Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang
menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata
dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif
masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan
masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa
mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Tujuan Puskesmas adalah
sejalan dengan tujuan sistem kesehatan pada umumnya, yaitu tercapainya
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan
derajat kesehatan masyarakat yang optimal.1
Puskesmas bertanggung jawab dalam upaya pembangunan kesehatan
yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota sesuai dengan
kemampuannya. Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
kecamatan. Tetapi apabila disatu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas,
maka tanggung jawab wilayah keja dibagi antar puskesmas dengan
memperhatikan keutuhan konsep wilayah desa, kelurahan, RW dan masing-
masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung
kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.2 Faktor kepadatan penduduk, luas
daerah, keadaan geografik dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan
pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja Puskesmas. Sasaran penduduk
yang dilayani oleh sebuah Puskesmas rata-rata 30.000 penduduk.1
Puskesmas diharapkan dapat bertindak sebagai motivator, fasilitator dan
turut serta memantau terselenggaranya proses pembangunan di wilayah
kerjanya agar berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat di wilayah
kerjanya. Hasil yang diharapkan dalam menjalankan fungsi ini antara lain

1
adalah terselenggaranya pembangunan di luar bidang kesehatan yang
mendukung terciptanya lingkungan dan perilaku sehat. Upaya pelayanan
puskesmas yang diselenggarakan meliputi pelayanan kesehatan masyarakat
yang lebih mengutamakan pelayanan promotif dan preventif, dengan kelompok
masyarakat serta sebagian besar diselenggarakan bersama masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas. Pelayanan medik dasar yang
lebih mengutamakan pelayanan kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan
individu dan keluarga pada umumnya melalui upaya rawat jalan dan rujukan.1
Upaya Puskesmas diharapkan dapat mewujudkan kecamatan sehat
menuju Indonesia Sehat dan bertanggung jawab menyelenggarakan upaya
kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang dikelompokkan
menjadi upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan.3
Kegiatan yang dilakukan di puskesmas di bidang kesehatan melingkupi
Upaya Kesehatan Wajib (UKW) dan Upaya Kesehatan Pengembangan (UKP).
Upaya kesehatan wajib adalah suatau jenis pelayanan kesehatan yang wajib ada
disuatu puskesmas seperti promosi kesehatan (Promkes), kesehatan lingkungan
(Kesling), perbaikan gizi, upaya pengobatan, pemberantasan penyakit menular
(P2M), Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA dan KB).
Sedangkan Upaya Kesehatan Pengembangan adalah upaya pelayanan
kesehatan yang dilaksanakan guna melengkapi UKW yang ada misalnya
Kelompok Usia Lanjut (USILA), Unit Kesehatan (UK) Jiwa, UK Gigi dan
Mulut, UK Mata, UK Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
(Perkesmas) dan lainnya. Semua kegiatan tersebut selanjutnya akan dilakukan
pengelolaan manajemen agar terjadi suatu keharmonisan.1
Manajemen adalah keterampilan untuk memperoleh hasil dalam rangka
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan menggerakkan
orang lain dan memanfaatkan sumberdaya yang ada. Selain menjadikan upaya
kesehatan berjalan baik dan dapat berjalan maksimal maka dalam manajemen
juga harus ditentukannya suatu target, agar diketahui suatu pencapaian, baik
sesuai harapan atau belum mencapai harapan sehingga diketahui besarnya
masalah. Target ini berbeda diantara satu pelayanan kesehatan dengan

2
pelayanan kesehatan yang lain sesuai keinginan dan kemampuan yang ada.
Masalah adalah selisih antara target dan pencapaian yang didapatkan.
Banyaknya masalah yang didapatkan harus dilakukan suatu pemecahan
masalah agar ditemukan solusinya. Ada beberapa langkah yang dilakukan guna
mememecahkan permasalahan yang ada di puskesmas, mulai dari identifikasi
masalah, memprioritaskan masalah, analisis penyebab masalah, pemecahan
masalah, pelaksanaan POA, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
penilaian dan evaluasi.4
Praktik Belajar Lapang blok 21 ini memilih tempat praktek di
Puskesmas Boja 02, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Pemilihan lokasi
praktik memiliki beberapa pertimbangan antara lain Puskesmas Boja 02
terletak di daerah perifer yang berbatasan langsung dengan daerah Semarang
Selatan. Puskesmas Boja 02 hanya beroprasi rawat jalan dengan cakupan
wilayah 8 desa dan 2 puskesmas pembantu yaitu Puskesmas Leban dan
Puskesmas Puguh. Puskesmas Boja 02 juga merupakan puskesmas yang belum
pernah dijadikan tempat praktik belajar lapangan oleh FK UNIMUS.
Oleh karena itu praktek belajar lapangan mengenai manajemen
puskesmas ini bertujuan sebagai berikut.

B. Tujuan
1. Umum
Mahasiswa mampu menyelesaikan masalah kesehatan berdasarkan landasan
ilmiah ilmu kedokteran khususnya kesehatan masayarakat yang mutakhir
untuk mendapatkan hasil yang optimum.
2. Khusus
a. Memperoleh gambaran umum mengenai keadaan dan kondisi Puskesmas
Boja 02.
b. Mengetahui perencanaan dan pelaksanaan serta monitoring program
Puskesmas Boja 02.
c. Memahami Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pelayanan Kesehatan di
Puskesmas Boja 02.
d. Menjelaskan mekanisme pencatatan dan pelaporan data pelayanan
kesehatan di Puskesmas Boja 02.

3
e. Mengidentifikasi cakupan dan permasalahan pelayanan kesehatan yang
ada di Puskesmas Boja 02.
f. Memprioritaskan masalah dari hasil identifikasi masalah yang ada di
Puskesmas Boja 02.
g. Menganalisa prioritas masalah dan penyebab masalah yang ada di
Puskesmas Boja 02.
h. Memberikan alternatif solusi dan masukan atas masalah yang ditemukan
di Puskesmas Boja 02.
i. Mampu melakukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
terhadap program Puskesmas Boja 02.
j. Mampu menyusun (Plan of Action) POA

C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa pelaksana kegiatan mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman mengenai manajemen pelayanan kesehatan Puskesmas Boja
02 dan sebagai pemenuhan tugas di Blok Kedokteran Komunitas
Masyarakat.
2. Bagi Puskesmas mendapatkan masukan dan solusi atas permasalahan yang
ada di Puskesmas Boja 02.
3. Mahasiswa dapat melihat, mengamati dan ikut serta langsung dalam
pelaksanaan kegiatan-kegiatan di Puskesmas Boja 02.
4. Membandingkan antara teori dengan praktik yang ada di lapangan
(Puskesmas).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Puskesmas

4
1. Pengertian
Puskesmas adalah suatu unit organisasi yang fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina
peran serta masyarakat. Selain itu memberikan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja
dalam bentuk kegiatan pokok. Puskesmas berlaku sebaga5 :
a. Unit Pelaksana Teknis
Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
(UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas
teknis operasional Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan merupakan unit
pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di
Indonesia.5
b. Pembangunan Kesehatan
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan
oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat
kesehatan masyarakat yang optimal.5
c. Penanggungjawab Penyelenggaraan
Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya
pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, sedangkan puskesmas bertanggungjawab
hanya sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh
dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya.5
d. Wilayah Kerja
Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu
kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari dari satu
puskesmas, maka tanggungjawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas,
dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau
RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional
bertanggungjawab langsung kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.5
2. Visi dan Misi Puskesmas
a. Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas
adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia
Sehat. Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa

5
depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni
masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat,
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya.5
Indikator kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator
utama, yakni :
i. Lingkungan sehat
ii. Perilaku sehat
iii. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu, serta
iv. Derajat kesehatan penduduk kecamatan.
b. Misi Puskesmas
i.
Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah
kerjanya.
ii.
Puskesmas akan selalu menggerakan pembangunan sektor lain yang
diselenggarakan di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek
kesehatan yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap kesehatan, setidak-tidaknya terhadap lingkungan
dan perilaku masyarakat.
iii.
Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat
di wilayah kerjanya.
iv.
Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat
yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang
kesehatan, melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan
menuju kemandirian untuk hidup sehat.
v.
Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan standar dan memuaskan masyarakat,
mengupayakan pemerataan pelayanan kesehatan serta meningkatkan
efisiensi pengelolaan dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh
anggota masyarakat.
vi.
Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya.5

6
Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan
yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan
dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai.
Upaya pemeliharaan dan peningkatan yang dilakukan puskesmas
mencakup pula aspek lingkungan dari yang bersangkutan.5
3. Tujuan
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarkan oleh puskesmas
adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional
yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar
terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka
mewujudkan Indonesia Sehat.5
4. Fungsi5
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Pusat pemberdayaan masyarakat.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
B. Teori Pendekatan Sistem
1. Pengertian
Suatu sistem merupakan suatu penggabungan dari dua atau lebih
komponen-komponen atau subsistem-subsistem yang interdependen dan
ditandai oleh batas-batas yang jelas dari lingkungan suprasistemnya.6
Pendekatan sistem dalam manajemen dirancang untuk memanfaatkan
analisis ilmiah dalam suatu organisasi yang kompleks. Pendekatan dilihat
dari pendidikan dan pelatihan adalah cara yang sistematis mengidentifikasi,
mengembangkan dan mengevaluasi sekumpulan bahan dan strategi
bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan yang khusus. Jadi pendekatan
sistem adalah cara pandang atau cara berfikir menggunakan konsep-konsep
sistem dalam memecahkan suatu masalah.6
2. Unsur-unsur atau komponen dasar sistem:
a. Lingkungan (Environment)

7
1) Fisik : lingkungan yang diamati langsung sesuai dengan
lingkungan sekitar puskesmas
2) Non Fisik : suatu kebijkan yang berasal dari DKK
b. Man adalah kelompok penduduk sasaran yang akan diberikan
pelayanan, Staf Puskesmas, kecamatan, kelurahan, kader, pemuka
masyarakat, dan sebagainya
c. Money adalah dana yang dapat digali dari swadaya masyarakat dan
yang disubsidi oleh pemerintah.
d. Material adalah vaksin, jarum suntik, KMS, alat timbang, obat-
obatan, dan sebagainya.
e. Method adalah cara penyimpanan vaksin,cara menimbang, cara
memberikan vaksin, cara mencampur oralit, dan sebagainya
f. Market adalah masyarakat dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya seperti lokasi kegiatan yandu, transport, system
kepercayaan masyarakat di bidang kesehatan ,dan sebagainya

Gambar 2.1. Komponen Pendekatan sistem6

Unsur atau komponen dasar sistem meliputi :


a. Input ialah kumpulan elemen/bagian yang terdapat dalam sistem dan
yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.
b. Proses ialah kumpulan elemen/bagian yang berfungsi mengubah
masalah menjadi keluaran yang direncanakan.
c. Output ialah kumpulan elemen/bagian yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
d. Feed back (balikan) ialah kumpulan elemen/bagian yang merupakan
keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.

8
Untuk input diperlukan recources dan output dapat diperluas
menjadi impact. Di luar komponen daerah terdapat lingkungan (ekonomi,
sosial, budaya) yang mempengaruhi sistem tetapi tidak dapat dipengaruhi
oleh situasi itu sendiri dan para pelaksana sistem harus menyesuaikan diri
dengan lingkungan apabila ingin berhasil dengan baik.
3. Ciri-ciri suatu sistem :
a. Mempunyai tujuan.
b. Mempunyai struktur.
c. Terdapat mekanisme input-proses-output yang kadang-kadang disertai
feed back.
d. Merupakan satu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang
saling bergantung satu sama lain.
e. Mempunyai batasan dengan lingkungan.
f. Mempunyai suprasistem.
g. Ada hierarki
h. Ada sistem yang lain yaitu subsistem.
Terdapat beberapa macam sistem yaitu :
a. Sistem yang statis dan tertutup contohnya arloji.
b. Sistem yang dinamis dan tertutup contohnya
c. Sistem yang statis dan terbuka contohnya stabilisator.
d. Sistem yang dinamis dan terbuka contohnya organisasi.
e. Sistem yang dinamis dan terbuka dalam lingkungan yang berubah.
4. Langkah Pokok Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem merupakan upaya untuk melakukan pemecahan
masalah yang dilakukan dengan melihat masalah yang ada secara
menyeluruh dan melakukan analisis secara sistem. Pendekatan sistem
diperlukan apabila kita menghadapi suatu masalah yang kompleks sehingga
diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami hubungan
bagian dengan bagian lain dalam masalah tersebut, serta kaitan antara
masalah tersebut dengan masalah lainnya. Keuntungan yang diperoleh
apabila pendekatan sistem ini dilaksanakan antara lain7 :
a. Jenis dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan
kebutuhan sehingga penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan
yang sifatnya terbatas akan dapat dihindari.
b. Proses yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran
sehingga dapat dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
c. Keluaran yang dihasilkan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara
lebih cepat dan objektif.

9
d. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program.
Dalam pendekatan sistem upaya pemecahan masalah secara
menyeluruh dilakukan dengan analisa sistem. Ada banyak batasan tentang
analisa sistem, beberapa di antaranya :
a. Analisa sistem adalah proses untuk menentukan hubungan yang ada dan
relevansi antara beberapa komponen (subsistem) dari suatu sistem yang
ada.
b. Analisa sistem adalah suatu cara kerja yang dengan mempergunakan
fasilitas yang ada, dilakukan pengumpulan pelbagai masalah yang
dihadapi untuk kemudian dicarikan pelbagai jalan keluarnya, lengkap
dengan uraian, sehingga membantu administrator dalam mengambil
keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam suatu analisa sistem
yang baik adalah :
a. Tentukan input dan output dasar dari sistem.
b. Tentukan proses yang dilakukan di tiap-tiap tahap.
c. Rancang perbaikan sistem dan lakukan pengujian dengan :
i. Fersibility : cari yang memungkinkan
ii. Viability : kelangsungan
iii. Cost : cari yang harganya murah/terjangkau
iv. Effectiveness : dengan input yang sedikit, output besar.
d. Buat rencana kerja dan penunjukkan tenaga.
e. Implementasikan dan penilaian terhadap sistem yang baru.

C. Problem Solving
Problem solving cycle (siklus solusi masalah) adalah proses mental yang
melibatkan penemuan masalah, analisis dan pemecahan masalah. Tujuan
utama dari pemecahan masalah adalah untuk mengatasi kendala dan mencari
solusi yang terbaik dalam menyelesaikan masalah.8

10
Gambar 2.2. Kerangka problem solving
Langkah-langkah problem solving adalah :
1.
Identifikasi Masalah

Gambar 2.3. Kerangka identifikasi masalah

11
Masalah yaitu sesuatu yang tidak diinginkan. Perbedaan yang
diinginkan dengan fakta yang terjadi. Sebuah kondisi yang seharusnya
sudah terjadi, namun kenyataan belum terjadi atau target yang tidak
tercapai bisa juga dijadikan sebuah masalah. Dalam pembangunan
kesehatan, termasuk gizi telah ditetapkan target kondisi yang diharapkan
tercapai dalam jangka waktu tertentu. Jika hal tersebut tidak dapat dicapai
maka akan timbul masalah baru atau akan dihadapi konsekuensi dari
ketidak tercapaian tersebut. Idealnya masalah diidentifikasi dengan
pengumpulan data primer di lapangan, namun bisa juga dilakukan dengan
menganalisis data sekunder seperti laporan pelaksanaan kegiatan periode
sebelumnya. Apabila dalam analisis masalah menggunakan data primer,
maka yang didefinisikan sebagai masalah adalah dependen variabel dalam
pengumpulan data tersebut. Alat yang digunakan dalam analisis masalah
adalah kuesioner, langkah-langkah yang digunakan adalah :
a. Mengidentifikasi berbagai permasalahan secara makro maupun mikro
yang berbasis fakta dan data (evidencebased).
b. Mengklasifikasi dan mengidentifikasi permasalahan sesuai dengan lima
komponen kesehatan masyarakat yang meliputi aspek epidemiologi,
lingkungan perilaku, pelayanan kesehatan dan manajemen.
c. Memformulasikan identifikasi permasalahan dalam pernyataan negatif.
2.
Prioritas Masalah
Memprioritaskan masalah adalah sebuah upaya untuk mengurutkan
masalah menjadi sebuah daftar urutan penanganan masalah tersebut. Hasil
prioritas masalah akan menemukan skala prioritas, seperti masalah utama
dan masalah berikutnya sesuai urutan hasil analisis. Alatnya menggunakan
Matrix Problem Priority, dengan cara :8
a. Tetapkan kriteria prioritas yang digunakan.
b. Buat tabel prioritas sesuai dengan desain atau metode yang digunakan.
c. Berikan nilai sesuai dengan skor yang telah ditentukan.
d. Berikan nilai masing-masing kriteria dengan perkalian bobot dengan
skor.
e. Dengan menjumlah nilai kriteria, nilai tertinggi merupakan prioritas
masalah yang utama, sedangkan nilai terkecil belum menjadi prioritas
untuk ditanggulangi segera.
3.
Analisis Penyebab4

12
Analisis yang digunakan adalah analisis pendekatan sistem dengan 5
penyebab utama, yaitu :
a. Input, dipengaruhi oleh 5M yaitu : man, money, material, methode,
marketing.
b. Lingkungan fisik adalah lingkungan yang diamati langsung sesuai
dengan lingkungan sekitar puskesmas dan lingkungan non fisik adalah
adalah suatu kebijkan yang berasal dari DKK
c. Process, terdiri dari perencanaan (P1), Pelaksanaan (P2), Penilaian (P3)
d. Output, yaitu cakupan masalah yang jadi prioritas
e. Outcome, hasil akhir dari output
f. Impact, dampak yang dihasilkan.
4.
Alternatif Pemecahan Masalah
Pemilihan alternatif pemecahan masalah mengacu pada: kemampuan
(ketersediaan sumber daya: tenaga, dana, sarana, metode) waktu,
faktor poleksosbud. Dalam kondisi tertentu seringkali alternatif
pemecahan masalah tidak perlu dipilih karena kegiatan untuk
memecahkan masalah sudah ditentukan. Prioritas pemecahan masalah
yang dipilih diharapkan dapat mengungkit pe mecahan masalah yang lain.
Kegiatan yang digunakan adalah brainstorming.8
5.
Pengambilan Keputusan
Yaitu mengambil satu kegiatan terpilih dari alternatif-alternatif
pemecahan masalah menggunakan kriteria mutlak dan keinginan.8
6. Penyususnan Rencana Kegiatan
Perencanaan adalah proses penyusunan rencana puskesmas untuk
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Rencana
puskemas dibedakan atas dua macam yaitu Rencana Usulan Kegiatan
(RUK) untuk kegiatan pada setahun mendatang dan Rencana Pelaksanaan
Kegiatan (RPK) pada tahun berjalan. Perencanaan puskesmas disusun
meliputi upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pilihan dan upaya
inovatif baik terkait dengan pencapaian target maupun mutu puskesmas.
Istilah RUK dan RPK merupakan istilah umum, adapun istilah/terminologi
yang dipergunakan dalam perencanaan disesuaikan dengan pedoman
penganggaran di daerah.9

13
Proses perencanaan puskesmas harus disesuaikan dengan mekanisme
perencanaan yang ada baik perencanaan sektoral maupun lintas sektoral
melalui Musrenbang di setiap tingkatan administrasi.
a. Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
Rencana Usulan Kegiatan adalah perencanaan kegiatan Puskesmas
untuk tahun mendatang, sering disebut dengan istilah H+1. Perencanaan
disusun dengan mengacu pencapaian indikator Kecamatan Sehat dalam
mewujudkan pencapaian indikator SPM.
b. Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)/ Plan of Action (POA)
Rencana Pelaksanaan Kegiatan disusun setelah Puskesmas
mendapatkan alokasi anggaran. Penyusunan RPK berdasarkan RUK
tahun yang lalu dengan dilakukan penyesuaian (adjustment) terhadap
target, sasaran dan sumberdaya. RPK disusun dalam bentuk matrik
Gantt Chart dan dilengkapi dengan pemetaan wilayah (mapping).
7. Pelaksanaan dan Pengendalian
Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses penyelenggaraan,
pemantauan serta penilaian terhadap kinerja penyelenggaraan rencana
tahunan Puskesmas, baik rencana tahunan upaya kesehatan wajib maupun
rencana tahunan upaya kesehatan pilihan, dalam mengatasi masalah
kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Langkah-langkah pelaksanaan dan
pengendalian adalah sebagai berikut:9
a. Pengorganisasian
Untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan puskesmas perlu dilakukan
pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus
dilakukan. Pertama, pengorganisasian berupa penentuan para
penanggungjawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan serta untuk
setiap satuan wilayah kerja. Dengan perkataan lain, dilakukan
pembagian tugas seluruh program kerja dan seluruh wilayah kerja
kepada seluruh petugas Puskesmas dengan mempertimbangkan
kemampuan yang dimilikinya. Penentuan para penanggungjawab ini
dilakukan melalui penggalangan tim pada awal tahun kegiatan. Kedua,

14
pengorganisasian berupa penggalangan kerjasama tim secara lintas
sektoral. Ada dua bentuk penggalangan kerjasama yang dapat
dilakukan:
i. Penggalangan kerjasama dua pihak yakni antara dua sektor terkait,
misalnya antara Puskesmas dengan sektor sosial/kesra pada waktu
penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut (Usila).
ii. Penggalangan kerjasama banyak pihak yakni antar berbagai sektor
terkait, misalnya antara Puskesmas dengan sektor pendidikan,
sektor agama, pada penyelenggaraan upaya kesehatan sekolah
(UKS).
Penggalangan kerjasama lintas sektor ini dapat dilakukan :
i. Secara langsung yakni antar sektor terkait
ii. Secara tidak langsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan
koordinasi kecamatan.
b. Penyelenggaraan
Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya
adalah menyelenggarakan rencana kegiatan Puskesmas, dalam arti para
penanggungjawab dan para pelaksana yang telah ditetapkan pada
pengorganisasian. Untuk dapat terselenggaranya rencana tersebut perlu
dilakukan kegiatan sebagai berikut :
i. Mengkaji ulang rencana pelaksanaan yang telah disusun terutama
yang menyangkut jadwal pelaksanaan, target pencapaian, lokasi
wilayah kerja dan rincian tugas para penanggungjawab dan
pelaksana.
ii. Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai
dengan rencana pelaksanaan kegiatan yang telah disusun. Beban
kegiatan puskesmas harus terbagi habis dan merata kepada seluruh
petugas.
iii. Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
Dalam penyelenggaraannya harus memperhatikan :

15
i. Azas Penyelenggaraan Puskesmas
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan keempat
azas penyelenggaraan Puskesmas yaitu pertanggungjawaban
wilayah, pemberdayaan masyarakat, keterpaduan dan rujukan.
ii. Standar dan pedoman Puskesmas
Dalam pelaksanaan kegiatan puskesmas harus mengacu pada
standar dan pedoman Puskesmas, baik yang bersifat teknis
program, manajemen maupun administratif.
iii. Kendali mutu
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan kendali
mutu, yaitu kepatuhan terhadap standar dan pedoman pelayanan
serta etika profesi.
iv. Kendali biaya
Penyelenggaraan kegiatan puskesmas harus menerapkan kendali
biaya yaitu kepatuhan terhadap standar dan pedoman pelayanan
serta etika profesi dan terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan.
c. Pemantauan dan Penilaian5
Penyelenggaraan kegiatan harus diikuti dengan kegiatan
pemantauan yang dilakukan secara berkala. Kegiatan pemantauan
mencakup hal-hal sebagai berikut :
i. Melakukan telaahan penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang
dicapai baik secara internal maupun eksternal.
Telaahan internal yaitu telaah bulanan terhadap penyelenggaraan
kegiatan dan hasil yang dicapai oleh Puskesmas, dibandingkan
dengan rencana dan standar pelayanan. Data yang dipergunakan
diambil dari SIMPUS. Kesimpulan dirumuskan dalam bentuk
kinerja (cakupan, mutu dan biaya) Puskesmas dan masalah/
hambatan. Telaah bulanan ini dilakukan dalam forum Lokakarya
Mini Bulanan Puskesmas.
Telaah eksternal yaitu telaahan tribulanan terhadap hasil yang
dicapai oleh sarana pelayanan kesehatan primer serta sektor

16
lainnya yang terkait di wilayah kerja Puskesmas. Telaah eksternal
ini dilakukan dalam forum Lokakarya Mini Tribulan Puskesmas.
ii. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai
dengan pencapaian kinerja Puskesmas serta masalah dan hambatan
yang ditemukan dari hasil telaahan bulanan dan triwulan.
iii. Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran dengan cara
Penilaian Kinerja Puskesmas yang diukur menggunakan indikator
kinerja Puskesmas. Kegiatan tersebut mencakup9:
Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan
hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan
standar pelayanan. Sumber data yang dipergunakan dalam
penilaian yaitu sumber data primer dari SIMPUS dan sumber
data sekunder yaitu hasil pemantauan bulanan dan tribulanan,
serta data lain yang dikumpulkan secara khusus.
Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai
dengan pencapaian serta masalah dan hambatan yang ditemukan
untuk rencana tahun berikutnya.
Melaporkan hasil kegiatan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota pada akhir tahun berjalan.

D. Upaya Kesehatan Wajib9


Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai
daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya
kesehatan wajib tersebut adalah :
1.
Upaya Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya puskesmas melaksanakan pemberdayaan
kepada masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan
setiap individu, keluarga serta lingkungannya secara mandiri dan
mengembangkan upaya kesehatan bersumber masyarakat. Kegiatan
Promosi Kesehatan meliputi9,10 :
a. Kegiatan di dalam gedung

17
Pada tempat pendaftaran dan tempat pembayaran promosi dapat
dilakukan dengan pemberian selebaran, edukasi melalui lisan oleh
petugas puskesmas. Di ruangan setiap upaya (Poliknikik, KIA KB, BP
umum) adanya tanya jawab seputar promosi kesehatan. (lembar balik,
poster, model anatomi, dan brosur). Penggunaan bahan bacaan,
penyuluhan berkelompok, pemanfaatan ruang tunggu, pendekatan
keagamaan. Pada ruang laboratorium menggunakan media poster,
selebaran yang di berikan secara gratis pada pasien, serta dapat melalui
lisan oleh petugas puskesmas secara langsung. Di kamar obat promosi
kesehatan diberikan kepada pasien, keluarga pasien tentang manfaat
TOGA, obat generik, kedisiplinan minum obat. Media yang digunakan
yaitu selebaran poster, tape recorder/player untuk menyampaikan
pesan.10
b. Kegiatan di luar gedung
Kegiatan di luar gedung puskesmas meliputi kunjungan rumah,
pemberdayaan berjenjang, pengorganisasian masyarakat.8
2.
Upaya Kesehatan Lingkungan10
Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau
keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap
terwujudnya status kesehatan yang optimal pula. Program Kesehatan
Lingkungan, antara lain :
a. Penyediaan sarana air bersih
b. Meninjau dari segi kesehatan dan estetika yang sesuai dengan; 1)
persyaratan kimia yaitu tidak mengandung zat yang membahayakan
kesehatan manusia atau makhluk hidup lainnya, pertumbuhan
tanaman, fungsi industri dan tidak menimbulkan kerusakan pada
instalasi SPAM sendiri, 2) Persyaratan bakteriologis yaitu
ditentukannya jumlah batasan untuk bakteri coli dan bakteri lainnya,
dan 3) Radioaktif.
c. Penyediaan air minum harus dapat memenuhi setiap segi kehidupan
masyarakat dan tersedia dalam jumlah yang cukup
d. Penyediaan air bersih disalurkan secara terus menerus maupun untuk
jam-jam tertentu.
e. Kehandalan sistem penyediaan air minum (reability)

18
f. Kemudahan harga dan tempat.
g. Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan
Pengawasan Institusi Pendidikan
Kondisi kesehatan lingkungan pada sekolah dititik beratkan
pada aspek hygiene, sarana sanitasi di sekolah yang erat kaitannya
dengan kondisi fisik bangunan sekolah. Kegiatan yang dilakukan
untuk meningkatkan kesehatan lingkungan di sekolah meliputi ; 1)
Pengendalian faktor risiko lingkungan di sekolah, 2) Pembinaan
kesehatan lingkungan di sekolah dan Pondok Pesantren, 3)
Sosialisasi dan advokasi Kepmenkes 1429/2006 tentang pedoman
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah, dan 4)
Penilaian lomba sekolah sehat.
Rumah Sehat
Kegiatan yang dilakukan: menyusun persyaratan kualitas udara di
dalam rumah serta menyusun petunjuk pelaksanaan monitoring
kualitas udara di dalam rumah.
Pengawasan Tempat-tempat Umum
Pengawasan tempat-tempat umum perlu dilakukan karena
tempat berkumpulnya manusia, yang bisa menjadi sumber
penularan berbagai penyakit. Aspek yang dinilai antara lain; 1)
Kondisi bangunan, 2) Sarana sanitasi, 3) Tempat-tempat Umum
yang diperiksa oleh petugas sanitarian yang ada di Puskesmas
maupun di Dinas Kabupaten/Kota.
Pengendalian dampak risiko pencemaran lingkungan
Faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat merupakan
satu kesatuan yang memiliki hubungan timbal balik yang
berpengaruh terhadap gangguan kesehatan masyarakat dan
kesehatan lingkungan. Kualitas lingkungan pada rencana kegiatan
pembangunan perlu dikaji secara cermat dan mendalam, sehingga
potensi besarnya risiko terhadap kesehatan dapat ditanggulangi.
3.
Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana10,11
a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian
pelayanan antenatal sekurang-kurangnya 4 kali selama masa kehamilan,
dengan distribusi waktu minimal 1 kali pada trimester pertama (usia

19
kehamilan 0-12 minggu), 1 kali pada trimester kedua (usia kehamilan
12-24 minggu) dan 2 kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24-36
minggu). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin
perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini
faktor risiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan.
Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas 10 T,
yaitu :
i. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan;
ii. Pengukuran tekanan darah;
iii. Penilaian status gizi (ukuran lingkar lengan atas)
iv. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri);
v. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi
tetanus toksoid sesuai status imunisasi;
vi. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama
kehamilan;
vii. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal
dan konseling, termasuk keluarga berencana); serta
viii. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin
darah (Hb) dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah
dilakukan sebelumnya).
ix. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
x. Tata laksana kasus
b. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin
Upaya kesehatan ibu bersalin dilaksanakan dalam rangka
mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
terlatih dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pertolongan
persalinan adalah proses pelayanan persalinan dimulai pada kala I
sampai dengan kala IV persalinan. Indikator ini memperlihatkan tingkat
kemampuan pemerintah dalam menyediakan pelayanan persalinan
berkualitas yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih.
c. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas
Nifas adalah periode mulai dari 6 jam sampai dengan 42 hari
pasca persalinan. Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan
kesehatan pada ibu nifas sesuai standar yang dilakukan sekurang-
kurangnya 3 (tiga) kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada 6 jam
sampai dengan 3 hari pasca persalinan, pada hari ke-4 sampai dengan

20
hari ke-28 pasca persalinan dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-
42 pasca persalinan. Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan
meliputi :
i. Pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu).
ii. Pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri).
iii. Pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain.
iv. Pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif.
v. Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu
nifas dan bayi baru lahir, termasuk keluarga berencana.
vi. Pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.
Keberhasilan upaya kesehatan ibu nifas diukur melalui indikator
cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas (Cakupan Kf-3). Indikator ini
menilai kemampuan negara dalam menyediakan pelayanan kesehatan
ibu nifas yang berkualitas sesuai standar.
d. Penanganan Komplikasi Maternal
Komplikasi maternal adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas dan atau janin dalam kandungan, baik langsung
maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan tidak menular
yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin, yang tidak disebabkan
oleh trauma/kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi
maternal adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi maternal
untuk mendapatkan perlindungan/pencegahan dan penanganan definitif
sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan
dasar dan rujukan. Indikator ini mengukur kemampuan negara dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara profesional kepada ibu
(hamil, bersalin, nifas) dengan komplikasi.
e. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatal komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau
kelainan yang dapat menyebabkan kecacatan dan atau kematian, seperti
asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma
lahir, BBLR (Berat Lahir <2.500 gram), sindrom gangguan pernafasan,
dan kelainan kongenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning pada
pemeriksaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Yang
dimaksud dengan penanganan neonatal komplikasi adalah neonatal
sakit dan atau neonatal dengan kelainan yang mendapat pelayanan

21
sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) baik
di rumah, sarana pelayanan kesehatan dasar maupun sarana pelayanan
kesehatan rujukan.
f. Kunjungan Neonatal
Bayi baru lahir atau yang lebih dikenal dengan neonatal
merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terhadap gangguan
kesehatan. Beberapa upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan
risiko pada kelompok ini diantaranya dengan mengupayakan agar
persalinan dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sesuai standar pada
kunjungan bayi baru lahir.
g. Pelayanan Kesehatan Pada Bayi
Bayi juga merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap
gangguan kesehatan maupun serangan penyakit. Oleh karena itu
dilakukan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan pada bayi usia 29
hari sampai dengan 11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan
sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
klinis kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali. Program
ini terdiri dari pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/ HB1-3, Polio 1-
4, dan Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK) bayi, pemberian vitamin A pada bayi, dan penyuluhan
perawatan kesehatan bayi serta penyuluhan ASI Eksklusif, MP ASI dan
lain-lain.
Cakupan pelayanan kesehatan bayi dapat menggambarkan upaya
pemerintah dalam meningkatan akses bayi untuk memperoleh
pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan
atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta
peningkatan kualitas hidup bayi.
h. Pelayanan Kesehatan pada Anak Balita
Salah satu indikator yang ditetapkan pada Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan terkait dengan upaya kesehatan anak adalah
pelayanan kesehatan pada anak balita. Adapun batasan anak balita

22
adalah setiap anak yang berada pada kisaran umur 12 sampai dengan 59
bulan.
i. Pelayanan Kesehatan Pada Siswa SD dan Setingkat.
Melalui kegiatan penjaringan kesehatan diharapkan bisa
mengatasi permasalahan kesehatan pada anak usia sekolah yaitu
pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti
menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan
sabun, karies gigi, kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan
dan masalah gizi.
j. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
k. Pelayanan Kesehatan pada Kasus Kekerasan terhadap Anak (KtA)
l. Pelayanan Kesehatan Anak Terlantar dan Anak Jalanan di Panti
m. Pelayanan Keluarga Berencana (KB)
Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan dalam rangka
mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran
program KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih
dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia Subur (WUS) yang berada
pada kisaran usia 15-49 tahun. Keberhasilan program KB dapat diukur
dengan melihat cakupan KB aktif dan KB baru. Cakupan KB aktif
menggambarkan proporsi pasangan usia subur (PUS) yang sedang
menggunakan alat/metode kontrasepsi terhadap jumlah PUS yang ada.
Sedangkan cakupan KB baru adalah jumlah PUS yang baru
menggunakan alat/metode kontrasepsi terhadap jumlah PUS.
4.
Upaya Perbaikan Gizi12,13,14
Program Perbaikan Gizi Masyarakat adalah salah satu program
pokok puskesmas yaitu program kegiatan yang meliputi peningkatan
pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi
Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yaodium (GAKY), Kurang Vitamin
A, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan Survailans Gizi dan Perberdayaan
Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat. Kegiatan program gizi yang
dilakukan harian adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan pemberian ASI Eksklusif adalah Pemberian ASI tanpa
makanan dan minuman lain pada bayi berumur nol sampai dengan
6 bulan.

23
b. Pemberian MP-ASI anak umur 6-24 bulan adalah pemberian
makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan dari keluarga
miskin selama 90 hari.
c. Pemberian tablet besi (90 tablet) pada ibu hamil adalah pemberian
tablet besi (90 tablet) selama masa kehamilan.
d. Pemberian PMT pemulihan pada keluarga miskin adalah balita
keluarga miskin yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan
sesuai tatalaksana gizi di wilayah puskesmas.
e. Kegiatan investigasi dan intervensi yang dilakukan saat ditemukan
masalah gizi misalnya ditemukan adanya kasus gizi buruk.
Kegiatan Progrogram Gizi Bulanan yang dilakukan bulanan
adalah sebagai berikut :
a. Pemantauan Pertumbuhan Berat Badan Balita (Penimbangan Balita)
adalah pengukuran berat badan balita untuk mengetahui pola
pertumbuhan dan perkembangan berat badan balita.
b. Kegiatan konseling gizi dalam rangka peningkatan pendidikan gizi dan
Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.
c. Kegiatan yang dilakukan setiap semester (6 bulan sekali) adalah
Pemberian Kapsul Vitamin A (Dosis 200.000 SI) pada balita adalah
pemberian kaspusl vitamin A dosis tinggi kepada bayi dan anak balita
secara periodik yaitu untuk bayi diberikan setahun sekali pada bulan
Februari dan Agustus dan untuk anak balita enam bulan sekali dan
secara serentak dalam bulan Februari dan Agustus.
Kegiatan yang dilakukan setiap tahun (setahun sekali) adalah sebagai
berikut.
a. Pemantauan Status Gizi balita
b. Pemantaun konsumsi gizi
c. Pemantauan penggunaan garam beryodium
5.
Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular9,10,11
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular merupakan program
pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan
penular penyakit menular/infeksi. Kegiatan pokok pemberantasan penyakit
menular oleh puskesmas adalah sebagai berikut :
a. Pencegahan dan Penanggulangan Faktor Risiko
Selain pasien yang telah terinfeksi penyakit menular, masyarakat yang
memiliki risiko tinggi juga perlu diperhatikan, karena masyarakat yang

24
memiliki risiko tinggi bisa memiliki risiko kapan saja terkena penyakit
menular.
b. Peningkatan imunisasi
Imunisasi sangat penting untuk mencegah dan melindungi seseorang
terjangkit penyakit menular.
c. Penemuan dan tatalaksana penderita
Selain kunjungan penderita ke puskesmas, puskesmas harus berperan
aktif dalam penemuan dan kunjungan terhadap penderita. Penemuan
dan tatalaksana penderita terdiri atas upaya bimbingan, pemantauan,
dan evaluasi kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita, serta
meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melaksanakan program penemuan dan tatalaksana penderita. Di dalam
upaya penemuan dan tatalaksana penderita dibutuhkan kerjasama antara
masyarakat dan puskesmas untuk saling bekerjasama sehingga dapat
memabangun status kesehatan pada masyarakat yang optimal dengan
pemberantasan penyakit menular, sebagai contoh seperti kasus TBC
yang membutuhkan peran penting puskesmas.
d. Peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah
Surveilans epidemilogi penyakit menular juga merupakan salah satu
upaya pemberantasan penyakit menular yang penting karena dengan
surveilans epidemiologi penyakit menular, puskesmas dapat mengetahui
penyebaran dan hubungannya dengan faktor risiko, surveilans
epidemiologi ini dapat mendukung pemberantasan penyakit menular
dari data yang didapat oleh puskesmas itu sendiri. Surveilans
epidemiologi penyakit menular merupakan kegiatan analisis secara
sistematis dan terus-menerus terhadap penyakit menular yang terjadi di
suatu wilayah tertentu agar dapat melakukan tindakan penanggulangaan
penyakit menular secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan
data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.
e. Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Puskesmas juga memiliki upaya untuk meningkatkan komunikasi,
informasi dan edukasi untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit
menular di suatu wilayah kerjanya.

25
6.
Upaya Pengobatan11,12
Upaya pengobatan di puskesmas adalah segala bentuk pelayanan
pengobatan yang diberikan kepada seseorang untuk menghilangkan
penyakit atau gejalanya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan
cara dan teknologi yang khusus untuk keperluan tersebut. Jenis-jenis upaya
pengobatan dasar adalah sebagai berikut :
a. Pengobatan dalam gedung :
i. Poli Umum
ii. Poli Gigi (Rawat Jalan)
iii. Apotek
iv. Unit Gawat Darurat (UGD)
v. Perawatan Penyakit (Rawat Inap)
vi. Pertolongan Persalinan (Kebidanan)
b. Pengobatan luar gedung :
i. Rujukan Kasus
ii. Pelayanan Puskesmas Keliling (Puskel)
Kegiatan pengelolaan obat di puskesmas terbagi menjadi :
a. Pengelolaan logistik obat-obatan
b. Pencatatan dan pelaporan obat
c. Peningkatan mutu petugas puskesmas bidang obat-obatan
Program kerja pengobatan adalah sebagai berikut :
a. Melaksanakan diagnosa sedini mungkin melalui:
i. Mendapatkan riwayat penyakit
ii. Mengadakan pemeriksaan fisik
iii. Mengadakan pemeriksaan laboratorium
iv. Menbuat diagnosa
b. Melaksanakan tindakan pengobatan
c. Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu, rujukan tersebut dapat
berupa :
i. Rujukan diagnostik.
ii. Rujukan pengobatan atau rehabilitasi
iii. Rujukan lain.
Program ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan, pemerataan,
mutu, keterjangkauan obat, perbekalan kesehatan rumah tangga dan
kosmetika. Kegiatan pokok puskesmas adalah sebagai berikut :
a. Peningkatan ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan
kesehatan diseluruh puskesmas dan jaringannya
b. Peningkatan mutu penggunaan obat dan perbekalan kesehatan
c. Peningkatan keterjangkauan harga obat dan perbekalan kesehatan
terutama untuk penduduk miskin
d. Peninkatan mutu pelayanan farmasi, komunitas dan rumah sakit.

26
E. Upaya Kesehatan Pengembangan
Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang
ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat
serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. 8 Upaya kesehatan
pengembangan diantaranya :
1.
Upaya Kesehatan Sekolah6,7,8
UKS adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup
sehat anak usia sekolah yang di sekolah dan perguruan agama, pembagian
anak usia sekolah pada usia 7 -21 tahun yaitu; 1) 7 9 tahun adalah pra
remaja, 2) 10 19 tahun adalah remaja, 3) 20 - 21 tahun adalah dewasa
muda.
a.
Ruang Lingkup Program dan Pembinaan UKS
Ruang lingkup UKS meliputi : penyelenggaraan pendidikan
kesehatan, penyelenggaraan pelayanan kesehatan di sekolah dan
pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat, baik fisik, mental, sosial
maupun lingkungan.
b.
Kegiatan Harian Petugas UKS Di luar gedung
Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pendidikan
kesehatan antara lain; 1) Wisata siswa, 2) Kemah (Persami), 3) Ceramah,
4) diskusi, 5) Lomba-lomba, 6) Bimbingan hidup sehat, 7) Apotik hidup,
8) Kebun sekolah, 9) Kerja bakti, 10) Majalah dinding 11) Pramuka, dan
12) Piket sekolah.
c.
Upaya Kesehatan Olah Raga8
Upaya kesehatan olahraga adalah upaya kesehatan yang
memanfaatkan aktivitas fisik dan atau olahraga untuk meningkatkan
derajat kesehatan. Aktivitas fisik dan atau olah raga merupakan sebagian
kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari karena dapat
meningkatkan kebugaran yang diperlukan dalam melakukan tugasnya.
Dalam menjalankan kegiatan kesehatan olahraga, puskesmas
berpedoman kepada tiga fungsi puskesmas, yaitu: pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan
pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
a. Olahraga preventif

27
Jenis kegiatan meliputi ; 1) Pemeriksaan kadar kolesterol, 2)Pemeriksaan
denyut nadi, 3) Pemeriksaan tekanan darah, 4) Konseling fitness, 5)
Olahraga bersama.
b. Olahraga pada anak
Jenis kegiatan meliputi ; 1) Bermain dan berolahraga aktif, 2) Bimbingan
olahraga, dan 3) Penyuluhan pertumbuhan badan.
c. Olahraga pada wanita
Jenis kegiatan meliputi; 1) Senam ibu hamil, 2) Senam refleksi untuk ibu-
ibu, dan 3) Senam relaksasi untuk pekerja wanita.
d. Olahraga pada usia lanjut
Jenis kegiatan meliputi ; 1) Konseling usila, 2) Pemeriksaan rutin usila, 3)
Senam kebugaran dan 4) Jalan santai.
2.
Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat5
Perawatan kesehatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan
keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang
dilaksanakan oleh perawat, dengan mengikutsertakan team kesehatan
lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih
tinggi dari individu, keluarga dan masyarakat.
a. Asuhan keperawatan pasien (prioritas) kontak puskesmas yang berada
di poliklinik puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), puskesmas
keliling (pusling), posyandu, pos kes desa. Berupa ; 1) Pengkajian
keperawatan pasien sebagai deteksi dini (sasaran prioritas), 2)
Penyuluhan kesehatan, 3) Tindakan Keperawatan (direct care), 4)
Konseling keperawatan, 5) Pengobatan (sesuai kewenangan), 6)
Rujukan pasien/masalah kesehatan, dan 7) Dokumentasi keperawatan
b. Kunjugan rumah oleh perawat (home visit/home care) terencana,
bertujuan untuk pembinaan keluarga rawan kesehatan.
Home visit adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang komprehensif
bertujuan memandirikan pasien dan keluarganya, pelayanan kesehatan
diberikan di tempat tinggal pasien dengan melibatkan pasien dan
keluarganya sebagai subyek yang ikut berpartisipasi merencanakan
kegiatan pelayanan, pelayanan dikelola oleh suatu unit/sarana/institusi
baik aspek administrasi maupun aspek pelayanan dengan

28
mengkoordinir berbagai kategori tenaga profesional dibantu tenaga non
profesional, di bidang kesehatan maupun non kesehatan.
c. Kunjungan perawat ke kelompok prioritas terencana (posyandu usila,
posyandu balita, panti asuhan dan lain-lain) meliputi ; 1) Pengkajian
keperawatan individu di kelompok, 2) Pendidikan/penyuluhan
kesehatan di kelompok, 3) Pengobatan (sesuai kewenangan), 4)
Rujukan pasien/masalah kesehatan, dan 5) Dokumentasi keperawatan
d. Asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap puskesmas, meliputi ;
1) Pengkajian keperawatan individu, 2) Tindakan keperawatan langsung
(direct care) dan tidak langsung (lingkungan), 3)
Pendidikan/penyuluhan kesehatan, 4) Pencegahan infeksi di ruangan, 5)
Pengobatan (sesuai kewenangan), 6) Penanggulangan kasus gawat
darurat, 7) Rujukan pasien/masalah kesehatan, 8) Dokumentasi
keperawatan.
3.
Upaya Kesehatan Kerja11,13
Upaya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat
pekerja baik berupa kegiatan promotif, preventif dan kuratif Penyakit
Akibat Kerja (PAK) dan atau Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) dan
pemulihan peny PAH dan PAHK oleh Puskesmas. Program tersebut antara
lain :
a. Promosi kesehatan (Kesehatan pekerja dan lingkungan kerja)
b. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan Penyakit
Akibat Kerja (PAK), Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) dan
Kesehatan Kerja (KK) dikalangan pekerja
c. Pemeriksaan Kesehatan (Sebelum kerja/berkala tahunan/khusus)
d. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
e. Rehabilitasi medik akibat kecelakaan atau PAK dan PAHK
f. Pembinaan dan pengawasan terhadap kondisi kerja dan tempat kerja.
g. Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi (pemeriksaan kualitas air
minum, pemrtiksaan kualitas kebersihan makanan pekerja/kantin dan
Sanitasi lingkungan)
h. Pembinaan dan pengawasan APD (penyuluhan dan pemilihan alat
pelindungan diri)
i. Melaporkan secara berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada
kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota
j. Melaporkan kecelakaan kerja yang terjadi ke Depnaker/trans

29
k. Memberikan umpan balik kepada perusahaan setiap kali menemukan
kasus kesehatan kerja.
l. Koordinasi dengan lintas sektor terkait.
4.
Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut8,9,10
Pelayanan kesehatan gigi pada masyarakat/penderita yang berkunjung
ke Puskesmas adalah pelayanan medik yang bersifat dasar kedokteran gigi
berdasarkan kebutuhan meliputi upaya pengobatan/pemulihan dan rujukan
dengan tidak mengabaikan upaya peningkatan/pencegahan/perlindungan.
Pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut adalah sebagai
berikut :
a. Pembinaan/pengembangan kemampuan dan peran serta masyarakat
dalam upaya pelihara diri (self care), melalui pengembangan upaya
kesehatan yang bersumber pada otoaktivitas masyarakat dengan
pendekatan UKGM (Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat).
b. Pelayanan asuhan pada kelompok rentan, seperti pada anak sekolah
(UKGS = Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) dan pada kelompok ibu
hamil/menyusui, anak prasekolah.
c. Pelayanan medik gigi dasar, di Puskesmas dilaksananakan terhadap
masyarakat baik yang datang mencari pengobatan maupun yang dirujuk
oleh BPG (Balai Pengobatan Gigi).
5.
Upaya Kesehatan Jiwa12,13,15
Pelayanan pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan meliputi
gangguan perasaan, proses pikir dan perilaku yang menimbulkan
penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran
sosialnya.
Pelayanan meliputi aspek promotif, preventif dan kuratif serta
rehabilitatif pada gangguan mental emosional, psikosomatik dan psikotik
yang diberikan oleh dokter, perawat, bidan yang telah mempunyai
kompetensi teknis. Kegiatan dari upaya kesehatan jiwa adalah sebagai
berikut :
a. Penemuan kasus gangguan jiwa berdasar klasifikasi International
Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems revisi
ke 10 (ICD X).
b. Pelayanan kasus.
c. Kunjungan rumah.
d. pemantauan dan penilaian.

30
e. Pelatihan
f. Pencatatan dan pelaporan.
6.
Upaya Kesehatan Mata
Merupakan upaya kesehatan dasar dibidang UKM/PK (Upaya
Kesehatan Mata) yang dilaksanakan di tingkat puskesmas. Kegiatan dari
kesehatan mata adalah :
a. Mengupayakan kesehatan mata dengan anamnesa
b. Pemeriksaan visus dan mata luar
c. Tes buta warna
d. Tes tekanan bola mata
e. Tes saluran air mata
f. Tes lapang pandang
g. Funduskopi
h. Pemeriksaan laboratorium.
7.
Upaya Kesehatan Usia Lanjut12
Merupakan upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan para usia
lanjut yang dilaksanakan dari tingkat Puskesmas. Usia lanjut dapat
dikategorikan menjadi; 1) usia 45 59 adalah Pra usia lanjut, 2) usia 60 atau
lebih adalah Usia lanjut. Kegiatan dari upaya kesehatan usia lanjut adalah
sebagai berikut :
a. Pendataan sasaran pra usia lanjut dan usia lanjut.
b. Pelayanan kesehatan dan penanganan kasus.
c. Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor
d. Manajemen program
8.
Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Upaya pembinaan pengobatan tradisional adalah pengobatan dan/atau
perawatan dengan cara obat dan pengobatnya yang mengacu kepada
pengalaman, ketrampilan turun temurun, dan/atau pendidikan/pelatihan, lalu
diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Kebijakan
peningkatan peran pengobatan tradisional dalam system pelayanan
kesehatan, dapat disarikan sebagai berikut :
a. Pengobatan tradisional perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan
peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan primer.
b. Pengobatan tradisional perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai
warisan budaya bangsa, namun perlu membatasi praktek-praktek yang
membahayakan kesehatan.

31
c. Dalam rangka peningkatan peran pengobatan tradisional, perlu dilakukan
penelitian, pengujian dan pengembangan obat-obatan dan cara-cara
pengobatan tradisional.
d. Pengobatan tradisional sebagai upaya kesehatan nonformal tidak
memerlukan izin, namun perlu pendataan untuk kemungkinan pembinaan
dan pengawasannya. Masalah pendaftaran masih memerlukan penelitian
lebih lanjut.
e. Pengobatan tradisional yang berlandaskan pada cara-cara
organobiollogik, setelah diteliti, diuji dan diseleksi dapat diusahakan
untuk menjadi bagian program pelayanan kesehatan primer. Contoh
dukun bayi, tukang gigi, dukun patah tulang. Sedangkan cara-cara
psikologik dan supernatural perlu diteliti lebih lanjut, sebelum dapat
dimanfaatkan dalam program.
f. Pengobatan tradisional tertentu yang mempunyai keahlian khusus dan
menjadi tokoh masyarakat dapat dilibtkan dalam upaya kesehatan
masyarakat, khususnya sebagai komunikator antara pemerintah dan
masyarakat.

BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

A. Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan adalah Praktik Belajar Lapangan
B. Lokasi dan Waktu
1. Lokasi : Puskesmas Boja 02
2. Waktu : 4 Januari 14 Januari 2016
C. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer
diperoleh dari wawancara langsung Kepala Puskesmas dan data sekunder
diperoleh dari laporan RTP dan cakupan target yang tercapai.
D. Pengumpulan Data

32
Data yang diperoleh pada Praktik Belajar Lapangan di Puskesmas Boja
02 pada periode 4 Januari 14 Januari 2016 diperoleh dari data primer dan
sekunder. Data yang dikumpulkan meliputi :
1. Laporan RAK dan RUK Tahun 2015.
2. Data cakupan dan target yang tercapai tahun 2015.
3. Wawancara langsung dengan petugas Puskesmas Boja 02.
E. Pengolahan Data
Dilakukan pengolahan data untuk data yang diperoleh dengan cara :
1. Mencari masalah dengan mencari cakupan pada tiap program.
2. Memprioritaskan masalah dari data yang telah diidentifikasi dengan
metode MPP (Matrix Problem Prioritas)
a. Tetapkan kriteria prioritas yang digunakan.
b. Buat tabel prioritas sesuai dengan desain atau metode yang digunakan.
c. Berikan nilai sesuai dengan skor yang telah ditentukan.
d. Berikan nilai masing-masing kriteria dengan perkalian bobot dengan
skor.
e. Dengan menjumlah nilai kriteria, nilai tertinggi merupakan prioritas
masalah yang utama, sedangkan nilai terkecil belum menjadi prioritas
untuk ditanggulangi segera.
3. Menganalisis masalah dengan analisis pendekatan sistem yang terdiri dari :
a. Lingkungan : lingkungan terdiri dari fisik dan non fisik
b. Input : Man, Money, Material, Method, Marketing
Man (petugas) : berkaitan kemampuan, keterampilan, pengetahuan,
keahlian, kesadaran, dan kepemimpinan.
Money : berkaitan dengan dana untuk kegiatan program
Material : berkaitan dengan sarana prasarana.
Methods : prosedur kerja, peraturan, dan kebijaksanaan.
Marketing : berkaitan dengan sosialisasi sesuai program
c. Proses : P1 (Perencanaan), P2 (Pelaksanaan), P3 (Penilaian)
Perencanaan (P1)
Perencanaan adalah proses rencana penyusunan rencana tahunan
Puskesmas untuk mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja
Puskesmas.
Pelaksanaan (P2)
Pelaksanaan dan pengendalian adalah proses penyelenggaraan,
pemantauan serta penilian terhadap penyelenggaraan rencana
tahunan Puskesmas, baik rencana tahunan upaya upaya wajib

33
maupun rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan, dalam
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Untuk
terselenggaranya pelaksanaan dan pengendalian dilakukan
pengorganisasian, penyelenggaraan, pemantauan, dan penilaian.
Penilaian (P3)
Pengawasan dan pertanggungjawaban adalah proses memperoleh
kepastian atas kesesuaian penyelenggaraan dan pencpaian tujuan
Puskesmas terhadap rencana dan peraturan perundang-undangan
serta berbagai kewajiban yang berlaku. Untuk terselenggaranya
pengawasan dan pertanggungjawaban dilakukan kegiatan
pengawasan, pertanggungjawaban.
d. Output : Cakupan program yang tercapai pada Tahun 2015
e. Outcome : Efek yang ditimbulkan dari program yang terlaksana
f. Impact : Dampak yang ditimbulkan pada masyarakat
4. Membentuk alternatif pemecahan masalah dari masalah yang ada.
5. Mengambil keputusan. Pengambilan keputusan dilakukan dengan metode
Matrix Cost Benefit
6. Penyusunan rencana kegiatan (POA) mencakup 4W+1H

34
BAB IV

HASIL KEGIATAN

A. Gambaran Umum Puskesmas


Puskesmas Boja 02 adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di
wilayah Kecamatan Boja. Sebagai pusat kesehatan tingkat pertama di wilayah
kerjanya, puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan pemerintah yang
wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara bermutu, terjangkau, adil
dan merata.
1. Batas-batas wilayah puskesmas Boja 02 adalah
Sebelah utara : Kecamatan Gunungpati
Sebelah selatan : Kab. Ungaran
Sebelah timur : Kab. Ungaran
Sebelah barat : Kecamatan Boja
2. Luas wilayah kerja
Puskesmas Boja 02 sebagai salah satu puskesmas di Kecamatan Boja
Kabupaten Kendal, dengan luas wilayah 26.460.000 m2.
3. Jumlah kelurahan
Puskesmas Boja 02 mempunyai wilayah kerja 8 desa yaitu :
Desa Ngabean
Desa Karangmanggis
Desa Kliris
Desa Leban
Desa Puguh
Desa Medono
Desa Pasigitan
Desa Bandarejo

35
4. Keadaan Geografi
Tabel 4.1 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin diwilayah kerja
Puskesmas Boja 02 tahun 2015.
Desa Laki-Laki Perempuan Jumlah
Ngabean 2605 2484 5.762
Karangmanggis 892 855 1.925
Kliris 1325 1280 2.639
Leban 990 979 2.132
Puguh 812 808 1.781
Medono 469 449 1.019
Pasigitan 1435 1327 1.508
Banjarejo 1376 1349 2.960
Total 9904 8651 18555

Tabel 4.2 Jumlah penduduk menurut RW dan RT diwilayah kerja Puskesmas


Boja 02 tahun 2015.
Desa RW RT
Ngabean 9 28
Karangmanggis 4 13
Kliris 8 22
Leban 5 15
Puguh 5 10
Medono 3 6
Pasigitan 10 20
Banjarejo 4 22
Total 48 136

B. Konsep puskesmas
1. Visi
Menjadi puskesmas yang lebih berkualitas, profesional dan komunikatif
dalam memberikan pelayanan.
2. Misi
Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau
Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai
Membangun suasana kerja yang nyaman, aman dan kondusif
Meningkatkan profesionalisme pegawai
Menjalin kerjasama lintas sektor yang harmonis dan saling mendukung
Mendorong masyarakat wilayah kerja puskesmas.
Boja untuk hidup sehat dan mandiri
Transparansi di segala bidang.

C. Proses Managemen Puskesmas


1. Input
a. Struktur Organisasi
Tabel 4.3 Gambaran struktur organisasi Puskesmas Boja 02
No. Jenis Tenaga Jumlah KET
Laki-laki Perempuan

36
PNS NON PNS NON
PNS PNS
1 Dokter Spesialis
2 Dokter umum 2
3 Dokter Gigi
4 Perawat 1 4
5 Perawat Gigi 1
6 Bidan 4 3
7 Bidan Desa 5 5
8 Apoteker & S1 Farmasi
9 Ass. Apoteker 1
10 Analisis Farmasi 1
11 S1 Kesmas
12 S2 Kesmas
13 Sanitarian 1
14 Gizi 1
15 Keterapian Fisik
16 Keteknisan Medis
17 Pekarya 1
18 TU
19 Sopir 1
20 Keuangan 1
21 Tenaga Non Kesehatan 1 3 3

b. Struktur Organisasi
Terlampir
c. Sumber Dana (Money)
Tabel 4.4 Tabel sumber dana di Puskesmas Boja 02
No Sumber Dana Jumlah Tahun Realisasi Rencana
2015 Tahun 2015 Tahun 2016
1 JKN (APBN) 500.000.000 - -
2 BOK (APBN) 200.000.000 - -
3 RUTIN (APBD) 60.000.000 - -

d. Sarana dan Prasarana


Tabel 4.5 Tabel kelengkapan sarana prasarana di Puskesmas Boja 02
No Nama bangunan Jumlah ruangan Kondisi
1 Ruang BP umum 1 Baik
2 Ruang BP Gigi 1 Baik
3 Ruang Kepala Puskesmas 1 Baik
4 Ruang KIA 1 Baik
5 Ruang Ka. Sub. Bag. Tata Usaha 1 Baik
6 Ruang obat 1 Baik
7 Ruang Laborat 1 Baik
8 Ruang Aula 1 Baik
9 Ruang loket 1 Baik
10 Ruang Tunggu 1 Baik

37
11 Ruang Dapur 1 Baik
12 Ruang Gudang 1 Baik
13 Garasi Mobil Puskesling 1 Baik

2. Proses
a. Perencanaan (P1)
Dalam perencanaan tingkat Puskesmas terbagi menjadi 2 tim
yaitu tim perencana dan tim evaluasi. Dalam hal ini masing-masing
mempunyai struktur organisasi tersendiri. Kepala puskesmas tidak ikut
dalam memberikan bahan perencanaan tetapi hanya mengevaluasi
rencana yang telah dibuat oleh pemegang program.
Dengan pendekatan sistem, tim Rencana Anggaran Kegiatan
(RAK) melakukan perumusan hasil analisa untuk menjadi masalah jika
pencapaian kegiatan tidak memenuhi target yang ditetapkan. Kemudian
pencapaian kegiatan yang tidak memenuhi target tersebut
ditindaklanjuti sebagai permasalahan dalam perencanaan selanjutnya.
Dalam perumusan masalah digunakan pendekatan pemecahan masalah
dengan analisa prioritas masalah yang akan digunakan untuk menyusun
rencana usulan kegiatan.
b. Pergerakan dan Pelaksanaan (P2)
Proses pelaksanaan dilakukan dengan memantau proses
pelaksanaan dan hasil kegiatan Puskesmas
i. Lokakarya mini (lokmin) bulanan Puskesmas terselenggara rutin
ii. Notulensi lokmin kurang lengkap
iii. Lokakarya mini tribulanan tidak ada
iv. Tamu undangan yang hadir pada lokakarya mini tahunan adalah
Dinas Kesehatan.
c. Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3)
Pengawasan dibedakan atas dua macam yaitu pengawasan
internal yang dilakukan secarara langsung oleh atasan dan pengawasan
eksternal yang dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan serta
berbagai institusi pemerintah terkait.
Penilaian dilakukan dengan membandingkan hasil kegiatan
dengan target kegiatan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kab.
Kendal melalui standar pelayanan minimal. Laporan

38
pertanggungjawaban dibuat pada setiap akhir tahun anggaran. Laporan
tersebut mencakup pelaksanaan kegiatan serta perolehan dan
penggunaan berbagai sumber daya termasuk keuangan dan inventarisi
barang disampaikan kepada Dinas Kesehatan serta pihak-pihak terkait
lainnya, termasuk masyarakat. Selanjutnya Dinas Kesehatan
memberikan feed back pada Puskesmas.
Evaluasi kinerja petugas Puskesmas Boja 02 dilakukan dengan
rapat rutin tahunan. Rapat tahunan dilakukan untuk evaluasi cakupan
serta kinerja puskesmas.

3. Output
Tabel 4.6 Tabel target dan cakupan kegiatan program upaya wajib
Puskesmas Boja 02

39
Cakupan Besar
No Masalah Target (%)
(%) masalah
KIA/KB
Pelayanan ANC K1 100% 96% 4%
1.
Kunjungan ibu hamil K4 96% 88,8% 11,2%
2.
Pelayanan ANC kunjungan min 4 kali 96% 83,24% 16,72%
3.
Komplikasi kebidanan yang ditangani 80% 17.80% 82,2%
4.
5. Pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi 95% 93.37% 6,63%
kebidanan

Pelayanan nifas 86% 92.54% 7,46%


6.
Neonatus dengan komplikasi yang
100% 98.25% 1,75%
7. ditangani

Kunjungan bayi 92.11% 93% 7%


8.
9. Desa/Kelurahan Universal Child
100% 68,18% 31,82%
Immunization (UCI)

Pelayanan anak balita 90% 84,51% 15,49%


10.
11. Peserta KB aktif 85% 60,86% 39,14%

P2M
1. Acut Flacid Paralysis (AFP) rate per
100.000 penduduk <15 tahun 100% 0% 100%

2. Penemuan Penderita Pneumonia Balita 90% 87,68% 97,42%


3. Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif 75% 33,33% 44,44%
4. Penderita DBD yang ditangani 100% 109,09% -9,09%
5. Penemuan Penderita Diare 100% 123,24% -23,24%
6. Cakupan Desa/Kel Mengalami KLB yang
dilakukan Penyelidikan Epidemiologi 100% 0% 100%
<24 jam

7. Prevalensi Kasus HIV <0,3% 0,00% 100%


8. Jumlah kasus TB per 100.000 penduduk 0,107% 0,022% 20,56%
9. Presentase kasus TB Paru (BTA Positif)
yang di temukan 100% 100% 1%

10. Presentase kasus TB Paru (BTA Positif)


yang di sembuhkan 100% 500% -400%

11. Angka penemuan kasus malaria per 1000


penduduk 0,15% 0,36% 240%

PROMKES
1. Posyandu 100% 85% 15%
2. Napza 100% 85% 15%
3. PHBS 100% 85% 15%
4. Desa Siaga 100% 72,73% 27,27%
5. BPJS - - -
40
GIZI
Pelayanan anak balita (SPM)
1. 90% 84,51% 15.49%
4. Analisis Pendekatan Sistem
a. Identifikasi permasalahan melalui hambatan capaian program upaya
kesehatan wajib Puskesmas Boja 02.
i. Kesehatan Ibu dan Anak / Keluarga Berencana (KIA/KB)
Kurangnya kesadaran Bumil untuk memeriksakan kehamilan di
pelayanan kesehatan
Perpindahan tempat Bumil ke wilayah baru terkait dengan
kunjungan ANC dan kelahiran
Kelahiran premature (kurang bulan)
Kelahiran Bumil risiko tinggi yang dirujuk
Temuan komplikasi kehamilan oleh tenaga kesehatan masih
kurang
Kesadaran masyarakat untuk melakukan imunisasi booster
kurang
Adanya konsep pada masyarakat bahwa memiliki banyak anak
memiliki banyak rezeki
ii. Pencegahan Penyakit Menular (P2M)
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan
Sosialisasi kurang
Minimnya transportasi untuk berobat
Kader kurang berjalan dengan lancar karena terhambatnya dana
Kurangnya tenaga kesehatan untuk mengunjungi atau
menjemput pasien
iii. Promosi Kesehatan (PROMKES)
Keakuratan data yang dilaporkan
Anggaran dari DKK yang sudah habis
Peneyesuaian jadwal

iv. GIZI
Kurangnya kesadaran pengasuh bayi dan balita untuk
mendatangi posyandu
Jumlah bayi dan balita penderita gizi buruk dan gizi kurang pada
daerah wilayah kerja Puskesmas Boja 02 rendah sehingga
cakupannya rendah.
v. Kesehatan Lingkungan (KESLING)

41
Kegiatan BAB di sungai sulit dihilangkan
Warga berharap pemerintah memberikan bantuan
Warga belum mengerti pentingnya menggunakan jamban
Ekonomi warga kurang
vi. PENGOBATAN
Sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti alat untuk
sterilisasi yang belum ada.
Pasokan obat yang kurang di puskesmas sehingga ada
perubahan pemberian obat.

b. Prioritas Masalah (Matrix Problem Priority)


Masalah Manfaat Usaha Extended Peringkat
A 8.7 8,2 71,34 V
B 8,3 8,3 68,89 IV
C 3,2 3 9,6 I
D 6 6,9 41.4 II
E 8,1 8 64,8 III
F 8,4 8,5 71.4 VI

A= Peningkatan akses sanitasi dasar (penyediaan jamban keluarga)


B= Pemasokan obat yang kurang
C= Angka komplikasi kebidanan yang ditangani
D= Pelayanan anak balita
E= Angka penemuan kasus malaria per 1000 penduduk
F= Cakupan desa siaga

d. Analisis Penyebab Masalah


i. Lingkungan
a. Fisik : jarak geografis yang saling berjauhan
b. Non-Fisik : kebijakan sudah sesuai dengan arahan DKK
ii. Input
a. Man : Jumlah tenaga kerja sudah mencukupi
b. Money : dana operasional sudah mencukupi dari BOK
c. Method : tidak ada SOP
d. Material : sarana dan prasarana sudah baik
e. Marketing : sosialisasi tentang kesehatan dan komplikasi pada
bumil yang masih sudah baik
ii. Proses
a. P1 = dokumen perencanaan sudah lengkap, pergerakan dan
pelaksanaan sudah sesuai time schedule dan sesuai dengan RAK
b. P2 = program sudah dilaksakan sesuai rencana, lokmin berjalan
rutin, terjalin hubungan yang baik antara bidan dan puskesmas

42
c. P3 = pencatatan dan pelaporan kasus kurang lengkap dan tidak
terorganisir
iii. Output
Angka cakupan menurun sehingga muncul masalah dengan
pemasaran dan pelaksanaan program yaitu komplikasi kebidanan
yang memiliki pencapaian 17,80 %
iv. Outcome
Masih terdapat angka kematian bayi pada tahun 2015 sebanyak 2
kasus yang disebabkan karena cacat kongenital dan kelainan jantung
akibat serotinus.
v. Impact
a. Angka kematian bayi menurun.
b. Angka komplikasi ibu hamil oleh tenaga kesehatan dapat
ditangani secara optimal
c. komplikasi kebidanan yang ditangani = 82 = 0,0039
bumil yang melakukan pelayanan 20.750

Gambar 4.1 Alur Pendekatan Sistem

d. Alternatif Pemecahan Masalah

43
Masalah : tidak ada SOP (method), kurangnya penilaian (P3)-
> tidak lengkap dan tidak terorganisir.
e. Pengambilan Keputusan
Masalah Manfaat Biaya Rasio Peringkat
A 9 2 4.5 I
B 7 6 3.5 II
C 5.2 5.4 0.96 VII
D 8 3 2.66 IV
E 8,6 3 2.8 III
F 7 4 1.5 V
G 7 7 1 VI

A=Pembuatan SOP
B=Sarana dan Prasarana terkait keseketariatan
C=pelatihan dokumentsi
D=pemberdayaan tenaga kesehatan dalam rangka
pendokumentsiam
E=pembentukan pendokumentasian tiap program
F=membuat time schedule berserta deadline
G=pelaporan dikumpulkan dalam 2 buluan sekali dalam rapat
koordinasi

f. POA (Plan of Action)


Tabel uraian kegiatan pelaksanaan POA
Uraian Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana Biaya
Persiapan Koordinasi pemateri, Januari Puskesm Penanggung 200.000
persiapan guideline, as Boja 2 jawab
pembentukan panitia, progrsm
sosialisasi kegiatan. KIA
Pelaksanaan workshop pembuatan Februari Puskesm Penanggung 500.000
Standar Operasional as Boja 2 jawab
Prosedur (SOP), progrsm
pengolahan SOP, KIA
stakeholder
Penilaian setiap program sudah Maret Puskesm Kepala 100.000
mengetahui as Boja 2 Puskesmas
pendokumentasian.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

44
1. Kesimpulan
1. Permasalahan yang diambil yaitu, angka komplikasi ibu hamil yang
ditangani di Puskesmas Boja 02.
2. Berdasarkan delapan langkah problem solving, didapatkan langkah yang
paling sulit diterapkan dilapangan yakni alternatif pemecahan masalah,
disusul oleh penyusunan POA dan pengambilan keputusan.
3. Keputusan tetap dari masalah di Puskesmas Boja 02 adalah melakukan
workshop pembuatan SOP (Standar Operasional Prosedur) agar
kedepannya sosialisasi pada ibu hamil untuk melakukan kunjungan ANC
pada pelayanan kesehatan oleh koordinator program dapat berjalan sesuai
SOP di Puskesmas Boja 02.

2. Saran
1. Setelah workshop diharapkan setiap program membuat SOP.
2. SOP bertujuan untuk mendukung kegiatan yang ada di RTP (Rencana
Tingkat Puskesmas).
3. SOP bertujuan menjelaskan arahan kegiatan di RTP sehingga kegiatan
berjalan secara efisien, misalnya:
a. Melakukan sosialisasi di Puskesmas Boja 02 dan di rumah kader
khususnya oleh bidan pada ibu hamil untuk melakukan kunjungan
ANC secara rutin.
b. Meningkatkan kekompakan dan koordinasi satu sama lain antar
petugas kesehatan yang mendapat jadwal sosialisasi terutama bidan.
c. Melakukan penelusuran mengapa masyarakat khususnya ibu hamil
tidak mau melakukan kunjungan ANC di Puskesmas Boja 02.
d. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas Boja 02.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan. 2009. Sistem Kesehatan. Jakarta.

2. Sulastomo,2007, Manajemen Kesehatan, PT Gramedia Pustaka


Utama,Jakarta.

3. Rasa Harbakti, SKM, M Kes . BPPSDM DEPKES RI BALAI


PELATIHAN KESEHATAN SEMARANG 2013 ,

45
4. Manajemen

5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan. Departemen Kesehatan, Jakarta. 2004.

6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. UU Nomor 36 tahun 2009


Tentang Kesehatan. Departemen Kesehatan, Jakarta 2009

7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003 Tentang
Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional Menteri Kesehatan Republik
Indonesia, Pasal 1. Departemen Kesehatan, Jakarta 2003

8. Partama, I. Pengaruh Tingkat Pengetahuan Ibu Balita Dan Kesehatan


Lingkungan Terhadap Kejadian Diare Balita (Studi Di Desa Tembuku,
KecamataN Tembuku, Kabupaten Bangli, Propinsi Bali Tabun 2006).
Surabaya: FKM UNAIR. 2006.

9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


585/MENKES/SK/V/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi
Kesehatan di Puskesmas).

10. Depkes RI. Pedoman Kerja Puskesmas. 2006.

11. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan. Departemen Kesehatan, Jakarta. 2004.

12. Kepmenkes RI No. 585/MENKES/SK/V/2007, Pedoman Pelaksanaan


Promosi Kesehatan di Puskesmas, Jakarta, Depkes RI, 2008.

13. Prof.Dr.Sokekidjo Notoatmodjo,SKM, M.Com.H, Promosi Kesehatan, Teori


dan Aplikasi, Jakarta, PT.Rineka Cipta, 2005.

46
14. Departemen Kesehatan Indonesia. http://pppl.depkes.go.id/asset/download/
JUKREN FINAL SESUAI PMK JUKS UN 2014%20 Pembahasan Itjen
tanpa warermark.pdf diakses tanggal: 08 Januari 2016.

15. Data dan Informasi diunduh tanggal 07 Januari 2016 dari:


www.depkes.go.id

16. MDGs 2015 diunduh tanggal 10 Januari 2016 dari : www.depkes.go.id

LAMPIRAN

47