Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN UMUM

ILMU KESEHATAN JIWA


Tidak bisa tidur

Pembimbing : dr. Ratih Widayati Sp.KJ

Disusun Oleh :
Hafizhuddin Al Hazmi H2A012050
Ulfa Nurul Farida H2A012071
Fitria Nur Farizka H2A012072
Agus Sunarto H2A012074

KEPANITERAAN UMUM
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016

I. IDENTITAS
a. Identitas Pendertita
Nama : Ny.S
Umur : 52
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Mijen, Semarang
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan : Pedagang
Status pernikahan : Menikah

II. ANAMNESIS
(Autoanamnesis : 9 Mei 2016, Jam 10.30 WIB)
a. Keluhan Utama
Autoanamnesis : Tidak bisa tidur
b. RPS : Pasien datang dengan keluhan tidak dapat tidur
sejak 2 bulan yang lalu. 2 bulan yang lalu pasien
periksa di klinik umum akibat keluhannya tersebut,
setelah diperiksa didapatkan tensi 160/110mmHg,
kemudian pasien dirujuk ke poli kesehatan jiwa di
RSUD Tugurejo. Senin, 09 Mei 2016 pasien datang
ke 2 kalinya untuk kontrol keluhan tidak bisa tidur.
Keluhan ini dirasakan setiap hari. Setiap malam
dan siang hari pasien mengeluh tidak dapat tidur
sama sekali, pasien tidak mengeluhkan kepala
pusing, tidak keluar keringat dingin, dada tidak
berdebar-debar, tidak sesak nafas, tidak ada
pengalaman mimpi buruk dan tidak mengeluh
nyeri ulu hati. Saat pasien tidak bisa tidur, pasien
memilih untuk mengaji, shalat, dan membaca
shalawat. Pasien terkadang menangis karena ingin
merasakan tidur. Januari 2016 ibu pasien
meninggal, dengan tekanan darah tinggi. Dan
pasien bercerita bahwa baru-baru ini jadwal haji
pasien diundur sampai tahun 2017. Pasien
mengaku sedikit cemas apabila tidak dapat hidup
sampai tahun 2017 karena sakit yang diderita
pasien yaitu darah tinggi. Sejak periksa di poli
jiwa, pasien mengkonsumsi obat yang diberikan
oleh dokter. Sehari hari pasien masih bisa
menjalankan aktifitas berjualan, bersih bersih
rumah, bersosialisasi dengan tetangga dan
memasak.
c. RPD
1. Riwayat Psikiatri : disangkal
2. Riwayat Penyakit medis : Tekanan darah tinggi
3. Riwayat penggunanan NAPZA : disangkal
4. Kurva Perjalanan Penyakit (GAF)
Bulan Maret
- Gejala minimal, disabilitas tidak ada, dalam sosial, pekerjaan,
dan lain-lain. ( 90 )
- Fungsi perawatan diri mandi, makan, ibadah baik.
- Fungsi sosial hubungan dengan keluarga, tetangga, teman baik.
- Fungsi peran baik.
- Fungsi waktu luang digunakan untuk mengaji dan bepergian
dengan keluarga.
Bulan April
- Gejala minimal, disabilitas tidak ada, dalam sosial, pekerjaan,
dan lain-lain. ( 90 )
- Fungsi perawatan diri mandi, makan, ibadah baik.
- Fungsi sosial hubungan dengan keluarga, tetangga, teman baik.
- Fungsi peran baik.
- Fungsi waktu luang digunakan untuk mengaji dan bepergian
dengan keluarga.
Bulan Mei
- Gejala minimal, disabilitas tidak ada, dalam sosial, pekerjaan,
dan lain-lain. ( 95 )
- Fungsi perawatan diri mandi, makan, ibadah baik.
- Fungsi sosial hubungan dengan keluarga, tetangga, teman baik.
- Fungsi peran baik.
- Fungsi waktu luang digunakan untuk mengaji dan bepergian
dengan keluarga.
d. Riwayat Pramorbid
1. Riwayat prenatal dan perinatal :
Pasien anak pertama dari empat bersaudara. Pasien lahir didukun,
normal. Pasien adalah anak yang diharapkan, selama mengandung ibu
rutin periksa kehamilan dan tidak ada keluahan selama kehamilan,
lahir spontan di dukun bayi dengan berat dan panjang badan normal.
2. Riwayat masa anak awal (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh orang tua kandung.
3. Riwayat masa anak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien pernah putus sekolah saat kelas 6 SD.
4. Riwayat masa pubertas dan remaja
Pasien mengalami masa puberitas yang sesuai dengan anak-anak
normal. Pertama kali menstruasi pada usia 13 tahun. Pasien tidak
pernah berpacaran karena dijodohkan pada usia 12 tahun.
Riwayat masa dewasa
- Riwayat pekerjaan : berjualan
sembako di toko sendiri
- Riwayat perkawinan : menikah tahun 1979 pada usia 15 tahun
sebanyak satu kali sebagai istri pertama sampai sekarang.
-Riwayat militer : tidak pernah
-Riwayat pendidikan : SD ( tidak tamat )
-Keagamaan : islam, tepat waktu.
- Aktivitas sosial : pasien
mengikuti pengajian dan arisan.
-Situasi hidup sekarang : mau berinteraksi dengan teman dan
keluarga
-Riwayat hukum : tidak pernah terlibat masalah
hukum
5. Riwayat psikoseksual : tidak mempunyai riwayat
penyimpangan seksual
6. Riwayat keluarga (genogram)
7. Mimpi, khayalan : tidak mempunyai mimpi dan khayalan

e. RPK : tidak terdapat riwayat yang sama. Terdapat


hipertemsi pada ibu kandung pasien
f. Riwayat Sosial Ekonomi : pasien tinggal bersama suami dirumah
peninggalan orang tua dan keduanya masih
bekerja. Mempunyai 3 orang anak yang
sudah menikah, bertempat tinggal berbeda
dengan pasien. Anak-anaknya rutin setiap
hari menjenguk pasien kerumahnya.
Pembayaran menggunakan biaya BPJS.

III. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


1. Gambaran umum
a. Penampilan : Pakaian rapi sesuai dengan usia dan serasi.
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor
- Tingkah laku : Normoaktif
- Sikap : Kooperatif
- Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif
- Kontak psikis : ada dan apat dipertahankan.
2. Mood dan Afek
a. Mood : Eutimik
b. Afek : appropiate
c. Kesesuaian : sesuai
d. Ekspresi emosi yang lain
- Pengendalian : terkendali
- Stabilitas : stabil
- Dalam/dangkal : dalam
- Arus emosi : normal
- Empati : sesuai
- Skala diferensiasi : normal
3. Pembicaraan
a. Kualitas : relevan
b. Kuantitas : cukup
c. Bicara spontan : spontan
d. Sulit mulai bicara / sulit ditarik : tidak
e. Kecepatan/lambat bicara : spontan
4. Gangguan persepsi :
a. Halusinasi : Auditorik (-), visual (-), taktil (-), olfaktorik (-),
gustatorik(-) .
b. Ilusi : Auditorik (-), visual (-), taktil (-), olfaktorik (-), gustatorik(-) .
5. Pikiran
a. Bentuk pikir : realistik
b. Arus pikir : koheren
c. Isi pikir :
- Waham : waham kebesaran (-),waham kejar (-),
waham berdosa (-), waham curiga (-),waham
hipokondri (-)
- delusion : delusion of control(-), delusion of influence
(-) delusion of passivity (-),delusional
perception (-)
- thought of echo (-), thought of insertion (-), thought of withdrawl (-),
thought of broadcasting (-)
6. Sensorium dan kognitif
a. Kesiagaan dan tingkat kesadaran : baik
b. Orientasi : orientasi waktu baik, orientasi tempat baik,
orientasi orang baik, orientasi situasi baik
c. Daya ingat : daya ingat segera baik, daya ingat jangka
pendek baik, daya ingat jangka panjang baik
d. Konsentrasi dan perhatian : baik
e. Kemampuan visuo-spasial : baik
f. Pikiran abstrak : baik
g. Sumber informasi dan kecerdasan : baik
7. Pengendalian Impuls
a. Tilikan :6
b. Empati : sesuai
c. Intelegensia : baik
d. Pertimbangan : baik
e. Realibilitas : konsisten

IV. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan Fisik : 09 Mei 2016 Jam: 10.30
Status generalis
Keadaan Umum : Tampak baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign :
TD : 160/112 mmHg
Nadi : 78 x/menit
RR : 18 x/menit
T : 36,4 oC
TB : tidak diperiksa
BB : tidak diperiksa
BMI : tidak diperiksa
Status gizi : kesan baik
Pemeriksaan fisik lain
Konjungtiva : tidak dilakukan
Jantung : tidak dilakukan
Paru : tidak dilakukan
Hati : tidak dilakukan
Limpa : tidak dilakukan
Limfe : tidak dilakukan
Ekstremitas : tidak dilakukan
Status Neurologis : tidak dilakukan
Tes Psikometrik : tidak dilakukan
V. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan psikiatri/psikologi: tidak dilakukan
b. Pemeriksaan elektromedik : tidak dilakukan
c. Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan
d. Pemeriksaan lain : tidak dilakukan
VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
1. Diagnosis Multiaxial
Aksis I : F.51.0 Insomnia Non-Organik
Keluhan kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur dan
kualitas tidur yang buruk.
Keluhan dirasakan selama 2 bulan terakhir.
Aktivitas sosial dan pekerjaan tidak terganggu.
Aksis II : Tidak ada
Aksis III : Penyakit sistem sirkulasi.
Aksis IV : Masalah di keluarga ibu kandung meninggal bulan Januari
2016 karena penyakit jantung, dan jadwal keberangkatan haji diundur
tahun 2017
Aksis V :
GAF pada bulan Maret = 90 : Gejala minimal, berfungsi baik,
cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa.
GAF pada bulan April = 90 : Gejala minimal, berfungsi baik,
cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa.
GAF pada bulan Mei = 90 : Gejala minimal, berfungsi baik,
cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa.
2. Terapi :
a. Farmakoterapi :
Zolpidem tab 10 mg , 10-20mg/malam
Captopril 12,5 mg , 2x sehari , dosis maksimal 150mg/hari
b. Psikoedukasi :
Menjelaskan penyakit yang diderita pasien, bahwa pasien
menderita insomnia non organik.
Memberitahu keluarga untuk selalu mengingatkan pasien
meminum obat secara teratur .
Memberitahu keluarga untuk selalu memberi dukungan demi
kesembuhan pasien.
Memberitahu waktu tidur secara benar
VII. PROGNOSIS
Keterangan
Genetik Tidak
Onset Lambat
Faktor pencetus Ada
Kepribadian pramorbid Baik
Status marital Kawin
Status ekonomi Mampu
Kekambuhan Tidak ada
Suport lingkungan Ada
Gejala positif Tidak ada
Gejala negative Ada
Respon terapi Ada

Prognosis : ad bonam

VIII. RESUME
Pasien datang dengan keluhan susah tidur sejak 2 bulan yang lalu,
sebelumnya pasien periksa di klinik umum, setelah diperiksa didapatkan
tekanan darah 160/110mmHg, kemudian pasien dirujuk ke poli kesehatan
jiwa di RSUD Tugurejo. Senin, 09 Mei 2016 pasien datang ke 2 kalinya
untuk kontrol keluhan tidak bisa tidur. Keluhan ini dirasakan setiap malam
dan siang hari. Keluhan kepala pusing, keluar keringat dingin, dada
berdebar-debar, sesak nafas, pengalaman mimpi buruk dan nyeri ulu hati
disangkal. Pasien memilih untuk mengaji, shalat, dan membaca shalawat
saat tidak bisa tidur. Pasien terkadang menangis karena ingin merasakan
tidur. Januari 2016 ibu pasien meninggal dengan tekanan darah tinggi. Dan
pasien bercerita bahwa baru-baru ini jadwal haji pasien diundur sampai
tahun 2017. Pasien mengaku sedikit cemas apabila tidak dapat hidup sampai
tahun 2017 karena sakit yang diderita pasien yaitu darah tinggi. Pasien bias
tidur karena efek dari obat yang diberikan oleh dokter.
Dari pemeriksaan autoanamnesis status mental didapatkan tingkah
laku normoaktif, kontak psikis ada dan dapat dipertahankan, mood eutimik,
afek appropriate. Bicara spontan dengan kecepatan cukup dan arus pikiran
dalam kategori lancar, pada Sensorium dan kognitif didapatakan tingkat
kesadaran baik,orientasi baik, daya ingat baik konsentrasi baik, perhatian
baik, pemikiran abstrak baik, sumber informasi dan kecerdasan baik, serta
tilikan pasien baik. Tidak ditemukan halusinasi, ilusi, dan waham. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 160/112mmHg.
DISKUSI
I. TINJAUAN PUSTAKA
1.1. DEFINISI
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fourth
edition (DSM-IV) mendefinisikan insomnia sebagai suatu kesulitan dalam
memulai tidur, mempertahankan tidur (tidak terbangun), atau tidur yang
tidak menyegarkan selama 1 bulan atau lebih.
The International Classification of Diseases mendefinisikan
Insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang
terjadi minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan. Menurut
The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah
kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam,disertai rasa tidak
nyaman setelah episode tidur tersebut. Jadi, Insomnia adalah gejala
kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur atau
mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk melakukannya.
Insomnia dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana
hati tetapi juga kesehatan, kinerja dan kualitas hidup.

1.2. KLASIFIKASI
Secara internasional insomnia masuk dalam 3 sistem diagnostik
yaitu International code of diagnosis (ICD) 10, Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders (DSM) IV dan International Classification of
Sleep Disorders (ISD).
Dalam ICD 10, insomnia dibagi menjadi 2 yaitu:
Organik
Non organik
- Dyssomnias (gangguan pada lama, kualitas dan waktu
tidur)
- Parasomnias (ada episode abnormal yang muncul selama
tidur seperti mimpu buruk, berjalan sambil tidur, dll)
Dalam ICD 10 tidak dibedakan antara insomnia primer atau sekunder.
Insomnia disini adalah insomnia kronik yang sudah diderita paling
sedikit 1 bulan dan sudah menyebabkan gangguan fungsi dan sosial.
Dalam DSM IV, gangguan tidur (insomnia) dibagi menjadi 4 tipe yaitu:
a. Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain
b. Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
c. Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan
tertentu
d. Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama
sekali dengan kondisi mental, penyakit, ataupun obat-obatan.)
Gangguan ini menetap dan diderita minimal 1 bulan.

Berdasarkan International Classification of Sleep Disordes yang direvisi, insomnia


diklasifikasikan menjadi:
a. Acute insomnia

b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadequate sleep hygiene
g. Behavioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or substance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to substance or known physiologic condition, unspecified
(nonorganic)
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic)

1.3. ETIOLOGI
Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau
keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga
sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti
kematian atau penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau
kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.
Kecemasan dan depresi. Hal ini mungkin disebabkan
ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang
menyertai depresi.
Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur,
termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat
alergi, stimulan (seperti Ritalin) dan kortikosteroid.
Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang
mengandung kafein adalah stimulan yang terkenal. Nikotin merupakan
stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol adalah obat
penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur, tetapi
mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun
di tengah malam.
Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan
bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk
mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa
gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis,
kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux
disease (GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan
jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya
irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian
bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun,
metabolisme, dan suhu tubuh.
'Belajar' insomnia. Hal ini dapat terjadi ketika Anda khawatir
berlebihan tentang tidak bisa tidur dengan baik dan berusaha terlalu
keras untuk jatuh tertidur. Kebanyakan orang dengan kondisi ini tidur
lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa
atau ketika mereka tidak mencoba untuk tidur, seperti ketika mereka
menonton TV atau membaca.

1.4. Faktor Risiko


Hampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam
hari tetapi resiko insomnia meningkat jika terjadi pada:
Wanita. Perempuan lebih mungkin mengalami insomnia. Perubahan
hormon selama siklus menstruasi dan menopause mungkin
memainkan peran. Selama menopause, sering berkeringat pada malam
hari dan hot flashes sering mengganggu tidur.
Usia lebih dari 60 tahun. Karena terjadi perubahan dalam pola tidur,
insomnia meningkat sejalan dengan usia.
Memiliki gangguan kesehatan mental. Banyak gangguan, termasuk
depresi, kecemasan, gangguan bipolar dan post-traumatic stress
disorder, mengganggu tidur.
Stres. Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka
panjang seperti kematian orang yang dikasihi atau perceraian, dapat
menyebabkan insomnia kronis. Menjadi miskin atau pengangguran
juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia.
Perjalanan jauh (Jet lag) dan Perubahan jadwal kerja. Bekerja di
malam hari sering meningkatkan resiko insomnia.

1.5. Tanda dan Gejala


Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari
Sering terbangun pada malam hari
Bangun tidur terlalu awal
Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
Iritabilitas, depresi atau kecemasan
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
Ketegangan dan sakit kepala
Gejala gastrointestinal

1.6. Diagnosis
Untuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap: 1
Pola tidur penderita.
Pemakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
Tingkatan stres psikis.
Riwayat medis.
Aktivitas fisik
Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur secara individual.

Kriteria Diagnostik Insomnia Non-Organik berdasarkan PPDGJ


Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:
a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur,
atau kualitas tidur yang buruk
b. Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal
1 bulan
c. Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang
berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang
siang hari
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur
menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi
fungsi dalam sosial dan pekerjaan
Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak
menyebabkan diagnosis insomnia diabaikan.
Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan
adanya gangguan, oleh karena luasnya variasi individual. Lama
gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada transient
insomnia) tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi
stres akut (F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2)

1.7. Tatalaksana
1. Non Farmakoterapi
a. Terapi Tingkah Laku
Terapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang
baru dan mengajarkan cara untuk menyamankan suasana tidur.
Terapi tingkah laku ini umumnya direkomendasikan sebagai terapi
tahap pertama untuk penderita insomnia.
Terapi tingkah laku meliputi
- Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
- Teknik Relaksasi.
Meliputi merelaksasikan otot secara progresif, membuat
biofeedback, dan latihan pernapasan. Cara ini dapat membantu
mengurangi kecemasan saat tidur. Strategi ini dapat membantu
Anda mengontrol pernapasan, nadi, tonus otot, dan mood.
- Terapi kognitif.
Meliputi merubah pola pikir dari kekhawatiran tidak tidur
dengan pemikiran yang positif. Terapi kognitif dapat dilakukan
pada konseling tatap muka atau dalam grup.
- Restriksi Tidur.
Terapi ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu yang
dihabiskan di tempat tidur yang dapat membuat lelah pada
malam berikutnya.
- Kontrol stimulus
Terapi ini dimaksudkan untuk membatasi waktu yang dihabiskan
untuk beraktivitas.

Instruksi dalam terapi stimulus-kontrol:


1. Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur, tidak untuk membaca,
menonton televisi, makan atau bekerja.
2. Pergi ke tempat tidur hanya bila sudah mengantuk. Bila dalam waktu
20 menit di tempat tidur seseorang tidak juga bisa tidur, tinggalkan
tempat tidur dan pergi ke ruangan lain dan melakukan hal-hal yang
membuat santai. Hindari menonton televisi. Bila sudah merasa
mengantuk kembali ke tempat tidur, namun bila alam 20 menit di
tempat tidur tidak juga dapat tidur, kembali lakukan hal yang
membuat santai, dapat berulang dilakukan sampat seseorang dapat
tidur.
3. Bangun di pagi hari pada jam yang sama tanpa mengindahkan berapa
lama tidur pada malam sebelumnya. Hal ini dapat memperbaiki jadwal
tidur-bangun (kontrol waktu).
4. Tidur siang harus dihindari.

b. Gaya hidup dan pengobatan di rumah


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia :
Mengatur jadwal tidur yang konsisten termasuk pada hari libur
Tidak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.
Tidak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.
Hanya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
Relaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, membaca, latihan
pernapasan atau beribadah
Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan
tidur pada malam hari.
Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti
menghindari kebisingan
Olahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama 20 hingga 30 menit
setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.
Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin
Menghindari makan besar sebelum tidur
Cek kesehatan secara rutin
Jika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik

2. Farmakologi
Pengobatan insomnia secara farmakologi dibagi menjadi dua
golongan yaitu benzodiazepine dan non-benzodiazepine. 1
a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam)
b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)
Pemilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur :
Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Sleep inducing anti-insomnia
yaitu golongan benzodiazepine (Short Acting)
Misalnya pada gangguan anxietas
Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk
kembali ke proses tidur selanjutnya)
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Prolong latent phase Anti-
Insomnia, yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan
Tetrasiklik)
Misalnya pada gangguan depresi
Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan
terpecah-pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening).
Obat yang dibutuhkan adalah bersifat Sleep Maintining Anti-
Insomnia, yaitu golongan phenobarbital atau golongan
benzodiazepine (Long acting).
Misalnya pada gangguan stres psikososial.

Pengaturan Dosis
Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit sebelum pergi
tidur.
Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan
dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian secepatnya tapering off
(untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat)
Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih
perlahan-lahan, untuk menghindari oversedation dan intoksikasi
Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis kecil 2-3
kali seminggu (tidak setiap hari) untuk mengatasi insomnia pada usia
lanjut

Lama Pemberian
Pemakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak
lebih dari 2 minggu, agar resiko ketergantungan kecil. Penggunaan
lebih dari 2 minggu dapat menimbulkan perubahan Sleep EEG yang
menetap sekitar 6 bulan lamanya.
Kesulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena Psychological
Dependence (habiatuasi) sebagai akibat rasa nyaman setelah
gangguan tidur dapat ditanggulangi.
Efek Samping
Supresi SSP (susunan saraf pusat) pada saat tidur
Efek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti-
insomnia (waktu paruh) :
Waktu paruh singkat, seperti Triazolam (sekitar 4 jam) gejala
rebound lebih berat pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik
Waktu paruh sedang, seperti Estazolam gejala rebound lebih ringan
Waktu paruh panjang, seperti Nitrazepam menimbulkan gejala
hang over pada pagi harinya dan juga intensifying daytime
sleepiness
Penggunaan lama obat anti-insomnia golongan benzodiazepine dapat
terjadi disinhibiting effect yang menyebabkan rage reaction

Interaksi obat
Obat anti-insomnia + CNS Depressants (alkohol dll) menimbulkan
potensiasi efek supresi SSP yang dapat menyebabkan oversedation
and respiratory failure
Obat golongan benzodiazepine tidak menginduksi hepatic microsomal
enzyme atau produce protein binding displacement sehingga jarang
menimbulkan interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu.
Overdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol
atau CNS Depressant lain, resiko kematian akan meningkat.

Perhatian Khusus
Kontraindikasi :
- Sleep apneu syndrome
- Congestive Heart Failure
- Chronic Respiratory Disease
Penggunaan Benzodiazepine pada wanita hamil mempunyai risiko
menimbulkan teratogenic effect (e.g.cleft-palate abnormalities)
khususnya pada trimester pertama. Juga benzodiazepine dieksresikan
melalui ASI, berefek pada bayi (penekanan fungsi SSP)

1.8. Komplikasi
Tidur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang
teratur. Insomnia dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.

Komplikasi insomnia meliputi


Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah.
Saat berkendara, reaksi reflex akan lebih lambat. Sehingga
meningkatkan reaksi kecelakaan.
Masalah kejiwaan, seperti kecemasan atau depresi
Kelebihan berat badan atau kegemukan
Daya tahan tubuh yang rendah
Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang,
contohnya tekanan darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.

1.9. Prognosis
Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada
gangguan lain seperti depresi dan lain-lain. Lebih buruk jika gangguan ini
disertai skizophrenia.