Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke Hadirat Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat
dan karunianya jugalah kami dapat menyelesaikan Pemilihan Bahan dan Proses
dengan judul Perencanaan Pemilihan Bahan dan Proses pada Tangki kompresor

Sehubungan dengan penyelesaian tugas ini, kami mengucapkan terima kasih


kepada Bapak, Ir. Ahmad Kafrawi NST, IPP.,MT.,PH.D selaku dosen pengasuh mata
kuliah Pemilihan Bahan dab Proses ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan kekurangan


dalam tugas perencanaan ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran maupun
kritik yang membangun dari para pembaca.

Akhirnya kami berharap kiranya tugas perencanaan ini dapat bermanfaat bagi
kami dan rekan-rekan mahasiswa terutama di lingkungan Jurusan Teknik Mesin
Universitas Muhammadiyah Riau.

Pekanbaru , 5 Januari 2017

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG..............................................................................................1
1.2 Tujuan......................................................................................................................1
1.3 Manfaat....................................................................................................................2
1.4 Batasan Masalah.......................................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan...............................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................................4
TEORI DASAR.......................................................................................................................4
2.1 Bejana Tekan............................................................................................................4
2.1.1 Pengertian.........................................................................................................4
2.1.2 Klasifikasi bejana tekan....................................................................................5
2.1.3 Bagian-bagian utama bejana tekan...................................................................6
2.1.4 Tanki kompresor..............................................................................................8
2.2 Gas...........................................................................................................................9
2.2.1 Pengertian.........................................................................................................9
2.2.2 Sifat-sifat gas....................................................................................................9
2.2.3 Tekanan gas......................................................................................................9
2.2.4 Beberapa hukum yang berlaku pada gas.........................................................10
2.2.5 Persamaan gas ideal........................................................................................11
2.2.6 Penentuan bobot molekul...............................................................................12
2.2.7 Berat jenis gas................................................................................................12
2.2.8 Gas Nitroge, Oksigen, dan Argon...................................................................12
2.3 Sambungan Las......................................................................................................14
2.4 Perencanaan Tanki udara kompresor......................................................................16
BAB III..................................................................................................................................18

2
PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES..................................................................................18
3.1 Pemilihan Bahan....................................................................................................18
3.1.1 Pemilihan material................................................................................................18
4.2 Proses produksi tangki kompresor................................................................................24
BAB IV..................................................................................................................................27
ANALISA HASIL..................................................................................................................27
BAB V...................................................................................................................................29
KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................................................29
5.1 Kesimpulan............................................................................................................29
5.2 Saran......................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................30

3
4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Di dalam kehidupan sehari-hari, kompresor dapat ditemui digunakan untuk
mempermudah pekerjaan manusia. Misalnya, kompresor yang digunakan untuk mengisi
udara pada ban motor, sepeda yang bocor, dan lain-lain. Dan juga didalam dunia industri
kompresor sangat dibutuhkan, selain sebagai mesin penghasil udara, kompresor digunakan
juga menjadi satu kesatuan dengan mesin-mesin industri. Agar kompresor dapat bekerja
dengan baik, harus dilengkapi dengan peralatan pembantu, yang masing-masing alat
pembantu tersebut memiliki fungsi terhadap kompresor. Diantara peralatan tersebut
diantaranya tangki udara (tangki kompresor).
Peran tangki udara (tangki kompresor) sangat lah dibutuhkan, karena fungsi dari tangki
udara pada kompresor adalah sebagai tempat penyimpanan udara dengan menekan jumlah
udara yang berubah-ubah jumlahnya, agar dapat berjalan dengan lancar. Udara yang
dikeluarkan menjadi lebih halus dan berfluktasi.
Selain itu, tangki udara pada kompresor memiliki fungsi untuk proses pendinginan
yang terjadi dengan pelan dan uap air yang sudah megembun bisa dikumpulkan didalam
dasar tangki yang sewaktu-waktu dibuang. Sehingga udara yang disalurkan selain dingin juga
tidak lebab.
Untuk mendukung itu semua maka dibutuhkan perencanaan perancangan terhadap
tangki pada kompresor tersebut. Didalam proses perancanaan tersebut dibutuhkan
perencanaan terhadap pemiihan bahan apa yang cocok untuk tangki udara pada kompresor
tersebut, dan proses apa yang bisa digunakan pada perancanaan tangki udara kompresor
tersebut.

1.2 Tujuan
Dalam proses perancanaan tangki udara pada kompresor ini, ada beberapa tujuan yang
ingin dicapai:
1. Mengetahui material apa yang cocok digunakan untuk tangki udara pada kompresor.
2. Mengetahui proses apa yang cocok digunakan untuk tangki udara pada kompresor.

1.3 Manfaat

Setelah dilakukan perancangan tabung bertekanan ini diharapkan kepada


mahasiswa untuk dapat memiliki kemampuan sebagai berikut :

1
1. Mahasiswa memiliki kemampuan dalam melakukan pemilihan dan perancangan
bejana bertekanan sesuai kondisi yang diterapkan pada bejana tersebut.
2. Mahasiswa dapat melakukan pemilihan proses manufaktur yang paling tepat
untuk membuat sebuah produk.
3. Dari pengalaman perancangan ini, mahasiswa dapat terus mengembangkan
pengetahuan tentang bejana bertekanan agar dapat melakukan perancangan yang
lebih baik lagi

1.4 Batasan Masalah


Pelaksanaan pemilihan bahan dan proses ini memiliki beberapa batasan
masalah sebagai berikut :
1. Bejana tekan yang dibahas adalah tangki udara pada kompresor.
2. Kapasitas pada tangki udara pada kompresor diabaikan.
3. Parameter parameter yang akan dicari yaitu pemilihan material dan proses
manufaktur.
4. Desain head tangki, badan tangki dan gaya-gaya yang bekerja diabaikan.
5. Jenis las yang digunakan pada proses penyambungan diabaikan.
6. Pengaruh-pengaruh dari proses pemilihan dan proses manukatur diabaikan.

1.5 Sistematika Penulisan

Pada makalah ini disusun dengan mengacu pada format penulisan laporan yang
tetapkan oleh jurusan teknik mesin Fakultas Teknik di Universitas Riau adalah
sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini berisi mengenai ide dasar mengapa pemilihan bahan dan proses ini
dilakukan pada bejana bertekanan, serta proses ini memiliki tujuan tujuan apa saja.
Dalam proses pemilihan ini juga diharapkan timbulnya beberapa manfaat. Agar
proses ini berjalan dengan baik maka timbul batasan-batasan yang harus ditetapkan
dari awal proses. Serta untuk memudahkan penulisan makalah ini menggunakan
format yang berlaku di jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Riau.

2
BAB II TEORI DASAR

Pada bab ini menjelaskan mengenai bejana bertekanan dan apa saja yang terkait
dalam bejana bertekanan ini. Penjelasan ini diambil dari beberapa referensi yang
dipilih oleh penulis untuk dapat menjadi referensi dalam melaksanakan pemilihan
bahan dan proses.

BAB III PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES

Pada bab ini menjelaskan bagaimana proses pemilihan bahan dan proses yang
di gunakan pada bejana bertekanan.

BAB IV ANALISA HASIL

Setelah hasil pemilihan bahan dan proses didapat. Hasil tersebut dianalisa lebih
lanjut apakah sudah dapat digunakan atau masih memiliki kekurangan-kekurangan.

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan akhir dari penulis dicantumkan pada bab ini, hal ini berguna untuk
dapat melihat poin-poin terpenting menurut penulis yang harus menjadi pusat
perhatian dari perencanaan yang telah dilakukan dan dapat berguna untuk
perencanaan selanjutnya.

BAB II
TEORI DASAR

3
2.1 Bejana Tekan

2.1.1 Pengertian

Bejana tekan (pressure vesel) adalah sebuah tempat penampung (storage)


fluida atau gas yang dalam kondisi tertutup sehingga akan mengalami tekanan
yang diakibatkan oleh kevakuman didalam ruang tabung atau tekanan yang
diakibatkan sifat dari fluida atau gas itu sendiri.Bejana tekan digunakan untuk
bermacam-macam aplikasi di berbagai sektor industri seperti industri
kimia(petrochemical plant),energi (power plant), minyak dan gas (oil & gas),
nuklir, makanan, bahkan sampai pada peralatan rumah tangga seperti boiler
pemanas air atau pressure cooker.

Di sektor industri, bejana tekan dirancang untuk pengoperasian yang aman


pada tekanan dan temperatur tertentu secara teknik mengacu sebagai Design
Pressure dan Design Temperature. Bila sebuah bejana tekan yang dirancang
tidak tepat untuk menahan tekanan yang tinggi maka bahaya keamanan akan
mengancam. Oleh karena itu, standar rancangan dan sertifikasi bejana tekan
dibuat melalui beberapa design code seperti ASME Boiler and Pressure Vessel di
Amerika, Pressure Equipment Directive of the EU(PED), Japanese Industrial
Standard (JIS), CSA B51 diCanada, AS1210diAustralia dan standar internasional
lain seperti Lloyds, Germanischer Lloyd, Det Norske Veritas, Stoomwezen, dan
lain-lain.

4
Gambar 2. 1 bejana tekan

2.1.2 Klasifikasi bejana tekan

Pada tampilan chart berikut ini akan menunjukkan pengelompokan dari


berbagai macam bejan tekan yang ada dalam dunia industri.

KKLAKLASKlasifikasi
Klasifikasi
Bejana Tekan
Bejana Tekan

Bejana Tekan Bejana Tekan Bola


Silinder (Spherical Pressure
(cylindrical Pressure Vessel)
Bejana Bejana
Tekan Tekan
Horizontal Vertikal
Hemispherical ball front

Torispherical ball front


Elliptical ball front

Conical ball front


Flanged ball front

2.1.3 Bagian-bagian utama bejana tekan

Komponen-komponen dari suatu bejana tekan, terdiri dari beberapa bagian


utama seperti terlihat pada gambar :

Gambar 2. 2 bagian-bagian bejana tekan


1. Shell
Shell adalah komponen utama yang berisi tekanan. Shell dari pressure
vessel terbentuk dari steel plate dan dilas bersama-sama membentuk struktur
yang memiliki sumbu rotasi yang sama. Sebagian besar shell berbentuk
silinder, bola dan berbentuk kerucut.

2. Head
kedua sisi shell dari pressure vessel harus ditutup pada ujungnya
dengan forming plate yang biasanya disebut sebagai head. Head biasanya
berbentuk melengkung dari pada datar. Konfigurasi melengkung lebih kuat
dan memungkinkan head untuk menjadi lebih tipis, lebih ringan, dan lebih
murah daripada head berbentuk flat. Head biasanya dikategorikan menurut
bentuknya. Adapun bentuk yang umum adalah ellipsoidal, hemispherical,
orispherical, kerucut, toriconical dan flat.
3. Nozzle
Nozzle adalah komponen silinder yang menembus shell atau head dari
pressure vessel. Ujung nozzle biasanya berbentuk flange untuk
memungkinkan koneksi dengan part lain dan mudah untuk pemeliharaan
atau akses. Nozzle digunakan untuk aplikasi berikut:
Pasang pipa untuk aliran masuk atau keluar dari vessel.
Pasang koneksi instrumen, (misalnya, level gauge, thermowells, atau
alat pengukur tekanan).
Dan lain-lain
4. Support
Jenis support yang digunakan tergantung pada ukuran dan orientasi
dari pressure vessel. Dalam semua kasus, support untuk pressure vessel
harus kuat untuk menerima beban selfweight, angin, dan beban gempa. Basic

6
load dihitung untuk merancang anchorage dan pondasi untuk pressure
vessel. Jenis support yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
Skirt : aplikasi untukpressure vessel yang tinggi, posisi vertikal.
Support jenis ini adalah steel plate berbentuk silinder dan dilas pada
bagian bawah shell dari pressure vessel atau pada head bagian bawah.
Skirt untuk vessel jenis bola dilas ke bagian vessel di dekat midplane
dari shell. Skirt biasanya menyediakan cukup fleksibilitas sehingga
ekspansi termal dari shell tidak menyebabkan tekanan panas yang tinggi
di titik temu dengan skirt.

Gambar 2. 3 skirt
Legs : Aplikasi untuk vessel vertikal kecil, biasanya dilas ke bagian
bawah shell. Rasio maksimum panjang legssupport terhadap diameter
drum biasanya 2:1. Jumlah legs yang dibutuhkan tergantung pada
ukuran vessel dan beban yang diterima. Support legs biasanya
digunakan pada spherical pressure vessel. Support legs untuk vessel
vertikal kecil dan spherical pressure vessel dibuat dari profil baja
struktur atau profil pipa dan menyediakan desain yang paling optimal.

Saddle: Aplikasi untuk vessel horisontal, biasanya disupport di dua


lokasi dengan saddle support. Saddle support berfungsi
mendistribusikan beban berat di seluruh permukaan dari shell untuk
mencegah terjadinya local stress yang berlebihan dalam shell di titik-
titik support. Lebar saddle, antara lain detail desain, ditentukan dari
desain kondisi pressure vessel. Salah satu saddle biasanya dipasang
sebagai fix anchor dan lainnya sebagai fleksibel anchor

Gambar 2. 4 saddle
2.1.4 Tanki kompresor

Tanki kompresor merupakan salah satu penerapan bejana tekan. Tanki ini
digunakan untuk menampung gas yang tersusun dari bermacam campuran gas ,
dimana 78% Nitrogen, 21% Oksigen dan 1% campuran Argon, Carbon Dioksida,
Uap Air, Minyak, dan lainnya.

Gambar 2. 5 tangki kompresor

2.2 Gas

2.2.1 Pengertian

Gas yang dikemukakan oleh seorang kimiawan Flandria yang memberi


nama gas dengan sebutan Chaos (kekacauan) adalah suatu fase benda dalam
ikatan molekul, bisa berbentuk cairan, benda padat, ikatan molekul akan terlepas
pada suhu titik uap benda. Gas mempunyai kemampuan untuk mengalir dan
dapat berubah bentuk. Namun berbeda dari cairan yang mengisi pada besaran
volume tertentu, gas selalu mengisi suatu volume ruang, mereka mengembang
dan mengisi ruang di manapun mereka berada. Tenaga gerak/energi kinetis dalam
suatu gas adalah bentuk zat terhebat kedua (setelah plasma). Karena penambahan

8
energi kinetis ini, atom-atom gas dan molekul sering memantul antara satu sama
lain, apalagi jika energi kinetis ini semakin bertambah.

2.2.2 Sifat-sifat gas

Gas akan menyebar mengisi ruang dimana gas itu di tempatkan sehingga
berbentuk seperti ruang tersebut. Setiap gas akan berdifusi diantara sesamanya
dan akan bercampur dalam segala perbandingan. Oleh karena itu campuran gas
merupakan campuran homogen. Sifat lain dari gas adalah partikel-partikel gas
tidak dapat dilihat.

2.2.3 Tekanan gas

Tekanan didefenisikan sebagai gaya persatuan luas (P=F/A). Tekanan gas


biasanya diukur secara tidak langsung dengan jalan membandingkannya dengan
tekanan cairan. Tekanan cairan hanya bergantung pada berat jenis dan tinggi
cairan, yang di defenisikan sebagai berikut:
Gaya yang bekerja pada zat cair :
W =m g
v dg

A h d g .1

Dimana A : Luas penampang zat cair

h : Tinggi zat cair


d : Densitas cairan
g : Grafitasi

Sehingga tekanan gas :


F W
P= =
A A

9
A h d g
P=
A

Pengukuran tekanan gas biasanya dilakukan dengan menggunakan


barometer yang berisi air raksa. Satuan yang dipergunakan umumnya atmosfir
(atm), mmHg (mm air raksa) atau torr. Kesetaraan dari ketiga satuan tersebut
adalah: 1 atm = 760 mmHg= 760 torr. Gas juga dapat diukur dengan manometer.
Alat ini berguna untuk mengukur tekanan gas yang rendah. Pengukuran gas ini
menghasilkan berbagai keadaan pada manometer/barometer.

Gambar 2. 6 Barometer (kiri), skema manometer


(kanan)
2.2.4 Beberapa hukum yang berlaku pada gas

1. Hukum boyle
Boyle menyatakan bahwa volume gas dalam suatu ruangan tertutup
akan berbanding terbaik dengan tekanannya bila suhu gas tetap.
P1 V 1=P2 V 2

P1
Dimana = tekanan mula-mula
P2 = tekanan akhir

V 1 = volume gas awal

V2
= volume gas akhir

2. Hukum charles
Charles menyatakan bahwa volume dari gas dalam ruang tertutup
pada tekanan tetap adalah sebanding dengan suhunya yang dinyatakan
dengan derajat Kelvin.
V1 V2
=
T 1 T2

3. Hukum avogadro
Avogadro menyatakan bahwa:

10
Volume yang sama dari berbagai gas pada suhu dan tekanan yang
sama akan mengandung jumlah molekul yang sama.

Jumlah molekul yang sama dari berbagai gas pada suhu dan tekanan
yang sama akan mempunyai volume yang sama.

2.2.5 Persamaan gas ideal

Persamaan ini merupakan penggabungan dari ketiga hukum gas yang telah
dibicarakan sebelumnya.

P V =n R T

Dimana R adalah tetapan gas. Nilai R ini dapat ditentukan dengan jalan
sebagai berikut : Pada kondisi STP diketahui
V = 22,4 L P = 1 atm

T = 273,15 K n = 1 mol

maka

P V
R=
nT

1 atm 22,44 l

1 mol 27,3,15 K
latm
0,08206
molK

Satuan R biasanya digunakan sebagai patokan satuan variabel-variabel lain.

Jadi bila R dinyatakan dalam atm/mol K. Maka satuan tekanan harus atm,

volume = L, jumlah mol gas = mol dan suhu = K

11
2.2.6 Penentuan bobot molekul

Bobot molekul gas dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan gas


ideal
m
n=
Diketahui bahwa : BM

Dimana n =mol gas


m = massa molekul gas
BM = bobot molekul gas

Maka :
P V =n R T sehingga P V =(m R T )/BM

2.2.7 Berat jenis gas

Berat jenis dinyatakan dalam m/v , sehingga persamaan gas ideal dapat
disusun sebagai berikut :
m ( BM ) P
=
V RT

2.2.8 Gas Nitroge, Oksigen, dan Argon

Nitrogen

Nitrogen atau zat lemas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang
memiliki lambang N dan nomor atom 7. Ini adalah pniktogen paling ringan
pada temperatur kamar. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa
bau, tanpa rasa, dan merupakan gas diatomik, sangat sulit bereaksi dengan
unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat
malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya. Nitrogen merupakan unsur
umum di alam semesta, diperkirakan merupakan unsur ketujuh dari total
kelimpahan di Bima Sakti dan Tata Surya. Di Bumi, unsur ini membentuk
sekitar 78% dari atmosfer bumi dan dengan demikian merupakan unsur bebas

12
yang paling melimpah. Unsur nitrogen ditemukan sebagai komponen yang
dapat dipisahkan dari udara, oleh fisikawan Skotlandia Daniel Rutherford,
pada tahun 1772.

Selain mengisi 78,08 persen atmosfer Bumi, nitrogen terdapat pula dalam
banyak jaringan hidup. Zat lemas membentuk banyak senyawa penting
seperti asam amino, amonia, asam nitrat, dan sianida.

Oksigen

Oksigen adalah gas unsur kimia yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa yang muncul dalam kelimpahan yang besar di bumi, terperangkap oleh
atmosfer. Banyak orang yang akrab dengan oksigen, karena merupakan
komponen vital dari proses respirasi; tanpa itu, sebagian besar organisme akan
mati dalam beberapa menit.

Argon

Argon adalah unsur kimia dengan simbol Ar dan nomor atom 18. Ia berada
pada golongan 18 tabel periodik dan merupakan gas mulia.[n 1]
Argon adalah
gas ketiga yang paling umum di atmosfer bumi, dengan kelimpahan 0,934%
(9.340 ppmv), menjadikannya gas dengan kelimpahan dua kali
kelimpahan uap air (rata-rata 4.000 ppmv, tetapi bervariasi) dan 23 kali
kelimpahan gas atmosfer lainnya, karbon dioksida (400 ppmv), dan lebih dari
500 kali kelimpahan gas mulia berikutnya, neon (18 ppmv).

Hampir semua argon ini adalah argon-40 radiogenik yang diturunkan


dari peluruhan kalium-40 pada kerak bumi. Di alam semesta, argon-36 sejauh
ini merupakan isotop argon yang paling umum, merupakan isotop argon yang
diproduksi oleh nukleosintesis stelar dalam supernova. Sebagai tambahan,
argon adalah gas mulia terbanyak di dalam kerak bumi, dengan kandungan
0,00015% dari kerak.[2]

13
Nama argon diturunkan dari bahasa Yunani , bentuk tunggal
dari yang berarti "malas" atau "tak aktif", sebagai rujukan kepada
kenyataan bahwa unsur ini hampir tidak pernah mengalamai reaksi
kimia. Oktet lengkap (delapan elektron) pada kulit elektron luarnya membuat
argon stabil dan tahan terhadap ikatan dengan unsur lainnya. Temperatur titik
tripelnya 83,8058 K adalah titik tetap yang ditentukan dalam International
Temperature Scale 1990.

Argon diproduksi secara industri melalui distilasi fraksi udara cair. Argon
banyak digunakan sebagai gas pelindung inert dalam pengelasan dan proses
industri bersuhu tinggi lainnya di mana bahan yang biasanya tidak reaktif
menjadi reaktif; sebagai contoh, atmosfer argon digunakan dalam tanur
listrik grafit untuk mencegah grafit terbakar. Gas argon juga telah digunakan
dalam lampu pijar dan pendar, dan jenis tabung pelepasan lainnya. Argon
membuat laser gas biru-hijau yang khas. Argon juga digunakan sebagai
pencetus cahaya lampu tabung.

2.3 Sambungan Las

Pengelasan (welding) adalah salah satu teknik penyambungan logam dengan


cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan
dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan sambungan yang
kontinyu. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas,
meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan
sebagainya.

Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi
misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las pada
perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam macam reparasi
lainnya. Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan
sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las

14
dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan
kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta kegunaan
disekitarnya.

Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya


didalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya
memerlukan bermacam-macam pengetahuan. Karena itu didalam pengelasan,
pengetahuan harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih terperinci dapat
dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las,
harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini pemeriksaan, bahan
las, dan jenis las yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dari bagian-bagian
bangunan atau mesin yang dirancang.

Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah ikatan
metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer
atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa las adalah
sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas.
Klasifikasi dari cara-cara pengelasan ini akan diterangkan lebih lanjut. Pada waktu ini
pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan pengerjaan yang amat penting
dalam teknologi produksi dengan bahan baku logam. Pengelasan yang dilakukan pada
tangki udara kompresor ini menggunakan tiga buah jenis pengelasan yaitu :

SMAW (Shield Metal Arc Welding) atau las busur nyala listrik terlindung,
adalah pengelasan dengan mempergunakan busur nyala listrik sebagai sumber
panas pencair logam.
GMAW (Gas Metal Arc Welding) atau pengelasan dengan gas dan nyala yang
dihasilkan berasal dari busur nyala listrik, yang dipakai sebagai pencair metal
yang dilas dan metal penembah. Sebagai pelindung oksidasi dipakai gas
pelindung yang berupa gas kekal (inert) atau Co2.
SAW (Submerged Arc Welding) atau pengelasan busur rendam, adalah salah
satu cara mengelas dimana logam cair ditutup dengan fluks yang diatur melalui

15
suatu penampung fluks dan logam pengisi yang berupa kawat pejal diumpankan
secara terus menerus.

2.4 Perencanaan Tanki udara kompresor

Tanki udara kompresor memiliki tekanan dalam dan luar pada tabung itu
sendiri, adapun hal-hal yang harus diperhatikan didalam merencanakan bejana
bertekanan jenis tabung gas LPG yaitu :

A. Tekanan kerja

Tekanan kerja (operating pressure) dimana tekanan maksimum kerja yang


diizinkan pada pengukur puncak bejana lengkap dalam posisi operasinya pada
suhu yang telah ditentukan. Tekanan ini ditentukan atas dasar kalkulasi terhadap
setiap elemen bejana tekan dengan menggunakan tebal nominal, tidak termasuk
untuk korosi yang diijinkan pada bahan yang akan digunakan dan tebal dinding
yang diperlukan, tekanan kerja maksimal ini menjadi dasar untuk pengetesan
tekanan.

B. Tekanan perancangan

Tekanan perancangan (design pressure), tekanan perencanaan digunakan


untuk mendesain bejana tekan, untuk menghitung tebal maksimum yang di
ijinkan atau menentukan karakteristik fisik bahan-bahan yang akan digunakan
didalam bejana tekan, selain itu dapat menentukan tekanan kerja maksimum yang
diijinkan sesuai dengan bahan atau material yang akan dipakai. Tekanan
perencanaan ini lebih besar sedikit 10% lebih tinggi dari tekanan kerja
(operating pressure) atau tekanan normal pada saat terjadi proses pemisahan
didalam beana tekan.

C. Tekanan kerja maksimum yang diijinkan

16
Yaitu tekanan yang timbul dari bejana tekanan yang terjadi pada bagian
titik terlemah, dalam perencanaan bejana tekan jenis separator akan
diasumsikanbekerja pada kondisi-kondisi sebagai berikut :
Dalam kondisi berkarat/terjadi korosi
Dibawah pengaruh temperatur perencanaan (design temperature)
Dalam posisi operasi normal (working pressure)

Dibawah pengaruh-pengaruh beban-beban yang lainnya (beban angin,


tekanan dari dalam, tekanan hydrostatik, dll). Material tambahan yang mana
akan mempengaruhi tekanan internal.

D. Nilai tegangan maksimal yang diijinkan

Unit tegangan maksimal yang diijinkan, untuk bahan yang telah


dispesifikasikan mempunyai nilai tegangan yang diijinkan, yang dapat digunakan
dalam rumus perencanaan yang tercantum dalam standard material yang akan
digunakan bejana tekan.

BAB III
PEMILIHAN BAHAN DAN PROSES

3.1 Pemilihan Bahan

17
3.1.1 Pemilihan material

Pergerakan gaya-gaya di dinding tabung dengan radius R seperti terlihat


pada gambar berikut :

Gambar 3. 1 Skema gaya dan tekanan


pada bejana tekan

Untuk bejana tekan silinder dengan tebal pelat yang kecil mempunyai
distribusi gaya tertentu dan mempunyai persamaan tegangan tersendiri.
Persamaan distribusi gaya seperti terlihat seperti berikut ini :

Gambar 3. 2 Distribusi gaya bejana tekan

Tabel 3.1 Variabel-variabel pada tangki kompresor

Function Pressure vessel


Radius ( R ) specified ( R = 130 mm)

Constraint Circumference hoop stress (P = 3,0411 MPa)

Thickness ( t ) specified = 3 mm
Free
Material Selection
variabel
Analisisyield before break

Tangki kompresor yang akan dirancang hanya memiliki tekanan rendah,


maka memerlukan analisi yield before break
PR
= < y
Dimana : 2t

18
K IC = a

Gambar 3. 3 Skema gaya dan tekanan pada K IC


bejana tekan =
a

Agar bejana tekan mempunyai keamanan dan tidak gagal maka dalam

analisis yield before break tegangan luluh harus memiliki kriteria ( y < ).

Tekanan terbesar (yang diberikan oleh R , t , dan a ) akan membawa

material dengan nilai index berikut :


M 1=K IC

K IC =3,0411 a untuk memaksimalkan ukuran yield before break maka

y < . Dan untuk retak yang aman, maka pilihlah material dengan rasio

K / y
yang besar.

a=
[ ]
1 K IC
y

M 2=K IC / y
Dimana :

a=t /2=3 mm/2=1,5 mm

19
Hasil ini dapat dibuktikan dengan mengacu padatabel appendix C yang
terdapat pada buku Material Selection In Mechanical Design 4th ed (p.563)
yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.2Damage tolerance design

K
Nilaifracture toughness ( IC) merupakan batas minimal dari material

yang akan dipilih. Kekuatan material juga ditetapkan batas minimal untuk
didapatkan material yang kuat dan aman digunakan.

Perhitungan index M :

PR 3,0411 Mpa 0,13 m


y= =65 ,8905 Mpa
2t = 2(0,003 m)

K IC = a=65,8905 Mpa 0,0015 m

M 1=K IC =4 ,5220281 Mpa m

20
Pemilihan material melalui diagram bubble chartsebagai berikut :

65,891 Mpa

4,522 Mpa m

Gambar 3. 4 Eliminasi material berdasarkan fracture toughness versusstrength

Dari hasil eliminasi pada gambar grafik 4.4 diatas didapatkan kandidat
yang terpilih adalah:

Metal ferrous dan Metal non-ferrous


1. Low Alloy steel 6. Cast iron
2. Stainless Steel 7. Zinc Alloy
3. Carbon Steel 8. Mg Alloy
4. Ni Alloy 9. Al Alloy
5. Cu Alloy
Composite polymer
1. GFRP (glass fiber reinforced plastic)
Thermoplastics polymer

21
1. PA (polyamide)
Technical Ceramic
1. W Alloy

Material ini selanjutnya diseleksi kembali berdasarkan faktor faktor

K IC
berikut ini : berat material ( ), fracture toughness( ), tegangan luluh (

y
), dan biaya material ($).

Nilai properties dari kandidat material yang terpilih dapat ditentukan dari
tabel properties yang terdapat pada buku Material selection in mechanical design
4th edbagian Appendix A.

Tabel 3.3 Nilai beberapa properties material terpilih

Fracture
Density Yield strength Cost
toughness
(Mg/m3) (Mpa) ($/kg)
(Mpa m1/2)
Materials
Ranking

Ranking

Ranking

Ranking
Nilai Nilai Nilai Nilai

Cast iron 7,05 7,25 6 22- 54 7 215-790 4 0,57 -,69 1


Low alloy
7,8 77,9 8 14 -200 2 400 -1100 2 0,81 -0,89 3
Metal steel
Stainless
Ferrous 7,6 8,1 7 62 280 1 170 -1000 5 6,5 7,2 9
steel
Carbon
7,8 7,9 9 12 -92 5 250 1155 3 0,63 0,8 2
steel
Al alloy 2,5 2,9 4 22 35 8 30 -500 9 1,5 1,7 5
Cu alloy 8,93 - 8,94 11 30 -90 6 30-500 7 3,25 3,5 6
Metal
Mg alloy 1,74 1,95 2 12 -18 10 70 -400 8 5,2 -5,7 8
Non-ferrous
Ni alloy 8,83 8,95 10 80 110 3 70 1100 6 33 37 12
Zinc alloy 4,95 7 5 10 -100 4 80 -450 10 1,2 -1,3 4
Composite
GFRP 1,75 1,97 3 7 -23 9 110 -192 11 19-21 10
Polymer

22
Ceramic
W alloy 15,3 15,9 12 2 -3,8 12 3347-6833 1 19 - 29 11
Technical
Thermoplastics
PA 1,12 1,14 1 2,22 5,62 11 50 94.8 12 3,33 3,6 7
Polymer
* Tingkatan rangking ditentukan berdasarkan material yang memiliki kuantitas nilai properties
yang terbaik dari yang lain dan diurutkan sampai kuantitas nilai yang terendah.

Pada tabel 4.3 diatas setiap properties kandidat material terpilih yang
dianalisis diberi nilai ranking. Urutan ranking diambil dari hasil properties
terbaik. Setelah ranking dari setiap material diketahui, dengan cara memberikan
nilai pertama untuk nilai properties yang terbaik. Selanjutnya dilakukan
perhitungan dengan memberikanbesarnya persentasi keempat properties yang
dipilih untuk mendapatkan total valueyang terbesar.
Tabel 3.4Total value setiap kandidat material yang terpilih

Fracture Yield Total

Ranking
Density Cost
toughness strength value
20% 25% 25% 30% (%)
Materials
Ranking

Ranking

Ranking

Ranking
Value

Value

Value

Value

Cast iron 7 6 6 7 9 4 12 1 72,92 2


Low alloy
5 8 11 2 11 2 10 3 79,17 1
steel
Metal
Ferrous Stainless
6 7 12 1 8 5 4 9 61,67 4
steel

Carbon
4 9 8 5 10 3 11 2 71,67 3
steel
Metal Al alloy 9 4 5 8 4 9 8 5 53,75 6
Non-ferrous
Cu alloy 2 11 7 6 6 7 7 6 47,92 7
Mg alloy 11 2 3 10 5 8 5 8 47,50 8

23
Ni alloy 3 10 10 3 7 6 1 12 42,92 9
Zinc alloy 8 5 9 4 3 10 9 4 60,83 5
Composite
Polymer
GFRP 10 3 4 9 2 11 3 10 36,67 11

Ceramic
Technical
W alloy 1 12 1 12 12 1 2 11 33,75 12

Polymer PA 12 1 2 11 1 12 6 7 41,25 10
* harga value ditentukan dengan nilai tertinggi untuk ranking yang tertinggi dan diurutkan sampai
nilai terendah untuk rangking terendah
** total value adalah total persentase dari setiap properties dan nilai tertinggi memiliki ranking 1.

Pemilihan material yang terlihat pada tabel 4.4 diatas adalah material yang
memiliki total value tertinggi, sehingga dalam rangking diberikan kuantitas harga
tertinggi. Berdasarkan tabel 4.4 diatas didapatkan Low Alloy Steel sebagai
material yang memberikan data paling optimum. Low alloy steel termasuk
kedalam keluarga metal ferrous yang juga memiliki jenis paduan yang cukup
banyak dalam dunia metalurgi.

4.2 Proses produksi tangki kompresor

Adapun proses manufakur dalam pembuatan tangki kompresor;


1. Proses pembuatan head pada tanki kompresor
Low alloy steel dipotong sesuai dengan ukuran.

Gambar 3. 5 cutting low alloy steel

24
Pembentukan dilakukan dengan cara dipress (deep drawing) dan
hasilnya merupakan komponen dari head pada bagian atas dan
bawah (top and bottom).

Gambar 3. 6 Deep drawing

2. Proses pembuatan badan pada tangki kompresor


Low alloy steel dibentuk dengan proses ( rolling ) sehingga low
alloy steel dapat terbentuk seperti lengkungan.

Gambar 3. 7 rolling process

Proses pengelasan badan tangki kompresor


Proses penyambungan antara ujung low alloy steel yang satu
dengan yang lainnya yang setelah di rolling. Dilakukan proses
pengelasan pada penyambungan pada badan tangki kompresor.

25
Gambar 3. 8 welding

3. Proses penyambungan antara head dan badan pada low alloy steel
Proses penyambungan antara head dan badan pada low alloy steel
dilakukan dengan cara proses pengelasan

Gambar 3. 9 hasil pengelasan

26
BAB IV
ANALISA HASIL

Setelah dilakukan proses pemilihan bahan dan proses pada tanki kompresor .
Dari material yang dipilih adalah Low Alloy Steel.

Density Fracture toughness Yield strength


Material
(Mg/m3) (Mpa m1/2) (Mpa)
Low alloy
7,8 77,9 14 -200 400 -1100
steel

Low alloy steel terpilih karena dalam pemilihan ini tanki kompresor dianalisis
dari tiga properties yang dianggap sangat penting dalam perencanaan bejana tekan.
Dan salah satu faktor terpilihnya material low alloy steel dikarenakan dari ketiga
properties diberikan persentase tingkat kepentingan dari yang terpenting sampai yang
tidak terpenting dari ketiga properties. Low alloy steel merupakan baja paduan yang
memiliki jenis yang cukup banyak. Sebuah software yang bernama CES
menggolongkan Low alloy steel kedalam 9 kelompok. Dari ke 9 kelompok ini juga
masih terbagi lagi, pembagiannya berdasarkan jenis perlakuan panas pada masing-
masingnya. material Low Alloy Steel jenis AISI 5140 Steelyang akan memiliki
spesifikasi seperti berikut ini :

A. Low Alloy Steel, AISI 5140 Steel (annealed)


UNS number : G51400
Density : 7.8e3 7.9e3kg/m3
Price : 0.763 0.84 USD/kg
Yield strength : 260 325 Mpa

Fracture toughness : 97 157 Mpa m

B. Komposisi paduan
C (carbon) : 0.38 0.43 %
Cr (chromium) : 0.7 0.9 %
Fe (Iron) :97.4 98.1 %
Mn (manganese) : 0.7 0.9 %
P (phosphorus) : 0 0.035 %
S (Sulfur) : 0 0.04 %

27
Si (Silicon) : 0.15 0.3 %

Setelah material terpilih, maka proses manufaktur untuk tanki kompresor


terpilih dengan proses sebagai berikut :

1. Cutting

2. Deep drawing

3. Rolling

4. Welding

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

28
5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan perencanaan pemilihan bahan dan proses pada material


tangki kompresor, maka didapatkan beberapa kesimpulan yaitu:
Bahan tangki kompresor setelah melalui perhitungan adalah Low Alloy
Steel, AISI 5140
Proses manufaktur yang terpilih adalah cutting ,deep drawing,rolling, dan
welding.

5.2 Saran
Sebelum melakukan perhitungan, persiapkan data dengan baik dan lengkap
Pemilihan bahan dan proses manufaktur suatu produk dilakukan dengan
mengambil beberapa asumsi diawal-awal, perkirakan asumsi dengan
kondisi-kondisi yang ada.
Pemilihan bahan dan proses menggunakan decision matrik, perhatikan
langkah-langkah menentukan decision matriknya.

DAFTAR PUSTAKA

Asbhy, Michael F.(2011).Material selection in mechanical design 4th ed,


Burlington : Elsevier Ltd.

29
Moss, dennis. (2004). Pressure vessel design manual 3th ed, Burlington :
Elsevier Ltd.
Sunaryo, heri. (2008). Teknik pengelasan kapal jilid 2,Jakarta : Direktorat
pembinaan sekolah menengah kejuruan,
Faridah anni, dkk. (2008). Teknik pembentukan pelat, Jakarta : Direktorat
pembinaan sekolah menengah kejuruan
Abrianto.(2009).Pengantar proses manufaktur, bandung : www.slideshare.net.
5 januari 2017
Dewi, inayah fatwa kurnia. (2009). Pemanfaatan gas, Jakarta : universitas
indonesia.
Blue steel australasia, 5 januari 2017, http://www.iondhost.com/
http://www.bimbingan.org/fungsi-tangki-udara-pada-kompresor.htm
diakses pada tanggal 7 Januari 2017
https://qtussama.wordpress.com/materi-ajar-x-tkr/kompresor-udara/

diakses pada tanggal 7 januari 2017

https://id.wikipedia.org/wiki/Nitrogen
diakses pada tanggal 7 januari 2017

http://artikeltop.xyz/pengertian-oksigen-dan-kegunaan-oksigen.html
diakses pada tanggal 7 januari 2017

30