Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PERBANDINGAN ADMINISTRASI NEGARA ARAB SAUDI

PERBANDINGAN
ADMINISTRASI
NEGARA
ARAB SAUDI

OLEH :
MOHAMMAD NAWAWI (712.1.1.1830)
MOHAMMAD YANTO (712.1.1.1831)
NUR HIKMAH (712.1.1.1833)
SEMESTER V C

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU


POLITIK
UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP
2014 - 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Perbandingan Administrasi Negara
Arab Saudi.
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah PAN
FISIP Universitas Wiraraja Sumenep.

Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya
kepada :

1. Bapak Hasan Basri yang sudah memberikan tugas dan petunjuk kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
2. Teman-teman yang sudah membantu
3. Rekan-rekan semua di Kelas C PAN FISIP Universitas Wiraraja Sumenep
4. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah
memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis dalam
menyelesaikan makalah ini
5. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam
penulisan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal Alamiin.

Sumenep, okt 2014

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Arab Saudi dikenal sebagai salah satu Negara muslim terbesar dan dikenal pula sebagai
tempat awal mula Islam masuk. Kemudian Negara ini juga dikenal sebagai Negara yang
menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai dasar konstitusinya dengan Madzhab Hanbali sebagai
madzhab Negara, Tahir Mahmood meng-kategorikan Saudi Arabia pada negara-negara yang
menerapkan hukum Islam secara tradisional, di mana hukum Islam tidak beranjak menjadi
sebuah peraturan perundang-undangan. Dengan melihat latar belakang sejarah hukum Islam,
wilayah jazirah Arab awalnya menganut mazhab Maliki[1]. Hal-hal di atas be rimplikasi
pada penerapan hukum publik maupun hukum privat di Negara tersebut khususnya hukum
keluarga. Maka di sini pemakalah akan mencoba mengulas tentang hukum keluarga Islam di
Arab Saudi. Sebelum itu, berikut uraian dan sistem hukum yang diterapkan di Arab Saudi
Arab Saudi atau Saudi Arabia atau Kerajaan Arab Saudi adalah negara Arab yang terletak
di Jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan
gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali. Orang Arab menyebut kata gurun pasir dengan
kata sahara.
Negara Arab Saudi ini berbatasan langsung (searah jarum jam dari arah utara) dengan
Yordania, Irak, Kuwait, Teluk Persia, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, dan Laut Merah.
Pada tanggal 23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa'uddikenal juga
dengan sebutan Ibnu Saudmemproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi atau Saudi
Arabia (al-Mamlakah al-Arabiyah as-Suudiyah) dengan menyatukan wilayah Riyadh, Najd
(Nejed), Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz kemudian menjadi raja pertama pada kerajaan
tersebut. Kelompok kami akan membahas bagaimana Administrasi Negara di arab Saudi

1.2 Rumusan masalah

Untuk mengkaji dan mengulas tentang Perbandingan Administrasi Negara Arab Saudi
Perbandingan Administrasi Negara Arab Saudi, maka diperlukan subpokok bahasan yang saling
berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa ideology, bentuk Negara dan bentuk pemeintahan Arab Saudi?
2. Bagaimana Sistem administrasi dan Sistem Pemerintahan Arab Saudi?
3. Apa Struktur lembaga dan hubungan antar lembaga di arab saudi?
4. Bagaimana Kehidupan Sosial budaya dan ekonomi Arab Saudi?
5. Bagaimana perbandingan Administrasi Arab Saudi dengan Indonesia?
1.3 Tujuan dan manfaat penulisan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas PAN FISIP dan menjawab
pertanyaan yang ada pada rumusan masalah.
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan penulis dan
pembaca tentang Perbandingan Administrasi Negara Arab Saudi dan untuk membuat kita lebih
memahami PAN.
1.4 Metode Penulisan

Penulis memakai metode studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini.
Referensi makalah ini bersumber tidak hanya dari buku, tetapi juga dari media media lain seperti
e-book, web, blog, dan perangkat media massa yang diambil dari internet.

1.5 Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun menjadi tiga bab, yaitu bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab
penutup. Adapun bab pendahuluan terbagi atas : latar belakang, rumusan makalah, tujuan dan
manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab pembahasan
dibagi berdasarkan subbab yang berkaitan dengan Perbandingan Administrasi Negara Arab Saudi
serta fungsi dan membandingkannya dengan indonesia. Terakhir, bab penutup terdiri atas
kesimpulan dan saran.
BAB II
PEMBAHASAN

Nama resmi Arab Saudi adalah Al Mamlakah al-Arabiya as-Suudiyah (Kingdom of Saudi
Arabia). Yang beribukotakan Riyadh, dengan Luas wilayah (km2) : 2.149.690 ---- Populasi
Arab Saudi 25.795.938 per tahun 2005. Sebanyak 93,7% beragama Islam, 3,7% Kristen, 1,1%
Hindu, dan 1% agama lainnya. Etnis terbesar adalah Arab (90%), Afro Asia dan lainnya (10%).

2.1 ideology, bentuk Negara dan bentuk pemerintahan Arab Saudi

Ideologi / falsafah Arab Saudi

Arab Saudi mempunyai ideology/ falsafah Negara yang tertuang dalam Reformasi. Misi
reformasi sudah mewakili inti pokok pemerintah. Sistem ini mengadopsi doktrin dari prinsip
Islam yang benar, yang beredar pada awal kelahiran Islam. aturan Islam, implementasi hukum
Islam (Syariah), mengamalkan kebaikan dan melarang kejahatan, termasuk mereformasi ajaran
Islam danmemurnikannya dari segala penyimpangan Prinsip-prinsip Kerajaan Arab Saudi.
Ideologi Arab Saudi adalah Ideologi Islam, yaitu sistem politik yang berdasar akidah
agama Islam. istilah dan definisi ideologi Islam mempunyai istilah dan definisi yang berbeda-
beda di antara para pemikir terkemuka Islam.
Islam dilahirkan dari proses berfikir yang menghasilkan keyakinan yang teguh terhadap
keberadaan (wujud) Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur Kehidupan, alam semesta dan
seluruh isinya, termasuk manusia. Darinya lahir keyakinan akan keadilan dan kekuasaan Allah
Yang Maha Tahu dan Maha Pengatur, Allah telah mewahyukan aturan hidup, yaitu syariat Islam
yang sempurna dan diperuntukkan bagi manusia. Syariat Islam tersebut bersumber pada Al
Qur'an dan Al Hadist. Dari keyakinan ini tumbuhlah keyakinan akan adanya rasul dari golongan
manusia, yang menuntun dan mengajarkan manusia untuk mentaati penciptanya, dan meyakini
akan adanya hari perjumpaan dengan Allah SWT. Aturan hidup yang dimaksud merupakan
aturan hidup yang bersumber dari wahyu Allah. Aturan ini mengatur berbagai cara hidup
manusia yang berlaku dimana saja dan kapan saja, tidak terikat ruang dan waktu. Dari peraturan
yang mengikat individu ataupun masyarakat dan bahkan sistem kenegaraan. Seluruhnya ada
diatur dalam Islam.

Bentuk negara & bentuk pemerintahan

Bentuk Negara Arab Saudi adalah Kesatuan (Sentralis). Pemerintahan Arab Saudi terbagi
atas 13 propinsi yang diperintah langsung oleh Raja. Undang-undang, pejabat pemerintah, dan
pengadilan seluruhnya ada dibawah otorisasi Raja.
Negara Arab Saudi berbentuk kerajaan, kepala negaranya adalah seorang raja yang dipilih
oleh dan dari keluarga besar Saudi. Nama Arab Saudi diambil dari kabila Saudi. Dalam
jabatannya raja, dia juga merupakan kepala keluarga besar Saudi, yang paling dituakan di antara
kepala-kepala suku (qabilah) yang terdapat dalam wilayah kerajaan, pemuka para ulama dan
yang terakhir sebagai pelayanan dari dua tanah suci, Mekah dan Madinah. Raja dibantu dengan
dewan menteri mengawasi lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan judikatif. Lembaga
legislatif disebut dengan Majlis Syura yang anggota-anggota ditunjuk dan diangkat oleh raja.
Walaupun demikian tidak juga dapat dikatakan kekuasaan raja Arab Saudi itu tanpa batas
(absolut), tetap seperti dalam teori, raja harus tunduk kepada hukum (syariah) jika raja
melanggar syariah (hukum Ilahi) merupakan alasan yang kuat untukk menurunkan raja dari
jabatannya.
Arab Saudi menganut kekuasaan Monarki (Transisi ke arah Konstitusional sejak 2002).
Konstitusi Arab Saudi adalah Al Quran dan Sunnah. Hukum dasar negara adalah Syariah Islam.
Dalam aplikasi pemerintahan, Raja menjadi sumber otoritas bagi setiap otoritas politik yang ada
di Arab Saudi. Raja juga berhak menafsirkan hukum setelah menjalani sejumlah konsultasi dan
menjalin konsensus. Konsultasi dan konsensus ini juga menjadi dasar hukum di bawah Syariah.
Menurut hukum dasar Arab Saudi tahun 1992, terdapat sekurangnya 4 otoritas (subordinat raja)
di dalam negara: Dewan Menteri, Dewan Konsultatif, Pengadilan, dan Ulama.

2.2 Sistem administrasi dan Sistem Pemerintahan Arab Saudi.

Sistem Administrasi Negara Arab Saudi adalah Demokratis :

1. Public Policy dibuat oleh Badan Perwakilan Politik hasil pemilu melalui sistim
2 partai atau banyak partai.
2. Top Public Administrator atau Kepala Pemerintahan atau Badan Administrasi
Negara bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Politik dalam Negara
yang menganut sistim cabinet parlementer seperti Perancis, Nederland,
Inggris, Israel, dsb, ataupun langsung pada rakyat apabila Negara itu
menganut sistim cabinet Presidentil seperti Amerika Serikat.
3. Wewenang Top Public Administrator dibatasi oleh UU dan harus dijalankan
sesuai dengan UU.
4. Top Public Administrator tidak diperkenankan untuk membuat UU.
5. Top Public Administrator tidak mempunyai kekuasaan atas badan yudikatif.
6. Top Public administrator melaksanakan sistim manajemen terbuka, yaitu
menyelenggarakan social participation, social responsility, social support dan
social control, seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dsbnya.
7. Komunikasi dalam pemerintahan atau administrasi Negara yang demokratis
bersifat dua arah yaitu dari pemerintah kepada rakyat dan dari rakyat
kepada pemerintah apakah melalui badan-badan Negara ataupun melalui
media pers.
8. Kepemimpinan dalam pemerintahan/administrasi Negara dari seluruh eselon
terbuka atas kritik dan mengeritik dianggap sebagai partner yang setia
dalam menjalankan pemerintahan.
9. Pengangkatan aparatur pemerintahan/administrasi Negara menganut merit
system yaitu berdasarkan atas kecakapan dan prestasi kerja bukan
didasarkan kepada soal like dan dislike.
10. Aparatur pemerintahan merupakan public servant untuk mewujudkan
keamanan, keadilan, kesejahteraan dan kemerdekaan.

Sistem Pemerintahan
Sistem pemerintahan yang dianut Arab Saudi adalah sistem presidensil (raja). Dengan
demikian kekuasaan eksekutif Arab Saudi dipegang oleh kepala negara (raja) yang sekaligus
menjabat sebagai perdana menteri, panglima tertinggi angkatan perang, dan pimpinan agama
tertinggi,penjaga dua tempat suci (Mekkah dan Madinah), mengangkat dan memberhentikan
Dewan Menteri, menafsirkan hukum. Otoritas politik tertinggi di bawah raja adalah putra
mahkota.Putra mahkota ini ditentukan oleh raja, asalkan tetap diambil dari keturunan Abdul
Aziz. Putra mahkota bahkan dapat memerintah atas nama raja, bahkan sebelum mahkota
diestafetkan.

Sistem Politik

Parlemen Arab Saudi berbentuk Unikameral (Council of Ministers).Sebenarnya Council


of Minister (CoM) bukanlah parlemen layaknya di negara-negara demokrasi a la Barat.Ia lebih
mirip "quasi-legislative" dan tidak primus interpares dengan raja.
Menghadapi era globalisasi, Arab Saudi membentuk badan legislatif yang disebit Majelis
Syura. Sistem pernerintahan daerah dibagi atas beberapa wilayah propinsi yang masing-masing
dipimpin oleh seorang gubernur, sedangkan beberapa kota penting dipimpin oleh walikota.
Gubernur dan walikota diangkat atas persetujuan raja.
Dewan Menteri bertindak selaku legislator dan eksekutif pelaksana raja.Kedua peran ini
didasarkan atas restu raja. Hukum yang ditetapkan dewan menteri akan menjadi hukum aplikatif
dalam 30 hari, kecuali raja memvetonya. Umumnya, para anggota dewan menteri pun keturunan
Abdul Aziz.Majlis asShura adalah dewan konsultatif.Anggotanya sekitar 120 orang.Tugas
mereka adalah memberi nasehat kepada raja.Anggota majelis ini pun diangkat dan diberhentikan
oleh raja.
Tidak ada partai politik yang bertindak sebagai oposisi, tidak ada konstitusi kecuali al-
Quran sebagai kitab suci mereka, namun tidak sepenuhnya diikuti dalam hal penyelenggaraan
pemerintah karena kompleksnya bidang pemerintahan sehingga dibentuklah departemen-
departemen yang yang pejabatnya seluruhnya dari keluarga istana.

Sistem hukum

System hukum bersumber dari Alquran yang penjabarannya diambil dari Hadis. Di
samping itu juga berlaku hukum adat dan hukum suku-suku.Sistem kerja peradilan diawasi oleh
Komisi pengawas Pengadilan yang diangkat oleh raja.Lembaga pengadilan (yudikatif) menurut
hukum dasar Arab Saudi haruslan independen.Kepala pengadilan biasanya berasal dari
bangsawan ataupun keturunan al-Wahhab.Menteri Kehakiman Arab Saudi biasanya juga menjadi
Grand Mufti.Setiap hakim diangkat dan diberhentikan oleh Raja.Ulama adalah lembaga yang ada
dalam hukum dasar Arab Saudi yang fungsinya menjadi metode penafsiran hukum Islam yaitu
Ijma (konsensus) dan Shura (Konsultasi).Anggota Ulama terdiri atas keturuan Abdul Aziz dan al-
Wahhab.Ulama ini dikepalai oleh Grand Mufti.

2.3 Struktur, fungsi dan hubungan antar lembaga di arab Saudi.

Arab Saudi memiliki lembaga lembaga Negara yang mempunyai fungsi dan tugasnya
masing-masing. Sama halnya di Indonesia, lembaga Negara di arab Saudi memiliki hubungan
satu sama lain, lembaga tersebut membentuk sebuah system dengan fungsi pelaksana, pembuat
kebijakan, serta peradilan. Terdapat juga lembaga Negara yang lain seperti komisi syura dan
departemen/kementrian yang berfungsi sebagai pembantu pelaksana pemerintahan.

Badan Eksekutif

Dewan Menteri (Council of Ministers/Majlis Al-Wuzara) terdiri dari: PM (Raja bertindak


sebagai ketua), Wakil PM, Menteri-Menteri, Menteri Negara, dan Penasehat Raja. Dewan
Menteri bertemu setiap hari Senin membahas kebijakan pemerintahan dan pengawasan
pelaksanaannya. Masa tugas para menteri selama 4 tahun dan dapat diperpanjang.

Badan Legislatif

Majelis Permusyawaratan (Majlis Ash-Shura/Consultative Council) dibentuk tanggal 1


Maret 1992. Semula keanggotaannya hanya 60 orang, kemudian bertambah menjadi 90 orang
dan 120 orang. Tahun 2005 keanggotaannya menjadi 150 orang dan seorang ketua yang ditunjuk
oleh Raja dengan masa bakti 4 tahun. Majelis Permusyawaratan memiliki kewenangan untuk
mengusulkan rancangan UU atau mengamandemen UU serta menyampaikan pendapat mengenai
berbagai kebijakan pemerintah.

Badan Yudikatif

Dewan Tinggi Peradilan (Supreme Council of Judiciary/SCJ) mengatur administratif


badan peradilan dan menangani masalah kewenangan mengadili (kompetensi). SCJ
beranggotakan 11 orang yang dipilih dari para ulama terkemuka].

Sistem peradilan

Peradilan Syariah, kewenangannya menangani seluruh perkara, terdiri 3 tingkatan:


Pengadilan tingkat pertama:
Summary Courts menangani perkara pidana (kriminal).
General Courts (pengadilan umum) menangani perkara perdata di luar peradilan khusus.
Appelate Courts (pengadilan tingkat banding) yang berada di 13 propinsi.
Supreme Court (pengadilan tingkat kasasi).
Peradilan administratif (Board of Grievances/Diwan Al-Mazalim), kewenangannya menangani
perkara dimana pihaknya Negara.
Peradilan khusus. Labor Courts (sengketa terkait ketenakakerjaan),Commercial
Courts (sengketa dagang), Family Courts (menangani perkara masalah perkawinan dan
kekerasan di rumah tangga).
Selain itu dibentuk juga seksi khusus bagi penyelesaian perkara di luar pengadilan.

Dewan Ulama Senior (Council of Senior Ulama)

Dibentuk tahun 1971 oleh Raja Faisal merupakan badan penting yang memberikan
nasehat kepada Raja dan Dewan Kabinet agar kebijakan pemerintah sesuai dengan hukum
Syariah.
Kekuasaan Raja dibatasi oleh Syariah dan tradisi Saudi lain. Raja harus mengekalkan
konsensus keluarga di raja Saud, para ulama dan unsur penting lain dalam masyarakat Saudi,
tetapi dekritnya tidak perlu mendapat persetujuan mereka. Walaupun, undang-undang Arab Saudi
adalah hukum Islam (Syariah), tetapi ideologi negara Kerajaan Arab Saudi adalah Wahabi.
Ideologi wahabi adalah suatu pemahaman hukum Islam didasarkan pada praktek Rasulullah dan
Sahabat-sahabatnya. Ideologi wahabi dikenal dengan ideologi Salafisme[11]. Maka di negri ini
tidak ada partai politik yang bertindak sebagai oposisi sedangkan hal sistem peradilan terdiri dari
pengadilan-pengadilan biasa, peradilan tinggi agama islam, serta sebuah Mahkamah banding.
Sistem bersumber dari Al-Quran yang penjabarannya diambil dari hadits periwayatan madzhab
Wahabiyah.

Komisi-komisi Majelis Syura

1. Komisi Urusan Keislaman, Peradilan dan Hak Asasi Manusia.


2. Komisi Urusan Sosial, Keluarga dan Pemuda.
3. Komisi Urusan Ekonomi dan Energi.
4. Komisi Urusan Keamanan.
5. Komisi Administrasi, SDM dan Petisi.
6. Komisi Urusan Pendidikan dan Riset.
7. Komisi Urusan Kebudayaan dan Informasi.
8. Komisi Urusan Luar Negeri.
9. Komisi Perairan, Infrastruktur dan Layanan Umum.
10. Komisi Urusan Kesehatan dan Lingkungan.
11. Komisi Urusan Keuangan.
12. Komisi Tranportasi, Telekomunikasi, dan Teknologi Informasi.

2.4 Sosial budaya dan ekonomi Arab Saudi

Ekonomi

Wilayah ini dahulu merupakan wilayah perdagangan terutama di


kawasan Hijaz antara Yaman-Mekkah-Madinah-Damaskus dan Palestina.
Pertanian dikenal saat itu dengan perkebunan kurma dan gandum serta
peternakan yang menghasilkan daging serta susu dan olahannya. Pada saat
sekarang digalakkan sistem pertanian terpadu untuk meningkatkan hasil-hasil
pertanian. Perindustrian umumnya bertumpu pada sektor Minyak bumi dan
Petrokimia terutama setelah ditemukannya sumber sumber minyak pada
tanggal 3 Maret 1938. Selain itu juga untuk mengatasi kesulitan sumber air
selain bertumpu pada sumber air alam (oase) juga didirikan industri
desalinasi Air Laut di kota Jubail. Sejalan dengan tumbuhnya perekonomian
maka kota-kota menjadi tumbuh dan berkembang. Kota-kota yang terkenal
di wilayah ini selain kota suci Mekkah dan Madinah adalah Kota Riyadh
sebagai ibukota kerajaan, Dammam, Dhahran, Khafji, Jubail, Tabuk dan
Jeddah.
Penduduk Dan Pembagian Wilayah

Penduduk Arab Saudi adalah mayoritas berasal dari kalangan bangsa


Arab sekalipun juga terdapat keturunan dari bangsa-bangsa lain serta
mayoritas beragama Islam. Di daerah daerah industri dijumpai penduduk
dari negara-negara lain sebagai kontraktor dan pekerja asing atau ekspatriat

Agama

Sebagian besar penduduk Arab Saudi adalah beragama Islam Sunni.[1]


Sekitar 15% dari warga Islam Syi'ah, yang sebagian besar tinggal di
Syarqiyah (Provinsi Timur), dengan konsentrasi terbesar di Qatif, Al-Ahsa,
dan Dammam, konsentrasi besar ditemukan di Najran, di samping sebuah
minoritas kecil di Madinah. Islam adalah agama yang mapan, dan sebagai
lembaga yang seperti menerima dukungan pemerintah.[2]
Populasi Non-Muslim Arab Saudi secara dominan ditemukan pada
populasi pekerja asing. Arab Saudi memiliki populasi luar negeri diperkirakan
sebesar 8 juta, yang sebagian besar adalah Muslim. Populasi asing
dilaporkan mencakup 1.500.000 orang India, 1,5 juta warga Bangladesh,
1.200.000 warga Filipina, 1 juta warga Pakistan, 1 juta orang Mesir, 600.000
warga Indonesia, 400.000 warga Sri Lanka, 350.000 warga Nepal, 250.000
orang Palestina, 150.000 warga Lebanon, 100.000 warga Eritrea, dan 30.000
orang Amerika. statistik Komprehensif untuk agama asing tidak tersedia,
namun mereka termasuk orang Muslim dari berbagai cabang dan sekolah-
sekolah Islam, Kristen, dan Hindu.[3]

Tata Sosial Bangsa Arab

Bangsa Arab sebelum datangnya Islam tidak memiliki pemerintahan yang teratur dan
tetap, pada umumnya mereka masih buta huruf. Walaupun demikian mereka telah mempunyai
tatanan masyarakat berdasarkan kebiasaan-kebiasaan. Mereka memiliki kebiasaan hidup bebas
dan berpindah-pmdah dari satu tempat ke tempat yang lain yang dianggap lebih baik. Kehidupan
ini merupakan pengaruh dari keadaan alam negeri Arab yang bergurun dan berbukit-bukit.
Bangsa Arab terkenal dengan bangsa yang pemberani di dalam membela pendiriannya. Mereka
tidak mau mengubah tata cara hidup yang sudah menjadi kebiasaan. Bangsa Arab pada saat itu
tidak mau dijajah dan tidak mau mengalah, sehingga sering kali terjadi peperangan antar suku.
Namun demikian, mereka memiliki kebiasaan yang baik yaitu suka menghormati dan
memuliakan tamu.

Pola komunikasi
Secara umum, pola komunikasi orang Arab termasuk tipe komunikasi yang sangat
ekspresif. Tipe ini memadukan bahasa verbal dengan nonverbal sekaligus, seperti berbicara
dengan mimik, gerak tubuh (gesture), dan pendukung nonverbal lainnya untuk meyakinkan
lawan bicaranya.
Gaya komunikasi orang arab tidak berbicara apa adanya, kurang jelas, dan kurang
langsung. Umumnya orang Arab Saudi suka berbicara berlebihan dan banyak basa-basi. Sebagai
contoh, jika seorang arab Saudi bertemu dengan temannya utuk sekadar tanya kabar, tidak cukup
dengan satu kali ungkapan, tapi berkali-kali agar tidak terjadi kesalahpahaman dan meyakinkan.
Jadi yang semestinya kata iya berarti ya, bukan sebaliknya.
Masih banyak isyarat nonverbal khas Arab lainnya yang berbeda dengan isyarat
nonverbal khas Indonesia. Sebagai contoh, sebagai pengganti kata-katatunggu sebentar ketika
dipanggil atau sedang menyebrangi jalan (sementara kendaraan datang mendekat), orang Arab
Saudi akan menguncupkan semua jari-jari tangannya dengan ujung-ujungnya menghadap ke
atas.
Ketika bertemu dengan kawan akrab, mereka terbiasa saling merangkul seraya mencium
pipi mitranya dengan bibir. Bisa jadi ini dianggap perilaku nyeleneh oleh bangsa lain, termasuk
orang Indonesia. Memang, orang lain yang tidak memahami budaya Arab akan menganggap
prilaku tersebut sebagai perilaku homoseksual.

2.5 Perbandingan Administrasi Arab Saudi dengan Indonesia

Pendekatan falsafah/ideology
6. Apa ideology, bentuk Negara dan bentuk pemeintahan Arab Saudi?
7. Bagaimana Sistem administrasi dan Sistem Pemerintahan Arab Saudi?
8. Apa Struktur lembaga dan hubungan antar lembaga di arab saudi?
9. Bagaimana Kehidupan Sosial budaya dan ekonomi Arab Saudi?
ARAB SAUDI INDONESIA
Arab Saudi berdasarkan Islam. Indonesia berdasarkan Pancasila.

Bentuk Negara Arab Saudi dan Indonesia adalah Negara Kesatuan


Bentuk pemerintahan Arab Saudi Bentuk pemerintahan Indonesia
adalah Monarki / Kerajaan adalah Republik Presidensil
Multipartai
Sistem administrasi Negara Arab Saudi dan Indonesia adalah Demokratis

Struktur lembaga, fungsi dan hubungan antr lebaga Negara di arab Saudi
dan Indonesia sama , yaitu terdiri dari Badan eksekutif selaku pelaksana
pemerintahan, badan legislative selaku pembuat kebijakan dan badan
yudikatif selaku peradilan. Juga terdapat cabinet pemerintahan, namun di
arab Saudi disebut majelis syura.
Ekonomi Arab Saudi merupakan Ekonomi indoesia lebih didominasi
daerah lintas perdangan bangsa sector pangan yang notabene
arab. Sekarang Arab Saudi Indonesia adalah Negara agraris
merupakan Negara pengahsil maritime.
minyak.
Social budaya arab Saudi Social budaya Indonesia merupakan
cenderung berasaskan pada budaya perpaduan antara budaya hindu
Islam. islam.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Arab Saudi merupakan salah satu Negara timur tengah di Asia Timur. Merupakan
kiblat umat islam di dunia. Arab Saudi mempunyai kerjasama bilateral yang baik dengan
indonesisa . Negara ini berbentuk kesatuan monarkhi, yang dipimpin oleh raja.
System administrasi Negara arab sadi sama dengan Indonesia yaitu demokratis,
namun di arab masih ada juga kepemimpinan dictator. System pemerintahan kedua Negara
ini juga sama, yakni presidensil.
Arab Saudi dan Indonesia sama sama memiliki lembaga Negara trias politika , yakni
eksekutif legislative dan yudikatif yang berfungsi dan berhubugan satu sama lain tidak jauh
beda dengan indonesa.Social budaya arab Saudi cenderung menganut budaya islam,
sedangkan di Indonesia merupakan perpaduan antara hindi dan islam.
3.2 Saran

Arab Saudi dan Indonesia merupakan dua Negara islam terbesar di dunia, dan juga
memiliki hubungan bilateral yang baik selama beberapa tahun. Kami menyarankan di era
sekarang ini, kedua Negara ini lebih mengeratkan kerjasama terutama di bidang islami agar
budaya islam tidak hilang terkikis modernisasi.