Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN UMUM

Ilmu Penyakit Mata

Wanita 22 tahun OD Keratokonjungtivitis

Dosen Pembimbing
dr. Wahyu Ratna M, Sp.M

Disusun Oleh :

Laela Apriliana H2A012039


Syahrizon Thomas H2A012067
Ellen Wulandari H2A012068
Eka Oktaviani S H2A012013

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2016

BAB I

1
PENDAHULUAN

Keratokonjungtivitis yang merupakan peradangan pada kornea dan


konjungtiva yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan seringkali mengalami
kekambuhan. Keratokonjungtivitis sicca digunakan ketika peradangan karena
kekeringan. ("Sicca" berarti "kering" dalam konteks medis.) Hal ini terjadi dengan
20% pasien RA"Istilah " Vernal keratokonjunctivitis "(VKC) digunakan untuk
merujuk keratokonjungtivitis terjadi di musim semi , dan biasanya dianggap
karena alergen. Atopik keratokonjunctivitis adalah salah satu manifestasi dari
atopik. Epidemi keratokonjunctivitis disebabkan oleh infeksi adenovirus;
Keratokonjungtivitis limbus superior diduga disebabkan oleh trauma mekanik.1
Konjungtivitis sendiri yang merupakan peradangan pada konjungtiva
merupakan penyakit mata yang paling sering di dunia dan menyerang semua usia.
2% dari seluruh kunjungan ke dokter adalah untuk pemeriksaan mata dengan 54%
nya adalah antara konjungtivitis atau abrasi kornea. Untuk konjungtivitis yang
infeksius, 42% sampai 80% adalah bakterial, 3% chlamydial, dan 13% sampai
70% adalah viral. Konjungtivitis viral menggambarkan hingga 50% dari seluruh
konjungtivitis akut di poli umum.konjungtivitis dapat pula bertambah parah
menjadi infeksi akut yang mengganggu penglihatan apabila telah terjadi
komplikasi seperti adanya keterlibatan kornea.1
Insidensi keratokonjungtivitis relatif kecil, yaitu sekitar 0,l%--0,5% dari
pasien dengan masalah mata yang berobat, dan hanya 2% dari semua pasien yang
diperiksa di klinik mata. Hal yang perlu mendapat perhatian ialah bagaimana cara
penatalaksanaan kasus ini agar dapat mengalami penyembuhan maksimal dan
mencegah terjadinya rekurensi ataupun komplikasi yang dapat mengurangi
kualitas hidup.2

BAB II

2
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. A
Usia : 22 tahun
Alamat : Ngelipang, Semarang
Agama : Islam
Pekerjaan : Karyawan
Status : Belum Menikah
No. CM :-
Tanggal datang : 26 Mei 2016

II. ANAMNESE
Anamnese dilakukan secara autoanamnese pada tanggal 26 Mei 2016
pukul 13.00 WIB di Poli Mata RS Roemani
Keluhan utama : Mata kanan nerocos
Riwayat Penyakit Sekarang :
Seorang wanita datang ke poli mata RS Roemani dengan keluhan mata
kanan nyerocos. Keluhan ini dirasakan tadi malam saat mengendarai motor
sehabis pulang kerja. Pasien sudah berobat ke dokter tetapi belum membaik.
HMRS pasien mengeluh mata kanan berair dan mengganjal, mata merah
sebelah kanan (-), gatal (-), secret (-), silau jika terkena matahari (-), kelopak
mata bengkak (+), gatal (-), pandangan kabur (-), pusing(-), dan demam (-).
Pasien mengatakan sering menggunakan obat tetes mata untuk
menghilangkan rasa perih dan menggunakan lensa kontak untuk bekerja.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat sakit mata : disangkal
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat Diabetes Mellitus : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat sakit serupa : disangkal
- Riwayat Diabetes Mellitus : disangkal
- Riwayat Hipertensi : disangkal
- Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Pribadi
- Riwayat pemakaian kacamata : diakui sejak SMA
- Riwayat pemakaian kontak lensa : diakui sudah 1 tahun

3
- Pasien mengakui jarang mencuci tangan saat menggunakan kontak lensa
- Pasien mengakui jarang menganti kontak lensa, pasien mengganti kontak
lensa dalam jangka waktu 5 bulan sekali.
Riwayat Sosial Ekonomi
- Pasien berobat dengan biaya BPJS

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 14 mei 2016 pukul 13.00 WIB
di Poli Mata RS.Roemani.
1. Keadaan Umum : Baik
2. Kesadaran : compos mentis
3. TANDA VITAL
- Tekanan darah : tidak dilakukan
- Nadi : tidak dilakukan
- Respiratory rate : tidak dilakukan
- Suhu : tidak dilakukan
4. STATUS GIZI
- Berat badan : 54 kg
- Tinggi badan : 163 cm
- IMT : 20,14 (normal)
5. STATUS GENERALIS
a Kepala : kesan mesosefal
b Hidung : sekret (-), deformitas (-), hiperemis (-),
massa (-)
c Mulut :mukosa kering (-), mukosa hiperemis (-), Tonsil
T1-1 tidak hiperemesis, faring hiperemis (-), uvula
hiperemis (-).
d Telinga : sekret (-/-), nyeri tekan tragus (-/-), nyeri
ketok mastoid (-/-),pembesaran limfonodi
preaurikula(-/-), nyeri tekan preaurikula (-/-)
e Leher : pembesaran limfonodi submandibula (-),
servikalis anterior (-
).
f Thorax :
Pulmo
Dextra Sinistra
Depan dan Belakang
Inspeksi Diameter Lateral>Antero Diameter
posterior. Lateral>Antero
Hemithorax Simetris Statis posterior.
Dinamis. Hemithorax Simetris

4
Statis Dinamis.

Palpasi Stem fremitus normal Stem fremitus normal


kanan sama dengan kiri. kanan sama dengan
Nyeri tekan (-). kiri.
Pelebaran SIC (-). Nyeri tekan (-).
Arcus costa normal. Pelebaran SIC (-).
Arcus costa normal.
Perkusi Sonor seluruh lapang paru Sonor seluruh lapang
paru
Auskultasi Suara dasar paru vesikuler Suara dasar paru
(+), wheezing (-), ronki (-) vesikuler (+),
wheezing (-), ronki (-)

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba tak kuat angkat
Perkusi :
Batas atas jantung : ICS II Linea parasternal sinistra
Pinggang jantung : ICS III Linea parasternal sinistra
Batas kiri bawah jantung : ICS V 1cm medial Linea mid
clavicula sinistra
Batas kanan bawah jantung : ICS V Linea sternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung I & II normal & murni, bising (-), gallop (-)
g Abdomen
Inspeksi : Permukaan cembung tidak mengkilat, warna sama seperti
kulit di sekitar, ikterik (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani seluruh regio abdomen, pekak sisi (+) normal,
pekak alih (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-).

h Ekstremitas

Superior Inferior
Akral hangat +/+ +/+
Oedem -/- -/-
Sianosis -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik/<2 detik <2 detik/2 detik
Bintik merah di kulit -/- -/-

5
6. STATUS OFTALMOLOGIS

OD OS
Visus 20/200 20/200
Visus koreksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensus Coloris Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Pergerakan bola Bebas segala arah Bebas segala arah
mata
Kedudukan bola Ortoforia Ortoforia
mata
Supersilia Madarosis (-) Madarosis (-)
Tumbuh penuh normal Tumbuh penuh normal
Silia Entropion (-) Entropion (-)
Ektropion (-) Ektropion (-)
Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Distrikiasis (-) Distrikiasis (-)
Palpebra superior Oedem (+) Oedem (-)
Hiperemis (+) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Vesikel (-) Vesikel (-)
Skuama (-) Skuama (-)
Pseudoptosis (-) Pseudoptosis (-)
Fisura Palpebra Normal Normal

6
Palpebra inferior Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Spasme (-) Spasme (-)
Udem (-) Udem (-)
Konjungtiva Sekret (-) Sekret (-)
Hiperemis (+) Hiperemis (-)
palpebra superior
Cobble stone (-) Cobble stone (-)
Giant papil (-) Giant papil (-)
Udem (+) Udem (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Konjungtiva Sekret (-) Sekret (-)
Hiperemis (+) Hiperemis (+)
palpebra inferior
Folikel (-) Folikel (-)
Cobble stone (-) Cobble stone (-)
Giant papil (-) Giant papil (-)
Udem (-) Udem (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Konjungtiva forniks Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (-)
Injeksi silier (+) Injeksi silier (-)
dan bulbi
Sekret (-) Sekret (-)
Corpus alienum (-) Corpus alienum (-)
Sklera Ikterik (-) Ikterik (-)
Kornea Jernih Jernih
Infilrat (-) Infilrat (-)
Ulkus (-) Ulkus (-)
Sensibilitas kornea (+) Sensibilitas kornea (+)
Udem (-) Udem (-)
Neovaskularisasi (-) Neovaskularisasi (-)
COA Jernih Jernih
Tindal efek (-) Tindal efek (-)
Kedalaman bagian bayangan pada Kedalaman bagian bayangan pada
iris iris
Iris Kripte tidak melebar Kripte tidak melebar
Neovaskularisasi (-) Neovaskularisasi (-)
Sinekia anterior (-) Sinekia anterior (-)
Udem (-) Udem (-)
Pupil Bulat, Sentral, Reguler Bulat, Sentral, Reguler
Isokor Isokor
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
Refleks direk/indirek (+/+) N Refleks direk/indirek (+/+) N
Lensa Kekeruhan (-) Kekeruhan (-)
Bentuk bikonveks Bentuk bikonveks
Fundus Refleks Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Lapang pandang Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tekanan bolamata Tidak dilakukan Tidak dilakukan
digital
Tes Fluorescein Tidak dilakukan Tidak dilakukan

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

8. RESUME :

7
Seorang wanita datang ke poli mata RS Roemani dengan keluhan mata
kanan nyerocos. Keluhan ini dirasakan tadi malam saat mengendarai motor
sehabis pulang kerja. Pasien sudah berobat ke dokter tetapi belum
membaik.HMRS pasien mengeluh mata kanan berair dan mengganjal, mata
merah sebelah kanan (-), gatal (-), secret (-), silau jika terkena matahari (-),
kelopak mata bengkak (+), gatal (-), pandangan kabur (-), pusing(-), dan
demam (-).Pasien mengatakan sering menggunakan obat tetes mata untuk
menghilangkan rasa perih dan menggunakan lensa kontak untuk bekerja.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan didapatkan Tanda vital, status general
dalam batas normal, sedangkan pada status lokalis didapatkan visus OD dan
OS 20/200, oedem dan hiperemis pada palpebra superior OD, oedem dan
hiperemis pada konjungtiva palpebra OD, mixed injeksi pada konjungtiva
forniks dan bulbi OD.

9. DAFTAR MASALAH
No Masalah Aktif

1. Penglihatan menurun
2. Mata nerocos
3. Mata mengganjal
4. Mata Oedem

Deferensial Diagnosis : OD Keratokonjungtivitis


OD Keratitis
OD Blefaritis

IV. INISIAL PLAN


Ip. Dx :
OD Keratokonjungtivitis
Ip. Tx :
Kloramfenikol eye drop
Tetrasiklin oral 500 mg
Ip. Mx :
Monitoring gejala klinis 1 minggu yang akan datang.
Ip. Ex :
Penggunaan antibiotik ditujukan untuk memperbaiki lapisan
lemak pada tear film
Mengurangi intensitas membaca terlalu lama.

8
Menghindari mata dari paparan debu, asap, dan AC.
Menghindari penggunaan kontak lensa
Menghindari untuk mengucek mata.
Perbanyak istirahat.
Kompres air hangat selama 10-15 menit 3-4 kali sehari.

V. PROGNOSIS
OD OS

Quo ad visam Ad bonam Ad bonam

Quo ad vitam Ad bonam Ad bonam

Quo ad sanam Dubia Dubia

Quo ad cosmeticam Ad bonam Ad bonam

9
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

1. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Kornea
Kornea adalah jaringan transparan yang merupakan selaput bening
mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata sebelah depan dan
terdiri dari 5 lapisan. lapisan tersebut antara lain lapisan epitel (yang
bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma,
membran Descement dan lapisan endotel. Batas antara sklera dan kornea
disebut limbus kornea. Kornea juga merupakan lensa cembung dengan
kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Jika terjadi oedem kornea akan
bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita
akan melihat halo.1,2
Lapisan epitel
Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, sel muda terdorong kedepan
menjadi lapisan sel poligonal dan semakin maju ke depan menjadi sel
gepeng. Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel
poligonal didepannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini
menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila
terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari
ektoderm permukaan.1

10
Membran bowman
Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.1
Jaringan sroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar
satu dengan yang lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur,
sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang. Terbentuknya kembali
serat kolagen memakan waktu yang kadang-kadang sampai 15 bulan.
Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast yang
terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan
dasar serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.1
Membran Descement
Merupakan membran aseluler dan merupakan batas belakang
stroma kornea yang bersifat sangat elastis dan tebalnya sekitar 40 m.1
Endotel
Berasal dari mesotelium, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.
Endotel melekat pada membran descement melalui hemidoson dan zonula
okluden.1
Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal
dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus
berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran
bowman melepaskan selubung schwannya. Bulbus krause untuk sensasi
dingin ditemukan diantaranya. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di
daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Sumber nutrisi kornea adalah
pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquos dan air mata. Kornea
superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya yang seragam,
avaskularitas dan deturgensinya.2
Gambar 1. Anatomi Kornea Gambar 2. Anatomi Konjungtiva

11
Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis
yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva
bulbaris).Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak
(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus.
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:2
1 Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).
2 Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata).
3 Konjungtiva forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara
bagian posterior palpebra dan bola mata).2
Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak
mata dan melekat erat ke tarsus.Di tepi superior dan inferior tarsus,
konjungtiva melipat ke posterior (pada fornices superior dan inferior) dan
membungkus jaringan episklera dan menjadi konjungtiva
bulbaris.Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di
fornices dan melipat berkali-kali.Pelipatan ini memungkinkan bola mata
bergerak dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik.(Duktus-
duktus kelenjar lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior.)Kecuali
di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm),
konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di
bawahnya. Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula)

12
menempel superfisial ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan
zona transisi yang mengandung elemen kulit dan membran mukosa.2
Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva
palpebra. Tetapi hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan
membentuk lekukan-lekukan.Juga mengandung banyak pembuluh
darah.Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila
terdapat peradangan mata. Jika dilihat dari segi histologinya, lapisan epitel
konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder
bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat
limbus, di atas karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada
tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.Sel-sel epitel
superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi
mukus.Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk
dispersi lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel
basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superfisial dan di dekat limbus
dapat mengandung pigmen.2
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid
(superfisial)dan satu lapisan fibrosa (profundus).Lapisan adenoid
mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung
struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum.Lapisan adenoid
tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan.Hal ini
menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler
bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler.Lapisan fibrosa
tersusun dari Jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus.Hal
ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang
konjungtiva.Lapisanfibrosa tersusun longgar pada bola mata.Kelenjar
airmata asesori (kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan funginya
mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma.Sebagian besar kelenjar
Krause berada di forniks atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar
Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas.2
2. KERATOKONJUNGTIVITIS

13
A. DEFINISI
Keratokonjungtivitis adalah peradangan ("-itis") dari kornea dan
konjungtiva. Ketika hanya kornea yang meradang, hal itu disebut keratitis,
ketika hanya konjungtiva yang meradang, hal itu disebut konjungtivitis.1,2

B. KLASIFIKASI
Keratokonjunctivitis sicca digunakan ketika peradangan karena
kekeringan. ("Sicca" berarti "kering" dalam konteks medis.)Hal ini terjadi
dengan 20% pasien RA.
- Istilah "Vernal keratokonjunctivitis" (VKC) digunakan untuk merujuk
keratokonjungtivitis terjadi di musim semi, dan biasanya dianggap
karena alergen.
- Atopik keratokonjunctivitis adalah salah satu manifestasi dari atopi.
- Epidemi keratokonjunctivitis disebabkan oleh adenovirus infeksi.
- Keratokonjungtivitis limbus superior diduga disebabkan oleh trauma
mekanik

C. ETIOLOGI
Konjungtivitis dapat diakibatkan oleh virus, bakteri, fungal,
parasit, toksik, chlamydia, kimia dan agen alergik. Konjungtivitis viral
lebih sering terjadi daripada konjungtivitis bakterial. Insidensi
konjungtivitis meningkat pada awal musim semi. Etiologi konjungtivitis
dapat diketahui berdasarkan klinis pasien. Pada tingkat seluler terdapat
infiltrat seluler dan eksudat pada konjungtiva. Etiologi keratitis superfisial
antara lain adalah infeksi (bakteri, viral, dan fungal), degeneratif (dry eye,
defek neurotropik atau berhubungan dengan penyakit sistemik), toksik dan
alergi. Morfologi dan distribusi lesi pada kornea dapat membantu
mengetahui penyebab keratitis. Ada beberapa penyebab potensial
keratokonjungtivitis yaitu kekeringan, infeksi virus, manifestasi dari atopi
atau allergen maupun trauma mekanik.

D. PATOFISIOLOGI
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1
terhadap alergen.Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang

14
terhadap IgE terjadi, menyebabkan degranulasi dari sel mast dan
permulaan dari reaksi bertingkat dari peradangan. Hal ini menyebabkan
pelepasan histamin dari sel mast, juga mediator lain termasuk triptase,
kimase, heparin, kondroitin sulfat, prostaglandin, tromboksan, dan
leukotrien. histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasinosiseptor,
menyebabkan rasa gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi,
kemerahan, dan injeksi konjungtiva.2,3

Konjungtivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun


penjamu dan kontaminasi eksternal.Patogen yang infeksius dapat
menginvasi dari tempat yang berdekatan atau dari jalur aliran darah dan
bereplikasi di dalam sel mukosa konjungtiva.Kedua infeksi bakterial dan
viral memulai reaksi bertingkat dari peradangan leukosit atau limfositik
meyebabkan penarikan sel darah merah atau putih ke area tersebut. Sel
darah putih ini mencapai permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana
dengan berpindah secara mudahnya melewati kapiler yang berdilatasi dan
tinggi permeabilitas.3

Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel


yang menutupi konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk
terjadinya infeksi. Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi (tear-
film immunoglobulin dan lisozyme) yang merangsang lakrimasi.3

E. MANIFESTASI KLINIS DAN DIAGNOSIS


a. Keratokonjungtivitis Sicca
Keratokonjungtivitis sicca ditandai oleh hyperemia konjungtiva
bulbaris (terutama pada aperture palpebral) dan gejala-gejala iritasi yang
jauh lebih berat daripada tanda-tanda peradangannya yang ringan.Keadaan
ini sering berawal sebagai konjungtivitis ringan dengan secret
mukoid.Lesi-lesi epitel bebercak muncul di kornea, lebih banyak di
belahan bawahnya, dan mungkin tampak filament-filamen. 2

15
Nyeri makin terasa menjelang malam hari, tetapi hilang atau hanya ringan
di pagi hari.Film air mata berkurang dan sering mengandung berkas
mucus. 2
b. Keratokonjungtivitis Vernal
Pasien umumnya mengeluh sangat gatal dengan kotoran mata
berserat-serat.Biasanya terdapat riwayat alergi di keluarganya (hay fever,
asma, atau eksim), dan terkadang disertai riwayat alergi pasien itu sendiri.
Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus
di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebralis superior sering
menampilkan papilla raksasa mirip batu kali.Setiap papil raksasa
berbentuk polygonal, dengan atap rata dan mengandung berkas kapiler. 2
Mungkin terdapat kotoran mata berserabut dan pseudomembran fibranosa
(tanda Maxwell-Lyons). Pada beberapa kasus terutama pada orang negro
turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di limbus, yaitu
pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (kabut
serupa-busur) sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus.Bintik-
bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada
beberapa pasien dengan fase aktif keratokonjungtivitis vernal.Mungkin
terbentuk ulkus kornea superfisial (perisai) (lonjong dan terletak di
superior) yang dapat berakibat parut ringan di kornea.Keratitis epithelial
difus yang khas sering kali terlihat. 2
c. Keratokonjungtivitis Atopik
Pasien dermatitis atopic (eksim) sering kali juga menderita
keratokonjungtivitis atopic.Tanda dan gejalanya adalah sensasi terbakar,
pemgeluaran secret mukoid, merah dan fotofobia. Tepian palpebranya
eritematosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu. Terdapat papilla-
papila halus, tetapi papilla raksasa kurang nyata dibandingkan pada
keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di tarsus inferior
berbeda dengan papilla raksasa keratokonjungtivitis vernal yang berada di
tarsus superior. 2

16
Tanda-tanda kornea yang berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit
setelah eksaserbasi konjungtivitis terjadi berulang kali.Timbul keratitis
perifer superfisial yang diikuti dengan vaskularisasi.Pada kasus yang berat,
seluruh kornea tampak kabur dan mengalami vaskularisasi, ketajaman
penglihatan pun menurun. 2
Biasanya ada riwayat alergi (hay fever, asma, atau eksim) pada pasien atau
keluarganya.Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopic berlangsung
berlarut-larut dan sering mengalami eksaserbasi dan remisi.Seperti
keratokonjungtivitis vernal, penyakit ini cenderung kurang aktif pada
pasien setelah berusia 50 tahun. 2
d. Keratokonjungtivitas Epidemi
Keratokonjungtivitas epidemika umumnya bilateral.Awalnya
sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada
awalnya, terdapat injeksi konjungtiva, nyeri sedang dan berair mata; dalam
5-14 hari kan diikuti oleh fotofobia, keratitis epithelial dan kekeruhan
subepitel yang bulat. Sensasi kornea normal dan terdapat nodus
preaurikular dengan nyeri tekan khas. Edema palpebral, kemosis dan
hyperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan perdarahan
konjungtiva yang sering muncul dalam 48 jam.Dapat terbentuk
pseudomembarn (sesekali membrane sejati) dan mungkin disertai, atau
diikuti, parut datar atau pembentukan simblefaron. 2
Konjungtivitisnya berlangsung paling lama 3-4 minggu.kekeruhan
subepitel terutama terfokus di pusat kornea, biasanya tidak pernah ke
tepian; menetap berbulan-bulan, tetapi sembuh tanpa parut. 2
Keratokonjungtivitis epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian
luar mata, tetapi pada anak-anak mungkin terdapat gejala-gejala sistemik
infeksi virus, seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare. 2
e. Keratokonjungtivitas Limbus Superior
Keratkonjungtivitas limbus superior umumnya bilateral dan
terbatas pada tarsus superior dan limbus superior.Keluhan utamanya
adalah iritasi dan hyperemia. Tanda-tandanya adalah hipertrofi papilar

17
tarsus superior, kemerahan pada konjungtiva bulbari superior, penebalan
dan kreatinisasi limbus superior, keratitis epithelial, filament superior yang
rekuren, dan mikropannus superior.2
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus,
pemeriksaan eksternal dan slit-lamp biomikroskopi. Pemeriksaan eksternal
harus mencakup elemen berikut ini:2
Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan
warna, malposisi, kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis,
perubahan sikatrikal, simblepharon, massa, secret
Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati
terhadap: 2
Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, sisa
kulit berwarna darah, keratinisasi
Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu
Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, secret
Konjungtiva tarsal dan forniks: Adanya papila, folikel dan
ukurannya; perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan
simblepharon; membran dan psudomembran, ulserasi, perdarahan,
benda asing, massa, kelemahan palpebra
Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis,
kelemahan, papila, ulserasi, luka, flikten, perdarahan, benda asing,
keratinisasi
Kornea: Defek epithelial, keratopati punctata dan keratitis dendritik,
filament, ulserasi, infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan
flikten, vaskularisasi, keratik presipitat
Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea

18
Keratokonjungtivitis
alergi Keratokonjungtivitis epidemika

Keratokonjungtivitis limbus superior Keratokonjungtivitisvernalis

19
DIAGNOSIS BANDING

F. PENATALAKSANAAN
Masing-masing jenis konjungtiva memberikan gejala klinis yang
berbeda.Penatalaksanaan keratokonjungtivitis tergantung pada berat

20
ringannya gejala klinik.Pada kasus ringan sampai sedang, cukup diberikan
obat tetes mata tergantung jenis penyebabnya seperti pada
keratokonjungtivitis akibat alergi dapat diberikan anti histamin topikal dan
dapat ditambahkan vasokontriktor, kemudian dilanjutkan dengan
stabilasator sel mast. Pada kasus yang berat dapat dikombinasi dalam
pengobatannya ataupun dilakukan pembedahan.1,2
Pada konjungtivitis virus yang merupakan self limiting disease
penanganan yang diberikan bersifat simtomatik serta dapat pula diberikan
antibiotic tetes mata (chloramfenikol) untuk mencegah infeksi bakteri
sekunder. Steroid tetes mata dapat diberikan jika terdapat lesi epithelial
kornea, namun pemberian steroid hanya berdasarkan pengawasan dokter
spesialis mata karena bahaya efek sampingnya cukup besar bila digunakan
berkepanjangan, antara lain infeksi fungal sekunder, katarak maupun
glaucoma.4
Penanganan primer keratokonjungtivitis epidemika ialah dengan
kompres dingin dan menggunakan tetes mata astrigen.Agen antivirus tidak
efektif.Antibiotic topical bermanfaat untuk mencegah infeksi sekunder.
Steroid topical 3 kali sehari akan menghambat terjadinya infiltrate kornea
subepitel atau jika terdapat kekeruhan pada kornea yang mengakibatkan
penurunan visus yang berat, namun pemakaian berkepanjangan akan
mengakibatkan sakit mata yang berkelanjutan. Pemakaian steroid harus di
tapering off setelah pemakaian lebih dari 1 minggu.1,5
Penanganan konjungtivitis bakteri ialah dengan antibiotika topical
tetes mata (misalnya kloramfenikol) yang harus diberikan setiap 2 jam
dalam 24 jam pertama untuk mempercepat proses penyembuhan,
kemudian dikurangi menjadi setiap empat jam pada hari berikutnya.
Penggunaan salep mata pada malam hari akan mengurangi kekakuan pada
kelopak mata di pagi hari. Antibiotik lainnya yang dapat dipilih untuk
gram negative ialah tobramisin, gentamisin dan polimiksin; sedangkan
untuk gram positif icefazolin, vancomysin dan basitrasin.2

21
Penanganan infeksi jamur ialah dengan natamisin 5 % setiap 1-2
jam saat bangun, atau dapat pula diberikan pilihan antijamur lainnya yaitu
mikonazol, amfoterisin, nistatin dan lain-lain.1
Penanganan keratokonjungtivitis sicca tergantung pada
penyebabnya. Pemberian air mata buatan bila kurang adalah komponen
air, pemberian lensa kontak apabila komponen mucus yang berkurang, dan
penutupan punctum lakrima bila terjadi penguapan yang berlebihan.1

G. KOMPLIKASI
Kebanyakan konjungtivitis dapat sembuh sendiri, namun apabila
konjungtivitis tidak memperoleh penanganan yang adekuat maka dapat
menyebabkan komplikasi:1
a Blefaritis marginal hingga krusta akibat konjungtivitis akibat
staphilococcus
b Jaringan parut pada konjungtiva akibat konjungtivitis chlamidia
pada orang dewasa yang tidak diobati adekuat
c Keratitis punctata akibat konjungtivitis viral
d Keratokonus (perubahan bentuk kornea berupa penipisan kornea
sehingga bentuknya menyerupai kerucut) akibat konjungtivitis
alergi.
e Ulserasi kornea marginal, perforasi kornea hingga endoftalmitis
dapat terjadi pada infeksi N. gonorrhoeae, N. kochii, N.
meningitidis, H. aegypticus, S. aureus dan M. catarrhalis.
f Pneumonia terjadi 10-20 % pada bayi yang mengalami
konjungtivitis chlamydia
g Meningitis dan septikemia akibat konjungtivitis yang diakibatkan
meningococcus.

H. PROGNOSIS

Prognosis pada kasus keratokonjungtivitis tergantung pada berat


ringannya gejala klinis yang dirasakan pasien, namun umumnya baik
terutama pada kasus yang tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada
kornea.2

22
DAFTAR PUSTAKA

23
1 Ilyas DSM, Sidarta,. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2006.
2 Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000.
3 American Academy of Ophthalmology. Preferred practice pattern:
conjunctivitis, 2nd ed. San Francisco, CA: American Academy of
Ophthalmology; 2003.
4 Scott IU and Luu K. Conjunctivitis, viral.
http://www.emedicine.medscape.com/article/1197851. [Online] Emedicine,
April 2012.
5 Bawazeer A and Hodge WG. Keratoconjunctivitis Epidemic.
http://emedicine.medscape.com/article/1192751-print. [Online] Emedicine.
January 7, 2008.
6 Yanoff, Myron, Duker JS and Augsburger JJ. Opthalmology 2nd edition:
Mosby, 2003.

24