata beton persegi panjang secara horisontal dengan ketebalan 7 cm
dan mempunyai panjang 1 m. Pekerjaan ini dibantu dengan menggunakan alat
berat excavator untuk mengangkat beton ke bawah. Perletakan beton ini
diletakkan pada sebelah kanan kiri pondasi sumuran. Para pekerja yang terlibat
adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :7

Adapun pelaksanaan pembuatan lantai kerja dapat dilihat pada gambar 3.26

37
Gambar 3.26 Pelaksanaan perletakan lantai kerja
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.9 Instalasi Tulangan Footing Abutment


Pekerjaan ini menggunakan alat kawat bendarat, tang penguat dan benang
untuk pemberi batas, pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan tulangan D25-
15 untuk arah vertikal disusun dengan jarak yang sudah ditentukan dengan
menggunakan benang untuk pembatas dan tang untuk menguatkan tulangan
dengan melilitkan kawat bendrat pada tulangan. Untuk tulangan vertikal
membutuhkan 43 lonjor tulangan. Disusun di atas lantai kerja yang sudah ditata
dikanan kiri pondasi sumuran dengan arah horisontal. lantai kerja berupa beton
tersebut berfungsi untuk memberi spesi antara bagian tanah dengan tulangan
sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah, dan juga untuk mempermudah
pengikatan lilitan kawat bendrat nantinnya yang akan dilakukan. Para pekerja
yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :5

Pelaksanaan menyusun tulangan vertikal dapat dilihat pada gambar 3.27

38
Gambar 3.27 Instalasi tulangan arah vertikal D25-15

(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Tahapan selanjutnya instalasi tulangan arah horisontal dengan D22-15


dengan panjang 4 meter pemasangan dilakukuan dengan jarak sesuai pada gambar
dan pemasangan dilakukan hingga bagian atas. berikut pelaksanaan pemasangan
tulangan arah horisontal dapat dilihat pada gambar 3.28

Gambar 3.28 Instalasi tulangan arah horisontal D22-15


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Selanjutnya instalasi tulang arah vertikal kembali dilakukan hingga


membentuk Footing Abutment namun tulangan lebih dibengkokan lagi hingga

39
membentuk lekukan, pemasangan ini membutuhkan 30 lonjor tulangan. Dapat
dilihat pada gambar 3.29

Gambar 3.29 Instalasi tulangan arah vertikal bagian atas Footing Abutment
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

2). Pemasangan bekisting Footing Abutment


Selanjutnya pemasangan bekisting Footing Abutment yang terbuat dari
papan kayu yang sudah dibentuk sesuai ukuran Footing Abutment, dengan
menggunakan alat sebagai berikut : paku, palu, staples, plastik dan meteran, cara
pembuatannya dengan memotong papan kayu sesuai ukuran yang sudah
ditentukan kemudian dilapisi plastik dan disteples berfungsi untuk membuat
lapisan beton menjadi halus dan rata. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :2

Pemasangan bekisting Footing Abutment dilakukan menjelang sore untuk


mengejar target pengecoran pada malam harinya, pengecoran selalu dilakukan
pada malam hari karena volume kendaraan yang ada akan berkurang berbeda
dengan siang hari yang semakin padat, pembuatan sangat diperlukan hati hati
karna jika salah dalam pengukuran akan menghambat penyelesaian pekerjaaan

40
bekisting Footing Abutment. Berikut pembuatan bekisting dari papan kayu dapat
dilihat pada gambar 3.30

Gambar 3.30 Pembuatan bekisting Footing Abutmnet


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Selanjutnya pemasangan bekisting Footing Abutmnet dengan memasang


beton decking dengan panjang 5 cm ddan diametre 5 cm terlebih dahulu untuk
selimut beton. kemudian melubangi bekisting untuk melilitlan kawat bendrat
sehingga bekisting keuat dalam menahan campuran beton dalam proses
pengecoran. Berikut pelaksanaan pemasangan bekisting dapat dilihat pada
gambar 3.31

Gambar 3.31 Pemasangan bekisting Footing Abutmnet


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

41
3). Pelaksanaan pengecoran Footing Abutmnet
Pelaksanaan berikutnya yaitu pengecoran Footing Abutmnet sebelum
pelaksanaan pengecoran dilakukan terlebih dahulu slump test yang nantinya
menentukan campuran beton layak atau tidak untuk proses pengecoran Footing
Abutment, nilai slump yang didapat adalah 10 cm yang artinya sesuai dengan
permintaan dan juga mutu beton (fc 20). Berikut pelaksanaan pengecoran ini
dapat dilihat pada gambar 3.32

Gambar 3.32 Proses slump test dengan nilai 10 cm


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Berikutnya pelaksanaan pengecoran Footing Abutmnet dilakukan pukul


3
20.00 s.d 21.34 dan membutuhkan campuran beton sebanyak 20 m ready mix
yang berasal dari perusahaan Duta Beton dengan menggunakan truck mixer, agar
pemadatan campuran beton lebih bagus maka dilakukan perataan manual juga
dengan alat vibrator sehingga ketika campuran beton dituangkan kedalam
bekisting menjadi padat dan rata tanpa adanya celah / rongga yang terjadi pada
saat bekisting dibongkar. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja : 10

42
Operator truck mixer :2

Pelaksanaan kegiatan pengecoran Footing Abutmnet dapat dilihat pada gambar


3.33

Gambar 3.33 Pelaksanaan pengecoran Footing Abutmnet

(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

4). Pelaksanaan Pembongkaran bekisting Footing Abutmnet


Tahap selanjutnya yaitu pembongkaran bekisting Footing Abutmnet waktu
untuk pembongkaran bekisting dari proses pengecoran adalah 9 jam setelah itu
bekisting dapat dibongkar. dilakukan dengan menggunakan tang untuk
membongkar lilitan kawat bendrat. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :3

Pembongkaran dilakukan dengan menggunakan tang untuk melepaskan ikatan


kawat bendrat yang masih mengikat bekisting Footing Abutmnet tersebut,
kemudian melepaskan dengan pelan pelan bekisting Footing Abutmnet.
Bekisting dapat dipakai kembali dalam pekerjaan pemasangan pondasi sumuran

43
pada sebelah utara arah Situbondo. Metode yang di pakai sama hanya yang
berbeda adalah kendala yang mungkin lebih ringan kendala dalam pekerjaan yang
terus muncul adalah sumber air yang terus muncul hingga perlu penanganan yang
siaga dengan memakai Water Pump dan kemudian langsung lanjut pada pekerjaan
berikutnya. Pelaksanaan pembongkaran bekisting dapat dilihat dari gambar 3.34

Gambar 3.34 Pembongkaran bekisting Footing Abutment


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.10 Instalasi Tulangan Body dan Head Abutment


Pelaksanaan instalasi tulangan Body dan Head Abutment ini dilakukan
bersamaan karena saling terkait, tulangan yang dipakai tulangan lurus dengan
D22-15, tulangan vertikal dengan D19-15 dan tulangan pembagi dengan D13-30
Karena tulangan lurus sebagian sudah dipasang saat instalasi tulangan Footing
Abutmnet maka tulangan lurus yang masih belum sempurna disambung kembali
dengan tulangan lurus dengan pembengkokan 3 sudut pada ujung tulangan.
Pekerjaan ini dilakukan bersamaan karena saling terkait dan menjadi satu, bagian
body dikerjakan dahulu kemudian diteruskan dengan bangunan Head Abutment
yaitu kepala dari Abutment bangunan ini adalah bangunan bagian dari tubuh dan
kepala Abutment yang berfungsi untuk bangunan pelengkap Abutment dan juga
untuk menyalurkan beban ke dalam pondasi yang sudah tertanam ke dalam tanah
sehingga beban dari atas yang disalurkan akan merata ke bawah bangunan
jembatan seperti pondasi dan ke taanah para pekerja yang melakukan pekerjaan
ini adalah :

44
Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :7

Berikut pelasakanaan instalasi tulangan Body dan Head Abutment dapat


dilihat pada gambar 3.35

Gambar 3.34 Instalasi Tulangan Body dan Head Abutment


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Tahap selanjunya pemasangan beton decking beton decking adalah beton


yang berfungsi untuk spesi beton jika tidak menggunakan beto ini biasanya
memakai tulangan untuk jaraknya. Namun kebanyakan pada pengecoran memakai
beton decking (beton tahu) yang mempunyai tebal 5 cm dan diameter 5 cm di
pasang untuk selimut beton dengan jarak tertentu dan sesuai kebutuhan.
Pemasangan beton decking dapat dilihat pada gambar 3.36

45
Gambar 3.36 Pemasangan beton decking pada tulangan
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

2). Pelaksanaan Pemasangan bekisting


Pelaksanaan selanjutnya adalah pemasangan bekisting yang dibuat dari
papan kayu sesuai bentuk dari Body dan Head Abutment yang diikat dengan lilitan
kawat bendrat untuk memperkuat saat proses pengecoran sehingga campuran
beton yang dituangkan pada bekisting tidak tercecer keluar bekisting. Berikut
pemasangan bekisting Body dan Head Abutmentdapat dilihat pada gambar 3.37

Gambar 3.37 Pemasangan bekisting Body dan Head Abutment


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Dalam pelaksanaan dilapangan kurang sesuai dengan yang telah


disyaratkan seperti pekerja yang tidak memakai APD dapat dilihat pada Gambar

46
3.37 Dalam pekerjaan pemasangan bekisting Body dan Head Abutment, APD
jarang dipakai dan diabaikan. Maka diperlukan teguran dan ketegasan perusahaan
untuk menindak langsung kepada para pekerja yang melanggar K3.

3). Pelaksanaan Pengecoran Body dan Head Abutment

Selanjutnya dilakukan slump testdengan nilai 10 cm yang artinya sesuai


dengan permintaan dan juga mutu beton K-250 sebelumnya. Jika nilai slump tidak
memenuhi maka pengecoran tidak dapat dilaksanakan. Karena slump adalah cara
untuk menentukan kadar air campuran beton nantinya tersebut jika lebih maka
harus diulang untuk menentukan nilai slump yang sesuai dengan permintaan pihak
owner. Berikut pelaksanaan slump dapat dilihat pada gambar 3.38

Gambar 3.38 Pelaksanaan slump test


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pengecoran ini membutuhkan 18 m3 ready mix pengecoran dilakukan


mulai pukul 22.23 s.d 00.45 WIB. Peralatan yang digunakan adalah pipa, mesin
vibrator, dan kayu balok. dengan cara sama yaitu dengan menggunakan pipa
berdiameter 5 dim yang diarahkan ke Body dan Head Abutment, untuk menjakau
lokasi tersbut. Jika tidak menggunakan pipa maka sulit untuk menjangkau bagian
yang akan dicor karena letak dari Body dan Head Abutment, dibawah sehingga
sulit jika tidak menggunakan alat bantu seperti pipa untuk melakukan pengecoran.

47
Berikut pelaksanaan pengecoran Body dan Head Abutment dapat dilihat pada
gambar3.39

Gambar 3.39 Pengecoran Body dan Head Abutment


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)
4). Pembongkaran bekisting Body dan Head Abutment
Selanjutnya pelaksanaan pembongkaran menggunakan tang untuk memutar
kawat bendrat, pelaksanaan pembongkaran bekisting Body dan Head Abutment
yang dilakukan keesokan harinya, namun pembongkaran dilakukan pukul 14.35
WIB. Lebih lama dari biasanya. Berikut pembongkaran bekisting Body dan Head
Abutment dapat dilihat pada gambar 3.40

Gambar 3.40 Pembongkaran bekisting Body dan Head Abutment


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.11 Instalasi Tulangan Back Wall


Langkah selanjutnya pemasangan tulangan Back Wall tinggal
menyambung pada tulangan Back Wall yang sudah jadi pada sebelah timur,
tulangan yang dipakai adalah untuk tulangan vertikal D16-15, untuk tulangan
horisontal D13-15 dan tulangan bagi D13-15, dengan cara menyambungkan

48
tulangan yang sebelah barat dengan tulangan Back Wall sebelah timur karena
bagian timur bangunan Back Wall sudah selesai sehingga dilakukan
penyambungan pada bagian sebelah timur. Dengan menggunakan alat tang
penjepit dan kawat lilitan kawat bendrat untuk mengikat tulangan Back Wall
lilitan kawat ini terdiri dari 3 kawat bendrat yang kemudian dililitkan menjadi
satu, sehingga tali untuk tulangan akan kuat. Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :6

Berikut pelaksanaan penyambungan tulangan arah vertikal D16-15, pada Back


Wall dapat dilihat pada gambar 3.41

Gambar 3.41 Penyambungan tulangan Back Wall bagian timur


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

49
Gambar 3.42 Pembuatan tali dari lilitan kawat bendrat
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Seperti gambar di atas Sebelum melakukan pengikatan pada tulangan atau


bekisting dilakukan dahulu pembuatan tali dari kawat bendrat yang terdiri dar
beberapa potongan kawat bendrat, sesuai dengan kebutuhan biasanya terdiri dari 3
dan 5 potongan kawat bendrat sesuai kebutuhan atau sesuai dengan beratnya
tulangan yang akan diikat. Setiap pengikatan dilakukan pembuatan tali dari lilitan
kawat bendrat terlebih dahulu yang terdiri dari beberapa lilitan tergantung dimensi
tulangan yang akan diikat. Jika tualangan dengan diameter 13 16 memakai
lilitan terdiri dari 3 kawat bendrat.
2). Pelaksanaan pemasangan bekisting Back Wall
Tahap selanjutnya pemasangan bekisting Back Wall dengan papan kayu yang
dibuat sesuai dengan ukuran Back Wall. Tinggi dari bekisting Back Wall 100 cm.
Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :7

Berikut pemasangan bekisting Back Wall dapat dilihat pada gambar 3.43

50
Gambar 3.43 Pemasangan bekisting Back Wall
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3). Pelaksanaan pengecoran Back Wall sisi selatan arah Banyuwangi


Selanjutnya pengecoran Back Wall mulai pukul 23.14 s.d 00.43 WIB
3
dengan membutuhkan 16 m ready mix, dengan nilai slump 10 cm jika nilai
slump tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan maka pelaksanaan pengecoran
tidak dapat dilaksanakan. Ready mix dipesan dan dihantar oleh truck mixer dari
Duta Beton. Peralatan yang digunakan adalah pipa, mesin vibrator, dan kayu
balok. dengan cara pelaksanaan pengecoran menggunakan bantuan pipa diameter
5 dim untuk mencapai lokasi yang akan dicor, dengan memukul mukul pipa saat
proses pengecoran agar tidak tersumbat, dan juga dibantu dengan alat vibrator
untuk pemadatan beton sehingga tidak terdapat gelembung atau beton yang
berongga pada saat pembongkaran bekisting dilakukan. Para pekerja yang terlibat
adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :8

Operator truck mixer :2

Pelaksanaan pengecoran Back Wall dapat dilihat pada gambar 3.44

51
Gambar 3.44 Pengecoran Back Wall menggunakan truck mixer
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.3.12. Instalasi tulangan Pelat Injak

Pelat injak adalah bagian dari bangunan bawah suatu jembatan yang
berfungsi untuk menyalurkan beban yang diterima diatasnya secara merata
menuju tanah dibawahnya dan juga untuk mencegah terjadinya defleksi yang
terjadi pada permukaan jalan. Menghubungkan jalan dan jembatan sehingga tidak
terjadi perubahan ketinggian yang terlalu mencolok pada keduanya.
(Sumber,RSNI-T-02-2005)
1.) Timbunan lahan
Sebelum pelaksanaan pemasangan tulangan pelat injak dilakukan
penimbunan tanah yang dilakukan dengan alat bantu excavator. Bahan yang
dipilih untuk timbunan sebaiknya tidak termasuk dalam tanah yang plastisitasnya
tinggi, yang diklasifikasikan sebagai A-7-6 dari persyaratan AASHTO M 145 atau
sebagai CH dalam sistem klasifikasi Unified atau Casagrande. Bila penggunaan
tanah yang plastisitasnya tinggi tidak dapat dihindarkan, bahan tersebut
harusdigunakan hanya pada bagian dasar dari urugan atau pada urugan kembali
yang tidak membutuhkan daya dukung tinggi. Berikut cara pengerjaan timbunan :
1. Pelaksanaan pekerjaan ini meliputi penghamparan dan pemadatan material
timbunan, yang terbagi dalam beberapa section timbunan sampai dengan
ketinggian yang disyaratkan.
2. Ketebalan maksimal setiap section timbunan adalah setebal 40 cm dalam
kondisi padat.

52
3. Penghamparan material dalam satu section, dilakukan secara lapis demi lapis
dengan ketebalan lapisan maksimal 20 cm.
4. Sebelum prose pemadatan dilakukan, material hasil hamparan disiram air
dengan menggunakan Water Tanker untuk mendapatkan kadar air optimal
dalam proses pemadatan.
5. Selanjutnya hasil hamparan yang telah disiram, dipadatkan dengan
menggunakan Vibro Roller.
Para pekerja yang terlibat adalah :

Mandor :1

Pekerja :3

Supir dump truck :1

Adapun pelaksanaan timbunan dibantu dengan dump truck dapat dilihat


padagambar 3.45

Gambar 3.45 Pengangkutan tanah untuk timbunan menggunakan dump truck


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)
Proses selanjutnya diratakan dengan alat berat excavator yang meratakan
dengan berjalan untuk memadatkan dan menggaruk tanah supaya merata, untuk
proses pekerjaan Pelat Injak. Berikut pelaksanaan perataan timbunan tanah
menggunakan alat excavator, namun pemadatan yang dilakukan tidak cukup
hanya dengan bantuan excavator tetapi dibantu dengan alat stamper yaitu alat

53
pemadat dengan cara bergetar ke atas dan ke bawah. Berikut gambar
pelaksanaannya :

Gambar 3.46 Perataan timbunan menggunakan excavator


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

\Gambar 3.47 Pemadatan timbunan menggunakan stamper


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

2). Gelar CTB (Cement Treated Base)


Pada pekerjaan ini bahan yang dibutuhkan adalah semen type 1, air bersih
dan agregat. Alat yang digunakan berupa dump truck untuk menganggkut
agregat. Dan excavator untuk pemadatan berikut pelaksanaan :
1. pecampuran dari ctb harus dengan peralatan continous mixing plant,untuk
menjamin ukuran porsi tiap bahan.

54
2. Ctb kemudian diangkut dengan dump truck yang sebelumnya harus
mendapatkan persetujuan dari direksi.
3. Ctb di hampar dan di tempatkan di atas perbaikan tanah dasar,dengan
metode mekanik,untuk mendapatkan kepadatan,toleransi kerataan dan
kehalusanpermukaan.
4. kepadatan ctb setelah pemadatan harus mencapai kepadatan kering lebih
dari 95% maksimum sesuai pada SNI 03-6886-2002.
5. setelah penghamparan di lakukan curing dengan menggunakan karung
goni yang telah di basahi air.
Berikut pelaksanaan gelar CTB dapat dilihat pada gambar 3.48

Gambar 3.48 Pencampuran CTB (Cement Treaded Base) dengan excavator


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Pencampuran ini dilakukan dengan menggunakan alat berat excavator,


karna porsi yang dibutuhkan sangat banyak sehingga harus dibantu dengan alat
berat ini, pengerjaan dengan mengaduk aduk agregat yang sudah tercampur
semen dengan menyiramkan air sedikit demi sedikit supaya tercampur dengan
merata dan setelah tercamapur CTB (Cement Treaded Base) akan diratakan
dengan excavator keseluruh bagian Pelat Injak yang akan dikerjakan .

55
Gambar 3.49 Perataan CTB (Cement Treaded Base) dengan excavator
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.50 Pemadatan CTB (Cement Treaded Base)) dengan stamper


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.51 Pemadatan CTB (Cement Treaded Base) dengan vibro roller
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Setelah pekerjaan timbunan tanah dan gelar CTB (Cement Treaded Base)
tahap selanjutnya pemasangan tulangan Pelat Injak dengan menggunakan

56
tulangan arah vertikal D19-10. Yang disusun dengan jarak yang sudah sesuai
dengan gambar perencana dalam pemasangan tulang arah vertikal D19-10
membutuhkan 32 lonjor tulangan. Berikut pelaksanaan instalasi tulangan arah
vertikal D19-10 dapat dilihat pada gambar 3.52

Gambar 3.52 Instalasi tulangan arah vertikal D19-10


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Selanjutnya pemasangan tulangan horisontal D13-10 dengan bantuan


benang untuk meluruskan susunan dan dengan cara menggunakan selang yang
diberi sedikit air untuk proses mengetahui titik lurus, sehingga pada saat
pemasangan tidak mengalami kemiringan susunan tulangan arah horisontal dan
juga keterlambatan dalam pengerjaannya. Dalam pekerjaan ini membutuhkan 50
lonjor tulangan ditata dengan jarak 10 cm, dalam pekerjaan ini diharuskan teliti
dalam mengatur jarak dan garis lurus jika terjadi kemiringan nanti akan
berpengaruh terhadap bangunan atas yang akan dibangun dan kemungkinan akan
terjadi pembongkaran yang dilakukan. Berikut para pekerja yang mengerjakan
adalah :

Mandor :1

Pelaksana :2

Pekerja :7

Beikut pemasangan tulangan arah horisontal D13-10 dapat dilihat pada


gambar 3.53

57
Gambar 3.53 Instalasi tulangan arah horisontal D19-10
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.54 Dokumentasi pengukuran spesi tulangan Pelat Injak


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

4). Pemasangan bekisting tulangan Pelat Injak


Pelaksanaan pemasangan bekisting ini sesuai dengan ukuran tulangan Pelat
Injak yaitu mempunyai panjang 500 cm, peralatan yang digunakan meteran,
steples, paku, palu dan plastik. Bekisting ini dibuat dari potongan papan kayu
yang sudah dibentuk sesuai ukuran. Papan kayu yang sudah dipotong dilapisi
plastik dan disteples berfungsi supaya lapisan beton menjadi halus. Untuk
memberi spasi atau selimut beton maka dilakukan pemasangan beton decking
dengan tebal 5 cm x 5 cm, ukuran tersebut sudah sesuai dengan perencanaan awal
yang telah disetujui yaitu untuk mendapatkan kekuatan maksimal dari bangunan
pondasi tersebut.

58
Beton decking adalah beton atau spesi yang dibentuk sesuai dengan ukuran
beton yang diinginkan dan jika tidak menggunakan beton decking pada saat
pengecoran maka pengecoran tidak akan sesuai dengan harapan karena fungsinya
beton decking adalah untuk memberi selimut pada beton dan juga menjaga
tulangan agar sesuai dengan posisi yang diinginkan, sehingga hasil pengecoran
akan kokoh, dan tulangan tidak berkarat (korosi). Berikut pelaksanaan
pemasangan beton decking pada pelat injak dapat dilihat pada gambar 3.55

Gambar 3.55 Pembuatan bekisting tulangan Pelat Injak dengan kayu


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.56 Pemasangan beton decking pada tulangan Pelat Injak


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

59
Gambar 3.57 Pemasangan bekisting pada tulangan Pelat Injak
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

5). Pengecoran Pelat Injak


Pelaksanaan pengecoran dilakukan muali pukul 20.00 s.d 21.13 WIB. Dan
3
pengecoran pelat injak ini membutuhkan 18 m ready mix yang dihantarkan
oleh truck mixer dari Duta Beton. Peralatan yang digunakan adalah pipa, mesin
vibrator, dan kayu balok. Dengan cara sama yaitu dengan menggunakan pipa
berdiameter 5 dim. Sebelumnya dilakukan slump test terlebih dahulu dengan
nilai slump 10 cm, jika nilai slump lebih atau kurang maka pelaksanaan
pengecoran tidak dapat dilaksanakan. Pelaksanaan dilakukan dengan
menggunakan bantuan pipa yang diarahkan pada tulangan tulangan Pelat Injak
karena jika tidak menggunakan pipa sebagai salat bantu maka pengecoran sulit
dilakukan karena pipa untuk menjangkau lokasi yang akan dilakukan pengecoran.
setelah itu bagian pipa dipukul pukul dengan potongan kayu balok supaya
campuran beton yang keluar tidak tersumbat didalam pipa jika tersumbat sangat
menganggu pekerjaan, dan para pekerja yang lain meratakan campuran beton
dengan bantuan balok kayu untuk lebih merata dan juga bantuan dari alat vibrator
untuk memandatkan beton sehingga tidak terdapat rongga dalam beton ketika
dilakukan pembongkaran bekisting juga untuk untuk menghilangkan gelembung
gelembung yang terjadi ketika campuran beton dituangkan kedalam cetakan oleh
truck mixer. Berikut pelaksanaan pengecoran tulangan Pelat Injak dapat dilihat
pada gambar 3.58

60
Gambar 3.58 Pengecoran tulangan Pelat Injak sisi barat arah Banyuwangi
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Tahap pengecoran dihantar dengan truck mixer yang langsung diratakan


dengan garu dari besi untuk meratakannya dan juga menggunakan alat bantu
vibrator seperti pada gambar diatas terdapat lingkaran merah yang menunjukan
alat dari vibrator tersebut untuk meratakan beton dan memadatkan campuran
beton sehingga tidak terdapat rongga pada beton nantinya. Dalam pekerjaan ini
alat vibrator yang digunakan hanya satu sehingga perlu adanya menambahan alat
vibrator untuk memperlancar pelaksanaan pengecoran yang dilakukan karna
selain alat bantu balok kayu untuk meratakan vibrator juga sangat membantu
untuk perataan sehingga pekerjaan akan selesai sesuai dengan cepat tanpa adanya
kecacatan beton yang terjadi ketika bekisting dibongkar. Dan pembongkaran
bekisting dilakukan keesokan harinya pukul 08.00 WIB berikut gambar tulangan
Pelat Injak ketika sudah dilakukan pembongkaran dapat dilihat pada gambar 3.59

Gambar 3.59 Pelat Injak ketika sudah dilakukan pembongkaran bekisting


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)
Catatan :

61
Pada pelaksanaan pekerjaan jembatan Ketapang Banyuwangi
dilaksanakan untuk pondasi sumuran sebelah selatan arah Banyuwangi, untuk
pembangunan pondasi sumuran sebelah utara metode yang dilakukan sama
dengan pembangunan metode pembangunan pondasi sumuran sebelah selatan
arah Banyuwangi, perbedaannya hanya kendala yang dihadapi ada saat
pembangunan pondasi utara lebih mudah karena sumber air yang muncul lebih
sedikit dibandingkan dengan lokasi pondasi sumuran sebelah utara arah
Banyuwangi.

3.3.13 Pekerjaan Erection Girder


Pelaksanaan ini adalah pemindahan girder / tumpuan jembatan yang
dibantu menggunakan Mobil Crane, pada Head Abutment sudah terdapat bantalan
girder atau bearing pad (karet) untuk tempat dudukan girder / gelagar sesuai fix
dan move. Berikut tahap pelaksanaannya :
1. Pemasangan mortar bearing pad harus sesuai dengan marking dari
survey,baik mengenai dimensi maupun elevasinya.
2. Campuran mortar bearing pad adalah semen mutu tinggi (K-500) dengan
air yang di campur homogen dan di beri tulangan susut,dicetak dengan
menggunakan bekisting.
3. Perawatan mortar bearing pad bisa dengan karung basah atau plastic yang
di tutup rapat.
4. Sebelum melakukan erection girder, harus di lakukan survey bersama
untuk mengetahui jarak actual antar pierhead dan apabila sudah sesuai
girder di cat notasi sesuai dengan urutan erection.
5. Di persiapkan jalan kerja yang akan di lalui girder sampai dengan di
tempat yang akan di erection.
6. Koordinasi denagn para pihak yang terkait dengan traffic management
Ppengangkatan girder di stock girder menggunakan service crane
kapasitas 60-80 ton 2 unit ke atas boogie dan di ikat dengan kuat.
7. Selama dalam perjalanan menuju tempat erection, ikatan girder di boogie
harus selalu di monitor.

62
8. Pengangkatan girder di pier head harus bersama sama dengan alat crane
80-150 ton 2 unit dan di tempatkan di bearing pad.
9. Bila letak girder sudah sesuai pada tempatnya , maka pekerjaan Erection
bisa di lanjutkan kembali.
10. Untuk memperkuat girder pada tempatnya ,di lakukan pengelasan shear
connector yang ada di girder dengan stek besi yang sudah di persiapkan di
pier head,dan apabila Erection Girder sudah lebih dari satu girder ,maka
antara girder di brancing dengan besi dan di las.
Pelaksanaan Erection Girder dapat dilihat pada gambar 3.60

Gambar 3.60 Erection Girder dengan Mobile Crane


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

Gambar 3.62 Elastomeric untuk bantalan girder


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.4 Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja

63
K3 (Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah suatu ilmu
pengetahuan dan penerapan guna mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan
dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja. Menurut
America Society of Safety and Engineering (ASSE) K3 diartikan sebagai bidang
kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada
kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja. Secara umum keselamatan kerja
dapat dikatakan sebagai ilmu dan penerapannya yang berkaitan dengan mesin,
pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan
lingkungan kerja serta cara melakukan pekerjaan guna menjamin keselamatan
tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian
lainnya.
Sasaran dari K3 adalah :
a. Menjamin keselamatan operator dan orang lain
b. Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan
c. Menjamin proses produksi aman dan lancar
Proyek Jembatan Ketapang Banyuwangi banyak pekerja yang tidak
memakai Alat Pelindung Diri (APD). Ketika dilakukan wawancara mengapa
mereka tidak memakai APD karena kurang nyaman dalam melakukan pekerjaan
tersebut dan mengganggu sehingga menghambat terselesainya pekerjaan yang
dilaksanakan, hanya pada saat pihak dari Pekerja Umun (PU) datang baru mereka
memaki APD lengkap. Kejadian ini sangat membahayakan para pekerja itu
sendiri. Ini perlu adanya ketegasan perusahaan untuk memberi sanksi kepada para
pekerja yang tidak memakai APD, solusi yang tepat untuk masalah ketidak
lengkapan K3 dapat dilakukan seperti memberi poin (-) pada pekerja yang tidak
memakai APD dan berpengaruh terhadap upah yang diterima, dan memberi poin
(+) untuk kelengkapan K3 juga berpengaruh terhadap upah yang diterima.
Sehingga para pekerja yang tidak lengkapa mendapatkan upah yang berbeda
dengan pekerja yang lengkap APDnya. Berikut dapat dilihat salah satu pekerja
yang tidak memakai APD.

64
Gambar 3.63 Pekerja yang tidak lengkap memakai APD.
(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

3.5 Kendala dalam Pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi


Kendala yang berarti yang ditemukan pada saat palaksanaan pembangunan
Jembatan Ketapang Banyuwangi. Misalnya Banyaknya sumber air yang terus
mengalir pada saat galian tanah untuk pondasi sumuran Solusi yang dilakukan
adalah dengan memakai alat penyedot air / Water Pump untuk mengurangi air
yang terus muncul dari sumber sehingga pembangunan dapat berlangsung.
Pemasangan mesin Water Pump ini dalam pengerjaan sumuran mencapai 3 Water
Pump sampai 5 Water Pump.

Gambar 3.64 Penyedotan air dengan mesin Water Pump


(Dokumentasi di Lapangan, 2016)

65
Halaman sengaja dikosongkan

BAB IV

66
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan kerja praktik di PT. Galory Jasa
Sarana Banyuwangi dapat disimpulkan bahwa:
1. Pelaksanaan Metode yang dilakukan pada pekerjaan Jembatan Ketapang
Banyuwangi jenis pondasi sumuran yang dipakai adalah circulaar caisson
pondasi ini berbentuk bundar dengan tinggi 3 meter diameter 3 meter
Metode pekerjaan pondasi sumuran dilakukan bertahap, panjang dari
sumuran adalah 3 meter kemudian dikerjakan dengan bertahap yaitu
setinggi 150 cm, jika dilakukan sekaligus 3 meter maka pengecoran tidak
efesien dan mengurangi mutu beton pondasi sumuran tersebut. Pekerjaan
galian dengan kedalaman 0-2 meter dan kedalaman 2-4 metersesuai
dengan tinggi pondasi sumuran. Alat berat yang digunakan dalam
pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi adalah excavator untuk
pekerjaan menggali tanah, Mobil Crane untuk proses Erection Girder,
vibro roller untuk pemadatan CTB (Cement Treaded Base), untuk setiap
instalasi tulangan, tulangan yang digunakan adalah tulangan BTJD 13, 16,
19, dan 25.
2. Dalam metode bekisting yang dipakai adalah pelat / cincin untuk pondasi
sumuran selain itu item pekerjaan lain bekisting menggunakan papan kayu.
Pengecoran menggunakan K 250 untuk semua pekerjaan pengecoran,
nilai slump yang digunakan adalah 10 cm, dalam pelaksanaan pengecoran
supaya mencapai pondasi sumuran digunakan pipa dengan diameter 5 dim,
dan menggunakan alat vibrator untuk pemadatan beton saat pengecoran
dan menggunakan balok kayu untuk membantu menekan pondasi sumuran
masuk kedalam tanah,

4.2. Saran

67
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat di sarankan bahwa:
1. Dalam membantu mengatasi sumber air yang terus muncul selain
menggunakan Water Pump untuk menyedot air maka supaya
dilakukan juga pemasangan Sand Back (pasir dalam katung) untuk
menghalangi air disekitar luar untuk masuk kedalam lokasi pondasi
sumuran.
2. Untuk para pekerja yang tidak memakai APD ( Alat Pelindung Diri)
maka dilakukan penegasan dengan memberi nilai poin (-) kepada para
pekerja yang tidak memakai APD, dan nilai poin tersebut berpengaruh
terhadap upah yang akan diterima. Dan untuk para pekerja yang slalu
memakai APD dan rajin akan mendapat nilai poin (+) dan juga
berpengaruh terhadap upah yang akan diterima.
3. Dan dalam pekerjaan pengecoran perlu adanya penambahan jumlah
alat vibrator 1 buah lagi untuk perataan beton, karena dalam pekerjaan
pengecoran Jembatan Ketapang alat vibrator yang dipakai hanya 1
buah, itu menyebabkan kurang membantu perataan campuran beton
saat pengecoran.

68
DAFTAR PUSTAKA

Data, Proyek Jembatan Ketapang Banyuwangi, Kontraktor

Mukti Ali, Agus. (2014). Pelaksanaan Pembangunan Proyek Jembatan Taman


Hiburan Pantai (THP) Kenjeran Kec. Kenjeran Kota Surabaya
PT.Hutama Karya (Persero) Laporan Praktik Kerja Lapangan Prodi
Teknik Sipil Politeknik Negeri Banyuwangi.

RKS pembangunan Jembatan Ketapang Banyuwangi PT. Galory Jasa Sarana


(2016)

Sarana, PT Galory Jasa Sarana (2015).Sejarah Perusahaan, PT Galory Jasa


Sarana Divisi Jalan dan Jembatan, Jakarta.

69