Anda di halaman 1dari 15

UJIAN AKHIR

COMPOUNDING DAN DISPENSING


PENANGANAN RESEP DALAM PRAKTEK PENGOBATAN YANG RASIONAL

Oleh:
NI WAYAN GINNA ASTARINA
1308515052

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

1. RESEP
dr.Mitra SpPD
SIP: 129/DIKES/2009
Jl. Raya Sesetan No. 98
Tlp :03617787788
Denpasar, 15-1-2014
R/ Acitral No X
S 3 dd 1
R/ Tripansin No. X
S 3 dd 1
R/ Valisanbe No X
S 3 dd 1
R/ Vomitrol No X
S 3 dd 1

Pro : Ana Usi Ali


Umur : 33 Tahun
Alamat : Sesetan

Ketika pasien datang ke apotek dengan membawa resep, pertama-tama apoteker akan
menyapa pasien dan memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek (Apotek Klinik) tersebut.
Selanjutnya pasien akan menyatakan maksud dan tujuannya datang ke apotek tersebut serta
menyerahkan resep yang akan ditebusnya. Apoteker akan menganalisis kelengkapan resep
tersebut dan memeriksa apakah obat-obat yang diresepkan oleh dokter ada di apotek tersebut
atau tidak.

2. SKRINING RESEP
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan bahwa
skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Persyaratan administratif :
Nama, SIP, dan alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara
dan lama pemberian.
3. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi,
jumlah obat, dan lain-lain).
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep
dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan persetujuan
setelah pemberitahuan.Apoteker juga melakukan penyiapan obat yang meliputi peracikan, etiket,
kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling, dan monitoring
penggunaan obat.
Pada subbab ini akan dibahas mengenai kelengkapan adminitratif resep, dimana hasil
skrining administratif untuk resep dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk kesesuaian farmasetis dan
pertimbangan klinis akan dibahas pada subbab lain dalam makalah ini.
Berdasarkan hasil skrining administrasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa identitas
dokter pada resep sudah lengkap (tercantum nama dokter, SIP, alamat praktek, dan nomor
telepon). Penulisan SIP dokter diperlukan untuk menunjukkan bahwa dokter yang bersangkutan
mempunyai hak dan dilindungi undang-undang dalam memberikan pengobatan bagi pasiennya
sehingga dapat menjamin keamanan pasien. Alamat praktek dan nomor telepon diperlukan untuk
mempermudah dalam menghubungi dokter penulis resep apabila terdapat permasalahan pada
resep. Pada resep juga tidak tercantum paraf atau tanda tangan dokter penulis resep. Paraf dan
tanda tangan dokter penulis resep diperlukan untuk mengetahui keabsahan dari resep sehingga
apabila tidak terdapat paraf atau tanda tangan dokter penulis resep, maka resep dapat.

Persyaratan Administratif
Kelengkapan Resep Ada Tidak ada
Nama
SIP
SIK
Identitas
Alamat rumah
dokter
Alamat praktek
No Telp
Hari dan jam kerja
Simbol R/
Superscriptio Nama Kota
Tanggal resep
Nama obat
Inscriptio Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Subscriptio Bentuk sediaan obat (BSO)
Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Signatura
Waktu minum obat
Informasi lain
Paraf
Penutup
Tanda tangan
Nama
Alamat
Identitas
Umur
pasien
Jenis kelamin
BB

Pada resep ini tidak disebutkan bentuk dari masing-masing sediaan obat dan tidak
dicantumkan kekuatan atau potensi obat yang digunakan dalam resep. Kekuatan atau potensi
obat diperlukan untuk mengetahui dosis yang diberikan kepada pasien sehingga dapat
disesuaikan dengan kebutuhan dosis individual pasien sesuai dengan indikasi penyakit yang
diderita dan untuk mengetahui jumlah obat yang perlu diambil sehingga dapat memudahkan
dalam peracikan sediaan.
Pada resep tidak tercantum waktu penggunaan obat, dimana waktu penggunaan obat
diperlukan untuk menentukan obat digunakan sebelum atau sesudah makan. Selain itu juga untuk
menentukan apakah obat digunakan pagi, siang, atau malam. Hal ini bertujuan untuk
menghindari kejadian interaksi antar obat yang digunakan dan kejadian interaksi obat dengan
makanan maupun pertimbangan fisiologis tubuh lainnya sehingga dapat memberikan efek yang
optimal.
Jika dilihat dari hasil skrining identitas pasien pada resep sudah terdapat nama, umur, dan
alamat pasien, namun tidak terdapat jenis kelamin dan berat badan pasien. Dari jenis kelamin
diketahui bahwa pasin wanita dilihat dari namanya dan dikonfirmasi dari penebus resep yang
merupakan pasien yang bersangkutan sendiri. Umur pasien diperlukan untuk perhitungan dosis
individual selain menggunakan data berat badan pasien dan untuk mengetahui kesesuaian bentuk
sediaan obat yang diberikan kepada pasien. Oleh karena pasien dewasa dan tidak dalam kondisi
khusus atau bukan anak-anak dan lansia maka perhitungan dosis hanya dapat dilakukan dari
umur dan tidak diperlukan data berat badan.

.2 Skrining Farmaseutik
Skrining farmasetis yang harus dilakukan oleh apoteker menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek antara lain adalah bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
1. Bentuk Sediaan
Dalam resep tidak dicantumkan bentuk sediaan obat. Di pasaran terdapat berbagai
macam bentuk sediaan obat tersebut. Acitral tesedia dalam bentuk tablet dan sirup (ISFI,
2009). Valisanbe yang mengandung diazepam tersedia dalam bentuk tablet 2 mg dan 5 mg,
Vomitrol yang mengandung metoklopramida HCl 5 mg/5 mL sirup; 10 mg/tab; 0,1 mg/drop
tersedia dalam bentuk tabet, sirup dan drop (ISFI, 2009). Pemilihan bentuk sediaan ini
disesuaikan dengan umur pasien. Pada obat Tripansin tidak terdapat obat dengan nama
dagang maupun generik tersebut. Kemungkinan dokter salah menuliskan nama obat,
kemungkinan obat yang dimaksud adalah Tripanzym dilihat dari obat lain yang diresepkan
bahwa pasien menggalami gangguan pada GI. Dimana memiliki umur 33 tahun yang
tergolong pasien dewasa sehingga dapat menggunakan sediaan sirup maupun tablet. Jika
dilihat dari aturan pemakaian dokter untuk acitral dan vomitrol diberikan 3x sehari dd 1
sebanyak 10 maka diduga bentuk sediaan yang diberikan adalah tablet. Namun, hal tersebut
juga perlu dikonsultasikan ke dokter.

2. Dosis
Acitral diberikan 3 x sehari 1 tablet obat diberikan 10 tablet maka obat akan habis
dalam 3 hari. Tripansin yang diduga adalah Tripanzym diberikan 3x sehari 1 yang
diindikasikan untuk terapi digestif diberikan dengan dosis 1 kaplet setiap 4x sehari selama 2
hari. Namun pada resep diberikan 3x sehari 1 kaplet yang digunakan untuk 3 hari, hal ini
perlu dikonsultasikan ke dokter. Valisanbe tersedia dalam dosis 2 mg dan 5 mg diazepam
tiap tablet. Dalam resep tidak tertulis kekuatan sediaan, apabila dalam resep tidak
dicantumkan kekuatan maka kekuatan yang digunakan adalah yang terendah. Namun, hal
terebut juga perlu dikonsultasikan ke dokter. Dalam resep juga diberikan 10 tablet dengan
aturan 3x sehari hal tersebut juga perlu dikonsultasikan mengingat bahwa diazepam
merupakan obat golongan narkotika. Vomitrol diberikan 3x sehari 1 sebanyak 10, maka obat
akan habis selama 3 hari. Metoclopramide untuk gastrointestinal refluks dosis dewasa
diberikan 10-15 mg dapat diberikan sampai 4x sehari 30 menit sebelum makan atau
menjelang tidur. Terapi lebih dari 2 minggu tidak direkomendasikan (Lacy et al., 2011).
Dosis pada resep sudah sesuai. Cara penggunaan obat ini sudah tepat karena pengobatan
untuk mual muntah diberikan selama 2 hari, apabila pada hari ketiga mual muntah belum
hilang, sebaiknya disarankan untuk kembali ke dokter (Blekinsopp, et al., 2005). Maka
perlu diinformasikan kepada pasien apabila obat ini habis, namun mual muntah atau nyeri di
ulu hati belum hilang, maka disarankan untuk memeriksakan diri kembali ke dokter.
3. Potensi/Kekuatan
Apoteker harus memastikan bahwa potensi obat yang dimaksud dokter memang sama
dengan potensi obat yang beredar di pasaran. Acitral tersedia kekuatan yang mengandung
Mg (OH)2 200 mg; Al (OH)2 200 mg, simetikon 20 mg tiap tablet (ISFI, 2009). Valisanbe
tersedia dalam dosis 2 mg dan 5 mg diazepam tiap tablet. Dalam resep tidak tertulis
kekuatan sediaan, apabila dalam resep tidak dicantumkan kekuatan maka kekuatan yang
digunakan adalah yang terendah. Namun, hal terebut juga perlu dikonsultasikan ke dokter.
Vomitrol tersediahanya 1 bentuk tablet dengan kandungan 10 mg metoclorpramide.
Tripansin yang diduga adalah Tripanzym juga tersedia dalam 1 bentuk sediaan kaplet (ISFI,
2009). Sehingga yang perlu dikonsultasikan adalah valisanbe saja, sedangkan acitral,
Tripanzym dan vomitrol digunakan dalam kekuatan yang ada tersebut dalam tabletnya.
4. Stabilitas
Sediaan pada resep cukup stabil karena merupakan sediaan jadi tunggal dan tidak
mengalami perubahan bentuk atau kemasan karena peracikan. Semua sediaan digunakan
dalam bentuk tablet, hanya acitral yang tersedia dalam tablet kunyah. Hindarkan dari sinar
matahari langsung dan kelembaban (Ansel, 2008).
5. Inkompatibilitas
Tidak terdapat masalah inkompatibilitas karena merupakan sediaan tunggal.
6. Cara dan Lama Pemberian
Acitral 3 x sehari 1 tablet obat diberikan 10 tablet maka obat akan habis dalam 3 hari.
Diberikan jeda selama 1 jam sebelum digunakan obat lain. Vomitrol diberikan 3x sehari 1
sebanyak 10, maka obat akan habis selama 3 hari diberikan 30 menit sebelum makan atau
menjelang tidur. Tripanzym diberikan setelah makan. Diazepam diberikan 3 kali sehari
setelah makan. Cara penggunaan obat ini sudah tepat karena pengobatan untuk mual muntah
diberikan selama 2 hari, apabila pada hari ketiga mual muntah belum hilang, sebaiknya
disarankan untuk kembali ke dokter (Blekinsopp, et al., 2005). Maka perlu diinformasikan
kepada pasien apabila obat ini habis, namun mual muntah atau nyeri di ulu hati belum
hilang, maka disarankan untuk memeriksakan diri kembali ke dokter.
.3 Skrining Farmakologi
Skrining farmakologi secara umum dilakukan berdasarkan analisis terhadap spesifikasi
jenis obat dan indikasi masing-masing obat yang diresepkan dokter kepada pasien. Pada
resep ini, pasien diresepkan 4 jenis sediaan, yaitu Acitral, Tripansin yang diduga Tripanzym,
Valisanbe, an Vomitrol. Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien serta indikasi dan
dugaan tujuan pemberiannya tercantum dalam tabel 2 berikut.
Tabel 2. Obat dalam Resep, Komposisi, Kelas Farmakologi, dan Indikasinya.
Nama Kategori
Kandungan Indikasi
sediaan Farmakologi
Mg (OH)2 200 mg;
Al (OH)2 200 mg,
simetikon 20 mg Antasida (Lacy et Mengatasi hiperasiditas sementara yang
Acitral
tiap tablet atau 5 al., 2012) berhubungan dengan gas (Lacy et al., 2012).
mL sirup (ISFI,
2009).
Pankreatin 170 mg,
Tripansin
dimetilpolisiloksan Disgetif Penanganan gejala gangguan motilitas
yang diduga
aktif 80 mg (ISFI, (Madspace, 2013) gastrointestinal (Lacy et al., 2012).
Tripanzym
2009)
Per 5 mL Penanganan kecemasan dan stress yang kemudian
Anxietas (Lacy et
Valisanbe Diazepam 2mg dapat menginduksi peningkatan asam lambung
al, 2011)
atau 5 mg/tab (Lacy et al., 2012).

Metoclopramide Antiemetik (Lacy et


Vomitrol Penanganan gejala pada gastrointestinal disorder.
10 mg/tab al., 2001)

Berdasarkan obat yang diresepkan dokter dan indikasinya (seperti yang tercantum pada
Tabel 2) yang dilihat dari literatur, diduga pasien mengalami permasalahan pada sistem
gastrointestinal, yaitu mual, muntah, nyeri ulu hati akibat hiperasiditas lambung dan adanya
gangguan kecemasan sehingga memperparah nyeri pada ulu hati.
Antasida adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menetralkan asam lambung atau
mengikatnya (BPOM, 2008). Secara umum antasida mengandung magnesium hidroksida,
aluminium hidroksida, dan kalsium karbonat. Senyawa-senyawa tersebut merupakan basa-basa
lemah yang digunakan untuk menetralkan asam lambung, sehingga pH lambung meningkat
(Katzung, 2004). Simetikon kadang-kadang ditambahkan pada formulasi antasida untuk
mengurangi terbentuknya busa. Simetikon mengurangi tegangan permukaan dan memungkinkan
pengeluaran gas yang lebih mudah dari lambung dengan bersendawa. Pada perawatan paliatif,
dapat mengatasi cegukan (BPOM, 2008).
Pasien diberikan metoclopramide untuk mengatasi keluhan mual muntah dan nyeri ulu hati
yang diderita pasien. Salah satu gejala dari gangguan mekanisme gastrointestinal, seperti tukak
lambung adalah mual muntah dan nyeri ulu hati. Keluhan ini umumnya akan semakin
mengganggu pasien seiring dengan meningkatnya keparahan tukak yang diderita karena motilitas
lambung semakin terganggu. Sehingga kondisi ini juga harus ditangani sebelum mengarah pada
anorexia karena akan mengganggu asupan nutrisi pasien (Dipiro, et al., 2008). Pasien juga
diresepkan Tripanzym yang digunakan untuk terapi digestif
Berdasarkan analisis indikasi di atas, maka dapat dikatakan indikasi sementara pada pasien
adalah tukak lambung, mual, muntah, nyeri ulu hati yang disebabkan oleh hiperasiditas lambung,
dan kecemasan.

I. Metode SOAP
.1 Subjektif
Untuk meyakinkan dugaan bahwa pasien tukak lambung, mual muntah, nyeri ulu hati,
dan kecemasan, maka apoteker melakukan penilaian secara subjektif dengan bertanya
kepada pasien langsung terkait dengan kondisinya menggunakan metode Three Prime
Questions dan menanyakan lebih lanjut mengenai keluhan pasien, yaitu:
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang Ibu terima?
Pasien : Saya diberikan obat untuk luka pada lambungnya, dan diberikan obat untuk
mual muntah karena saya 2 hari muntah-muntah terus setiap makan dan seperti
nyeri ulu hati. Selain itu, dokter juga memberikan obat agar saya bisa lebih
tenag dan tidur dengan nyenyak .
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang Ibu terima?
Pasien : Dokter hanya mengatakan nanti aturan pakainya akan dijelaskan saat
penyerahan obat (oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan
memberikan penjelasan yang lengkap mengenai cara pakai obat tersebut).
Apoteker : Apa kata Dokter mengenai harapan setelah Ibu menggunakan obat ini?
Pasien : Dokter mengatakan bahwa mual muntah ayah saya harusnya sudah hilang
paling lama setelah 2 hari pemberian obat ini, apabila mual muntah dan nyeri
ulu hatinya belum hilang setelah 2 hari, maka ayah saya dianjurkan untuk
kembali ke dokter. Apabila mual muntahnya sudah hilang sebelum 2 hari, maka
ayah saya disarankan untuk kembali ke dokter setelah 5 hari untuk melihat
perkembangan kondisinya.
Karena informasi yang didapatkan dari pasien masih kurang maka untuk lebih
meyakinkan anamnese, Apoteker menggali informasi yang lebih dalam lagi dari pasien
mengenai keluhan yang dirasakannya sehubungan dengan indikasi dari masing-masing obat
yang diresepkan oleh dokter.
Apoteker : Sudah berapa lama ayah Ibu mengeluh nyeri ulu hati?
Pasien : Sudah 1 mingguan Mbak, Saya kira hanya karena telat makan tapi setelah
makan malah tambah.
Apoteker : Bagaiman feses ayah Ibu, apakah ada darahnya?
Pasien : Tidak mbak, feses saya tidak berdarah
Apoteker : Apakah ayah Ibu sedang mengkonsumsi obat lain seperti misalnya obat
penghilang rasa sakit?
Pasien : Saat ini tidak ada mbak, tapi pernah minum obat penghilang rasa sakit jika
merasa nyeri-nyeri.
Apoteker : Apakah ibu pernah mengalami gejala ini sebelumnya? Apa ibu punya riwayat
penyakit maag?
Paien : Pernah, tapi tidak sampai sesakit ini.
Apoteker : Apakah belakangan ini ibu sedang banyak perkerjaan?
Paien : Iya mbak, belakangan ini saya banyak tuga di kantor, sering lembur makanya
telat makan juga dan banyak pikiran.
Apoteker : Apakah Ibu mengalami kesulitan dalam menelan tablet/kapsul atau ayah Ibu
memiliki alergi terhadap obat tertentu?
Pasien : Tidak mbak
Apoteker : Baiklah, Ibu. Ini nomor antriannya, silahkan menunggu sebentar saya akan
menyiapkan obat ibu
Berdasarkan percakapan yang dilakukan dengan pasien, pasien mengeluh nyeri perut
bagian atas, nyeri ulu hati, mual muntah, feses normal dalam hal ini menandakan pasien
mengalami tukak lambung namun belum sampai pendarahan, dan pasien juga diduga
mengalami kecemasan karena banyaknya tuga yang menunpuk. Penilaian yang dilakukan ini
merupakan penilaian subjektif yang diperoleh langsung dari pasien atau keluarga pasien.
Terkait dengan keraguan terhadap indikasi infeksi saluran kemih yang diperoleh secara
subjektif, maka diperoleh informasi bahwa pasien tidak mengalami infeksi saluran kemih.
Namun, masih harus disesuaikan kembali dengan penilaian objektif meliputi tata laksana
terapi masing-masing indikasi.

.2 Objektif
Setelah mendapatkan penilaian secara subjektif, maka perlu dilihat secara objektif
kondisi pasien dengan melihat data laboratorium pasien. Dalam kasus tidak terdapat data
objektif pasien.
.3 Assesment
Setelah diketahui indikasi yang diderita oleh pasien, maka selanjutnya ditentuka
rasionalitas pengobatan yang salah satunya dapat dilakukan melalui analisis DRP. Drug
Related Problem (DRP) memiliki 8 kategori, yaitu unnecessary drug therapy, wrong drug,
dosage too low, adverse drug reaction, dosage too high, drug interaction, inappropriate
compliance, needs additional drug therapy. Pada kasus ini, dapat ditentukan DRP yang
terjadi yang dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3. Analisis DRP pada Pasien
Problem Terapi DRP Pengatasan DRP
Medik
Tukak - Antasida - Terapi Tanpa Indikasi -
lambung + - Pankreatin Tidak terdapat terapi
axietas - Metoclopramide tanpa indikasi
ringan - Diazepam

- Interaksi Obat - Penggunaan antasida


Acitral mempengaruhi dengan obat lain
absorpsi obat lain di diberikan jeda waktu
lambung penggunaan sekitar 1-2
jam

- Kepatuhan Pasien - Pasien diberikan jadwal


Pasien mendapatkan4 pemakaian obat dan
jenis obat dengan cara diinformasikan kepada
pemakaian berbeda- keluarga pasien
beda
- Wrong drug - Konsultasikan ke
Obat Tripansin tidak ada, dokter
sehingga diduuga bahwa
tripanzym (digestif pada GI
disorder). - Seharusnya diberikan
- Dosis Pankreatin 4 kali sehari 1 kaplet
rendah selama 2 hari.
.4 Plan
Berdasarkan hasil analisis ketepatan pengobatan dan pengatasan DRP, maka apoteker
dapat membuat perencanaan sebagai berikut:
a. Melihat Tata Laksana Terapi dan Diskusi dengan Dokter
Sebelum kita melakukan diskusi dengan dokter, perlu dilihat terlebih dahulu tata laksana
terapi tukak lambung sebagai dasar pertimbangan yang disampaikan kepada dokter. Selain
itu, dengan melihat tata laksana terapi, ketepatan pengobatan pasien juga dapat ditentukan
terkait dengan pengobatan lini pertama yang diberikan kepada pasien.

Sedangkan untuk terapi kecemacan atau GAD yaitu


Obat-Obat Antikecemasan Benzodiasepin untuk GAD (Dipiro et al., 2008)

Benzodiazepin merupakan obat yang paling efektif dan aman untuk pengobatan gejala-
gejala kecemasan akut. Semua obat-obat golongan benzodiazepin mempunyai efektifitas
ansiolitik yang sama, dan umumnya respon positif terlihat pada 2 minggu pertama terapi.
Benzodiazepin lebih efektif untuk gejala-gejala somatik dan autonomik GAD, sedangkan
antidepresan lebih efektif untuk gejala-gejala psikis. Secara teoritis benzodiasepin mengatasi
kecemasan dengan cara potensiasi aktivitas GABA. Dosis benzodiazepin harus diindividualisasi
dan umumnya lama terapi tidak boleh melebihi 4 bulan. Penderita lansia lebih sensitif terhadap
benzodiazepin dan dapat mengalami jatuh selama terapi dengan golongan obat ini (Dipiro et al.,
2008). Penggunaan jangka panjang, terutama dalam dosis tinggi dapat menimbulkan
ketergantungan fisik dan mental (Siswandono dan Soekardjo, 2008).

Efek farmakologis benzodiazepin merupakan akibat aksi gamma aminobutyric acid


(GABA) sebagai neurotransmiter penghambat di otak. Benzodiazepin akan meningkatkan
kepekaan reseptor GABA terhadap neurotransmitter penghambat sehingga kanal klorida terbuka
dan terjadi hiperpolarisasi post sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik membran sel
tidak dapat dieksitasi. Hal ini akan menghasilkan efek ansiolisis dan sedasi (Schmitz et al.,
2009). Untuk menkonfirmasi sediaan, kekuatan sediaan, indikasi terapi dan adanay obat yang
tidak ada di pasaran maka perlu dikonsultasikan ke dokter:

Apoteker : Selamat siang Dok, saya apoteker dari apotek Darnacin. Maaf dok, apa ada waktu
sebentar, saya ingin menanyakan mengenai resep No. 33 atas nama Ana Usi Ali
yang mendapatkan Acitral, Tripansin, Valisanbe, dan vomitrol.
Dokter : Baik, silahkan.
Apoteker : Begini Dok, apakah pengobatannya diindikasikan untuk gangguan lambung
(hiperaciditas) dan gangguan cemas?
Dokter : Iya benar, saya indikasikan untuk gangguan lambung (hiperaciditas) dan gangguan
cemas.
Apoteker : Mohon maaf sebelumnya dok, untuk obat Tripansin tidak tersedia di pasaran
apakah tujuan pemebriannya untuk terapi digestif pada gangguan GI dok?
Dokter : iya saya indikasikan untuk memperbaiki pencernaan dan absorpsi makanan. Sediaan
yang ada apa?
Apoteker : Obat yang tersedia dengan nama Trinpazym dok, kandungannya terdiri dari
Pankreatin 170 mg, dimetilpolisiloksan aktif 80 mg (ISFI, 2009) dapat digunakan
untuk indikasi tersebut, namun dosisnya 4 kali sehari 1 kaplet selama 2 hari.
Dokter : Oh iya maksud sya tu, maaf dek saya salah menulis resep.
Apoteker : Mohon maaf untuk valisanbe umumnya respon positif terlihat pada 2 minggu
pertama terapi dok.
Dokter : Oh iya saya lupa informasikan pasiennya disuruh kembali ya.
Apoteker : Mohon maaf untuk bentuk sediaannya kekuatan yang digunakan yang dosis 2 mg
ato 5 mg dok?.
Dokter : yang dosis lebih rendah saja.
Apoteker : Baik Dok, terima kasih atas waktu dan sarannya. Selamat siang Dok.

b. Compounding
Resep yang telah melewati proses skrining administrasi, kesesuaian farmasetik dan
kesesuaian farmakologi serta ketersediaan stok di apotek, obat-obat yang diperlukan
disiapkan.
a. Sediaan Acitral tablet diberikan dalam jumlah yang sesuai (10 tablet), dimana obat
tersebut dikemas dengan plastik klip dan diberikan label berupa etiket putih dengan
keterangan aturan pemakaian obat yaitu diminum 3 kali sehari 1 tablet 1 jam setelah
makan.
b. Sediaan tripanzym tablet diberikan dalam jumlah yang sesuai (10 tablet), dimana obat
tersebut dikemas dengan plastik klip dan diberikan label berupa etiket putih dengan
keterangan aturan pemakaian obat yaitu diminum 4 kali sehari 1 tablet 1 jam setelah
pemberian acitral.
c. Valisanbe diberikan sesuai jumlah 10 tablet diberikan 3 kali sehari 1 tablet setiap 8 jam 1
jam setelah pemberian acitral.
d. Vomitrol diberikan 3 kali sehari 1 tablet 30 menit sebelum makan.
Pelabelan
Etiket Acitral Tab Etiket Tripanzym

Apotek Darnacin Apotek Darnacin


Jl. Teuku Umar No. 11, Denpasar-Bali Jl. Teuku Umar No. 11, Denpasar-Bali

APA : Ginna Astarina S.Farm., Apt. APA : Ginna Astarina S.Farm., Apt.
SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012 SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012

Denpasar, 15-01-2014 Denpasar, 15-01-2014


No. 33 No. 33
Ibu Ana Usi A. (33 th) Ibu Ana Usi A. (33 th)

Diminum 3 kali sehari 1 tablet Diminum 4 kali sehari 1 tablet


1 jam setelah makan 1 jam setelah acitral
DIKUNYAH .

Ttd apoteker Ttd apoteker

Etiket Valisanbe Etiket Vomitrol


potek Darnacin I. Apotek Darnacin
Teuku Umar No. 11, Denpasar-Bali Jl. Teuku Umar No. 11, Denpasar-Bali

Sandra Wijaya S.Farm., Apt. APA : Sri Sandra Wijaya S.Farm., Apt.
/19/2455/DB/DP/2012 SIPA : 50/19/2455/DB/DP/2012

npasar, 04-12-2013 Denpasar, 04-12-2013


No. 33
nton (60 th) Bapak Anton (60 th)

m 3 kali sehari 1 c.
tablet 1 jam setelah
Dispensing acitral diberikan pagi, siang danDiminum
dan KIE sebelum 3tidur.
kali sehari 1 tablet
Ttd apoteker 30 menit sebelum makan
Penyerahan obat-obat tersebut disertai dengan KIE mengenai cara penggunaan obat, aturan
Ttd apoteker
pakai obat, waktu penggunaan obat, efek samping yang mungkin akan muncul.
- Valisanbe setelah habis disarankan pasien untuk kembali ke dokter.
- Obat lain digunakan sampai nyeri ulu hati, mual, muntah hilang
- Apabila sampai obat habis belum membaik, hubungi dokter.
PUSTAKA
ISFI. 2009. Informasi Spesialite Obat. Jakarta. PT. ISFI.

Lacy, C.F., Armstrong, L.L, Goldman, M.P. and Lance, L.L.. 2012. Drug Information Handbook,
20th Edition. New York: Lexi-comp.

Dipiro, J. T., B.G. Wells, T.L. Schwinghammer and C.V. Dipiro. 2008. Pharmacotherapy
Handbook. Seventh Edition. USA: The McGraw-Hill Companies.