Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MATA KULIAH

COMPOUNDING DAN DISPENSING


PENANGANAN RESEP DALAM PRAKTEK PENGOBATAN YANG RASIONAL

Oleh:
Chandra Fatmawati (1108525002)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2013
Hasil Pembacaan
Dr.Mitra SpM

SIP: 129/DIKES?2009

Jl. Raya Sesetan No 98 Tlp :0361-778788

R/ Cendo dexatrim s no I
S 6 dd gtt 1 OS
R/ Metoflam tab no XV
S 2 dd gtt 1
R/ Metovit AX tab no X
S 2 dd 1
Pro : Tuan Ali
Umur : 40 tahun
BB :
Alamat : Sesetan

Ketika pasien datang ke apotek dengan membawa resep, pertama-tama apoteker akan
menyapa pasien dan memperkenalkan diri sebagai apoteker di apotek (Apotek Klinik)
tersebut. Selanjutnya pasien akan menyatakan maksud dan tujuannya datang ke apotek
tersebut serta menyerahkan resep yang akan ditebusnya. Apoteker akan menganalisis
kelengkapan resep tersebut dan memeriksa apakah obat-obat yang diresepkan oleh dokter ada
di apotek tersebut atau tidak.

1. SKRINING RESEP
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, dinyatakan
bahwa skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi:
1. Persyaratan administratif :
Nama, SIP, dan alamat dokter
Tanggal penulisan resep
Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
Nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien
Nama obat , potensi, dosis, jumlah yang minta
Cara pemakaian yang jelas
Informasi lainnya
2. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas,
cara dan lama pemberian.
3. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis,
durasi, jumlah obat, dan lain-lain).
Jika ada keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis
resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu menggunakan
persetujuan setelah pemberitahuan. Apoteker juga melakukan penyiapan obat yang meliputi
peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan, penyerahan obat, informasi obat, konseling,
dan monitoring penggunaan obat.
Pada subbab ini akan dibahas mengenai kelengkapan adminitratif resep, dimana hasil
skrining administratif untuk resep dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk kesesuaian farmasetis
dan pertimbangan klinis akan dibahas pada subbab lain dalam makalah ini.
Berdasarkan hasil skrining administrasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa identitas
dokter pada resep kurang lengkap (tidak tercantum nama dokter, SIP, SIK, alamat praktek,
nomor telepon, hari dan jam kerja). Penulisan SIP dokter diperlukan untuk menunjukkan
bahwa dokter yang bersangkutan mempunyai hak dan dilindungi undang-undang dalam
memberikan pengobatan bagi pasiennya sehingga dapat menjamin keamanan pasien. Alamat
praktek, nomor telepon, hari, dan jam kerja diperlukan untuk mempermudah dalam
menghubungi dokter penulis resep apabila terdapat permasalahan pada resep. Pada resep juga
tidak tercantum paraf atau tanda tangan dokter penulis resep. Paraf dan tanda tangan dokter
penulis resep diperlukan untuk mengetahui keabsahan dari resep sehingga apabila tidak
terdapat paraf atau tanda tangan dokter penulis resep, maka resep dapat menjadi tidak sah.
Persyaratan Administratif
Kelengkapan Resep Ada Tidak ada
Nama
SIP
SIK
Identitas
Alamat rumah
dokter
Alamat praktek
No Telp
Hari dan jam kerja
Superscriptio Simbol R/
Nama Kota
Tanggal resep
Nama obat
Inscriptio Kekuatan/potensi obat
Jumlah obat
Subscriptio Bentuk sediaan obat (BSO)
Frekuensi pemberian
Jumlah pemberian obat
Signatura
Waktu minum obat
Informasi lain
Paraf
Penutup
Tanda tangan
Nama
Alamat
Identitas
Umur
pasien
Jenis kelamin
BB

Pada resep ini telah disebutkan bentuk dari masing-masing sediaan yang dibuat, yakni
sediaan eye drop dan tablet Pada beberapa obat dalam resep, tidak dicantumkan kekuatan
atau potensi obat. Kekuatan atau potensi obat diperlukan untuk mengetahui dosis yang
diberikan kepada pasien sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dosis individual
pasien sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita dan untuk mengetahui jumlah obat yang
perlu diambil sehingga dapat memudahkan dalam peracikan sediaan. Namun, obat tersebut
tersedia di pasaran dengan 1 jenis kekuatan sehingga hal tersebut tidak menimbulkan
masalah.
Pada resep tidak tercantum waktu penggunaan obat, dimana waktu penggunaan obat
diperlukan untuk menentukan obat digunakan sebelum atau sesudah makan. Selain itu juga
untuk menentukan apakah obat digunakan pagi, siang, atau malam. Hal ini bertujuan untuk
menghindari kejadian interaksi antar obat yang digunakan dan kejadian interaksi obat dengan
makanan maupun pertimbangan fisiologis tubuh lainnya sehingga dapat memberikan efek
yang optimal.
2. SPESIFIKASI OBAT
a) CENDO DEXATRIM
Komposisi :
Kelas farmakologi : Antibiotik
Mekanisme kerja :

b) Metoflam
Komposisi :
Kelas farmakologi :.
Mekanisme kerja :

c) Metovit
Komposisi : Natural astaxantine 2 mg, bilbery dry exreax 80 mg, Lutein 3 mg,
Zeaxantin 0,25 mg, Zn 2,5 mg, Selenium 10 mcg
Kelas Farmakologi : Multivitamin
Indikasi : Sebagai support treatment untuk kesehatan mata

Three Prime Question :


Apoteker : Selamat sore Bapak, ada yang bisa kami bantu?
Pembawa resep : Selamat sore Mbak, saya mau menebus resep
Apoteker : Maaf pak , resep ini untuk siapa?
Pembawa resep : Ini resep untuk saya
Apoteker : Maaf, kalau boleh tau sakit matanya sudah berapa lama ya pak?
Pembawa resep : Sudah 3 harian mba, mata sebelah kiri saya ini merah, berair dan
lengket dan rasanya nyeri mba
Apoteker : Apakah bapak ada meminum atau memakai obat tetes mata lain pak
sebelum ke dokter?
Pembawa resep : Saya pakai obat tetes mata Insto mba, tapi tidak membaik, klo obat saya
belum ada minum apa-apa mb
Apoteker : Apakah ada alergi obat pak?
Pembawa resep tidak ada alergi mba
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang bapak terima?
Pembawa resep : Tadi saya ke dokter karena mata saya merah dan berair serta lengket,
tadi dokter katanya meresepkan obat mata dan saya juga dikasih obat
anti nyeri dan vitamin
Apoteker : Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang
bapak terima?
Pembawa resep : Dokter tidak menjelaskan mengenai cara pakainya Mbak.
(oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan yang lengkap
mengenai cara pakai obat tersebut).
Apoteker : Apa kata Dokter mengenai harapan setelah bapak menggunakan
obat ini?
Pembawa resep : mata saya sembuh mba .
Apoteker : Baik Bapak. Terima kasih banyak atas waktu dan informasinya. Akan
saya cek kan harga untuk obatnya, sebelum kami melakukan peracikan.
Pembawa Resep : Baik Mbak. (sambil menunggu)
Apoteker : Untuk total seluruh biaya obat adalah Rp.,-, bagaimana bapak apakah
ingin menebus semua obat?
Pembawa Resep : Iya mbak, saya tebus semuanya.
Apoteker : Baik bapak, Ini nomor antrian. Mohon ditunggu sebentar, nanti nama
bapak akan kami panggil.
Pembawa resep : (menerima nomer antrean)

3. ANALISIS SOAP
1. Identitas Pasien
Nama Pasien : Tuan Ali
Ruang : -
Umur : 40 tahun
Berat Badan :
Diagnosa : Konjutivitis

2. Subyektif
Keluhan utama : mengalami mata mera, berair dan lengket
Keluhan tambahan : nyeri
Pasien sudah menggunakan obat tetes mata akan tetapi tidak membaik dan
pasien alergi terhadap seafood.
3. Obyektif
Paramater Hasil Pemeriksaan Pasien

Hasil Pemeriksaan Pasien


Laboratoriu
-
m

Anamnese kefarmasian secara umum dilakukan berdasarkan analisis terhadap jenis obat
dan indikasi masing-masing obat yang diresepkan dokter kepada pasien. Hasil analisis
terhadap indikasi dan tujuan pemberian masing-masing obat dalam resep perlu dipastikan
kebenarannya dengan bertanya kepada pasien menggunakan metode Three Prime Questions.
Untuk itu, pada subbab ini akan dibahas analisis kondisi pasien melalui indikasi masing-
masing obat serta pengajuan 3 Prime Question kepada pasien yang kemudian akan
dilanjutkan dengan analisis terhadap kedua aspek tersebut dalam penegakan anamnese
kefarmasian.
Untuk lebih meyakinkan anamnese tersebut Apoteker juga melakukan
komunikasi/konsultasi dengan Dokter untuk menanyakan pertimbangan dokter mengenai
resep yang dituliskan karena ada beberapa obat tidak tersedia di apotik
Apoteker : Selamat siang Dok, saya apoteker dari apotek Anugerah. Maaf dok, apa ada
waktu sebentar, saya ingin menanyakan mengenai resep No. 009 atas nama
Tuan Ali yang mendapatkan Cendo Dexatrim, Metoflam tablet dan Metovit
AX
Dokter : Baik, silahkan.
Apoteker : Mohon maaf dok, untuk Cendo Dexatrim dan Metoflam saat ini di apotik
tidak tersedia dok, apakah bisa berikan obat tetes mata yang lain?
Dokter : Tidak tersedia? Baik klo begitu untuk obat tetes mata di ganti dengan Cendo
Xitrol dan untuk Metoflam, diganti saja dengan Cataflam 50 mg, pasien
saya indikasikan mengalami Konjutivis dan terdapat rasa nyeri.
Apoteker : Baik Dok, terima kasih atas waktu dan informasinya. Selamat siang Dok
4.1 Indikasi dan Tujuan Pemberian Obat
Pada resep ini, pasien diresepkan 4 jenis sediaan, yaitu Cendo Xyitrol, Cataflam Tablet,
dan Matovit AX. Adapun obat-obatan yang diberikan kepada pasien serta indikasi dan dugaan
tujuan pemberiannya tercantum dalam Tabel
Nama sediaan Kandungan Kategori Indikasi
farmakologi
Cendo Xitrol Tiap 1 ml Cendo Kombinasi obat tetes mata yang mengandung
Xitrol Eye Drops kortikosteroid dan kombinasi obat kortikosteroid
mengandung antibiotik (deksametason) dan antibiotik
Deksametason 0,1%, (neomisina dan polimisina).
Neomisina 3,5 mg, Kortikosteroid mempunyai efek
dan Polimiksina antiinflamasi atau menekan
6000 IU. peradangan. Sedangkan neomisina
dan polimisina mempunyai efek
antibakterial.
Cataflam Diklofenac NSAID
Natural
Matovitantine 2 mg, Multvitamin Support eye health
4.2 Analisis Penegakan Anamnese Kefarmasian
Berdasarkan resep tersebut maka dapat dianalisis indikasi dari masing-masing obat:
Cendo Xitrol : sebagai antibiotic dan kortikosteroid
Cataflam : Analgetik
Matovit : Multivitamin

Berdasarkan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter untuk pasien tersebut, diduga
pasien mengalami Konjutivitis yang disertai nyeri
Di dalam pengobatan tersebut yang menjadi poin penting untuk anamnese kefarmasian
adalah
1. Penggunaan Obat Antibiotik dan kortikosteroid yaitu Cendo Xitrol yang
mengandung kombinasi obat kortikosteroid (deksametason) dan antibiotik (neomisina dan
polimisina). Kortikosteroid mempunyai efek antiinflamasi atau menekan peradangan.
Sedangkan neomisina dan polimisina mempunyai efek antibakterial.
2. Penggunaan obat yaitu Cataflam (Diklofenac) dimana sebagai analgetik golongan
NSAID
3. Penggunaan Matovit sebagai multivitamin yang dimana berfungsi untuk menjaga
kesehatan mata
Konjungtivitis adalah peradangan/infeksi pada konjungtiva (selaput bening yang
melapisi mata). Penyakit ini ditandai dengan mata merah, berair, ada kotoran mata (belekan),
lengket seperti ada benda asing, kadang-kadang bengkak. Bisa menyerang bayi baru lahir
hingga orang tua. Bila terjadi dalam waktu 12 hingga 24 jam disebut hiperakut, akut bila
kurang dari 4 minggu dan kronis lebih dari 1 bulan. Penyebab konjungtivitis ini bermacam-
macam, seperti bahan kimia, obat-obat tetes mata, alergi (debu, serbuk, bulu, angin, asap,
parasit, hingga penggunaan lensa kontak yang kurang bersih), bakteri, virus (paling sering
Adenovirus), kutu, bahkan dikarenakan Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti
Gonorrehoea (kencing nanah,) Chlamydia, Molluscum contagiosum. Penanganannya
disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Umumnya ditangani dengan kompres mata air
dingin, pemberian air mata buatan, pemberian vasokonstriktor/anti histamin, antibiotik.
Penggunaan obat atau salep antibiotik harus sesuai resep dokter dan tangan harus selalu
bersih saat penggunaan obat. Disarankan agar penyakit ini tidak menyebar pada orang lain,
sering mencuci tangan, tidak menggunakan peralatan makan atau mandi secara bersamaan.

Tata laksnana terapi


Secara umum pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan sulfonamide
(sulfacetamide 15%) atau antibiotic (gentamycin 0,3%), chloramphenicol 0,5%.
Konjungtivitis akibat alergi dapat diobati dengan antihistamin (antazoline 0,5%, naphazoline
0,05%) atau dengan kortikosteroid (dexamentosone 0,1%). Umumnya konjungtivitis dapat
sembuhmtanpa pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan, sembuh dalam
waktu 1-3 hari.
Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya adalah sebagai
berikut:
1. Konjungtivitis Bakteri
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotic
tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin selama 3-5 hari. kemudian
bila tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan menunggu hasil
pemeriksaan. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes
mata disertai antibiotic spectrum obat salep luas tiap jam mata untuk tidur atau
salep mata 4-5 kali sehari.
2. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi topical dan
sistemik. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air bersih atau dengan
garam fisiologik setiap jam.Kemudian diberi salep penisilin setiap jam.
Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi, medika
menstosa :
- Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan penisilin G 10.000-
20.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.
- Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit. Disusul
pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.
- Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokokus.
- Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik yang dibuat
setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negative.
3. Konjungtivitis Alergi
Penatalaksanaan keperawatan berupa kompres dingin dan menghindarkan
penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan obat antihistamin atau
bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen, sodium kromolin, steroid topical
dosis rendah. Rasa sakit dapat dikurangi dengan membuang kerak-kerak
dikelopak mata dengan mengusap pelan-pelan dengan salin (gram fisiologi).
Pemakaian pelindung seluloid pada mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan
memberikan lingkungan yang baik bagi mikroorganisme.
4. Konjungtivitis Viral
Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian
antihistamin/dekongestan topical. Kompres hangat atau dingin dapat membantu
memperbaiki gejala.
5. Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore berupa pemberian penisilin topical
mata dibersihkan dari secret. Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu
dengan membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep
kloramfenikol. Pengobatan dokter biasnay disesuaikan dengan diagnosis.
Pengobatan konjungtivitis blenore :
- Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat diberikan
setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan setiap jam sampai
terlihat tanda-tanda perbaikan.
- Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena bila tidak
maka pemberian obat tidak akan efektif.
- Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin infeksi
chlamdya yang banyak terjadi.
4. PENILAIAN PENGOBATAN RASIONAL
Penilaian pengobatan rasional meliputi:
5.1 Permasalahan Dalam Resep
a. Pada resep obat tidak tersedia di apotiik, pengatasan apoteker berkonsultasi ke
dokter mengenai penggatian obat
5.2 Kesesuaian Farmasetik
1. Bentuk sediaan
2. Dosis
3. Potensi/kekuatan
4. Stabilitas
5. Inkompatibilitas
6. Cara dan lama pemberian
5.3 Kesesuaian/ketepatan
5.3.1 Tepat indikasi
Indikasi obat dilihat dari efek farmakologis yang dimiliki oleh masing-masing zat
aktif yang terkandung dalam sediaan obat.
5.3.2 Tepat obat
5.3.3 Tepat dosis
5.3.4 Tepat pasien
5.3.5 Waspada efek samping obat
5.3.6 Alergi dan Interaksi obat
Dalam pertimbangan klinis perlu dipertimbangkan mengenai adanya alergi dan
interaksi terhadap obat yang akan digunakan. Pada kasus kali ini pasien tidak
memiliki riwayat alergi terhadap obat yang diresepkan dan tidak terdapat interaksi
obat yang teridentifikasi dalam resep ini.
Kesimpulan: berdasarkan analisa POR, resep di atas sudah rasional.

5. PLAN

I. Problem medik dan DRP pasien


Problem Medik Subyektif dan Objektif Terapi DRP
1. Konjuvitis dan Pasien mengalami Cendo Dexatrim Pada resep ini terjadi
nyeri mata merah, berair Diganti dengan permasalah dimana obat
dan lengket disertai Cendo Xitrol tidak tersedia di apotik maka
dengan nyer apoteker berkonsultasi
kepada dokter penulis resep
dan dokter penulis resep
menyarankan untuk
mengganti obat dengan yang
tersedia di apotik yaitu
Cendo Xitrol
2. Nyeri Pasien mengalami Metoflam diganti Obat juga tidak tersedia di
nyeri dengan cataflam apotik maka dokter
mengganti dengan cataflam
3
II. Pertimbangan Penangan DRP
a. Tujuan penggunaan antibiotik disini di tujukan untuk mengatasi masalah
konjutivis mata yang dialami olahe pasien diaman obat tidak tersedia di apotik
makan setelah dikonsultasikan dengan dokter maka dokter mengganti obat engan
cendo xitrol
1. Impementasi Care Plan
Obat Cara Pemakaian Keterangan
Cendo Xitrol 6 kali sehari sebanyak 1 tetes Pemakaian dilakukan setiap 4
pada mata kiri jam sekali
Cataflam 2 kali sehari sebanyak 1 Pemakaian pagi dan sore hari
tablet setiap minum sehabis makan, apabila nyeri
sudah berkurang sebaiknya
obat dihentikan
Metovit AX 2 kali sehari sebanyak 1 Pemakaian pagi dan sore hari
tablet setiap minum setelah makan

6. PENYIAPAN OBAT (COMPOUNDING)


Apabila resep telah dikonsultasikan dan obat yang diperlukan tersedia pada apotek
tersebut (resep siap untuk dikerjakan), maka selanjutnya dilakukan penyiapan obat, yaitu:
1. Pengambilan bahan
a. Cendo Xitrol 1 Botol
b. Cataflam 15 tablet
c. Matovit AX 10 tablet
2. Peracikan
Karena semua obat dalam bentuk tunggal maka hanya perlu mengambil obat yang tersedia
di apotik .
3. Final Check
Pemeriksaan kembali kondisi dan jumlah obat yang akan diberikan.
4. Sign off
a. Sediaan Cendo Xitrol 1 botol beri etiket biru dan keterangan pemakaian 6 kali sehari
sebanyak 1 tetep tiap pemakaian pada mata bagian kiri.
b. Sediaan cataflam 15 tablet dan beri tiket putih 2 kali sehari 1 tablet setelah makan
c. Sediaan Maltovit 10 tablet menggunakan etiket putih 2 kali sehari 1 tablet setelah
makan.
5. .Clean up
Membersihkan alat yang digunakan serta sekitar tempat peracikan.

6. Jadwal penggunaan obat untuk pasien


Contoh Kartu Jadwal Penggunaan Obat
Waktu Malam sebelum
Waktu Pagi Waktu siang
Nama tidur
Obat Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Makan Makan Makan Makan Makan Makan
Cendo
Xitrol
Cataflam V V
Maltovit V V

7. PELABELAN
8. NYERAHAN OBAT (DISPENSING) dan KIE
Penyerahan obat-obat tersebut disertai dengan KIE mengenai cara penggunaan
obat, aturan pakai obat, waktu penggunaan obat, efek samping yang mungkin akan
muncul. Penyerahan obat dan KIE:
1. Pasien diberikan obat 3 macam obat yaitu Cendo xitrol 1 baturan pakai yaitu
diteteskan pada mata kiri sebanyak 6 kali sehari dengan 1 tetes setiap pemberian,
Cataflam diminum 2 kali sehari setelah makan pagi dan sore hari, dan maltovit juga
diminum dua kali sehari setelah makan.

2. Obat disimpan pada suhu ruangan, jauhkan dari sinar matahari,


3. Pasien diberitahukan tentang efek samping dari obat-obat yang mungkin timbul.

4. Sering mencuci tangan dan memisahkan alat mandi dengan yang untuk mencegah
terjadi penyebaran

9. MONITORING
1. Setelah pasien pulang, maka masih ada satu tahapan yang harus dilakukan yaitu
monitoring penggunaan obat untuk memantau apakah pasien sudah menggunakan
obat secara baik, benar, dan tepat serta untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien
setelah menggunakan obat tersebut apakah obat yang diberikan memberikan efek
yang signifikan, tidak memberikan efek, atau malah menimbulkan efek yang
merugikan (adverse drug reaction) sehingga dapat dilakukan tindakan-tindakan
penanganan yang sesuai.

FORMULIR MONITORING PENGGUNAAN OBAT

Nama Petugas Chandra Nama Pasien Tuan Ali


Tanggal 17 Januari Alamat Pasien Jl. Poltek K15 Perum.Bhumi Jimbaran Asri- Bukit Jimbaran
2014
Jam 11.00 AM Usia/BB 40 tahun
Lama Percakapan 5 Menit No Telp (0361) 876223
Penerima
Telepon X Pasien
Orang Tua Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya

Tgl Resep : 15 Januari 2014 No Resep : 009867 Nama Dokter : dr. Mitra , SpM
R/ Cendo Xitrol R/ Cataflam R/ Matovit X R/
S 6 gtt 1 OS S 2 dd 1 S 2 dd 1

Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis :
Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :

Sembuh Tambah Parah


X Membaik Muncul Masalah Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan

Kategori permasalahan

Dosis Kemungkinan Interaksi


Cara Pemakaian Kemungkinan Efek Samping
Waktu Minum Obat Lainnya :
X Frekuensi Minum Obat Ketersediaan (lama)
Kepatuhan Harga
Kategori Terapi

Sistem Pencernaan Nutrisi dan Darah


Sistem Kardiovaskular Penyakit Tulang, Otot dan Sendi
Sistem Pernafasan X Mata
Sistem Saraf Pusat Telinga, Hidung, Orofaring
Infeksi Kulit
Sistem Endokrin Produksi Imunologis dan Vaksin
Obstetri Genekologi, saluran kemih Anestesi
Penyakit Malignan
Pemecahan Permasalahan

Memberitahu Dokter Diberi Saran


Dirujuk Kedokter Ditawarkan Produk Yang Membantu
Saran /Produk yang direkomendasikan

Saran/Informasi dari pasien

Paien menginformasikan bahwa kondisi mata pasien sudah membaik dimana mata sudah tidak berair dan lengket lagi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Medication Expiration Dating. Cited at : Desember 10, 2012. availbale at
http://www.cedrugstorenews.com/userapp//lessons/page_view_ui.cfm?
lessonuid=&pageid=98A4D0865060D9CDE96A50282801AE4D.
Baxter, K.2008. Stockleys Drug Interactions Eighth Edition. London: Pharmaceutical Press.
Dollery C., 1999.Theurapetic Drugs 2nd Edition. London: Churchill Livingstone
Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M. (Eds), 2008,
Pharmacotherapy a Pathophysiological Approach, 7th ed, The McGraw-Hill
Companies, Inc. P. 1714 1762.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care
untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan. Depkes.Jakarta
Ehrenpreis, S dan E. D. Ehrenpreis. 2001. Clinicians Handbook Of Prescription Drugs.
USA: McGraw-Hill Companies, Inc.
Ismail B. M. et al. 2008. Clinical Practice Guidlines Management of Hypertension (3rd
Edition). Malaysia: Health Technology Assessment Unit Medical Development
Division.
IONI, 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan
Makanan Republik Indonesia.
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI). 2008. Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia,
Volume 43. Jakarta: ISFI.

Lacy, C.F., L.L. Armstrong, M.P. Goldman, and L.L.Lance, 2010.Drug Information
Handbook with International Trade Name Index. New York: Lexicomp.
Lacy, C.F., L.L. Armstrong, M.P. Goldman, and L.L.Lance, 2012.Drug Information
Handbook with International Trade Name Index. New York: Lexicomp.
Lip, G. Y. H. dan Steven J. E. 2006. Stroke Prevention with Aspirin, Warfarin and
Ximelagartan in Patient with Non-Valvular Atrial Fibrilation: A Systematic Review
and Meta-Analysis. Thrombosis Research, Vol: 118. P. 321-333
MIMS online. Available at: http://www.mims.com
MIMS Petunjuk Konsultasi Indonesia Edisi 7 Tahun 2007/2008.
Moreno, S. C., Antonio J. E dan Antonio M. 2009. Stroke: Role of B Vitamins, Homocysteine
and Antioxidants. Nutritional Research Reviews, Vol: 22. P. 49-67
Marchetti1, F., Maestro, A., Rovere, F., Zanon, D., Arrighini, A., Bertolani, P., Dalt, L.,
Ronfani, L. 2011. Oral ondansetron versus domperidone for symptomatic treatment of
vomiting during acute gastroenteritis in children: multicentre randomized controlled
trial. BMC Pediatrics. 11:15.

Mohan, Neelam dan Soni, Arun. Gastro-esophageal Reflux in Neonates. Journal of


Neonatology. Vol.16, No. 3.

Santos, Daniel R., Silva, Luciana., Silva, Nanci. 2006. Antibiotics for the Empirical
Treatment of Acute Infectious Diarrhea in Children. The Brazilian Journal of
Infectious Diseases. 10(3):217-227.

Spruill, W. J. and Wade, W. E. 2005. Diarrhea, Constipation, and Irritable Bowel Syndrome.
In : DiPiro, J.T., Talbert, R. I., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B. G. and
Posey, I. M. editors. Pharmacotherapy a Pathophysiologic Approach. Sixth
Edition. New York: McGraw-Hill
Sweetman, S. 2009. Martindale: The Complete Drug Reference, 36th Edition. London: The
Pharmaceuticals Press
Tatro S.D., 2001. Drug Information Facts Volume 1. California: A Wolters Kluwer Company
pp. 44
Gwaltney JM Jr, Bisno AL. Pharyngitis. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Mandell, Douglas,
and Bennett's principles and practice of infectious diseases. 5th ed. Vol. 1. Philadelphia:
Churchill Livingstone, 2000:656-62.\
www.medscape.com, 2014\
Bisno AL, Gerber MA, Gwaltney JM Jr, Kaplan EL, Schwartz RH. Diagnosis and management of
group A streptococcal pharyngitis: a practice guideline. Clin Infect Dis 1997;25:574-583
Dewoto,Hedi R dan Melva L. 2007. Autokoid, Agonisdan Antagonisnya. In Farmakolohi dan
Terapi Ed 5. Jakarta : Dept. Farmakologi dan Terapeutik FKUI
Djay, Toen H dan Kirana R. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Pengggunaan dan Efek-efek
sampingnya Edisi Kelima. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo