Anda di halaman 1dari 117

SPESIFIKASI TEKNIS

SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI


MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

SPESIFIKASI TEKNIS

Pasal-1
Uraian Pekerjaan

Pekerjaan meliputi :
1.1. Pekerjaan yang dilaksanaan meliputi :
Rencana Teknis Rinci Pembangunan TPA Sampah Kab. Morowali
Jenis Pekerjaan :
Pembangunan TPA Sampah Bahoruru

1.2. Pekerjaan tersebut pada pasal 1 ayat 1 diatas dilaksanakan sesuai dengan :
- Uraian dan syarat-syarat kerja (Bestek)
- Gambar situasi, Detail dan gambar susulan bila ada
- Rzala rapat penjelasan (Aanwijzing)
- Petunjuk-petunjuk dari direksi pelaksanaan dengan kondisi lapangan.

Pasal-2
Lokasi Pekerjaan

2.1. Lokasi pekerjaanDesa Bahoruru Kecamatan Bungku TengahKabupaten


Morowali Propinsi Sulawesi Tengah
2.2. Tempat pekerjaan akan ditunjukkan kemudian oleh Direksi
2.3. Lokasi pekerjaan akan dijelaskan pada Pemborongan pada saat Aanwijzing
berlangsung berdasarkan gambar-gambar perencanaan

Pasal-3
Umum

3.1 Gambar, Spesifikasi Teknis, dan HPS merupakan sesuatu kesatuan ya


ng
saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas
mutu bahan (material) dan kualitas hasil pekerjaan.
3.2 Kontraktor wajib bertanggung jawab atas semua pekerjaan.
3.3 Sebelum memulai pekerjaan, pihak Kontraktor harus memberikan
pemberitahuan secara tertulis kepada pihak direksi.
3.3 Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada di tempat
pekerjaan dan dapat mengambil keputusan dengan dikonsultasikan bersama
direksi, demi kelancaran pekerjaan.
3.4 Penyedia jasa wajib menyediakan penerangan malam untuk
pengamanan dan kegiatan malam hari.

1
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Pasal-4
Gambar

4.1 Perbedaan Gambar


- Kontraktor wajib mengikuti/memenuhi semua persyaratan yang ditulis dalam
spesifikasi teknis ini, juga wajib memenuhi persyaratan umum yang
dikeluarkan oleh Pemberi Tugas.
- Apabila ada hal-hal yang disebutkan kembali pada bagian bab/gambar
lain, maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap
yang lain tetapi malah untuk lebih menegaskan masalahnya. Kalau terjadi
hal yang saling bertentangan antar gambar atau terhadap spesifikasi teknis
maka Kontraktor wajib berkonsultasi dengan direksi dan Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan (PPTK)
- Perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi kontraktor
untuk mengadakan claim pada waktu pelaksanaan.

4.2 Perubahan Gambar


Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor wajib meneliti/memeriksa
Gambar Perencanaan dan Spesifikasi Teknis; dan jika Kontraktor
menemukan kesalahan dalam gambar-gambar Perencanaan dan/atau
spesifikasi teknisnya, maka Kontraktor wajib memberitahukan kepada Pemberi
Tugas secara tertulis untuk mendapatkan penjelasan sebelum masalah tersebut
dilaksanakan di lapangan.

Pasal-5
Perbedaan

5.1 Apabila dalam dokumen pengadaan tertulis/tercantum, sedangkan dalam


gambar belum tercantum maka dokumen pengadaan yang mengikat.
5.2. Apabila dalam gambar tertulis sedang dokumen pengadaan belum
tercantum/tertulis maka gambar yang mengikat.
5.3. Jika ada perbedaan antara gambar rencana dan gambar detailnya, maka
Penyedia Jasa wajib minta pertimbangan kepada Direksi.
5.4 Apabila dalam rencana dan dokumen pengadaan tidak tercantum, maka
Direksi dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang menentukan.

2
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
Pasal 6
Mobilisasi dan Demobilisasi

6.1 Mobilisasi dan demobilisasi merupakan kegiatan yang bertujuan mendatangkan


segala kebutuhan yang akan dilaksanakan pada saat pelaksanaan pekerjaan
yang harus disediakan oleh pihak kontraktor.
6.2 Segala kebutuhan demi kelancaran sebuah pekerjaan merupakan kewajiban
yang disediakan oleh pihak kontraktor, dengan mendatangkan ke lokasi
pekerjaan baik tenaga kerja maupun peralatan yang dibutuhkan.
6.3 Semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini haru
s
disediakan oleh kontraktor, baik peralatan tukang maupun alat berat yang
diperlukan. Sebelum suatu tahapan pekerjaan dimulai, kontraktor harus
mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tahap
pekerjaan tersebut. Penyediaan peralatan ditempat pekerjaan, dan persiapan
peralatan pekerjaan harus terlebih dahulu mendapat penelitian dan
persetujuan dari direksi.
6.4 Tanpa persetujuan direksi, kontraktor tidak diperbolehkan untuk memindahkan
peralatan yang diperlukan dari lokasi pekerjaan.
6.5 Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan peralatan yang akan
mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus segera diperbaiki atau
diganti hingga direksi menganggap pekerjaan dapat dimulai.

Pasal 7
Pengukuran/Pematokan

7.1 Ukuran-ukuran pokok dan detail tertera pada gambar penyedia barang/jasa
harus mentaati ukuran tersebut dan ikut menelitinya apabila ada
perbedaan/penggambaran harus dibicarakan dengan Direksi.
7.2 Semua pekerjaan pengukuran/pematokan yang bertalian dengan pekerjaan ini
menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa dan dilaksanakan dengan alat
ukur yang baik.
7.3 Penyedia barang/jasa harus mengerjakan pematokan untuk menetukan
kedudukan dan peil bangunan sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini
harus seluruhnya telah disetujui oleh direksi sebelum memulai pekerj
aan
selanjutnya.
7.4 Direksi dapat melakukan revisi pemasangan patok tersebut bila dipandang
perlu. Penyedia barang/jasa harus mengerjakan revisi tersebut sesuai petunjuk
direksi.
7.5 Sebelum memulai pekerjaan pemasangan pematokan tersebut, penyedia
barang/jasa harus memberitahukan kepada direksi dalam waktu tidak kurang
dari 24 jam sehingga direksi dapat menyiapkan peralatan yang perlu untu
k
melakukan pengawasan.
7.6 Pekerjaan pematokan yang telah diukur oleh penyedia barang/jasa untuk
kemudian disetujui oleh direksi.
7.7 Hasil pengukuran yang disetujui oleh direksi dapat dilaksanakan dasar
pembayaran.

3
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
Pasal-8
Pekerjaan Persiapan dan Papan Nama Kegiatan

8.1 Penyedia barang/jasa harus membuat dan memasang Papan Nama Kegiatan
pada lokasi pekerjaan dengan ukuran 120 cm x 80 cm, sebagai Papan Nama
Pemberitahuan yang berisikan informasi pekerjaan yang akan dilaksanakan,
pembiayaan, jangka waktu pelaksanaan dan nama penyedia barang/jasa
pekerjaan.
8.2 Format Papan Nama Proyek

8.3 Bahan-bahan harus ditempatkan pada tempat yang tidak akan mengganggu
lalu lintas dan selambat-lambatnya dalam waktu satu kali 24 jam.
8.4 Setiap kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa
memberi pengamanan seperti tersebut diatas sepenuhnya tanggung jawab
penyedia barang/jasa.
8.5 Sebelum melaksanakan pekerjaan lokasi harus dibersihkan dari segala kotoran
dan setelah pekerjaan selesai harus dibersihkan dari segala sisa bahan dan lain-
lain.

4
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Pasal-9
Penyediaan Pos Kerja, Kantor, dan Gudang

9.1 Penyedia barang/jasa herus menyiapkan kantor direksi sementara, yan


g
dilengkapi oleh fasilitas meja, kursi, papan tulis dan sebagainya sep
erti
disebutkan dalam syarat-syarat khusus dan petunjuk direksi.

9.2 Juga harus disediakan gudang untuk penyimpanan material yang cukup dan
memenuhi syarat agar material maupun peralatan lain tidak menjadi lembab
atau karena sebab-sebab lain. Bila diperlukan tempat kerja dan tempat tersebut
terletak diluar daerah yang disediakan direksi, maka penyedia barang/jasa
harus menyelesaiakan ganti rugi atau biaya-biaya lain sehubungan hal tersebut
dan tidk diperkenankan meminta biaya-biaya tambahan.

P a s a l - 10
Penyediaan Tenaga, Peralatan, dan Lampu Penerangan

10.1 Tenaga yang diperlukan bagi pelaksanaan pekerjaan harus disediakan sendiri
oleh penyedia barang/jasa dengan jumlah dan kapasitas yang sesuai dengan
pekerjaan yang dilaksanakan, yaitu seorang tenaga teknis dengan pendidikan
minimal sarjana muda sipil dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dan memiliki
SKA/SKT serta seorang tenaga administrasi dengan pendidikan minimal SLT
A
dengan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun. dan harus disetujui oleh direksi.
10.2 Penyedia barang/jasa harus mengajukan daftar peralatan secara terperinci
yang akan digunakan untuk melaksanakan pekerjaan. Daftar tersebut harus
disetujui direksi. Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan alat-
alat tersebut yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan harus segera
diperbaiki atau diganti sehingga direksi menganggap pekerjaan dapat
dimulai/dilanjutkan yaitu Memiliki :

5 Unit Excavator
1 Unit Vibrator Roller
1 Unit Motor Grader
1 Unit Water tank
5 Unit Dump Truck
5 Unit Concrete Mixer

10.3 Penyedia barang/jasa harus mnyediakan lampu-lampu penerangan apabila


pekerjaan tersebut dilaksanakan pada waktu malam hari.

5
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

P a s a l - 11
Penyediaan Rambu-Rambu Lalu Lintas

11.1 Dimana yang dipandang perla, penyedia barang/jasa harus menyediakan


rambu-rambu untuk keperluan lalu lintas melewati jalan dan rambu tersebu
t
harus cukup jelas untuk menjamin keselamatan lalu lintas.
Apabila melalui jalan-jalan yang sibuk, maka penyedia barang/jasa harus
melaksanakan secara bertahap dan apabila perlu dikerjakan pada malam hari.
Biaya yang dikeluarkan akibat keperluan-keperluan tersebut diatas haru
s
menjadi tanggungan Penyedia barang/Jasa.

P a s a l - 12
Penyediaan Air

Air yang diperlukan harus disediakan oleh penyedia barang/jasa termasuk


penyediaan peralatan dan perpipaan antara ukuran dan gambarnya, maka segera
diminta petunjuk direksi untuk menetapkan ukuran yang benar.

P a s a l - 13
Peyediaan Material

13.1 Penyedia barang/jasa harus menyediakan sendiri material seperti yan


g
disebutkan dalam daftar volume pekerjaan. Material-material yang disediakan
oleh direksi atau pemberi perintah akan ditentukan tersendiri dalam syarat
-
syarat khusus atau dalam rapat penjelasan.
13.2 Penyedia barang/jasa harus memeriksa terlebih dahulu meterial-
meterial
tersebut dan harus bertanggung jawab atas pengangkutan sampai di lokasi
pekerjaan. Penyadia barang/jasa harus mengganti kalau material itu rusak
yang diakibatkan oleh cara pengangkutan yang salah, hilang atau
berkurangnya material yang diangkut kelalaian penyedia barang/jasa.

P a s a l - 14
Perlindungan Terhadap Cuaca

Penyedia barang/jasa harus mengusahakan atas tanggungannya sendiri, langkah-


langkah peralatan yang perlu untuk melindungi pekerjaan dan bahan-bahan yang
digunakan agar tidak rusak atau berkurangnya mutu karena pengaruh cuaca.

6
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
P a s a l - 15
Rencana Kerja

Penyedia barang/jasa harus menyiapkan status rencana kerja dan harus


disampaikan kepada direksi, rencana kerja tersebut harus mencakup :

15.1 Tanggal mulai, serta selesai pekerjaan konstruksi dan atau pemasanga
n
kegiatan pekerjaan termasuk pengujiannya.
15.2 Jam kerja bagi tenaga yang disediakan oleh penyedia barang/jasa
15.3 Jumlah dari tenaga yang dipakai pada setiap tahap pekerjaan dengan
disertai latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja.
15.4 Macam serta jumlah mesin-mesin serta alat-alat yag akan dipakai pada
pelaksanaan pekerjaan.
15.5 Cara pelaksanaan pekerjaan.

P a s a l - 16
Pemberitahuan Untuk Memulai Pekerjaan

Penyedia barang/jasa diharuskan untuk memberikan secara tertulis akan memulai


pekerjaan kepada direksi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah Surat Printa
h
Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan. Dalam keadaan apapun tidak diperkenankan untuk
memulai pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa terlebih dahulu mendapat
persetujuan direksi, pemberitahuan lengkap dan jelas harus terlebih dahulu
disampaikan kepada direksi dan dalam jangka waktu yang cukup sebelu
m
dimulainya pekerjaan tersebut.

P a s a l - 17
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN

1. PEKERJAAN TANAH
1.1 Umum
a). Pekerjaan tanah meliputi pekerjaan yang
berhubungan
dengan pengupasan dan penimbunan atau pembuangan
tanah, batu-batu atau material lain dari atau ke tem
pat
proyek, atau pembongkaran dan pembersih an bekas-
be kas saluran air, selokan parit dan
pembuangan bekas-
bekas tanah longsor dan yang berhubungan dengan
pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi,
menurut gambar pelaksanaan atau petunjuk direksi.

b). Pada lokasi yang akan diurug, pemborong harus melakukan


stripping terlebih dahulu, sehingga mendapatkan permuka
an
tanah asli yang bebas dari segala bentuk kotoran, humus, aka
r-
akar atau sisa-sisa material lain yang dapat membusuk.

c). Bila yang akan didirikan bangunan kontraktor harus


melakukan pengupasan, ketebalan pengupasan ini minimu
m
7
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

30 cm dari permukaan tanah asli untuk tanah


yang cukup baik t et a p memperhatikan syarat-syarat
tersebut diatas. Tanah bekas stripping ini harus
dibuang/disingkirkan sesuai dengan petunjuk direksi.

d). Untuk semua pekerjaan urugan yang tidak memakai pasir ur


ug,
harus menggunakan tanah yang baik dan bersih dari
tanaman, akar-akaran, brangkal-brangkal,
puing- puing dan
segala macam kotoran lainnya.

e). Pekerjaan pengurugan terdiri dari pekerjaan mengurug tan


ah ,
sesuai dengan syarat-syarat serta ketentuan-ketentuan pa
da
RKS ini dan gambar-gambar pelaksanaan yang disetujui direk
si.
Gambar pelaksanaan menunjukkan antara lain
gambar-
gambar profil melintang memanjang, kemiringan dan dimensi
-
dimensi dengan jelas.

1.2 Sumber Penggunaan Material


a). Material untuk timbunan site/lokasi terdiri
dari material-
material yang sesuai untuk keperluan itu dan disetujui ole
h
direksi.

b). Apabila tanah untuk pengurugan harus diambil dari luar


site, maka tanah yang diambil harus dari satu sumber dan
harus dilakukan t est laboratorium meliputi : compactor
(standar proctor) kandungan bahan-bahan organik, plastisit
as
dan harus mendapat persetujuan direksi.

c). Material lebih atau material yang tidak dapat dipakai


harus
dibuang sesuai dengan ketentuan yangtelah dicantumkan
dalam RKS ini atau menurut petunjuk direksi. Material yang
ada dalam keadaan basah, dimana dalam keadaan kering
dapat dipakai harus dikeringkan lebih dahulu/sampai
mencapai kadar air optimum baru kemudian digunakan untuk
timbunan.

d). Material penimbunan dari tanah asli yang didatangkan dengan


memenuhi persyaratan material penimbunan jalan, stan
dar
Bina Marga antara lain :
- Bukan termasuk tanah lempung (clay)
- Memenuhi persyaratan plastisitas
- Bersih dari bahan-bahan organik
- CBR rendaman laboratorium minimal 4%.

e). Kepadatan yang harus dicapai di lapangan


- CBR minimal 1-4 %
- Kepadatan lapangan 95% dari kepadatan standard
proctor laboratorium pada kadar air yang optimum.

8
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

f). Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, direksi dapat


memerintahkan untuk pemadatan permukaan yang telah
dibersihkan itu dengan kepadatan yang telah dicantu
mkan
dalam RKS ini.

1.3 Tanah Dasar dari Material yang Kurang Baik


Bila direksi menghendaki, pemborong harus menggali tanah yan
g
kurang baik mutunya sampai kedalaman yang dianggap cukup
oleh direksi sebelum pekerjaan konstruksi timbunan maupun
bangunan dimulai. Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai,
direksi dapat memerintahkan untuk memadatkan
permukaan
tanah yang telah dibersihkan itu dengan
kepadatan yang
tercantum dalam RKS ini.
1.4 Pengham pa ran dan Pemadatan
a). Material untuk pengurugan didapat dari jenis ya
ng telah
disetujui direksi akan dihamparkan berlapis-lapis denga
n
ketebalan perlapis 20 cm lalu dipadatkan. Untuk pekerja
an
pemadatan ini, pemborong harus melaksanakan sedemikia
n
rupa, sehingga kepadatan yang direncanakan dapat
tercapai, dengan memperhatikan kadar air optimum dari
material timbunan tersebut.

b). Untuk melaksanakan hamparan, maka pemborong harus


melindungi dari curahan hujan, panas matahari yang
mengakibatkan perubahan kadar air optimum. Bila
hamparan ini kena hujan, maka pemborong harus mengup
as
kembali hamparan tersebut.

c). Dalam pekerjaan penghamparan dan pemadatan ini


pemborong harus melaksanakannya dengan sistem
pentahapan atau pembagian lokasi per zone. Untuk
itu
pemborong harus menyampaikan rencananya kepada
direksi untuk disetujui pelaksanaannya.

d). Pekerjaan Pemadatan "Fill"


- Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis.
Tiap
lapis tidak boleh lebih dari 30 cm tebal sebelum dipadat
kan
ata u 25 cm setelah dipadatkan.
- Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping)
dilakukan dengan blade graders dan 3 wheel power
roller
yang beratnya 8 ton sampai 10 ton, atau pneumatic
roller lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari
perencanaan sebelum tanah harus dipadatkan dengan
sheep foot roller.
- Tanah yang dipadatkan harus mencapai 90% kepadatan
maksimum yang dapat dicapai pada
keadaan kadar air
optimum yang ditentukan dengan modified AASTHO T-99.

9
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya,


sebelum pemadatan kadar air dari fill material harus
sama dengan kadar air optimum dari hasil t est
compaction modified proctor dari contoh fill material.
- Apabila kadar air bahan timbunan/fi ll material lebih kecil
dari
kadar air optimum, maka fill material harus diberi air sehin
gga
menyamai kadar optimum. Sebaliknya apabila kadar air
bahan timbunan/fi ll material lebih besar dari
kadar air
optimum maka fill material harus dikeringkan terlebih da
hulu
atau ditambah dengan bahan timbunan yang lebih kering
.
- Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai
100% compacted dari modified proctor (untuk lapisan su
b
grade setebal 30 cm di bawahsu base) tetapi tida
k
mencapai nilai soaked CBR=4, maka tanah (sub grade)
tersebut harus diganti dengan fill
material yang fill 100%
compacted mencapai nilai soaked CBR minimum = 5.
- Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan
dan terjadi penggenangan airmaka pemadatan harus
dihentikan, diusahakan supaya air dapat mengalir
dengan membuat saluran-saluran drainase.
- Setiap lapisan dari daerah yang dipadatkan harusditest
dengan field density t es t untuk mengetahui kepadat
an
tanah yang dicapai serta moisture content. Dapat
2
dilakukan satu t est untuk setiap 1500 m per
lapis field
density t es t dengan cara sand cone.
- Apabila tanah yang telah dipadatkan tidak mencapai
1,6 t o n / m 3, maka tanah tersebut
harus diganti dengan
tanah lain atau dicampur pasir, sehingga tanah
tersebut
menjadi 1,6 t o n / m 3.

e). Pemadatan tanah pada daerah "Cut"


- Untuk d a e r ah cut, maka tanah digaru/digali lagi
minimum sedalam 30 cm kemudian dipadatkan hingga
mencapai 100% compacted dari modified proctor. Syarat
pemadatan dengan daerah fill.

f). Khusus untuk pemadatan pada daerah jalan


- Kontraktor harus melakukan pemadatan daerah cut/fi ll
pada badan jalan sampai dengan peil permukaan su
b
base.
- Harus selalu dihindarkan terjadinya genangan-genangan
air
pada daerah badan jalan selama lapisan-lapisan
konstruksi
jalan tersebut dikerjakan.

1.5 Pe rc oba a an Pemadata n


a). Sebelum dimulai pekerjaan pemadatan yang
sesungguhnya, pemborong harus mengirimkan sampel tana
h

10
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

urug yang akan dipakai, dan setelah disetujui direksi


kemudian diadakan t est di laboratorium untuk mendapatk
an
nilai kadar air optimum dan standar penggilasan dengan roa
d
roller/walls yang akan digunakan.

b). Tujuan percobaanini adalah untuk menentukan kadar air


optimum yang akan dipakai dan hubungan antara jumlah
penggilasan dengan kepadatan yang
dapat dicapai
contoh material urugan tersebut.

c). Pemborong wajib melaksanakan field density t es t sesuai den


gan
ASTM D 1556 (sand cone method) di lokasi pemadatan yang
dilaksanakan. Lokasi tempat test ini akan
ditentukan oleh
direksi. Lapisan pemadatan berikutnya belum dapat
dilaksanakan sebelum field density t es t dilakukan. Semua
biaya
laboratorium/test adalah tanggung jawab pemborong.

1.6 Kepadatan yang harus dicapai untuk konstruksi urugan


Kepadatan yang dicapai untuk konstruksi urugan adalah sebagai
berikut : Tiap lapisan tanah setinggi 20 cm harus
dipadatkan
sampai 95% dari kepadatan (kering) maximum yang dipakai te st
ASTM
D 1556 (san cone method).

1.7 Kadar Air


a). Materialurugan yang tidak mengandung air
yang cukup
untuk dapat mencapai kepadatan yang dikehendaki, harus
ditambah air dengan alat penyemprot (sprinkler) dan dicamp
ur
sampai kadar air lebih tinggi dari seharusnya, tidak bole
h
dipadatkan sebelum cukup dikeringkan dan disetujui direksi
untuk dipakai. Cara-cara mengeringkan tanah basah tersebu
t
dapat dengan cara digelar/dihampar atau cara- caralain
yang umum dipakai.

b). Test kadar air di lapangan dilakukan dengan alat penget


es
yang c epat dan disediakan oleh pemborong.

c). Pekerjaan pemadatan urugan tanah tadi h


arus dilaksanakan
pada kadar air optimum sesuai dengan sifat-sifat dan alat-
alat
pemadat yang tersedia.

d). Pada pelaksanaan, pemborong harus mengambil langkah-


langkah yang diperlukan agar pada pekerjaan tersebut ai
r
hujan dapat mengalir dengan lancar dan harus dipersiap
kan
kemungkinan adanya pengerutan atau pengembangan.

1.8 Urugan Pasir


a). Urugan pasir harus disirami semua lantai atau plat dasar

11
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dengan stemper hingga padat.


b). Urugan pasir dilakukan di bawah semua lantai atau plat da
sar
dengan tebal
urugan sesuai dengan gambar,
termasuk
lantai rabat, sehingga diperoleh peil-peil yang dikehendaki.
c). Urugan pasir dilakukan juga pada bekas galian pondasi sebel
ah
dalam bangun dengan ketebalan sesuai dengan gambar
rencana, dan di bawah pondasi, pipa dan lain-lain sesuai
dengan gambar.

2. PASANGAN BATU KALI


2.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan anstamping batu kosong dan
pondasi batu kali untuk landasan sloof, pasangan batu kali sebagaimana
dinyatakan dalam gambar kerja.

2.2 Material :
a. Batu kali yang dipakai harus dari jenis yang keras, tidak keropos, ser
ta
mempunyai gradasi baik dengan diameter maksimum 25 cm.
b. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 4 Pasir dan 1 PC : 2 Pasir

c. Baik batu kali, pasir maupun air adukan yang dipakai pada pekerjaan ini
harus bersih dari lumpur dan kotoran-kotoran lainnya.

d. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain kecuali atas izin
Direksi.

2.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan
bentuk yang ditunjukan dalam gambar kerja.

b. Antar satu batu kali dengan batu kali lainnya tidak boleh sal
ing
bersentuhan, tetapi diantaranya diberi spesi 1Pc : 5 Psr sampai penu
h
sebagai perekat sambil ditekan agar padat.

3. PASANGAN BATU BATA


3.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan untuk semua
pasangan bata seperti yang tertera pada gambar, pelaksanaan
pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis ketinggian, siku dan
bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan disebutkan dalam spesifikasi
ini.

3.2 Referensi :
Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada PUBI N-
3 1970 dan N-10 1973 dan SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang Tata
Cara
Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung.
3.3 Material :
a. Batu bata yang digunakan harus baru, dengan pembakaran yang cukup

12
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

sehingga masak, keras, kering dan tidak mudah patah. Jika diketu
k
menimbulkan suara nyaring. Ukuran yang dianjurkan adalah 5 cm x 11 cm
x 23 cm dengan toleransi 0,5 cm.

b. Adukan yang digunakan untuk pasangan dinding biasa adalah campuran


1 PC : 4 Pasir. Untuk dinding kedap air pada KM/WC, ruang cuci dan 20 cm
diatas lantai seluruh dinding menggunakan spesi transram campuran 1 PC :
2 Pasir.

3.4 Pengerjaan dan Penyimpanan.


Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini disimpan dengan
cara-cara yang disetujui Direksi, untuk menghindari dari segala hal yan
g
dapat mengakibatkan kerusakan pada bahan-bahan tersebut.

3.5 Contoh-contoh.
Contoh bahan yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan kepada Direksi
dan persetujuan atas bahan-bahan tersebut sudah ada sebelum bahan
yang dimaksud dipergunakan. Pengambilan contoh atas bahan yang telah
ada dilapangan akan diadakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan
Direksi guna keperluan pengujian.

3.6 Pelaksanaan :
a. Pasangan dinding batu bata umumnya adalah 1/2 batu, kecuali Direksi
memberikan petunjuk lain.

b. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya diukur
tepat dengan tiang lot, kecuali bilamana tidak diperlihatkan dalam
gambar maka setiap lajur bata harus putus sambungan dengan lajur
dibawahnya. Selain itu pola ikatan pasangan harus terjaga baik diseluruh
pekerjaan.

c. Pada jarak-jarak tertentu atau luasan maksimum 10 M2 pasangan batu


bata perlu diperkuat dengan kolom praktis (beton bertulang), dengan
dimensi, penulangan dan penempatan sesuai gambar.

d. Segera setelah pasangan batu bata selesai, siar-siarnya dikeruk sedalam 1


cm agar plesteran dapat melekat dengan baik.

e. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai jenuh,


dan pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat pekerjaan yang
baik. Batu bata potongan tidak boleh dipakai/dipasang, terkecuali pada
pertemuan-pertemuan dengan kosen/kolom.

13
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
4. PEKERJAAN BETON
4.1 Umum
Pekerjaan beton harus dilaksanakan sesuai dengan
persyaratan-persyaratan yang tercantum di dalam Peraturan
Beton Inonesia (PBI NI-2 1971). Pemborong harus melaksnakan
pekerjaannya dengan ketepatan dan ketelitian yang tinggi
menurut spesifikasi gambar kerja dan instruksi-
instruksi dari direksi
pelaksnaan. Direksi pelaksanaan berhak untuk
memeriksa/mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh
pemborong. Direksi pelaksanaan berhak untuk melakukan
pemeriksaan, dan setiap kegagalan direksi pelaksanaan tidak
membebaskan pemborong dari tanggungjawabnya.
Semua
pekerjaan-pekerjaan yang jelek atau tidak memenuhi uraia
n dan
syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) harus dibongkar
dan diganti
dari yang ditentukan (contoh) dan harus disetujui direksi
pelaksanaan sebelum dipakai. Direksi pelaksanaan akan
menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui sebagai stan
dar
untuk memeriksa selanjutnya. Semua material yang tidak dise
tujui
direksi harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas bia
ya
pemborong.

4.2 Material
Semua material harus mempunyai kualitas yang terbaik dan
memenuhi syarat PBI 1971. Pemborong harus menyediakan cont
oh
dari material-material yang akan digunakan untuk menghasilk
an
beton, untuk dimintakan persetujuan dari direksi, dan tidak
boleh memesan/mengirim dahulu sebelum persetujuan diberikan
.
Direksi akan menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui
sebagai standar, dengan maksud untuk
memeriksa/mencocokkan
pengiriman-pengiriman selanjutnya. Pemborong tidak diizinkan
mengirimkan material-material dengan perbedaan yang besar
dari
standar sampel tanpa persetujuan dari direksi. Semua
material
yang ditolak oleh direksi harus segera dikeluarkan dari tempat
pekerjaan atas biaya pemborong.

4.3 Semen
a). Semen yang digunakan adalah jenis Portland Cement type I
yang memenuhi syarat- syarat yang
ditentukan dalam N.I.8
1972 dan Standard Industri Indonesia (SII 0013-
81). Semen harus diperoleh dari satu pabrik yang telah
disetujui direksi dan dikirimkan ke tempat pekerjaan de
ngan
kantong tersegel dan utuh. Bila karena sesuatu hal
terpaksa menggunakan semen dari pabrik lain,
harus
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari direksi,
merk
semen tersebut setarap dengan Tiga Roda.

b). Bila direksi menganggap perlu pemborong harus mengirimkan


surat pernyataan dari pabrik yang menyetakan tipe, kuali
tas

14
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dari semen beserta manufacture's tes t certifi cate yang


menyatakan memenuhi semuasyarat-syarat yang ditentukan
N.I.8. Semen yang menggumpal, sweeping atau kantong
yang robek/rusak ditolak untuk disegel.

c). Semen harus disimpan dalam gudang/silo dengan ventilasi


yang cukup dan tidak bocor, serta diletakkan di atas la
ntai
yang ditinggikan minimal30 cm dari tanah. Kantong-kantong
semen tidak diperbolehkan ditumpuk/ditimbun melebihi 2
(dua) meter dan setiap pengiriman diberi tanda pengenal
sehingga dapat dipakai sesuai dengan tanggal pengiriman.

d). Pemboro ng harus mengirimkan laporan dari pengujian-


pengujian
semen di laboratorium kepada direksi secara rutin. Laboratorium
yang ditunjuk untuk pengetesan tersebut, terlebih dahulu
harus
disetujui direksi.

4.4 Agregat Halus (Pasir)


a). Agregat halus untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada
proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI atau ASTM.

b). Klasifikasi dan gradasi agregat halus sebagai berikut :


Ukuran Ayakan Lolos (%)
(US Standard Sieve)
No. 4 100 %
No. 8 92 100%
No. 16 65 85%
No. 30 35 55%
No. 50 15 30%
No. 100 0 12%
No. 200 %

c). Agregat halus tidak boleh mengandung l


umpur lebih dari 5%
(ditentukan terhadap kering), dan yang diartikan deng
an
lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,06
3
mm ata u ayakan No. 200 bila t est sesuai dengan ASTM C 117.
d). Agregat halus harus bersih dan bebas dari segala macam
kotoran baik dalam organis lumpur, tanah, karang, garam
dan
sebagainya. pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunaka
n.

e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat halus


yang
akan dipergunakan untuk mendapatkan persetujuan direk
si.
Test-test yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa
:
- t est gradasi sesuai dengan ASTM C 136
- t est abrou-holder (larutan NaOH)
- test-test lainnya bila memang dianggap perlu olehdireksi

15
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

f). Bahan agregat halu harus disimpan di tempat bersih,


keras
permukaannya dan dicegah supaya tidak terjadi pengotora
n
dan pencampuran satu sama lain.

g). Persyaratan-pesyaratan agregat halusdi atas dari ayat a


s/d f berlaku juga untuk beton ready mix.

4.5 Agregat Kasar (Kerikil a t a u Koral)


a). Agregat kasar untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada
proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI 1971 at
au
ASTM.

b). Klasifikasi dan gradasi agregat kasar sebagai berikut :


Agregat kasar type A1 : (besar)
Ukuran Ayakan Lolos (%)
(US Standard Sieve)
1 Inch 100 %
Inch 90 - 98%
Inch 30 - 45%
3/8 Inch 0 - 10%
No. 4 0 - 5%

Agregat kasar type A2 : (medium)


Ukuran Ayakan Lolos (%)
(US Standard Sieve)
Inch 100 %
3/8 Inch 90 - 98%
No. 4 30 - 45%
No. 8 0 - 10%
%
c). Agregat tersebut tidak mengandung lumpur
melebihi dari 1%
(ditentukan terhadap berat kering). yang diartikan deng
an
lumpur adalah bagian-bagian yang dapat lolos melalui ayakan
0,063 mm atau ayakan no. 200 bila ditest sesuai dengan AST
M C
117. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar
harus dicuci.

d). Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras


dan tidak berpasir. Agregat kasar yang mengandung butir-
butir
pipih hanya dapat dipakai bila butir-butir pipih tersebut tid
ak
melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya.
Yang dimaksud butir agregat pipih adalah perbandingan antara
lebar dengan tebalnya lebih besar dari pada 3 (tiga). Butir-
butir
agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah at
au
hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matah
ari
dan hujan.

16
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat kasar yang


akan dipergunakan untuk dapat persejutuan direksi. Test-
test
yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa :
- t est dengan mesin sesuai dengan ASTM C 131 Resistance to
abrasion of small size coarse
- t est gradasi sesuai dengan ASTM A 136
- t est gradasi untuk kadar lumpur sesuai dengan ASTM C 117
- test-test lainnya bila dianggap perlu
dan semuanya
menjadi tanggungjawab pemborong

f). Agregat tersebut harus disimpan di tem pat yang saling


terpisahkan di permukaan tanah ya
ng bersih, padat serta
kering dan harus dicegah terhadap pengotoran dan
pencampuran

g). Persyaratan-persyaratan agregat kasar di atas d


ari ayat a
s/d g berlaku juga untuk beton ready mix.

4.6 Baja Tulangan


a). Bahan
Baja tulangan yang dipakai adalah minimalharus
sesuai
dengan PBI-1971. Mutu, ukuran dan jenis tersebut di ata
s
adalah sebagai berikut :
Diameter Jenis Mutu Au (0,2)
Batang
Lebih kecil atau sama Polos U.24 2.40
dengan (<) 12 mm 0
Lebih besar atau sama kg/cm2
dengan (>) 12 mm Profil U.39 3.90
0
kg/cm2
Keterangan :
Au = tegangan lelah karakteristik
0,2 = tegangan karakteristikyang memberikan tegangan
tetap 0,2%

Baja tulangan yang dipakai adalah set


araf produksi Krakatau
Steel.
Kawat b e t o n : Kawat pengikat baja tulangan harus terb
uat
dari baja lunak dengan diameter minimal 1 mm
yang telah
dipijarkan terlebih dahulu, dan tidak bersepuh seng.

b). Penggantian diameter


- Penggantian dengan diameter lain, hanya diperkenankan
atas persetujuan tertulis dari direksi.
- Bila penggantian disetujui maka luas penampang yang
diperlukan tidak boleh kurang dariyang terca
ntum dalam
gambar atau perhitungan.
- Biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan

17
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

terhadap yang ada gambar sejauh bukan kesalahan


gambar adalah tanggungan pemborong.

c). Pelaksanaan
- Baja dan kawat seperti dimaksud di atas harus bebas d
ari
kotoran-kotoran, karat, c at , kulit giling serta bahan lain
yang akan mengurangi daya lekat terhadap beton.

- Membengkok akan meluruskan baja tulangan harus


dilakukan dalam keadaan dingin serta dipotong dan
dibengkokkan sesuai dengan gambar.

- Semua tulangan harus dipasang dengan posisi yang te


p at
sehingga tidak berubah tempat atau bergeser
sebelum
dan selama pengecoran. Selimut tulangan minimum
3
cm.

- Sambungan dan panjang lawatan baja tulangan harus


sesuai buku pedoman perencanaan untuk struktur beto
n
bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk ge
dung
1983.
- Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat harus
segera
dikeluarkan dari lapangan dalam waktu 24 jam setelah ada
perintah tertulis dari direksi.

- Penyambungan tulangan dengan diameter lebih besar


atau
sama dengan 20 mm baik untuk kolom maupun balok,
setiap panjang 6 m selang seling dilakukan sesuai d
engan
buku pedoman perencanaan untuk struktur tembok
bertulang untuk gedung 1983.

d). Penyimpanan
Penyimpanan besi beton dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya karat, dengan cara meletakkannya di atas pap
an
atau balok kayu sehingga tidak langsung di atas tanah,
untuk
penyimpanan waktu lama maka besi beton harusdisimpan di
bawah at ap .

e). Test dan sertifikat


- Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baj
a
tulangan sesuai dengan RKS ini, maka pada saat pemesa
nan
baja tulangan pemborong harus menyerahkan sertifikat
resmi
dari laboratorium.

- Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus


diadakan te st periodic minimal 3 contoh untuk setiap
diameter batang baja tulangan.Pengambilan contoh
baja tulangan akan ditentukan oleh direksi.

18
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Semua pengetesan tersebut di atas, harus dilakukan


di
laboratorium Lembar Uji Konstruksi BPPT (LUK BPPT) Serpong
atau Laboratorium lainnya yang direkomendasi oleh direksi
dan minimal sesuai dengan standar/peralatan lain yang
setaraf.

- Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung oleh


pemborong.

4.7 Pe kerj aan Pengisi Dilatasi (Bila Diperlukan)


Bahan untuk pengisisan dilatasi dipergunakan bahan setaraf
sikaflexla atau feabseal 2 part dengan spesifikasi teknis
sebagai
berikut :
- Bahan untuk pengisian delatasi (joint delatation)
Warna : Abu-abu
Elastisitas: Permanen
Kekerasan: Shore A durometer 28 kurang lebih 5 Sifat perekatan
pada beton t et ap baik dalam jarak suhu 20 sampai 60 der
ajat
celcius. Tahan terhadap asam, alkali, lemak dan bahan yan
g
berasal dari Hydrocarbon.
Memenuhi stan dar : DIN 18540 BS 4252 : 1967, BS 5 : 1980 JIS A 5757
- Setelah plat lantai beton maupun plat atap menjadi keri
ng,
maka lobang delatasi segera dibersihkan dari segala
macam
kotoran
- Pasang back up material (stirr up foam)
- Pasang masking ta pe pada sisi beton
- Priming dengan sika primer
- Selanjutnya bahan delatasi ini dimasukkan ke dalam lubang
tersebut dengan mengikuti petunjuk dari pabriknya
- Disarankan agar pemasangan dikerjakan oleh licenced
applicator.

4.8 Bahan Campuran Tambahan


a). Penggunaan bahan campuran beton hanya seizin direksi d
an
harus sesuai dengan pasal 3.8 bab 2 PBI 1971 dan ASTM C 494
Chemical Admixtures for Concrete.

b). Bahan campuran beton yang dipakai hanya type A dan D dan
sesuai ASTM C 494.

4.9 Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, bahan-
bahan
organis dan bahan-bahan lain yang merusak beton atau baja
tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih
yang dapat
diminum.

19
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
4.10 Mutu Beton
Mutu beton yang dipergunakan adalah :
Kolom : fc 26,4 Mpa dan fc 19,3 Mpa
Pelat Lantai/Slab : fc 26,4 Mpa dan fc 19,3 Mpa
Pelat Dinding/Wall : fc 26,4 Mpa dan fc 19,3 Mpa
Untuk menjamin kestabilan mutu beton, dianjurkan memakai
beton ready mixed.

4.11Rencana Campuran Beton (Concrete Mix Design)


a). Lima minggu sebelum pekerjaan pengecoran beton
dimulai, pemborong harus membuat designprocedure dan
prelimary t es t atas biaya sendiri untuk mendapatkan
mutu
seperti yang disyaratkan. campuran harus menggunakan
perbandingan berat antara semen, pasir, kerikil, dan air.

b). Perencanaan campuran hendaknya mengikuti persyaratan P


BI
ayat 4.6. dan dievaluasi kekuatan karakteristiknya menurut aya
t
4.5.

c). Bilamana karena sesuatu hal sumber atau kualitas dari


semen d a n / a t a u agregat diganti, maka harus dicari lagi
campuran yang baru sehingga tetap memenuhi syarat, sesuai
ayat-ayat di atas. Jumlah semen yang dipakai 340 kg per
m3
beton, dan pada pondasi, pipa caps dan luifel atap jumla
h
minimum tersebut adalah 375 kg/m3 beton.

d). Dalam hal dipakai beton beton ready mix, maka semua syara
t-
syarat dalam standard spesification for ready mixed
concrete AASHTO designation H. 157-74 harus dipenuhi.

4.12 Pengujian Beton dan Peralatannya


a). Pemborong harusmenyediakan alat-alat yang
diperlukan
dan t empat untuk melakukan percobaan berikut :
- Slump te st
- Test specimens
- Cetakan-cetakan baja untuk membuat kubus-kubus beton
- Test kadar lumpur
Pemborong juga menyediakan peralatan untuk
menentukan moisture content dari agregat halus,
timbangan dan alat lain. Alat yang perlu untuk melak
ukan
percobaan- percobaan berikut.

b). Pengujian slump dilakukan segera setelah beton keluar


dari
mixer minimum 5 cm dan maksimum 10 cm untuk campura
n
koral beton dan maksimum 12 cm untuk campuran denga
n
crushed stones.
c). Atas biaya sendiri pemborong harus membuat, merawat dan
20
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

mengangkut semua t es t specimens ke laboratorium yang


ditentukan/disetujui olehdireksi pelaksanan untuk dilakukan
compresion t e st pada 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.

d). Setiap kubus t est harus bersihdanditandai secara tet


ap
dengan nomor kode dan hari pembuatan,bersama-sama
dengan tanda dari bagian pekerjaan mana sample
diambil. Sistem dari pengukuran dan penandaan dari kubus
akan ditentukan oleh direksi pelaksanaan.

e). Pemborong harus memberikan material untuk pembuatan


sample, dari semua t est yang diperlukan
pada bagian ini
dalam spesifikasi. Kontraktor harus menyampaikan semua hasil
test tersebut kepada direksi secara rutin. Segala hal
biaya yang menyangkut pengetesan tersebut adalah biay
a
kontraktor.

4.13 Beton Bertulang


4.13.1 Kekuatan dan Penggunaan Beton
a). Beton struktural
Meliputi beton konstruksi plat atas, dinding dan
plat
dasar. Untuk mencapai mutu K.225, Pemborong wajib
membuat adukan sesuai dengan proporsi trial mi
x
yang disetujui.

b). Beton non struktural


- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl melip
uti
beton lantai kerja, tebal 5 cm, tidak dicor ke d
alam
cetakan.

- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl melip


uti
rabat beton, sesuai dengan gambar kerja.

- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl melip


uti
kolom atau beton bertulang yang mempunyai
ukuran maksimal 15 cm, kanstin, neut kaki kus
en
kayu, pengisi lubang angker dan sudut-sudut beton
dan lain-lain.

- Beton mortal dengan adukan 1 pc + 2 ps + 5 krl


K adalah tegangan tekan hancur karakt
eristik
untuk kubus beton 15 x 15 x 15 cm pada usia
28
hari. Evaluasi penentuan karakteristik ini digunak
an
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam PBI
1971.

21
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

4.13.2 Campuran Tambahan


Selain bahan seperti sudah ditentukan pada ayat 3.6.7.
RKS
ini, bahan campuran lainnya yang digunakan hanya jika
disetujui oleh direksi secara khusus dan tertulis.

4.13.3 Pengadukan
Semua pengadukan beton harus dilakukan dengan m
esin
pengaduk yang berkapasitas tidak kurang dari 600 liter
dan
dilengkapi dengan alat timbangan berat.
a . Bahan
- Untuk penyelesaian beton exposed harus dibuat da
ri
plywood dengan tebal 12 mm dan dapat dipakai
untuk 2 kali pengecoran beton. Plywood ini di
beri
perkuatan kaso 5/7 untuk menjaga kestabilan da
ri
bekisting tersebut.

- Lain-lain jenis tersebut diatas harus dengan


persetujuan direksi.

- Untuk acuan beton yang tertutup finishing harus


dibuat dari kayu klas II tebal sesuai kebutuhan d
an
dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton,
acuan ini diberi penguat kaso 5/7 untuk menjaga
kestabilan dari bekisting tersebut.

- Untuk perkerasan bekisting (acuan) tersebut,


apabila diperlukan direksi dapat meminta
kontraktor menghitungnya dankemudian disetujui
direksi.

b. Konstruksi
- Bekisting-bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku
mencegah pergeseran atau
perubahan/kelongsoran penyangga. Permukaan
bekisting halus halus dan rata , tidak boleh
melendut atau cekung. Sambungan-sambungan
bekisting harus diusahakan agar lurus dan rata dala
m
arah horisontal dan vertikal.

- Tiang penyangga anti lendutan (cambres) harus


dibuat sebaik mungkin dan mampu menunjang
seperti yang dibutuhkan, tanpa adanya
kerusakan at au overstress ataupun
pergeseran
tempat pada bagian konstruksi yang dibebani.

- Struktur dari tiang-tiang penyangga harus


ditempatkan pada posisi sedemikian rupa,
sehingga konstruksi ini benar-benar kuat dan
kaku

22
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

untuk menunjang berat sendiri dan beban-beban


yang berada di atasnya selama pelaksanaan.

- Kecuali detail-detail yang berlainan pada gambar,


bekisting untuk semua balok dan pelat lantai
dilaksanakan dengan mengikuti anti
lendut ke
atas sebagai berikut:

- Semua balok a t a u / d a n pelat lantai 0,2% lebar


bentang pada tengah-tengah bentang. Se
mua
balok cantilever dan pelat lantai 0,4% dari bentan
g,
dihitung dari ujung bebas.
c. Baut
Baut-baut tie rod yang diperlukan untuk ikatan-
ikatan dalam beton harus diatur sedemikian rupa
sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka
semua besi tulangan akan berada 4 cm
dari
perm ukaan beton. Kawat pengikat tidak diizinkan
pada beton exposed yang akan berhubungan langsung
dengan keadaan alam, dimana dapat menimbulkan
warna yang tidak merata. Semua bekisting harus
dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan
paku tanpa merusak beton.

d. Pembersihan
Semua bekisting harus dibersihkan sebelum
dipergunnakan. Pekerjaan harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi
kemungkinan adanya beton yang keropos dan lain-
lain
kerusakan/cacat pada beton. Segera sebelum beton
dicor pada beberapa bagian dari bekisting, bagian
dalam dari bagian itu harus dibersihkan dari semua
material lain, termasuk air. Tiap-tiap bagian
dari
bekisting, bagian-bagian yang struktural harus diperik
sa
oleh direksi pelaksanaan segera sebelum beton dic
or
di bagian itu. Khusus untuk acuan kolom dan
dinding
beton atau balok-balok tinggi, pada tepi
bawahnya
harus dibuat bukaan atau dua sisinya untuk
mengeluarkan kotoran yang mungkin terdapat pada
dasar kolom/dinding tersebut. Bukaan ini boleh ditut
up
setelah diperiksa dan disetujui oleh direksi pelaksanaan
.

e. Pelapisan (coating)
Sebelum pemasangan besi beton bertulang bekisting
yang dipergunakan untuk beton yang tidak diplester l
agi
(exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak yang
tidak meninggalkan bekas pada beton. Bekisting untu
k
beton biasa (yang perlu diplester lagi permukaanny
a)

23
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

harus dibasahi air dengan seksama sebagai


pengganti minyak sebelum beton dicor.

f. Pembongkaran
Bangunan tidak boleh mengalami perubahan bentu
k,
kerusakan atau pembebanan yang melebihi beba
n
dengan rencana pembongkaran bekisting pada
beton. Pertanggungjawaban atas keselamatan
pada waktu pembongkaran tiap bagian bekisting
atau penyangga berada dipihak pemborong.

g. Waktu minimum untuk pembongkaran bekisting.


Waktu minimum dari saat selesainya pengecoran beto
n
sampai dengan pembongkaran bekisting dari bagian-
bagian struktur ditentukan dari percobaan kubus
benda uji yang memberikan kuat desak minimum
sebagai berikut :
Bagian Struktur Waktu Minimum
Pembongkaran Bekisting
(Hari)
Sisi balok dan dinding 1
Penyanggah plat lantai 21
Penyanggah balok 21

4.14 Pe m bu at a n Beton dan Peralatannya


a. Pemborong bertanggungjawab seluruhnya a
tas pembuatan
campuran beton yang baik/unform dan memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan. Untuk memenuhi syarat- syarat in
i,
pemborong atas biaya sendiri harus menyediakan dan
menggunakan, mesin pencampur beton (beton molen)
yang
baik, volumetric system untuk mengukur air dengan tepat ya
ng
disetujui direksi.

b. Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan


pencampuran material-material harus dengan persetujuan
direksi.

c. Mencampur beton dengan tidak menggunakan perbandingan


berat (timbangan), tidak diperbolehkan.

d. Mixer harus betul-betul kosong sebelum


menampung/menerima material untuk adukan selanjutnya,
harus dibersihkan dan dicuci bila mixer tidak dipakai lebih l
ama
dari 30 menit dan pada setiap akhir
pekerjaan. Mixer juga
harus dibersihkan dan dikosongkan lebih dulu, bila beton ya
ng
akan dibuat berbeda mutunya.

24
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

e. Penc ampuran kembali dari beton yang sebagian s


udah
terjatuh/mengeras tidak diizinkan.
Demikian juga
penambahan air pada adukan beton yang sudah jadi (dar
i
hasil mixer) dengan tujuan memudahkan pengerjaan
dan
sebagainya tidak diizinkan.

4.15 Penol akan Pekerjaan Beton


a . Direksi berhak menolak pekerjaan yang tidak memenuhi
syarat. Pemborong harus mengganti atau
memperbaiki/membongkar pekerjan beton yang tidak
memenuhi syarat, atas biaya sendiri, sesuai dengan instruksi
yang diberikan oleh direksi pelaksanaan.

b. Percobaan compressive strength dari pengujian kubus har


us
memenuhi syarat sebagai berikut :
- Sr adalah deviasi standard rencana.
- Tidak boleh lebih dari 1 (satu) nilai diantara 20 nilai h
asil
pemeriksaan benda uji berturut-turut, terjadi kurang d
ari '
bk.
- Tidak boleh satupun rata-rata dari 4 hasil
pemeriksaan
benda uji berturut-turut, terjadi kurang dari ( ' bk + 0,82
Sr).

- Selisih antara nilai tertinggi dan terendah dianta


ra 4
(empat) hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut ti
dak
boleh lebih besar dari 4,3 Sr.

- Dalam segala hal, hasil pemeriksaan 20 benda uji bertur


ut-
turut harus memenuhi ( ' bk = ' bm - 1,64 Sr).

c. Bila compressive strength t es t dari kelompok kubus te st


gagal
memenuhi syarat di atas, maka direksi pelaksanaan akan
menolak semua pekerjaan-pekerjaan beton dari kubus-
kubus
tersebut diambil.

4.16 Pengangkutan dan Pengecoran Beton


a. Pengecoran beton tidak boleh dimulai sebelum
direksi
memeriksa dan menyetujui cetakan, bekisting (formwork),
tulangan, angker-angker dan lain-lain,
dimana beton akan
dituangkan/dicor. Tempat dimana beton akan dituangkan
harus bebas dari segala macam kotoran, puing-puing,
potongan-potongan, kayu, air dan sebagainya.

b. Air (genangan) harus dibuang dari tempat/ruangan yang


akan
diisi/dicor beton. Air yang mengalir ke dalam galian harus
dikontrol/dibuang dengan cara yang disetujui direksi
pelaksanaan.

25
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
c. Isi dari mixer yang dikeluarkan pada suatu operasi continous
harus diangkut tanpa menimbulkan degradasi. Beton har
us
diangkut dalam gerobak yang bersih dan kedap air. Metoda
yang digunakan harus disetujui direksipelaksanaan, setelah
pemborong mengajukan proposal/usulan cara-cara
pengangkutan.

d. Alat-alat dan tempat yang digunakan untuk pengangkuta


n
beton harus diberikan dan dicuci bila pekerjaan terhenti l
ebih
lama dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan.
Semua campuran beton di tempat pekerjaan harus
diletakkan/dicor dan dipadatkan pada tempatnya dalam
waktu 40 menit setelah penuangan air ke dalam mixer.

e. Beton pada umumnya tidak boleh dijatuhkan


bebas/dituangkan dari ketinggian lebih besar dari 1,5 m.
pengecoran harus dilaksanakan dengan menghindari
timbulnya degradasi dan menjamin suatu
pengecoran
yang tidak terputus. Beton harus diletakkan dalam lapisan
tidak lebih dari 60 cm tebalnya dan
dipadatkan sesuai
ketentuan di bawah ini tanpa
timbulnya
degradasi/pemisahan. pengecoran dari satu unit atau
bagian dari pekerjaan harus dilaksanakan dengan satu
operasi yang continous atau sampai construction joint
tercapai.

f. Beton, acuan atau penulangan tidak boleh diganggu sela


ma
minimal 24 jam setelah pengecoran, kecuali dengan izin direk
si
pelaksanaan. Semua pengecoran harus dilaksanakan di sia
ng
hari dan pengecoran beton dari suatu bagian pekerjaan
jangan dimulai apabila tidak dapat diselesaikan pada
siang
hari, kecuali atas izin Direksi Pelaksanaan boleh dikerjakan
pada malam hari. Izin initidak boleh diberikan, bila siste
m
penerangan yang dipersiapkan Pemborong belum
disetujui Direksi Pelaksanaan.

g. Dalam hal dinding, kolom beton atau bagian-bagian yang


dianggap tinggi, tidak boleh dicor dari atas, tetapi har
us dari
samping melalui satu bukaan pada ketinggian yang disetujui
.
Saluran curah untuk pengecoran tidak boleh
dipergunakan, kecuali jaraknya dekat dan hanya
dengan
persetujuan direksi pelaksanaan. Bila hal ini disetujui direksi
pelaksanaan, maka saluran itu harus dibuat dari logam (met
al)
atau bahan dihaluskan, agar dapat mengalirkan ad
ukan
beton dengan lancar, sedangkan kemiringan saluran/talang
tersebut tidak lebih curam dari perbandingan 1 (satu)
tegak
dan 2 (dua) mendatar.

26
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

h. Siar pelaksanaan harus ditempatkan sedemikian sehingga


tidak banyak mengurangi kekuatan konstruksi. Bila siar-siar
pelaksanaan tidak ditunjukkan dalam gambar-
gambar rencana, maka tempat-tempatnya harus disetuji
oleh
direksi.

i. Penyimpanan tempat siar daripada yang


dinyatakan dalam
gambar harus disetujui direksi.

j. Pen empatan air (penyambungan


pengecoran) pada
dinding yang berfungsi
menampung air, harus dipasang wa
ter stop dari type yang
terlebih dahulu disetuji direksi.

4.17 Pe m a d at a n Beton
a . Beton harus dipadatkan keseluruhan dengan mechanical
vibrator yang dikerjakan oleh orang-orang yang
berpengalaman dan telah mendapatkan trainning untuk
pekerjaan tersebut. Pekerjaan beton yang telah selesai
harus
merupakan suatu massa yang bebas dari lubang-lubang
degradasi atau kropos-kropos (honey combing).

b. Vibrator yang dipakai harus dari type rotary out of balanc


e
dengan frekuensi tidak kurang dari 6.000 cycles per menit.
harus
diperhatikan agar pe m a d a t a n / penggetaran semua bagian
beton tidak menyebabkan degradasi dari material-
material
akibat over vibration. Vibration tidak boleh dipergunakan pada
tulang-tulang, terutama tulang- tulangan yang t
elah masuk
pada beton yang mulai mengeras.

c. Banyaknya vibrator yang dipergunakan harus disesuaikan


dengan volume dan kecepatan pengecoran.
Pemborongan juga harus menyediakan paling sedikit 1
vibrator tambahan/cadangan untuk mengganti yang
rusak
pada waktu yang sedang dipakai.

4.18 Perlindungan Terhada p Cuaca Alam


a . Cuaca Panas
Bila perlu dipergunakan rangkaian instalasi penahanan angi
n,
naungan, fog spraying, memerciki dengan air, menggena
ngi
dengan air ataupun menutup dengan penutup basah
yang
berwarna muda dapat dibuat bagian yang telah selesai
dicor, dan tindakan perlindungan yang
sedemikian harus
segera diambil setelah pengecoran dan pekerjaan akhir sele
sai
dikerjakan.

27
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

b. Musim Hujan
- Tidak diperbolehkan mengecor selama turun hujan le
bat,
dan beton yang baru dicorharus segera dilindungi dari
curahan hujan. Sambungan harus dilindungi seperti yang
dijelaskan dalam spesifikasi ini.

- Sebelum pengecoran berikutnya dikerjakan maka


seluruh
beton yang terkena hujan/aliran air hujan
harus
diperiksa, diperbaiki dan dibersihkan dulu dari beton-
beton yang tercampur/terkikis air hujan.
Pengecoran
selanjutnya harus mendapat izin direksi pelaksanaan terle
bih
dahulu.

4.19 Perawatan
a . Beton baru harus dilindungi dari hujan lebat, aliran dan dari
kerusakaan yang disebabkan oleh alat-alat. Semua beton
hendaknya selalu dalam keadaan basah, selama paling
sedikit 7 hari, dengan cara
menyiramkan air pada pipa yang
berlubang atau cara lain yang menjadikan bidang permukaa
n
beton itu selalu dalam keadaan basah.
b. Bekisting kayu dibiarkan terpasang agar beton itu te
tap
basah selama perawatan untuk mencegah retak pada
sambungan dan pengeringan beton yang terlalu cepat. Ai
r
yang dipergunakan untuk perawatan harus bersih dan
sama
sekali bebas dari unsur-unsur kimia yang dapat menyebabk
an
kerusakan atau perubahan warna pada beton.

4.20 Cacat pada Beton


Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, pemberi tug
as
mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang caca
t
seperti berikut.
a . Konstruksi beton yang sangat keropos.

b. Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang


direncanakan atau posisinya tidak seperti yang ditunjukkan
oleh
gambar.

c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata sepert


i yang
direncanakan.

d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.

28
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

5. PEKERJAAN PLESTERAN
5.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan
adukan sebagai berikut :
a. Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1Pc : 4 Ps.
b. Plesteran kedap air (transram) menggunakan adukan 1 Pc: 2Ps
c. Untuk semua plesteran beton, kaki pondasi digunakan 1Pc: 4Ps.

5.2 Material :
a. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut atau pas
ir
yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan untuk digunakan.

b. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang membatu serta
dalam kemasan standard pabrik dan terlindung.

5.3 Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, semua bidang yang akan diplester
harus disiram air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah dikeruk sedalam lebih
kurang 1 cm.
b. Tebal plesteran dinding ditentukan dengan ketebalan minimal 1 cm,
dikerjakan dengan lurus dan rata, juka terdapat bidang-bidang dinding
yang berombak/retak harus dibongkar dan diperbaiki.
c. Semua bidang plesteran yang kelihatan harus diaci menggunakan acian
semen.

5.4 Memperbaiki dan membersihkan


Pemborong wajib memperbaiki plesteran dinding tersebut dengan bentuk
memanjang, memakai alat serta diplester kembali. Pekerjaan plester yang
telah selesai harus bebas dari retak, noda dan cacat lain. Pada waktu-waktu
tertentu selama pelaksanaan, dan bila pekerjaan telah selesai, semua plester
yang tampak harus dibersihkan dari kotoran-kotoran akibat pekerjaan.

6. PEKERJAAN KAYU
6.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan kayu-kayu untuk
konstruksi rangka kusen pintu/jendela, bingkai pintu,kayu untuk pek. Gazebo,
pek. Bantaya, kuda- kuda, gording, rangka atap dan pekerjaan kayu lainnya
yang tertera dalam gambar kerja.

6.2 Material :
a. Jenis :
Kayu yang dipakai pada pekerjaan ini terdiri atas 2 jenis kayu yaitu
- Kayu yang mempunyai kelas keawetan I dan kelas kuat I sesuai dengan
SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. Yaitu Kayu Ulin untuk konstruksi ba
gian
bawah dermaga.
- Kayu yang mempunyai kelas keawetan II dan kelas kuat II sesu
ai
dengan SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. untuk konstruksi bangunan d
an
bagian atas dermaga.

29
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

b. Mutu :
Kayu yang dipakai harus lurus kering, memiliki serat yang teratur, ti
dak
terdapat mata kayu/cacat-cacat lainnya serta tidak terdapat bidang-
bidang yang lemah.

c. Ukuran :
Ukuran-ukuran kayu yang dipergunakan harus sesuai dengan yan
g
terdapat pada gambar detail.

d. Kadar Air :
Kayu-kayu yang dipergunakan hanya boleh mengandung kadar air
maksimum 25 % untuk ukuran tebal lebih dari 7 cm dan kadar
air
maksimum 19 % untuk tebal kurang dari 7 cm.
e. Pengikat-pengikat :
Bahan pengikat digunakan dari kayu paku galvanis, baut atau plat besi.
Apabila menggunakan perekat, bahan perekat yang digunakan harus
terbuat dari lem tahan air setaraf dengan merk "Herferin".

6.3 Pelaksanaan :
a. Semua pekerjaan kosen, daun pintu dan jendela pada bagian-bagian
tertentu harus diserut rata dan halus, dan pada bagian-bagian pertemuan
harus dikerjakan dengan rapi dan tidak berongga.

b. Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan
rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.

c. Semua lubang-lubang bekas paku, baut dan sebagainya harus ditutup


dengan dempul hingga rapi kembali.

7. PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN,LISPLANK DAN BUBUNGAN


7.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan rangka baja
ringan termasuk atap, bubungan dan lisplank.

7.2 Material :
Material yang digunakan sesuai dengan standar kekuatan yang tercantum
dalam Standar Nasional Indonesia.
Material Rangka atap baja ringan, lisplank dan bubungan atap harus
dilengkapi dengan spesifikasi teknis.

7.3 Pelaksanaan :
Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan rapi,
untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.

30
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

8. PEKERJAAN KERAMIK
8.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan lantai dan dinding sesuai yang ditentukan dalam gambar.

8.2 Material :
a. Keramik dinding dan Lantai KM/WC menggunakan Tegel 20x20 cm, merk
roman atau setara dengan mutu KW 1.
b. Tegel Keramik yang digunakan adalah yang mempunyai kualitas satu
(KW-1).

8.3 Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-benar
padat sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada lantai.

b. Pemasangan lantai/ubin harus rapi, dengan siar saling tegak lurus, serta
mengikuti peil-peil yang ditentukan dalam gambar.
c. Semua pemasangan Tegel Dinding harus menggunakan campuran 1 pc :
4 ps dengan perekat AM-30 Mortar Flax.

d. Pemasangan tegel pada lantai dan dinding harus dikerjakan dengan


rata dan datar serta dikerjakan oleh tukang yang benar-benar ahli. Untuk
pekerjaan pemasangan lantai KM/WC harus dibuat miring (1%) kearah
saluran pembuangan air (floor drain).

e. Pemasangan tegel lantai keramik dipasang diatas lantai kerja (beton


tidak bertulang) dengan mutu beton K 175l setebal 5 cm.

f. Pada sudut-sudut pertemuan antara dinding dengan lantai Keramik,


dipasang ubin plint (dinding bagian luar) dengan ukuran yang sesuai
dengan ukuran lantainya.

g. Pemasangan plint keramik sejajar dengan dinding tembok, antara plint


keramik dan plesteran dinding dibuat tali air.
h. Pekerjaan tali air atas plint keramik dilakukan dengan kualitas kelas satu,
rapi dan lurus.

9. KUNCI DAN PENGGANTUNG


9.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan kunci serta alat-alat penggantung, seperti : engsel, kunci,
handle dan sebagainya.

9.2 Material :
a Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2 (dua)
slaag kualitas baik, setara Yale.

31
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

b Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah untuk daun pintu
engsel Nylon Ring 4", untuk jendela engsel nylon ring 3".

c Grendel tanam lengkap untuk Pintu 2 daun, grendel biasa untuk pintu
tunggal dan jendela. Semua Grendel buatan dalam negeri dengan
kualitas baik.

d Semua daun jendela dilengkapi satu pasang Haq Angin buatan dalam
negeri.

e Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus


diperlihatkan contohnya kepada Direksi/Pengawas.

9.3 Pelaksanaan :
a Semua daun pintu menggunakan engsel Stainless Steel Ring 4" buata
n
dalam negeri masing-masing 3 (tiga) buah.

b Untuk pintu-pintu 2 (dua) daun harus dilengkapi dengan grendel tanam


yang dipasang pada bagian atas dan bawah.
c Semua daun jendela bingkai menggunakan engsel nylon ring 3" buatan
dalam negeri masing-masing 2 (dua) buah, haq angin 2 (dua) buah dan
untuk pengunci dipasang grendel 1 (satu) buah.

d Kunci-kunci harus berfungsi dengan baik dan pada saat diserahkan anak
kunci harus diserahkan lengkap dengan cadangannya.

10. PEKERJAAN CAT DAN POLITUR


10.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pengecatan kayu, tembok, plafond.

10.2 Material :
a. Jenis cat kayu yang digunakan adalah merk Avian atau setara.
b. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk Avian atau setara.
c. Plamur yang digunakan adalah merk AVIAN atau setara.
d. Residu dengan kekentalan yang cukup untuk kap.
e. Politur/teakoil digunakan untuk permukaan teekwood dan pada
pekerjaan kayu yang diekspos seperti yang ditunjukan pada gambar.

10.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan Cat Kayu :
1) Bidang yang akan dicat harus bersih dari segala macam kotoran,
sebelum pengecatan dilaksanakan Kontraktor harus
memperlihatkan bagian yang akan dicat kepada Direksi untuk
diperiksa.

2) Semua permukaan kayu yang akan dicat/dipolitur harus diamplas,

32
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dan lobang-lobang bekas paku harus didempul dan diamplas


kembali sampai rata.

3) Pengecetan kayu dilaksanakan satu kali menie, satu kali cat dasar
dan satu kali plamur, kemudian digosok dengan amplas, dan
akhirnya dua kali cat akhir.

4) Warna Cat kayu yang digunakan untuk kosen, daun pintu, bingkai
jendela dan listplank akan ditentukan kemudian.

b Pekerjaan Cat Tembok/Plafond :


1) Permukaan dinding dan plafond sebelum dicat harus diplemu
r
kemudian diamplas dengan kertas pasir sampai rata dan halus.

2) Semua bidang tembok dan plafond dicat tembok minimal 2 (dua)


kali sampai kelihatan rata dan cukup tebal.

3) Cat tembok yang digunakan adalah warna putih untuk plafond,


broken white untuk bagian dalam dan cream bagian luar.

c Pekerjaan Politur/Teakoil :
Semua daun pintu teekwood dan dinding papan harus dipolitur.
Persiapan dilakukan dengan membersihkan dan mengamplas
bagian/permukaan yang akan dipolitur. Selanjutnya dapat dipolitur
dengan menggunakan Ultra Politur P-01.

d. Peke rjaan Wa t e r Proofing


Dinding dan dasar penampung yang berfungsi menampung
air harus dilapisi water proofing dari type yang tidak
mengandung zat-zat kimia yang membahayakan air
minimum. Dalam hal ini kontraktor harus mengajukan sistem
dan spesifikasi teknisnya untuk terlebih dahulu disetujui
direksi.

11. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK


11.1 Lingkup Pekerjaan :
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah :
a Pengadaan Lampu SL, Kabel-Kabel, Stop Kontak, Saklar, Fitting, Pipa
Instalasi, Material Bantu, termasuk pemasangannya.

b Penyerahan Surat Jaminan oleh Instalatur/Kontraktor beserta


pembuatan gambar instalasi yang terpasang.

11.2 Bahan yang dipakai :


a. Kabel-kabel yang dipakai adalah dari jenisnya NYA yang memenuhi
standard PLN (SPLN) serta berinitial LMK (Minimal merk Eterna at
au
setara).

b. Stop kontak, sacklar dan fitting serta peralatan listrik yang digunaka
n

33
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

harus buatan dalam negeri yang telah memenuhi standard PLN


,
kemampuan minimal 10/16A.

c. Untuk trafo lampu SL yang digunakan merk Philips atau set


ara,
sedangkan balon pijar/TL harus merk Phillips TL atau setara ha
rus
dilengkapi Capasitor.

11.3 Pemasangan :
a Pemasangan instalasi listrik harus berpedoman pada Peraturan Umum
Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000.

b Untuk menangani pekerjaan ini harus ditunjuk Instalatur yang tel


ah
memiliki SPJT dan SBUJK Bidang E&M dari AKLI.

c Inslatasi yang terpasang harus disesuaikan dengan tegangan listrik yang


terpasang di area proyek.
d Untuk penerangan dan stop kontak biasa kabel yang digunakan adalah
jenis NYA diameter 2,5 mm atau 1,5 mm dengan pelindung PV
C
diameter 5/8" dan dipasang inbouw.

e Untuk semua penyambung kabel harus menggunakan T Dos dan ditutup


dengan las dop, serta ditempatkan pada kedudukan yang aman.

f Pemasangan instalasi listrik umumnya dikerjakan sebelum plafon ditutup


dan pelesteran diding dikerjakan.

g Pada semua stop kontak dan SDP harus di beri arde deng
an
menggunakan kawat BC, dan khusus pentanahan harus dikerjakan
sampai mendapatkan tahanan yang disyaratkan, serta diberi pelindung
pipa Paralon diameter 3/4".

12. PEKERJAAN JALAN OPERASI, GALIAN DAN SALURAN DRAINASE


12.1 Umum
Pekerjaan yang meliputi :
- Prosedur galian
- Bahan-bahan
- Penempatan dan pemadatan timbunan
- Jaminan kualitas
- Prosedur pengerjaan
- Subbase
- Base
- Pekerjaan perkerasan jalan
- Saluran drainase
- Box dan culvert
- Pipa-pipa drainase
akan disajikan dalam uraian berikut ini.

34
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

12.2 Prosedur Galian


a . Galian harus dilaksanakan sampai kelandaian, garis dan
ketinggian yang ditentukan dalam gambar atau
diperintahkan oleh direksi dan harus meliputi pembuangan
semua bahan-bahan yang ditemukan, termasuk
tanah,
batuan, batu bata, batu beton, pasangan batu dan
bahan-bahan perkerasan jalan lama.

b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan


yang seminimal mungkin hadap bahan-bahan di bawah dan
diluar batas galian.

c. Apabila batuan, lapisan keras atau bahan-bahan keras


lainnya ditemukan pada jalur selokan atau pada
ketinggian
tanah dasar untuk perkerasan dan bahu jalan, ata
u pada
dasar parit pipa atau galian pondasi struktur maka bahan-
bahan tersebut harus digali lebih dari 150 mm
sampai suatu
permukaan yang rata halus dan
mantap. Tidak boleh ada
tonjolan batuan ditinggalkan dari permukaan yang terb
uka
dan semua pecahan batu yang berdiameter lebih besar d
ari
150 mm harus dibuang. Profil galian yang ditentukan haru
s
dicapai dengan bahan-bahan urugan kembali yang
dipadatkan dan disetujui oleh direksi.

d. Peledakan tidak boleh digunakan untuk pekerjaan galian.

e. Galian batuan dilaksanakan sampai kedalaman sesuai


perencanaan yang dinyatakan pada gambar kerja atau
yang ditetapkan oleh direksi. Permukaan harus datar,
dengan 50 mm maksimum gelombang permukaan. Batua
n
lepas dengan ukuran lebih dari 150 mm harus disingkirkan.

f. Permukaan dasar batuan harus dibersihkan menggunakan


kompresor air bertekanan tinggi.

g. Jika diperlukan, kontraktor harus memasang landasan bet


on
tanpa tulang belulang sebelum pekerjaan beton struktur.

h. Parit atau pipa, gorong kecil dan saluran beton, pasa


ngan
batu atau pasangan batu adukan encer harus
berukuran
cukup untuk memungkinkan pemasangan yang layak
dari
bahan-bahan, pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan
urugan kembali di bawah dan
disekeliling pekerjaan yang
ditempatkan.

i. Jika gorong-gorong atau parit lainnya digali pada


embankmen baru, embankmen harus dibangun sampai ti
nggi
permukaan yang disyaratkan dengan suatu jarak pada

35
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

masing-masing sisi lokasi parit tidak kurang dari 5 kali u


kuran
lebar parit, dan setelahnya parit digali dengan sisi-sisi ha
mpir
vertikal sebagaimana kondisi tanah mengijinkan.
j. Setiap pemompaan dari galian harus dikerjakan dengan
cara yang cermat untuk menghindari kemungkinan set
iap
bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan
dapat terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan
selama penempatan beton atau suatu perioda sekura
ng-
kurangnya 24 jam sesudahnya, harus dilaksanakan dari
suatu
bak yang t e p a t , dan terletak diluar a cuan beton, dan ali
ran
air yang dipompa masuk ke dalam sistim drainase yang tel
ah
ditetapkan.

12.3 Bahan-Bahan
a . Sumber bahan-bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetu
jui
direksi.

b. Timbunan biasa
- Timbunan yang digolongkan sebagai timbunan biasa
akan
terdiri dari tanah atau bahan-bahan batuan yang disetu
jui
oleh direksi.

- Bahan-bahan juga akan diseleksi sejauh mungkin, tid


ak
termasuk penggunaan tan
ah liat yang sangat plastis,
diklasifikasikan sebagai A-7-6 oleh AASHTO M 145
atau
sebagian CH pada Unified or Cassagrande Siol
Classification System. Dimana penggunaan tanah-tanah
yang plastis berkadar tinggi tidak dapat dihindari
secara layak, maka bahan-bahan tersebut hanya
kan digunakan dibagian dasar timbunan atau dalam
urugan kembali yang tidak memerlukan daya dukung
atau kekuatan geser yang tinggi. Tidak ada tanah pl
astis
berkadar tinggi yang akan digunakan sa
ma sekali pada
lapisan bahan-bahan 400 mm di bawah setiap tanah
dasar perkerasan atau bahu jalan. Sebagai
tambahan,
maka timbunan dalam daerah ini bilamana
diuji sesuai
dengan AASHTO T-193 harus mempunyai suatu nilai CBR
tidak
kurang dari 6 % setelah terendam empat hari bila
dipadatkan sampai 100% kepadatankering maksimum
sebagaimana ditentukan sesuai AASHTO T-99.

- Bila digunakan situasi


pemadatan dengan kondisi jenuh
atau banjir tidak dapat dihindari, maka timbunan
dengan bahan-bahan terpilih
harus terdiri dari
pasir atu
kerikil atau bahan-bahan butiran bersih lainnya
dengan suatu Indeks Plastisitas maksimum 6%.

36
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Bila digunakan pada pekerjaan stabilisasi timbunan a


tau
lereng atau dalamsituasi lainnya dimana kekuatan ges
er
adalah penting, tetapi berlaku kondisi pemadatan
normal, maka timbunan dengan bahan-bahan
terpilihdapat merupakan timbunan batuan atau k
erikil
berlempung yang bergradasi baik atau tanah liat berpa
sir
atau tanah liat yang memiliki plastisitas renda
h. jenis
bahan- bahan yang terpilih dan disetujui oleh direksi
akan
bergantung pada kecuraman dari lereng yang akan
dibangun atau ditimbun atau pada tekanan tanah
yang harus dipikul.

12.4 Pe n e m p a t a n dan Pema datan Timbunan


a . Penempatan Timbunan
- Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang
dipersiapkan dan disebarkan merata serta bila
dipadatkan akan memenuhi toleransiketebalan
lapisan terte ntu.

- Timbunan tanah harus


dipindahkan segera dari daerah
galian ke permukaan yang dipersiapkan dalam keadaan
cuaca kering. Penumpukan tanah timbunan
tidak akan
diizinkan selama musim hujan, dan pada waktu lainnya
hanya dengan izin tertulis dari direksi.

- Dalam penempatan timbunan di atas atau pada sel


imut
pasir atau bahan-bahan drainase porous lainnya,
maka harus diperhatikan untuk menghindari
pencampuran adukan dari kedua bahan-bahan tersebut
.
Dalam hal pembentukan drainase vertikal, maka
suatu
pemisah yang luas antara kedua bahan-bahan
tersebut
harus dijamin dengan menggunakan acuan sementa
ra
dari lembaran baja tipis yang secara bertahap
akan
ditarik sewaktu penempatan timbunan dan
bahan
drainase porous dilaksanakan.

- Penimbunan kembali di atas pipa atau di belakang


struktur harus sesuai dengan galian dan urugan kembali
untuk struktur.

- Dimana timbunan akan diperlebar, maka


lereng
timbunan yang ada harus dipersiapkan dengan
mengeluarkan semua tumbuh-tumbuhan permukaan
dan
harus dibuat terasering
sebagaimana diperlukan
sehingga timbunan yang baru terikat pada
timbunan
yang ada hingga memuaskan direksi. Timbunan yang
diperlebar kemudian harus dibangun dalam lapisan
horizontal sampai pada ketinggian tanah dasar. Tanah

37
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dasar harus ditutup dengan sepraktis dan secepat mung


kin
dengan lapis pondasi bawah sampai ketinggian
permukaan jalan yang ada untuk mencegah pengeringan
dan kemungkinan peretakan permukaan.

- Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh ru


mput
dan tumbuh-tumbuhan harus dibuang dari permukaa
n atas
di mana timbunan tersebut ditempatkan dan permu
kaan
yang sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan
at au pengupasan selajutnya akan dipadatkan
kembali, sesuai dengan jenis pemadatan yang
ditentukan untuk timbunan jalan raya
selanjutnya.
Jika permukaan asli di atas mana timbunan
yang akan
ditempatkan adalah jalan lama, permukaan tersebut
harus dibajak, dikupas, atau dihancurkan tanpa
menghiraukan tinggi dari timbunan yang kan ditemp
atkan.
Dalam tiap-tiap kasus tidak ada
pembayaran terpisah
yang akan dilakukan untuk pekerjaan ini sebagaimana
hal tersebut dipertimbangkan sebagai tambahan
pada
item lain-lain di dalam bill of quantities.

b. Pemadatan
- Segera setelah penempatan dan penghamparan
timbunan maka setiap lapisan harus
dipadatkan secara
menyeluruh dengan alat pema dat yang cocok dan laya
k
serta disetujui oleh direksi sampai suatu kepadatan
yang
memenuhi persyaratan.

- Pemadatan tanah timbunan akan


dilakukan hanya bila
kadar air bahan-bahan berada dalam batas antara 3%
kurang daripada kadar air optimum sampai 1% lebih
daripada kadar air optimum. Kadar air optimum tersebu
t
harus ditentukan sebagai kadar air dimana kepadat
an
kering maksimum diperoleh bila tanah tersebut di
padat
sesuai dengan AASTHO T99.

- Semua timbunan batuan harus ditutup


degan sebuah
lapisan atau lapisan dengan tebal 200 mm dari bahan-
bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tid
ak
lebih besar dari 50 mm dan mampu mengisi semua
sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan penutu
p
ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk
timbunan tanah.

-Setiap lapisan timbunan yang


ditempatkan harus
dipadatkan sebagaimana ditentukan, diuji untuk
kepadatan diterima oleh direksi,
sebelum lapisan berikut
ditempatkan.

38
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan


dilanjutkan ke arah sumbu jalan dengan suatu cara yan
g
sedemikian sehingga setiap bagian menerima jumlah
pemadatan yang sama. Dimana mungkin lalu lintas ala
t
konstruksi harus dilewatkan di atas pekerjaan timb
unan
dan jalur yang digunakan diubah secara terus mener
us
untuk menyebar pengaruh pemadatan dari lalu-lintas.
- Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimas
uki
oleh alat pemad at yang biasa, harus ditempatkan dala
m
lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih
dari
150 mm tebal dan seluruhnya dipadatkan dengan
menggunakan alat pemadat tangan mekanis
(mechanical temper) yang disetujui.
Perhatian khusus
harus diberikan guna menjamin pemadatan yang
memuaskan dibawah dan ditepi pipa untuk menghindari
rongga-rongga dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang
sepenuhnya.

c. Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan Tanah


- Lapisan yang lebih dari 300 mm di bawah ketinggian
tanah dasar harus dipadatkan sampai 95% dari
standar maksimum kepadatan kering yang
ditentukan
sesuai AASTHO T99. Untuk tanah yangmengandung lebih
dari 10% bahan-bahan yang tertahan pada ayakan
3/4
inch, kepadatan kering maksimum yang dipadatkan haru
s
disesuaikan untuk bahan-bahan yang
berukuran lebih
besar sebagaimana diarahkan oleh direksi.

- Lapisan 300 mm atau kurang di bawah ketinggian tanah


harus dipadatkan sampai 100% darikepadatan kering
maksimum yang ditentukan AASTHO T99.

- Pengujian kepadatan harus dibuat setiap lapisan


timbunan yang dipadatkan sesuai dengan AASTHO T191
dan
bila hasil setiap pengujian menunjukkan bahwa kepadata
n
kurang daripada kepadatan yang disyaratkan maka
kontraktor harus membetulkan pekerjaan tersebut
sesuai
denga n ketentuan diatas. Pengujian harus dibuat sa
mpai
kedalaman lapisan sepenuhnya pada lokasi yang
diarahkan oleh direksi, tetapi satu dengan yang
lainnya
tidak terpisah lebih 50 cm. Untuk urugan kembali
disekeliling struktur atau pada parit gorong-gorong,
sekurang- kurangnya satu
pengujian untuk satu
lapisan
urugan kembali yang ditempatkan harus dilaksanakan.
Pada timbunan, sekurang-
kurangnya satu pengujian

39
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

harus dilaksanakan pada setiap 150 meter kubik timbu


nan
yang ditempatkan.

- Kriteria untuk timbunan batuan


Penampatan dan pemadatan timbunan batuan har
us
dilaksanakan dengan menggunakan mesin gilas atau
mesin pemadat bergetar atau sebuah traktor be
roda
rantai yang berbobot sekurang-kurangnya 20 ton
atau peralatan konstrukasi berat yang serupa.
Pe ma da ta n harus dikerjakan dalam arah
memanjang
sepanjang timbunan, dimulai dari tepi luar dan dilanj
utkan
menuju ke arah sumbu, dan harus
diteruskan sampai
tak
ada gerakan yang nampak di bawah peralatan tersebu
t.
Setiap lapisan harus terdiri daribatuan bergradasi yang
cukup baik dan semua rongga permukaan harus terisi
dengan pecahan kecil sebelum lapisan berikutnya
ditempatkan.
Batuan tidak boleh digunakan pada 150 m
m lapisan atas
timbunan dan tidak ada batu
dengan suatu ukuran
melebihi 100 mm boleh dimasukkan ke dalam lapisan at
as
ini.
- Percobaan pemadatan
Kontraktor harus bertanggungjawab untuk pemilihan
peralatan dan metoda untuk mencapai kepadatan yan
g
diisyaratkan, maka pemadatan berikutnya harus menyusu
l.
Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan
jumlah lintasan alat pemadat dan kadar air harus
diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan
tercapai sehingga memuaskan direksi. Hasil
percobaan
lapangan ini kemudian harus digunakan untuk
menentukan jumlah lintasan yang diisyaratkan, jenis a
lat
pemadat dan kadar air untuk semua pemadatan yang
selanjutnya.

12.5 Prosedur Pengerjaan


a . Galian untuk struktur
- Parit untuk struktur dan telapak struktural digali men
urut
garis, kelandaian dan ketinggian yang terlihat pada
gambar atau sebagaimana diarahkan oleh direksi.
Ketinggian dasar telapak yang terlihat pada gambar
adalah hanya perkiraan saja dan direksi boleh
menginstruksikan perubahan pada ukuran atau
ketinggian telapak sebagaimana dianggap perlu untuk
menjamin hasil yang memuaskan. Batu besar bulat, bal
ok
kayu dan bahan-bahan lain yang di bawah dan di sekita
r
pekerjaan yang ditempatkan.

40
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Parit harus berukuran cukup untuk memungkinkan


pemasangan bahan-bahan yang layak, pemeriksaan
pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah da
n
di sekitar pekerjaan yang ditempatkan.

-
Bila gorong-gorong atau parit lainnya akan digali ada
timbunan baru, maka timbunan tersebut harus
dibangun
hingga setinggi permukaan yang diperlukan suatu jarak s
isi
lokasi parit tidak kurang 5 kali ukuran
lebar parit
tersebut, sesudah itu parit tersebut akan digali
dengan
sisi-sisi yang vertikal sesuai dengan kondisiyang
memungkinkan.

- Setiap pemompaan galian harus dikerjakan dengan


cara tertentu untuk menghindari kemungkinan seti
ap
bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan
terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan
selama penempatan beton, atau untuk suatu peri
oda
sekurang-kurangnya 24 jam setelah itu, harus dikerjakan
dari
tempat penampungan air yang
terletak di bagian luar
acuan beton.
b. Urugan kembali pada standar
- Daerah yang digali di sekitar struktur harus diurug
kembali
dengan bahan-bahan yang disetujui dalam pelapisan
horisontal dengan kedalaman tidak lebih dari 150
mm
sampai setinggi permukaan tanah asal atau
setinggi
permukaan tanah dasar, dan dipilih yang lebih
rendah.
Setiap lapisan harus dibasahi atau dikeringkan sampai
kadar air optimum sebagimana diisyartkan dan
dipadatkan seluruhnya.urugan kembali yang membentuk
bagian timbunan harus dipadatkan
sampai 100% dari
kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuatu
dengan AASTHO T99. Urugan kembali di luar daerah
jalan dan timbunan harus di
padatkan sampai suatu
kepadatan sekurang-kurangnya setinggi bahan-bahan
yang berdampingan dan tak terganggu.

c. Pengendalian lalu lintas


- Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan
persyaratan pengaturan dan pengendalian lalu lintas.

- Kontraktor harus bertanggungjawab untuk semuaakibat


dari lalu lintas yang diizinkan melewati tanah dasar.
Semua lalu lintas selain mesin-mesin konstruksi yang langsu
ng
terlibat dalam penempatan lapisan di atasnya harus
dicegah melewati tanah dasar setelah penyelesaian d
an
penerimaan.

41
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

d. Bahan-bahan
Tanah dasar dibentuk pada timbunan biasa, timbunan d
engan
bahan-bahan terpilih,agregat lapisan pondasi
atau
drainase porous, atau pada tanah asli dengan
merapikan atau memotong dengan
menggunakan galian
biasa a tau galian batuan. Bahan-bahan yang akan
digunakan pada setiap contoh harus sebagaimana diarahka
n
oleh direksi. Sifat bahan-bahan untuk digunakan dalam
pembentukan tanah dasar harus sesuai dengan sifat bah
an-
bahan khusus yang sedang digunakan sebagaimana diberikan
di bagian lain dalam spesifikasi ini.

e . Pemad atan tanah dasar


Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yan
g
relevan dari spesifikasi ini.Persyaratan
pemadatan dan
persyaratan jamian kualitas untuk tanah dasar harus se
suai
dengan ketentuan spesifikasi ini
12.6 Sub-Base
a . Material
- Peserta pelelangan harus sebelumnya menentukan sendir
i
akan tempat, jumlah dan
keserasian bahan yang ada
untuk digunakan sebagai bahansubbase. harus juga
diperhitungkan biaya sehubungan dengan pengambilan,
pengukuran, penyaringan bila perlu yang kesemuanya
itu
harus juga tercakup dalamsuatu harga bahan subbase
yang diajukan pada harga penawaran.
Kontraktor selambat-lambatnya 30 hari sebelum
dimulainya pekerjaan subbase harus sudah
mengajukan
kepada Direksi sesuai pernyataan yang menerangkan
tempat asal dan komposisi dari material yang
digunakan sebagai subbase, dimana sifat-sifatmaterial
tersebut harus memenuhi persyaratan yang akan
disebutkan selanjutnya pada spesifikasi ini.

- Pemeriksaan, testing dan persetujuan


Sebagaimana keharusan, sebelum dimulai pekerjaan
penggalian bahan, kontraktor harus menyerahkan hasil
pemeriksaan laboratorium yang diakui direksi mengenai
sifat-sifat bahan tersebut. Pengambilan bahan untuk
keperluan pemeriksaan, biaya yang diperlukan untuk
pemeriksaan tersebut ditanggung oleh kontraktor.
Pengambilan contoh bahan untuk pemeriksaan
dihadiri
direksi atau wakil yang ditunjuk olehnya dimana sebagi
an
dari bahan itu akan disimpan oleh direksi di tempat
pekerjaan sebagai barang contoh.

42
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Kategori Spesifikasi
3/8 40 70
No.4 30 60
No.10 20 50
No.40 10 30
No.200 5 15

Persentase berat yang lewat untuk masing-masing aya


kan
dapat dikoreksi oleh direksi bila digunakan batu pecah
dengan bermacam-macam berat jenis
- Batas cair (AASTHO T89) 25 max
- Indeks Plastis (ASSTHO T91) 6 max
- Kadar lempung (AASTHO T176) 25 min
- Kehilangan berat dari partikel yang tertinggal pa
da
ayakan ASTM No. 12
- (AASTHO T96)
- CBR direndam yang ditest pada density yang
dikehendaki (100% dari kepadatan kering maksimum
menurut AASTHO T180) 60 max

Kelas C subbase terdiri dari pasir dan kerikil dengan grada


si
baik menurut persyaratan di bawah ini.
ASTM Standar Sieve Persentase Berat Yang Lewat
1 1/2 100 max
No. 10 80 max
No.12 15 max
Kadar Lempung
(AASTHO T176 kehilangan 25 max
berat
akibat abrasi dari partikel
yang tertinggal pada ayakan 40 max
ASTM No. 12 (AASTHO T96)
Kepadatan Kering maksimum

b. Pelaksanaan
- Pekerjaan persiapan untuk subgrade
Subgrade akan dibuat, dipersiapkan dan dikerjakan seperti
yang disebut pada lab sebelumnya, sebelum subbase
ditempatkan.

- Pencampuran dan pembuatan


Kecuali ditentukan lain, bila kontraktor mengerjakan
pencampuran material subbase harus menuruti salah
satu cara di bawah ini, dengan bahan-bahan
pembantu bila perlu seperti diisyaratkan pada gambar
rencana.

Min 20 gr/cucm
(AASTHO T180) 43
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Cara dengan alat pencampur stasioner


Agregat dan air dicampur di dalam suatu mixer.
Jumlah air diatur selama pencampuran agar mencapai
kadar air yang sesuai untuk keperluan pamadatan yang
memenuhi syarat. Setelah proses pencampuran,
material diangkut ke tempat pekerjaan,
dijaga agar
kadar air t e t a p dalam batas-batas yang diisyaratkan
dan dihampar di lapangan untuk segera dipadatkan.
- Cara dengan alat pencampuran yang berjalan
Setelah material untuk masing-masing ditempatkan dengan
mesin penyebar (spreader) atau alat lain,
kemudian
dilakukan pencampuran dengan alat pencam pur
berjalan. Selama itu air bila perlu ditambah agar dica
pai
kadar air optimum.

- Cara dengan pencampuran setempat (mixed on place)


Setelah material untuk masing-masing lapisan
ditempatkan, pencampuran dilakukan dengan motor
grader atau alat lain pada kadar air yang dikehen
daki.
Subbase material akan dipadatkan tiap lapisan dengan
tebal sedemikian agar kepadatan maksimum dapat
dicapai dengan alat-alat yang ada. Tebal
lapisan itu
umumya tidak boleh dari 25 cm setelah jadi. Bila
lebih
dari satu lapis, tiap lapisan yang terdahulu harus
sudah
dipadatkan secukupnya sebelum penempatan lapisan
selanjutnya.

- Penebaran dan pemadatan


Segera setelah dilakukan penebaran dan perataan, ti
ap
garis segera dipadatkan pada seluruh lebar jalan deng
an
mesin gilas, mesin gilas roda karet atau alat pemadat
lain
yang disetujui direksi untuk dipakai. Penggilasan dilakuk
an
dari tepi menggeser ke tengah, berjalan paralel
dengan as jalan dan diusahakan berlangsung terus tan
pa
berhenti sampai seluruh permukaan selesai digilas.
Bila terjadi pelendutan atau hal-hal yang tidak
wajar
pada suatu tempat, harus segera dilakukan perbaik
an
dengan cara membongkar tempat itu, mengganti
atau
dilakukan menambah material lain dan menggilasnya
kembali sehingga rata dengan permukaan yang
dikehendaki.
Pada tepi-tepi curb, dinding-dinding dan pada
tempat-
tempat yang tidak dapat dicapai oleh mesin gilas
harus
dipadatkan dengan alat-alat tangan yang
t ep a t
(temper, compactor). Lapisan yang dipadatkan
tersebut harus digilas dan dipangkas (bladed)
sedemikian agar permukaan jadi berbentuk sesuai
dengan gambar rencana. Material subbase harus

44
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
dipadatkan hingga mencapai paling tidak 100% da
ri
kepadatan kering maksimum yang dipadatkan pada
pemeriksaan AASTHO T180 Method D. Kepadatan
tersebut harus dicapai pada seluruh
tebalnya.
Direksi melakukan pengukuran pada tempat-tempat
yang dipilihnya selama pelaksanaan pekerjaan untuk
memeriksa tebal lapisan subbase yang
dihampar agar
dapat mencapai tebal jadi yang disyaratkan pada
kepadatan maksimum. Pembuatan lubang-lubang untuk
keperluan pengukuran itu dan pengisiannya kembali ak
an
dilakukan oleh kontraktor dan diawasi oleh direksi atau wak
il
yang ditunjuk olehnya.

12.7 Base
a . Sumber Material
- Peserta lelang sebelum mengajukan harga penawaran
harus menentukan sendiri lokasi, kemungkinan bahan
tersebut untuk dipakai sebagai bahan base, cara
pengambilan atau pengangkutannya, biaya
p em ec a han batu, penyeleksian dan pe
mbiayaan lain
yang perlu sehubungan dengan pendatangan material itu
.
Kontraktor harus juga memperhitungkan, bila memang
demikian keadaannya, cara menggali dan membuang
lapisan tanah atas tempat pengambilan bahan
tersebut. Harga satuan dari material base yang diaju
kan
harus telah mencakup semua pembiayaan itu.
Kontraktor harus mengajukan pernyataan selambat-
lambatnya 30 hari sebelum dilakukan pengambilan
material tersebut yang berisi tentang tempat asal ba
han
komposisi dan macam agregat yang akan dipakai sebaga
i
bahan base.Sifat-sifat material tersebut harus
sesuai
dengan persyaratan di bawah ini.

b. Persyaratan material
Agregat untuk base harus memenuhi persyaratan untuk bahan
base kelas B di bawah ini. Semua agregat untuk base cou
rse
harus terdiri dari bahan-bahan yang bersih, keras, awet,
bersudut tajam, tidak banyakbercampur dengan bentuk-
bentuk yang pipih atau memanjang, dan dalam batas
tertentu tidak banyak mengandung batu- batu yang lu
nak,
yang mudah hancur, kotoran atau bahan-bahan lain yang
mudah membusuk/tidak dikehendaki.
Kerikil pecah atau batu pecah untuk lapisan base
kelas
B terdiri dari hasil pemecahan kerikil dan batu. Bila
ditentukan demikian oleh direksi, maka untuk baha
n kerikil
sebelumnya harus diayak terlebih dahulu sehingga agregat
hasil dari pemecahan kerikil itu tidak kurang dari 50% ber
atnya
terdiri dari partikel yang mempunyai sekurang-kurangnya s
atu

45
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI
Max 10% TENGA
Hputaran (AASTHO T96)
Max 40%
putaran (AASTHO T96)
bidang pecahan.
Agregat base course harus menuruti persyaratan dibawah ini.
Kategori Keterangan
Kekerasan (Toughness ASTM D3) Min 6%
Kehilangan berat dengan percobaan sodium Max 10%
sulfate (AASTHO T104)
Kehilangan berat dengan percobaan magnesium Max 12%
sulfate (AASTHO T140)
Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 100

Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 500

Partikel-partikel tipis, memanjang persentase berat


(partikel lebih besar dari 1 dengan ketebala Max 5%
n
kurang dari 1/5 panjang
Bagian-bagian baru yang lunak (ASTM C235) Max 55%
Gumpalan-gumpalan lengkung (AASTHO T12) Max 0,225%

ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang


Lewat
2 100
2 90 - 100
1 35 - 70
1 0 - 15
0 -5

Kelas B terdiri daricampuran kerikil dan kerikil pecah atau


batu pecah dengan berat jenis yang seragam dengan pas
ir,
lanau atau lempung dengan persyaratan di bawah ini :
ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang
Lewat
2 100
1 60 - 100
3/4 55 - 85
No. 4 35 - 60
No. 10 25 - 60
No. 14 15 30
No. 200 8 - 15
Partikel yang mempunyai diamater kurang dari 0,02 mm ha
rus
tidak lebih dari 35% dari berat total contoh bahan yang diu
ji.

Persentase berat butir yang lewat dapat dikoreksi oleh di


reksi
bila agregat terdiri dari bahan-bahan dengan berat jenis
yang
berlain-lainan :
- Batas cair (AASTHO T89) : max 25%
- Indeks plastis (AASTHO T91) : 4-8%
46
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Kadar lempung (AASTHO T176) : min 50%

Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bida


ng
pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat mat
erial
yang tertinggal pada ayakan No. 4.
Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bida
ng
pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat mat
erial
yang tertinggal pada ayakan No. 4.
12.8 Saluran Drainase
a . Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari pembuatan
saluran dari pasangan
batu dengan bentuk dan beton pracetak, kemiringan
dan
kedudukan seperti yang tercantum pada Gambar Rencana
dan Petunjuk Direksi. Saluran beton pracetak digunakan di s
isi
luar rencana jalan baru, sedangkan saluran dengan pasanga
n
batu digunakan di sisi median.

b. Material
Batu yang digunakan hendaknya terdiri dari pecahan batu
keras dengan permukaan yang kasar. Aduk yang digunakan
apabila tidak disebutkan tersendiri pada gambar ren
cana
hendaknya terdiri dari campuran semen dan pasir
dengan
perbandingan 1:3

c. Pelaksanaan
Lubang galian dibuat sesuai dengan bentuk kemiringan dan
kedudukan seperti yang diisyaratkan padagambar rencana.
Apabila dinding-dinding dan dasar lubang galian tersebut
masih dalam keadaan gembur harus dilakukan pemadatan
seperlunya agar didapat suatu permukaan yang stabil
dan
keras. Batu-batu yang telah dipecah berukuran terpanjang
0.75 tebal dinding dan tidak lebih dari 25 cm dipasan
gkan
setelah terlebih dahulu diberikan lapisan aduk yang cukup.
Batu-batu yang lebih kecil ditempatkan untuk mengisi rongga-
rongga agar pasangan tidakgoyah dan tebal aduk
diantaranya tidak menjadi terlalu tebal.
Permukaan luar
hendaknya diatur sedemikian sehingga didapat permuka
an
yang datar dan rapih. Apabila tidak ditentukan
adanya
pekerjaan plesteran maka setelah pemasangan cukup ke
ras
dan kokoh, harus dilakukan pekerjaan siar dengan
campuran aduk semen dan pasir halus 1 : 2 .
Pekerjaan siar itu hendaknya dilakukan dengan cermat
agar
tidak terjadi bagian-bagian yang terbuka atau keropos.
Pembahasan sebelum dan sesudah pekerjaan siar dapat
dilakukan sesuai dengan keperluannya untuk mencapai
daya lekat dan mencegah keretakan bidang-bidang siar
.
Pada umumnya tebal pasangan ini tidak boleh kurang dari
20
cm.

47
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

12.9 Box Culvert


a. Material
Box Culvert yang terbuat dari beton bertulang harus memenuhi persyaratan
AASTHO M170. Adukan untuk sambungan harus memenuhi persyaratan
artikel 9.01 dari spesifikasi khusus.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk
pemasangan box-culvert secara umum dan pemasangan-
pemasangan lain sesuai dengan cara-cara dan petunjuk yang
sesuai dengan itu dari pihak pabrik yang mengeluarkannya.

12.10 Pipa-Pipa Drainase


a . Material
Material yang digunakan harus terdiri dari pipa bulat non-metal
yang halus dan tidak bergelombang berdimensi 6", sep
erti
paralon yang mampu menahan beban rencana jalan, yang
dihasilkan oleh pabrik-pabrik yang telah diakui oleh direksi
serta jaminan yang perlu diberikan oleh pabriknya.

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk
pemasangan pipa-pipa drainase secara umum dan
pemasangan-pemasangan lain sesuai dengan cara-cara
dan petunjuk yang sesuai dengan
itu dari pihak pabrik yang
mengeluarkannya.

13. PEKERJAAN TANAH DAN SAMPAH


Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Syara
t-
syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan dalam
Spesifikasi
Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada, menjelaskan, serta
tidak perlu mengulangi apa yang terdapat dalam bagian lain dari
RKS.

Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, sem


ua
ketentuan berlaku saling melengkapi satu sama lain. Pembagian
atas
bagian tidak membatasi berlakunya ketentuan dari bagian lainnya.

Dalam hal Spesifikasi Teknis ini bertentangan dengan Gambar RKS, m


aka
yang berlaku adalah Gambar RKS.

A. DIMENSI GEOMETRIK
a . Elevasi dan Bench Mark
Semua elevasi yang dimaksud adalah terhadap LWS, kecuali
dinyatakan lain. Semua elevasi harus dinyatakan dalam
meter
dengan ketelitian sampai dua
desimal. Kontraktor wajib
membuat sedikitnya 6 (enam) buah bench mark di sekitar
lokasi proyek yang ditunjuk Direksi Teknik/Konsultan. Bench mark

48
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

yang terpasang harus diikatkan


terhadap
referensi yangada
yang disetujui Konsultan. Ikatannya harus merupakan ikatan
sempurna dari poligon tertutup. Bila diperlukan, Kontraktor har
us
menambahkan sendiri bench mark tambahan untuk pelaksan
aan
pekerjaan.

b. Dimensi
Semua dimensi dalam gambar dinyatakan dalam satuan metri
k.
Tidak ada tambahan akibat konversi dari satuan lainnya ke s
istem
metrik. Semua gambar dan komunikasi harus dinyatakan dalam
sistem metrik.
c. Toleransi
Toleransi pengukuran untuk pekerjaan tanah dan sampah
ini
adalah :
Pekerjaan Galian
Vertikal : 0,25 m
Horisontal : 0,25 m
Pekerjaan Timbunan
Vertikal : 0,05 m
Horisontal : 0,05 m
Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Vertikal : 0,03 m
Horisontal : 0,03 m

B. DEFINISI
Pada seluruh dokumen ini dipakai kata-kata :
Direksi Teknik menerangkan : Pemberi Tugas
Konsultan me n e ra n gka n : Konsultan Pengawas
Kontraktor m en era n g ka n : Kontraktor yang
memenangkan Tender
Insinyur Pengawas menerangkan : Insinyur yang ditunjuk oleh
Konsultan Supervisi sebagai Pengawas di lapangan
Ahli Geoteknis m en e ra n gka n : Ahli Geoteknis yang
kompeten dan berpengalaman.
Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan d
alam
Spesifikasi Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada,
menjelaskan, serta tidak perlu mengulangi apa
yang terdapat
dalam bagian lain dari RKS.

Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, se


mua
ketentuan berlaku saling melengkapi satu
sama lain. Pembagian
atas bagian tidak membatasi berlakunya ketentua
n dari bagian
lainnya.

49
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.1 PEKERJAAN GALIAN


13.1.1 Umum
13.1.1.1Uraian
a. Pekerjaan ini mencakup penggalian,
penanganan,
pembuangan tanah, humus atau cadas atau material lai
n.
b. Pekerjaan ini diperlukan untuk pembentukan tempat k
erja
sesuai dengan ketinggian dan penampang melintang yang
ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik.

c. Kecuali untuk kepentingan pembayaran, ketentuan dar


i
Seksi ini berlaku untuk seluruh pekerjaan galian
yang
dilakukan sehubungan dengan Kontrak, dan seluruh galian
dapat merupakan salah satu dari :
Galian biasa
Galian padas
Galian/dredging sungai

d. Galian biasa mencakup seluruh galian yang tidak diklasi


fikasi
sebagai galian padas atau galian sungai.

e. Galian padas mencakup galian dari batu dengan volume


1
m3 atau lebih dan seluruh padas atau
bahan lainnya yang
digali tanpa penggunaan alat bertekanan udara,
pemboran, atau peledakan. Galian ini tidak termas
uk
bahan yang menurut pendapat Direksi Teknik dapat
dilepaskan dengan penggaruk yang ditarik oleh
traktor
dengan berat minimum 15 ton dan tenaga kuda nett
o
sebesar 180 HP.

f. Galian/dreging sungai mencakup seluruh pekerjaan


dredging pada daerah sungai.

g. Data bor dan profil tanah yang


disajikan dalam
dokumen
tender adalah informasi umum. Variasi dan/atau
interpretasi diperbolehkan sepanjang tidak mempenga
ruhi
kontrak. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus
menyerahkan gambar penampang memanjang yang
menunjukkan tanah dasar yang ada.

h. Kontraktor dianggap telah memenuhi pekerjaan bila


material substansi yang digali telah dibuang sampai
pada
batas yang ditunjukkan dalam gambar atau ketentuan
lain.

i. Kontraktor harus melakukan penggalian dan membuang


substansi apapun yang ditemukan hingga kedalaman yang
50
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

ditentukan dalam gambar atau hingga kedalaman yang


perlu untuk pelaksanaan konstruksi yang layak dan
penyelesaian pekerjaan.

j. Kontraktor dianggap telah memasukkan dalam jadwal


kecepatan yang diizinkan untuk melingkupi seluruh fakt
or
yang mungkin timbul selama atau dalam hubungan den
gan
penggalian dan pembuangan sisa-sisa.

13.1.1.2Survei
a. Pada waktu yang telah disepakati untuk memulai
pekerjaan galian, Kontraktor di bawah pengawasan
Konsultan, harus memeriksa dan melakukan survei
dengan peralatan yang disetujui pada lokasi pekerjaan.

b. Level yang disepakati harus dicatat dan


ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor.

13.1.1.3 Peralatan
a. Peralatan yang digunakan Kontraktor harus
memenuhi
persyaratan minimal yang ditentukan.

b. Jika pemakaian peralatan lain tidak diizinkan oleh


Konsultan, Kontraktor harus menggunakan peralatan yang
telah diusulkan dalam tender atau telah disetujui u
ntuk
digunakan ketika kontrak ditandatangani. Kontraktor
harus menyerahkan rencana kerja detail pelaksanaan
pekerjaan sehubungan dengan mobilisasi peralatan.

c. Peralatan yang dipakai pada saat pelaksanaan harus


diajukan pada rencana kerja dan disetujui oleh Direksi Tekn
ik
sebelum dioperasikan.

13.1.1.4 Toleransi Dimensi


a . Galian harus dilakukan sesuai dengan ukuran, ketinggian,
dan kemiringan seperti yang ditunjukkan dalam gambar
dengan kelandaian akhir, arah dan formasi
sesudah galian
tidak boleh bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 25
cm
pada setiap titik.

b. Permukaan galian yang telah selesai dan terbuka


terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan
harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin drainas
e
yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genanga
n
atau menggunakan pelindung plastik sebagaimana
tercantum di dalam Gambar RKS.

51
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.1.1.5 Pelaporan dan Pe ncat ata n


a . Untuk setiap pekerjaan galian, sebelum memulai pekerj
aan
Kontraktor harus menyerahkan gambar perincian potongan
melintang yang menunjukan tanah asli sebelum operas
i
pembabatan dan penggarukan dilakukan kepada Direksi
Teknik.

b. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi Teknik gamba


r
perincian dari seluruh struktur sementara yang
diusulkannya atau yang diperintahkan untuk
digunakan,
seperti skor, turap, coff erdam, dan
tembok penahan
dan harus memperoleh persetujuan Direksi Teknik
dari
gambar tersebut sebelum melaksanakan pekerjaan galia
n
yang dimaksudkan akan dilindungi oleh struktur yang
diusulkan tersebut.

c. Setelah masing-masing galian untuk tanah dasar,


formasi
atau fondasi selesai, Kontraktor harus memberitahu Direksi
Teknik, dan bahan landasan atau meterial lain tidak bo
leh
dipasang sebelum disetujui oleh Direksi Teknik.

13.1.1.6 Jam i na n Keselamatan Pekerjaan Galian


a . Kontraktor harus memikul seluruh tanggung jawab un
tuk
menjamin keselamatan pekerja yang melaksanakan
pekerjaan galian serta penduduk sekitar.

b. Selama masa pekerjaan galian, suatu lereng yang


harus
mampu menahan aktivitas pekerjaan disekitarnya,
termasuk struktur atau mesin harus
dipertahankan
sepanjang waktu. Skor serta turap yang memadai
harus dipasang, jika tepi permukaan galian tidak stabil.

c. Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemad


atan
atau keperluan lainnya tidak boleh diijinkan berada at
au
beroperasi lebih dekat dari 1,5 m dari tepi galian
terbuka.

d. Tembok ujung coff erdam atau cara lainnya untuk


menghindarkan air dari daerah galian harus dirancang
dengan benar dan cukup kuat untuk menjamin tidak ter
jadi
keruntuhan mendadak, yang mungkin dapat membanjiri
tempat kerja secara c ep at.

e. Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainnya


berada dalam galian yang mengharuskan kepala mereka
berada di bawah permukaan tanah, Kontraktor harus
menempatkan Konsultan keamanan pada tempat
kerja yang tugasnya hanya memonito
r kemajuan dan

52
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

keamanan. Pada setiap saat peralatan galian cadanga


n
(yang belum dipakai) serta perlengkapan P3K harus
tersedia pada tempat kerja galian.

f. Bahan Peledak yang diperlukan untuk galian padas


harus
disimpan, ditangani, dan digunakan secara hati-hati
dan
ketat sesuai dengan Peraturan Perundangan dari
Pemerintah. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk
pencegahan pengeluaran atau penggunaan yang
tidak
t e p a t dari bahan peledak dan harus menjamin bahwa
yang menangani peledakan harus dipercayakan hanya
kepada orang yang berpengalaman dan bertanggung
jawab.

13.1.1.7 J a dw a l Kerja
a . Perpanjangan jadwal pekerjaan oleh Kontraktor harus
disetujui oleh Direksi Teknik.

b. Bila lalu lintas pada jalan terpaksa terganggu


karena
peledakan atau operasi pekerjaan lainnya, Kontraktor
harus mendapatkan persetujuan sebelumnya terhad
ap
jadwal untuk gangguan tersebut dari penguasa
setempat dan juga dari Direksi Teknik.

13.1.1.8Kondisi Tempat Kerja


a . Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan
Kontraktor harus menyediakan seluruh material dan
peralatan (pompa) yang diperlukan serta buruh
untuk
pengeringan, pengalihan saluran air dan
pembangunan
saluran sementara. Pompa agar siap di tempat kerja pad
a
setiap saat untuk menjamin tak ada gangguan
dalam
prosedur pengeringan dengan pompa.

b. Bila pekerjaan sedang dilakukan pada daerah saluran


yang ada atau tempat lain dimana aliranair
tanah
mungkin tercemari, Kontraktor harus setiap saat
menyediakan pada tempat kerja sejumlah air minum
yang dapat digunakan oleh pekerja.

13.1.1.9 Perbaikan Pekerjaan Galian Yang Tidak Memuaskan


Pekerjaan galian yang tidak memenuhi toleransi yang dib
erikan
dalam Pasal 3.1.1.4 di atas harus diperbaiki oleh Kontraktor
sebagai berikut :
Material yang berlebih harus dibuang dengan penggalian
lebih lanjut.
Daerah dimana telah tergali lebih, atau daerah re
tak
atau lepas, harus diurug kembali dengan timbunan
pilihan atau lapis fondasi agregat seperti yang

53
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

diperintahkan Direksi Teknik.

13.1.1.10 Pena m ba h a n Kedalaman Galian


a . Apabila dalam pelaksanaan galian Direksi Teknik merasa
perlu untuk memperdalam galian, maka Direksi Teknik
berhak memerintahkan kepada Kontraktor untuk
menambah kedalaman galian.

b. Penambahan biaya penambahan kedalaman galian hanya


dihitung, jika penambahan tersebut diperintahkan Dir
eksi
Teknik atau Konsultan.

c. Pena mbahan kedalaman galian diukur


dengan cara
yang ditetapkan Konsultan disesuaikan dengan kondisi
setempat. Pengukuran dibulatkan ke bawah
sampai
dengan 25 cm.

d. Jika penambahan pekerjaan berupa penambahan


kedalaman membutuhkan waktu tambahan dari
time
schedule, Kontraktor diijinkan memperpanjang jadwal
pekerjaan tersebut, selama waktu tambahan yan
g logis
dengan jalan mengirim permohonan tertulis kepada Dire
ksi
Teknik/Konsultan.

13.1.1.11 Pengurangan Kedalaman Galian


a . Konsultan Pengawas atas persetujuan Konsultan
Perencana berhak memerintahkan Kontraktor untuk
menghentikan galian sebelum kedalaman rencana
jika
dianggap perlu.

b. Pengukuran pengurangan volume pekerjaan akibat


pengurangan kedalaman galian sama dengan cara
perhitungan penambahan kedalaman galian.

c. Kontraktor tidak diijinkan menyimpan sisa waktu akib


at
pengurangan kerja ini untuk time schedule-nya.

13.1.1.12 Penggunaan Dan Pembuangan Material Galian


a . Seluruh material yang dapat dipakai yang digali dalam
batas-batas dan cakupan proyek dimana memungkinkan
harus digunakan secara efektif untuk formasi
timbunan
atau urugan kembali.

b. Material galian yang mengandung tanah organistinggi,


p e a t , sejumlah besar akar, atau
benda tumbuhan
lain
serta tanah yang kompresif yang menurut pendapat
Direksi Teknik akan menyulitkan pemadatan dari
material pelapisan atau yang mengakibatkan terjadin
ya

54
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

kerusakan atau penurunan yang tidak dikehendaki, h


arus
diklasifikasikan tidak memenuhi untuk digunakan seb
agai
timbunan dalam pekerjaan permanen.

c. Setiap material galian yang berlebih untuk kebutuhan


timbunan, atau tiap material yang tidak disetuj
ui oleh
Direksi Teknik sebagai bahan timbunan harus dibuang
dan
diratakan dalam lapis yang tipis oleh Kontraktor
daerah
yang diperintahkan Direksi Teknik.
d. Kontraktor harus bertanggung jawab untuk seluruh
pengaturan dan biaya untuk pembuangan material
yang
berlebihan atau tidak memenuhi syarat,
termasuk
pengangkutan dan perolehan ijin dari pemilik tanah
dimana pembuangan dilakukan.

13.1.1.13 Pengembalian Bentuk Dan


Pembuangan Pekerjaan
Sementara
a . Material bekas yang diperoleh dari pekerjaan sementara
tetap merupakan milik dari Kontraktor atau bila
memenuhi syarat yang disetujui oleh Direksi Teknik,
dapat dipergunakan untuk pekerjaan permanen dan
dibayar dalam Mata Pembayaran yang bersangkutan
dalam Daftar Penawaran.

b. Setiap pemakaian material galian yang bersifat


sementara waktu diijinkan untuk ditempatkan dalam
saluran air harus dibuang seluruhnya setelah pekerjaa
n
berakhir sedemikian rupa sehingga tidak me
nganggu
saluran air.

c. Seluruh tempat bekas galian bahan atau sumber


bahan yang digunakan oleh Kontraktor harus
ditinggalkan dalam keadaan rapi dengan tepi dan
lereng yang stabil.

13.1.2 Prosedur Penggalian


13.1.2.1 Prosedur Umum
a . Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan
elevasi yang ditentukan dalam gambar atau ditunjukkan
oleh Direksi Teknik dan harus mencakup pembuangan
seluruh material dalam bentuk apapun yangdijumpai,
termasuk t anah, padas, batu bata, batu, beton,
tembok
dan perkerasan yang lama.

b. Dimana material yang terbuka pada garis formasi


atau
permukaan lapis tanah dasar atau fondasi dalam
keadaan lepas atau tanah gambut material lainnya

55
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

yang tak memenuhi dalam pendapat Direksi Teknik, m


aka
material tersebut harus dipadatkan dengan benar at
au
seluruhnya dibuang dan diganti dengan timbunan ya
ng
memenuhi syarat, sebagaimana diperintahkan Direksi Teknik.

c. Galian lapisan tanah atas setebal + 30 cm atau mate


rial
tanah yang mengandung humus harus diletakkan ditemp
at
yang telah ditentukan oleh Direksi Teknik.

d. Jika material padas atau lapisan keras yang sukar


dibongkar dijumpai pada garis formasi untuk selokan
berpasangan atau untuk fondasi struktur, maka
material
tersebut harus digali 15 cm lebih dalam hingga ke
permukaan yang mantap dan merata. Tidak boleh
ada
tonjolan-tonjolan padas dari
permukaan tersebut dan
seluruh pecahan padas yang diameternya lebih besar dari
15 cm harus dibuang, dan harus diurug lagi dengan
meterial yang dipadatkan yang disetujui oleh Direksi
Teknik.

e. Penggalian padas harus dilakukan sedemikian rupa sehing


ga
tepi dari galian harus dibiarkan pada kondisi yang aman da
n
serata mungkin. Padas yang lepas yang dapat
menjadi
tidak stabil atau menimbulkan bahaya terhadap pekerj
aan
atau orang harus dibuang.

13.1.2.2Blasting
a. Peledakan sebagai cara pembongkaran
padas hanya
boleh digunakan jika, menurut
pendapat Direksi Teknik,
tidak praktis menggunakan alat bertekanan udara
atau
penggaruk hidraulis. Direksi Teknik dapat melarang
peledakan dan memerintahkan padas untuk digali
dengan cara lain, jika menurut pendapatnya,
peledakan berbahaya bagi manusia atau struktur yan
g
berdekatan.

b. Bila diperintahkan oleh Direksi Teknik, Kontraktor harus


menyediakan anyaman pelindung ledakan untuk melindun
gi
orang, benda dan pekerjaan selama penggalian. Jika
dipandang perlu, peledakan harus dibatasi waktunya
seperti yang diuraikan oleh Direksi Teknik.

13.1.2.3Penggalian Untuk Sumber Material


a . Galian untuk mendapatkan sumber material harus
digali
sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi ini.
b. Persetujuan untuk membuka sumber galian
baru atau
pengoperasian yang lama harus diperoleh dari Direksi

56
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Teknik secara tertulis sebelum operasi penggalian dim


ulai.

c. Galian tidak boleh dilakukan pada daerah yang dilind


ungi
atau daerah yang diperlukan untuk keperluan lainnya.

d. Galian tidak boleh mengganggu drainase alam atau


rancangan lainnya.

13.1.3 Pengukuran dan Pembayaran


a . Prestasi akhir penggalian dihitung dengan membanding
kan
p eta situasi pengukuran awal dan sesudah digali. Volume
yang dipakai untuk pembayaran termin dihitung dari gam
bar
kerja yang diberikan dan penambahan maupun
pengurangan volume galian.

b. Bagi keperluan perhitungan prestasi pekerjaan yang


berhubungan dengan pembayaran tahapan termin,
pengukuran dilaksanakan oleh kontraktor dan dilakukan
bersama-sama dengan Konsultan.

c. Pengukuran peta situasi awal dan peta situasi


akhir
dilaksanakan berdasarkan referensi yang sama. Referensi
ditentukan Direksi Teknik.

d. Ukuran satuan untuk mobilisasi dan demobilisasi


peralatan
yang digunakan untuk galian yang ditentukan di sini
adalah dalam lump sum. Jadwal yang dimasukkan dalam
Bill of Quantity harus memuat semua biaya untuk
transportasi peralatan dari dan menuju lokasi
dan
depresiasi selama periode yang diperlukan. Jika tidak
dinyatakan dalam kontrak, ukuran tersebut harus diangga
p
termasuk biaya pajak, asuransi dan semua
tagihan/biaya
yang diperlukan untuk prosedur-prosedur yang
berhubungan dengan pekerjaan ini.

e. Ukuran satuan untuk galian harus dalam meter kubik i


nsitu
dari tanah yang digali, dihitung berdasarkan level yang
disepakati dan pekerjaan selesai. Kecuali adanya
penambahan dan pengurangan yang diperintahkan Direk
si
Teknik termasuk dalam sub bab 1.1.10
dan 1.1.11.
Kelebihan ataupun kekurangan galian tidak diperhitungka
n
jika galian yang terselesaikan tidak dalam
toleransi yang
ditentukan.
Schedule r ate harus dimasukkan ke dalam Bill of
Quantity, kecuali biaya dalam pembayaran terpisa
h,
biaya untuk material, tenaga kerja, dan semua
pekerjaan lain yang dibutuhkan.

57
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.2 PEKERJAAN TIMBUNAN DAN PEMADATAN


13.2.1 Umum
13.2.1.1Uraian
a . Istilah timbunan apabila tidak dijelaskan secara
khusus,
berarti dimaksudkan untuk timbunan tanah dan
atau
timbunan sampah.

b. Pekerjaan ini mencakup pengambilan,


pengangkutan,
penghamparan dan pemadatan tanah atau bahan
berbutir yang disetujui untuk konstruksi timbunan atau
untuk timbunan umum yang diperlukan
untuk membuat
bentuk dimensi timbunan, antara lain ketinggian yang s
esuai
dengan persyaratan atau penampang melintangnya.
c. Segala perubahan dari spesifikasi ini harus dikonsultasikan
secara tertulis kepada Konsultan dan harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Konsultan untuk memul
ai
pekerjaan.

d. Timbunan yang dicakup oleh ketentuan dalam Seksi ini


harus dibagi menjadi dua jenis, yaitu timbunan biasa
dan
timbunan pilihan. Timbunan pilihan akan
digunakan di
daerah berair dan lokasi serupa dimana mater
ial yang
plastis sulit untuk dipadatkan dengan baik. Timbunan
pilihan dapat juga digunakan untuk stabilisasi lereng a
tau
pekerjaan pelebaran jika diperlukan lereng
yang
curam
karena keterbatasan ruang, dan untuk pekerjaan
timbunan lainnya dimana kekuatan timbuna
n adalah
faktor yang kritis.

e. Pekerjaan timbunan dengan material


yang dipasang
sebagai landasan pada saluran beton, juga tidak
termasuk material drainase berpori yang dipakai
untuk
maksud drainase bawah permukaan atau untuk
mencegah hanyutnya butir halus akibat filtrasi.

13.2.1.2Survei
a . Sebelum pekerjaan timbunan dimulai, harus dilakukan
survei
topografi. Level yang disepakati harus
dicatat dan
ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor.

b. Kontraktor harus membuat hasil survei dalam bentuk


gambar tampak dan penampang dengan skala yang
disetujui oleh konsultan. Gambar penampang harus pada
interval 10 m. Konsultan harus memverifikasi dan memeriks
a
gambar tampak dan penampang.

58
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.2.1.3 Peralatan
a . Kontraktor harus mengajukan metoda kerja terma
suk
output kerja harian, jumlah, tipe dan kapasitas peral
atan
yang akan dioperasikan kepada Konsultan.

b. Pemilihan peralatan harus mempertimbangkan kondisi


lapangan dan lingkungan.

13.2.2 Pe ke rj aan Timbunan


13.2.2.1Lingkup
a. Pekerjaan ini terdiri dari pengambilan,
pengangkutan,
penempatan dan pemadatan tanah atau bahan-
baha n butiran yang disetujui untuk timbunan atau
pengurugan kembali pada lokasi timbunan badan jala
n.
Galian dan urugan atau timbunan, pada umum
nya
diperlukan sesuai garis kelandaian dan ketinggian dari
penampang melintang yang telah disetujui.

b. Timbunan/urugan kering (di atas elevasi HWS) memaka


i
material lempung seperti yang disyaratkan dan memenu
hi Lapangan ASTM
kepadatan
Tanah yang disyaratkan pada spesifikasi ini.

13.2.2.2 Toleransi Dimensi


Test cone dan
a . Kelandaian ketinggian yang diselesaikan setelah
pemadatan tidak akan melebihi tinggi 30 mm lebih re
ndah
dari yang ditentukan atau disetujui.

b. Semua permukaan timbunan akhir yang tidak terli


ndung
harus cukup halus dan rata serta mempunyai kemiring
an
yang cukup untuk menjamin pengaliran bebas dari
air
permukaan.

c. Permukaan lereng timbunan yang selesai


tidak akan
berbeda dari garis profil yang ditentukan dengan melebi
hi
100 mm dari ketebalan yang dipadatkan.

d. Timbunan tidak boleh dihamparkan dalam ketebalan


lapisan yang dipadatkan melebihi 300 mm.

13 .2.2 .3Standar Rujukan


a . Kontraktor harus menyelesaikan semua pengujian di bawah
pengawasan Konsultan dan harus mengajukan laporan
dalam waktu 1 (satu) minggu setelah masing-masing
pengujian dilaksanakan.

b. Pengujian mencakup:

59
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Analisis Saringan : AASHTO T 88 - 78, ASTM D422


Pemadatan : AASHTO T 99 - 74, ASTM D698,
Penetapan Batas Cair : AASHTO T 89 - 68, D1557D423
Penetapan Batas : AASHTO T 90 - 70, ASTM D424
Plastis : AASHTO T 193-74, ASTM D1883-73
CBR : ASTM D-1556
SandMineralogi.

13 .2.2 .4Pengajuan
a. Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut kepada
Konsultan sebelum suatu persetujuan untuk memul
ai
pekerjaan dapat diberikan oleh Konsultan.
Gambar penampang melintang terinci yang
menunjukkan permukaan yang dipersiapkan bagi
timbunan yang akan ditempatkan.
Hasil pengujian kepadatan yang memberikan hasil
pemadatan yang baik dari permukaan yang
dipersiapkan dimana timbunan itu akan ditempatkan
.

b. Kontraktor harus mengajukan hal-hal berikut pada


konsultan sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari
sebelum tanggal yang diusulkan dari penggunaan bah
an-
bahan yang diajukan untuk digunakan sebagai timbunan
.
Dua contoh masing-masing seberat 50 kg dari bah
an-
bahan, salah satu akan ditahan oleh konsultan untu
k
rujukan selama perioda kontrak.
Pernyataan tentang asal dan komposisi dari setiap
bahan-bahan yang diusulkan untuk digunakan sebaga
i
timbunan bersama dengan data pengujian
laboratorium yang membuktikan bahwa bahan-bahan
tersebut memenuhi sifat yang ditentukan.

c. Kontraktor harus mengajukan hal berikut secara tertuli


s
kepada Konsultan segera setelah penyelesaian setiap
bagian pekerjaan dan sebelum setiap persetujuan
diberikan untuk penempatan bahan-bahan lain di a
tas
timbunan.
Hasil pengujian kepadatan.
Hasil pengujian pengukuran permukaan dan data
pengukuran membuktikan bahwa permukaan berad
a
dalam toleransi yang ditentukan.

60
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.2.2.5Kondisi Tempat Kerja


a . Kontraktor harus menjamin lahan pekerjaan selalu kering
sebelum dan selama pekerjaan pemadatan.
b. Timbunan harus mempunyai kemiringan yang cukup
untuk menunjang sistem drainase dari aliran air hujan da
n
pekerjaan yang diselesaikan mempunyai drainase yang
baik. Air dari tempat kerja harus dikeluarkan ke dala
m
sistem drainase permanen. Penjebak lumpur harus
disediakan pada sistem drainase sementara yang
mengalirkan ke dalam sistem drainase permanen.

c. Kontraktor harus menjamin pada tempat kerja suatu


persediaan air yang cukup untuk pengendalian
kelembaban timbunan selama operasi pemadatan.

13.2.2.6 Pem be tu l an Peke rj aan Yang Tidak Memenuhi Syarat


a . Timbunan akhir yang tidak sesuai dengan penampang
melintang yang ditentukan atau disetujui atau denga
n
toleransi permukaan yang ditentukan,
harus diperbaiki
dengan menggaruk permukaan tersebut dan
membuang atau menambah bahan- bahan
sebagaimana diperlukan, disusuldengan pembentukan
pemadatan kembali.

b. Timbunan yang terlalu kering untuk pemadatan dalam


batas kadar air yang ditentukan atau sebagaimana
diarahkan oleh konsultan, harus dikoreksi dengan
menggaruk bahan-bahan disusul dengan penyiraman
dengan jumlah air secukupnya dan mencampur secara
keseluruhan dengan sebuah mesin perata (grader)
atau peralatan lain yang disetujui.

c. Timbunan yang terlalu basah untuk pemadatan dalam


batas kadar air yang ditetapkan atau sebagaimana
diarahkan oleh Konsultan, harus dikoreksi dengan
menggaruk bahan-bahan disusul dengan pengerjaan
dengan mesin perata berulang- ulang atau peralatan
lainnya yang disetujui, dengan selang istirahat antara
pekerjaan, di bawah kondisi cuaca kering. Kalau tidak
atau bila pengeringan yang cukup tak dapat dicapai
dengan pengerjaan dan membiarkan bahan terlepas,
maka Konsultan dapat memerintahkan agar bahan-
bahan tersebut dikeluarkan dari pekerjaan dan digant
i
dengan bahan-bahan kering yang memadai.

d. Timbunan yang menjadi jenuh karena hujan atau b


anjir
atau sebaliknya setelah dipadatkan secara memuask
an

61
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
sesuai dengan spesifikasi ini, pada umumnya
tak akan
memerlukan pekerjaan
perbaikan asalkan sifat
bahan-
bahan dan kerataan permukaan masih memenuhi
persyaratan dari spesifikasi ini.

e. Perbaikan timbunan yang tidak memenuhi persyar


atan
sifat atau kepadatan bahan- bahan dari spesifikasi i
ni
harus sebagaimana diarahkan oleh Konsultan dan dapat
meliputi pemadatan tambahan, penggarukan kemu
dian
disusul dengan pengaturan kadar air dan pemadatan
kembali atau pembuangan dan penggantian bahan-
bahan.

13.2.2.7 Pemulihan Pekerjaan Setelah Pengujian


Semua lubang pada pekerjaan akhir yang dibuat oleh
pengujian kepadatan atau lainnya harus ditimbun kembali ol
eh
Kontraktor tanpa penundaan dan dipadatkan sampai
persyaratan toleransi permukaan dan kepadatan dari spesi
fikasi
ini.

13.2.2.8 Pe mbat as a n Cuaca


Timbunan tidak boleh ditempatkan, dihampar atau dipadatk
an
sewaktu hujan turun, dan tak ada
pemadatan yang boleh
dilakukan setelah hujan atau sebaliknya bila kadar air ba
han-
bahan berada di luar batas yang ditentukan.

13.2.2.9Royalti Bahan-Bahan
Bila bahan-bahan timbunan didapat dari luar daerah mil
ik,
Kontraktor harus membuat semua pengaturan yang diperlukan
dan membayar semua biaya dan royalti kepada pemilik
tanah dan pejabat sebelum mengeluarkan bahan-bahan.

13.2.2 .10 Bahan-Bahan


1. Sumber Bahan-Bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang
disetujui.

2. Bahan Timbunan
a . Bahan timbunan terdiri dari timbunan tan
ah yang
digali dan disetujui oleh Konsultan sebagai bahan-
bahan yang memenuhi syarat untuk penggunaan
dalam pekerjaan permanen. Material yang
digunakan adalah material silty clay yang memenu
hi
klasifikasi USCS sebagai material CL, ML,atau SM
(khusus untuk timbunan di bawah muka air tan
ah).
Clay fraction (< 0.002 mm) bahan-bahan timbuna
n
harus memenuhi minimal 25% yang ditunjukkan dari
hasil analisis saringan.

62
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

b. Tanah yang mempunyai sifat mengembang


(shrinkage) sangat tinggi yang mempunyai suatu
nilai aktivitas lebih besar daripada 1,0 atau s
uatu
derajat pengembangan yang digolongkan oleh AASHTO
T 258 sebagai sangat tinggi a tau ekstra tinggi,
tidak
akan digunakan sebagai bahan timbunan
secara
langsung kecuali apabila dilakukan perbaikan tana
h
terlebih dahulu sesuai usulan seorang AhliGeoteknis.
Nilai Aktivitas harus diukur sebagai Indeks
Plastisitas, IP (AASHTO T90) dan Persentase Ukuran Tanah
Liat (AASHTO T88).

c. Indeks Plastisitas, IP (AASHTO T90) dari material timbu


nan
harus lebih kecil dari 15 % dan batas cair, LL harus le
bih
kecil dari 45% (AASHTO T90).

d. Material yang telah dipadatkan menurut Modified


Proctor, harus memiliki:
Undrained Shear Strength (Cu) untuk sample tanah
yang dijenuhkan lebih besar dari 50 kPa at
au
sample tanah kering setelah dipadatkan > 120 kP
a.
Specific Grafity (Gs) lebih besar dari 2,6
Kepadatan kering minimum harus mencapai
kepadatan minimal 95 % Modified Proctor
maximum density untuk bahan timbunan u
mum,
dan 98 % Modified Proctor maximum density untuk
bahan timbunan subgrade jalan.

3. Bahan Lapisan Kedap harus memiliki karakteristik sebagai


berikut:
Jenis tanah MH, Ml, CH, CL.
Prosentase butiran halus > 50%
Liquid Limit 35 % 60 %
Indeks plastisitas vs liquid limit > garis A
Permeabilitas lebih kecil dari 1 x 10-7 c m / d e t .

4. Bahan lapisan penutup harian dan lapisan antara dan


akhir
Bahan penutup harian dan antara harus memiliki
permeabilitas maksimum 1 x 10-6 c m / d e t .
Sedangkan untuk bahan penutup akhir harus
memiliki permeabilitas maksimum sebesar 1 x 1
0-7
cm/det.

63
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

13.2.2.11 Pe n e m p at an dan Pemadatan Timbunan


1. Persiapan Tempat Kerja
a) Sebelum menempatkan timbunan pada
suatu
daerah maka semua operasi pembersihan dan
pembongkaran, termasuk penimbunan lubang y
ang
tertinggal pada waktu p
embongkaran akar pohon
harus telah diselesaikan dan bahan-bahan yan
g
tidak memenuhi syarat harus telah dikeluarkan
sebagaimana telah diperintahkan oleh Konsultan.
Seluruh areal harus diratakan secukupnya sebelum
penimbunan dimulai.

b) Di mana ukuran tinggi timbunan adalah satu


meter
atau kurang, maka daerah pondasi timbunan
tersebut harus dipadatkan secara penuh
(termasuk penggarukan dan pengeringan atau
pembasahan bila diperlukan) sampai lapisan atas
150 mm dari tanah memenuhi persyaratan
kepadatan yang ditentukan untuk timbunan y
ang
akan ditempatkan di atasnya.

c) Bila timbunan tersebut akan dibangun di atas


tepi
bukit atau ditempatkan pada timbunan yang
ada, maka lereng-lereng yang ada harus
dipotong untuk membentuk terasering dengan
ukuran lebar yang cukup untuk menampung
peralatan pemadatan sewaktu timbunan
ditempatkan dalam lapisan horisontal.
2. Penempatan Timbunan
a) Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yan
g
dipersiapkan dan disebarkan merata serta bila
dipadatkan akan memenuhi toleransi
ketebalan
lapisan yang diberikan. Di mana lebih dari satu
lapisan yang akan ditempatkan, maka lapisan
tersebut harus sedapat mungkin sama tebalnya.

b) Timbunan tanah harus dipindahkan


segera dari
daerah galian tambahan ke permukaan yang
dipersiapkan dalam keadaan cuaca kering.
Penumpukan tanah timbunan tidak akan
diizinkan
selama musim hujan, dan pada waktu lainnya
hanya dengan izin tertulis dari Konsultan.

c) Dalam penempatan timbunan di atas atau


pada
selimut pasir atau bahan-bahan drainase porous
lainnya, maka harus diperhatikan untuk
menghindari pencampuran adukan dari kedua
bahan-bahan tersebut. Dalam hal
pembentukan

64
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

drainase vertikal, maka suatu pemisah yangluas


antara kedua bahan-bahan tersebut harus dijamin
dengan menggunakan acuan sementara dari
lembaran baja tipis yang secara bertahap
akan
ditarik sewaktu penempatan timbunan dan ba
han
drainase porous dilaksanakan.

d) Di mana timbunan akan diperlebar,


maka lereng
timbunan yang ada harus dipersiapkan den
gan
mengeluarkan semua
tumbuhan permukaan
dan
harus dibuat terasering
sebagaimana diperlukan
sehingga timbunan yang baru terikat
pada
timbunan yang ada hingga memuaskan Konsult
an.
Timbunan yang diperlebar kemudian harus dibangu
n
dalam lapisan horisontal sampai pada ketinggian
tanah dasar. Tanah dasar harus ditutup de
ngan
sepraktis dan secepat mungkin dengan lapis
pondasi
bawah sampai ketinggian permukaan jalan yang
ada untuk mencegah pengeringan dan
kemungkinan peretakan permukaan.

e) Sebelum sebuah timbunan


ditempatkan, seluruh
rumput dan tumbuhan harus
dibuang dari
permukaan atas di mana timbunan
tersebut
ditempatkan dan permukaan yang sudah
dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan ata
u
pengupasan sampai kedalaman minimum 20 cm.

3. Pemadatan
a . Apabila diperlukan pelaksanaan pekerjaan
pemadatan harus dilakukan pada musim kering
guna mendapatkan kualitas pemadatan yang
disyaratkan.

b. Segera setelah penempatan dan penghamparan


timbunan maka setiap lapisa
n harus dipadatkan
secara menyeluruh dengan alat
pemadat yang
cocok dan layak serta disetujui oleh Konsultan
sampai suatu kepadatan yang memenuhi
persyaratan yang ditentukan.

c. Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan


hanya
bila kadar air bahan-bahan berada dalam batas
antara 2 % lebih daripada kadar air optimum
(wet of optimum). Kadar air optimum tersebut
harus ditentukan sebagai kadar air di mana
kepadatan kering maksimum diperoleh bila
tanah
tersebut dipadatkan sesuai dengan AASHTO T-180.

65
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

d. Semua timbunan batuan harus


ditutup dengan
lapisan dengan tebal 200 mm dari bahan-
bahan
yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak l
ebih
besar dari 50 mm dan mampu mengisi semua
sela-
sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan penut
up
ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk
timbunan tanah.

e. Setiap lapisan timbunan yang


ditempatkan harus
dipadatkan sebagaimana ditentukan, diuji untuk
kepadatan dan diterima oleh Konsultan sebelum
lapisan berikutnya ditempatkan.

f. Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar da


n
dilanjutkan ke arah
sumbu timbunan dengan
suatu
cara yang sedemikian rupa sehingga setiap
bagian menerima jumlah pemadatan yang sama.

g. Timbunan pada lokasi yang tidak dapat


dicapai/dimasuki oleh alat pemadat biasa, harus
ditempatkan dalam lapisan horisontal dari bahan-
bahan lepas tidak lebihdari 150 mm tebal dan
seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan ala
t
pemadat tangan mekanis
(mechanical tamper)
yang disetujui. Perhatian khusus harus diberikan
guna
menjamin pemadatan yang memuaskan di bawa
h
dan di tepi pipa untuk menghindari rongga-rongga
dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang
sepenuhnya.

4. Perlindungan Timbunan Yang Sudah Dipadatkan


a . Kontraktor harus menjaga dan melindungi timbun
an
yang sudah dipadatkan dari segala pengaruh yang
merusak mutu timbunan.

b. Kontraktor harus memelihara talud dan


timbunan
terhadap terjadinya longsoran lokal pada
talud.
Apabila terjadi kelongsoran lokal pada talud, maka
Kontraktor harus memperbaikinya dalam waktu 24
jam setelah ada instruksi dari Direksi
Teknik/Konsultan. Semua biaya perbaikan talud yang
diperlukan menjadi tanggungan Kontraktor.

c. Apabila Direksi Teknik memandang perlu, maka


Direksi Teknik berhak memerintahkan pengujian
tambahan pada sebagian atau
keseluruhan
timbunan yang sudah diuji dan diterima.
Apabila

66
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

terbukti bahwa timbunan tersebut meng


alami
penurunan mutu sehingga tidak memenuhi Spesifika
si
Teknis ini, maka Kontraktor wajib atas biayanya sendiri
memperbaiki timbunan tersebut sampai meme
nuhi
Spesifikasi Teknis ini, maka Kontraktor wajib atas
biayanya sendiri memperbaiki timbunan
tersebut
sampai memenuhi Spesifikasi Teknis ini dan
menanggung biaya pengujian yang diperintahkan
Direksi Teknik.

13.2.2.12 Jami nan Kualitas


1. Pengawasan Kualitas Bahan
a . Jumlah data penunjang untuk hasil pengujian yang
diperlukan untuk persetujuan awal kualitas bahan
-
bahan harus sebagaimana diarahkan oleh Konsultan,
tetapi harus termasuk semua pengujian yang re
levan
yang telah ditentukan,
sekurang- kurangnya tiga
contoh yang mewakili sumber bahan-bahan yang
diajukan yang terpilih untuk mewakili
serangkaian
kualitas bahan-bahan yang akan diperoleh dari
sumber tersebut.

b. Menyusul persetujuan mengenai kualitas bahan-


bahan timbunan yang diajukan, m
aka pengujian
kualitas bahan-bahan tersebut harus diulangi
lagi atas kebijaksanaan tenaga Konsultan, dalam
hal mengenai perubahan yang diamati pada
bahan-bahan tersebut atau pada sumbernya.
c. Suatu program rutin pengujian pengawasan mut
u
bahan-bahan harus dilaksanakan untuk
mengendalikan keanekaragaman bahan yang
dibawa ke tem pa t proyek. Jangkauan pengujian
tersebut harus sebagaimana diarahkan oleh Konsultan
tetapi untuk setiap 1000 meter kubik timbun
an yang
diperoleh dari setiap sumber.

2. Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan


a) Ketebalan hamparan untuk setiap lapisan yang akan
dipadatkan adalah 300 mm.

b) Pemadatan setiap lapis (lift) yang telah ditentu


kan
harus mencapai kepadatan minimal 95 % Modified
Proctor maximum density pada kadar air opti
mum +
2%.

c) Lapisan yang lebih dari 300 mm di atas ketinggia


n
elevasi muka air rata-rata harus dipadatkan sampai
95 % dari standar maksimum kepadatan kering

67
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

yang ditentukan sesuai dengan AASHTO T-180. Untuk


tanah yang mengandung lebih dari 10 % bahan-
bahan yang tertahan pada ayakan 3/4 inch,
kepadatan kering maksimum yang dipadatkan haru
s
disesuaikan untuk bahan-bahan yang berukuran lebi
h
besar sebagaimana diarahkan oleh Tenaga
Ahli/Insinyur.

d) Pengujian kepadatan dengan uji sand cone


harus
dilaksanakan untuk setiap 500 m2 pada setiap lapis
an
timbunan yang dipadatkan sesuai dengan ASTM D-
1556
dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan bahwa
kepadatan kurang dari kepadatan yang disyaratkan
maka Kontraktor harus membetulkan pekerjaan
tersebut.

3. Percobaan Pemadatan
a . Kontraktor harus bertanggung jawab untuk
pemilihan peralatan dan metoda untuk menca
pai
tingkat pemadatan yang
ditentukan. Dalam hal
bahwa Kontraktor tidak mampu untuk mencapai
kepadatan yang disyaratkan, maka pemadatan
berikutnya belum boleh dilaksanakan, kecuali dengan
seizin Konsultan Pengawas.

b. Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan


dengan jumlah lintasan alat pemadat dan kadar
air harus diubah-ubah sampai kepadatan yang
ditentukan tercapai dan disetujui Konsultan. Hasil
percobaan lapangan ini kemudian harus digunaka
n
untuk menentukan jumlah lintasan yang
disyaratkan, jenis alat pemadat dan kadar air
untuk semua pemadatan yang selanjutnya.
13.2.2.13 Pengukuran
a . Timbunan akan diukur sebagai jumlah meter kubik bah
an-
bahan yang dipadatkan yang diterima lengkap di
tempat. Volume yang diukur harus didasarkan pada
gambar penampang melintang yang
disetujui dari profil
tanah atau profil galian sebelum suatu timbunan
ditempatkan serta pada garis, kelandaian dan ketinggian
dari pekerjaan timbunan akhir yang
ditentukan
dan disetujui. Metoda perhitungan volume bahan-
bahan harus merupakan metoda luas bidang
ujung
rata-rata, dengan m enggunakan pen ampang
melintang dari pekerjaan yang berjarak tidak lebih dar
i
25 meter.

68
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

b. Timbunan yang ditempatkan di luar garis dan


penampang melintang yang disetujui, termasuk s
etiap
tambahan timbunan yang
diperlukan sebagai akibat
pekerjaan terasing atau pengikatan
timbunan pada
lereng yang ada atau sebagai akibat penurunan pondasi
,
tidak akan diukur untuk pembayaran, kecuali:
Timbunan diperlukanuntuk mengganti bahan-bahan
yang kurang sesuai ata u lunak atau untuk mengga
nti
bahan-bahan batuan atau keras lainnya.
Tambahan timbunan diperlukan untuk membetu
lkan
pekerjaan yang kurang memuaskan atau kurang stabi
l
atau gagal dalam hal bahwa Kontraktor tidak
dianggap bertanggung jawab.

c. Pekerjaan timbunan kecil yang menggunakan tim


bunan
biasa dinyatakan sebagai bagian dari pos pekerjaan
tanah tidak akan diukur untuk pembayaran
sebagai
timbunan di bawah bab ini.

d. Timbunan yang digunakan di luar batas kontrak dari


konstruksi timbunan atau untuk mengubur bahan-
bahan
yang tidak memenuhi syarat atau tidak terpaka
i, tidak
akan dimasukkan dalam pengukuran timbunan.

e. Bila bahan-bahan galian yang digunakan untuk timbu


nan,
maka bahan-bahan ini akan dibayar sebagai timbunan
.

f. Timbunan yang telah disetujui dan diterima oleh


Konsultan sebagi drainase porous akan diukur dan tida
k
akan dimasukkan ke dalam pengukuran timbunan di dal
am
bab ini.

g. Jumlah timbunan yang diukur akan dibayar untuk s


etiap
meter kubik timbunan. Biaya tersebut sudah
termasuk
pekerjaan persiapan, penyelesaian dan penempa
tan
material, keuntungan jasa kontraktor serta semua
kegiatan untuk mencapai hasil kerja yang sebaik-baiknya.

14. PEKERJAAN PENGUMPUL/PENYALURAN DAN PENGOLAHAN LINDI


1 4. 1. LINGKUP PEKERJAAN
14.1.1.Umum
Sistem Pengelolaan lindi dan biogas untuk TPA Bahoruru Kab. Morowali
1. Sistem pengumpul dan penyalur lindi
2. Sistem pengolahan lindi
3. Sistem resirkulasi lindi
4. Sistem penyalur biogas
Keempat sistem ini dapat dikatakan saling berhubungan,

69
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

seperti ditunjukkan dalam gambar kerja.


Pembangunan sistem ini dikerjakan sekaligus secara bertah
ap
yaitu :
Masing-masingpenahapan tersebut
kemudian dibagi lagi
menjadi beberapa sub penahapan sesuai arahan direksi.
Sistem pengumpul dan pengolah lindi terdiri dari sub siste
m
perpipaan yaitu :
- Pengumpul lindi : m e n a n g ka p dan mengumpulkan lindi
yang berada di daerah
tangkapannya menuju penyalur lindi
.

- Penyalur lindi : menyalurkan lindiyang


terkumpul
menuju unit pengolah lindi;
perpipaan ini dapat pula berfungsi
sebagai pengumpul lindi. Sistem
pengolah lindi terdiri dari sub sistem
pengolahan, yaitu :
- Kolam penyeimbang yang menangkap dan sebagai kolam
stabilisasi sekaligus kolam anaerob dengan input
mikroorganisme dari kolam seeding
- Kolam fakultatif mekanis
- Kolam maturasi
- Kolam biofi lter/lahan sanitasi.

Sistem resirkulasi lindi terdiri dari :


- Bak penampung lindi
- Pompa resirkulasi
- Pipa fleksibel resirkulasi lindi.
14.1.2 Standar
Semua pekerjaaan harus dilakukan dengan baikdan penuh
keahlian sesuai dengan spesifikasi teknis dan gambar
perencanaan. Pelaksanaannya harus mentaati semua
standar untuk hal yang relevan yang berlaku di Indonesia.

1 4. 2. PEKERJAAN SISTEM PENGUMPUL DAN PENYALUR LINDI


14.2.1 Persyaratan Umum
Pekerjaan perpipaan lindi hendaknya mengikuti
persyaratan-persyaratan yang tercantum dalam Pedoman
Plumbing Indonesia tahun 1974, serta persyaratan yang tel
ah
ditentukan oleh pihak berwenang. Mutu bahan harus baik da
n
telah diuji oleh lembaga yang berwenang.
Gambar-gambar rencana instalasipipa bersifat garis besar,
letak persyaratan instalasi dan jalur pemasangan pipa harus
disesuaikan dengan keadaan di lapangan.
Jaringan perpipaan terdiri dari 1 (satu) sistem, yaitu :
Perpipaan yang melayani TPA Zona Landfill mengumpulkan lin
di
dari masing-masing cabang pipa (pipa sekunder) untuk
selanjutnya menuju pipa tengah (pipa primer) yang selanjut
nya

70
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

untuk dialirkan ke pengolah lindi di bagian hilir dari siteplan.

14.2.2. Persyaratan Teknis Perpipaan


a . Kecuali ditentukan lain oleh direksi, maka perpipaan
yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah dari jenis pip
a
HDPE.

b. Sistem perpipaan terdiri dari 1 jenis, yaitu :


Perpipaan yang berfungsi sebagai penangkap/pengumpu
l
lindi dengan pipa beroperasi. Perpipaan yang berfungsi
sebagai penyalur semua sistem perpipaan mengalirkan lindi
secara gravitasi.

c. Seluruh pipa dan fitting-accesories yang


digunakan harus
mengikuti standar-standar yang berlaku untuk pipa air
buangan.

d. Coupling (sambungan pipa) yang digunakan adalah jenis


sambungan dengan lem yang biasa
digunakan dalam pipa
HDPE.

e. Setiap pipa dan accesories yang digunakan harus jelas ber


isi
informasi tentang:
- Jenis pipa
- Diameter pipa (mm)
- Tekanan pipa (bar)
- Nilai kekuatan pipa
- Merk
- Nomor produksi, tanggal dan tanda-tanda lain
- Sudut (derajat) dari fitting

f. Perforasi pada pipa penangkap/pengumpul dilaksanakan


sesuai dengan gambar dengan alat yang tidak akan merus
ak
kekuatan pipa.

14.2.3.Lingkup Perkerjaan Pemasa ngan Pipa


Pekerjaan pemasangan pipa yang selanjutnya disebut pekerjaa
n
pemipaan meliputi :
- Pekerjaan pengukuran
- Pekerjaan patok ukur
- Pekerjaan galian tanah
- Pekerjaan urugan tanah (perataan)
- Pekerjaan perpipaan.

a. Pekerjaan dan rencana kerja


- Pekerjaan pengukuran
Yang dimaksud dengan pekejaan pengukuran dalam
pekerjaan ini adalah pengukuran arah memanjang dan

71
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

pekerjaan pemipaan.

- Rencana kerja
Berdasarkan pengukuran tersebut,
kontraktor harus
membuat rencana kerja pekerjaan pemipaan yang
berisi :
Elevasi permukaan tanah
Elevasi dasar tanah (dari galian yang harus
dilaksanakan)
Elevasi peletakan pipa
Elevasi permukaan tanah setelah selesai
pekerjaan urugan dan ata u pembuatan jalan
Letak dan atau posisi perpipaan yang lurus, bend
piping, trust block

b. Pekerjaan Galian Tanah


Untuk pengalian tanah (trench cutting) diberlakukan hal-
hal
khusus :
- Profil ekonomis
Untuk melaksanakan pekerjaan galian tanah, kotrak
tor
hanya diperkenankan melakukannya berdasarkan profi
l
galian seperlunya.

- Galian tanah dan konstruksi pelindung


Untuk kedalaman yang lebih dari 1,2 met er dan pada
tanah yang biasa (yaitu tanah yang bercampur
lempung atau pasir atau batu-batu kecil), maka
kontraktor harus melakukan perlindungan terhada
p
galian tersebut. Konstruksi pelindung galianterbuat dari
konstruksi kayu atau baja (selanjutnya disebut konstr
uksi
pelindung). Konstruksi pelindung tersebut harus benar-
benar kuat, aman serta memudahkan manuver kerja d
an
peralatan para pekerja dan petugas dalam galian.

- Pembongkaran bekisting
Pada pelaksanaan pembongkaran konstruksi pelindung
,
bahan konstruksi tidak diperkenankan tertinggal d
alam
galian dan harus dikeluarkan dari lubang galian.

- Tanah dari jenis lain


Untuk pekerjaan galian tanah dari jenis lain, kontraktor
harus membicarakannya dengan direksi pengawas unt
uk
mendapatkan hasil galian dengan profil yang kuat,
aman dan semurah-murahnya.

14.2.4.Hal-hal yang Perlu Diperhatikan


a . Pada waktu pemasangan pipa harus diperhatikan benar-
benar mengenai kedudukan pipa agar betul-betul lurus ser
ta

72
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
pada peil yang benar dan dasar pipa harus terletak ra
ta,
tidak boleh ada batu-batu (puing-puing) ataubenda-
benda keras yang memungkinkan rusaknya pipa dikemudian
hari.

b. Pada waktu pemasangan pipa, pasir galian harus


dalam
keadaan kering tidak boleh ada air sama sekali dan dala
m
pipa harus diperiksa kembali kebersihannya.

c. Pemotongan pipa apabila benar-benar diperlukan


dapat dilakukan kontraktor dengan persetujuan pengawa
s
dan harus dilakukan dan harus dilaksanakan dengan alat
yang sesuai untuk pipa yang dipakai.

14.2.5. Pe nge tesan Pipa


a . Pengetesan pipa harus dilaksanakan
dengan disaksikan
oleh pengawas untuk selanjutnya bila telah
diterima/memenuhi syarat untuk dibuatkan berita acara.

b. Pada prinsipnya pengetesan


dilakukan dengan cara
bagian dari panjang pipa maksimum 100 m.

c. Pengetesan pipa induk (penyalur) harus


dilakukan dengan
tekanan minimal enam (6) atmosfir dan apabila selama
satu (1) jam tekanan tidak
berubah/turun, t est dapat
dinyatakan berhasil dan dapat diterima.
d. Biaya pengetesan serta alat-alat yang diperlukan
adalah menjadi tanggungan kontraktor.

e. Apabila pengetesan tidak berhasil, kontraktor harus


mencari sebab-sebabnya, kemudian memperbaikinya,
kalau perlu diadakan pembongkaran dan perbaikan
kembali adalah tanggungan kontraktor.

14.2.6. Pe r u bah a n Arah Peletakan Pipa


Perubahan arah perletakan pipa (belokan/tikungan) harus
dilaksanakan dengan bantuan alat penyambung bend/elbow
yang sesuai, begitu pula untuk percabangan harus dengan te
e
a t a u tee-cross (sesuai kebutuhannya). Membengkokkan atau
mengubah bentuk pipa dengan cara apapun tidak
diperbolehkan (secara mekanis maupun cara pemanasan).

14.2.7. Peke r j aa n Tanah


a. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembersihan,
pengupasan lapisan tanah, penebangan tanam
an,
pembabatan semak, penutupan lubang, penimbunan
daerah rendah, pemindahan batu, pembuangan humus da
n

73
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

tanah yang mengandung organis minimum


sedalam 30 cm
serta pembongkaran bangunan, semua dikerjakan dalam
area seluas daerah pelaksanaan. Pekerjaan penimbunan
dilakukan untuk mencapai peil yang disyaratkan.

b. Dalam minimum dan tempat galian untuk pemasangan pi


pa
berikut peralatannya, begitupula
bangunan yang
nyata-
nyata termasuk dalam pekerjaan ini
harus dibuat sesuai
dengan gambar pelaksanan, atau bila tidak ada
digunakan ketentuan- ketentuan persyaratan minimal
menurut buku petunjuk pemasangan pipa dari pabrik d
an
peralatan yang bersangkutan (khusus untuk dalamnya
galian). Pa tokan/pedoma n yang dipakai untuk dala
mnya
galian adalah diukur dari atas pipa sampai ke muka
ja la n/ta nah asal, ditambah tebal
lapisan pasir di bawah
pipa. Galian dinyatakan selesai setelah diperiksa/diset
ujui
oleh pengawas.

c. Penggalian tanah untuk parit pemasangan pipa harus


dilaksanakan serentak dengan diikuti pelaksanaan
pemasangan pipa dan perlengkapannya dan harus diikuti
pula dengan penimbunan/pengurugan kembali dengan
segera sesuai dengan cara-cara yang disetujui direksi.

d. Pekerjaan ini meliputi :


- Pengerjaan galian tanah untuk pemasangan pipa
- Pengerjaan urugan tanah untuk pemasangan pipa
- Mengatur kemiringan dan pengontrolan drainase
- Penggalian dan penimbunan
- Pemadatan
- Pemindahan material-material yang tak berguna d
an
puing-puing
- Menyediakan material-material pengisi yang baik.

e. Peralatan untuk pekerjaan tanah


Agar didapat hasil yang baik, maka kontraktor harus
menyediakan alat-alat yang memenuhi
syarat untuk
pekerjaan tanah. Apabila perlu pembuangan, maka
kontraktor harus menyediakan sarana pengangkutan
tersebut ke tempat-tempat pembuangan.

f. Pengerjaan urugan tanah untuk pemasangan pipa :


- Tanah urugan yang boleh dipakai adalah tanah yang
tidak mengandung bahan organis dipadatkan lapis de
mi
lapis tiap 20 cm sampairata dan padat dengan alat
penimbris dari besi berat 10 kg. Apabila tanah
setempat tidak memenuhi persyaratan di atas mak
a
kontraktor harus mendatangkan tanah tersebut.

74
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Urugan tanah untuk pemasangan pipa harus


dilaksanakan setelah pengurugan
kerikil pasir di
sekeliling pipa yang dipasang telah selesai dan
harus mendapatkan persetujuan pengawas terlebih
dahulu sebelum dilaksanakan (lihat gambar
pelaksanaan).

g. Pekerjaan Urugan Pasir untuk Pemasangan Pipa


- Urugan pasir dilakukan lapis demi lapis setebal 15 cm
dengan penyiraman air, sehingga rata dan padat samp
ai
ketinggian yang dibutuhkan alat-alat penimbris dari b
esi
dengan berat minimum 10 kg.

- Urugan kerikil dan pasir dilakukan pada sekeliling pipa,


tebal 10 cm kecuali pipa- pipa yang memotong jal
an
yang harus diurug penuh dengan pasir. Untuk
bangunan lainnya disesuaikan dengan gambar
pelaksanaan.

- Agar peletakan pipa t e p a t pada peilnya, pengurugan


pasir baru dapat dinyatakan selesai/disetujui oleh
pengawas yaitu bila peil tersebut sudah tep at pad
a
tempatnya.

h. Pekerjaan Galian
- Pekerjaan galian harus sesuai dengan gambar kerja,
tetapi dengan grade level yang lebih
tinggi dari final
grade untuk memperhitungkan pengaruh pemadatan
.
Penggalian yang dilakukan tidak boleh menyimpang d
ari
kemiringan (gradient) yangditentukan pada ga mbar
kerja. Apabila pada waktu melakukan penggalian
bertemu dengan batukarang, batu-batuan lainnya,
maka material-material tadi harus dipindahkan
dengan
seijin pengawas. Lubang bekas material yang
dikeluarkan tadi harus diisi kembali dengan tanah
yang
disetujui oleh pengawas yang nantinya akan dipadatkan.

- Dasar galian harus dikerjakan dengan teliti sesuai deng


an
ukuran gambar kerja, datar dan dibersihkan dari kotoran
.
Bilamana kontraktor melakukan penggalian yang melebihi
dari apa yang telah ditetapkan, kontraktor harus
menutupi kelebihan tersebut dengan urugan tanah
yang terlebih dahulu mendapat persetujuan
pengawas. Urugan dipadatkan dan ditimbris airsetiap
ketebalan 15 cm, lapis demi lapis sampai
mencapai
ketinggian/ukuran yang dibutuhkan dan semua biaya
tambahan ditanggung oleh kontraktor.

75
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

i. Pekerjaan urugan/penimbunan
- Penimbunan dilakukan sampai peil dan kemiringan yang
ditentukan pada gambar kerja.

- Penimbunan baru dilaksanakan setelah tanah


yang
dikupas dipadatkan sampai 100% kepadatan maksimum
compaction modified proctor.

- Tanah yang digunakan untuk penimbunan adalah tanah


yang berbutir-butir bagus serta bebas dari
humus/akar-
akaran/bahan-bahan organis lainnya.

14.2.8. Peke r j aa n Manhole


a. Pekerjaan tersebut dari konstruksi beton dengan keteb
alan
dinding sesuai dengan gambar. Saluran setengah pipa harus
dipasang pada manhole dengan material dan spesifikasin
ya
sesuai dengan jalur pipanya. Jika kontraktor tidak berha
sil
mendapatkannya, maka kontraktor harus mengusulkan
alternatif lain yang sesuai untuk saluran air buangan.
Selama pipa tegak biogas belum dihubungkan pada manhol
e
ini, maka manhole perlu ditutup dengan tutup manhole.
b. Tutup manhole dari DCI dengan cover dan frame berbentu
k
segi empat dan memiliki karakteristik sebagai berikut :
- Tahan karat
- Kuat dan aman
- Mempunyai pengaman agar tidak mudah dicuri
- Mempunyai lubang ventilasi
- Mudah dioperasikan petugas
- Frame dilengkapi dengan gelang polythilane untuk
menghindarkan kontak antara metal dengan metal
- Frame mempunyai lubang-lubang untuk pembautan
- Untuk menghindari masuknya air kedalam manhole, tutu
p
manhole harus lebih tinggi 2 cm dari permukaan ja
lan
atau 3 cm dari permukaan tanah.

1 4 . 3 . PEKERJAAN PEMBUATAN INSTALASI PENGOLAH LINDI


1 4. 3. 1 . Bak Kontrol Efl uen TPA
a . Lingkup pekerjaan
Pekerjaan kolam pengumpul efluen dari TPA (merupakan
pipa efluen ke bak ini) mencakup pekerjaan-pekerjaan
sebagai berikut :
- Pekerjaan tanah
- Pekerjaan pondasi
- Pekerjaan beton

76
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Pembuatan kolam pengumpul efl uen


- Pemasangan alat ukur Thomson
- Pemasangan pipa.
Spesifikasi teknis tentang pekerjaan tanah, pekerjaan
beton
dan pekerjaan pondasi dapat dilihat dalam uraian Bab
II
(Spesifikasi Teknis Pekerjaan Sipil).
Bak pengumpul efluen ini terbuat dari pasangan beton
bertulang, sesuai dengan gambar perencanaan.

b. Alat ukur Thomson


Alat ukur Thomson sebanyak 2 (dua) unit terbuat dari
plat
baja 3 mm, masing- masing dengan sudut 60 dan 90
. Alat
ukur ambang ini dapat
dipasang dan
dilepas pada bak
pengumpul efluen melalui celah yang dib
uat pada dinding
bak. Di sisi bak juga kemudian dipasang mistar ukur bers
kala
centimeter, denga n titik nol berada t e
p a t pada ambang
terendah dari alat ukur tersebut.

c. Perpipaan
- Pipa influen dan efluen dibuat dan ditetapkan
sebagaimana tercantum di dalam gambar rencana

- Pipa dari bahan baja atau besi tuang

- Pipa ini dipasang menembus dinding bak dan ruang inl


et
pada posisi ketinggian seperti yang ditunjukkan di dala
m
gambar perencanaan.

d. Valve (Disesuaikan dengan gambar rencana)


- Setiap cabang pipa dari pertemuan antara pipa-pipa
dari bangunan pengolahan sebelumnya dilengkapi
dengan valve

- Ukuran dan diameter valve sesuai dengan diameter


pipanya

- Valve yang dipilih adalah valve yang terbuat dari besi cor.

- Setiap valve dilengkapi dengan manhole yang


dilengkapi dengan konstruksi penutup.

- Penutup dibuat dari pelat baja yang bisa dibuka


dan
dilengkapi dengan kunci gembok.

1 4. 3. 2 . Kolam Stabilisasi/Anaerob
a . Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pembuatan kolam stabilisasi/anaerob
mencakup pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :

77
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Pekerjaan tanah
- Pekerjaan lantai kerja beton fc 7,4 Mpa
- Pekerjaan lantai beton bertulang
- Pekerjaan dinding beton bertulang
- Pembuatan bak pengendap dan struktur inlet
- Pembuatan konstruksi pelimpah (sesuai gambar rencana)
- Pembuatan saluran pembuang influen dan efl uen
Spesifikasi teknis tentang pekerjaan tanah, lantai k
erja,
dan beton dapat dilihat pada bab II.

b. Kolam stabilisasi/Anaerob
- Kolam stabilisasi terbuat dari konstruksi beton,
sesuai dengan gambar perencanaan. Bak yang
dibuat dengan posisi sesuaidengan gambar site plan
instalasi pengolahan lindi.
- Inlet merupakan saluran terbuka yang langsung
dihubungkan dari bak pengumpul efluen melalui pintu
-
pintu air.

- Outlet dari kolam stabilisasi/anaerob terdiri dari 2


elevasi sesuai dengan gambar, masing-masing melalui
pintu air yang berbeda. Level dari pintu air tersebut
harus diletakkan secara akurat, agar fungsi pengatur
an
aliran sesuai dengan yang diinginkan.

1 4. 3. 3 . Kolam Fakultatif
a . Lingkup pekerjaan
Pekerjaan pembuatan kolam fakultatif meliputi :
- Pekerjaan tanah
- Pekerjaan lantai kerja beton fc 7,4 Mpa
- Pekerjaan lantai dan dinding beton bertulang
- Pemasangan perpipaan
Spesifikasi teknis tentang pekerjaan tanah, lantai kerj
a dan
beton dapat dilihat pada uraian bab II.

b. Bak fakultatif
- Bak fakultatif terbuat dari konstruksi beton.
- Sudut-sudut samping dasar bak berbentuk 90 akan
tetapi dibuat miring seperti tertera pada
gambar
perencanaan.
- Lantai kerja terbuat dari beton dengan ketebalan
30
cm sesuai dengan gambar perencanaan.

c. Pemasangan pipa
- Pemasangan pipa inlet yang masuk ke dalam tangki
fakultatif harus dilakukan dengan teliti.

78
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- Posisi ketinggian pipa dari muka tanah maupun dari


dasar bak fakultatif harus sesuai dengan apa yang
tercantum di dalam gambar perencanaan.

- Bahan pipa adalah pipa PVC AW

- Sambungan-sambungan pipa dilakukan secara


mekanis, yaitu menggunakan flange diameter yang
sesuai.

d. Konstruksi pelimpah (sesuaikan gambar rencana)


- Konstruksi pelimpah dari bak fakultatif ini adalah
ambang pelimpah yang dipasang selebar bak.
- Ukuran lebar dan tinggi saluran pelimpah mengikuti
apa
yang tercantum pada gambar perencanaan.

- Pelimpah terbuat dari bahan papa


n kayu yang lurus.
Papan ini dipasang di atas ketebalan dinding
pelimpah
yang terbuat dari beton bertulang seperti
diperlihatkan pada gambar perencanaan. Pemasangan
papan pelimpah ini pada beton dilakukan dengan hat
i-
hati dan rapi. Agar tidak terjadi kebocoran maka set
iap
penempelan harus diberi lem dan karet.

- Guna memudahkan pemasangan dan pencabutan


papan pelimpah, maka dibutuhkan jembatan (bordes
)
operasi, yang terbuat dari baja. Posisi dan ukuran bor
des
tersebut sesuai dengan gambar perencanaan.

1 4. 3. 4 . Kolam Maturasi
Lingkup pekerjaan
Pekerjaan bak maturasi mencakup pekerjaan-pekerjaan sebag
ai
berikut :
- Pekerjaan tanah
- Pekerjaan lantai kerja beton fc 7,4 Mpa
- Pekerjaan lantai beton bertulang
- Pekerjaan dinding beton bertulang
- Pemasangan pipa overflow
- Pembuatan pipa underdrain
Spesifikasi teknis tentang pekerjaan tanah, lantai kerj
a dan
beton bertulang dapat dilihat pada bab II.

1 4. 3. 5 . Kolam Biofilter
Kolam kontrol merupakan lahan sanitasi yang dibatasi oleh
dinding beton dengan konstruksi yang biasa digunakan di
daerah tersebut. Bentuk dan letak dari kolam ini dapat dili
hat

79
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

pada gambar-gambar teknis.


Pembuatan kolam biofilter :
- Kolam sorpsi terbuat dari konstruksi beton dengan ukuran
sesuai dengan gambar perencanaan. Pada dinding keluar
(efl uen), digunakan pipa PVC berlubang di seluruh
bidangnya guna memungkinkan penyaluran air.
- Pengisian media pasir halus dan kerikil atau bahan sorpsi
lain sesuai dengan gambar perencanaan.

1 4. 3. 6 . Pipa Resirkulasi (sesuaikan gambar rencana)


Pada efluen bak sendimentasi aliran air sebagian mengalir pad
a
bak resirkulasi dengan pengaturan melalui pintu-pintu air sep
erti
terlihat dalam gambar.

Bak resirkulasi yang terbuat daripasangan beton bertulan


g,
dilengkapi dengan pipa dan valve-valve guna memungkinkan
penyambungan slang (pipa) fleksibel ke pompa, agar dapat
dialirkan ke TPA.

Jenis spesifikasi dari pompa ini dapat dilihat pada pekerjaan


mekanikal dan elektrikal.

15. PEKERJAAN SISTEM LINER


1 5. 1. LINGKUP
Pekerjaan yang tercakup oleh bab ini meliputi penyedi
aan
tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan, d
an pengawasan
untuk pekerjaan pemasangan sistem liner.
Pemakaian
komponen-komponen dalam sistem liner ini harus berasal dari
produk satu pabrikan (atau komponen tertentu dapat a
tas
rekomendasi oleh satu pabrikan). Demikian juga untuk
pemasa ngan sistem liner ini wajib dilakukan sekaligus
dalam
satu paket dengan pembelian sistem liner oleh pihak
pabrikan/supplier, dan tidak boleh dilakukan terpisah oleh
pihak
yang tidak ahli di bidangnya. Hal ini pentin
g dicantumkan,
mengingat pemasangan sistem liner memerlukan keahlian khusu
s.

1 5. 2. LINER GEOSINTETIS
15.2.1.BAHAN
Kontraktor harus menyerahkan usulan rinci yang dilengkapi
dengan sertifikat pengujian dan 8 lembar contoh base
lining
system pada landfill yang diusulkan berukuran 400 x 400
mm2
kepada Direksi.
Penyerahan ini tidak boleh kurang
dari 1
(satu) bulan sebelum pemasangan dilakukan. Tidak ada base
lining system pada landfill yang dipasang sebelum ada
persetujuan dari Direksi.

Usulan Konkrit Penggunaan Material Geosynthetics untuk TPA


80
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Bahoruru Kabupaten Morowali, adalah sebagai berikut : d en g a


n
memperhatikan dan menimbang pada uraian teknis terseb
ut
diatas dan juga mengacu pada standard / aturan
international untuk Landfill Base Liner, maka berikut ini adala
h
usulan konkrit kami sebagai berikut :
1. Lapisan clay (tanah setempat)
2. Lapisan geomembrane yang terbuat dari High Density
Polypropylene 1,5 mm
(spesifkasi teknis terlampir).
3. Lapisan geotextile 4 mm
4. Drainage layer merupakan alternatif dari mineral mater
ial
layer (gravel) (spesifikasi teknis sesuai gambar desain).
Usulan alternatif sistem liner untuk TPA Bahoruru Kabupaten
Morowali lebih detail dapat dilihat pada
Gambar 6.1,
sedangkan spesifikasi teknis lebih detail tentang spes
ifikasi
teknis masing-masing lapisan pada sistem liner
ini dapat
dilihat pada bahasan berikutnya.

Gambar : Usulan Rencana Pelapisan Dasar (Liner)

15.2.2.DETAIL BASE LINING LANDFILL


Ada beberapa hal yang sangat penting untuk diperhitungka
n
dalam melakukan detail desain untuk base lining system
pada
landfill, terutama yang berhubungan dengan struktur
81
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

bangunan landfill dan lingkungan secara keseluruhan.


a). Penentuan parameter base lining yang sesu
ai dengan
kriteria / kebutuhan akhir yang
dikehendaki / ditentukan oleh consultant engineer
(misalnya : safety factor, p
ermeabilitas liner, capasitas
drainase, lifetime dari struktur sesuai dengan perkiraan
fungsinya, dan lain-lain).

b). Analisa stabilitas struktur bangunan landfill dan material


pendukungnya dengan mempertimbangkan gaya-gaya
yang bekerja pada bidang / struktur tersebut. Dalam ha
l
ini, perlu diperhatikan juga kondisi pada saat landfill
tersebut masih pada masa konstruksi maupun setelah
beroperasi, sehubungan dengan adanya beban statis d
an
dinamis.

c). Analisa stabilitas pertemuan antar material (secara khu


sus
ditentukan oleh koefisien geser), baik antara material
natural dengan material sintetis, ataupun antar mat
erial
sintetis.

d). Analisa bahan material dan aplikasinya sesuai parameter


(a).

Dalam melakukan suatu desainpada base lining


landfill, hal
pertama yang harus dilakukan oleh consultant engineering
adalah menentukan parameter-parameter yang mutlak haru
s
dipenuhi dalam desain. Parameter-parameter tersebut anta
ra
lain adalah :
- Usia yang diharapkan (Expected Design Lifetime) dari struktu
r
bangunan tersebut.
- Angka keamanan (safety factor), baik untuk struktur, b
ase
lining, dan slope lining.
- Koefisien permeabilitas masing-masing lapisan.
- Puncture resistance dari material pelindung.
Sesuai dengan tujuan utama dari landfill system, yaitu
menghindari polusi pada tanah, air tanah dan air permuk
aan,
maka kegagalan, sekecil apapun tidak dapat ditolerir. Seti
ap
hal yang berhubungan dengan stabilitas harus dianalisa, baik
stabilitas struktur bangunan (sub-grade dan lereng),
maupun
interaksi antara material lining dengan struktur tersebut.
Stabilitas ini harus sudah memperhitungkan gaya-gaya statis
dan dinamis yang bekerja pada bidang itu. Dua hal pokok
yang penting di lakukan perhitungan stabilitas adalah :
- Pada saat konstruksi, maka harus diperhitungkan gaya-
gaya
yang ditimbulkan akibat alat-alat berat yang bekerja p
ada
struktur tersebut termasuk momen-momen
yang terjadi

82
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

akibat perputaran roda dan komponen lainnya.

- Ketika telah beroperasi, harus


diperhitungkan gaya-gaya
akibat moda pengangkut (truk) dan excavator yang
bekerja pada bangunan tersebut, berikut momen-
momen
yang terjadi pada saat moda transportasi
tersebut
melakukan aktifi tasnya.

Meskipun di Indonesia belum merupakan suatu hal yang


populer, tetapi adalah merupakan suatu hal yang
sangat
penting untuk melakukan detail desain (analisa stabilitas)
antar material (poin c), sesuai dengan prinsip
zero mistake
seperti tersebut dalam bab Pendahuluan,
paragraf keempat.
Dan salah satu cara untuk mendapatkan hasil yang maksimal,
sangat direkomendasikan bahwa untuk semua jenis material
geosynthetics yang akan digunakan pada suatu landfill
harus berasal dari Satu Manufaktur / Pabrikan (bukan dari
satu supplier). Hal ini sangat penting, karena dengan berasal d
ari
satu sumber, maka garansi material secara keseluruhan da
pat
diperoleh dan juga koefisien geser yang timbul
dari interaksi
antar material juga dapat diperoleh dengan benar, dim
ana
kedua hal ini sulit diperoleh apabila setiap jenis
material
geosynthetics berasal pabrikan yang berbeda. Ketidaktahuan
tentang koefisien geser antar material akan
mengakibatkan
kegagalan (failure) base lining Landfill system.

Khusus untuk desain base lining system yang berhubungan


dengan material sintetis, ada beberapa parameter
penting
yang harus diperhitungkan dalam menentukan kriteria /
spesifikasi material, yaitu dengan mengacu pada fungsi-fungsi
seperti tersebut di bawah ini :
- Fungsi Penutup / Sealing (lapisan impermeable)
- Fungsi Pelindung / Protection
- Fungsi Filtrasi dan Separasi
- Fungsi Pengikat / Reinforcement.

Salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah


menentukan bahan material yang akan digunakan. Pada
umumnya, alternatif material yang dapat digunakan bisa
dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu : material natural
dan
material sintetis (geosynthetics).

Untuk jenis material natural, ada 2 (dua) hal utama yang


perlu
menjadi pertimbangan, yaitu :
a). Ketersediaan (supply) material

b). Tingkat kesulitan dan biaya dalam hal aplikasi material


tersebut sesuai dengan parameter yang telah ditentuk
an.

83
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Misalnya, ketersediaan material clay pada lokasi setempat


,
serta analisa biaya dan jaminan kualitas (quality assuran
ce)
untuk aplikasi material clay tersebut sesuai dengan koef
isien
permeabilitas yang telah ditentukan.

Untuk jenis material geosynthetics, hal utama adalah sep


erti
tersebut pada poin di atas. Dan selain itu analisa baha
n
dan metode aplikasi harus dilakukan satu per satu untuk
didapatkan bahan / jenis material yang terbaik.
Dalam
hal ini, beberapa kriteria yang perlu dijadikan sebagai
pertimbangan utama adalah :
- Creep factor, yaitu angka / koefisien yang
merupakan parameter kunci untuk menentukan usia
desain dari struktur bangunan landfill (expected desig
n
lifetime). Dalam hal ini uji material jangka panjang
dari lembaga international yang independen mutlak
diperlukan

- Koefisien geser antar material geosynthetics dan denga


n
material natural.

- Cara / metode produksi material, dimana hal ini sang


at
menentukan kualitas akhir suatu material.

- Data teknis material sesuai


dengan fungsinya dan
parameter yang diperlukan (poin a), misalnya : koefi s
ien
permeabilitas bahan untuk GCL (sealing element),
puncture resistance untuk material geotextile pelin
dung
(protection element), opening size untuk material
geotextile untuk filtrasi (fi ltration element) dan kapa
sitas
drainase untuk beban tertentu (drainage element).
Sehubungan dengan hal ini, data teknis dari supplier
/
pabrikan mutlak diperlukan.

15.2.3.PENYIMPANAN, PEMASANGAN DAN PERBAIKAN


Komponen material base lining system pada landfill harus
disimpan sedemikian rupa sehingga tidak terkena sinar mat
ahari
langsung. Kontraktor bertanggungjawab terhadap pengadaa
n
dan pemasangan base lining system, tetapi untuk
pemasangannya harus merupakan satu paket dengan
pemasangannya, jadi kontraktor tidak boleh melakukan
pemasangan sendiri, jadi pemasangan harus dilakukan oleh pih
ak
pabrikan/supplier yang memang mempunyai
keahlian khusus
dalam hal pemasangan base lining system pada landfill.
Tetapi tanggungjawab pemasangan base lining system
pada
landfill te ta p merupakan tanggungjawab kontraktor.

Kontraktor harus menyerahkan usulan rinci cara pemasangan

84
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

base lining system pada landfill kepada Direksi untuk mendap


at
persetujuannya. Sambungan harus dijahit, atau disambung
dengan cara lain yang disetujui Direksi.
Kontraktor harus memperbaiki base lining system pada landfill
yang rusak. Metoda perbaikan harus mendapat persetujuan
Direksi. Apabila Direksi merasa bahwa perbaikan itu tidak
memuaskan, maka Kontraktor harus menggantinya dengan yang
baru.

1 5.2.4.SPESIFIKASI MATERIAL BASE LINING LANDFILL


GEOMEMBRANE SEBAGAI LAPISAN PENGEDAP
1. Umum
Geomembran yang dipergunakan untuk fungsi lapisan
pengedap pada suatu sistem kolam/tempat penampungan
akhir sampah harus memenuhi persyaratan spesifikasi, y
aitu
menjaga agar tidak terjadi kebocoran pada kolam agar tid
ak
mencemari lingkungan sekitar.

Kontraktor diharuskan untuk menunjukkan contoh


material yang disertai dengan spesifikasi teknik mater
ial
kepada pemberi tugas dan atau konsultan yang ditu
njuk
untuk diperiksa dan disetujui.

Material yang
digunakan haruslah sudah sering
digunakan
di Indonesia dan pihak kontraktor harus melampirkan
daftar proyek-proyek di Indonesia yang telah
menggunakan material geomembran ini.

Kontraktor harus mempunyai pengalaman dalam


pemasangan material geomembran ini dan telah melakuk
an
pemasangan material geomembran yang sama untuk proyek
-
proyek di Indonesia.

Kontraktor wajib melampirkan brosur geomembran yang akan


digunakan pada saat penawaran, jika ridak melampirkan ata
u
ketidaksesuain brosur yang dilampirkan dengan spesifikasi
dapat menggugurkan penawaran.

2. Sifat-Sifat Fisik
(a) Geomembran harus terbu at dari resin dengan
kepadatan (ASTM D-1505) > 0,932 g/ cc dan kandunga
n
carbon black antara (2,0 3,0)% sehingga
menghasilkan lembar HDPE (High Density
Polyothlene)
smooth dengan density (ASTM D-1505) >0,94 g/ cc.

(b) Untuk meminimalkan jumlah jalur sambungan seba


gai
area yang rawan bocor dan effisiensi penggunaan
85
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

bahan, maka lebar roll geomembrane minimal 8,0


m
sebagai lebar standar yang umum diproduksi dan ti
dak
menimbulkan kesulitan dalam transportasi
dan
pemasangan.

(c) Material Geomembran hharus memenuhi spesifikasi


Carbon Black Dispersion (ASTM D-5596) category 1 /
category 2 dan Oxidation Induction Time (ASTM D-3895)
minimum average 100 min.

(d) Untuk antisipasi kondisi pemakaian expose, bahan


geomembrane harus memenuhi spesifikasi dimensional
stability (ASTM D-1204) + /- 2%, Stress Crack Resistance S
P-
NCTL (ASTM D5397) 400 Hr.
Geomembrane harus memenuhi spesifikasi Oven Aging
0% Retained sesudah 90 hari (ASTM D-5721) dan HP OIT
(ASTM D-5885) minimum Average 80%. Geomembrane harus
memenuhi spesifikasi Ultra Violet Resistance 0%
Retained sesudah 1.600 jam GRI-GM-11 HP-OIT, minimum
average 50%.
(e) Setiap roll geomembran yang dikirimkan ke lapangan,
harus dilengkapi stiker data merk dan tipe yang dibua
t
oleh pabrik.
Data merk dan tipe/ ketebalan harus tercetak p
ula
secara teratur sepanjang lembaran geomembrane
untuk pemeriksaan visual.

3. Penyimpanan dan Pemasangan


(a) Geomembran yang dikirim ke lapangan harus disimpan
dan dilindungi dari hal-hal yang dapat merusak
geomembran dan dari pengaruh sinar matahari
langsung (untuk jangka waktu yang lama).

(b) Geomembran yang dipasang sesuai dengan


rekomendasi/petunjuk yang dikeluarkan pabrik, dan
harus dipasang pada lokasi seperti yang dicantumkan
pada gambar rencana atau atas petunjuk Engineer.

(c) Permukaan tanah tempat geomembran akan


digelar,
haruslah kering dan bersih dari benda-benda
pengrusak seperti lumpur, bebatuan,
akar pohon,
batang pohon, dan lain-lain yang dapat
menimbulkan kerusakan pada geomembran. Tanah
dibawah tempat geomembran akan digelar
diusahakan kepadatannya seragam atau atas
persetujuan Engineer.

(d) Lokasi penyimpanan material sebaiknya berdekat


an

86
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dengan lokasi kerja untuk meminimalkan


transportasi
dan penanganan. Material liner harus disimpan di
tempat dengan permukaan halus dan bebas dari ba
tu
atau benda lain yang dapat merusak material.

(e) Akses ke lokasi pekerjaan harus diperiksa jika ada


pembatasan-pembatasan yang akan menentukan
keputusaan penggunaan alat, awal lokasi mulai kerja,
jadwal pelaksanaan, atau metoda penggelaran.

(f) Pola cuaca/iklim setempat perlu dimasukkan sebag


ai
pertimbangan untuk memutuskan jika dibutuhkan
penggantian untuk mencegah kontraksi tegangan
berlebihan dan pengangkatan liner atau membentuk
ruang kosong pada kaki lereng. Kompensator adalah
kerutan atau lipatan dari tambahan material
yang
digunakan untuk pembentukan ke dalamliner
untuk
kontraksi yang akan dating dari liner yang dapat
diijinkan.

(g) Tidak dianjurkan untuk mencoba menggelar material


selama periode musim angin besar, hujan, atau ko
ndisi
lainnya yang menghalangi keberhasilan pengelasan
geomembran.

(h) Front end loader sangat direkomendasikan untuk


digunakan menggelar material geomembran, atau tipe
lain peralatan yang dapat digunakan adalah all
terrain forklift atau crane.
Peralatan yang dapat
digunakan untuk penggelaran roll lebar 7 meter adal
ah
mempunyai kapasitas untuk mengangkat sambil berjala
n
minimal seberat 2.000 kg.

(i) Batang penggelar roll dipasang pada front end loader


atau peralatan lain dan digunakan untuk batang
as
untuk menggelar material liner :
Batang penggelar terbuat dari baja pro
fil I atau
pipa. Batang as terbuat dari pipa baja berdiamete
r
15 cm.
Batang penggelar dan as minimum 1 meter lebih
panjang dari lebar rol dan mempunyai kapasitas
untuk mendukung roll material secara keseluruhan.

(j)Material geomembran dapat digelar dengan


beberapa metoda. Yang manapun metoda yang
digunakan tidak boleh merusak liner, dan material ti
dak
melipat, terlipat, dan mengkerut selama penggelaran :
Sangat dianjurkan untuk menggunakan metoda

87
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

penggelaran yang terbaik, yaitu untuk


membuka
material menggunakan spreader dan axle
bar
dan menempatkan rol pada permukaan tanah dan
ditarik dengan mesin menuju belakang alat.
Metoda lain adalah rol diangkat lebih tinggi dari
tanah dan material ditarik dari roll dimana
mesin/alat dalam keadaan t e t a p .
Rol dengan axle bar juga dapat digunakan dan
ditempatkan pada suatu perancah tetap dan
material ditarik keluar. Metoda ini dapat digunakan
untuk proyek kecil dengan jumlah material yang tid
ak
terlalu banyak.

(k) Panel geomembran harus segera diperiksa sesudah


penggelaran dan jika ditemukan kerusakan ata
u
cacat pabrik secepatnya diberi tanda untuk diperbaiki.

(l) Penyambungan geomembran harus dilakukan dengan


cara yang benar guna mengantisipasi kebocoran
yang terjadi, dan juga harus dilakukan pemeriksaan
terhadap sambungan.

(m) Pengisian material diatas geomembran harus dilaku


kan
secara hati-hati
guna menghindari
kerusakan pada
geomembran dan harus dihindari penjatuhan
material timbunan langsungke atas geome
mbran.
Untuk lokasi-lokasi tertent u dimana penjatuhan lang
sung
tidak dapat dihindari, geomembran harus
dilindungi
misalnya dengan geotekstil dan atau lapisan
pasir/tanah.

4. Persyaratan Spesifikasi
Geomembran yang digunakan harus berwarna hitam da
n
halus pada kedua sisi serta harus memenuhi semua
persyaratan seperti yang tersebut dibawah ini melalui
metoda pengujian yang sama :
No. Data Teknis Metoda Tes Satuan Nilai Keterangan
1. Ketebalan ASTM D 5199 mm 1,5 Minimal
2. Kuat tarik
Tegangan saat ASTM D 6693 kN/m 23 Minimal
leleh
Kemuluran saat ASTM D 6693 % 13 Minimal
leleh
Tegangan saat ASTM D 6693 kN/m 43 Minimal
putus
Kemuluran saat ASTM D 6693 % 700 Minimal
putus
3. Ketahanan ASTM D 1004 N 187 Minimal

88
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H
terhadap
sobek/Tear
Ressistance
4. Ketahanan
ASTM D 4833 N 530 Mini
mal
terhadap
jebol/Puncture
Ressistance

Area (lokasi) yang akan di-lining diharapkan untuk diukur


secara akurat dan gambar lapangan atau sketsa, detail
panel, dan lokasi sambungan atau susunannya.
(a) Susunan panel harus direncanakan untuk meminimalka
n
potongan, panjang total yang memerlukan pengelasa
n
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

(b) Kegunaan dari bagian prafabrikasi liner harus betul-betul


dipertimbangkan.

(c) Secara umum, panel geomembran harus


diorientasikan pararel terhadap garis maksimal lere
ng,
tidak melintang terhadap lereng atau dengan
kata
lain sambungannya direncanakan memotong lereng
tegak lurus dari atas ke bawah.
Panel dapat digelar secara horizontal
memotong
lereng hanya bila panjang total material mencuku
pi
ke arah bawah lereng sampai kaki lereng tidak le
bih
dari lebar roll material.
Panel tidak pernah diorientasikan menuju
arah yang memerlukan penyambungan melintang
memotong lereng.
Lokasi penyambungan material tidak boleh dilakuka
n
di atas lereng.

5. Pengawasan Kualitas
Kontraktor harus mencatat dengan baik setiap lembar
geomembran yang terpasang, lokasi
pemasangan,
tanggal penggelaran, waktu mulai dan
selesai, dan
ukuran geomembran yang terpasang.

Pabrikan harus memiliki sertifikat ISO 9001 (2000). Setiap r


oll
harus memiliki nomor identifikasi produksi dan supplier
diwajibkan untuk melampirkan laporan QA/QC hasil tes pad
a
saat produksi. Frekuensi tes pada hasil akhir
produksi tidak
boleh kurang dari :
Thickness (DIN 53370) setiap 1 per shift @ 8 jam
Kualitas permukaan (DIN 16925) setiap 1 per shift @ 8 jam
Kepadatan (ISO 1183) setiap 1 per shift @ 8 jam
Penyusutan akibat suhu setiap 1 per shift @ 8 jam

89
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Index leleh (MFI) (ISO-R1133) setiap 1 per shift @ 8 jam

6. Metoda Pengukuran
Lembaran geomembran diukur dalam meter persegi untuk
tiap luas areal yang dipasang.

7. Pe rse tu ju a n Material dan Sub Kontraktor (Aplikator) :


Agar material yang dipergunakan di lapangan sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh perencan
a.
Kontraktor wajib mengajukan persetujuan material dan
sub
kontraktor (aplikator) kepada Konsultan dan Direksi terlebih
dahulu sebelum pemesanan barang/penunjukan sub
kontraktor dengan ketentuan sebagai berikut :
(a) Material yang diajukan harus dilengkapi dengan
surat keterangan asli dari manufaktur yang
menyatakan bahwa material yang disuplai harus
sesuai
dengan spesifikasi teknis terlampir
diatas, dan juga
pernyataan bahwa sub kontraktor/aplikator yang
ditunjuk adalah agen resmi untuk di Indonesia.

(b) Sampel material harus disertakan dalam pengajuan


tersebut.

(c) Sub kontraktor yang akan ditunjuk harus melampirkan


surat pernyataan memiliki perlengkapan untuk aplikas
i
dan tes di lapangan sebagai berikut :
Mesin hot air welding, dengan 2 line welding sekaligus
(dengan saluran tes udara ditengahnya).
Mesin extrusion.
Mesin hand welding.
Alat tes kompresi udara (air t es t channel).
Alat vacuum t e s t, untuk perbaikan dan sudut.
Alat tensio meter untuk peel
dan shear t es t
daripada material dan overlap sesuai dengan AST
M
D638. Tes ini harus dilakukan setiap hari sebelum
pekerjaan dimulai di lapangan, dan harus dicatat
dan diberikan kepada Direksi dan Konsultan.
Untuk aplikasi di lapangan, sub kontraktor wajib
melakukan tes untuk hasil pekerjaan
sesuai dengan
standar tes yang tercantum dalam dokumen ini.

15.2 .5. SPESIFIKASI TEKNIS GEOTEXTILE NON WOVEN (GEONET) SEBAGAI LAPISAN PROTEKSI DAN
FILTRASI
1. Umum
Geotekstil sebagai lapisan proteksi harus memenuhi
persyaratan spesifikasi, yaitu harus dapat melindungi lapis
an
pengedap dari kerusakan fisik akibat material timbu
nan.
Selain berfungsi sebagai lapisan proteksi, material ini juga

90
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

dapat digunakan untuk lapisan filtrasi, untuk filter lindi


sebelum jatuh ke graveldan dalam hal ini materia
l ini
mempunyai fungsi ganda sebagai penahan sampah agar
tidak masuk ke pori-pori gravel sehingga tidak mengha
mbat
laju aliran lindi menuju pipa lindi.

Kontraktor diminta untuk menunjukkan contoh material yan


g
disertai dengan sertifikasi pabrik pembuat
kepada Direksi
untuk diperiksa dan disetujui. Contoh-contoh ini harus
diseleksi oleh Direksi bersama-sama dengan contoh dari
lapangan untuk disetujui.

Penyedia jasa harus menyediakan dan memasang


geotekstil non woven seperti yang tertera pada gambar
atau ditentukan oleh Konsultan dan Direksi. Pemakaian
geotekstil non woven sudah umum dalam pekerjaan tekni
k
sipil, diantaranya sebagai filter, lapisan pelindung,
lapisan
pemisah tanah untuk mencegah bercampurnya
tanah/material timbunan dengan tanah lunak, dan
drainase
dibawah tanah.
2. Sifat-Sifat Fisik
(a) Untuk mencapai ketebalan tertentu dengan
puncture resistance yang cukup, Geotekstil harus da
ri
jenis yang tidak dianyam (non woven),
dan dibuat
terdiri dari continuous filament
(serabut menerus),
bukan dari staple fiber (seratpendek).

(b) Geotekstil yang dipasang sebagai pelindung


geomembrane sering kali terkena cahaya matahar
i
dalam waktu lama, sehingga harus mempunyai ultra
violetresistance >70% strength retention sesudah 3
bulan expose baik untuk Tensile Strength Retention
dengan method pengujian ISO 10319, maupun unt
uk
Puncture Strength Retention dengan method pengujian
ISO 12236.

(c) Karena terbentuknya Leachate seperti pada


TPA
sampah, maka geotextile harus mempunyai chemica
l
resistance yang baik, tidak terpengaruh akibat
asam,
alkali dan zat kimia dalam rentang pH 2 13.
Dan
tidak mengalami hidrolisis pada kondisi iklim tropis.

(d) Setiap roll geotekstil yang dikirimkan ke lapangan, harus


dilengkapi data merk dan tipe yang tertera jelas p
ada
pembungkus luar. Data merk dan tipe harus
tercetak
pula secara teratur sepanjang lembaran geotextil
e
untuk pemeriksaan visual.

91
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENG
AH

3. Penyimpanan dan Pemasangan


(a) Geotekstil yang dikirim ke lapangan harus dengan
pembungkus untuk melindungi material tersebut
terutama dari sinar matahari. Penyimpanan dan
pemasangan gulungan geotekstil tersebut tidak b
oleh
mengakibatkan kerusakan fisik.

(b) Geotekstil dipasang sesuai dengan


rekomendasi/petunjuk yang dikeluarkan pabrik, da
n
harus dipasang pada lokasi seperti yang dicantumka
n
pada gambar rencana atau atas petunjuk Engineer.

(c) Penyambungan geotekstil yang overlap harus t e p a t ,


baik lebar maupun posisinya agar geotekstil dapat
berfungsi selama waktu pelaksanaan
No Data Teknis Test Method Satuan Nilai Keterangan
1 Weight ASTM D5261/ISO 986 gr/m2 500 Minimal
2 Tensile properties by wide strip method
MD/CD ASTM D4595 / ISO KN/m 14.8 Minimal
Elongation MD/CD 10319 % 80 Minimal
3 Grab Breaking Load and Elongation
MD/CD KN 1.22 Minimal
ASTM D4632
Elongation MD/CD % 80 Minimal
4 Trapezoidal Tearing Strength
dan selama
umur rencana dari struktur. Alternatif lain dari over
lap
dapat dilakukan dengan cara menjahit dengan
menggunakan mesin jahit ketik ganda portabel.

(d) Penyambungan geotekstil dengan cara menjahit h


arus
dengan jahitan ganda, dengan jarak 50 mm
sampai
dengan 100 mm dari tepi lembaran geotekstil y
ang
disambung. Sambungan diusahakan sesedikit
mungkin dan harus dengan persetujuan dari Engineer.

(e) Penempatan material timbunan setelah pengge


laran
geotekstil harus dilakukan dengan baik sehingga
geotekstil tidak mengalami beban melebihi
tegangan ijinnya. Kerusakan geotekstil selama
penempatan material timbunan harus diperbai
ki atas
petunjuk Engineer.
4. Sifat-Sifat Mekanik dan Hidrolik
Geotekstil harus memenuhi atau melampaui semua
persyaratan seperti yang tersebut di bawah ini
melalui
metoda pengujian yang sama :

92
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

MD/CD ASTM D4533 N 550 Minimal


5 Static Puncture Resistence
ASTM D6241 / ISO
Puncture Resistence, Fp 12236 N 2480
Minimal
6 Water permeability of geotextiles by permittivity
Permittivity ASTM D4491 S-1 0.95 Minimal
ASTM D5199 / ISO
7 Nominal Thickness 9863 mm 4
Minimal

Pembuatan material geotextile non woven sesuai dengan IS


O
9001. Dengan frekuensi tes yang tinggi di laboratorium
sesuai
standar manajemen kualitas ISO 9001.
5 . Pengawasan Kualitas
Kontraktor harus mencatat dengan baik setiap lembar
geotekstil yang terpasang, lokasi pe
masangan, tanggal
penggelaran, waktu mulai dan selesai, dan ukuran geoteksti
l
yang terpasang. Pencatatan juga mencakup
penyambungan lembaran geotekstil.
6 . Metoda Pengukuran
Lembaran geotekstil diukur dalam meter persegi untuk tia
p
luas areal yang dipasang.

15.3 Urugan Batu Bulat (Gravel)


15.3.1 Umum
Batu yang dipergunakan adalah batu kali yang bulat, keras, tidak porous,
bukan batu pecah, bersih dari sedimen dan dengan ukuran 3/5 dan 5/7.
15.3.2 Prosedur Pemasangan
a) Batu bulat (gravel) yang diperoleh atau diambil dari sungai dengan
ukuran 3/5 dan 5/7, harus dalam kondisi bersih dari sedimen dengan
mencuci terlebih dahulu.
b) Batu bulat (gravel) tidak boleh bertekstur kasar atau pec
ah,
dikarenakan dapat merusak lapisan geomembran dan geotekstile.
c) Penghamparan batu bulat (gravel) dengan menggunakan alat berat
maupun sejenisnya harus hati-hati, jangan sampai merusak lapisa
n
geomembran dan geotekstile.
d) Apabila terjadi kerusakan lapisan geomembran dan geotekstil
e
akibat kelalaian dari penyedia jasa, maka di wajibkan penyedia jasa
harus memperbaiki kembali kerusakan tersebut sesuaidengan
spesifikasi pemasangan geomembran dan geotekstile.
93
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

16. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


16.1 Proyek Konstruksi
Proyek adalah sebuah kata yang sering digunakan
untuk sebuah pekerjaan didalam sebuah program kegiatan,
akan tetapi kata ini mempunyai arti dimana sebuah
pekerjaan besar yang berkemungkinan besar tidak akan
terulang kembali pada jangka
waktu tertentu dimasa yang
akan dating. Setiap proyek harus memiliki start dan finish yan
g
jelas, sekumpulan aktivitas yang berurutan diantara dua
kejadian itu, berikut adanya suatu
sasaran tertentu. Suatu
proyek adalah suatu usaha sementara yang
dilaksanakan
untuk menghasilkan suatu produk atau jasa yang unik. Setia
p
proyek memiliki tanggal mulai dan selesai yang tertent u.
Unik
diartikan bahwa produk atau jasa yang dihasilkan adalah
berbeda dari produk atau jasa sejenis lainnya. Tidak ada
dua
proyek yang 100% sama (Evha, 2010).
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan yang
sifatnya hanya dilakukan satu kali. Pada
umumnya proyek
konstruksi memiliki jangka waktu yang pendek. Didalam
rangkaian kegiatan proyek kontstruksi tersebut, biasanya
terdapat suatu proses yang berfungsi untuk mengolah su
mber
daya proyek sehingga dapat menjadi suatu hasil kegiatan
yang menghasilkan sebuah bangunan (Soeharto, 2001).

Sedangkan menurut Gould (2002) mendefinisikan proyek


konstruksi sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk
mendirikan suatu bangunan yang membutuhkan sumber daya
baik biaya, tenaga kerja, material, dan peralatan.
Proyek konstruksi dilakukan secara detail dan tidak berulang

Dari pengertian dan batasan di atas, maka dapat


dijabarkan beberapa karakteristik proyek sebagai berikut :
1. Waktu proyek terbatas, artinya jangka waktu, waktu m
ulai
(awal proyek dan waktu finish (akhir proyek) sudah terte nt
u.

2. Hasilnya tidak berulang, artinya produk suatu proyek


hanya
sekali, bukan produk rutin/berulang (Pabrikasi).

3. Mempunyai tahapan kegiatan-kegiatan berbeda-beda,


dengan pola di awal sedikit, berkembang makin banyak,
menurun dan berhenti.

4. Intensitas kegiatan-kegiatan (tahapan,


perencanaan, tahapan perancangan da
n
pelaksanaan).

94
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

5. Banyak ragam kegiatan dan memerlukan klasifikasi tenaga


beragam pula.

6. Lahan/lokasi proyek tertentu, artinya luasan dan


tem pat proyek sudah ditetapkan, tidakdapat
sembarang t empa t.

7. Spesifikasi proyek tertentu, artinya persyaratan yang


berkaitan dengan bahan, alat, ten aga dan metoda
pelaksanaannya yang sudah ditetapkan dan harus
memenuhi prosedur persyaratan tersebut.

16.2. Faktor-faktor pen yeb ab kec elakaan konstruksi


Kasus-kasus kecelakaan yang terjadi di luar negeri
umumnya adalah metode pelaksanaan konstruksi yang kuran
g
t e p a t mengakibatkan gedung runtuh yang mene
waskan
banyak korban.

Sedangkan kasus yang terjadi di Indonesia umumnya terjadi


karena lemah nya pengawasan pada proyek konstruksi. Kurang
disiplin nya tenaga kerja dalam
mematuhi ketentuan K3dan
kurang memadainya kuantitas dan kualitas alat perlindungan
diri di proyek konstruksi.

Dari kasus-kasus diatas ada beberapa faktor


penyebab terjadinya kecelakaan kerja konstruksi ad
alah
akibat dari beberapa hal berikut :
1. Tidak dilibatkannya tenaga ahli K3 konstruksi dan
penggunaan metode pelaksanaan yang kurang t e p a t .
2. Lemahnya pengawasan K3
3. Kurang memadainya kualitas dan kuantitas ketersediaan
peralatanpelindung diri
4. Kurang disiplinnya para tenaga kerja dalam mematuhi
ketentuan mengenai K3.

16 . 3 . Perlengkapan, Peralatan Kese hatan dan Keselamatan Kerja


1. Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri selanjutnya disebut APD adalah
seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja
untuk melindungi seluruh dan atau sebagian tubuh d
ari
adanya kemungkinan potensi bahaya dan kecelakaan kerj
a
(Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia NomorPer.08/MEN/VII/2010).

95
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

1. Pakaian Kerja

Gambar : Pakaian Kerja


Tujuan pemakaian pakaian
kerja adalah
melindungi
badan manusia terhadap pengaruh-pengaruh
yang
kurang sehat atau yang bisa melukai badan.
Mengingat karakter lokasi proyek konstruksi yang pada
umumnya mencerminkan kondisi yang keras maka
selayakya pakaian kerja yang digunakan juga
tidak
sama dengan pakaian yang dikenakan oleh karyawan
yang bekerja di kantor.
Perusahaan yang mengerti
betul masalah ini umumnya menyediakan sebanyak
3
pasang dalam setiap tahunnya.

2. Sepatu Kerja

Gambar : Sepatu Kerja

Sepatu kerja (safety shoes)merupakan perlindungan


terhadap kaki. Setiap pekerja konstruksi perlu
memakai sepatu dengan sol yang tebal supaya
bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka ole
h
benda-benda tajam atau kemasukan oleh kotoran dari
bagian bawah. Bagian muka sepatu harus cukup kera
s
supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda
dari
atas.

96
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

3. Kacamata Kerja
Gambar : Kacamata Kerja

Kacamata pengaman digunakan untuk melidungi


mata dari debu kayu, batu, atau serpihbesi yang
beterbangan di tiup angin. Mengingat partikel-
partikel debu berukuran sangat kecil yang
terkadang tidak terlihat oleh ma ta. Oleh
karenanya mata perlu diberikan perlindungan.
Biasanya pekerjaan yang membutuhkan kacamata
adalah mengelas.

4. Sarung Tangan

Gambar : Sarung Tangan

Sarung tangan sangat diperlukan untuk


beberapa
jenis pekerjaan. Tujuan utama penggunaan sarung
tangan adalah melindungi tangan dari benda-
benda
keras dan tajam selama menjalankan kegiatannya.
Salah satu kegiatan yang memerlukan sarungtangan
adalah mengangkat besi tulangan, kayu.
Pekerjaan
yang sifatnya berulang seperti mendorong gerobak c
or
secara terus-menerus dapat mengakibatkan
lecet
pada tangan yang
bersentuhan dengan besi pada
gerobak.

97
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

5. Helm
Gambar : Helm

Helm (helmet) sangat penting digunakan sebagai


pelindung kepala, dan sudah merupakan keharusan
bagi setiap pekerja konstruksi untuk
menggunakannya dengan benar sesuai peraturan.
Helm ini digunakan untuk melindungi kepala dari
bahaya yang berasal dari atas, misalnya saja ada
barang, baik peralatan atau material konstruksi
yang
jatuh dari atas. Memang, sering kita lihat kedisiplin
an
para pekerja untuk menggunakannya masih rendah yang
tentunya dapat membahayakan diri sendiri.

6. Sabuk Pengaman

Gambar : Sabuk Pengaman

Sudah selayaknya bagi pekerja yang melaksanakan


kegiatannya pada ketinggian tertentu atau pada posisi
yang membahayakan wajib mengenakan tali
pengaman atau safety belt. Fungsi utama tali
pengaman ini adalah menjaga seorang pekerja
dari
kecelakaan kerja pada saat bekerja, misalnya saja
kegiatan erection baja pada bangunan tower.

98
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

7. Penutup Telinga
Gambar : Penu t up Telinga

Alat ini digunakan untuk melindungi telinga dari


bunyi-
bunyi yang dikeluarkan olehmesin yang memiliki volume
suara yang cukup keras dan bising. Terkadang
efeknya buat jangka panjang, bila setiap hari
mendengar suara bising tanpa penutup telinga ini.

8. Masker

Gambar : Ma sker
Pelidung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk
pekerja konstruksi mengingat kondisi lokasi
proyek itu
sediri. Berbagai material konstruksiberukuran besar
sampai sangat kecil yang merupakan sisa dari suatu
kegiatan, misalnya serbuk kayu sisa dari kegiatan
memotong, mengamplas, mengerut kayu.

9. Tangga

Gambar : Tangga

99
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

Tangga merupakan alat untuk memanjat


yang
umum
digunakan. Pemilihan dan penempatan alat ini untuk
mecapai ketinggian tertentu dalam posisi aman
harus menjadi pertimbangan utama.
10. P3K

Gambar : P3K

Apabila terjadi kecelakaan kerja baik yang


bersifat
ringan ataupun berat pada pekerja konstruksi, suda
h
seharusnya dilakukan pertolongan pertama di
proyek.
Untuk itu,
pelaksana konstruksi wajib
menyediakan
obat-obatan yang digunakan untuk pertolongan
pertama.
Demikianlah peralatan standar K3 di proyek yang
memang harus ada dan disediakan oleh kontraktor
dan harusnya sudah menjadi kewajiban. Tindakan
preventif jauh lebih baik untuk mengurangi resiko
kecelakaan.

Pasal - 17
Pekerjaan Akhir

Pekerjaan akhir yang berupa pembersihan akhir, dilaksanakan setelah seluru


h
pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik selesai.Kontraktor diwajibkan membuan
g
semua sisa-sisa bahan yang tidak terpakai dari lokasi proyek, yang diakibatkan oleh
adanya pelaksanaan konstruksi fisik.

Pasal - 18
Dokumentasi Dan Adiministrasi
Apabila jangka waktu masa pemeliharaan pekerjaan sudah berakhir,
pekerjaan akan diterima apabila sudah memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai
berikut :
- Pihak Penyedia Jasa sudah melaksanakan perbaikan-perbaikan terhadap
kerusakan/cacatcacat dari kategori bencana alam, dan hasil perbaikan oleh
pelaksana tersebut sudah dapat diterima oleh Pemberi Pekerjaan dalam
kualitas/kuantitas sesuai dengan syarat-syarat teknis.

100
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKI
MAN
PROPINSI SULAWESI TENGA
H

- PIHAK PENYEDIA JASA sudah mengajukan permohonan tertulis sebelum


tanggal ditetapkan penyerahan II (KEDUA) pekerjaan kepada Pemberi Tugas,
untuk diadakan pemeriksaan terhadap hasil perintah tertulis atau dan pada
buku harian sewaktu penyerahan (PERTAMA) pekerjaan.
- Penyedia Jasa harus membuat dokumentasi pekerjaan mulai tahap 0 %, 50
%
dan 100 % dengan pengambilan gambar pada sudut pandang yang sama,
termasuk tahapan pekerjaan yang penting. Dokumentasi ini dibuat 3 (tiga) set
dan disusun rapi pada album sesuai urutan dan jenis pekerjaan.
- As Built Drawing (gambar bangunan terpasang/jadi) dan laporan
kemajuan pekerjaan (harian, mingguan dan bulanan), serta back up data harus
dipersiapkan pada saat penyerahan pertama pekerjaan untuk keperluan
pemeriksaan dan harus sudah diserahkan pada Direksi pada saat penyerahan
kedua, sebanyak 3 rangkap (1 asli + 2 salinan), semuanya atas biaya Penyedia
Jasa.
- Penyedia Jasa wajib memiliki Kontrak (SPK) lengkap dengan gambar
bestek,perubahan Kontrak (Amandemen) lengkap dengan Gambar Perubahan
(Bila Ada).

Pasal - 19
Penutup

19.1 Perbaikan terhadap kerusakan


Jika terjadi ketidaksesuaian dengan persyaratan atau ketentuan-ketentuan
yang telah ditetapkan, dan terjadinya kerusakan atau cacat baik yang
terlihat maupun yang tersembunyi, penyedia barang/jasa diwajibkan untuk
memperbaiki dan menyempurnakan sesuai peralatan teknis yang ada dan
sesuai petunjuk direksi.
Segala biaya dan resiko yang timbul akibat seperti hal diatas menjad
i
tanggung jawab penyedia barang/jasa.

19.2 Hubungan Masyarakat


Penyedia barang/jasa diwajibkan menjalin hubungan baik dengan
masyarakat, tokoh dan aparat setempat.
Penyedia barang/jasa dapat menjamin hubungan imbal balik yang saling
menguntungkan dengan masyarakat setempat, seperti sewa tanah dan
rumah untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan, pembelian material
seperti pasir, batu, kayu dan lain-lain.
Segala akibat dan resiko yang timbul dalam hubungan masyarakat adalah
tanggung jawab penyedia barang/jasa.
101