Anda di halaman 1dari 32

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Sumber Ilmu Menurut Islam dan Sekuler.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terima kasih atas semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari
sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.
Makassar, Oktober 2016

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................
1
Daftar Isi................................................................................................................................
2
Bab I Pendahuluan.................................................................................................................
3
A. Latar Belakang
..........................................................................................................................
3
B. Rumusan Masalah
..........................................................................................................................
5
Bab II Pembahasan................................................................................................................
6
A. Pengertian dan Konsep awal ilmu
.........................................6
B. Dasar-dasar ilmu pengetahuan
.........................................9
.........................................
.........................................
C. Sumber Ilmu dalam perspektif islam
.........................................13
D. Sumber Ilmu dalam Perspektif Sekuler
.........................................24

2
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
.........................................
Bab III Penutup......................................................................................................................
30
Kesimpulan
................................................................................................................................
30
Daftar Pustaka........................................................................................................................
31

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Cukuplah Darwin yang menganggap dirinya sebagai hasil evolusi dari kera.
Karena, apabila manusia merupakan hasil evolusi dari kera, maka tentu kera itu telah
habis atau sudah punah karena berevolusi. Kera bukanlah makhluk berpikir seperti
halnya manusia. Manusia memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan hewan,
memiliki pikiran atau makhluk yang berkesadaran.1
Seringkali terbersit dalam pikiran manusia keinginannya untuk mengetahui
sesuatu yang ada di sekitarnya. Keingintahuan ini menjadikan usaha untuk mengenal
segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, baik berupa makanan, minuman, pakaian dan
yang dibutuhkan oleh manusia itu. Selanjutnya, manusia tahu akan manfaat sesuatu,
karena manusia selalu ingin tahu akan sesuatu. Patutlah manusia dianggap sebagai
mahluk yang haus akan pengetahuan.
Pada tahap pertama manusia memperoleh pengetahuan melalui pengamatan,
kemudian membeda-bedakan, diikuti upaya memilih, yang pada akhirnya melakukan
percobaan. Akan tetapi, masa percobaan ini masih bersifat trial and error, dimana
pengetahuan manusia masih diperoleh dari alam sekitar, terkadang secara kebetulan.
Seperti halnya makanan, minuman, dan pakaian semuanya bergantung pada alam.2
Terdapat pula keingintahuan seseorang yang selalu berusaha memuaskan keinginannya
lebih detil dan mendalam, tidak hanya memperhatikan kegunannya saja, tetapi
tujuannya adalah tahu yang lebih mendalam, sedapat mungkin tahu benar baik tentang

1Soetriono & Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Andi, 2007), h. 5.
2Sudarsono, Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), h. 18.

4
penyebabnya, langkah-langkah penyebabnya serta kegunaan lainnya. Inilah yang
disebut sebagai ilmu pengetahuan.3 Dengan demikian, meskipun pengetahuan itu telah
dimiliki oleh manusia, namun keingin tahuan manusia masih diselimuti dengan
berbagai kenyataan yang dihadapi, sehingga pendalaman dengan berbagai cara
ditempuh untuk lebih tahu secara rinci terhadap pengetahuannya.
Manusia senantiasa melakukan inovasi dalam rangka meningkatkan dan
mengembangkan pengetahuannya untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan
hidupnya. Dalam proses pengembangan pengetahuan tersebut, manusia melakukan
pengamatan dan memikirkan hal-hal yang sifatnya baru. Dari hasil proses berpikir itu,
selanjutnya manusia mengembangkan kebudayaan dan memberi makna terhadap
kehidupan.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwasanya manusia dalam hidupnya
mempunyai tujuan tertentu, bukan saja sekadar untuk mempertahankan hidup sebagai
makhluk fisik, lebih dari itu, manusia mengembangkan potensi pengetahuan yang
dianugerahkan kepadanya. Dengan pengetahuan yang dimiliki itulah yang
membedakan manusia dengan makhluk lain dan khas di muka bumi ini.4
Keistimewaan yang dimiliki manusia berupa ilmu pengetahuan,
mengantarkannya mencapai tarap kehidupan yang inovatif. Berkat potensi ilmiah yang
menjadi ciri khas manusia, sehingga ia senantiasa berpikir untuk menyingkap tabir-
tabir misteri dari ke-Mahakuasaan Allah yang tersembunyi di balik ciptaan-Nya. Proses
berpikir yang berjalan secara berkesinambungan tersebut mengantar manusia untuk
selalu ingin tahu. Hasil dari proses berpikir tersebut selanjutnya melahirkan
pengetahuan.5 Oleh karena itu, perkembangan ilmu merupakan salah satu prestasi besar
dari proses berpikir manusia.

3Soetriono & Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, h. 7.


4Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer (Cet. VIII, Jakarta; Sinar Harapan,
1994), h. 35.
5Burhanuddin Salam, Logika Materil (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 28.

5
B. Rumusan Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan demi kesejahteraan manusia.
Namun pertanyaan yang sangat penting untuk diketahui, apa saja yang menjadi sumber
ilmu pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, makalah ini akan dikembangkan dengan
tiga pertanyaan mendasar yakni:
1. Apakah yang menjadi dasar-dasar dari ilmu pengetahuan?
2. Apa saja yang menjadi sumber ilmu dalam perspektif Islam?
3. Apa saja yang menjadi sumber ilmu dalam perspektif sekuler?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, merupakan arah pembahasan dan
berusaha untuk dijawab dalam pembahasan selanjutnya.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DAN KONSEP AWAL ILMU


Ilmu atau dalam bahasa Arab disebut dengan ilm yang bermakna
pengetahuan merupakan derivasi dari kata kerja alima yang bermakna mengetahui.7
Secara etimologi, ilmu berasal dari akar kata ain-lam-mim yang diambil dari
perkataan ala>mah, yaitu marifah (pengenalan), syuu>r (kesadaran), tadzakkur
(pengingat), fahm dan fiqh (pengertian dan pemahaman), aql (intelektual), dira>yah
dan riwa>yah (perkenalan, pengetahuan, narasi), h}ikmah (kearifan), ala>mah
(lambang), tanda atau indikasi yang dengan sesuatu atau seseorang dikenal.
Dalam menjelaskan ilmu secara terminologi, al-Attas menggunakan dua
definisi; pertama, ilmu sebagai sesuatu yang berasal dari Allah SWT, bisa dikatakan
bahwa ilmu adalah datangnya (h}us}u>l) makna sesuatu atau objek ilmu ke dalam
jiwa pencari ilmu; dan kedua, sebagai sesuatu yang diterima oleh jiwa yang aktif dan
kreatif, ilmu bisa diartikan sebagai datangnya jiwa (wus}u>l) pada makna sesuatu
atau objek ilmu. Hal ini berimplikasi bahwa ilmu mencakup semua hal. Selanjutnya
al-Attas menjelaskan bahwa kedatangan yang dimaksud adalah proses yang di satu
pihak memerlukan mental yang aktif dan persiapan spiritual di pihak pencari ilmu,
dan di pihak lain keridaan serta kasih saying Allah SWT sebagai Zat yang
memberikan ilmu. Definisi ini mengisyaratkan bahwa pencapaian ilmu dan
pemikiran, yang juga disebut proses perjalanan jiwa pada makna, adalah sebuah
proses spiritual. Ibnu Khaldun memilah ilmu atas dua macam, yaitu ilmu naqliyah
(ilmu yang berdasarkan pada otoritas atau ada yang menyebutnya ilmu-ilmu
tradisional) dan ilmu aqliyah (ilmu yang berdasarkan akal atau dalil rasional).6

6 Al-Faruqi, Achmad Reza Hutama. 2015. Konsep Ilmu Dalam Islam. Jurnal Kalimah Vol. 13, No. 2,
September 2015.

7
Secara terminologi ilmu didefinisikan sebagai usaha pemahaman manusia yang
disusun dalam satu sistem tentang kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan
hukum-hukum tentang hal ihwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh
yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu pengindraan, dimana kebenarannya
diuji secara empiris, riset dan eksperimental.7
Definisi ilmu menurut Ashley Montagu sebagaimana dikutip Amsal Bakhtiar,
menjelaskan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu system yang
berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip
tentang hal yang sedang dikaji.8
Senada yang dikutip oleh Suparlan dari Websters Dictionary dijelaskan tentang
pengertian ilmu bahwa ilmu itu merupakan 1) pengetahuan yang membedakan dari
ketidak tahuan atau kesalahpahaman; pengetahuan yang diperoleh melalui belajar atau
praktek, 2) suatu bagian dari pengetahuan yang disusun secara sistematis sebagai salah
satu objek studi (ilmu teologi), 3) pengetahuan yang mencakup kebenaran umum atau
hukum-hukum operasional yang diperoleh dan diuji melalui metode ilmiah;
pengetahuan yang memperhatikan dunia pisik dan gejala-gejalanya (ilmu pengetahuan
alami), dan 4) suatu sistem atau metode atau pegakuan yang didasarkan pada prinsip-
prinsip ilmiah.9 Dengan demikian pengertian ini mengisyaratkan bahwa sesuatu akan
disebut ilmu apabila diperoleh melalui belajar yang mengandung unsur kesengajaan,
direncanakan (terstruktur) secara sistematis, diuji secara ilmiah terhadap suatu obyek.
Atau dapat disingkat bahwa ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan yang
diperoleh melalui metode ilmiah yang sistematis.

Ada tiga tanggapan ilmuwan Muslim terhadap sains modern. Yang kemudian
masing-masing pendapat itu akan menentukan bagaimana pandangan mereka pula

7Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Cet. VII; Surabaya: Bina Ilmu Offset, 1987), h. 50.
8Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Edisi Revisi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), h. 15.
9Suparlan Suharsono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Makassar: Program Pascasarjana Universitas
Hasanuddin, 1997), h. 35.

8
terhadap ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Ziauddin Sardar mencatatsebagaimana
dikutip M. Damhuriada tiga kelompok yang memandang ilmu pengetahuan modern
kini.
Pertama, kelompok Muslim apologetik: kelompok ini menganggap ilmu
pengetahuan modern bersifat netral dan universal. Mereka berusaha melegitimasi
hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan dengan mencari padanan ayat-ayatnya yang
sesuai dengan teori dalam sains tersebut. Karena hanya sebagai bentuk apologia saja
maka pandangan kelompok ini hanya sebagai penyembuh luka bagi umat Islam
secara psikologis bahwa, umat Islam tidak ketinggalan zaman.
Kedua, kelompok yang mengakui ilmu pengetahuan Barat, tetapi berusaha
mempelajari sejarah dan filsafat ilmuan agar dapat menyaring elemen-elemen yang
tidak islami. Dan yang ketiga, kelompok yang percaya dengan adanya ilmu
pengetahuan Islam dan berusaha membangun islamisasi di seluruh elemen ilmu
pengetahuan tersebut.10
Dalam al-Qur`an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia
dipandang lebih unggul ketimbang makhluk lain guna menjalankan fungsi
kekhalifahannya. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan
al-Qur`an pada surat al-Baqarah, 31-32:
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!. Mereka
menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang
telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Yang dimaksud dengan nama-nama pada ayat di atas adalah sifat, ciri dan
hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya. 9
Manusia menurut al-Qur`an, memiliki potensi untuk menyiduk ilmu dan
10 Khotimah, Khusnul. 2014. Paradigma Dan Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qur`An.
Epistem, Volume 9, Nomor 1, Juni

9
mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang
memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut.
Berkali-kali pula al-Qur`an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang
berpengetahuan. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujadalah: 11).

B. DASAR-DASAR ILMU PENGETAHUAN


Ilmu pengetahuan merupakan dua kata yang saling terkait, dalam Kamus
Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa kata ilmu adalah pengetahuan tentang suatu
bidang yang disusun secara sistematis menurut metode-metode tertentu yang dapat
dipergunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.11
Pendapat lain dijelaskan bahwa kata ilmu berasal dari bahasa Arab: alima, yalamu,
ilman, yang diartikan sebagai mengerti atau memahami benar-benar.12 Sedangkan,
dalam bahasa Inggris kata ilmu dari kata science yang diambil dari bahasa latin yaitu
scientia (pengetahuan) merupakan turunan dari kata scire (mengetahui), dan
mempunyai arti mengetahui (to know), yang juga berarti belajar (to learn).13
Selanjutnya, menurut Jujun S. Suriasumantri bahwa dasar-dasar pengetahuan
itu terdiri dari dua hal, yaitu: penalaran dan logika.14
a. Penalaran
H.A. Dardiri yang mengungkapkan bahwa yang dimaksud penalaran adalah
rangkaian kegiatan budi manusia untuk tiba pada suatu kesimpulan (pendapat baru)
dari satu atau lebih keputusan atau pendapat yang telah diketahui (premis). Keputusan

11Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008), h. 574.
12A.W. Munawar, Kamus Al-Munawwar Arab-Indonesia Terlengkap (Cet. XIV; Surabaya: Pustaka
Progressif, 1997), h. 966.
13The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Cet. V; Yogyakarta: Liberty, 2000), h. 87.
14Burhanuddin Salam, Logika Materil, h. 39.

10
atau pendapat yang disebut juga kesimpulan atau konklusi pastilah merupakan akibat
lanjut yang runtut dari premis atau pangkal pikir yang bersangkutan.15
Sedangkan kata pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui atau
kepandaian.16 Pengetahuan berasal dari bahasa Inggris yang disebut knowledge, definisi
dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa pengetahuan adalah kepercayaan
yang benar (knowledge is justified true belief).17
Secara terminologi, pengetahuan diartikan sebagai kenyataan atau keadaan
mengetahui sesuatu yang diperoleh secara umum melalui pengalaman atau kebenaran
secara umum, atau sejumlah pengetahuan susunan kepercayaan, informasi dan prinsip-
prinsip yang diperoleh manusia.18 Terkadang diperoleh pengetahuan berdasarkan
informasi secara turun temurun dari orang tua, boleh jadi seperti pesan paseng dan
begitu halnya dengan agama.
Sedangkan menurut Sidi Gazalba, pengetahuan merupakan hasil pekerjaan dari
tahu, yang merupakan hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan
merupakan semua milik atau isi pikiran.19 Pendapat ini secara umum menggambarkan
apa yang diketahui manusia terhadap apa yang ada dalam pikirannya, namun belum
pada tahap penelitian secara ilmiah. Atau lebih jelasnya lagi didukung oleh pendapat
yang mengemukakan bahwa pengetahuan adalah pembentukan pemikiran asosiatif
yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau dengan
pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai
kausalitas (sebab-akibat) yang hakiki dan universal.20
Terkadang pula pengetahuan manusia diperoleh secara tidak sengaja atau
bahasa umumnya keberuntungan. Dimana suatu peristiwa yang tidak disengaja,
terkadang meghasilkan suatu kebenaran yang menambah perbendaharaan pengetehuan
manusia, karena sebelumnya kebenaran itu tidak diketahui. Salah satu contoh adalah

15H.A. Dardiri, Humaniora: Filsafat dan Logika (Cet. I; Jakarta, Rajawali, 1986), h. 72.
16Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, h. 1591.
17Sudarsono, Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar, h. 15.
18Suparlan Suharsono, Filsafat Ilmu Pengetahuan, h. 34.
19Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h. 85.
20Soetriono & Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, h. 140.

11
peristiwa yang dialami oleh seorang Indian yang menderita penyakit demam malaria
dengan suhu panas yang tinggi. Dalam keadaannya yang tidak berdaya itu, ia terjatuh
pada aliran sebuah sungai kecil yang airnya berwarna hitam. Secara tidak sengaja ia
meminum air sungai itu yang terasa pahit, dan ternyata penyakitnya berangsur-angsur
sembuh. Setelah ditelusuri, ternyata penyebab hitamnya air sungai tersebut karena
adanya pohon Kina yang tumbang di hulu sungai. Dari kejadian yang tidak disengaja
tersebut, diketahuilah bahwa Kina merupakan obat bagi penyakit demam akibat
malaria.21 Manusia pun banyak menggunakan pengetahuan untuk hidupnya sehari-hari,
seperti air yang dapat digunakan untuk mandi, mencuci, memasak, tetapi belum pada
tahap pemanfaatan air seperti irigasi, pembangkit listrik dan lainnya.
Selanjutnya Jujun S. Suriasumantri berpendapat bahwa yang disebut penalaran
adalah cara berpikir atau kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir
tertentu. Binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar. Instink binatang
jauh lebih peka dari instink seorang insinyur geologi. Binatang misalnyanya, sebelum
terjadinya letusan gunung merapi, sudah jauh-jauh berlindung ke tempat yang aman.
Namun binatang tak mampu menalar tentang gejala tersebut; mengapa gunung meletus,
faktor apa yang menyebabkannya, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah semua itu
terjadi.22
Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu:
1) Adanya suatu pola berpikir secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa kegiatan penalaran merupakaan suatu proses logis (berpikir
menurut pola tertentu).
2) Sifat analitik dari proses berpikir. Penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir
yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang
digunakan adalah logika penalaran yang bersangkutan. Disamping itu, kegiatan
berpikir ada juga yang tidak berdasarkan penalaran, misalnya intuisi. Berpikir
intuitif ini memegang peranan penting dalam masyarakat yang berpikir non analitik

21Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Cet. IX; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2001), h. 13-14.
22Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, h. 40.

12
yang kemudian sering bergelut dengan perasaan. Maka dapat dikatakan bahwa cara
berpikir masyarakat dapat dikatagorikan kepada cara berpikir analitik yang berupa
penalaran dan cara berpikir non analitik yang berupa intuisi dan perasaan.
Disamping itu masih terdapat bentuk lain dari usaha manusia untuk mendapatkan
pengetahuan, yakni wahyu.23

b. Logika
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan,
agar pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu memiliki dasar kebenaran maka proses
berpikir dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulaan baru dianggap
sahih (valid) jika proses penarikan kesimpulaan tersebut dilakukan menurut cara
tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara
umum dapat didefinisikan sebagai pengakajian untuk berpikir secara sahih. Terdapat
bermacam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk tujuan studi yang
memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, jika seseorang akan melakukan penelaahan
yang seksama hanya terdapat dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika
induktif dan deduktif.24
Induksi dikatakan bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan dengan
melalui generalisasi yang semakin lama semakin jauh, pada akhirnya mencoba
menghasilkan suatu teori. Deduksi justru sebaliknya, yaitu berupa penjabaran
proposisi-proposisi khusus dari proposisi umum atau universal.25
Jadi logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-
kasus individual menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan sebaliknya
logika deduktif, yaitu yang menolong seseorang menarik kesimpulan dari hal-hal yang
bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual.

C. SUMBER ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

23Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, h. 42.


24Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, h. 46.
25Berlin dkk., Pengantar Filsafat Ilmu (Cet. IV; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), h. 68.

13
Dalam Islam, pengertian ilmu sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Zakariyah
adalah segala yang menunjukkan kepada bekas atau yang memiliki keistimewaan.26
Sedangkan pengertian ilmu secara istilah menurut al-Raghib al-Ashfahani adalah
sebagaimana yang dirumuskannya dalam Mufradat Alfazh al-Quran, yakni: Ilmu
adalah mengetahui esensi dari sesuatu yang dari segi obyeknya terdiri atas dua, yakni;
pertama, mengetahui zat sesuatu; kedua, menetapkan sesuatu berdasarkan ada atau
tidak adanya sesuatu yang lain.27J ika pengertian ilmu ditelusuri lebih lanjut melalui
ayat-ayat Alquran, di sana disebutkan term ilmu atau al-ilm sebanyak 105 kali.
Bahkan, angka sebanyak ini semakin bertambah jumlahnya menjadi 744 kali bila
disertakan derivasinya.28
Sedangkan terminologi ilmu dalam Alquran (tanpa derivasi) yang disebutkan
sebanyak 150 kali tersebut, mengandung empat pengertian,29 yakni;
1. Pengetahuan yang dinisbatkan kepada Allah. jenis ini hanya
dapat diketahui oleh Allah sendiri. Keberadaan pengetahuan ini disebut dalam QS.
Hud/11: 14, yakni;

Terjemahnya:

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka
(katakanlah olehmu): Ketahuilah, sesungguhnya Al-Quran itu diturunkan
dengan ilmu Allah dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah
kamu berserah diri (kepada Allah)?

2. Pengetahuan yang diwahyukan Allah kepada para nabi dan


utusan-Nya. Pengetahuan seperti ini bersifat khusus dan dalam eksistensinya

26Abu Husain Ahmad bin Faris bin Zakariya, Mujam Maqayis al-Lugah, juz IV (Cet. II; Mesir:
Mushthafa al-Bab al-Halabi wa Awladuh, 1971), h. 109.
27Al-Raghib al-Ashfahani, Mufradat Alfazh al-Quran (Cet. I; Damsyiq: Dar al-Qalam, 1992), h. 580.
28Muhammad Fuad Abd. al-Baqy, al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Quran al-Karim (Bairut: Dar al-
Fikr, 1992), h. 596-610.
29H. Abd. Muin Salim, Alquran sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Jurnal Mitra, Volume I No.
1/2004 (Makassar: Kopertais Wil. VIII, 2004), h. 18-19.

14
tertuang ke dalam kitab suci dan ajaran para rasul-Nya. Misalnya QS. al-
Baqarah/2: 145, yakni;
...
Terjemahnya:

dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu
kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang
yang zalim.

3. Pengetahuan yang disandarkan kepada malaikat yang diberikan


Allah yang hakikatnya hanya Allah sendiri yang tahu. Hal ini disebutkan dalam
QS. al-Baqarah/2: 32, yakni;

Terjemahnya:

Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

4. Pengetahuan yang dimiliki manusia seperti yang terkandung


dalam QS. al-Qashash/28: 78, yakni;
....
Terjemahnya:

Karun berkata: Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada
padaku.

Pengertian-pengertian ilmu yang terinterpretasi dari ayat-ayat tersebut,


memberikan indikasi bahwa ilmu atau pengetahuan dalam jiwa manusia tidaklah
bersamaan dengan keberadaan manusia itu sendiri. Manusia dilahirkan tanpa
mempunyai pengetahuan sedikit pun dan pada tahap selanjutnya manusia memperoleh
pengetahuan melalui talim dari Allah. Dengan demikian, tidaklah berarti bahwa
pengajaran Allah tentang ilmu kepada manusia terjadi secara otomatis, justru Alquran

15
mengisyaratkan beberapa cara bagaimana manusia menemukan ilmu atau pengetahuan
tersebut. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu dalam Alquran lazimnya digunakan
dalam dua batasan pengertian, yakni ilmu yang dinisbatkan kepada Allah dan ilmu
yang nisbatkan kepada manusia.
Selanjutnya, kajian Islam tentang ilmu dalam arti pengetahuan juga identik
dengan term al-marifah dan al-hikmah.Menurut H. Abd. Muin Salim, term marifah
dalam ayat di atas berkonotasi persepsi yang dimiliki seseorang.30 Sekaitan dengan
ini, al-Ashfahani menyatakan bahwa marifah adalah pengetahuan terhadap sesuatu
dengan cara berfikir dan merenung.31Sedangkan Ibn Katsir dalam tafsirnya
menjelaskan bahwa pengertian kata marifah bukan saja dalam pengertian persepsi dan
bukan pula ilmu yang diperoleh melalui kegiatan berfikir dan merenung, tetapi ia
adalah pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra berupa penglihatan.32
Masih terkait dengan pengertian ilmu, oleh Dawam Rahardjo dalam
Ensiklopedi Alquran menyatakan bahwa dalam tradisi Islam, tidak saja dikenal apa
yang disebut ilmu (al-ilm), yang tidak hanya bersifat positivis, tetapi juga dikenal
dengan dengan al-hikmah, pengetahuan yang tinggi, pengetahuan tentang kearifan
(wisdom), dan al-marifah, pengalaman tentang realitas sejati.33
Dapatlah dirumuskan bahwa terminologi ilmu dalam Islam dapat disinonimkan
dengan marifah dan al-hikmah, namun dalam hal-hal tertentu dapat saja dibedakan
pengertiannya, jika dikembalikan kepada makna aslinya. Dalam hal ini, pengertian
ilmu secara umum adalah pengetahuan, sementara marifah adalah persepsi dan
al-hikmah adalah kebijaksanaan.
Dengan merujuk pada term-term al-ilm beserta derivasinya di dalam Alquran,
para mufassir kemudian berbeda-beda dalam mengklasifikasikan ilmu. Ada yang
berpendapat bahwa ilmu terdiri atas dua, yakni ilmu nazari dan ilmu amali. Yang
pertama, yaitu ilmu yang sudah cukup dengan mengetahuinya tanpa harus

30H. Abd. Muin Salim, H. Abd. Muin Salim, Alquran sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan, h. 14.
31al-Raghib al-Ashfahani, Mufradat Alfazh al-Quran, h. 560.
32Abu al-Fida Ismail bin Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, juz II (Indonesia: Toha Putra, t.th.), h. 483.
33Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Alquran (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 57.

16
mengamalkannya, seperti mengetahui adanya makhluk hidup di dalam sebuah
genangan air. Yang kedua, yaitu ilmu yang tidak cukup hanya dengan mengetahuinya
saja, tetapi harus dengan diamalkan; seperti ilmu tentang ibadah kepada Allah.
Ada pula yang membagi ilmu tersebut menjadi aqli dan sami. Yang
pertama, yaitu ilmu yang diperoleh melalui penelitian; seperti ilmu tentang adanya
hubungan saling mempengaruhi antara dua hal. Yang kedua, yaitu ilmu yang diperoleh
melalui pendengaran tanpa penelitian; seperti mengetahui hasil pertambahan angka 1
dan 2 menjadi 3 (1+2=3).
Dalam dunia pendidikan, ada yang disebut dengan ilmu Islam dan ilmu
Barat, ilmu agama dan ilmu umum. Demikianlah seterusnya, sehingga tidak
ditemukan kata sepakat mengenai pembagian atau klasifikasi ilmu dalam berbagai
perspektif.
Dengan merujuk pada terminologi ilmu yang diartikan denganpengetahuan
yang diperoleh manusia, oleh H. Abd. Muin Salim mengklasifikasinya atas tiga jenis,
yakni; ilmu kasbiyun, ilmu wahabiyun dan ilmu syuuriyun.34 Menurutnya, ilmu dalam
kategori pertama disebut dengan pengetahuan olahan, yang kedua disebut dengan
pengetahuan limpahan, dan yang ketiga adalah pengetahuan rasa.
Terlepas dari pengklasifikasian ilmu sebagaimana yang disebutkan, maka ilmu
dalam Alquran pada dasarnya terklasifikasi atas dua jenis. Pertama, ilmu yang
diperoleh melalui proses belajar (al-ilm kasbiy). Kedua, ilmu yang merupakan
anugerah Allah (tanpa proses belajar) yang sering disebut dengan istilah ilmu ladunniy.
1) Ilmu Kasbiy
Ilmu kasbiy, yakni pengetahuan yang diperoleh manusia bersumber dari dari
luar dirinya melalui pengalaman hidup ataupun dengan usaha yang disengaja. Macam
yang pertama misalnya adalah pengetahuan lingkungan hidup yang merupakan bagian
dari kehidupan manusia seperti matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat.
Bentuk yang lebih kompleks adalah pengetahuan atau budaya yang diwarisi secara

34H. Abd. Muin Salim, Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Alquran (Ujungpandang:
LSKI, 1991), h. 24.

17
tidak disadari. Sedang macam kedua misalnya adalah pengetahuan yang diperoleh
berdasarkan usaha-usaha belajar, mendengar keterangan atau membaca dari tulisan-
tulisan yanng ada, dan dalam bentuk kompleks adalah yang diperoleh dengan
penelitian.35
Paradigma ilmu kasbiy ini adalah firman Allah dalam QS. al-Alaq (96) 1-5,
yakni;
( 2)( 1) .


( 4) .(3)
(5)
Terjemahnya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat tersebut mengandung pesan ontologis tentang sumber ilmu pengetahuan.
Pada ayat tersebut Allah memerintahkan Nabi saw agar membaca. Sedangkan yang
dibaca itu obyeknya bermacam-macam. Yaitu ada yang berupa ayat-ayat yang tertulis
(ayah al-quraniyah), dan dapat pula ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (ayah al-
kawniyah). Membaca ayat-ayat quraniyah, dapat menghasilkan ilmu agama seperti
fikih, tauhid, akhlak dan semacamnya. Sedangkan membaca ayat-ayat kawniyah dapat
menghasilkan sains seperti fisika, biologi, kimia, astronomi dan semacamnya.
Dapatlah dirumuskan bahwa ilmu kasbiy tersebut sumber dari ayat-ayat
quraniyah dan kawniyah, dan untuk memperolehnya maka manusia dituntut untuk
senantiasa membaca. Timbul pertanyaan, mengapa kata iqra atau perintah membaca
dalam sederetan ayat di atas, terulang dua kali yakni pada ayat 1 dan 3. Jawabannya
antara lain bahwa, perintah pertama dimaksudkan sebagai perintah mencari ilmu,
sedang yang kedua perintah untuk mengajarkan ilmu kepada orang lain. Ini
mengindikasikan bahwa ilmu kasbiy harus dituntut dengan usaha yang maksimal dan
memfungsikan segala potensi yang ada pada diri manusia. Setelah ilmu tersebut
35Abd. Muin Salim, Alquran sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan, h. 15.

18
diperoleh, maka amanat selanjutnya adalah mengajarkan ilmu tersebut, dengan cara
tetap memfungsikan segala potensi tersebut.
Potensi-potensi pada diri manusia yang harus digunakan untuk menuntut ilmu
tersebut adalah al-sama(pendengaran),36 al-bashar (penglihatan)37dan al-fuad (hati).38
Ketiga potensi ini disebutkan dalam beberapa ayat secara bersamaan, misalnya dalam
QS. al-Nahl/16: 78.



Ketiga potensi yang disebutkan dalam ayat tersebut, merupakan alat potensial
untuk memperoleh pengetahuan. Karena itu, Allah telah memberikan pendengaran,
penglihatan dan hati kepada manusia agar digunakan untuk merenung, memikirkan,
dan memerhatikan apa-apa yang ada di luar dirinya. Kata al-samu di dalam Alquran
selalu digunakan dalam bentuk tunggal dan selalu mendahului kata al-abshar dan al-
afidah. Sebab didahulukannya al-samu (pendengaran), mengisyaratkan bahwa
potensi pendengaran lebih berfungsi ketimbang penglihatan dan hati dalam proses
pencarian ilmu. Namun demikian, ketika ketiga potensi ini tidak saling menopang
maka tidak akan membuahkan ilmu yang sempurna. Dikatakan demikian, karena ketiga
potensi tersebut sangat terkait.
Kaitan antara ketiga potensi tersebut adalah bahwa pendengaran bertugas
memelihara ilmu pengetahuan yang telah ditemukan oleh orang lain, penglihatan
bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambahkan hasil penelitian dengan
mengadakan pengkajian terhadapnya. Hati bertugas membersihkan ilmu pengetahuan
dari segala sifat yang jelek, lalu mengambil beberapa kesimpulan.
2) Ilmu Ladunny
Ilmu ladunny adalah pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses belajar.
Paradigma ilmu ladunny ini adalah firman Allah dalam QS. al-Kahfi/18: 65.

36Kata al-sama dalam Alquran terulang sebanyak 185 kali. Muhammad Fuad Abd. al-Baqy, al-Mujam
al-Mufahras..., h. 278.
37Kata al-bashar dalam Alquran terulang sebanyak 148 kali. Lihat al-Mujam al-Mufahras..., h. 252-253.
38Kata al-fuad dalam Alquran terulang sebanyak 16 kali. Lihat al-Mujam al-Mufahras..., h. 145.

19
Terjemahnya:

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang
telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami
ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

Dengan demikian, ilmu ladunny ini adalah pengetahuan limpahan, misalnya


ilham atau berupa wahyu. Karena itu tepat juga bila dikatakan bahwa ia sama dengan
ilmu wahabiy sebagaiamana yang dikonsepsikan olehH. Abd. Muin Salim yaitu
pengetahuan yang diperoleh manusia bersumber dari luar dirinya sebagai pemberian
Tuhan kepadanya baik untuk kepentingannya sendiri maupun untuk kepentingan
kemanusiaan dan juga lingkungannya.39
Kalau kembali dicermati QS. al-Alaq (96) yang telah dikutip terdahulu, di sana
memang dijelaskan bahwa di samping ilmu kasbiy ada juga ilmu ladunny. Allah
mengajar dengan qalam, yakni mengajar manusia melalui upaya mereka adalah
tergolong sebagai ilmu kasbiy. Sedangkan Allah mengajar apa yang mereka tidak
diketahui, tanpa usaha mereka, tetapi langsung sebagai curahan rahmat-Nya, inilah
yang disebut dengan ilmu ladunny. Perlu ditegaskan bahwa manusia dalam
memperoleh ilmu ladunnymemiliki syarat-syarat tertentu, misalnya yang bersangkutan
adalah seorang nabi atau rasul-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-
Jin/72: 60-61, yakni;
( 26)

(27)
Terjemahnya:

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul
yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga
(malaikat) di muka dan di belakangnya.

39H. Abd. Muin Salim, Beberapa Aspek Metodologi, h. 24. H. Abd. Muin Salim, Alquran
sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan, h. 16.

20
Tidak ditemukan adanya ayat secara tegas yang melegalisasi bahwa selain
nabi/rasul akan memperoleh ilmu ladunny. Akan tetapi dengan memahami tafsiran
firman Allah dalam QS. Fathir/35: 28, yakni; dan hadis Nabi
saw yang menyatakan bahwa ulama adalah pewaris nabi, praktis bahwa ilmu
ladunny dapat saja diperoleh oleh siapa selain nabi dengan syarat dia adalah ulama
yang bernotabene sebagai pewaris nabi. Pada sisi lain, potensi al-afidah atau al-
fuad yang dinaugerahkan Allah kepada manusia itu, jika senantiasa dipelihara dengan
baik, dalam artian manusia mensucikan jiwanya dan menjernikan kalbunya, praktis
bahwa ilmu ladunny tersebut akan dicapainya. Jadi, ilmu tidak selamanya diperoleh
melaui proses belajar-mengajar, tetapi ia adalah ilham yang dinampakkan Allah ke
dalam hati orang-orang yang dikehendakinya.
Mengenai sumber-sumber pengetahuan yang merupakan bahasan pertama
dalam epistemologi, para filosof Islam menganggap bahwa realitas tidak hanya terbatas
pada realitas yang bersifat fisik melainkan juga mengakuirealitas yang bersifat non
fisik. Oleh karena itu dalam epistemologi Islam kita mengenal realitas non fisik baik
berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika murni yang dibahas oleh
para pemikir.40
Menurut Jalaluddin Rakhmat, secara epistemologis, Alquran memperkenalkan
empat sumber pengetahuan manusia yaitu;
1) Alquran dan sunah
2) Alam semesta
3) Diri manusia
4) Sejarah41
Antara kesemua sumber pengetahuan tersebut, tidak mungkin ada konstradiksi,
sebab kalau dibahas lebih mendalam mengenai sumber-sumber ilmu, maka akan
sampai kepada satu titik temu yaitu bahwa kesemuanya itu berasal dari satu sumber,

40Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 2002), h. 58.
41Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif (Cet. XII; Bandung: Mizan, 2004), h. 203-205. Murtadha
Muthahhari, Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul Manusia dan Alam Semesta
(Cet. II; Jakarta: Lentera Basritama, 2002), h. 47-48.

21
yaitu Tuhan. Mengenai alat pencapaian pengetahuan secara umum para pemikir Islam
sepakat bahwa ada tiga alat epistemologi yang dimiliki oleh manusia dalam mencapai
pengetahuan. Yaitu Indra, Akal dan Hati. Ketiga alat epistemologi ini kemudian
menghasilkan tiga metode dalam pencapaian pengetahuan yaitu:
1) Observasi sebagaimana yang dikenal dalam epistemologi Barat atau disebut juga
metode bayani yang menggunakan indra sebagaipirantinya.
2) Deduksi logis atau demonstratif (burhani) dengan menggunakan akal.
3) Intuitif atau irfani dengan menggunakan hati.42
Observasi ditujukan untuk melakukan pengkajian terhadap objek-objek yang
bersifat indrawi dan menghasilkan pengetahuan sains, dalam istilah Muhammad Baqir
Shadr metode ini juga disebut dengan teori disposesi.43 Sedangkan metode
demonstrative ditujukan untuk memahami realitas-realitas imajinal manusia dan
melahirkan ilmu-ilmu murni berupa logika, filsafat dan matematika. Selanjutnya
metode intuitif digunakan untuk memahami secara langsung realitas metafisis yang
bersifat hudhuri dalam jiwa manusia. Dan menghasilkan pengetahuan mistik.44
Berbicara mengenai titik tekan penggunaan metode demonstratif dan intuitif
dalam proses pencapaian pengetahuan manusia para filosof Muslim kemudian berbeda
pendapat. Dalam sejarah filsafat Islam secara umum filsafat Islam terbagi ketiga aliran
besar yaitu:
1) Paripatetik atau masysyaiyah
Secara harfiah paripatetik atau masysyaiyah berarti jalan modar-mandir.
Penggunaan istilah ini disebutkan merujuk pada Plato yang mengajarkan filsafat
kepada murid-muridnya dengan berjalan-jalan. Penamaan aliran ini sangat jelas
terpengaruh oleh pemikiran Yunani yang dibangun oleh Aristoteles dan Plato.
Meskipun banyak melakukan revisi terhadap pemikiran Yunani aliran ini dibangun atas

42Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam, h. 63.


43Muhammad Baqir Shadr, Falsafatuna, diterjemahkan oleh M. Nur Mufid Ali (Cet. IV; Bandung: Mizan,
1994), h. 36-37.
44Kosmic, Manual Training Filsafat (Jakarta: Kosmic, 2002), h. 203.

22
dasar Aristotellanisme danNeo Platonis.45Aliran paripatetik dinisbatkan kepada tokoh-
tokoh filosof Islam generasi awal diantaranya al-Farabi dan Ibnu Sina. Aliran ini sangat
menekankan metode diskursif-demonstratif dengan menekankan pada aspek
rasionalitas manusia.46
2) Iluminasi atau hikmah isyraqiyah
Aliran iluminasi menurut berbagai sumber didasarkan pada ajaran Plato. Aliran
ini dinisbatkan kepada seorang filosof sufi Islam yaitu Syiihabuddin Suhrawardi al-
Maqtul. Secara epistemologi aliran ini sangat menekankan perolehan kebenaran lewat
pengalaman intuitif dan kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis.47
Mengenai proses mendapatkan pengetahuan, yang dalam bahasa iluminasi
disebut juga dengan pencerahan (isyraq) menurut Syuhrawardi ada empat tahapan yang
dilalui yaitu:
a) Tahap pertama adalah pembebasandiri dari kecenderungan-kecendrungan
duniawi untuk menerima pengalaman Ilahi.
b) Tahap iluminasi, yaitu tahapan dimana manusia mendapatkan penglihatan akan
sinar ketuhanan serta mendapatkan apa yang disebutkan dengan cahaya ilham.
c) Tahap diskursif, dimana pengetahuan yang didapatkan dengan pencerahan
kemudian dikonstuksi lewat premis-premis yang didasarkan pada logika
diskursif.
d) Tahap keempat ialah tahapan pembahasan dan penulisan.48
3) Teosofi transendental atau hikmah mutaalliyan
Teosofi transendental merupakan aliran filsafat Islam yang didirikan oleh Mulla
Shadra dalam merumuskan alirannya berusaha memadukan konsep-konsep pemikiran
Islam yang telah dibangun sebelumnya, yaitu pemikiran kalam, paripatetik, ilmunisasi
dan sufisme.49

45Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam (Cet. I; Bandung: Arasy, 2005), h. 85.
46Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 103.
47Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 138.
48Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 138-139.
49Kosmic, Manual Training Filsafat, h. 233.

23
Secara epistemologi teosofi transendental menekankan tiga prinsip utama
dalam perolehan ilmu pengetahuanyaitu, intuisi intelektual atau isyraq, pembuktian
rasional secara Deduktif-silogistik, dan syariat.50 Dalam hal ini nash Alquran, dan
hadis. Sehingga filsafat hikmah atau teosofi transendental adalah kebijaksanaan yang
diperoleh lewat pencerahan spritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk
argumentasi yang rasional dan didasarkan pada nash-nash Islam.51
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sumber ilmu dalam Islam antara
lain:
1) Panca indra; yang kemudian menjadi ilmu nazhari.
2) Pengalaman; yang kemudian menjadi ilmu hudhuri(pengalaman umum),ilmu
ladunni (pengalaman ruhani/intuitif, dan mistik), dan ilmu burhani (pengalaman
demonstratif, kesadaran kritis, analitis, dan rasionalitas).
3) Teks/nash Alquran dan hadis; yang kemudian menjadi ilmu bayani.
4) Supra-spritual atau meta-mistisis; diperoleh melalui mujahadah dan riyadah secara
presentasional yang kemudian menjadi ilmu irfani.Dalam ilmu tasawuf, ilmu ini
dikonsepsi dalam bentukzuhud, thariqat, mahabbah, suluk, hulul, dan wihdatul
wujud.Istilah-istilah tersebut juga ditemukan dalam ilmu isyraqi atao teori kasyf
(illuminasi), yakni pengetahuan yang bersumber dari pancaran nur ilahi.

D. SUMBER ILMU DALAM PERSPEKTIF SEKULER


Sekular berarti bersifat duniawi atau kebendaan,52 kemudian sekularisasi
berati hal-hal yang membawa kearah kehidupan duniawi sehingga norma-norma yang
ada tidak didasari pada ajaran agama.53 Di dalam Encyclopedia Americana disebutkan:
"Secularism is an ethical system founded on the principles of natural morality and
independent of revealed religion or supernaturalism.54 (Sekularisme adalah suatu

50Haidar Baqir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 171.


51Kosmic, Manual Training Filsafat, h. 234.
52Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: Balai
Pustaka, 1999), h. 894. John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Cet. XXII; Jakarta:
Gramedia, 1996), h. 509. Selanjutnya dapat pula berarti kondisi dunia pada waktu, periode atau zaman
tertentu. Imam Munawir, Posisi Islam di Tengah Pertarungan Ideologi dan Keyakinan (Cet.I; Surabaya:
Bina Ilmu, 1986), h. 51.
53Imam Munawir, Posisi Islam di Tengah Pertarungan Ideologi dan Keyakinan, h. 51.
54Grollier Incorporated, The Encyclopedia Americana, jilid 24 (Danburry: Connecticut, 1992), h. 510.

24
sistim etis (peradaban) yang didasarkan pada prinsip-prinsip moralitas yang alami dan
terlepas dari agama (yang diwahyukan) atau hal-hal yang gaib).
Paham sekularis menyimpulkan adanya beberapa sumber ilmu yang terkait
dengan aliran-aliran yang mengusungnya. Beberapa sumber ilmu tersebut antara lain:
1) Pengalaman dan indra lahiriah; selanjutnya melahirkan paham dan aliran
empirisme. Dalam paham ini, semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada
pengalaman indrawi, dan yang tidak demikian dianggap bukan pengetahuan
ilmiah.55 Aliran ini beranggapan bahwa seluruh ide datang dari pengalaman
(experience) dan tidak ada proporsi tentang suatu benda dalam kenyataan yang
dapat diketahui sebagai kebenaran yang independen dari pengalaman. Empirisme
adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia didapatkan
lewat pengalaman yang kongkrit, bukan penalaran rasional yang abstrak. Gejala
alamiah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indra
manusia. Paham kelompok ini, pada perkembangan selanjutnya akan melahirkan
ideologi baru pada apa yang sering disebut sebagai paham naturalism yang
menganggap bahwa hanya alam otentik yang dapat dipercaya.56
Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat
konkrit dan dapat dinyatakan lewat tanggapan panca indra manusia. Gejala tersebut
jika ditelaah lebih mendalam memiliki beberapa sifat tertentu, umpamanya
memiliki keteraturan (ketertiban) mengenai suatu kejadian tertentu. Suatu benda
padat misalnya kalau dipanaskan akan mengembang, langit mendung diikuti
dengan hujan dan demikian seterusnya. Pengamatan akan membuahkan
pengetahuan mengenai berbagai gejala yang mengikuti pola-pola tertentu.
Disamping itu dapat dilihat adanya karakteristik yang lain yakni adanya kesamaan
dan pengulangan, misalnya bermacam-macam logam kalau dipanaskan akan

55Musa Asyarie, Filsafat Islam: Suatu Tinjauan Ontologis, Irma Fatimah (ed.) (Yogyakarta: Lembaga
Studi Filsafat Islam (LESFI), 1992), h. 55.
56Louis O. Kattsoff, Element of Philosophy (USA: The Ronald Press Company, 1987), h. 115.
Burhanuddin Salam, Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan (Cet. I; Jakarta: 1997), h. 99. Stanley M.
Honer dan Thomas C. Hunt, Metode Dalajm Mencari Pengetahuan, dalam Jujun S. Suriasumantri (ed.)
Ilmu dalam Perspektif (Cet. X; Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992), h. 99-105.

25
memanjang. Hal ini akan memungkinkan untuk melakukan suatu generalisasi dari
berbagai kasus yang telah terjadi.
2) Penalaran; selanjutnya melahirkan paham dan aliran rasionalisme. Penganut
rasionalisme berpendapat bahwa sumber satu-satunya dari pengetahuan manusia
adalah rasionya (akal budinya). Pelopornya ialah Rene Descartes. Aliran ini sangat
mendewakan akal budi manusia yang melahirkan paham intelektualisme dalam
dunia pendidikan.57 Rasio mampu mengetahui kebenaran alam semesta, yang tidak
mungkin dapat diketahui melalui observasi. Menurut Rasionalisme, pengalaman
tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum sebab akibat, sebab peristiwa
yang banyak tak terhingga itu tidak mungkin dapat diobservasi. Pengalaman hanya
sampai menggambarkan tidak dapat dibuktikan.58
3) Sikap kritis; selanjutnya melahirkan paham dan aliran kritisisme. Paham yang
dibawa oleh Immanuel Kant ini berpandangan bahwa pemutlakan rasio
(rasionalisme) sama tidak benarnya dengan pemutlakan indra (empirisme).59
Menurut Kant, memang benar bahwa manusia punya pengalaman indrawi, tetapi
sama benarnya juga bahwa manusia mempunyai pengetahuan yang
menghubungkan hal-hal, yang untuk mencapainya, manusia harus keluar
menembus pengalaman.60
4) Intuisi ;Intuisi mendapati ilmu pengetahuan tidak melalui proses penalaran
tertentu. Ia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang
dihadapinya. Maslow menyebut intuisi sebagai peeak experience (pengalaman
puncak), sementara Nietzsche menyebut intuisi sebagai sumber ilmu yang paling
tinggi.61 Namun, menurut Nietzsche sifat intuisi sangat personal dan tidak dapat
diramalkan sehingga pengalaman seseorang tidak dapat ditransformasi kepada

57Burhanuddin Salam, Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, h. 101.


58Burhanuddin Salam, Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, h. 101.
59Fuad Rumi, Fuad Rumi, Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah (Dalam Pandangan Sekuler dan Islami)
(Makassar: Universitas Muslim Indonesia, 1998), h. 59.
60Fuad Rumi, Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah, h. 59.
61Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, h. 42. M. Solly Lubis, Filsafat dan Penelitian (Cet. I; Bandung:
Mandar Maju, 1994), h. 14.

26
manusia lainnya. Dengan demikian, intuisi tidak dapat diandalkan. Ia hanya dapat
dijadikan hipotesis yang membutuhkan analisis lanjutan.
Secara etimologis istilah intuisi berarti langsung melihat. Pengertian secara
umum ialah suatu metode yang tidak berdasarkan penalaran maupun pengalaman
dan pengamatan indra. Kaum intuisionisme berpendapat bahwa manusia
mempunyai kemampuaan khusus, yaitu cara khusus untuk mengetahui yang tidak
terikat kepada indra maupun penalaran.62 Kalau pengetahuan yang diperoleh secara
rasional dan empiris merupakan produk dari suatu rangkaian penalaran, maka
intuisi merupakan pengetahun yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran.
Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada sesuatu tersebut, tanpa melalui
proses berpikir yang berliku-liku, jawaban dari permasalahan yang sedang
dipikirkan muncul dibenak manusia sebagai suatu keyakinan yang benar walaupun
manusia tidak dapat menjelaskan bagaimana caranya untuk sampai kepada jawaban
tersebut menurut ukuran rasio.
5. Wahyu
Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang didapati manusia
melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hamba-Nya yang terpililih
yang disebut Nabi dan Rasul. Agama menjadi kata kunci wahyu. Ia memberi tahu
mengenai kehidupan manusia saat ini dan proses eskatologis yang akan diarungi
manusia setelah kehidupannya di dunia. Agama menerangkan kepada manusia
tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau.
Agama bahkan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi sumber
keyakinan. Agama bisa menjadi informasi dan sekaligus sebagai konfirmasi
terhadap ilmu pengetahuan.
C.A. Qadir berpendapat bahwa adanya pengakuan kaum filosof Barat-
modern terhadap eksistensi intuisi dan wahyu sebenarnya bukan terjadi di akhir-
akhir abad ke 20, setelah produk rasional dan empiris melahirkan sekularisme yang
mekanistik mengenai realitas, dan ketika sama sekali tidak ada tempat bagi ruh atau
62Burhanuddin Salam, Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, h. 103. M. Solly Lubis, Filsafat dan
Penelitian, h. 14.

27
nilai dalam pengetahuan manusia. Realitas direduksi menjadi proses, waktu
menjadi kuantitas dan sejarah menjadi suatu proses yang entelekhi tran senden.
Pengetahuan yang dihasilkan dunia Barat kontemporer menjadi salah satu
tantangan tersendiri yang berat karena tercerabut dari akar dan kehilangan tujuan
yang hakiki.63
Jika sekiranya sumber ilmu dalam pandangan sekuler melepas aspek intuitif
dan wahyu, dan hanya mengandalkan ilmu yang bersumber pada kemampuan indrawi,
rasionalitas, dan sikap kritis semata, maka karakteristik pandangan ontologis pada
filsafat science modern (sekuler) berimplikasi pada beberapa hal berikut:
1. Memandang obyek materi ilmu tidak dalam kerangka pandangan adanya Pencipta
yang memandang segala sesuatu selain Pencipta adalah ciptaan.
2. Memandang sesuatu sebagai obyek materi ilmu sejauh ia berada dalam jangkauan
indra dan/atau rasio manusia untuk bisa memahaminya, dan pemahaman atasnya
merupakan fungsi dari indra dan/atau rasio itu.
3. Memandang keberadaan obyek materi ilmu hanya dalam kerangka ruang dan waktu
dunia belaka.
4. Memandang obyek materi ilmu diatur oleh hukum-hukum keberadaan itu.64
Dengan demikian, tampak jelas adanya perbedaan mendasar antara sumber
ilmu dalam perspektif Islam dibandingkan dengan perspektif sekuler. Perbedaan
tersebut didasari oleh penolakan sebagian tokoh fisafat modern terhadap ilmu yang
bersumber dari intuisi dan wahyu, meskipun kemudian hal itu dapat diterima oleh
sebagian dari mereka setelah abad ke-20. Penolakan ini cukup beralasan oleh karena
intuisi dan wahyu dinilai sangat personal atau tidak menjadi sumber ilmu yang dapat
dimiliki oleh manusia secara umum.

63C.A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam (Jakarta: Yayasan Obor, 1991), h. 3-4.
64Fuad Rumi, Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah, h. 40-41.

28
BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan ulasan pada pembahasan, dapat disimpulkan bahwa dalam


perspektif Islam maupun sekuler, terdapat kesamaan dalam hal menjadikan kekuatan
panca indra, pengalaman, dan rasionalitas sebagai sumber utama dalam memperoleh
ilmu. Hal ini menegaskan kembali bahwa dua kutub besar tersebut sama-sama sepakat
tentang adanya potensi akal manusia yang tidak dapat diabaikan keluasan dan
cakupannya untuk menjangkau berbagai dimensi ilmu dan pengetahuan, sekaligus
menjadi pembeda antara manusia dengan binatang. Dengan potensi akal, manusia dapat
membangun kebudayaan dan peradabannya di muka bumi.
Perbedaan tentang sumber ilmu antara perspektif Islam dan sekuler nanti mulai
timbul ketika filosof Islam menghadirkan sumber ilmu lain di luar indra, pengalaman,
dan nalar manusia, yakni adanya ilmu yang bersumber dari intuisi, wahyu, dan supra
rasional atau meta-mistisis. Sumber-sumber lain tersebut sesungguhnya meniscayakan
hadirnya kesadaran terhadap keterbatasan indra, akal, dan pengalaman manusia.Pada
sisi lain, perbedaan tersebut juga dilatari oleh hadirnya pengakuan transendental yang
secara imaniah terhadap banyaknya fakta-fakta kenabian yang selalu melibatkan
mukjizat di dalamnya yang tidak pernah terbantahkan hingga saat ini.

29
DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saifuddin.Ilmu, Filsafat dan Agama. Cet. VII; Surabaya: Bina Ilmu
Offset, 1987.

Al-Ashfahani, Al-Raghib.Mufradat Alfazh al-Quran. Cet. I; Damsyiq: Dar al-Qalam,


1992.
Al-Faruqi, Achmad Reza Hutama. 2015. Konsep Ilmu Dalam Islam. Jurnal Kalimah

Vol. 13, No. 2, September 2015.

Asyarie, Musa.Filsafat Islam: Suatu Tinjauan Ontologis, Irma Fatimah. (ed.)


Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI), 1992.

Al-Baqy, Muhammad Fuad Abd. al-Mujam al-Mufahras li Alfazh al-Quran al-Karim.


Bairut: Dar al-Fikr, 1992.

Bakhtiar, Amsal.Filsafat Ilmu, Edisi Revisi. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007.

Baqir,Haidar.Buku Saku Filsafat Islam. Cet. I; Bandung: Arasy, 2005.

Berlin dkk. Pengantar Filsafat Ilmu. Cet. IV; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997.

Dardiri, H.A. Humaniora:Filsafat dan Logika. Cet. I; Jakarta, Rajawali, 1986.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. I;


Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Departemen Pendidikan Nasional.Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa,


2008.

Echols, John M. dan Hasan Shadily.Kamus Inggris-Indonesia. Cet. XXII; Jakarta:


Gramedia, 1996.

Gie, The Liang.Pengantar Filsafat Ilmu. Cet. V; Yogyakarta: Liberty, 2000.

30
Honer, Stanley M. dan Thomas C. Hunt, Metode Dalajm Mencari Pengetahuan, dalam
Jujun S. Suriasumantri (ed.) Ilmu dalam Perspektif. Cet. X; Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia, 1992.

Incorporated,Grollier.The Encyclopedia Americana, jilid 24. Danburry: Connecticut,


1992.

Kartanegara, Mulyadi.Panorama Filsafat Islam. Cet. I; Bandung: Mizan, 2002.

Katsir, Abu al-Fida Ismail.Tafsir al-Quran al-Azhim, juz II. Indonesia: Toha Putra, t.th.

Kattsoff,Louis O. Element of Philosophy. USA: The Ronald Press Company, 1987.


Khotimah, Khusnul. 2014. Paradigma Dan Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Al-

Qur`An. Epistem, Volume 9, Nomor 1, Juni 2014.

Kosmic.Manual Training Filsafat. Jakarta: Kosmic, 2002.

Lubis, M. Solly.Filsafat dan Penelitian. Cet. I; Bandung: Mandar Maju, 1994.

Munawar, A.W. Kamus Al-Munawwar Arab-Indonesia Terlengkap. Cet. XIV; Surabaya:


Pustaka Progressif, 1997.

Munawir, Imam.Posisi Islam di Tengah Pertarungan Ideologi dan Keyakinan. Cet.I;


Surabaya: Bina Ilmu, 1986.

Muthahhari, Murtadha.Man and Universe diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan judul
Manusia dan Alam Semesta. Cet. II; Jakarta: Lentera Basritama, 2002.

Nawawi, Hadari.Metode Penelitian Bidang Sosial. Cet. IX; Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2001.

Qadir,C.A. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Jakarta: Yayasan Obor, 1991.

Rahardjo, Dawam.Ensiklopedi Alquran. Jakarta: Paramadina, 1996.

Rakhmat,Jalaluddin.Islam Alternatif. Cet. XII; Bandung: Mizan, 2004.

31
Rumi,Fuad.Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah(Dalam Pandangan Sekuler dan Islami).
Makassar: Universitas Muslim Indonesia, 1998.
Sabri Muhammad, Muhammad Saleh Tadjuddin, Wahyuddin Halim. 2009, Filsafat

Ilmu, Makassar, Uin Alauddin Makassar.

Salam, Burhanuddin.Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Cet. I; Jakarta: 1997.

Salam, Burhanuddin.Logika Materil. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Salim, H. Abd. Muin . Alquran sebagai Sumber Ilmu Pengetahuandalam Jurnal Mitra,
Volume I No. 1/2004. Makassar: Kopertais Wil. VIII, 2004.

__________.Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Alquran. Ujungpandang: LSKI, 1991.

Shadr, Muhammad Baqir.Falsafatuna, diterjemahkan oleh M. Nur Mufid Ali. Cet. IV;
Bandung: Mizan, 1994.

Soetriono & Rita Hanafie.Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi,
2007.

Sudarsono.Ilmu Filsafat, Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.

Suharsono, Suparlan.Filsafat Ilmu Pengetahuan. Makassar: Program Pascasarjana


Universitas Hasanuddin, 1997.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer. Cet. VIII, Jakarta;
Sinar Harapan, 1994.

Zakariya, Abu Husain Ahmad bin Faris,Mujam Maqayis al-Lugah, juz IV. Cet. II;
Mesir: Mushthafa al-Bab al-Halabi wa Awladuh, 1971.

32