Anda di halaman 1dari 12

SISTEM PEMERINTAHAN

SAUDI ARABIA
SISTEM PEMERINTAHAN SAUDI ARABIA

1. A. Sejarah

Arab Saudi atau Kerajaan Arab Saudi adalah negara Arab yang terletak di Jazirah Arab.
Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan gurun pasir
yang terbesar adalah Rub Al Khali. Orang Arab menyebut kata gurun pasir dengan kata
sahara. Negara Arab Saudi ini berbatasan langsung (searah jarum jam dari arah utara) dengan
Yordania, Irak, Kuwait, Teluk Persia, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, dan Laut Merah.

Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Saud memproklamasikan
berdirinya Kerajaan Arab Saudi atau Saudi Arabia (Al-Mamlakah Al-Arabiyah Al-
Suudiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd (Nejed), Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul
Aziz kemudian menjadi raja pertama pada kerajaan tersebut. Dengan demikian dapat
dipahami, nama Saudi berasal dari kata nama keluarga Raja Abdul Aziz Al-Saud

Secara histories dikenal bahwa bangsa Arab sebelum Islam mereka hidup dalam kegelapan
moral, yaitu sifat saling membunuh, merebut kekuasaan, dan keangkuhan kesukuan, atau
golongan. Dengan moral yang kurang sosialisitis seperti itu, maka keberadanaan Islam yang
disamapaikan oleh Nabi Muhammad saw, dengan Alquran sebagai wahyu. Tugas utama
Nabi Muhammad SAW., adalah menyempurnakan budi pekerti.

Permasalahan sosial terutama persoalan-persoalan yang menyentuh aspek hukum Alquran


adalah dasar penggalian hukum. Bahkan jika kasus hukum itu tidak ada dasarkan hukumnya
Nabi Muhammad SAW., menunggu wahyu, seperti kasus kewarisan. Setelah wafat Nabi
Muhammad SAW., kekuasaan Islam berturut-turut dipegang oleh empat sahabat nabi, yaitu
Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Usman bin Afwan dan Alibin Abi Tahalib. Alquran
sebagai undang-undang dasar dan syariah sebagai hukum dasar.

Demikian juga, pada masa kerajaan Umayah dan kerajaan Abassiyah Alquran, tetap sebagai
Undang-Undang Dasar sedangkan syariah sebagai hukum resmi Negara, jika persoalan
hukum tidak didapatkan dalam ketiga sumber hukum tersebut maka ditempuh jalan ijtihad.
Dasar yang sama juga digunakan oleh kerajaan-kerjaan Islam setelah runtuhnya kedua
kerajaan Islam terebesar tersebut. Termasuk kerajaan Turki Usmani yang pernah menguasai
sepertiga dunia terutama dunia Islam, sebelum terjadi pembaharuan hukum oleh Kamal
Antatur.
Akar sejarah Kerajaan Arab Saudi bermula sejak abad ke-12 H atau abad ke18 M. Ketika itu,
di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd yang secara historis sangat terkenal,
lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di Ad-
Diriyah, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744 M dan meliputi
hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia. Negara ini memikul di pundaknya tanggung
jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Taala, mencegah
prilaku bidah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salaf Shalih, dan berpegang teguh
kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Arab Saudi ini berakhir
pada tahun 1233 H/1818 M. Periode kedua dimulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan
Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M. Periode ini berlangsung hingga tahun 1309
H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz Rahimahullah berhasil
mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika beliau merebut kembali kota
Riyadh yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini. Semenjak itulah Raja Abdul Aziz
mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam
sejarah Arab modern, yaitu ketika beliau berhasil mengembalikan suasana keamanan dan
ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh
wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama
Kerajaan Arab Saudi. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351
H/1932 M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.

Raja Abdul Aziz Al-Saud Rahimahullah pada saat itu menegaskan kembali komitmen para
pendahulunya, raja-raja dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip
Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang
sangat luas, mengamankan perjalan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan
para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan
solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum
muslimin, serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak langkahnya dalam
memimpin Kerajaan Arab Saudi. Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja
Fahd, semoga Allah merahmati mereka semuanya, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah
bin Abdul Aziz, semoga Allah melindunginya.

1. B. Sistem Pemerintahan

Arab Saudi menggunakan sistem Kerajaan atau Monarki. Sistem pemerintahan yang
digunakan negara ini adalah sistem negara Islam, dimana Alquran dan Syariat menjadi dasar
dari pemerintahan yang dijalankan Sistem pemerintahan Arab Saudi sendiri adalah
presidensil karena dipimpin oleh seorang raja. Raja selain menjadi kepala negara juga
memiliki beberapa peran disini sehingga sistem pemerintahanya disebut juga sebagai monarki
absolut. Raja Arab Saudi memiliki beberapa peran :
Kepala Negara
Perdana Menteri
Panglima Angkatan Perang
Penjaga dua tempat suci
Mengangkat/Memberhentikan Dewan Menteri
Menafsirkan hukum Arab Saudi tidak mengenal sistem kepartaian.

Tidak ada pemilihan umum, kalaupun ada hanya untuk memilih pemimpin lembaga
legislatif dan yudikatif yang ditentukan oleh raja. Arab Saudi memiliki tiga lembaga yaitu
Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. -Badan Eksekutif Disebut juga sebagai Dewan
Menteri Pemerintahan Arab Saudi. Beranggotakan Raja sebagai perdana menteri, wakil
perdana menteri, menteri menteri negara dan penasihat raja. Berikut nama-nama raja yang
pernah memerintah Arab Saudi:
1. Raja Abdul Aziz (Ibnu Saud), pendiri kerajaan Arab Saudi: 1932 1953
2. Raja Saud, putra Raja Abdul Aziz : 1953 1964 (kekuasaannya diambil

alih oleh saudaranya, Putera Mahkota Faisal)


3. Raja Faisal, putra Raja Abdul Aziz : 1964 1975 (dibunuh oleh

keponakannya, Faisal bin Musaid bin Abdul Aziz)


4. Raja Khalid, putra Raja Abdul Aziz : 1975 1982 (meninggal karena

serangan jantung)
5. Raja Fahd, putra Raja Abdul Aziz : 1982 2005 (meninggal karena sakit

usia tua)
6. Raja Abdullah, putra Raja Abdul Aziz : 2005-sekarang.

Jenis kekuasaan: Monarki (Transisi ke arah Konstitusional sejak 2002)

Konstitusi Arab Saudi adalah Al Quran dan Sunnah. Hukum dasar negara adalah Syariah
Islam. Dalam aplikasi pemerintahan, Raja menjadi sumber otoritas bagi setiap otoritas politik
yang ada di Arab Saudi. Raja juga berhak menafsirkan hukum setelah menjalani sejumlah
konsultasi dan menjalin konsensus. Konsultasi dan konsensus ini juga menjadi dasar hukum
di bawah Syariah. Menurut hukum dasar Arab Saudi tahun 1992, terdapat sekurangnya 4
otoritas (subordinat raja) di dalam negara: Dewan Menteri, Dewan Konsultatif, Pengadilan,
dan Ulama.

Bentuk negara: Kesatuan (Sentralis)

Pemerintahan Arab Saudi terbagi atas 13 mintaqah (propinsi) yang diperintah langsung oleh
Raja, yaitu: Al Bahah, Al Hudud ash Shamaliyah (a.k.a.Northern Border), Al Jawf, Al
Madinah (a.k.a. Medina), Al Qasim, Ar Riyad (a.k.a. Riyadh), Ash Sharqiyah (a.k.a. Eastern),
Asir, Hail, Jizan, Makkah (a.k.a. Mecca), Najran, dan Tabuk.. Undang-undang, pejabat
pemerintah, dan pengadilan seluruhnya ada dibawah otorisasi Raja.

Sistem pemerintahan: Presidensil (Raja)


Raja selain selaku kepala negara, ia juga merupakan perdana menteri, panglima tertinggi
angkatan perang, penjaga dua tempat suci (Mekkah dan Madinah), mengangkat dan
memberhentikan Dewan Menteri, menafsirkan hukum. Otoritas politik tertinggi di bawah raja
adalah putra mahkota. Putra mahkota ini ditentukan oleh raja, asalkan tetap diambil dari
keturunan Abdul Aziz. Putra mahkota bahkan dapat memerintah atas nama raja, bahkan
sebelum mahkota diestafetkan. Dewan Menteri bertindak selaku legislatof dan eksekutif
pelaksana raja. Kedua peran ini didasarkan atas restu raja. Hukum yang ditetapkan dewan
menteri akan menjadi hukum aplikatif dalam 30 hari, kecuali raja memvetonya. Umumnya,
para anggota dewan menteri pun keturunan Abdul Aziz. Majlis asShura adalah dewan
konsultatif. Anggotanya sekitar 120 orang. Tugas mereka adalah memberi nasehat kepada
raja. Anggota majelis ini pun diangkat dan diberhentikan oleh raja. Di Indonesia, majelis ini
mirip Wantimpres. Lembaga pengadilan (yudikatif) menurut hukum dasar Arab Saudi
haruslan independen. Kepala pengadilan biasanya berasal dari bangsawan ataupun keturunan
al-Wahhab. Menteri Kehakiman Arab Saudi biasanya juga menjadi Grand Mufti. Setiap
hakim diangkat dan diberhentikan oleh Raja. Ulama adalah lembaga yang ada dalam hukum
dasar Arab Saudi yang fungsinya menjadi metode penafsiran hukum Islam yaitu Ijma
(konsensus) dan Shura (Konsultasi). Anggota Ulama terdiri atas keturuan Abdul Aziz dan al-
Wahhab. Ulama ini dikepalai oleh Grand Mufti.

Parlemen: Unikameral (Council of Ministers)

Sebenarnya Council of Minister (CoM) bukanlah parlemen layaknya di negara-negara


demokrasi a la Barat. Ia lebih mirip quasi-legislative dan tidak primus interpares dengan
raja. Dewan Menteri bertindak selaku legislator dan eksekutif pelaksana raja. Kedua peran ini
didasarkan atas restu raja. Hukum yang ditetapkan dewan menteri akan menjadi hukum
aplikatif dalam 30 hari, kecuali raja memvetonya. Umumnya, para anggota dewan menteri
pun keturunan Abdul Aziz.

1. C. Macam-macam Hukuman

1. Hukum Pancung

Apabila ada salah seorang masyarakat yang berani membunuh sesama manusia, maka dia
akan mendapatkan hukuman pancung atau hukuman mati (qishas). Adapun pengertian qisas
(bahasa arab: )adalah istilah dalam hukum islam yang berarti pembalasan (memberi
hukuman yang setimpal), mirip dengan istilah hutang nyawa dibayar nyawa. Dalam kasus
pembunuhan, hukum qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta
hukuman mati kepada pembunuh.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 178 di jelaskan bahwa :

Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu hukum qishash pada orang-
orang yang terbunuh; orang merdeka dengan orang merdeka , dan hamba sahaya dengan
hamba sahaya dan perempuan dengan perempuan. Akan tetapi barangsiapa yang
diampunkan untuknya dari saudaranya sebahagian, maka hendaklah mengikuti dengan yang
baik, dan turiaikan kepadanya dengan cara yang baik. Demikianlah keringanan daripada
Tuhanmu dan rahmat. Tetapi barangsiapa yang (masih) melanggar sesudah demikian, maka
untuknya adalah azab yang pedih.

Dari ayat ini, ada perkecualian hukum qisas yaitu apabila keluarga korban memaafkan.
Sebagai pemaaf tersebut, pembunuh mengganti denda dengan 100 ekor unta, 40 diantaranya
unta yang sedang hamil. Kalau dirupiahkan mencapai Rp 4,7 miliar. Adapun sebab-sebab
turunnya ayat ini yaitu untuk memotong budaya jahiliah yang berkembang sebelum
datangnya Islam. Pada waktu itu, jika ada satu orang dibunuh, maka akan membunuh balik
sang pembunuh hingga ke keluarga pembunuh. Sehingga turunlan ayat ini yang menekankan
asas keseimbangan, yaitu satu nyawa di balas satu nyawa. Bukan satu nyawa di balas satu
keluarga.

1. Penggolongan ini ditinjau dari segi pertalian antara satu hukuman dengan hukuman
yang lainnya, dan dalam hal ini ada empat macam hukuman yaitu:
a. Hukuman pokok (Uqubah Ashliyah)

yaitu hukuman yang ditetapkan untuk jarimah yang bersangkutan sebagai hukuman yang asli,
seperti hukuman qishash untuk jarimah pembunuhan, atau hukuman potong tangan untuk
jarimah pencurian.
b. Hukuman pengganti (Uqubah Badaliyah)

yaitu hukuman yang menggantikan hukuman pokok, apabila hukuman pokok tidak dapat di
laksanakan karena alasan yang sah, seperti hukuman diyat (denda) sebagai pengganti
hukuman qishash.
c. Hukuman tambahan (Uqubah Tabaiyah)

yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok tanpa memerlukan keputusan tersendiri
seperti larangan menerima warisan bagi orang yang melakukan pembunuhan terhadap
keluarga.
d. Hukuman pelengkap (Uqubah Takmiliyah)

yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok dengan syarat ada keputusan tersendiri dari
hakim, dan syarat inilah yang menjadi ciri pemisahnya dengan hukuman tambahan.
Contohnya mengalungkan tangan pencuri yang telah dipotong di lehernya.

1. Penggolongan kedua ini ditinjau dari kekuasaan hakim dalam menentukan berat
ringannya hukuman. Dalam hal ini ada dua macam hukuman:
a. Hukuman yang hanya mempunyai satu batas, artinya tidak ada batas tertinggi atau
batas terendah, seperti hukuman jilid (dera) sebagai hukuman had (80 kali atau 100
kali).
b. Hukuman yang mempunyai batas tertinggi dan batas terendahnya, dimana hakim
diberi kebebasan memilih hukuman yang sesuai antara kedua batas tersebut, seperti
hukuman penjara atau jilid pada jarimah-jarimah tazir.
1. Penggolongan ketiga ini ditinjau dari segi besarnya hukuman yang telah ditentukan,
yaitu:
a. Hukuman yang telah ditentukan macam dan besarnya dimana hakim harus
melaksakannya tanpa dikurangi atau di tambah, atau diganti dengan hukuman yang
lain. Hukuman ini disebut hukuman keharusan.
b. Hukuman yang diserahkan kepada hakim untuk dipilihnya dari sekumpulan
hukuman-hukuman yang ditetapkan oleh syara agar dapat disesuaikan dengan
keadaan pembuat dari perbuatannya. Hukuman ini disebut hukuman pilihan.

1. Penggolongan ditinjau dari segi tempat dilakukannya hukuman, yaitu:


a. Hukuman badan, yaitu yang dijatuhkan atas badan seperti hukuman mati, dera, dan
penjara.
b. Hukuman jiwa, yaitu dikenakan atas jiwa seseorang, bukan badannya, seperti
ancaman, peringatan atau teguran.
c. Hukuman harta, yaitu yang dikenakan terhadap harta seseorang, seperti diyat,
denda dan perampasan harta.

1. Penggolongan kelima ditinjau dari segi macamnya jarimah yang diancamkan


hukuman, yaitu:
a. Hukuman hudud, yaitu hukuman yang ditetapkan atas jarimah-jarimah hudud.
b. Hukuman qishash dan diyat, yaitu yang ditetapkan atas jarimah-jarimah qisas diyat.
c. Hukuman kifarat, yaitu yang ditetapkan untuk sebagian jarimah qishash dan diyat
dan beberapa jarimah tazir.
d. Hukuman tazir, yaitu yang ditetapkan untuk jarimah-jarimah tazir.

1. Hukuman Zina
Zina secara harfiah berarti fahisyah, yaitu perbuatan keji. Secara istilah adalah
hubungan kelamin antara seorang lelaki dengan seorang perempuan juga satu sama
lain tidak terikat dalam hubungan perkawinan. Nabi Muhammad SAW telah
menyatakan bahwa zina merupakan dosa paling besar kedua setelah syirik
(mempersekutukan Allah). Hukuman zina ditetapkan tiga hukuman, yaitu dera,
pengasingan dan rajam. Hukuman dera dan pengasingan ditetapkan untuk pembuat
zina tidak muhshan, dan hukuman rajam dikenakan pada terhadap zina muhshan.
Kalau kedua pelaku zina tidak muhshan keduanya, maka keduanya dijilid atau
diasingkan. Akan tetapi keduanya muhshan keduanya dijatuhi hukuman rajam.
a. Hukuman Jilid
Hukuman jilid seratus kali diancamkan atas perbuatan zina yang dilakukan oleh orang
yang tidak muhshan. Hukuman jilid dijatuhkan untuk mengimbangi faktor psikologis
yang mendorong diperbuatnya jarimah zina, yaitu keinginan untuk mendapatkan
kesenangan. Faktor psikologis penentangnya yang menyebabkan seorang
meninggalkan kenangan tersebut ialah ancaman sengsara yaitu yang ditimbulkan oleh
seratus jilid. Kalau faktor pendorong zina lebih kuat daripada faktor penghalaunya
maka derita hukuman yang dijatuhkan cukup melupakan kesenangan yang sudah
diperoleh, sehingga bisa mendorongnya untuk memikirkannya kembali.
b. Hukuman pengasingan
Terhadap pembuat zina tidak muhshan dikenakan hukuman pengasingan selama satu
tahun selain hukuman jilid.
c. Hukuman rajam
Hukuman rajam ialah hukuman mati dengan jalan dilempari batu dan yang dikenakan
adalah pembuat zina muhshan, baik lelaki maupun perempuan. Hukuman rajam tidak
tercantum dalam Al-Quran, oleh karena itu fuqaha-fuqaha khawarij tidak memakai
hukuman rajam. Menurut jarimah-jarimah zina dikenakan hukuman jilid saja, baik
pelaku muhshan atau belum.
Orang yang sudah muhshan mendapat hukuman lebih berat, yaitu hukuman rajam
karena biasanya keihshanan seseorang cukup menjauhkannya dari pemikiran tentang
perbuatan zina. Akan tetapi kalau ia masih juga memikirkannya maka hal ini
menunjukkan kekuatan birahi dan keinginan akan kelezatan, dan oleh karena itu maka
harus dijatuhi hukuman yang berat, sehingga ketika ia menginginkan jarimah tersebut
terbayang pula derita dan sengsara yang akan menimpa dirinya.
Akan tetapi apabila sudah kawin maka sudah tidak ada jalan bagi jarimah zina, sebab
tali perkawinan itu sendiri bukanlah perkara abadi yang tidak boleh putus, sehingga
oleh karena itu apabila perkawinan tidak dapat dipertahankan lagi, maka suami bisa
menceraikan istri.

1. Hukuman Qadzaf
Salah satu delik pidana dalam hukum pidana Islam, yaitu al Qadzfu. Qadzf secara
harfiah berarti melemparkan sesuatu. Istilah qadzaf dalam hukum Islam adalah
tuduhan terhadap seseorang bahwa tertuduh telah melakukan perbuatan zina.
Qadzaf atau fitnah merupakan suatu pelanggaran yang terjadi bila seseorang dengan
bohong menuduh seorang muslim berzina atau meragukan silsilahnya. Sanksi bagi
yang menuduh orang banyak melakukan zina dengan berulang kali ucapan adalah
hadd yang berulang kali pula sesuai dengan jumlah pengulangan ucapan yang ia
lakukan, akan tetapi apakah sanksi bagi yang menuduh orang banyak (melakukan
zina) dengan satu kali ucapan itu satu kali hadd atau berulang kali sesuai dengan
jumlah orang yang dituduh.
Jarimah qadzaf dikenakan hukuman pokok, yaitu jilid 80 kali, dan hukuman
tambahan, yaitu tidak menerima persaksian pembuatnya. Hukuman tersebut
dijatuhkan apabila berisi kebohongan. Apabila berisi kebenaran maka tidak ada
jarimah qadzaf. Banyak faktor yang menimbulkan jarimah qadzaf, antara lain iri hati,
dengki, balas dendam dan persaingan. Akan tetapi kesemuanya bertujuan satu, yakni
menghina korban dan melukai hatinya.

1. Hukum Minum Minuman Keras


Jarimah minum minuman keras dijatuhi hukuman 80 jilid. Menurut Imam SyafiI
hukuman jarimah tersebut adalah empat puluh jilid sebagai hukuman had, sedang
empat puluh jilid lainnya tidak termasuk hukuman had, melainkan sebagai hukuman
tazir, artinya sebagai hukuman yang dijatuhkan apabila dipandang perlu oleh hakim.
Faktor yang mendorong seseorang untuk minum khamer ialah keinginannya untuk
melupakan penderita jiwanya dan kenyataan hidupnya untuk menuju mendapatkan
kebahagian khayalan yang ditimbulkan oleh lezatnya khamer. Faktor pendorong ialah
yang diperangi oleh syariat dengan hukuman jilid yang selain menimbulkan derita
kejiwaan juga menimbulkan derita badan.

1. Hukuman Pencurian
Pencurian adalah orang yang mengambil benda atau barang milik orang lain secara
diam-diam untuk dimiliki. Pencurian diancamkan hukuman potong tangan dan kaki,
sesuai dengan firman Allah SW
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari
Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Maidah 38)
Di kalangan fuqaha sudah sepakat bahwa didalam pengertian kata-kata tangan (yad)
termasuk juga kaki. Apabila seseorang melakukan pencurian untuk pertama kalinya,
maka tangan kanannya yang dipotong, dan apabila pencurian tersebut diulangi, maka
kaki kirinya yang dipotong.

1. Hukuman Gangguan Keamanan


Terhadap gangguan keamanan (hirabah) dikenakan empat hukuman, yaitu hukuman
mati biasa, hukuman mati dengan salib, hukuman dengan potong tangan dan kaki dan
pengasingan.

1. Tujuan Hukuman
Tujuan dari penetapan dan penerapan hukuman dalam syariat Islam adalah:
1. Pencegahan ( )
Pengertian pencegahan adalah menahan orang yang berbuat jarimah
agar ia tidak mengulangi perbuatan jarimahnya. Di samping mencegah pelaku,
pencegahan juga mengandung arti mencegah orang lain selain pelaku agar ia
tidak ikut-ikutan melakukan jarimah, sebab ia bisa mengetahui bahwa
hukuman yang dikenakan kepada pelaku juga akan dikenakan terhadap orang
lain yang juga melakukan perbuatan yang sama.
Menurut Ibn Hammam dalam fathul Qadir bahwa hukuman itu untuk
mencegah sebelum terjadinya perbuatan (preventif) dan menjerakan setelah
terjadinya perbuatan (represif).

2. Perbaikan dan Pendidikan (


)
Tujuan yang kedua dari penjatuhan hukuman adalah mendidik pelaku jarimah agar ia
menjadi orang yang baik dan menyadari kesalahannya. Di sini terlihat bagaimana perhatian
syariat Islam terhadap diri pelaku. Dengan adanya hukuman ini, diharapkan akan timbul
dalam diri pelaku suatu kesadaran bahwa ia menjauhi jarimah bukan karena takut akan
hukuman, melainkan karena kesadaran diri dan kebenciannya terhadap jarimah serta dengan
harapan mendapat rida dari Allah SWT.

3. Kemaslahatan Masyarakat
Memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kejahatan bukan berarti
membalas dendam, melainkan sesungguhnya untuk kemaslahatannya, seperti dikatakan oleh
Ibn Taimiyah bahwa hukuman itu disyariatkan sebagai rahmat Allah bagi hamba-Nya dan
sebagai cerminan dari keinginan Allah untuk ihsan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu,
sepantasnyalah bagi orang yang memberikan hukuman kepada orang lain atas kesalahannya
harus bermaksud melakukan ihsan dan memberi rahmat kepadanya.

Menurut Andi Hamzah dan A. Simanglipu, sepanjang perjalanan sejarah, tujuan pidana dapat
dihimpun dalam empat bagian, yakni:
1. Pembalasan (revenge).
Seseorang yang telah menyebabkan kerusakan dan malapetaka pada orang lain,
menurut alasan ini wajib menderita seperti yang ditimpakan kepada orang lain.
2. Penghapusan Dosa (ekspiation).
Konsep ini berasal dari pemikiran yang bersifat religius yang bersumber dari Allah.
3. Menjerakan (detern).
4. Memperbaiki si pelaku tindak kejahatan (rehabilitation of the criminal).
Pidana ini diterapkan sebagai usaha untuk mengubah sikap dan perilaku jarimun agar
tidak mengulangi kejahatannya.

1. E. Profil Saudi Arabia


Al-Mamlakah al-Arabiyah as-Saudiyah

Bendera Lambang

Motto:

Lagu kebangsaan: Aash Al Maleek


Panjang Umur sang Raja

Ibu kota
Riyadh
(dan kota terbesar)

Bahasa resmi Arab

Pemerintahan Monarki Multak Islam


Raja Abdullah bin Abdulaziz al-Saud

Pangeran Salman bin Abdul-Aziz Al Saud

Persatuan

Luas

Total 2,240,000 km2 (15)

Air (%) dapat dihiraukan

Penduduk

Perkiraan 2006 27.019.731 (46)

Sensus 2004 25.100.430

Kepadatan 11/km2 (169)

PDB (KKB) Perkiraan 2005

Total US$576,4 miliar (24)

Per kapita US$15.338 (46)

Mata uang Riyal (SAR)

Zona waktu (UTC+3)

Musim panas (DST) (UTC+3)

Ranah Internet .sa


Kode telepon 966
DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi

http://yanluamohdar2010.blogspot.com/2012/03/sistem-hukum-arab-saudi.html

http://setabasri01.blogspot.com/2012/05/bentuk-negara-dan-sistem-pemerintahan_12.html

http://tafsiralazhar.net46.net/myfile/S-Al-Baqoroh/al-baqoroh_ayat_178_179.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/Qisas

http://oemiy.wordpress.com/2010/12/30/macam-macam-hukuman-dalam-hukum-pidana-
islam/