Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

STANDAR UMUM AUDIT

Disusun oleh Kelompok 3:

Arini
Yogi Hady Afrizal (0010.04.21.2016)

PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
PENDAHULUAN
Dimulai dari sebuah perusahaan yang baru saja dibentuk, dimiliki oleh

beberapa pemegang saham (Stockholder). Perusahaan ini mulai beroperasi untuk

memperoleh laba, dan secara terus menerus dijaga kelangsungan dan keberadaannya

oleh pimpinan perusahaan dan para manajer yang duduk di bagian manajemen

perusahaan (going concern). Dengan keberadaan bagian-bagian yang disebut

sebagai divisi atau departemen, perusahaan ini pun semakin maju berkelangsungan,

bahkan secara organisasi pun terarah teratur.


Tetapi setelah perusahaan ini semakin besar (mempunyai jumlah

pekerja/employee yang semakin banyak, jumlah klien/pelanggan juga semakin

banyak, kegiatan transaksi keuangan juga semakin banyak, lalu berlanjut kepada

semakin banyaknya cabang dibuka), maka perusahaan akan membutuhkan suatu

cara dengan media apa yang membantu perusahaan baik dari sisi operasional

maupun manajerial untuk mengatur, mengendalikan dan mengawasi jalannya

kegiatan operasional dan transaksi keuangan/event yang muncul. Bahkan sangat

mungkin sekali membutuhkan bantuan sistem informasi yang komprehensif dan

memenuhi kebutuhkan perusahaan.


Perusahaan memerlukan manajemen yang bagus, guna memungkin

terjadinya peningkatan keuntungan yang diinginkan para pemegang saham.


Untuk itu perusahaan akan membutuhkan perbaikan (improvement) dan

pembetulan (correction) , di sini manajemen harus memiliki kesadaran penuh

berkeinginan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perusahaan secara baik,


aman dan teratur. Untuk itu dibutuhkan audit, suatu pekerjaan yang mengacu

kepada prinsip-prinsip dan praktek dasar yang baku guna memperoleh informasi

yang dapat membantu perusahaan dalam memperbaiki proses operasional maupun

secara manajerial, begitu pun juga proses wewenang dan alur kerja yang ada di

perusahaan, juga melakukan koreksi-koreksi yang mengarah kepada panduan baku

bidang yang diaudit. Untuk dapat melakukan suatu audit dibutuhkan standar atau

panduan atau kriteria khusus yang diperlukan untuk pelaksanaannya.

Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh

Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar

pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar auditing

merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar auditing terdiri

atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA).

Dengan demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar

yang tercantum di dalam standar auditing. Di Amerika Serikat, standar auditing

semacam ini disebut Generally Accepted Auditing Standards (GAAS) yang

dikeluarkan oleh the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

PEMBAHASAN

PENGERTIAN AUDITING
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti

tentang informasi yang dapat di ukur mengenai suatu entitas ekonomi yang

dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan

melaporkan kesesuaian informasi termasuk dengan kriteria-kriteria yang telah

ditetapkan (Arens Loebbecke, 2011)

Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak

yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh pihak

manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya,

dengan tujuan untuk dapat memberikan pedapat mengenai laporan kewajaran

laporan keuangan tersebut (Agoes , 2011).

Proses yang sistematik dengan tujuan mengevaluasi bukti mengenai

tindakan dan kejadian ekonomi untuk memastikan tingkat kesesuaian antara

penugasan dan kriteria yang telah ditetapkan, hasil dari penugasan tersebut

dikomunikasikan kepada pihak pengguna yang berkepentingan (William F. Meisser,

Jr, 2003)

Secara umum pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa audit adalah

proses secara sistematis yang dilakukan oleh orang berkompeten dan independen

dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan

pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.


Dalam melaksanakan audit faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah:

1. Dibutuhkan informasi yang dapat diukur dan sejumlah kriteria (standar) yang dapat

digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi informasi tersebut.


2. Penetapan intetitas ekonomi dan periode waktu yang di audit harus jelas untuk

menentukan lingkup tanggung jawab auditor.


3. Bahan bukti harus diperoleh dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk

memenuhi tujuan audit.

Kemampuan auditor memahami kriteria yang di gunakan serta sikap

independen dalam mengumpulkan bahan bukti yang diperlukan untuk mendukung

kesimpulan yang akan diambilnya.

STANDAR AUDIT

1. International Federation Of Accountant (IFAC)

IFAC adalah organisasi yang membidangi standar-standar akuntansi,

auditing, kode etik, dan kendali mutu pada tatanan global (Tuanakotta, 2013). IFAC
didirikan untuk memperkuat profesi akuntansi di seluruh dunia dengan

mengembangkan standar internasional yang berkualitas tinggi untuk bidang audit

dan asurans, akuntansi sektor publik, etika, dan pendidikan bagi akuntan profesional

dan mendukung adopsi dan penggunaannya. IFAC telah membentuk sejumlah

badan dan komite untuk mengembangkan standar dan pedoman internasional, salah

satunya adalah International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB).

2. International Auditing And Assurance Standards Board (IAASB)

IAASB merupakan badan penetapan standar independen yang melayani

kepentingan umum dengan menetapkan standar internasional berkualitas tinggi

untuk bidang audit, pengendalian mutu, review, jasa asurans lain, dan jasa lain yang

terkait. Guna meningkatkan kualitas dan keseragaman praktek di seluruh dunia dan

memperkuat kepercayaan publik dalam profesi audit dan asuransi secara global,

IAASB menghasilkan beberapa standar, antara lain: (1) International Standards on

Auditing (ISAs), (2) International Standards on Review Engagements (ISREs), (3)

International Standards on Assurance Engagements (ISAEs), (4) International

Standards on Related Services (ISRSs), (5) International Standard on Quality

Control 1 (ISQC 1).

3. International Standards on Auditing (ISA)


Keberadaan ISA sebagai standar yang digunakan dalam audit atas informasi

keuangan historis sudah cukup lama, yakni sejak tahun 1991. Namun, pada tahun

2004 IAASB memulai program yang komprehensif untuk meningkatkan kejelasan

atas ISA yang dikenal sebagai Clarity Project. Dalam program ini IAASB

menerapkan konvensi baru mengenai penyusunan draft pada seluruh ISA, sebagai

bagian dari revisi substantif maupun penyusunan draf ulang secara terbatas. Pada

tanggal 27 Februari 2009, IAASB mengumumkan telah diselesaikannya Clarity

Project tersebut. Dengan demikian, ISA yang terbit pasca selesainya Clarity Project

tampil sesuai dengan konvensi yang baru. Hasil dari Clarity Project yakni adanya

36 ISA baru yang sudah dimuktahirkan dan diklarifikasi dan 1 ISQC yang sudah

diklarifikasi (Tuanakotta, 2013).

4. Standar Audit (SA) berbasis International Standard on Auditing (ISA)

Standar Audit (SA) mengatur tentang standar yang digunakan oleh praktisi

saat melaksanakan kegiatan audit atas laporan keuangan historis. Dilakukannya

adopsi standar internasional yang ditetapkan oleh IFAC membuat standar audit pada

SPAP 31 Maret 2011 yang selama ini digunakan dengan berbasis US GAAS,

berubah menjadi SPAP berbasis International Standard on Auditing (ISA). SPAP

berbasis standar internasional, khususnya standar auditing untuk emiten sudah

berlaku efektif untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2013,
dan 1 Januari 2014 untuk entitas selain emiten. Berbeda dengan standar audit

sebelumnya, SPAP berbasis ISA tidak membagi standar audit ke dalam tiga kategori

yakni, Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan, dan Standar Pelaporan. Namun

standar-standar yang disajikan dalam SPAP berbasis ISA sudah mencerminkan

proses pengerjaan auditing yang dibagi kedalam enam bagian dan 36 standar

(Tuanakotta, 2013).

5. Pernyataan Standar Auditing (PSA)

PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang

tercantum di dalam standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman

utama yang harus diikuti oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan

audit. Kepatuhan terhadap PSA yang diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi

seluruh anggota IAPI. Termasuk di dalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan

Standar Auditng (IPSA), yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh

IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA. Dengan

demikian, IPSA memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam

penafsiran ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan

perlausan lebih lanjut berbagai ketentuan dalam PSA. Tafsiran resmi ini bersifat

mengikat bagi seluruh anggota IAPI, sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.


STANDAR UMUM

Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengann persyaratan auditor dan

mutu pekerjaannya (Standar Profesional Akuntan Publik,201:2011). Standar umum

berhubungan dengan kualifikaasi auditor dan kualitas pekerjaan auditor. Standar

umum terdiri atas tiga bagian :

a. Standar umum pertama : Pelatihan dan Keahlian Auditor Independen

Standar umum pertama berbunyi : Audit harus dilaksanakan oleh seorang

atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai

auditor. (Standar Profesional Akuntan Publik,210:2011)

Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapat,

auditor harus senantiasa bertindak sebagai ahli dalam bidang akuntansi dan bidang

auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan formalnya,

yang diperluas melalui pengalaman-pengalaman selanjutnya dalam praktik audit.

Perlu disadari bahwa yang dimaksudkan dengan pelatihan seorang professional

mencakup pula kesadarannya untuk secara terus-menerus mengikuti

perkembangan yang terjadi dalam bisnis dan profesinya. Dalam menjalankan

praktiknya sehari-hari, auditor independen menghadapi pertimbangan yang

dilakukan oleh manajemen perusahaan yang diminta untuk melakukan audit dan

memberikan pendapatnya atas laporan keuangan suatu perusahaan karena melalui


pendidikan, pelatihan, dan pengalamannya, ia menjadi orang yang ahli dalam

bidang akuntansi dan auditing (Standar Profesional Akuntansi, 210:2011)

Asisten yunior yang baru masuk ke dalam karir auditing harus

memperoleh pengalaman profesionalnya dengan supervise yang memadai dan

review atas pekerjaannya dari atasannya yang lebih berpengalaman.

b. Standar umum kedua : Independensi

Standar umum kedua berbunyi : Dalam semua hal yang berhubungan

dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh

auditor. (Standar Profesional Akuntan Publik,220:2011)

Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah

dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum

(dibedakan dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Auditor mengakui

kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan,

namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan (paling

tidak sebagian) atas laporan auditor independen. Untuk diakui pihak lain sebagai

orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan

tidak mempunyai suatu kepentingan dengan kliennya, apakah manajemen perusahaan

atau pemilik perusahaan. Auditor independen tidak hanya berkewajiban

mempertahankan fakta bahwa ia independen, namun ia harus pula menhindari

keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independensinya.


Auditor harus mengelola praktiknya dalam semangat persepsi independensi dan

aturan yang ditetapkan untuk mencapai derajat indenpedensi dalam melaksanakan

pekerjaannya. (Standar Profesional Akuntan Publik,220:2011)

c. Standar umum ketiga : Penggunaan Kemahiran Profesional dengan Cermat

dan Saksama dalam Pelaksanaan Pekerjaan Auditor

Standar umum ketiga berbunyi : Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan

laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran professionalnya dengan ceramat

dan saksama. (Standar Profesional Akuntan Publik,230:2011)

Penggunaan kemahiran professional dengan kecermatan dan kesaksamaan

menekankan tanggung jawab setiap professional yang bekerja dalam organisasi

auditor independen untuk mengamati standar pekerjaan lapangan dan standar

pelaporan. Para auditor harus ditugasi dan disupervisi sesuai dengan tingkat

pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan sedemikian rupa sehingga mereka dapat

mengevaluasi bukti audit yang mereka periksa (Standar Profesional Akuntan

Publik,230:2011).

Kecermatan dan keseksamaan menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan

bagaimana kesempurnaan pekerjaannya. Misalkan, kecermatan dan keseksamaan

dalam hal kertas kerja audit mengharuskan bahwa isinya cukup menunjang pendapat

yang diberikan oleh auditor dan penyajiannya harus mengikuti pedoman yang

tercantum dalam standar auditing.


TANGGUNG JAWAB DAN FUNGSI AUDITOR INDEPENDEN

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 110 (PSA No. 02)

mengatur mengenai tanggung jawab dan fungsi auditor independen berkaitan dengan

audit atas laporan keuangan perusahaan.

Dalam paragraf 01 diatur bahwa tujuan audit atas laporan keuangan oleh

auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang

kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan

ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di

Indonesia. Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan

pendapatnya, atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak

memberikan pendapat. Baik dalam hal auditor menyatakan pendapat maupun

menyatakan tidak memberikan pendapat, ia harus menyatakan apakah auditnya telah

dilaksanakan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan

Indonesia.

Selanjutnya, dalam paragraf 02 diatur bahwa auditor bertanggung jawab untuk

merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai

tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan

oleh kekeliruan atau kecurangan. Oleh karena sifat bukti audit dan karakteristik
kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, namun bukan

mutlak bahwa salah saji material terdeteksi. Auditor tidak bertanggung jawab

untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh keyakinan bahwa

salah saji terdeteksi, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang

tidak material terhadap laporan keuangan.

Paragraf 03 menjelaskan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung

jawab manajemen. Tanggung jawab auditor adalah untuk menyatakan pendapat atas

laporan keuangan. Manajemen bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan

akuntansi yang sehat dan untuk membangun dan memelihara pengendalian intern

yang akan, di antaranya, mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi

(termasuk peristiwa dan kondisi) yang konsisten dengan asersi manajemen yang

tercantum dalam laporan keuangan. Transaksi entitas dan aktiva, utang, dan ekuitas

yang terkait adalah berada dalam pengetahuan dan pengendalian langsung

manajemen. Pengetahuan auditor tentang masalah dan pengendalian intern tersebut

terbatas pada yang diperolehnya melalui audit. Oleh karena itu, penyajian secara

wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia merupakan

bagian yang tersirat dan terpadu dalam tanggung jawab manajemen. Auditor

independen dapat memberikan saran tentang bentuk dan isi laporan keuangan atau

membuat draft laporan keuangan, seluruhnya atau sebagian, berdasarkan informasi

dari manajemen dalam pelaksanaan audit. Namun, tanggung jawab auditor atas
laporan keuangan auditan terbatas pada pernyataan pendapatnya atas laporan

keuangan tersebut.

Paragraf 04 mengatur bahwa persyaratan profesional yang dituntut dari

auditor independen adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman

berpraktik sebagai auditor independen. Mereka tidak termasuk orang yang terlatih

untuk atau berkeahlian dalam profesi atau jabatan lain. Sebagai contoh, dalam hal

pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan, auditor tidak bertindak sebagai

seorang ahli penilai, penaksir atau pengenal barang. Begitu pula, meskipun auditor

mengetahui hukum komersial secara garis besar, ia tidak dapat bertindak dalam

kapasitas sebagai seorang penasihat hukum dan ia semestinya menggantungkan diri

pada nasihat dari penasihat hukum dalam semua hal yang berkaitan dengan hukum.

Selanjutnya, dalam paragraf 05 diatur bahwa dalam mengamati standar

auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, auditor independen harus

menggunakan pertimbangannya dalam menentukan prosedur audit yang diperlukan

sesuai dengan keadaan, sebagai basis memadai bagi pendapatnya. Pertimbangannya

harus merupakan pertimbangan berbasis informasi dari seorang profesional yang ahli.

Paragraf 06 mengatur bahwa auditor independen juga bertanggung jawab

terhadap profesinya, tanggung jawab untuk mematuhi standar yang diterima oleh para

praktisi rekan seprofesinya. Dalam mengakui pentingnya kepatuhan tersebut, Ikatan


Akuntan Indonesia telah menerapkan aturan yang mendukung standar tersebut dan

membuat basis penegakan kepatuhan tersebut, sebagai bagian dari Kode Etik Ikatan

Akuntan Indonesia yang mencakup Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik.

TANGGUNG JAWAB AUDITOR

The Auditing Practice Committee, yang merupakan cikal bakal dari Auditing

Practices Board, ditahun 1980, memberikan ringkasan (summary) tanggung jawab

auditor:

1. Perencanaan, Pengendalian dan Pencatatan. Auditor perlu merencanakan,

mengendalikan dan mencatat pekerjannya.


2. Sistem Akuntansi. Auditor harus mengetahui dengan pasti sistem pencatatan

dan pemrosesan transaksi dan menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan

laporan keuangan.
3. Bukti Audit. Auditor akan memperoleh bukti audit yang relevan dan reliable

untuk memberikan kesimpulan rasional.


4. Pengendalian Intern. Bila auditor berharap untuk menempatkan kepercayaan

pada pengendalian internal, hendaknya memastikan dan mengevaluasi

pengendalian itu dan melakukan compliance test.


5. Meninjau Ulang Laporan Keuangan yang Relevan. Auditor melaksanakan tinjau

ulang laporan keuangan yang relevan seperlunya, dalam hubungannya dengan

kesimpulan yang diambil berdasarkan bukti audit lain yang didapat, dan untuk

memberi dasar rasional atas pendapat mengenai laporan keuangan.

INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK


Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak

dikendalikan oleh orang lain, tidak tergantung pada orang lain. Independensi dapat

juga diartikan adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta

dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak memihak dalam diri auditor dalam

merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Dalam melaksanakan proses audit, akuntan publik memperoleh kepercayaan

dari klien dan para pemakai laporan keuangan untuk membuktikan kewajaran laporan

keuangan yang disusun dan disajikan oleh klien. Oleh karena itu, dalam memberikan

pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa, auditor harus

bersikap independen terhadap kepentingan klien, para pemakai laporan keuangan,

maupun terhadap kepentingan akuntan publik itu sendiri.

Supriyono (1988) membuat kesimpulan mengenai pentingnya independensi

akuntan publik sebagai berikut :

1) Independensi merupakan syarat yang sangat penting bagi profesi akuntan

publik untuk memulai kewajaran informasi yang disajikan oleh manajemen

kepada pemakai informasi.

2) Independensi diperlukan oleh akuntan publik untuk memperoleh

kepercayaan dari klien dan masyarakaat, khususnya para pemakai laporan

keuangan.
3) Independensi diperoleh agar dapat menambah kredibilitas laporan

keuangan yang disajikan oleh manajemen.

4) Jika akuntan publik tidak independen maka pendapat yang dia berikan

tidak mempunyai arti atau tidak mempunyai nilai.

5) Independensi merupakan martabat penting akuntan publik yang secara

berkesinambungan perlu dipertahankan.

Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas auditnya, seorang auditor tidak

hanya dituntut untuk memiliki keahlian saja, tetapi juga dituntut untuk bersikap

independen. Walaupun seorang auditor mempunyai keahlian tinggi, tetapi dia tidak

independen, maka pengguna laporan keuangan tidak yakin bahwa informasi yang

disajikan itu kredibel.

Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan masyarakat

pada profesi akuntan publik dan merupakan salah satu faktor yang sangat penting

untuk menilai mutu jasa audit. Independensi akuntan publik mencakup dua aspek,

yaitu :

1. Independensi sikap mental

Independensi sikap mental berarti adanya kejujuran di dalam diri akuntan

dalam mempertimbangkan fakta-fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif tidak

memihak di dalam diri akuntan dalam menyatakan pendapatnya.

2. Independensi penampilan.
Independensi penampilan berarti adanya kesan masyarakat bahwa akuntan

publik bertindak independen sehingga akuntan publik harus menghindari faktor-

faktor yang dapat mengakibatkan masyarakat meragukan kebebasannya.

Independensi penampilan berhubungan dengan persepsi masyarakat terhadap

independensi akuntan publik.

3. Independensi praktisi (practitioner independence)

Selain independensi sikap mental dan independensi penampilan, Mautz

mengemukakan bahwa independensi akuntan publik juga meliputi independensi

praktisi (practitioner independence) dan independensi profesi (profession

independence). Independensi praktisi berhubungan dengan kemampuan praktisi

secara individual untuk mempertahankan sikap yang wajar atau tidak memihak

dalam perencanaan program, pelaksanaan pekerjaan verifikasi, dan penyusunan

laporan hasil pemeriksaan. Independensi ini mencakup tiga dimensi, yaitu

independensi penyusunan progran, independensi investigatif, dan independensi

pelaporan.

4. Independensi profesi (profession independence)

Independensi profesi berhubungan dengan kesan masyarakat terhadap

profesi akuntan publik.

INTEGRITAS DAN OBJEKTIVITAS


Kode etik Akuntan Indonesia pasal 1 ayat 2 menyebutkan bahwa Setiap

anggota harus mempertahankan integritas dan objektifitas dalam melaksanakan

tugasnya. Secara lebih khusus untuk profesi akuntan publik, Kode Etik Akuntan

Indonesia pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa seorang akuntan publik harus

mempertahankan sikap independen. Ia harus bebas dari semua kepentingan yang bisa

dipandang tidak sesuai dengan integritas maupun objektivitasnya, tanpa tergantung

efek sebenarnya dari kepentingan itu.

Selanjutnya dinyatakan dalam Peraturan No. 1 bahwa setiap anggota harus

mempertahankan integritas dan objektivitas dalam melakukan tugasnya. Dengan

mempertahankan integritas ia akan bertindak jujur, tegas, tanpa pretensi. Dengan

mempertahankan objektivitas ia akan bertindak adil, tanpa dipengaruhi tekanan atau

permintaan pihak tertentu atau kepentingan pribadi.

Objektivitas berarti tidak memihak dalam melaksanakan semua jasa. Sebagai

contoh, asumsikan seorang auditor yakin bahwa piutang usaha mungkin tak tertagih,

tetapi kemudian menerima pendapat manajemen tanpa mengevaluasi kolektibilitas

secara independen. Auditor telah mendelegasikan pertimbangannya dan karenanya

kehilangan objektivitas.

Carey dalam Mautz mendefinisikan independensi akuntan publik dari segi

integritas dan hubungannya dengan pendapat akuntan atas laporan

keuangan.Independensi meliputi:
1. Kepercayaan terhadap diri sendiri yang terdapat pada beberapa orang profesional.

Hal ini merupakan bagian integritas profesional.


2. Merupakan istilah penting yang mempunyai arti khusus dalam hubungannya

dengan pendapat akuntan publik atas laporan keuangan. Independensi berarti

sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak

tergantung pada orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri

auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang obyektif

tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan

pendapatnya.
REFERENSI

Tuanakott, Theodorus M, (2013), Audit Berbasis ISA IIternational Standar Audit),

Jakarta. Penerbit Salemba Empat.

Kartawijaya. Slide Auditing Keuangan.

Arens. Loebbecke, Auditing dan Jasa Assurance. (2011). Jakarta. Penerbit Salemba

Empat

Kartika Arif Lestari. Standar Auditing. http://k artik aarif.blogspot.com/2013/03/10-

standar-auditing.html. 2013

Sari.Caecilia Mesian Anggit, Rustiana, Pemetaan Penerapan Standar Audit

Berbasis Isa Pada Kantor Akuntan Publik (Kap) Di Daerah Istimewa

Yogyakarta, Modus Vol.28 (1): 19-33, 2016 Issn 0852-1875

Agoes, Sukrisno (2011). Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan

Publik. Jakarta : Salemba Empat.

William F. Messier, dan Margareth Boh. (2003). Auditing and Assurance: A

Systematic Approach (3th edition). USA : McGraw-Hill.

Agoes. Sukrisno,Ak.MM.2004. AUDITING (Pemeriksaan Akuntan). Jilid 2. Edisi

3.Jakarta:Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Sunarto,S.E.,M.M.2003.Auditing.Yogyakarta.Panduan Widjaja Tunggal,Drs.

Amin,Ak.MBA.2007.Financial Statement AUDITING.Harvarindo


http://ziajaljayo.blogspot.co.id/2011/10/independensi-auditor.html

http://zakyways.blogspot.com/2013/10/etika-dalam-auditing.html

www.gunadarma.ac.id/

http://putubudiadnyani.blogspot.co.id/2013/05/standar-auditing.html

http://arulrudianaaa.blogspot.co.id/2014/06/pengertian-independensi-akuntan

publik.html