Anda di halaman 1dari 28

SKRIPSI

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PASIEN


PROLANIS DALAM MENGIKUTI KEGIATAN PROLANIS
DI KLINIK DHARMA HUSADA WLINGI

Diajukan guna memperoleh gelar Sarjana Keperawatan

DIAN RAHMAWATI

NIM 1512046

Program Studi S-1 Keperawatan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


PATRIA HUSADA BLITAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Saat ini Indonesia mengalami transisi epidemiologi, dimana terjadi penurunan


prevalensi penyakit menular namun terjadi peningkatan prevalensi penyakit tidak menular
(PTM) atau penyakit degeneratif. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 dan 2001, tampak bahwa
selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi dimana kematian karena
penyakit tidak menular semakin meningkat, sedangkan kematian karena penyakit menular
semakin menurun, diketahui bahwa terjadi penurunan proporsi penyakit menular dari
44,2% menjadi 28,1% akan tetapi terjadi peningkatan pada proporsi PTM dari 41,7%
menjadi 59,5% (Riskesdas, 2007).

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, kematian akibat Penyakit Tidak Menular
(PTM) diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan
terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi
global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung,
stroke dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta jiwa
kematian per tahun karena penyakit tidak menular, naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada
saat ini. Di sisi lain, kematian akibat penyakit menular seperti malaria, TBC atau penyakit
infeksi lainnya akan menurun, dari 18 juta jiwa saat ini menjadi 16,5 juta jiwa pada tahun
2030.World Health Organisation (WHO) seperti yang dikutip Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) Indonesia memprediksi tahun 2020, Penyakit Tidak Menular (PTM) akan
menyebabkan 73% angka kematian di dunia. Sedangkan jika melihat kondisi Jatim tahun
2011 ini, angka kematian karena PTM meningkat menjadi 27,28% dari 1.023 penyebab
kematian di Jatim lainnya. Penyakit yang masuk dalam kategori PTM adalah penyakit
jantung dan pembuluh darah, diabetes melitus, penyakit kronis dan degeneratif (penuaan)
serta kanker.Secara keseluruhan jumlah kasus akibat PTM di Jatim sebanyak 50.591
kasus. Terbanyak, terjadi pada penyakit jantung dan pembuluh darah, yakni 17.110 kasus.
Pada kasus penyakit akibat komplikasi pada jantung dan pembuluh darah, tertinggi terjadi
pada kasus hipertensi esensial sebanyak 10.466 kasus. Terakhir diabetes mellitus
sebanyak 11.907 kasus.(Global status report on noncommunicable diseases 2010,
Geneva, World Health Organization 2011)

Rendahnya kepatuhan konsumsi obat ternyata lebih banyak ditemukan pada


pasien berusia muda dibanding yang sudah usia lanjut.Ketidakpatuhan pasien
mengonsumsi obat yang diresepkan dengan benar (keteraturan dosis dan waktu minum),
berkontribusi terhadap kondisi pasien.Data menunjukkan, rata-rata setengah pasien
menghentikan pengobatan dalam waktu 12 bulan sejak memulai pengobatan. Hal ini
masih ditambah dengan malas konsultasi ke dokter untuk sekadar memantau gula
darah.Ketidakpatuhan pasien dalam berobat inilah yang menjadi salah satu akar masalah
yang membuat penyakit jadi tidak terkontrol dan muncul komplikasi.Contohnya
diabetes yang tidak terkontrol membuat tubuh berada dalam kondisi hiperglikemi kronik.
Inilah yang bisa menyebabkan komplikasi, baik mikrovaskular seperti kehilangan
penglihatan, kebas/baal karena saraf rusak, gangguan ginjal; maupun makrovaskular
seperti pengerasan pembuluh darah jantung(www.inaheart.org)

Dukungan petugas kesehatan diperlukan untuk membantu penderita melakukan


pengobatan. Penelitian yang dilakukan oleh (Ekarini, 2011) menyatakan bahwa dukungan
petugas kesehatan sangat diperlukan untuk mensosialisasikan pentingnya menjalani
pengobatan yang teratur bagi pasien hipertensi. Salah satu upaya untuk meningkatkan
kepatuhan pasien terhadap pengobatan serta pencegahan penyakit lain saat ini adalah
dengan melakukan konseling pasien. Dengan adanya konseling dapat mengubah
pengetahuan dan kepatuhan pasien. Dalam hal ini tenaga kesehatan harus berinteraksi
dengan pasien dan tenaga kesehatan lainnya melalui komunikasi yang efektif untuk
memberikan pengertian ataupun pengetahuan tentang obat dan penyakit. Pengetahuan
yang dimilikinya diharapkan dapat menjadi titik tolak perubahan sikap dan gaya hidup
pasien yang pada akhirnya akan merubah perilakunya serta dapat meningkatkan
kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang dijalaninya (Siregar, 2006). Petugas
kesehatan juga memegang tanggung jawab untuk memantau individu dengan memberikan
pengetahuan mengenai hipertensi dan DM untuk meminimalkan komplikasi dalam
penelitian menunjukkan bahwa motivasi/dorongan petugas kesehatan terhadap kepatuhan
berobat adalah cukup baik. Hal ini menggambarkan bahwa peran petugas kesehatan
dalam memberikan motivasi/dorongan cukup baik. Adanya motivasi/dorongan yang baik
dapat meningkatkan persentase kesembuhan responden
Keterjangkauan pelayanan kesehatan berpengauh terhadap kondisi pada
masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh (Suharmiati, 2009) menyatakan bahwa
rendahnya keterjangkauan masyarakat pada pelayanan kesehatan puskesmas dan
jaringannya terkait dengan kendala pada keterbatasan sumber daya serta pola pelayanan
yang belum sesuai dengan tuntutan masyarakat.

Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat terdiri dari beberapa orang yang
tinggal satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Widyanto, 2012). Keluarga
bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan
perkembangan fisik, mental emosional serta sosial dari tiap anggota keluarga. Dalam
penelitian Findlow, et al (2011) didapatkan banyak pasien hipertensi menghadapi
hambatan dalam melakukan perawatan diri karena kurangnya dukungan keluarga
sehingga terjadi komplikasi. Sementara dalam penelitian Warren, (2012) ditemukan salah
satu penyebab ketidak patuhan perawatan diri pasien hipertensi adalah kurangnya
dukungan dari keluarga. Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian Prihanda, (2012)
didapatkan hasil partisipan cendrung mengikuti pola makan yang ada dalam keluarga
karena terkadang susah dalam mengatur diet secara terpisah terkadang akibat rendah
lemak dan garam menyebabkan anggota keluarga lain merasakan tidak enaknya menu
makanan. Dukungan keluarga yang dibutuhkan oleh pasien prolanis seperti sikap,
tindakan dan membantu mengingatkan jadwal mengikuti kegiatan prolanis, mengingatkan
pola hidup sehat.

Indonesia tentunya memiliki upaya-upaya untuk mengatasi terjadinya peningkatan


penyakit degeneratif. Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tentunya dilakukan
segala upaya untuk mensejahterakan kesehatan masyarakat seluruh Indonesia termasuk
upaya untuk mengatasi penyakit degeneratif yang semakin meningkat. Pembiayaan yang
dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk penyakit
degeneratif cukup besar terutama untuk penyakit-penyakit kronis seperti penyakit jantung
koroner, gagal ginjal, stroke, DM dan penyakit degeneratif lainnya. Sehingga BPJS
kesehatan melakukan upaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya
komplikasi penyakit dan peningkatan penyakit degeneratif, agar pembiayaan kesehatan
untuk penyakit degeneratif dapat diminimalisir serta dapat memberi kesejahteraan
terhadap kesehatan para peserta pengguna BPJS Kesehatan. Salah satu upaya promotif
dan preventif yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan adalah Program Pengelolaan Penyakit
Kronis (Prolanis).

PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif


dilaksanakan secara terintegrasi melibatkan peserta, fasilitas kesehatan dan BPJS
Kesehatan dalam pemeliharaan kesehatan peserta BPJS yang menderita hipertensi dan
diabetes melitus untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan
kesehatan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan, 2015). Prolanis bertujuan
mendorong peserta penyakit kronis tersebut mencapai kualitas hidup optimal dan
memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan
Hipertensi sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit.

Klinik dharma husada merupakan klinik yang berada di kecamatan wlingi. klinik
berada dipinggir jalan raya dengan akses yang mudah dijangkau dari berbagai arah.
Klinik dharma husada merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama BPJS dan juga
melayani pasien umum pada setiap hari kerja. Program pengelolaan penyakit kronis di
klinik dharma husada wlingi telah dijalankan sejak tahun lalu (2014), hingga kini tetap
berlangsung, kendati informasi awal bahwa prolanis dibantu oleh BPJS Kesehatan sampai
Nopember 2014 saja. Di tahun 2015 telah dilakukan perencanaan prolanis di kinik
dharma husada wlingi , tentu dengan segala penyempurnaannya, baik dalam segi cakupan
kegiatan, pelaksanaan teknis, dan lainnya. Edukasi Kesehatan Salah satu kegiatan yang
dilaksanakan dalam prolanis adalah edukasi kesehatan yang telah dilakukan sejak awal
prolanis dilaksanakan. Narasumber edukasi kesehatan ini adalah dokter yang bertugas di
klinik dharma husada, dengan materi yang diberikan adalah hal-hal yang berkaitan
dengan penyakit kronis dengan tambahan beberapa masalah kesehatan yang berkaitan
dengan lansia

Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dengan petugas pemegang program


prolanis di klinik dharma husada, jumlah pasien prolanis dari bulan Januari sampai bulan
maret 2017 sebanyak 220-230 orang dan pada umumnya pasien tersebut sudah memiliki
kartu BPJS kesehatan. Kunjungan pasien Hipertensi dan DM perbulannya sekitar 50-60
pasien, suatu angka yang menggambarkan kurangnya kesadaran dari pasien dalam
melakukan kepatuhan pengobatan. Dalam hal usaha pengendalian hipertensi dan DM ada
beberapa usaha yang dilakukan oleh petugas klinik diantaranya senam Prolanis setiap hari
minggu, konselling terutama untuk kasus Hipertensi dan DM.Mengingat dari tahun ke
tahun jumlah pasien yang mengikuti kegiatan prolanis menurun.tahun 2015 jumlah
kunjungan perbulan sekitar 70-75 pasien,tahun 2016 sekitar 60-65 pasien,awal tahun
2017 sekitar 55-60. Dari hasil wawancara masih banyak pasien Hipertensi dan DM yang
tidak patuh dengan pengobatan, tidak patuh dengan diit Hipertensi dan DM,jarang
mengikuti kegiatan prolanis dan tidak menjalankan pola hidup sehat yang dapat
dibuktikan dengan cek tekanan darah dan hasil laborat kadar gula.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan 10 orang pasien hipertensi dan 10


orang pasien DM di dapatkan hasil 12 orang responden laki laki dan 8 orang responden
wanita dengan usia rata rata diatas 45 tahun dengan pekerjaan ibu rumah tangga,PNS
dan wiraswasta.10 orang pasien cendrung tidak mematuhi aturan diet hipertensi dengan
alasan susah mengatur makanan secara terpisah dan merasa bosan dengan diet rendah
garam dan gula, 6 orang pasien jarang melakukan olah raga dengan alasan tidak punya
waktu karena terlalu sibuk dengan perkerjaannnya, terdapat 8 orang pasien tidak patuh
minum obat dengan alasan sering lupa, 3 orang responden yang sering mengalami stres
dalam hidup karena masalah rumah tangga. Berdasarkan observasi yang dilakukan
terhadap pasien hipertensi dan DM 4 orang masih terlihat merokok di puskesmas, 3 orang
didampingi oleh keluarga dan yang lainnya datang sendiri, dan saat diwawancarai pasien
dan keluarga mengatakan jarang mengingatkan pada pasien kapan harus minum obat,
kapan harus kontrol, dan tidak menyediakan waktu khusus bagi pasien untuk melakukan
olah raga.

Fenomena tersebut tentu menjadi perhatian bagi kita tentunya,merupakan suatu


ancaman kesehatan yang cukup besar terhadap pasien hipertensi, yang mana nantinya
akan semakin banyak ditemukan pasien hipertensi yang tidak terkontrol dengan resiko
komplikasi dikemudian hari, yang berdampak terhadap masa depan dan kualitas hidup
dari pasien itu sendiri. Meningkatnya pasien hipertensi dan DM dengan komplikasi,
tentunya memberi dampak terhadap umur harapan hidup, kualitas hidup pasien dihari
depan serta dapat menjadi beban bagi anggota keluarga akibat komplikasi yang diderita
pasien tersebut. Dengan penelitian ini diharapkan nantinya didapatkan faktor faktor apa
saja yang berhungan dengan pasien PROLANIS dalam mengikuti kegiatan prolanis.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1.2.1. Rumusan Masalah Umum

Faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kepatuhan pasien prolanis


dalam mengikuti kegiatan prolanis di klinik Dharma husada Wlingi .

1.2.2. Rumusan Masalah Khusus


1 Adakah hubungan antara lama menderita hipertensi atau DM dengan
kepatuhan pasien prolanis dalam mengukiti kegiatan prolanis?
2 Adakah hubungan antara keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan dengan
kepatuhan pasien prolanis dalam mengukiti kegiatan prolanis?
3 Adakah hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien
prolanis dalam mengukiti kegiatan prolanis?
4 Adakah hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan kepatuhan pasien
prolanis dalam mengukiti kegiatan prolanis?

3 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN


1 Tujuan Penelitian
1 Tujuan Umum

Mengetahui beberapa faktor yang berhubungan terhadap kepatuhan


pasien prolanis dalam mengikuti kegiatan prolanis di klinik DHARMA
HUSADA WLINGI

2 Tujuan Khusus
a Untuk mengidentifikasi hubungan antara lama menderita hipertensi atau DM
dengan kepatuhan pasien prolanis dalam mengukiti kegiatan prolanis?
b Untuk mengidentifikasi hubungan antara keterjangkauan akses ke pelayanan
kesehatan dengan kepatuhan pasien prolanis dalam mengukiti kegiatan
prolanis?
c Untuk mengidentifikasi hubungan antara dukungan keluarga dengan
kepatuhan pasien prolanis dalam mengikuti kegiatan prolanis?
d Untuk mengidentifikasi hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan
kepatuhan pasien prolanis dalam mengikuti kegiatan prolanis?

1.3.2. MANFAAT HASIL PENELITIAN

1 Bagi pasien dan keluarga


Pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mengikuti kegiatan
prolanis,agar pasien terhindar dari komplikasi. Dukungan keluarga
berperan terhadap kepatuhan pasien mengikuti program prolanis.
.
2 Bagi klinik dharma husada
Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan pasien prolanis dalam mengikuti kegiatan prolanis di
klinik Dharma husada wlingi dan sebagai bahan pertimbangan dalam
melakukan upaya peningkatan kepatuhan pasien prolanis dalam mengikuti
kegiatan prolanis

3 Bagi peneliti selanjutnya


Sebagai bahan acuan untuk melakukan penelitian berikutnya tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien prolanis dalam
mengikuti kegiatan prolanis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perilaku Dalam Kesehatan
2.1.1. Konsep Perilaku
Perilaku pada pandangan biologi merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah
suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Perilaku dan gejala perilaku yang
tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan
lingkungan merupakan penentu ddari perilaku makhluk hidup termasuk
perilaku manusia (Notoatmodjo. 2008).
2.1.2. Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon individu terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan, serta lingkungan. Adapaun stimulus terdiri dari 4 unsur pokok yaitu
sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan dan lingkungan. Menurut Green
(1980), masalah kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :faktor perilaku
(behavior cause) dan faktor non perilaku (non behaviour cause).
Perilaku sendiri ditentukan atau terbentuk oleh 3 faktor utama yaitu:
a. Faktor-faktor Predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor sebelum
terjadinya suatu perilaku, yang menjelaskan alasan dan motivasi untuk
berperilaku termasuk dalam faktor predisposisi adalah pengetahuan,
keyakinan, nilai sikap dan demografi (umur, jenis kelamin, pekerjaan,
pendidikan) (Notoatmodjo, 2010:59).
b. Faktor-faktor Pendukung (enabling factors), agar terjadi perilaku tertentu,
diperlukan perilaku pemungkin, suatu motivasi yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana
kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban
dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010:60).
c. Faktor-faktor Pendorong (reinforcing factors), merupakan faktor perilaku
yang memberikan peran dominan bagi menetapnya suatu perilaku yaitu
keluarga, petugas kesehatan dan petugas lain yang merupakan kelompok
referensi dari perilaku masyarakat (Notoatmodjo, 2010:60).
2.1.3 Perilaku Kepatuhan
2.1.3.1 Pengertian
Menurut Siti Noor Fatmah (2012) mendifinisikan kepatuhan adalah
sebagai perilaku untuk menaati saran-saran dokter atau prosedur dari dokter
tentang penggunaan obat, yang sebelumnya didahului oleh proses konsultasi
antara pasien (dan keluarga pasien sebagai orang kunci dalam kehidupan
pasien) dengan dokter sebagai penyedia jasa medis. Kepatuhan terapi pada
pasin hipertensi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan mengingat
hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat
dikendalikan (Palmer dan William, 2007). Kepatuhan seorang pasien yang
menderita hipertensi tidak hanya dilihat berdasarkan kepatuhan dalam
meminum obat antihipertensi tetapi juga dituntut peran aktif pasien dan
kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang
ditentukan. Keberhasilan dalam mengendalikan tekanan darah tinggi
merupakan usaha bersama antara pasien dan dokter yang menanganinya
(Burnier,2001).
Dimatteo, Dinicola, Thorne dan Kyngas melakukan penelitian dan
mendiskusikan bahwa ada dua faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal meliputi
karakter si penderita seperti usia, sikap, nilai sosial, dan emosi yang
disebabkan oleh penyakit. Adapun faktor eksternal yaitu dampak dari
pendidikan kesehatan, interaksi penderita dengan petugas kesehatan
(hubungan diantara keduanya) dan tentunya dukungan dari keluarga, petugas
kesehatan dan teman (Niven,2002:58).
Pengukuran Tingkat Kepatuhan Keberhasilan pengobatan pada pasien
hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu peran aktif pasien dan
kesediaanya untuk memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang
ditentukan serta kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi. Kepatuhan
pasien dalam mengonsumsi obat dapat diukur menggunakan berbagai metode,
salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode MMAS-8
(ModifedMorisky Adherence Scale)(Evadewi, 2013:34).
Morisky secara khusus membuat skala untuk mengukur kepatuhan
dalam mengkonsumsi obat dengan delapan item yang berisi pernyataan-
pernyataan yang menunjukan frekuensi kelupaan dalam minum obat,
kesengajaan berhenti minum obat tanpa sepengetahuan dokter, kemampuan
untuk mengendalikan dirinya untuk tetap minum obat (Morisky &Muntner, P,
2009).
2.1.3.2 .Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan dalam mengikuti program
prolanis
a. Lama Menderita Hipertensi atau DM
Tingkat kepatuhan penderita hipertensi di Indonesia untuk berobat
dankontrol cukup rendah. Semakin lama seseorang menderita hipertensi maka
tingkat kepatuhanya makin rendah, hal ini disebabkan kebanyakan penderita
akan merasa bosan untuk berobat (Ketut Gama et al, 2014). Penelitian yang
dilakukan oleh Suwarso (2010) menunjukan ada hubungan yang signifikan
antara lama menderita hipertensi dengan ketidakpatuhan pasien penderita
hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0,040). Dimana semakin lama
seseorang menderita hipertensi maka cenderung untuk tidak patuh karena
merasa jenuh menjalani pengobatan
b. Motivasi Berobat

Motivasi berasal dari bahasa latin moreve yang berarti dorongan dari
dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku (reasoning) seseorang
untuk bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian
motivasi tidak terlepas dari kata kebutuhan atau keinginan. Motivasi pada
dasarnya merupakan interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang
dihadapinya. (Notoatmodjo, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Ekarini
(2011) menunjukan tingkat motivasi berhubungan dengan tingkat kepatuhan
klien hipertensi dalam menjalani pengobatan (p=0,001). Dengan adanya
kebutuhan untuk sembuh maka klien hipertensi akan terdorong untuk patuh
dalam menjalani pengobatan. Motivasi yang tinggi dapat terbentuk karena
adanya hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Dengan adanya
kebutuhan untuk sembuh, maka klien hipertensi akan terdorong untuk patuh
dalam menjalani pengobatan, dimana tujuan ini merupakan akhir dari siklus
motivasi.

c. Keterjangkauan Akses ke Pelayanan Kesehatan

Menurut Notoatmodjo (2008), perilaku dan usaha yang dilakukan


dalam menghadapi kondisi sakit, salah satu alasan untuk tidak bertindak
karena fasilitas kesehatan yang jauh jaraknya. Akses pelayanan kesehatan
merupakan tersedianya sarana kesehatan (seperti rumah sakit, klinik,
puskesmas), tersedianya tenaga kesehatan, dan tersedianya obat-obatan
(Depkes RI, 2012). Pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan
kesehatan yang dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat. Akses pelayanan
kesehatan dapat dilihat dari sumber daya dan karakteristik pengguna
pelayanan kesehatan. Keterjangkauan akses yang dimaksud dalam penelitian
ini dilihat dari segi jarak, waktu tempuh dan kemudahan transportasi untuk
mencapai pelayanan kesehatan. semakin jauh jarak rumah pasien dari tempat
pelayanan kesehatan dan sulitnya transportasi maka, akan berhubungan
dengan keteraturan berobat (Sujudi, 1996:64). Penelitian yang dilakukan oleh
Prayogo (2013) menyatakan bahwa ada hubungan antara akses pelayanan
kesehatan menuju fasilitas kesehatan dengan kepatuhan minum obat

d. Peran Tenaga Kesehatan

Dukungan dari tenaga kesehatan profesional merupakan faktor lain


yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan. Pelayanan yang baik dari
petugas dapat menyebabkan berperilaku positif. Perilaku petugas yang ramah
dan segera mengobati pasien tanpa menunggu lama-lama, serta penderita
diberi penjelasan tentang obat yang diberikan dan pentingnya makan obat
yang teratur. Peran serta dukungan petugas kesehatan sangatlah besar bagi
penderita,dimana petugas kesehatan adalah pengelola penderita sebab petugas
adalah yang paling sering berinteraksi, sehingga pemahaman terhadap konsisi
fisik maupun psikis menjadi lebih baik dan dapat mempengaruhi rasa percaya
dan menerima kehadiran petugas kesehatan dapat ditumbuhkan dalam diri
penderita dengan baik (A.Novian, 2013). Selain itu peran petugas kesehatan
(perawat) dalam pelayan kesehatan dapat berfungsi sebagai comforter atau
pemberi rasa nyaman, protector, dan advocate (pelindung dan pembela),
communicator, mediator, dan rehabilitator. Peran petugas kesehatan juga dapat
berfungsi sebagai konseling kesehatan, dapat dijadikan sebagai tempat
bertanya oleh individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat untuk
memecahkan berbagai masalah dalam bidang kesehatan yang dihadapi oleh
masyarakat (Wahid Iqbal Mubarak, 2009:73).

e. Dukungan Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Untuk mencapai perilaku


sehat masyarakat, maka hasrus dimulai pada masing-masing tatanan keluarga.
Dalam teori pendidikan dikatakan, bahwa keluarga adalah tempat pesemaian
manusia sebagai anggota masyarakat. Karena itu bila persemaian itu jelek
maka jelas akan berpengaruh pada masyarakat. Agar masing-masing keluarga
menjadi tempat yang kondusif untuk tempat tumbuhnya perilaku sehat bagi
anak-anak sebagai calon anggota masyarakat,maka promosi sangat berperan
(Notoatmodjo,2010:38).

Dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan dan penerimaan


terhadap penderita yang sakit. Hipertensi memerlukan pengobatan seumur
hidup, dukungan sosial dari orang lain sangat diperlukan dalam menjalani
pengobatanya. Dukungan dari keluarga dan teman-teman dapat membantu
seseorang dalam menjalankan program-program kesehatan dan juga secara
umum orang yang menerima penghiburan, perhatian dan pertolongan yang
mereka butuhkan dari seseorang atau kelompok biasanya cenderung lebih
mudah mengikuti nasehat medis (Suprianto et al, 2009:9). Penelitian yang
dilakukan Lilis Triani (2011) menunjukan dukungan keluarga berhubungan
dengan kepatuhan berobat pada pasien hipertensi (p=0,000).

2.2. Program Prolanis

2.2.1 Definisi
Prolanis atau Program Pengelolaan Penyakit Kronis adalah suatu sistem
pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi
yang melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka
pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis
untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang
efektif dan efisien.
2.2.2 Tujuan
Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup
optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke Faskes Tingkat
Pertama memiliki hasil baik pada pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe
2 dan Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya
komplikasi penyakit.

2.2.3 Sasaran dan Bentuk kegiatan


Seluruh Peserta BPJS Kesehatan penyandang penyakit kronis (Diabetes
Melitus Tipe 2 dan Hipertensi). Aktifitas dalam Prolanis meliputi aktifitas konsultasi
medis/edukasi, Home Visit, Reminder, aktifitas klub dan pemantauan status
kesehatan. Penanggungjawab adalah Kantor Cabang BPJS Kesehatan bagian
Manajemen Pelayanan Primer.
2.2.4 Langkah Pelaksanaan Persiapan pelaksanaan PROLANIS
1. Melakukan identifikasi data peserta sasaran berdasarkan:
2. Hasil Skrining Riwayat Kesehatan dan atau
3. Hasil Diagnosa DM dan HT (pada Faskes Tingkat Pertama maupun RS)
4. Menentukan target sasaran
5. Melakukan pemetaan Faskes Dokter Keluarga/ Puskesmas berdasarkan distribusi
target sasaran peserta
6. Menyelenggarakan sosialisasi Prolanis kepada Faskes Pengelola
7. Melakukan pemetaan jejaring Faskes Pengelola (Apotek, Laboratorium)
8. Permintaan pernyataan kesediaan jejaring Faskes untuk melayani peserta PROLANIS
9. Melakukan sosialisasi PROLANIS kepada peserta (instansi, pertemuan kelompok
pasien kronis di RS, dan lain-lain)
10. Penawaran kesediaan terhadap peserta penyandang Diabetes Melitus Tipe 2 dan
Hipertensi untuk bergabung dalam PROLANIS
11. Melakukan verifikasi terhadap kesesuaian data diagnosa dengan form kesediaan yang
diberikan oleh calon peserta Prolanis
12. Mendistribusikan buku pemantauan status kesehatan kepada peserta terdaftar
PROLANIS
13. Melakukan rekapitulasi data peserta terdaftar
14. Melakukan entri data peserta dan pemberian flag peserta PROLANIS
15. Melakukan distribusi data peserta Prolanis sesuai Faskes Pengelola
16. Bersama dengan Faskes melakukan rekapitulasi data pemeriksaan status kesehatan
peserta, meliputi pemeriksaan GDP, GDPP, Tekanan Darah, IMT,HbA1C. Bagi
peserta yang belum pernah dilakukan pemeriksaan, harus segera dilakukan
pemeriksaan
17. Melakukan rekapitulasi data hasil pencatatan status kesehatan awal peserta per Faskes
Pengelola (data merupakan luaran Aplikasi P-Care)
18. Melakukan Monitoring aktifitas PROLANIS pada masing-masing Faskes Pengelola:
a. Menerima laporan aktifitas PROLANIS dari Faskes Pengelola
b. Menganalisa data
19. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS
20. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/ Kantor Pusat.
2.2.5 Kegiatan Kegiatan PROLANIS
1. Konsultasi Medis Peserta Prolanis : jadwal konsultasi
disepakati bersama antara peserta dengan Faskes Pengelola
2. Edukasi Kelompok Peserta Prolanis Edukasi Klub Risti (Klub
Prolanis) adalah kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan
kesehatan dalam upaya memulihkan penyakit dan mencegah
timbulnya kembali penyakit serta meningkatkan status
kesehatan bagi peserta PROLANIS Langkah - langkah:
2. Mendorong Faskes Pengelola melakukan identifikasi peserta terdaftar sesuai tingkat
severitas penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi yang disandang
3. Memfasilitasi koordinasi antara Faskes Pengelola dengan Organisasi Profesi/Dokter
Spesialis diwilayahnya
4. Memfasilitasi penyusunan kepengurusan dalam Klub
5. Memfasilitasi penyusunan kriteria Duta PROLANIS yang berasal dari peserta. Duta
PROLANIS bertindak sebagai motivator dalam kelompok Prolanis (membantu Faskes
Pengelola melakukan proses edukasi bagi anggota Klub)
6. Memfasilitasi penyusunan jadwal dan rencana aktifitas Klub minimal 3 bulan pertama
7. Melakukan Monitoring aktifitas edukasi pada masing-masing Faskes Pengelola:
a. Menerima laporan aktifitas edukasi dari Faskes Pengelola
b. Menganalisis data
c. Menyusun umpan balik kinerja Faskes PROLANIS h. Membuat laporan
kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat dengan tembusan kepada
Organisasi Profesi terkait diwilayahnya
8. Reminder melalui SMS Gateway Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta
untuk melakukan kunjungan rutin kepada Faskes Pengelola melalui pengingatan
jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola tersebut Sasaran : Tersampaikannya reminder
jadwal konsultasi peserta ke masing-masing Faskes Pengelola Langkah langkah:
9. Melakukan rekapitulasi nomor Handphone peserta PROLANIS/Keluarga peserta per
masing-masing Faskes Pengelola
10. Entri data nomor handphone kedalam aplikasi SMS Gateway
11. Melakukan rekapitulasi data kunjungan per peserta per Faskes Pengelola
12. Entri data jadwal kunjungan per peserta per Faskes Pengelola
13. Melakukan monitoring aktifitas reminder (melakukan rekapitulasi jumlah peserta
yang telah mendapat reminder.
14. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang mendapat reminder dengan
jumlah kunjungan
15. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat
16. Home Visit Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah Peserta
PROLANIS untuk pemberian informasi/edukasi kesehatan diri dan lingkungan bagi
peserta PROLANIS dan keluarga Sasaran: Peserta PROLANIS dengan kriteria :
a. Peserta baru terdaftar
b. Peserta tidak hadir terapi di Dokter Praktek Perorangan/Klinik/Puskesmas 3
bulan berturut-turut
c. Peserta dengan GDP/GDPP di bawah standar 3 bulan berturut-turut (PPDM) d.
Peserta dengan Tekanan Darah tidak terkontrol 3 bulan berturut-turut (PPHT)
e. Peserta pasca opname Langkah langkah: a. Melakukan identifikasi sasaran
peserta yang perlu dilakukan Home Visit b. Memfasilitasi Faskes Pengelola
untuk menetapkan waktu kunjungan c. Bila diperlukan, dilakukan
pendampingan pelaksanaan Home Visit
d. Melakukan administrasi Home Visit kepada Faskes Pengelola dengan berkas
sebagai berikut:
1. Formulir Home Visit yang mendapat tanda tangan
Peserta/Keluarga peserta yang dikunjungi
2. Lembar tindak lanjut dari Home Visit/lembar anjuran Faskes
Pengelola
e. Melakukan monitoring aktifitas Home Visit (melakukan rekapitulasi jumlah
peserta yang telah mendapat Home Visit)
f. Melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang mendapat Home
Visit dengan jumlah peningkatan angka kunjungan dan status kesehatan
peserta
g. Membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional/Kantor Pusat ( BPJS, 2014 ).
2.3 KERANGKA TEORI

Faktor Predisposisi (Predispo


sing Factors)
1. Jenis Kelamin
2. Tingkat Pendidikan
Terakhir
3. Status Pekerjaan
4. Lama Menderita
Hipertensi
5. Tingkat Pengetahuan
Tentang Hipertensi

PATUH

Faktor Pendukung (Enabling


Factors)
Kepatuhan
7. Keterjangkauan Akses Ke Mengikuti kegiatan
Pelayanan Kesehatan prolanis

8. Keikutsertaan Asuransi
Kesehatan TIDAK
PATUH

Faktor Pendorong
(Reinforcing Factors)
9. Dukungan Keluarga
10.Peran Tenaga
Kesehatan

Gambar 2.1 :

Kerangka Teori Sumber: Modifikasiteori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2010:59-60)

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain penelitian

Desain penelitian ini merupakan penelitian deskriptif,yaitu suatu metode penelitian


yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat
ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manupilasi atau pengubahan
variabel-variabel bebas,tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya.Penggambaran
kondisi bisa individual atau angka-angka (sukmadinata,2006:5)

3.2. variabel dan pengukuran

3.2.1. Variabel bebas ( Independent variabel )

Variabel bebas pada penelitian ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan pasien prolanis , meliputi lama menderita, keterjangkauan ke akses pelayanan
kesehatan, dukungan keluarga, peran tenaga kesehatan.

3.2.2. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat pada penelitian ini adalah tingkat kepatuhan pasien prolanis dalam
mengikuti kegiatan prolanis di klinik dharma husada wlingi

3.2.3. pengukuran

No Variabel Definisi Alat Kriteria Skala


ukur Data
(1 Lama Lama pasien tersebut Kuesion Dengan kriteria Ordinal
) menderita menderita er 5. 5 tahun
hipertensi/d hipertensi/dm dihitung 6. > 5 tahun
m sejak pertama kali (Suwarso, 2010)
terdiagnosis
mengalami hipertensi.
(2) Keterjangka Penggunaan fasilitas Kuesion 0.Kurang,jika Ordinal
uan Akses kesehatan yang er skor 3
Pelayanan dimanfaatkan dengan 1. Baik, jika skor
Kesehatan baik, seperti jarak dan >3
waktu yang ditempuh (Irianto,
ke sarana kesehatan 2004:45)
seperti Puskesmas.
Akses pelayanan
kesehatan baik jika
terdapat pelayanan
kesehatan yang
jaraknya dekat dari
rumah responden
yaitu 2.247,5 m,
waktu yang ditempuh
dari rumah menuju
tempat pelayanan
kesehatan < 15 menit,
tidak ada kesulitan
dalam hal transportasi
serta mendapat
pelayanan
pemeriksaan yang
baik
(3) Dukungan Keterlibatan anggota Kuesion 0. Dukungan Ordinal
keluarga keluarga untuk er rendah (jika skor
memotivasi penderita < 3)
hipertensi selama 1. Dukungan
melaksanakan tinggi, jika skor
pengobatan 3-5 (Azwar,
Skor jawaban: jumlah 2012)
soal 5
1. Ya, nilai 1
2. Tidak, nilai 0
(4) Peran Keterlibatan tenaga Kuesion 0. Peran Rendah Ordinal
tenaga kesehatan (dokter, er (Jika menjawab
kesehatan perawat, apoteker) iya sebanyak
untuk memotivasi < 3 item 1.
penderita hipertensi Peran Tinggi
selama melaksanakan (jika menjawab
pengobatan. iya 3-5 item)
Jumlah soal=5, (Azwar, 2012)
dengan kriteria jika
jawaban ya skor=1,
jawaban tidak skor= 0

3.3. populasi dan sampel

3.3.1.Populasi Penelitian

Populasi adalah seluruh subjek yang akan diteliti dan memenuhi


karakteristik yang ditentukan (Riyanto Agus, 2011:89). Populasi dalam penelitian
ini adalah pasien prolanis yang telah mengikuti kegiatan pada bulan Januari-
maret 2017 yang berjumlah 250 orang

3.3.2 Sampel Penelitian

3.3.2.1. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan accidental


sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan terhadap
responden yang secara kebetulan ditemui pada objek penelitian
ketika observasi sedang berlangsung. Teknik accidental sampling
dipilih karena rata-rata kunjungan pasien prolanis di klinik dharma
husada wlingiper minggunya 25 pasien .Sampel diperoleh dari
seluruh pasien prolanis yang mengikuti kegiatan tiap minggu di klinik
dharma husada wlingi. selama waktu pengambilan data sampai
memenuhi minimal 60 sampel.

3.3.2.2. Kriteria Sampel

1. Kriteria Inklusi

a) Pasien prolanis berusia 45-60 tahun yang tercatat dibuku


kegiatan prolanis di klinik dharma husada wlingi
b) Bersedia menjadi responden penelitian.
c) Responden berada ditempat pada saat pengambilan data

2. Kriteria Eksklusi

a. Responden menolak berpartisipasi


b. Responden tidak berada ditempat
3.3.2.3 Besar Sampel Minimal

Penentuan jumlah sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan


menggunakan rumus perhitungan minimal sample size penelitian survei menurut
Agus Riyanto (2011).

2
NZ / 2 P(1P)
1
n=
2
N ( d ) 2+ Z P(12)
1/2

250 x ( 1,96 ) 2 x 0,53 x (10,53)


n=
250 x ( 0,1 ) 2+ ( 1,96 ) 2 x 0,53 x ( 10,53 )

250 x 3,8416 x 0,53 x 0,47


n=
2,5+(3,816 x 0,53 x 0,47)

239,236
n=
3,4506

n=69,33

n=69 sampel

Keterangan:

N : Besar sampel

N : Besar Populasi (250)

2
Z :
1 /2 Standar deviasi dengan derajat kepercayaan (95%) = 1,96
P : Perkiraan proporsi ketidakpatuhan (0,53)

d : Data presisi absolute atau margin of error yang diinginkan


diketahui sisi presisi (10% = 0,1)

3.4. metode pengumpulan data

3.4. 1 Wawancara dengan kuesioner

Metode wawancara merupakan suatu metode yang dipergunakan


untuk mengumpulkan data dimana peneliti mendapatkan keterangan
secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden) atau bercakap-
cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2010:139).

Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada


responden untuk mengetahui nama, usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikanterakhir, status pekerjaan, lama menderita hipertensi atau dm,
keikutsertaan asuransi kesehatan, tingkat pengetahuan tentang
hipertensi, keterjangkauan akses pelayanan kesehatan, dukungan
keluarga, peran tenaga kesehatan, motivasi berobat.

3.4.2 Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan


menggunakan berbagai tulisan yang berkenaan dengan objek penelitian
dan dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi dan sampel serta
pendukung lain.

3.4.3.Teknik Pengolahan Data

Langkah pengolahan data yang digunakan dalam penelitian adalah:

3.4. 3.1 Editing (Pemeriksaan Data)

Editing merupakan kegiatan pengecekan isi kuesioner


apakah kuesioner sudah diisi dengan lengkap, jelas jawaban dari
responden, relevan jawaban dengan pertanyaan, dan konsisten.
Kalau ternyata masih ada data atau informasi yang tidak lengkap,
dan tidak mungkin dilakukan wawancara ulang, maka kuesioner
tersebut dilekuarkan (drop out).
3.4.3. 2 Coding (Pemberian Kode)

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf


menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Pemberian kode
bertujuan untuk mempermudah analisis data dan entry data.

3.4.3.3. Skoring

Pemberian skor atau nilai pada setiap jawaban yang


diberikan oleh responden

3.4.3.4. Tabulasi

Tabulasi dimaksudkan untuk memasukan data ke dalam


tabel-tabel dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung
jumlah kasus dalam berbagai kategori

3.10.1 5 Entry (Memasukan Data)

Memasukan data yang diperoleh ke dalam perangkat


komputer.

3.5 metode analisis

3.5.1 Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau


mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis
univariat tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik digunakan
nilai mean (rata-rata), median, dan standar deviasi. Pada umumnya dalam
analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari
tiap variabel. Data hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk tabel,
grafik maupun narasi, untuk mengevaluasi besarnya proporsi dari masing-
masing variabel bebas yang diteliti (Notoatmodjo, 2010: 182).

3.10.2.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan terhadap dua variabel yang diduga


berhubungan atau berkorelasi yaitu antara variabel bebas dan variabel
terikat. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin,
tingkat pendidikanterakhir, status pekerjaan, lama waktu menderita
hipertensi, keikutsertaan asuransi kesehatan, tingkat pengetahuan
tentang hipertensi, keterjangkauan akses pelayanan kesehatan, dukungan
keluarga, peran tenaga kesehatan, motivasi berobat dengan kepatuhan
penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di Puskesmas
Gunungpati Kota Semarang. Analisis untuk membuktikan
kebenaranhipotesis dengan mengggunakan uji statistik chi square, karena
penelitian ini menggunakan data kategorik, jenis penelitian analitik, desain
Cross Sectional, jenis hipotesis assosiatif atau hubungan dengan skala
pengukuran ordinal dan nominal. Dan penghitungan Confidence Interval
(CI) digunakan taraf signifikansi 95% dengan nilai kesalahan 5%.

(Kuesioner ) No.
Responden :..............................

Tgl
Wawancara:..............................

KUESIONER PENELITIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PASIEN PROLANIS DALAM


MENGIKUTI KEGIATAN PROLANIS DI KLINIK DHARMA HUSADA

Petunjuk pengisian kuesioner:

1. Pertanyaan pada kuesioner ditujukan langsung kepada responden

2. Jawaban diisi oleh pewawancara dengan menanyakan langsung kepada


responden

3. Jawablah pertanyaan ini dengan benar dan sejujur-jujurnya

4. Selamat mengisi dan terimakasih

A. IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama
: .................................................................

2. Alamat
: .................................................................

3. TTL / Umur
: .................................................................

4. Jenis Kelamin : 1) Laki-laki 2)


Perempuan

5. Pendidikan Terakhir : 1) Tidak Sekolah 4) Tamat


SMP/MTs

2) Tidak Tamat SD 5) Tamat SMA/SMK

3) Tamat SD 6) Tamat Perguruan


Tinggi

6. Pekerjaan :1) PNS

2)Pegawai swasta

3) Pedagang

4) Petani/Buruh

5) Tidak bekerja

6) Lain-lain, sebutkan ...........................

7. Lama menderita hipertensi/DM : 1) 5 tahun 2)


> 5 tahun

B. PERTANYAAN

I. AKSES PELAYANAN KESEHATAN

1. Berapa jarak rumah anda dengan tempat pelayanan kesehatan?

a. Jauh ( 2 Km)

b. Dekat ( 2 Km)
2. Berapa lama waktu yang ditempuh untuk menuju ke tempat pelayanan
kesehatan?

a. 30 menit

3. Bagaimana kondisi jalan dari rumah anda menuju ke tempat pelayanan


kesehatan?

a. Rusak (berbatu-batu)

b. Baik (aspal)

4. Apakah anda mengalami kesulitan dalam mengakses sarana transportasi


dalam menempuh pelayanan kesehatan?

a. Ya

b. Tidak

II. DUKUNGAN KELUARGA

Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan pengalaman anda

NO PERTANYAAN JAWABAN
YA TIDAK
5 Apakah keluarga anda menyarankan anda untuk
melakukan pengobatan hipertensi?
6 Apakah keluarga anda mengingatkan anda untuk
minum obat?
7 Apakah keluarga menegur anda, bila anda tidak atau
lupa dalam minum obat? 26 Apakah keluarga anda
membantu segala pembiayaan pengobatan anda
8 Apakah keluarga anda selalu mengantarkan anda
untuk melakukan pengobatan hipertensi?

III. PERAN TENAGA KESEHATAN

Jawablah pertanyaan berikut berdasarkan pengalaman anda

NO PERTANYAAN JAWABAN
YA TIDAK
9 Apakah petugas kesehatan
(dokter, perawat, apoteker)
pernah menjelaskan/memberikan
penyuluhan tentang penyakit yang
anda derita?
10 Apakah petugas kesehatan
mendengarkan keluhan serta
memberikan penjelasan mengenai
penyakit anda dan cara meminum
obat dengan jelas?
11 Apakah petugas kesehatan selalu
mengingatkan anda untuk periksa
ulang (control) tekanan darah
setelah obat habis?
12 Apakah petugas kesehatan pernah
menyampaikan bahayanya apabila
tidak minum obat secara teratur?
13 Apakah petugas kesehatan
menanyakan kemajuan yang anda
peroleh selama melakukan
pengobatan?